Anda di halaman 1dari 31

LAPORAN AKHIR

PRAKTIKUM FORMULASI DAN TEKNOLOGI SEDIAAN NON STERIL


FORMULASI DAN EVALUASI GEL SULFUR
FURACNE GEL

DOSEN
Eka Indra Setiawan, S. Farm., M. Sc., Apt.

GOLONGAN II
KELOMPOK 4

Made Rai Dwitya Wiradiputra

(1208505055)

Kadek Giselda Gityarani

(1208505056)

Ni Nengah Pebriani

(1208505059)

Putu Putri Andiani

(1208505060)

I Gusti Ayu Nyoman Suastini

(1208505061)

JURUSAN FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS UDAYANA
2014

BAB I
PREFORMULASI

1.1 Tujuan
1.1.1 Mengetahui formulasi sediaan gel sulfur.
1.1.2 Mengetahui tahapantahapan dalam pembuatan sediaan gel dengan zat
aktif sulfur.
1.1.3 Dapat membuat sediaan non steril gel sulfur skala laboratorium sesuai
dengan persyaratan yang telah ditentukan.
1.1.4 Melakukan pengujian terhadap sediaan gel yang telah dibuat

1.2 Tinjauan Farmakologi Zat Aktif


1.2.1 Indikasi
Sulfur digunakan sebagai keratolitik parasitisida dan antiseptik lembut
yang banyak digunakan dalam bentuk lotion, krim, atau ointment dengan
konsentrasi mencapai 10%, yang biasa dikombinasi dengan agen lain. Sulfur
juga biasa digunakan untuk terapi acne, dandruff atau ketombe, scabies,
seborroic condition atau kelebihan minyak pada kulit kepala, dan infeksi
jamur permukaan. Scabies merupakan infeksi parasit pada kulit yang
disebabkan oleh Sarcoptes scabiei (kompedia). Gejala utamanya adalah
pruritus, dimana disebabkan karena reaksi alergi pada parasit (Sweetman,
2002).
Sulfur biasanya digunakan untuk pengobatan topikal acne vulgaris
guna mengatasi masalah jerawat, ance rosarea, dermatitis seborrheic. Sulfur
banyak digunakan bersama dengan asam salisilat dalam salep dan lotion (210%) yang bersifat keratolitis (melarutkan kulit tanduk) untuk pengobatan
jerawat dan kudis. Dahulu zat ini digunakan sebagai laksan lemah berkat
perombakan dalam usus menjadi sulfide (natrium/kalium) yang merangsang
peristaltik usus. Sulfur praecipitatum merupakan yang paling aktif, karena
memiliki bentuk serbuk yang paling halus (Tjay dan Rahardja, 2008).

Sulfur

bekerja

sebagai

agen

keratolitik

yaitu

selain

dapat

melunakkan/menipiskan lapisan keratin, juga dapat menghilangkan sisik-sisik


kulit yang kasar, serta memiliki aktivitas antifungi dan antibakteri lemah.
Sulfur sering dikombinasikan dengan asam salisilat menghasilkan efek
keratolitik yang sinergis. Dosis optimal penggunaan sulfur sebagai agen
keratolitik yaitu sebesar 10% yang digunakan untuk terapi scabies/kudis
untuk efek terapi yang maksimum (Sweetman, 2002).
1.2.2 Farmakokinetik
Absorpsi,

distribusi

dan

eliminasi

dari

sulfur

tidak

dapat

dikarakterisasi seluruhnya. Pemakaian sulfur secara topikal terpenetrasi ke


dalam kulit dan mencapai epidermis dalam waktu 2 jam setelah digunakan
dan melewati kulit selama 8 jam. Obat tidak terdeteksi dalam kulit 24 jam
setelah digunakan. Absorpsi perkutan obat ke dalam sirkulasi sistemik
dilaporkan terjadi setelah penggunaan topikal dari 25 % salep sulfur yang
dioleskan pada kulit hewan. Tetapi, tidak terjadi ketika obat digunakan pada
kulit yang tidak rusak (Mc Evoy, 2002).
1.2.3 Mekanisme
Mekanisme aksi sulfur sebagai agen terapi acne (jerawat) tidak
diketahui secara pasti, namun telah dilaporkan bahwa sulfur dapat
menghambat pertumbuhan jerawat yang diakibatkan oleh Propionibacterium
acne dan pembentukan asam lemak bebas. Sulfur mengeluarkan kelebihan
sebum pada wajah dengan cara melunakkan sel keratin. Sebum merupakan
salah satu penyebab terbentuknya jerawat, dimana sebum dikeluarkan dari
kelenjar sebaceous yang menyebabkan pH kulit menjadi sedikit asam. Sel
keratin disekitar pori-pori menjadi tebal sehingga sebum tersumbat dan tidak
keluar kepermukaan kulit. Pori-pori yang tersumbat tersebut menyebabkan
inflamasi atau peradangan yang meluas dipermukaan kulit jika tidak segera
diatasi, dapat meninggalkan bekas parut pada wajah (Reynolds, 1982).
Sulfur bekerja sebagai agen keratolitik yaitu selain dapat melunakkan
atau menipiskan lapisan keratin, juga dapat menghilangkan sisik-sisik kulit
yang kasar, serta memiliki aktivitas antifungi dan antibakteri lemah. Sulfur

