Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kanker Serviks adalah pertumbuhan sel-sel mulut rahim/serviks yang
abnormal dimana sel-sel ini mengalami perubahan kearah displasia atau mengarah
keganasan. Kanker ini hanya menyerang wanita yang pernah atau sekarang dalam
status sexually active.
Kanker servikal ini sebagian besar (90%) adalah karsinoma sel skuamosa
dan sisanya (10%) adalah adenokarsinoma. Faktor risiko mayor untuk kanker
servikal adalah infeksi dengan virus papilloma manusia (HPV) yang ditularkan
secara seksual.
Pasien yang menjalani histerektomi dan memiliki rasio tinggi terjadinya
rekurensi harus terus diawasi karena lewat deteksi dini dapat diobati dengan
radioterapi. Setelah histerektomi radikal, terjadinya 80% rekurensi dalam 2 tahun.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian Kanker Serviks?
2. Apa etiologi/ faktor predisposisi Kanker Serviks?
3. Bagaimana epidemiologi penyakit Kanker Serviks?
4. Bagaimana patofisiologi dari Kanker Serviks?
5. Apa saja klasifikasi dari Kanker Serviks?
6. Apa saja manifestasi klinis dari Kanker Serviks?
7. Apa saja pemeriksaan diagnostic untuk pasien dengan Kanker Serviks?
8. Apa prognosis dari Kanker Serviks?

9. Bagaimana penatalaksanaan penyakit Kanker Serviks?


10. Apa saja komplikasi penyakit Kanker Serviks?
11. Apa yang dilakukam untuk pencegahan Kanker Serviks?
12. Bagaimana asuhan keperawatan pada pasien dengan Kanker Serviks?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian Kanker Serviks
2. Untuk mengetahui etiologi dari Kanker Serviks.
3. Untuk megetahui epidemiologi Kanker Serviks
4.

Untuk mengetahui patofisiologi dari Kanker Serviks

5. Untuk mengetahui kalsifikasi dari Kanker Serviks


6. Untuk mengetahui gejala klinis Kanker Serviks
7. Untuk mengetahui pemeriksaan diagnostic untuk Kanker Serviks
8. Untuk mengetahui prognosis dari Kanker Serviks
9. Untuk mengetahui penatalaksanaan Kanker Serviks
10. Untuk mengetahui komplikasi dari Kanker Serviks
11. Untuk mengetahui pencegahan Kanker Servikz
12. Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada pasien dengan Kanker
Serviks

BAB II
PENDAHULUAN

A. KONSEP DASAR PENYAKIT CA CERVIX


1. Pengertian
Suatu keadaan dimana sel kehilangan kemampuanya dalam mengendalikan
kecepatan pembelahan dan pertumbuhannya. (Wiknjosastro, Hanifa dkk,
2007).Kanker serviks adalah penyakit akibat tumor ganas pada daerah mulut
rahim sebagai akibat dari adanya pertumbuhan jaringan yang tidak terkontrol dan
merusak jaringan normal disekitarnya. Kanker Serviks adalah pertumbuhan sel-sel
mulut rahim/serviks yang abnormal dimana sel-sel ini mengalami perubahan
kearah displasia atau mengarah keganasan. Kanker ini hanya menyerang wanita
yang pernah atau sekarang dalam status sexually active. Tidak pernah ditemukan
wanita yang belum pernah melakukan hubungan seksual pernah menderita kanker
ini. Biasanya kanker ini menyerang wanita yang telah berumur, terutama paling
banyak pada wanita yang berusia 35-55 tahun. Akan tetapi, tidak mustahil wanita
yang mudapun dapat menderita penyakit ini, asalkan memiliki faktor risikonya.
2.

Etiologi/ Faktor Predisposisi


Penyebab kanker serviks belum jelas diketahui namun ada beberapa faktor

resiko dan predisposisi yang menonjol, antara lain :


a. Umur pertama kali melakukan hubungan seksual.
Penelitian menunjukkan bahwa semakin muda wanita melakukan hubungan
seksual semakin besar mendapat kanker serviks. Kawin pada usia 20 tahun
dianggap masih terlalu muda. Hubungan seksual pertama kali pada usia dini
(umur < 16 tahun).
b. Jumlah kehamilan dan partus.
Kanker serviks terbanyak dijumpai pada wanita yang sering partus. Semakin
sering partus semakin besar kemungkinan resiko mendapat karsinoma
serviks.
c. Jumlah perkawinan.
Wanita yang sering melakukan hubungan seksual dan berganti-ganti
pasangan mempunyai faktor resiko yang besar terhadap kankers serviks ini.
d. Infeksi virus.

