Anda di halaman 1dari 2

5 januari Kupu-kupu yang Samar

Cinta datang dan pergi, seperti kupu-kupu dalam kuncup bunga.


Setahun berlalu secepat yang ia mau, meninggalkan hari-hari
penuh kenangan. Tapi aku masih saja terpaku akan masa lalu dan
melewatkan beberapa judul kebahagiaan, hingga kau hadir,
menyelamatkan harapanku yang mulai kosong dan terlupakan.
Menyematkan pelangi kecil meski badai belum juga berlalu.
Meneteskan embun pagi meski gurun masih saja kering.
Namun, kupu-kupu ku datang sekejap dan berlalu begitu saja.
Meninggalkan berbagai tanda tanya hati. Detik-detik berlalu
begitu lamban, dan kini kau datang kembali dengan segala
kepedihan dipundakmu, memintaku menyingkirkannya dari sana.
Andai saja ego ini begitu besar takkan ku sentuh dirimu
seperti ini, tapi apa dapat dikata jika hati telah memeluk
bulat sang raga. Meski kecewa akan ketidak pastian yang kamu
tinggalkan dulu masih membekas tapi entah mengapa tangan masih
mau membuka untukmu, dengan segala keinginan untuk menutup
kepedihan yang tersirat.
Aku tak pernah mengerti diriku sendiri, begitu kuatnya kah
hati sehingga mau menerima kehadiranmu kembali meski dengan
resiko ketidak pastian hubungan ini nantinya. Mungkin
peristiwa lalu itu akan kembali terulang, mungkin luka yang
sama akan tergores lagi, mungkin kecewa akan bergelayut
dihari-hariku. Dan aku kembali buta akan semua kesakitan itu
karena kamu.
Segala rasa yang ku rasa untukmu memang tidak mungkin membuat
kita bersama selamanya, karena memang selamanya semua ini akan
tetap terlarang..
Angin malam berhembus lembut ditelinga ku, meniupkan dinginnya
malam dikesendirian yang ada. Begitu lamanya hati ini membeku
batu, tak membiarkan semudah dulu meluluh dihati-hati lain.
Luka yang membekas begitu menyayat dalam, meninggalkan bekas
yang j elas namun transparan. Beribu detik terlalui begitu
saja, tanpa menoleh, tanpa menatap, tanpa peduli pada apa yang
coba menghampiri.

Begitu kerasnya diri ini terhadap hati, tak ingin ia terluka


dan terpuruk, namun begitu rapuhkah hati itu hingga menutup
rapat tak bercelah? Ingin ku katakan bahwa tak hanya aku yang
sedang terpuruk cinta, menangis dalam keceriaan tawa, terdiam

dalam banyak kata yang diucapkan. Tapi entah apa yang


menarikku begitu dalam dikesedihan tak dapat dipahami.

Namun akhirnya ku temukan kunci dari kerasnya diri, membuat


secercah celah untuk menghidupkan sesuatu yang telah lama mati
didasar sana. Mengoreskan pelangi yang telah pudar. Menyinari
cahaya yang kian meredup. Membuat tawa yang entah tersembunyi
disudut mana.

Perlahan dia hadir, tak dapat ku hindari dan sesuatu yang tak
diduga sebelumnya menjalar. Beberapa waktu dia membuat celah
itu dengan perlahan. Dan aku mengerti keadaan semakin rumit,
dan dia menjauh demi semuanya. Segala kekecewaan yang lama
pergi kembali menghampiri hati rapuh ini.

Waktu kembali berjalan lambat, detak jam seakan tak bergerak


untuk beberapa saat. Kemudian dia hadir lagi, membuat otakku
tak pernah berpikir lurus, membutakan mata yang tidak buta,
menulikan telinga yang tidak tuli, dia bagai morfin yang
membuat candu didiriku. Membuat kegilaan ini semakin menjadi.

Hati ini tak lagi beku oleh hangat yang dibiaskannya. Hanya
saja semua ini masih abu-abu, tapi tak cukup membuat ku
menyerah akan semua yang ku perjuangkan untuknya. Dia awal
baruku setelah sekian lama hati ini hampir mati, perlahan ku
mulai memupuk rasa ini untuknya, meyakinkan segalanya bahwa
aku tak sedang bermain.

Meski kini jarak dan waktu menjadi ujian perasaan, takkan


membuat luntur apa yang telah tergores kemarin. Dan semua ini
akan semakin indah saatnya nanti.. (: