Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Suatu perubahan mekanik terhadap zat gas, zat cair, atau padat sering
menimbulkan gelombang bunyi. Gelombang bunyi ini merupakan vibrasi/getaran dari
molekul molekul zat dan saling beradu satu sana lain namun demilkkian zat tersebut
terkordinasi menghasilkan gelombang serta mentransmisikan energy bahkan tidak
pernah terjadi pemindahan partikel. Suatu penelitian mengenai terjadinya penjalaran
bunyi, mendeteksi dan penggunaan bunyi sangat penting untuk mengetahui lebih
lanjut akan pengalihan energy mekanik.
Cahaya sendiri pada hakekatnya tidk dapat dilihat, kesan adanya cahaya
apabila cahaya tersebut mengenai benda. Melalui pendekatan cahaya sebagai
gelombang dan partikel maka peristiwa refraksi, difraksi, disperse dan refleksi dapat
dijelaskan denngan teori gelombang sedangkan peristiwa panas yang ditimbulkan oleh
cahaya dapat di jelaskan melalui teori foton kwatum atau partikel.
B.

RUMUSAN MASALAH
Adapun rumusan masalah yang akan di bahas pada bab selanjutnya yaitu :
1. Apa saja konsep dasar bunyi ?
2. Apa yang dimaksud dengan visus , akomodasi dan refraksi ?

C. TUJUAN
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah selain sebagai tugas perkuliahan juga
untuk menambah wawasan penulis mengenai :
1.

Untuk mengetahui dan memahami mengenai konsep dasar bunyi.

2. Untuk mengetahui dan memahami mengenai visus, akomodasi dan refraksi


D.

METODE PENULISAN
Metode penulisan yang dipergunakan dalam penulisan makalah ini adalah
dengan mengunakan pendekatan normative yaitu metode kepustakaan dengan
menggunakan teknik pencatatan dari berbagai sumber yang kemudian dirangkum
dalam sebuah makalah.
BAB II
PEMBAHASAN
1

A. KONSEP DASAR BUNYI


Bunyi atau suara adalah
merambat

kompresi

melalui medium.

Medium

mekanikal
atau

zat

atau gelombang longitudinal yang


perantara

ini

dapat

berupa

zat cair, padat, gas. Jadi, gelombang bunyi dapat merambat misalnya di dalam air, batu
bara, atau udara.
Kebanyakan suara adalah merupakan gabungan berbagai sinyal, tetapi suara murni
secara teoritis dapat dijelaskan dengan kecepatan osilasi atau frekuensi yang diukur
dalam Hertz(Hz)

dan amplitudo atau kenyaringan

bunyi dengan

pengukuran

dalam desibel.
Manusia mendengar bunyi saat gelombang bunyi, yaitu getaran di udara atau medium
lain, sampai ke gendang telinga manusia. Batas frekuensi bunyi yang dapat didengar
oleh telingamanusia kira-kira dari 20 Hz sampai 20 kHz pada amplitudo umum dengan
berbagai variasi dalam kurva responsnya. Suara di atas 20 kHz disebut ultrasonik dan di
bawah 20 Hz disebutinfrasonik.
1. SUMBER BUNYI
Banyak sekali fenomena menghasilkan bunyi. Misalnya pembakaran minyak
dalam suatu mesin, selalu menghasilkan bunyi. Bunyi yang di hasilkan instrument
music, gerakan dahan, pohon atau daun juga menghasilkan bunyi. Ruang mulut
dan ruang hidung manusia merupakan struktur sensoris untuk menghasilkan
vibrasi melalui pita suara, demikian pula garputala yang digetarkan akan
menghasilkan bunyi. Bunyi dapat berasal dari alam dan juga dari perbuatan
manusia.
Selain perbedaan bahannya, sumber bunyi dapat dibedakan oleh bentuk dan
ukurannya. Bila bentuknya berbeda, maka berbeda pula bunyinya. Jadi sumber
bunyi akan berbeda oleh perbedaan bahan, bentuk dan ukurannya.
a. Tenaga
Sumber bunyi akan bergetar, bila adanya tenaga atau energi yang
menggetarkannya. Tenaga ini bisa berupa :
1. Tenaga Manusia
2. Tenaga Listrik
3. Tenaga Angin
2

