Anda di halaman 1dari 10

Pengukuran Antropometri Balita

di RT 04 RW 08 Kedaung
Sawangan - Depok
Laporan Praktikum Penilaian Status Gizi

Oleh:

Mizna Sabilla
108101000011

Program Studi Kesehatan Masyarakat


Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
Jakarta
2011

I.

Tujuan
a.

Mahasiswa memahami dan dapat melakukan pengukuran antropometri

b.

balita
Mahasiswa memahami dan dapat melakukan pengolahan data, analisis, dan
interpretasi data antropometri balita

II.

Dasar Teori
a. Definisi Antropometri
Antropometri

berasal

dari

kata

anthropos

dan

metros.

Anthropos artinya tubuh dan metros artinya ukuran. Sehingga


secara umum antropometri adalah ukuran tubuh manusia.
Ditinjau dari sudut pandang gizi, maka antropometri gizi
berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi
tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan gizi.
Antropometri

secara

ketidakseimbangan

umum

digunakan

untuk

melihat

protein

dan

energi.

asupan

Ketidakseimbangan ini terlihat pada pola pertumbuhan fisik dan


proporsi jaringan tubuh seperti lemak, otot, dan jumlah air dalam
tubuh.
b. Konsep Antropometri Gizi
Pengukuran antropometri ada 2 tipe, yaitu pertumbuhan dan
ukuran komposisi tubuh yang dibagi menjadi pengukuran lemak
tubuh

dan

massa

tubuh

yang

bebas

lemak.

Penilaian

pertumbuhan merupakan komponen esensial dalam surveilans


kesehatan anak karena hampir setiap masalah yang berkaitan
dengan

fisiologi,

interpersonal,

dan

domain

sosial

dapat

memberikan efek yang buruk pada pertumbuhan anak.


1. Konsep Pertumbuhan dan Perkembangan
Menurut Jelliffe D.B. (1989) dalam Supariasa (2002),
pertumbuhan adalah peningkatan secara bertahap dari tubuh,
organ

dan

Pertumbuhan

jaringan
berkaitan

masa
dengan

konsepsi

sampai

perubahan

dalam

remaja.
besar,

jumlah, ukuran dan fungsi tingkat sel, organ maupun individu,


1

yang diukur dengan ukuran berat (gram, pound, kilogram),


ukuran panjang (cm, m), umur tulang dan keseimbangan
metabolik (retensi kalsium dan nitrogen tubuh).
Sedangkan

definisi

perkembangan

menurut

Supariasa

(2002) adalah bertambahnya kemampuan dalam struktur dan


fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan
dapat

diramalkan

sebagai

hasil

proses

pematangan.

Perkembangan menyangkut adanya proses diferensiasi dari sel


sel tubuh, jaringan tubuh, organ organ dan sistem organ
yang berkembang sedemikian rupa sehingga masing masing
dapat

memenuhi

fungsi

di

dalamnya

termasuk

pula

perkembangan emosi, intelektual, dan tingkah laku sebagai


hasil interaksi dengan lingkungannya.
Jadi,

dapat

disimpulkan

bahwa

pertumbuhan

lebih

menekankan pada aspek fisik, sedangkan perkembangan pada


aspek pematangan fungsi organ, terutama kematangan sistem
saraf pusat.
c. Metode Pengukuran Antropometri untuk Menilai Status
Gizi Balita
Parameter antropometri merupakan dasar dari penilaian
status gizi. Kombinasi antara beberapa parameter disebut Indeks
Antropometri. Beberapa indeks antropometri balita adalah:
-

Berat badan menurut umur (BB/U)


Tinggi badan menurut umur (TB/U)
Berat badan menurut Tinggi badan (BB/TB)
Lingkar lengan atas menurut umur (LLA/U)

BB/U
Indeks BB/U adalah pengukuran total berat badan termasuk
air, lemak, tulang dan otot. Dalam keadaan normal, dimana
keadaan baik dan keseimbangan antara konsumsi dan kebutuhan
zat gizi terjamin, maka berat badan berkembang mengikuti
pertambahan umur. Sebaliknya dalam keadaan yang abnormal,
2

terdapat dua kemungkinan perkembangan berat badan, yaitu


dapat berkembang cepat atau lebih lambat dari keadaan normal.
Berdasarkan karakteristik berat badan ini, maka indeks berat
badan

meurut

umur

digunakan

sebagai

salah

satu

cara

pengukuran status gizi.