sering dikombinasikan dengan asam salisilat menghasilkan efek keratolitik


yang sinergis.
1.2.4 Dosis
Dosis optimal penggunaan sulfur sebagai agen keratolitik yaitu sebesar
10% yang digunakan untuk terapi scabies/kudis untuk efek terapi yang
maksimum (Sweetman, 2002).
1.2.5 Efek Samping
Pemakaian sulfur dapat mengakibatkan iritasi bila kontak dengan
membran mukosa seperti membran mukosa mata, mulut dan membran
lainnya, sehingga pemakaiannya tidak ditujukan pada daerah mata dan mulut.
Kontak dengan sulfur dapat merubah warna logam tertentu seperti misalnya
perak, dan pemakaian sulfur dengan komponen merkurial secara topikal dapat
menghasilkan turunan hidrogen sulfida yang berbau busuk dan dapat dapat
menimbulkan noda hitam pada kulit (Sweetman, 2002).
1.2.6 Kontra Indikasi
Hipersensitivitas terhadap sulfur dan bahan tambahan lainnya
(Anonim, 2007). Penggunaan yang lama dapat mengganggu fungsi tiroid,
oleh karena itu tidak dianjurkan.
1.2.7 Peringatan dan Perhatian
Hanya untuk pemakaian luar, hindari kontak dengan mata dan
membran mukosa. Jika terkena mata cepat cuci dengan air. Jangan digunakan
pada luka terbuka (Anonim , 2007).
1.2.8 Interaksi Obat
Penggunaan sulfur dengan sediaan topikal yang mengandung merkuri
akan membentuk hidrogen sulfida yang dapat menyebabkan kulit menghitam
(Sweetman, 2002).
1.2.9 Penyimpanan
Dalam wadah tertutup baik, dalam botol mulut lebar terlindung dari
cahaya, di tempat sejuk (Syamsuni, 2006).

1.3 Tinjauan Fisikokimia Zat Aktif dan Bahan Tambahan


1.3.1 Bahan aktif
a) Sulfur Praecipitatum (Depkes RI, 1995)
a. Definisi
Merupakan belerang endap, mengandung tidak kurang dari 99,5% dan
tidak lebih dari 100,5% S, dihitung terhadap zat anhidrat.
b. Pemerian
Serbuk amorf atau serbuk hablur renik; sangat halus; warna kuning
pucat; tidak berbau; dan tidak berasa.
c. Kelarutan
Praktis tidak larut dalam air; sangat mudah larut dalam karbon
disulfida; sukar larut dalam minyak zaitun; praktis tidak larut dalam
etanol.
d. Suhu Lebur
388,6oK atau 115, 210oC
e.

pH
4,2 6,2 (British Pharmacopeia, 2009)

f. Penyimpanan
Dalam wadah tertutup baik.
g. Khasiat Penggunaan
Antiskabies (Depkes RI, 1979)
1.3.2 Bahan tambahan
a) CMC-Na (Natrium Karboksil Metil Selulosa)

Gambar 1. Struktur Kimia CMC-Na (Rowe, et al.,2009)

a.

Definisi
Karboksimetilselulosa natirum merupakan garam natrium dari
polikarboksimetil eter selulosa, mengandung tida kurang dari 6,5%
dan tidak lebih dari 9,5% natrium (Na) dihitung terhadap zat yang
telah dikeringkan.

b.

Pemerian
Serbuk atau granul, putih sampai krem, higroskopik.

c.

Kelarutan
Praktis tidak larut dalam aseton, etanol 95%, eter, dan toluen. Mudah
terdispersi dalam air dan dalam larutan koloid (Depkes RI, 1995).

d.

Suhu Lebur
2270 C (Rowe, et al., 2009)

e.

pH
2 10 (Mc Evoy, 2002)

f.

Stabilitas
CMC Na merupakan senyawa yang stabil, bersifat higroskopis. Pada
kondisi dengan kelembaban yang tinggi CMC Na dapat menyerap air
>50%. Pada larutan air CMC Na stabil dalam pH 2-10, dan akan
terjadi pengendapan pada pH dibawah 2, serta penurunan viskositas
dapat terjadi dengan cepat pada pH diatas 10 (Rowe, et al., 2009).

g.

Penyimpanan
Dalam wadah tertutup rapat (Depkes RI, 1995).

h.

Khasiat Penggunaan
Gelling agent ; digunakan dalam sediaan (pembentuk gel) : 3,0
6,0% (Rowe, et al., 2009).

b) Propylenglycolum (Propilen Glikol)

Gambar 2. Rumus Bangun Propilenglikol (Rowe, et al., 2009)

a.

Definisi
Propilen glikol mengandung tidak kurang dari 99,5% C3H8O2 dengan
berat molekul 76,10 gram/mol (bobot = 1,035 sampai 1,037/mL)

b.

Pemerian
Cairan kental, jernih, tidak berwarna, tidak berbau, rasa agak manis
dan higroskopis.

c.

Kelarutan
Dapat campur dengan air, dengan etanol 95 %P dan dengan kloroform
P, larut dalam 6 bagian eter P, tidak dapat campur dengan eter minyak
tanah P, dan dengan minyak lemak.

d.

pH
3 6 (Allen, 2002)

e.

Penyimpanan
Dalam wadah tertutup baik

f.