4. Tenaga Uap
5. Tenaga Air, dll
Dari bermacam-macam yenaga tersebut ada beberapa kesamaan sifat, yaitu bahwa
tenaga itu :
1.Dapat diubah atau dikurang.
2.Dapat disimpan
3.Dapat dialihkan
4.Dapat dighabungkan
Contoh :
Jam weker, tenaganya dapat disimpan untuk berbunyi Pemain biola tidak langsung
menyentuh sumber bunyinya.
b. Pengantar
Udara adalah pengantar bunyi yang paling banyak kita gunakan.
Namun sebenarnya udara pengantar bunyi yang lamban, bukan berarti tidak
baik. Kecepatan merambat bagi udara sebagai pengantar bunyi hanyalah 345
meter per detik.

Bandingkan dengan kecepatan rambat bunyi pada zat

pengantar lain :
1. Gabus...500 meter per detik
2. Timah...1190 meter per detik
3. Air........1440 meter per detik
4. Besi......5120 meter per detik
Angka-angka tersebut memang dapat berubah oleh peruubahan suhu. Namun
perubahan ini kecil sekali shingga praktis kurang begitu berarti.
c. Frekuensi
Tinggi-rendahnya bunyi ditentukan oleh cepat-lambatnya getaran dari
sumber bunyi. Biasanya dari banyaknya getaran per detik. Semakin banyak
getaran per detiknya, semakin tinggi bunyinya. Dan banyaknya getaran per
detik ini disebut Frekuensi.
3

Dalam penguluran frekuensi biasanya dihitung denga satuan Cps


( cyeles per second) yang berarti getaran per detik. Disamping itu, khususnya
dalam tehnik radio di pakai pula satuan Hz (hertz) ini diambil dari nama
Heinric Hertz (1857-1894) seorang ahli pengetahuan alam bangsa Jerman
Maka

440

Cps

440

Hz

440

getar

per

detik.

Secara umum daya dengar manusia antara 16 Hz sampai dengan 16.000 Hz.
Usia merupakan salah satu pengaruh frekuensi tinggi-rendahnya daya dengar
manusia.
d. Kekuatan bunyi
Bunyi yang kuat bebeda dengan bunyi yang tinggi. Kekuatan bunyi
tidak ditentukan oleh frekuensi bunyi, tetapi oleh hal-hal yang lain, khususnya;
amplitudo, resonansi, dan jarak.
Amplitudo adalah lebar getar atau simpang getar yang dibuat oleh
sumber bunyi. Semakin lebar getaranya, semakin kuat pula bunyinya.
Resonansi berarti ikut bergetar sejalan getaran bunyi. Biasanya
dilakukan oleh benda atau bagian terdekatnya. Dan sedikit banyak kejadian ini
akan menambah kekuatan getar sumber buyi. Contoh gitar; walaupun sumber
bunyinya pada senar, namun kekuatannya bunyinya lebih berasal dari kotak
kayunya. Sebab, udara di dalam kotak itulah pelaku resonansi, yang justru
lebih kuat daripada sumber bunyi. Sehingga kotak tersebut dinamakan kotak
resonator. Namun kotak resonatornya hanya berlaku pada gitar accostic. Pada
gitar

elektrik

resonansi

dibuat

oleh

proses

elektrik.

Jarak dimaksukan bahwa kekutan bunyi juga ditentukan oleh jarak antara
sumber bunyi dengan alat pendengar atau penerima. Memakin dekat, akan
semakin keras bunyinya. Sebagaimana frekuensi, kekuatan bunyi juga dapat
diiukur. Biasanya digunakan satuan decibel yang disingkat db.
Angka petunjuk antara 0 db sampai kurang lebih 120 db. Sebagai
bandingan; bunyi biola selembut-lembutnya yang setara dengan siulan kita
lebih kurang 20 db. Sedangkan bagian kuat dari pemain orkes besar kurang
lebih hanya mencapai 95 db.

