Anda di halaman 1dari 2

Konversi hutan mangrove yang dilakukan oleh

masyarakat pantai atau siapapun yang digunakan


untuk berbagai macam kegiatan pada prinsipnya
akan merusak lingkungan
Secara garis besar ada dua faktor penyebab
rusaknya kawasan mangrove, yaitu: faktor
manusia, yang merupakan faktor dominan yang
menjadi penyebab utama kerusakan dalam hal
pemanfaatan lahan yang berlebihan dan faktor
alam, seperti: banjir, kekeringan, dan hama
penyakit, yang merupakan faktor penyebab
kerusakan yang relatif kecil jika di bandingkan pada
faktor utama
Nugroho, Setiawan dan Harianto, 1991

Pramudji. 2000. Dampak Perilaku Manusia Pada Ekosistem Hutan Mangrove Di


Indonesia. Oseana 25 (2): 13-20. Pusat Penelitian Oseanografi. LIPI.
Jakarta

Ekosistem mangrove bersifat dinamis, setiap


tempat memiliki komposisi spesies tersendiri.
Ekosistem ini memiliki kemampuan tinggi untuk
kembali terbentuk setelah kerusakan hebat selama
pola hidrologi kembali stabil dan tersedia sumber
propagul (Manassrisuksi et al., 2001). Perubahan
fisik seperti pengeringan, pembangunan kanal, dan
pemakaian pupuk dapat mempengaruhi habitat
mangrove, sehingga struktur dan komposisinya
dapat berubah-ubah (Tanaka, 1992; Odum, 1971).

Ambil dari paper ahmad dwi tapi dia sitasinya odum n tanaka yg dua duanya tanaka n
odum ada d sitasi paper tsb

Sudarmadji. 2001. Rehabilitasi Hutan Mangrove Dengan Pemberdayaan Masyarakat


Pesisir. Jurnal Ilmu Dasar vol 2. No 1.

Nugroho, S. G., A. Setiawan dan S. P. Harianto. 1991. "Coupled Ecosystem SilvoFishery" Bentuk Pengelolaan Hutan Mangrove-Tambak yang Saling
Mendukung dan Melindungi. Prosiding Seminar IV Ekosistem
Mangrove. Panitia Nasional Program MAB Indonesia-UPI. Jakarta.

Huda, 2008. Strategi kebijakan pengelolaan mangrove berkelanjutan di wilayah pesisir


kabupaten tanjung jabung timur jambi. Tesis Universitas Diponegoro. Semarang.