Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

1. 1

Latar Belakang
Istilah syariah untuk menunjukkan penggunaan sistem Islami dalam melakukan

aktivitas ekonomi, nampaknya mulai menyebar luas di berbagai sektor bisnis. Dimulai pada
Industri Perbankan Syariah yang kemudian diikuti oleh sektor lainnya, seperti Asuransi
Syariah, Pegadaian Syariah, dan sejak tahun 2013 yang lalu, kini muncul trend Hotel Syariah
dan Wisata Syariah. Saat ini, Hotel Syariah telah menjadi sebuah trend, sehingga diberbagai kota
bermunculan hotel berlabel Syariah. Di Ibukota, yang dikenal mengawali trend ini adalah
group Hotel Sofyan, dimana pada tahun 2002 hijrah dari sistem perhotelan konvensional
menjadi syariah. Di Propinsi Jawa Tengah adalah hotel Semesta Semarang yang pertama
mengikuti langkah dari group Hotel Sofyan. Permasalahan dalam hotel syariah bukan hanya
sekedar klaim dan label saja, namun harus jelas spesifikasi dan kriterianya agar tidak rancu dan
hanya menjadi komoditas bisnis semata. Berbeda dengan Industri Perbankan Syariah, Standar
Operasional hotel syariah secara baku memang belum ada, tapi tidak menjadi sesuatu yang
sangat sulit pula untuk membuat suatu bisnis hotel yang sesuai dengan syariah.
Melalui Peraturan Gubernur (Pergub) yang dikeluarkan pada Bulan Januari 2014,
Provinsi DKI Jakarta mengatur tentang Wisata Syariah di Ibukota. Hal ini menunjukkan
keseriusan Pemerintah DKI Jakarta untuk melihat besarnya potensi Wisata Syariah ini, dimana
Hotel Syariah merupakan bagian yang tak terpisahkan dari Industri Wisata Syariah.

Hotel & Pariwisata Syariah

Page 1

1. 2

Rumusan Masalah

Apa definisi hotel & pariwisata syariah?


Apa perbedaan hotel & pariwisata syariah dengan hotel & pariwisata konvensional?
Bagaimana perkembangan pariwisata syariah yang berlansung di Indonesia?

1. 3

Tujuan

Mengetahui definisi dari Hotel dan Pariwisata Syariah


Mengetahui Perbedaan Hotel & Pariwisata Syariah dengan Hotel & Pariwisata
Konvensional
Mengetahui Perkembangan Hotel dan Pariwisata Syariah di Indonesia

Hotel & Pariwisata Syariah

Page 2

BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi Hotel &Pariwisata Syariah


Surat Keputusan Menteri Pariwisata Pos dan Telekomunikasi No. KM 94/HK.103/MPPT87 disebutkan bahwa pengertian Hotel adalah salah satu jenis akomodasi yang mempergunakan
sebagian atau seluruh bangunan untuk menyediakan jasa pelayanan penginapan, makan dan
minum serta jasa lainnya bagi umum, yang dikelola secara komersial, serta memenuhi ketentuan
persyaratan yang ditetapkan. Dalam keputusan tersebut juga dinyatakan bahwa kewajiban Hotel
dalam menjalankan usahanya wajib untuk memberi perlindungan kepada para tamu hotel,
menjaga martabat hotel, serta mencegah penggunaan hotel untuk perjudian, penggunaan obat
bius, kegiatan-kegiatan yang melanggar kesusilaan, keamanan dan ketertiban umum.
Sedangkan Hotel Syariah adalah hotel yang menyediakan jasa pelayanan penginapan,
makan, dan minum, serta jasa lainnya bagi umum, dikelola secara komersial serta memenuhi
kelentuan persyaratan yang ditetapkan pemerintah, industri, dan syariah.
Menurut Bachtiar (2013), dalam praktik keseharian masyarakat, wisata berarti rekreasi.
Berwisata berarti rekreasi aktif atau suatu aktivitas mengunjungi tempat tertentu, untuk tujuan
mencapai kebahagiaan. Ada pula istilah wisata atau rekreasi, yang bukan sekedar demi
kepentingan kebahagiaan subyek yang berwisata, tetapi juga memberikan untung bagi banyak
pihak penyelenggaranya. Tujuan kebahagiaan ini lebih mengarah kepada kondisi psikologis
manusia yang lebih tenang, tentram, damai dan sentosa.
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) menyatakan bahwa,
Wisata Syariah didefinisikan sebagai kegiatan yang didukung oleh berbagai fasilitas serta
layanan yang disediakan masyarakat, pengusaha, pemerintah, dan pemerintah daerah yang
memenuhi ketentuan syariah. Pariwisata syariah memiliki karakteristik produk dan jasa yang
universal, keberadaannya dapat dimanfaatkan oleh banyak orang. Produk dan jasa wisata, objek
wisata, dan tujuan wisata dalam pariwisata syariah adalah sama dengan produk, jasa, objek dan
tujuan pariwisata pada umumnya selama tidak bertentangan dengan nilai-nilai dan etika syariah.

