Anda di halaman 1dari 18

1

BAB I
PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang Masalah
Tumor payudara merupakan salah satu diantara kelainan yang paling
sering pada wanita dan sangat ditakuti. Pada umumnya kelainan pada payudara
tersebut ditemukan pertama kali oleh penderita sendiri, tetapi umumnya di
Indonesia penderita yang datang berobat tidak dalam stadium dini karena
berbagai sebab, sehingga lebih menyulitkan pengelolaan dan mudah diduga
hasilnya kurang memuaskan. ( 1 )
Kanker payudara merupakan kanker yang sangat menakutkan wanita,
disamping kanker mulut rahim. Masalah etiologi yang belum jelas, masalah
usaha-usaha pencegahan yang sukar untuk dilaksanakan serta perjalanan
penyakit yang sukar diduga dan apabila sudah dalam keadaan lanjut penderita
akan masuk dalam era penderitaan nyeri dan disability yang menakutkan
menjelang akhir dari suatu kehidupan.
Dekade ini, insidensi kanker payudara memperlihatkan kecendrungan
meningkat. Hal ini diperkirakan, oleh karena semakin baiknya edukasi dan
teknologi yang mempunyai dampak luas dalam penemuan penyakit, semakin
tinggi keadaan status sosial ekonomi yang mempunyai dampak pula terhadap
perubahan pada hidup (life style). ( 2 )
I.2. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui insidensi tumor
mama di RSMS Purwokerto selama satu tahun yaitu periode Januari 1999
sampai dengan Desember 1999, yang dikaitkan dengan faktor risiko terjadinya
tumor mamma.

I.3. Bahan dan Cara Penelitian


I.3.1. Subyek Yang Diteliti
Subyek yang digunakan dalam penelitian ini adalah pasien dengan
diagnosa Tumor mamma di RSMS Purwokerto pada bulan Januari sampai
dengan Desember 1999. Data ini diambil Catatan Medis (Medical Record)
RSMS Purwokerto dalam rentang waktu Januari sampai Desember 1999.
I.3.2. Rancangan Penelitian
Penelitian ini bersifat Retrospektif Deskriptif. Ini dipilih karena
mudah dan sederhana, dan juga penelitian ini dilakukan pada suatu saat
(point time approach) yang diambil dari status penderita tumor mamma
dengan medical record di RSMS Purwokerto periode Januari sampai
Desember 1999.
Pada penelitian ini akan dicari angka kejadian (prevalensi) pada
semua penderita tumor mamma. Setelah diperoleh, kemudian diolah
(dilakukan analisis data dalam bentuk tabel-tabel distribusi frekuensi),
meliputi :
1. Distribusi frekuensi berdasarkan umur
2. Distribusi frekuensi berdasarkan lokasi payudara
3. Distribusi frekuensi berdasarkan ganas/jinaknya
4. Distribusi frekuensi berdasarkan ganas dengan faktor menikah/tidak
5. Distribusi frekuensi berdasarkan ganas dengan faktor umur
6. Distribusi frekuensi berdasarkan kelainan hasil dari pemeriksaan PA
7. Distribusi frekuensi berdasarkan jenis tindakan operasinya.

BAB II
HASIL DAN PEMBAHASAN
Dari data Rekam Medis di RSMS pada bulan Januari 1999 sampai Desember
1999 didapatkan sebanyak 380 penderita tumor mamma yang rawat jalan dan 93
penderita tumor mamma yang dirawat inap. Dalam penelitian ini data yang diambil
adalah penderita yang rawat inap. Dari data tersebut diperoleh 44 penderita belum
menikah dan 49 penderita sudah menikah.
Dari data tersebut, kemudian diolah dalam bentuk tabel-tabel, sehingga diketahui
persentase-persentasenya. Pengolahan dan pembahasan data dapat dilihat di bawah
ini.
Tabel II.1. Distribusi frekuensi berdasarkan umur penderita tumor mamma
Umur (tahun)
< 17
17 - 30
31 - 40
> 40
Jumlah Total

Jumlah
3
57
14
19
93

%
3,20
61,30
15,00
20,40
100,00

Dari tabel di atas diperoleh bahwa penderita tumor mamma terbanyak pada
umur 17 30 tahun, yaitu 57 penderita (61,3 %). Pada umur muda jarang sekali
mengalami keganasan, tapi tidak menutup kemungkinan untuk ganas. Sedangkan
pada usia di atas 40 tahun kemungkinan mengalami kanker payudara. Hal ini
disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya ; umur wanita di atas 40 tahun, riwayat
keluarga (ada saudara perempuan mengidap, kemungkinan terkena lebih besar),
riwayat kanker payudara sebelumnya, penyakit payudara jinak, diit lemak tinggi,
primigravida atau multipara lebih dari 30 tahun, dan menopause lebih dari 55 tahun.

