Anda di halaman 1dari 49

BAB I

ILMU KALAM
A.
1.

Pengertian Ilmu Kalam


Pengertian Secara Etimologi (Bahasa)
Secara etimologis terdiri dari dua perkataan : Pertama, arti ilmu itu sendiri yaitu pengetahuan
dan kedua, adalah kalam artinya perkataan atau juga percakapan. Ilmu ini biasa digunakan
sebagai nama dari ilmu yang membahas aqidah-aqidah dalam Islam.
Ilmu Kalam adalah Ilmu yang membicarakan bagaimana menetapkan kepercayaankepercayaan keagamaan (agama islam) dengan bukti-bukti yang yakin. Atau Ilmu yang
membahas soal-soal keimanan
2. Pengertian Secara Etimologi (Istilahi)
a. Menurut Musthafa Abdul Raziq definisi ilmu kalam adalah ilmu yang berkaitan
dengan aqidah imani yang dibangun dengan argumentasi-argumentasi rasional.
b. Menurut Al Farabi definisi ilmu kalam adalah disiplin ilmu yang membahas dzat
dan sifat Allah beserta eksistensi semua yang mungkin mulai yang berkenaan
dengan masalah dunia sampai masalah sesudah mati yang berlandaskan doktrin
Islam.
c. Menurut Ibnu Khaldun definisi ilmu kalam adalah ilmu yang mengandung
berbagai argumentasi tentang akidah imani yang diperkuat dalil-dalil rasional.
d. Menurut Syekh Muhammad Abduh definisi ilmu kalam adalah ilmu yang
membahas tentang wujud Allah, sifat-sifat yang wajib baginya, sifat-sifat yang jaiz
baginya dan tentang sifat-sifat yang ditiadakan darinya dan juga tentang rasulrasul Allah baik mengenai sifat wajib, jaiz dan mustahil dari mereka.
Jadi Ilmu Kalam adalah Ilmu yang membicarakan/membahas tentang masalah
ketuhanan/ketauhidan (mengesakan Tuhan) dengan menggunakan dalil-dalil fikiran dan
disertai alasan-alasan yang rasional.
B. Nama-Nama Ilmu Kalam dan Sebab Penamaanya
1. Ilmu Kalam
Karena membahas tentang ketuhanan yang logika maksudnya dalil-dalil Aqliyah dari
permasalahan sifat kalam bagi Allah seperti persoalan. Apakah Al Quran itu Qodim
(dahulu) atau Hadits (baru)
a. Persoalan Qodimiyah Kalamullah
b. Penggunaan dalil aqli yang sebegitu rupa hingga sedikit penggunaan dalil naqli
c. Penggunaan metode argumentasi yang menyerupai mantiq.
2. Ilmu Ushuluddin
Sebab penamaan ilmu ushuluddin terfokus pada aqidah atau keyakinan Allah SWT,.
Atau yang membahas pokok-pokok dalil Agama.
3. Ilmu Tauhid
Disebut ilmu tauhid karena membahas keesaan Allah SWT, baik menyangkut dzat,
sifat dan perbuatan
4. Fiqh Al Akbar

Menurut Abu Hanifah hukum Islam yang dikenal dengan istilah fiqh terbagi menjadi
dua yaitu fiqh al akbar (pokok-pokok agama) dan fiqh al asghar (membahas hal-hal
yang berkaitan dengan masalah muamalah).
5. Teologi Islam
Teologi Islam merupakan istilah yang diambil dari bahasa inggris, theology William L
Reese mendefinisikan dengan discourse or concerning (diskursus/pemikiran tentang
Tuhan). Ilmu kalam disebut juga Ilmu Teologi karena Teologi membicarakan zat Tuhan
dari segalah aspeknya. Dan perhatian Tuhan dengan Alam semeseta karena teologi
sangat luas sifatnyat. Teologi setiap agama bersifat luas maka bila di pautkan dengan
islam (teologi islam) pengertiannya sama dengan Ilmu Kalam di sebut pula ilmu jaddal
(debat) ilmu aqoid.
C.

