Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN PENDAHULUAN

PERILAKU KEKERASAN (PK)

1.1; Diagnosis Keperawatan


Perilaku kekerasan
1.2; Tinjauan Teori
1.2.1; Pengertian
Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan seseorang
melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik terhadap
diri sendiri maupun orang lain. (Towsend, 1998).
Perilaku
kekerasan
adalah
reaksi
yang
ditampakan/ditampilkan oleh individu dalam menghadapi masalah
dengan melakukan tindakan penyerangan terhadap stessor, dapat
juga merusak dirinya sendiri, orang lain maupun lingkungan dan
setiap bermusuhan (Rasmun, 2001, hal. 18).
Marah merupakan perasaan jengkel yang timbul sebagai
respon terhadap kecemasan yang dirasakan sebagai ancaman. (Stuart
dan Sundeen, 1998).
Dari ketiga teori tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa
perilaku kekerasan adalah seseorang melakukan tindakan yang
berakibat tidak baik pada dirinya sendiri, orang lain maupun
lingkungan.
1.2.2; Rentang Respon
Respon adaptif

Asertif

Respon Maladaptif

Frustasi

Pasif

Agresif

Amuk

Gambar 1 : Rentang Respon Marah (Stuart dan Sundeen, 1998)

1.2.3; Perilaku Yang Berhubungan Dengan Diagnosis

a; Respon Adaptif.
1; Asertif
adalah
mengemukakan
pendapat
atau
mengekspresikan rasa tidak senang atau tidak setuju tanpa
menyakiti lawan bicara.
2; Frustasi
Adalah suatu proses yang menyebabkan terhambatnya
seseorang dalam mencapai keinginannya. Individu tersebut
tidak dapat menerima atau menunda sementara sambil
menunggu kesempatan yang memungkinkan. Selanjutnya
individu merasa tidak mampu dalam mengungkapkan
perannya dan terlihat pasif.
b; Respon transisi
Pasif adalah suatu perilaku dimana seseorang merasa
tidak mampu untuk mengungkapkan perasaannya sebagai usaha
mempertahankan hak-haknya. Klien tampak pemalu, pendiam,
sulit diajak bicara karena merasa kurang mampu, rendah diri
atau kurang menghargai dirinya.
c; Respon maladaptif
1; Agresif
Adalah suatu perilaku yang mengerti rasa marah,
merupakan dorongan mental untuk bertindak (dapat secara
konstruksi/destruksi) dan masih terkontrol. Perilaku agresif
dapat dibedakan dalam 2 kelompok, yaitu pasif agresif dan
aktif agresif.
a; Pasif agresif
Adalah perilaku yang tampak dapat berupa pendendam,
bermuka asam, keras kepala, suka menghambat dan
bermalas-malasan.

b; Aktif agresif
Adalah sikap menentang, suka membantah, bicara keras,
cenderung menu0ntut secara terus menerus, bertingkah laku
kasar disertai kekerasan.
2; Amuk
Adalah rasa marah dan bermusuhan yang kuat dan disertai
kehilangan kontrol diri. Individu dapat merusak diri sendiri,
orang lain atau lingkungan. (Stuart and Sudeen, 1998).
1.2.4; Faktor predisposisi dan faktor prespitasi

1; Faktor Predisposisi
Menurut Kelliat (1999), faktor predisposisi didapat dari
berbagai pengalaman yang dialami tiap orang artinya mungkin
terjadi (mungkin tidak terjadi) perilaku kekerasan jika faktor
berikut dialami oleh individu:
a; Psikologis, kegagalan yang dialami dapat menimbulkan
frustasi yang kemudian dapat timbul agresif atau amuk.
Masa kanak-kanak yang tidak menyenangkan yaitu
perasaan ditolak, dihina, dianiaya atau saksi penganiayaan.
b; Perilaku, reinforcement yang diterima pada saat melakukan
kekerasan sering mengobservasi kekerasan di rumah atau di
luar rumah, semua aspek ini menstimulasi individu
mengadopsi perilaku kekerasan.
c; Sosial budaya, budaya tertutup dan membalas secara diam
(pasif agresif) dan kontrol sosial yang tidak pasti terhadap
perilaku kekerasan akan menciptakan seolah-olah perilaku
kekerasan diterima (permisif).
d; Neurobiologis, banyak pendapat bahwa kekerasan system
limbic,
lobus
temporal
dan
ketidakseimbangan
neurotransmiter turut berperan dalam terjadinya perilaku
kekerasan.

