Anda di halaman 1dari 13

A.

Pengertian
Atresia Ani adalah kelainan kongenital yang dikenal sebagai anus imperforate
meliputi anus, rectum atau keduanya (Betz. Ed 3 tahun 2002)
Atresia ani atau anus imperforate adalah tidak terjadinya perforasi membran yang
memisahkan bagian entoderm mengakibatkan pembentukan lubang anus yang tidak
sempurna. Anus tampak rata atau sedikit cekung ke dalam atau kadang berbentuk anus
namun tidak berhubungan langsung dengan rectum.
Atresia Ani merupakan kelainan bawaan (kongenital), tidak adanya lubang atau
saluran anus (Donna L. Wong, 520 : 2003).
Atresia berasal dari bahasa Yunani, a artinya tidak ada, trepis artinya nutrisi atau
makanan. Dalam istilah kedokteran atresia itu sendiri adalah keadaan tidak adanya atau
tertutupnya lubang badan normal atau organ tubular secara kongenital disebut juga clausura.
Dengan kata lain tidak adanya lubang di tempat yang seharusnya berlubang atau buntunya
saluran atau rongga tubuh, hal ini bisa terjadi karena bawaan sejak lahir atau terjadi
kemudian karena proses penyakit yang mengenai saluran itu. Atresia dapat terjadi pada
seluruh saluran tubuh, misalnya atresia ani. Atresia ani yaitu tidak berlubangnya dubur.
Atresia ani memiliki nama lain yaitu anus imperforata. Jika atresia terjadi maka hampir selalu
memerlukan tindakan operasi untuk membuat saluran seperti keadaan normalnya
Menurut Ladd dan Gross (1966) anus imperforata dalam 4 golongan, yaitu:

1.

Stenosis rektum yang lebih rendah atau pada anus

2.

Membran anus yang menetap

3.

Anus imperforata dan ujung rektum yang buntu terletak pada bermacam-macam jarak dari
peritoneum

4.

Lubang anus yang terpisah dengan ujung


Anus imperforata merupakan suatu kelainan malformasi kongenital di mana tidak
lengkapnya perkembangan embrionik pada bagian anus atau tertutupnya anus secara
abnormal atau dengan kata lain tidak ada lubang secara tetap pada daerah anus. Anus
imperforata ini dapat meliputi bagian anus, rektum, atau bagian diantara keduanya.
Atresia Ani

B.

Tanda dan Gejala


Gejala yang menunjukan terjadinya atresia ani atau anus imperforata terjadi dalam waktu
24-48 jam. Gejala itu dapat berupa:

Tidak dapat atau mengalami kesulitan mengeluarkan mekonium (mengeluarkan tinja yang
menyerupai pita).

Perut membuncit

Muntah

Tidak bisa buang air besar

Pada pemeriksaan radiologis dengan posisi tegak serta terbalik dapat dilihat sampai dimana
terdapat penyumbatan.

C.

Patofisiologi
Terjadinya anus imperforata karena kelainan kongenital dimana saat proses
perkembangan embrionik tidak lengkap pada proses perkembangan anus dan rektum. Dalam
perkembangan selanjutnya ujung ekor dari belakang berkembang jadi kloaka yang juga akan
berkembang jadi genito urinari dan struktur anorektal. Atresia anal ini terjadi karena
ketidaksempurnaannya migrasi dan perkembangan struktur kolon antara 7- 10 minggu selama
perkembangan janin. Kegagalan migrasi tersebut juga karena gagalnya agenesis sakral dan
abnormalitas pada daerah uretra dan vagina atau juga pada proses obstruksi. Anus i
mperforata dapat terjadi karena tidak adanya pembukaan usus besar yang keluar anus
sehingga menyebabkan feses tidak dapat dikeluarkan.

D.

Penyebab
Atresia dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:

1. Putusnya saluran pencernaan dari atas dengan daerah dubur sehingga bayi lahir tanpa lubang
dubur
2. Kegagalan pertumbuhan saat bayi dalam kandungan berusia 12 minggu/3 bulan
3. Adanya gangguan atau berhentinya perkembangan embriologik didaerah usus, rektum bagian
distal serta traktus urogenitalis, yang terjadi antara minggu keempat sampai keenam usia
kehamilan.
E.