Ruang Lingkup Ilmu Kalam


Masalah yang dibahas dalam aqidah ilmu kalam adalah mempercayai adanya Allah, Malaikat,
Kitab-kitab Allah, Nabi dan Rasul Allah, hari kiyamat, Qadha dan Qadar, Akhirat, akal dan
wahyu, surga , neraka, dosa besar, dan masalah iman dan kafir. yang diperkuat dengan dalildalil rasional agar terhindar dari aqidah yang menyimpang.
Jika digolongkan, maka ruang lingkup Ilmu Kalam terbagi dalam 3 aspek, yakni ;
1. Ilahiyyaat yaitu masalah ketuhanan
a. Masalah ketuhanan membicarakan masalah :
b. Dzat Tuhan
c. Nama dan sifat Tuhan
d. Perbuatan Tuhan.
2. An Nubuwwaat yaitu masalah kenabiyan
a. Masalah kenabian membicarakan :
b. Kemukjizatan nabi-nabi
c. Nabi-nabi terakhir
3. As samiyyaat yaitu hal-hal yang tak mungkin kita ketahui melainkan ada informasi dari
nabi, yaitu berbicara masalah wahyu. Masalah samiyyaat meliputi antara lain :
a. Masalah azab kubur
b. Neraka
c. Surga

D. Fungsi Ilmu Kalam


1. Untuk menolak aqidah yang sesat
Berusaha menghindari tantangan-tantangan dengan cara memberikan penjelasan duduk
perkaranya timbul pertentangan itu, selanjutnya membuat suatu garis kritik sehat berdasarkan
logika. Dengan ilmu kalam bias memulihkan kembali ke jalan yang murni, pembaharuan dan
perbaikan terhadap ajaran-ajaran yang sesat.
2. Memperkuat, membela dan menjelaskan aqidah islam.
Dengan adanya ilmu kalam bisa menjelaskan, memperkuat dan membelanya dari berbagai
penyimpangan yang tidak sesuai dengan ajaran Rasulullah saw.
E.

Peranan Dalil dalam Ilmu Kalam

Pembahasan ilmu kalam selalu berdasarkan/bersumber pada dua dalil yaitu dalil naqli (Al
Quran dan hadits) dan dalil aqli (dalil fikiran).
1. Naqli
Dalil-dalil yang bersumber dari Al Quran dan Hadis.
Sebagai sumber Ilmu Kalam, Al Quran banyak menyinggung hal yang berkaitan
dengan masalah ketuhanan, diantaranya ;
a. Q.S. Asy-Syura(42):7. ayat ini menunjukkan bahwa Allah tidak menyerupai
apapun.
b. Al-Furqan(25):59. ayat ini menunjukkan bahwa Allah bertahta diatas Arsy. Ia
c. Q.S. Al-Fath. (48):10. ayat ini menunjukkan Allah mempunyai tangan yang selalu
berada diatas tangan-tangan manusia.
d. Q.S. Thaha(20):39. ayat ini menunjukkan bahwa Allah mempunyai mata yang
selalu digunakan untuk mengawasi seluruh gerak, termasuk gerakan hati
makhluknya.
e. Q.S. Ar-Rahman(55):27. ayat ini menunjukkan bahwa Allah mempunyai wajah
yang tidak mengalami kerusakan.
2. Aqli
Kata Aql dalam bahasa Arab mempunyai beberapa arti, di antaranya: Ad-diyah
(denda), al-hikmah (kebijakan), husnut tasharruf (tindakan yang baik atau tepat).
Secara terminologi, aql (selanjutnya ditulis akal) digunakan untuk dua pengertian:
a. Akal merupakan ardh atau bagian dari indera yang ada dalam diri manusia yang
bisa ada dan bisa hilang.
b. Akal adalah insting yang diciptakan Allah kemudian diberi muatan tertentu berupa
kesiapan dan kemampuan yang dapat melahirkan sejumlah aktivitas pemikiran yang
berguna bagi kehidupan manusia.
Ajaran islam mendorong penggunaan akal untuk digunakan dalam kaitanya dengan hal
yang bersifat positif/ baik, seperti Allah menciptakanya untuk manusia. Beberapa dalil
yang menjadi dasar pengggunaan akal adalah
a. Allah hanya menyampaikan kalam-Nya kepada orang yang berakal, karena hanya
mereka yang dapat memahami agama dan syariat-Nya.
...Dan merupakan peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal." (QS.
Shaad: 43)
b. Akal merupakan syarat yang harus ada dalam diri manusia untuk dapat menerima
taklif (beban kewajiban) dari Allah.
Hukum-hukum syariat tidak berlaku bagi mereka yang tidak menerima taklif. Dan
di antara yang tidak menerima taklif itu adalah orang gila karena kehilangan
akalnya. Sabda Nabi,
Pena (catatan pahala dan dosa) diangkat (dibebaskan) dari tiga golongan; orang
yang tidur sampai bangun, anak kecil sampai bermimpi, orang gila sampai ia
kembali sadar (berakal)."
c. Allah mencela orang yang tidak menggunakan akalnya. Misalnya celaan Allah
terhadap ahli Neraka yang tidak menggunakan akalnya.

