Anda di halaman 1dari 16

BAB I

KASUS

I.

II.

IDENTITAS
Nama
Usia
Jenis Kelamin
Agama
Suku Bangsa
Pekerjaan
Pendidikan
Alamat

: Ny. TS
: 49 Tahun
: Perempuan
: Islam
: Sunda
: Karyawan
: SMEA
: Jl. Kaliabang Tengah RT 04 RW 01

ANAMNESIS
Dilakukan Alloanamnesis dan autoanamnesis kepada pasien yang datang ke poli THT
pada hari Sabtu, 22 September 2012.
A. Keluhan Utama
Pasien datang ke poli THT dengan keluhan pendengaran berkurang pada telinga kiri
semenjak satu minggu yang lalu.
Keluhan Tambahan
Pasien juga mengeluhkan adanya nyeri telinga dan keluar cairan dari telinga pada
telinga kiri.
B. Riwayat Penyakit Sekarang
Awalnya satu minggu yang lalu pasien merasa telinga kirinya tertusuk saat
membersihkan telinganya dengan cotton bud. Sesaat setelah tertusuk pasien
merasakan telinganya sakit dan pendengarannya berkurang. Dua hari setelahnya
pasien merasa keluar cairan dari telinga kirinya, cairan berwarna bening dan tidak
berbau dengan konsistensi cair. Cairan keluar tidak terlalu banyak dan sudah berhenti.
Keluhan pusing berputar dan rasa bising mendengung pada telinga disangkal.
Keluhan keluar cairan dari hidung, rasa sakit pada hidung, bersin-bersin disangkal
oleh pasien. Keluhan sakit tenggorok dan batuk-batuk juga disangkal oleh pasien.
Keluhan demam, batuk-pilek dan nyeri kepala disangkal oleh pasien. Riwayat Alergi,
Riwayat hipertensi, dan Riwayat diabetes mellitus disangkal pasien. Kebiasaan
1

merokok dan mngonsumsi alcohol juga disangkal. Pasien sering membersihkan


telinga sendiri dengan cotton bud.
C. Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat keluhan serupa sebelumnya disangkal. Riwayat keluar cairan dari telinga
sebelumnya disangkal.
D. Riwayat Penyakit Keluarga
Riwayat keluhan serupa pada keluarga juga disangkal.
III.

PEMERIKSAAN FISIK
A. Status Generalis
Keadaan Umum : Compos Mentis
Tekanan Darah : 120/70 mmHg
Frekuensi Nadi : 84x/menit
Frekuensi Napas : 18x/menit
Suhu
: 36,6 0C

Pemeriksaan Sistemik
Kulit
: cokelat, kesan normal
Kepala
: Tidak ada deformitas, normocephal
Mata
: Konjungtiva Anemis -/-, sclera ikterik -/Leher
: Tidak ditemukan pembesaran KGB
Rambut
: Tidak mudah tercabut
Thoraks
: Dalam batas normal
Abdomen
: Dalam batas normal
Ekstremitas : Akral hangat, edema (-/-/-/-)
B. Status THT
1. Pemeriksaan Telinga
Kanan
Normotia
Normal, Nyeri Tarik Normal, Nyeri Tekan -,
Benjolan Nyeri Tekan Kanan

