Anda di halaman 1dari 16

Kegiatan Car Free Day Dan Upaya Pengurangan Pencemaran Udara:

(Studi Kasus di Jalan M.H Thamrin)

Nurul Hidayat (Pendidikan Sosiologi 2008 Non Reguler, 4815087295)


Website: www.socioeducation.co.cc

Abstrak
Car Free Day merupakan budaya baru bagi masyarakat Kota Jakarta sebagai ajang
bersosialisasi dengan teman maupun keluarga dan juga sebagai sarana kesehatan jasmani yang
bebas dari polusi. Kegiatan Car Free Day ini berupaya mengurangi pencemaran udara yang
telah tercemari oleh asap kendaraan bermotor. Dalam tulisan ini, akan mengungkap lahirnya
Car Free Day di Kota Jakarta, mengulas upaya institusi lokal mencetuskan program Car Free
Day dan menemukan aktivitas-aktivitasnya, demikian pula dengan dampak sosial maupun
lingkungan sosialnya setelah berjalannya Car Free Day. Terukur setelah kegiatan Car Free Day
bahwa gas polutan turun secara signifikan CO berkurang 67%, NO berkurang 80% dan debu
berkurang 34%. Kegiatan Car Free Day selain berdampak positif bagi lingkungan ternyata
mempunyai tujuan khusus untuk “Memasyarakatkan Olahraga”.

Pengantar
Hiruk-pikuknya lalu lintas Kota Jakarta dan buruknya kualitas udara menjadikan alasan Badan
Pengelola Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) DKI Jakarta mengadakan program Car Free
Day, dalam program ini seluruh kendaraan bermotor mulai dari Patung Pemuda Jalan Sudirman
sampai Patung Arjuna Jalan M.H Thamrin, sejak pukul 06.00 WIB sampai pukul 10.00 WIB
tidak diperkenankan melewati jalan tersebut. BPLHD DKI Jakarta bekerja sama dengan Polda
Metro Jaya dan Dinas Perhubungan DKI Jakarta, dikerahkan di bagian titik-titik tertentu guna
mengamankan jalannya Car Free Day. Kendaraan yang diperbolehkan untuk melewati kawasan
Car Free Day adalah angkutan umum rute tetap, seperti Bus Transjakarta dan angkutan umum
rute lainnya yang biasa melalui jalur lambat, serta kendaraan yang non-polusi seperti sepeda
dan motor listrik. Untuk kendaraan pribadi diharapkan mencari rute jalan alternatif lainnya
untuk menghindari kawasan Car Free Day.1

Peliknya masalah lalu lintas terkait akan pemekaran Ibukota Jakarta, beberapa perumahan-
perumahan dibangun, tumbuh pesatnya gedung-gedung, dan meningkatnya modernisasi
masyarakat akan penggunaan kendaran bermotor. Juni 2009 terdaftar 9.993.867 kendaraan
yang melintas di jalanan. Hal ini yang diungkapkan oleh Bintarto tentang timbulnya
permasalahan baru di perkotaan:
Masalah-masalah yang ditimbulkan sebagai akibat pemekaran kota adalah masalah
perumahan, masalah sampah, masalah di bidang kelalulintasan, masalah
kekurangan gedung sekolah, masalah terdesaknya dari persawahan di perbatasan
luar kota dan masalah administratif pemerintahan. Kemudian timbul dari keadaan
darurat tersebut diatas pelbagai bentuk kriminalitas dan polusi yang sangat
menganggu ketenangan kota. Dengan demikian nampak bahwa gejala-gejala fisik,
sosial, ekonomi yang negatif ini ditimbulkan karena makin berkurangnya daya
tampung kota dan kurangnya kesadaran terhadap etik lingkungan.2

Dengan meningkatnya pengguna kendaraan bermotor pemerintah kota mesti peka terhadap
masalah-masalah yang timbul di Kota Jakarta. Apalagi sebagian masyarakat Kota Jakarta
belum tumbuh kepedulian akan lingkungannya. Alhasil, Kota Jakarta yang minim akan paru-
paru kota, kini harus menghadapi polusi udara. Masyarakat kota pada umumnya masih
disibukkan oleh urusan pekerjaannya yang lupa akan permasalahan yang timbul di Ibukota.
1
Muhammad Fauzi, “Car Free Day di Sudirman-Thamrin”,
http://www.mediaindonesia.com/read/2009/05/05/77139/38/5/Car-Free-Day-di-Sudirman-Thamrin (Di
akses pada Senin 05 Oktober 2009 pukul 20.33 WIB)
2
R. Bintarto, Interaksi Desa-Kota dan Permasalahannya, (Bandung: Penerbit Alumni, 1997). hlm. 47-48

-1-
Pakar pembangunan perkotaan Ir. Herlianto, M.TH (1968) menjelaskan akan pergeseran sifat-
sifat kota “Dimana makin besar suatu kota maka makin tidak manusiawi sifatnya”3. Kota
agraris yang disebut sebagai Agropolis dimana masih terjadi suasana paguyuban masyarakat
desa kemudian berkembang menjadi kota kecil Polis yang masih mempunyai sifat-sifat
paguyuban pula dan masyarakatnya saling kenal dan masih bersifat homogenitas. Bila semakin
besar maka akan menjadi Metropolis maka makin banyak orang dari desa memasukinya dan
terjadilah masyarakat yang bersifat heterogenitas dengan kehidupan pluralis dimana sifat-sifat
warganya makin saling berbeda dan siap untuk bersaing dan bergesekan. Kota tersebut berubah
menjadi Megapolis dimana kota penuh dengan segala bentuk anarkis dan persaingan nyata.
Disisi lain dari pergeseran sifat perkotaan ada aktivis-aktivis lingkungan yang
mengkampanyekan peduli lingkungan guna meredam permasalahan yang terjadi dalam kota ini.
Maka muncullah budaya baru di tanah metropolitan ini yaitu, Car Free Day.

Tulisan ini mengkaji tentang Car Free Day (setelah ini disingkat menjadi:CFD) di Jalan M.H
Thamrin yang merupakan ajang bersosialisasi bagi masyarakat Kota Jakarta serta berfungsi
sebagai sarana olahraga. CFD di jalan M.H Thamrin oleh penulis dijadikan sebagai place of
research agar dapat memudahkan penulis untuk memfokuskan suatu objek permasalahan.
Fokus kajian penulisan ini, berupaya mengulas CFD sebagai program Institusi Lokal yang
mempengaruhi kebijakan publik dalam upaya pengurangan pencemaran polusi udara.
Rumusan masalah yang akan diambil ialah: ”Bagaimanakah upaya institusi lokal untuk
pengurangan pencemaran polusi udara? Bagaimanakah dampak sosial maupun lingkungan
sosialnya setelah berlangsungnya Car Free Day? Adakah perubahan kualitas udara setelah
terlaksananya Car Free Day?”