dan mereka berkata: "Sekiranya Kami mendengarkan atau memikirkan


(peringatan itu) niscaya tidaklah Kami Termasuk penghuni-penghuni neraka yang
menyala-nyala". (QS. Al-Mulk: 10)
d. Adanya ungkapan dalam Al Quran yang mendorong penggunaan akal.
Ungkapan Al Quran tersebut misalnya, tadabbur, tafakkur, ta-aqqul dan lainnya.
Maka kalimat seperti laallakum tatafakkaruun (mudah-mudahan kamu berfikir),
atau afalaa taqiluun (apakah kamu tidak berakal), atau afalaa yatadabbaruuna
Al Qurana (apakah mereka tidak mentadabburi/merenungi isi kandungan Al
Quran) dan lainnya.
e. Islam memuji orang-orang yang menggunakan akalnya dalam memahami dan
mengikuti kebenaran.
niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan
orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha
mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al Mujadalah ; 11)
f. Islam mencela taqlid yang membatasi dan melumpuhkan fungsi dan kerja akal.
Perbedaan antara taqlid dan ittiba adalah sebagaimana telah dikatakan oleh Imam
Ahmad bin Hanbal, Ittiba adalah seseorang mengikuti apa-apa yang datang dari
Rasulullah, sedang taqlid menerima apa adanya tanpa mengetahui dasar dan latar
belakangnya. QS. Al-Baqarah: 170)
dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan
Allah," mereka menjawab: "(Tidak), tetapi Kami hanya mengikuti apa yang telah
Kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami". "(Apakah mereka akan
mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu
apapun, dan tidak mendapat petunjuk?".
F.

Hubungan Ilmu Kalam dengan Ilmu Lain


1. Persamaan Ilmu Kalam, Tasawuf dan Filsafat
Ilmu Kalam, filsafat dan tasawuf mempunyai kemiripan objek kajian. Objek kajian
ilmu kalam adalah ketuhanan dan segala sesuatu dengan-Nya. Objek kajian filsafat
adalah masalah ketuhanan disamping masalah alam, manusia dan segala sesuatu yang
ada. Sementara itu objek kajian tasawuf adalah Tuhan, yakni upaya-upaya pendekatan
terhadapnya. Jadi dilihat dari aspek objeknya, ketiga ilmu itu membahas tentang
masalah yang berkaitan dengan ketuhanan.
Baik ilmu kalam, filsafat, maupun tasawuf berurusan dengan hal yang sama, yaitu
kebenaran. Ilmu kalam dengan metodenya sendiri berusaha mencari kebenaran tentang
Tuhan dan yang berkaitan dengan-Nya. Filsafat dengan wataknya sendiri pula,
berusaha menghampiri kebenaran, baik tentang alam maupun manusia atau tentang
Tuhan. Sementara itu Tasawuf dengan metodenya yang tipikal berusah menghampiri
kebenaran yang berkaitan dengan kebenaran spiritual menuju Tuhan.
2. Perbedaan Ilmu Kalam, Tasawuf dan Filsafat
Perbedaan diantara ketiga Ilmu tersebut terletak pada aspek metodologinya. Ilmu
kalam, sebagai ilmu yang menggunakan logika disamping argumentasi-argumentasi

