Anda di halaman 1dari 19

3-1 | P a g e

BAB 3
ANALISIS PERHITUNGAN

3.1

ANALISA PEMBEBANAN
Analisa pembebanan membahas gaya-gaya yang bekerja pada struktur bangunan rumah tinggal,
meliputi perhitungan beban akibat gaya gravitasi dan perhitungan beban akibat gaya gempa, hasil dari
analisa perhitungan pembebanan tersebut dijadikan input pada analisis struktur dengan program
SAP2000 v11.

3.1.1

BEBAN GRAVITASI
A. Analisa Pembebanan Pada Pelat Lantai
Beban Mati Tambahan (Super Imposed Dead Load/SIDL)
1. Berat Sendiri Pelat lantai

= auto program SAP2000

2. Keramik lantai ( t = 1 cm)

= 24 kg/m2

3. Adukan ( t = 2 cm) = 21 kg/m2 x 2

= 42 kg/m2

4. Plafond + Penggantung = (7+11) Kg/m2

= 18 Kg/m2

5. ME

= 25 Kg/m2

Total Beban Mati Tambahan (SIDL)

= 109 kg/m2

Gambar 3.1 Pembebanan Super Imposed Dead Load (SIDL) pada pelat lantai 1

Beban Hidup (Live Load/LL)

= 250 kg/m2

Nota Design

3-2 | P a g e

Gambar 3.2 Beban Hidup (Live Load) pada pelat lantai

Gambar 3.3 Input beban mati tambahan (SIDL) dan beban hidup (LL) pada pelat lantai
B. Analisa Pembebanan Pada Balok
Pas.dinding bata (t = 3,4 m) = 250 Kg/m2 x 3,4 m x 60%

= 540 kg/m

Nota Design

3-3 | P a g e

Gambar 3.4 Input beban dinding


3.1.2

BEBAN AKIBAT GAYA GEMPA


Indonesia ditetapkan terbagi kedalam 6 wilayah gempa, dimana wilayah gempa 1 adalah wilayah
dengan kegempaan paling rendah dan wilayah gempa 6 adalah wilayah dengan kegempaan paling
tinggi. Rumah tinggal 2 lantai terletak di Kota Bandung Jawa Barat, sehingga termasuk dalam wilayah
gempa 4.

Gambar 3.5 Input respon spektrum


Beban gempa dibagi menjadi dua, yaitu beban gempa Ex (arah utama sumbu x koordinat global), dan
beban gempa Ey (arah utama sumbu y koordinat global). Load case untuk gempa arah x adalah
sebagai berikut :

Nota Design

3-4 | P a g e

Gambar 3.6 Input beban gempa Ex

Gambar 3.7 Input beban gempa Ey

Arah U1 merupakan arah yang sama dengan arah x dalam koordinat global. Scale factor = I x g/R
dimana I adalah faktor keutamaan struktur (rumah tinggal, I = 1,4), g = satuan percepatan gravitasi (g =
9,8 m/s2 ) dan R adalah faktor reduksi gaya gempa (struktur rangka pemikul momen menengah, maks
nilai R = 5,5). Nilai ordinat respon spektrum merupakan nilai pseudo percepatan struktur (Sa) yang
telah dinormalisasi dalam satuan g. Untuk menjadikannya komponen dari gaya luar yang bekerja pada
struktur maka nilai c harus dikalikan satuan gravitasi. Nilai I/R merupakan nilai modifikasi berdasarkan

Nota Design

3-5 | P a g e
peraturan kegempaan indonesia. Untuk semua mode, redaman diasumsikan memiliki nilai konstan yaitu
5%.
3.2

PRELIMINARY DESIGN
Preliminary Design dilakukan sebagai langkah awal untuk menentukan dimensi penampang struktur
yang terdiri dari balok, kolom dan pelat lantai. Preliminary Design untuk struktur balok dan pelat lantai
dihitung berdasarkan persyaratan tebal minimum (hmin), sedangkan Preliminary Design kolom dilakukan
dengan mengasumsikan dimensi terlebih dahulu, untuk selanjutnya dihitung kekuatan terhadap beban
aksial maksimum.