Khasiat Penggunaan
Pelarut

c) Metil Paraben

Gambar 3. Rumus Bangun Metil Paraben (Rowe, et al., 2009)


a.

Definisi
Metil paraben mengandung tidak kurang dari 99,0% dan tidak lebih
dari 100,5% C8H8O3, dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan.

b.

Pemerian
Hablur kecil, tidak berwarna atau serbuk hablur, putih, tidak berbau
atau berbau khas lemah, mempunyai sedikit rasa terbakar.

c.

Kelarutan
Sukar larut dalam air, dalam topikal dan dalam karbon tetraklorida;
mudah larut dalam etanol dan dalam eter.

d.

pH
3 6 (Rowe, et al., 2009)

e.

Penyimpanan
Dalam wadah tertutup baik.

f.

Khasiat Penggunaan
Zat Pengawet (Depkes RI, 1979)

d) Propil Paraben
a.

Definisi
Propil paraben mengandung tidak kurang dari 99,0% dan tidak lebih
dari 100,5% C10H12O3, dihitunga terhadap zat yang telah dikeringkan.

b.

Pemerian
Serbuk hablur putih; tidak berbau; tidak berasa

c.

Kelarutan
Sangat sukar larut dalam air, larut dalam 3,5 bagian etanol (95%) P,
dalam 3 bagian aseton P, dalam 140 bagian gliserol dan dalam 40
bagian minyak lemak, muah larut dalam larutan alkali hidroksida..

d.

Penyimpanan
Dalam wadah tertutup baik

e.

Khasiat Penggunaan
Zat Pengawet (Depkes RI, 1979)

e) Aqua Rosa
a.

Definisi
Merupakan larutan jenuh minyak mawar dalam air.

b.

Pemerian
Cairan jernih, atau agak keruh, bau dan rasa tidak
boleh menyimpang dari bau dan rasa minyak atsiri asal.

c.

Penyimpanan
Dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya, di tempat sejuk.

d.

Khasiat Penggunaan
Zat tambahan (sebagai corringen odoris)

e.

Syarat untuk resep : Jika air aromatika keruh, kocok kuat kuat
sebelum digunakan.(Depkes RI, 1995).

f) Aqua Purificata (Aqua Destilata)


a.

Definisi
Merupakan air murni yang dimurnikan dengan destilasi, perlakuan
menggunakan penukar ion, osmosis balik, atau proses lain yang
sesuai. Dibuat dari air yang memenuhi persyaratan air minum. Tidak
mengandung zat tambahan lain.

b.

Pemerian
Cairan jernih, tidak berwarna; tidak berbau.

c.

Penyimpanan
Dalam wadah tertutup rapat (Depkes RI, 1995).

d.

Khasiat Penggunaan
Pelarut

1.4 Bentuk sediaan, dosis, dan rute pemakaian


1.4.1 Bentuk Sediaan
Bentuk sediaan yang dibuat adalah dalam bentuk gel. Gel terkadang
disebut jeli, merupakan sistem semipadat yang terdiri dari suspensi yang
dibuat dari partikel anorganik yang kecil atau molekul organik yang besar,
terpenetrasi oleh suatu cairan. Penampilan gel, transparan atau berbentuk
suspensi partikel koloid yang terdispersi, dimana dengan jumlah pelarut yang
cukup banyak membentuk gel koloid yang mempunyai struktur tiga dimensi.
Gel dapat digunakan untuk obat yang diberikan secara topikal atau
dimasukkan ke dalam lubang tubuh (Depkes RI, 1995).

1.4.2 Dosis
Dosis, tidak ada dosis yang lazim untuk sediaan topikal.
1.4.3 Rute pemakaian
Rute pemberian yaitu secara topikal.

BAB II
FORMULASI

2.1

Permasalahan
Adapun permasalahan pembuatan sediaan gel dengan bahan aktif sulfur
yakni sebagai berikut:
1. Sediaan sulfur dapat menghasilkan bau yang tidak enak .
2. Sulfur praktis tidak larut air (Depkes RI, 1995), sehingga tidak secara
langsung dapat terdispersi dalam cairan pembawa.
3. Sediaan gel mengandung air yang merupakan media pertumbuhan yang
sangat baik bagi bakteri (Ansel, 2008).

2.2

Pengatasan Masalah
Berdasarkan permasalahan di atas, maka cara pengatasannya adalah sebagai
berikut:
1. Sediaan gel sulfur mempunyai bau yang kurang sedap yang dipengaruhi
oleh zat aktif sulfur yang digunakan, sehingga perlu ditambahkan suatu
corrigen odoris yaitu aqua rosa untuk memberi sedikit aroma wangi pada
sediaan, jumlah aqua rosa yang ditambahkan hanya secukupnya.
2. Ditambahkan zat pembasah yaitu propilen glikol. Dimana selain sebagai
zat pembasah, dia juga dapat berfungsi sebagai humectant yang akan
mempertahankan kandungan air dalam sediaan sehingga sifat fisik dan
stabilitas sediaan selama penyimpanan dapat dipertahankan serta sebagai
desinfektan, dan stabilizer (Dwiastuti, 2010).
3. Pada sediaan gel perlu ditambahkan dengan zat pengawet seperti metil
paraben dan propil paraben yang berfungsi untuk mencegah pertumbuhan
bakteri dalam sediaan yang dibuat karena seperti yang diketahui bahwa
air merupakan media yang paling mudah dan efektif untuk ditumbuhi
oleh mikroba. Pengawet yang ditambahkan juga masih berada dalam
batas jumlah yang kecil karena sediaan ini merupakan sediaan topikal
yang mempunyai batas yang tidak terlalu kecil untuk jumlah mikroba.

