Anda di halaman 1dari 10

Jawaban UAS Pemeriksaan & Penyidikan Pajak

Nama

: AYU AFRIZA

Kampus

: LP3I Blok M

1. Penjelasan Tahapan SPHP dan Tanggapan Wajib Pajak


Surat Pemberitahuan Hasil Pemeriksaan (SPHP) merupakan batas awal
penghitungan jangka waktu pembahasan. Jangka waktu pengujian telah
berakhir. SPHP wajib disampaikan oleh pemeriksa pajak. SPHP diberikan
hanya sekali saja.
SPHP merupakan materi pemeriksaan pokok yang harus diatur di Peraturan
Menteri Keuangan. Materi penting tata cara pemeriksaan menurut Pasal 31
(2) UU KUP terdiri dari:
a. pemeriksaan ulang,
b. jangka waktu pemeriksaan,
c. kewajiban menyampaikan SPHP, dan
d. hak WP untuk hadir dalam pembahasan (closing conference)
Atas penyampaian SPHP tersebut, WP berhak memberikan tanggapan
atas hasil pemeriksaan yang tercantum dalam SPHP dalam jangka waktu 7
hari kerja setelah SPHP diterima oleh Wajib Pajak dan dapat diperpanjang
3 hari jika ada alasan tertentu dengan mengirimkan Surat Pemberitahuan
Perpanjangan.
Tanggapan WP tersebut isinya bisa menyetujui, menolak sebagian, atau
menolak seluruhnya hasil pemeriksaan tersebut. DJP juga memfasilitasi
adanya pembahasan akhir hasil pemeriksaan antara Wajib Pajak dengan
tim pemeriksa.
Dalam jangka waktu 3 hari kerja sejak WP memberikan surat tanggapan
atas SPHP kepada tim pemeriksa pajak, undangan pembahasan akhir hasil
pemeriksaan harus disampaikan kepada wajib pajak.
Ketika WP hadir dalam pembahasan akhir hasil pemeriksaan, dalam hal

Wajib Pajak menolak sebagian atau menolak seluruhnya, Wajib Pajak


berhak untuk meminta bantuan tim Quality Assurance untuk menengahi
perbedaan pendapat antara Wajib Pajak dengan tim pemeriksa. Namun,
apabila Wajib Pajak tidak hadir, maka pembahasan akhir dianggap telah
selesai dilakukan, itu artinya Wajib Pajak menyetujui hasil pemeriksaan
tim pemeriksa pajak.

2. Tim Quality Assurance Pemeriksaan


adalah tim yang dibentuk oleh Direktur Jenderal Pajak dalam rangka
membahas hasil Pemeriksaan yang belum disepakati antara Pemeriksa
Pajak dan Wajib Pajak dalam Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan guna
menghasilkan Pemeriksaan yang berkualitas.
Tim Quality Assurance mempunyai tugas dan fungsi melakukan review
terhadap proses pelaksanaan dan hasil pemeriksaan dalam rangka
meningkatkan mutu hasil pemeriksaan.
Aturan lebih lanjut tentang tim QA Pemeriksaan diatur di Peraturan
Direktur Jenderal Pajak No. PER-34/PJ/2011 tentang petunjuk pelaksana
pemriksaanuntukmengujikepatuhan.
Menurut

Pasal

11A ayat

(2)

Peraturan

Menteri

Keuangan

No.

Pajak

dengan

82/PMK.03/2011, Tim QA Pemeriksaan bertugas:


a. membahas

perbedaan

pendapat

antara

Wajib

Pemeriksa Pajak dalam Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan;


b. memberikan simpulan dan keputusan atas perbedaan pendapat
antara Wajib Pajak dengan Pemeriksa Pajak; dan
c. membuat risalah Tim Quality Assurance Pemeriksaan yang berisi
simpulan dan keputusan hasil pembahasan sebagaimana dimaksud
pada huruf b, yang ditandatangani oleh Tim Quality Assurance
Pemeriksaan dan Tim Pemeriksa, dan/atau dengan Wajib Pajak.
3. Perbedaan penyidik, penyelidik, penyidikan dan penyelidikan, dapat kita
lihat berdasarkan pengertiannya. Memberikan

pengertian

mengenai

penyidik, penyidikan, penyelidik, dan penyelidikan sebagai berikut:


Penyidik adalah pejabat polisi negara Republik Indonesia atau pejabat

pegawai negeri sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh undangundang untuk melakukan penyidikan.
Penyidikan adalah serangkaian tindakan penyidik dalam hal dan
menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini untuk mencari serta
mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tentang
tindak pidana yang terjadi dan guna menemukan tersangkanya.
Penyelidik adalah pejabat polisi negara Republik Indonesia yang diberi
wewenang oleh undang-undang ini untuk melakukan penyelidikan.
Penyelidikan adalah serangkaian tindakan penyelidik untuk mencari
dan menemukan suatu peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana guna
menentukan dapat atau tidaknya dilakukan penyidikan menurut cara yang
diatur dalam undang-undang ini.
Mengenai penjelasan bahwa dari pengertian dalam, penyelidikan
merupakan tindakan tahap pertama permulaan penyidikan. Akan
tetapi harus diingat, penyelidikan bukan tindakan yang berdiri sendiri
terpisah dari fungsi penyidikan. Penyelidikan merupakan bagian yang
tak terpisah dari fungsi penyidikan. Kalau dipinjam kata-kata yang
dipergunakan

buku

petunjuk

Pedoman

Pelaksanaan

KUHAP,

penyelidikan merupakan salah satu cara atau metode atau sub daripada
fungsi penyidikan yang mendahului tindakan lain, yaitu penindakan
berupa

penangkapan,

penahanan,

penggeledahan,

penyitaan,

pemeriksaan surat, pemanggilan, tindakan pemeriksaan, dan penyerahan


berkas kepada penuntut umum.

Jadi sebelum dilakukan tindakan penyidikan, dilakukan dulu penyelidikan


oleh pejabat penyelidik, dengan maksud dan tujuan mengumpulkan bukti
permulaan atau bukti yang cukup agar dapat dilakukan tindak lanjut
penyidikan. Mungkin penyelidikan dapat disamakan dengan pengertian
tindak pengusutan sebagai usaha mencari dan menemukan jejak berupa
keterangan dan bukti-bukti suatu peristiwa yang diduga merupakan tindak

pidana.
4. Dasar Pemeriksaan Bukti Permulaan
Bukti Permulaan adalah keadaan, perbuatan, dan/atau bukti berupa
keterangan, tulisan, atau benda yang dapat memberikan petunjuk adanya
dugaan kuat bahwa sedang atau telah terjadi suatu tindak pidana di bidang
perpajakan yang dilakukan oleh siapa saja yang dapat menimbulkan
kerugian pada pendapatan negara.
Pemeriksaan Bukti Permulaan adalah Pemeriksaan yang dilakukan untuk
mendapatkan bukti permulaan tentang adanya dugaan telah terjadi tindak
pidana di bidang perpajakan.
Pemeriksaan Ulang melalui Pemeriksaan Bukti Permulaanadalah
Pemeriksaan Bukti Permulaan yang dilakukan terhadap Wajib Pajak untuk
jenis pajak dan Masa Pajak/Tahun Pajak yang telah diperiksa pada
pemeriksaan sebelumnya karena adanya indikasi tindak pidana di bidang
perpajakan.
Pemeriksa Bukti Permulaan adalah : Pegawai Negeri Sipil di lingkungan
Direktorat Jenderal Pajak atau tenaga ahli yang ditunjuk oleh Direktur
Jenderal Pajak, yang diberi tugas, wewenang, dan tanggung jawab untuk
melaksanakan Pemeriksaan Bukti Permulaan; atau Pegawai Negeri Sipil
pada unit pemeriksa internal di lingkungan Departemen Keuangan yang
diberi tugas oleh Menteri Keuangan untuk melakukan Pemeriksaan Bukti
Permulaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 43A ayat (2) undangUndang KUP.
Sesuai dengan PerMenkeu No. 18/PMK.03/2013, Direktur Jenderal Pajak
berwenang melakukan Pemeriksaan Bukti Permulaan sebelum dilakukan
penyidikan