e. Timbre
Timbre adalah warna bunyi, berupa keseluruhan kesan pendengaran yang kita
peroleh dari sumber bunyi, setelah dipengaruhi resonansi dan zat pengantar.
Mengapa warna bunyi benda berbeda-beda?
f. Gelombang Bunyi
Gelombang bunyi terdiri dari molekul-molekul udara yang bergetar
maju-mundur. Tiap saat, molekul-molekul itu berdesakan di beberapa tempat,
sehingga menghasilkan wilayah tekanan tinggi, tapi di tempat lain
merenggang, sehingga menghasilkan wilayah tekanan rendah. Gelombang
bertekanan tinggi dan rendah secara bergantian bergerak di udara, menyebar
dari sumber bunyi. Gelombang bunyi ini menghantarkan bunyi ke telinga
manusia,Gelombang bunyi adalah gelombang longitudinal.
g. Kecepatan bunyi
Bunyi merambat di udara dengan kecepatan 1.224 km/jam. Bunyi
merambat lebih lambat jika suhu dan tekanan udara lebih rendah. Di udara
tipis dan dingin pada ketinggian lebih dari 11 km, kecepatan bunyi 1.000
km/jam.
Di air, kecepatannya 5.400 km/jam, jauh lebih cepat daripada di udara
Rumus mencari cepat rambat bunyi adalah v=s:t Dengan s panjang
Gelombang bunyi dan t waktu
h. Resonansi
Suatu benda, misalnya gelas, mengeluarkan nada musik jika diketuk
sebab ia memiliki frekuensi getaran alami sendiri. Jika kita menyanyikan nada
musik berfrekuensi sama dengan suatu benda, benda itu akan bergetar.
Peristiwa ini dinamakan resonansi. Bunyi

yang

sangat keras dapat

mengakibatkan gelas beresonansi begitu kuatnya sehingga pecah.


B. VISUS
5

Visus adalah ketajaman atau kejernihan penglihatan, sebuah bentuk yang khusus di
mana tergantung dari ketajaman fokus retina dalam bola mata dan sensitifitas dari
interpretasi di otak. Visus adalah sebuah ukuran kuantitatif suatu kemampuan untuk
mengidentifikasi simbol-simbol berwarna hitam dengan latar belakang putih dengan jarak
yang telah distandardisasi serta ukuran dari simbol yang bervariasi. Ini adalah pengukuran
fungsi visual yang tersering digunakan dalam klinik. Istilah visus 20/20 adalah suatu
bilangan yang menyatakan jarak dalam satuan kaki yang mana seseorang dapat
membedakan sepasang benda. Satuan lain dalam meter dinyatakan sebagai visus 6/6. Dua
puluh kaki dianggap sebagai tak terhingga dalam perspektif optikal (perbedaan dalam
kekuatan optis yang dibutuhkan untuk memfokuskan jarak 20 kaki terhadap tak terhingga
hanya 0.164 dioptri).
Untuk alasan tersebut, visus 20/20 dapat dianggap sebagai performa nominal untuk
jarak penglihatan manusia; visus 20/40 dapat dianggap separuh dri tajam penglihatan jauh
dan visus 20/10 adalah tajam penglihatan dua kali normal. Untuk menghasilkan detail
penglihatan, sistem optik mata harus memproyeksikan gambaran yang fokus pada fovea,
sebuah daerah di dalam makula yang memiliki densitas tertinggi akan fotoreseptor
konus/kerucut sehingga memiliki resolusi tertinggi dan penglihatan warna terbaik.
Ketajaman dan penglihatan warna sekalipun dilakukan oleh sel yang sama, memiliki
fungsi fisiologis yang berbeda dan tidak tumpang tindih kecuali dalam hal posisi.
Ketajaman dan penglihatan warna dipengaruhi secara bebas oleh masing-masing unsur.
Cahaya datang dari sebuah fiksasi objek menuju fovea melalui sebuah bidang imajiner
yang disebut visual aksis. Jaringan-jaringan mata dan struktur-struktur yang berada dalam
visual aksis (serta jaringan yang terkait di dalamnya) mempengaruhi kualitas bayangan
yang dibentuk. Struktur-struktur ini adalah; lapisan air mata, kornea, COA (Camera Oculi
Anterior = Bilik Depan), pupil, lensa, vitreus dan akhirnya retina sehingga tidak akan
meleset ke bagian lain dari retina. Bagian posterior dari retina disebut sebagai lapisan
epitel retina berpigmen (RPE) yang berfungsi untuk menyerap cahaya yang masuk ke
dalam retina sehingga tidak akan terpantul ke bagian lain dalam retina. RPE juga memiliki
fungsi vital untuk mendaur-ulang bahan-bahan kimia yang digunakan oleh sel-sel batang
dan kerucut dalam mendeteksi photon. Jika RPE rusak maka kebutaan dapat terjadi.
Seperti pada lensa fotografi, ketajaman visus dipengaruhi oleh diameter pupil. Aberasi
optik pada mata yang menurunkan tajam penglihatan ada pada titik maksimal jika ukuran
pupil berada pada ukuran terbesar (sekitar 8 mm) yang terjadi pada keadaan kurang
cahaya. Jika pupil kecil (1-2 mm), ketajaman bayangan akan terbatas pada difraksi cahaya
6

