Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Kecenderungan dan arah perkembangan

keperawatan

terus

mengalami

perubahan. Dahulu asuhan diberikan atas dasar naluriah, sebagai ungkapan kasih
sayang seorang ibu terhadap anggota keluarganya yang sakit. Dan juga pelayanan
keperawatan lebih bersifat pelayanan vokasional atau tradisional, sekarang mulai
dikaji atau dipelajari dan dikembangkan atas dasar kaidah-kaidah ilmiah , sebab ilmu
keperawatan merupakan ilmu terapan, sintesis dari ilmu-ilmu dasar dan ilmu
keperawatan.( kusnanto, 2004 )
Pelayanan keperawatan di Indonesia berkembang kearah pelayanan keperawatan
profesional Pada tahun 1945. Dalam persiapan kearah profesionalsasi maka pada
tahun 1974 dibentuk organisasi Persatuan Perawat Nasional Indonesia yang
merupakan gabungan dari beberapa organisasi keperawatan sebelumnya (Ali Zaidin,
2002).
Menurut Malkemes, L.C. dalam kusnanto 2004

mengatakan bahwa praktik

keperawatan profesional (Professional Nursing Practice ) adalah suatu proses ketika


Ners terlibat dengan klien, dengan melalui kegiatan ini masalah kesehatan klien
diidentifikasi dan diatasi.
Salah satu proses intervensi keperawatan profesional yang dilakukan dalam
mengatasi masalah yang dihadapi klien ialah melalui proses pembedahan. Hak pasien
untuk menentukan intervensi pembedahan yang akan dilaksanakan dilindungi oleh
proses informed consent . Dimana proses pembedahan merupakan proses yang besar
buat klien maupun keluarga klien, Walupun tenaga profesional melakukan
pembedahan minor. Proses pembedahan merupakan suatu proses bifastik yang
berimplikasi dalam pengelolaan nyeri.

Pemulihan pasien post operasi membutuhkan waktu rata-rata 72,45 menit,


sehingga pasien akan merasakan nyeri yang hebat rata-rata pada dua jam pertama
sesudah operasi karena pengaruh obat anastesi sudah hilang, dan pasien sudah keluar
dari kamar sadar ( mulyono dalam Iin pinandita dkk jurnal ilmiah 2012 ).
Perawat berperan dalam mangidentifikasi kebutuhan-kebutuhan pasien dan
membantu serta menolong pasien dalam memenuhi kebutuhan manajeman nyeri
( Lawrence, dalam Iin pinandita dkk jurnal ilmiah 2012 ).
Nyeri dialami hampir oleh setiap orang, nyeri didefinisikan sebagai perasaan
yang subjektif dimana setiap orang memiliki perasaan nyeri yang berbeda. Nyeri
dirasakan hanya oleh orang yang mengalaminya. Nyeri memiliki intensitas dan
ambang nyeri yang berbeda tiap orang satu sama lainnya, sekalipun ia kembar
identik.
Banyak faktor yang mempengaruhi rasa nyeri, dan hal ini berdampak pada
intervensi keperawatan yang dilakukan untuk pencegahan dan mengurangi respon
nyeri. Manajeman nyeri merupakan salah satu intervensi utama keperawatan yang
dimana dalam prosesnya memerlukan seni dan pengetahuan keperawatan. secara
garis besar terdapat 2 manajeman nyeri yaitu secara farmakologi dan nonfarmakologi.
Tekhnik farmakologi ialah cara yang paling efektif untuk menghilangkan rasa
nyeri terutama untuk nyeri yang sangat hebat yang berlangsung selama berjam-jam
atau bahkan berhari-hari (smeltzer and bare dalam Iin pinandita jurnal ilmiah 2012).
Metoda nyeri nonfarmakologi memiliki resiko yang sangat rendah dan
mengurangi intensitas nyeri dan ambang nyeri. Beberapa tekhnik dalam menejemen
nyeri nonfarmakologi ( 2006 ) yaitu ; penangana fisik, stimulasi kulit : kompres
dingin, hangat, massage, stimulasi elektrik ( TENS ), akupuntur, placebo. Intervensi
perilaku kognitif meliputi : intervensi, umpan balik biologis dan guided imagery
( imajinasi terbimbing ).
Dari hasil observasi penulis dan wawancara kepada perawat setingkat vokasional
selama melakukan peraktik belajar kelinik periode 2011 dari tanggal 14 november

hingga 20 Desember di RSUD cibabat di ruang bedah, diperoleh data bahwa perawat
sebagian besar hanya melakukan tekhnik relaksasi nafas dalam dan jarang ditemukan
perawat melakukan tekhnik lain dan Dari hasil telaah jurnal bahwa manajemen nyeri
dilakukan setelah operasi karena Pasca pembedahan pasien merasakan nyeri hebat,
75% penderita mempuyai pengalaman yang kurang menyenangkan akibat
pengelolaan nyeri yang tidak adekuat ( sutanto, 2004 cit Novarizki, 2009 dalam
jurnal ilmiah diunduh tanggal 19 Desember 2012).
Dari data diatas peneliti tertarik ingin mengetahui pengetahuan perawat mengenai
manajeman nyeri nonfarmakologi di ruang bedah RSUD Cibabat Cimahi tahun 2013.
B. Perumusan masalah
Berdasarkan fenomena dan paparan dalam latar belakang masalah tersebut
peneliti tertarik mengetahui Bagaimanakah pengetahuan perawat tentang manajemen
nyeri di ruang bedah RSUD Cibabat cimahi tahun 2013.
C. Tujuan penelitian
a. Tujuan umum
Bagaimanakah pengetahuan perawat tentang manajmen nyeri di ruang bedah
RSUD Cibabat cimahi tahun 2013.
b. Tujuan khusus
1. Bagaimanakah pengetahuan tentang cara menurunkan rasa nyeri
2. Bagaimanakah pengetahuan perawat tentang nyeri
3. Bagaimanakah pengetahuan perawat tentang pengertian manajeman nyeri
non farmakologi
4. Bagaimanakah pengetahuan perawat tentang macam-macam manjeman
nyeri non farmakologi
5. Bagaimanakah pengetahuan perawat tentang tekhnik-tekhnik manajeman
nyeri
D. Manfaat penelitian
a. Manfaat praktisi
1.Mengingat kompleknya aspek nyeri, dan banyaknya keluhan ini ditemukan
pada pasien maka sudah saatnya perawat membentuk suatu tim keperawatan
yang khusus menangani nyeri baik ditatanan rawat jalan maupun rawat inap.

