Anda di halaman 1dari 6

LEMBARAN KERJA MAHASISWA

FARMASETIKA I
SEMESTER GENAP 2012/2013
FAKULTAS FARMASI
UIVERSITAS ANDALAS

Tugas Ke : 6
Kelompok : 13R210
Nama Kelp: GEL
Hari
: Selasa
Tanggal
: 26-032013

Dosen : Syofyan, S.S.i, M.Farm, Apt


N
o
1
2
3

No. BP

Nama

Tanda Tangan

1111012084
1111012081
1111012092

DINDA PEBRITA AMINANTI


MUHAMMAD HANIF
ANNISA KARIMAH
Bagian Penilaian
(Diisi oleh dosen)

N
o
1

Unsur
Penilaian
Key Words
Peta Konsep

2
3

Resume

Jurnal/Referensi

Kriteria
(tiap unsur maksimal 10
poin)
Key words ada ditulis berikut
dengan penjelasannya
Hubungan antara satu key word
dengan key word lain tergambar
dengan terurut dan lengkap/jelas

Tujuan
pembelajaran
yang
diperoleh tepat dan tergambar
pada peta konsep
Jurnal internasional ada dan
relevan dengan topik yang
dibahas serta dibuat ringkasan
isi jurnal tersebut
Total Nilai
Catatan Khusus

NARASI

Nilai

Emulsi yang pecah


Produk PT Andalas Farma dengan merek Andacod (berisi cod liver oil) bermasalah pada
waktu diproduksi dengan nomor bets awal E 03001 sehingga gagal diproduksi. Laporan
bagian QC menyebutkan bahwa emulsinya pecah, dimana bagian air dan bagian minyaknya
memisah dan baunya minyaknya menusuk. Oleh karenanya, bagian R & D segera melakukan
rapat pembahasan yang melibatkan formulator, bagian QC dan bagian produksi.
Sebagai penanggung jawab bagian formulasi, Andi diminta untuk
menjelaskan permasalahan ini. Untuk itu, Andi mengawali
penjelasannya dengan menjelaskan skema seperti pada gambar di
samping (A s/d D). Kemudian Andi menegaskan bahwa berdasarkan
laporan dari QC tersebut, disimpulkan sediaan mengalami
ketidakstabilan secara fisik. Andi memaparkan formula emulsi tersebut
dan diketahui emulgator yang dipakai adalah gom. Dengan
menggunakan teori emulsifikasi, Andi menjelaskan bagaiman kerja dari
gom dan apa faktor-faktor yang dapat mempengaruhi ketidakstabilan
emulsi ini secara fisik.
Di akhir rapat, diputuskan agar Andi melakukan reformulasi dengan
mencoba menggunakan emulgator lainnya sehingga sediaan yang
dihasilkan dapat memenuhi persyaratan mutu yang diharapkan.
Selanjutnya, Andi melakukan penelitian berupa reformulasi dimana gom
diganti dengan emulgator dari surfaktan non ionik yaitu Tween dan
Span. Berbagai evaluasi stabilitas fisik dilakukan kembali. Begitu juga
dengan pemeriksaan seperti pada gambar di bawah ini sehingga
diperoleh sediaan sesuai dengan mutu yang diinginkan.

Coba Saudara jelaskan kembali bagaimana kasus di atas dapat dipahami secara
menyeluruh terkait dengan sediaan emulsi yang memenuhi persyaratan mutu yang
ditetapkan.

KEY WORDS

1. Emulsi : sistem heterogen yang terdiri dari sedikitnya satu cairan tidak saling campur
yang terdispersi dalam cairan lainnya dalam bentuk droplet atau partikel dengan
diameter kira-kira 0,1 m. Emulsi adalah campuran yang tidak stabil secara
termodinamika terdiri dari dua cairan yang tidak saling campur dan adanya zat
pengemulsi untuk menyatukannya.
2. Emulgator : bahan aktif permukaan yang dapat menurunkan tegangan antar muka
antara minyak dan air dan membentuk film yang liat mengelilingi tetesan terdispersi
sehingga mencegah koalesensi dan terpisahnya fase terdispersi.
3. Teori emulsifikasi : Teori Tegangan Permukaan, menjelaskan bahwa emulsi terjadi
bila ditambahkan suatu substansi yang menurunkan tegangan antar muka diantara 2
cairan yang tidak bercampur. Teori Orientasi Bentuk Baji, menjelaskan fenomena
terbentuknya emulsi dengan dasar adanya kelarutan selektif dari bagian molekul
emulgator, ada bagian yang bersifat suka terhadap air atau mudah larut dalam air
( hidrofil ) dan ada bagian yang suka dengan minyak atau larut dalam minyak ( Lifofil
). Teori Film Plastik, menjelaskan bahwa emulgator ini mengendap pada permukan
masing-masing butir tetesan fase dispersi dalam bentuk film yang plastis.
4. Reformulasi : pembentukan formula sediaan yang baru, yang sesuai dengan
persyaratan
5. Surfaktan non ionik : surfaktan yang tidak berdisosiasi dalam air dan tidak
melepaskan kation dan anion (atau zwitterions)
6. Evaluasi stabilitas fisik : uji stabilitas dengan melihat kondisi fisik dari produk obat
berupa bentuk, warna & bau
7. Koelesensi : penyatuan tetesan kecil menjadi tetesan besar dan akhirnya menjadi
suatu fase tunggal yang memisah