Hotel & Pariwisata Syariah

Page 3

Jadi, tidak terbatas hanya pada wisata religi. Sehingga ada beda pengertian antara wisata
syariah dengan wisata religi.

B. Perbedaan Hotel & Pariwisata Syariah dengan Konvensional


B. 1 Perbedaan Hotel Syariah dengan Konvensional

Hotel konvensional merupakan hotel yang sesuai dengan definisi dari Surat Keputusan
Menteri Pariwisata Pos dan Telekomunikasi, yang bertujuan hanya untuk memenuhi keinginan
konsumen akan tempat yang layak di suatu tempat wisata. Berbeda dengan hotel yang didirikan
sesuai syari bertujuan untuk mencapai Falah sebagai tujuan hidup setiap insan Muslim.
Sehingga dalam pemenuhan kebutuhan konsumen, Hotel Syariah tidak hanya memandang aspek
materil, namun justru lebih ditekankan pada aspek spiritual. Terpenuhinya kebutuhan masyarakat
akan Hotel Syariah, memberikan dampak yang disebut dengan mashlahah pada proses
pemenuhan kebutuhan tempat tinggal sementara di suatu daerah. Menurut P3EI UII (2013),
menyatakan bahwa mashlahah adalah segala bentuk keadaan, baik material maupun nonmaterial, yang mampu meningkatkan kedudukan manusia sebagai makhluk yang paling mulia.
Menurut As-Syatibi dalam P3EI UII (2013), mashlahah dasar kehidupan manusia terdiri dari 5
(lima) hal, yaitu agama (dien), jiwa (nafs), intelektual (aql), keluarga, dan keturunan (nash) dan
harta (maal). Sedangkan pada hotel konvensional, tidak akan memberikan dampak pada
mashlahah, karena menjalankan bisnis tidak bertujuan untuk melindungi kelima hal diatas.
Pemberian label Syariah pada Hotel Syariah, bukan hanya sekedar klaim pihak pengelola
semata, karena Syariah oleh para ahli hukum Islam, diartikan sebagai seperangkat peraturan
atau ketentuan dari Allah untuk manusia yang disampaikan melalui Rasul-Nya (Al-Sahdili
dalam P3EI UII, 2013). Sehingga dalam program Wisata Syariah yang dicanangkan oleh
pemerintah, baik oleh pemerintah pusat melalui Kemenparekraf maupun pemerintah daerah,
hotel-hotel yang ada akan disertifikasi oleh LPPOM MUI, mana yang memenuhi unsur syariah
dan mana yang tidak. Sertifikasi hotel tersebut dilihat dari cara penyediaan tempat dan alat
shalat serta penunjuk arah kiblat di kamar hotel, atau penyajian makanan yang halal serta
penyediaan minuman non-alkohol di bar sebuah hotel. Sertifikasi itu menunjukkan betapa
penyediaan fasilitas dan sarana di hotel tersebut termasuk dalam kategori Muslim Friendly, atau
yang lebih dikenal dengan istilah Ramah bagi Umat Islam.
Hotel & Pariwisata Syariah

Page 4

Sehingga dapat dikatakan, dalam menjalankan bisnis Hotel Syariah tidaklah mudah. Ada
banyak persyaratan yang harus dipenuhi investor, terutama prinsip Syariah itu sendiri yang
terkait dengan kaidah "halallan thoyiban". Kaidah ini meliputi dana investasi, pengelolaan, serta
makanan dan minuman. Ita Faridasari (Assistant Sales & Marketing Manager Hotel Sofyan)
dalam Kompas.com (2014) menyatakan, segala hal dalam operasional Hotel Syariah harus
sesuai syar'i, mulai dari pakaian muslim untuk petugas hotel (khususnya bagi petugas hotel
wanita menggunakan pakaian hijab), seleksi tamu hotel, pemisahan tamu laki-laki dan
perempuan yang akan menggunakan fasilitas hotel, hingga pelarangan minuman-minuman
beralkohol. Berbeda dengan Industri Perbankan dan Industri