2.Memotivasi perawat untuk melaksanakan intervensi keperawatan dengan


benar berdasarkan pada hasil penelitian-penelitian terkini
b. Manfaat akademis bagi pengembangan
Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam manajeman nyeri bagi
institusi pendidikan maupun instansi lain.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Teori Dasar
1. Konsep perilaku
Dari segi biologis, perilaku adalah suatu kegiatan atau aktifitas organisme
(mahluk hidup) yang bersangkutan. Sehingga yang dimaksud dengan perilaku
manusia, pada hakikatnya adalah tindakan atau aktifitas dari manusia itu sendiri
yang terbentang luas antara lain : berjalan, berbicara, menangis, tertawa dll. Dari
uraian ini dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud perilaku (manusia) adalah
semua kegiatan atau aktifitas manusia, baik yang dapat diamati langsung ataupun
yang tidak dapat di amati oleh orang lain ( Notoatmodjo, 2007)
Skiner dalam Notoatmodjo 2007 seorang ahli psikologi, merumuskan bahwa
perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan
dari luar). Oleh karena perilaku ini terjadi melalui proses adanya stimulasi
terhadap organisme, dan kemudian organisme tersebut merespon, maka teori

skiner ini disebut teori S-O-R atau Stimulasi Organisme Respon. Terdapat 2
respon yaitu:
a. Respondent respons atau reflexive, yaitu respon yang ditimbulkan oleh
rangsangan-rangsangan

(stimulus)

tertentu.

Disebut

juga

eliciting

stimulation karena menimbulkan respon yang tetap Mis : melihat makanan


yang lezat menimbulkan keinginan untuk makan. Respondent respon ini
juga mencakup perilaku emosional, mis: mendengar berita musibah menjadi
sedih.
b. Operant respons atau instrumental respons, yaitu respon yang timbul dan
berkembang kemudiaan diikuti oleh stimulus atau perangsangan tertentu
disebut juga Reinforcing stimulation karena memperkuat respon mis :
penghargaan hasil kerja keras.
Dari bentuk respon terhadap stimulasi ini, perilaku dibedakan menjadi
a. Perilaku tertutup ( covert behaviour )
Respon atau reaksi masih terbatas pada perhatian,

persepsi,

pengetahuan/kesadaran, dan sikap yang terjadi pada orang yang menerima


stimulus tersebut, dan belum dapat dia amati secara jelas oleh orang lain.
b. Perilaku terbuka ( overt behaviour )
Respon seseorangterhadapa stimulus dalam bentuk tindakan nyata atau
terbuka. Respon terhadap stimulus tersebut sudah jelas dalam bentuk
tindakan atau praktik yang dengan mudah dapat diamati oleh orang lain.
Meskipun perilaku adalah bentuk respon atau reaksi terhadap stimulus atau
rangsangan dari luar organisme( manusia ), namun dalam memeberikan respon
sangat tergantung pada karakteristik atau faktor-faktor lain dari orang yang
bersangkutan.faktor-faktor yang membedakan respon terhadap stimulus yang
berbeda disebut determinan perilaku, yang dibedakan menjadi 2 yaitu :
a. Faktor internal, yakni karakteristik orang yang bersangkutan, yang bersifat
bawaan.
b. Faktor eksternal, yakni lingkungan fisik, sosial, budya, ekonomi, politik.
Faktor ini sering menjadi dominan yang mewrnai perilaku sesorang.

Dari uraian diatas daapat di simpulkan perilaku manusia ialah totalitas


penghayatan dan aktivitas seseorang, yang merupakan gabungan dari faktor
internal dan faktor eksternal. Benyamin bloom ( 1908 ) seorang ahli psikologi
pendidikan membagi perilaku manusia ituke dalam 3 kawasan yaitu : a) kognitif,
b) afektif, c) psikomotor. Teori bloom ini dimodifikasi untuk pengukuran hasil
pendidikan kesehatan yakni :
a. Pengetahuan
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang
melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Sebagian besar
Taksonomipengetahuan
bloom
Memunculkan
kembali
yang sudah
diketahui
manusia diperoleh
melalui mata
danapatelinga.
Pengetahuan
dan tersimpan dalam ingatan jangka panjang
merupakan domain yang penting dalam membentuk perilaku manusia.
1) Proses
adopsi perilaku 1. Mengenali lagi
Mengingat
Dari pengalaman dan penelitian terbukti bahwa perilaku yang
2. Menyebutkan kembali
Menegaskan
makna
bahan-bahan
didasari oleh pengetahuan
akan lebihpengertian
langgeng atau
daripada
perilaku
yang
yang sudah di ajarkan mencakup lisan, tulisan, dan
tidak didasari pengetahuan.
Penelitian Rogers(1974) Sebelum orang
gambar.
mengadopsi perilaku baru,
di dalam disi sesorang
terjadi peroses yang
1. Menafsirkan
6. Membandingkan
Memahami
berurutan yaitu :
2. Memberi contoh 7. Memberikan penjelasan
1. Kesadaran
2. Ketertarikan
3. Mengelompokan
3. Menimbang-nimbang
Melakukan sesuatu, atau menggunakan
4. Meringkas
4. Mencoba
5. Mengaplikasikan
Berperilaku
prosedur dalam situasi tertentu
5. Melakukan
Namun demikian, penelitian
rogersinferensi
selanjutnya mengatakan bahwa
1. Melaksanakan
perubahan perilaku tidak selalu melawati tahap-tahap tersebut.
2. Menerapkan
Apabila penerimaan perilaku
baru melalui proses seperti ini didasari
Menguraikan sesuatu ke dalam bagian-bagian
Menganalisis
dan menentukan
oleh pengetahuan, kesadaran, yang
dan membentuknya,
sikap yang positif,
maka perilaku
bagaimana bagian-bagian tersebut satu sama
tersebut akan langgeng ( long lasting
). terkait.
lain saling
1. membeda-bedakan
2) Tingkat pengetahuan di dalam domain kognitif
Evaluasi
2. menyusun
Pengetahuan yang tercakup
dalam domain kognitif mempunyai 6
Menilai menetapkan derajat sesuatu berdasarkan
tingkatan yang mengalamikriteria
revisi atau
yaitupatokan
:
tertentu
1. Mengecek
Membuat