tindak

pidana

di

bidang

perpajakan

berdasarkan

hasil

pengembangan dan analisis informasi, data, laporan, dan pengaduan. Hasil


tersebut dapat dilakukan melalui kegiatan intelijen atau pengamatan. Dalam
hal pengembangan dan analisis informasi, data, laporan, dan pengaduan
terkait dengan Masa Pajak, Bagian Tahun Pajak, atau Tahun Pajak yang telah

diterbitkan surat ketetapan pajak, hasil pengembangan dan analisis tersebut


ditindaklanjuti dengan Pemeriksaan atau Pemeriksaan ulang sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 15 Undang-Undang KUP.
TINDAK LANJUT PEMERIKSAAN BUKTI PERMULAAN
Konsep Laporan Pemeriksaan Bukti Permulaan disampaikan kepada Direktur
Intelijen dan Penyidikan dalam hal instruksi Pemeriksaan Bukti Permulaan
diterbitkan oleh Direktur Jenderal Pajak atau Direktur Intelijen dan Penyidikan.
Konsep Laporan Pemeriksaan Bukti Permulaan disampaikan kepada Kepala
Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak yang menerbitkan instruksi
Pemeriksaan Bukti Permulaan
Setelah konsep Laporan Pemeriksaan Bukti Permulaan diterima, selanjutnya
Pejabat yang bersangkutan membuat resume atas konsep Laporan
Pemeriksaan Bukti Permulaan dan menjadwalkan pemaparan dengan Tim
Pemeriksa Bukti Permulaan dihadapan Tim Penelaah.
Tim Penelaah agar dibentuk dengan Surat Keputusan Kepala Unit Pelaksana
Pemeriksaan Bukti Permulaan yang bersangkutan, dengan jumlah anggota
minimal 3 (tiga) orang, yang berasal dari sub direktorat/bidang yang
menangani Pemeriksaan Bukti Permulaan dan sub direktorat/bidang lainnya.
Tugas Tim Penelaah adalah mereview dan membahas konsep Laporan
Pemeriksaan Bukti Permulaan dengan Tim Pemeriksa Bukti Permulaan.
Hasil penelaahan dituangkan dalam bentuk Berita Acara Penelaahan yang
digunakan sebagai dasar penentuan tindak lanjut Pemeriksaan Bukti
Permulaan oleh Kepala Unit Pelaksana Pemeriksaan Bukti Permulaan.
Tindak lanjut Pemeriksaan Bukti Permulaan dapat berupa: usul penyidikan;
atau tindakan lainnya, berupa:
1) penerbitan surat ketetapan pajak dalam hal Wajib Pajak melakukan
perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13A Undang-Undang
KUP;

2) penerbitan surat ketetapan pajak dalam hal Wajib Pajak badan tidak
memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 ayat (3)
dan ayat (3a) Undang-Undang KUP, tetapi tidak ditemukan Bukti
Permulaan bahwa Wajib Pajak melakukan tindak pidana di bidang
perpajakan;
3) pembuatan laporan

kepada

pihak

lain yang

berwenang

apabila

ditemukan Bukti Permulaan yang mengandung adanya unsur tindak


pidana selain di bidang perpajakan;
4) pembuatan laporan sumir apabila

Wajib

Pajak

mengungkapkan

ketidakbenaran perbuatannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8


ayat (3) Undang-Undang KUP; atau
5) pembuatan laporan sumir apabila tidak ditemukan adanya indikasi tindak
pidana di bidang perpajakan, Wajib Pajak yang dilakukan Pemeriksaan
Bukti Permulaan tidak ditemukan, Wajib Pajak orang pribadi yang
dilakukan Pemeriksaan Bukti Permulaan meninggal dunia.
LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN
Hasil Pemeriksaan Bukti Permulaan harus dituangkan dalam Laporan
Pemeriksaan Bukti Permulaan.
Laporan Pemeriksaan Bukti Permulaan antara lain harus mencantumkan halhal sebagai berikut:
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.