10

2.3

Macam - Macam Formula Standar


2.3.1 Formula Standar 1
Formula standar gel dengan Carbopol 940 sebagai gelling agent:
R/ Sulfur

5g

Resorcinol

2g

Propylene glycol

qs

Methylparaben

75 mg

Carbopol 940

500 mg

Trolamine

0,67 mL

Alkohol USP

12,5 mL

Purified water qs

100 mL
(Allen and Emeritus, 2011)

2.3.2 Formula Standar 2


Formula standar gel dengan basis Sodium Karboksimetil Selulosa
(Na-CMC) berdasarkan % b/b yaitu:
R/ Na-CMC

5%

Gliserin

10%

Propilenglikol

5%

Akuades

ad

100%
(Kumesan, dkk., 2013)

2.3.3 Formula yang akan diajukan dalam praktikum


R/ Sulfur

10 % (Allen and Emeritus, 2011)

CMC Na

5%

Propilen glikol

15%

Metil paraben

0,1%

Propil paraben

0,05%

Aqua rosa

qs

Air purifacata

69,85%

11

BAB III
PRODUKSI
3.1 Alat dan Bahan
3.1.1

Alat
a. Timbangan dan anak timbangan
b. Gelas ukur
c. Gelas beker
d. Sendok tanduk
e. Batang pengaduk
f. Pipet tetes
g. Pot plastik
h. Mortir dan stamper
i. Sudip
j. Kaca bening
k. Statif
l. pH meter
m. Objec glass

3.1.2 Bahan
a. Sulfur praecipitatum
b. CMC Na
c. Propylen glycol
d. Metil paraben
e. Propil paraben
f. Aqua rosa
g. Aqua destilata

3.2. Perhitungan dan Penimbangan Bahan


3.2.1 Perhitungan
Diketahui sediaan dalam 1 pot dengan bobot total 10 gram, maka jumlah
masing-masing bahan yang dibutuhkan adalah sebagai berikut:

12

1.

Sulfur Praecipitatum

Untuk menghindari kehilangan, ditambah bobot sebesar 5%, sehingga:

Total bobot sulfur praecipitatum yang ditimbang adalah 1,05 gram.


2.

CMC-Na

Untuk menghindari kehilangan, ditambah bobot sebesar 5%, sehingga:

Total bobot CMC-Na yang ditimbang adalah 0,525 gram.


3.

Propilen glikol

Untuk menghindari kehilangan, ditambah bobot sebesar 5%, sehingga:

Bobot total propilen glikol 1,575 gram. Karena propilen glikol berupa cairan,
maka dihitung volumenya. Diketahui bobot jenisnya adalah 1,038

Jadi jumlah volume yang diukur adalah 1,517 mL.


4.

Metil paraben

Untuk menghindari kehilangan, ditambah bobot sebesar 5%, sehingga:

Jadi bobot total metil paraben yang ditimbang adalah 0,0105 gram.
5.

Propil paraben

13

Untuk menghindari kehilangan, ditambah bobot sebesar 5%, sehingga:

Bobot total propil paraben yang ditimbang adalah 0,00525 gram.


6.

Aquades

Untuk menghindari kehilangan, ditambah bobot sebesar 5%, sehingga:

Bobot total adalah 7,334 gram. Karena akuades dalam bentuk cairan, maka
diukur volumenya. Diketahui BJ nya adalah 1

Jadi volume yang diukur adalah 7,334 mL.


3.2.2 Penimbangan Bahan
No.

Nama Bahan

Fungsi dalam
formulasi

Porsi dalam
formulasi
(%)

Sulfur
Praecipitatum

Bahan aktif

10

CMC Na

Gelling agent

Propilen
glikol

Co-solven,
pembasah,
stabilizer

15

Metil paraben

Preservative

0,1

Preservative

0,05%

Propil
paraben
Aqua rosa

corrigen odoris

qs

Aquadest

Pelarut

69,85%

Jumlah
untuk 1
sediaan
1,05
gram
0,525
gram
1,517
mL
0,0105
gram
0,00525
gram
q.s
7,334
mL

Jumlah
untuk 3
sediaan
3,15 gram
1,575
gram
4,551 mL
0,0315
gram
0,01575
gram
q.s
22,002 mL

14

3.3 Cara Kerja


3.3.1 Pembuatan Gel
Dilakukan pengembangan CMC-Na sejumlah 1,575 gram dengan
22,002 mL akuades dalam gelas beker dan didiamkan selama 1 hari

Ditimbang semua bahan-bahan yang diperlukan

Sulfur praecipitatum digerus halus dan ditambahkan sedikit demi


sedikit ke dalam propilen glikol dan digerus homogen

Ditambahkan metil paraben dan propil paraben kemudian digerus


hingga homogen

CMC-Na ditambahkan sedikit demi sedikit sambil digerus homogen

Ditambahkan aqua rosa secukupnya

Dikemas dalam wadah dan diberi etiket

3.3.2 Evaluasi Sediaan


a. Uji Organoleptis
Diamati secara langsung bentuk, warna dan bau dari gel yang dibuat