2. Mengkritisi
Mencipta memadukan unsur-unsur menjadi suatu
bentuk utuh yang koheren dan baru, atau membuat
sesuatu yang orsinil
1. memunculkan 2. Merencanakan 3. Menghasilkan

Bagan 1.1. Taksonomi bloom


b. Sikap
Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang
terhadap suatu stimulus atau objek. Newcomb, salah seorang ahli psikologi
sosial, menyatakan bahwa sikap itu merupakan kesiapan atau kesediaan
untuk bertindak, dan bukan merupakan pelaksanaan motif tertentu. Sikap
belum merupakan predisposisi tindakan suatu perilaku. Sikap masih
merupakan reaksi tertutup, bukan merupakan reaksi terbuka atau tingkah laku
yang tebuka. Sikap merupakan kesiapan untuk berkreasi terhadap objek di
lingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap objek.

Stimulus
Proses
Bagan 1.2 Proses terbentuknya sikap
dan reaksi
stimulus
Rangsanga
n
1) Komponen
sikap

Reaksi

Tingkah
laku
Dalam bagian lain Allport ( 1954 ) menjelaskan bahwa sikap itu
(terbuka)
mempunyai 3 komponen pokok. Sikap
1. Kepercayaan ( keyakinan ), ide, dan konsep terhadap suatu objek.
(tertutup)

2. Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu objek.


3. Kecenderunagn untuk bertindak
Ketiga komponen ini secara bersama-sama membentuk sikap yang
utuh. Dalam penentuan sikap yang utuh ini, pengetahuan, pikiran,
keyakinan, dan emosional memegang peranan penting.
2) Berbagai tingkatan sikap
Seperti halnya pengetahuan, sikap ini memiliki berbagai tingkatan.
1. Menerima
Menerima diartikan bahwa orang mau dan memperhatikan
stimulus yang diberikan.
2. Merespon
Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan, dan
menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indiksi dari sikap.
3. Mengahargai
Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan
suatu masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat 3.
4. Bertanggung jawab
Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala
resiko merupakakn sikap yang paling tinggi.
c. Praktik atau Tindakan
Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan, untuk
mewujudkan sikap menjadi suatu perbuatan nyata diperlukan faktor
pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan, antara lain fasilitas.
Disamping faktor fasilitas, juga diperlukan faktor dukungan dari pihak lain.
Parktik ini mempunyai beberapa tingkatan.
1. Persepsi
Mengenal dan memilih berbagai objek sehubungan dengan tindakan
yang akan diambil.
2. Respon terpimpin
Dapat melakukan sesuatu sesuai dengan urutan yang benar dan
sesuai dengan contoh.
3. Mekanisme
Apabila seseorang telah dapat melakukan sesuatu dengan benar
secara otomatis, atau sesuatu itu sudah menjadi suatu kebiasaan.
4. Adaptasi

Adalah tsuatu praktik atau tindakan yang sudah berkembang dengan


baik. Artinya tindakan itu sudah dimodifikasinya tanpa mengurangi
kebenaran tindakan tersebut.
d. Determinan dan perubahan perilaku
Faktor penentu atau determinan perilaku manusia sulit untuk di batasi
karena perilaku merupakan resultan dari berbagai faktor, baik internal
maupun eksternal. Secara garis besar perilaku manusia dapat dilihat dari 3
aspek, yakni aspek fisik, psikis, sosial.
Spranger membagi keperibadian manusia itu menjadi 6 macamnilai
kebudayaan. Keperibadian seseorang ditentukan oleh salah satu nilai budaya
yang dominan pada diri orang tersebut. Selanjutnya, keperibadian tersebut
akan menentukan pola dasar perilaku manusia yang bersangkutan.

