Anda di halaman 1dari 25

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
A. Anatomi Payudara
Payudara merupakan kelenjar asesoris kulit yang berfungsi menghasilkan
susu. Payudara terdapat pada laki-laki dan perempuan. Bentuk payudara sama
pada laki-laki dan perempuan yang belum dewasa. Jaringan payudara terdiri atas
sekelompok kecil sistem saluran yang terdapat di dalam jaringan penyambung dan
bermuara di daerah areola. Pada masa pubertas, kelenjar payudara perempuan
lambat laun membesar dan akan berbentuk setengah lingkaran. Pembesaran ini
diduga disebabkan oleh pengaruh hormon-hormon ovarium. Salurannya
memanjang, meskipun demikian pembesaran kelenjar payudara terutama
disebabkan karena penimbunan lemak (Snell, 2006).
Dasar payudara terbentang dari iga kedua sampai keenam dan dari pinggir
lateral sternum sampai linea axilaries media. Setiap payudara terdiri dari 15-20
lobus yang tersusun radier dan berpusat pada papilla mammaria. Saluran utama
dari setiap lobus bermuara di papilla mammaria dan mempunyai ampulla yang
melebar tepat sebelum ujungnya. Dasar papilla mammaria dikelilingi oleh areola.
Lobus-lobus kelenjar dipisahkan oleh septa fibrosa (Snell, 2006). Gambar anatomi
payudara dapat dilihat pada gambar 2.1. di bawah ini.

Gambar 2.1. Anatomi Payudara (Trialsight Medical Media, 2008)

Payudara mendapatkan darah dari rami perforans arteriae thoracicae internae


dan arteriae intercostales. Arteria axillaris juga mengalirkan darah ke kelenjar
payudara yaitu melalui cabang-cabangnya, arteria thoracica lateralis dan arteria
thoracoacromialis. Aliran limf payudara dibagi menjadi kuadran-kuadran.
Kuadran lateral mengalirkan cairan limfnya ke nodi axillares anteriores atau
kelompok pectorales. Kuadran medial mengalirkan cairan limfnya melalui
pembuluh-pembuluh yang menembus ruangan intercostalis dan masuk ke dalam
kelompok nodi thoracales internae. Beberapa pembuluh limf mengikuti arteriae
intercostales posteriores dan mengalirkan cairan limfnya ke posterior ke dalam
nodi intercostales posteriores, beberapa pembuluh berhubungan dengan pembuluh
limf dari payudara sisi yang lain dan berhubungan juga dengan kelenjar di dinding
anterior abdomen (Snell, 2006).
B. Kanker Payudara
B.1. Definisi
Kanker Payudara adalah tumor ganas yang menyerang jaringan payudara.
Jaringan payudara tersebut terdiri dari kelenjar susu, saluran kelenjar, jaringan
lemak maupun jaringan ikat pada payudara. Kanker payudara umumnya
menyerang wanita yang telah berusia lebih dari 40 tahun. Namun demikian,
wanita muda pun bisa terserang kanker ini. Penyebab kanker payudara belum
diketahui secara pasti (Ekanita dan Amik, 2013). Sebagian besar kanker payudara
bermula pada sel-sel yang melapisi duktus(kanker duktal), beberapa bermula di
lobulus (kanker lobular),serta sebagian kecil bermula di jaringan lain (Novianti
dan Santi, 2012).
B.2. Faktor Resiko
1. Usia
Usia merupakan salah satu resiko kanker payudara yaitu semakin
bertambahnya usia maka risiko kanker payudara semakin meningkat.
Kanker payudara sering mengenai wanita berusia lebih dari 40 tahun. Pada
usia > 40 tahun disebut masa pramenopause. Pada masa ini hormon

progesteron tidak dapat dihasilkan dengan jumlah yang cukup sehingga


produksi hormon estrogen tidak dapat ditangkal. Hal inilah yang memicu
untuk terjadinya kanker payudara (Surbakti, 2013).
2. Riwayat menstruasi
Usia menarche dini dapat meningkatkan resiko terjadinya kanker
payudara, karena pada keadaan-keadaan tersebut terdapat paparan hormon
estrogen yang terus-menerus pada sel-sel kelenjar atau saluran kelenjar
pada payudara yang akan menyebabkan pertumbuhan tidak normal pada
sel-sel tersebut. Wanita yang mengalami menarche pada usia kurang dari
12 tahun resikonya 1,7 hingga 3,4 kali lebih tinggi daripada wanita dengan
menarche yang datang pada usia normal atau lebih dari 12 tahun. Pada usia
ini juga, remaja memiliki jaringan payudara yang belum berkembang
sempurna yang menyebabkan jaringan itu lebih mudah terkena efek-efek
dari hormon estrogen. Hormon estrogen inilah yang menjadi pemicu
terjadinya kanker payudara (Surbakti, 2013).
Wanita yang menopausenya lebih dari 55 tahun memiliki risiko kanker
payudara 2 kali lebih tinggi daripada wanita yang menopausenya kurang
dari 45 tahun. Hal ini dikarenakan orang tersebut akan memiliki siklus
menstruasi lebih banyak dibanding seseorang yang menopause pada usia
yang lebih awal, ini menyebabkan kadar estrogen orang tersebut tidak
menurun dan kemungkinan terjadi kanker payudara juga semakin besar
(Surbakti, 2013).
3. Riwayat reproduksi
Wanita yang tidak pernah hamil memiliki risiko terkena kanker payudara
2-4 kali lebih tinggi daripada wanita yang pernah hamil. Hal ini
berhubungan dengan hormon. Artinya bahwa ibu yang tidak pernah hamil
dan menyusui tidak mengalami diferensiasi jaringan pada payudara.
ibu/wanita yang hamil menghasilkan hormon progesteron yang lebih
banyak dibandingkan wanita yang tidak hamil. Hormon inilah yang dapat
menekan produksi hormon esterogen yang merupakan pemicu terjadinya
kanker payudara (Surbakti, 2013).