Tragus

Kiri
Normotia
Normal, Nyeri Tarik Normal, Nyeri Tekan -,
Benjolan Nyeri Tekan -

Liang Telinga

Kiri

Bentuk Telinga Luar


Daun Telinga
Retroaurikuler

Lapang
Tidak Hiperemis

Lapang/Sempit
Warna Epidermis

Tidak ada

Sekret

Tidak ada
Tidak ditemukan

Serumen
Kelainan Lain

warna kuning
Tidak ada
TIdak ditemukan

Kanan
Intak
Putih Mutiara
+
Tidak ditemukan
Tidak ditemukan

Membrana Timpani
Bentuk
Warna
Refleks Cahaya
Perforasi
Kelainan Lain

Kiri
Intak
Putih mutiara
+
Tidak ditemukan
Tidak ditemukan

Kanan
Positif
Terdapat lateralisasi ke
Telinga kiri
Sama Dengan
Pemeriksa

Pemeriksaan Fungsi
Pendengaran
Rinne
Weber
Swabach

Kanan
Tidak dilakukan
(-)
normal
normal

Lapang
Hiperemis
Ada, sedikit, mukoid

Kiri
Negatif
Terdapat lateralisasi ke
Telinga kiri
Memanjang

Kiri
Test Kalori
Test Romberg
Finger to finger
Finger to nose

Tidak dilakukan
(-)
normal
normal

2. Pemeriksaan Hidung
Kanan

Kiri

Simetris

Bentuk Hidung Luar

Simetris

Deformitas

Nyeri Tekan
3

Dahi

Pipi

Tidak ditemukan

Krepitasi

Tidak ditemukan

Kanan
Tenang
Eutrofi, Hiperemis Eutrofi, Hiperemis Eutrofi, Hiperemis Tidak terlihat
Lapang
Tenang (pink pale)
Tidak ada
Normal, Deviasi Normal

Rhinoskopi Anterior
Vestibulum
Konka Inferior
Konka Media
Konka Superior
Meatus Nasi
Kavum Nasi
Mukosa
Sekret
Septum
Dasar Hidung

Kiri
Tenang
Eutrofi, Hiperemis Eutrofi, Hiperemis Eutrofi, Hiperemis Tidak terlihat
Lapang
Tenang (pink pale)
Tidak ada
Normal, Deviasi Normal

Kanan
Hiperemis Oedem -, hiperemis Tidak ada
Tidak ada sumbatan
Tidak ada
Tidak ada kelainan
Tidak ada kelainan

Rhinoskopi Posterior
Koana
Mukosa konka
Sekret
Muara Tuba Eustachii
Adenoid
Fossa Russenmuller
Atap Nasofaring

Kiri
Hiperemis Oedem -, hiperemis Tidak ada
Tidak ada sumbatan
Tidak ada
Tidak ada kelainan
Tidak ada kelainan

Sinus Maskila

Kiri
Terang

3. Transiluminasi
Kana
Terang
4. Foto Sinus Paranasal
Tidak Dilakukan

5. Pemeriksaan Faring
Arkus Faring
Palatum Molle
Mukosa Faring
Dinding Faring
Uvula
Tonsil Palatina

: Simetris, Tenang (pink pale)


: Tenang (pink pale)
: Tenang (pink pale)
: Licin
: Ditengah
: Besar
: T1-T1
: Warna
: Tidak hiperemis
: Kripta
: Tidak melebar
4

: Detritus
: Tidak ada
: Perlekatan : Tidak ada
6. Pemeriksaan Laring
Epiglotis
Pita Suara
Aritenoid
Pergerakan Kripta
Massa

: Tidak terdapat kelainan


: Tidak ada kelainan
: Tidak ada kelainan
: Tidak ada kelainan
: Tidak terdapat massa

7. Pemeriksaan Gigi dan Mulut


Trismus
:Gigi Goyang
:Oral Hygiene
: Kurang baik
Caries
:+
8. Pemeriksaan Leher
Pemeriksaan Kelenjar

IV.

: Tidak ditemukan perbesaran tiroid ataupun KGB

RESUME
Ny TS, 49 tahun, datang ke poli THT dengan keluhan utama pendengaran berkurang pada
telinga kiri semenjak satu minggu yang lalu. Awalnya satu minggu yang lalu pasien
merasa telinga kirinya tertusuk saat membersihkan telinga. Setelah tertusuk pasien
merasakan telinganya sakit dan pendengarannya berkurang. Dua hari setelahnya pasien
merasa keluar cairan dari telinga kirinya, cairan berwarna bening dan tidak berbau
dengan konsistensi cair. Pasien sering membersihkan telinga sendiri dengan cotton bud.
Riwayat pernah keluar cairan dari telinga pasien sebelumnya disangkal. Keluhan belum
pernah diobati oleh pasien.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan kesadaran pasien compos mentis dengan keadaan
umunm tampak sakit ringan. Tanda vital pasien didapatkan tekanan darah 120/70 mmHg,
nadi 84x/menit, Frekuensi napas 18x.menit, dan suhu 36,6 0C. Pada pemeriksaan telinga
didapatkan nyeri tekan tragus, mukosa kemerahan, terdapat secret pada telinga kiri
berwarna kuning kental, sedikit. Pemeriksaan penala mendapatkan hasil tuli konduktif.