Sistematika Tulisan
Untuk menunjang permasalahan tersebut penulis melalui Interpretative Research dan ditunjang
dari berbagai sumber berupa Teks (Buku, media masa, internet dll), survey langsung lapangan,
dan wawancara kepada pihak-pihak terkait didalam CFD, akan mengungkap tulisan ini dengan
relevan dan objektif. Serta untuk mengkaji lebih dalam tentang tulisan ini, penulis akan
melengkapinya dengan beberapan informasi-informasi pendukung. Pertama, Berkenalan
dengan Car Free Day, suatu pengantar yang secara singkat menginformasikan CFD yang ada di
jalan M.H Thamrin. Kedua, Lahirnya Car Free Day Hingga Hari Bebas Kendaraan Bermotor,
yang menjelaskan tentang sejarah munculnya CFD di DKI Jakarta dan sejarah internasionalnya.
Ketiga, Potret Arena Jalan M.H Thamrin, mendeskripsikan lokasi jalan M.H Thamrin yang
dijadikan kawasan CFD. Keempat, Indeks Perbandingan Laju Kendaraan Bermotor Dengan
Program Pengurangan Pencemaran Udara. Kelima, Munculnya Deteriorate Lingkungan
Masyarakat Kota Jakarta. Keenam, Institusi Lokal Menjelma Menjadi Pemerhati Lingkungan.
Ketujuh, Benang merah public policy making, antara Institusi lokal dengan Institusi Pemerintah.
Kedelapan, Dampak Lingkungan Sosial dan Aktivitas Sosial Car Free Day Jalan. M.H
Thamrin,. Kesembilan, Penutup, menarik kesimpulan dari pembahasan yang telah dijelaskan.

Lahirnya Car Free Day Hingga Hari Bebas Kendaraan Bermotor


Surabaya adalah Kota pertama kali di Indonesia yang menyelenggarakan Car Free Day pada
tahun 2000. kegiatan tersebut merupakan bagian dari kampanye peningkatan kualitas udara
kota yang bertema “Segar Suroboyoku Rek”.4 Sedangkan sejak 2002, Jakarta
menyelenggarakan CFD pada tahun 2002, 2003, 2004, 2005 dan 2006. Kegiatan tersebut
pertama kali dilaksanakan oleh koalisi LSM Lingkungan sebagai wadah penampung aspirasi

3
Herlianto, Ir, M.Th. Urbanisasi, Pembangunan, dan Kerusuhan Kota, (Bandung: Penerbit Alumni,
1997) hlm. 215
4
campaign.pelangi.or.id, “Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) 2007”,
http://campaign.pelangi.or.id/?show=pages&pages_id=240&cid=5&detail=1 (Diakses pada Senin 05
Oktober 2009 pukul 21.50 WIB)

-2-
masyarakat dalam pembuatan kebijakan publik. Menurut teori Berger dan Neuhaus (1977)
LSM Lingkungan tersebut dijadikan sebagai Institusi Mediasi yang berfungsi menyalurkan
kepentingan warga dan media resolusi terhadap kualitas udara dengan tujuan utama kampanye
mengurangi penggunaan kendaraan pribadi sebagai sumber utama pencemaran udara di Jakarta.
Dalam setiap CFD selalu diadakan promosi penggunaan alat transportasi alternatif untuk
mengurangi penggunaan kendaraan pribadi seperti angkutan umum, sepeda, dan fasilitas
pejalan kaki.
Kegiatan utama CFD adalah penutupan jalan selama beberapa waktu dari arus lalu lintas
kendaraan. Namun demikian, kendaraan angkutan umum masih bisa melintasi jalan tersebut.
Untuk memanfaatkan ruang jalan yang ditutup maka dilakukan berbagai kegiatan seperti
petunjukan kesenian, hiburan, permainan anak-anak, olahraga, lomba-lomba, parade sepeda dan
kegiatan festival jalanan lainnya. Kegiatan ini ditujukan untuk memberikan suasana yang
berbeda pada kota tersebut.

Melihat kegiatan CFD yang banyak diminati oleh masyarakat kota Jakarta, CFD juga
memberikan manfaat yang banyak dan berdampak pula pada kualitas udara yang kotor oleh
transportasi darat. Sejak tahun 2005, melalui Perda No.2 tahun 2005 tentang Pengendalian
Pencemaran Udara, Pemprov DKI Jakarta mempunyai kewajiban untuk melaksanakan Hari
Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB), sebulan sekali di kawasan-kawasan tertentu di 5 wilayah
DKI Jakarta. Untuk melaksanakannya, Pemprov DKI Jakarta telah mengeluarkan Intruksi
Gubernur No. 3 Tahun 2007 tentang pelaksanaan HBKB. 5 Suksesnya HBKB memicu Gubernur
DKI Jakarta menjadi semakin gencar mengadakannya, sejak pertengahan tahun 2009 HBKB
sudah bisa diberlakukan setiap seminggu sekali, dengan demikian Ibukota Jakarta mendapat
apresiasi dari dunia. Sehingga sekarang ini HBKB sudah meluas sampai jalan Pemuda Jakarta
Timur.

Sejarah Car Free Day International


Telah dimulai sejak jaman krisis minyak di tahun 70an di Amerika dan dilaksanakan di
beberapa kota eropa pada awal 90an. Acara Car Free Day International mulai diselenggarakan
di kota-kota Eropa pada tahun 1999 yang merupakan proyek percontohan kampanye Uni Eropa
”Kota tanpa Mobil” (”In Town Without My Car”) kampanye ini terus berlanjut hingga kini
dalam ventuk Minggu Mobilitas Eropa (European Mobility Week). CFD telah dilaksanakan di
lebih dari 1500 kota di 40 negara melalui penutupan sebuah penggal jalan untuk kemudian
mengisinya dengan berbagai kegiatan seperti festival jalanan, bazar, parade sepeda, dan
kegiatan lainnya. Penutupan jalan akan memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk
kembali berjalan kaki di jalan-jalan yang biasanya dijejali oleh kendaraan pribadi. Untuk
mengetahui hasil yang lebih nyata, kegiatan ini perlu di lengkapi dengan pengukuran kualitas
udara dan kualitas suara serta lalu lintas kendaraan selama dan sesudah pelaksanaan CFD. Hasil
pengukuran akan menjadikan advokasi kebijakan dan kampanye pentingnya mengurangi
penggunaan kendaraan pribadi.6