4. Riwayat keluarga
Faktor genetik memiliki andil yang besar. Seseorang yang keluarganya
pernah menderita penyakit kanker, ada kemungkinan penyakit tersebut
juga dialami oleh keturunannya. Wanita dengan riwayat keluarga yang
menderita kanker payudara pada ibu, saudara perempuan ibu, saudara
perempuan, adik/kakak, resikonya 2 hingga 3 kali lebih tinggi. Apabila
dilakukan pemeriksaan genetik terhadap darah dan hasilnya positif, maka
dapat meningkatkan peluang terkena kanker payudara pada keturunannya,
2 hingga 3 kali lebih tinggi dibandingkan yang tidak mempunyai riwayat
keturunan (Surbakti, 2013).
5. Obesitas
Obesitas dapat meningkatkan risiko terkena kanker payudara karena
meningkatnya

sintesis

estrogen

pada

timbunan lemak

yang

berpengaruh terhadap proses proliferasi jaringan payudara (Anggorowati,


2013).
6. Diet
Faktor lain yang mempengaruhi terjadinya kanker payudara adalah diet.
Banyak wanita mengkonsumsi makanan berlemak tinggi tetapi rendah
serat yang menyebabkan produksi hormon estrogen meningkat. Banyak
mengkonsumsi makanan fast food atau makanan siap saji yang memakai
bahan pengawet, hal ini juga dapat memicu munculnya kanker payudara
(Surbakti, 2013).
7. Merokok
Pada beberapa penelitian menunjukkan bahwa wanita yang merokok sejak
usia remaja memiliki risiko lebih besar karena karsinogen pada rokok
dapat

menyebabkan

banyak

kerusakan

pada

sel

payudara

dan

mempercepat pembelahan sel payudara (Raharjo, 2010).


8. Alkohol
Beberapa

penelitian

menunjukkan

bahwa

minum

alkohol

dapat

meningkatkan resiko kanker payudara dan peningkatan resiko ini juga


berkaitan dengan jumlah alkohol yang dikonsumsi (Raharjo, 2010).

9. Olahraga
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa wanita yang berolah raga secara
teratur mempunyai resiko kanker payudara lebih rendah. Hal tersebut
didukung beberapa data yang menunjukkan kadar estrogen dalam sirkulasi
darah yang lebih rendah pada wanita yang berolah raga secara teratur.
Lemak tubuh biasanya berkurang pada wanita yang berolah raga dan
disertai penurunan kadar estrogen dalam tubuh.Waktu menstruasi yang
lebih panjang akan menyebabkan jumlah siklus menstruasi yang lebih
sedikit sepanjang hidup, akibatnya paparan estrogen pada tubuh juga lebih
sedikit sepanjang hidupnya (Raharjo, 2010).
10. Radiasi
Wanita yang mendapatkan terapi radiasi dosis tinggi di bagian dada ketika
remaja berisiko tinggi terkena kanker payudara.Radiasi dapat memicu
terjadinya mutasi genetik pada sel yang dapat memicu terjadinya kanker
(Raharjo, 2010).
11. Penggunaan terapi hormon pasca menopause.
Sesudah memopause, ovarium tidak memproduksi estrogen lagi.
Hilangnya produksi estrogen ini berhubungan dengan resiko terjadinya
penyakit jantung dan pembuluh darah, osteoporosis dan sejumlah keadaan
tidak nyaman yang bersifat temporer yang berhubungan dengan
menopause. Untuk mengatasi hal tersebut maka diberikan terapi dengan
estrogen. Terapi hormon dengan hanya memberikan estrogen saja dapat
meningkatkan resiko terjadinya kanker uterus, maka perlu ditambahkan
hormon progesteron untuk menekan terjadinya hal tersebut. Terapi hormon
estrogen saja diberikan pada wanita yang mengalami histerektomi dan
tidak mempunyai rahim. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa terapi
hormon pada wanita post menopause dengan estrogen dan progresteron
dapat meningkatkan resiko terjadinya kanker payudara (Raharjo, 2010).

