Anda di halaman 1dari 49

RANCANGAN QANUN RTRW ACEH

DRAFT PEMERINTAH ACEH DI KIRIM KE DPRA

DRAFT
RANCANGAN QANUN ACEH
NOMOR ....... TAHUN 2010

TENTANG
RENCANA TATA RUANG WILAYAH ACEH 2010 - 2030

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM
DENGAN RAHMAT ALLAH YANG MAHA KUASA
GUBERNUR ACEH,

Menimbang :

a.

b.

c.

d.

bahwa untuk mengarahkan pemanfaatan ruang di wilayah Aceh


secara serasi, selaras, seimbang, berdaya guna, berhasil guna,
berbudaya, berkelanjutan dan berwawasan lingkungan serta
dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang
berkeadilan;
bahwa dalam rangka mewujudkan keterpaduan pembangunan
antarsektor, antarwilayah, dan antarpelaku dalam pemanfaatan
ruang;
bahwa terjadi perubahan bentang alam serta kerusakan fisik dan
sosial akibat bencana tsunami pada tanggal 26 Desember 2004,
serta diberlakukannya Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006
tentang Pemerintahan Aceh (UUPA);
bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana yang dimaksud
dalam huruf a, b dan c, perlu menetapkan Qanun Aceh tentang
Rencana Tata Ruang Wilayah Aceh.

Mengingat:
1.

Undang-Undang RI Nomor 24 Tahun 1956 tentang Pembentukan


Daerah Otonom Propinsi Atjeh dan Perubahan Peraturan Propinsi
Sumatera Utara (Lembaran Negara RI Tahun 1956 Nomor 64,
Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 1103);

2.

Undang-Undang RI Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar PokokPokok Agraria (Lembaran Negara RI Tahun 1960 Nomor 78, Tambahan
Lembaran Negara RI Nomor 2043);
Undang-Undang RI Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian (Lembaran
Negara RI Tahun 1984 Nomor 22, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor
3274);
Undang-Undang RI Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber
Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (Lembaran Negara RI Tahun 1990
Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 3419);

3.
4.

RANCANGAN QANUN RTRW ACEH


DRAFT PEMERINTAH ACEH DI KIRIM KE DPRA

5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.

12.
13.

14.
15.
16.
17.
18.
19.

Undang-Undang RI Nomor 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan


Permukiman (Lembaran Negara RI Tahun 1992 Nomor 23, Tambahan
Lembaran Negara RI Nomor 3469);
Undang-Undang RI Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya
(Lembaran Negara RI Tahun 1992 Nomor 27, Tambahan Lembaran
Negara RI Nomor 3470);
Undang-Undang RI Nomor 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya
Tanaman (Lembaran Negara RI Tahun 1992 Nomor 46, Tambahan
Lembaran Negara RI Nomor 3478);
Undang-Undang RI Nomor 5 Tahun 1994 tentang Pengesahan Konvensi
PBB tentang Keanekaragaman Hayati;
Undang-Undang RI Nomor 6 Tahun 1996 tentang Perairan Indonesia
(Lembaran Negara RI Tahun 1996 Nomor 73, Tambahan Lembaran
Negara RI Nomor 3647);
Undang-Undang RI Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi
(Lembaran Negara RI Tahun 1999 Nomor 129, Tambahan Lembaran
Negara RI Nomor 3881);
Undang-Undang RI Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan (Lembaran
Negara RI Tahun 1999 Nomor 167, Tambahan Lembaran Negara RI
Nomor 3888); sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang RI
Nomor 19 Tahun 2004 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah
Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas
Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan Menjadi
Undang-Undang (Lembaran Negara RI Tahun 2004 Nomor 86, Tambahan
Lembaran Negara RI Nomor 4412);
Undang-Undang RI Nomor 44 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan
Keistimewaan Provinsi Daerah Istimewa Aceh (Lembaran Negara RI Tahun
1999 Nomor 172, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 3893);
Undang-Undang RI Nomor 37 Tahun 2000 tentang Penetapan Peraturan
Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2000 tentang
Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang menjadi
Undang-Undang (Lembaran Negara RI Tahun 2000 Nomor 525, Tambahan
Lembaran Negara RI Nomor 4054);
Undang-Undang RI Nomor 12 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi
(Lembaran Negara RI Tahun 2001 Nomor 136, Tambahan Lembaran
Negara RI Nomor 4145);
Undang-Undang RI Nomor 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara
(Lembaran Negara RI Tahun 2002 Nomor 3, Tambahan Lembaran Negara
RI Nomor 4169);
Undang-Undang RI Nomor 27 Tahun 2003 tentang Panas Bumi (Lembaran
Negara RI Tahun 2003 Nomor 115, Tambahan Lembaran Negara RI
Nomor 4377);
Undang-Undang RI Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air
(Lembaran Negara RI Tahun 2004 Nomor 32, Tambahan Lembaran
Negara RI Nomor 4377);
Undang-Undang RI Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan
Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara RI Tahun 2004 Nomor
53, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 4389);
Undang-Undang RI Nomor 18 Tahun 2004 tentang Perkebunan (Lembaran
Negara RI Tahun 2004 Nomor 85, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor
4411);

RANCANGAN QANUN RTRW ACEH


DRAFT PEMERINTAH ACEH DI KIRIM KE DPRA

20. Undang-Undang RI Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan


21.
22.

23.

24.
25.

26.
27.
28.
29.

30.

31.

32.

33.

34.

Pembangunan Nasional (Lembaran Negara RI Tahun 2004 Nomor 104,


Tambahan Lembaran RI Negara Nomor 4421);
Undang-Undang RI Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan (Lembaran
Negara RI Tahun 2004 Nomor 118, Tambahan Lembaran Negara RI
Nomor 4433);
Undang-Undang RI Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah
(Lembaran Negara RI Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran
Negara RI Nomor 4437); sebagaimana telah diubah/diamandemen
beberapa kali, terakhir dengan Undang-Undang RI Nomor 12 Tahun 2008
tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004
tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara RI Tahun 2008 Nomor
59, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 4844);
Undang-Undang RI Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan
Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (Lembaran
Negara RI Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lemnaran Negara RI
Nomor 4438);
Undang-Undang RI Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan (Lembaran
Negara RI Tahun 2004 Nomor 132, Tambahan Lembaran Negara Nomor
4441);
Undang-Undang RI Nomor 10 Tahun 2005 tentang Penetapan Peraturan
Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2005 tentang
Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Wilayah dan Kehidupan Masyarakat
Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Kepulauan Nias Provinsi
Sumatera Utara Menjadi Undang-Undang;
Undang-Undang RI Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh
(Lembaran Negara RI Tahun 2006 Nomor 62, Tambahan Lembaran
Negara RI Nomor 4633);
Undang-Undang RI Nomor 7 Tahun 2007 tentang Pembentukan Kabupaten
Pidie Jaya (Lembaran Negara RI Tahun 2007 Nomor 9, Tambahan
Lembaran Negara RI Nomor 4683);
Undang-Undang RI Nomor 8 Tahun 2007 tentang Pembentukan Kota
Subulussalam (Lembaran Negara RI Tahun 2007 Nomor 10, Tambahan
Lembaran Negara RI Nomor 4684);
Undang-Undang RI Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana
Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005 2025 (Lembaran
Negara RI Tahun 2007 Nomor 33, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor
4700);
Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian
(Lembaran Negara RI Tahun 2007 Nomor 65, Tambahan Lembaran
Negara RI Nomor 4722);
Undang-Undang RI Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan
Bencana (Lembaran Negara RI Tahun 2007 Nomor 66, Tambahan
Lembaran Negara RI Nomor 4723);
Undang-Undang RI Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal
(Lembaran Negara RI Tahun 2007 Nomor 67, Tambahan Lembaran
Negara RI Nomor 4724);
Undang-Undang RI Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang
(Lembaran Negara RI Tahun 2007 Nomor 68, Tambahan Lembaran
Negara RI Nomor 4725);
Undang-Undang RI Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Pesisir
dan Pulau-Pulau Kecil (Lembaran Negara RI Tahun 2007 Nomor 84,
Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 4739);

RANCANGAN QANUN RTRW ACEH


DRAFT PEMERINTAH ACEH DI KIRIM KE DPRA

35.

36.

37.

38.

39.

40.

41.

42.

43.

44.

45.

46.

47.

48.

49.

50.

51.

52.

Undang-Undang RI Nomor 30 Tahun 2007 tentang Energi (Lembaran


Negara RI Tahun 2007 Nomor 96, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor
4746);
Undang-Undang RI Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran (Lembaran
Negara RI Tahun 2008 Nomor 64, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor
4849);
Undang-Undang RI Nomor 43 Tahun 2008 tentang Wilayah Negara
(Lembaran Negara RI Tahun 2008 Nomor 177, Tambahan Lembaran
Negara RI Nomor 4925);
Undang-Undang RI Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan (Lembaran
Negara RI Tahun 2009 Nomor 1, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor
4956);
Undang-Undang RI Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral
dan Batubara (Lembaran Negara RI Tahun 2009 Nomor 4, Tambahan
Lembaran Negara RI Nomor 4959);
Undang-Undang RI Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan
(Lembaran Negara RI Tahun 2009 Nomor 11, Tambahan Lembaran
Negara RI Nomor 4966);
Undang-Undang RI Nomor 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan
Kesehatan Hewan (Lembaran Negara RI Tahun 2009 Nomor 19,
Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 4974);
Undang-Undang RI Nomor 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan
(Lembaran Negara RI Tahun 2009 Nomor 133, Tambahan Lembaran
Negara RI Nomor 5052);
Undang-Undang RI Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara RI Tahun 2009 Nomor
140, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 5059);
Undang-Undang RI Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan
Pertanian Pangan Berkelanjutan (Lembaran Negara RI Tahun 2009 Nomor
149, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 5068);
Peraturan Pemerintah RI Nomor 35 Tahun 1991 tentang Sungai (Lembaran
Negara RI Tahun 1991 Nomor 44, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor
3445);
Peraturan Pemerintah RI Nomor 69 Tahun 1996 tentang Pelaksanaan Hak
dan Kewajiban, serta Bentuk dan Tata Cara Peran Serta Masyarakat dalam
Penataan Ruang (Lembaran Negara RI Tahun 1996 Nomor 104,
Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 3660);
Peraturan Pemerintah RI Nomor 68 Tahun 1998 tentang Kawasan Suaka
Alam dan Kawasan Pelestarian Alam (Lembaran Negara RI Tahun 1998
Nomor 132, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 3776);
Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 Tahun 1999 tentang Pengendalian
Pencemaran dan/atau Perusakan Laut (Lembaran Negara RI Tahun 1999
Nomor 32, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 3816);
Peraturan Pemerintah RI Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai
Dampak Lingkungan (Lembaran Negara RI Tahun 1999 Nomor 59,
Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 3838);
Peraturan Pemerintah RI Nomor 10 Tahun 2000 tentang Tingkat Ketelitian
Peta untuk Penataan Ruang Wilayah (Lembaran Negara RI Tahun 2000
Nomor 20, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 3934);
Peraturan Pemerintah RI Nomor 70 Tahun 2001 tentang Kebandarudaraan
(Lembaran Negara RI Tahun 2001 Nomor 128, Tambahan Lembaran
Negara RI Nomor 4146);
Peraturan Pemerintah RI Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan
Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air (Lembaran Negara RI
Tahun 2001 Nomor 153, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 4163);

RANCANGAN QANUN RTRW ACEH


DRAFT PEMERINTAH ACEH DI KIRIM KE DPRA

53.

54.

55.

56.

57.

58.

59.

60.

61.

62.

63.

64.

65.

66.

67.

68.

69.

Peraturan Pemerintah RI Nomor 38 Tahun 2002 tentang Keadaan


Geografis Titik-Titik Garis Pangkal (Lembaran Negara RI Tahun 2002
Nomor 72, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 4211);
Peraturan Pemerintah RI Nomor 63 Tahun 2002 tentang Hutan Kota
(Lembaran Negara RI Tahun 2002 Nomor 119, Tambahan Lembaran
Negara RI Nomor 4242);
Peraturan Pemerintah RI Nomor 68 Tahun 2002 tentang Ketahanan
Pangan (Lembaran Negara RI Tahun 2002 Nomor 142, Tambahan
Lembaran Negara RI Nomor 4254);
Peraturan Pemerintah RI Nomor 16 Tahun 2004 tentang Penatagunaan
Tanah (Lembaran Negara RI Tahun 2004 No. 45, Tambahan Lembaran
Negara RI Nomor 4385);
Peraturan Pemerintah RI Nomor 44 Tahun 2004 tentang Perencanaan
Kehutanan (Lembaran Negara RI Tahun 2004 Nomor 146, Tambahan
Lembaran Negara RI Nomor 4452);
Peraturan Pemerintah RI Nomor 45 Tahun 2004 tentang Perlindungan
Hutan (Lembaran Negara RI Tahun 2004 Nomor 147, Tambahan
Lembaran Negara RI Nomor 4453);
Peraturan Pemerintah RI Nomor 20 Tahun 2006 tentang Irigasi (Lembaran
Negara RI Tahun 2006 Nomor 16, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor
4624);
Peraturan Pemerintah RI Nomor 34 Tahun 2006 tentang Jalan (Lembaran
Negara RI Tahun 2006 Nomor 30, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor
4638);
Peraturan Pemerintah RI Nomor 6 Tahun 2007 tentang Tata Hutan dan
Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan, serta Pemanfaatan Hutan
(Lembaran Negara RI Tahun 2007 Nomor 22, Tambahan Lembaran
Negara RI Nomor 4696);
Peraturan Pemerintah RI Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian
Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi,
dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara RI Tahun
2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 4737);
Peraturan Pemerintah RI Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi
Perangkat Daerah (Lembaran Negara RI Tahun 2007 Nomor 89,
Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 4741);
Peraturan Pemerintah RI Nomor 59 Tahun 2007 tentang Kegiatan Usaha
Panas Bumi (Lembaran Negara RI Tahun 2007 Nomor 132, Tambahan
Lembaran Negara RI Nomor 4777);
Peraturan Pemerintah RI Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata
Ruang Wilayah Nasional (Lembaran Negara RI Tahun 2008 Nomor 48,
Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 4833);
Peraturan Pemerintah RI Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pengelolaan
Sumber Daya Air (Lembaran Negara RI Tanun 2008 Nomor 82, Tambahan
Lembaran Negara RI Nomor 4858);
Peraturan Pemerintah RI Nomor 43 Tahun 2008 tentang Air Tanah
(Lembaran Negara RI Tahun 2008 Nomor 83, Tambahan Lembaran
Negara RI Nomor 4859);
Peraturan Pemerintah RI Nomor 24 Tahun 2009 tentang Kawasan Industri
(Lembaran Negara RI Tahun 2009 Nomor 47, Tambahan Lembaran
Negara RI Nomor 4987);
Peraturan Pemerintah RI Nomor 34 Tahun 2009 tentang Pedoman
Pengelolaan Kawasan Perkotaan (Lembaran Negara RI Tahun 2009
Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 5004);

RANCANGAN QANUN RTRW ACEH


DRAFT PEMERINTAH ACEH DI KIRIM KE DPRA

70.

71.

72.

73.

74.
75.
76.
77.
78.
79.
80.

81.

82.

83.
84.
85.
86.
87.

88.

89.
90.

91.

Peraturan Pemerintah RI Nomor 61 Tahun 2009 tentang Kepelabuhanan


(Lembaran Negara RI Tahun 2009 Nomor 151, Tambahan Lembaran
Negara RI Nomor 5070);
Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 2010 tentang Tata Cara
Perubahan Peruntukan dan Fungsi Kawasan Hutan (Lembaran Negara RI
Tahun 2010 Nomor 15, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor
Peraturan Pemerintah RI Nomor 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan
Penataan Ruang (Lembaran Negara RI Tahun 2010 Nomor 21, Tambahan
Lembaran Negara RI Nomor 5103);
Peraturan Presiden RI Nomor 30 Tahun 2005 Tentang Rencana Induk
Rehabilitasi dan Rekonstruksi Wilayah dan Kehidupan Masyarakat Provinsi
Nanggroe Aceh Darussalam dan Kepulauan Nias Provinsi Sumatera Utara;
Peraturan Presiden RI Nomor 112 Tahun 2007 tentang Penataan dan
Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan, dan Toko Modern;
Keputusan Presiden RI Nomor 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan
Kawasan Lindung;
Keputusan Presiden RI Nomor 33 Tahun 1991 tentang Penggunaan Tanah
bagi Kawasan Industri;
Keputusan Presiden RI Nomor 52 Tahun 1992 tentang Pengelolaan
Kawasan Budidaya;
Keputusan Presiden RI Nomor 33 Tahun 1998 tentang Pengelolaan
Kawasan Ekosistem Leuser;
Keputusan Presiden RI Nomor 4 Tahun 2009 tentang Badan Koordinasi
Penataan Ruang Nasional;
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 9 Tahun 1998 tentang Tata Cara
Peran Serta Masyarakat Dalam Proses Perencanaan Tata Ruang Di
Daerah;
Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 20 Tahun 2007 tentang
Pedoman Teknik Analisis Aspek Fisik dan Lingkungan, Ekonomi, serta
Sosial Budaya Dalam Penyusunan Rencana Tata Ruang;
Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 21 Tahun 2007 tentang
Pedoman Penataan Ruang Kawasan Rawan Letusan Gunung Berapi dan
Kawasan Rawan Gempa Bumi;
Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 22 Tahun 2007 tentang
Pedoman Penataan Ruang Kwasan Rawan Bencana Longsor;
Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 40 Tahun 2007 tentang
Pedoman Perencanaan Tata Ruang Kawasan Reklamasi Pantai;
Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 41 Tahun 2007 tentang
Pedoman Kriteria Teknis Kawasan Budidaya;
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 2008 tentang Pedoman
Perencanaan Kawasan Perkotaan;
Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 5 Tahun 2008 tentang
Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan
Perkotaan;
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 28 Tahun 2008 tentang Tata Cara
Evaluasi Rancangan Peraturan Daerah Tentang Rencana Tata Ruang
Daerah;
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 29 Tahun 2008 tentang
Pengembangan Kawasan Strategis Cepat Tumbuh di Daerah;
Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 11 Tahun 2009 tentang
Pedoman Persetujuan Substansi dalam Penetapan Rancangan Peraturan
Daerah tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi dan Rencana Tata
Ruang Wilayah Kabupaten/Kota beserta Rencana Rinciannya;
Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.28/Menhut-II/2009 tentang Tata
Cara Pelaksanaan Konsultasi Dalam Rangka Pemberian Persetujuan

RANCANGAN QANUN RTRW ACEH


DRAFT PEMERINTAH ACEH DI KIRIM KE DPRA

92.
93.
94.
95.
96.
97.
98.
99.