D RESUME
Berdasarkan peta konsep di atas, maka dapat disimpulkan bahwa tujuan
pembelajaran yang diperoleh dari narasi/topik ini adalah sebagai berikut:
Bila fase minyak didispersikan sebagai bola-bola ke seluruh fase kontinu air, sistem
tersebut dikenal sebagai suatu emulsi minyak dalam air (o/w). Bila fase minyak
bertindak sebagai fase kontinu, emulsi tersebut dikenal sebagai produk air dalam
minyak (w/o)

Emulsi adalah sediaan yang mengandung bahan obat cair atau larutan obat, terdipersi
dalam cairan pembawa, distabilkan dengan zat pengemulsi atau surfaktan yang cocok

Untuk memperoleh emulsi yang stabil perlu diperhatikan faktor-faktor sebagai


berikut:
1. Penggunaan zat-zat yang mempertinggi viskositas,
2. Perbandingan opimum dari minyak dan air. Emulsi dengan minyak 2/3-3/4
bagian meskipun disimpan lama tidak akan terpisah dalam lapisan-lapisan.
3. Penggunaan alat khusus untuk membuat emulsa homogen

Dikenal beberapa fenomena ketidakstabilan emulsi yaitu : flokulasi dan creamin,


Koalesen dan Demulsifikasi
REFERENSI

Jurnal 1 : Emulsion stability of cosmetic creams based on water-in-oil high internal


phase emulsions
RINGKASAN JURNAL
1
LATAR BELAKANG
Efek dari konsentrasi elektrolit dan polaritas viskoelatik krim dengan
perubahan volume fraksi air. Dengan penambahan volume fraksi air dapat
merubah modulus kompleks yang memantau daerah viskoelatik yang linier.
Hal ini di teliti bahwa bagian modulus kompleks berubah secara constant
terhadap emulsi air dalam minyak. Hubungan ini dijelaskan dengan
resistensi kolensensi yang tidak terbentuk pada film antarmuka.
2

PEMECAHAN MASALAH/TUJUAN PENELITIAN


Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan stabiltas air
dalam minyak HIPEs, dengan penambahan elektrolit
kedalam fase air dapat menyebabkan stabilitas didalam air
berkurang dan sebagai hasil akhir konsistensi reologi dari
HIPEs bertambah.
KESIMPULAN
Berdasarkan dari dasar penentuan secara teori
partikel maka di dapat kesimpulan stabilitas w/o
dapat tergambar dengan penambahan elektrolit kedalam
fase air dapat menyebabkan stabilitas didalam air berkurang
dan sebagai hasil akhir konsistensi reologi dari HIPEs
bertambah.
CATATAN PENTING
Teori yang berkaitan tentang teori emulsi, stabilitas larutan
dan teori aliran partikel, hidrofil-lipofil balance theory

Jurnal 2 : EFEKTIVITAS LECITHIN SEBAGAI EMULGATOR DALAM


SEDIAAN

EMULSI MINYAK IKAN

RINGKASAN ISI JURNAL


1

LATAR BELAKANG/MASALAH PENELITIAN


Penggunakan Lecithin sebagai emulgating agent dalam pembuatan
minyak Ikan Cod

PEMECAHAN MASALAH/TUJUAN PENELITIAN


Dengan mengamati parameter kestabilan fisik emulsi selama 56 hari yang
meliputi organoleptis, volume dispersi, redispersibilitas, viskositas, pH,
diameter partikel, sifat aliran, dan tipe emulsi terhadap variasi konsentrasi
lecithin 5%, 3%, dan 1%.

METODE PENELITIAN
tahapan kerja sebagai berikut :
1. Pengumpulan bahan.
2. Pengamatan sifat fisika dan kimia
lecithin.
3. Pembuatan emulsi minyak ikan
dengan emulgatornya gom arab
sebagai baku pembanding.
4. Pembuatan emulsi minyak ikan
dengan lecithin sebagai
emulgatornya.
5. Pengujian stabilitas emulsi
minyak ikan yang meliputi :
a. Pengamatan organoleptis
b. Uji redispersibilitas
c. Uji viskositas
d. Sifat aliran
e. Uji pH
f. Tipe emulsi

KESIMPULAN
Dari pengujian volume dispersi dan kemampuan redispersibilitas formula
lecithin 3% merupakan formula terbaik diantara lecithin 1% dan lecithin 5%.
Hal ini karena lecithin 3% memiliki rasio
pemisahan yang kecil dan paling mudah didispersikan kembali. Dari
pengujian viskositas, terjadi
penurunan harga viskositas akan tetapi yang paling stabil adalah formula
lecithin 1%. Dilihat dari diameter partikel, formula lecithin 3% paling baik
karena memiliki diameter partikel paling kecil dibandingkan lecithin 1% dan
lecithin 5% selama penyimpanan 56 hari.
CATATAN PENTING
Teori yang berkaitan tentang sifat alir partikel, teori penggunaan emulgator ( dalam hal ini

lecithin hanya bisa di gunakan sebagai bahan kombinsi dengan emulgator yang lainnya, teori
stabilitas emulsi

Daftar pustaka
Park, Chan Ik, Cho Wan-Gu , dkk. 2003 . Emulsion stability of cosmetic creams based
water-in-oil high internal phase emulsions . Korea . p:2-3

on

Wathoni ,Nasrul dan Soebagio Boesro. 2007. Efektivitas lecithin sebagai


emulgator dalam sediaan minyak ikan. Farmaka . p:2-3;9-10