10

B.3. Gejala dan Tanda Kanker Payudara


Kanker payudara pada stadium awal biasanya tidak menimbulkan keluhan.
Penderita merasa sehat dan tidak merasa nyeri. Tanda yang mungkin dirasakan
pada stadium dini adalah teraba benjolan kecil di payudara.Keluhan baru timbul
bila penyakitnya sudah lanjut. Gejala yang timbul saat penyakit memasuki
stadium lanjut, antara lain (Khasanah, 2013):
1. Timbul benjolan pada payudara yang dapat diraba dengan tangan, makin
lama benjolan ini makin mengeras dan bentuknya tidak beraturan.
2. Saat benjolan mulai membesar, barulah menimbulkan rasa sakit (nyeri)
saat payudara ditekan karena terbentuk penebalan pada kulit payudara.
3. Bentuk, ukuran, atau berat salah satu payudara berubah kerena terjadi
pembengkakan.
4. Pembesaran kelenjar getah bening di ketiak atau timbul benjolan kecil di
bawah ketiak.
5. Luka pada payudara sudah lama tidak sembuh walau sudah diobati.
6. Adanya perubahan pada kulit seperti tanda lesung, perubahan kulit jeruk
(peau dorange), nodul satelit kulit, adanya invasi, serta perubahan
inflamatorik. Selain itu juga terdapat retraksi papilla mamae.
B.4. Diagnosis Kanker Payudara
Diagnosis kanker payudara dapat dilakukan dengan 3 pemeriksaan yaitu
(Khasanah, 2013):
1. Anamnesis
a. Anamnesis terhadap keluhan di payudara atau ketiak apakah
ada benjolan, rasa sakit atau terjadi kelainan kulit.
b. Anamnesis terhadap keluhan di tempat lain berhubungan dengan
metastasis (nyeri tulang, sakit kepala, sesak, batuk, dan lain-lain).
c. Anamnesis terhadap faktor-faktor risiko (usia, faktor keluarga, faktor
hormonal, riwayat keluarga, dan konsumsi lemak).
2. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik dilakukan terhadap status lokalis payudara kiri dankanan
berhubungan dengan perubahan kulit, status kelenjar getah bening dan
pemeriksaan metastasis jauh.
3. Pemeriksaan Penunjang

11

Pemeriksaan penunjang dapat berupa pemeriksaan radiodiagnostik atau


imaging dilakukan untuk diagnostik dengan menggunakan USG
(ultrasonografi) payudara dan mammografi dan untuk menentukanstadium
dengan menggunakan foto thoraks, USG abdomen dan scan tulang. Selain
itu dapat juga dilakukan pemeriksaan histopatologik yang diambil melalui
biopsy untuk tumor 2 cm maupun untuk tumor > 2 cm dan Biopsi Jarum
Halus (BJAH).
B.5. Pencegahan Kanker Payudara
Pencegahan kanker payudara ada 3 macam pencegahan antara lain sebagai
berikut (Anggorowati, 2013):
1. Pencegahan primer
Pencegahan primer adalah langkah yang dilakukan untuk menghindari diri
dari setiap faktor yang dapat menimbulkan kanker payudara. Penyuluhan
tentang kanker payudara perlu dilakukan terutama mor-faktor risiko dan
bagaimana melaksanakan pola hidup sehat dengan menghindari makanan
berlemak, banyak konsumsi sayur-sayuran dan buah-buahan serta giat
berolah raga.
2. Pencegahan sekunder
Pencegahan sekunder dilakukan terhadap individu yang memiliki resiko
untuk terkena kanker payudara. Setiap wanita yang normal dan memiliki
siklus haid normal merupakan populasi at risk dari kanker payudara.
Pencegahan sekunder dilakukan dengan melakukan deteksi dini. Beberapa
metode deteksi dini terus mengalami perkembangan. Skrining melalui
mamografi diklaim memiliki akurasi 90% dari semua penderita kanker
payudara, tetapi keterpaparan terus-menerus pada mamografi pada wanita
yang sehat merupakan salah satu faktor resiko terjadinya kanker payudara.
Skrining dengan mamografi tetap dapat dilaksanakan dengan beberapa
pertimbangan antara lain wanita yang sudah mencapai usia 40 tahun
dianjurkan melakukan cancer risk assement survey. Wanita dengan faktor
risiko mendapat rujukan untuk melakukan mamografi setiap tahun. Wanita

12

normal mendapat rujukan mamografi setiap 2 tahun sampai mencapai usia


50 tahun. Kematian oleh kanker payudara lebih sedikit pada wanita yang
melakukan pemeriksaan

Sadari dibandingkan yang tidak Sadari.