Substansi Kehutanan atas Rancangan Peraturan Daerah tentang Rencana


Tata Ruang Daerah;
Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 15 Tahun 2009 tentang
Pedoman Penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi;
Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 16 tahun 2009 tentang
Pedoman Penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten;
Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 17 Tahun 2009 tentang
Pedoman Penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah Kota;
Peraturan Menteri Pertanian Nomor 41/Permentan/OT.140/9/2009 tentang
Kriteria Teknis Kawasan Peruntukan Pertanian;
Qanun Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Nomor 14 Tahun 2002
tentang Kehutanan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam;
Qanun Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Nomor 20 Tahun 2002
tentang Konservasi Sumber Daya Alam;
Qanun Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Nomor 21 Tahun 2002
tentang Pengelolaan Sumber Daya Alam;
Qanun Aceh Nomor 3 Tahun 2007 tentang Tata Cara Pembentukan
Qanun;

RANCANGAN QANUN RTRW ACEH


DRAFT PEMERINTAH ACEH DI KIRIM KE DPRA

Dengan Persetujuan Bersama


DEWAN PERWAKILAN RAKYAT ACEH
dan
GUBERNUR ACEH
MEMUTUSKAN
Menetapkan : QANUN ACEH TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH
ACEH

BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Qanun ini yang dimaksud dengan:
1. Aceh adalah daerah provinsi yang merupakan kesatuan masyarakat hukum yang bersifat
istimewa dan diberi kewenangan khusus untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan
pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundangundangan dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, yang dipimpin oleh
seorang Gubernur.
2. Pemerintah Daerah Aceh yang selanjutnya disebut Pemerintah Aceh adalah unsur
penyelenggara pemerintahan Aceh yang terdiri atas Gubernur dan Perangkat Daerah Aceh.
3. Gubernur adalah kepala Pemerintah Aceh.
4. Dewan Perwakilan Rakyat Aceh yang selanjutnya disingkat DPRA adalah Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah Aceh.
5. Pemerintah Kabupaten/Kota adalah Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota yang berada di
wilayah Aceh.
6. Qanun Aceh adalah peraturan perundang-undangan sejenis peraturan daerah provinsi yang
mengatur penyelenggaraan pemerintahan dan kehidupan masyarakat Aceh.
7. Ruang adalah wadah yang meliputi ruang daratan, ruang laut, dan ruang udara, termasuk
ruang di dalam bumi sebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia dan makhluk lainnya
hidup, melakukan kegiatan, dan memelihara kelangsungan hidupnya.
8. Tata ruang adalah wujud struktur ruang dan pola ruang.
9. Penataan ruang adalah suatu sistem proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang,
dan pengendalian pemanfaatan ruang.
10. Rencana Tata Ruang adalah hasil perencanaan tata ruang.
11. Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional yang selanjutnya disebut RTRWN adalah Rencana
Tata Ruang Nasional sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah No. 26 Tahun
2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional.
12. Rencana Tata Ruang Wilayah Aceh yang selanjutnya disebut RTRW Aceh adalah yang
ditetapkan dalam Qanun ini.

RANCANGAN QANUN RTRW ACEH


DRAFT PEMERINTAH ACEH DI KIRIM KE DPRA

13. Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota yang selanjutnya disebut RTRW Kabupaten/
Kota adalah Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota di Aceh yang ditetapkan
dengan Qanun Kabupaten/Kota yang bersangkutan.
14. Wilayah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsur terkait
yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administratif dan/atau aspek
fungsional.
15. Kawasan adalah wilayah yang memiliki fungsi utama lindung atau budidaya.
16. Kawasan Lindung adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi
kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumberdaya alam dan sumberdaya buatan.
17. Kawasan Budidaya adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk
dibudidayakan atas dasar kondisi atau potensi sumber daya alam, sumber daya manusia,
dan sumber daya buatan.
18. Kawasan Andalan adalah kawasan yang memiliki potensi untuk memberikan kontribusi
terhadap pertumbuhan dan pergeseran struktur ekonomi.
19. Kawasan Permukiman adalah bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung, baik
berupa kawasan perkotaan maupun perdesaan yang berfungsi sebagai lingkungan tempat
tinggal atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan
penghidupan.
20. Kawasan Perdesaan adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama pertanian, termasuk
pengelolaan sumber daya alam, dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat
permukiman pedesaan, pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan
ekonomi.
21. Kawasan Perkotaan adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utamabukan pertanian
dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusatan dan
distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi.
22. Kawasan Strategis Nasional adalah wilayah yang penataan ruangnya diprioritaskan karena
mempunyai pengaruh sangat penting secara nasional terhadap kedaulatan negara,
pertahanan dan keamanan negara, ekonomi, sosial, budaya, dan/atau lingkungan, termasuk
wilayah yang ditetapkan sebagai warisan dunia.
23. Kawasan Strategis Aceh adalah wilayah yang penataan ruangnya diprioritaskan karena
mempunyai pengaruh sangat penting di Aceh secara ekonomi, sosial, budaya, lingkungan,
dan mendukung pertahanan dan keamanan.
24. Pusat Kegiatan Nasional yang selanjutnya disingkat PKN adalah kawasan perkotaan yang
berfungsi untuk melayani kegiatan skala internasional, nasional, atau beberapa provinsi.
25. Pusat Kegiatan Nasional Promosi selanjutnya disingkat PKNp adalah pusat kegiatan yang
dipromosikan untuk di kemudian hari dapat ditetapkan menjadi PKN sebagai peningkatan
dari status PKW.
26. Pusat Kegiatan Strategis Nasional yang selanjutnya sisingkat PKSN adalah kawasan
perkotaan yang ditetapkan untuk mendorong pengembangan kawasan perbatasan negara.
27. Pusat Kegiatan Wilayah yang selanjutnya disingkat PKW adalah kawasan perkotaan yang
berfungsi untuk melayani kegiatan skala provinsi atau beberapa kabupaten/kota.
28. Pusat Kegiatan Wilayah Promosi yang selanjutnya disingkat PKWp adalah pusat kegiatan
yang dipromosikan untuk di kemudian hari dapat ditetapkan menjadi PKW sebagai
peningkatan dari PKL atau yang memenuhi syarat sebagai PKL.
29. Pusat Kegiatan Lokal yang selanjutnya disingkat PKL adalah kawasan perkotaan yang
berfungsi untuk melayani kegiatan skala kabupaten/kota atau beberapa kecamatan.

RANCANGAN QANUN RTRW ACEH


DRAFT PEMERINTAH ACEH DI KIRIM KE DPRA

10

30. Pusat Pelayanan Kawasan yang selanjutnya disingkat PPK adalah pusat pelayanan yang
berfungsi melayani kegiatan skala kecamatan.
31. Pusat Pelayanan Lingkungan yang selanjutnya disingkat PPL adalah pusat pelayanan yang
berfungsi melayani kegiatan skala Mukim atau beberapa Gampong.
32. Wilayah Sungai adalah kesatuan wilayah pengelolaan sumber daya air dalam satu atau
lebih daerah aliran sungai dan/atau pulau-pulau kecil yang luasnya kurang dari atau sama
dengan 2.000 km2.
33. Daerah Aliran Sungai adalah suatu wilayah daratan yang merupakan satu kesatuan dengan
sungai dan anak-anak sungainya, yang berfungsi menampung, menyimpan, dan
mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau atau ke laut secara alami, yang
batas di darat merupakan pemisah topografis dan batas di laut sampai dengan daerah
perairan yang masih terpengaruh aktivitas daratan.
34. Ruang Terbuka Hijau adalah area memanjang/jalur dan/atau mengelompok, yang
penggunaannya lebih bersifat terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh secara
alamiah maupun yang sengaja ditanam.
35. Peraturan Zonasi adalah ketentuan yang mengatur tentang persyaratan pemanfatan ruang
dan ketentuan pengendaliannya dan disusun untuk setiap blok/zona peruntukan yang
penetapan zonanya dalam rencana rinci tata ruang.
36. Masyarakat adalah orang perorangan, kelompok orang termasuk masyarakat hukum adat
atau badan hukum.
37. Peran serta masyarakat adalah berbagai kegiatan masyarakat, yang timbul atas kehendak
dan prakarsa masyarakat, untuk berminat dan bergerak dalam penyelenggaraan penataan
ruang.
38. Pembangunan Berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup adalah upaya sadar dan
terencana yang memadukan lingkungan hidup, termasuk sumber daya, ke dalam proses
pembangunan untuk menjamin kemampuan, kesejahteraan, dan mutu hidup generasi masa
kini dan generasi masa depan.

BAB II
WILAYAH, MUATAN, DAN JANGKA WAKTU RENCANA
Bagian Pertama
Wilayah Rencana
Pasal 2
(1) Lingkup wilayah RTRW Aceh adalah daerah dengan batas yang ditentukan berdasarkan
aspek administratif mencakup wilayah daratan seluas kurang lebih 56.758,8482 km2,
wilayah laut kewenangan sejauh 12 mil laut dari garis pangkal seluas kurang lebih
89.047,88 km2, wilayah udara di atas daratan dan laut kewenangan, serta termasuk ruang di
dalam bumi di bawah wilayah daratan dan laut kewenangan.
(2) Batas-batas wilayah adalah sebelah utara berbatasan dengan Selat Malaka dan Laut
Andaman, sebelah timur berbatasan dengan Selat Malaka dan Provinsi Sumatera Utara,
sebelah selatan berbatasan dengan Provinsi Sumatera Utara dan Samudera Hindia, dan
sebelah barat berbatasan dengan Samudera Hindia.
Bagian Kedua
Muatan Rencana
Pasal 3

RANCANGAN QANUN RTRW ACEH


DRAFT PEMERINTAH ACEH DI KIRIM KE DPRA

11

Muatan dalam RTRW Aceh meliputi:


a. Tujuan, kebijakan, dan strategi penataan ruang wilayah Aceh;
b. Rencana struktur ruang wilayah Aceh yang meliputi sistem perkotaan dalam wilayahnya
yang berkaitan dengan kawasan perdesaan dalam wilayah pelayanannya dan sistem
jaringan prasarana wilayah Aceh;
c. Rencana pola ruang wilayah Aceh yang meliputi kawasan lindung dan kawasan budidaya
yang memiliki nilai strategis Aceh;
d. Penetapan kawasan strategis Aceh;
e. Arahan pemanfaatan ruang wilayah Aceh yang berisi indikasi program utama jangka
menengah lima tahunan;
f.

Arahan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah Aceh yang berisi indikasi arahan
peraturan zonasi sistem provinsi, arahan perizinan, arahan insentif dan disinsentif, serta
arahan sanksi.
Bagian Ketiga
Jangka Waktu Rencana
Pasal 4

Jangka waktu RTRW Aceh adalah 20 (dua puluh) tahun sejak diundangkannya qanun ini, atau
sampai tersusunnya Rencana Tata Ruang Wilayah Aceh yang baru sebagai hasil evaluasi
dan/atau revisi.
BAB III
TUJUAN, KEBIJAKAN, DAN STRATEGI
PENATAAN RUANG WILAYAH ACEH
Bagian Pertama
Tujuan Penataan Ruang Wilayah Aceh
Pasal 5
Penataan ruang wilayah Aceh bertujuan untuk mewujudkan tata ruang wilayah Aceh yang
Islami dan maju, produktif, adil dan merata, serta berkelanjutan.
Pasal 6
RTRW Aceh menjadi pedoman untuk:
a. penyusunan rencana pembangunan jangka panjang Aceh;
b. penyusunan rencana pembangunan jangka menengah Aceh;
c. pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang di wilayah Aceh;
d. perwujudan keterpaduan, keterkaitan, dan keseimbangan perkembangan antarwilayah
kabupaten dan kota dan keserasian antarsektor di wilayah Aceh;
e. penetapan lokasi dan fungsi ruang dalam wilayah Aceh untuk investasi;
f.

penataan ruang kawasan strategis Aceh;

g. penataan ruang wilayah kabupaten dan kota di Aceh.

RANCANGAN QANUN RTRW ACEH


DRAFT PEMERINTAH ACEH DI KIRIM KE DPRA

12

Bagian Kedua
Kebijakan dan Strategi Penataan Ruang Wilayah Aceh
Pasal 7
Kebijakan dan strategi penataan ruang wilayah Aceh meliputi kebijakan dan strategi
pengembangan struktur ruang dan pola ruang wilayah Aceh.
Pasal 8
(1) Kebijakan pengembangan struktur ruang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 meliputi:
a. peningkatan fungsi-fungsi pelayanan pada pusat-pusat kegiatan dalam wilayah Aceh
sesuai dengan hierarki dan fungsi yang ditetapkan;
b. peningkatan akses pelayanan pusat-pusat dalam wilayah Aceh yang merata dan
berhierarki;
c. peningkatan akses dari dan ke luar wilayah Aceh, baik dalam lingkup nasional maupun
lingkup internasional;
d. peningkatan kualitas pelayanan dan jangkauan pelayanan jaringan prasarana
transportasi, energi, telekomunikasi, sumber daya air yang merata di seluruh wilayah
Aceh.
(2) Strategi pengembangan struktur ruang untuk peningkatan fungsi-fungsi pelayanan pada
pusat-pusat kegiatan dalam wilayah Aceh sesuai dengan hierarki dan fungsi yang
ditetapkan meliputi:
a. mengembangkan dan meningkatkan fasilitas atau sarana pelayanan yang sesuai
dengan fungsi dan hierarki pusat-pusat kegiatan;
b. mengembangkan fungsi atau kegiatan baru pada pusat-pusat kegiatan yang dapat
meningkatkan kualitas pelayanannya dalam rangka mendorong pertumbuhan wilayah
yang dilayaninya.
(3) Strategi pengembangan struktur ruang untuk peningkatan akses pelayanan pusat-pusat
dalam wilayah Aceh yang merata dan berhierarki meliputi:
a. menjaga dan meningkatkan keterkaitan antarpusat atau antarkawasan perkotaan,
keterkaitan antara pusat atau kawasan perkotaan dengan kawasan perdesaan, serta
antara kawasan perkotaan dengan kawasan sekitarnya;
b. mengendalikan perkembangan kota atau kawasan perkotaan yang terletak di pesisir
pantai;
c. mendorong kawasan perkotaan dan pusat pertumbuhan agar lebih kompetitif dan lebih
efektif dalam pengembangan wilayah di sekitarnya.
(4) Strategi pengembangan struktur ruang untuk peningkatan akses dari dan ke luar wilayah
Aceh, baik dalam lingkup nasional maupun lingkup internasional meliputi:
a. mengembangkan pusat kegiatan Banda Aceh dan Sabang, sebagai implementasi
Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET) Banda Aceh Darussalam dan
Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang, sehingga dapat berperan
sebagai pintu gerbang Indonesia bagian barat dalam hubungan ekonomi secara
internasional;
b. melengkapi sarana dan prasarana pendukung sebagai pintu gerbang ekonomi.