Infeksi virus herpes simpleks (HSV-2) dan virus papiloma atau virus
kondiloma akuminata diduga sebagai factor penyebab kanker serviks
e. Sosial Ekonomi.
Karsinoma serviks banyak dijumpai pada golongan sosial ekonomi rendah
mungkin faktor sosial ekonomi erat kaitannya dengan gizi, imunitas dan
kebersihan perseorangan. Pada golongan sosial ekonomi rendah umumnya
kuantitas dan kualitas makanan kurang hal ini mempengaruhi imunitas tubuh.
f. Hygiene dan sirkumsisi.
Diduga adanya pengaruh mudah terjadinya kankers serviks pada wanita yang
pasangannya belum disirkumsisi. Hal ini karena pada pria non sirkum
hygiene penis tidak terawat sehingga banyak kumpulan-kumpulan smegma.
g. Merokok dan AKDR (alat kontrasepsi dalam rahim).
Merokok akan merangsang terbentuknya sel kanker, sedangkan pemakaian
AKDR akan berpengaruh terhadap serviks yaitu bermula dari adanya erosi
diserviks yang kemudian menjadi infeksi yang berupa radang yang terus
menerus, hal ini dapat sebagai pencetus terbentuknya kanker serviks.
h. Sering berganti-ganti pasangan (multipatner sex).
i. Infeksi Human Papilloma Virus (HPV) tipe 16 dan 18. Penelitian
menunjukkan bahwa 10-30 % wanita pada usia 30an tahun yang sexually
active pernah menderita infeksi HPV (termasuk infeksi pada daerah vulva).
Persentase ini semakin meningkat bila wanita tersebut memiliki banyak
pasangan seksual. Pada sebagian besar kasus, infeksi HPV berlangsung tanpa
gejala dan bersifat menetap.
Kedua faktor diatas juga berhubungan dengan infeksi HPV. Semakin
dbanyak berganti-ganti pasangan maka tertularnya infeksi HPV juga semakin
tinggi. Begitu pula dengan terpaparnya sel-sel mulut rahim yang mempunyai
pH tertentu dengan sperma-sperma yang mempunyai pH yang berbeda-beda
3.

pada multipatner dapat merangsang terjadinya perubahan kearah dysplasia.


Epidemiologi
Karsinoma serviks adalah kanker genital kedua yang paling sering pada

perempuan dan bertanggung jawab untuk 6% dari semua kanker pada perempuan
di Amerika Serikat (CancerNet, 2001). Kanker servikal ini sebagian besar (90%)
adalah karsinoma sel skuamosa dan sisanya (10%) adalah adenokarsinoma. Faktor
risiko mayor untuk kanker servikal adalah infeksi dengan virus papilloma manusia
(HPV) yang ditularkan secara seksual. Penelitian epidemiologi diseluruh dunia
menegaskan bahwa infeksi HPV adalah faktor penting dalam perkembangan

kanker servikal (Bosch et al, 1995). Factor risiko lain untuk perkembangan kanker
servikal adalah aktivitas seksual pada usia muda, paritas tinggi, jumlah pasangan
seksual yang meningkat, status ekonomi yang rendah, dan merokok. (Sylvia A.
Price, 2005).
4. Patofisiologi
Kanker serviks disebabkan oleh faktor genetik , hiegene seksual buruk,
melakukan hubungan seksual dini , infeksi virus HPV, merokok dan berganti
pasangan. Menyebabkan kedua jenis epitel yang melapisi berdesakan dan bertemu
pada Squamosa Columnar Junction ( SCJ ) menyebabkan displasia dan kearak
eksolitik akan menyebabkan SCJ menyebar ke arah lumen vagina menimbulkan
massa proliferasi dan keputihan yang berbau busuk. Displasia sel- sel epitel
menyebabkan perubahan struktur kemudian aktivitas regenerasi sel meningkat
dan akhirnya akan menjadi sel- sel ganas yaitu karsinoma invasif. Karsinoma
invasif serviks menyebabkan penekanan sekitar serviks mengakibatkan jaringan
sekitar serviks rapuh. Rapuhnya jaringan sekitar serviks menyebabkan mudahnya
terjadinya pendarahan. Perdarahan adalah gejala yang signifikan dan tidak selalu
muncul pada saat awal sehingga kanker didapat dalam keadaan lanjut ketika
didiagnosis. Jenis perdarahan vagina yang paling sering adalah pascakoitus atau
bercak antara menstruasi. Pendarahan akan menyebabkan anemia selanjutnya
terjadi

kelemahan dan gangguan perfusi jaringan tidak efektif akibat suplai

oksigen yang berkurang. Selain penekanan sekitar serviks, meluasnya penyebaran


akan mengakibatkan desakan pada jaringan intraservikal menyebabkan iskemia.
Iskemia merangsang pengeluaran brandikidin dan histamin dan menekan saraf
lumbosakralis menimbulkan ketidaknyamanan ( nyeri ). Penyebaran melalui
pembuluh getah bening ke arah parametrium akan mengilfiltrasi septum
rektovaginal dan kandung kemih/ ureter menyebabkan peningkatan frekuensi
berkemih sehingga menimbulkan gangguan pola eliminasi urine. Selain itu
infiltrasi septum rektovaginal dapat menyebabkan terjadinya fistula rektum.
Akibat radioterapi ataupun kemoterapi dapat menimbulkan gangguan pada
kelenjar hipofise dan meningkatkan peningkatan asam lambung menyebabkan
penderita mengalami mual, muntah serta anoreksia. Selain itu, efek samping dari
radioterapi dan kemoterapi adalah menekan sirkulasi yang dapat menyebabkan

kerontokan rambut yang menyebabkan harga diri yendah situasional serta


imunosupresi yang menimbulkan semakin tinggi terjadinya resiko infeksi. Bentuk
dysplasia servikal prainvasif termasuk karsinoma in situ dapat diangkat
seluruhnya dengan biopsi kerucut atau eradikasi menggunakan laser,kauter,atau
bedah krio. Tindak lanjut yang sering dan teratur untuk lesi yang berulang penting
dilakukan setelah pengobatan ini. ( Pathway terlampir )
5. Klasifikasi
Klasifikasi Kanker Serviks menurut FIGO 1978
Tingkat

Kriteria

Karsinoma In Situ ( KIS), membran basalis utuh

Proses terbatas pada servks walaupun ada perluasan ke korpus uteri

Ia

Karsinoma mikro invasif, bila membran basalis sudah rusak dan sel
tumor sudah stroma tidak > 3 mm, dan sel tumor tidak tedapat
didalam pembuluh limfe atau pembuluh darah.

