Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Penyakit infeksi yang disebabkan oleh cacing masih tinggi prevalensinya
terutama pada penduduk di daerah tropic seperti Indonesia, dan merupakan masalah yang
cukup besar bagi bidang kesehatan masyarakat. Hal ini dikarenakan Indonesia berada
dalam kondisi geografis dengan temperature dan kelembaban yang sesuai, sehingga
kehidupan cacing ditunjang oleh proses daur hidup dan cara penularannya. Penyakit yang
disebabkan parasit sering mempunyai sifat menahun disertai sedikit atau tanpa gejala,
maka seorang penderita mungkin menjadi pengandung parasit (carrier) tanpa
memperlihatkan gejala-gejala klinik dan demikiran merupakan sumber infeksi untuk
orang lain. Dengan perkataan lain, pada seorang pengandung parasit terhadap keadaan
infeksi biasa yang disertai keseimbangan antara hospes dan parasit (Brown, 1979).
Cara parasit mencapai hospes yang dijangkitinya dari sumber pertama berbedabeda. Beberapa parasit memerlukan kontak langsung saja; parasit lain yang mempunyai
lingkaran hidup kompleks harus melalui berbagai stadium pertumbuhan, baik sebagai
bentuk bebas maupun dalam hospes perantara, sebelum menjadi bentuk infektif.
Penularan dapat terlaksana melalui kontak tak langsung atau tidak langsung, melalui
makanan, air, tanah, hewan vertebrata dan vektor arthropoda, dan walaupun jarang, dari
ibu kepada anaknya. Kemungkinan infeksi akan bertambah oleh keadaan lingkungan
yang menguntungkan hidup parasit di luar badan dan oleh kurangnya sanitasi dan
hygiene lingkungan. Manusia, bila diinfeksi oleh parasit, dapat sebagai: 1. hospes
tunggal, 2. hospes utama dengan hewan lain yang juga dapat diinfeksi, dan 3. Hospes
kebetulan (incidental), dengan satu atau beberapa hewan lain sebagai hospes utama.
Selain daya adaptasi alami dari parasit terhadap hospes, lancarnya penularan bergantung
baik pada kebiasaan dan hubungan lingkungan maupun kepada resistensi hospes (Brown,
1979)..
Identitas parasit yang tepat yaitu dengan cara membedakan sifat berbagai spesies
parasit, kista telur, larva dan juga pengetahuan tentang berbagai bentuk pseudoparasit
dan artefak yang mungkin dikira suatu parasit. Teknik pemeriksaan secara laboraturium
beberapa penyakit parasit yang lazim digunakan dalam praktikum pemeriksaan kualitatif
dan pemeriksaan kuantitatif. Pemeriksaan yang digunakan pada praktikum ini adalah
dengan menggunakan metode apung (pemeriksaan kualitatif). Dalam diagnosis infeksi
cacing usus secara parasitologis, bahan yang diperiksa adalah tinja penderita. Kepekaan
suatu metode diagnosis sangat penting tidak hanya untuk menentukan ada tidakya
infeksi, namun juga untuk menguji keberhasilan penggunaan obat cacing yang dipakai
dalam pengobatan.

B. Tujuan
1. Mendiagnosis adanya infeksi cacing parasit pada orang yang diperiksa fesesnya..
2. Mengetahui tingkat infeksi cacing yang diderita orang yang diperiksa fesesnya.
3. Mengetahui teknik pmeriksaan telur pada tinja anak-anak..
4. Mengetahui bentuk-bentuk dari cacing parasit, bentuk telur maupun larva agar kita
mudah untuk mengenali dan melakukan tindakan efektif baik untuk pencegahan
maupun pengobatan terhadap infeksi cacing parasit kepada pasien yang diperiksa.