V.

DIAGNOSIS KERJA
Otitis Eksterna Difus Auricula Sinistra

VI.

DIAGNOSIS BANDING
Otitis Media Akut Stadium Oklusi
5

VII.

RENCANA PENGOBATAN
Otopain
Per 5 mL Polymyxin B sulfate 50,000 iu, neomycin sulfate 25 mg,
fludrocortisone acetate 5 mg, lidocaine HCl 200 mg (4-5 tetes2-4kali perhari)
Cefadroxil
500mg 2x1 hari

VIII. RENCANA PEMERIKSAAN LANJUTAN

IX.

X.

PROGNOSIS
Quo Ad Vitam
: Bonam
Quo Ad Functionam : Dubia Ad Bonam
Quo Ad sanationam : Dubia Ad Bonam
EDUKASI

Menjaga hygiene telinga pasien dengan tidak berenang.

Menghindari factor predisposisi seperti trauma, dengan cara meminta orang lain
membersihkan telinganya atau datang ke dokter untuk dibersihkan telinganya
secara berkala.

Menggunakan obat dengan teratur.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1. OTITIS EKSTERNA
A. Definisi dan Epidemiologi
Otitis eksterna adalah radang liang telinga akut maupun kronis disebabkan oleh
bakteri, virus, dan jamur dapat terlokalisir atau difus, telinga rasa sakit. Faktor ini
penyebab timbulnya otitis eksterna ini, kelembaban, penyumbatan liang telinga,
trauma lokal dan alergi. Faktor ini menyebabkan berkurangnya lapisan protektif yang
menyebabkan edema dari epitel skuamosa. Keadaan ini menimbulkan trauma lokal
yang mengakibatkan bakteri masuk melalui kulit, inflasi dan menimbulkan eksudat. Bakteri patogen pada
otitis eksterna akut adalah Pseudomonas (41 %), Strepokokus (22%), Stafilokokus aureus
(15%) dan Bakteroides (11%). Istilah otitis eksterna akut meliputi adanya kondisi
inflasi kulit dari liang telinga bagian luar. Otitis eksterna ini merupakan suatu infeksi liang telinga
bagian luar yang dapat menyebar ke pina, peri aurikular, atau ke tulang temporal.
Biasanya seluruh liang telinga terlibat, tetapi pada furunkel liang telinga luar dapat
dianggap pembentukan lokal otitis eksterna. Otitis eksterna difusa merupakan tipe
infeksi bakteri patogen yang paling umum disebabkan oleh Pseudomonas,
Stafilokokus dan Proteus, atau jamur. Penyakit ini sering diumpai pada daerah-daerah
yang panas dan lembab dan jarang pada iklim-iklim sejuk dan kering. Patogenesis dari otitis eksterna
sangat komplek dan sejak tahun 1844 banyak peneliti mengemukakan faktor pencetus dari
penyakit ini seperti Branca (1953) mengatakan bahwa berenang merupakan penyebab dan
menimbulkan kekambuhan. Senturia dkk (1984) menganggap bahwa keadaan panas, lembab
dan trauma terhadap epitel dari liang telinga luar merupakan faktor penting untuk
terjadinya otitis eksterna. Howke dkk (1984) mengemukakan pemaparan terhadap air
7