2; Stressor Presipitasi
Menurut Stuart dan Sundeen (1998), menyatakan bahwa
factor presipitasi dapat bersumber dari klien, lingkungan atau
interaksi dengan orang lain,
a;

Kondisi klien

Seperti
kelemahan
fisik,
keputusasaan,
ketidakberdayaan, percaya diri kurang, dapat menjadi
penyebab perilaku kekerasan.
b;

Situasi lingkungan
Lingkungan yang ribut, padat kritikan yang
mengarah pada penghinaan, kehilangan orang yang dicintai
atau pekerjaan dapat pula memicu perilaku kekerasan.

1.3; Patofisiologi(Clinical Pathway): Patofisiologi, Situasional, Maturasional

Risiko Menciderai Diri, Orang Lain dan Lingkungan : Akibat

Perilaku Kekerasan

: Core problem

Gangguan Konsep Diri : Harga Diri Rendah : Penyebab

Patofisiologi
Berhubungan dengan perasaan ketidakberdayaan, kesepian atau atau keputusasaan
sekunder akibat:

Ketidakmampuan

Penyakit terminal

Penyakit kronis

Nyeri kronis

Ketergantungan kimia

Penyalahgunaan zat

Kerusakan mental

Kelainan pskiatrik

Diagnosis baru positive HIV Aids

AIDS tahap lanjut

Situasional
Berhubungan dengan:

Depresi

Konflik orang tua/perkawinan

Penyalahgunaan zat dalam keluarga

Ketidakefektifan keterampilan koping individu

Penyiksaan anak

Berhubungan dengan kehilangan nyata atau yang dirasakan akibat:

Keuangan atau pekerjaan

Status atau penghargaan

Ancaman pengabdian

Perpisahan

Kematian orang terdekat

Maturasional
Remaja

Berhubungan dengan perasaan diabaikan

Berhubungan dengan pengharapan yang tidak realistik

Berhubungan dengan penolakan atau tekanan teman sebaya

Berhubungan dengan depresi

Berhubungan dengan relokasi

Berhubungan dengan kehilangan orang terdekat

Lansia

Berhubungan dengan kehilangan multipel sekunder akibat pensiun,


kehilangan orang terdekat, atau penyakit

1.4; Data Yang Perlu Di Kaji


1.4.1; Resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan
1; Data Subyektif :

Klien mengatakan benci atau kesal pada seseorang.

Klien suka membentak dan menyerang orang yang


mengusiknya jika sedang kesal atau marah.

2;

Riwayat perilaku kekerasan atau gangguan jiwa lainnya.

Data Objektif :

Mata merah, wajah agak merah.

Nada suara tinggi dan keras, bicara menguasai: berteriak,


menjerit, memukul diri sendiri/orang lain.

Ekspresi marah saat membicarakan orang, pandangan


tajam.

Merusak dan melempar barang-barang.

1.4.2; Perilaku kekerasan / amuk


1; Data Subyektif :

Klien mengatakan benci atau kesal pada seseorang.

Klien

suka

membentak

mengusiknya jika

2;

dan

menyerang

orang

yang

sedang kesal atau marah.

Riwayat perilaku kekerasan atau gangguan jiwa lainnya.

Data Obyektif

Mata merah, wajah agak merah.

Nada suara tinggi dan keras, bicara menguasai.

Ekspresi marah saat membicarakan orang, pandangan tajam.

Merusak dan melempar barang-barang.

1.4.3; Gangguan harga diri : harga diri rendah


1; Data subyektif:

Klien mengatakan: saya tidak mampu, tidak bisa, tidak


tahu apa-apa, bodoh, mengkritik diri sendiri, mengungkapkan
perasaan malu terhadap diri sendiri.

2; Data obyektif:
Klien tampak lebih suka sendiri, bingung bila disuruh
memilih alternatif tindakan, ingin mencederai diri / ingin
mengakhiri hidup.

1.5; Penentuan Diagnosis Keperawatan


1.5.1; Batasan karakteristik
1; Aspek fisik, antara lain tekanan darah meningkat kulit muka
merah, pandangan mata tajam, otot tegang, denyut nadi
meningkat, pupil dilatasi, frekuensi BAK meningkat.
2; Aspek emosi, antara lain emosi labil, tak sabar, ekspresi muka
tampak
tegang, bicara dengan nada suara tinggi, suka
berdebat, klien memaksanakan kehendak.
3; Aspek perubahan perilaku, antara lain agresif menarik diri,
bermusuhan sinis, curiga, psikomotor meningkat, nada bicara
keras dan kasar .