TB/U
Indeks TB/U adalah pertumbuhan linier. Pada keadaan normal,
tinggi badan tinggi badan tumbuh seiring dengan pertambahan
umur. Pertumbuhan tinggi badan tidak seperti berat badan,
relatif kurang sensitif terhadap masalah kurang gizi dalam waktu
yang pendek. Berdasarkan karakteristik tersebut, maka indeks ini
menggambarkan status gizi masa lalu.
BB/TB
Berat badan memiliki hubungan yang linear dengan tinggi
badan. Dalam keadaan normal, perkembangan berat badan akan
searah dengan pertumbuhan tinggi badan dengan kecepatan
tertentu.
LLA/U
Indeks LLA adalah pengukuran terhadap otot, lemak, dan
tulang pada area yang diukur. Lingkar lengan atas merupakan
parameter antropometri yang sangat sederhana dan mudah
dilakukan oleh tenaga yang bukan profesional. Parameter ini
merupakan indeks status gizi saat ini.
d. Penggunaan Indeks Antropometri Gizi
Dari

berbagai

jenis

indeks

antropometri,

untuk

menginterpretasikannya dibutuhkan ambang batas. Ambang batas


dapat disajikan dalam tiga cara, yaitu persen terhadap median,
persentil dan standar deviasi unit. Dari ketiga cara tersebut, kini
yang digunakan di Indonesia adalah standar deviasi unit.
Standar Deviasi Unit
3

Standar

Deviasi

Unit

disebut

juga

Z-skor.

WHO

menyarankan menggunakan cara ini untuk meneliti dan untuk


memantau pertumbuhan.
Rumus perhitungan Z-skor:

Z skor =

Nilai Individu SubyekNilai Median Baku Rujukan


Nilai Simpang Baku Rujukan

Tabel 1.1
Klasifikasi KEP menurut Depkes berdasarkan WHO-NCHS
Indikator

Simpangan Baku
2 SD

Status Gizi
Gizi lebih

-2 SD sampai +2 SD

Gizi baik

<-2 SD sampai 3 SD

Gizi kurang

TB/U

<-3SD
-2 SD sampai +2 SD

Gizi buruk
Normal

BB/TB

< -2 SD
2 SD

Pendek (stunted)
Gemuk

-2 SD sampai +2 SD

Normal

<-2 SD sampai 3 SD

Kurus

BB/U

Sangat kurus
<-3SD
Sumber: Nasir, N. Mutia dan Febriyanti. Modul Gizi Kesehatan
Masyarakat. FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

III.

Hasil dan Pembahasan


a. Pengukuran BB, TB, LLA
Tabel 1.2
Hasil Pengukuran BB, TB dan LLA Balita

Nama

JK

o
1

M.

Ferdia

Tgl

Umu

Lahir

29-2-

(th)
3

2008

BB
1
11,1
0

n
2

syah
M.
Safa

TB

LLA

(Kg)
2

(cm)
2

11,1

11,1

90,6

90,6

90,

12,6

5
5
Rata2 = 11,13

7
Rata2 = 90,63

(cm)
2

12,

13

6
Rata2 =
12,73

7-32008

12,7
0

12,7

12,7

5
5
Rata2 = 12,73

94,2

94,1

94

Rata2 = 94,1

14

14

14

Rata2 = 14

b. Penghitungan Z-Skor
1. M. Ferdiansyah
BB/U
11,1314,7
Z skor =
14,713,1

3,57
1,6

-2,23

Status Gizi : Gizi Kurang

TB/U
Z skor =

90,6396,1
96,192,4

5,47
3,7

= -1.47

Status Gizi : Pendek (Stunted)