Atresia ani dapat dikelompokkan menjadi beberapa tipe:

1. Saluran anus atau rektum bagian bawah mengalami stenosis dalam berbagai derajat
2. Terdapat suatu membran tipis yang menutupi anus karena menetapnya membran anus
3. Anus tidak terbentuk dan rektum berakhir sebagai suatu suatu kantung yang buntu terletak
pada jarak tertentu dari kulit di daerah anus yang seharusnya terbentuk (lekukan anus)
4. Saluran anus dan rektum bagian bawah membentuk suatu kantung buntu yang terpisah, pada
jarak tertentu dari ujung rektum yang berakhir sebagai kantung buntu.
5. Kelainan yang berdasarkan hubungan antara bagian terbawah rektum yang normal dengan
otot puborektalis yang memiliki fungsi sangat penting dalam proses defekasi, dikenal sebagai
klasifikasi melboume.
6. Kelainan letak rendah, Rektum telah menembus "lebator sling" sehingga sfingter ani internal
dalam keadaan utuh dan dapat berfungsi normal contohnya berupa stenosis anus (tertutupnya
anus oleh suatu membran tipis yang seringkali disertai fistula anokutaneus dan anus
ektopikyang selalu terletak dianterior lokasi anus yang normal).
7. Rektum berupa kelainan letak tengah di daerah anus seharusnya terbentuk secara lazim
terdapat lekukan anus (analdimple) yang cukup dalam. Namun, pada kelainan yang jarang

ii

ditemukan ini sering terdapat fistula rektouretra yang menghubungkan rektum yang buntu
dengan uretra pars bulbaris.
8. Kelainan letak tinggi Kelainan ini lebih banyak ditemukan pada bayi laki-laki, sebaliknya
kelinan letak redah sering ditemukan pada bayi perempuan. Pada perempuan dapat
ditemukan fistula -and kutaneus, fistula rektoperinium dan fistula rektovagina. Sedangkan
pada laki-laki dapat ditemukan dua bentuk fistula yaitu fistula ektourinaria dan fistula
rektoperineum. Fistula ini menghubungkan rektum dengan kandung kemih pada daerah
trigonum vesika. Fistula tidak dapat dilalui jika mekonoium jika brukuran sangat kecil,
sedangkan fistula dapat mengeluarkan mekonium dalam rektum yang buntu jika berukuran
cukup besar. Oleh karena itu, dapat terjadi kelainan bentuk anorektum disertai fistula.
Kelainan bawaan anus juga dapat disebabkan gangguan pertumbuhan dan fusi. Gangguan
pemisahan kloaka menjadi rektum dan sinus urogenital.
F.

Diagnosis
Cara penegakan diagnosis pada kasus atresia ani atau anus imperforata adalah semua
bayi yang lahir harus dilakukan pemasukan termometer melalui anusnya, tidak hanya untuk
mengetahui suhu tubuh, tapi juga untuk mengetahui apakah terdapat anus imperforata atau
tidak.

G.

Gambaran Klinis
Pada golongan 3 hampir selalu disertai fistula. Pada bayi wanita sering ditemukan fistula
rektavaginal (dengan gejala bila bayi buang air besar feses keluar dari vagina) dan jarang
rektoperineal. Untuk mengetahui kelainan ini secara dini pada semua bayi baru lahir harus
dilakukan colok anus dengan menggunakan termometer yang dimasukkan sampai sepanjang
2 cm ke dalam anus. Atau dapat juga dengan jari kelingking yang memakai sarung tangan.
Jika terdapat kelainan maka termometer/jari tidak dapat masuk. Bila anus terlihat normal dan
penyumbatan terdapat lebih tinggi dari perineum, gejala akan timbul dalam 24-48 jam setelah
lahir berupa perut kembung, muntah dan berwarna hijau.

H.

Penatalaksanaan
Penanganan secara preventif antara lain:

1.

Kepada ibu hamil hingga kandungan menginjak usia tiga bulan untuk berhati-hati
terhadapobat-obatan,makanan awetan dan alkohol yang dapat menyebabkan atresia ani

2. Memeriksa lubang dubur bayi saat baru lahir karena jiwanya terancam jika sampai tiga hari
tidak diketahui mengidap atresia ani karena hal ini dapat berdampak feses atau tinja akan
tertimbun hingga mendesak paru-parunya.
3. Pengaturan diet yang baik dan pemberian laktulosa untuk menghindari konstipasi.
I.

Penanganan Medis

1.

Eksisi membran anal

2.

Fistula, yaitu dengan melakukan kolostomi sementara dan setelah umur 3 bulan dilakukan
koreksi sekaligus.

J.

