Anda di halaman 1dari 78

PERANCANGAN

PERKERASAN
JALAN
POKOK BAHASAN:
PERANCANGAN CAMPURAN
BERASPAL DENGAN METODE
THE ASPHALT INSTITUTE

DAFTAR REFERENSI

The Asphalt Institute (1979), Mix Design Methods for


Asphalt Concrete and Other Hot-Mix Types (Manual
Series-2)
Silvia Sukirman (2003), Beton Aspal Campuran Panas
Departemen Pekerjaan Umum (1987), Petunjuk
Pelaksanaan Lapis Aspal Beton (LASTON) untuk Jalan
Raya

SUB POKOK BAHASAN


PERKULIAHAN

Pendahuluan
Tujuan perancangan campuran perkerasan
Tahap-tahap perancangan campuran perkerasan

Pemilihan dan pencampuran fraksi agregat


Perhitungan berat jenis agregat
Perancangan campuran beraspal dengan metode Marshall

PENDAHULUAN
Perkerasan kaku
-

concrete slab
Portland Cement Association

Perkerasan lentur
asphaltic concrete (AC) - HMA
Asphalt Institute
Mix design methods for asphalt concrete and other hot-mixed types
(MS 2), berdasarkan metode Marshall

TAHAP-TAHAP PERANCANGAN
CAMPURAN BERASPAL

Perancangan campuran beraspal dgn metode Marshall

Diformulasikan pertama kali oleh Bruce Marshall dari Mississipi


State Highway Department.
Dikembangkan selanjutnya oleh US Corps of Engineers, untuk
keperluan Perang Dunia kedua
Metode ini dibakukan dalam ASTM D-1559-76 atau AASHTO T245-90

TUJUH PROPERTI DARI


CAMPURAN BERASPAL
Workability

Stability

Durability

Fatigue
resistance

Impermeability

Flexibility
Skid
resistance

TUJUAN

Mendapatkan campuran beraspal yang ekonomis yang


mempunyai kecukupan aspal untuk menjamin sifat-sifat:

durable
stable
sufficient voids
workable

TAHAP-TAHAP PERANCANGAN
CAMPURAN BERASPAL

RANCANGAN PROPORSI
AGREGAT

Pemilihan dan pencampuran fraksi agregat

Berasal dari 3 fraksi agregat berbeda: coarse, fine, filler


Pencampuran fraksi-fraksi dengan proporsi tertentu untuk
mendapatkan gradasi agregat yang diinginkan.
Pedoman teknis: spesifikasi 11 gradasi agregat Bina Marga.
Pencampuran fraksi-fraksi harus memenuhi salah satu
spesifikasi gradasi agregat Bina Marga.

SPESIFIKASI GRADASI AGREGAT


BINA MARGA

RANCANGAN FRAKSI AGREGAT

Dengan cara analitis (trial and error)


P = aA + bB + cC + .... + nN
P = persen lolos saringan dengan ukuran tertentu dari agregat
campuran (dari spesifikasi campuran) atau gradasi tengah
A, B, C, ..., N = persen lolos saringan dengan ukuran tertentu dari
fraksi agregat A, B, C, ..., N
a, b, c, ..., n = proporsi dari fraksi agregat A, B, C, ..., N yang
digunakan dalam agregat campuran, dimana:
a + b + c + .. + n = 1

RANCANGAN FRAKSI AGREGAT


DENGAN CARA ANALITIS

Contoh: spesifikasi gradasi agregat yang digunakan

2 Fg

RANCANGAN FRAKSI AGREGAT


DENGAN CARA ANALITIS

Contoh: Fraksi-fraksi agregat yang akan dicampur

2 Fg

3 Fa

2 Fa

RANCANGAN FRAKSI AGREGAT


DENGAN CARA ANALITIS

Contoh perhitungan dengan dua fraksi


a + b = 1 dan P = aA + bB

dan

Trial and error:


Saringan No. 4, P = 60, A = 16, B = 96 a = 0.45, b = 0.55
Saringan No. 8, P = 42.5, A = 3.2, B = 82 a = 0.50, b = 0.50

RANCANGAN FRAKSI AGREGAT


DENGAN CARA ANALITIS

Contoh dua fraksi: proporsi a dan b yang mungkin

RANCANGAN FRAKSI AGREGAT


DENGAN CARA ANALITIS

Contoh: gradasi hasil pencampuran 2 fraksi agregat

RANCANGAN FRAKSI AGREGAT


DENGAN CARA ANALITIS

Contoh perhitungan dengan tiga fraksi


a + b + c = 1 dan P = aA + bB + cC

dengan menggunakan data dari saringan No. 8,


maka a = 0.5 (trial and error), dan b + c = 0.5 (*)

Gunakan data saringan No. 200, P = 7, A = 0, B = 9.2, C = 82


7 = 0.50 * 0 + b * 9.2 + c * 82 sehingga 9.2 b + 82 c = 7 (**)
Selesaikan (*) dan (**), diperoleh b = 0.47, c = 0.03

RANCANGAN FRAKSI AGREGAT


DENGAN CARA ANALITIS

Contoh: gradasi agregat hasil pencampuran 3 fraksi

RANCANGAN FRAKSI AGREGAT

Dengan cara analitis

Trial and error


Lebih akurat
Waktu relatif lama

Dengan cara grafis

Tidak trial and error


Memerlukan ketelitian
Waktu lama

RANCANGAN FRAKSI AGREGAT


DENGAN CARA GRAFIS

Contoh: dua fraksi


% fraksi B

% fraksi A

RANCANGAN FRAKSI AGREGAT


DENGAN CARA GRAFIS

Contoh: dua fraksi


% fraksi B

% fraksi A

RANCANGAN FRAKSI AGREGAT


DENGAN CARA GRAFIS

Contoh: dua fraksi


% fraksi B

% fraksi A

RANCANGAN FRAKSI AGREGAT


DENGAN CARA GRAFIS

Contoh: dua fraksi


% fraksi B

% fraksi A

RANCANGAN FRAKSI AGREGAT


DENGAN CARA GRAFIS

Contoh: dua fraksi


a = 0.5
b = 0.5

% fraksi B

% fraksi A

RANCANGAN FRAKSI AGREGAT


DENGAN CARA GRAFIS

Contoh: tiga fraksi

RANCANGAN FRAKSI AGREGAT


DENGAN CARA GRAFIS

Contoh: tiga fraksi


a+b=
0.9825
c=
0.0175

% fraksi C

% fraksi A&B

RANCANGAN FRAKSI AGREGAT


DENGAN CARA GRAFIS

Contoh: tiga fraksi

Cek hasil pencampuran fraksi

0.5 x 0.9825

0.5 x 0.9825

RANCANGAN FRAKSI AGREGAT


DENGAN CARA GRAFIS

Pelaksanaan di laboratorium

Trial and error menggunakan file excel

RANCANGAN FRAKSI AGREGAT


DENGAN CARA GRAFIS

Metode Diagonal (2 fraksi agregat)

RANCANGAN FRAKSI AGREGAT


DENGAN CARA GRAFIS

Metode Diagonal (3 fraksi agregat)

PERKIRAAN KADAR ASPAL


RENCANA

Kadar aspal awal atau aspal ideal


Pb = 0.035a + 0.045b + Kc +F
(bulatkan nilai Pb ke angka 0.5% terdekat)
a = persen agregat tertahan saringan No. 8
b = persen agregat lolos saringan No. 8 dan tertahan No. 200
c = persen agregat lolos saringan No. 200
K = 0.15 untuk c = 11% 15%; 0.18 untuk c = 6% 10%; 0.20
untuk c 5%
F = 0 2%, berdasarkan nilai absorbsi dari agregat; 0.7%, jika
data tidak tersedia

KADAR ASPAL SAMPEL


(BERDASARKAN KADAR ASPAL IDEAL)

Jumlah benda uji, minimum 15 buah, terdiri dari 3 benda


uji per kadar aspal, biasanya digunakan 5 variasi kadar
aspal. Misalkan kadar aspal awal = Pb, maka variasi 5
kadar aspal adalah: (Pb - 1%); (Pb-0.5%); Pb;
(Pb+0.5%); (Pb+1%).