1.5.2; Tanda mayor (Lynda Jual Carpenito)


Mengekspresikan
keinginan
atau
maksud
untuk
membahayakan diri atau orang lain
Mengekspresikan keinginan untuk mati atau melakukan bunuh
diri
Riwayat sebekymnya dari usaha membayakan diri
1.5.3; Tanda minor (Lynda Jual Carpenito)
Depresi atau konsep diri kurang
Halusinasi/delusi
Penyalahgunaan zat

Kontrol impuls yang kurang


Agitasi
Keputusasaan
Ketidakberdayaan
Kurangnya sistim pendukung
Kepedihan emosional
Bermusuhan

1.6; Rencana Tindakan Keperawatan


1.6.1; Tujuan dan tindakan keperawatan pada klien
Menurut Standar Operasional Pelaksanaan (SOP) yang di
susun oleh Tim Pengembangan Model Praktek Keperawatan
Profesional (MPKP) RSJ Marzuki Mahdi Bogor(1997), meliputi :
a;

Tujuan Umum: Klien tidak mencederai dengan melakukan


manajemen kekerasan

b;
1;

Tujuan Khusus:
Klien dapat membina hubungan saling percaya.
Tindakan:
11;

Bina hubungan saling percaya : salam terapeutik, empati,


sebut nama perawat dan jelaskan tujuan interaksi.

2;

12;

Panggil klien dengan nama panggilan yang disukai.

13;

Bicara dengan sikap tenang, rileks dan tidak menantang.

Klien dapat mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasan.


Tindakan:
21;

Beri kesempatan mengungkapkan perasaan.

22;

Bantu klien mengungkapkan perasaan jengkel/kesal.

23;

Dengarkan

ungkapan

rasa

marah

dan

perasaan

bermusuhan klien dengan sikap tenang.


3;

Klien dapat mengidentifikasi tanda-tanda perilaku kekerasan.


Tindakan :
31;

Anjurkan klien mengungkapkan yang dialami dan


dirasakan saat jengkel/kesal.

32;

Observasi tanda perilaku kekerasan.

Simpulkan bersama klien tanda-tanda jengkel/kesal yang

33;

dialami klien.
4;

Klien dapat mengidentifikasi perilaku kekerasan yang biasa


dilakukan.
Tindakan:
41;

Anjurkan mengungkapkan perilaku kekerasan yang biasa


dilakukan.

42;

Bantu bermain peran sesuai dengan perilaku kekerasan


yang biasa dilakukan.

43;

Tanyakan

"Apakah

dengan

cara

yang

dilakukan

masalahnya selesai ?"


5;

Klien dapat mengidentifikasi akibat perilaku kekerasan.


Tindakan:
51;

Bicarakan akibat/kerugian dari cara yang dilakukan.

52;

Bersama klien menyimpulkan akibat dari cara yang


digunakan.
Tanyakan apakah ingin mempelajari cara baru yang sehat.

53;
6;

Klien dapat mengidentifikasi cara konstruktif dalam berespon


thd kemarahan.
Tindakan :
61;

Beri pujian jika mengetahui cara lain yang sehat.

62;

Diskusikan cara lain yang sehat.Secara fisik : tarik nafas


dalam jika sedang kesal, berolah raga, memukul
bantal/kasur.
Secara verbal : katakan bahwa anda sedang marah atau

63;

kesal/tersinggung.
Secara spiritual : berdo'a, sembahyang, memohon kepada

64;

Tuhan untuk diberi kesabaran.


7;

Klien

dapat

mengidentifikasi

cara

mengontrol

perilaku

kekerasan.
Tindakan:
71;

Bantu memilih cara yang paling tepat.

72;

Bantu mengidentifikasi manfaat cara yang telah dipilih.

73;

Bantu mensimulasikan cara yang telah dipilih.

74;

Beri reinforcement positif atas keberhasilan yang dicapai


dalam simulasi.

75;

Anjurkan menggunakan cara yang telah dipilih saat


jengkel/marah.

8;

Klien mendapat dukungan dari keluarga.


Tindakan :
81;

Beri pendidikan kesehatan tentang cara merawat klien


melaluit pertemuan keluarga.

82;
9;

Beri reinforcement positif atas keterlibatan keluarga.

Klien dapat menggunakan obat dengan benar (sesuai program).


Tindakan:
91;

Diskusikan dengan klien tentang obat (nama, dosis,


frekuensi, efek dan efek samping).

92;

Bantu klien mengpnakan obat dengan prinsip 5 benar


(nama klien, obat, dosis, cara dan waktu).

93;

Anjurkan untuk membicarakan efek dan efek samping obat


yang dirasakan.