Sensitivitas Sadari untuk mendeteksi kanker payudara hanya 26%, bila


dikombinasikan dengan mamografi maka sensitivitas mendeteksi secara
dini menjadi 75% .
3. Pencegahan Tersier
Pencegahan tersier biasanya diarahkan pada individu yang telah positif
menderita kanker payudara. Penanganan yang tepat penderita kanker
payudara sesuain dengan stadiumnya akan dapat mengurangi kecacatan
dan memperpanjang harapan hidup penderita. Pencegahan tersier ini
penting untuk kualitas hidup penderita serta mencegah komplikasi
penyakit dan meneruskan pengobatan. Tindakan pengobatan dapat berupa
operasi walaupun tidak berpengaruh banyak terhadap ketahanan hidup
penderita. Tindakan kemoterapi dengan sitostatika pada penderita kanker
perlu dilakukan apabila telah bermetastasis jauh. Pengobatan pada stadium
ini akan diberikan hanya berupa simptomatik dan dianjurkan untuk
mencari pengobatan alternatif.
C. Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI)
Pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) merupakan deteksi dini kanker
payudara yang paling banyak dianjurkan bagi setiap wanita. Tindakaan ini sangat
penting karena hampir 85% benjolan di payudara wanita ditemukan oleh penderita
sendiri. Caranya sangat mudah karena dilakukan oleh diri sendiri dan tanpa
mengeluarkan biaya sedikitpun (Suanti et al, 2013). SADARI sebaiknya
dilakukan setiap kali selesai menstruasi (hari ke-10 dari awal menstruasi),
pemeriksaan dilakukan setiap bulan (Ekanita dan Amik, 2013). Jangan melakukan
pada waktu sebelumnya, karena pada masa pertengahan siklus haid sampai
menjelang haid, payudara biasanya membengkak akibat pengaruh kelenjar susu
oleh hormon estrogen dan progesteron, sehingga pemeriksaan akan lebih sulit

13

dilakukan secara akurat. Menurut Ekanita dan Amik (2013), SADARI sangat
efektif dalam mendeteksi kanker payudara termasuk pada wanita usia subur.
Sesudah menopause, dilakukan pemeriksaan payudara pada hari pertama
setiap

bulan

atau

pada

tanggal

tertentu

yang

mudah

diingat

setiap

bulannya.Pemeriksaan dilakukan secara bertahap dan sistematis.Pemeriksaan


payudara dapat dilakukan sendiri saat mandi atau sebelum tidur.Pemeriksaan yang
dilakukan saat mandi, mempermudah tangan unuk bergerak di kulit yang basah
(Yayasan Kanker Indonesia, 2012).
Cara melakukan SADARI menurut Yayasan Kanker Indonesia (2012):
Berilah perhatian khusus pada bagian-bagian yang diberi warna merah seperti
ditunjukkan pada gambar di bawah, sebab di daerah tersebut sering ditemukan
tumor payudara.

Gambar 2.2 Daerah yang Diberi Perhatian Khusus Saat SADARI


(Yayasan Kanker Indonesia, 2012)

1.

Perhatikan dengan teliti payudara Anda di muka cermin (tanpa


berpakaian), dengan kedua lengan lurus ke bawah.Amati dengan teliti dan
perhatikan bila ada benjolan atau perubahan dalam hal ukuran, bentuk dan
warna kulit, atau jika ada kerutan pada kulit. Angkat kedua lengan lurus ke
atas dan ulangi pemeriksaan seperti di atas.

14

Gambar 2.3. Posisi SADARI dengan Tangan Lurus ke Bawah


(Yayasan Kanker Indonesia, 2012)
2.

Dengan kedua siku mengarah ke samping, atau kedua telapak tangan


dibelakang kepala, tekanlah telapak tangan Anda yang satu pada yang lain
secara kuat. Cara ini akan menegangkan otot-otot dada Anda sehingga
perubahan-perubahan seperti cekungan dan benjolan akan lebih terlihat.
Kemudian bungkukkan badan untuk melihat apakah kedua payudara
menggantung seimbang.

Gambar 2.4 Posisi SADARI dengan Tangan di Samping


(Yayasan Kanker Indonesia, 2012)

3. Pencetlah pelan-pelan daerah di sekitar puting kedua payudara Anda, dan


amati apakah keluar cairan yang tidak normal (tidak biasa).

Gambar 2.5 Memencet Puting (Yayasan Kanker Indonesia, 2012)

15

4. Kemudian rabalah payudara Anda. Anda dapat memeriksa payudara sambil


berdiri atau berbaring. Jika sambil berbaring, akan lebih membantu jika
Anda meletakkan sebuah bantal di bawah pundak sisi payudara yang akan
diperiksa.

Gambar 2.6. Posisi SADARI dengan Berbaring Terlentang


(Yayasan Kanker Indonesia, 2012)
5. Rabalah seluruh permukaan payudara kanan dengan tangan kiri sampai ke
daerah ketiak. Perhatikanlah bila ada benjolan yang mencurigakan. Lakukan
perabaan yang sama untuk payudara kiri.

Gambar 2.7 Raba Payudara dengan Tiga Ujung Jari Tengah


(Yayasan Kanker Indonesia, 2012)

16

6. Raba payudara dengan tiga ujung jari 2, 3, dan 4 yang dirapatkan.Lakukan


gerakan memutar dengan tekanan lembut tetapi mantap, dimulai dari pinggir
dengan mengikuti arah putaran jarum jam.