Contoh: Pb = 4.87% dibulatkan Pb = 5%


Maka kadar aspal sampel: 4%, 4.5%, 5%, 5.5%, 6%

PENYIAPAN SAMPEL UNTUK UJI


MARSHALL

Pembuatan benda uji harus dilakukan dengan teliti dan


hati-hati karena banyak faktor yang bisa berkontribusi
pada kesalahan hasil akhir.
Praktikan harus hati-hati karena pembuatan benda uji
menggunakan proses pemanasan dengan suhu sampai
dengan 150 C.

clip

PENYIAPAN SAMPEL UNTUK UJI


MARSHALL

Penyiapan agregat

Lakukan analisis saringan


Pada praktikum: analisis saringan terhadap agregat ukuran max. , ,
pasir dan filler
Apabila agregat sudah dipisahkan per ukuran saringan, maka ambillah
agregat per ukuran saringan
dengan berat sesuai dengan berat
tertahan di masing-masing saringan
Pencampuran fraksi agregat sesuai
spek
Target: (1200 berat kadar aspal) g.

PENYIAPAN SAMPEL UNTUK UJI


MARSHALL

Penyiapan agregat (lanjutan)

Agregat dicampur jadi satu di dalam suatu tempat


Kemudian harus dioven selama 5 jam (105 - 110 C).
Tujuan:
Agar suhu agregat tidak
menurunkan suhu campuran
pada saat agregat dicampur
dengan aspal

PENYIAPAN SAMPEL UNTUK UJI


MARSHALL

Penentuan rentang suhu pencampuran dan pemadatan

Suhu pencampuran =
suhu pada saat viskositas
17020 cts
Suhu pemadatan =
suhu pada saat viskositas
28030 cts.

Suhu ini berbeda untuk jenis


aspal yang berbeda.

PENYIAPAN SAMPEL UNTUK UJI


MARSHALL

Penyiapan cetakan benda uji

Cetakan benda uji harus dipanaskan di dalam oven sebelum


digunakan (93 - 149 C).
Tujuan:
Agar cetakan tidak
menurunkan suhu campuran
beraspal ketika campuran
tersebut dituang ke dalam
campuran.

PENYIAPAN SAMPEL UNTUK UJI


MARSHALL

Pencampuran agregat dan aspal

Dibutuhkan: wajan
Sebelum dicampur dengan agregat, aspal sekitar 28 C di atas
suhu pencampuran.
Timbang wajan
Dalam posisi wajan di atas timbangan, tuangkan agregat ke atas
wajan.
Set timbangan = 1200 + berat wajan

PENYIAPAN SAMPEL UNTUK UJI


MARSHALL

Pencampuran agregat dan aspal (lanjutan)

Buat agregat dalam wajan seperti kepundan, dengan tujuan:


untuk memudahkan pengambilan aspal yang dituang, apabila
ditemui jumlah aspal yang dituang terlalu banyak.
Aduk-aduk campuran beraspal, sehingga agregat terselimuti
aspal secara sempurna.

PENYIAPAN SAMPEL UNTUK UJI


MARSHALL

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pencampuran


agregat dan aspal

Suhu selama pencampuran harus selalu berada di dalam


rentang suhu pencampuran. Suhu pencampuran yang berada di
luar rentang (terutama melewati batas bawah), akan
menyebabkan agregat dan aspal menjadi sulit untuk dicampur.
Pencampuran pada kadar aspal kecil akan menyebabkan
sulitnya agregat terselimuti aspal

clip

PENYIAPAN SAMPEL UNTUK UJI


MARSHALL

Pemadatan benda uji

Ambil cetakan benda uji dari oven


Pasang leher dan alas cetakan pada cetakan benda uji dan
letakkan kertas saring di dasar cetakan.
Tuang campuran beraspal ke dalam cetakan.