RANCANGAN QANUN RTRW ACEH


DRAFT PEMERINTAH ACEH DI KIRIM KE DPRA

13

(5) Strategi pengembangan struktur ruang untuk peningkatan kualitas pelayanan dan
jangkauan pelayanan jaringan prasarana transportasi, energi, telekomunikasi, sumber daya
air yang merata di seluruh wilayah Aceh meliputi:
a. meningkatkan jaringan prasarana transportasi dan keterpaduan pelayanan transportasi
darat, laut, penyeberangan, dan udara;
b. meningkatkan jaringan energi listrik dengan pengembangan pembangkit tenaga listrik
dengan memanfatkan sumber energi terbarukan dan tidak terbarukan secara optimal
serta mewujudkan keterpaduan sistem penyediaan tenaga listrik;
c. mendorong pengembangan prasarana telekomunikasi yang dapat menjangkau seluruh
wilayah;
d. meningkatkan kuantitas dan kualitas jaringan prasarana serta mewujudkan keterpaduan
sistem jaringan sumber daya air;
e. mengembangkan jaringan prasarana dengan memperhatikan fungsi dan perannya
mendukung upaya mitigasi bencana.
Pasal 9
Kebijakan dan strategi pengembangan pola ruang wilayah Aceh sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 7 meliputi:
a. kebijakan dan strategi pengembangan kawasan lindung;
b. kebijakan dan strategi pengembangan kawasan budidaya.
Pasal 10
(1) Kebijakan pengembangan kawasan lindung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 huruf a
meliputi:
a.

peningkatan kualitas kawasan lindung yang telah menurun fungsi perlindungannya dan
penjagaan kualitas kawasan lindung yang ada;

b. pemeliharaan dan perwujudan kelestarian lingkungan hidup;


c. pencegahan dampak negatif kegiatan manusia yang dapat menimbulkan kerusakan
lingkungan hidup.
(2) Strategi pengembangan kawasan lindung untuk peningkatan kualitas kawasan lindung yang
telah menurun fungsi perlindungannya dan penjagaan kualitas kawasan lindung yang ada
meliputi:
a. mengembalikan dan meningkatkan fungsi kawasan lindung yang telah menurun akibat
pengembangan kegiatan budidaya dalam rangka mewujudkan dan memelihara
keseimbangan ekosistem wilayah;
b. meningkatkan kualitas kawasan hutan yang berfungsi sebagai kawasan lindung, yaitu
kawasan hutan lindung dan kawasan hutan konservasi;
c. mengeluarkan secara bertahap bentuk-bentuk kegiatan yang berada dalam kawasan
lindung yang tidak sesuai dengan fungsi perlindungan dan/atau dapat merusak fungsi
perlindungan kawasan lindung.
(3) Strategi pengembangan kawasan lindung untuk pemeliharaan dan perwujudan kelestarian
lingkungan hidup meliputi:
a. menetapkan fungsi lindung dan/atau fungsi perlindungan di ruang darat, ruang laut,
ruang udara, termasuk ruang di dalam bumi;

RANCANGAN QANUN RTRW ACEH


DRAFT PEMERINTAH ACEH DI KIRIM KE DPRA

14

b. menetapkan proporsi luas kawasan lindung di daratan wilayah Aceh paling sedikit 40 %
(empat puluh persen) dari luas darat wilayah, dan luas kawasan hutan dalam wilayah
Aceh paling sedikit 60 % (enam puluh persen) dari luas darat wilayah.
(4) Strategi pengembangan kawasan lindung untuk pencegahan dampak negatif kegiatan
manusia yang dapat menimbulkan kerusakan lingkungan hidup meliputi:
a. menyelenggarakan upaya terpadu untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup;
b. melindungi kemampuan daya dukung lingkungan hidup dari tekanan perubahan
dan/atau dampak negatif yang ditimbulkan oleh suatu kegiatan agar tetap mampu
mendukung perikehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya;
c. melindungi kemampuan daya tampung lingkungan hidup untuk menyerap zat, energi,
dan/atau komponen lainnya yang dibuang ke dalamnya;
d. mencegah terjadinya tindakan yang dapat secara langsung atau tidak langsung
menimbulkan perubahan sifat fisik lingkungan yang mengakibatkan lingkungan hidup
tidak berfungsi dalam menunjang pembangunan yang berkelanjutan;
e. mengendalikan pemanfatan sumber daya alam secara bijaksana untuk menjamin
kepentingan generasi masa kni dan generasi masa depan;
f.

mengelola sumber daya alam tidak terbarukan untuk menjamin pemanfaatannya secara
bijaksana, dan sumber daya alam yang terbarukan untuk menjamin kesinambungan
ketersediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai serta
keanekaragamannya; dan

g. membatasi pengembangan kegiatan budidaya di kawasan rawan bencana, yaitu hanya


untuk kegiatan yang mempunyai daya adaptasi bencana.
Pasal 11
(1) Kebijakan pengembangan kawasan budidaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 huruf
b meliputi:
a. peningkatan produktivitas kawasan budidaya;
b. perwujudan dan peningkatan keterpaduan dan keterkaitan antarkegiatan budidaya;
c. pengendalian perkembangan kegiatan budidaya agar tidak melampaui daya dukung dan
daya tampung lingkungan.
(2) Strategi pengembangan kawasan budidaya untuk peningkatan produktivitas kawasan
budidaya meliputi:
a. memanfaatkan lahan yang tidak atau kurang produktif yang berada di luar kawasan
lindung menjadi kawasan budidaya yang sesuai sifak dan kondisi lahannya, termasuk
untuk produksi budidaya kayu;
b. meningkatkan produktivitas kawasan
intensifikasi dan diversifikasi pertanian;

budidaya

pertanian

dengan

usaha-usaha

c. membatasi alih fungsi secara ketat terhadap lahan pertanian tanaman pangan
berkelanjutan.
(3) Strategi pengembangan kawasan budidaya untuk perwujudan
keterpaduan dan keterkaitan antarkegiatan budidaya meliputi:

dan

peningkatan

a. mengembangkan kegiatan budidaya unggulan lokal di dalam kawasan budidaya beserta


prasarana pendukungnya secara sinergis dan berkelanjutan untuk mendorong
pengembangan perekonomian kawasan dan wilayah sekitarnya;

RANCANGAN QANUN RTRW ACEH


DRAFT PEMERINTAH ACEH DI KIRIM KE DPRA

15

b. mengembangkan kegiatan budidaya untuk menunjang aspek politik, pertahanan dan


keamanan, sosial budaya, serta ilmu pengetahuan dan teknologi, dengan penetapan
acuan yang sesuai dengan kondisi dan kerakter daerah;
c. mengembangkan dan melestarikan kawasan budidaya pertanian pangan untuk
mendukung perwujudan ketahanan pangan;
d. mengembangkan pulau-pulau kecil dengan pendekatan gugus pulau dan/atau pulau
tersendiri untuk meningkatkan daya saing dan mewujudkan skala ekonomi, dengan
tetap memperhatikan pelestarian ekosistem dan sumber daya alam; dan
e. mengembangkan kegiatan pengelolaan sumber daya kelautan yang bernilai ekonomi
tinggi di wilayah laut kewenangan Aceh.
(4) Strategi pengembangan kawasan budidaya untuk pengendalian perkembangan kegiatan
budidaya agar tidak melampaui daya dukung dan daya tampung lingkungan meliputi:
a. membatasi perkembangan kegiatan budidaya terbangun pada kawasan rawan bencana
untuk meminimalkan potensi kejadian bencana dan potensi kerugian akibat bencana;
b. menerapkan pengembangan berbasis mitigasi bencana pada kawasan budidaya
terbangun dan kawasan lain di sekitarnya yang terletak pada kawasan rawan bencana;
c. mengembangkan kawasan perkotaan dengan bangunan bertingkat terutama untuk
kegiatan-kegiatan dengan fungsi komersial atau bernilai ekonomi tinggi guna
penghematan ruang dan memberikan ruang terbuka pada kawasan tersebut;
d. mengembangkan ruang terbuka hijau dengan luas paling sedikit 30% (tiga puluh persen)
dari luas kawasan perkotaan;
e. membatasi perkembangan kawasan terbangun di kawasan perkotaan untuk
mempertahankan tingkat pelayanan prasarana dan sarana kawasan perkotaan serta
mempertahankan fungsi kawasan perdesaan di sekitarnya;
f.

mengembangkan kegiatan budidaya yang dapat mempertahankan keberadaan pulaupulau kecil.


BAB IV
RENCANA STRUKTUR RUANG WILAYAH ACEH
Bagian Pertama
Umum
Pasal 12

(1) Rencana Sruktur Ruang Wilayah Aceh meliputi:


a. sistem perkotaan atau pusat pelayanan Aceh;
b. sistem jaringan prasarana transportasi Aceh;
c. sistem jaringan prasarana energi Aceh;
d. sistem jaringan prasarana telekomunikasi Aceh;
e. sistem jaringan sumber daya air;
f.

prasarana permukiman perkotaan lintas kabupaten/kota.

(2) Rencana Struktur Ruang Wilayah Aceh digambarkan dalam peta dengan tingkat ketelitian 1
: 250.000 sebagaimana tercantum dalam Lampiran I yang merupakan bagian tidak
terpisahkan dari Qanun ini.

RANCANGAN QANUN RTRW ACEH


DRAFT PEMERINTAH ACEH DI KIRIM KE DPRA

16

Bagian Kedua
Sistem Perkotaan/Pusat Pelayanan dan Wilayah Pengembangan Aceh
Pasal 13
(1) Sistem perkotaan atau pusat pelayanan Aceh tediri atas PKN, PKNp, PKSN, PKW, PKWp,
PKL, PPK, dan PPL.
(2) PKN, PKSN, dan PKW ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah No.26 Tahun 2008 tentang
RTRWN.
(3) PKNp, PKWp, dan PKL ditetapkan dalam Qanun ini.
(4) PKN, PKNp, PKSN, PKW, PKWp, dan PKL tercantum dalam Lampiran II yang merupakan
bagian tidak terpisahkan dari Qanun ini.
(5) PPK dan PPL ditetapkan dengan Qanun Kabupaten/Kota tentang RTRW Kabupaten/Kota
yang bersangkutan setelah dikonsultasikan dengan Gubernur Aceh.
Pasal 14
PKN, PKNp, PKW, PKWp, dan PKL di Aceh dapat berupa:
a. kawasan perkotaan besar;
b. kawasan perkotaan sedang;
c. kawasan perkotaan kecil.
Pasal 15
(1) PKN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (1) ditetapkan dengan kriteria:
a. kawasan perkotaan yang berfungsi atau berpotensi sebagai simpul dalam kegiatan
ekspor-impor atau pintu gerbang menuju kawasan internasional;
b. kawasan perkotaan yang berfungsi atau berpotensi sebagai pusat kegiatan industri dan
jasa skala nasional atau yang melayani beberapa provinsi; dan/atau
c. kawasan perkotaan yang berfungsi atau berpotensi sebagai simpul utama transportasi
skala nasional atau melayani beberapa provinsi.
(2) PKNp sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (1) ditetapkan dengan kriteria:
a. kawasan perkotaan yang sebelumnya telah ditetapkan sebagai PKW dalam Peraturan
Pemerintah No.26 Tahun 2008 tentang RTRWN;
b. pusat kegiatan yang dipromosikan untuk di kemudian hari dapat ditetapkan menjadi
PKN dengan kriteria sebagaimana dimaksud dalam ayat (1).
(3) PKSN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (1) ditetapkan dengan kriteria:
a. pusat perkotaan yang berpotensi sebagai pos pemeriksaan lintas batas dengan negara
tetangga;
b. pusat perkotaan yang berfungsi sebagai
menghubungkan dengan negara tetangga;

pintu

gerbang

internasional

yang

c. pusat perkotaan yang merupakan simpul utama transportasi yang menghubungkan


wilayah sekitarnya; dan/atau
d. pusat perkotaan yang merupakan pusat pertumbuhan ekonomi yang dapat emndorong
perkembangan kawasan sekitarnya.
(4) PKW sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (1) ditetapkan dengan kriteria:

RANCANGAN QANUN RTRW ACEH


DRAFT PEMERINTAH ACEH DI KIRIM KE DPRA

17

a. kawasan perkotaan yang berfungsi atau berpotensi sebagai simpul kedua kegiatan
ekspor-impor yang mendukung PKN;
b. kawasan perkotaan yang berfungsi atau berpotensi sebagai pusat kegiatan industri dan
jasa yang melayani skala provinsi atau beberapa kabupaten; dan/atau
c. kawasan perkotaan yang berfungsi atau berpotensi sebagai simpul transportasi yang
melayani skala provinsi atau beberapa kabupaten.
(5) PKWp sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (1) ditetapkan dengan kriteria:
a. kawasan perkotaan yang sebelumnya telah ditetapkan sebagai PKL atau yang
memenuhi syarat sebagai PKL;
b. pusat kegiatan yang dipromosikan untuk di kemudian hari dapat ditetapkan menjadi
PKW dengan kriterian sebagaimana dimaksud dalam ayat (4).
(6) PKL sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (1) ditetapkan dengan kriteria:
a. kawasan perkotaan yang berfungsi atau berpotensi sebagai pusat kegiatan industri dan
jasa yang melayani skala kabupaten atau beberapa kecamatan; dan atau
b. kawasan perkotaan yang berfungsi atau berpotensi sebagai simpul transportasi yang
melayani skala kabupaten atau beberapa kecamatan.
(7) PPK sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (1) ditetapkan dengan kriteria:
a. pusat pelayanan yang berfungsi sebagai pusat kegiatan pemerintahan, ekonomi, dan
sosial, yang melayani skala kecamatan atau beberapa mukim dan/atau gampong;
b. pusat pelayanan transportasi yang melayani skala kecamatan atau beberapa mukim
dan/atau gampong.
(8) PPL sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (1) ditetapkan dengan kriteria:
a. pusat pelayanan yang berfungsi sebagai pusat kegiatan pemerintahan, ekonomi, dan
sosial, yang melayani skala mukim atau beberapa gampong;
b. pusat pelayanan transportasi yang melayani skala mukim atau beberapa gampong.
Pasal 16
(1) Wilayah Pengembangan yang selanjutnya disebut WP adalah kesatuan wilayah dalam
wilayah Aceh yang disusun dengan mempertimbangkan sistem perkotaan atau pusat
pelayanan dan jangkauan pelayanan fungsionalnya.
(2) Penetapan WP tercantum dalam Lampiran III yang merupakan bagian tidak terpisahkan
dari Qanun ini.
Bagian Ketiga
Sistem Jaringan Prasarana Transportasi Aceh
Pasal 17
(1) Sistem jaringan prasarana transportasi Aceh sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat
(1) huruf b terdiri atas:
a. sistem jaringan prasarana transportasi darat;
b. sistem jaringan prasarana transportasi di perairan; dan
c. sistem jaringan prasarana transportasi udara.
(2) Sistem jaringan prasarana transportasi darat terdiri atas jaringan jalan, dan jaringan jalur
kereta api;

RANCANGAN QANUN RTRW ACEH


DRAFT PEMERINTAH ACEH DI KIRIM KE DPRA

18

(3) Sistem jaringan prasarana transportasi di perairan terdiri atas tatanan kepelabuhanan dan
alur pelayaran.
(4) Sistem jaringan prasarana transportasi udara terdiri atas tatanan kebandarudaraan dan
ruang udara untuk penerbangan.
Pasal 18
(1) Jaringan jalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (2) terdiri atas jalan arteri
primer, jalan kolektor primer, dan jalan lokal primer.
(2) Jaringan jalan arteri primer dikembangkan secara menerus dan berhierarki berdasarkan
kesatuan sistem orientasi untuk menghubungkan:
a. antar-PKN;
b. antara PKN dan PKW; dan/atau
c. PKN dan/atau PKW dengan bandar udara dan pelabuhan.
(3) Jaringan jalan bebas hambatan dikembangkan sebagai jalan arteri primer khusus.
(4) Jaringan jalan kolektor primer dikembangkan untuk menghubungkan antar-PKW dan antara
PKW dan PKL.
(5) Jaringan jalan lokal primer dikembangkan untuk menghubungkan antar-PKL dan antara PKL
dan PPK.
(6) Pengembangan jaringan jalan tercantum dalam Lampiran IV yang merupakan bagian tidak
terpisahkan dari Qanun ini.
Pasal 19
(1) Jaringan jalur kereta api sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (2) adalah jaringan
jalur kereta api umum.
(2) Pengembangan jaringan jalur kereta api terdiri atas:
a. revitalisasi jaringan jalur kereta api di pesisir timur, yang menghubungkan Banda Aceh
ke Provinsi Sumatera Utara, sebagai bagian dari jaringan jalur kereta api lintas timur
Pulau Sumatera;
b. pengembangan jaringan jalur kereta api di pesisir barat, yang menghubungkan Banda
Aceh ke Provinsi Sumatera Utara, sebagai bagian dari jaringan jalur kereta api lintas
barat Pulau Sumatera.
Pasal 20
(1) Jenis kepelabuhanan di Aceh sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (3) terdiri atas:
a. pelabuhan laut; dan
b. pelabuhan sungai dan danau.
(2) Pelabuhan laut di Aceh sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a melayani:
a. angkutan laut; dan
b. angkutan penyeberangan.
(3) Pelabuhan laut di Aceh sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a berdasarkan hierarki
fungsinya terdiri atas:
a. pelabuhan utama;
b. pelabuhan pengumpul;

RANCANGAN QANUN RTRW ACEH


DRAFT PEMERINTAH ACEH DI KIRIM KE DPRA

19

c. pelabuhan pengumpan.
(4) Pelayanan pelabuhan laut di Aceh meliputi:
a. angkutan laut luar negeri;
b. angkutan laut dalam negeri antarprovinsi dan dalam provinsi;
c. angkutan laut pelayaran rakyat;
d. angkutan laut khusus;
e. angkutan penyeberangan luar negeri;
f.

angkutan penyeberangan dalam negeri antarprovinsi dan dalam provinsi.