dan penggunaan lidi kapas dapat menyebabkan terjadi otitis eksterna baik yang akut maupun
kronik.
Otitis eksterna adalah radang merata kulit liang telinga yang disebabkan oleh kuman
maupun jamur (otomikosis) dengan tanda-tanda khas yaitu rasa tidak enak di liang
telinga, deskuamasi, sekret di liang telinga dan kecenderungan untuk kambuhan.
Pengobatan amat sederhana tetapi membutuhkan kepatuhan penderita terutama dalam
menjaga kebersihan liang telinga.
B. Etiologi
Swimmers ear (otitis eksterna) sering dijumpai, didapati 4 dari 1000orang,
kebanyakan pada usia remaja dan dewasa muda. Terdiri dari inflamasi,iritasi atau
infeksi pada telinga bagian luar. Dijumpai riwayat pemaparan terhadap air, trauma
mekanik dan goresan atau benda asing dalam liang telinga. Berenangdalam air yang
tercemar merupakan salah satu cara terjadinya otitis eksterna(swimmers ear). Bentuk
yang paling umum adalah bentuk boil (Furunkulosis) salah satu dari satu kelenjar sebasea
1/3 liang telinga luar. Pada otitis eksterna difusa disini proses patologis membatasi kulit sebagian
kartilago dari otitis liang telinga luar, konka daun telinga penyebabnya idiopatik,
trauma, iritan, bakteri atau fungal, alergi dan lingkungan. Kebanyakan disebabkan
alergi pemakaian topikal obat tetes telinga. Alergen yang paling sering adalah
antibiotik, neomycin, framycetyn, gentamicin, polimixin, dan anti histamin.
Sensitifitas poten lainnya adalah metal dan khususnya nikel yang sering muncul pada kertas dan
klip rambut yang mungkin digunakan untuk mengorek telinga. Infeksi merupakan penyakit
yang paling umum dari liang telinga luar seperti otitis eksterna difusa akut pada
lingkungan yang lembab.
C. Patofisiologi
Saluran telinga bisa membersihkan dirinya sendiri dengan cara membuangsel-sel kulit
yang mati dari gendang telinga melalui saluran telinga. Membersihkan saluran telinga dengan
cotton bud (kapas pembersih) bisa mengganggu mekanisme pembersihan ini dan bisa
mendorong sel-sel kulit yangmati ke arah gendang telinga sehingga kotoran menumpuk disana.

Penimbunan sel-sel kulit yang mati dan serumen akan menyebabkan penimbunan air
yang masuk ke dalam saluran ketika mandi atau berenang. Kulit yang basah dan lembut pada
saluran telinga lebih mudah terinfeksi oleh bakteriatau jamur.

D. Macam Otitis Eksterna


a. Otitis Eksterna Akut
Terdapat dua kemungkinan Otitis eksterna akut yaitu :.
1. Otitis Eksterna Sirkumsripta (furunkel=bisul)
Oleh karena kulit pada sepertiga luar liang telinga mengandung adneksa
kulit, seperti folikel rambut, kelenjar sebasea dan kelenjar serumen, maka
ditempat itu dapat terjadi infeksi pilosebaseus, sehingga membentuk
furunkel. Kuman penyebab biasanya Staphylococcus aureus atau
Staphylococcus Albus.
Gejalanya biasanya adalah nyeri yang hebat tidak sesuai dengan besar
bisul. Hal ini disebabkan karena kulit liang telinga jaringan longgar di
bawahnya, sehingga rasa nyeri timbul pada penekanan perikondrium. Rasa
nyeri juga dapat timbul spontan pada waktu membuka mulut (sendi
temporomandibula). Selain itu terdapat juga gangguan pendengaran, bila
furunkel besar dan menyumbat telinga.
Terapi bergantung pada keadaan furunkel. Bila sudah terjadi abses,
diaspirasi secara steril untuk mengeluarkan nanahnya. Lokal diberikan
antibiotika dalam bentuk salep, seperti polymixin B atau bacitracin, atau
antiseptic (asam asetat 2-5% dalam alcohol). Jika dinding furunkel tebal,
dilakukan insisi, kemudian dipasang salir (drain) untuk mengalirkan
nanahnya. Biasanya tidak perlu antibiotika sistemik, hanya diberikan obat
simptomatik seperti analgesic dan obat penenang.
2. Otitis Eksterna difus
Biasanya mengenai kulit duapertiga dalam. Tampak kulit liang telinga
hiperemis dan edema yang tidak jelas batasnya. Kuman penyebab
biasanya golongan Pseudomonas. Kuman lain yang dapat sebagai
9

penyebab ialah Staphylococcus albus, Escherichia coli, dan sebagainya.


