Anda di halaman 1dari 7

PENYULUHAN

REMATIK PADA LANSIA

Oleh :
dr. Funny

Pendamping:
dr. Soediro

UPT PUSKESMAS PUNUNG


DINAS KESEHATAN KABUPATEN PACITAN
2015

BAB I
LATAR BELAKANG
Pertambahan jumlah lansia di beberapa negara, salah satunya Indonesia telah mengubah profil
kependudukan baik nasional maupun dunia. Dengan bertambahnya jumlah penduduk dan usia
harapan hidup lansia akan menimbulkan berbagai masalah kesehatan, psikologis dan sosial
ekonomi. Sebagian besar permasalahan pada lansia adalah masalah kesehatan akibat proses
penuaan. Penduduk lansia pada umumnya banyak mengalami penurunan akibat proses alamiah
yaitu proses menua (Aging) dengan adanya penurunan kondisi fisik, psikologis, maupun social
yang saling berinteraksi. Perubahan kondisi fisik pada lansia diantaranya adalah menurunnya
kemampuan muskuloskeletal. Penurunan fungsi muskuloskeletal menyebabkan terjadinya
perubahan secara degeneratif yang dirasakan dengan keluhan nyeri, kekakuan, terbatasnya
gerakan dan tanda-tanda inflamasi seperti kemerahan disertai pembengkakan. Dari hasil studi
tentang kondisi sosial ekonomi dan kesehatan lansia yang dilaksanakan Komnas Lansia tahun
2006, diketahui bahwa penyakit terbanyak yang diderita lansia adalah penyakit sendi (53,2%),
penyakit-penyakit sendi ini merupakan penyebab utama disabilitas pada lansia (Pusat
Komunikasi Sekretariat Jendral Departemen Kesehatan, 2008).
Istilah penyakit yang menyerang sendi dan jaringan disekitarnya dikenal dengan rematik.
Penyakit rematik sebenarnya terdiri dari berbagai jenis, tetapi bagi orang awam, setiap gejala
nyeri, kaku, bengkak, pegal-pegal, atau kesemutan itu semua sering disebut rematik dan
dianggap sama saja. Penyakit rematik yang paling banyak ditemukan pada golongan usia lanjnt
di lndonesia adaiah osteoartritis (OA) 50-60%. Yang kedua adalah kelompok rematik luar sendi
(gangguan pada komponen penunjang sendi, peradangan berlebihan, dan sebagainya). Yang
ketiga adalah asam urat (gout) sekitar 6-7%. Sementara penyakit rheumatoid arthritis (RA) di
Indonesia hanya 0,l% (1 di antara 1000-5000 orang), sedangkan di negara-negara Barat sekitar
3%. Rematik merupakan salah satu penyebab nyeri sendi, khususnya sendi-sendi kecil di daerah
pergelangan tangan dan jari-jari. Keluhan kaku, nyeri dan bengkak akibat penyakit rematik dapat
berlangsung terus-menems dan semakin lama semakin berat, tetapi adakalanya hanya
berlangsung selama beberapa hari dan kemudian sembuh dengan pengobatan. Namun demikian,
kebanyakan penyakit rematik berlangsung kronis, yaitu sembuh dan kambuh kembali secara
berulang-ulang sehingga menyebabkan kerusakan sendi secara menetap.

Prevalensi penyakit muskuloskeletal pada lansia dengan rematik mengalami peningkatan


mencapai 335 juta jiwa di dunia. Rematik berkembang dan menyerang 2,5 juta warga Eropa,
sekitar 75% diantaranya adalah wanita dan kemungkinan dapat mengurangi harapan hidup
mereka hampir 10 tahun.. Menurut American College of Rheumatology, perawatan untuk rematik
dapat meliputi terapi farmakologis, terapi non-farmakologis, dan tindakan bedah. Pada tahun
2008 lalu, dua pakar Rehabilitasi Medik dari RSCM FKUI, Prof.DR. dr. Angela B.M Tulaar
SpRM dan dr. Siti Annisa Nuhonni SpRM menciptakan senam rematik yang berfungsi sebagai
modal yang akan melengkapi terapi penyakit rematik. Secara umum, gerakan-gerakan senam
rematik dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan gerak, fungsi, kekuatan, dan daya tahan
otot, kapasitas aerobik, keseimbangan, biomekanik sendi, dan posisi sendi. Dengan kombinasi
pengobatan dan senam rematik yang tepat, diharapkan radang persendian dan rasa sakit akibat
penyakit rematik dapat berkurang serta penderita dapat menjalani aktivitasnya sehari-hari yang
pada akhirnya dapat meningkatkan kualitas hidup mereka. Lebih dari itu, dengan pengetahuan
dan kesadaran yang mendalam mengenai penyakit rematik, diharapkan masyarakat dapat lebih
cepat dalam bertindak mengatasi penyakit ini sehingga prevalensi penyakit rematik di Indonesia
dapat berkurang.