(5) Pengembangan pelabuhan, pelayanan angkutan termasuk lintasan/rute penyeberangan


tercantum dalam Lampiran V yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Qanun ini.
Pasal 21
Pelabuhan sungai dan danau sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 ayat (1) huruf b
ditetapkan dalam RTRW Kabupaten/Kota.
Pasal 22
(1) Tatanan kebandarudaraan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (4) terdiri atas:
a. bandar udara umum;
b. bandar udara khusus.
(2) Bandar udara umum dari sudut penggunaannya terdiri atas:
a. bandar udara internasional;
b. bandar udara domestik.
(3) Bandar udara umum dari sudut hierarkinya terdiri atas:
a. bandar udara pengumpul;
b. bandar udara pengumpan.
(4) Bandar udara khusus dikembangkan untuk menunjang pengembangan kegiatan tertentu
dengan berpedoman pada peraturan perundang-undangan di bidang kebandarudaraan.
(5) Pengembangan bandar udara tercantum dalam Lampiran VI yang merupakan bagian tidak
terpisahkan dari Qanun ini.
Bagian Keempat
Sistem Jaringan Prasarana Energi Aceh
Pasal 23
Sistem jaringan prasarana energi Aceh sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (1) huruf c
terdiri atas:
a. pembangkit tenaga listrik;
b. jaringan transmisi tenaga listrik.
Pasal 24
(1) Pembangkit tenaga listrik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 huruf a ditetapkan
dengan kriteria:

RANCANGAN QANUN RTRW ACEH


DRAFT PEMERINTAH ACEH DI KIRIM KE DPRA

20

a. mendukung ketersediaan pasokan tenaga listrik untuk kepentingan umum di kawasan


perkotaan, perdesaan hingga ke kawasan terisolasi;
b. mendukung pengembangan kawasan perdesaan, pulau-pulau kecil, dan kawasan
terisolasi;
c. mendukung pemanfaatan teknologi baru untuk menghasilkan sumber energi yang
mampu mengurangi ketergantungan terhadap energi tak terbarukan;
d. berada pada kawasan dan/atau di luar kawasan yang memiliki potensi sumber daya
energi;
e. berada pada lokasi yang aman terhadap kegiatan lain dengan memperhatikan jarak
bebas dan jarak aman.
(2) Pengembangan pembangkit tenaga listrik terdiri atas:
a. PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap), yang potensial dikembangkan di pesisir barat;
b. PLTG (Pembangkit Listrik Tenaga Gas), yang potensial dikembangkan di pesisir timur
dan Banda Aceh dan sekitarnya;
c. PLTP (Pembangkit Linstrik Tenaga Panas Bumi), yang potensial dikembangkan di
Sabang dan Aceh Besar;
d. PLTA (Pembangkit Listrik Tenaga Air), yang potensial dikembangkan pada DAS
Peusangan dan beberapa DAS lainnya;
e. PLTD (Pembangkit Listrik Tenaga Diesel), yang dikembangkan untuk setempat pada
wilayah yang belum terjangkau jaringan listrik;
f.

PLTM (Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro), yang dikembangkan untuk setempat


pada wilayah yang belum terjangkau jaringan listrik.
Pasal 25

(1) Jaringan transmisi tenaga listrik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 huruf b ditetapkan
dengan kriteria:
a. mendukung ketersediaan pasokan tenaga listrik untuk kepentingan umum di kawasan
perkotaan hingga perdesaan;
b. mendukung kawasan perdesaan, pulau-pulau kecil, dan kawasan terisolasi;
c. melintasi kawasan permukiman, wilayah sungai, laut, hutan, persawahan, perkebunan,
dan jalur transportasi;
d. berada pada lokasi yang aman terhadap kegiatan lain dengan memperhatikan
persyaratan ruang bebas dan jarak aman;
e. merupakan media penyaluran tenaga listrik adalah kabel saluran udara, kabel bawah
laut, dan kabel bawah tanah;
f.

menyalurkan tenaga listrik berkapasitas besar dengan tegangan nominal lebih dari 35
(tiga puluh lima) kilo Volt.

(2) Rencana pengembangan jaringan transmisi tenaga listrik berupa Saluran Udara Tegangan
Tinggi atau SUTT tercantum dalam Lampiran VII yang merupakan bagian tidak terpisahkan
dari Qanun ini.
(3) Pengembangan jaringan transmisi tenaga listrik didukung pengembangan Gardu Induk atau
GI yang meliputi peningkatan kapasitas (up rating) dan pembangunan baru tercantum dalam
Lampiran VII yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Qanun ini.
(4) Jaringan transmisi tenaga listrik yang dikembangkan merupakan kesatuan dengan sistem
interkoneksi Sumatera bagian utara.

RANCANGAN QANUN RTRW ACEH


DRAFT PEMERINTAH ACEH DI KIRIM KE DPRA

21

(5) Jaringan distribusi tenaga listrik tersebar di kawasan perkotaan, kawasan perdesaan, pulaupulau kecil, dan kawasan terisolasi.
Bagian Kelima
Sistem Jaringan Prasarana Telekomunikasi Aceh
Pasal 26
(1) Sistem jaringan prasarana telekomunikasi Aceh sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12
huruf d adalah jaringan terestrial yang ditetapkan dengan kriteria:
a. menghubungkan antar pusat perkotaan / pusat pelayanan di Aceh;
b. menghubungkan pusat perkotaan / pusat pelayanan di Aceh dengan pusat-pusat di luar
baik pada skala nasional maupun internasional;
c. mendukung pengembangan kegiatan di Aceh.
(2) Jaringan telekomunikasi terestrial terdiri atas:
a. sistem jaringan telekomunikasi dengan kabel;
b. sistem jaringan telekomunikasi seluler atau tanpa
pengembangan menara BTS (Base Transciever Station).

kabel,

dengan

didukung

(3) Jaringan telekomunikasi tanpa kabel (wireless) dikembangkan untuk mewujudkan Aceh
Cyber Province yang saling menghubungkan dengan 23 kabupaten/kota melalui:
a. pengembangan menara melalui SID-SITAC;
b. pengembangan sistem komunikasi dengan dasar BWA (Broaadband Wireless Access);
c. pengembangan VSAT (Very Small Aperture Terminal) di 23 kabupaten/kota.
Bagian Kelima
Sistem Jaringan Prasarana Sumber Daya Air Aceh
Pasal 27
Sistem jaringan prasarana sumber daya air Aceh sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 huruf
e terdiri atas:
a. pengembangan wilayah sungai (WS);
b. pengembangan daerah irigasi (DI); dan
c. pengembangan waduk.
Pasal 28
(1) Pengembangan sumber daya air menurut masing-masing wilayah sungai (WS) adalah
pengelolaan yang terdiri atas:
a. konservasi sumber daya air;
b. pendayagunaan sumber daya air; dan
c. pengendalian daya rusak air.
(2) Pengembangan pengelolaan wilayah sungai (WS) tercantum dalam Lampiran VIII yang
merupakan bagian tidak terpisahkan dari Qanun ini.

RANCANGAN QANUN RTRW ACEH


DRAFT PEMERINTAH ACEH DI KIRIM KE DPRA

22

Pasal 29
(1) Pengembangan daerah irigasi (DI) terdiri atas daerah irigasi kewenangan Pemerintah Pusat
dan kewenangan Pemerintah Aceh.
(2) Pengembangan daerah irigasi (DI) adalah untuk mendukung pengembangan lahan
pertanian tanaman pangan lahan basah berkelanjutan di Aceh.
(3) Pengembangan daerah irigasi Aceh tercantum dalam Lampiran IX yang merupakan bagian
tidak terpisahkan dari Qanun ini.
(4) Pengembangan daerah irigasi (DI) kewenangan Pemerintah Kabupaten/Kota ditetapkan
dalam RTRW Kabupaten/Kota.
Pasal 30
(1) Pengembangan waduk ditujukan untuk pemanfaatan yang meliputi:
a. irigasi;
b. air bersih; dan
c. pembangkit tenaga listrik.
(2) Rencana pengembangan waduk di Aceh tercantum dalam Lampiran X yang merupakan
bagian tidak terpisahkan dari Qanun ini.
Bagian Keenam
Prasarana Permukiman Perkotaan Lintas Kabupaten/Kota
Pasal 31
1. Prasarana permukiman perkotaan lintas kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 12 huruf f terdiri atas:
a. prasarana jaringan air bersih perpipaan;
b. prasarana pengolahan sampah.
2. Pengembangan prasarana jaringan air bersih perpipaan lintas kabupaten/kota terdiri atas:
a. kawasan perkotaan PKNp Banda Aceh, yang merupakan lintas Kota Banda Aceh dan
Kabupaten Aceh Besar;
b. kawasan perkotaan PKN Lhokseumawe, yang merupakan lintas Kota Lhokseumawe
dan Kabupaten Aceh Utara.
3. Pengembangan prasarana pengolahan sampah lintas kabupaten/kota terdiri atas:
a. kawasan perkotaan PKNp Banda Aceh, yang merupakan lintas Kota Banda Aceh dan
Kabupaten Aceh Besar;
b. kawasan perkotaan PKN Lhokseumawe, yang merupakan lintas Kota Lhokseumawe
dan Kabupaten Aceh Utara.

RANCANGAN QANUN RTRW ACEH


DRAFT PEMERINTAH ACEH DI KIRIM KE DPRA

23

BAB V
RENCANA POLA RUANG WILAYAH ACEH
Bagian Pertama
Umum
Pasal 32
(1) Rencana pola ruang wilayah Aceh terdiri atas:
a. kawasan lindung Aceh;
b. kawasan budidaya Aceh.
(2) Rencana pola ruang wilayah Aceh digambarkan dalam peta dengan tingkat ketelitian 1 :
250.000 sebagaimana tercantum dalam Lampiran XI yang merupakan bagian tidak
terpisahkan dari Qanun ini.
Bagian Kedua
Kawasan Lindung Aceh
Paragraf 1
Kriteria Kawasan Lindung
Pasal 33
(1) Kriteria kawasan lindung mengacu kepada Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008
tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional.
(2) Kriteria kawasan lindung sebagaimana dimaksud ayat (1) tercantum dalam Lampiran XII
yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Qanun ini.
Paragraf 2
Jenis dan Sebaran Kawasan Lindung Aceh
Pasal 34
(1) Jenis dan sebaran kawasan lindung Aceh yang ditetapkan dalam Qanun ini adalah yang
memiliki nilai strategis Aceh dan kawasan lindung nasional yang ditetapkan dalam
Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah
Nasional yang terletak di Aceh, sebagaimana tercantum dalam Lampiran XIII yang
merupakan bagian tidak terpisahkan dari Qanun ini.
(2) Jenis kawasan lindung Aceh yang ditetapkan sebarannya terdiri atas:
a. kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya, yaitu:
kawasan hutan lindung;
b. kawasan suaka alam, pelestarian alam, dan cagar budaya, yaitu: cagar alam, suaka
margasatwa, taman nasional, tawan wisata alam (darat), taman wisata alam laut, taman
hutan raya, pantai berhutan bakau, dan cagar budaya;
c. kawasan lindung lainnya, yaitu: taman buru, kawasan perlindungan plasma nutfah,
kawasan pengungsian satwa, terumbu karang, koridor satwa yang dilindungi, dan hutan
dengan tujuan khusus.
(3) Jenis kawasan lindung yang diindikasikan sebarannya terdiri atas:
a. kawasan rawan bencana alam;
b. kawasan rawan bencana alam geologi;

RANCANGAN QANUN RTRW ACEH


DRAFT PEMERINTAH ACEH DI KIRIM KE DPRA

24

c. kawasan perlindungan setempat, khususnya kawasan sekitar danau;


(4) Jenis kawasan lindung yang diindikasikan sebarannya serta jenis dan sebaran kawasan
lindung lainnya dalam wilayah Aceh akan ditetapkan dalam rencana rinci pada Rencana
Tata Ruang Kawasan Strategis Aceh, Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW)
Kabupaten/Kota, dan rencana turunannya.
Pasal 35
(1) Jenis dan sebaran kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan
bawahannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (2) huruf a adalah kawasan
hutan lindung (HL) dengan luas sekitar 1.558.802,00 Ha, yang tersebar di kabupaten/kota:
Aceh Besar, Sabang, Pidie, Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Utara, Aceh Timur, Langsa, Aceh
Tamiang, Aceh Tenggara, Gayo Lues, Aceh Tengah, Bener Meriah, Aceh Jaya, Aceh Barat,
Nagan Raya, Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, Aceh Singkil, Subulussalam, dan Simeulue;
(2) Dalam kawasan hutan lindung (HL) sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a termasuk
hutan lindung pantai (HLP) yang merupakan kawasan berhutan bakau, yang terletak di
pesisir timur di Kabupaten Aceh Tamiang, Kabupaten Aceh Timur, dan Kota Langsa, dan di
pesisir barat yaitu di muara Sungai Singkil Kabupaten Aceh Singkil.
Pasal 36
Jenis dan sebaran kawasan suaka alam, pelestarian alam, dan cagar budaya sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 34 ayat (2) huruf b terdiri atas:
a. kawasan cagar alam (CA) dengan luas sekitar 311,00 Ha, yaitu Cagar Alam Serbajadi
(untuk Raflesia), terletak di Kabupaten Aceh Timur;
b. kawasan suaka margasatwa (SM) dengan luas sekitar 78.588,00 Ha, yaitu Suaka
Margasatwa Rawa Singkil, yang terletak di Kabupaten Aceh Selatan, Kabupaten Aceh
Singkil, dan Kota Subulussalam;
c. kawasan taman nasional (TN) dengan luas sekitar 880.910,00 Ha, yaitu Taman Nasional
Gunung Leuser (TNGL), terletak di Kabupaten Aceh Tenggara, Kabupaten Gayo Lues,
Kabupaten Aceh Selatan, Kabupaten Aceh Barat Daya, Kota Subulussalam, dan Kabupaten
Aceh Tamiang;
d. kawasan taman wisata alam (TWA) darat dengan luas sekitar 45.987,00 Ha, yaitu:
1. TWA Iboih Sabang, dengan luas sekitar 1.166,00 Ha, terletak di Kota Sabang;
2. TWA Pinus Aceh, dengan luas sekitar 18.013,00 Ha, terletak di Kabupaten Aceh Besar;
3. TWA Kuta Malaka, dengan luas sekitar 1.428,00 Ha, terletak di Kabupaten Aceh Besar;
4. TWA Pulau Banyak, dengan luas sekitar 23.616,00 Ha, terletak di Kabupaten Aceh
Singkil;
5. TWA Anak Laut Singkil, dengan luas sekitar 1.259,00 Ha, terletak di Kabupaten Aceh
Singkil;
6. TWA Makam Teuku Umar, dengan luas sekitar 505,00 Ha, terletak di Kabupaten Aceh
Barat.
e. kawasan taman wisata alam laut (TWAL) dengan luas sekitar 209.239,00 Ha, yaitu:
1. TWAL Pulau Weh Sabang, dengan luas sekitar 5.297,00 Ha, yang juga mencakup
kawasan terumbu karang, terletak di Kota Sabang;
2. TWAL Kepulauan Banyak, dengan luas sekitar 203.942,00 Ha, yang juga mencakup
kawasan terumbu karang, terletak di Kabupaten Aceh Singkil;

RANCANGAN QANUN RTRW ACEH


DRAFT PEMERINTAH ACEH DI KIRIM KE DPRA

25

3. TWAL Pinang-Siumat-Simanaha, dengan luas belum diidentifikasi, yang juga mencakup


kawasan terumbu karang, terletak di Kabupaten Simeulue;
f.

kawasan taman hutan raya (Tahura) dengan luas sekitar 7.110,00 Ha, yaitu:
1. Taman Hutan Raya (Tahura) Pocut Meurah Intan, dengan luas 6.289,00 Ha, terletak di
Kabupaten Aceh Besar dan Kabupaten Pidie;
2. Taman Hutan Raya (Tahura) Tepah Selatan, dengan luas sekitar 821,00 Ha, terletak di
Kabupaten Simeulue;

g. kawasan pantai berhutan bakau adalah kawasan hutan lindung pantai sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 35 ayat (2);
h. kawasan cagar budaya, terdiri atas:
1. Peninggalan Kesultanan Aceh, berupa bangunan dan/atau situs, yang terletak di Kota
Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar;
2. Peninggalan Kerajaan Islam Samudera Pasai berupa bangunan dan/atau situs dan
Monumen Samudera Pasai, yang terletak di Kabupaten Aceh Utara.
Pasal 37
Jenis dan sebaran kawasan lindung lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (2)
huruf c terdiri atas:
a. taman buru (TB) dengan luas sekitar 86.505,00 Ha, yaitu Taman Buru Lingga Isaq, terletak
di Kabupaten Aceh Tengah;
b. kawasan perlindungan plasma nutfah (KPPN) dengan luas sekitar 3.121,00 Ha, yaitu:
1. kebun plasma nutfah (KPN) Leupung, dengan luas sekitar 1.300,00 Ha, terletak dalam
Kawasan Hutan Produksi di Kabupaten Aceh Besar;
2. kebun plasma nutfah (KPN) Kapur, dengan luas sekitar 1.821,00 Ha, terletak dalam
Areal Penggunaan Lain (APL) atau kawasan budidaya di Kota Subulussalam;
3. kawasan pengungsian satwa dengan luas sekitar 912 Ha, yaitu Pusat Konservasi Gajah
(PKG) Cot Girek, dengan luas sekitar 1.224,00 Ha, terletak di Kabupaten Aceh Utara;
c. terumbu karang tercakup dalam penetapan TWAL sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36
huruf e;
d. koridor satwa yang dilindungi dengan luas sekitar 2.307 Ha, yaitu Koridor Singkil-Bengkung,
yang terletak pada kawasan Taman Nasional Gunung Leuser di Kabupaten Aceh Selatan;
e. kawasan hutan dengan tujuan khusus, yaitu hutan pendidikan STIK dengan luas sekitar
80,00 Ha, yang terletak dalam Kawasan Hutan Produksi di Kabupaten Aceh Besar.
Pasal 38
Jenis kawasan lindung yang diindikasikan sebarannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34
ayat (3) terdiri atas:
a. kawasan rawan bencana alam, terdiri atas:
1. kawasan rawan longsor, yaitu kawasan yang dilalui oleh sesar aktif di wilayah bagian
tengah/pegunungan wilayah Aceh;
2. kawasan gelombang pasang, yaitu kawasan di sepanjang pesisir wilayah Aceh;
3. kawasan rawan banjir, tersebar di semua kabupaten/kota;
4. kawasan rawan kekeringan, tersebar di semua kabupaten/kota;