Instruksi Pemeriksaan Bukti Permulaan;


Surat Perintah Pemeriksaan Bukti Permulaan;
Surat Tugas;
Identitas Wajib Pajak;
Pemenuhan kewajiban perpajakan Tahun Pajak yang diperiksa;
Alasan dilakukan Pemeriksaan Bukti Permulaan (bukti awal);
Tempat dan waktu kejadian;
Pembukuan atau pencatatan Wajib Pajak;
Data/informasi yang tersedia dari Kantor Pelayanan Pajak;
Daftar buku dan dokumen yang dipinjam; dan
Hasil Pemeriksaan Bukti Permulaan, termasuk:
1. modus operandi;
2. calon tersangka;
3. calon saksi;
4. kerugian negara;
5. pasal-pasal yang dilanggar;
6. bahan bukti yang diperoleh; dan
7. kesimpulan dan usul.


5. STP, SKPKB, SKPKBT
SURAT TAGIHAN PAJAK (STP)
Berdasarkan pengertian STP sebagaiman diatur pada Pasal 14, Dirjen
pajak dapat menerbitkan STP dalam hal-hal sebagai berikut :
a. Pajak penghasilan dalam satu tahun berjalan tidak/kurang bayar,
dikenakan denda bunga 2% sebulan maksimal 24 bulan
b. Dari hasil penelitian Surat Pemberitahuan terdapat kekurangan
pembayaran pajak sebagaimana salah tulis dan atau salah hitung,
dikenakan sanksi bunga 2% sebulan maksimal 24 bulan.
c. Denda administrasi berupa denda atau bunga
d. Pengusaha yang dikenakan pajak berdasarkan Undang-undang Pajak
Pertambahan

Nilai

tidak

melaporkan

kegiatan

usahanya untuk

dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak (PKP), 2% x Dasar


Pengenaan Pajak (DPP)
e. Pengusaha yang tidak dikukuhkan sebagai PKP, tetapi membuat faktur
pajak, denda 2% x DPP
f. Pengusaha yang dikukuhkan sebagai PKP tidak membuat atau
membuat faktur pajak tetapi tepat waktu atau tidak mengisi lengkap
faktur pajak, denda 2% x DPP
SURAT KETETAPAN PAJAK KURANG BAYAR (SKPKB)
SKPKB Adalah surat ketetapan pajak menentukan besarnya jumlah pokok
pajak, jumlah kredit pajak, jumlah pembayaran pokok pajak, besarnya
sanksi administrasi dan jumlah yang masih harus dibayar.
Menurut ketentuan Pasal 13 ayat 9 (1) huruf b, bahwa SPT yang tidak

disampaikan pada waktunya, walaupun telah ditegur secara tidak tertulis


dan tidak juga disampaikan dalam jangka waktu yang ditentukan dalam
surat teguran, membawa akibat bahwa Dirjen pajak dapat menerbitkan
SKPKB secara jabatan. Terhadap ketentuan seperti ini dikenakan sanksi
administrasi berupa kenaikan sebesar 50% dari penghasilan yang tidak atau
kurang bayar dalam satu tahun pajak.

Sanksi untuk tidak melaksanakan kewajiban perpajakan dibidang PPN dan


PPnBm yang mengakibat pajak terutang atau kurang bayar, dikenakan
sanksi administrasi dengan menerbitkan SKPKB ditambah kenaikan
sebesar 100%.

SURAT KETETAPAN PAJAK BAYAR TAMBAHAN (SKPKBT)


Adalah surat ketetapan pajak yang diterbitkan oleh Dirjen pajak menentukan
tambahan atas jumlah pajak yang telah ditetapkan ( dalam surat ketetapan
pajak yang telah diterbitkan sebelumnya Pasal 15 UU KUP). Dalam jangka
waktu 10 tahun sesudah saat pajak terutang berakhirnya masa pajak,
bagian tahun pajak atau tahun pajak, apabila ditemukan data baru (Novum)
dan atau data semula belum terungkap yang mengakibatkan penambahan
jumlah pajak yang terutang. Jumlah pajak yang terutang dalam Surat
Ketetapan Pajak Kurang Bayar tambahan ditambah dengan sanksi
administrasi 100% dari jumlah kekurangan pajak tersebut.