Tabel II.2. Distribusi frekuensi berdasarkan lokasi payudara


Regio
Payudara kanan
Payudara kiri
Payudara kanan-kiri
Jumlah Total

Jumlah
46
40
47
93

%
49,50
43,00
7,50
100,00

Dari tabel di atas diperoleh bahwa tumor payudara paling banyak mengenai
payudara sebelah kanan yaitu 46 penderita (49,50 %), sedangkan payudara sebelah
kiri sebanyak 40 penderita (43,00 %), dan yang kedua payudaranya terkena tumor
adalah 7 penderita (7,50 %).
Dalam teori dikatakan bahwa tumor tumor payudara paling sering dijumpai pada
payudara sebelah kiri, tapi pada penelitian ini terjadi sebaliknya. Hal tersebut bisa
disebabkan karena data yang diambil terbatas yaitu hanya satu tahun, dan secara
kebetulan data yang didapat kebanyakan tumor mamma sebelah kanan, karena tidak
selamanya teori sama dengan kenyataan.
Tabel II 3. Distribusi frekuensi berdasarkan ganas/jinak dilihat dari hasil PA
Ganas/jinak
Tumor Payudara jinak, PA (+)
Tumor Payudara jinak, PA (-)
Tumor Payudara ganas, PA (+)
Tumor Payudara ganas, PA (-)
Jumlah Total

Jumlah
26
56
6
5
93

%
27,90
60,22
6,40
5,38
100,00

Dari tabel di atas diperoleh sebagian besar tumor payudara tersebut adalah jinak
yaitu 82 penderita (88,12 %), baik dengan pemeriksaan PA maupun tidak dilakukan
pemeriksaan PA. Untuk tumor payudara ganas sebanyak 11 penderita (11,78 %).
Tabel II 4. Distribusi frekuensi Tumor ganas dengan faktor menikah/tidak
Status
Menikah
Tidak menikah
Jumlah Total

Frekuensi
11
0
11

Dari tabel di atas didapatkan bahwa penderita tumor ganas adalah berstatus
menikah. Sedangkan penderita yang belum menikah tidak didapatkan tumor ganas.
Hal tersebut sesuai dengan teori bahwa status pernikahan merupakan faktor risiko
terjadinya tumor ganas payudara.
Tabel II 5. Distribusi frekuensi tumor mammae ganas dengan faktor umur
Umur (tahun)
< 17
17 30
31 - 40
> 40
Jumlah Total

Jumlah
0
0
7
4
11

%
0
0
63,63
36,36
100,00

Dilihat dari tabel di atas diperolah bahwa penderita tumor payudara ganas
terbanyak pada usia 31 40 tahun yaitu sebanyak 7 penderita (63,63 %), sedangkan
yang di atas 40 tahun sebanyak 4 penderita (36,36 %). Jadi dapat disimpulkan bahwa
pad penelitian ini tumor payudara ganas sering dijumpai pad usia di atas 30 tahun.
Tabel II 6. Distribusi frekuensi berdasarkan kelainan dari hasil pemeriksaan PA
Kelainan/tumor (hasil PA)
Fibroadenoma
Fibrokistik
Galaktocele
Mastitis kronis
Mastopatia
Kista susu
Carsinoma duktal
Adenocarsinoma
Lain-lain :
Tidak di PA
Hasil PA tidak terlampir
Jumlah Total
* PA : Patologi Anatomi