RANCANGAN QANUN RTRW ACEH


DRAFT PEMERINTAH ACEH DI KIRIM KE DPRA

26

5. kawasan rawan angin badai, yaitu di Kabupaten Aceh Timur, Kabupaten Aceh Utara,
dan Kabupaten Aceh Barat;
6. kawasan rawan kebakaran hutan, yaitu hutan di sepanjang pinggir jalan, hutan pinus,
dan lahan gambut;
b. kawasan rawan bencana geologi, terdiri atas:
1. kawasan rawan letusan gunung berapi, terletak di Kabupaten Bener Meriah, Kabupaten
Pidie, Kabupaten Pidie Jaya, Kabupaten Aceh Besar, dan Kota Sabang;
2. kawasan rawan gempa bumi, yaitu kawasan yang dilalui oleh sesar aktif di wilayah
bagian tengah/pegunungan wilayah Aceh;
3. kawasan rawan gerakan tanah (longsor dan amblas), yaitu kawasan yang dilalui oleh
sesar aktif di bagian tengah/pegunungan wilayah Aceh;
4. kawasan yang terletak di zona patahan aktif, yaitu kawasan yang dilalui oleh sesar aktif
di wilayah bagian tengah/pegunungan wilayah Aceh;
5. kawasan rawan tsunami, yaitu kawasan di sepanjang pesisir wilayah Aceh;
6. kawasan rawan abrasi, yaitu di Kabupaten Aceh Selatan, Kabupaten Aceh Barat Daya,
Kabupaten Aceh Barat, Kabupaten Aceh Jaya, Kabupaten Aceh Besar, Kota Banda
Aceh, Kabupaten Pidie, Kabupaten Pidie Jaya, Kabupaten Bireuen, Kabupaten Aceh
Utara, Kota Lhokseumawe, Kabupaten Aceh Timur, Kota Langsa, dan Kabupaten Aceh
Tamiang;
7. kawasan rawan bahaya gas beracun, yaitu pada kawasan rawan letusan gunung berapi
di Kabupaten Bener Meriah, Kabupaten Pidie, Kabupaten Pidie Jaya, Kabupaten Aceh
Besar, dan Kota Sabang;
c. kawasan perlindungan setempat khususnya kawasan sekitar danau, terdiri atas:
1. kawasan sekitar Danau Laut Tawar di Kabupaten Aceh Tengah;
2. kawasan sekitar Danau Anak Laut di Kota Sabang.
Bagian Ketiga
Kawasan Budidaya Aceh
Paragraf 1
Kriteria Kawasan Budidaya
Pasal 39
(1) Kriteria kawasan budidaya mengacu kepada Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008
tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional.
(2) Kriteria kawasan budidaya sebagaimana dimaksud ayat (1) tercantum dalam Lampiran XIV
yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Qanun ini.

RANCANGAN QANUN RTRW ACEH


DRAFT PEMERINTAH ACEH DI KIRIM KE DPRA

27

Paragraf 2
Kawasan Budidaya Yang Memiliki Nilai Strategis Aceh
Pasal 40
(1) Kawasan budidaya yang memiliki nilai strategis Aceh terdiri atas:
a. kawasan hutan produksi;
b. kawasan pertanian pangan lahan basah.
(2) Kawasan budidaya yang memiliki nilai stategis Aceh tercantum dalam Lampiran XV
sebagai bagian tidak terpisahkan dari Qanun ini.
Pasal 41
(1) Kawasan hutan produksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 ayat (1) huruf a terdiri
atas:
a. Kawasan Hutan Produksi Terbatas (HPT);
b. Kawasan Hutan Produksi tetap (HP);
c. Kawasan Hutan Produksi Konversi (HPK).
(2) Kawasan Hutan Produksi Terbatas (HPT) dengan luas sekitar 88.017,00 Ha, tersebar di
Kabupaten Bireuen, Kabupaten Aceh Barat, Kabupaten Nagan Raya, Kabupaten Aceh
Selatan, Kabupaten Gayo Lues, Kabupaten Aceh Tengah, dan Kabupaten Simeulue.
(3) Kawasan Hutan Produksi Tetap (HP) dengan luas sekitar 580.178,00 Ha, tersebar di
Kabupaten Aceh Besar, Kabupaten Pidie, Kabupaten Pidie Jaya, Kabupaten Bireuen,
Kabupaten Aceh Utara, Kabupaten Aceh Timur, Kota Langsa, Kabupaten Aceh Tamiang,
Kabupaten Aceh Jaya, Kabupaten Aceh Barat, Kabupaten Nagan Raya, Kabupaten Aceh
Selatan, Kabupaten Aceh Singkil, Kota Subulussalam, Kabupaten Gayo Lues, Kabupaten
Aceh Tengah, Kabupaten Bener Meriah, dan Kabupaten Simeulue.
(4) Kawasan Hutan Produksi Konversi (HPK) dengan luas sekitar 112.834,00 Ha, tersebar di
Kabupaten Aceh Besar, Kabupaten Pidie, Kabupaten Pidie Jaya, Kabupaten Bireuen,
Kabupaten Aceh Timur, Kota Langsa, Kabupaten Aceh Tamiang, Kabupaten Aceh Jaya,
Kabupaten Aceh Barat, Kabupaten Nagan Raya, Kabupaten Aceh Barat Daya, Kabupaten
Aceh Selatan, Kabupaten Aceh Singkil, Kota Subulussalam, Kabupaten Gayo Lues,
Kabupaten Aceh Tengah, dan Kabupaten Bener Meriah.
Pasal 42
(1) Kawasan pertanian pangan lahan basah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 ayat (1)
huruf b adalah kawasan pertanian pangan lahan basah yang didukung oleh jaringan irigasi
teknis kewenangan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Aceh dan merupakan bagian utama
dari lahan pertanian pangan berkelanjutan.
(2) Kawasan pertanian pangan lahan basah sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dengan
luas sekitar 180.568,00 Ha, tersebar di Kabupaten Aceh Besar, Kabupaten Pidie,
Kabupaten Pidie Jaya, Kabupaten Bireuen, Kabupaten Aceh Utara, Kabupaten Aceh Timur,
Kota Langsa, Kabupaten Aceh Tamiang, Kabupaten Aceh Jaya, Kabupaten Nagan Raya,
Kabupaten Aceh Barat Daya, Kabupaten Aceh Selatan, Kabupaten Aceh Tenggara,
Kabupaten Gayo Lues, Kabupaten Aceh Tengah, Kabupaten Bener Meriah, dan Kabupaten
Simeulue.
(3) Kawasan pertanian lahan basah yang didukung oleh jaringan irigasi teknis kewenangan
Pemerintah Kabupaten/Kota ditetapkan dalam RTRW Kabupaten/Kota yang bersangkutan.

RANCANGAN QANUN RTRW ACEH


DRAFT PEMERINTAH ACEH DI KIRIM KE DPRA

28

Paragraf 2
Kawasan Budidaya Lainnya di Aceh
Pasal 43
(1) Kawasan budidaya lainnya diindikasikan dengan penetapaan kegiatan budidaya unggulan
menurut Kawasan Andalan Aceh (KAA).
(2) Kawasan Andalan Aceh (KAA) ditetapkan sesuai dengan Wilayah Pengembangan (WP)
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (2) dan selanjutnya disebut KAA-WP.
(3) Penetapan kegiatan budidaya unggulan menurut KAA-WP tercantum dalam Lampiran XVI
sebagai bagian tidak terpisahkan dari Qanun ini.
(4) Kawasan budidaya lainnya menurut masing-masing jenisnya ditetapkan secara lebih rinci
dalam RTRW Kabupaten/Kota.
Pasal 44
(1) Kegiatan unggulan wilayah laut kewenangan Aceh ditetapkan menurut Kawasan Andalan
Laut Aceh (KALA).
(2) Penetapan kegiatan unggulan menurut KALA tercantum dalam Lampiran XVII sebagai
bagian tidak terpisahkan dari Qanun ini.
BAB VI
PENETAPAN KAWASAN STRATEGIS ACEH
Bagian Pertama
Kriteria Kawasan Strategis
Pasal 45
(1) Penetapan kawasan strategis Aceh dilakukan berdasarkan kepentingan:
a. pertumbuhan ekonomi;
b. sosial dan budaya;
c. pendayagunaan sumber daya alam dan/atau teknologi tinggi;
d. fungsi dan daya dukung lingkungan.
(2) Kriteria kawasan strategis mengacu kepada kriteria kawasan strategis nasional
sebagaimana tercantum dalam Lampiran XVIII sebagai bagian tidak terpisahkan dari
Qanun ini.
Bagian Kedua
Penetapan Kawasan Strategis Aceh
Pasal 46
Penetapan Kawasan Strategis Aceh tercantum dalam Lampiran XIX dan peta Kawasan
Strategis Aceh dalam Lampiran XX sebagai bagian tidak terpisahkan dari Qanun ini.
Pasal 47
(1) Kawasan Strategis Aceh dari sudut kepentingan pertumbuhan ekonomi meliputi:
a. Koridor Banda Aceh Lhokseumawe Langsa Kuala Simpang;
b. Koridor Banda Aceh Meulaboh Subulussalam.

RANCANGAN QANUN RTRW ACEH


DRAFT PEMERINTAH ACEH DI KIRIM KE DPRA

29

(2) Karakter pengembangan kawasan strategis Aceh Koridor Banda Aceh Lhokseumawe
Langsa Kula Simpang meliputi:
a. memiliki sektor unggulan yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi wilayah Aceh;
b. pertumbuhan ekonomi yang pesat selayaknya dikendalikan agar tidak menurunkan
kinerja kawasan.
(3) Arahan penanganan kawasan strategis Aceh Koridor Banda Aceh Lhokseumawe
Langsa Kuala Simpang meliputi:
a. mengembangkan pusat-pusat kegiatan ekonomi yang mendorong pertumbuhan
ekonomi Aceh;
b. mengembangkan dan meningkatkan prasarana dan sarana pendukung pusat-pusat
kegiatan ekonomi;
c. mengendalikan pemanfaatan ruang dan alih fungsi ruang yang dapat menurunkan
kualitas lingkungan dan layanan transportasi wilayah.
(4) Karakter pengembangan kawasan strategis Aceh Koridor Banda Aceh Meulaboh
Subulussalam meliputi:
a. memiliki sektor unggulan yang dapat menggerakkan pertumbuhan ekonomi;
b. mempercepat pertumbuhan ekonomi pada kawasan yang relatif tertinggal.
(5) Arahan penanganan kawasan strategis Aceh Koridor Banda Aceh Meulaboh
Subulussalam meliputi:
a. mengembangkan kegiatan dan pusat-pusat kegiatan agroindustri, agromarine, dan
wisata alam termasuk wisata bahar;
b. keterkaitan dan
telekomunikasi;

keterpaduan

prasarana

wilayah:

transportasi,

energi,

dan

c. pengendalian kelestarian lingkungan di daratan dan perairan laut di sekitarnya.


Pasal 48
(1) Kawasan Strategis Aceh dari sudut kepentingan sosial budaya meliputi:
a. Kawasan Cagar Budaya Peninggalan Kesultanan Aceh di Banda Aceh dan Aceh Besar;
b. Kawasan Cagar Budaya Peninggalan Kerajaan Samudera Pasai di Aceh Utara.
c. Kawasan Pemakaman Massal Korban Tsunami dan Museum Bencana Tsunami 2004 di
Banda Aceh.
(2) Karakter pengembangan kawasan strategis Aceh Kawasan Cagar Budaya Peninggalan
Kesultanan Aceh di Banda Aceh dan Aceh Besar adalah pelestarian peninggalan budaya
Aceh dan nasional.
(3) Arahan penanganan kawasan strategis Aceh Kawasan Cagar Budaya Peninggalan
Kesultanan Aceh di Banda Aceh dan Aceh Besar meliputi:
a. pelestarian cagar budaya;
b. sebagai objek wisata budaya dan religi.
(4) Karakter pengembangan kawasan strategis Aceh Kawasan Cagar Budaya Peninggalan
Kerajaan Samudera Pasai di Aceh Utara adalah pelestarian peninggalan budaya Aceh dan
nasional.
(5) Arahan penanganan kawasan strategis Aceh Kawasan Cagar Budaya Peninggalan
Kerajaan Samudera Pasai di Aceh Utara meliputi:

RANCANGAN QANUN RTRW ACEH


DRAFT PEMERINTAH ACEH DI KIRIM KE DPRA

30

a. pelestarian cagar budaya;


b. sebagai objek wisata budaya dan religi.
(6) Karakter pengembangan kawasan strategis Aceh Kawasan Pemakaman Massal Korban
Tsunami dan Museum Bencana Tsunami 2004 di Banda Aceh adalah memiliki nilai sejarah.
(7) Arahan penanganan kawasan strategis Aceh Kawasan Pemakaman Massal Korban
Tsunami dan Museum Bencana Tsunami 2004 di Banda Aceh meliputi:
a. pelestarian kawasan dengan fungsi khusus;
b. sebagai objek wisata budaya.
Pasal 49
(1) Kawasan Strategis Aceh dari sudut kepentingan pendayagunaan sumber daya alam
dan/atau teknologi tinggi adalah DAS (Daerah Aliran Sungai) Peusangan.
(2) Karakter pengembangan kawasan strategis Aceh DAS Peusangan adalah memiliki sumber
daya air yang bersifat lintas kabupaten yang dapat didayagunakan untuk mendukung
perkembangan wilayah yang pesat di pesisir timur Aceh.
(3) Arahan penanganan kawasan strategis Aceh DAS Peusangan meliputi:
a. pemanfaatan sumber daya air untuk energi, irigasi, dan air bersih;
b. konservasi sumber daya air DAS Peusangan, untuk menjaga kuantitas dan kualitas air.
Pasal 50
(1) Kawasan Strategis Aceh dari sudut kepentingan fungsi dan daya dukung lingkungan
meliputi:
a. Kawasan Ekosistem Ulu Masen;
b. Kawasan Gunung Seulawah;
c. Kawasan Hutan Lindung Pesisir (Hutan Bakau) Pesisir Timur Aceh (Aceh Tamiang,
Langsa, Aceh Timur);
d. Kawasan Hutan Bakau di Pesisir Barat Aceh (Gosong Telaga TWA Anak Laut Singkil);
e. Kawasan TWA/TWAL Pulau Weh Sabang;
f.

Kawasan TWA/TWAL Kepulauan Banyak Aceh Singkil.

(2) Karakter pengembangan kawasan strategis Aceh Kawasan Ekosistem Ulu Masen adalah
perlindungan ekosistem, perlindungan keanekaragaman hayati, dan perlindungan wilayah
hulu tata air.
(3) Arahan penanganan kawasan strategis Aceh Kawasan Ekosistem Ulu Masen meliputi:
a. konservasi alam sebagai suatu ekosistem dengan keanekaragaman hayati, dan
memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya;
b. pembatasan dan pengendalian pembangunan.
(4) Karakter pengembangan kawasan strategis Aceh Kawasan Gunung Seulawah adalah
perlindungan ekosistem sebagai gunung berapi (volkanik) yang solitair.
(5) Arahan penanganan kawasan strategis Aceh Kawasan Gunung Seulawah meliputi:
a. konservasi alam sebagai suatu ekosistem gunung berapi (volkanik);
b. pemanfaatan panas bumi Gunung Seulawah;
c. pengendalian kegiatan budidaya di kaki dan lereng Gunung Seulawah.