6. TAHAPAN-TAHAPAN PENYIDIKAN PAJAK


Proses atau tahapan penyidikan dapat digambarkan secara singkat sebagai
berikut:
1. Penyidikan tindak pidana dibidang perpajakan dilakukan oleh penyidik
berdasarkan Surat Perintah Penyidikan.
2. Penyidikan

diawali

dengan

disampaikanya

Surat

Pemberitahuan

dimulainya Penyidikan kepada Jaksa pentut umum melalui POLRI dan


kepada tersangka.
3. Dalam melakukan penyidikan, penyidik wajib memperhatikan asas
praduga tak bersalah, dan asas persamaan dimuka hukum. Penyidikan
pajak dilakukan berdasarkan hasil pemeriksaan bukti permulaan.
4. Pada tahap pemerikasaan setiap tersangka dapat didampingi penasehat
hukumnya, bila diperlukan penangkapan atau penahanan, dilakukan
dengan bantuan POLRI.

5. Penyidik pajak wajib memelihara dan meningkatkan sikap terpuji dalam


menjalakan tugas, fungsi, wewenang, serta tanggungjawabnya. Penyidik
wajib menunjukan tanda pengenal penyidik pajak dan surat perintah
penyidikan. Penyidik dapat dibantu petugas lain berdasarkan izin tertulis
dari atasanya, penyidik pajak dalam setiap tindakan penyidikan wajib
membuat laporan dan berita acara. Penyidik pajak harus berpedoman
pada kode etik yang berlaku.
6. Dalam melakukan penggeledahan dan atau penyitaan harus terlebih
dulu mendapat izin tertulis dari dari ketua Pengadilan Negeri setempat
dan harus berdasarkan Surat Perintah Penggeledahan dan atau
Penyidikan dari pejabat berwenang. Apabila mendesak izin tersebut
dapat diperoleh selambat-lambatnya 2 hari setelah pelaksanaan
penggeledahan dan atau penyitaan.
7. Penyidik pajak harus membuat berita acara dalam waktu 2 hari setelah
melakukan

penggeledahan

dan

atau

penyitaan

dan

tindasanya

dilengkapi dengan daftar rincian bahan bukti yang disita disampaikan


kepada pihak atau wakil atau kuasa atau pegawai dari pihak pemilik
tempat yang digeledah dan atau bukti yang disita, diserahkan dengan
bukti penerimaan. Penggeledahan dan atau penyitaan disaksikan oleh
sekurang-kurangnya 2 orang saksi.
8. Pemanggilan tersangka atau saksi dilakukan dengan surat penggilan
yang sah yang harus segera diterima paling lambat 3 hari sebelum
tanggal hadir. Dalam hal tersangka atau saksi untuk kedua kalinya tidak
memenuhi panggilan tanpa alasan yang wajar penyidik dapat meminta
bantuan POLRI untuk menghadirkan yang bersangkutan. Dalam hal
akan meninggalkan wilayah Indonesia, penyidik segera minta bantuan
Kejaksaan Agung untuk melakukan pencegahan.
9. Laporan kemajuan pelaksanaan

penyidikan disampaikan kepada

Kepolisian Negara Republik Indonesia (POLRI).


10. Setelah proses penyidikan selesai Penyidik Pajak membuat Berita Acara
Pendapat, menyerahkan berkas perkara, dan barang bukti kepada
Penuntut Umum melaului Penyidik POLRI, dalam hal dikembalikan

Penyidik Pajak harus segera menyempurnakan dan melengkapi sesuai


petunjuknya.

7. PENGHENTIAN PENYIDIKAN
Penyidik menghentikan penyidikan dalam hal memenuhi ketentuan pasal
44A UU KUP, yaitu;
1. Tidak terdapat cukup bukti
2. Peristiwa tersebut bukan merupakan tindak pidana perpajakan
3. Tersangka meningal dunia
4. Peristiwanya telah daluarsa berdasarkan pasal 40 UU KUP daluarsa
tindak pidana perpajakan adalah 10 tahun. Penghentian penyidikan dapat
juga atas perintah Jaksa Agung melalui permintaan Menteri Keuangan untuk
kepentingan penerimaan Negara (pasal 44B UU KUP).