Gambar 2.8 Raba Payudara dengan Gerakan Memutar


(Yayasan Kanker Indonesia, 2012)
7. Rasakan payudara Anda pada saat berdiri atau duduk. Banyak wanita yang
lebih mudah merasakan payudara mereka ketika kulit basah dan licin.Jadi,
Anda bisa melakukannya ketika mandi.

Gambar 2.9 SADARI Saat Mandi


(Breastcancer.org, 2012)

17

Jika pada saat melakukan SADARI ditemukan benjolan atau perubahan


pada payudara), maka segera periksakan diri ke dokter.Benjolan dievaluasi,
apabila ukuran lebih besar dari bulan sebelumnya mungkin benjolan itu suatu
tumor ganas.

D. Remaja
D.1. Definisi
Remaja merupakan masa masa transisi antara masa kanakkanak dan masa dewasa yang mengandung perbahan besar baik
secara fisik, kognitif maupun psikososial (Papalia, et al., 2008).
Remaja dalam arti adolescence (Inggris) memiliki makna tumbuh
ke arah kematangan; kematangan disini tidak hanya berarti
kematangan

fisik,

tetapi

juga

kematangan

sosial-psikologis

(Sarwono, 2006; Depkes, 2005 dalam Permatasari, 2013)


Sedangkan menurut WHO (1974) dalam Saputra (2008)
memiliki definisi yang konseptual mengenai remaja. Dalam
definisi ini mencakup tiga kriteria yaitu biologis, psikologis, dan
sosial ekonomi. Menurut WHO, remaja merupakan suatu masa
dimana:
1. Individu berkembang dari saat pertama kali mereka
menunjukkan

tanda

seksual

sekundernya

hingga

mencapaii kematangan seksual.


2. Individu mengalami perkembangan psikologis dan pola
identifikasi dari anak-nak menjadi dewasa.
3. Terjadi peralihan dari ketergantungan sosial ekonomi yang
penuh kepada keadaan yang lebih mandiri.
WHO menetapkan batasan usia konkritnya adalah berkisar
antara 10-20 tahun. Kemudian WHO membagi kurun usia
tersebut dalam dua bagian yaitu remaja awal 10-14 tahun, dan
remaja akhir 15-20 tahun (Saputra, 2008).
D.2. Pertumbuhan dan Pekembangan Remaja

18

Remaja merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak ke


masa dewasa. Menurut Sarwono (2006) dan Saputra (2008),
menjelaskan mengenai batasan usia remaja yaitu 11 sampai 24
tahun dan belum menikah untuk remaja di Indonesia dengan
beberapa pertimbangan sebagai berikut :
1. Usia 11 tahun adalah usia dimana pada umumnya tandatanda seksual sekunder sudah mulai tampak (kriteria
fisik).
2. Pada masyarakat

Indonesia,

usia

11

tahun

sudah

dianggap akil baliq, baik menurut adat maupun agama,


sehingga masyarakat tidak lagi memperlakukan mereka
sebagai anak-anak (kriteria sosial).
3. Pada
usia
tersebut
mulai

ada

tanda-tanda

penyempurnaan perkembangan jiwa seperti tercapainya


identitas diri (ego, identity) tercapainya fase genital dari
perkembangan

psikoseksual

dan

tercapainya

puncak

perkembangan kognitif maupun moral (kriteria Psikologik).


4. Batas usia 24 tahun merupakan batas maksimal, yaitu
untuk memberi peluang bagi mereka yang sampai batas
usia tersebut masih menggantungkan diri pada orangtua,
belum mempunyai hak-hak penuh sebagai orang dewasa
(secara adat/tradisi), belum bisa memberikan pendapat
sendiri dan sebagainya. Dengan perkataan lain, orangorang yang sampai batas usia 24 tahun belum dapat
memenuhi persyaratan kedewasaan secara sosial dan
psikologik, masih dapat digolongkan remaja.
5. Pada definisi di atas, status perkawinan
menentukan,

karena

arti

perkawinan

masih

sangat
sangat

penting di masyarakat secara menyeluruh. Seseorang


yang sudah menikah dianggap dan diperlakukan sebagai
seseorang dewasa penuh, baik secara hukum maupun
dalam kehidupan masyarakat dan keluarga. Karena itu

19

definisi remaja disini dibatasi khusus untuk yang belum


menikah.
Dalam batasan

yang

telah

disebutkan,

terdapat

penyesuaian diri yang harus ada pada masa remaja, diantaranya


adalah (Sarwono, 2006; Saputra, 2008) :
1. Menerima dan mengintegrasikan pertumbuhan badannya
dan pertumbuhan keperibadian
2. Menentukan peran dan fungsi seksual yang adekuat
dalam kebudayaan dimana dia berada.
3. Mencapai kedewasaan dengan kemandirian, kepercayaan
diri dan mampu menghadapi kehidupan.
4. Mencapai posisi yang diterima oleh masyarakat
5. Mengembangkan hati nurani, tanggung jawab, moralitas
dan