RANCANGAN QANUN RTRW ACEH


DRAFT PEMERINTAH ACEH DI KIRIM KE DPRA

31

(6) Karakter pengembangan kawasan strategis Aceh Kawasan Hutan Lindung Pesisir (Hutan
Bakau) Pesisir Timur Aceh (Aceh Tamiang, Langsa, Aceh Timur) adalah perlindungan
ekosistem hutan bakau.
(7) Arahan penanganan kawasan strategis Aceh Kawasan Hutan Lindung Pesisir (Hutan
Bakau) Pesisir Timur Aceh (Aceh Tamiang, Langsa, Aceh Timur) meliputi:
a. rehabilitasi dan revitalisasi hutan bakau;
b. pengendalian kegiatan budidaya perikanan dan permukiman di sekitar kawasan hutan
bakau.
(8) Karakter pengembangan kawasan strategis Aceh Kawasan Hutan Bakau di Pesisir Barat
Aceh (Gosong Telaga TWA Anak Laut Singkil) adalah perlindungan ekosistem hutan
bakau.
(9) Arahan penanganan kawasan strategis Aceh Kawasan Hutan Bakau di Pesisir Barat Aceh
(Gosong Telaga TWA Anak Laut Singkil) meliputi:
a. rehabilitasi dan revitalisasi hutan bakau;
b. pengendalian kegiatan budidaya perikanan dan permukiman di sekitar kawasan hutan
bakau.
(10) Karakter pengembangan kawasan strategis Aceh Kawasan TWA/TWAL Pulau Weh
Sabang adalah perlindungan ekosistem darat dan laut yang terintegrasi dalam kawasan.
(11) Arahan penanganan kawasan strategis Aceh Kawasan TWA/TWAL Pulau Weh Sabang
meliputi:
a. menjaga kualitas kawasan dengan keanekaragaman fauna dan flora;
b. pengendalian pemanfaatan sebagai objek wisata alam.
(12) Karakter pengembangan kawasan strategis Aceh Kawasan TWA/TWAL Kepulauan
Banyak Aceh Singkil adalah perlindungan ekosistem darat dan laut yang terintegrasi
dalam kawasan.
(13) Arahan penanganan kawasan strategis Aceh Kawasan TWA/TWAL Kepulauan Banyak
Aceh Singkil meliputi:
a. menjaga kualitas kawasan dengan keanekaragaman fauna dan flora;
b. pengendalian pemanfaatan sebagai objek wisata alam.
BAB VII
ARAHAN PEMANFAATAN RUANG WILAYAH ACEH
Pasal 51
(1) Pemanfaatan ruang wilayah Aceh berpedoman pada rencana struktur ruang dan rencana
pola ruang wilayah Aceh.
(2) Pemanfaatan ruang wilayah Aceh dilaksanakan melalui penyusunan dan pelaksanaan
program pemanfaatan ruang beserta perkiraan pendanaannya yang selaras dengan
rencana pembangunan jangka menengah (RPJM) Aceh serta rencana turunannya yaitu
rencana kerja pemerintah (RKP) Aceh.
Pasal 52
(1) Program pemanfaatan ruang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 51 ayat (2) disusun
berdasarkan indikasi program utama lima tahunan yang ditetapkan dalam Lampiran XXI
yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Qanun ini.

RANCANGAN QANUN RTRW ACEH


DRAFT PEMERINTAH ACEH DI KIRIM KE DPRA

32

(2) Pendanaan program pemanfaatan ruang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara (APBN), Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA), Anggaran
Pendapatan dan Belanja Kabupaten/Kota, investasi swasta, masyarakat, dan/atau
kerjasama pendanaan.
(3) Kerjasama pendanaan dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
BAB VIII
ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG WILAYAH ACEH
Bagian Pertama
Umum
Pasal 53
(1) Arahan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah Aceh digunakan sebagai acuan dalam
pelaksanaan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah Aceh.
(2) Arahan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah Aceh terdiri atas:
a. indikasi arahan peraturan zonasi sistem Aceh;
b. arahan perizinan;
c. arahan pemberian insentif dan disinsentif;
d. arahan sanksi.
Bagian Kedua
Indikasi Arahan Peraturan Zonasi Sistem Aceh
Paragraf 1
Lingkup Indikasi Arahan Peraturan Zonasi Sistem Aceh
Pasal 54
(1) Indikasi arahan peraturan zonasi sistem Aceh sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53 ayat
(2) huruf a digunakan sebagai pedoman bagi pemerintah daerah kabupaten/kota dalam
menyusun peraturan zonasi.
(2) Indikasi arahan peraturan zonasi sistem Aceh meliputi indikasi arahan peraturan zonasi
untuk:
a. pola ruang wilayah Aceh yang terdiri atas kawasan lindung dan kawasan budidaya;
b. ruang di sekitar jaringan prasarana wilayah Aceh.
Paragraf 2
Indikasi Arahan Peraturan Zonasi Kawasan Lindung
Pasal 55
(1) Indikasi arahan peraturan zonasi kawasan hutan lindung meliputi:
a. pemanfaatan ruang untuk wisata alam dengan tanpa mengubah bentang alam;
b. pemanfaatan ruang secara terbatas hanya diizinkan bagi penduduk asli dengan luasan
tetap, tidak mengurangi fungsi lindung kawasan, dan di bawah pengawasan ketat;
c. pelarangan terhadap kegiatan yang berpotensi mengurangi luas kawasan hutan dan
tutupan vegetasi;

RANCANGAN QANUN RTRW ACEH


DRAFT PEMERINTAH ACEH DI KIRIM KE DPRA

33

d. kawasan hutan lindung adalah kawasan dengan status hutan.


(2) Indikasi arahan peraturan zonasi kawasan bergambut meliputi:
a. pemanfatan ruang untuk wisata alam dengan tanpa mengubah bentang alam;
b. pengendalian material sedimen yang masuk ke kawasan bergambut melalui badan air;
c. pelarangan terhadap kegiatan yang berpotensi mengubah tata air dan ekosistem unik.
(3) Indikasi arahan peraturan zonasi kawasan resapan air meliputi:
a. pemanfaatan ruang secara terbatas untuk kegiatan budidaya tidak terbangun yang
memiliki kemampuan tinggi menahan limpasan air hujan;
b. penghijauan dan penyediaan sumur resapan dan/atau waduk/kolam pada lahan
terbangun yang sudah ada;
c. penerapan prinsip zero delta Q policy terhadap setiap kegiatan budidaya terbangun
yang diajukan izinnya;
d. pelarangan kegiatan yang dapat mengurangi daya serap tanah terhadap air.
Pasal 56
(1) Indikasi arahan peraturan zonasi sempadan pantai meliputi:
a. pemanfaatan ruang untuk ruang terbuka hijau (RTH), dan rekreasi pantai;
b. penetapan lebar sempadan sungai sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan;
c. pengembangan struktur alami dan struktur buatan untuk mencegah abrasi dan intrusi air
laut;
d. pendirian bangunan dibatasi hanya untuk menunjang kegiatan rekreasi pantai;
e. pelarangan semua jenis kegiatan yang dapat menurunkan luas, nilai ekologis, dan
estetika kawasan.
(2) Indikasi arahan peraturan zonasi sempadan sungai meliputi:
a. pemanfaatan ruang untuk ruang terbuka hijau (RTH);
b. penetapan lebar sempadan sungai sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan;
c. pengembangan struktur alami dan struktur buatan untuk mencegah abrasi dan/atau
mempertahankan bentuk badan sungai dan aliran sungai;
d. pelarangan pendirian bangunan selain untuk pengelolaan badan air dan/atau
pemanfaatan air sungai;
e. bila sempadan sungai juga berfungsi sebagai taman rekreasi, dapat didirikan bangunan
yang terbatas untuk menunjang fungsi rekreasi.
(3) Indikasi arahan peraturan zonasi kawasan sekitar danau/waduk meliputi:
a. pemanfaatan ruang untuk ruang terbuka hijau (RTH);
b. penetapan lebar kawasan sekitar danau/waduk sesuai ketentuan peraturan perundangundangan;
c. pengembangan struktur alami dan struktur buatan untuk mencegah abrasi dan/atau
mempertahankan bentuk badan air danau/waduk;
d. pelarangan pendirian bangunan selain untuk pengelolaan badan air dan/atau
pemanfaatan air danau/waduk;
e. bila kawasan sekitar danau/waduk juga berfungsi sebagai taman rekreasi, dapat
didirikan bangunan yang terbatas untuk menunjang fungsi rekreasi.

RANCANGAN QANUN RTRW ACEH


DRAFT PEMERINTAH ACEH DI KIRIM KE DPRA

34

(4) Indikasi arahan peraturan zonasi ruang terbuka hijau (RTH) Kota meliputi:
a. pemanfaatan RTH untuk kegiatan rekreasi, perbaikan iklim mikro, estetika, dan
edukasi/pendidikan;
b. penetapan luas RTH kawasan perkotaan sesuai ketentuan peraturan perundangundangan;
c. pembatasan pendirian bangunan hanya untuk menunjang kegiatan rekreasi dan fasilitas
umum lainnya;
d. pelarangan pendirian bangunan permanen selain yang dimaksud huruf c.
Pasal 57
(1) Indikasi arahan peraturan zonasi kawasan cagar alam meliputi:
a. pemanfaatan ruang cagar alam untuk penelitian, pendidikan dan wisata alam;
b. pelarangan kegiatan selain yang dimaksud pada huruf a;
c. pembatasan pendirian bangunan hanya untuk menunjang kegiatan sebagaimana
dimaksud pada huruf a;
d. pelarangan pendirian bangunan selain yang dimaksud pada huruf c;
e. cagar alam adalah kawasan dengan status hutan.
(2) Indikasi arahan peraturan zonasi kawasan suaka margasatwa meliputi:
a. pemanfaatan ruang suaka margasatwa untuk penelitian, pendidikan, dan wisata alam;
b. pelarangan kegiatan selain yang dimaksud pada huruf a;
c. pembatasan pendirian bangunan hanya untuk menunjang kegiatan sebagaimana
dimaksud pada huruf a;
d. pelarangan pendirian bangunan selain yang dimaksud pada huruf c;
e. suaka margasatwa adalah kawasan dengan status hutan.
(3) Indikasi arahan peraturan zonasi taman nasional meliputi:
a. pemanfaatan ruang taman nasional sebagai kawasan hutan untuk wisata alam dengan
tanpa mengubah bentang alam;
b. pemanfatan ruang untuk kegiatan budidaya hanya diizinkan bagi penduduk asli di zona
penyangga dengan luasan tetap, tidak mengurangi fungsi lindung kawasan, dan di
bawah pengawasan ketat;
c. pelarangan kegiatan budidaya di zona inti;
d. pelarangan kegiatan budidaya yang berpotensi mengurangi tutupan vegetasi di zona
penyangga;
e. taman nasional adalah kawasan dengan status hutan.
(4) Indikasi arahan peraturan zonasi taman wisata alam dan taman wisata alam laut meliputi:
a. pemanfaatan ruang taman wisata alam dan taman wisata alam laut untuk wisata alam
tanpa mengubah bentang alam;
b. pelarangan kegiatan selain yang dimaksud pada huruf a;
c. pembatasan pendirian bangunan hanya untuk menunjang kegiatan sebagaimana
dimaksud pada huruf a;
d. pelarangan pendirian bangunan selain yang dimaksud pada huruf c;

RANCANGAN QANUN RTRW ACEH


DRAFT PEMERINTAH ACEH DI KIRIM KE DPRA

35

e. taman wisata alam adalah kawasan dengan status hutan.


(5) Indikasi arahan peraturan zonasi taman hutan raya meliputi:
a. pemanfaatan ruang taman hutan raya untuk penelitian, pendidikan, dan wisata alam;
b. pelarangan kegiatan selain yang dimaksud pada huruf a;
c. pembatasan pendirian bangunan hanya untuk menunjang kegiatan sebagaimana
dimaksud pada huruf a;
d. pelarangan pendirian bangunan selain yang dimaksud pada huruf c;
e. taman hutan raya adalah kawasan dengan status hutan.
(6) Indikasi arahan peraturan zonasi kawasan pantai berhutan bakau meliputi:
a. pemanfatan ruang kawasan pantai berhutan bakau untuk pendidikan, penelitian, dan
wisata alam;
b. pelarangan pemanfaatan kayu bakau;
c. pelarangan kegiatan yang dapat mengubah, merusak, mengurangi luas, dan/atau
mencemari ekosistem bakau;
d. pelarangan kegiatan yang dapat mengganggu fungsi ekosistem bakau (mangrove),
vegetasi pantai lainnya, dan/atau tempat perkembangbiakan biota laut;
e. kawasan pantai berhutan bakau adalah kawasan dengan status hutan.
(7) Indikasi arahan peraturan zonasi cagar budaya dan ilmu pengetahuan meliputi:
a. pemanfaatan ruang cagar budaya untuk penelitian, pendidikan, dan wisata budaya;
b. pelarangan kegiatan dan pendirian bangunan yang tidak sesuai dengan fungsi kawasan;
c. pelarangan kegiatan yang dapat merusak cagar budaya.
Pasal 58
(1) Indikasi arahan peraturan zonasi kawasan rawan tanah longsor meliputi:
a. pemanfaatan ruang kawasan rawan tanah longsor mempertimbangkan karakteristik,
jenis, dan ancaman bencana;
b. pemanfaatan ruang kawasan rawan longsor secara terbatas dan/atau bersyarat untuk
kegiatan pertanian, perkebunan, perikanan, dan hutan, dengan jenis vegetasi yang
sesuai, teknologi pengolahan tanah yang sesuai, dan drainase yang lancar;
c. pembatasan pendirian bangunan kecuali untuk kepentingan pemantauan ancaman
bencana dan kepentingan umum;
d. pelarangan pendirian bangunan penting seperti industri atau pabrik, fasilitas umum dan
fasilitas sosial.
(2) Indikasi arahan peraturan zonasi kawasan rawan gelombang pasang meliputi:
a. pemanfaatan ruang kawasan rawan gelombang
karakteristik, jenis, dan ancaman bencana;

pasang

mempertimbangkan

b. pemanfaatan ruang kawasan rawan gelombang pasang secara terbatas dan/atau


bersyarat untuk kegiatan pertanian, perkebunan, perikanan, dan hutan, dengan jenis
vegetasi yang sesuai, teknologi pengolahan tanah yang sesuai, dan dukungan struktur
alam dan/atau struktur buatan penahan gelombang pasang;
c. pembatasan pendirian bangunan kecuali untuk kepentingan pemantauan ancaman
bencana dan kepentingan umum;

RANCANGAN QANUN RTRW ACEH


DRAFT PEMERINTAH ACEH DI KIRIM KE DPRA

36

d. pelarangan pendirian bangunan penting seperti industri atau pabrik, fasilitas umum, dan
bangunan lainnya.
(3) Indikasi arahan peraturan zonasi kawasan rawan banjir meliputi:
a. penetapan batas dataran banjir;
b. pemanfaatan dataran banjir untuk ruang terbuka hijau dan pembangunan fasilitas umum
dengan kepadatan rendah;
c. pelarangan pemanfaatan ruang untuk kegiatan permukiman, fasilitas umum, dan
bangunan penting lainnya.
(4) Indikasi arahan peraturan zonasi kawasan rawan kekeringan meliputi:
a. pemanfaatan ruang kawasan rawan kekeringan mempertimbangkan karakteristik, jenis,
dan ancaman bencana kekeringan;
b. pengembangan kolam penampungan air atau bentuk lainnya sebagai cadangan air pada
saat kekeringan;
c. penanaman vegetasi tegakan tinggi sebagai upaya mengurangi dampak kekeringan dan
membantu iklim mikro.
(5) Indikasi arahan peraturan zonasi kawasan rawan angin badai meliputi:
a. pemanfaatan ruang kawasan rawan badai mempertimbangkan karakteristik, jenis, dan
ancaman bencana angin badai;
b. konstruksi bangunan yang tahan terhadap angin badai;
c. memaksimalkan jaringan prasarana yang dibangun di bawah permukaan tanah;
d. penanaman vegetasi pantai di sempadan pantai yang dapat mengurangi kekuatan angin
badai di kawasan pesisir pantai.
(6) Indikasi arahan peraturan zonasi kawasan rawan kebakaran hutan meliputi:
a. pemanfaatan ruang kawasan rawan kebakaran hutan mempertimbangkan karakteristik,
jenis, dan ancaman bencana kebakaran hutan;
b. pemanfaatan ruang untuk bangunan dan permukiman dengan jarak aman terhadap
hutan yang rawan terbakar;
c. pelarangan membuang bahan yang dapat menyebabkan kebakaran hutan ke dalam
kawasan hutan dan/atau sekitarnya;
d. pelarangan kegiatan di sekitar hutan yang dapat menimbulkan kebakaran hutan.
Pasal 59
(1) Indikasi arahan peraturan zonasi kawasan keunikan batuan dan fosil meliputi:
a. pemanfaatan ruang kawasan keunikan batuan dan fosil untuk kegiatan wisata alam
tanpa mengubah bentang alam;
b. pembatasan kegiatan penggalian hanya untuk penelitian arkeologi dan geologi;
c. pelarangan kegiatan pemanfaatan batuan.
(2) Indikasi arahan peraturan zonasi kawasan keunikan bentang alam meliputi:
a. pemanfaatan ruang kawasan keunikan bentang alam untuk pengembangan ilmu
pengetahuan, budaya, dan/atau wisata alam;
b. pembatasan pemanfaatan ruang hanya untuk kegiatan yang mendukung bagi
pemanfaatan sebagaimana dimaksud huruf a.