1.6.2; Tujuan dan tindakan keperawatan pada keluarga


TUK : Klien mendapat dukungan keluarga dalam mengontrol
perilaku kekerasan. Kriteria Evaluasi : Keluarga dapat menyebutkan
cara merawat klien yang berperilaku kekerasan, mengungkapkan
rasa puas dalam merawat klien.
Intervensi yang ditetapkan : Buat kontrak dengan klien pada
saat membawa klien untuk dirawat di rumah sakit, pertemuan rutin
dengan perawat, bantu klien mengidentifikasi kemampuan yang
dimiliki, pertemuan keluarga-keluarga, siapa yang dapat merawat
klien, fasilitas yang dimiliki keluarga di rumah, jelaskan cara
merawat klien pada keluarga, latihan keluarga cara-cara merawat
klien di rumah.

1.6.3;

Terapi aktivitas kelompok (TAK)

TERAPI AKTIFITAS KELOMPOK (TAK)


STIMULASI PERSEPSI: PRILAKU KEKERASAN
A; TOPIK
Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) Stimulasi Persepsi:
Sesi I : Mengenal prilaku kekerasan
B; TUJUAN
1; Klien dapat menyebutkan stimulasi penyebab kemarahan
2; Klien dapat menyebutkan respon yang dirasakan saat marah (tanda dan
gejala)
3; Klien dapat menyebutkan reaksi yang dilakukan saat marah (prilaku
kekerasan)
4; Klien dapat menyebutkan akibat prilaku kekerasan
5; Klien dapat menyebutkan kegiatan fisik yang biasa dilakukan klien
C; LANDASAN TEORI
1; Terapi Aktivitas Kelompok (TAK)
Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) adalah terapi yang dirancang untuk
meningkatkan kesehatan psikologis dan emosional pasien dengan masalah
keperawatan jiwa dan bertujuan membantu anggota dalam meningkatkan
koping dalam mengatasi stressor dalam kehidupan. TAK memiliki tujuan
terapeutik dan tujuan rehabilitatif.
Terapi aktivitas kelompok dibagi empat, yaitu terapi aktivitas
kelompok stimulasi kognitif/persepsi, terapi aktivitas kelompok stimulasi
sensori, terapi aktivitas stimulasi realita, dan terapi aktivitas kelompok
sosialisasi. Pada kesempatan ini perawat akan berfokus pada TAK
stimulasi persepsi.
Terapi aktivitas kelompok berdasarkan masalah keperawatan
jiwa yang paling banyak ditemukan dikelompokkan sebagai berikut :

TAK sosialisasi (untuk klien dengan menarik diri yang sudah sampai pada
tahap mampu berinteraksi dalam kelompok kecil dan sehatsecara fisik
TAK stimusi sensori (untuk klien yang mengalami gangguan sensori)
TAK orientasi realita (untuk klien halusinasi yang telah dapat mengontrol
halusinasinya, klien paham yang telah dapat berorientasi kepada realita
dan sehat secara fisik)
TAK stimulasi persepsi: halusinasi (untuk klien dengan halusinasi)
TAK stimulasi persepsi adalah TAK yang menstimulasi pasien untuk
mengolah pikiran sesuai dengan stimulasi yang diberikan (berpersepsi).
TAK jenis ini diindikasikan untuk pasien yang mengalami koping yang
tidak efektif dalam bentuk terjadinya harga diri rendah, halusinasi,
perilaku kekerasan,ansietas, defisit perawatan diri dan sebaginya. Bentuk
kegiatannya adalah diskusi dan latihan bersama keterampilan koping untuk
mengatasi masalah masing-masing.

TAK peningkatan harga diri (untuk klien dengan harga diri rendah)

TAK penyaluran energy ( untuk klien perilaku kekerasan yang telah

dapat mengekspresikan marahnya secara konstruktif, klien menarik diri


yang telah dapat berhubungan dengan orang lain secara bertahap dan
sehatsecara fisik).
2; Prilaku Kekerasan
A; Pengertian
Perilaku kekerasan sukar diprediksi. Setiap orang dapat bertindak
keras tetapi ada kelompok tertentu yang memiliki resiko tinggi yaitu
pria berusia 15-25 tahun, orang kota, kulit hitam, atau subgroup
dengan budaya kekerasan, peminum alkohol (Tomb, 2003 dalam
Purba, dkk, 2008).
Perilaku kekerasan adalah tingkah laku individu yang ditujukan
untuk

melukai atau mencelakakan individu lain yang tidak

menginginkan datangnya tingkah laku tersebut (Purba dkk, 2008).


Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang
melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik, baik

kepada diri sendiri maupun orang lain (Yosep, 2007; hal, 146).
Perilaku kekerasan adalah suatu bentuk perilaku yang bertujuan untuk
melukai seseorang secara fisik maupun psikologis (Depkes, RI, 2000).
Jadi, perilaku kekerasan merupakan suatu keadaan individu yang
melakukan tindakan yang dapat membahayakan/mencederai diri
sendiri, orang lain bahkan dapat merusak lingkungan.
B; Etiologi
Perilaku kekerasan bisa disebabkan adanya gangguan harga diri:
harga diri rendah. Harga diri adalah penilaian individu tentang
pencapaian diri dengan menganalisa seberapa jauh perilaku sesuai
dengan ideal diri. Dimana gangguan harga diri dapat digambarkan
sebagai perasaan negatif terhadap diri sendiri, hilang kepercayaan diri,
merasa gagal mencapai keinginan.
Frustasi, seseorang yang mengalami hambatan dalam mencapai
tujuan/keinginan yang diharapkannya menyebabkan ia menjadi
frustasi. Ia merasa terancam dan cemas. Jika ia tidak mampu
menghadapi rasa frustasi itu dengan cara lain tanpa mengendalikan
orang lain dan keadaan sekitarnya misalnya dengan kekerasan.
C; Faktor-Faktor yang Menyebabkan PK
1; Faktor Predisposisi
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya perilaku
kekerasan menurut teori biologik, teori psikologi, dan teori
sosiokultural yang dijelaskan oleh Towsend (1996 dalam Purba
dkk, 2008) adalah:
1. Teori Biologik
Teori biologik

terdiri

dari

beberapa

pandangan

yang

berpengaruh terhadap perilaku:


a. Neurobiologik
Ada 3 area pada otak yang berpengaruh terhadap proses
impuls

agresif:

sistem

limbik,

lobus

frontal

dan

hypothalamus. Neurotransmitter juga mempunyai peranan


dalam memfasilitasi atau menghambat proses impuls agresif.
Sistem limbik merupakan sistem informasi, ekspresi,

perilaku, dan memori. Apabila ada gangguan pada sistem ini


maka akan meningkatkan atau menurunkan potensial perilaku
kekerasan. Adanya gangguan pada lobus frontal maka
individu tidak mampu membuat keputusan, kerusakan pada
penilaian, perilaku tidak sesuai, dan agresif. Beragam
komponen dari sistem neurologis mempunyai implikasi
memfasilitasi dan menghambat impuls agresif. Sistem limbik
terlambat dalam menstimulasi timbulnya perilaku agresif.
Pusat otak atas secara konstan berinteraksi dengan pusat
agresif.
b. Biokimia
Berbagai

neurotransmitter

(epinephrine,

norepinefrine,

dopamine, asetikolin, dan serotonin) sangat berperan dalam


memfasilitasi atau menghambat impuls agresif. Teori ini
sangat konsisten dengan fight atau flight yang dikenalkan
oleh Selye dalam teorinya tentang respons terhadap stress.
c. Genetik
Penelitian membuktikan adanya hubungan langsung antara
perilaku agresif dengan genetik karyotype XYY.
d. Gangguan Otak
Sindroma otak organik terbukti sebagai faktor predisposisi
perilaku agresif dan tindak kekerasan. Tumor otak, khususnya
yang menyerang sistem limbik dan lobus temporal; trauma
otak, yang menimbulkan perubahan serebral; dan penyakit
seperti ensefalitis, dan epilepsy, khususnya lobus temporal,
terbukti berpengaruh terhadap perilaku agresif dan tindak
kekerasan.
2;

Teori Psikologik
a. Teori Psikoanalitik
Teori ini menjelaskan tidak terpenuhinya kebutuhan untuk
mendapatkan kepuasan dan rasa aman dapat mengakibatkan
tidak berkembangnya ego dan membuat konsep diri rendah.
Agresi dan tindak kekerasan memberikan kekuatan dan