Potret Arena Jalan M.H Thamrin


Jalan M.H Thamrin salah satu yang terpilih sebagai kawasan CFD, jalan ini merupakan
superblok dari Jakarta Pusat dengan gedung-gedung pencakar langit yang mewah, hotel
mewah, supermarket yang mahal, kantor-kantor pemerintah, bank-bank ternama dan lain
sebagainya. Dari mulai Bunderan Hotel Indonesia (Bunderan HI) sampai Patung Arjuna
terdapat bangunan-bangunan perkantoran, pada jalan ini sangat jarang sekali ditemuinya
perumahan-perumahan penduduk. Plaza Indonesia, Grand Indonesia dan Sarinah The
Departement Store banyak di kunjungi oleh masyarkat lokal maupun interlokal. Belum lagi
hotel-hotel mewah seperti Hotel Grand Hyatt Indonesia, Hotel Nikko Jakarta dan Hotel Sari

5
Ibid.,
6
Ibid.,

-3-
Pan Pasifik yang dijadikan sebagai tempat Meeting oleh para pengusaha. Jadi pantaslah jika
jalan M.H Thamrin ketika hari-hari kerja benar-benar dipadati oleh kendaraan-kendaraan
bermotor.
Dalam pemilihan tempat untuk berlangsungnya CFD memang tidak terdapat suatu kriteria
khusus untuk dijadikan sebagai kawasan CFD, hanya saja, dari beberapa wilayah di DKI
Jakarta dapat mewakili untuk keberlangsungan CFD, seperti di wilayah Jakarta Timur CFD
dilaksanakan di Jalan Pramuka, atau pernah juga dilaksanakan di jalan Pemuda.
Dari peninjauan langsung terdapat kriteria yang dapat di ambil dari terpilihnya jalan M.H
Thamrin sebagai arena CFD, dengan menggunakan istilah A.B.C dapat ditemukan alasan
mengapa CFD berlangsung di jalan tersebut:

Access, jalan Thamrin dapat di tempuh dari beberapa wilayah yang ada di DKI Jakarta,
sehubung dengan peraturan dari Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup DKI Jakarta bahwa
kendaraan umum rute tetap sajalah ’Sebut saja Transjakarta’ yang dapat melintasi kawasan
CFD, maka untuk mengakses jalan M.H Thamrin dapat menggunakan transportasi berbahan
bakar gas ini, halte Tosari, halte Bunderan HI, dan halte Monumen Nasional oleh warga dapat
dijadikan sebagai Start Line untuk memulai aktivitas berolahraga. Masyarakat dari koridor 6
(Ragunan-Kuningan), koridor 7 (Kp. Rambutan-Kp. Melayu), dan koridor 4 (Pl. Gadung-
Dukuh Atas) akan transit di halte Dukuh Atas 2 dan naik di halte Dukuh Atas 1. Sedangkan
masyarakat dari koridor 2 (Pl. Gadung-Harmoni), koridor 5 (Ancol-Kp. Melayu), dan koridor 3
(Kalideres-Harmoni Central Busway) turun di halte Harmoni Central Busway dan naik ke arah
Monas. Untuk koridor satu hanya cukup turun di halte sepanjang saparator busway. Dari halte-
halte di sepanjang kawasan CFD ini setiap paginya dipenuhi dengan warga yang berpakaian
olahraga, biasanya warga yang memilih memakai Transjakarta ini enggan untuk membawa
kendaraan pribadinya. Bagi yang menggunakan kendaraan pribadi dapat menggunakan lahan
parkir di samping jalan Hotel Grand Indonesia.

Boulevard, kriteria jalan ini haruslah dapat menampung sekian banyak masyarakat yang dapat
memudahkan ruang gerak sosialisasi dan aktivitas jasmani. Jalan Thamrin memiliki ruas jalan
yang lebar 8 meter ditambah 2 meter untuk saparator busway dan merupakan jalan yang paling
ramai digunakan setiap harinya karena menuju ke tempat-tempat penting di Jakarta. Bentuk-
bentuk kegiatan yang terdapat pada CFD seperti futsal; jalan ini sangatlah tepat untuk dijadikan
lapangan futsal. Ada beberapa titik tertentu dari jalan ini terdapat aktivitas aerobik; aerobik
yang diselenggarakan memotong setengah jalan M.H Thamrin dan setengahnya lagi
diperuntukan untuk lewat sepeda atau pejalan kaki. Beberapa event massal yang pernah
dilakukan diantaranya seperti Peringatan Hari Osteoporosis Nasional 2009 di Jalan Thamrin ini
dijadikan arena untuk yang bertema ”Berdiri Tegak, Bicara Lantang, Kalahkan Osteoporosis” 7
dengan berjalan kaki bersama menempuh jarak 9 kilometer dari Bunderan HI menuju bunderan
Patung Arjuna. Jalan yang begitu luas pun dapat terpenuhi oleh ribuan orang pengunjung.

7
Warta Kota, Info Kesehatan, Minggu 25 Oktober 2009. ”Peringatan Hari Osteoporosis”, Warta Kota,
hlm. 4 kolom I

-4-
Foto 1
Peringatan Osteoporosis Nasional 2009

Sumber: Doc.pribadi (28 Oktober 2009)

Centrally, ditengah-tengah–dipusat. Di suatu perkotaan kontruksi emik terdapat pada kawasan-


kawasan tertentu seperti di jalan M.H Thamrin ini berdiri gedung-gedung tinggi pencakar
langit, dan terdapat bangunan-bangunan yang sebagai simbol Kota Jakarta, yaitu Bunderan
Hotel Indonesia atau Patung Selamat Datang. Ini artinya menanandakan letak geografis dari
kawasan jalan M.H Thamrin, dapat dikatakan pula sebagai Sinjuku8-nya Jakarta, dan
merupakan superblok – supermarket-nya Jakarta. Disamping kana-kiri jalan Thamrin ini yang
terlihat suatu kemegahan kota metropolitan sehingga muncul aura kagum untuk melihatnya.
Pengunjung tidak mau ketinggalan kebanyakan mereka mengambil Landmark di air mancur
Bunderan HI, dikarenakan bangunan ini sebagai suatu bukti kalau poto tersebut berada di
Jakarta. Di ujung arena terdapat tugu yang di kenal oleh seluruh dunia yaitu Monumen
Nasional, tempat ini dijadikan sebagai pelabuhan para pengunjung ketika menempuh lelah
berolahraga.
Foto 2
Gedung-gedung jalan M.H Thamrin

Sumber: Doc.pribadi (18 Oktober 2009)

Berikut ini adalah peta Jalan M.H Thamrin:

8
Sinjuku adalah kawasan bisnis yang terkenal di Kota Tokyo dimana terdapat jaringan transportasi kota.

-5-
Peta 1
Arena Thamrin

Sumber: Doc.pribadi (2009)