Otitis Eksterna difus dapat juga terjadi sekunder pada otitis media
supuratif kronis. Gejalanya adalah nyeri tekan tragus, liang telinga sangat
sempit, kadang kelenjar getah bening regional membersar dan teradapat
nyeri tekan, terdapat secret yang berbau. Sekret ini tidak mengandung
lender (musin) seperti secret yang keluar dari kavum timpani pada otitis
media.
Pengobatannya dengan membersihkan telinga, memasukan tampon yang
mengandung antibiotic ke liang telinga supaya terdapat kontak yang baik
antara obat dengan kulit yang meradang. Kadang-kadang diperlukan obat
antibiotika sistemik.
b. Otomikosis
Infeksi Jamur pada liang telinga dipermudah dengan kelembaban yang tinggi
didaerah tersebut. Yang tersering ialah Pityrosporum, Aspergilus. Kadangkadang ditemukan juga Candida albikans atau jamur lain. Pityrosporum
menyebabkan terbentuknya sisik yang meyerupai ketombe dan merupakan
predisposisi otitis eksterna bakterialis. Gejala biasanya berupa rasa gatal dan
rasa penuh di liang telinga, tetapi sering pula tanpa keluhan.
Pengobatannya ialah dengan membersihkan liang telinga. Larutan asam asetat
2% dalam alcohol, larutan iodium povidon 5% atau tetes telinga yang
mengandung campuran antibiotic dan steroid yang diteteskan keliang telinga
biasanya dapat menyembuhkan. Kadang-kadang diperlukan juga obat
antijamur (sebagai salep) yang diberikan secara topical yang mengandung
nistatin, klotrimazol.
c. Herpes Zooster Otikus
Herpes zoster oticus adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus
varicella zoster. Virus ini menyerang satu atau lebih dermatom saraf cranial.
Dapat mengenai saraf trigeminus, ganglion genikulatum dan radiks ervikalis
bagian atas. Keadaan ini disebut juga sindroma Ramsay-Hunt. Tampak lesi
kulit yang vesikuler pada kulit didaerah muka serta liang telinga, otalgia dan
terkadang disertai paralisis otot wajah. Pada keadaan yang berat ditemukan
10

gangguan pendengaran berupa tuli sensori neural. Pengobatan sesuai dengan


tatalaksana Herpes zoster.
d. Infeksi Kronis Liang telinga
Infeksi bakteri maupun infeksi jamur yang tidak diobati dengan baik, iritasi
kulit yang disebabkan oleh cairan otitisw media, trauma berulang, adanya
benda asing, penggunaan pencetakan pada alat bantu dengar (hearing aid)
dapat menyebabkan radang kronis. Akibatnya dapat terjadi stenosis

atau

penyempitan liang telinga karena terbentuknya jaringan parut (sikatriks).