Pengetahu
an

Pengalama
n Bagan 1.3 Determinan Persepsi
perilaku manusia
Perilaku
Beberapa teori lain yang telah dicoba untuk mengungkapkan determinan
Keyakinan
Sikap
perilaku dari analisis faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku, khususnya
Fasilitas
Keinginan
perilaku yang berhubungan dengan kesehatan antara lain teori WHO.
SosioTeori ini mengatakanKehendak
yang menyebabkan seseorang itu berperilaku
budaya
Motivasi
tertentu adalah karena adanya
4 alasan pokok yaitu :
a. Pemikiran dan perasaan
Niat
Dapat diartikan pertimbanan-pertimbangan
pribadi terhadap objek
atau stimulus, merupakan modal awal untuk bertindak atau berperilaku.
b. Adanya acuan atau referensi dari seseorang yang dipercayai
Apabila seseorang itu penting untuknya, maka apa yang ia katakana
atau perbuatan cenderung dicontoh.
c. Sumber daya

Mencakup fasilitas, uang, wakt, tenaga, dll. Semua itu berpengaruh


terhadap perilaku seseorang atau kelompok masyarakat. Pengaruh
sumber daya terhadap perilaku dapat bersifat positif mapun negatif.
d. Sosiobudaya
kultur setempat biasanya sangat berpengruh terhadap terbenntuknya
perilaku seseorang.
2. Manajeman nyeri
a)
Pengertian nyeri
Nyeri merupakan pengalaman sensori dan emosional yang tidak
menyenangkan akibat dari kerusakan jaringan yang aktual dan potensial.
Nyeri adalah alasan utama seseorang untuk mencari bantuan perawatan
kesehatan ( Fahrun dkk, 2010)
Nyeri adalah suatu mekanisme protektif bagi tubuh; ia timbul
bilamana jaringan sedang dirusak, dan ia menyebabkan indivu tersebut
bereaksi untuk menghilangkan rasa nyeri tersebut ( Guyton, 1990 ).
Nyeri merupakan respon subjektif dimana seseorang memperlihatkan
tidak nyaman seseorang memperlihatkan tidak nyaman secara verbal
maupun non verbal atau keduanya, akut maupun kronis ( Engram, 1999 )
Dari ketiga pengertian tersebut nyeri merupakan perasaan seseorang
tentang perlukaan terhadap tubuh yang merespon individu tersebut untuk
mengurangi dan bahkan menghilangkan rasa nyeri tersebut dengan
bantuan perawatan kesehatan.
b)

Pengertian manjeman nyeri


Kata Manajemen berasal dari bahasa Prancis kuno mnagement,
yang memiliki arti seni melaksanakan dan mengatur. Manajemen belum
memiliki definisi yang mapan dan diterima secara universal. Mary Parker
Follet, misalnya, mendefinisikan manajemen sebagai seni menyelesaikan
pekerjaan melalui orang lain.
Manjeman nyeri ialah seni mengatur suatu pengalaman sensorik dan
emosional yang tidak menyenangkan, yang berkaitan dengan kerusakan

jaringan yang nyata atau yang berpotensi untuk menimbulkan kerusakan


jaringan, pada orang lain ataupun diri sendiri. Pastinya sebagai praktisi
Medis atau Paramedis sudah sangat akrab sekali dengan istilah
manajemen nyeri, namun sayang sekali masih jarang di lapangan para
praktisi medis atau paramedis mempraktekannya.
c)

Respon terhadap nyeri


Respon terhadap nyeri meliputi respon fisologis dan respon perilaku.
Untuk nyeri akut respon fisiologisnya adanya peningkatan tekanan darah
( awal ), peningkatan denyut nadi, peningkatan pernafasan, dilatasi pupil,
dan keringat dingin, dan respon perilakunya adalah gelisah, ketidak
mampuan berkonsentrasi, ketakutan dan dissstress. Sedangkan nyeri
kronis respon fisologisnya adalah tekanan darah normal, denyut nadi
normal, respirasi normal, pupil normal, kulit kering dan respon
perilakunya berupa imobilisasi dan ketidak aktifan fisik, menarik diri,
dan putus asa, karena tidak ditemukan tanda-tanda khusus maka tim
kesehatan, perawat khususnya menjadi tidak mudah untuk dapat
mengidentifikasinya.

d)

Hambatan dalam memberikan manajeman nyeri yang tepat


Menurut Blumenfield dalam andaners 2010 Terdapat 2 hambatan
dalam menejemen nyeri yaitu :

1. Ketakutan akan timbul adiksi


Serigkali pasien, keluarga pasie, dan tenaga kesehatanpun
mempunyai asumsi akan terjadinya adiksi terhadap penggunaan
analgetik bagi pasien yang mengalami nyeri, adiksi sering diartikan
sama dengan toleransi dan ketergantungan fisik. Ketergantungan
fisik adalah munculnya sindrom putus zat akibat penurunan dosis zat

psikoaktif atau penghentian zat tersebut secara mendadak. Toleransi


adalah kebutuhan untuk terus meningkatkan dosis zat psiko aktif
guna untuk mendapatkan efek yang sama, sedangkan adiktif adalah
suatu perilaku yang merujuk kepada penggunaan yang berulang dari
penggunaan zat psikoaktif.
2. Pengetahuan yang tidak adekuat
Pengetahuan yang tidak memadai tentang manjemen nyeri
merupakan alasan yang paling umum yang memicu terjadinya
manjemen nyeri yang tidak memadai tersebut, untuk itu kualitas
pendidikan sangatt diperlukan sehingga tercipta tenaga kesehatan
yang handal, salah satu trobosan yang sudah dilakukan adalah
dengan masuknya topik nyeri dalam modul PBL dalam pendidikan
keperawatan

hal

ini

diharapkan

menjadi

percepatan

dalam

pendidikan profesi keperawatan menuju pada perawat yang


professional.

e)