Indeks Perbandingan Laju Kendaraan Bermotor Dengan Program Pengurangan


Pencemaran Udara
Ada beberapa upaya pemerintah menerapkan program-program guna mengurangi pencemaran
polusi udara, namun dalam program yang sudah ditetapkan belum bisa memberikan suatu
perubahan yang begitu besar. Meski banyak lahan-lahan yang diambil untuk dijadikan Ruang
Terbuka Hijau (RTH) juga untuk dijadikan taman dan Jalur Hijau, hal tersebut belum bisa
membuat udara Jakarta bersih dari polusi. Pada dasarnya upaya pemerintah ini tidak didukung
dari masyarakatnya yang terlalu konsumtif berkendara, hingga hal yang kecil pun harus
menggunakan kendaraan. Disisi lain juga sebaiknya pemerintah harus tegas dalam menerapkan
peraturan. Seperti pada program pengurangan kemacetan pemeritah DKI Jakarta menerapkan 3
in 1, akan tetapi hal ini dijadikan sebagai sarana mencari keuntungan bagi para joki three in one.
Dalam pengurangan pencemaran polusi udara pemerintah juga menerapkan program Uji Emisi
kendaraan bermotor yang tujuannya untuk mengurangi karbon monoksida, hidrokarbon, dan
oksida nitrogen. Program yang dikelola oleh Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup ini masih
berjalan cacat karena tidak didukung dengan peralatan teknis yang memadai, bengkel
pelaksanaan uji emisi kendaraan belum tersebar di beberapa wilayah di Jakarta, hal ini tidak
sebanding dengan jumlah kendaraan yang ada di Jakarta. Padahal dalam Perda No. 95/2000
tentang Pemeriksaan Emisi dan Perawatan Mobil Penumpang dan Pribadi di DKI Jakarta. Selain
itu juga tertera pada PP No. 41/1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara, 9 sudah jelas
bahwa setiap kendaraan harus mengalami uji emisi, dilain hal tingkat kesadaran masyarakat
kota Jakarta akan lingkungan hidup belum terwujudkan sehingga dalam program ini, belum bisa
mengurangi pencemaran udara.

Apalagi dilihat dari meningkatnya pengguna kendaraan bermotor di DKI Jakarta dalam kurun
waktu empat tahun terakhir bisa mencapai 9.993.867 kendaraan. Pada tahun 2006, kota Jakarta
memiliki angka indeks kepadatan kendaraan bermotor sebesar 4,9 juta unit, pada tahun 2007
berdasarkan data Dinas Perhubungan DKI Jakarta mencapai 5,7 juta unit, serta data yang di
ambil dari Polda Metro Jaya pada Tahun 2008 mencapai 9,5 juta unit dan pada tahun 2009 ini
pada bulan Juni 2009 mencapai 9.993.867 unit kendaraan.

9
Media Indonesia, Megapolitan, Jumat 16 Oktober 2009. ”Kesadaran Jaga Emisi Rendah”, hlm. 5 kolom
I

-6-
Grafik 1
Indeks Kendaraan Bermotor DKI Jakarta
12
10
8
6
4
2
0
2006 2007 2008 Juni 2009
Kendaraan Bermotor 4.9 5.7 9.5 9.9

Sumber : Diolah dari Dishub dan Polda Metro Jaya

Foto 3
Wawancara Walhi Jakarta

Sumber: Doc. Pribadi (30 November 2009)

Seperti yang dikatakan Direktur Eksekutif Walhi Jakarta, Ubaidillah dalam wawancaranya
mengatakan, ”program yang diupayakan pemerintah tersebut tidak sepadan dengan laju kendaraan
bermotor. Sehingga dalam kebijakanya pun mengalami ketidakstabilan.”
Jika kita bandingkan dengan program yang berpengaruh besar terhadap pengurangan
pencemaran udara yang terbagi dalam empat hal besar yaitu10:
1. Pengurangan Kendaraan
2. Uji Emisi
3. Jalur Hijau
4. Penanaman Pohon

10
Hasil wawancara dengan Ubaidillah Direktur Eksekutif Walhi Daerah Jakarta (Wahana Lingkungan
Hidup) pada tanggal 30 November 2009.

-7-
Grafik 2
Indeks Pengurangan Pencemaran Udara
80

60

40 Program

20

0
Penguranga Penanaman
Uji Emisi Jalur Hijau
n Pohon
Program 60 20 15 5

Sumber : Hasil wawancara dengan Ubaidillah Direktur Walhi Jakarta

Pertama, Pada Program Pengurangan Kendaraan, mempunyai 60% pengaruh terhadap dampak
polusi yang cukup tinggi, alasannya faktor utama penyebab polusi 70%-nya adalah dari
kendaraan bermotor. Jika program ini terus digalakkan maka indeks polusi di DKI Jakarta bisa
menurun, banyak bentuk programnya seperti menerapkan 3 in 1 di jalan Sudirman atau jalan-
jalan protokol tidak berjalan dengan yang diharapkan. Disisi lain Ubaidillah menambahkan
hampir 1.500 unit kendaraan bermotor di DKI Jakarta lulus KIR, itu artinya 1.500 kendaraan
bermotor siap pakai.
Kedua, Pada program Uji Emisi menyumbangkan 20% karena dalam program ini menguji
kelayakan kendaraan bermotor untuk beroperasi di Jakarta. Program ini diharapkan dapat
mengurangi dampak gas buang dari knalpot kendaraan bermotor, akan tetapi peralatan untuk
pengujian emisi ini tidak cukup memadai, hanya di bengkel-bengkel tertentu yang didapati
pengujian emisi dan sosialisasi program ini terbilang kurang.
Ketiga, Pada program Jalur Hijau, menyumbangkan 15% pasalnya, ruang terbuka di Jakarta
sangat krisis, banyak lahan-lahan kosong digunakan untuk kepentingan investor, ada juga lahan
kosong di gunakan untuk pemukiman warga pinggiran yang tidak mempunyai rumah tetap dan
keadaan materil yang tidak mendukung. Alhasil udara yang tercemar belum bisa teratasi dengan
RTH yang sangat minim.
Keempat, Sedangkan pada program penanaman pohon menyumbangkan 5% yang terbilang
paling sedikit dari program-program yang lainnya. Dikarenakan proses pertumbuhan pada
tanaman relatif lebih lama ketimbang dengan pertumbuhan kendaraan bermotor.