Ib

Secara klinis tumor belum tampak sebagai karsinoma, tetapi pada


pemeriksaan histologi ternyata sel tumor telah mengadakan invasi
stroma melebihi Ia

II

Proses keganasan telah keluar dari serviks dan menjalar 2/3 bagian
atas vagina dan parametrium, tetapi tidak sampai dinding panggul

II a

Penyebaran hanya ke vagina, parametrium masih bebas dari infitrat


tumor

II b

Penyebaran ke parametrum, uni atau bilateral, tetapi belum sampai


dinding panggul

III a

Penyebaran sampai bagian distal vagina, sedang parametrium


tidak dipersoalkan asal tidak sampai dinding panggul.

III b

Penyebaran sudah sampai dinding panggul, tidak ditemukan daerah


infiltrat antara tumor dengan dinding panggul.

IV

Proses keganasan telah keluar dari panggul kecil dan melibatkan


mokusa rektum dan atau vesika urinaria atau telah bermetastasi

keluar panggul ketempat yang jauh


IV a

Proses sudah sampai mukosa rektum dan atau vesika urinaria atau
sudah keluar dari pangul kecil, metastasi jauh belum terjadi

IV b

Telah terjadi metastasi jauh.

Klasifikasi pertumbuhan sel akan kankers serviks


Mikroskopis
a. Displasia
Displasia ringan terjadi pada sepertiga bagaian basal epidermis.
Displasia berat terjadi pada dua pertiga epidermihampir tidak dapat
dibedakan dengan karsinoma insitu.
b. Stadium karsinoma insitu.
Pada karsinoma insitu perubahan sel epitel terjadi pada seluruh lapisan
epidermis menjadi karsinoma sel skuamosa. Karsinoma insitu yang
tumbuh didaerah ektoserviks, peralihan sel skuamosa kolumnar dan
sel cadangan endoserviks.
c. Stadium karsinoma mikroinvasif.
Pada karksinoma mikroinvasif,

disamping

perubahan

derajat

pertumbuhan sel meningkat juga sel tumor menembus membrana


basalis dan invasi pada stoma sejauh tidak lebih 5 mm dari membrana
basalis, biasanya tumor ini asimtomatik dan hanya ditemukan pada
skrining kanker.
d. Stadium karsinoma invasif.
Pada karsinoma invasif perubahan derajat pertumbuhan sel menonjol
besar dan bentuk sel bervariasi. Petumbuhan invasif muncul diarea
bibir posterior atau anterior serviks dan meluas ketiga jurusan yaitu
jurusan forniks posterior atau anterior, jurusan parametrium dan
korpus uteri.
Bentuk kelainan dalam pertumbuhan karsinoma serviks:
Pertumbuhan eksofilik, berbentuk bunga kool, tumbuh kearah
vagina dan dapat mengisi setengah dari vagina tanpa infiltrasi
kedalam vagina, bentuk pertumbuhan ini mudah nekrosis dan
perdarahan.

Pertumbuhan endofilik, biasanya lesi berbentuk ulkus dan tumbuh


progesif meluas ke forniks, posterior dan anterior ke korpus uteri

dan parametrium.
Pertumbuhan nodul, biasanya dijumpai pada endoserviks yang

lambatlaun lesi berubah bentuk menjadi ulkus.


Makroskopis
a. Stadium preklinis.
Tidak dapat dibedakan dengan servisitis kronik biasa
b. Stadium permulaan.
Sering tampak sebagian lesi sekitar osteum externum
c. Stadium setengah lanjut.
Telah mengenai sebagian besar atau seluruh bibir porsio
d. Stadium lanjut.
Terjadi pengrusakan dari jaringan serviks, sehingga tampaknya
seperti ulkus dengan jaringan yang rapuh dan mudah berdarah.
6. Gejala Klinis
a. Gejala muncul ketika sel serviks yang abnormal berubah menjadi
keganasan dan menyusup ke jaringan sekitarnya. Tidak ada tanda dan
gejala yang spesifik untuk kanker serviks ini.
1) Perdarahan vagina abnormal.
Dapat berkembang menjadi ulserasi pada permukaan epitel serviks,
tetapi tidak selalu ada.
2) Nyeri abdomen dan punggung bagian bawah.
Menandakan bahwa perkembangan penyakit sangat cepat.
3) Menstruasi abnormal (lebih lama dan ebih banyak)
4) Keputihan yang menetap, dengan cairan yang encer, berwarna merah
muda, coklat, mengandung darah atau hitam serta bau busuk.
b. Gejala kanker serviks stadium lanjut.
1) Nafsu makan berkurang (anoreksia), penurunan berat badan, dan
kelelahan
2) Nyeri panggul, punggung dan tungkai
3) Dari vagina keluar air kemih atau feses
7. Pemeriksaan Diagnostik
Sitologi, dengan cara tes pap
Tes Pap : Tes ini merupakan penapisan untuk mendeteksi infeksi HPV dan
prakanker serviks. Ketepatan diagnostik sitologinya 90% pada displasia
keras (karsinoma in situ) dan 76% pada dysplasia ringan / sedang.
Didapatkan hasil negatif palsu 5-50% sebagian besar disebabkan

pengambilan sediaan yang tidak adekuat. Sedangkan hasil positif palsu

sebesar 3-15%.
Pap smear
Pap smear dilakukan pada wanita usia 18 tahun atau ketika telah
melakukan aktivitas seksual sebelum itu, misalnya menikah. Setelah 3 kali
hasil pemeriksaan tahunan menunjukkan negative maka selanjutnya harus

melakukan pemeriksaan setiap tiga tahun sekali sampai umur 65 tahun.