3.2.1 PRELIMINARY DESIGN BALOK


Tebal minimum (hmin) balok dapat ditentukan berdasarkan komponen penahannya, seperti terlihat pada
Tabel 3.1.
Tabel 3.1 Tebal minimum balok non-prategang atau pelat satu arah bila lendutan tidak dihitung
Tebal minimum, h
Dua tumpuan
Komponen struktur

Satu ujung

Kedua ujung

Kantilever
sederhana
menerus
menerus
Komponen yang tidak menahan atau tidak disatukan dengan partisi atau
konstruksi lain yang mungkin akan rusak oleh lendutan yang besar

Pelat masif satu


arah
Balok atau pelat
rusuk satu arah
CATATAN

/20

/24

/28

/10

/16

/18,5

/21

/8

Panjang bentang dalam mm.


Nilai yang diberikan harus digunakan langsung untuk komponen struktur dengan beton normal (Wc =
2400 kg/m3) dan tulangan BJTD
40. Untuk kondisi 380
lain, nilai diatas harus
550
370 dimodifikasikan sebagai
berikut :
(a) Untuk struktur beton ringan dengan berat jenis diantara 1500 kg/m3 sampai 2000 kg/m3, nilai tadi
jenis dalam kg/m3.

550

500

harus dikalikan dengan [1,65(0.0003)Wc] tetapi tidak kurang dari 1,09, dimana Wc adalah berat
(b) Untuk fy selain 400 MPa, nilainya harus dikalikan dengan (0,4 + fy /700)

250

Sumber : SNI 03-2847-2002

200
450

450

Dimensi balok dihitung berdasarkan acuan bentang terpanjang, yaitu bentang 5,5 m (gambar 3.8).

Nota Design

3-6 | P a g e

Gambar 3.8 Denah Pembalokan Lantai 2


Berdasarkan Tabel 3.1 didapat :

5500
Tebal minimum balok (hmin) = 18,5 = 18,5 = 297,3 mm 400 mm
dicoba lebar balok (b) = 200 mm
Dimensi balok B1 adalah 200/400
Asumsi :
diameter tulangan, D

= 13 mm

diameter sengkang,

= 8 mm

selimut beton

= 25 mm

D
d = h ( sel.beton + sengkang + 2 )
= 400 (25 + 8 +6,5)
= 400 39,5
= 360,5 mm

200
b
r = d = 360,5 = 0,55

Nota Design

3-7 | P a g e
380

370

450

450

200

250

550

500

550

Gambar 3.9 Distribusi Pembebanan Pada Balok Induk (B1)

Tinggi ekivalen 1 (q1)

Luas pembebanan
Panjang bentang balok
=
1 m2
= 2m
= 0,5 m

Tinggi ekivalen 2 (q2)

Luas pembebanan
= Panjang bentang balok

2,81 m2
= 3,5m
= 0,8 m
Tinggi Ekivalen = 1,3 m
Menghitung Beban Yang Diterima Balok Induk
Beban Mati (Dead Load) 1
1. b.s pelat lantai (t asumsi = 0,12 m) = 0,12 2400 1,3
2. Keramik (t = 1 cm) = 1 24 1,3
3. Adukan (t = 2 cm) = 2 21 1,3

= 374,4 kg/m
= 31,2 kg/m
= 54,6 kg/m

4. Penggantung langit-langit+plafond = (7+11) 1,3

= 23,4 kg/m

5. Utilitas = 25 1,3

= 32,5 kg/m

Nota Design

3-8 | P a g e
Total DL 1

= 516,1 kg/m

Beban Mati (Dead Load) 2


1. b.s balok (200/400) = 0,4 0,2 2400

= 192

kg/m

2. Dinding = 250 3,4 x 60%

= 510

kg/m

3. Plesteran dinding = 2 21 x 3,4

= 142,8 kg/m

Total DL2

= 844,8 kg/m

Beban mati total = 516,1 + 844,8 = 1361 kg/m


Beban Hidup (Live Load)
LL total = 250 1,3 = 325 kg/m
Beban terfaktor (W)