oleh pupil. Antara kedua keadaan ekstrim, diameter pupil yang secara umum terbaik untuk
tajam penglihatan normal dan mata yang sehat ada pada kisaran 3 atau 4 mm.
Korteks penglihatan adalah bagian dari korteks serebri yang terdapat pada bagian
posterior (oksipital) dari otak yang bertanggung-jawab dalam memproses stimuli visual.
Bagian tengah 100 dari lapang pandang (sekitar pelebaran dari makula), ditampilkan oleh
sedikitnya 60% dari korteks visual/penglihatan. Banyak dari neuron-neuron ini dipercaya
terlibat dalam pemrosesan tajam penglihatan.
Perkembangan yang normal dari ketajaman visus tergantung dari input visual di usia
yang sangat muda. Segala macam bentuk gangguan visual yang menghalangi input visual
dalam jangka waktu yang lama seperti katarak, strabismus, atau penutupan dan penekanan
pada mata selama menjalani terapi medis biasanya berakibat sebagai penurunan ketajaman
visus berat dan permanen pada mata yang terkena jika tidak segera dikoreksi atau diobati
di usia muda. Penurunan tajam penglihatan direfleksikan dalam berbagai macam
abnormalitas pada sel-sel di korteks visual. Perubahan-perubahan ini meliputi penurunan
yang nyata akan jumlah sel-sel yang terhubung pada mata yan terkena dan juga beberapa
sel yang menghubungkan kedua bola mata, yang bermanifestasi sebagai hilangnya
penglihatan binokular dan kedalaman persepsi atau streopsis.
Mata terhubung pada korteks visual melalui nervus optikus yang muncul dari belakang
mata. Kedua nervus opticus tersebut bertemu pada kiasma optikum di mana sekitar
separuh dari serat-serat masing-masing mata bersilang menuju tempat lawannya ke sisi
lawannya dan terhubung dengan serat saraf dari bagian mata yang lain akan menghasilkan
lapangan pandang yang sebenarnya. Gabungan dari serat saraf dari kedua mata
membentuk traktus optikus. Semua ini membentuk dasar fisiologi dari penglihatan
binokular. Traktus ini akan berhenti di otak tengah yang disebut nukleus genikulatus
lateral untuk kemudian berlanjut menuju korteks visual sepanjang kumpulan serat-serat
saraf yang disebut radiasio optika.
Segala macam bentuk proses patologis pada sistem penglihatan baik pada usia tua
yang merupakan periode kritis, akan menyebabkan penurunan tajam penglihatan. Maka,
pengukuran tajam penglihatan adalah sebuah tes yang sederhana dalam menentukan status
kesehatan mata, sistem penglihatan sentral, dan jaras-jaras penglihatan menuju otak.
Berbagai penurunan tajam penglihatan secara tiba-tiba selalu merupakan hl yang harus
diperhatikan. Penyebab sering dari turunnya tajam penglihatan adalah katarak, dan parut
kornea yang mempengaruhi jalur penglihatan, penyakit-penyakit yang mempengaruhi
retina seperti degenarasi makular, dan diabetes, penyakit-penyakit yang mengenai jaras
7