naqliyah berfungsi untuk empertahankan keyakinan ajaran agama, yang sangat tampak
nilai apologinya. Ilmu Kalam berisi keyakinan-keyakinan kebenaran agama yang
dipertahankan melalui argumen-argumen rasional, sebagian ilmuan berpendapat bahwa
ilmu ini keyakinan-keyakinan kebenaran agama, praktek dan pelaksanaan ajaran
agama, serta pengalaman keagamaan yang dijelaskan dengan pendekatan rasional.
Sementara itu filsafat adalah sebuah ilmu yang digunakan untuk memperoleh
kebenaran rasional, metode yang digunakanpun adalah metode rasional.
Filsafatmenghampiri kebenaran dengan cara menuangkan akal budi secara radikal
(mengakar) dan integral (menyeluruh) serta universal (mengalam); tidak merasa terikat
oleh iketan apapun, kecuali oleh ikatan tanganya sendiri bernama logika.
Adapun ilmu tasawuf aedalah ilmu yang lebih menekankan rasa daripada rasio. Oleh
sebab itu, filsafat dan tasawuf sangat distingtif. Sebagai sebuah ilmu yang prosesnya
diperoleh oleh rasa, ilmu tasawuf bersifat sanagt subyektif, yakni sangat berkaitan
dengan pengalaman seseorang.

BAB II
SEJARAH MUNCULNYA ALIRAN ILMU KALAM
A.

Akidah pada Masa Nabi Muhammad SAW


Masa Rasulullah saw merupakan periode pembinaan aqidah dan peraturan-peraturan dengan
prinsip kesatuan umatdan kedaulatan Islam. Segala masalah yang kabur dikembalikan
langsung kepada Rasulullah saw sehingga berhasil menghilangkan perpecahan antara
ummatnya. Masing-masing pihak tentu mempertahankan kebenaran pendapatnya dengan
dalil-dalil, sebagaimana telah terjadi dlam agama-agama sebelum Islam. Rasulullah mengajak
kaum muslimin untuk mentaati Allah swt dan RasulNya serta menghindari dari perpecahan
yang menyebabkan timbulnya kelemahan dalam segala bidang sehingga menimbulkan
kekacauan. Allah swt berfirman dalam QS. al-Anfal ; 46, yang artinya: Dan taatlah kepada
Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu
menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orangorang yang sabar.
Dan QS. Al-Maidah ; 15, yang artinya: Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu
bertemu dengan orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu
membelakangi mereka (mundur).
Pengalaman pahit orang Kristen menjadi bukti karena perpecahan membuat mereka hancur.
Mereka melupakan perjanjian Allah swt akan beriman teguh, sehingga Allah menumbuhkan
rasa permusuhan dalam dada mereka yang mengakibatkan timbulnya golongan yang saling
bertengkar dan bercerai berai seperti golongan Nasturiyah, Yakubiyah dan Mulkaniah.
Perbedaan pendapat memang dibolehkan tetapi jangan sampai pada pertengkaran, terutama
dalam maslah aqidah ini. Demikian pula dalam menghadapi agama lain, kaum muslimin
harus bersikap tidak membenarkan apa yang mereka sampaikan dan tidak pula mendustainya.
Yang harus dikata kaum muslimin adalah telah beriman kepada Allah dan wahyuNya, yang
telah diturunkan kepada kaum muslimin juga kepada mereka. Tuhan Islam dan Tuhan mereka
adalah satu (Esa).
Bila terjadi perdebatan haruslah dihadapi dengan nasihat dan peringatan. Berdebat dengan
cara baik dan dapat menghasilkan tujuan dari perdebatan, sehingga terhindar dari
pertengkaran. Allah swt berfirman dalam QS. An-Nahl ; 125, yang artinya: Serulah
(manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah

mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui
tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang
yang mendapat petunjuk. Dengan demikian Tauhid di zaman Rasulullah saw tidak sampai
kepada perdebatan dan polemik yang berkepanjangan, karena Rasul sendiri menjadi
penengahnya.
B.