= 1,2 DL + 1,6 LL
= (1,2 1361) + (1,6 325)
= 2153 kg/m

Mencari Beban Terpusat Dari Balok Anak


Sebelum mencari beban terpusat dari balok anak, terlebih dahulu kita tentukan tinggi ekivalen.

550

370

200

380

450

450

250

500

550

Nota Design

3-9 | P a g e

Gambar 3.10 Distribusi Beban Yang Diterima Balok Anak

Luas pembebanan
Tinggi ekivalen (q1) = Panjang bentang balok

3,06
= 2,5 = 1,224 m

Beban Mati (Dead Load)


1.

b.s pelat lantai (t asumsi = 0,12 m) = 0,12 2400 1,2 = 350,21 kg/m

2.

b.s balok anak (200/150)

3.

Keramik (t = 1 cm) = 1 24 1,2

= 29,184 kg/m

4.

Adukan (t = 2 cm) = 2 211,2

= 51,072 kg/m

5.

Penggantung langit-langit+plafond = (7+11) 1,2

6.

Utilitas = 25 1,216

= 0,3 0,15 2400

= 108

kg/m

= 21,89 kg/m
= 30,4 kg/m

Total DL

= 590,756 kg/m

Beban Hidup (Live Load)


LL total = 250 1,2 = 304 kg/m
Beban terfaktor (W)

= 1,2 DL + 1,6 LL
= (1,2 590,756) + (1,6 304)
= 1195,3 kg/m

Mencari Reaksi Perletakan Pada Balok Anak

1195,3 2,5
2
P=
= 1494,125 kg

P=1494,125 kg
q =2153 Kg.m

8400

5,5

Nota Design

3-10 | P a g e

Gambar 3.11 Beban-beban pada balok induk

1
1
= 8 q.l2 + 4 P.l

Mmaks

1
1
= 8 2153 5,52 + 4 1494,125 5,5
= 10195,45 kg.m = 99,92 kN.m
Dipakai beton dengan c = 25 Mpa, y = 400 Mpa. Berdasarkan SNI 03-2847-2002 pasal 12.2(7(3)),
nilai 1 untuk 0 < c < 30 Mpa adalah 0,85.
Rasio tulangan pada keadaan seimbang (b )

0,851 ' c
y
b =

600
600
y

600
0,85 0,85 25

600 400 = 0,03


=
400

asumsi = 0,7b
= 0,7 0,03
= 0,022

. y
'
= c

0,022 400
25
=
= 0,303

k = . c (1 0,59)
= 0,303 25 (1 0,59 0,303)550

380

370

d perlu =

Mu
rk

500

99,92
0,8 0,55 6,228 10 3 = 0,307 m = 370 mm

syarat : (d 20%d ) < d perlu < (d + 20%d )

550

= 6,228

288,4 mm < 307 mm < 432,6 mm..OK!!!

PRELIMINARY DESIGN KOLOM

Rencana Pendahuluan dilakukan dengan mengecek gaya normal yang bekerja pada kolom,
450

sedangkan untuk mengecek momen lenturnya diabaikan.


450

3.2.2

200

250

Dengan demikian dimensi balok 200/400 dapat digunakan !!

Nota Design

3-11 | P a g e

Gambar 3.12 Luas Daerah Pembebanan Kolom (K1)


Luas daerah pembebanan

= 16,275 m2

Pembebanan pada pelat lantai 1


1.
2.
3.
4.