Keuangan lainnya, dimana

Pertumbuhan Perbankan Syariah dan Lembaga Keuangan Non Bank (LKNB) Syariah cukup
pesat dibandingkan dengan Perbankan dan LKNB konvensional. Pada Hotel Syariah,
pertumbuhannya terhitung lambat dibandingkan dengan hotel konvensional. Sampai saat ini,
jumlah hotel berlabel Syariah dapat dihitung dengan jari. Jaringan Grup Hotel Sofyan baru
memiliki dua property, yakni di Menteng dan Tebet, Jakarta. Sementara Metropolitan Golden
Management (MGM) akan memiliki tiga properti. Selain Pekanbaru, MGM akan membuka
Aziza Hotel di Solo dan Semarang, Jawa Tengah. Ada pun sejumlah Hotel Syariah lainnya
dikelola jaringan lokal yang tersebar di sejumlah kota besar dan kota kedua di Indonesia. Namun
demikian, bukan berarti bisnis Hotel Syariah tidak menguntungkan. Sebaliknya, fasilitas
akomodasi dengan label khusus ini justru sangat menjanjikan. Hal ini mempertimbangkan
kuatnya pasar domestik yang didorong pesatnya aktifitas meeting, incentives, convention,
exhibition (MICE) dan meningkatnya jumlah wisatawan bisnis. Contohnya, Aziza Hotel yang
berlokasi di kawasan "abu-abu" di Pekanbaru, dalam arti bukan kawasan berbasis muslim,
mampu meraup tingkat okupansi yang terus meningkat. Salah satu Hotel yang menjalankan
operasinya secara Syariah yaitu Hotel Sofyan. Dari hotel bereputasi negatif, Hotel Sofyan kini
berubah bernuansa Islami, Tingkat huniannya pun meningkat. Jika tamu berkunjung ke Hotel
Sofyan Betawi di Jalan Cut Meutia atau Hotel Sofyan Tebet di Jalan Sahardjo - Jakarta, tamu
tidak akan melihat lagi para resepsionis yang memakai rok pendek. Para penerima tamu kini
mengenakan busana muslimah. Tentu saja dengan senyum sumringah tak mereka tinggalkan.
Kesan sebagai hotel yang mempunyai reputasi negatif yang pernah melekat dalam image publik
sudah ditinggalkan Hotel Sofyan.Pada tahun 1980-an, saat itu ada sebuah klub malam Santai
Music Club di hotel yang berada di Jalan Saharjo, Tebet, Jakarta. Serta klub malam dan karaoke
Hotel & Pariwisata Syariah