RANCANGAN QANUN RTRW ACEH


DRAFT PEMERINTAH ACEH DI KIRIM KE DPRA

37

(3) Indikasi arahan peraturan zonasi kawasan keunikan proses geologi meliputi:
a. pemanfaatan ruang kawasan keunikan proses geologi untuk pengembangan ilmu
pengetahuan, dan wisata alam;
b. pembatasan pemanfaatan ruang hanya untuk kegiatan yang mendukung bagi
pemanfaatan sebagaimana dimaksud huruf a.
Pasal 60
(1) Indikasi arahan peraturan zonasi kawasan rawan letusan gunung berapi meliputi:
a. pemanfaatan ruang dengan mempertimbangkan karakteristik, jenis, dan ancaman
bencana letusan gunung api;
b. pemanfaatan ruang kawasan rawan letusan gunung api secara terbatas dan/atau
bersyarat untuk kegiatan pertanian, perkebunan, perikanan, hutan rakyat, dan/atau
hutan produksi;
c. pembatasan bangunan hanya untuk pemantauan ancaman bencana dan kepentingan
umum.
(2) Indikasi arahan peraturan zonasi kawasan rawan gempa bumi meliputi:
a. pemanfaatan ruang dengan mempertimbangkan karakteristik, jenis, dan ancaman
bencana gempa bumi;
b. bangunan didirikan dengan konstruksi tanah gempa.
(3) Indikasi arahan peraturan zonasi kawasan rawan gerakan tanah meliputi:
a. pemanfaatan ruang dengan mempertimbangkan karakteristik, jenis, dan ancaman
bencana gerakan tanah;
b. pemanfaatan ruang kawasan rawan rawan gerakan tanah secara terbatas dan/atau
bersyarat untuk kegiatan pertanian, perkebunan, perikanan, hutan rakyat, dan/atau
hutan produksi;
c. pembatasan bangunan hanya untuk pemantauan ancaman bencana dan kepentingan
umum.
(4) Indikasi arahan peraturan zonasi kawasan yang terletak pada zona patahan aktif meliputi:
a. pemanfaatan ruang dengan mempertimbangkan karakteristik, jenis, dan ancaman
bencana pada zona patahan aktif;
b. pemanfaatan ruang kawasan yang terletak pada zona patahan aktif secara terbatas
dan/atau bersyarat untuk kegiatan pertanian, perkebunan, perikanan, hutan rakyat,
dan/atau hutan produksi;
c. pembatasan bangunan hanya untuk pemantauan ancaman bencana dan kepentingan
umum.
(5) Indikasi arahan peraturan zonasi kawasan rawan tsunami meliputi:
a. pemanfaatan ruang kawasan rawan tsunami mempertimbangkan karakteristik, jenis, dan
ancaman bencana tsunami;
b. pemanfaatan ruang kawasan rawan tsunami secara terbatas dan/atau bersyarat untuk
kegiatan pertanian, perkebunan, perikanan, dan hutan, dengan jenis vegetasi yang

RANCANGAN QANUN RTRW ACEH


DRAFT PEMERINTAH ACEH DI KIRIM KE DPRA

38

sesuai, teknologi pengolahan tanah yang sesuai, dan dukungan struktur alam dan/atau
struktur buatan penahan gelombang tsunami;
c. pembatasan pendirian bangunan kecuali untuk kepentingan pemantauan ancaman
bencana dan kepentingan umum;
d. pelarangan pendirian bangunan penting seperti industri atau pabrik, fasilitas umum, dan
bangunan lainnya.
(6) Indikasi arahan peraturan zonasi kawasan rawan abrasi meliputi:
a. pemanfaatan ruang kawasan rawan abrasi mempertimbangkan karakteristik, jenis, dan
ancaman bencana abrasi;
b. pembatasan pendirian bangunan kecuali untuk kepentingan pemantauan ancaman
bencana dan kepentingan umum;
c. pelarangan pendirian bangunan penting seperti industri atau pabrik, fasilitas umum, dan
bangunan lainnya.
(7) Indikasi arahan peraturan zonasi kawasan rawan bencana gas beracun meliputi:
a. pemanfaatan ruang kawasan rawan bahaya gas beracun mempertimbangkan
karakteristik, jenis, dan ancaman gas beracun;
b. pembatasan pendirian bangunan kecuali untuk kepentingan pemantauan ancaman
bencana dan kepentingan umum.
Pasal 61
(1) Indikasi arahan peraturan zonasi kawasan imbuhan air tanah meliputi:
a. pemanfaatan ruang secara terbatas untuk kegiatan budidaya tidak terbangun yang
memiliki kemampuan tinggi dalam menahan limpasan air hujan;
b. penyediaan sumur resapan dan/atau waduk/kolam pada lahan terbangun yang sudah
ada;
c. penerapan prinsip zero delta Q policy terhadap setiap kegiatan budidaya terbangun
yang diajukan izinnya.
(2) Indikasi arahan peraturan zonasi kawasan sempadan mata air meliputi:
a. pemanfaatan ruang untuk ruang terbuka hijau (RTH);
b. penetapan lebar kawasan sempadan mata air sesuai ketentuan peraturan perundangundangan;
c. pelarangan terhadap kegiatan yang dapat menimbulkan pencemaran terhadap mata air.
Pasal 62
(1) Indikasi arahan peraturan zonasi kawasan cagar biosfer meliputi:
a. pemanfaatan ruang untuk kegiatan wisata dengan tanpa mengubah bentang alam;
b. pengendalian kegiatan budidaya yang dapat mengubah bentang alam dan ekosistem;
c. pembatasan pemanfaatan sumber daya alam.
(2) Indikasi arahan peraturan zonasi ramsar meliputi:
a. pemanfaatan ruang memperhatikan peraturan zonasi kawasan lindung;

RANCANGAN QANUN RTRW ACEH


DRAFT PEMERINTAH ACEH DI KIRIM KE DPRA

39

b. pembatasan pemanfaatan memperhatikan peraturan zonasi kawasan lindung;


c. pelarangan pemanfaatan memperhatikan peraturan zonasi kawasan lindung.
(3) Indikasi arahan peraturan zonasi taman buru meliputi:
a. pemanfaatan untuk kegiatan perburuan secara terkendali;
b. penangkaran dan pengembangbiakan satwa untuk perburuan;
c. pembatasan pendirian bangunan hanya untuk bangunan yang menunjang penangkaran
dan pengembangbiakan satwa serta kegiatan perburuan satwa;
d. pelarangan perburuan satwa yang tidak ditetapkan sebagai satwa buruan;
e. penerapan standar keselamatan bagi pemburu dan masyarakat di sekitarnya;
f.

taman buru adalah kawasan dengan status hutan.

(4) Indikasi arahan peraturan zonasi kawasan perlindungan plasma nutfah meliputi:
a. pemanfaatan untuk wisata alam dengan tanpa mengubah bentang alam;
b. pelestarian flora, fauna, dan ekosistem unik kawasan;
c. pembatasan pemanfaatan sumber daya alam;
d. pembatasan bangunan hanya untuk yang menunjang kegiatan dalam pemanfaatan
sebagaimana pada huruf a dan b;
e. kawasan perlindungan plasma nutfah adalah kawasan dengan status hutan.
(5) Indikasi arahan peraturan zonasi kawasan pengungsian satwa meliputi:
a. pemanfaatan untuk wisata alam, penelitian, pendidikan, dan ilmu pengetahuan;
b. pelestarian satwa (di Aceh: Gajah);
c. pembatasan bangunan hanya untuk yang menunjang kegiatan sebagaimana dimaksud
pada huruf a dan b;
d. kawasan pengungsian satwa adalah kawasan dengan status hutan.
(6) Indikasi arahan peraturan zonasi terumbu karang meliputi:
a. pemanfaatan ruang untuk pelestarian terumbu karang dengan keunikan ekosistemnya;
b. pemanfaatan untuk kegiatan wisata bahari, penelitian, dan ilmu pengetahuan;
c. pelarangan kegiatan penangkapan ikan dan pengambilan terumbu karang;
d. pelarangan kegiatan yang dapat menimbulkan pencemaran air.
(7) Indikasi arahan peraturan zonasi koridor satwa yang dilindungi meliputi:
a. pemanfaatan ruang untuk jalur migrasi satwa secara musiman;
b. pelarangan kegiatan yang dapat mengganggu migrasi satwa;
c. pelarangan penangkapan satwa yang dilindungi.
Paragraf 3
Indikasi Arahan Peraturan Zonasi Kawasan Budidaya
Pasal 63
(1) Indikasi arahan peraturan zonasi kawasan hutan produksi meliputi:
a. pembatasan pemanfaatan hasil hutan melalui pengendalian pemanfaatan hasil hutan
untuk menjaga kestabilan neraca sumber daya kehutanan;

RANCANGAN QANUN RTRW ACEH


DRAFT PEMERINTAH ACEH DI KIRIM KE DPRA

40

b. pemanfaatan ruang kawasan hutan produksi untuk pengambilan hasil hutan bukan kayu
secara selektif, dan pemanfaatan jasa lingkungan (penelitian, pendidikan dan ilmu
pengetahuan, dan wisata);
c. pembatasan pendirian bangunan hanya untuk menunjang kegiatan pemanfaatan hasil
hutan sebagaimana pada huruf a dan b;
d. pelarangan pendirian bangunan yang bukan untuk menunjang kegiatan pemanfaatan
hasil hutan sebagaimana pada huruf a dan b;
e. kawasan hutan produksi adalah kawasan dengan status hutan.
(2) Indikasi arahan peraturan zonasi hutan rakyat meliputi:
a. pemanfaatan sebagai hutan oleh orang pada tanah yang dibebani hak milik, jadi buka
merupakan kawasan dengan status hutan;
b. pemanfaatan untuk kegiatan budidaya lainnya yang dapat bersinergi dengan hutan
rakyat;
c. pembatasan terhadap kegiatan yang dapat mengganggu kegiatan hutan rakyat.
(3) Indikasi arahan peraturan zonasi kawasan pertanian pangan lahan basah (sawah) meliputi:
a. pemanfaatan ruang sebagai kawasan pertanian pangan lahan basah (sawah) yang
didukung oleh prasarana irigasi dan/atau tadah hujan;
b. pemanfaatan ruang secara terbatas untuk permukiman petani dengan kepadatan
rendah;
c. pelarangan konversi atau alih fungsi lahan pertanian pangan lahan basah (sawah)
beririgasi teknis, sebagai bagian dari lahan pertanian pangan berkelanjutan;
d. pengendalian secara ketat konversi atau alih fungsi lahan pertanian pangan lahan basah
(sawah) tidak beririgasi untuk keperluan prasarana strategis.
(4) Indikasi arahan peraturan zonasi kawasan pertanian lahan kering meliputi:
a. pemanfaatan untuk pertanian pangan lahan kering dan hortikultura;
b. pemanfaatan ruang secara terbatas untuk permukiman petani dengan kepadatan
rendah;
c. pemanfaatan secara terbatas untuk sistem pertanian campuran (mix farming) sesuai
dengan potensi yang ada, misalnya campuran dengan peternakan;
d. pelarangan terhadap kegiatan yang dapat mengganggu dan/atau merusak pertanian
pangan lahan kering dan hortikultura.
(5) Indikasi arahan peraturan zonasi kawasan perkebunan besar meliputi:
a. pemanfaatan ruang dengan tanaman sejenis atau campuran skala besar yang dikelola
oleh badan usaha, yang didukung oleh: prasarana dan bangunan pendukung usaha
(jalan kebun, pabrik, gudang), permukiman pekerja perkebunan yang didukung oleh
prasarana dan fasilitas penunjangnya;
b. pembatasan terhadap alih fungsi lahan hanya untuk kegiatan penunjang usaha
perkebunan dan permukiman pekerja perkebunan beserta prasarana dan fasilitas
penunjangnya;
c. pelarangan terhadap kegiatan yang dapat merusak kualitas lingkungan, seperti
pembuangan limbah tanpa melalui pengolahan terlebih dahulu sebagaimana ditetapkan
dalam ketentuan peraturan perundang-undangan;
d. pelarangan alih fungsi lahan menjadi kawasan budidaya non-pertanian atau terbangun
yang tidak berhubungan dengan kegiatan perkebunan.

RANCANGAN QANUN RTRW ACEH


DRAFT PEMERINTAH ACEH DI KIRIM KE DPRA

41

(6) Indikasi arahan peraturan zonasi kawasan perkebunan rakyat meliputi:


a. pemanfaatan ruang dengan tanaman sejenis atau campuran oleh orang pada lahan
yang dibebani hak milik dengan skala usaha rakyat;
b. pemanfaatan ruang secara terbatas untuk permukiman petani pekebun dengan
kepadatan rendah, yang didukung oleh kelengkapan prasarana dan fasilitas
penunjangnya;
c. pemanfaatan secara terbatas untuk sistem pertanian campuran (mix farming) sesuai
dengan potensi yang ada, misalnya campuran dengan peternakan dan budidaya
pertanian lainnya;
d. pelarangan terhadap kegiatan yang dapat merusak kualitas lingkungan.
(7) Indikasi arahan peraturan zonasi kawasan perikanan (budidaya) meliputi:
a. pemanfaatan ruang untuk kegiatan perikanan budidaya (tambak, kolam, kerambah,
jaring apung, dan sebagainya);
b. pemanfaatan secara terbatas untuk permukiman petani petambak (masyarakat
pembudidaya perikanan) dengan kepadatan rendah, yang didukung oleh kelengkapan
prasarana dan fasilitas penunjangnya;
c. pelarangan terhadap kegiatan yang dapat mengganggu dan/atau merusak kegiatan
perikanan budidaya.
(8) Indikasi arahan peraturan zonasi kawasan perikanan (tangkap) meliputi:
a. pemanfaatan ruang untuk kegiatan perikanan tangkap di perairan laut dan perairan air
tawar (sungai, danau/waduk);
b. pemanfaatan ruang secara terbatas di daratan sekitar perairan perikanan tangkap untuk
permukiman nelayan dengan kepadatan rendah yang didukung oleh prasarana dan
fasilitas penunjangnya;
c. pengendalian pemanfaatan sumber daya perikanan agar tidak melebihi potensi lestari;
d. pemanfaatan ruang perairan untuk kawasan pemijahan dan/atau kawasan sabuk hijau.
(9) Indikasi arahan peraturan zonasi kawasan industri meliputi:
a. pemanfaatan ruang untuk kegiatan industri yang dapat berbentuk: estat industri
(industrial estate), zona industri, atau peruntukan industry;
b. pemanfaatan ruang untuk permukiman pekerja industri yang didukung prasarana dan
fasilitas penunjangnya;
c. pelarangan terhadap bentuk kegiatan yang dapat merusak kualitas lingkungan, terutama
yang berkaitan dengan limbah industri (cair, padat, gas); limbah tersebut harus dikelola
dan diolah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(10) Indikasi arahan peraturan zonasi kawasan pariwisata meliputi:
a. kegiatan pariwisata/wisata yang memanfaatkan potensi alam dan budaya masyarakat
sesuai dengan daya dukung dan daya tamping lingkungan;
b. pemeliharaan dan perlindungan
kebudayaan masa lampau;

terhadap

bangunan

atau

situs

peninggalan

c. pembatasan pendirian bangunan hanya untuk menunjang kegiatan pariwisata;


d. pelarangan pendirian bangunan selain yang dimaksud pada huruf c.
(11) Indikasi arahan peraturan zonasi kawasan pertambangan meliputi:

RANCANGAN QANUN RTRW ACEH


DRAFT PEMERINTAH ACEH DI KIRIM KE DPRA

42

a. kegiatan pertambangan berupa kegiatan eksploitasi bahan tambang: secara terbuka di


permukaan bumi (open pit), di bawah permukaan atau dalam perut bumi
(underground), dan di perairan lepas pantai (off-shore), yang didukung oleh sarana
dan prasarana di permukaan bumi/daratan;
b. kegiatan pertambangan berlangsung dengan jangka waktu tertentu;
c. setelah kegiatan tambang berakhir (pasca tambang) pemanfaatan ruang/lahan di
permukaan bumi/daratan yang dipakai semasa eksploitasi harus dilakukan reklamasi
dan dikembalikan ke pemanfaatan ruang/lahan semula (sebelum eksploitasi tambang);
d. pengendalian dan/atau pembatasan terhadap kegiatan yang dapat mengganggu
kawasan sekitarnya.
(12) Indikasi arahan peraturan zonasi kawasan permukiman perkotaan meliputi:
a. kawasan permukiman perkotaan adalah kawasan permukiman dengan kegiatan
utama bukan pertanian, dengan kegiatan yang melayani wilayah, yang didukung oleh
kelengkapan prasarana dan sarana atau fasilitas pelayanan pada tingkat perkotaan;
b. pengembangan kawasan ruang terbuka hijau (RTH) minimal 30 % dari luas kawasan
perkotaan;
c. pengembangan lingkungan permukiman dengan mempertimbangkan upaya mitigasi
bencana yang meliputi: tata letak bangunan dan fasilitas, jaringan prasarana,
konstruksi bangunan, serta antisipasi jalur ungsi (escape route) dan lokasi ungsi
(escape building/ hill/area);
d. penataan bangunan kawasan perkotaan dengan penetapan amplop bangunan yang
mencakup: KDB (koefisien dasar bangunan), KLB (Koefisien Lantai Bangunan),
ketinggian bangunan, KDH (Koefisien Dasar Hijau), sempadan bangunan (depan,
samping, belakang);
e. pembatasan melalui pengendalian terhadap kegiatan yang dapat mengganggu atau
menurunkan kualitas lingkungan kawasan perkotaan.
(13) Indikasi arahan peraturan zonasi kawasan permukiman perdesaan meliputi:
a. kawasan permukiman perdesaan adalah kawasan permukiman dengan kegiatan
utama pertanian, yang didukung oleh kelengkapan prasarana dan sarana atau fasilitas
pelayanan pada tingkat perdesaan;
b. pengembangan lingkungan permukiman dengan mempertimbangkan upaya mitigasi
bencana yang meliputi: tata letak bangunan dan fasilitas, jaringan prasarana,
konstruksi bangunan, serta antisipasi jalur ungsi (escape route) dan lokasi ungsi
(escape building/ hill/area).
Paragraf 4
Indikasi Arahan Peraturan Zonasi Ruang Di Sekitar Jaringan Prasarana Wilayah
Pasal 64
(1) Indikasi arahan peraturan zonasi ruang di sekitar jalan bebas hambatan (highway) meliputi:
a. pembatasan terhadap bangunan atau kegiatan yang dapat mengurangi kefektifan jalan
bebas hambatan;
b. jalan bebas hambatan tanpa persimpangan sebidang dengan jalan lainnya, atau
persilangan dengan simpang susun (interchange);
c. pelarangan alih fungsi lahan berfungsi lindung di sekitar jalan bebas hambatan.