Rehabilitasi Dan Pengobatan

iii

1. Melakukan pemeriksaan colok dubur


2. Melakukan pemeriksaan radiologik
Pemeriksaan foto rontgen bermanfaat dalam usaha menentukan letak ujung rectum yang
buntu setelah berumur 24jam, bayi harus diletakkan dalam keadaan posisi terbalik sellama
tiga menit, sendi panggul dalam keadaan sedikitekstensilalu dibuat foto pandangan
anteroposterior dan lateral setelah petanda diletakkan pada daerah lekukan anus.
3. Melakukan tindakan kolostomi neonatus, tindakan ini harus segera diambil jika tidak ada
evakuasi mekonium.
4. Pada stenosis yang berat perlu dilakukan dilatasi setrap hari dengan kateter uretra, dilatasi
hegar,atau spekulum hidung berukuran kecil selanjutnya orang tua dapat melakukan dilatasi
sendiri dirumah dengan jari tangan yangdilakukan selama 6 bulan sampai daerah stenosis
melunak dan fungsi defekasi mencapai keadaan normal.
5. Melakukan operasi anapelasti perineum yang kemudian dilanjutkan dengan dilatasi pada anus
yang baru pada kelainan tipe dua.
6. Pada kelainan tipe tiga dilakukan pembedahan rekonstruktif melalui anoproktoplasti pada
masa neonatus
7. Melakukan pembedahan rekonstruktif antara lain:
Operasi abdominoperineum pada usia (1 tahun)
Operasi anorektoplasti sagital posterior pada usia (8-!2 bulan)
Pendekatan sakrum setelah bayi berumur (6-9 bulan)
8.

Penanganan tipe empat dilakukan dengan kolostomi kemudian dilanjutkan dengan


operasi"abdominalpull-through"manfaat kolostomi adalah antara lain:

Mengatasi obstruksi usus


Memungkinkan pembedahan rekonstruktif untuk dikerjakan dengan lapangan operasi yang
bersih
Memberi kesempatan pada ahli bedah untuk melakukan pemeriksaan lengkap dalam usaha
menentukan letak ujung rektum yang buntu serta menemukan kelainan bawaan yang lain.
Teknik terbaru dari operasi atresia ani ini adalah teknik Postero Sagital Ano Recto Plasty
(PSARP). Teknik ini punya akurasi tinggi untuk membuka lipatan bokong pasien. Teknik ini
merupakan ganti dari teknik lama, yaitu Abdomino Perineal Poli Through (APPT). Teknik
lama ini punya resiko gagal tinggi karena harus membuka dinding perut.
K.

Pemeriksaan Penunjang

1. Pemeriksaan radiologik dengan enema barium.disini akan terlihat gambaran klasik seperti
daerah transisi dari lumen sempit kedaerah yang melebar. pada foto 24 jam kemudian terlihat
retensi barium dan gambaran makrokolon pada hirschsprung segmen panjang.
2. Pemeriksaan biopsi hisap rektum dapat digunakan untuk mencari tanda histologik yang khas
yaitu tidak adanya sel ganglion parasimpatik dilapisan muskularis mukosa dan adanya
serabut syaraf yang menebal pada pemeriksaan histokimia, aktifitas kolinaterase meningkat.

iv

Atresia ani biasanya jelas sehingga diagnosis sering dapat ditegakkan segera setelah bayi
lahir dengan melakukan inspeksi secara tepat dan cermat pada daerah perineum. Diagnosis
kelainan anurektum tipe pertama dan keempat dapat terlewatkan sampai diketahui bayi
mengalami distensi perut dan tidak mengalami kesulitan mengeluarkan mekonium.
Pada bayi dengan kelainan tipe satu/kelainan letak rendah baik berupa stenosis atau anus
ektopik sering mengalami kesulitan mengeluarkan mekonium. Pada stenosis yang ringan,
bayi sering tidak menunjukkan keluhan apapun selama beberapa bulan setelah lahir.
Megakolon sekunder dapat terbentuk akibat adanya obstruksi kronik saluran cerna bagian
bawah daerah stenosis yang sering bertambah berat akibat mengerasnya tinja.
Bayi dengan kelainan tipe kedua yang tidak disertai fistula/fistula terlalu kecil untuk dilalui
mekonium sering akan mengalami obstruksi usus dalam 48 jam stelah lahir. Didaerah anus
seharusnya terentuk penonjolan membran tipis yang tampak lebih gelap dari kulit
disekitarnya,

karena

mekonium

terletak

dibalik

membran

tersebut.