Pengobatannya adalah dengan rekonstruksi liang telinga.
e. Keratosis Obturans dan Kolesteatoma Eksterna
Dulu keratosis obturans dan kolesteatoma eksterna dianggap sebagai penyakit
yang sama proses terjadinya, oleh karena itu sering tertukar penyebutannya.
Pada keratosis obturans ditemukan gumpalan epidermis diliang telinga yang
disebabkan oleh terbentuknya sel epitel yang berlebihan yang tidak bermigrasi
kelarah luar. Pada pasien dengan keratosis obturans terdapat tuli konduktif
akut, nyeri yang hebat, liang telinga yang lebar, membrane timpani yang utuh
tapi lebih tebak dan jarang ditemukan sekresi telinga. Gangguan pendengaran
dan rasa nyeri yang hebat disebabkan oleh desakan gumpalan epitel berkeratin
ditelinga. Keratosis obturans bilateral sering ditemukan pada usia muda.
Sering dikaitkan dengan sinusitis dan bronkiektasi. Erosi tulang liang telinga
ditemukan pada keratosis obturan dan kolesteatoma eksterna. Hanya saja pada
keratosis obturan erosi tulang yang terjadi menyeluruh sehingga tampak liang
telinga menjadi lebih luas. Sementara pada kolesteatoma eksterna erosi tulang
hanya terjadi pada daerah posteroinferior saja. Otore dan nyeri tumpul
menahun sering ditemukan pada kolesteatoma eksterna. Hal ini disebabkan
Karena adanya invasi kolesteatoma ke tulang yang menimbulkan periosteitis.
Pendengaran dan membrane timpani biasanya normal. Kolesteatoma eksterna
ditemukan hanya pada satu sisi telinga dan lebih sering pada usia tua.
Oleh karena keratosis obutrans disebabkan oleh proses radang yang kronis,
serta sudah terjadi gangguan migrasi epitel maka gumpalan keratin
dikeluarkan dan debris akibat radang harus dibersihkan secara berkala.
Membedakan Keratosis Obturans dan Kolesteatoma

11

Keratosis Obturans

Kolesteatoma Eksterna

Dewasa Muda

Tua

Sinusitis, Bronkiektasi

Tidak ada

Akut/Berat

Kronis/Nyeri tumpul

Konduktif/sedang

Tidak ada /Ringan

Sisi Telinga

Bilateral

Unilateral

Erosi Tulang

Sirkumferensial

Terlokalisir

Kulit Telinga

Utuh

Ulserasi

Osteonekrosis

Tidak ada

Bisa ada

Jarang

Sering

Usia
Penyakit terkait
Nyeri
Gangguan Pendengaran

Otorea

Tabel Perbedaan Keratosis Obturans dan Kolesteatoma Eksterna


Sumber : Buku Ajar Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher Edisi Ke 6 FKUI

Pada kolesteatoma eksterna perlu dilakukan operasi agar kolesteatoma dan


tulang yang nekrotik bisa diangkat sempurna. Tujuan operasi mencegah
berlanjutnya penyakit yang merngerosi tulang. Indikasi operasi apabila sudah
terjadi destruksi tulang dan meluas hingga ke telinga tengah, erosi tulang
pendengaran, kelumpuhan nervus fasialis, terjadi fistel labirin atau otore yang
berkepanjangan. Pada operasi liang telinga bagian luar diperluas agar lebih
mudah dibersihkan. Bila kolesteatoma masih kecil dan terbatas dapat
dilakukan tindakan konservatif yaitu kolesteatoma dan jaringan nekrotik
diangkat sampai bersih, diikuti pemberian antibiotika topical secara berkala.
Pemberian obat tetes telinga dari campuran alcohol atau gliserin dalam H 202
3% tiga kali semiggu sering dapat menolong.
f. Otitis Eksterna Maligna
Otitis Eksterna Maligna difus di liang telinga luar dan struktur lain
disekitarnya. Biasanya terjadi pada orang tua dengan penyakit diabetes
mellitus. Pada penderita diabetes pH serumennya lebih tinggi disbanding pH
serumen non-diabetes. Kondisi ini menyebabkan penderita diabetes lebih
mudah terjadi otitis eksterna. Akibat adanya factor immunocompromize dan
12