Gel harus jernih dengan konsistensi setengah padat

15

b. Uji Homogenitas
Sampel gel dioleskan pada sekeping kaca atau bahan transparan lain
yang cocok

Sediaan harus menunjukkan susunan yang homogen dan tidak terlihat


adanya butiran kasar

c. Uji pH
pH meter dikalibrasi dengan menggunakan larutan asam pH 4,0 dan
larutan basa pH 7,0

Ditimbang 1 gram sampel kemudian diencerkan dengan akuades


secukupnya

pH meter dicelupkan ke dalam sampel gel yang telah diencerkan

Dilihat nilai pH yang dihasilkan pada alat

pH sediaan gel harus sesuai dengan pH kulit yaitu 4,5 6,5

d. Uji Daya Sebar


Diletakkan sebanyak 0,5 gram sampel gel di atas kaca bulat
berdiameter 15 cm

Diletakkan kaca lain di atasnya dan dibiarkan selama 1 menit dan


diukur diameter sebar gel

16

Ditambahkan 100 gram beban tambahn dan didiamkan selama 1


menit lalu diukur diameter yang konstan

Daya sebar 5 7 cm menunjukkan konsistensi semisolid yang sangat


nyaman dalam penggunaan

e. Uji Daya Lekat


Ditimbang sampel 1 gram dan diletakkan diantara 2 gelas obyek

Ditekan dengan menggunakan beban 1 kg selama 5 menit.

Setelah itu beban diangkat dari gelas obyek, kemudian gelas obyek
dipasang pada alat uji.

Alat uji diberi beban 80 gram dan kemudian dicatat waktu pelepasan
gel dari gelas obyek

17

BAB IV
PENGEMASAN

4.1 Kemasan Primer


Pot plastik
4.2 Kemasan Sekunder

18

4.3 Etiket
a. Etiket Bagian Atas

b. Etiket Bagian Bawah

19

4.4 Brosur

20

BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1

Hasil

5.1.1 Uji Organoleptis


Tabel 5.1. Hasil Pengamatan Uji Organoleptis
Warna

Bau

Bentuk

Kuning Susu

Bau Sulfur Lemah

Semi Padat

5.1.2 Uji Homogenitas


Pada sediaan terlihat adanya butiran-butiran halus sulfur.

5.1.3 Uji pH
Sediaan memiliki pH 5,2

5.1.4 Uji Daya Lekat


Tabel 5.1.2. Hasil Pengamatan Uji Daya Lekat
Sampel

Bobot

Waktu Penekanan Beban

Waktu Lekat

1,011 gram

5 menit

5 detik

1,002 gram

5 menit

5 detik

1,002 gram

5 menit

5 detik

5.1.5 Uji Daya Sebar


Pada uji daya sebar berat beban yang digunakan saat penekanan adalah 100
gram.
Tabel 5.1.3. Hasil Pengamatan Uji Daya Sebar
Sampel

Bobot

0,505 gram

Diameter Sebelum

Diameter Sebelum

Ditekan

Ditekan

3,3 cm; 3,2 cm; 3,2 cm;

3,5 cm; 3,6 cm; 3,6 cm;

3,2 cm

3,6 cm

21

0,514 gram

0,508

Rata-rata 3,22 cm

Rata-rata 3,58 cm

3,1 cm; 3 cm; 3 cm; 3

3,5 cm; 3,4 cm; 3,3 cm;

cm

3,3 cm

Rata-rata 3,02 cm

Rata-rata 3,38 cm

2,9 cm; 3,2cm; 3 cm; 3

3,2 cm; 3,3 cm; 3,2cm;

cm

3,2 cm

Rata-rata 3,02 cm

Rata-rata 3,22 cm

Tabel 5.1.4. Perhitungan RSD diameter setelah ditekan


Diameter

Diameter Rata-

Sampel (x)

rata (x)

3,58

2
3

Sampel

x- x

(x- x)2

3,39

0,19

0,0348

3,38

3,39

-0,01

0,0002

3,22

3,39

-0,17

0,03

(x- x)2

0,0651

Standar Deviasi (SD)


(

Jadi, diameter rata-rata uji daya sebar adalah 3,39 0,1804 cm


Simpangan Baku Relatif (RSD)

22

Jadi, Simpangan Baku Relatif data diatas adalah 5,32 %

5.2

Pembahasan
Sediaan gel merupakan suatu sistem setengah padat yang terdiri dari suatu