Kolposkopi (pemeriksaan serviks dengan lensa pembesar).
Kolposkopi dilakukan ketika ditemukan displasia atau kersinoma insitu.
Alat ini memberikan gambaran tentang pembesaran serviks dan daerah
abnormal yang mungkin dapat dibiopsi.

Servikografi
Pemeriksaan visual langsung
Gineskopi
Pap net (Pemeriksaan terkomputerisasi dengan hasil lebih sensitive)
Kuretase endoserviks
Kuretase endoserviks dilakukan jika daerah abnormal tidak terlihat.
Biopsy kerucut.
Biopsy kerucut adalah mengambil tonjolan jaringan serviks yang lebih

besar untuk penelitian apakah ada atau tidak kanker invasive.


MRI/CT scan abdomen atau pelvis.
MRI/CT scan abdomen atau pelvis digunakan untuk menilai penyebaran

local dari tumor dan atau terkenanya nodus limfa regional.


Tes Schiller.
Tes Schiller dilakukan dengan cara serviks diolesi dengan larutan yodium,
sel yang sehat warnanya akan berubah menjadi coklat sedangkan sel yang

abnormal warnanya menjadi putih atau kuning.


Konisasi.
Dengan cara mengangkat jaringan yang berisi selaput lendir serviks dan
epitel gepeng dan kelenjarnya. Konisasi dilakukan bila hasil sitologi
meragukan dan pada serviks tidak tampak kelainan-kelainan yang jelas.

8. Prognosis
Karsinoma serviks yang tidak dapat diobati atau tidak memberikan respons
terhadap pengobatan 95% akan mengalami kematian dalam 2 tahun setelah timbul
gejala. Pasien yang menjalani histerektomi dan memiliki rasio tinggi terjadinya

rekurensi harus terus diawasi karena lewat deteksi dini dapat diobati dengan
radioterapi. Setelah histerektomi radikal, terjadinya 80% rekurensi dalam 2 tahun.
9. Penatalaksanaan
Tingkat

Penatalaksaan

Biopsi kerucut

Ia

Histerektomi trasnsvaginal

I b dan II a Biopsi kerucut


II b , III dan Histerektomi trasnsvaginal
IV
IV a dan IV Histerektomi radikal dengan limfadenektomi panggul dan
b

Evaluasi kelenjar limfe paraorta (bila terdapat metastasis


dilakukan radiologi pasca pembedahan)
Histerektomi transvaginal
Radioterapi
Radiasi paliatif
Kemoterapi

10. Komplikasi
a) Berkaitan dengan intervensi pembedahan
1) Vistula Uretra
2) Disfungsi bladder
3) Emboli pulmonal
4) Infeksi pelvis
5) Obstruksi usus
b) Berkaitan dengan kemoterapi
1) Sistitis radiasi Enteritis
2) Supresi sumsum tulang

10

3) Mual muntah akibat pengunaan obat kemoterapi yang mengandung


sisplatin
4) Kerusakan membrane mukosa GI
5) Mielosupresi
11. Pencegahan
Ada beberapa cara untuk mencegah kanker serviks, yaitu:
a) Mencegah terjadi infeksi HPV
b) Melakukan pemeriksaan Pap Smear secara teratur
c) Tidak boleh melakukan hubungan seksual pada anak perempuan di
bawah 18 tahun.
d) Jangan melakukan hubungan seksual dengan penderita kelamin atau
gunakan kondom untuk mencegah penularan penyakit
e) Jangan berganti-ganti pasangan seksual
f) Berhenti merokok

11

B. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN


1. Pengkajian
a. Identitas klien.
b. Keluhan utama.
Perdarahan dan keputihan
c. Riwayat penyakit sekarang
Klien datang dengan perdarahan pasca coitus dan terdapat keputihan yang berbau
tetapi tidak gatal. Perlu ditanyakan pada pasien atau keluarga tentang tindakan yang
dilakukan untuk mengurangi gejala dan hal yang dapat memperberat, misalnya
keterlambatan keluarga untuk memberi perawatan atau membawa ke Rumah Sakit
dengan segera, serta kurangnya pengetahuan keluarga.
d. Riwayat penyakit terdahulu.
Perlu ditanyakan pada pasien dan keluarga, apakah pasien pernah mengalami hal yang
demikian dan perlu ditanyakan juga apakah pasien pernah menderita penyakit infeksi.
e. Riwayat penyakit keluarga
Perlu ditanyakan apakah dalam keluarga ada yang menderita penyakit seperti ini atau
penyakit menular lain.
f. Riwayat psikososial
Dalam pemeliharaan kesehatan dikaji tentang pemeliharaan gizi di rumah dan
bagaimana pengetahuan keluarga tentang penyakit kanker serviks.
Pengkajian data dasar.
a. Aktivitas dan istirahat
Gejala:
Kelemahan atau keletihan akibat anemia
Perubahan pada pola istirahat dan kebiasaan tidur pada malam hari.
Adanya faktor-faktor yang memengaruhi tidur seperti nyeri, ansietas, dan keringat

malam.
Pekerjaan atau profesi dengan pemajanan karsinogen lingkungan dan tingkat stress
tinggi.

b. Integritas ego
Gejala:
Faktor stress, merokok, minum alcohol, menunda mencari pengobatan, keyakinan
religious atau spiritual, masalah tentang lesi cacat, pembedahan, menyangkal
diagnosis, pembedahan, menyangkal diagnosis, dan perasaan putus asa.
c. Eliminasi
Pengkajian eliminasi yang dapat dilakukan oleh perawat adalah sebagai berikut.
Pada kanker serviks: perubahan pada pola defekasi, perubahan eliminasi urinalis,
misalnya nyeri.