Klainan letak tinggi atau agenesis rectum seharusnya terdapat suatu lekukan yang berbatas
tegas dan memiliki pigmen yang lebih banyak daripada kulit disekitarnya sehingga pada
pemeriksaan fisik dapat ditemukan lubang fistulla pada dinding posterior vagina/perinium,
atau tanda-tanda adanya fistula rektourinaria. Fistula rektourinaria biasanya ditandaioleh
keluarnya

mekonium

serta

keluarnya

udara

dari

uretra.

Diagnosi keempat dapat terlewatkan sampai beberpa hari karena bayi tampak memiliki anus
yang normal namun salurran anus pendek dan berakhir buntu. Mnifestasi obstruksi usus
terjadi segera setelah bayi lahir karena bayi tidak dapat mengeluarkan mekonium. Diagnosis
biasanya dapat dibuat dengan pemeriksaan colok dubur.
BAB III PENUTUP
A.

Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan diatas maka penulis dapat menyimpulkan bahwa Atresia
Ani adalah suatu kegagalan organ, tidak bisa mengeluarkan mekonium / feses atau tidak
memiliki lubang anus dikarenakan Kegagalan pertumbuhan saat bayi dalam kandungan
berusia 12 minggu/3 bulan

B.

Saran
Penulis menyarankan agar kepada ibu hamil hingga kandungan menginjak usia
tiga bulan untuk berhati-hati terhadap obat-obatan, makanan awetan dan alkohol.

2.7 Pengertian Atresia Ani


Atresia Ani adalah kelainan kongenital yang dikenal sebagai anus imperforate meliputi anus,
rectum atau keduanya (Betz. Ed 3 tahun 2002)
Atresia ini atau anus imperforate adalah tidak terjadinya perforasi membran yang memisahkan
bagian entoderm mengakibatkan pembentukan lubang anus yang tidak sempurna. Anus tampak
rata atau sedikit cekung ke dalam atau kadang berbentuk anus namun tidak berhubungan langsung
dengan rectum. (sumber Purwanto. 2001 RSCM)
Atresia Ani merupakan kelainan bawaan (kongenital), tidak adanya lubang atau saluran anus
(Donna L. Wong, 520 : 2003).
2.8 Etiologi Atresia Ani
Penyebab atresia ani belum diketahui secara pasti tetap ini merupakan penyakit anomaly
kongenital (Bets. Ed tahun 2002)
Akan tetapi atresia juga dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:
1. Putusnya saluran pencernaan dari atas dengan daerah dubur sehingga bayi lahir tanpa lubang
dubur.
2. Kegagalan pertumbuhan saat bayi dalam kandungan berusia 12 minggu/3 bulan.
3. Adanya gangguan atau berhentinya perkembangan embriologik didaerah usus, rektum bagian
distal serta traktus urogenitalis, yang terjadi antara minggu keempat sampai keenam usia
kehamilan.

2.9 Patofisologi Atresia Ani


a. Kelainan ini terjadi karena kegagalan pembentukan septum urorektal secara komplit karena
gangguan pertumbuhan, fusi atau pembentukan anus dari tonjolan embrionik
b. Putusnya saluran pencernaan dari atas dengan daerah dubur, sehingga bayi lahir tanpa lubang
dubur
c. Gangguan organogenesis dalam kandungan penyebab atresia ani, karena ada kegagalan
pertumbuhan saat bayi dalam kandungan berusia 12 minggu atau tiga bulan
d. Berkaitan dengan sindrom down
e. Atresia ani adalah suatu kelainan bawaan
2.10 Manifestasi Klinis Atresia Ani
a. Mekonium tidak keluar dalam 24 jam pertama setelah kelahiran.
b. Tidak dapat dilakukan pengukuran suhu rectal pada bayi.
c. Mekonium keluar melalui sebuah fistula atau anus yang salah letaknya.
d. Distensi bertahap dan adanya tanda-tanda obstruksi usus (bila tidak ada fistula).
e. Bayi muntah-muntah pada umur 24-48 jam.
f. Pada pemeriksaan rectal touch terdapat adanya membran anal.
g. Perut kembung.
(Betz. Ed 7. 2002)
Untuk mengetahui kelainan ini secara dini, pada semua bayi baru lahir harus dilakukan colok anus
dengan menggunakan termometer yang dimasukkan sampai sepanjang 2 cm ke dalam anus. Atau
dapat juga dengan jari kelingking yang memakai sarung tangan. Jika terdapat kelainan, maka
termometer atau jari tidak dapat masuk. Bila anus terlihat normal dan penyumbatan terdapat lebih
tinggi dari perineum. Gejala akan timbul dalam 24-48 jam setelah lahir berupa perut kembung,
muntah berwarna hijau.
2.11 Diagnosisis
a. Bayi cepat kembung antara 4-8 jam setelah lahir
b. Tidak ditemukan anus, kemungkinan ada fistula
c. Bila ada fistula pada perineum(mekoneum +) kemungkinan letak rendah
Untuk menegakkan diagnosis Atresia Ani adalah dengan anamnesis dan pemeriksaan perineum
yang teliti .
2.12 Komplikasi Atresia Ani