Penanganan nyeri
Dalam penangan nyeri dibagi menjadi dua yaitu penangan nyeri
farmakologi dan non farmakologi.
1. Manejeman nyeri farmakologi
Terdapat 3 kelompok utama obat untuk menangani nyeri :
a. Analgetik golongan non narkotik
b. Analgetik golongan narkotik
c. Adjuvan
2. Prosedur infasiv
Prosedur yang biasa dilakukan ialah dengan memasukan opioid
ke dalam ruang epidural atau subarakhnoid malui intraspinal, cara ini
dapat memberikan efek anlgetik yang sangat kuat tetapi dosis nya

sedikit. Prosedur lain nya ialah blok saraf, stimulasi spinal, stimulasi
columnadorsalis
3. Manjeman nyeri non farmakologi
Pendekatan non farmakologi biasanya menggunakan terapi
perilaku ( hypnosis dan biofeedback ), pelemas otot relaksasi,
akupuntur, terapi kognitf ( distraksi ), restrukturisasi kognitif,
imajinasi dan terapi fisik. Nyeri bukan hanya karena unik karena
sangat berbeda satu sama lain mengingat sifatnya yag individual,
termasuk penangannya pun kita menemukan keunikannya tersebut.
f)

Jenis-jenis manjeman nyeri


Manajeman nyeri cukup efektif dalam mengatasi nyeri, yakni dengan
perasaan control, mengurangi perasaan tidak berdaya dan putus asa,
menjadi metoda pengalihan yang menenangkan, serta menganggu siklus
nyeri, ansietas, dan ketegangan ( slomon dalam andaners 2010 ). Ada
beberapa manjeman nyeri yaitu :
1. Relaksasi
Relaksasi merupkan kebebasan mental dan fisik dari ketegangan
dan stress. Reksasi merupakan metodeyang efektif terutama pada
pasien yang mengalami nyeri kronis. Latihan pernafasan dan tekhnik
relaksasi menurunkan konsumsi oksigen, frekuensi pernafasan,
frekuensi jantung, dan ketegangan otot, yang menghentikan siklus
nyeri-ansietas-ketegangan otot ( Mccaffery dalam andaners 2010 ).
Ada tiga hal yang utama yang diperlukan dalam relaksasi yaitu :
posisi yang tepat, pikiran beristirahat, lingkungan yang tenang.
Tekhnik relaksasi efektif untuk nyeri kronik dan memberikan
beberapa keuntungan yaitu :
1. Relaksasi akan menurunkan ansietas yang berhubungan denagn
nyeri atau stress

2.
3.
4.
5.
6.

Menurunkan nyeri otot


Membantu individu melupakakan nyeri
Meningkatkan periode istirahat dan tidur
Meningkatkan keefektifan terapi nyeri lain
Menurunkan perasaan tak berdaya dan depresi yang timbul
akibat nyeri
Adapun tekhnik yang di anjurkan oleh steward dalam andaners

2010 yaitu :
1. Klien menarik nafas dalam dan menahannya dalam paru
2. Secara perlahan kleuarkan udara dan rasakan tubuh menjadi
rileks dan rasakan betapa nyamannya hal itu
3. Klien bernafas normal danberirama dalam beberpa waktu
4. Klien mengambil nafas dalam kembali dan keluarkan secara
perlahan-lahan. Pada saat ini biarkan lapak kaki rilek. Perawat
meminta kepada klien untuk mengkonsentrasikan fikiran pada
kakinya yang terasa ringan dan hangat
5. Ulangi langkah 4 dan konsentrasikanfikiran pada lengan, perut,
punggung dan kelompok otot lainnya
6. Setelah klien merasa rilek, klien dianjurkan bernafas secara
perlahan. Bila nyeri menjadi hebat klien dapat bernafas secara
dangkal dan cepat
2. Distraksi
Ialah mengalihkan perhatian terhadap nyeri, efektif untuk nyeri
ringan sampai sedang. Peredaan nyeri secara umum berhubungan
langsung dengan partisipasi aktif individu, banyaknya modalitas
sensori yang digunakan dan minat individu dalam stimulasi, oleh
karena itu, stimulasi penglihatan, pendenagran dan sentuhan
mungkin akan lebih efektif dalam menurunkan nyeri dibandingkan
stimulus satu indera saja ( Tamsuri dalam andaners 2010 ).
a. Distraksi visual

Adapun yang termasuk ke dalam distraksi ini Misalnya


menonton televisi, membaca Koran, melihat pemandangan dan
gambar, menonton pertandingan.
b. Distraksi pendengaran
Mendengarkan music, mendengarkan gemericik air termasuk
kedalam distraksi pendengaran. Adapun dalam melakukan
distraksi ini klien diperbolehkan bergoyang mengikuti irama lagu
yang di pilih oleh klien sendiri.
c. Distraksi pernafasan
Yang termasuk kedalam tekhnik ini ialah bernafas ritmik
dimana tekhnik ini hamper sama dengan tekhnik relaksasi. Klien
di anjurkan untuk memejamkan mata dan membayangkan hal
yang indah. Dan selajutnya selama pasien melakukan hal tersebut
lakukam massage di daerah yang mengalami nyeri.
d. Distraksi intelektual
Distraksi ini dilakukan dengan cara mengisi teka-teki silang,
bermai kartu dan melakukan kegemaran seperti menulis cerita
ataupun mengumpulkan perangko.
3. Imajinasi terbimbing
Ialah kegiatan klein membuat

suatu

bayangan

yang

menyenangkan dan mengkonsentrasikan diri pada bayangan tersebut


serta berangsur-angsur membebaskan diri dari perhatian terhadap
nyeri. Tujuan tekhnik ini ialah untuk mengurangi stress dan
meningkatkan perasaan tenang dan damai serta merupakan obat
penenang

untuk situasi yag sulit dalam kehidupan, imajinasi

terbimbing atau imajinasi mental merupakan suatu tekhnik untuk


mengjkaji kekuatan pikiran saat sadar dan tidak sadar untuk

menciptakan bayangan gambar yang membawa ketenangan dan


keheningan ( National Safe Council dalam andaners 2010 ).
a. Guided walking imagery
Pada tekhnik ini pasien dianjurkan untuk mengimajinasikan
pemandangan standar seperti padang rumput, pegunungan,
pantai.
b. Autogenic abeaction
Dalam tekhnik ini pasien diminta untuk memilih sebuah
perilaku negatife yang ada dalam pikirannya kemudian pasien
mengungkapkan secara verbal tanpa batasan. Bila berhasil akan
tampak perubahan dari raut muka pasien dan emosional.