sistem dispersi yang tersusun baik dari partikel anorganik yang kecil atau molekul
organik besar dan saling diresapi cairan (Ansel, 1989). Dalam praktikum ini
dibuat suatu sediaan gel yang berbahan aktif sulfur praecipitatum. Sulfur
merupakan suatu bahan yang memiliki aktivitas anti jerawat karena sulfur mampu
menghambat pertumbuhan jerawat yang diakibatkan oleh Propionibacterium acne
dan pembentukan asam lemak bebas. Sulfur mengeluarkan kelebihan sebum pada
wajah dengan cara melunakkan sel keratin (Reynolds, 1982).
Dalam pembuatan gel sulfur terdapat beberapa permasalahan yang ditemui,
dimana sulfur memiliki bau yang tidak sedap sehingga akan menimbulkan rasa
ketidaknyamanan pada saat penggunaan. Sulfur memiliki kelarutan yang rendah
dalam air sehingga sulit untuk terdispersi, dan sediaan gel yang mengandung air
merupakan media pertumbuhan yang baik bagi bakteri. Untuk dapat mengatasi
permasalah tersebut maka diperlukan suatu bahan tambahan yang dapat mengatasi
permasalahan tersebut. Maka dalam pembuatan gel sulfur ini perlu dibuat suatu
formulasi yang dapat menghasilkan sediaan yang baik.
Formulasi gel dalam praktikum ini terdiri dari bahan aktif sulfur
praecipitatum 10%, CMC Na 5%, Propilenglikol 15%, Metil Paraben 0,1%, Propil
Paraben 0,05%, Aqua rosa, dan akuades. Konsentrasi sulfur yang digunakan
merupakan konsentrasi maksimal yang dipersyaratkan. Konsentrasi tersebut
dipilih dengan tujuan untuk mendapatkan efek terapi yang lebih maksimal.
CMC Na dalam praktikum ini berfungsi sebagai gelling agent. Gelling
agent merupakan bahan pembentuk gel dan akan membentuk jaringan struktural
yang merupakan faktor yang sangat penting dalam sistem gel. CMC Na dengan
konsentrasi 4% sampai 6% dapat digunakan sebagai gelling agent (Anwar, 2012).

23

Konsentrasi CMC Na yang digunakan pada praktikum ini yaitu 5%. Konsentrasi
tersebut digunakan dengan harapan mendapatkan konsistensi gel yang sesuai.
Apabila konsentrasi gel yang digunakan terlalu besar maka akan dapat dihasilkan
gel dengan konsistensi yang terlalu kental.
Sifat sulfur yang tidak dapat terdispersi dalam air diatasi dengan
mencampurkan sulfur ke dalam propilenglikol. Propilenglikol berfungasi sebagai
kosolven yang dapat meningkatkan kelarutan bahan obat sehingga meningkatkan
penetrasinya melalui membrane kulit untuk mencapai tempat aksinya (Melani,
dkk., 2005). Propilenglikol dalam hal ini juga berfungsi sebagai humektan yang
akan mempertahankan kandungan air dalam sediaan sehingga sifat fisik dan
stabilitas sediaan selama penyimpanan dapat dipertahankan (Dwiastuti, 2010).
Kadar propilen glikol 15% dipilih karena pada kadar tersebut fungsi
propilenglikol sebagai humektan dan kosolven dapat tercapai (Melani, dkk.,
2005).
Metil dan propil paraben berfungsi sebagai pengawet dalam formulasi ini.
Pengawet diperlukan dalam formulasi mengingat bahwa tingginya kandungan air
dalam sedian gel dapat menyebabkan terjadinya kontaminasi mikroba. Dalam
praktikum ini akuades digunakan sebagai pelarut dalam formulasi gel. Metil
paraben (nipagin) dalam sediaan topikal konsentrasi yang umum digunakan
adalah 0,02 0,3% (Budiman, 2008). Konsentrasi metil paraben yang digunakan
dalam praktikum ini adalah 0,1%. Metil paraben dikombinasikan dengan propil
paraben (0,05%) dengan tujuan untuk meningkatkan aktivitas antimikrobanya.
Pembuatan gel sulfur pada praktikum ini diawali dengan melakukan
pengembangan CMC Na dalam air selama 1 hari untuk memperoleh hasil
pengembangan yang optimal. CMC Na mudah terdispersi dalam air dan gel
dengan basis ini mudah untuk ditumbuhi mikroba (Dwiastuti, 2010). CMC Na
memberikan pengaruh terhadap sifat fisik gel. Semakin tinggi konsentrasi CMC
Na maka akan semakin rigid gel yang dihasilkan. Viskositas dan pengaturan
struktur CMC Na dalam air tergantung pada derahat netralisasinya. Saat CMC Na
dimasukkan ke dalam air, Na+ lepas dan diganti dengan ion H+ dan membentuk
HCMC yang akan meningkatkan viskositas dengan terbentuknya cross-linking

24

(Bochek, et al., 2002). Ikatan hidrogen menurunkan kelarutan CMC Na dalam air
dan menghasilkan formasi hidrogel yang elastis. Semakin banyak CMC Na dalam
air maka semakin banyak ikatan hidrogen yang mungkin terjadi dan akan
membuat larutan menjadi semakin rigid (Yuliani, 2012). Hal ini yang
menyebabkan CMC Na memberikan kontribusi positif terhadap viskositas gel
sulfur.
Jenis gel sulfur dalam praktikum ini ialah hidrogel. Hidrogel