B.s pelat lantai


Finishing (keramik+adukan)
Plafound+penggantung
Utilitas

Total

= 288 kg/m2
= 66 kg/m2
= 18 kg/m2
= 25 kg/m2
= 397 kg/m2

Pembebanan keseluruhan
Beban Mati (DL)
1. Pelat lantai 1
2. Balok 1 (0,4 x 0,2)
3. Kolom asumsi (400 x 150)

= 6461,175 kg
= 1373 kg
= 489,6 kg

Total DL

= 8323,575 kg

Beban Hidup (LL)

= 4068,75 kg

Nota Design

3-12 | P a g e
Pu

= 1,2 DL + 1,6 LL

Pu

= 16498,29 kg

Pu
0,8 0,85 fc' 1 g fy. g

= 164,9829 kN

Ag perlu

Ag perlu

= 9729 mm2

Ag penampang (400 x 150)

= 60.000 mm2

Ag penampang > Ag perlu.OK!!


PRELIMINARY DESIGN PELAT LANTAI
Tebal Minimum Pelat Lantai (hmin)
Untuk menghitung hmin diambil panel yang mempunyai luas terbesar, yaitu :

550
200

250

350

250

500

3.2.3

Gambar 3.13 Panel Terbesar

L y 350
=
=1,4 2( pelat dua arah)
Lx 250
ln 2=L x ( 2( 0,5 h ) )=250( 2( 0,5400 ) ) =2100 mm
ln 1=L y ( 2( 0,5b ) )=350( 2( 0,5150 )) =3350 mm
ln 3350
= 1 =
=1,595
ln 2 2100
Berdasarkan SNI 03-2847-2002, tabel 10 halaman 66 mengenai tebal minimum pelat tanpa balok
interior untuk tegangan leleh fy=320 MPa adalah dengan cara interpolasi.

33+

( 320300 )
x ( 3633 )=33,6
( 400300 )

Jadi didapat

h1min =

ln 1 3350
=
=99,7 mm 100 mm
33,6 33,6

Momen inersia penampang balok

Nota Design

3-13 | P a g e
Dimensi Balok 1 200 x 400

1
x b x h3
12
1
3
I b= x 200 x 400
12
I b=1.066 .666 .667 mm4
I b=

Momen inersia penampang pelat

1
x 3500 x 100 3=291.666 .667 mm4
12
1
3
4
Ip2=Ip 4 = x 2500 x 100 =208.333.333 mm
12
Ip1=Ip 3=

Menentukan m dan h

I b 1.066 .666 .667


=
=3,657
Ip 1 291.666 .667
I
1.066 .666.667
2= 4= b =
=5,12
Ip2
208.333 .333
+ + + 3,657+3,657+ 5,12+5,12
m= 1 2 3 4 =
=4,389
4
4
1= 3 =

Berdasarkan SNI 03-2847-2002, (11.5(3(3)) untuk 2 > m>0.2, ketebalan pelat min adalah

fy
320
3350 0,8+
1500
1500
h2 min
=
=48,91 mm
36+5 ( m0,2) 36+5 x 1,595(4,3890,2)

n 0,8+

dan tidak boleh kurang dari 120 mm.


h3 min = 120 mm
Jadi diambil h yang paling besar yaitu 120 mm.
3.3 ANALISA STRUKTUR
3.3.1 PERHITUNGAN MOMEN LENTUR
Perhitungan momen dilakukan dengan bantuan program SAP2000, yaitu dengan input hasil
perhitungan pada sub bab analisa pembebanan dan preliminary design.