prestise yang dapat meningkatkan citra diri dan memberikan


arti dalam kehidupannya. Perilaku agresif dan perilaku
kekerasan merupakan pengungkapan secara terbuka terhadap
rasa ketidakberdayaan dan rendahnya harga diri.
b. Teori Pembelajaran
Anak belajar melalui perilaku meniru dari contoh peran
mereka, biasanya orang tua mereka sendiri. Contoh peran
tersebut ditiru karena dipersepsikan sebagai prestise atau
berpengaruh, atau jika perilaku tersebut diikuti dengan pujian
yang positif. Anak memiliki persepsi ideal tentang orang tua
mereka selama tahap perkembangan awal. Namun, dengan
perkembangan yang dialaminya, mereka mulai meniru pola
perilaku guru, teman, dan orang lain. Individu yang dianiaya
ketika masih kanak-kanak atau mempunyai orang tua yang
mendisiplinkan anak mereka dengan hukuman fisik akan
cenderung untuk berperilaku kekerasan setelah dewasa.
3; Teori Sosiokultural
Pakar sosiolog lebih menekankan pengaruh faktor budaya dan
struktur sosial terhadap perilaku agresif. Ada kelompok sosial yang
secara umum menerima perilaku kekerasan sebagai cara untuk
menyelesaikan masalahnya. Masyarakat juga berpengaruh pada
perilaku tindak kekerasan, apabila individu menyadari bahwa
kebutuhan dan keinginan mereka tidak dapat terpenuhi secara
konstruktif. Penduduk yang ramai /padat dan lingkungan yang
ribut dapat berisiko untuk perilaku kekerasan. Adanya keterbatasan
sosial dapat menimbulkan kekerasan dalam hidup individu.
2; Faktor Presipitasi
Faktor-faktor yang dapat mencetuskan perilaku kekerasan sering kali
berkaitan dengan (Yosep, 2009):
1; Ekspresi diri, ingin menunjukkan eksistensi diri atau simbol
solidaritas seperti dalam sebuah konser, penonton sepak bola, geng
sekolah, perkelahian masal dan sebagainya.

2; Ekspresi dari tidak terpenuhinya kebutuhan dasar dan kondisi


sosial ekonomi.
3; Kesulitan dalam mengkomunikasikan sesuatu dalam keluarga serta
tidak membiasakan dialog untuk memecahkan masalah cenderung
melalukan kekerasan dalam menyelesaikan konflik.
4; Ketidaksiapan seorang ibu dalam merawat anaknya

dan

ketidakmampuan dirinya sebagai seorang yang dewasa.


5; Adanya riwayat perilaku anti sosial meliputi penyalahgunaan obat
dan alkoholisme dan tidak mampu mengontrol emosinya pada saat
menghadapi rasa frustasi.
6; Kematian anggota keluarga yang terpenting, kehilangan pekerjaan,
perubahan

tahap

perkembangan,

atau

perubahan

tahap

perkembangan keluarga.
D; Tanda dan Gejala
Yosep (2009) mengemukakan bahwa tanda dan gejala perilaku kekerasan
adalah sebagai berikut:
1; Fisik
a; Muka merah dan tegang
b; Mata melotot/ pandangan tajam
c; Tangan mengepal
d; Rahang mengatup
e; Postur tubuh kaku
f; Jalan mondar-mandir
2; Verbal
a; Bicara kasar
b; Suara tinggi, membentak atau berteriak
c; Mengancam secara verbal atau fisik
d; Mengumpat dengan kata-kata kotor
e; Suara keras
f; Ketus
3; Perilaku
a; Melempar atau memukul benda/orang lain
b; Menyerang orang lain
c; Melukai diri sendiri/orang lain
d; Merusak lingkungan
e; Amuk/agresif
4; Emosi
a; Tidak adekuat
b; Tidak aman dan nyaman
c; Rasa terganggu, dendam dan jengkel
d; Tidak berdaya
e; Bermusuhan
f; Mengamuk, ingin berkelahi

g; Menyalahkan dan menuntut


5; Intelektual :Mendominasi, cerewet, kasar, berdebat, meremehkan,
sarkasme.
6; Spiritual: Merasa diri berkuasa, merasa diri benar, mengkritik pendapat
orang lain, menyinggung perasaan orang lain, tidak perduli dan kasar.
7; Sosial : Menarik diri, pengasingan, penolakan, kekerasan, ejekan,
sindiran.
8; Perhatian: Bolos, mencuri, melarikan diri, penyimpangan seksual.

Sesi-sesi TAK stimulasi persepsi: Prilaku kekerasan


Dalam Terapi Aktifitas Kelompok Perilaku Kekerasan dibagi dalam 5 sesi,
yaitu:
1.

Sesi 1 : Mengenal Perilaku Kekerasan yang Biasa Dilakukan

2.

Sesi 2: Mencegah Perilaku Kekerasan Fisik

3.

Sesi 3: Mencegah Perilaku Kekerasan Sosial

4.

Sesi 4: Mencegah Perilaku Kekerasan Spiritual

5.

Sesi 5: Mencegah Perilaku Kekerasan dengan Patuh Mengkonsumsi


Obat Klien

D. KLIEN

Kriteria klien
a.

Klien perilaku kekerasan yang sudah mulai mampu bekerja sama

dengan
b.

perawat.

