Anda di halaman 1dari 2

PENGHENTIAN DAN PELEPASAN ASET TAK BERWUJUD

A. Menurut PMK Nomor 219/PMK.05/2013


Aset Tidak Berwujud diperoleh dengan maksud untuk digunakan dalam mendukung
kegiatan operasional pemerintah. Namun demikian, pada saatnya suatu Aset Tidak
Berwujud harus dihentikan dari penggunaannya. Beberapa keadaan dan alasan
penghentian Aset Tidak Berwujud antara lain adalah penjualan, pertukaran, hibah, atau
berakhirnya masa manfaat Aset Tidak Berwujud sehingga perlu diganti dengan yang baru.
Secara umum, penghentian Aset Tidak Berwujud dilakukan pada saat dilepaskan
atau Aset Tidak Berwujud tersebut tidak lagi memiliki manfaat ekonomi masa depan yang
diharapkan dari penggunaannya. Pelepasan Aset Tidak Berwujud dilingkungan pemerintah
lazim juga disebut sebagai pemindahtanganan.
Apabila suatu Aset Tidak Berwujud tidak dapat digunakan karena ketinggalan jaman,
tidak sesuai dengan kebutuhan organisasi yang makin berkembang, rusak berat, atau masa
kegunaannya telah berakhir, maka ATB tersebut hakekatnya tidak lagi memiliki manfaat
ekonomi masa depan, sehingga penggunaannya harus dihentikan.
Apabila suatu Aset Tidak Berwujud dihentikan dari penggunaannya, baik karena
dipindahtangankan maupun karena berakhirnya masa manfaat atau tidak lagi memiliki
manfaat ekonomi, maka pencatatan Aset Tidak Berwujud yang bersangkutan harus
dikoreksi.
Dalam hal penghentian Aset Tidak Berwujud merupakan akibat dari
pemindahtanganan dengan cara dijual atau dipertukarkan sehingga pada saat terjadinya
transaksi belum seluruh nilai buku Aset Tidak Berwujud yang bersangkutan habis
diamortisasi, maka selisih antara harga jual atau harga pertukarannya dengan nilai buku
Aset Tidak Berwujud terkait diperlakukan sebagai pendapatan/beban dari kegiatan non
operasional pada Laporan Operasional.
Penerimaan kas akibat penjualan dibukukan sebagai pendapatan dan dilaporkan
pada Laporan Realisasi Anggaran. Sedangkan kas dari penjualan Aset Tidak Berwujud
dimaksud sebesar nilai bukunya dikelompokkan sebagai kas dari aktifitas investasi pada
Laporan Arus Kas.

B. Menurut Buletin Teknis Nomor 11


Aset tak berwujud diperoleh dengan maksud untuk digunakan dalam mendukung
kegiatan operasional pemerintah. Namun ada saatnya suatu aset tak berwujud harus
dihentikan dari penggunaannya. Beberapa keadaan dan alasan penghentian aset tak
berwujud antara lain adalah penjualan, pertukaran, hibah, atau berakhirnya masa manfaat
aset tak berwujud sehingga perlu diganti dengan yang baru. Secara umum penghentian aset
tak berwujud dilakukan pada saat dilepaskan atau aset tak berwujud tersebut tidak lagi
memiliki manfaat ekonomi masa depan yang diharapkan dari penggunaan atau
pelepasannya.
Pelepasan ATB dilingkungan pemerintah lazim disebut sebagai pemindahtanganan.
Sesuai dengan PMK Nomor 96/PMK.08/2007 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara dan
Permendagri Nomor 17/2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Barang Milik Daerah,

pemerintah dapat melakukan pemindahtanganan BMN/BMD yang di dalamnya termasuk


ATB dengan cara:
1. dijual;
2. dipertukarkan;
3. dihibahkan; atau
4. dijadikan penyertaan modal negara/daerah.
Apabila suatu ATB tidak dapat digunakan karena ketinggalan jaman, tidak sesuai
dengan kebutuhan organisasi yang makin berkembang, rusak berat, atau masa
kegunaannya telah berakhir, maka ATB tersebut hakekatnya tidak lagi memiliki manfaat
ekonomi masa depan, sehingga penggunaannya harus dihentikan. Selanjutnya, terhadap
aset tersebut secara akuntansi dapat dilepaskan, namun harus melalui proses yang dalam
terminologi PMK Nomor 96/PMK.08/2007 tentang pengelolaan BMN dan Permendagri
Nomor 17/2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Barang Milik Daerah, disebut dengan
penghapusan.
Apabila suatu ATB dihentikan dari penggunaannya, baik karena dipindahtangankan
maupun karena berakhirnya masa manfaat/tidak lagi memiliki manfaat ekonomi, maka
pencatatan akun ATB yang bersangkutan harus ditutup.
Dalam hal penghentian ATB merupakan akibat dari pemindahtanganan dengan cara
dijual atau dipertukarkan sehingga pada saat terjadinya transaksi belum seluruh nilai buku
ATB yang bersangkutan habis disusutkan, maka selisih antara harga jual atau harga
pertukarannya dengan nilai buku ATB terkait diperlakukan sebagai penambah atau
pengurang ekuitas dana. Penerimaan kas akibat penjualan dibukukan sebagai pendapatan
dan dilaporkan pada Laporan Realisasi Anggaran.

C. Menurut IPSAS 31
Aset tidak berwujud harus dihentikan pengakuannya:
(a) Pada pelepasann (termasuk pelepasan melalui non-exchange transaksi); atau
(b) Bila tidak ada manfaat ekonomi masa depan atau potensi jasa yang diharapkan dari
penggunaan atau pelepasannya.
Laba atau rugi yang timbul dari penghentian pengakuan
ditentukan sebagai selisih antara jumlah neto hasil pelepasan,
yang tercatat. Ini harus diakui surplus atau defisit saat
pengakuannya (kecuali IPSAS 13 menentukan sebaliknya pada
kembali).

aset tidak berwujud harus


jika ada, dan jumlah aset
aset tersebut dihentikan
penjualan dan penyewaan

Pelepasan aset tidak berwujud dapat terjadi dalam berbagai cara (misalnya, dengan
dijual, dengan memasukkan ke dalam sewa pembiayaan, atau melalui transaksi nonexchange). Dalam menentukan tanggal pelepasan aset tersebut, entitas menerapkan
kriteria dalam IPSAS 9 untuk mengakui pendapatan dari penjualan barang. IPSAS 13
berlaku untuk pelepasan oleh penjualan dan penyewaan.