nilai-nilai

yang

sesuai

dengan

lingkungan

dan

kebudayaan.
6. Memecahkan masalah-masalah nyata dalam pengalaman
sendiri yang berkaitan dengan lingkungan.
D.3. Presepsi Remaja Putri Terhadap Kanker Payudara
Presepsi remaja putri terhadap kanker payudara sangat
dipengaruhi dengan bagaimana mereka mendapatkan informasi
mengenai hal tersebut. Menurut Septiani dan Suara (2012),
menyatakan

bahwa

sebagian

remaja

putri

yang

kurang

mendapatkan informasi tentang kanker payudara cenderung


memiliki respon atau presepsi yang negatif terhadap kanker
payudara.
Hasil penelitian
menyatakan

yang

terdapat

dilakukan

beberapa

oleh

presepsi

Amalia

(2010)

mengenai

kanker

payudara pada remaja putri. Presepsi tentang kerentanan,


keseriusan, manfaat dan hambatan menjadi beberapa faktor
yang akan mengakibatkan pola fikir remaja putri tentang kanker
payudara (Amalia, 2010; Septiani dan Suara, 2012).
E. Pengetahuan
E.1. Definisi

20

Pengetahuan adalah sesuatu yang hadir dan terwujud dalam


jiwa

dan

pikiran

seseorang

dikarenakan

adanya

reaksi,

persentuhan, dan hubungan dengan lingkungan dan alam


sekitarnya (Adlany, 2013 dalam Muharromi, 2014). Pengetahuan
ini meliputi emosi, tradisi, keterampilan, informasi, akidah, dan
pikiran-pikiran (Saputra, 2008). Pengetahuan merupakan faktor
yang sangat penting untuk terbentuknya perilaku seseorang.
Pengetahuan
kesehatan

juga

sangat

seseorang

berpengaruh

(Potter

dan

Perry,

terhadap
2005).

perilaku

Pengukuran

pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket


yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari
subjek penelitian atau responden. Kedalaman pengetahuan yang
ingin kita ketahui atau kita ukur dapat kita sesuaikan. Hasil dari
pengukuran

pengetahuan

dapat

digunakan

dalam

sebuah

penelitian terkait dengan kejadian sebuah penyakit. (Adlany,


2013 dalam Muharromi, 2014; Imeldyanti, 2010).
E.2. Tingkat Pengetahuan
Menurut Notoatmodjo (2007), ada enam tingkatan pengetahuan yang dicakup
dalam domain kognitif, yaitu:
1. Mengetahui
Tahu yang diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari
sebelumnya. Termasuk kedalam tingkat pengetahuan ini adalah
mengingat kembali terhadap sesuatu yang spesifik dari keseluruhan
bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Tahu ini
merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk
mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain
menyebutkan,
sebagainya.
2. Memahami

menguraikan,

mengidentifikasi,

menyatakan,

dan

21

Memahami yang diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan


secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan
materi tersebut secara benar.
3. Menerapkan
Menerapkan diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menggunakan
materi yang telah dipelajari pada kondisi yang sebenarnya. Aplikasi
disini dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum,
rumus, metode, prinsip dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang
lain.
4. Analisis
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau objek
ke dalam komponen-komponen tetapi masih di dalam satu struktur
organisasi dan masih ada kaitannya satu sama lainnya. Kemampuan
analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja seperti dapat
menggambarkan, membedakan, memisahkan, mengelompokkan, dan
sebagainya.
5. Sintesis
Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau
menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang
baru, dengan kata lain sintesis merupakan kemampuan untuk menyusun
formulasi-formulasi yang ada.
6. Evaluasi
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi
atau penilaian terhadap suatu objek atau materi. Penilaian-penilaian ini
didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan
kriteria-kriteria yang telah ada.
E.3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Tingkat
Pengetahuan
Menurut Sarwono (2006), faktor-faktor yang berhubungan
dengan pengetahuan remaja antara lain bimbingan orang tua,
sekolah, informasi, sosialbudaya, pelayanan kesehatan.
Notoatmodjo (2007), yang menyatakan bahwa
pendidikan,informasi,

minat,

sikap,

dukungan

usia,

keluarga

22

berpengaruh

terhadap

kesehatanagar

kesehatan

masyarakat

tercapainya

yang

optimal

derajat
termasuk

tingkatpengetahuan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan, yaitu :
a. Usia
Usia adalah lamanya hidup yang dihitung sejak lahir
sampai saat ini dalam satuan tahun. Usia merupakan
periode

terhadap

pola-pola

kehidupan

yang

baru

(Notoatmodjo, 2007).
Usia mempengaruhi terhadap daya tangkap dan pola pikir
seseorang.