Dari keempat program besar tersebut di ibaratkan seperti menuang air mineral 1 liter dengan
ember yang berisi minyak sayur 2 liter, apa yang dilakukan oleh BPLHD Jakarta dengan
program-programnya tidak di imbangi dengan kesadaran masyarakatnya untuk ikut serta
didalamnya. Pada dasarnya hal ini yang menjadi salah satu faktor kondisi kota yang tidak sehat.

Munculnya Deteriorate Lingkungan Masyarakat Kota Jakarta


Melihat kondisi fisik Jakarta yang semakin tidak sehat, dalam artian tidak sehat fisik
perkotaannya menyebabkan tingkat stress yang dialami oleh masyarakatnya meningkat. Kota
semakin kotor, banyak lingkungan menjadi rawan dan tidak stabil, jalan-jalan mengalami
kemacetan sedangkan keadaan mereka menuntut untuk kerja lebih cepat. Masyarakat pun tidak
ada waktu lagi untuk memikirkan lingkungannya, yang ada dalam benak mereka hanya mencari
hal materil untuk bertahan hidup dan menyejahterakan dirinya sendiri.
Ketika para ahli psikolog hanya mendiskusikan mengenai kesehatan fisik dan mental terhadap
kesehatan individual atau keluarga masyarakat kota Jakarta, para psikolog tersebut bukan

-8-
mendiskusikan tentang kota yang sehat. Padahal organisasi kesehatan dunia WHO (2001)
mendefinisikan “kota yang sehat adalah kota secara terus menerus menciptakan dan
meningkatkan lingkungan-lingkungan fisik dan sosialnya serta mengembangkan sumber daya
masyarakatnya sehingga memungkinkan warganya untuk satu sama lain saling mendukung
dalam menyelenggarakan semua fungsi kehidupan dan mengembangkan potensi maksimal
mereka.”11 Salah satu identitas kota yang sehat yaitu memiliki tingkat partisipasi dan kontrol
publik yang tinggi terhadap kebijakan-kebijakan yang memengaruhi hidup, kesehatan dan
kesejahteraan warganya,12 namun identifikasi ini tidak bisa di jalankan pada masyarakat kota
Jakarta, sehingga banyak sekali warga yang tidak peduli bahwa polusi udara telah mengubah
pola perilaku hidupnya sehari-hari, bahkan kemampuan kerja otak mereka, misalnya jarang
sekali para pengendara motor di Jakarta yang tahu bahwa timbal yang ada pada bensin dapat
mengakibatkan kanker otak, polusi juga dapat memengaruhi perilaku sosial melalui efek
fisiologis atau psikologisnya. Polusi juga dapat menurunkan sensitivitas sosial dan aktivitas
sosial karena orang menjadi cenderung malas keluar rumah dan melakukan rekreasi luar
ruangan, polusi juga dapat meyebabkan agresivitas sebagaimana masyarakat yang lebih sering
emosional.13 Merosotnya lingkungan fisik dan mental masyarakat kota Jakarta dipengaruhi oleh
pergeseran sifat perkotaan dari masyarakat Agropolis, Polis, Metropolis hingga kini Semi
Megapolis. Pada tahun 2010 Kota Jakarta akan dijadikan kota Megapolis, dimana kota penuh
dengan segala bentuk anarkis dan persaingan nyata. Rencana tersebut masih banyak kontroversi
dari berbagai kalangan masyarakat. Namun tidak bisa ditampikkan lagi kalau nanti Kota Jakarta
bakalan menjadi kota Megapolis, hal ini juga banyak mendapat perhatian khusus dari beberapa
Organisasi, LSM, Ormas, yang masih peduli akan nilai-nilai tradisi.

Institusi Lokal Menjelma Menjadi Pemerhati Lingkungan


Melihat deteriorate14 lingkungan masyarakat kota Jakarta banyak mengundang perhatian khusus
dari beberapa lapisan masyarakat yang masih peduli akan keadaan lingkungan perkotaan, pada
mulanya masyarakat enggan untuk melakukan kegiatan-kegiatan pecinta lingkungan
dikarenakan aspirasi mereka yang belum terwujudkan. Seiring dengan demokratisasinya bangsa
Indonesia setelah puluhan tahun di genggam oleh Rezim Soeharto, dimana wadah aspirasi
masyarakat sulit untuk tersalurkan. Kini dengan ikatan atas dasar rasa peduli lingkungan,
organisasi yang mengatas namakan Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) menjadi salah satu
The institutions could be a means of people aspiration revelation, of people’s economic
empowerment, and an instrument of rural government in public policy making [Berger and
Neuhauss, 1977].15 Walhi Jakarta merupakan salah satu Institusi Lokal yang menampung
aspirasi masyarakat dalam menggerakkan program CFD, juga merupakan satu bagian public
policy making buat Pemerintah DKI Jakarta. Walhi Jakarta gigih untuk terus menerapkan
budaya baru bagi masyarakat kota Jakarta, berupa sarana olahraga di tengah pusat perkotaan
yang beralaskan aspal jalan dengan menutup sepanjang ruas jalan dari kendaraan bermotor yang
digunakan untuk CFD. Dengan mensterilisasikan jalan-jalan dari kendaraan bermotor dapat
mengurangi dampak dari pencemaran udara, dan jalan tersebut beralih fungsi menjadi ajang
sosialisasi dengan teman maupun keluarga untuk melaksanakan aktivitas kesehatan jasmani
yang bebas dari polusi.

11
Deddy Kurniawan Halim, Psikologi Lingkungan Perkotaan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008) hlm. 177
12
Ibid., hlm. 178
13
Ibid., hlm. 184
14
Deteriorate: Kemerosotan kualitas, efisiensi/nilai, baik pada benda, perilaku manusia, maupun patokan-
patokan sosial. Diambil dari karangan Soerjono Soekanto, Kamus Sosiologi, (Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada, 1985) hlm. 145
15
Raphaella Dewantari Dwianto, Grass Roots and the Neighborhood Associations: On Japan’s
Chonaikai and Indonesia’s RT/RW, (Jakarta: PT Grasindo, 2003) hlm.214

-9-
Tipe institusi lokal dalam akar CFD berupa (legal-informal, volunteer)16 tergolong dalam
lembaga informal atau mengarah pada relawan lingkungan, dalam kegiatanya berdasarkan
kebutuhan non-profit yang dilakukan secara sukarela. Adapun faktor yang memengaruhi
munculnya budaya CFD dilatarbelakangi dari, beberapa faktor yaitu:
Pertama, Masalah Politik: dalam pemerintahan DKI Jakarta sulitnya untuk menyadarkan
masyarakat tentang berapa pentingnya arti sebuah kesehatan lingkungan, mereka lebih
menyibukkan diri mereka dengan kepentingan individualistik, dengan terus menyokong
kapitalistik, invertor asing yang akibatnya menyerap dan menduduki hampir semua lahan di
DKI Jakarta. Kedua, Hilangnya kepercayaan warga atas kebijakan yang telah dilaksanakan,
sehingga timbul gagasan untuk bergerak secara independen dengan mengusulkan program yang
baru. Ketiga, Pergeseran sifat perkotaan dan deteriorate, yang menjadi kekhawatiran
masyarakat akan timbulnya anarkisme dan instability, untuk mengantisipasinya dengan suatu
gerakan masyarakat dapat meredam laju pertumbuhan perkotaan.