c. Covert sensitization
Merupakan hasil paradigm reinforcement bahwa proses
imajinasi dapat dimodifikasi berdasarkan pada prinsip yang sama
dalam modifikasi perilaku.
d. Covert behavior rehearsal
Tehnik ini dilakukan untuk mengimajinasikan perilaku
koping yang klien inginkan.
4. Penanganan fisik
a. Stimlasi kulit ( cutaneus )
1. Kompres hangat
Kompres hangat adalah memberikan rasa hangat pada
daerah tertentu dengan menggunakan cairan atau alat yang
menimbulkan

rasa

hangat

pada

bagian

tubuh

yang

memerlukan. Tindakan ini selain untuk melancarkan


sirkulasi darahjuga untuk mengurangi rasa sakit, merangsang
peristaltic usus, pengeluaran getah radang menjadi lancer,
dan memberikan ketenangan dan kesenangan pada klien.

Prosedur kompres hangat


Catatan botol berisi air tidak lagi digunakan di fasilitas
kesehatan. Tetapi karena penggunaannya tersebar di luas dii
ruamh-rumah, maka prosedurini dimasukan.
a. Cuci tangan
b. Mempersiapkan peralata yang dibutuhkan
1. Kantong air panas
2. Handuk kertas
3. Termometar
4. Wadah tempat air panas
5. Penutup
c. Siapkan botol air panas
1. Isi wadah dengan air dan periksa ketetapan
temperature, temperature air kira-kira 115O F atau =
2. Isi kantong air panas sepertiga sampai setengahnya
untuk menhindari berat yang tidak di perlukan.
3. Keluarkan udara dalam kantong.
4. Keringkan kantong air panas dengan handuk kertas,
periksa kantong untuk melihat bocor atau tidaknya
5. Bungkus kantung air panas agar tidak langsung
mengenai kulit klien.
d. Membawa peralatan dalam baki ke sisi tempat tidur
e. Kompreskan kantong tersebut di daerah yang sakit.
Jangan membiarkan pasien berbaring diatas kantong air
f.

panas.
Periksa kondisi kulit

2. Kompres dingin
Kompres dingin ialah memberi rasa dingin pada daerah
setempat dengan menggunakan kain atau kantung yang
diberi air atau es sehingga memberi efek rasa dingin pada
daerah tersebut.
Prosedur kompres dingin
a. Cuci tangan
b. Menyiapkan peralatan
c. menyiapkan ice cap
d. membawa peralatan dengan baki ke sisi tempat tidur
e. melakukan semua tindakan awal prosedur

f.

ingatlah

untuk

selalu

mencucui

tangan

anda,

mengidentifikasi pasien, dan memberi privasi.


g. Kompreskan kantong es pada area yang sakit dengan
penutul logam jauh dari peasien
h. Isi kembali kantong tersebut sebelum semua es mencair
i. Periksa area kulit setiap kali pengompresa. Laporkan
dengan segera pada perawat jika kulit mengalami
dislokolorasi atau memutih atau klien melaporkan
j.

kulitnya mati rasa.


Lakukan semua tindakan

penyelaesaian

prosedur.

Ingatlah untuk mencuci tangan anda, menulis laporan


penyelesaian tugas, dan mendokumentasikan waktu, area
pengompresan, dan lama pengompresan serta reaksi
pasien.
k. Setelah kantong es selesai digunakan, cuci degan dengan
sabun dan air, bilas, keringkan dan gantung menghadap
ke atas. Biarkan udara dalam kantug agar dinding
l.

kantung tidak saling melekat.


Jika menggunakan kantong yang dapat dipakai kembali,
cuci kantog tersebut secara menyeluruh dengan air dan
sabun dan kembalikan lagi ke lemari pendingin. Buang
kantong es yang sekali pakai.

3. Massage
Ialah tindakan penekanan oeh tangan pada jaringan
lunak,

biasanya

otot

tendon

atau

ligament,

tanpa

menyebabkan pergeseran atau perubahan posisi sendi guna


menurunkan

nyeri,

menghasilkan

meningkatkan sirkulasi.

relaksasi

dan

atau

Pada prinsipnya rangsangan berupa usapan pada saraf


yang berdiameter besar yang banyak pada kulit

harus

dilakukan awal rasa sakit atau sebelum impuls rasa sakit


yang berdiamet kecil mancapai korteks serebral. Beberapa
macam massage yang merangsang saraf berdiameter besar
yaitu :
a. Metode effleurage ialah bentuk stimulasi kulit yang
digunakan selama proses persalinan dalam menurunkan
nyeri secara efektif. Effleurage yaitu tekhnik pemijatan
berupa usapanlembut, lambat dan panjang atau tidak
putus-putus. Dengan cara dalam posisi setengah duduk
letakkan kedua telapak tanagan pada perut dan secara
bersamaan digerakan melingkar kearah pusat ke simpisis
( tualang kemaluan ). Atau dengan satu tangan dengan
gerakan melingkar atau satu arah. Dapat dilakukan oleh
pasien.
b. Metode deep back yaitu dengan cara pasien berbaring
miring, kemudian bidan atau keluarga pasien menekan
daera tulang ekor ( secrum ) secara mantap dengan
telapak

tangan,

lepaskan

dan

tekan

lagi

begitu

seterusnya.
c. Metode firm counter pressure pasien dalam keadaan
duduk kemudian bidan atau keluarga pasien menekan
daerah secrum secara mantap dengan telapak tangan,
lepaskan dan tekan lagi, begitu seterusya.
d. Abdominal lifting memperlakukan pasien dengan cara
membaringkan pasien pada posisi terlentang dengan

posisi kepala agak tinggi. Letakkan tangan pada


pinggang belakan pasien, kemudian secara bersamaan
lakukan usapan yang berlawanan kearah puncak perut
tanpa

menekan

kearah

dalam

kemudian

ulangi

seterusnya ( Gadysa dalam andaners 2010 ).