Semakin

berkembang
sehingga

pula

bertambah

daya

pengetahuan

akan

semakin

pola

pikirnya,

diperolehnya

semakin

tangkap
yang

usia
dan

membaik. Pada usia madya, individu akan lebih berperan


aktif dalam masyarakat dan kehidupan sosial serta lebih
banyak melakukan persiapan demi suksesnya upaya
menyesuaikan diri menuju usia tua, selain itu orang usia
madya akan lebih banyak menggunakan banyak waktu
untuk membaca. Kemampuan intelektual, pemecahan
masalah, dan kemampuan verbal dilaporkan hampir tidak
ada penurunan pada usia ini (WHO, 2002 dalam Saputra,
2008).
b. Pendidikan
Pendidikan

adalah

proses

pertumbuhan

seluruh

kemampuan dan perilaku melalui pengajaran, sehingga


pendidikan itu perlu mempertimbangkan usia (proses
perkembangan) dan hubungannya dengan proses belajar.
Tingkat pendidikan juga merupakan salah satu faktor yang
mempengaruhi persepsi seseorang untuk lebih mudah
menerima ide-ide dan teknologi yang baru (Notoatmodjo,
2007).
Pengetahuan seseorang tentang sesuatu obyek juga
mengandung dua aspek yaitu aspek positif dan negatif.

23

Kedua aspek inilah yang akhirnya akan menentukan sikap


seseorang terhadap obyek tertentu. Semakin banyak
aspek

positif

menumbuhkan
tersebut.
Tingkat

dari

obyek

yang

diketahui,

akan

sikap

makin

positif

terhadap

obyek

faktor

yang

pendidikan

mempengaruhi

merupakan

persepsi

seseorang

untuk

menerima

informasi yang semakin baik (Arikunto, 2006).


c. Pekerjaan
Pekerjaan adalah aktifitas yang dilakukan seseorang
setiap hari dalam menjalani kehidupannya. Seseorang
yang bekerja diluar rumah cenderung memiliki akses yang
baik terhadap informasi dibandingkan sehari-hari berada
dirumah.
d. Informasi
Informasi yang diperoleh dari berbagai sumber akan
mempengaruhi
seseorang

tingkat

benyak

pengetahuan

memperoleh

seseorang.

informasi

maka

Bila
ia

cenderung mempunyai pengetahuan yang lebih luas


(Notoatmodjo, 2007).
e. Lingkungan
Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada disekitar
individu, baik lingkungan fisik, biologis maupun sosial.
Lingkungan
pengetahuan

berpengaruh
kedalam

terhadap

individu

proses

yang

masuknya

berada

dalam

lingkungan tersebut (Notoatmodjo, 2007).


f. Pengalaman
Pengalaman sebagai sumber pengetahuan adalah suatu
cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan dengan
cara mengulangi kembali pengetahuan yang diperoleh
memecahkan

masalah

(Notoatmodjo, 2007).

yang

dihadapi

masa

lalu

24

E.4. Pengukuran Pengetahuan


Pengukuran pengetahuan dapat diketahui dengan cara orang
yang bersangkutan mengungkap akan hal-hal yang diketahuinya
dalam

bentuk

atau

jawaban

baik

lisan

maupun

tulisan

(Notoatmodjo, 2007).
Pertanyaan (test) yang dapat dipergunakan untuk
pengukuran pengetahuan secara umum dapat dikelompokkan
menjadi 2 jenis, yaitu:
1. Pertanyaan subjektif
Pertanyaan essay disebut pertanyaan subjektif karena
penilaian untuk pertanyaan ini melibatkan faktor subjektif
dari penilaian, sehingga cara menilainya akan berbedabeda.
2. Pertanyaan objektif
Pertanyaan pilihan ganda, menjodohkan, benar atau salah,
disebut pertanyaan objektif karena pertanyaan ini dapat
dinilai secara pasti oleh penilainya tanpa melibatkan faktor
subjektifitas.
Pengukuran tingkat pengetahuan menurut Rustaman (2007)
dalam Nazawati (2012), terdiri dari :
1. Baik, jika 76-100 % pertanyaan dapat dijawab dengan
benar.
2. Cukup, jika 56-75% pertanyaan dapat dijawab dengan
benar.
3. Kurang, jika <56% pertanyaan dapat dijawab dengan
benar.
F. Sikap
F.1. Definisi Sikap
Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang
terhadap suatu stimulus atau objek. Manifestasi sikap itu tidak dapat langsung
dilihat, tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup.
Sikap secara nyata menunjukkan konotasi adanya kesesuaian reaksi terhadap
stimulus tertentu yang dalam kehidupan sehari-hari merupakan reaksi yang