12

Pada kanker ovarium didapat tanda haid tidak teratur, sering berkemih, menopause

dini, dan menoragia.


d. Makanan dan minuman
Gejala:
Pada kanker serviks: kebiasaan diet buruk (misalnya: renah serat, tinggi lemak,

adiktif, bahan pengawet rasa).


Pada kanker ovarium: dyspepsia, rasa tidak nyaman pada abdomen, lingkar

abdomen yang terus meningkat (kanker ovarium).


e. Neurosensori
Gejala: merokok, pemajanan abses.
f. Nyeri atau kenyamanan
Gejala:
Adanya nyeri derajat bervariasi, misalnya ketidaknyaman ringan sampai nyeri hebat
(dihubungkan dengan proses penyakit), nyeri tekan pada payudara (pada kanker
ovarium).
g. Pernapasan
Gejala: merokok, pemajanan abses.
h. Keamanan
Gejala: pemajanan pada zat kimia toksik, karsinogen
Tanda: demam, ruam kulit, ulserasi.
i. Seksualitas
Gejala: perubahan pola respons seksual, keputihan (jumlah karakteristik, bau),
perdarahan sehabis senggama (pada kanker servix).
j. Interaksi sosial
Gejala: ketidaknyamanan atau kelemahan sistem pendukung.
k. Penyuluhan
Gejala: riwayat kanker pada keluarga, sisi primer: penyakit primer, riwayat
pengobatan sebelumnya.
2. Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan penurunan konsentrasi Hb
darah .
2. Nyeri berhubungan dengan agen cedera biologi : penekanan saraf lumbosakralis
3. Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake
nutrisi tidak adekuat: anoreksia, mual dan muntah.
4. Perubahan eliminasi urine berhubungan dengan obstruksi kandung kemih/ ureter.
5. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan secara menyeluruh akibat anemia
dan kemoterapi.
6. Ansietas berhubungan dengan krisis situasional, perubahan status kesehatan , ancaman
kematian.
7. Harga diri rendah situasional berhubungan dengan gangguan gambaran diri: kecacatan
pembedahan, efek samping kemoterapi atau radioterapi.

13

8. Kurang pengetahuan tentang penatalaksanaan pengobatan berhubungan dengan


terbatasnya informasi.
9. Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tidak adekuat pertahanan
sekunder: imunosupresi.

3. Rencana Keperawatan
Diagnosa
Keperawatan

Tujuan dan Kriteria


Hasil

1. Gangguan perfusi Setelah diberikan


jaringan perifer tindakan perawatan
perfusi jaringan
b/d
penurunan
adekuat dan tercapai
konsentrasi
Hb secara optimal.
darah

Rencana
Intervensi

sudah

pucat
Mukosa

sistemik diakibatkan

kulit

jantung

mungkin

dingin/lembab,

dibuktikan

oleh

catat

penurunan

perfusi

kekuatan

nadi perifer.

kulit dan penurunan


nadi.

Observasi

pendarahan

Sebagai

( jumlah, warna,

indikator

bibir

dan

pasien.

dan

hasil

durasi

),

keadaan

Penurunan

kemerahan
Ektremitas hangat
Hb 11-15 gr %
Tanda vital 120-

pemeriksaan

pengisian

laboratorium

biasanya

hemoglobin dan

140 / 70 - 80 mm

TVD. Tanda homan

hematokrit.

positif ( nyeri betis

Hg, Nadi : 70 - 80
X/mnt, S : 36-37

X/mnt.
Tidak ada tanda
sianosis.

Observasi
pengisian

C, RR : 18 - 24
-

Vasokonstriksi
oleh penurunan curah

belang,

berkurang
Konjunctiva tidak

basah

pucat,

sianosis,

.Perdarahan intra
servikal

Observasi
adanya

Kriteria hasil:
-

Rasional

dan

periksa

tanda

homan

selama
akut.

14

dalam pada kaki yang


dorso pleksi ) tidak
konsisten
manifestasi

Tingkatkan
tirah

ada pada

sakit dengan posisi

kapiler

kapiler

baring
fase

sebagai
klinik

yang ada atau tidak


ada
Sampai
pengobatan

diselesaikan

Kolaborasi
pemberian

pembatasan aktivitas

cairan

menurunkan
kebutuhan
dan

oksigen

nutrisi

pada

ektrimitas.

Memenuhi
kebutuhan cairan dan
menghindari
komplikasi.

2. Nyeri
berhubungan
dengan

Observasi

Setelah diberikan
tindakan keperawatan
agen diharapkan klien dapat

Nyeri merupakan

karakteristik

respon subjekstif

nyeri, mis

yang dapat diukur.

cedera biologi : mengetahui cara- cara

tajam,

penekanan

konstan ,

frekuensi jantung

rasa nyeri dapat

ditusuk.

TD menunjukan

berkurang atau

Selidiki

bahwa pasien

terkontrol, dengan

perubahan

mengalami nyeri,

Kriteria Hasil:

karakter

khususnya bila

Menyatakan nyeri

/lokasi/intensit

alasan untuk

berkurang atau

as nyeri.

perubahan tanda

saraf mengatasi nyeri dan

lumbosakralis

terkontrol

Pantau TTV

Intensitas nyeri

Berikan

Perubahan

vital telah terlihat.

Tindakan non

berkurang

tindakan

analgesik

Pasien tampak

nyaman mis,

diberikan dengan

rileks

pijatan

sentuhan lembut

punggung,

dapat

perubahan

menghilangkan

posisi, musik

ketidaknyamanan

tenang,

dan memperbesar

relaksasi/latiha

efek terapi

15

n nafas
Kolaborasi

analgesik.