vi

Komplikasi yang dapat terjadi pada penderita atresia ani antara lain :
a. Asidosis hiperkioremia.
b. Infeksi saluran kemih yang bisa berkepanjangan.
c. Kerusakan uretra (akibat prosedur bedah).
d. Komplikasi jangka panjang.
- Eversi mukosa anal
- Stenosis (akibat kontriksi jaringan perut dianastomosis)
e. Masalah atau kelambatan yang berhubungan dengan toilet training.
f. Inkontinensia (akibat stenosis awal atau impaksi)
g. Prolaps mukosa anorektal.
h. Fistula kambuan (karena ketegangan diare pembedahan dan infeksi)
(Ngustiyah, 1997 : 248)
2.13 Klasifikasi Atresia Ani
Klasifikasi atresia ani :
a. Anal stenosis adalah terjadinya penyempitan daerah anus sehingga feses tidak dapat keluar.
b. Membranosus atresia adalah terdapat membran pada anus.
c. Anal agenesis adalah memiliki anus tetapi ada daging diantara rectum dengan anus.
d. Rectal atresia adalah tidak memiliki rectum
(Wong, Whaley. 1985).
2.14 Penatalaksanaan Medis Atresia Ani
a. Pembedahan
Terapi pembedahan pada bayi baru lahir bervariasi sesuai dengan keparahan kelainan. Semakin
tinggi gangguan, semakin rumit prosedur pengobatannya. Untuk kelainan dilakukan kolostomi
beberapa lahir, kemudian anoplasti perineal yaitu dibuat anus permanen (prosedur penarikan
perineum abnormal) dilakukan pada bayi berusia 12 bulan. Pembedahan ini dilakukan pada usia 12
bulan dimaksudkan untuk memberi waktu pada pelvis untuk membesar dan pada otot-otot untuk
berkembang. Tindakan ini juga memungkinkan bayi untuk menambah berat badan dan bertambah
baik status nutrisnya. Gangguan ringan diatas dengan menarik kantong rectal melalui afingter
sampai lubang pada kulit anal fistula, bila ada harus tutup kelainan membranosa hanya
memerlukan tindakan pembedahan yang minimal membran tersebut dilubangi degan hemostratau
skapel
b. Pengobatan
1. Aksisi membran anal (membuat anus buatan)
2. Fiktusi yaitu dengan melakukan kolostomi sementara dan setelah 3 bulan dilakukan korksi
sekaligus (pembuat anus permanen)
c. Keperawatan
Kepada orang tua perlu diberitahukan mengenai kelainan pada anaknya dan keadaan tersebut dapat
diperbaiki dengan jalan operasi. Operasi akan dilakukan 2 tahap yaitu tahap pertama hanya
dibuatkan anus buatan dan setelah umur 3 bulan dilakukan operasi tahapan ke 2, selain itu perlu
diberitahukan perawatan anus buatan dalam menjaga kebersihan untuk mencegah infeksi serta
memperhatikan kesehatan bayi
(Staf Pengajar FKUI. 205)
2.15 Pemeriksaan Penunjang Atresia Ani
a. Pemeriksaan rectal digital dan visual adalah pemeriksaan diagnostik yang umum dilakukan pada
gangguan ini.
b. Jika ada fistula, urin dapat diperiksa untuk memeriksa adanya sel-sel epitel mekonium.
c. Pemeriksaan sinyal X lateral infeksi (teknik wangensteen-rice) dapat menunjukkan adanya
kumpulan udara dalam ujung rectum yang buntu pada mekonium yang mencegah udara sampai
keujung kantong rectal.
d. Ultrasound dapat digunakan untuk menentukan letak rectal kantong.
e. Aspirasi jarum untuk mendeteksi kantong rectal dengan menusukan jarum tersebut sampai
melakukan aspirasi, jika mekonium tidak keluar pada saat jarum sudah masuk 1,5 cm Derek
tersebut dianggap defek tingkat tinggi.
f. Pemeriksaan radiologis dapat ditemukan
- Udara dalam usus berhenti tiba-tiba yang menandakan obstruksi di daerah tersebut.
- Tidak ada bayangan udara dalam rongga pelvis pada bagian baru lahir dan gambaran ini harus