Page 5

hotel yang terletak di depan sebuah universitas ternama ini, juga memiliki diskotik dan panti
pijat. Dari Hotel Konvensional, yang bahkan memiliki citra yang negatif di masyarakat, Hotel
Sofyan kini diposisikan sebagai Hotel dengan landasan bisnis syariah yang pertama di Indonesia
yang mendapatkan sertifikat dari Dewan Syariah Nasional (DSN) Majelis Ulama Indonesia
(MUI) dan hotel syariah pertama yang telah mencatatkan sahamnya di bursa efek. Walaupun
pada tahun 1994 di Bukit Tinggi, Sumatera Barat telah berdiri sebuah hotel kecil yang
menerapkan prinsip syariah, bedanya hotel ini belum mendapatkan sertifikat dari Dewan Syariah
Nasional (DSN) Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan tidak mencatatkan saham dibursa efek.
Meskipun Hotel dengan konsep Syariah telah di akui oleh Perhimpunan Hotel dan Restaurant
Indonesia (PHRI), namun hingga saat ini belum ada satupun ketentuan baku mengenai Hotel
Syariah yang dikeluarkan oleh PHRI ataupun Dewan Syariah Nasional MUI. Hal ini bisa
dimaklumi karena PT Sofyan Hotels Tbk adalah pioneer dalam pengembangan Hotel dengan
konsep syariah. Banyak prinsip dan kaidah syariah yang dapat dijadikan pedoman dalam
mengelola Hotel Syariah, antara lain: Memuliakan tamu (fal yukrim dhaifahu); Tenteram, damai
dan selamat (salam); Terbuka untuk semua kalangan, artinya universal (Kaffatan lin-naas);
Rahmat bagi semua kalangan dan lingkungan (Rahmatan lilaalamin); Jujur (Shiddiq); Dipercaya
(Amanah); Konsisten (Istiqomah); Tolong menolong dalam kebaikan (Taawun alal birri wat
taqwa) (Sofyan, 2010). Lebih Lanjut perwakilan Sofyan (2010) menyebutkan bahwa, untuk
memenuhi kebutuhan operasional, Dewan Pengawas Syariah PT Sofyan Hotels Tbk, telah
menetapkan sejumlah fatwa atau opini syariah, sebagai berikut: Fatwa atau opini syariah tentang
Bisnis Hotel; Fatwa atau opini syariah tentang Seleksi Tamu; Fatwa atau opini syariah tentang
Sewa Ruangan; Fatwa atau opini syariah tentang Dekorasi Hotel; Fatwa atau opini syariah
tentang Resturan dan Produk Makanan dan Minuman; Fatwa atau opini syariah tentang
Penyediaan Fasilitas TV, Musik dan Hiburan; Fatwa atau opini syraiah tentang Seragam
Karyawati dan Pelayanan; Fatwa atau opini syariah tentang Pengelolaan SDM; Fatwa atau opini
syariah tentang Kebiajakan/Pengelolaan Keuangan; Fatwa atau opini syariah tentang Barang
Temuan; Fatwa atau opini syariah tentang Zakat Perusahaan; Fatwa atau opini syariah tentang
Busana Kerja dan Berhias.
Sedangkan DSN MUI dalam Rezeki (2011) menyebutkan bahwa nilai -nilai syariah yang
menjadi koridor dalam menjalankan operasional Hotel Syariah adalah sebagai berikut :

Hotel & Pariwisata Syariah

Page 6

1. Tidak memproduksi, memperdagangkan, menyediakan, meyewakan suatu produk atau


jasa yang seluruh maupun sebagian dari unsur jasa atau produk tersebut dilarang atau
tidak dianjurkan dalam hukum Islam, mislanya makanan yang mengandung unsur babi,
minuman beralkohol atau zat yang memabukkan, perjudian, perzinaan, pornografi dan
pornoaksi, dan lain - lain.
2. Transaksi harus didasarkan pada suatu jasa atau produk yang riil, benar -benar ada, dan
bukan atas suatu yang deveriatif seperti transaksi ijon komoditas pertanian.
3. Tidak ada kedzaliman, kemudharatan, kemungkaran, kerusakan, kemaksiatan, kesesatan,
dan keterlibatan baik secara langsung maupun tidak langsung dalam suatu tindakan atau
hal yang dilarang atau tidak dianjurkan dalam hukum Islam.
4. Tidak ada unsur kecurangan, kebohongan, ketidakjelasan, risiko yangberlebihan, korupsi,
manipulasi dan ribawi.
5. Komitmen menyeluruh dan konsekuen terhadap perjanjian yangdilakukan.Rezeki (2011)
menyimpulkan bahwa, berdasarkan nilai - nilai tersebut diatas, lalu dilakukan
pendalaman terhadap operasional hotel dan dibuatlah Standar atau Kriteria Hotel Syariah
sebagai berikut :

Fasilitas: Semua fasilitas merupakan fasilitas yang dapat memberi manfaat bagi
tamu.

Fasilitas-fasilitas

yang

mengakibatkan

kerusakan,

kemungkaran,

perpecahan, membangkitkan hawa nafsu, eksploitasi wanita, dan lain yang sejenis
ditiadakan. Penggunaan fasilitas yang disediakan juga disesuaikan dengan tujuan
diadakannya sehingga tidak terjadi penyalahgunaan fasilitas.

Tamu yang check in: Tamu yang check in khususnya bagi pasangan lawan jenis
dilakukan reception policy (seleksi tamu). Seleksi dilakukan untuk mengetahui
apakah pasangan merupakan suami istri atau keluarga. Seleksi tersebut didasarkan
pada dua hal yakni: Gelagat (pasangan tersebut lebih cangung atau terlihat mesra,
mengucapkan kata-kata sayang pada pasangannya, berjauhan pada saat
mendatangi

counter

front

office)

dan

Penampilan

(pasangan

wanitaberpenampilan seksi, pasangan wanita mengenakan seragam sekolah dan


Hotel & Pariwisata Syariah

Page 7

masih belia,

tidak membawa perlengkapan menginap (koper) serta perbedaan

usia cukup mencolok.