PENYIAPAN SAMPEL UNTUK UJI


MARSHALL

Pemadatan benda uji (lanjutan)

Hal-hal yang perlu diperhatikan


Kertas saring bisa diganti dengan guntingan kertas biasa
berbentuk bulat
Fungsi kertas saring: Untuk menghindarkan campuran
menempel pada alas cetakan dan
untuk mencegah campuran beraspal
hancur pada saat alas cetakan dibuka

PENYIAPAN SAMPEL UNTUK UJI


MARSHALL

Pemadatan benda uji (lanjutan)

Tusuk-tusuk campuran beraspal: 10x di dalam, 15x di tepi.


Periksa suhu campuran sebelum pemadatan. Pastikan suhu
campuran sudah masuk ke rentang suhu pemadatan
Tempatkan cetakan + benda uji ke dalam alat
pemadat.
Sebelum pemadatan benda uji dilakukan, pasang
kertas saring di bagian atas
benda uji.

PENYIAPAN SAMPEL UNTUK UJI


MARSHALL

Pemadatan benda uji (lanjutan)

Padatkan benda uji dengan alat penumbuk seberat 4.356 kg.


Pemadatan dilakukan sebanyak 75x per muka (total 150x).
Pemadatan dilakukan secara manual.
Keuntungan pemadatan secara manual:
rentang suhu pemadatan dapat dipertahankan
45.7 cm

PENYIAPAN SAMPEL UNTUK UJI


SAMPEL

Pemadatan benda uji (lanjutan)

Keluarkan benda uji dari alat pemadat.


Keluarkan benda uji dari cetakan setelah didinginkan (bisa
hanya didiamkan selama satu malam atau dengan cara lain)
Ukur tinggi benda uji di tiga titik yang berbeda untuk faktor
koreksi stabilitas Marshall
Tinggi benda uji: 63.5 1.27 mm.
Diameter benda uji: 10.2 cm.

PENYIAPAN SAMPEL UNTUK UJI


SAMPEL

Pemadatan benda uji (lanjutan)

Hal-hal yang perlu diperhatikan:


Pastikan pada saat pemadatan, posisi penumbuk tegak lurus
dengan sampel. Posisi penumbuk yang miring bisa dideteksi
dari tebal benda uji yang berbeda di tiga titik pengukuran.

UJI MARSHALL

Penyiapan sampel sebelum uji Marshall

Pengukuran berat campuran di udara, di dalam air dan dalam


kondisi kering permukaan jenuh.
Cara pengukuran seperti pengukuran
berat jenis agregat kasar.

UJI MARSHALL

Penyiapan sampel sebelum uji Marshall

Rendam benda uji di dalam air 60 C selama 30 45 menit.


Keringkan benda uji dan siapkan benda uji pada alat uji tekan
Marshall

UJI MARSHALL

Ilustrasi alat uji tekan Marshall

Stabilitas

Flow

UJI MARSHALL

Pengukuran stabilitas dan flow/kelelehan

Pastikan alat pengukur bernilai nol sebelum pengujian


dilakukan.
Nilai stabilitas maksimum =
nilai pada saat jarum penunjuk berbalik arah.

UJI MARSHALL

Pengukuran stabilitas dan flow/kelelehan (lanjutan)

Nilai flow = nilai jarum penunjuk pada saat stabilitas maksimum.


Untuk dapat memastikan bahwa nilai flow adalah
pada saat nilai stabilitas mencapai nilai maksimum,
maka pada saat pengujian Marshall dibutuhkan
minimal 2 orang pengamat.