vii

dipikirkan kemungkinan atresia reftil/anus impoefartus, pada bayi dengan anus impoefartus. Udara
berhenti tiba-tiba di daerah sigmoid, kolon/rectum.
- Dibuat foto anterpisterior (AP) dan lateral. Bayi diangkat dengan kepala dibawah dan kaki diatas
pada anus benda bang radio-opak, sehingga pada foto daerah antara benda radio-opak dengan
dengan bayangan udara tertinggi dapat diukur.

BAB III
TINJAUAN KASUS
I. Pengkajian
Pengkajian Data Tanggal 28 Desember 2010 Pukul 14.00 WIB
1.1 Data Subyektif
1. Identitas
- Nama Pasien : Bayi S
- Umur : 2 jam
- Jenis kelamin : Perempuan
2. Identitas Orang Tua
Ibu Ayah
- Nama : Ny. R Tn. F
- Umur : 22 th 26 th
- Agama : Islam Islam
- Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga Guru
- Alamat : Ds. D, Kec P, Kab P
3. Anamnese
a. Keluhan utama pada bayi
Petugas mengatakan bayi mengalami atresia ani dengan hasil pemeriksaan fisik setelah 2 jam
pertama setelah lahir tidak ditemukaan adanya lubang anus, serta perut bayi kembung
b. Riwayat obstetri
Riwayat kehamilan terakhir :
- TT : ibu mengatakan selama hamil mendapatkan imunisasi TT sebanyak 2 kali, imunisasi TT1
diberikan oleh bidan R sejak ibu diketahui positif hamil. Sedangkan imunisasi TT2 diberikan
pada 4 minggu setelah mendapatkan imunisasi TT1
- Obat/jamu yang diminum : ibu mengatakan selama hamil hanya mengkonsumsi obat tablet Fe
sebanyak 90 tablet selama hamil sesuai anjuran bidan. Tidak mengkonsumsi obat dan jamu lain
- Triwulan I : ibu mengatakan pada kehamilan selama 3 bulan pertama melakukan 3 kali
kunjungan di BPS bidan R dengan keluhan mual dan muntah berlebihan selama 2 bulan pertama
kehamilan.
- Triwulan II : ibu mengatakan pada kehamilan 4 bulan hingga 6 bulan melakukan 2 kali
kunjungan di BPS bidan R dengan tidak ada keluhan apapun.
- Triwulan III : ibu mengatakan pada usia kehamilan 7 bulan hingga 9 bulan melakukan 4 kali
kunjungan di BPS R dengan keluhan sering kencing.
c. Riwayat Persalinan

viii

Tanggal 28 Desember 2010 pukul 08.00 WIB. Bayi lahir normal spontan belakang kepala, ditolong
leh bidan, lama persalinan kala I 7 jam, kala II 30 menit, kala III 5 menit, plasenta lahir lengkap,
jenis kelamin bayi perempuan tidak ada lilitan tali pusat, BB : 3200 gr, PB : 50 cm, 2 jam post
partum perdarahan 200 cc

1.2 Data Obyektif


b. Keadaan bayi
Nilai APGAR score 1/5/10, 20
No Aspek yang dinilai 1 5 10 20
1.
2.
3.
4.
5. Pernafasan
Denyut Jantung
Refleksi
Tonus otot
Warna kulit 2
2
2
2
22
2
2
2
22
2
2
2
22
2
2
1
2
Jumlah 10 10 10 9
BB lahir / sekarang : 3200 gr / 3200 gr
PB lahir / sekarang : 50 cm / 50 cm
LK lahir / sekarang : 34 cm / 34 cm
Keadaan sekarang : dengan atresia ani
Pernapasan : 45x / menit
Nadi : 140x / menit
Suhu : 36,7 C
Tonus otot : pada nilai AS 1
c. Keadaan umum
TTV :
- Pernapasan : 45x / menit
- Nadi : 140x / menit
- Suhu : 36,7 C
- BB : 3200 gr
- TB : 50 cm