Obat ini dapat

dalam

digunakan untuk

pemberian

mengurangi

analgesik

periode nyeri dan

sesuai indikasi

meningkatkan
kenyamanan.

3.

Ketidakseimbang
an

Catat status

Setelah diberikan

nutrisi: tindakan keperawatan

kurang

dari diharapkan kebutuhan

Berguna dalam

nutrisi paasien:

mendefinisikan

turgor kulit,

derajat masalah

kebutuhan

nutrisi adekuat,

timbang berat

dan intervensi

berhubungan

dengan kriteria hasil:

badan,

yang tepat

dengan
yang

intake

- Menunjukkan

tidak

berat badan

mukosa mulut,

intervensi

meningkat

kemampuan

kebutuhan yang

mencapai tujuan

menelan,

spesifik,

dengan nilai

adanya bising

meningkatkan

laboratoriurn

usus, riwayat

intake diet pasien.

normal dan bebas

mual/rnuntah

tanda malnutrisi.

atau diare.

adekuat:
anoreksia,
dan muntah

mual

integritas

- Melakukan

Kaji ulang

Membantu

Mengukur
keefektifan nutrisi
dan cairan.

perubahan pola

pola diet pasien

hidup untuk

yang

jenis diet dan

meningkatkan dan

disukai/tidak

mengidentifikasi

mempertahankan

disukai.

pemecahan

berat badan yang


tepat.

Monitor intake

masalah untuk

dan output

meningkatkan

secara

intake nutrisi.

periodik.
Catat adanya

16

Dapat menentukan

Membantu
menghemat energi

anoreksia,

khusus saat

mual, muntah,

demam terjadi

dan tetapkan

peningkatan

jika ada

metabolik.

hubungannya
dengan

tidak enak dari

medikasi.

sputum atau obat-

Awasi

obat yang

frekuensi,

digunakan yang

volume,

dapat merangsang

konsistensi

muntah.

Buang Air
Besar (BAB).
Anjurkan
bedrest.
Lakukan

Memaksimalkan
intake nutrisi dan
menurunkan iritasi
gaster.
Memberikan

perawatan

bantuan dalarn

mulut sebelum

perencaaan diet

dan sesudah

dengan nutrisi

tindakan

adekuat unruk

pernapasan.

kebutuhan

Anjurkan
makan sedikit
dan sering

metabolik dan
diet.
Nilai rendah

dengan

menunjukkan

makanan tinggi

malnutrisi dan

protein dan

perubahan

karbohidrat.

program terapi.

Kolaborasi:
Rujuk ke ahli
gizi untuk
menentukan
komposisi diet.
Awasi
pemeriksaan

17

Mengurangi rasa

laboratorium.
(BUN, protein
serum, dan
albumin).

4.

Perubahan
eliminasi
berhubungan

: Setelah

diberikan

urine asuhan

keperawatan

diharapkan

haluarin

eliminasi

Observasi
urine

dan

Retensi
terjadi

sistem/

dapat
karena

obstruksi

pada

dengan obstruksi pasien efektif dengan

drainase,

kandung kemih dan

kandung

khususnya

ureter.

kemih/ kriteria hasil:

ureter
- Berkemih

dengan

jumlah

normal

tanpa retensi

irigasi

selama

kandung kemih

untuk

berkemih

yang

meningkat kontrol

contoh: berdiri,

kandung

berjalan

kemih/

dan
rasa

normalitas.
Mempertahank
an patensi kateter/
aliran urine.

ke

kamar

urinaria

urine

meningkatkan

memilih posisi

- Menunjukkan
perilaku

pasase

Bantu
pasien

Mendorong

mandi,

dengan
frekuensi sering
setelah

kateter

dilepas.

Kolaborasi
:

Pertahankan

irigasi kandung
kemih

kontinu

sesuai indikasi .

5.

Intoleransi
aktivitas

Evaluasi

Setelah diberikan
b/d tindakan keperawatan

Menetapkan

respon pasien

kemampuan atau

kelemahan secara pasien diharapkan

terhadap

kebutuhan pasien

menyeluruh

aktivitas. Catat

memudahkan

mampu melakukan

18

akibat anemia dan aktivitas dalam batas

laporan

pemilihan

kemoterapi

yang ditoleransi

dispnea,

intervensi.

dengan kriteria hasil:

peningkatan

- Melaporkan atau
menunjukan

kelemahan atau

stress dan

kelelahan.

rangsanagn

Berikan

peningkatan

Menurunkan

berlebihan,

toleransi terhadap

lingkungan

meningkatkan

aktivitas yang

tenang dan

istirahat.

dapat diukur

batasi

dengan adanya

pengunjung

dipertahankan

dispnea,

selama fase

selama fase akut

kelemahan

akut sesuai

untuk menurunkan

berlebihan, dan

indikasi.

kebutuhan

Jelaskan

metabolic,

tanda vital dalam


rentan normal.

pentingnya

menghemat

istirahat dalam

energy untuk

rencana

penyembuhan.

pengobatandan

Pasien mungkin

perlunya

nyaman dengan

keseimbangan

kepala tinggi,

aktivitas dan

tidur di kursi atau

istirahat.

menunduk ke

Bantu pasien

depan meja atau

memilih posisi
nyaman untuk
istirahat.

Bantu
perawatan
yang
diperlukan.
Berikan
kemajuan

bantal.

Meminimalkan
kelelahan dan
membantu

aktivitas

19

Tirah baring

keseimbanagnsupl
diri

ai dan kebutuhan
oksigen.

peningkatan
aktivitas selama
fase
penyembuhan.