PERHITUNGAN PARAMETER
MARSHALL

Parameter rongga/voids (VIM, VMA, VFA)


Parameter mekanistik (stabilitas, flow, MQ)

PERHITUNGAN PARAMETER
MARSHALL

Tabel perhitungan parameter Marshall

PERHITUNGAN PARAMETER
MARSHALL

Perhitungan berat jenis agregat (per jenis agregat)

Berat jenis bulk (bulk specific gravity, Gsb) yaitu perbandingan antara
berat agregat dalam kondisi kering oven dan volume keseluruhan
agregat, termasuk volume pori agregat yang dapat diisi oleh air (Vs +
Vpp)
Berat jenis semu (apparent specific gravity,Gsa) yaitu perbandingan
antara berat agregat dalam kondisi kering oven dan volume
keseluruhan agregat, tanpa volume pori agregat yang dapat diisi oleh
air (Vs)
Berat jenis efektif (effective specific gravity, Gse) yaitu perbandingan
antara berat agregat dalam kondisi kering oven dan volume
keseluruhan agregat, tanpa volume pori agregat yang dapat diisi oleh
aspal (Vs + Vpp - Vap)

PERHITUNGAN PARAMETER
MARSHALL

Perhitungan berat jenis agregat


Vs = volume bagian solid
Vpp = volume rongga
yang
dapat diresapi air
Vap = volume rongga
yang
dapat diresapi
aspal

PERHITUNGAN PARAMETER
MARSHALL

Analisis kepadatan dan rongga agregat (sblm pemadatan)

Berat jenis bulk agregat campuran (Gsb)


P1 P2 ... Pn
Pi = proporsi fraksi
G
=
sb
agregat
Gsbi = berat
P
P1
P
2 ... n
jenis bulk
G sb1fraksi
G sb 2
G sbn
agregat

PERHITUNGAN PARAMETER
MARSHALL

Analisis kepadatan dan rongga agregat (sblm pemadatan)

Berat jenis efektif dari campuran agregat (Gse)


Gmm = Berat jenis maksimum dari
campuran
beraspal
yang
belum dipadatkan
(AASHTO T-209-90)
Pb = proporsi aspal; Gb = berat jenis
aspal

PERHITUNGAN PARAMETER
MARSHALL

Analisis kepadatan dan rongga campuran

Berat jenis bulk dari campuran beraspal yang telah


dipadatkan (Gmb)
Wm = berat kering di udara
Wmssd = berat kering
permukaan jenuh
(SSD)
Wmw = berat di dalam air
Gmb =

PERHITUNGAN PARAMETER
MARSHALL

Analisis kepadatan dan rongga

Kadar aspal yang terabsorbsi


Gsb = berat jenis bulk
Gb
Gse = berat jenis efektif

dari
campuran
agregat
Gb = berat jenis aspal
Kadar aspal efektif dari campuran beraspal
G se G sb

100
Pba =
G sb G se

Pbe =

Pb = proporsi aspal
Ps = persen agregat di
dalam
campuran
beraspal

PERHITUNGAN PARAMETER
MARSHALL

Penentuan VMA, VIM dan VFA

PERHITUNGAN PARAMETER
MARSHALL

Illustasi VMA, VIM dan VFA

PERHITUNGAN PARAMETER
MARSHALL

Volume pori dalam agregat campuran (VMA).


VMA adalah banyaknya rongga udara atau pori di antara agregat di
dalam campuran beraspal yang telah dipadatkan.
G mb Ps
VMA = 100
G sb

Gsb = berat jenis bulk


Gmb = berat jenis bulk dari campuran yang telah
dipadatkan
Ps = persen agregat dalam campuran beraspal

PERHITUNGAN PARAMETER
MARSHALL

Volume pori di dalam campuran beraspal (VIM).


VIM adalah banyaknya rongga udara atau pori di antara butiran
agregat yang diselimuti aspal.
VIM =
Gmm = berat jenis maksimum dari campuran beraspal
yang
dipadatkan (sebelum proses
pemadatan)
Gmb = berat jenis bulk dari campuran yang telah
dipadatkan (setelah proses pemadatan)

PERHITUNGAN PARAMETER
MARSHALL

Volume pori yang terisi aspal (VFA).