Pemasaran: Terbuka bagi siapa saja baik pribadi maupun kelompok formal
maupun informal, dengan berbagai macam suku, agama, ras dan golongan.
Asalkan aktifitas tamu tersebut tidak dilarang oleh negara dan tidak merupakan
penganjur kerusakan, kemungkaran, permusuhan dan lain sejenisnya.

Makanan dan Minuman : Makanan dan minuman yang disediakan adalah


manakan dan minuman yang dijamin kehalalannya baik bahan -bahan maupun
proses pembuatannya, serta baik bagi kesehatan tubuh yang memakannya.

Dekorasi dan ornamen : Dekorasi dan ornamen disesuaikan dengan nilai-nilai


keindahan dalam Islam serta tidak bertentangan dengan syariah. Ornamen patung
ditiadakan dan lukisan mahluk hidup dihindari.Dekorasi tidak harus dalam bentuk
kaligrafi.

Operasional :
a) Kebijakan: meliputi kebijakan manajemen, peraturan - peraturan yang dibuat, kerjasama
dengan pihak luar, investasi dan pengembangan usaha dilakukan sesuai dengan prinsip
syariah Islam.
b) Pengelolaan SDM: meliputi penerimaan dan perekrutan SDM, tidak membedakan suku,
agama, ras dan golongan selama memenuhi standar kualifikasi yang telah ditentukan.
Perusahaan harus jujur kepada karyawan dan memberikan pelatihan - pelatihan yang
dibutuhkan karyawan.Pengelolaan SDM mengacu pada peningkatan kualitas yang
mengacu pada peningkatan kualitas yang mencakup tiga hal, etika, pengetahuan dan
keahlian.
c) Keuangan:

yaitu

pengelolaan

keuangan

menggunakan

akuntansi

syariah

dan

menggunakan bank dan asuransi syariah sebagai mitra. Jika perusahaan mempunyai
keuntungan yang mencukupi nilai wajib zakat maka perusahaan berkewajiban
mengeluarkan zakat.

Hotel & Pariwisata Syariah

Page 8

Struktur: Adanya sebuah lembaga yakni Dewan Pengawas Syariah (DPS) yang bertugas
mengawasi jalannya operasional hotel secara syariah dan yang akan memberikan arahan
dan menjawab masalah yang muncul dilapangan. Lembaga ini diambil dan disetujui
oleh Dewan Syariah Nasional (DSN) yang menujuk anggotanya untuk menjadi
Dewan Pengawas Syariah.
Pelayanan: Pelayanan yang diberikan adalah pelayanan yang sesuai kaidah Islam yang
memenuhi aspek keramah-tamahan, bersahabat, jujur, amanah, suka membantu dan
mengucapkan kata maaf dan terimakasih. Pelayanan yang dilakukan juga harus pada
batas - batas yang dibolehkan oleh syariat Islam, misalnya tidak menjurus kepada
khalwat.
B. 2 Perbedaan Pariwisata Syariah dengan Pariwisata Konvensional

Bentuk pariwisata seperti yang kita kenal dewasa ini yang sering disebut pariwisata
modern, bermula dari suatu bentuk kegiatan wisata yang dipelopori oleh Thomas Cook yang
menyelenggarakan suatu inclusive tour dari Leicester ke Loughborough pulang pergi pada
tanggal 5 juli 1842 dengan biaya 1 (satu) shilling per orang. Paket wisata atau inclusive tour itu
diikuti oleh 570 orang berkat upaya promosi yang dilakukan melalui iklan. Jenis atau bentuk
kegiatanwisata yang dikemas dalam paket-paket wisata itulah

yang

sebelumnya

disebut

sebagai pariwisata modern. Namun dengan timbulnya berbagai bentuk kepariwisataan alternatif,
maka apa yang dulu disebut sebagai pariwisata modern itu

kinidisebut sebagai pariwisata

konvensional. Sehingga dapat disimpulkan bahwa, ciri-ciri pariwisata konvensional adalah


sebagai berikut:
1. Kegiatan wisata tersebut memiliki jumlah peserta yang besar (mass tourism), sebagian
dikemas dalam satuan paket wisata (package tour).
2. Pembangunan sarana dan fasilitas kepariwisataan berskala besar dan mewah.
3. Memerlukan tempat yang dianggap strategis dengan tanah yang cukup luas.

