Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN FINAL

Detail Desain Pengamanan Pantai Kuala Tambangan & Swarangan

3.1. UMUM
Berdasarkan Kerangka Acuan Kerja yang telah ada, pekerjaan Detail
Desain Pengamanan Pantai Kuala Tambangan dan Swarangan
mencakup beberapa kegiatan, yaitu :
a. Melaksanakan survey lapangan pendahuluan;
b. Mengkaji studi terdahulu yang sudah ada dan berkaitan dengan
studi ini;
c. Melakukan survey dan investigasi topograf, bathimetri, hidrooceanograf, geologi dan mekanika tanah;
d. Melaksanakan perencanaan detail desain;
e. Melaksanakan perhitungan BOQ serta membuat spesifkasi teknis;
dan
f. Membuat laporan yang berkaitan dengan pekerjaan ini.
Dengan adanya beberapa pekerjaan yang dilaksanakan selama
pekerjaan studi, maka konsultan membagi pekerjaan tersebut
menjadi 8 (delapan) tahapan kegiatan seperti berikut:
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.

Pekerjaan persiapan,
Orientasi medan dan identifkasi lapangan,
Penetapan pra lay out dan identifkasi data,
Survey topograf dan investigasi,
Analisis hidrologi, hidrolika, erosi dan sedimentasi pantai,
Perencanaan dan penggambaran bangunan pengaman pantai,
Pengoperasian Genesis sebagai analisa posisi garis pantai, serta
Pelaporan.

3.2. PEKERJAAN PERSIAPAN


Pekerjaan persiapan/pendahuluan merupakan tahapan kegiatan yang
pertama dilaksanakan guna memperlancar hubungan antara pihak
konsultan, pemberi kerja dan instansi yang terkait serta
mempersiapkan semua peralatan dan personil yang akan
dipergunakan dalam pelaksanaan kegiatan ini.
Tahapan kegiatan pekerjaan persiapan meliputi :
1.
2.

Menghubungi instansi terkait di daerah pada lokasi pantai yang


ditinjau berkaitan dengan kebijaksanaan Pemerintah Daerah dan
Rencana Umum Tata Ruang Daerah setempat.
Melakukan inventarisasi kondisi fsik dan penilaian tingkat
kerusakan pantai yang telah terjadi serta dampaknya terhadap
lingungan.
III - 11

PT. SAKA BUANA YASA SELARAS


Architecs Planners Engineers Management Consultants
Kantor Pusat : Jl. Puncak No.5 Malang 65152 Telp.0341-354750 Fax. 0341-357557
Kantor Perwakilan : Jl. Merpati No. 6, Komp.Gatot Subroto Banjarmasin 70235 Telp 0511-3257157
Email : Sabuyase@Indo.net.id

LAPORAN FINAL
Detail Desain Pengamanan Pantai Kuala Tambangan & Swarangan

3.
4.

5.

Mengidentifkasi
permasalahanpermasalahan
yang
ada
berkaitan dengan bangunan pengamanan pantai.
Menentukan batas lokasi survei dan tempat-tempat pengukuran
bathymetri dan hidro-oceanograf.
Menentukan referensi pengukuran

3.3. PENGUKURAN TOPOGRAFI


Pelaksanaan survey topograf daerah pantai dimaksudkan untuk
mendapatkan gambaran topograf, yang selanjutnya digunakan
sebagai dasar analisis dan perencanaan bangunan pantai.
3.3.1. Pengukuran Pengikatan
Yaitu pengukuran untuk mendapatkan titik-titik referensi posisi
horisontal dan vertikal.
Peralatan yang digunakan antara lain: Theodolite T2 (untuk
posisi horisontal), Waterpass NAK (untuk posisi vertikal), pita
baja 50 meteran, 2 set bak ukur. Metode pelaksanaan
sebagaimana disajikan dalam gambar berikut :

BT 1

BT 2

BM

MSL
Z0
KP

0
palem

T
BM

0,0 LLWL

Gambar 3.1. Ilustrasi proses pengikatan

T.BM = (BT1 BT2) - KP


dengan :
T.BM
BT1
BT2
KP

=
=
=
=

tinggi titik BM terhadap bidang referensi (LLWL)


bacaan benang tengah rambu muka
bacaan benang tengah rambu belakang
koreksi nol palem.

