Anda di halaman 1dari 8

BAB 1

PENDAHULUAN
I.

MASALAH UTAMA
Isolasi sosial: menarik diri.

II.

PROSES TERJADINYA MASALAH


1. Pengertian
-

Isolasi sosial : Menarik diri adalah kondisi kesepian yang


diekspresikan oleh individu dan dirasakan sebagai yang ditimbulkan
oleh orang lain dan sebagai suatu keadaan negatif (Towsend, 1998).

Isolasi sosial adalah keadaan dimana seorang individu mengalami


penurunan atau bahkan sama sekali tidak mampu berinteraksi dengan
orang lain disekitarnya (Keliat, 2009).

Menarik diri merupakan gangguan berhubungan dengan menarik diri


sendiri dari orang lain yang ditandai dengan isolasi sosial dan
perawatan diri yang kurang.

2. Rentang Respon
Rentang Respon Sosial
Respon adaptif

Respon maladaptif

Menyendiri

Merasa diri sendiri

Menarik diri

Otonomi

Dependensi

Ketergantungan

Bekerja sama

Curiga

Manipulasi

Interdependen

Curiga

Respon Adaptif:

Respon yang masih dapat diterima oleh norma-norma sosial dan


kebudayaan secara umum serta masih dalam batas normal dalam
menyelesaikan masalah.
1) Menyendiri: respon yang dibutuhkan seseorang untuk merenungkan
apa yang telah terjadi di lingkungan sosialnya.
2) Otonomi: kemampuan individu untuk menentukan dan menyampaikan
ide, pikiran, perasaan dalam hubungan sosial.
3) Bekerjasama: kemampuan individu yang saling membutuhkan satu
sama lain.
4) Interdependen: saling ketergantungan antara individu dengan orang
lain dalam membina hubungan interpersonal.
Respons Maladaptif:
Respons yang diberikan individu yang menyimpang dari norma
sosial. Yang termasuk respons maladaptif adalah:
1) Menarik diri: seseorang yanga mengalami kesulitan dalam membina
hubungan secara terbuka dengan orang lain.
2) Ketergantungan: seseorang gagal mengembangkan rasa percaya diri
sehingga tergantung dengan orang lain.
3) Manipulasi: seseorang yang mengganggu orang lain sebagai objek
individu sehingga tidak dapat membina hubungna sosial secara
mendalam.
4) Curiga: seseorang gagal mengembangkan rasa percaya terhadap orang
lain.
3. Penyebab
a. Faktor Predisposisi (pendukung)
1. Faktor perkembangan
Kurang

/tidak

adanya

sentuhan

kasih

sayang,

perhatian,

kehangatan dari keluarga akan mengakibatkan rasa tidak aman,


sehingga kemampuan berhubungan tidak kuat yang berakhir
dengan menarik diri.
2. Faktor biologis
Faktor genetik merupakan salah satu faktor pendukung gangguan
jiwa.
3. Faktor sosial budaya

Faktor ini merupakan faktor pendukung terjadinya gangguan dalam


membina hubungan dengan orang lain.
b. Faktor presipitasi (pencetus)
1. Stressor sosial budaya
Stressor sosial budaya dapat menyebabkan terjadinya gangguan
dalam berhubungan, misalnya keluarga labil (broken home),
keluarga yang dirawat di rumah sakit.
2. Stressor psikologis
Tingkat kecemasan yang berat akan menurunkan kemampuan
individu untuk berhubungan dengan orang lain.
4. Tanda dan Gejala
-

Apatis

Ekspresi wajah sedih

Afek tumpul

Menghindar dari orang lain

Komunikasi kurang

Menunduk

Berdiam diri di tempat yang terpisah

Menolak berhubungan dengan orang lain

Tidak percaya pada orang lain

Percaya diri kurang.

5. Akibat
- Perubahan persepsi sensori
- Gangguan komunikasi verbal
- Penurunan motivasi perawatan diri
III.

A. Pohon Masalah
Resiko perubahan sensori perseptual (Halusinasi auditorius) ------- Effect
Isolasi sosial : Menarik diri ------------------------------------ Core Problem
Gangguan konsep diri : Harga diri rendah ------------------- Causa

Koping individu inefektif ------------------------------------ Causa


Koping keluarga inefektif ------------------------------------ Causa
B. Masalah Keperawatan
1. Resiko perubahan sensori perseptual (halusinasi auditorius)
DS: Klien mengatakan mendengar suara suara yang mengejek
DO: - Klien berbicara sendiri
-

Klien tampak menyendiri

Klien berjalan mondar - mandir

2. Isolasi sosial : Menarik diri


DS: Klien mengatakan tidak mau bergabung dengan yang lain.
DO: - Klien menyendiri.
-

Tidak berkomunikasi, menarik diri, kontak mata tidak ada.

Sedih, afek datar.