Jumlah
12
5
2
2
2
3
5
1

%
12,90
5,37
2,15
2,15
2,15
3,22
5,37
1,07

36
25
93

38,71
26,38
100,00

Dari tabel di atas menunjukkan bahwa dari 93 penderita yang tidak dilakukan
pemeriksan PA sebanyak 36 penderita (38,71 %) sedangkan yang hasil pemeriksaan
PA tidak terlampir dalam rekam medis sebanyak 25 penderita (26,88 %). Dan yang
dilakukan pemeriksaan PA hanya 32 penderita (34,40 %) dengan hasil seperti pada
tabel di atas yang terbanyak adalah Fibroadenoma yaitu sebanyak 12 penderita
(12,90 %) karena merupakan kelainan pada payudara yang paling sering dijumpai
pada wanita usia muda (15 30 tahun) dan jarang menyebabkan keganasan.
Tabel II 7. Distribusi frekuensi berdasarkan jenis operasinya
Jenis Operasi
Eksisi Biopsi
Eksisi Biopsi + Ekstirpasi
Ekstirpasi
Incisi Biopsi
Mastectomy
Mastectomy Modified
Mastectomy Simple Modified
Tidak terlampir dan APS
Jumlah Total

Jumlah
10
12
55
3
5
3
3
2
93

%
10,70
12,90
59,20
3,20
5,40
3,20
3,20
2,20
100,00

Dari tabel di atas dapat diketahui jenis operasi yang paling sering dilakukan
adalah ekstirpasi yaitu 55 penderita (59,20 %) dari 93 respondens. Selebihnya
dilakukan eksisi biopsi, incisi biospi dan mastectomy.
Pada penelitian ini faktor risiko kejadian tumor payudara yang diperoleh dari
rekam medis sangat kurang, karena hanya faktor umur dan status pernikahan saja
yang ada. Sedangkan faktor risiko yang lain tidak, sehingga sulit untuk diketahui apa
penyebab dan bagaimana perjalanan penyakitnya.
Faktor-faktor risiko yang perlu kita tanyakan pada pasien adalah :
1. Umur penderita.
2. Kapan menarche dan atau menopause.
3. Sudah menikah atau belum.
4. Berapa jumlah anak.
5. Kapan kehamilan I dan umur berapa.

6. Sedang menyusui atau tidak


7. Pernah menggunakan alat kontrasepsi/tidak, apa jenisnya.
8. Riwayat penyakit dahulu yang berhubungan dengan penyakit tersebut.
9. Riwayat penyakit keluarga : apakah di dalam keluarga ada yang menderita
penyakit ini.
10. Perlu juga ditanyakan apakah suka makan makanan berlemak.

BAB III
DASAR TEORI
III.1. Definisi
Payudara adalah alat yang khas untuk mammalia. Payudara manusia
pada wanita berbentuk seperti kuncup. Dengan bertambahnya umur, payudara
menjadi lembek dan menggantung. Pendapat umum mengatakan hal ini terjadi
karena si wanita menyusui anaknya sendiri, namun masalahnya belum ditelaah
secara ilmiah. Ada kalanya payudara wanita tidak sama besar. Ini sesuatu yang
lumrah, akan tetapi kita harus waspada dan terus membedakan asimetris yang
disebabkan pembentukannya dan asimetris yang disebabkan pertumbuhan
tumor ( 1 ).
Tumor adalah kepadatan massa dalam payudara yang berbentuk dan
mempunyai umuran 3 dimensi ( 2 ).
III.2. Etiologi
Penyebab tumor payudara tampaknya multifaktorial, tetapi faktor
penting yang memulai hiperplasia adalah hiperestrinisme. Juga faktor genetika
dan hormonal ( 3 ).
III.3. Klasifikasi
Penyakit-penyakit payudara pada dasarnya dapat disimpulkan menjadi :
III.3.1. Penyakit Bawaan
III.3.2. Penyakit Peradangan (Mastitis)
III.3.3. Penumbuhan jinak : Fibroadenoma
Kelainan fibrokistik
Kistosarkoma filloides
Nekrosis lemak
Papiloma intraductus, terdiri dari :
a. Ekstasia ductus mamma/mastitis sel plasma
b. Mioblastoma sel granuler

III.3.4. Penumbuhan ganas : Adenocarsinoma


Sarcoma
III.4. Gejala dan Tanda Klinis
Tanda dan Gejala
Nyeri :
- Berubah dengan daur
menstruasi
- Tidak tergantung daur
menstruasi
Benjolan di payudara
- Keras