ix

d. Pola kebutuhan sehari-hari


1. Nutrisi : bayi belum sudah sedikit minum ASI
Masalah : tidak ada masalah pada menyusui
2. Istirahat dan tidur : bayi belum tidur selama 2 jam setelah lahir
3. Eliminasi : BAK : bayi 1 kali BAK
BAB : bayi belum BAB
Masalah : bayi mengalami atresia ani
4. Aktivitas : bayi melakukan dengan gerakan beberapa
gerakan halus
5. Personal higiens :
Mandi : bayi belum dimandikan semenjak lahir
Ganti baju : ganti baju setiap baju/kain basah
Perawatan mata : selama lahir baru diberikan profilaksis mata
Mulut : dibersihkan dengan kapas DTT
Hidung : dibersihkan dengan kapas DTT
Telinga : belum dilakukan perawatan
Perawatan kulit : belum dilakukan perawatan
Perawatan genetalia : dibersihkan dengan menggunakan kapas DTT
Mencuci rambut : belum dilakukan perawatan rambut
Perawatan tali pusat : dibalut dengan kasa steril
e. Pemeriksaan fisik
- Kepala
Inspeksi : penyebaran rambut rata, tidak ada kelainan bentuk kepala seperti makroshepal /
hidrosephalus, mikrosephalus, sephal, warna rambut hitam
Palpasi : pada ubun-ubun besar terdapat 4 sutura diantaranya S. Frontalis, S. Sagitalis, 2 S.
Koronalis. Pada ubun-ubun kecil terdapat 3 sutura diantaranya S. Lamboideus kanan & kiri dan S.
Sagitalis, tidak ada molase / penyimpangan kepala
- Muka
Inspeksi : bentuk muka bulat, tekstur kulit halus
- Mata
Inspeksi : kedudukan mata simetris, sklera ichterus, pupil bulat kecoklatan, tidak ada kelainan
kongenital pada mata, tidak ada perdarahan pada konjungtiva, refleks cahaya (+) ishokor.
Palpasi : refleks glabella (+)
- Telinga
Inspeksi : kedudukan antara telinga kanan dan telingan kiri simetris dan sejajar, daun telinga
terbentuk sempurna, telinga bersih, tidak ada serumen, refleks moro (+)
- Hidung
Inspeksi : septumnasi lurus, hidung bersih, lubang hidung kanan dan kiri simetris, pernapasan
melalui hidung
- Mulut dan gigi
Inspeksi : mulut bersih, bibir atas dan bibir bawah simetris, mukosa lembab, tidak ada kelainan
pada bibir seperti labioschisis dan labiopalatoschisis (pada palatum), lidah bersih
Palpasi : refleks rooting (+)
- Leher
Inspeksi : bentuk leher pendek, bersih
Palpasi : tidak ada pembesaran vena jugularis, teraba denyut nadi karotis, tidak ada pembesaran
kelenjar tyroid, tidak ada pembesaran kelenjar limfe, refleks tonik leher (+)
- Dada
Inspeksi : bentuk dada menonjol, kedudukan puting susu simetris, tampak denyut jantung, RR
45x/menit, tidak ada tarikan pada intercostalis
Palpasi : tidak ada benjolan pada area dada
Auskultasi : terdengar BJ1 Lup BJ2 Dup
Perkusi : suara paru-paru sonor
- Abdomen
Inspeksi : bentuk datar, tidak ada kelainan pada dinding perut seperti omfalokel, hernia
diafragmatika.
Perkusi : tympani (kembung)