Hotel & Pariwisata Syariah

Page 9

Pariwisata sebagai industri tentunya akan memberikan dampak terhadap lingkungan. Oleh
karena itu, pariwisata berkelanjutan (sustainability) diterapkan pada segala tipe aktifitas, operasi,
pembuatan/pendirian dan proyek pariwisata termasuk bentuk pariwisata yang konvensional.
Tourism Concern (TC) dan Worlwide Fund for Nature (WWF) mendefinisikan pariwisata
berkelanjutan adalah sebagai pariwisata dan infrastrukturnya yang :
1. Beroperasi dengan kapasitas alami untuk regenerasi dan masa depan produktifitas alam,
sosial dan budaya.
2. Mengakui kontribusi dimana masyarakat dan komunitas, kebiasaan dan gaya hidup
sekarang dan yang akan datang menjadi pengalaman bagi pariwisata.
3. Menerima bahwa masyarakat memiliki pembagian yang adil dan wajar dari keuntungan
pariwisata.
4. Diarahkan dari yang berkepentingan kepada masyarakat dan komunitas di sekitar wilayah
wisata khususnya.
Prinsip keberlanjutan inilah yang dalam Islam sangat ditekankan. Sebagaimana dalam
Firman Allah dalam Al-Quran Surat Al-Araf [7] Ayat 56:
Artinya: Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah)
memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan
(akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat
baik.
Sehingga dalam mengkaji perbedaan pariwisata syariah dengan pariwisata konvensional,
tidak dapat dibedakan secara spesifik, karena keduanya diharuskan menjalankan prinsip
keberlanjutan dalam berbagai aktivitas operasionalnya. Pariwisata syariah, memiliki cirri khas
dalam melayani wisatawan yaitu pariwisata dengan dasar Al-Quran dan Hadits.
Namun, tentunya pariwisata syariah bukan hanya untuk wisatawan Muslim saja, Karena
pada prinsipnya, implementasi kaidah syariah itu berarti menyingkirkan hal-hal yang
membahayakan bagi kemanusiaan dan lingkungannya dalam produk maupun jasa yang
diberikan, dan tentu memberikan kebaikan atau kemaslahatan secara umum, sesuai dengan misi
Hotel & Pariwisata Syariah

Page 10

Risalah Islamiah yang bersifat Rahmatan Lil-Alamin. Pariwisata Syariah seharusnya lebih
bernilai substansial, bukan sekedar tampilan yang bersifat artificial, contohnya kawasan wisata
didekorasi dengan bernuansa budaya Timur Tengah hanya bersifat artificial. Dan wisata syariah
bukanlah pariwisata yang hanya menampilkan wisata ziarah atau wisata yang bersifat religi.
Sejauh ini, Kemenparekraf bersama beberapa pihak terkait sudah meyepakati pedoman
wisata syariah, antara lain standar yang harus dipenuhi oleh hotel, restoran, biro perjalanan,
pemandu wisata yang sesuai dengan kaidah syariah. Saat ini, pedoman tersebut telah berlangsung
cukup efektif di hotel seperti penyediaan alat Sholat, petunjuk arah Sholat, penyediaan makanan
bersertifikasi halal, dan lain-lain. Dalam hal kuliner halal, LPPOM MUI juga turut mengawal
misi Kemenparekraf dalam mengembangkan wisata syariah. Karena kuliner merupakan salah
satu daya tarik utama dalam sebuah perjalanan wisata. Jadi, jika ada wisata syariah, maka peserta
wisatanya diarahkan pada hotel dan restoran yang halal dan sesuai syariah.