Klien perilaku kekerasan yang dapat berkomunikasi dengan perawat.

Proses seleksi
a.

Mengobservasi klien yang masuk kriteria.

b.

Mengidentifikasi klien yang masuk kriteria.

c.

Mengumpulkan klien yng masuk kriteria.

d.

Membuat kontrak dengan klien yang setuju ikut TAK PK, meliputi:
menjelaskan tujuan TAK PK pada klien, rencana kegiatan kelompok,
dan aturan main dalam kelompok.

Jumlah peserta TAK


a

Perawat yang terdiri dari :


Leader
:
Co leader
:
Fasilitator
:
Observer
:
Klien terdiri dari :

E; PENGORGANISASIAN
1; Waktu
-

Hari/tanggal :

Waktu

: 10.00 s.d 10.40 WIB (40 menit)

Tempat

2; Tim terapis
-

Setting: peserta dan terapis duduk di kursi melingkar

Ruangan nyaman dan tenang


C
L

L
K

K
F/O

K
K

Keterangan:
K

: Klien

: Leader

: Fasilitator

: Observer

CL

: Co Leader

Tim terapis dan uraian tugas


Leader:
Uraian tugas:
a; Menyusun proposal kegiatan TAK
b; Menjelaskan tujuan pelaksanaan TAK
c; Menjelaskan peraturan kegiatan TAK sebelum kegiatan dimulai
d; Mampu memotivasi anggota untuk aktif dalam kelompok
e; Mampu memimpin TAK dengan baik

Co Leader:
Uraian tugas:
a; Menyampaikan informasi dari fasilitator ke leader tentang aktifitas
klien
b; Mengingatkan leader jika kegiatan menyimpang
c; Mengingatkan leader tentang waktu
Fasilitator:
a; Memfasilitasi klien yang kurang aktif
b; Berperan sebagai role model bagi klien selama kegiatan
berlangsung
c; Mempertahankan kehadiran peserta
d; Memotivasi peserta dalam aktivitas kelompok
e; Memotivasi anggota dalam ekspresi perasaan setelah kegiatan.
f; Mengatur posisi kelompok dalam lingkungan untuk melaksanakan
kegiatan.
g; Membimbing kelompok selama permainan diskusi
h; Membantu leader dalam melaksanankan kegiatan
i; Bertanggung jawab terhadap program antisipasi masalah.
Observer:
Uraian tugas:

a; Mengobservasi jalannya/proses kegiatan


b; Mencatat perilaku verbal dan nonverbal klien selama kegiatan
Berlangsung
3; Metode dan media
a; Metode yang digunakan, antara lain:
-

Dinamika kelompok

Diskusi dan tanya jawab

Bermain peran/simulasi

b; Media dan alat


-

Nametag (Papan nama)

Spidol (alat tulis)

Botol berisi manik-manik

Speaker

laptop

F; PROSES PELAKSANAAN
1; Persiapan
a; Memilih klien prilaku kekerasan yang sudah kooperatif
b; Membuat kontrak dengan klien
c; Mempersiapkan media, alat dan tempat pertemuan
2; Orientasi
Dilaksanakan selama 5 menit, terdiri dari:
a; Salam terapeutik
1; Salam dari terapis
2; Perkenalkan nama dan panggilan
3; Menanyakan nama dan panggilan semua klien (beri papan nama)
b. Evaluasi/validasi: Menanyakan perasaan klien saat ini
c. Kontrak
-

Menjelaskan tujuan kegiatan, yaitu mengenal prilaku kekerasan.

Menjelaskan aturan main

Jika ada klien yang akan meninggalkan kelompok, harus


meminta ijin kepada terapis

Lama kegiatan 40 menit

Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir

Setiap klien yang telah memberikan penjelasan atau pendapat


akan diberikan pujian dan tepuk tangan.

2; Tahap kerja
Tahap kerja dilaksanakan selama 40 menit, terdiri dari:
a; Hidupkan lagu pada laptop dan edarkan botol berlawanan dengan arah
jarum jam.
b; Pada saat lagu dimatikan, anggota kelompok yang memegang botol
mendapat giliran untuk:

Mendiskusikan penyebab marah (Tanyakan tiap klien)


Mendiskusikan tanda dan gejala yang dirasakan klien saat terpapar

oleh penyebab marah sebelum prilaku kekerasan terjadi


Mendiskusikan prilaku kekerasan yang pernah dilakukan klien
Mendiskusikan dampak/akibat prilaku kekerasan
Mendiskusikan kegiatan fisik yang biasa dilakukan oleh klien
c. Ulang a dan b sampai semua anggota kelompok mendapat giliran.
d. Beri pujian untuk tiap keberhasilan anggota kelompok dengan
memberi tepuk tangan.
3; Tahap terminasi
Tahap terminasi dilaksanakan selama 5 menit, terdiri dari:
a. Evaluasi
- Terapis menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK
- Terapis memberikan reinforcement positif (pujian) atas keberhasilan
klien
b. Rencana tindak lanjut
-