3.3.2. Pemasangan Benchmark (BM) Baru


Sebagai titik pengikatan dalam pengukuran topograf perlu
dibuat Benc Mark (BM) baru yang penempatannya disesuaikan
dengan arahan pihak Direksi Pekerjaan. Titik-titik BM baru yang
III - 11

PT. SAKA BUANA YASA SELARAS


Architecs Planners Engineers Management Consultants
Kantor Pusat : Jl. Puncak No.5 Malang 65152 Telp.0341-354750 Fax. 0341-357557
Kantor Perwakilan : Jl. Merpati No. 6, Komp.Gatot Subroto Banjarmasin 70235 Telp 0511-3257157
Email : Sabuyase@Indo.net.id

LAPORAN FINAL
Detail Desain Pengamanan Pantai Kuala Tambangan & Swarangan

terpasang ini mempunyai fungsi untuk menyimpan data


koordinat, baik koordinat (X,Y) maupun elevasi (Z).
3.3.3. Pengukuran Poligon

Peralatan yang digunakan adalah: 1 unit Theodolit T2, 1


buah pita baja 50 m dan 1 set bak ukur.
Dalam pengukuran poligon ada dua unsur yang perlu
diperhatikan, yaitu pengukuran jarak dan pengukuran sudut
jurusan.

3.3.4. Pengukuran jarak


Pada pelaksanaan pengukuran jarak biasanya digunakan pita
ukur 100m, ketelian pengukuran ini tergantung dari cara
pelaksanaan dan kondisi permukaan tanah yang dikur. Adapun
untuk permukaan tanah/ lahan yang miring cara pengukuran
diilustrasikan pada gambar berikut.

d1

d2

d3
A

Jarak AB =
d1+d2+d3
2

Gambar 3.2. Pengukuran jarak pada lahan yang miring


3.3.5. Pengukuran sudut jurusan
Besarnya sudut jurusan ditentukan berdasarkan hasil
pengukuran sudut mendatar di masing-masing titik poligon,
pengukuran sudut jurusan diilustrasikan pada gambar berikut.
B

AB
A

Ac
C

Gambar 3.3. Pengukuran sudut mendatar


III - 11

PT. SAKA BUANA YASA SELARAS


Architecs Planners Engineers Management Consultants
Kantor Pusat : Jl. Puncak No.5 Malang 65152 Telp.0341-354750 Fax. 0341-357557
Kantor Perwakilan : Jl. Merpati No. 6, Komp.Gatot Subroto Banjarmasin 70235 Telp 0511-3257157
Email : Sabuyase@Indo.net.id

LAPORAN FINAL
Detail Desain Pengamanan Pantai Kuala Tambangan & Swarangan

= Ac - AB

dengan :

= sudut mendatar
Ac = bacaan skala horisontal ke target kanan
AB = bacaan skala horisontal ke target kiri
3.3.6. Pengukuran azimuth astronomis
Besarnya sudut jurusan ditentukan berdasarkan hasil
pengukuran sudut mendatar di masing-masing titik poligon,
pengukuran sudut jurusan diilustrasikan pada gambar berikut.
U (geograf)

T
M

matahari

Target

Meredian
pengamat

Gambar 3.4. Pengamatan matahari


T
T

= M + , atau
= M + (IT - IM)

dengan:
T
M
IT
IM

=
=
=
=

azimuth ke target
azimuth ke pusat matahari
bacaan jurusan mendatar ke target
bacaan jurusan mendatar ke matahari

3.3.7. Pengukuran sipat datar


Pengukuran sipat datar bertujuan untuk mendapatlkan jaringan
vertikal pada kerangka pemetaan:
Adapun peralatan yang diperlukan antara lain : 1 unit
waterpass, 1 buah pipa baja 50 m, dan 1 set bak ukur.
Pengukuran waterpass mengikuti ketentuan sebagai berikut:
1) Jalur pengukuran dibagi menjadi beberapa seksi.
2) Tiap seksi dibagi menjadi slag yang genap.
3) Setiap pindah slag rambu muka menjadi rambu belakang
dan rambu belakang menjadi rambu muka.
4) Pengukuran dilakukan double stand pergi pulang,
pembacaan rambu lengkap (Ba, Bt, Bb).
5) Selisih pembacaan stand 1 dengan stand 2 < 2mm.
III - 11

PT. SAKA BUANA YASA SELARAS


Architecs Planners Engineers Management Consultants
Kantor Pusat : Jl. Puncak No.5 Malang 65152 Telp.0341-354750 Fax. 0341-357557
Kantor Perwakilan : Jl. Merpati No. 6, Komp.Gatot Subroto Banjarmasin 70235 Telp 0511-3257157
Email : Sabuyase@Indo.net.id

LAPORAN FINAL
Detail Desain Pengamanan Pantai Kuala Tambangan & Swarangan

6) Jarak rambu ke alat maksimum 75 m.


7) Setiap awal dan akhir pengukuran dilakukan pengecekan
garis bidik.
Toleransi penutup beda tinggi (T) = (8D)mm. dengan D adalah
jarak antara 2 titik kerangka dasar vertical dalam 1 km.
3.3.8. Pengukuran situasi rinci
Pengukuran sipat datar bertujuan untuk mendapatkan kondisi
situasi secara rinci dari lokasi pengukuran.
Peralatan yang perlukan adalah: 2 unit Theodolite T0, 2 set pita
baja 50m dan 2 set bak ukur.
Metode pelaksanaan pengukuran situasi rinci yaitu dengan cara
Tachymetrio dengan menggunakan alat ukur Theodolite
kompas (T0), dan akan diperoleh data-data:

Azimuth magnetis,
Pembacaan benang diafragma (atas, tengah dan bawah)
Sudut zenith atau sudut miring,
Tinggi alat ukur.

Spesifkasi pengukuran situasi adalah sebagai berikut:

Metode yang digunakan adalah tachymetry dengan


membuat jalur/ ray, dimana setiap ray kat pada titik-titik
polygon sehingga membentuk jalur polygon dan waterpass
terikat sempurna.
Pembacaan rinci dilakukan menyebar ke seluruh areal yang
dipetakan dengan kerapatan disesuaikan dengan skala peta
yang akan dibuat. Gundukan tanah, bangunan-bangunan
penting, batu-batu besar yang mencolok serta garis pantai
akan diukur dengan baik.
Setiap ujung dermaga (bila ada) diambil posisinya dan untuk
pengecekan peta, jarak antara ujung-ujung dermaga yang
bersebelahan juga perlu diukur.

3.4. SURVEY BATHIMETRI


Survey bathimetri atau sering disebut pemuruman (sounding)
dimaksudkan untuk mengetahui keadaan topograf dasar laut.
Penentuan
posisi-posisi
kedalaman
dilakukan
menggunakan
echosounder GPSMap.
Peta bathimetri diperlukan untuk mengetahui keadaan kedalaman
laut di sekitar lokasi pekerjaan. Peta ini digunakan untuk mengetahui
kondisi gelombang di lokasi pekerjaan. Pengukuran ini dilakukan dari
arah pantai sejauh 1 km ke arah laut.
3.4.1. Penentuan Jalur Sounding
Yaitu jalur perjalanan kapal yang melakukan sounding dari titik
awal sampai ke titik akhir dari areal survey. Jarak antar
sounding tergantung pada resolusi ketelitian yang diinginkan.
III - 11

PT. SAKA BUANA YASA SELARAS


Architecs Planners Engineers Management Consultants
Kantor Pusat : Jl. Puncak No.5 Malang 65152 Telp.0341-354750 Fax. 0341-357557
Kantor Perwakilan : Jl. Merpati No. 6, Komp.Gatot Subroto Banjarmasin 70235 Telp 0511-3257157
Email : Sabuyase@Indo.net.id

LAPORAN FINAL
Detail Desain Pengamanan Pantai Kuala Tambangan & Swarangan

Untuk area di lokasi pengaman pantai, jaraknya dibuatnya


sejauh 25 m. Untuk tiap jalur sounding dilakukan pengambilan
data kedalaman perairan setiap 25m,
sedangkan untuk
perairan di luar daerah rencana pengaman pantai, jalur
sounding dibuat dengan interval 50-100m.
Jalur
Sounding

Laut

Pantai
Gambar 3.5. Pergerakan perahu dalam menyusuri jalur sounding
3.4.2. Peralatan survey yang diperlukan
Echosounder GPSMap dan perlengkapannya, alat ini
mempunyai fasilitas GPS (Global Positioniong System) yang
akan memberikan posisi alat pada kerangka horizontal
dengan bantuan satelit, sehingga titik tetap di darat tidak
lagi diperlukan. Alat ini juga bisa digunakan untuk
mengukur kedalaman perairan dengan menggunakan
gelombang suara yang dipantulkan ke dasar periran.
Notebook, untuk menyimpan data yang didownload dari
alat GPSMap setiap 300 kali pencatatan data.
Perahu, untuk membawa surveyor dan peralatan survey
menyusuri jalur-jalur sounding yang telah ditentukan.
Kriteria perahu yang diperlukan adalah harus stabil dan
mudah bermanuver pada kecepatan rendah, luas dan
nyaman serta mempunyai kapasitas bahan bakar yang
sesuai dengan panjang jalur sounding.
Papan duga, untuk pengamatan fluktuasi muka air laut.
Peralatan keselamatan, seperti life jacket dan lain-lain.

3.5. SURVEY HIDRO OCEANOGRAFI


Survey Hidro-Oceanograf dilakukan untuk mendapatkan gambaran
mengenai kondisi perairan setempat seperti: kondisi pasang surut,
arus, gelombang, sedimentasi, suhu air dan debit.
Aktiftas dalam survey Hidro-Oceanograf ini meliputi : pengamatan
elevasi muka air, pengukuran arus, pengukuran gelombang,

III - 11

PT. SAKA BUANA YASA SELARAS


Architecs Planners Engineers Management Consultants
Kantor Pusat : Jl. Puncak No.5 Malang 65152 Telp.0341-354750 Fax. 0341-357557
Kantor Perwakilan : Jl. Merpati No. 6, Komp.Gatot Subroto Banjarmasin 70235 Telp 0511-3257157
Email : Sabuyase@Indo.net.id

LAPORAN FINAL
Detail Desain Pengamanan Pantai Kuala Tambangan & Swarangan

pengambilan contoh sedimen (layang dasar) dan pengukuran debit


sungai.
Kondisi pasang surut, arus, gelombang, dan kondisi hidro-oceanograf
tidak sama di berbagai daerah. Di suatu daerah dalam satu hari dapat
terjadi satu kali atau dua kali pasang surut. Secara umum pasang
surut di berbagai daerah dapat dibedakan dalam empat tipe, yaitu :
1) Pasang surut harian ganda dapat didefnisikan sebagai berikut :
Dalam satu hari terjadi dua kali air pasang dan dua kali air surut
dengan tinggi yang hampir sama, dan pasang surut terjadi secara
berurutan secara teratur. Periode pasang surut rata-rata adalah
12 jam 24 menit.
2) Pasang surut harian tunggal dapat didefnisikan sebagai berikut :
Dalam satu hari terjadi satu kali pasang dan satu kali surut.
Periode pasang surut terjadi selama 24 jam 50 menit.
3) Pasang surut campuran condong ke harian ganda (mixed tide
prevailing semidiurnal) dapat didefnisikan sebagai berikut :
Dalam satu hari terjadi dua kali air pasang dan dua kali air surut
dengan tinggi dan periode yang berbeda.
4) Pasang surut campuran condong ke harian tunggal (mixed tide
prevailing diurnal) dapat didefnisikan sebagai berikut :
Dalam satu hari terjadi satu kali pasang dan satu kali surut.Tetapi
kadang-kadang untuk sementara waktu terjadi dua kali air pasang
dan dua kali air surut dengan tinggi dan periode yang sangat
berbeda.
Selain pasang surut harian diatas, terdapat pula pasang surut
purnama dan perbani. Pasang surut ini dapat dijelaskan sebagai
berikut :
1. Pasang surut purnama (pasang besar) ini terjadi pada waktu
bumi-matahari-bulan berada dalam satu garis lurus, sehingga
gaya tarik bulan dan matahari terhadap bumi saling memperkuat.
Sehingga tinggi pasang surut sangat besar dibandingkan hari-hari
lain.
2. Pasang surut perbani (pasang kecil) terjadi pada saat bulan dan
matahari membentuk sudut siku-siku terhadap bumi sehingga
gaya tarilk bulan dan matahari saling mengurangi.
Berbagai macam jenis pasang surut tersebut turut mempengaruhi
tinggi rendahnya elevasi muka air laut. Untuk itu diperlukan suatu
elevasi yang ditetapkan berdasarkan data pasang surut, yang dapat
digunakan sebagai pedoman dalam perencanaan bangunan pantai.
Beberapa elevasi tersebut antara lain :
1. Muka air tinggi (high water level, HWL) adalah muka air tertinggi
yang dicapai pada saat air pasang dalam satu siklus pasang surut.
2. Muka air rendah (low water level, LWL) adalah kedudukan air
terendah yang dicapai pada saat air surut dalam satu siklus
pasang surut.
III - 11

PT. SAKA BUANA YASA SELARAS


Architecs Planners Engineers Management Consultants
Kantor Pusat : Jl. Puncak No.5 Malang 65152 Telp.0341-354750 Fax. 0341-357557
Kantor Perwakilan : Jl. Merpati No. 6, Komp.Gatot Subroto Banjarmasin 70235 Telp 0511-3257157
Email : Sabuyase@Indo.net.id

LAPORAN FINAL
Detail Desain Pengamanan Pantai Kuala Tambangan & Swarangan

3. Muka air tinggi rerata (mean high water level, MHWL) adalah
rerata dari muka air tinggi selama periode 19 tahun.
4. Muka air rendah rerata (mean low water level, MLWL) adalah
rerata dari muka air rendah dalam periode 19 tahun.
5. Muka air laut rerata (mean sea level, MSL) adalah muka air rerata
antara muka air tinggi rerata dengan muka air rendah rerata.
Elevasi ini digunakan sebagai referensi untuk elevasi di daratan.
6. Muka air tinggi tertinggi (highest high water level, HHWL) adalah
muka air tertinggi pada saat pasang surut purnama atau bulan
mati.
7. Muka air rendah terendah (lowest low water level, LLWL) adalah
muka air terendah pada saat pasang surut purnama atau bulan
mati.
Untuk mengetahui berbagai macam jenis elevasi muka air,
gelombang, dan lain sebagainya diperlukan suatu pengamatan hidrooceanograf yang cermat. Dalam survey (pengamatan) HidroOceanograf ini aktiftas yang dilakukan antara lain meliputi:
pengamatan elevasi muka air, pengukuran arus, pengukuran
gelombang, pengambilan contoh sedimen (layang dasar) dan
pengukuran debit sungai.
3.5.1. Pengamatan Pasang Surut
Dalam survey pengamatan pasang surut peralatan yang
diperlukan adalah rambu ukur, peralatan pencatanan, senter
dan jas hujan.
Sedangkan
metode
pelaksanaannya
dilakukan
dengan
menggunakan peilschaal dengan skala interval 1 cm, hasil
pengamatan ini diikatkan (leveling) ke patok pengukuran
topograf terdekat untuk mengetahui elevasi nol peilschaal
dengan menggunakan Zeiss Ni-2 Waterpass. Sehingga
pengukuran topograf, bathimetri dan pasang surut mempunyai
datum/ garis referensi yang sama.
Elevasi nol peilschal = T.P + BT.1 BT.2
Dimana T.P =tinggi titik patok terdekat dengan peilschaal.
Jenis pasang surut ditentukan menurut rumus:

NF K 1 01
M 2 S2

dimana jenis pasang surut untuk nilai NF :


0 0,25
0,25 1,50
1,50 3,0
> 3,0

=
=
=
=

semi diurnal
mixed type (semi diurnal dominant)
mixed type (diurnal dominant)
diurnal

3.5.2. Pengukuran Gelombang Secara Visual


Pengukuran gelombang secara visual dilakukan melalui
pengamatan langsung di lapangan selama 60 hari secara terus
III - 11

PT. SAKA BUANA YASA SELARAS


Architecs Planners Engineers Management Consultants
Kantor Pusat : Jl. Puncak No.5 Malang 65152 Telp.0341-354750 Fax. 0341-357557
Kantor Perwakilan : Jl. Merpati No. 6, Komp.Gatot Subroto Banjarmasin 70235 Telp 0511-3257157
Email : Sabuyase@Indo.net.id

LAPORAN FINAL
Detail Desain Pengamanan Pantai Kuala Tambangan & Swarangan

menerus yang mencakup pengukuran tinggi gelombang,


periode gelombang, serta arah datang gelombang.
3.5.3. Pengukuran Debit Sungai
Dari data pengamatan arus di lapangan di atas selanjutnya
diolah dan dihitung untuk mendapatkan kecepatan aliran ratarata pada lokasi yang dimaksud. Perhitungan kecepatan ratarata aliran memakai persamaan pada setiap titik penampang:
Metode
3
titik
penampang:
Vrata-rata
=
0,25(V0,2d+2V0,6d+V0,8d)
Metode 1 titik penampang: Vrata-rata = V0,6d
Perhitungan debit dihitung dengan :
Q = V. A

3.6. PEKERJAAN
TANAH

PENYELIDIKAN

GEOLOGI

DAN

MEKANIKA

Kegiatan Survey Geologi dan Mekanika Tanah dalam kegiatan ini


meliputi :
1. Pemboran inti di darat / pantai sebanyak 2 (dua) titik per lokasi,
dengan kedalaman SPT per material 2 m.
2. Pengambilan contoh tanah (terganggu atau tidak terganggu) 20
(dua puluh) titik.
3. Sondir di darat/pantai sebanyak 20 (dua puluh) titik.
4. Pengambilan contoh sedimen (sediment sampling) 10 (sepuluh)
titik.
5. Tes laboratorium mekanika tanah 20 (dua puluh) titik.
Berikut skema penyelidikan Geologi dan Mekanika Tanah :
P GEOLOGI & MEKANIKA TANAH

KEGIATAN LAPANGAN :
1. Pemboran inti
2. SPT
3. Pengambilan sample tanah
4. Sondir

KEGIATAN LABORATORIUM :
Penelitian :
1. Undisturbed Sample
2. Core Material
3. Sand Material
4. Rock Material dengan ASTM

3.6.1. Core Drilling (Pemboran Inti)


Pemboran inti bertujuan untuk mengetahui data geologi bawah
permukaan untuk desain pondasi bangunan. Mesin pemboran
tipe rotary drilling machine digunakan dengari NX diameter (76
mm). Pada formasi tanah dan batuan lapuk, digunakan singletube type core barrel, dan dibor dengan metode kering tanpa
sirkulasi air pemboran imtuk memperoleh core recovery yang
lebih baik. Pemboran yang dilakukan pada formasi batuan keras

III - 11

PT. SAKA BUANA YASA SELARAS


Architecs Planners Engineers Management Consultants
Kantor Pusat : Jl. Puncak No.5 Malang 65152 Telp.0341-354750 Fax. 0341-357557
Kantor Perwakilan : Jl. Merpati No. 6, Komp.Gatot Subroto Banjarmasin 70235 Telp 0511-3257157
Email : Sabuyase@Indo.net.id

LAPORAN FINAL
Detail Desain Pengamanan Pantai Kuala Tambangan & Swarangan

digunakan double-tube type core barrel, dan dibor dengan cara


metode basah yaitu dengan sirkulasi air pemboran. Tipe bit
yang digunakan pada formasi lunak yaitu dengan tungsten bit,
dan untuk formasi batuan sangat keras seperti basalt
digunakan diamond bit.
Untuk menghindari kerusakan pada lubang dan mencegah air
pemboran hilang. pipa casing dibutuhkan untuk dipasang.
Pemboran inti dilanjutkan sampai terjadi penyumbatan atau
rintangan pada tabung penginti, atau seluruh panjane tabung
penginti terisi penuh. Tabung penginti dikeluarkan dari dalam
lubang dan dibuka untuk mengeluarkan contoh inti. Tabung
penginti dipasang kembali dan dimasukkan ke dalam lubang
untuk mengambil contoh. Pekerjaan diusahakan untuk
mendapatkan contoh yang terambil mencapai 100%. Inti
pemboran ditempatkan pada core box kayu dimulai dari bagian
awal inti sampai
bagian akhir inti yang berakhir pada bagian alas sebelah kiri
dari core box. Masing-masing core box memiliki lima jalur
dengan panjang 1 meter. Pada bagian dimana contoh inti tidak
terambil maka dibiarkan kosong pada alur di dalam kotak.
Masing-masing core box diberi tanda yang menunjukkan nomor
lubang dan kedalaman, dimana contoh inti itu diambil.
Foto berwama diambil pada tanah dan contoh inti batuan
setiap masing-masing core box. Sebelum difoto, masingmasing core box diberi label untuk menunjukkan informasi
yang diperlukan seperti nama proyek, nomor lubang bor, dan
kedalaman pemboran.
Air tanah pada masing-masing lubang dicatat tiap hari selama
pemboran berlangsung. Pengamatan tinggi air dibuat setiap
pagi sebelum pemboran dilakukan. Tinggi air dicatat dengan
menyebutkan kedalaman dan bagian paling atas dari lubang.
Pengukuran ini dilakukan untuk tiap lubang selama periode
pemboran. Pekerjaan laporan harian dikerjakan dalam sebuah
format, mengacu pada perkembangan dan apapun yang
dijumpai pada saat pemboran tiap hari. Informasi terdiri dari
laporan harian, tanggal, lokasi dan nomor lubang, kedalaman
air tanah, waktu saat dimulai pemboran hingga pemboran
berikutnya, waktu saat pemboran selesai, kemajuan pemboran,
rata-rata debit air pemboran dalam liter per menit, deskripsi
kondisi batuan, tipe mesin pemboran, diameter lubang,
kedalaman casing, nama personel yang terlibat dalam aktivitas
pemboran.
Pembuatan drilling log dilakukan pada setiap lubang pada
sebuah format dan berisi : nama lokasi, koordinat dan elevasi
lubang bor, tanggal pemboran, kedalaman lubang. tipe bit,
core recovery. RQD (Rock Quality Designation), deskripsi
geologi, nama ahli geologi, tinggi muka air tanah, koefsien
permeabilitas, nilai lugeon, dan nilai N dan SPT
(Standard
III - 11

PT. SAKA BUANA YASA SELARAS


Architecs Planners Engineers Management Consultants
Kantor Pusat : Jl. Puncak No.5 Malang 65152 Telp.0341-354750 Fax. 0341-357557
Kantor Perwakilan : Jl. Merpati No. 6, Komp.Gatot Subroto Banjarmasin 70235 Telp 0511-3257157
Email : Sabuyase@Indo.net.id

LAPORAN FINAL
Detail Desain Pengamanan Pantai Kuala Tambangan & Swarangan

Penetration Test). Pada tiap lubang bor yang sudah selesai,


dilaksanakan pengukuran koordinat.

3.6.2. Standard Penetration Test (SPT)


Standard Penetration Test bertujuan untuk mewakili contoh
tanah dan mengukur ketahanan tanah dan penetrasi. Standard
Penetration Test dibuat berdasarkan standar American Society
for Testing and Materials (ASTM) Standards D 1586-84 pada
interval 2 m dan kedalaman lubang bor, dimana dilaksanakan
pada endapan yang tidak terkonsolidasi dan zona batuan
terurai hingga menjadi tanah residu, mengikuti kemajuan dan
pekerjaan pemboran inti. Kotoran yang ada di dalam lubang bor
dibersihkan terlebih dahulu sebelum dilaksanakan pengujian
SPT.
Split barrel sampler (Raymond sampler) dihubungkan dengan
sting bor dan dimasukkan ke dalam dasar lubang, dan
dipenetrasi sedalam 15 cm oleh pukulan drive hammer seberat
63,5 m yang mengenai stang bor. K-emudian tes baru bisa
dimulai, Split barrel sampler dimasukkan 30 cm dengan
pukulan yang dijatuhkan bebas setinggi 75 cm dan pukulan
dicatat setiap 15 cm. Jumlah pukulan yang dicatat adalah
pukulan kedua dan ketiga yang disebut standard penetration
resistance atau N-value.
Pada kasus dimana penetrasi kurang dari 30 cm dalam 50
pukulan, kedalaman penetrasi tersebut dicatat dan tes
dinyatakan berakhir. Hasil standard penetration test dicatat
dalam laporan harian pemboran.
3.6.3. Pengambilan Contoh Tanah
A.

Undisturbed Sampling (Pengambilan contoh tanah


tak terganggu)
Undisturbed sampling dilaksanakan mempergunakan
tabung logam sesuai specification by American Society
for Testing andMatenals (ASTM) Standards D1587 83.
Undisturbed sampling dilaksanakan dengan peralatan
(Shelby lube) diameter 75 mm.
Sebelum pengambilan contoh tanah maka material lepas
/jatuhan dalam lubang bor atau dalam lubang casing
diambil
dengan
hati-hati.
Tabung
Shelby
tube
dimasukkan kedasar lubang bor, kemudian ditekan
dengan peralatan pemboran tanpa putaran. Setelah
tabung contoh tanah diangkat dan terambil supaya
dicatat kedalaman contoh tanah tersebut. Kemudian
ujung tabung ditutup dengan paraffin cair diberi label
serta dibawa dengan hati-hati ke laboratorium.

B.

Disturbed Sampling (Pengambilan contoh tanah


terganggu)
III - 11

PT. SAKA BUANA YASA SELARAS


Architecs Planners Engineers Management Consultants
Kantor Pusat : Jl. Puncak No.5 Malang 65152 Telp.0341-354750 Fax. 0341-357557
Kantor Perwakilan : Jl. Merpati No. 6, Komp.Gatot Subroto Banjarmasin 70235 Telp 0511-3257157
Email : Sabuyase@Indo.net.id

LAPORAN FINAL
Detail Desain Pengamanan Pantai Kuala Tambangan & Swarangan

Pengambilan contoh terganggu dilakukan dari lubang


pemboran yang sudah terambil dan diambil secara
seleksi di dalam kotak contoh tanah lalu dilakukan
pengujian di laboratorium.