Akidah pada Masa Sahabat


Masa permulaan khalifah Islam khususnya khalifah pertama dan kedua, Ilmu Tauhid masih
tetap seperti masa Rasulullah SAW,. Hal ini disebabkan kaum muslimin tidak sempat
membahas dasar-dasar aqidah dimaksud. Waktu semuanya tersita untuk menghadapi musuh,
mempererat persatuan dan kesatuan umat.
Kaum muslimin tidak mempersoalkan bidang aqidah, mereka membaca dan memahami Al
Quran tanpa takwil, mengimani dan mengamalkannya menurut apa adanya. Menghadapi
ayat-ayat mutasyabihat segera mereka imani dan menyerahkan pentakwilannya kepada Allah
swt sendiri.
Masa kha;ifah ke tiga, Usman bin Affan, mulai timbul kekacauan yang berbau politik dan
fitnah, sehingga Usman sendiri terbunuh. Usman Islam pecah berpuak-puak dengan
pandangan sendiri. Untuk mendukung pandangan mereka tanpa segan mereka menakwilkan
ayat-ayat suci dan Hadits Rasulullah SAW. Malahan ada diantara mereka menciptakan haditshadits palsu.
Sejarah mencatat bahwa ketika Rasulullah SAW wafat, orang begitu sibuk mencari pengganti
beliau sebagai pemimpin pemerintahan (sebagai Nabi dan Rasul tentu saja tidak bisa
digantikan). Kesibukan dan pencurahan perhatian mencari khalifah (pengganti) Muhammad
itu sedemikian rupa sehingga melalaikan mereka dari pemakaman Rasul sendiri. Hal ini
disebabkan karena kawasan Islam pada saat itu sudah cukup luas, meliputi seluruh jazirah
Arabia dan telah memperlihatkan potensi pengembangan yang lebih jauh lagi. Maka masalah
kepemimpian menjadi sangat penting. Akhirnya Abu Bakar yang terpilih. Meskipun khalifah
pertama ini dipilih dengan aklamasi formal, namun pasti ada yang tidak sepenuhnya rela hati.
Pada waktu Abu Bakar meninggal, beliau digantikan oleh Umar bin Khattab, khalifah yang
sangat kreatif dalam mengembangkan hukum maupun tata pemerintahan. Banyak
kebijaksanaan Umar yang sesungguhnya kontroversial akan tetapi dengan dukungan
wibawanya yang tinggi, orang mengikutinya dengan patuh.
Ketika meninggal, Umar bin Khattab digantikan oleh Utsman bin Affan, seorang yang saleh
dan berilmu tinggi. Sebagai anggota keluarga pedagang Makkah yang cukup terkemuka,
Utsman memiliki kemampuan administratif yang baik, tetapi lemah dalam kepemimpinan.
Beliau banyak melanjutkan kebijaksanaan Umar namun tanpa wibawa tinggi seperti Umar.
Kelemahan Utsman yang mencolok dan mengakibatkan ketidaksenangan kepada beliau
adalah ketidak-mampuan mencegah ambisi di lingkungan keluarganya untuk menempati
kedudukan-kedudukan penting di lingkungan pemerintahan. Akibatnya banyak orang yang
tidak senang. Lalu ada lagi orang-orang yang menggunakan kesempatan untuk mengipasngipas guna memperoleh keuntungan pribadi.
Di Mesir, penggantian gubernur yang diangkat Umar bin Khattab, yakni Umar Ibnu Al Ash
dengan Abdullah ibnu Sa'd, salah seorang keluarga Utsman, mengakibatkan pemberontakan.

Mereka mengerahkan pasukan menyerbu Madinah dan berhasil membunuh Khalifah.