4. TENS ( stimulasi elektrik )
Cara kerja dari site mini belum jelas, salah satu
pemikiran adalah cara ini bisa melepaskan endofrin,
sehingga bisa memblok stimulasi nyeri. Metode ini
merupakan stimulasi pada kulit dengan menggunakan arus
listrik ringan yang dihantarkan elektroda luar.
5. Akupuntur
Akupuntur merupakan pengobatan yang sudah sejak
lama digunakan untuk mengobati nyeri. Jarum-jarum kecil
yang dimasukan pada kulit, bertujuan menyentuh titik-titik
tertentu , tergantung pada lokasi nyeri, yang dapat memblok
transmisi nyeri ke otak.
6. Placebo
5. Hipnosis
Hypnosis yang berasal dari bahasa yunani diambil dari salah satu
nama Dewa yunani yaitu hypnos yang berarti tidur . Namun
sebenarnya fenomena hypnosis bukanlah Tidur yang sesungguhnya,
melainkan kondisi seperti tidur
Dan berdasarkan pengalaman pribadi saya mempraktekan
manajemen nyeri dengan menggunakan metode hypnosis, Baik
dengan pasien secara langsung ataupun kepada peserta training
berikut tehknik yang saya gunakan :

1. Membawa klien kedalam kondisi deep trance terlebih dahulu


lalu dimasukan sugesti-sugesti, tahapan singkatnya adalah
sebagai berikut :
Pre Induction Hypnotist (seseorang yang menggunakan
keilmuan hypnosis) melakukan pendekatan kepada klien,
agar terjalin hubungan yang baik dan nyaman diantara

hypnotist dan Klien.


Induction Membawa Klien dari kondisi pikiran sadar masuk
ke kondisi pikiran bawah sadar, dengan merilekskan pikiran

dan tubuh klien


Deepening Memperdalam kondisi rileksn klien.
Induction Sugestion Memasukan sugesti-sugesti untuk
menghilangkan rasa nyeri dibagian tubuh tertentu lalu

dilakukan tindakan.
Termination Mengembalikan Klien ke kondisi normal
dengan memberikan sugesti positif sebelumnya. Aplikasi :

Bedah minor (khitan), Hacting (jahit luka), dll.


2. Mengajak Klien untuk berbicang-bicang lalu dilakukan tindakan
pada saat klien terdistraksi. Aplikasi : Injeksi (suntik)
a. Meditasi
Merupakan tekhik kesadaran untuk membantu menenangkan
pikiran dan bersantai tubuh.
1)
Meditasi transcendental
Pasien mengulang satu kata atau prase disebut mantra dan
diajarkan untuk memungkinkan pikiran lain dan perasaan
lulus.
2)
Mindfulness meditasi ( meditasi kesadaran )
Klien yang memfokuskan semua perhatiannya pada pikiran
dan sensai. Bentuk meditasi sering diajarka dalam programprogram pengurangan stress.
B. Hubungan konsep dengan masalah penelitian

Dilihat dari judul penelitian yaitu PENGETAHUAN PERAWAT TENTANG


MANAJEMAN NYERI DI RUANG BEDAH DEWASA DI RSUD CIBABAT
CIMAHI TAHUN 2013 bahwa konsep pengetahuan

sangat di butuhkan oleh

perawat, karena dalam menjalankan manajeman nyeri perawat di haruskan me


mahami dan mengatahui tindakan yang akan di kerjakan. Berdasarkan konsep diatas
bahwa sebagian besar perawat tidak melakukan manjeman nyeri dengan adekuat
ditandai dengan 75% penderita mempuyai pengalaman yang kurang menyenangkan
akibat pengelolaan nyeri yang tidak adekuat ( sutanto, 2004 cit Novarizki, 2009 ).
Pengetahuan di pengaruhi oleh beberapa faktor yaitu pengalaman, sosiobudaya,
keyakinan, fasilitas. Dimana dari keempat faktor tersebut pengetahuan menjadi hal
utama. Sehingga manajeman nyeri dapat dilakukan oleh perawat yang mengetahui
tindakan dan prosedur apa saja yang dapat dilakukan. Dalam hal ini pengetahuan
sangat di perlukan

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Variabel Penelitian
Variabel mengandung pengertian ukuran atau ciri yang dimiliki oleh anggotaanggota suatu kelompok yang berbeda dengan yang dimiliki oleh kelompok yang
berbeda.
Penelitian ini termasuk kedalam variabel deskrit ( kategorik ) dikarenakan
pengatahuan tidak dapat dinyatakan dengan pecahan dan dalam penelitian ini hanya
terdapat satu variabel yaitu pengetahuan perawat tentang manjeman nyeri di ruang
bedah.
B. Hipotesis penelitian
Hipotesis dalam suatu penelitian ialah jawaban sementara penelitian, patokan
dugaan atau dalil sementara.
Hipotesa dalam penelitian ini ialah :
Ho : pengetahuan perawat tentang manjeman nyeri di RSUD cibabat cimahi tahun
2013 baik.
Ha : : pengetahuan perawat tentang manjeman nyeri di RSUD cibabat cimahi tahun
2013 kurang.
C. Kerangka penelitian
Nyeri merupakan pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan
akibat dari kerusakan jaringan yang aktual dan potensial. Nyeri adalah alasan utama
seseorang untuk mencari bantuan perawatan kesehatan ( Fahrun dkk, 2010).
Klien atau orang yang mengalami nyeri mengiginkan nyeri itu berkurang atau
pun dihilangkan melalui manjeman nyeri.
Manjeman nyeri ialah seni mengatur suatu pengalaman sensorik dan emosional
yang tidak menyenangkan, yang berkaitan dengan kerusakan jaringan yang nyata atau
yang berpotensi untuk menimbulkan kerusakan jaringan, pada orang lain ataupun diri
sendiri ( Andaners 2010 ).