BAB II
PERMASALAHAN
Angka kejadian rematik pada tahun 2008 yang dilaporkan oleh Organisasi Kesehatan
Dunia WHO adalah mencapai 20% dari penduduk dunia yang telah terserang rematik, dimana 510% adalah mereka yang berusia 5-20 tahun dan 20% adalah mereka yang berusia 55 tahun.
Berdasarkan hasil penelitian terakhir dari Zeng QY et al 2008, prevalensi nyeri rematik di
Indonesia mencapai 23,6% hingga 31,3%, angka ini menunjukkan bahwa nyeri akibat rematik
sudah sangat mengganggu aktivitas masyarakat Indonesia.
Kemudian, tidak dapat dipungkiri bahwa aktivitas masyarakat Indonesia yang kian padat
dapat menimbulkan berbagai ketidakmampuan yang diakibatkan oleh bermacam gangguan
khususnya pada penderita rematik. Seiring dengan bertambahnya jumlah penderita rematik di
Indonesia, kesadaran dan salah pengertian penyakit ini masih tinggi. Banyaknya pandangan
masyarakat Indonesia yang menganggap sederhana penyakit ini karena sifatnya yang dianggap
tidak menimbulkan ancaman jiwa, padahal gejala yang ditimbulkan akibat penyakit ini justru
menjadi penghambat yang mengganggu bagi masyarakat untuk melakukan aktivitas mereka
sehari-hari dan hal yang paling ditakuti yaitu menimbulkan kecacatan seperti kelumpuhan serta
efek sistemik yang tidak dapat menimbulkan kegagalan organ dan kematian. Selain itu, hal
lainnya adalah kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai penyebab penyakit rematik,
bagaimana pencegahan dan penanggulangannya baik dari diet, aktivitas maupun pengobatan.

BAB III
PERENCANAAN DAN PEMILIHAN INTERVENSI
3.1.Perencanaan
Sasaran :
Kegiatan penyuluhan rematik ini ditujukan pada para lansia yang hadir di Posyandu Lansia Nusa
Indah, Dusun Ngerjo, Desa Mendolo Kidul.
Waktu Kegiatan :
Kegiatan ini dilakukan pada saat pelaksanaan Posyandu Lansia Nusa Indah, Dusun Ngerjo, Desa
Mendolo Kidul pada tanggal 24 Januari 2015.
Lokasi Kegiatan
Kegiatan penyuluhan ini dilakukan di Posyandu Lansia Nusa Indah, Dusun Ngerjo, Desa
Mendolo Kidul.
3.2. Pemilihan Intervensi
Pemilihan intervensi berupa pemberian materi tentang penyakit apa itu penyakit rematik, tanda
dan gejala, penatalaksanaannya dan pencegahannya melalui presentasi dengan menggunakan alat
bantu leaflet. Kemudian, dilanjutkan dengan tanya jawab dengan peserta.

BAB IV
PELAKSANAAN
Pada tanggal 24 Januari 2015 dilakukan Penyuluhan tentang Penyakit rematik di Posyandu
Lansia Nusa Indah, Dusun Ngerjo, Desa Mendolo Kidul yang dihadiri 11 lansia, 1 kader
posyandu, dan 1 staff Puskesmas Punung.
Materi yang diberikan berupa :
1. Pengertian Rematik
2. Penyebab Rematik
3. Tanda dan Gejala
4. Cara Menanggulanginya
Setelah dilakukan pemberian materi, para peserta dipersilahkan bertanya dengan
narasumber. Kemudian dilanjutkan dengan mengajukan pertanyaan kepada para lansia peserta
Posyandu sebagai evaluasi. Para lansia dan kader desa diharapkan dapat lebih terbuka
wawasannya dan lebih mengenal Penyakit Hipertensi dan pencegahannya sehingga tidak terkena
penyakit ini.

BAB V
MONITORING DAN EVALUASI
Evaluasi dilakukan dengan cara memberikan pertanyaan kepada peserta penyuluhan yaitu
para lansia untuk mengetahui tingkat pengetahuan peserta penyuluhan terhadap materi yang
diberikan. Juga diberikan kesempatan bertanya kepada nara sumber.
Laporan Penyuluhan

Nama Peserta
Nama Pendamping
Nama Wahana
Tema Penyuluhan
Tujuan Penyuluhan

: dr. Funny
Tanda tangan :
: dr. Soediro
Tanda tangan :
: UPT Puskesmas Punung
: Rematik
: Meningkatkan pengetahuan peserta agar lebih mengenal penyakit
Rematik, penyebabnya, gejala, penatalaksanaan serta pencegahan

Hari/Tanggal
Waktu
Tempat
Jumlah Peserta

Rematik
: Sabtu / 24 Januari 2015
: 09.00 WIB
: Posyandu Lansia Nusa Indah, Dusun Ngrejo, Desa Mendolo Kidul
: 11 orang lansia, 1 kader, 1 staff Puskesmas