mikroangiopati, otitis eksterna berlanjut menjadi otitis eksterna maligna. Pada


otitis eksterna maligna peradangan meluas secara progresif kelapisan subkutis,
tulang rawan dank e tulang disekitarnya, sehingga timbul kondritis, oteitis,
dan osteomielitis yang menghancurkan tulang temporal. Gejala otitis eksterna
maligna adalah rasa gatal di liang telinga yang dengan cepat diikuti oleh nyeri,
secret yang banyak serta pembengkakan liang telinga. Kemudian rasa nyeri
tersebut akan semakin hebat, liang telinga tertutup oleh jaringan granulasi
yang cepat tumbuhnya. Saraf fasial dapat terkena, sehingga menimbulkan
paresis dan paralisis fasial.
Kelainan patologik yang penting adalah osteomielitis yang progresif, yang
disebabkan kuman Pseudomonas aeroginosa. Penebalan endotel yang
mengiringi diabetes mellitus berat, kadar gula darah yang tinggi yang
diakibatkan oleh infeksi yang sedang aktif, menimbulkan kesulitan
pengobatan yang adekuat. Pengobatan harus cepat diberikan sesuai dengan
hasil kultur dan resistensi. Mengingat kuman penyebab terserung adalah
Pseudomonas aeroginosa, diberikan antibiotic dosis tinggi sesuai dengan
Pseudomonas aeroginosa. Sementara menunggu hasil kultur dan resistensi,
diberikan golongan fluoroquinolon (ciprofloxacin) dosis tinggi per oral. Pada
keadaan yang lebih berat diberikan antibiotic parenteral kombinasi dengan
antibiotic golongan aminoglikosida yang diberikan selama 6-8 minggu.
Antibiotika yang sering digunakan adalah ciprofloxacin, ticarcillin-clavulanat,
piperacilin (dikombinasi dengan aminoglikosida), ceftriaxone, ceftazidine,
cefepime (maxipime), tobramicin (kombinasi dengan aminoglikosida),
gentamicin (kjombinasi dengan golongan penicillin). Disamping obat-obatan,
sering kali juga diperlukan tindakan membersihkan luka (debrideman) secara
radikal. Tindakan membersihkan luka yang kurang bersih menyebabkan
makin cepatnya perjalanan penyakit.

13

BAB III
DISKUSI KASUS

Dalam Kasus diatas kami mendapatkan gejala klinis yang terdapat pada pasien menunjukan
kearah otitis eksterna difus telinga kiri. Hasil anamnesis ditemukan adanya keluhan penurunan
fungsi pendengaran dan nyeri telinga yang diakibatkan adanya riwayat tertusuk sebelumnya
menunjukan terdapat luka yang sekaligus merupakan factor predisposisi terjadinya otitis
eksterna. Pada pemeriksaan fisik didapatkan nyeri tekan daerah tragus dan mukosa yang tampak
kemerahan menandakan adanya peradangan pada daerah telinga luar. Terdapat pula tuli
konduktif. Menurut buku ajar ilmu kesehatan telinga hidung tenggorokan kepala dan leher FKUI
edisi ke enam nyeri tekan pada daerah tragus merupakan khas nyeri pada daerah duapertiga
dalam liang telinga luar.
Data-data pada pasien diatas sesuai dengan teori yang sudah dijelaskan dan menunjang kepada
diagnosis kami otitis eksterna difus auricular sinistra.

14

BAB IV
KESIMPULAN

Kami melaporkan kasus otitis eksterna difus auricular sinistra berdasarkan data yang sudah
diambil dari pasien yang mempunyai riwayat trauma pada liang telinga rasa nyeri pada telinga,
nyeri tekan pada daerah tragus dan mukosa yang kemerahan pada telinga kiri pasien. Otitis
eksterna difus biasanya disebabkan oleh Pseudomonas aeroginosa, namun tidak menutup
kemungkinan disebabkan oleh mikroorganisme lain. Oleh Karena penyebab tersering adalah
bakteri maka diperlukan antibiotic untuk menangani keadaan pasien ini. Prognosis pada otitis
eksterna akan baik apabila pasien diberi edukasi untuk tetap menjaga kebersihan telinga serta
menghindari factor predisposisi seperti trauma saat mengorek telinga.

15

DAFTAR PUSTAKA

Iskandar N, Supardi EA. (eds) Buku Ajar Ilmu Penyakit Telinga Hidung Tenggorokan. Edisi

Keenam, Jakarta: FKUI, 2010


Adam GL, Boies LR and Paparella MA; Fundamental of Otorhinolaryngology. WB Saunders

Co. Asean Ed., 1997, 6th ed.


Gunawan, Sulista Gan.Farmakologi dan Terapi Edisi 5. Jakarta: FKUI, 2007

16