Mendekati perawat untuk berinteraksi, namun menolak untuk


berespon terhadap penerimaan perawat terhadap dirinya.

Mengekspresikan perasaan penolakan atau kesepian kepada


orang lain.

3. Gangguan Harga Diri


DS: Klien mengatakan malu pada teman-temannya karena dikurung di
RSJ.
DO: - Kesukaran menerima penghargaan dari orang lain.

IV.

Kegagalan untuk bertanggung jawab atas perawatan diri.

Perilaku merusak diri (penyalahgunaan zat)

Kurang kontak mata

Menarik diri

Hubungan interpersonal yang tidak memuaskan

Diagnosa Keperawatan
1. Resiko perubahan sensori perseptual (halusinasi auditorius) berhubungan
dengan isolasi sosial : Menarik diri
2. Isolasi sosial : Menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah

3. Gangguan konsep diri: Harga diri rendah berhubungan dengan koping


individu inefektif
4. Koping individu inefektif berhubungan dengan koping keluarga inefektif
V.

Rencana Tindakan Keperawatan


Diagnosa I

: Resiko perubahan sensori perseptual (halusinasi auditorius)


berhubungan dengan isolasi sosial : menarik diri.

Tujuan Umum : Klien mampu berinteraksi dengan orang lain dan lingkungan
Tujuan Khusus :
1.

Klien dapat membina hubungan saling percaya.


- Sapa klien dengan nama baik verbal maupun non verbal.
- Perkenalkan diri dengan sopan.
- Tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang disukai klien.
- Jelaskan tujuan pertemuan.
- Jujur dan menepati janji.
- Tunjukkan sikap empati dan menerima klien apa adanya.

2. Klien dapat menyebutkan penyebab menarik diri


-

Kaji pengetahuan klien tentang perilaku menarik diri dan tandanya.

Berikan kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaan yang


menyebabkan klien tidak mau bergaul.
3. Klien dapat menyebutkan keuntungan bergaul dengan orang lain dan
kerugian menarik diri.

Diskusikan bersama klien tentang keuntungan berhubungan dengan


orang lain dan kerugian tidak bergaul dengan orang lain.
4. Klien dapat melaksanakan interaksi sosial secara bertahap.

Lakukan interaksi yang sering dan singkat dengan klien.

Motivasi atau temani klien untuk berinteraksi dengan orang lain/


perawat.

Tingkatkan interaksi klien secara bertahap.


5. Klien dapat mengungkapkan perasaannya setelah berinteraksi dengan
orang lain.

- Dorong klien untuk mengungkapkan perasaannya setelah berhubungan dengan


orang lain.

- Beri pujian atas keberhasilan klien mengungkapkan perasaan keuntungan


berhubungan dengan orang lain.
6. Klien dapat membina hubungan dengan keluarga.
-

Diskusikan tentang manfaat berhubungan dengan keluarga.

Dorong klien untuk mengutarakan perasaan tentang keluarga.

Dorong klien untuk mengikuti kegiatan bersama keluarga seperti


makan, ibadah bersama.

Jelaskan pada keluarga tentang kebutuhan klien.

Bantu keluarga untuk dapat mempertahankan hubungan baik dengan


klien, melalui kunjungan.

DP II : Isolasi sosial : Menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah.


Tujuan Umum : Klien dapat berhubungan dengan orang lain.
Tujuan Khusus :
1. Bina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip komunikasi
terapeutik.
-

Sapa klien dengan ramah.

Kenalkan diri dan berjabat tangan.

Tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang disukai.

Jelaskan tujuan pertemuan.

Tunjukkan sikap empati.

Beri perhatian pada klien dan perhatikan kebutuhan dasar klien.

2. Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki.


-

Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki.

Setiap bertemu klien hindarkan dari penilaian negatif.

Utamakan memberikan pujian yang realistis.

3. Klien dapat menilai kemampuan yang masih dapat digunakan.


-

Diskusikan dengan klien kemampuan yang masih dapat digunakan


selama sakit.

Diskusikan kemampuan yang dapat dilanjutkan penggunaannya.

4. Klien

dapat

menetapkan,

kemampuan yang dimiliki.

merencanakan

kegiatan

sesuai

dengan

Rencanakan bersama klien aktivitas tiap hari yang dapat dilakukan


sesuai kemampuan.

Tingkatkan kegiatan sesuai dengan toleransi klien.

Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang boleh klien lakukan.

5. Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi sakit dan kemampuannya.


-

Beri

klien

kesempatan

untuk

mencoba

kegiatan

yang

telah

direncanakan.
-

Beri pujian atas keberhasilan klien.

Diskusikan kemungkinan pelaksanaan di rumah

6. Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada (Health Education


Family)
-

Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien


dengan harga diri rendah.

Bantu keluarga memberikan dukungan selama klien dirawat.

Bantu keluarga menyiapkan lingkungan yang ramah.