Anda di halaman 1dari 8

Uretritis - Non Gonore

PENDAHULUAN
Berpuluh tahun sebelumnya dikenal hanya satu penyakit infeksi
yang menyerang saluran alat genital serta yang disebabkan oleh
gonokokkus sehingga pada waktu dahulu tidak dapat dibedakan apakah
Uretritis yang timbul disebabkan oleh infeksi gonokokkus atau non
gonokokkus. Dengan penemuan berbagai antibiotika temyata kemudian
bahwa uretritis dapat disebabkan infeksi oleh gonokokkus dan non
gonokokkus oleh sebab terbukti berbeda hasil pengobatan oleh dua
jenis antibiotika terhadap uretritis yang disebabkan kedua golongan
tersebut. Akibatnya selama bertahun dikenal dengan sebutan infeksi
oleh gonokokkus (= Uretritis gonore) dan infeksi oleh non-gonokokkus (=
Uretritis non gonore)
Uretritis Non Spesifik termasuk ke dalam golongan Uretritis NonGonore. Sebenarnya penggunaan istilah Uretritis Non-Spesifik tidak begitu
tepat oleh sebab dengan kemajuan teknik pemeriksaan laboratorium pada
saat ini telah mulai dapat ditentukan Organisme yang patogen yang
spesifik pada sebagian Uretritis Non-gonore. Diduga penyebabnya seperti
Trichomonas vaginalis, bakteri dari genera Haemophilus dan
Corynebacterium, jamur, virus, adanya kelainan anatomis, trauma,
oleh bahan kimia dan neoplasma yang diperkirakan sampai 10% dapat
menyebabkan Uretritis Non-gonore. Sebahagian besar penyebab Uretritis
Non-gonore belum diketahui sehingga timbul istilah Umum yang
menyatakan adanya infeksi non spesifik pada alat genital bagian
bawah (= non specific genital infection).
Penting sekali dibedakan Uretritis gonore dan non gonore oleh
sebab tanda-tanda klinis dapat memberi gambaran yang hampir sama.
Hal tersebut sangat diperlukan untuk menerapkan pengobatan yang
rasional, sebab cara ini hanya dapat dilakukan bila penyebabnya dan
paling minimal dapat dibedakan kedua golongan tersebut.
Menurut uraian King dkk. maka Uretritis dikenal 2 golongan
yaitu : Uretritis gonore dan Uretritis Non-gonore, sedangkan Uretritis,
Non-gonore dibagi lagi menjadi 2 subgolongan yaitu : Sub golongan
yang penyebabnya telah diketahui dan Sub golongan yang masih
belum diketahui dan inilah yang dimaksud dengan Non Spesifik Uretritis.
Oleh sebab di Indonesia belum jelas mengenai pembagian dan
penyebabnya maka kami lebih suka mempergunakanistilah Uretrisit
Non gonore pada semua Uretritis yang tidak disebabkan gonokokkus.
DEFINISI

Uretritis Non Gonore (UNG) adalah suatu peradangan dari selaput lendir
saluran kencing (uretra) yang bukan disebabkan oleh kuman Neisseria
gonorrhea.
EPIDEMIOLOGI
Insidens Uretritis Non Gonore menunjukkan kenaikan angka yang
menonjol pada waktu akhir-akhir ini walaupun pada beberapa
daerah/negeri frekuensinya berbeda-beda. Di Amerika Serikat pada waktu
akhir-akhir ini insidens Uretritis Gonore menunjukkan tendensi menetap
sedangkan Uretritis Non Gonore meningkat. Di Swedia Uretritis Non
Gonore menunjukkan angka 2 x daripada Uretritis Gonore.
Tidak dijumpai sifat-sifat khusus serta yang memenuhi
persyaratan untuk membedakan seseorang penderita Uretritis yang
disebabkan C. trachomatis dan yang bukan disebabkan organisme
tersebut.
Pria dengan frekuensi yang telah pernah menderita Uretritis lebih
dari pada dua kali maka akan menunjukkan frekuensi yang rendah
terhadap isolasi C. Trachomatis dan pria yang telah pernah menderita
uretritis juga menunjukkan frekuensi yang rendah terhadap isolasi U.
Urealyticum. Di Eropa ternyata frekuensi isolasi Chlamydia yang
dilakukan pada Institut Alfred Fornier, maka dari 2414 penderita Non
Gonore diperoleh 26,4%. Di Singapura ternyata penderita U.N.G.
menunjukkan ratio 1 : 3 terhadap U.G. dan belum dinyatakan hal
tersebut suatu keadaan yang harus mendapat perhatian. Di Indonesia
diduga U.N.G. sudah mulai banyak dijumpai walaupun belum ada
publikasi yang menyatakan organisme penyebabnya atau yang
dianggap penyebabnya berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium
yang dilakukan. Hingga saat ini yang dilaporkan adalah frekuensi
penderita Non Gonore dari berbagai RS. Pendidikan di Indonesia untuk
kurun waktu 1980 1981 sebagai berikut :
Jakarta
: 900
Surabaya
: 2299
Yogyakarta : 361
Palembang : 247
Denpasar
: 120
Ujung Pandang : 110
Medan
: 187
Di R.S.D.P. Medan untuk kurun waktu tersebut dilaporkan
penderita U.N.G. 187, tidak dilaporkan organisme penyebabnya hanya
berdasarkan ketentuan tidak dijumpainya gonokokkus pada penerita

Uretritis tersebut. Penentuan organisme penyebabnya masih sulit diatasi


oleh sebab kesukaran dalam bidang/sarana laboratorium dan mungkin juga
faktor tenaga terampil di bidang laboratorium yang akan menopang
penentuan organisme penyebabnya. Hal yang serupa juga dihadapi
berbagai kota/RS di berbagai kota di Indonesia. Di luar kasus yang
dilaporkan dari R.S.D.P. maka penulis sendiri pernah menjumpai 2
penderita U.N.G. dengan organisme Mycoplasma-T yang dapat diisolasi
dari Uretra serta yang diduga penyebabnya, apalagi setelah pemberian
pengobatan maka keluhan dan tanda-tanda klinik dari penderita tersebut
menjadi hilang; tetapi isolasi organisme tersebut bukan dilakukan di
Medan. Kemudian kami menjumpai 5 penderita dengan tanda-tanda
uretritis dan isolasi organisme dari uretra ternyata C. Albican yang
diduga sebagai penyebabnya.
TANDA-TANDA KLINIK
Uretritis non gonore pada pria dikenal dengan tanda-tanda adanya
pengeluaran cairan yang mucopurulen dari Uretra dan dengan
kemungkinan banyak atau sedikit, tetapi pada umumnya cairan
tersebut -lebih encer dari pada uretritis gonore. Kadang-kadang
disertai disuria, perasaan gatal pada bagian ujung uretra ataupun dengan
keluhan mikturasi yang lebih sering.
Sering keluhan penderita tidak begitu menonjol sehingga dapat
menyebabkan kesukaran dalam penentuan waktu inkubasinya, tetapi
pada umumnya waktu inkubasi antara 1 3 minggu.
Ada kalanya penderita dengan pengeluaran cairan (duh tubuh)
yang purulen sehingga sukar dibedakan secara klinis dengan Uretritis
gonore.
Dapat dibuat kesimpulan bahwa keluhan Subjektip uretritis nongonore tidak nyata berbeda dari pada Uretritis gonore.
Uretritis non-gonore pada wanita pada umumnya tanpa keluhan dan
pemeriksaan klinis sering dijumpai keadaan normal. Hasil penyelidikan
melaporkan bahwa sekitar 20% para wanita sebagai"teman
berhubungan"dari pria yang menderita Uretritis non gonore maka bila
dilakukan pemeriksaan akan dijumpai tanda-tanda infeksi dari alat
genital yang bersangkutan. Ada kalanya dijumpai tanda-tanda Cystitis
yang akut ataupun yang khronis pada wanita teman dari pria yang
menderita infeksi tersebut. Bila terjadi pengeluaran cairan dari
Vagina (vaginal disharge) maka hal tersebut pada umumnya disertai
dengan trichomoniasis dan terutama disebabkan oleh Cervitis.
Disamping tanda-tanda klinis maka diagnosa yang memastikan harus
ditopang dengan pemeriksaan laboratorium.

DIAGNOSA
Uretritis non gonore ialah uretritis dengan tanda-tanda klinik atau
dengan keluhan subjektip yang hampir menyerupai atau lebih ringan dari
pada uretritis gonore dan kadang-kadang dengan tanda klinik maupun
keluhan subjektip yang tidak begitu menonjol, hanya sebagai pembatasan
dalam pemeriksaan laboratorium terhadap duh tubuh tidak dijumpai
gonokokkus.
Uretritis non gonore dikenal dengan timbulnya gejala duh tubuh dari
uretrat sedikit ataupun banyak dan tidak disebabkan oleh gonokokkus
serta yang dapat dibuktikan dengan pewarnaan gram dari sediaan
langsung ataupun dengan pembiakan. Penderita dengan gejala
tersebut di atas dengan eksudat yang mengandung banyak sel-sel
polymorph nuclear tanpa adanya diplocokkus gram negatip intra & extra
Sellular.
Pada penderita tanpa adanya duh tubuh, maka diagnosa dapat
ditegakkan berdasarkan :
Pemeriksaan spesimen dari endo uretral dengan dijumpainya sel lebih
dari pada 4/LP (1000 x) dilakukan dengan pewarnaan gram.
Dapat juga dilakukan pemeriksaan sedimen urine dengan dijumpainya
sel lebih dari pada 15/LP (400 x), dengan urine pagi yang pertama
dikeluarkan ataupun paling sedikit setelah 4 jam sesudah pengeluaran
urine sebelumnya.
Untuk menegakkan diagnosa suatu uretritis non gonore
diperlukan anamnese yang jelas dari penderita dan yang disertai
dengan pemeriksaan klinis serta yang ditopang dengan pemeriksaan
laboratorium, tetapi diperlukan laboratorium dengan kualitas yang baik
yang dapat menopang dalam penentuan penyebabnya.
Bahan pemeriksaan (spesimen) diambil dari uretra untuk pria dan
dari Vagina, Cervix dan Uretra untuk wanita. Disamping itu bila
perlu dilakukan pemeriksaan spesimen dari rectum, oropharynx dan
sekresi prostat. Pemeriksaan laboratorium termasuk pewarnaan gram
terutama untuk melihat leucocyt; Sel, kuman, jamur, sedangkan
pemeriksaan sediaan basah untuk menentukan Trichom.onas Vaginalis.
Disamping itu pembiakan juga diperlukan untuk penentuan organisme
dari spesimen. Bila keadaan mengizinkan maka spesimen untuk penentuan
adanya Chlamydia trachomatis, Urea plasma, Urea lyticum dan
organisme lainnya. Untuk melengkapi pemeriksaan dari bidang S.T.D.
maka pemeriksaan S.T.S. sebaiknya dilakukan.
ORGANISME PENYEBAB URETRITIS NON GONORE (U.N.G.)
Menurut uraian dari WHO Scientific Group dilaporkan bahwa

organisme penyebabnya dan yang telah dibuktikan ataupun diduga


menyebabkan U.N.G. serta yang dapat ditularkan melalui hubungan
kelamin yaitu :
Chlamydia trachomatis
Urea plasma, Urea lyticum
Trichomonas Vaginalis
Jamur
Virus
masih banyak kemungkinan lainnya.
Beberapa pusat penelitian ataupun penulis lainnya memberikan
daftar yang hampir sama hanya ada sebagian atau beberapa butir yang
tidak bersamaan diuraikan.
Sebagai perbandingan disajikan laporan Cattera yang melaporkan
kemungkinan penyebab U.N.G. sebagai berikut :
Chlamydia trachomatis
Urea plasma Urea lyticum
Corynebacterium Vaginale
Haemophilis Vaginalis
Hypersensitivity
Antoimmune disese
Psychogenic Causes.
Penyelidikan akhir-akhir ini melaporkan bahwa Chlamydia
trachomatis dapat diisolasi dari hampir setengah dari jumlah penderita
Uretritis non gonore, pada hampir sepertiga dari wanita yang merupakan
pasangan hubungan kelamin dari pria yang menderita penyakit tersebut
dan demikian juga pada sebagian besar penderita uretritis paska gonore.
Laporan terakhir yang diperoleh penulis mengenai keterlibatan
Chlamydia terhadap Uretritis Non Gonore lebih menarik perhatian.
Chlamydia Trachomatis
Sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu Halberstaedter dan kawankawan merupakan orang pertama yang melaporkan dijumpainya
Chlamydial Inclusion dari sediaan yang diambil dari mata, tetapi pada
waktu itu belum jelas peranannya. Tahun 1957, Tang dan kawankawan dapat mengisolasi organisme tersebut dari mata penderita
trachoma. Kemudian tahun 1958, Collier dan kawan-kawan berhasil
melakukan inkubasi chlamydia pada mata dan ternyata dapat
menimbulkan trachoma. Tahun 1959, Yones dan kawan-kawan dapat
mengisolasi Chlamydia dari mata bayi yang menderita opthalmia
neonatorum. Tahun 1960, Collier dapat membuktikan dengan
dijumpainya organisme tersebut dari Cervix si ibu dari bayi yang
dilahirkan dengan opthalmia neonatorum. Tahun 1964, Dunlop dan
kawan-kawan dapat mengisolasi Chlamydia dari Cervix si ibu

dengan bayi yang dilahirkan menderita opthalmia neonatorum dan


dari uretra bapak si bayi dan ternyata sebagian besar menderita
uretritis non gonore. Tahun 1967, Dunlop dan kawan-kawan dapat
membuktikan adanya organisme tersebut yang dapat diisolasi dari
uretra dari sejumlah pria yang menderita uretritis non gonore dan
demikian juga dari Cervix dari pada sebagian pasangan kontak dari para
pria tersebut.
Penelitian akhir-akhir ini melaporkan bahwa chlamydia dapat
diisolasi dari uretra pria yang menderita uretritis non gonore serta
hampir mendekati 50%.
Tingkatan atau frekuensi isolasi dari organisme tersebut ternyata
dijumpai rendah pada golongan kontrol dengan sifat kebiasaan
hubungan kelamin yang sama tanpa adanya keluhan atau tanda-tanda
uretritis non gonore. Peneliti lainnya melaporkan bahwa pada
golongan kontrol tidak dijumpai sedangkan peneliti lainnya
melaporkan dengan tingkatan mencapai 7% pada pria. Oleh beberapa
penulis menguraikan dengan dijumpainya pada pria yang bukan homo
serta menderita uretritis gonore, maka tingkatan isolasi Chlamydia
berkisar sampai 30%.
Dilaporkan bahwa seseorang disamping menderita gonore dapat juga
ditulari Chlamydia dengan gejalanya baru muncul setelah gonore
sembuh sehingga dikenal dengan nama "Post Gonococcal Non Specific
Uretritis". Infeksi campuran tersebut dapat terjadi dengan waktu
manifestasi yang berbeda oleh sebab waktu inkubasi yang berbeda.
Infeksi Chlamydia di Cervix dari pada wanita pasangan kontak dari
pria yang menderita Uretritis Non-Gonore dijumpai di sekitar lebih 30%.
Demikian juga dijumpai Chlamydia dari Cervix sekitar 2% dari wanita
tanpa adanya sangkaan menderita S.T.D. dari pemeriksaan dan
anamnese dan demikian juga tanpa adanya kontak dengan pria yang
menderita Uretritis Non Gonore.
Berdasarkan uraian dari laporan hasil penelitian tersebut di atas
maka dengan lebih nyata bahwa Chlamydia trachomatis adalah patogen
pada saluran genital dan diduga merupakan salah satu penyebab
timbulnya uretritis non gonore.
Urea Plasma Urea Lyticum
Sebagian besar penulis beranggapan bahwa U. Urealyticum
merupakan organisme komensal pada saluran genital manusia, tetapi
menurut sebagian peneliti bahwa organisme tersebut dapat
menyebabkan Uretritis, hanya dianggap tidak sebagai penyebab utama
pada Uretritis Non Gonore.

PENATALAKSANAAN
Obat yang paling efektif adalah golongan tetrasiklin dan eritromisin.
Indikasi eritromisin adalah untuk orang yang tidak tahan pada tetrasiklin dan
pada wanita hamil. Dosis tetrasiklin HCL dan eritromisin adalah 4 x 500 mg
sehari selama 1 minggu atau 4 x 250 mg sehari selama 2 minggu, doksisiklin,
minosliklin dosis pertama 200 mg, dilanjutkan 2 x 100 mg sehari selama 1-2
minggu. Kotrimoksasol, spiramisin dan ofloksasin juga bisa dapat digunakan.
KOMPLIKASI
1. Pria.
- Epididimitis : infeksi pada epididimis, yang bisa menyebabkan nyeri pada buah
zakar
- Striktur uretra : penyempitan uretra, yang bisa menyebabkan penyumbatan
aliran air kemih.
2. Wanita.
- Infeksi saluran telur, bisa menyebabkan nyeri, kehamilan ektopik (di luar
kandungan) dan kemandulan
- Infeksi hepar, bisa menyebabkan nyeri perut bagian atas
3. Pada pria dan wanita.
- Konjungtivitis : infeksi pada bagian putih mata, bisa menyebakan nyeri mata
dan belekan
4. Pada bayi baru lahir.
- Konjungtivitis, bisa menyebabkan nyeri mata dan belekan
- Pneumonia, bisa menyebabkan demam dan batuk.
PROGNOSIS
Kadang tanpa pengobatan penyakit perlahan akan sembuh sendiri (50-70% kasus
dalam 3 bulan). Setelah pengobatan, 10% kasus akan mengalami rekurensi atau
eksaserbasi.
KESIMPULAN
1. Dengan gambaran klinis saja tidak dapat ditegakkan diagnosa U.N.G.,
sedangkan diagnosa yang tepat harus ditunjang dengan pemeriksaan
laboratorium. Sebagai alat penunjang diperlukan sarana laboratorium dan
tenaga terampil untuk menyisip kekurangan tersebut.
2. Disebabkan kekurangan faktor penunjang tersebut maka di Medan
khususnya dan di Indonesia pada umumnya belum dapat ditentukan
organisme penyebab utama atau penyebab-penyebab lainnya walupun
diperkirakan U.N.G. sudah mulai banyak dijumpai di Indonesia.
Perkecualian dari uraian di atas maka di Jakarta oleh Dr. Suhamo telah
mulai dirintis untuk penentuan organisme penyebab uretritis non gonore di
Jakarta.

3. Penentuan penyebab U.N.G. sangat penting sebab disamping dapat


mengetahui organisme penyebabnya, juga diperlakukan dalam hubungan
pengobatan secara rasional terhadap Uretritis tersebut.