Dalam manjeman nyeri terdapat dua tiga yaitu secara farmakologi, infasive, dan
non farmakologi. Penelitian ini membicarakan tentang manjeman nyeri non
farmakologi.
Bagan 1.4 kerangka konsep
Pengalaman
Nyeri di
persepsik
an

Keyakinan
Fasilitas
Sosio budaya

tangani variabel penelitian dan skala pengukuran


D. Nyeri
Definisidioperasional
Judul
penelitian
:
dengan
PERAWAT TENTANG
manajeman nyeri PENGETAHUAN
Pengetahuan
Sikap perawat
MANJEMAN
NYERI
NON
FARMAKOLOGI
DI RUANG BEDAH
non farmakologi
perawat
tentang
dalam
RSUD CIBABAT
CIMAHI
TAHUN 2013
manjeman nyeri
melaksanaka
nondependen
farmakologi.
Berdasarkan judul penelitian variabel
nya ialah pengetahuan perawat
n manjeman
nyeri non
tentang manjeman nyeri non farmakologi.
farmakologi
No

Variabel

Definisi operasional

Alat
ukur

Hasil
ukur

Skala
ukur

Variabel dependen
1

Pengetahuan

Yang dimaksud

perawat tentang

pengetahuan perawat

manjeman nyeri non

tentang manjeman nyeri

farmakologi

meliputi
1. mengetahui tentang
tekhnik distraksi
2. mengetahui tentang
tekhnik imajinasi
terbimbing
3. mengetahui tekhnik

kuisioner

Ordinal

hypnosis
4. mengetahui tekhnik
kompres hangan dan
kompres dingin
5. mengetahui tekhnik
massage
6. mengetahui tekhnik
TENS ( stimulasi
elektrik )
7. mengetahui tekhnik
akupuntur
8. mengetahui tekhnik
umpan balik biologis

E. Rancangan penelitian
a. Jenis penelitian
Jenis penelitian ini ialah penelitian deskriptif

yang dilakukan untuk

mendeskpripsikan atau mengambarkan pengetahuan perawat tentang manjeman


nyeri non farmakologi di RSUD Cibabat cimahi tahun 2013.
b. Pendekatan waktu pengumpulan data
Penelitian ini dilakukan denagn pendekatan waktu cross sectional, dimana
pengumpulan data dilakukakan pada saat itu.
c. Populasi dan sampel penlitian
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdir atas : objek atau subjek yang
mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk
dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan ( Sugiono, 2012 ). Populasi penelitian
ini adalah seluruh perawat di ruang bedah dewasa di RSUD Cibabat Cimahi
tahun 2013, jumlah populasi adalah
Kriteri inklusi
1. Perawat baik perawat s1 maupun D3
2. Bersedia
3. Perawat yang kooperatif

4. Perawat yang tidak sedang mengambil cuti


Kriteria ekslusi
1. Perawat yang sedang cuti
2. Perawat yang tidak bersedia
d. Instrumen penelitian
Instrument yang digunakan ialah
e. Metode pengumpulan data
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner yang
merupakan tekhnik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi
seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawab.
Dan sumber data yang digunakan ialah primer.
f.

Teknik pengolahan dan analisa data


Mengunakan frequency

g. Etika penelitian
Dalam penelitian ini tiga perinsip utama etika yang perlu di fahami dan
diterapkan oleh peneliti adalah beneficence, menghargai martabat manusia, dan
mendapatkan keadilan.
1. Beneficence yang pada dasarnya adalah : diatas segalanya, tidak boleh
membahayakan, yang meliputi bebas dari bahaya, bebas dari eksploitasi,
manfaat dari penelitian, serta rasio antara resiko dan manfaat.
2. Prinsip menghargai martabat manusia yang meliputi menetapkan sendiri dan
mendapatkan penjelasan secara lengkap.
3. Perinsip mendapatkan keadilan mengandung hak subjek untuk mendapatkan
perlakuan yang adil dimana subjek mempunyai hak untuk mendapatkan
perlakuan yang adil dan sama sebelum, selama, dan sesudah partisipasi
mereka dalam penelitian. Dan hak mereka untuk mendapatkan keleluasaan
pribadi. Peneliti perlu memastikan bahwa penelitian yang dlakukan tidak
melebihi batas yang diperlukan dan privacy subjek tetap terjaga.
Sebelum melakukan ketiga prinsip diatas peneliti melakukan informed
consent yaitu semua subjek yang memiliki kemampuan, harus mendapat

kesempatan untuk memilih apakah ia bersedia berpartisipasi dalam penelitian


atau tidak.

h. Jadwal penelitian

Kisi-kisi pertanyaan

No
1

Jumlah
pertanyaan

Variabel
Pengetahuan
perawat
tentang
manjeman
nyeri non
farmakologi
di ruang
bedah

1. Cara
menurunkan
nyeri
2. Pengertian
nyeri
3. Pengertian
manjeman nyeri
4. Macam-macam
manejeman
nyeri
5. Tekhnik
tekhnik

No item

1,2,3

4,5

6,7,8

11

9,10,11,12,13,14,
15,16,
17,18,19

11

20,21,22,23,24,25
,26,

manjeman nyeri

27,28,29,30