RANCANGAN QANUN RTRW ACEH


DRAFT PEMERINTAH ACEH DI KIRIM KE DPRA

43

(2) Indikasi arahan peraturan zonasi ruang di sekitar jalan arteri primer, jalan kolektor primer,
dan jalan lokal primer meliputi:
a. pembatasan terhadap bangunan di tepi jalan dengan penetapan sempadan bangunan;
b. pembatasan perkembangan ruang di sekitar jalan melalui pengendalian alih fungsi lahan
berfungsi budidaya agar tidak mengganggu fungsi pelayanan jalan;
c. pelarangan alih fungsi lahan berfungsi lindung di sekitar jalan.
(3) Indikasi arahan peraturan zonasi ruang di sekitar jalur kereta api meliputi:
a. pembatasan pemanfaatan ruang yang peka terhadap dampak lalu-lintas kereta api;
b. pembatasan jumlah perlintasan sebidang antara jalur kereta api dan jalan;
c. pengendalian perlintasan sebidang antara jalur kereta api dan jalan, guna mengurangi
kecelakaan di perlintasan;
d. penetapan garis sempadan bangunan di sisi jalur kereta api dengan memperhatikan
dampak lingkungan dan kebutuhan pengembangan jaringan jalur kereta api;
e. pelarangan kegiatan atau bangunan pada ruang pengawasan jalur kereta api yang
dapat mengganggu kepentingan operasi dan keselamatan angkutan kereta api.
Pasal 65
(1) Indikasi arahan peraturan zonasi ruang di sekitar pelabuhan (laut, penyeberangan, sungai
dan danau) meliputi:
a. pembatasan terhadap pemanfaatan ruang atau kegiatan di dalam Daerah Lingkungan
Kerja Pelabuhan dan Daerah Lingkungan Kepentingan Pelabuhan, yang harus
mendapat izin sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
b. pembatasan melalui pengendalian pemanfaatan ruang di dalam dan di sekitar
pelabuhan yang harus memperhatikan kebutuhan ruang untuk operasional dan
pengembangan kawasan pelabuhan;
c. pelarangan terhadap pemanfaatan ruang atau kegiatan di dalam Daerah Lingkungan
Kerja Pelabuhan dan Daerah Lingkungan Kepentingan Pelabuhan yang dapat
mengganggu kegiatan pelabuhan.
(2) Indikasi arahan peraturan zonasi ruang alur pelayaran meliputi:
a. pembatasan terhadap pemanfaatan ruang pada alur pelayaran sesuai ketentuan
peraturan perundang-undangan;
b. pembatasan terhadap pemenfatan ruang di pulau-pulau kecil di sekitar alur pelayaran
agar tidak mengganggu aktivitas pelayaran;
c. pelarangan terhadap kegiatan di ruang udara bebas di atas perairan yang berdampak
pada keberadaan alur pelayaran;
d. pelarangan terhadap kegiatan di bawah perairan yang berdampak pada keberadaan alur
pelayaran.
Pasal 66
(1) Indikasi arahan peraturan zonasi ruang di sekitar bandar udara meliputi:

RANCANGAN QANUN RTRW ACEH


DRAFT PEMERINTAH ACEH DI KIRIM KE DPRA

44

a. pembatasan terhadap pemanfaatan ruang di sekitar bandar udara agar sesuai dengan
kebutuhan pengembangan bandar udara sesuai ketentuan peraturan perundangundangan;
b. pembatasan terhadap pemanfaatan ruang di sekitar bandar udara, yaitu harus
memperhatikan Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan (KKOP) dan batas-batas
kawasan kebisingan;
c. pelarangan terhadap pemanfaatan ruang di sekitar bandar udara yang tidak sesuai
dengan fungsi bandar udara.
(2) Indikasi arahan peraturan zonasi ruang jalur terbang (airway) adalah:
-

pembatasan pemanfaatan ruang udara yang digunakan untuk penerbangan agar tidak
mengganggu sistem operasional penerbangan sesuai ketentuan peraturan perundangundangan.
Pasal 67

(1) Indikasi arahan peraturan zonasi ruang di sekitar jaringan pipa migas meliputi:
a. pembatasan terhadap pemanfatan ruang di jaringan pipa migas yaitu harus
mempertimbangkan aspek keamanan dan keselamatan kawasan di sekitarnya;
b. pelarangan terhadap pemanfaatan ruang pada jalur pipa yang tidak sesuai dengan
fungsi jaringan pipa.
(2) Indikasi arahan peraturan zonasi ruang di sekitar pembangkit tenaga listrik meliputi:
a. pembatasan terhadap pemanfatan ruang di sekitar pembangkit tenaga listrik yaitu harus
memperhatikan jarak aman;
b. pelarangan terhadap pemanfaatan ruang di sekitar pembangkit tenaga listrik yang saling
membahayakan.
(3) Indikasi arahan peraturan zonasi ruang di sekitar transmisi tenaga listrik meliputi:
a. pembatasan terhadap kegiatan pada kawasan budidaya yang terletak di bawah jaringan
transmisi listrik;
b. pelarangan terhadap pemanfaatan ruang bebas di sepanjang jalur transmisi sesuai
ketentuan peraturan perundang-undangan.
(4) Indikasi arahan peraturan zonasi ruang di sekitar gardu induk listrik meliputi:
a. pembatasan terhadap pemanfaatan ruang di sekitar Gardu Induk, yaitu harus
memperhatikan jarak aman;
b. pelarangan terhadap pemanfaatan ruang di sekitar Gardu Induk yang saling
membahayakan.
Pasal 68
Indikasi arahan peraturan zonasi ruang di sekitar prasarana telekomunikasi adalah pembatasan
pemanfaatan ruang untuk menara pemancar telekomunikasi (BTS Base Tranciever Station)
dengan memperhitungkan aspek keamanan dan keselamatan aktivitas kawasan di sekitarnya.
Pasal 69
(1) Indikasi arahan peraturan zonasi ruang di sekitar wilayah sungai meliputi:
a. pemanfaatan ruang di sekitar sungai sebagai kawasan sempadan sungai sesuai
ketentuan peraturan perundang-undangan;

RANCANGAN QANUN RTRW ACEH


DRAFT PEMERINTAH ACEH DI KIRIM KE DPRA

45

b. pembatasan terhadap kegiatan yang dapat menurunkan kualitas konservasi sumber


daya air, pendayagunaan sumber daya air yang melampaui daya dukung dan daya
tamping, serta yang mengakibatkan peningkatan daya rusak air;
c. pelarangan terhadap kegiatan di dalam wilayah sungai yang akan merusak kualitas
sumber daya air dalam wilayah sungai.
(2) Indikasi arahan peraturan zonasi ruang di sekitar jaringan irigasi meliputi:
a. Pemanfaatan ruang di sekitar saluran irigasi sebagai kawasan sempadan saluran irigasi.
b. Pembatasan terhadap kegiatan yang dapat menurunkan kuantitas dan kualitas air pada
jaringan irigasi.
c. Pelarangan terhadap kegiatan di sekitar jaringan irigasi yang merusak jaringan
prasarana irigasi.
(3) Indikasi arahan peraturan zonasi ruang di sekitar waduk meliputi:
a. pemanfaatan ruang untuk ruang terbuka hijau (RTH);
b. penetapan lebar kawasan sekitar waduk sesuai ketentuan peraturan perundangundangan;
c. pengembangan struktur alami dan struktur buatan untuk mencegah abrasi dan/atau
mempertahankan bentuk badan air waduk;
d. pelarangan pendirian bangunan selain untuk pengelolaan badan air dan/atau
pemanfaatan air waduk;
e. bila kawasan sekitar waduk juga berfungsi sebagai taman rekreasi, dapat didirikan
bangunan yang terbatas untuk menunjang fungsi rekreasi.
Pasal 70
(1) Indikasi arahan peraturan zonasi ruang di sekitar prasarana jaringan air bersih perpipaan
meliputi:
a. pembatasan terhadap kegiatan di sekitar prasarana jaringan air bersih (meliputi
pengambilan air baku, instalasi pengolahan, jaringan pipa ransmisi dan distribusi, dan
bangunan pelengkap lainnya) yang dapat menurunkan kualitas air bersih dan
mengganggu jaringan air bersih perpipaan;
b. pelarangan terhadap kegiatan di sekitar prasarana jaringan air bersih yang dapat
merusak jaringan air bersih perpipaan.
(2) Indikasi arahan peraturan zonasi ruang di sekitar prasarana pengolahan sampah meliputi:
a. pembatasan terhadap kegiatan pada jarak tertentu di sekitar prasarana pengolahan
sampah agar tidak saling mengganggu;
b. pelarangan terhadap kegiatan di sekitar prasarana pengolahan sampah yang saling
membahayakan.
Bagian Ketiga
Arahan Perizinan
Pasal 71
(1) Arahan perizinan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53 ayat (2) huruf b merupakan acuan
bagi pejabat yang berwenang dalam pemberian izin pemanfaatan ruang berdasarkan
rencana struktur ruang dan rencana pola ruang yang ditetapkan dalam Qanun ini.

RANCANGAN QANUN RTRW ACEH


DRAFT PEMERINTAH ACEH DI KIRIM KE DPRA

46

(2) Izin pemanfaatan ruang diberikan oleh pejabat yang berwenang sesuai dengan
kewenangannya.
(3) Pemberian izin pemanfaatan ruang dilakukan menurut prosedur sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
(4) Pemberian izin pemanfaatan ruang yang berdampak besar dan penting dikoordinasikan
oleh Gubernur.
Bagian Keempat
Arahan Insentif dan Disinsentif
Pasal 72
(1) Arahan insentif dan disinsentif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53 ayat (2) huruf c
merupakan acuan bagi Pemerintah Aceh dalam pemberian insentif dan pengenaan
disinsentif.
(2) Insentif diberikan agar pemanfaatan ruang sesuai dengan rencana struktur ruang, rencana
pola ruang, dan indikasi arahan peraturan zonasi yang diatur dalam Qanun ini.
(3) Disinsentif dikenakan terhadap pemanfaatan ruang yang perlu dicegah, dibatasi, atau
dikurangi keberadaannya berdasarkan ketentuan dalam Qanun ini.
Pasal 73
(1) Pemberian insentif dan pengenaan disinsentif dalam pemanfaatan ruang wilayah Aceh
dilakukan oleh Pemerintah Aceh kepada Pemerintah Kabupaten/Kota dan kepada
masyarakat.
(2) Pemberian insentif dan pengenaan disinsentif dilakukan oleh instansi berwenang sesuai
dengan kewenangannya menurut peraturan perundang-undangan.
Pasal 74
(1) Insentif kepada Pemerintah Kabupaten/Kota diberikan, antara lain, dalam bentuk :
a. pemberian kompensasi;
b. urun saham;
c. pembangunan serta pengadaan infrastruktur; atau
d. penghargaan.
(2) Insentif kepada masyarakat diberikan, antara lain, dalam bentuk:
a. keringan pajak;
b. pemberian kompensasi;
c. imbalan;
d. sewa ruang;
e. urun saham;
f.

penyediaan infrastruktur;

g. kemudahan prosedur perizinan; dan/atau


h. penghargaan.

RANCANGAN QANUN RTRW ACEH


DRAFT PEMERINTAH ACEH DI KIRIM KE DPRA

47

Pasal 75
(1) Disinsentif kepada Pemerintah Kabupaten/Kota diberikan, antara lain, dalam bentuk:
a. pembatasan penyediaan infrastruktur;
b. pengenaan kompensasi; dan/atau
c. penalti.
(2) Disinsentif kepada masyarakat dikenakan, antara lain, dalam bentuk:
a. pengenaan pajak yang tingi;
b. pembatasan penyediaan infrastruktur;
c. pengenaan kompensasi; dan/atau
d. penalti.
Pasal 76
(1) Pemberian insentif dan pengenaan disinsentif dilakukan menurut prosedur sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
(2) Pemberian insentif dan pengenaan disinsentif dikoordinasikan oleh Gubernur.
Bagian Kelima
Arahan Sanksi
Pasal 77
Arahan sanksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53 ayat (2) huruf d merupakan acuan
dalam pengenaan sanksi terhadap:
a. pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana struktur ruang dan rencana pola
ruang wilayah Aceh;
b. pelanggaran ketentuan arahan peraturan zonasi sistem Aceh;
c. pemanfaatan ruang tanpa izin pemanfaatan ruang yang diterbitkan berdasarkan RTRW
Aceh;
d. pemanfaatan ruang tidak sesuai dengan izin pemanfaatan ruang yang diterbitkan
berdasarkan RTRW Aceh;
e. pelanggaran ketentuan yang ditetapkan dalam persyaratan izin pemanfaatan ruang yang
diterbitkan berdasarkan RTRW Aceh;
f.

pemanfaatan ruang yang menghalangi akses terhadap kawasan yang oleh peraturan
perundang-undangan dinyatakan sebagai milik umum; dan/atau

g. pemanfaatan ruang dengan izin yang diperoleh dengan prosedur yang tidak benar.
Pasal 78
(1) Terhadap pelanggaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 77 huruf a, huruf b, huruf d,
huruf e, huruf f, dan huruf g dikenakan sanksi administratif berupa:
a. peringatan tertulis;
b. penghentian sementara kegiatan;
c. penghentian sementara pelayanan umum;
d. penutupan lokasi;

RANCANGAN QANUN RTRW ACEH


DRAFT PEMERINTAH ACEH DI KIRIM KE DPRA

48

e. pencabutan izin;
f.

pembatalan izin;

g. pembongkaran bangunan;
h. pemulihan fungsi ruang; dan/atau
i.

denda administratif.

(2) Terhadap pelanggaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 77 huruf c dikenakan sansi
administratif berupa:
a. peringatan tertulis;
b. penghentian sementara kegiatan;
c. penghentian sementara pelayanan umum;
d. penutupan lokasi;
e. pembongkaran bangunan;
f.

pemulihan fungsi ruang; dan/atau

g. denda administratif.
Pasal 79
Ketentuan mengenai tata cara pengenaan sanksi administratif diatur dalam Qanun tersendiri.
BAB IX
KETENTUAN LAIN-LAIN
Pasal 80
(1) Untuk operasionalisasi RTRW Aceh disusun rencana rinci tata ruang yaitu rencana tata
ruang kawasan strategis Aceh.
(2) Rencana tata ruang kawasan strategis Aceh disusun untuk setiap kawasan strategis Aceh.
(3) Rencana tata ruang kawasan strategis Aceh ditetapkan dengan Peraturan Gubernur.
BAB X
KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 81
Pada saat mulai berlakunya Qanun ini, semua ketentuan peraturan perundang-undangan yang
berkaitan dengan penyelenggaraan penataan ruang wilayah Aceh tetap berlaku sepanjang tidak
bertentangan dan belum diganti berdasarkan Qanun ini.
BAB XI
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 82
RTRW Aceh berlaku selama 20 (dua puluh) tahun.

RANCANGAN QANUN RTRW ACEH


DRAFT PEMERINTAH ACEH DI KIRIM KE DPRA

49

Pasal 83
Pada saat berlakunya Qanun ini, maka Peraturan Daerah Propinsi DI Aceh Nomor 9 Tahun
1995 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi DI Aceh dicabut dan dinyatakan tidak
berlaku.
Pasal 84
Hal-hal yang belum cukup diatur dalam Qanun ini sepanjang mengenai teknis pelaksanaannya
ditetapkan dengan Peraturan Gubernur.
Pasal 85
Qanun ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang dapat mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Qanun ini dengan
penempatannya dalam Lembaran Daerah Aceh.
Disahkan di Banda Aceh
pada tanggal
GUBERNUR ACEH,
IRWANDI YUSUF
Diundangkan di Banda Aceh
pada tanggal
SEKRETARIS DAERAH,

HUSNI BAHRI TOB

LEMBARAN DAERAH ACEH TAHUN 2010 NOMOR ....................