6. Ansietas

Setelah diberikan
tindakan keperawatan
berhubungan
diharapkan cemas
dengan ancaman
klien berkurang
kematian.
dengan kriteria hasil:
-

Klien tampak

rileks
Melaporkan

Observasi

tingkah

laku

Ansietas ringan
dapat ditunjukkan

yang

dengan peka

menunjukkan

rangsang dan

tingkat

insomnia. Ansietas

ansietas
Pantau respon

berat yang
berkembang ke

ansietas

fisik,

dalam keadaan

berkuarang

palpitasi,

panik dapat

sampai tingkat

gerakan yang

menimbulkan

dapat diatasi
Mampu

berulang,

perasaan

hiperventilasi,

terancam, teror,

mengidentifika
sikan

cara

hidup

yang

sehat

untuk

insomnia.
Diskusikan

keatidakmampuan
untuk bicara dan

dengan pasien
atau

membagikan

terdekat

perasaannya.

penyebab
emosional
yang
reaksi
psikotik.
Tekankan

bergerak,berteriak/

orang

labil/

bersumpah.

Peningkatan
pengeluaran
penyekat betaadregenik pada
daerah reseptor,
bersamaan dengan

harapan

efek-efek

bahwa

kelebihan hormon
tiroid,

20

pengendalian

menimbulkan

emosi

manifestasi klinik

harus

tetap

dari peristiwa

diberikan

kelebihan

sesuai dengan

katekolamin

perkembanga

ketika kadar

n terapi obat.
Kolaborasi:
Berikan obat

epinefrin dalam
keadaan normal.

antiansietas

tingkah laku

( transquilizier

didasarkan pada

, sedatif ) dan

fisiologis dapat

pantau

memungkinkan

efeknya.
Kolaborasi:
Rujuk

respon
/pendekatan

pada

berbeda,

sistem

penerimaan

penyokong
sesuai dengan
kebutuhan

terhadap situasi.

Memberikan
informasi dan

seperti

meyakinkan

konseling,
ahli

Memahami bahwa

pasien bahwa

agama,

keadaan itu adalah

dan pelayanan

sementara dan

sosial.

membaik dengan
pengobatan.

Dapat digunakan
bersamaan dengan
pengobatan untuk
menurunkan
pengaruh dari
sekresi hormon
tiroid yang

21

berlebihan.

Terapi penyokong
yang terus
menerus mungkin
dimanfaatkan/
dibutuhkan pasien
ayau orang
terdekat jika krisis
itu menimbulkan
perubahan gaya
hidup pada pasien
itu sendiri.

7.

Harga diri rendah Setelah


situasional

b/d asuhan

gangguan
gambaran

diberikan

keperawatan

diharapkan

dengan

terjadi

orang

diri: peningkatan harga diri

kecacatan

kemoterapi
radioterapi

dan

mengungkapka
n pemahaman
tentang

dalam

situasi

memulai

proses

Dapat

mempengaruhi

menurunkan masalah

pribadi

yang mempengaruhi

klien
aktivitas

penerimaan
pengobatan

Dorong

atau

merangsang

diskusi

kemajuan penyakit

pecahkan

Memvalidasi

masalah tentang

realita perasaan klien

efek

dan

kanker/

memberi

izin

pengobatan

untuk

pada

peran

apapun perlu untuk

ibu

mengatasi apa yang

sebagai
rumah

22

untuk

membantu

penerimaan

masalah

pemecahan masalah

kerja.

tubuh,

memastikan

yang

dan

perubahan

diri

dan

pengobatan

Klien

Membantu
dalam

terdekat

diagnosis

pembedahan, efek
samping

klien/

bagaimana

dengan KH:
-

Diskusikan

tangga,

terjadi

tindakan

orang tua dan


sebagainya

Meskipun
beberapa

Berikan

pasien

beradaptasi

dengan

informasi

efek kanker atau efek

bahwa

samping

konseling

banyak memerlukan

sering pelu dan

dukungan tambahan

penting

selama periode ini.

dalam

terapi

proses adaptasi

Berikan
dukungan
emosi

untuk

pasien/

orang

terdekat selama
tes

diagnostik

dan

pengobatan

Identifikasi

8. Kurang

Setelah diberikan
tindakan keperawatan
pengetahuan
diharapkan klien
mengenai
mendapat informasi
penatalaksanaan
tentang penyakit
terapi
dan kanker yang diderita
perawatan
misinterpretasi
informasi.

b/d
Kriteria hasil :
-

Klien mengetahui
diagnose

tindakan
harus
-

kanker

yang diderita
Klien mengetahui
tindakan

fase

-
yang
dilalui

Cemas

dan ketahui

berkelanjutan dapat

persepsi pasien

terjadi

dalam

thd

berbagai

derajat

ancaman/situasi

selama

. Dorong

waktu

mengekspresika

dimanifestasikan

n dan jangan

oleh gejala depresi.

menolak

beberapa
dan

Pasien

dan

perasaan marah,

keluarga

takut dll.

dipengaruhi denagn

Memperta

dapat

sikap tenang dari

hankan

petugas

serta

kepercayaan

penjelasan

yang

pasien (tanpa

jujur

dapat

klien.
Klien

tahu

keyakinan yang

mengurangi

tindakan

yang

salah).

kecemasan.

23

dapat

harus

dilakukan

Terima

Menyangkal

di rumah untuk

tetapi jangan

unutk beberapa saat

mencegah

beri penguatan

dapat

komplikasi.
Sumber-sumber

terhadap

menguntungkan

penolakan.

karena

koping

teridentifikasi

an

kecemasan

klien/keluarga

dapat

thd prosedur

rasa penerimaan thd

rutin dan

kenyataan situasi.

aktifitas.

tetapi

menurunkan

Perkiraan dan

Tingkatkan

informasi

partisipasi bila

menurunkan

mungkin.

kecemasan pasien.