3.6.4. Dutch Cone Penetration Test (Sondir)


Dutch Cone Penetration Test dilaksanakan untuk mengetahui
daya dukung dan lekatan tanah yang terjadi. Pengujian
dilakukan sesual specification by American Society for Testing
and Materials (ASTM) Standards D 3441 86.
Mesin penekan dipasang dengan arah tegak lurus. Kecepatan
penetrasi masuk antara 10-20 mm/detik dipertahankan untuk
mendekatkan data perlawanan konus. Ujung penetrometer
dimajukan ke kedalaman yang dalam diberi tekanan
secukupnya untuk mendorong ujung penetrometer. Nilai
perlawanan konus pada suatu titik diperoleh ketika stang dalam
keadaan bergerak ke bawah sedangkan stang luar dalam posisi
diam. Penekanan dilakukan pada stang luar untuk memajukan
ujungnya sampai kedalaman pengujian berkutnya. Dengan
mengulangi prosedur ini secara menerus maka nilai
perlawanan konus pada setiap pertambahan kedalaman
diperoleh laju pertambahan kedalaman dibuat tidak melebihi
20.
Dengan menggunakan penetrometer yang sama, penekanan
dilakukan pada stang dalam, sehingga nilai dua perlawanan
konus diperoleh. Nilai perlawanan konus yang pertama
diperoleh pada tahap awal kemajuan.
Bila bagian bawah ujung terjadi perlawanan maka akan
menggeser mantel konus, Pengukuran konus adalah untuk
mendapatkan jumlah nilai dan konus di bawah dengan mantel.
Hasil pengurangan antara keduanya adalah merupakan nilai
hambatan lekat. Setiap hasil pengujian dilaporkan dalam
bentuk grafk tekanan konus dan tahanan tanah (lekatan)
seiring dengan kedalamannya.

3.6.5. Laboratory Tests standard (Pengujian Laboratorium)


Pengujian laboratorium untuk mengetahui kondisi teknis
pondasi tanah. borrow area, sumber material pasir dan agregat
kasar. Pengujian standard sesuai specification by American
Society/or Testing and Materials (ASTM) Standards sebagai
berikut :
a. Undisturbed Sample
Natural water content
Specifc gravity
Natural density
Atterberg limits
Sieve analysis and
Hydrometer
Triaxial (UU)

:
:
:
:
:
:
:

ASTM
ASTM
ASTM
ASTM
ASTM
ASTM
ASTM

D 2216-80
D 854 - 83
0,2937 - 83
0,4316 - 84
D 422-63 (1972)
0,2850 - 87
0,2435 - 80
III - 11

PT. SAKA BUANA YASA SELARAS


Architecs Planners Engineers Management Consultants
Kantor Pusat : Jl. Puncak No.5 Malang 65152 Telp.0341-354750 Fax. 0341-357557
Kantor Perwakilan : Jl. Merpati No. 6, Komp.Gatot Subroto Banjarmasin 70235 Telp 0511-3257157
Email : Sabuyase@Indo.net.id

LAPORAN FINAL
Detail Desain Pengamanan Pantai Kuala Tambangan & Swarangan

Consolidation
Swelling test
Unconfned compression
strength
b. Core Material
Specifc gravity
Density
Natural water content
Atterberg limits
Sieve analysis and
Hydrometer
Compaction
Triaxial (CU)
Consolidation
Permeability
Dispersive
c. Sand Material
Grain Size Analysis
Specifc gravity & Absorption
Soundness
Organic Impurities Content
Clay Content
MR+ASR
d. Rock Material
Specifc gravity & Absorption
Soundness
Abrasion
MR+ASR e. Rock Foundation
UnconfnedofRock

: ASTM D 4829 - 88
: ASTM D 2166-85

:
:
:
:
:
:
:
:
:
:

ASTM
ASTM
ASTM
ASTM
ASTM
ASTM
ASTM
ASTM
ASTM
ASTM

D 854 - 63
0,293 7-83
0,2216-80
D 4318-84
0,422-63 (1972)
D 596 - 78
D 4767 - 88
D 2435 - 80
D 2434-68 (1974)
D 4221 - 83a

:
:
:
:
:
:

ASTMC13S-46
ASTM C 97-83 (1988)
ASTM C 88 - 83
ASTM C 40 - 84
ASTM D 1140-54 (1971)
ASTM C 289 - 87

:
:
:
:
:

ASTMC97-83(1968)
ASTMC88-83
ASTMC535-89
ASTMC289-87
ASTM D 2938 - 86

III - 11

PT. SAKA BUANA YASA SELARAS


Architecs Planners Engineers Management Consultants
Kantor Pusat : Jl. Puncak No.5 Malang 65152 Telp.0341-354750 Fax. 0341-357557
Kantor Perwakilan : Jl. Merpati No. 6, Komp.Gatot Subroto Banjarmasin 70235 Telp 0511-3257157
Email : Sabuyase@Indo.net.id