BAB II
METODE PENGAMATAN
A. Macam-macam

Penularan penyakit parasit disebabkan oleh tiga faktor yaitu sumber ifeksi,
cara penularan dan adanya hospes yang ditulari. Efek gabungan dari faktor ini
menentukan penyebaran dan menetapkan parasit pada waktu dan tempat tertentu.
Penyakit yang disebabkan oleh parasit dapat bersifat menahun disertai dengan sedikit
atau tanpa gejala (Brown, 1979).
Pemeriksaan telur-telur cacing dari tinja terdiri dari dua macam cara
pemeriksaan, yaitu secara kualitatif dan kuantitatif. Pemeriksaan kualitatif dilakukan
dengan menggunakan metode natif, metode apung, dan metode harada mori.
Sedangkan pemeriksaan kuantitatif dilakukan dengan menggunakan metode kato
(Noble, 1961).
1. Pemeriksaan Kualitatif
Metode Natif
Metode ini dipergunakan untuk pemeriksaan secara cepat dan baik untuk infeksi
berat, tetapi untuk infeksi ringan sulit ditemukan telur-telurnya. Cara pemeriksaan
ini menggunakan larutan NaCl fisiologis (0,9%) atau eosin 2%. Penggunaan eosin
2% dimaksudkan untuk lebih jelas membedakan telur-telur cacing dengan
kotoran disekitarnya.
Maksud : Menemukan telur cacing parasit pada feses yang diperiksa.
Tujuan : Mengetahui adanya infeksi cacing parasit pada seseorang yang
diperiksa fesesnya.
Dasar teori : eosin memberikan latar belakang merah terhadap telur yang
berwarna kekuning-kuningan untuk lebih jelas memisahkan feses dengan kotoran
yang ada.
Kekurangan : dilakukan hanya untuk infeksi berat, infeksi ringan sulit terditeksi.
Kelebihan : mudah dan cepat dalam pemeriksaan telur cacing semua spesies,
biaya yang diperlukan sedikit, peralatan yang digunakan sedikit.
Metode Apung (Flotation method)
Metode ini digunakan larutan NaCl jenuh atau larutan gula atau larutan gula
jenuh yang didasarkan atas BJ (Berat Jenis) telur sehingga telur akan mengapung
dan mudah diamati. Metode ini digunakan untuk pemeriksan feses yang
mengandung sedikit telur. Cara kerjanya didasarkan atas berat jenis larutan yang
digunakan sehingga telur-telur terapung dipermukaan dan juga untuk
memeisahkan partikel-partikel yang besar yang terdapat dalam tinja. Pemeriksaan
ini yang terdapat dalam tinja. Pemeriksaan ini hanya berhasil untuk telur-telur
Nematoda , Schistosoma, Dibothriosephalus, telur yang berpori-pori dari family
Taenidae, telur-telur Achantocephala ataupun telur Ascaris yang infertile.
Maksud : Mengetahui adanya telur cacing parasit usus untuk infeksi ringan.
Tujuan : Mengetahui adanya infeksi cacing parasit usus pada seseorang yang
diperiksa fesenya.
Dasar teori : Berat jenis NaCl jenuh lebih berat dari berat jenis telur.
Kekurangan : Penggunaan feses banyak dan memerlukan waktu yang lama,
perlu ketelitian tinggi agar telur di permukaan larutan tidak turun lagi.
Kelebihan : Dapat digunakan untuk infeksi ringan dan berat, telur dapat terlihat
jelas.
Metode Harada Mori

Metode ini digunakan untuk menentukan dan mengidentifikasi larva cacing


Ancylostoma Duodenale, Necator Americanus, Strongyloides Stercolaris dan
Trichostrongilus yang didapatkan dari feses yang diperiksa. Teknik ini
memeungkinkan telur cacing dapat berkembang menjadi larva infektif pada
kertas saring basah selama kurang lebih 7 hari, kemudian larva ini akan
ditemukan didalam air yang terdapat pada ujung kantong plastik.
Maksud : Mengidentifikasi larva cacing Ancylostoma Duodenale, Necator
Americanus, Strongyloides Stercolaris dan Trichostrongilus spatau mencari larva
cacing-cacing parasit usus yang menetas diluar tubuh hospes.
Tujuan : Mengetahui adanya infeksi cacing tambang.
Dasar teori : Hanya cacing-cacing yang menetas diluar tubuh hospes akan
menetas 7 hari menjadi larva dengan kelembaban yang cukup.
Kekurangan : Dilakukan hanya untuk identifikasi infeksi cacing tambang, waktu
yang dibutuhkan lama dan memerlukan peralatan yang banyak.
Kelebihan : Lebih mudah dilakukan karena hanya untuk mengidentifikasi larva
infektif mengingat bentuk larva jauh lebih besar di bandingkan dengan telur.
2. Pemeriksaan Kuantitatif
Pemeriksaan Kuantitatif
o