Interpretasi
Penyebab fisiologi seperti pada tegangan
pramenstruasi atau penyakit fibrokistik
Tumor jinak, tumor ganas atau infeksi

Permukaan licin pada fibroadenoma atau kista


Permukaan keras, berbenjol-benjol atau melekat
pada kanker atau inflamasi non-enfektif
Kelainan fibrikistik
Lipoma

- Kenyal
- Lunak
Perubahan Kulit :
- Bercawak
Sangat mencurigakan karsinoma
- Benjolan kelihatan
Kista, karsinoma, fibroadenoma besar
- Kulit jeruk
Di atas benjolan : kanker (tanda khas)
- Kemerahan
Infeksi jika ganas
- Tukak
Kanker lama (terutama pada orang tua)
Kelainan puting atau
areola
- Retraksi
Fibrosis karena kanker
- Infeksi baru
Retraksi baru karena kanker (bidang fibrosis
karena pelebaran duktus)
- Eksema
Unilateral : penyakit paget (tanda khas kanker)
Keadaan cairan :
- Seperti susu
Kehamilan atau laktasi
- Jernih
Normal
- Hijau
(Perimenopause
Pelebaran duktus
Kelainan fibrolitik
- Hemoragik :
Karsinoma
Papiloma intraduktus
(Sumber : Sjamsu Hidayat & Wim de Jong, 1997 yang dimodifikasi)

10

III.5. Deteksi Dini Tumor Payudara


Penemuan dini merupakan upaya penting dalam penanggulangan tumor
payudara. Untuk menemukan penyakit ini lebih awal dikembangkan berbagai
metode sebagai berikut :
1. Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI/SARARI)
Pemeriksan payudara sendiri dilakukan setiap bulan secara teratur.
Bagi wanita masa reproduksi, pemeriksaan dilakukan 5 7 hari setelah
haid berhenti. Menurut penelitian para ahli, pemeriksaan payudara sendiri
(SADARI/SARARI) sangat bernilai dalam penemuan dini karsinoma
payudara ( 4 ).
Pemeriksaan

payudara

dibagi

dalam

dua

tahap,

yaitu

memperhatikan dan meraba payudara sendiri.


2. Pemeriksaan Payudara secara Klinis (SARANIS)
Dokter umum merupakan ujung tombak penanggulangan
kesehatan masyarakat, mempunyai kesempatan luas menemukan tumor
payudara lebih awal. Pemeriksaan fisik payudara secara klinis (SARANIS)
dilakukan oleh dokter, bidan, dan paramedis wanita terlatih dan terampil.
Cara pemeriksaan payudara, SARANIS sebaiknya dilakukan sistematis
dan berurutan mulai dari inspeksi dengan palpasi ( 4

Pemeriksan klinis payudara pada usia 20 39 tahun dilakukan tiap


3 tahun sekali, sedangkan pada usia 40 tahun atau lebih dilakukan tiap
tahun. Setiap benjolan di payudara harus dipikirkan adanya kanker, sampai
dibuktikan bahwa benjolan itu bukan kanker ( 5 ).
3. Pemeriksaan Mammografi
Apabila pada SADARI atau SARARI teraba nodul, pemeriksaan
dilanjutkan dengan mammografi, terutama pada wanita golongan risiko
tinggi. Cara ini sederhana dan dapat dipercaya untuk menemukan kelainan
di payudara ( 6 ), tidak sakit dan tidak memerlukan bahan kontras ( 4 ).
Tujuan utama pemeriksaan mammografi adalah untuk mengenali
secara dini keganasan pada payudara. Indikasi pemeriksaan mammografi
adalah :
a. Kecurigaan klinis akan kanker payudara.
b. Adanya benjolan pada payudara

11

1) Baik dengan rasa nyeri atau tanpa rasa nyeri


2) Dirasakan oleh pasien, sedangkan dokter pemeriksa belum dapat
merabanya.
c. Dalam follow up setelah mastectomy, deteksi primer kedua dalam
payudara yang lain.
d. Setelah Breast Conservating Treatment
e. Adenokarsinoma metastasis dari primer yang tidak diketahui.
f. Pasien dengan riwayat risiko tinggi untuk menderita keganasan
payudara.
g. Pembesaran kelenjar axilla yang meragukan.
h. Penyakit paget dari puting susu.
i. Pada penderita dengan cancerphobia.
j. Program skrening.
Untuk tumor jinak, mammografi memberikan tanda-tanda :
a.