adalah

polimer hidrofilik yang mempunyai kemampuan mengembang (swelling) dalam


air, tetapi tidak larut dalam air serta mempunyai kemampuan mempertahankan
bentuk asalnya (Tamat, dkk., 2008). Jenis hidrogel baik digunakan untuk gel
yang dimaksudkan dengan tujuan mengobati jerawat karena sifatnya yang
hidrofilik. Apabila digunakan sifat gel yang hidrofob maka akan menyumbat poripori kulit dan akan memperparah kondisi jerawat. Sifat hidrofilik dari hidrogel
dipengaruhi oleh adanya gugus hidroksil, gugus karboksil, gugus amida atau
gugus hidrosulfit, sedangkan sifat ketidaklarutannya dalam air dipengaruhi oleh
struktur tiga dimensi dari hidrogel (Tamat, dkk., 2008).
Sulfur sebelum dicampur dengan propilenglikol harus digerus terlebih
dahulu untuk memperkecil ukuran partikel sehingga dapat terdispersi merata
dalam gel. Sulfur selanjutnya dibasahi dengan propilenglikol dan digerus
homogen hingga terbasahi seluruhnya. Metil dan propil paraben kemudian
ditambahkan dan digerus homogen. CMC Na yang telah mengembang selanjutnya
ditambahkan sedikit demi sedikit hingga terbentuk gel. Gel yang dihasilkan
memiliki bau yang tidak sedap akibat bau dari sulfur. Untuk mengatasi bau yang
tidak sedap tersebut, maka dilakukan penambahan aqua rosa secukupnya.
Penambahan aqua rosa perlu diperhatikan karena penambahan yang berlebih dapat
membuat viskositas gel berubah. Namun, dalam praktikum ini penambahan aqua
rosa tidak mampu menutupi bau yang tidak sedap dari sulfur. Hal tersebut dapat
disebabkan oleh kualitas aqua rosa yang mungkin telah menurun sehingga
penambahan aqua rosa dalam jumlah yang banyak belum mampu untuk menutupi
bau yang tidak sedap dari sulfur.

25

Evaluasi sediaan gel selanjutnya dilakukan untuk mengetahui gel yang


dihasilkan telah memenuhi syarat atau tidak. Evaluasi gel terdiri dari uji
organoleptis, uji homogenitas, pH, daya sebar dan daya lekat.
Uji organoleptis meliputi bentuk, bau, dan warna. Secara fisik sediaan yang
dihasilkan berupa semi padat dan memiliki viskositas seperti gel dengan bau
sulfur dan berwarna kuning susu. Gel yang dihasilkan tidak dapat menjadi jernih
karena sulfur berwarna kuning. Sediaan gel tidak selalu jernih, karena tergantung
pada bahan yang digunakan.
Uji homogenitas dilakukan untuk melihat adanya butiran kasar dalam gel.
Pada uji homogenitas ini tampak terlihat adanya butiran-butiran halus sulfur yang
tersebar merata. Secara makro gel sediaan yang dihasilkan tersebut dapat
dikatakan homogen.
Hasil pemeriksaan pH sediaan gel sulfur yaitu 5,2. pH sediaan tersebut telah
memenuhi syarat yang ditentukan, dimana pH kulit berada pada rentang 4,5
sampai 6,5 (Kumesan, dkk., 2013). Pemeriksaan pH sediaan merupakan parameter
fisikokimia yang harus dilakukan untuk sedia topikal karena pH mempunyai
kaitan dengan efektivitas obat, stabilitas obat/sediaan, dan kenyamanan di kulit
sewaktu digunakan (Melani, dkk., 2005).
Daya sebar gel diukur dengan cara mengukur diameter sebar gel pada kaca.
Daya sebar yang baik akan menjamin pemerataan gel saat diaplikasikan pada kulit
(Dwiastuti, 2010). Daya sebar rata-rata yang diperoleh adalah 3,39 0,1804 cm.
Hasil tersebut tidak sesuai dengan pustaka yang menyebutkan bahwa daya sebar
yang menunjukkan konsistensi semisolid yang sangat nyaman dalam penggunaan
adalah 5-7 cm (Kumesan, dkk., 2013). Salah satu faktor yang mempengaruhi daya
sebar gel adalah jumlah dan kekuatan matriks gel. CMC Na merupakan faktor
dominan dalam menentukan respon daya sebar. Semakin banyak dan kuat matriks
gel, maka daya sebar gel akan menurun. Dalam sistem gel yang bertanggung
jawab terhadap terbentuknya matriks gel adalah gelling agent. Dengan demikian
konsentrasi gelling agent akan menambah dan memperkuat matriks gel. Oleh
karena itu faktor dominan yang menentukan respon daya sebar adalah CMC Na.
Sehingga, perlu diperhatikan dalam hal penambahan CMC Na, karena konsentrasi

26

yang berlebih akan berakibat terhadap penurunan daya sebar (Dwiastuti, 2010).
Selain itu, CMC Na memiliki gugus hidroksil yang banyak yang menyebabkan gel
CMC Na menjadi lebih kental. CMC Na juga diduga memiliki gaya kohesi yang
besar. Gaya kohesi yang besar karena adanya interaksi antar molekul sejenis lebih
besar. Gaya kohesi antar molekul basis gel yang besar menyebabkan sediaan
cenderung mengumpul dan sulit menyebar (Kumesan, 2013).
Hasil uji daya lekat menunjukkan kemampuan salep untuk melekat pada
saat penggunaan. Dalam praktikum ini diperoleh hasil daya lekat selama 5 detik.
Adapun syarat waktu daya lekat yang baik adalah tidak kurang dari 4 detik
(Selfie, dkk., 2013). Berdasarkan hasil uji yang dilakukan sediaan ini sudah
memenuhi syarat daya lekat. Semakin lama gel melekat pada kulit maka efek yang
ditimbulkan juga semakin besar.