Nota Design

3-14 | P a g e

Gambar 3.14 Momen maksimum pada balok B1 Portal arah y

Nota Design

3-15 | P a g e

Gambar 3.15 Momen maksimum pada balok B1 Portal arah x

3.3.2 PERHITUNGAN PENULANGAN


A. Perhitungan Penulangan Balok
Penulangan Tumpuan Kiri dan Kanan Balok (0-1375 mm dan 4125-5500 mm)

Nota Design

3-16 | P a g e

Gambar 3.16 Luas tulangan perlu pada daerah tumpuan

Jumlah tulangan atas=

78,504
=0,59 2 D 13
132,665

Jumlah tulangan bawah=

116,616
=0,87 2 D 13
132,665

Tulangan geser

50,24
=0
0,0
Dipakai jarak tulangan geser minimum sk 8-100

Penulangan Lapangan Balok (1375 4125 mm)

Gambar 3.17 Luas tulangan perlu pada daerah lapangan

Nota Design

3-17 | P a g e
Jumlah tulangan atas=

258,553
=1,9 2 D 13
132,665

Jumlah tulangan bawah=

42,149
=0,3 2 D 13
132,665

Tulangan Geser

50,24
=0
0
Dipakai jarak tulangan geser minimum untuk daerah lapangan sk 8-150

B. Perhitungan Penulangan Kolom

Gambar 3.18 Luas tulangan perlu pada kolom

Nota Design

3-18 | P a g e

Jumlah tulangan=

600
=4,5 6 D 13
132,665

C. Perhitungan Penulangan Pelat Lantai


Menghitung Beban Ultimate (Wu)
hmin = 120 mm, maka berat sendiri pelat lantai (DL2) = 0,12 m x 2400 kg/m3 = 288 kg/m2
DL = DL1 + DL2
= 109 + 288
= 397 kg/m2
Wu = 1,2 DL + 1,6 LL
= (1,2 x 397) + (1,6 x 250)
= 876,4 kg/m2
= 8,76 kN/m2
Menghitung Luas Tulangan (As)
Type panel = III

L y 350
=
=1,4
Lx 250
Daerah lapangan sisi terpendek
Mlx
= 0,001 x Wu x Ix22 x koef

koef =45
= 0,001 x 8,764 x 2,52 x 45
= 2,5 kN.m/m

Mlx

M lx

A s 1=

( a2 )

x f y x d

2,5 x 106
A s 1=
0,8 x 400 x(0,990)
A s 1=118,9 mm2
Daerah lapangan sisi terpanjang
Mly
= 0,001 x Wu x Ix22 x koef

koef =26

= 0,001 x 8,764 x 2,52 x 26


= 2,8 kN.m/m

Mly

M ly

A s 2=

( a2 )

x f y x d

2,8 x 10
0,8 x 400 x( 0,990)
2
A s 2=134,6 mm
A s 2=

Derah tumpuan sisi terpendek


Mtx
= -0,001 x Wu x Ix22 x koef

koef =98
Mtx

= -0,001 x 8,764 x 2,52 x 98

Nota Design

3-19 | P a g e
= -5,4 kN.m/m

M tx

As3=

( a2 )

x f y x d

5,4 x 106
As3=
0,8 x 400 x( 0,990)
A s 3 =259 mm2

Daerah tumpuan sisi terpanjang


Mty
= -0,001 x Wu x Ix22 x koef

koef =77
Mty

A s 4=

= -0,001 x 8,764 x 2,52 x 77


= -8,3 kN.m/m

M ty

( a2 )

x f y x d

8,3 x 106
0,8 x 400 x (0,990)
A s 4=399 mm2
A s 4=

Menghitung Jarak Antar Tulangan


Dia.8 mm, As = 50,24 mm2

A s1 118,9
=
=2,36
A s 50,24
1000 1000
S 1=
=
=422,6 mm
n1
2,36
A
134,6
n2= s 2 =
=2,679
A s 50,24
1000 1000
S 2=
=
=373,2mm
n2
2,679
A
259
n3= s 3 =
=5,15
A s 50,24
1000 1000
S 3=
=
=194 mm
n3
5,15
A
399
n4 = s 4 =
=7,94
A s 50,24
1000 1000
S4 =
=
=126 mm
n4
7,94
n1=

Diambil jarak tulangan yang terkecil yaitu 126 mm ~ 100 mm

Nota Design