Dalam upayanya Walhi bergerak bersama beberapa LSM Lingkungan seperti17; KPBB, MEB
(Mitra Emisi Bersih), AEB (Apresiasi Emisi Bersih), Pelangi, Yayasan Orang Indonesia,
Swisscontact, Mapolpala dan beberapa lembaga mahasiswa di Jakarta. Dengan menyebarkan
informasi melalui media cetak, media elektronik, atau ketok tular;dari mulut kemulut. Untuk
lebih menarik partisipan masyarakat berita ini ditujukan kepada komunitas, aktivis,
olahragawan, dan beberapa pecinta lingkungan. Menurut salah satu petigas piket dari Dishub
instansi-instansi pemerintah yang terkait didalamnya seperti; ”Dinas Perhubungan DKI Jakarta,
Polda Metro Jaya, Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup, Pemda DKI Jakarta, Kementerian Lingkungan
Hidup”.18
Foto 4
Wawancara Petugas Piket Dishub DKI Jakarta

Sumber: Doc. Pribadi, (10 Desember 2009)


Table 1: Daftar Institusi Lokal dan Institusi Pemerintah
Institusi Lokal Institusi Pemerintah
Walhi Jakarta Kementerian Lingkungan Hidup
KPBB Pemda DKI Jakarta
MEB BPLHD Jakarta
AEB Polda Metro Jaya
Pelangi Dinas Perhubungan DKI Jakarta
Yayasan Orang Indonesia
Swisscontact
Mapolpala
Sumber : Diolah berdasarkan hasil wawancara dengan Walhi dan Dishub Jakarta

16
Ibid., hlm. 215
17
Hasil wawancara dengan Ubaidillah Direktur Eksekutif Walhi Daerah Jakarta (Wahana Lingkungan
Hidup) pada tanggal 30 November 2009.
18
Hasil wawancara dengan Bapak Mujahidin salah satu petugas piket HBKB Jakarta dari Dinas
Perhubungan DKI Jakarta, pada tanggal 10 Desember 2009

- 10 -
Benang merah public policy making, antara Institusi lokal dengan Institusi Pemerintah
Institusi lokal dengan Institusi pemerintah dalam pelaksanaan CFD pada mulanya di tahun
2002, kedua institusi ini bekerja dibidangnya masing-masing, institusi lokal hanya bekerja untuk
menyelenggarakan CFD dengan berbagai kemeriahannya, serta menyusun acara kegiatan yang
berlangsung didalamnya. Hal ini berupaya untuk menarik partisipan masyarakat untuk ikut
serta, sehingga merasa masyarakat menemukan hal baru dalam kebudayaan kota Jakarta. Lain
hal dengan institusi pemerintah, pada mula pelaksanaan CFD, institusi ini hanya sekedar
memenuhi undangan dari penyelenggara, memberikan izin penyelenggaraan, bertugas sebagai
pengaman di beberapa titik-titik jalan, penertiban dan untuk memperlancar kegiatan CFD
dengan menutup beberapa ruas jalan dan mengalihkannya ke jalan yang lain.

CFD yang di koordinir langsung dari Koalisi LSM Lingkungan selama kurun waktu 4 tahun
dari tahun 2002 hingga 2005. Seiring terus berjalanya waktu, CFD dipandang oleh institusi
pemerintah sebagai suatu program yang berpengaruh besar terhadap pengurangan pencemaran
udara, asumsi ini terletak pada tingkat partisipasi masyarakat yang turut andil dalam kegiatan
CFD, warga pun cukup antusias menyambut kegiatan yang dilaksanakan setiap hari Minggu
pekan terakhir di setiap bulan, buktinya setiap CFD berlangsung masyarakat tumpah ruah ke di
jalan dan melihat juga daripada ruang gerak sosialisasi yang memungkinkan sehingga dapat
menarik perhatian masyarakat kota Jakarta, tak hayal mereka menyempatkan waktu paginya
dengan berolahraga, bersepeda, ataupun hanya sekedar melihat-lihat acara sosialisasi, yang
biasanya dalam setiap penyelenggaraan CFD banyak menyelenggarakan kegiatan sosial.

Besarnya partisipasi masyarakat dalam CFD membuat Institusi Pemerintah menetapkan


kebijakan umum, seperti mencantumkan CFD kedalam program Pemprov DKI Jakarta yang
dikoordinir langsung oleh Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) DKI Jakarta
yang terkait akan Perda No.2 tahun 2005 tentang Pengendalian Pencemaran Udara, serta di
instruksikan kepada Walikota di tiap wilayah sebagai pelaksana19, dalam kebijakanya Pemprov
DKI menamakan program CFD secara resmi menjadi Hari Bebas Kendaraan Bermotor
(HBKB). Tahun 2006 jumlah partisipan semakin meningkat sebanyak 45 hari dalam setahun
CFD telah dilaksanakan dalam tempo kurun waktu satu tahun, terus berjalannya waktu di tahun
2007 mengeluarkan Instruksi Gubernur No. 93 Tahun 2007 tentang pelaksanaan HBKB, pada
HBKB tahun 2007 Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso menghadiri Program Penegakan Hukum
Kewajiban Uji Emisi Kendaraan Bermotor di saat dilaksanakanya HBKB.20
Hingga pada CFD tahun 2008 tercatat tingkat partisipasi masyarakat yang semakin meningkar
disertai dengan banyaknya even-even dari berbagai institusi sosial, komunitas, lembaga-
lembaga yang mengadakan program di CFD jalan M.H Thamrin. Terlihat kenyataannya di
tahun 2009 sekarang ini HBKB BPLHD Jakarta semakin diperluas pelaksanaanya, meski ada
pihak yang tidak menyutujui ketika berlangsung CFD akan tetapi melihat daripada manfaat
yang di perlolehnya besar maka CFD tetap dilaksanakan, hanya saja di setiap kawasan yang
diperuntukan untuk CFD harus memungkinkan keberlangsungannya. Seperti halnya
pelaksanaan CFD di jalan Pramuka, di jalan Pemuda, di Kota Tua, dan beberapa wilayah di kota
Jakarta.