VFA adalah banyaknya rongga udara atau pori di antara butiran
agregat yang terisi oleh aspal. Jadi VFA merupakan bagian dari
VMA, tetapi tidak termasuk pori di dalam agregat yang terisi aspal.
VFA =

PERHITUNGAN PARAMETER
MARSHALL

Tabel perhitungan parameter Marshall

PERHITUNGAN PARAMETER
MARSHALL

Penjelasan tabel perhitungan Marshall

Kolom B : kadar aspal yang merupakan persen berat


terhadap berat campuran
Kolom C : Gmm, diperoleh dari hasil pengujian AASHTO T209-90
Kolom D : penentuan Gse, dimana
kolom D =

PERHITUNGAN PARAMETER
MARSHALL

Penjelasan tabel perhitungan Marshall

Kolom E : pengukuran berat benda uji di udara


Kolom F : pengukuran berat benda uji di dalam air
Kolom G : pengukuran berat benda uji dalam kondisi kering
permukaan
Kolom H : perhitungan volume benda uji,
kolom H = kolom G kolom F

PERHITUNGAN PARAMETER
MARSHALL

Penjelasan tabel perhitungan Marshall

Kolom I : perhitungan berat jenis bulk campuran Gmb,


kolom I =

Kolom J : perhitungan VMA,


kolom J =

100

G mb Ps
G sb

PERHITUNGAN PARAMETER
MARSHALL

Penjelasan tabel perhitungan Marshall

Kolom K : perhitungan VIM,


kolom K =

Kolom L : perhitungan VFA,


kolom L =

PERHITUNGAN PARAMETER
MARSHALL

Penjelasan tabel perhitungan Marshall

Kolom M : pembacaan jarum penunjuk pada alat pengukur


stabilitas pada alat uji Marshall
Kolom N : kolom N = kolom M * konstanta kalibrasi alat
(disini sebagai contoh diambil konstanta kalibrasi alat = 1.3)
Kolom O : kolom O = kolom N * faktor koreksi volume/tinggi
benda uji
Kolom P : pembacaan jarum penunjuk pada alat pengukur
kelelehan pada alat uji Marshall dikalikan 0.01 mm

PERHITUNGAN PARAMETER
MARSHALL

Penjelasan tabel perhitungan Marshall

Faktor koreksi volume

PERHITUNGAN PARAMETER
MARSHALL

Contoh pengisian tabel perhitungan parameter Marshall

Flow

MQ

VMA1

VIM1

VFA1

Sta1

Flow1

MQ1

VMA2

VIM2

VFA2

Sta2

Flow2

MQ2

VMA3

VIM3

VFA3

Sta3

Flow3

MQ3

VMA4

VIM4

VFA4

Sta4

Flow4

MQ4

HUBUNGAN PARAMETER
MARSHALL vs KADAR ASPAL

Grafik parameter Marshall vs kadar aspal (tipikal)

Kurva digambar dengan trendline, atau secara manual

HUBUNGAN PARAMETER
MARSHALL vs KADAR ASPAL

Spesifikasi campuran beraspal (Depkimpraswil, 2002)

HUBUNGAN PARAMETER
MARSHALL vs KADAR ASPAL

Grafik parameter Marshall vs kadar aspal (contoh)

PENENTUAN KADAR ASPAL


OPTIMUM (KAO)

DESIGN MIX FORMULA (DMF)


Jika hasil yang diperoleh telah memuaskan, maka proporsi agregat (a,
b dan c) dan juga kadar aspal yang terpilih (KAO), merupakan rumus
campuran beraspal hasil perancangan di laboratorium, yang dikenal
dengan nama rumus rancangan campuran atau design mix formula
(DMF), dimana DMF ini terdiri dari: ukuran nominal dari agregat,
sumber-sumber agregat, proporsi setiap fraksi agregat, gradasi
agregat, campuran yang memenuhi gradasi yang disyaratkan, kadar
aspal yang direkomendasikan, dan suhu pencampuran.

END OF PRESENTATION

Thank you for your attention.