- Tali pusat
Inspeksi : warna putih, tidak ada tanda-tanda infeksi
- Genetalia
Inspeksi : terdapat lubang uretra, terdapat lubang vagina, labia mayora sudah menutupi labia
minora
- Anus
Inspeksi : anus tidak terbentuk sempurna
- Ekstremitas atas
Inspeksi : tidak ada kelainan pada jumlah jari pada tangan kanan dan kiri seperti sindaktil atau
polidaktil, refleks greps (+), nadi 140x/menit
- Ekstremitas bawah
Inspeksi : antara kaki kanan dan kiri simetris, tidak ada kelainan kongenital, tidak ada kelainan
jumlah jari antara kaki kanan dan kaki kiri seperti sindaktil dan polidaktil, refleks babinski (+)
- Punggung
Inspeksi : tidak ada tanda lahir, tidak terdapat spina bifida
Palpasi : refleks gallans (+)
f. Pemeriksaan refleks
- Refleks morrow : (+)
- Refleks rooting : (+)
- Refleks sucking : (+)
- Refleks tonik : (+)
- Refleks graps : (+)
- Refleks gallans : (+)
- Refleks babinski : (+)
g. Pengukuran antropometri
- Cirkumferensia :
o C. Fronto occipitalis : 34 cm
o C. Mento occipitalis : 35 cm
o C. Suboksipito- bregma : 32 cm
- Ukuran diameter
o D. Occipito Frontalis : 12 cm
o D. Mento occipito : 13,5 cm
o D. Suboccipito bregma: 9,5 cm
o D. Biparietalis : 9,25 cm
o D. Bitemporalis : 8 cm
- LIDA : 34 cm
- LIKA : 34 cm
h. Pemeriksaan penunjang
Belum dilakukan pemeriksaan penunjang
II. Interprestasi Data ( Tanggal 28 Desember 2010, Pukul : 14.15 WIB )
Diagnosa : Bayi baru lahir perempuan umur 2 jam dengan atresia ani
Data subyektif : Petugas mengatakan bayi mengalami atresia ani dengan hasil pemeriksaan fisik
setelah 2 jam pertama setelah lahir tidak ditemukaan adanya lubang anus
Data obyektif :
- TTV :
RR : 45 x/menit
Suhu : 36,7 C
Nadi : 140 x/menit
- Perut kembung
- Tidak ditemui adanya lubang anus
III. Identifikasi Masalah Potensial
Atresia ani
IV. Identifikasi Kebutuhan Segera

xi

- Colok anus
- Lakukan rujukan dengan BAKSOKU

Atresia rekti
4.2.1

Gambaran klinis
Pada bayi wanita sering ditemukan fistula rektovaginal ( dengan gejala bila bayi buang air

besar feses keluar dari vagina) dan jarang rektoperineal tidak pernah rektourinarius sedangkan
pada bayi laki laki dapat terjadi fistula rektourinarius dan berakhir dikandungan kemih atau uretra
dan jarang rektoperineal untuk mengetahui kelainan ini secara dini, pada semua bayi baru lahir
harus dilakukan colok anus dengan menggunakan thermometer yang dimasukkan sampai
sepanjang 2 cm kedalam anus atau dapat juga dengan jari kelingking yang memakai sarung tangan
jika terdapat kelainan maka thermometer dan jari kelingking tidak dapat masuk .bila anus terlihat
norml dan penyumbatan terdapat lebih tinggi dari perineum gejala akan timbul dalam 24 28 jam
setelah lahir berupa perut kembung dan muntah berwarna hijau.

4.2.2

Penatalaksanaan
Penatalaksanaan atresia ani tergantung klasifikasinya. Pada atresia ani letak tinggi harus

dilakukan kolostomi terlebih dahulu. Pada beberapa waktu lalu penanganan atresia ani
menggunakan prosedur Abdomino Perineal Poli Through (APPT), tapi metode ini banyak
menimbulkan inkontinen feses dan prolaps mukosa usus yang lebih tinggi. Pena dan Defries
(1982) memperkenalkan metode operasi yang baru, yaitu PSARP (Postero Sagital Ano Recto
Plasty). Yaitu dengan cara membelah muskulus sfingter eksternus dan muskulus levator ani untuk
memudahkan mobilisasi kantong rectum dan pemotongan fistel. Tekhnik dari PSARP ini
mempunyai akurasi yang sangat tinggi dibandingkan dengan APPT yang mempunyai tingkat
kegagalan yang tinggi.

xii

4.2.3 Terapi dan Pengobatan


1.

Pembedahan
Terapi pembedahan pada bayi baru lahir bervariasi sesuai dengan keparahan kelainan. Semakin
tinggi gangguan, semakin rumit prosedur pengobatannya. Untuk kelainan dilakukan kolostomi
(membuat anus buatan) beberapa saat setelah lahir, kemudian anoplasti perineal yaitu dibuat anus
permanen (prosedur penarikan perineum abnormal) dilakukan pada bayi berusia 12 bulan.
Pembedahan ini dilakukan pada usia 12 bulan dimaksudkan untuk memberi waktu pada pelvis
untuk membesar dan pada otot-otot untuk berkembang. Tindakan ini juga memungkinkan bayi
untuk menambah berat badan dan bertambah baik status nutrisnya.
2.

Pengobatan

a.

Aksisi membran anal (membuat anus buatan)

b.

Fiktusi yaitu dengan melakukan kolostomi sementara dan setelah 3 bulan dilakukan korksi
sekaligus (pembuat anus permanen)

xiii