BB/TB
Z skor =

11,1313
1312

1,87
1

= -1,87

Statu Gizi : Normal


2. M. Safa
BB/U
Z skor =

12,7314,7
14,713,1

1,97
1,6

= -1,23

Status Gizi : Gizi Baik

TB/U
Z skor =

94,196,1
96,192,4

2
3,7

= - 0,05

Status Gizi : Gizi Baik / Normal

BB/TB
Z skor =

12,7313,8
13,812,8

1,07
1

= -1,07

Status Gizi : Normal


c. Pembahasan
Pengukuran dilakukan pada dua orang balita berjenis
kelamin laki-laki dan berusia 3 tahun. Setiap parameter
dilakukan pengukuran sebanyak 3 kali. Hal ini dilakukan guna
memperkecil kesalahan yang dapat dilakukan oleh petugas
6

pengukuran. Sebab untuk mendapat data antropometri yang


baik harus sesuai dengan standar prosedur pengumpulan data
antropometri serta memperhatikan presisi dan akurasi data.
Presisi ialah kemampuan mengukur subyek yang sama secara
berulang-ulang dengan kesalahan yang minimum. Sedangkan
akurasi adalah kemampuan mendapatkan hasil yang sedekat
mungkin dengan hasil yang diperoleh.
Melihat ketiga data hasil pengukuran, presisi dan akurasi
data tersebut terbilang cukup baik. Hal ini ditunjukkan pada
minimnya perbedaan angka pada setiap hasil pengukuran.
Setelah dilakukan tiga kali pengukuran, diperoleh rata-rata
tiap parameter dan dapat dihitung z-skor masing-masing
indeks antropometri gizi. Akan tetapi, untuk indeks LLA/U
tidak dilakukan perhitungan z-skor, sebab hanya dapat
digunakan pada usia 0 24 bulan.
Pada anak pertama, M. Ferdiansyah,
berdasarkan

BB/U

dinyatakan

gizi

buruk,

status
untuk

gizi
TB/U

dinyatakan pendek (stunted), dan untuk BB/TB dinyatakan


normal. Bahkan nilai z-skor BB/TB pun hampir mendekati gizi
kurang, yaitu sebesar -1,87. Kurangnya gizi pada anak
tersebut dapat disebabkan karena berbagai faktor, salah
satunya kurangnya asupan gizi.
Sedangkan pada anak

kedua,

M.

Safa,

secara

keseluruhan berstatus gizi baik atau normal dengan nilai zskor antara -2 sampai dengan +2. Melihat hal itu dapat
diperkirakan bahwa anak tersebut telah memperoleh asupan
gizi yang cukup.
IV.

Simpulan
Di masyarakat, cara pengukuran status gizi yang paling sering
adalah

antropometri

gizi.

Terdapat

beberapa

parameter

antropometri yang merupakan dasar dari penilaian status gizi.


Kombinasi antara beberapa parameter disebut indeks antropometri.
Indeks antropometri yang dipergunakan untuk menilai status gizi
balita antara lain:
7

BB/U (berat badan menurut umur)


TB/U (tinggi badan menurut umur)
BB/TB (berat badan menurut tinggi badan)
LLA/U (lingkar lengan atas menurut umur)

Untuk menilai status gizi balita, dilakukan dahulu perhitungan


z-skor dari data masing-masing parameter dengan melihat pada
tabel standar WHO. Setelah itu hasil z-skor dilihat pada klasifikasi
status gizi berdasarkan WHO-NCHS.
Status gizi kurang yang dimiliki objek pertama dapat disebabkan
oleh kurangnya asupan gizi. Oleh sebab itu sangat diperlukan
penilaian status gizi secara berkala guna mendeteksi permasalahan
gizi di masyarkat. Dengan demikian permasalahan gizi dapat segera
ditangani.

Daftar Pustaka
Narendra,

Moersintowarti

B.

Pengukuran

Antropometri

Pada

Penyimpangan Tumbuh Kembang Anak. FK Unair / RSU Dr.


Soetomo Surabaya
Nasir, Narila Mutia dan Febriyanti. Modul Gizi Kesehatan Masyarakat.
FKIK UIN Syarif Hidayaullah Jakarta
Supariasa, dkk. Penilaian Status Gizi. 2002. Cetakan I. Jakarta: EGC.
WHO child growth standards : length/height-for-age, weight-for-age,
weight-for-length, weight-forheight and body mass index-for-age :
methods

and

development.

WHO

2007.

www.who.int/childgrowth/en.
WHO child growth standards : head circumference-for-age, arm
circumference-forage, triceps skinfold-for-age and subscapular
skinfold-for-age

methods

and

development.

WHO

2007.

www.who.int/childgrowth/publications/technical_report_pub/en/ind
ex.html.