Metode Kato

Teknik sediaan tebal (cellaphane covered thick smear tecnique) atau disebut
teknik Kato. Pengganti kaca tutup seperti teknik digunakan sepotong cellahane
tape. Teknik ini lebih banyak telur cacing dapat diperiksa sebab digunakan lebih
banyak tinja. Teknik ini dianjurkan untuk Pemeriksaan secara massal karena lebih
sederhana dan murah. Morfologi telur cacing cukup jelas untuk membuat diagnosa.
Maksud : Menemukan adanya telur cacing parasit dan menghitung jumlah telur
Tujuan : Mengetahui adanya infeksi cacing parasit dan untuk mengetahui berat
ringannya infeksi cacing parasit usus
Dasar teori : Dengan penambahan melachite green untuk memberi latar belakang
hijau. Anak-anak mengeluarkan tinja kurang lebih 100 gram/hari, dewasa
mengeluarkan tinja kurang lebih 150 gram/hari. Jadi, misalnya dalam 1 gram feces
mengandung 100 telur maka 150 gram tinja mengandung 150.000 telur.
Kekurangan : Bahan feses yang di gunakan banyak.
Kelebihan : Dapat mengidentifikasi tingkat cacing pada penderita berdasar jumlah
telur dan cacing, baik di kerjakan di lapangan, dapat digunakan untuk pemeriksaan
tinja masal karena murah dan sederhana, cukup jelas untuk melihat morfologi
sehingga dapat di diagnosis.
B. Maksud dan Tujuan
C. Dasar Teori
D. Metode ini dipergunakan untuk pemeriksaan secara cepat dan baik untuk infeksi
berat, tetapi untuk infeksi yang ringan sulit ditemukan telur-telurnya. Cara
pemeriksaan ini menggunakan larutan NaCl fisiologis (0,9%) atau eosin 2%.
Penggunaa eosin 2% dimaksudkan untuk lebih jelas membedakan telur-telur cacing
dengan kotoran disekitarnya.

E. Metode ini digunakan larutan NaCl jenuh atau larutan gula atau larutan gula jenuh
yang didasarkan atas BD (Berat Jenis) telur sehingga telur akan mengapung dan
mudah diamati. Metode ini digunakan untuk pemeriksaan feses yang mengandung
sedikit telur. Cara kerjanya didasarkan atas berat jenis larutan yang digunakan,
sehingga telur-telur terapung dipermukaan dan juga untuk memisahkan partikelpartikel yang besar yang terdapat dalam tinja. Pemeriksaan ini hanya berhasil untuk
telur-telur Nematoda, Schistostoma, Dibothriosephalus, telur yang berpori-pori dari
famili Taenidae, telur-telur Achantocephala ataupun telur Ascaris yang infertil.
F. Metode ini digunakan untuk menentukan dan mengidentifikasi larva
cacingAncylostoma
Duodenale,
Necator
Americanus,
Srongyloides
Stercolaris danTrichostronngilus yang didapatkan dari feses yang diperiksa. Teknin
ini memungkinkan telur cacing dapat berkembang menjadi larva infektif pada kertas
saring basah selama kurang lebih 7 hari, kemudian larva ini akan ditemukan didalam
air yang terdapat pada ujung kantong plastik.
G. Teknik sediaan tebal (cellaphane covered thick smear tecnique) atau disebut teknik
Kato. Pengganti kaca tutup seperti teknik digunakan sepotong cellahane tape.
Teknik ini lebih banyak telur cacing dapat diperiksa sebab digunakan lebih banyak
tinja. Teknik ini dianjurkan untuk Pemeriksaan secara massal karena lebih sederhana
dan murah. Morfologi telur cacing cukup jelas untuk membuat diagnosa.
H. Alat dan Bahan
Metode Apung

Alat

Bahan
1.

Obyek glass

2.

Mikroskop

3.

Cover glass

4.

Penyaring teh

5.

Tabung reaksi

6.

Pengaduk dan beker glass

1.

Tinja

2.

Larutan NaCl jenuh (33%)

3.
Aquades
I. Cara Kerja
o

Cara kerja
1.
10 gram tinja di campur dengan 200 ml NaCl jenuh (33%), kemudian
di aduk sehingga larut. Bila terdapat serat-serat selulosa di saring
menggunakan penyaring teh.

2.
Di diamkan selama 5-10 menit, kemudian dengan lidi di ambil larutan
permukaan dan di taruh di atas gelas obyek, kemudian di tutup dengan
cover glass. Di periksa di bawah mikroskop.
3.
Di tuangkan ke dalam tabung reaksi sampai penuh, yaitu rata dengan
permukaan tabung, didiamkan selama 5-10 menit dan di tutup/di letakkan
gelas obyek dan segera angkat. Selanjutnya di letakkan di atas gelas
preparat dengan cairan berada di antara gelas preparat dan gelas penutup,
kemudian di periksadi bawah mikroskop.