Lesi dengan densitas meningkat, dengan tanda tegas dan licin serta
teratur.

b.

Adanya halo karena pendesakan jaringan sekitar tumor.

c.

Kadang tampak perkapuran yang kasar dan umumnya dapat dihitung.

4. Pemeriksaan USG
Keuntungan pemeriksaan USG pada tumor payudara adalah :
a. Tidak menggunakan sinar pengion, jadi tidak ada bahaya radiasi
b. Pemeriksaannya non invasif, relatif mudah dikerjakan dengan cepat
dan dapat dipakai berulang-ulang dengan biaya relatif murah.
Tanda tumor ganas secara USG :
a. Lesi dengan batas tak tegas dan tidak teratur
b. Struktur echo internal bisa :
1) Tidak ada (sonolusen), misal pada kista
2) Lemah sampai menengah tetapi homogen misalnya pada
fibroadenoma.
c. Batas echo anterior lesi dan posterior lesi bervariasi dari kuat sampai
menengah.

12

d. Lateral Acoustic Shadow dari lesi dapat bilateral atau unilateral


(tadpole sign).
5. Pemeriksaan dengan Computerized Tumography (CT)
Pemeriksaan tumor payudara dengan CT akhir-akhir ini telah
berkembang, tapi biayanya cukup tinggi, bahaya radiasi dan penggunaan
kontras merupakan limitasi pemeriksaan CT.
III.6. Diagnosis Tumor Payudara
Untuk penegakkan diagnosis tumor payudara harus dilakukan mulai
dari anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang yang baik.
1. Anamnesis
Ada benjolan pada payudara merupakan keluhan utama dari
penderita. Pada mulanya tidak merasa sakit, tetapi selanjutnya akan timbul
keluhan sakit. Pertumbuhan yang cepat merupakan indikasi keganasan.
Batuk dan sesak nafas terjadi bila tumor sudah metastasis pada paru. Pada
kasus yang meragukan anamnesis lebih banyak diarahkan pada indikasi
golongan risiko ( 4 ).
Riwayat penyakit secara sistemik dan teliti sebenarnya sudah
separuh dari diagnosis. Biasanya pasien wanita datang ke seorang dokter
karena waktu mandi merasa kelenjar payudaranya ada suatu benjolan ( 7 ).
2. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik payudara harus dikerjakan dengan cara gentle
dan tidak boleh kasar dan keras. Orang sakit dengan lesi ganas tidak boleh
berulang-ulang diperiksa karena kemungkinan penyebarannya

(7)

3. Pemeriksaan Sitologi
Pemeriksaan sitologi dapat dipakai untuk menegakkan diagnosis
kanker payudara melalui 3 cara, yaitu :
a. Pemeriksaan sekret dari puting susu.
b. Pemeriksaan sediaan tekan (sitologi inprint)
c. Aspirasi jarum halus (fine needle aspiration)

13

4. Biopsi
Biopsi incisi atau eksisi merupakan metode klasik yang sering
dipergunakan untuk penegakkan diagnosis berbagai tumor payudara.
III.7. Differensial Diagnosis ( 2 )
Diagnosis banding untuk kelainan pada payudara adalah :
a. Fibroadenoma mamma
b. Fibrocystic of the breast (displasia mammaria)
c. Cystosarkoma Filloides
d. Galaktocelle.
e. Mastitis
f. Kanker payudara.
Fibroadenoma
Kelainan tumor jinak dan golongan terbesar dari tumor payudara secara
klinis diketahui sebagai tumor di payudara, konsistensi padat kenyal, dapat
digerakan dari sekitarnya. Bentuk bulat lonjong, berbatas tegas, pertumbuhan
lambat, tidak ada perubahan kulit, tidak nyeri, biasanya terjadi pada usia muda
(15 30 tahun), dapat bilateral atau multiple, tidak ada metastase jauh/regional.
Kelainan Fibrokistik
Biasanya multiple dan bilateral, disertai nyeri terutama menjelang haid.
Ukuran payudara menjelang haid terasa lebih besar dan penuh, rasa sakit
bertambah setelah menstruasi sakit hilang/berkurang dan tumor mengecil.
Batas tidak tegas kecuali pada kista soliter, konsistensi padat kenyal atau kistik,
dapat juga tanpa massa tumor yang nyata.
Kistosarkoma Filloides
Gambaran klinis dapat seperti fibroadenoma yang besar. Bentuk bulat
lonjong, berbenjol-benjol, batas tegas, ukuran 20 30 cm, konsistensi dapat
padat kenyal, tapi ada bagian kisteus, tidak ada perlekatan ke dasar atau kulit,
kulit tegang dan berkilat dan venektasi melebar, tidak metastase.
Galactocele

14

Bentuk kelainan neoplasma atau pertumbuhan baru tapi suatu massa


tumor kistik yang timbul akibat tersumbatnya saluran ductus laktiferus pada
ibu yang sedang atau baru laktasi. Tumor ini berisi air susu yang mengental,
berbatas tegas, bulat dan kisteus.
Mastitis
Suatu infeksi kelenjar payudara, biasanya pada wanita yang menyusui.
Tanda peradangan lengkap ditemukan, biasanya ditemukan sudah menjadi
abses.
Kanker Payudara
Kanker payudara biasanya mempunyai gambaran klinik sebagai
berikut :
a. Terdapat benjolan keras yang lebih melekat atau terfiksir.
b. Tarikan pada kulit di atas tumor.
c. Ulserasi atau koreng.
d. Peau deorange.
e. Discharge dari puting susu
f. Asimetris payudara.
g. Retraksi puting susu.
h. Elevasi dari puting susu.
i. Pembesaran kelenjar getah bening ketiak.
j. Satelit tumor di kulit.
k. Eksim puting susu dan edema.
Faktor risiko kejadian kanker payudara menurut Zwaveling (1985),
Parakrama Chandrasoma (1997) Rossa dan Harvey (1994) dibagi menjadi :
a. Umur wanita lebih dari 40 tahun.
b. Riwayat keluarga.
c. Riwayat kanker payudara sebelumnya.
d. Penyakit payudara jinak.

15

e. Diit tinggi lemak.


f. Primigravida atau multipara lebih dari 30 tahun.
g. Menopause lebih dari 55 tahun.
III.8. Penatalaksanaan
Sebelum merencanakan terapi tumor payudara dipastikan dulu diagnosa
klinis dan histopatologis serta penyebarannya.
a. Pembedahan
Biopsi merupakan tindakan pertama dalam pembedahan payudara
untuk mendapatkan diagnosa histologis. Bedah kuratif yang mungkin
dilakukan adalah mastektomy radikal, bedah radikal yang diubah dan
bedah konservatif merupakan eksisi tumor luas. Bedah konservatif selalu
ditambah diseksi kelenjar aksila dan radioterapi.
Terapi kuratif dilakukan jika tumor terbatas pada payudara dan
tidak ada tanda infiltrasi. Tumor disebut mampu angkat (operable) jika
dengan tindak bedah radikal, seluruh tumor dan penyebarannya dapat
dikeluarkan. Bedah radikal menurut Halsted yang meliputi pengangkatan
payudara dengan sebagian besar kulitnya, muskulus pectoralis mayor dan
minor serta semua kelenjar aksila sekaligus.
Operasi radikal yang dimodifikasi yaitu musculus pectoralis mayor
dan minor dipertahankan jika tumor payudara bebas dari otot tersebut.
Bedah radikal yang diperluas yaitu dengan pengeluaran kelenjar limfe
pada arteri mammaria interna, artinya operasi diperluas dengan
thoracotomy. Bedah super radikal yaitu bedah radikal yang diperluas
dengan pengeluaran kelenjar limfe supra klavicular.
Pada karsinoma payudara stadium lanjut, tindakan operasi
dilakukan bukan sebagai terapi kuratif namun untuk memperbaiki activiy
day living.