25

bersifat emosional terhadap stimulus sosial. Sikap itu merupakan kesiapan atau
kesediaan untuk bertindak dan bukan merupakan pelaksanaan motif tertentu.
Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktivitas, akan tetapi merupakan
predisposisi tindakan dari suatu perilaku. Sikap itu masih merupakan reaksi
tertutup, bukan reaksi terbuka atau tingkah laku yang terbuka. Sikap merupakan
kesiapan untuk bereaksi terhadap objek di lingkungan tertentu sebagai suatu
penghayatan terhadap objek (Chandra, 2009 dalam Muharromi, 2014).
F.2. Komponen Pokok Sikap
Sikap mempunyai tiga komponen pokok (Azwar, 2013):
1. Komponen kognitif (cognitive)
Komponen kognitif berisi kepercayaan seseorang mengenai apa yang
berlaku atau apa yang benar bagi objek sikap.
2. Komponen afektif (affective)
Komponen afektif menyangkut masalah emosional subjektif seseorang
terhadap suatu sikap. Secara umum, komponen ini disamakan dengan
perasaan yang dimiliki terhadap sesuatu.
3. Komponen konatif (conative)
Komponen konatif dalam struktur sikap menunjukkan bagaimana perilaku
atau kecenderungan berperilaku yang ada dalam diri seseorang berkaitan
dengan objek sikap yang dihadapinya. Kaitan ini didasari oleh asumsi
bahwa kepercayaan dan perasaan banyak memengaruhi perilaku.
Konsistensi antara kepercayaan sebagai komponen kognitif, perasaan sebagai
komponen afektif, dengan tendensi kecenderungan berperilaku sebagai komponen
konatif seperti itulah yang menjadi landasan dalam usaha penyimpulan sikap yang
dicerminkan oleh jawaban terhadap skala sikap.
F.3. Tingkatan Sikap
Seperti halnya dengan pengetahuan, sikap ini terdiri dari berbagai tingkatan:
1. Menerima
Menerima diartikan bahwa orang (subjek) mau dan memperhatikan
stimulus yang diberikan (objek).
2. Merespon
Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan menyelesaikan
tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap karena dengan suatu

26

usaha untuk menjawab pertanyaan atau mengerjakan tugas yang diberikan,


terlepas dari pekerjaan itu benar atau salah, adalah berarti bahwa orang
menerima ide tersebut.
3. Menghargai
Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu
masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga.
4. Bertanggung-jawab
Bertanggung-jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan
segala risiko merupakan sikap yang paling tinggi.
F.4. Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Pengetahuan dan Sikap
Pengetahuan dan sikap seseorang dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor,
yaitu (Notoatmotdo, 2007; Azwar, 2013):
Tabel 2.1. Faktor yang Memengaruhi Tingkat Pengetahuan dan Sikap
No
(1)
1

Faktor
(2)
Pengalaman

Pengetahuan
(3)
Pengalaman yang diperoleh
dapat memperluas pengetahuan
seseorang.

Pendidikan

Pendidikan yang lebih tinggi


akan mempunyai pengetahuan
yang lebih luas daripada
pendidikan yang rendah.

Keyakinan

Keyakinan bisa mempengaruhi


pengetahuan seseorang baik
yang sifatnya positif maupun
negatif.

Sikap
(4)
Tanggapan menjadi salah
satu dasar terbentuknya
sikap. Untuk mempunyai
tanggapan
dan
penghayatan,
seseorang
harus
mempunyai
pengalaman
yang
berkaitan dengan objek
psikologis.
Lembaga
pendidikan
mempunyai
pengaruh
dalam pembentukan sikap
karena meletakkan dasar
pengertian dan konsep
moral pada individu.
Agama
mempunyai
pengaruh
dalam
pembentukan sikap karena
meletakkan
dasar
pengertian dan konsep
moral pada individu.

27

Fasilitas

Fasilitas
sebagai
sumber
informasi
mempengaruhi
pengetahuan misalnya radio,
televisi, majalah, koran, dan
buku.

Ekonomi

Tidak berpengaruh langsung


tapi yang berpenghasilan tinggi
akan mempermudah dia untuk
menyediakan fasilitas sumber
informasi.

Sosial
Budaya

Kebudayaan setempat dan


kebiasaan dalam keluarga dapat
mempengaruhi
pengetahuan,
persepsi dan sikap seseorang
terhadap sesuatu.

Faktor
emosi

G. Kerangka Teori

Media massa membawa


pesan yang berisi sugesti
yang dapat mengarahkan
opini seseorang. Adanya
informasi baru mengenai
sesuatu memberi landasan
kognitif
baru
bagi
terbentuknya sikap.

Kebudayaan mempunyai
pengaruh besar terhadap
sikap. Jika hidup dalam
budaya yang memiliki
norma longgar terhadap
pergaulan homoseksual,
sangat
mungkin
kita
mempunyai sikap yang
mendukung
terhadap
kebebasan
pergaulan
homoseksual.
Terkadang suatu bentuk
sikap
merupakan
pernyataan yang didasari
oleh emosi yang berfungsi
sebagai
penyaluran
frustasi atau pengalihan
bentuk
mekanisme
pertahanan ego.

28

Gambar 2.10. Kerangka Teori

H. Kerangka Konsep

29

Faktor-faktor yang
mempengaruhi pengetahuan:
Usia
Pendidikan
Pekerjaan
Informasi
Pengalaman
Lingkungan

Tingkat pengetahuan

Tingkat pengetahuan baik


Tingkat pengetahuan cukup
Tingkat pengetahuan kurang

Sikap

Sikap baik
Sikap cukup
Sikap kurang

SADARI

Faktor-faktor yang
mempengaruhi sikap
Pengalaman
Pendidikan
Keyakinan
Fasilitas
Sosial budaya
Faktor emosi

Gambar 2.11. Kerangka Konsep