Jawab

dapat

Informasi yang

pertanyaan

tepat tentang situasi

dengan nyata

menurunkan

dan jujur.

kecemasan,

Berikan

membantu

informasi

pasien/keluarga

konsisten,

menerima

ulangi bila

secara nyata.

perlu.

menghilangkan

Orientasik

Dorong

situasi

Peningkatan
kemandirian

dari

kemandirian,

pasien dan keluarga

perawatan diri,

meningkatkan rasa

libatkan

percaya

keluarga secara

kemampuan

aktif dalam

melakukan

perawatan.

perawatan

diri

dan
untuk
diri

secara aktif.
9.

Risiko
terhadap

tinggi Setelah

diberikan

infeksi asuhan

keperawatan,

24

Catat
faktor

risiko

Kesadaran
akan

faktor

risiko

berhubungan

tidak

terjadi

risiko

dengan

infeksi dengan kriteria

imunosupresi

hasil:

memberikan

infeksi

kesempatan

terdapat

tanda-

tanda

infeksi

kalor,

dolor,

rubor,

tumor,

fungsiolesa)
100/60

untuk

membatasi efeknya.

risiko

Faktor

ini

infeksi

paling

nosokomoal

tetapi paling penting

sederhana

melalui

cuci

untk

tangan

yang

infeksi

tepat

pada

sakit.

semua perawat,

mencegah
di

rumah

Memperbaiki

TD:

pertahankan

kesehatan umum dan

mmHg,

teknik aseptik.

regangan

N=80-100x/mnt,
RR=20

Turunkan
faktor

Tidak

terjadinya

x/mnt,

S=36-37,5C)

Dorong

dapat

otot

merangsang

perawatan diri/

perbaikan

aktivitas sampai

imun.

batas toleransi.
Bantu

dengan

dan

sistem

Satu atau lebih


agen dapat digunkan

program latihan

tergantung

pada

bertahap.

identifikasi

patogen

Kolaborasi
:

bila infeksi terjadi.

berikan

antimikrobial
sesuai indikasi
4.

Implementasi
Sesuaikan dengan intervensi

5.

Evaluasi
Dx 1:
- Perdarahan intra servikal sudah berkurang
- Konjunctiva tidak pucat
- Mukosa bibir basah dan kemerahan
- Ektremitas hangat
- Hb 11-15 gr %
- Tanda vital 120-140 / 70 - 80 mm Hg, Nadi : 70 - 80 X/mnt, S : 36-37 C, RR : 18 - 24
X/mnt.
25

Tidak ada tanda sianosis.

Dx 2:

Menyatakan nyeri berkurang atau terkontrol

Intensitas nyeri berkurang

Pasien tampak rileks

Dx 3:
- Menunjukkan berat badan meningkat mencapai tujuan dengan nilai laboratoriurn normal
dan bebas tanda malnutrisi.
- Melakukan perubahan pola hidup untuk meningkatkan dan mempertahankan berat badan
yang tepat.
Dx 4:
- Berkemih dengan jumlah normal tanpa retensi
- Menunjukkan perilaku yang meningkat kontrol kandung kemih/ urinaria

Dx 5:
- Melaporkan atau menunjukan peningkatan toleransi terhadap aktivitas yang dapat diukur
dengan adanya dispnea, kelemahan berlebihan, dan tanda vital dalam rentan normal.
Dx 6:
-

Klien tampak rileks


Melaporkan ansietas berkuarang sampai tingkat dapat diatasi
Mampu mengidentifikasikan cara hidup yang sehat untuk membagikan perasaannya.

Dx 7:
- Klien mengungkapkan pemahaman tentang perubahan tubuh, penerimaan diri dalam
situasi
Dx 8:

26

Klien mengetahui diagnose kanker yang diderita


Klien mengetahui tindakan - tindakan yang harus dilalui klien.
Klien tahu tindakan yang harus dilakukan di rumah untuk mencegah komplikasi.
Sumber-sumber koping teridentifikasi

Dx. 9:
-

Tidak terdapat tanda-tanda infeksi ( kalor, dolor, rubor, tumor, fungsiolesa).

TD: 100/60 mmHg, N=80-100x/mnt, RR=20 x/mnt, S=36-37,5C)

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kanker serviks adalah penyakit akibat tumor ganas pada daerah mulut rahim
sebagai akibat dari adanya pertumbuhan jaringan yang tidak terkontrol dan

merusak jaringan normal disekitarnya.


Penyebab kanker serviks belum jelas diketahui namun ada beberapa faktor

resiko dan predisposisi yang menonjol


Ada beberapa cara untuk mencegah kanker serviks, yaitu: mencegah terjadi
infeksi HPV,melakukan pemeriksaan Pap Smear secara teratur,tidak boleh
melakukan hubungan seksual pada anak perempuan di bawah 18 tahun,jangan
melakukan hubungan seksual dengan penderita kelamin atau gunakan kondom
untuk mencegah penularan penyakit, jangan berganti-ganti pasangan seksual,
berhenti merokok

B. Saran

27

Kita sebagai mahasiswa keperawatan hendaknya memahami tentang


konsep dasar penyakit kanker cervix yang bertujuan mengetahui pencegahan
dan penatalaksanaan agar nantinya kita mampu menerapkan konsep asuhan
keperawatan Kanker Servix untuk menurunkan angka kematiannya.

DAFTAR PUSTAKA

28