16

b. Radioterapi
Radioterapi untuk kanker payudara biasanya digunakan pada terapi
kuratif, dengan mempertahankan mammae dan sebagai terapi tambahan
atau terapi paliatif. Radiasi harus dipertimbangkan pada karsinoma
mamma yang tidak mampu angkat (jika ada metastasis). Kadang dapat
dipikirkan amputasi mamma setelah tumor mengecil oleh radiasi.
c. Khemoterapi
Khemoterapi merupakan terapi sistemik yang digunakan bila ada
penyebaran secara sistemik dan juga dipakai sebagai terapi adjuvant.
Tujuannya adalah menghancurkan mikrometastase di dalam tubuh pasien
yang biasanya kelenjar aksilanya sudah mengandung metastasis. Obat
yang diberikan adalah kombinasi Cyclophosphamide, Metotrexate dan
5-Fluororacyl selama 6 bulan.
d. Terapi hormonal
Terapi hormonal diberikan jika penyakit telah sistemik berupa
metastasis jauh, biasanya diberikan secara paliatif sebelum khemoterapi
karena efek terapinya lebih lama. Terapi hormonal paliatif dilakukan pada
penderita pramenopause, dengan cara ovarektomy bilateral atau dengan
pemberian anti estrogen seperti Tamoksofen atau Aminoglutetimid.
Estrogen tidak dapat diberikan karena efek sampingnya terlalu berat.
III.9. Prognosis
Prognosis tumor payudara tergantung dari :
a. Besarnya tumor primer.
b. Banyaknya/besarnya kelenjar axilla yang positf.
c. Fiksasi ke dasar dari tumor primer.
d. Tipe histologis tumor/invasi ke pembuluh darah.
e. Tingkatan tumor anaplastik.
f. Umur/keadaan menstruasi.
g. Kehamilan.

17

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
IV.1. KESIMPULAN
a. Tumor payudara merupakan kelainan kepadatan massa dalam payudara
yang sering dijumpai pada wanita umur muda (17 30 tahun) yaitu
sebanyak 61,30 % dan jarang menyebabkan keganasan.
b. Dari 93 responden 88,12 % tumor jinak dan 11,78 % tumor ganas, baik
yang dilakukan pemeriksaan maupun tidak.
c. Faktor risiko kejadian tumor payudara yang kami peroleh dalam penelitian
ini hanya faktor umur dan status pernikahan saja sehingga sulit untuk
mengetahui penyebabnya.
d. Pengobatan tumor payudara terbaik adalah operasi.
IV.2. SARAN
a. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk memperoleh hasil yang
sempurna agar lebih berhasil dan berdaya guna.
b. Untuk kelengkapan data Catatan Medik perlu diperhatikan kelengkapan
data seperti : anamnesis yang baik karena faktor risiko penyakit tumor
payudara dapat kita ketahui dengan anamnesis. Selain itu hasil pemeriksaan
PA harus dilampirkan dalam catatan medik.

18

DAFTAR PUSTAKA

1. Marina, L. Sartono, Mungkinkah Kanker Menjadi Penyakit Turunan, dalam


Medika Maret (3) 16; FK-UI, Jakarta, 1990; 245.
2. Ramli, M., Kanker Payudara dalam Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah, Bagian
Bedah Staf Pengajar FK-UI, Jakarta, 1995.
3. Copelnd, E.M dan Bland, F.I., Payudara dalam Buku Ajar Bedah, Sobiston
Bagian 1, EGC, Jakarta, 1992.
4. Gani, W.T., Diagnosis dan Tatalaksana Sepuluh Jenis Kanker Terbanyak di
Indonesia, EGC, Jakarta, 1995; 25-50.
5. Aryandono, T., Prinsip Oncologi dan Kanker Payudara dalam Hand Out Bedah
Tumor, FK-UGM, Yogyakarta, 1997.
6. Moersadik, S., Seratus Pertanyaan Mengenai Kanker, Wanita Sejahtera, Jakarta,
1981, 51-60.
7. Djamaloeddin, Kelainan pada Mammae dalam Ilmu Kandungan, ed. 2,
Wiknjosastro H, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta,
1997.
8. Sjamsuhidayat R dan Jong W, Dinding Toraks, Pleura dan Payudara dalam Buku
Ajar Ilmu Bedah, EGC, Jakarta, 1997.