optik menuju otak seperti tumor dan sklerosis multipel, dan penyakit-penyakit yang
mengenai korteks visual seperti stroke dan tumor.
C. AKOMODASI
Mata mengubah-ubah daya bias untuk memfokuskan benda dekat mellui peruses yang
disebut akomodasi. Penelitian tentang bayangan purkinje yang merupakan pencerminan
dari berbagai permukaan optis di mata, telah memperlihatkan bahwa akomodasi terjadi
akibat perubahan di lensa kristalina. Kontraksi otot silaris menyebabkan penebalan dan
peningkatan kelengkungan lensa, mungkin akibat relaksasi kapsul lensa.
1. Mekanisme Akomodasi
Daya bias lensa kristalina mata dengan sengaja dapat ditingkatkan dari 15
dioptri menjadi kira-kira 29 dioptri pada anak kecil, ini merupakan suatu
akomodasi total sebesar 14 dioptri. Untuk melakukan hal ini bentuk lensa di rubah
dri lensa cembung moderat menjadi suatu lensa sangat cembung.mekanismenya
yaitu :
Dalam keadaan normal, lensa terdiri dari suatu kapsul elastic kuat yang diisi
serabut-serabut protein kental tapi transparan. Bila lensa itu dalam keadaan
berelaksasi tanpa ketegangan pada kapsulanya, ia mengambil suatu bentuk
sferis, yang sama sekali disebabkan elastisitas kapsul lensa. Ligamentum ini
terus ditegangkan oleh tarikan elastic dari pelekatan mereka ke koroid, dan
ketegangan pada ligament tersebut menyebabkan lensa itu tetap relative pipih
dalam keadaan mata yang beristirahat normal.pada insersi ligament di dalam
koroid ada muskulus siralis yang mempunyai dua set serabut otot polos,
serabut meridional dan serabut sirkular. Jadi kontraksi kedua set serabut otot
polos di dalam muskulus silaris merelaksasikan ligament pada kapsul lensa,
dan lensa tersebut mengambil suatu bentuk lebih sferis, seperti bentuk sebuah
balon, karena eelastisitas kapsulnya. Bila muskulus siliaris sama sekali
berelaksasi, kekuatan dioptri lensa menjadi paling lemah. Sebaliknya, bila
muskulus siliaris berkontraksi sekuat mungkin, kekuatan dioptri lensa itu
menjadi maksimum.

2. Pengaturan Akomodasi Oleh Saraf Otonom


8

Muskulus siliaris hamper seluruhnya oleh susunan saraf parasimpatis.


Rangsangan serabut parasimpati ke mata mengkontraksikan muskulus siliaris,
yang kemudian merelaksasikan ligament lensa yang kemudian merelaksasikan
ligament lensa dan meningkatkan daya biasnya, dengan demikian daya bias mata
dapat memfokuskan benda yang lebih dekat padanya dari pada mata dengan daya
bias lebih kecil. Sebagai akibatnya , ketika suatu benda jatuh bergerak kea rah
mata, jumlah impuls parasimpatis yang tiba pada muskulus siliaris harus di
tingkatkan secara progresif agar mata dapat tetam mempertahankan benda tersebut
dalam focus.
D. KESALAHAN REFRAKSI
Emetropia mata diangap normal atau atau emetrop, jika bila muskulus siliaris sama
sekali berelaksasi, berkas cahaya sejajar dari benda jatuh berada dalam focus tajam pada
retina.
Ini berarti bahwa mata emetrop dapat, dengan muskulus siliaris yang sama sekali
berelaksasi, melihat semua benda jatuh dengan jelas, tetapi untuk memfokuskan bendabenda pada jarak dekat, ia harus mengkontraksikan muskulus siliarisnya dan dengan
demikian demikian mengadakan berbagai derajat akomodasi.
Kesalahan refraksi adalah penurunan ketajaman penglihatan yang dapat dikoreksi
dengan kaca mata. Ketajaman penglihatan dikatakan normal apabila mata tanpa
akomodasi dapat dengan jelas melihat gambar/ tulisan pada jarak 6 meter dengan sudut
pandanng 5 (sudut visualis).
1. Macam-macam kesalahan Refraksi
a. Mata Miopia
Yaitu penurunan ketajaman penglihatan jauh jika dibanding dengan orang
normal. Kelainan ini dapat ditolong dengan pemberian kaca negatif / cekung.
Prosentase penderita ini paling banyak.
b. Mata Hipermetrop
Yaitu penderita dengan kelainan ini mengeluh ketajaman penglihatannya kabur
baik jauh maupun dekat. Kelainan ini dapat dikoreksi dengan lensa positif /
cembung. Keadaan ini banyak timbul pada anak-anak, terutama anak yang
lahir prematur, dengan bertambahnya usia maka terjadi pertumbuhan bola mata
sehingga ukuran koreksi lensanya menurun.
c. Mata Asigmatisma
9