C. Perkembangan Program Pariwisata Syariah di Indonesia


Sejak di launchingnya wisata syariah pada Desember 2012 lalu oleh Kemenparekraf,
telah diterbitkan juga buku-buku pedoman mengenai pelaksanaan wisata syariah. Pada 2013 lalu,
pihak Kemamenparekraf sudah memasukkan Aceh menjadi salah satu provinsi dari 12 daerah
pengembangan wisata syariah. Selain Aceh 11 provinsi lainnya yang menjadi daerah
pengembangan wisata syariah adalah Sumatera Barat (Sumbar), Riau, Lampung, Banten, DKI
Jakarta, Jawa Barat (Jabar), Jawa Tengah (Jateng), Jawa Timur (Jatim), Daerah Istimewa
Yogyakarta, dan Nusa Tenggara Barat (NTB).
Fokus utama 12 daerah pengembangan wisata syariah tersebut adalah pada usaha jasa
bidang perhotelan, restoran, spa, dan biro perjalanan wisata berkonsep syariah. Ini diharapkan
menjadikan Aceh sebagai destinasi utama wisata syariah di Indonesia bagi turis muslim dari
seluruh dunia. Aceh sebagai provinsi yang sudah menerapkan syariat Islam, sebenarnya untuk
pelaksanaan konsep wisata syariah sudah tidak begitu sulit. Dengan demikian, wisata syariah
diharapkan memberikan nuansa baru bagi industri pariwisata di Aceh.
Secara umum Aceh memang belum optimal dalam mengembangkan wisata syariahnya.
Namun salah satu sektor yang mengalami pertumbuhan positif adalah sektor perjalanan yang
berhubungan dengan pariwisata. Kita bisa melihat bagaimana dari tahun ke tahun jumlah
Hotel & Pariwisata Syariah

Page 11

wisatawan yang datang ke Aceh semakin meningkat. Aceh memiliki jumlah tempat wisata yang
lumayan banyak, namun belum tergali dan dipromosikan dengan baik ke luar negeri dan ke
provinsi lain. Masalahnya adalah pada kepedulian pemerintah daerah dan dunia usaha yang
masih kurang terhadap wisata syariah.

Hotel & Pariwisata Syariah

Page 12

BAB III
PENUTUP

Hotel dan Wisata Konvensional hanya bertujuan untuk memenuhi kepuasan (utility)
dalam kegiatan konsumsinya, sedangkan Hotel dan Wisata Syariah bertujuan untuk
mencapai Falah melalui pencapaian mashlahah, yang terdiri dari manfaat dan berkah,
dalam kegiatan konsumsinya.
Hotel dan Wisata Konvensional mencampuradukkan antara barang atau transaksi yang
halal dengan barang atau transaksi yang haram, sedangkan Hotel dan Wisata Syariah
melarangnya, sehingga hubungan komplemen dan substitusi pada Hotel dan Wisata
Syariah hanyalah untuk barang/kegiatan halal dan barang/kegiatan halal yang lain.
Hotel dan Wisata Konvensional bertujuan untuk mencapai keuntungan tanpa didasarkan
nilai, sedangkan Hotel dan Wisata Syariah didasarkan pada nilai-nilai Syariah Islam yang
terkait dengan kaidah "halallan thoyiban". Kaidah ini meliputi dana investasi,
pengelolaan, serta makanan dan minuman.
Hotel dan Wisata Syariah memerlukan Sertifikasi dari LPPOM MUI, sedangkan
Hotel dan Wisata Konvensional tidak memerlukannya.
Perkembangan pariwisata syariah di Indonesia masih kurang berkembang seperti Negara
Malaysia yang sudah memiliki banyak program pariwisata syariah.

DAFTAR PUSTAKA

Arrahmah.com/news/2013/11/26/wisata-syariah-artifisial-substansial.html
Beritamanado.com/pariwisata-dan-perubahan-lingkungan/
Bisnis.com/industri/read/20140111/12/196814/pariwisata-syariah-mui-siap-lakukansertifikasi-hotel-halal.

Hotel & Pariwisata Syariah

Page 13

Hidayatullah.com/read/2013/11/02/7114/kemenparekraf-luncurkan-produk-wisata
syariah-dengan-prospek-menjanjikan.html
Jafari, Jafar dan Noel Scott. 2013. Muslim World and Its Tourism. Annals of Tourism
Research 44 (2014) 1-19
Parekraf.go.id/asp/detil.asp?c=16&id=2042
Parekraf.go.id/asp/detil.asp?c=16&id=2466
News.detik.com/read/2010/07/12/180032/1397809/159/geliat-bisnis-di-hotel-syariah.
Properti.kompas.com/read/2013/07/24/1335531/Bisnis.Hotel.Syariah.Menjanjikan
Travel.okezone.com/read/2012/12/24/407/736528/kemenparekraf-bersiapkembangkan-wisata-syariah/large
Pusat Pengkajian dan Pengembangan Ekonomi Islam (P3EI) Universitas Islam
Indonesia (UII) Yogyakarta 2013. Ekonomi Islam. Raja Grafindo. Jakarta.

Hotel & Pariwisata Syariah

Page 14