27

BAB VI
KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pembahasan, maka kesimpulan yang dapat diperoleh pada


praktikum ini adalah sebagai berikut:
1. Formulasi sediaan gel terdiri dari sulfur praecipitatum 10%, CMC Na 5%,
propilenglikol 15%, metil paraben 0,1%, propil paraben 0,05%, aqua rosa dan
akuades.
2. Pembuatan gel sulfur dilakukan dengan membuat gelling agent dari CMC Na
dan dilakukan pencampuran sulfur dengan propilenglikol selanjutnya diikuti
dengan penambahan bahan lainnya dan terakhir gelling agent.
3. Uji organoleptis diperoleh bentuk gel yang semi padat, bau khas sulfur dan
berwarna kuning susu. Uji homogenitas tampak terlihat adanya butiran halus
sulfur yang tersebar merata pada gel. Uji pH menunjukkan pH sediaan 5,2. Uji
daya sebar rata-rata 3,39 0,1804 cm. Uji daya lekat diperoleh hasil daya lekat
selama 5 detik.

28

DAFTAR PUSTAKA
Allen, L. V. dan Emeritus. 2011. Secundum Artem: Basics of Compounding for
Acne. Oklahoma: University of Oklahoma.
Allen, L. V. Jr. 2002. The Art, Science, and Technology of Pharmaceutical
Compounding.

2nd

Ed,

301-324.

Washington,

D.C.:

American

Pharmaceutical Association.
Anonim. 2007. MIMS Petunjuk Konsultasi Edisi 7. Jakarta: PT Info Master
Ansel C. H.. 2005. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Jakarta: UI Press.
Anwar, E. 2012. Eksipien Dalam Sediaan Farmasi. Cetakan I. Jakarta: PT. Dian
Rakyat
Budiman, M. H. 2008. Uji Stabilitas Fisik dan Aktivitas Antioksidan Sediaan
Krim yang Mengandung Ekstrak Kering Tomat (Solanum lycopersicum
Linn). Skripsi. Departemen Farmasi, Fakultas MIPA, Universitas
Indonesia, Depok.
Bochek, A. M., Yusupova, L. D., Zabivalova, N. M., Petropavlovskii, G. A.,
2002. Rheological Properties of Aqueous H-Carboxymethyl Cellulose
Solutions with Various Additives. Russian Journal of Applied Chemistry,
75, 47.
Depkes RI. 1979. Farmakope Indonesia. Edisi III. Jakarta: Departemen Kesehatan
Republik Indonesia.
Depkes RI. 1995. Farmakope Indonesia. Edisi IV. Jakarta: Departemen Kesehatan
Republik Indonesia.
Dwiastuti, R. 2010. Pengaruh Penambahan CMC (Carboxymethyl cellulose)
sebagai Gelling Agent dan Propilen Glikol sebagai Humektan Dalam
Sediaan Gel Sunscreen Ekstrak Kering Polifenol The Hijau (Camellia
sinensis L). Jurnal Penelitian. Vol 13(2). Hlm: 227-240
Kumesan, Y. A. N., P. V. Y. Yamlean., dan H. S. Supriati. 2013. Formulasi dan
Uji Aktivitas Gel Antijerawat Ekstrak Umbi Bakung (Crinum asiaticum
L.) terhadap Bakteri Staphylococcus aureus Secara In Vitro. Jurnal Ilmiah
Farmasi. Vol 2(2): 18-26. ISSN: 2302 2493.

29

McEvoy, G. K. 2002. AHFS Drug Information. USA: American Society of


Health-System Pharmacistsm,Inc.
Melani, D., T. Purwati., W. Soeratri. 2005. Korelasi Kadar Propilenglikol Dalam
Basis dan Pelepasan Dietilammonium Diklofenak dari Basis Carbopol
ETD 2020. Majalah Farmasi Airlangga. Vol 5(1):1-6
Reynolds, J. E. F. 1989. Martindale The Extra Pharmacopoeia, Twenty-ninth
edition. London: The Pharmaceutical Press.
Rowe, C. R., Sheskey, P. J., Quinn, M. E. 2009. Handbook of Pharmaceutical
Excipients 6th Edition. Amerika: Pharmaceutical Press.
Royal Pharmaceutical Society of Great Britain. 2009. British National Formulary.
London : RPS publishing.
Selfie, P. J., Ulaen., Y. Banne., dan R. A. Suatan. 2013. Pembuatan Salep Anti
Jerawat dari Ekstrak rimpang Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.).
Jurusan Farmasi Politeknik Kesehatan Kemenkes Manado
Sweetman, S. C. 2002. Martindale: The Complete Drug Reference Thirty-Third
Edition. London: Chicago Pharmaceutical Press.
Syamsuni, H. A.. 2007. Ilmu Resep. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Tamat, S. R., Erizal., C. Gunawan. 2008. Sintesis Hidrogel Poli (N-Vinil-2Pirolidon-Asam Tartrat Secara Iridiasi Gamma dan Karakterisasinya.
Jurnal Ilmu Kefarmasian Indonesia. Vol. 6(1):7-14
Tjay, T. H. dan K. Rahardja. 2008. Obat-Obat Penting. Edisi VI. Jakarta: PT.
Elex Media Komputindo.
Yuliani, S. H. 2012. Formulasi Sediaan Hidrogel Penyembuh Luka Ekstrak Etanol
Daun Binahong (Anredera cordifolia (Ten) Steenis). Disertasi. Program
Pasca Sarjana Program Studi Ilmu Farmasi, Universitas Gadjah Mada,
Yogyakarta.

30