Menganjurkan klien menggunakan cara yang biasa dilakukan jika


stimulus prilaku kekerasan

Menganjurkan klien melatih secara teratur cara yang telah dipelajari

Memasukkan pada jadwal kegiatan harian klien

c. Kontrak yang akan datang


- Menyepakati kegiatan berikutnya ,yaitu mengontrol marah dengan
latihan fisik 1 dan 2 (tarik nafas dalam dan tepuk bantal)
- Menyepakati waktu dan tempat.

3; EVALUASI
1; 100% klien mengikuti TAK dari awal sampai akhir
2; 80% kegiatan dilakukan sesuai dengan jadual kegiatan yang telah
dibuat
3; Klien dapat menyebutkan stimulasi penyebab kemarahan
4; Klien dapat menyebutkan respon yang dirasakan saat marah (tanda dan
gejala)
5; Klien dapat menyebutkan reaksi yang dilakukan saat marah (prilaku
kekerasan)
6; Klien dapat menyebutkan akibat prilaku kekerasan
7; Klien dapat menyebutkan kegiatan fisik yang biasa dilakukan klien

4; FORMAT EVALUASI
Stimulasi Persepsi : Prilaku kekerasan Sesi I
Mengenal Prilaku dan Kemampuan Mencegah Prilaku Kekerasan

No
1
2
3
4
5
6

Nama Klien

Aspek yang dinilai


Klien

dapat

menyebutkan

stimulasi

penyebab kemarahan
Klien dapat menyebutkan respon yang
dirasakan saat marah (tanda dan gejala)
Klien dapat menyebutkan reaksi yang
dilakukan saat marah (prilaku kekerasan)
Klien dapat menyebutkan akibat prilaku
kekerasan
Klien dapat menyebutkan kegiatan fisik yang
biasa dilakukan klien
Klien mengikuti kegiatan TAK dari awal
sampai akhir
Jumlah
1; Tulis nama panggilan klien yang ikut TAK pada kolom nama klien

2; Untuk tiap klien, beri penilaian tentang kemampuan klien mengikuti,


peran

klien

(aktif),

mengekspresikan

perasaannya

dan

mampu

mendemonstrasikan cara mencegah prilaku kekerasan fisik . Beri tanda


jika klien mampu dan tanda jika klien tidak mampu.

Keterangan:
= Bisa
X = Tidak bisa
Penilaian: Rekomendasi

Klien dikatakan mampu

: 6-8 Lanjutkan

Klien dikatakan cukup mampu

: 4-5 Lanjutkan

Klien dikatakan kurang mampu

: 2-3 Ulangi

Klien dikatakan gagal

: 0-1 Mundur

1.7; Daftar Pustaka


Stuart GW, Sundeen, Principles and Practice of Psykiatric Nursing (5 th
ed.). St.Louis Mosby Year Book, 1995
Keliat Budi Ana, Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa, Edisi I, Jakarta :
EGC, 1999
Keliat Budi Ana, Gangguan Konsep Diri, Edisi I, Jakarta : EGC, 1999
Aziz R, dkk, Pedoman Asuhan Keperawatan Jiwa Semarang : RSJD Dr.
Amino Gonohutomo, 2003
Tim Direktorat Keswa, Standar Asuhan Keperawatan Jiwa, Edisi 1,
Bandung, RSJP Bandung, 2000
Carpenito, L.J.2000. Buku Saku Diagnosa Keperawatan edisi 8. Jakarta :
EGC
Keliat, B.A.1998. Proses Keperawatan Jiwa. Jakarta : EGC
Rasmun.2001. Keperawatan Kesehatan Mental Psikiatri terintegrasi
dengan Keluarga. Jakarta : Fajar Inter Pratama

Stuart dan Sundeen. 1998. Buku Saku Keperawatan Jiwa, Edisi 3


(diterjemahkan oleh Yuni A). Jakarta : EGC
Tim Pengembangan Model Praktek Keperawatan RS Jiwa Marzuki
Mahdi, Bogor. 1997. SOP dengan II Masalah Keperawatan. Bogor ; tidak
dipublikasikan
Townsend, MC. 1998. Buku saku diagnosa keperawatan psikiatri Edisi 3.
Jakarta : EGC.