19
Kapan lagi.com, ”Jakarta Car Free Day 2005 Gelar Aksi”,
http://www.kapanlagi.com/newp/h/0000082344.html, (Di akses pada Sabtu 12 Desember 2009 pukul
20.05 WIB)
20
Muhammad Fauzi, “Car Free Day di Sudirman-Thamrin”,
http://www.mediaindonesia.com/read/2009/05/05/77139/38/5/Car-Free-Day-di-Sudirman-Thamrin (Di
akses pada Sabtu 12 Desember 2009 pukul 20.33 WIB)

- 11 -
Table 2
Perkembangan Car Free Day
Waktu Perkembangan
Tahun 2002 Awal pelaksanaan Car Free Day yang masih di
koordinatori oleh Walhi Jakarta.
Tahun 2003 Pelaksanaan Car Free Day yang berlangsung di
beberapa jalan di wilayah Jakarta.
Tahun 2004 Car Free Day mendapatkan antusias dari
masyarakat.
Tahun 2005 Pemprov DKI menetapkan Car Free Day sebagai
program Perda No.2 tahun 2005 tentang
Pengendalian Pencemaran Udara, serta di
Koordinatori oleh BPLHD Jakarta.
Tahun 2006 Jumlah partisipan semakin meningkat sebanyak 45
hari dalam setahun CFD telah dilaksanakan dalam
tempo kurun waktu satu tahun.
Tahun 2007 Mengeluarkan Instruksi Gubernur No. 93 Tahun
2007 tentang pelaksanaan HBKB.
Tahun 2008 Banyaknya even-even sosial yang ikut dalam
pelaksanaan Car Free Day dari beberapa Institusi
sosial maupun komunitas sosial di Jakarta.

Tahun 2009 Kawasan Car Free Day meluas di jalan Pramuka, di


jalan Pemuda, di Kota Tua, dan beberapa wilayah di
kota Jakarta.
Sumber : Diolah dari beberapa informasi lapangan dan media elektronik

Dampak Lingkungan Sosial dan Aktivitas Sosial Car Free Day Jalan. M.H Thamrin
Dilihat dari tingkat polusi udara mengalami perubahan yang signifikan, hasil pengukuran
BPLHD Jakarta menyebutkan, rata-rata kadar debu (PM-10) berkurang 30%, Carbon
Monoksida (CO)% dan Nitrogen Monoksida (NO) 80 %, pengukuran ini dilakukan selama 14
hari, yakni 7 hari sebelum pelaksanaan dan 7 hari setelah pelaksanaan. ”Pemulihan kualitas ini
terjadi saat pelaksanaan HBKB. Karena itu, HBKB cukup positif untuk mengurangi pencemaran
udara,” kata Ridwan Panjaitan, Kepala Bidang Penegak Hukum BPLHD Jakarta. Dikutip dari
beritajakarta.com, Rabu (30/9). Contoh lainya kualitas udara di Kota Tua semakin membaik
usai kegiatan HBKB. Kadar CO yang biasanya mencapai 2-3 ppm turun menjadi 0,4 ppm, kadar
NO dari 20 ppb turun menjadi 2 ppb, kemudian kadar debu dari 140 mikrogram turun menjadi
120 mikrogram. Sedangkan di Jalan Sudirman – Jalan M.H Thamrin tersebut terhitung bahwa
gas polutan di kawasan itu turun secara signifikan, yakni CO berkurang 67 %, NO berkurang 80
%, dan debu berkurang 34 %, pengukuran tersebut di ukur langsung oleh Departemen Energi
dan Sumber Daya Mineral dengan menggunakan alat ukur kualitas udara roat survey of
automobiles.21

Selain menurunkan tingkat pencemaran polusi udara CFD juga mempunyai memberikan aura
positif terhadap masyarakat, pada dasarnya CFD adalah kegiatan kampanye mengurangi
penggunaan kendaraan pribadi, agar mengalihkan untuk menggunakan transportasi umum dan

21
Jakarta.go.id, ”HBKB Efektif Kurangi Pencemaran Udara”,
http://www.jakarta.go.id/v70/index.php/en/component/content/article/176-latest/1935-hbkb-efektif-
kurangi-pencemaran-udara, (Di akses pada Sabtu 12 Desember 2009 pukul 21.33 WIB)

- 12 -
upaya-upaya perbaikan dan peningkatan kualitas udara. Sehingga melalui pelaksanaan CFD
akan dapat mengurangi pencemaran udara di lokasi pelaksanaan dan meningkatkan pemahaman
masyarakat bahwa penggunaan kendaraan pribadi harus di batasi. Banyak hal-hal unik yang
ditemui dalam CFD, dari aktivitas-aktivias selain untuk mengurangi pencemaran udara, juga
merupakan ajang bersosialisasi yang efektif, masyarakat merasa senang karena mempunyai
sarana olahraga yang memadai dan menjadi pusat perhatian masyarakat. Disini pula kumpul
berbagai komunitas-komunitas, baik dari pengendara sepeda yang berpenampilan aneh, seperti
Bapak Rakhmat dari Komunitas Ontel Betawi (KOBE), dia mengatakan ” aku seneng tampilan
orang dulu, karena sepedanya juga dari zaman dulu, terus ini juga ajang yang tepat untuk menunjukan
budaya Indonesia”22
Foto 5
Pak Rakhmat KOBE

Sumber: Do. Pribadi, (11 Oktober 2009)

Di Bunderan HI, banyak sekali komunitas-komunitas ini, ada juga hanya duduk-duduk untuk
berpoto dan merasakan jajanan yang ada di samping jalan. Terbentuknya suatu komunitas
berdasarkan pada suatu agen sosialisasi, berupa media yang sebagai penyalur untuk membentuk
suatu komunitas, dari agen sosialisasi itu muncul egalitas antar individu, oleh Merton salah
seorang ahli sosiologi yang banyak menulis mengenai konsep kelompok. “a number of people
who interact with one another in accord with established patterns”. (1965:285)23 Merton
mengungkapkan sekelompok orang yang saling berinteraksi sesuai dengan pola-pola yang telah
mapan. Dengan tiga keriteria, pertama, kelompok ditandai oleh seringnya terjadi interaksi, pada
Komunitas Ontel Betawi mereka sering mengadakan kegiatan yang menyebabkan sering
terjadinya kontak dan komunikasi. Kedua, pihak-pihak yang berinteraksi mendefinisikan diri
mereka sebagai anggota, komunitas ini mengakui secara individual bahwa mereka merupakan
bagian dari Komunitas Ontel Betawi dimana setiap ada kegiatan mereka selalu menyempatkan
untuk bergabung. Ketiga, pihak-pihak yang berinteraksi didefinisikan oleh orang lain sebagai
anggota kelompok, karena dilihat oleh anggota yang lain maka terjalinnya suatu ikatan yang
menjadikan antar kedua pihak tersebut merasa saling memiliki, mereka menyadari bahwa
individu lain juga termasuk bagian darinya.