Yaitu kelainan ketajaman penglihatan disebabkan karena penderita tidak dapat


melihat sama jelas pada gambar disatu bidang datar. Hal ini disebabkan karena
kelengkungan kornea, pasca infeksi, dan pasca bedah kornea.
2. Penanganan
Ada bermacam-macam penanganan:
a. Konvensional
yaitu dengan pemakaian kacamata, pemberian resep kacamata sebaiknya
diberikan maksimal sesuai dengan ukuran yang dibutuhkan ini dipergunakan
untuk merangsang saraf penglihatan.Dengan pemakaian lensa kontak, dengan
pemakaian lensa kontak penderita dituntut lebih dalam menjaga kebersihan.
b. Dengan bedah Refraktif (Lasik)
yaitu dengan penipisan atau irisan pada kornea untuk mengurangi tebalnya,
umumnya dilakukan pada penderita telah berumur lebih dari 22 tahun, dengan
asumsi bentuk bola mata telah maksimal dan penderita kooperatif.
c. Dengan bedah lensa jernih
dilakukan pada penderita dengan miop yang sangat tinggi yang tidak
memungkinkan di lakukan Lasik, atau bisa juga ditanam lensa didepan iris
(phakic IOL/verisys)

BAB III
10

PENUTUP
A.

KESIMPULAN
Bunyi atau suara adalah kompresi mekanikal atau gelombang longitudinal yang
merambat

melalui medium.

Medium

atau

zat

perantara

ini

dapat

berupa

zat cair, padat, gas. Jadi, gelombang bunyi dapat merambat misalnya di dalam air, batu
bara, atau udara. Gelombang bunyi terdiri dari molekul-molekul udara yang bergetar
maju-mundur. Tiap saat, molekul-molekul itu berdesakan di beberapa tempat, sehingga
menghasilkan wilayah tekanan tinggi, tapi di tempat lain merenggang, sehingga
menghasilkan wilayah tekanan rendah.
Visus adalah ketajaman atau kejernihan penglihatan, sebuah bentuk yang khusus
di mana tergantung dari ketajaman fokus retina dalam bola mata dan sensitifitas dari
interpretasi di otak. Mata mengubah-ubah daya bias untuk memfokuskan benda dekat
mellui peruses yang disebut akomodasi. Penelitian tentang bayangan purkinje yang
merupakan pencerminan dari berbagai permukaan optis di mata, telah memperlihatkan
bahwa akomodasi terjadi akibat perubahan di lensa kristalina. Kontraksi otot silaris
menyebabkan penebalan dan peningkatan kelengkungan lensa, mungkin akibat relaksasi
kapsul lensa. Emetropia mata diangap normal atau atau emetrop, jika bila muskulus
siliaris sama sekali berelaksasi, berkas cahaya sejajar dari benda jatuh berada dalam
focus tajam pada retina. Kesalahan refraksi di bagi menjadi : Mata Miopia, Mata
Hipermetrop, Mata Asigmatisma.

DAFTAR PUSTAKA
Gabriel .J.F. 1996. Fisika Kedokteran . jakarta :Buku Kedokteran EGC.
Guyuton . 1990. Fisiologi Manusia dan Mekanisme Penyakit. Jakarta : Buku
Kedokteran EGC.
11

Vaughan G. Daniel, Taylor Asbury dan Paul Riodhan Eva. 2000 .Optamologi
Umum Eds 14 . Jakarta :Widya Medika .

12