Saat ditemui dan di wawancarai salah satu klub futsal Putra Abadi Junior dari Tenaga Listrik,
mereka menyempatkan waktu paginya untuk dengan latihan di Jalan. M.H Thamrin yang turut

22
Hasil wawancara dengan Bapak Rakhmat dari Komunitas Ontel Betawi yang ditemui di Bunderan HI
pada pelaksanaan CFD, pada tanggal 11 Oktober 2009
23
Kamanto Sunarto, Pengantar Sosiologi, (Jakarta: FE-UI, 1993) hlm.89

- 13 -
serta dalam memeriahkan CFD. Seperti yang dikatan pelatihnya Agus, ”Latihanya sekali-kali beda
jangan di lapangan terus biar anak-anak pada seneng, gitu mas”.
Foto 6
Putra Abadi Junior

Sumber: Doc. Pribadi, (11 Oktober 2009)

Mereka sering datang di kegiatan CFD mereka melakukan driblling di sepanjang jalan. M.H
Thamrin sampai menuju Monumen Nasional, teknis pelatihannya di sesuaikan dengan keadaan
lapangan, misalkan mereka melakukan lari Zig-Zag dengan menelusuri pembatas jalan. Mereka
juga melakukan umpan diagonal dari ruas jalan ke ruas jalan satunya. Mereka merasakan bahwa
menemukan suasana yang baru dalam pelatihannya, terkadang mereka diajak tanding main
futsal dengan klub lain dan mengadakan pertandingan di tengah jalan.
Ada pula kegiatan olahraga yang lainnya seperti, aerobik, jalan-jalan dengan keluarga,
talkshow, sosialisasi dll.
Foto 7
Kegiatan CFD lainnya

Sumber: Doc. Pribadi, (11 November 2009)


Keterangan:
1) Wimcycle Style
2) Aerobik
3) KOBE
4) Jalan-jalan dengan keluarga

Penutup

- 14 -
Gambar 1
Skematik Institusi Lokal dalam upaya pengurangan pencemaran udara

Sumber: Analisa dari Observasi Lapangan, (2009)

Terlihat bahwa Institusi Lokal dalam mempengaruhi pembuatan kebijakan publik, bermula dari
melihat kemerosotan lingkungan fisik,ketidak peduliannya masyarakat kota Jakarta, lemahnya
kesadaran masyarakat akan pentingnya ”Kota yang Sehat”, dan pergeseran sifat perkotaan dari
masyarakat agropolis, polis, metropolis dan megapolis. Disinilah muncul Institusi Lokal yang
masih peduli akan lingkungan perkotaan, dengan menyelenggarakan program Car Free Day
berupaya menyadarkan masyarakat akan tingkat konsumtifnya dalam berkendaraan untuk
beralih menggunakan fasilitas transportasi umum. Melihat antusias dan banyaknya partisipasi
masyarakat yang ikut dalam Car Free Day menjadikan program yang digusung oleh LSM
Lingkungan Walhi Jakarta dan beberapa koalisi lingkungan ditetapkan oleh Pemprov DKI
Jakarta terkait Perda No.2 tahun 2005 tentang Pengendalian Pencemaran Udara, serta di
koordinatori oleh BPLHD Jakarta untuk melaksanakan program tersebut ke beberapa wilayah di
Jakarta. Seiring berjalannya waktu di tahun 2007 Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso mengeluarkan
Instruksi Gubernur No. 93 Tahun 2007 tentang pelaksanaan Hari Bebas Kendaraan Bermotor
(HBKB). Didalam pelaksanaan Car Free Day banyak sekali manfaat yang muncul, selain
sebagai sarana kesehatan jasmani yang bebas polusi juga sebagai media untuk ajang
bersosialisasi denga teman maupun keluarga. Olahraga yang terdapat dalam HBKB atau Car
Free Day seperti jogging, bersepeda, sosialisasi, dan lainnya merupakan budaya berolahraga
baru bagi masyarakat Jakarta. Penutupan jalan untuk kawasan Car Free Day mempunyai
dampak yang signifikan terhadap pengurangan pencemaran udara, dengan berkurangnya
kendaraan yang melintas maka berkurang juga tingkat kadar Carbon Monoksida, Nitrogen
Monoksida, debu, gas polutan dan timbal yang berada dalam bensin. Namun masyarakat dengan
pemerintah masih harus menjaga kestabilan lingkungan agar terwujudnya kota yang sehat.

Daftar Pustaka

- 15 -
Dwianto, Raphaella Dewantari. 2003. Grass Roots and the Neighborhood Associations: On
Japan’s Chonaikai and Indonesia’s RT/RW. Jakarta: PT Grasindo.

Halim, Deddy Kurniawan. 2008. Psikologi Lingkungan Perkotaan, Jakarta: Bumi Aksara.

Herlianto. 1997. Urbanisasi, Pembangunan, dan Kerusuhan Kota, Bandung: Penerbit Alumni.

Johnson, Doyle Paul di Indonesiakan oleh Robert M.Z Lawang. 1994. Teori Sosiologi Klasik
Dan Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka

Sunarto, Kamanto. 1993. Pengantar Sosiologi. Jakarta : Fakultas Ekonomi.

Soekanto, Soerjono. 1990. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.

_________.1985. Kamus Sosiologi, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

Sumber Lain:
Browsing
Campaign.pelangi.or.id. “Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) 2007”,
http://campaign.pelangi.or.id/?show=pages&pages_id=240&cid=5&detail=1

Jakarta.go.id, ”HBKB Efektif Kurangi Pencemaran Udara”,


http://www.jakarta.go.id/v70/index.php/en/component/content/article/176-latest/1935-
hbkb-efektif-kurangi-pencemaran-udara

Kapan lagi.com, ”Jakarta Car Free Day 2005 Gelar Aksi”,


http://www.kapanlagi.com/newp/h/0000082344.html

Mediaindonesia.com, Muhammad Fauzi, “Car Free Day di Sudirman-Thamrin”,


http://www.mediaindonesia.com/read/2009/05/05/77139/38/5/Car-Free-Day-di-
Sudirman-Thamrin

Cetak
Warta Kota, Info Kesehatan, Minggu 25 Oktober 2009. ”Peringatan Hari
Osteoporosis”, Warta Kota, hlm. 4 kolom I

Media Indonesia, Megapolitan, Jumat 16 Oktober 2009. ”Kesadaran Jaga Emisi Rendah”, hlm.
5 kolom I

- 16 -