Peristiwa pembunuhan Khalifah ini dikenal sebagai Al Fitnatul Kubro yang pertama.
Ketika Utsman wafat, musyawarah para pemimpin kelompok dan suku menetapkan Ali bin
Abi Thalib sebagai penggantinya. Tetapi kemudian beliau ditentang oleh beberapa pihak,
antara lain oleh Tholhah dan Zubeir, yang dibantu oleh Aisyah isteri Rasulullah SAW.
Penentangan timbul terutama karena Ali dianggap tidak tegas dalam mengadili pembunuh
Utsman. Tentara gabungan pimpinan Tholah, Zubeir dan Aisyah dikalahkan dengan telak.
Tholhah dan Zubeir terbunuh, sedang Aisyah yang tertangkap kemudian dikirimkan kembali
ke Madinah.
Tentangan kedua datang dari Mu'awiyah bin Abu Sufyan, Gubernur Damaskus yang masih
keluarga Utsman. Dia menuntut Ali agar segera mengadili para pembunuh khalifah ketiga itu.
Beberapa waktu kemudian, ketika tuntutannya tidak dipenuhi dia malahan menuduh Ali turut
serta dalam pembunuhan tersebut. Apalagi ketika salah seorang pemimpin pemberontakan
yaitu Ibnu Abi Bakr, kemudian malahan diangkat sebagai Gubernur Mesir.
Dalam pertempuran yang terjadi di Shiffin, Ali bin Abi Thalib yang merupakan pemimpin
militer yang andal, dapat mendesak tentara Mu'awiyah. Tetapi pada saat kritis itu tangan
kanan Mu'awiyah yang bernama Amr ibnu Al As minta berunding dengan mengangkat Kitab
Al Quran ke atas. Permintaan itu diterima oleh Ali dengan tulus. Maka Amr ibnu Al As
sebagai perunding kelompok Mu'awiyah yang seorang ahli diplomasi dapat mengalahkan
Abu Musa Al Asy'ari yang mewakili pihak Khalifah Ali di meja perundingan. Peristiwa itu
megecewakan sebagian dari pendukung Ali. Mereka sangat menyesalkan kesediaan Ali untuk
menyelesaikan perselisihan melalui perundingan.
Kelompok ini kemudian menyatakan memisahkan diri dari Ali bin Abi Thalib dan
menamakan dirinya Khawarij (orang yang keluar). Hasil perundingan tersebut jelas
merugikan Ali sebagai khalifah yang resmi karena harus mengundurkan diri bersama-sama
Muawiyah, sedangkan Muawiyah sendiri ternyata tidak menepati kesepakatan. Maka beliau
tidak mau meletakkan jabatan dan menghadapi dua front, yakni Mu'awiyah di satu pihak dan
Khawarij di pihak lain. Tentara Ali menghadapi Khawarij terlebih dahulu dan dapat
menghancurkannya.
Namun mereka sudah menjadi lemah dan tidak mampu lagi meneruskan pertempuran dengan
Mu'awiyah. Akhirnya beliau bahkan terbunuh pada tahun 661 M oleh seorang anggota
Khawarij yang bernama Abdurrahman bin Muljam. (Peristiwa ini dikenal dengan istilah Al
Fitnatul Kubro yang kedua).
C.

Faktor-faktor Timbulnya Aliran-Aliran Ilmu Kalam


1. Faktor dari dalam (intern)
a. Adanya pemahaman dalam islam yang berbeda.
Perbedaan ini terdapat dalam hal pemahaman ayat Al Quran, sehingga berbeda dalam
menafsirkan pula. Mufasir satu menemukan penafsiranya berdasarkan hadist yang shahih,
sementara mufasir yang lain penafsiranya belum menemukan hadist yang shahih. Bahkan ada
yang mengeluarkan pendapatnya sendiri atau hanya mengandalkan rasional belaka tanpa
merujuk kepada hadist.
b. Adanya pemahaman ayat Al Quran yang berbeda.
Para pemimpin aliran pada waktu itu dalam mengambil dalil Al Quran beristinbat menurut
pemahaman masing-masing

c. Adanya penyerapan tentang hadis yang berbeda.


Penyerapan hadist berbeda, ketika para sahabat menerima berita dari para perawinya dari
aspek matan ada yang disebut hadist riwayah (asli dari Rasul) dan diroyah (redaksinya
disusun oleh para sahabat), ada pula yang di pengaruhi oleh hadist (israiliyah), yaitu: hadist
yang disusun oleh orang-orang yahudi dalam rangka mengacaukan islam.
d. Adanya kepentingan kelompok atau golongan
Kepentingan kelompok pada umumnya mendominasi sebab timbulnya suatu aliran, sangat
jelas, dimana syiah sangat berlebihan dalam mencintai dan memuji Ali bin Abi Thalib,
sedangkan khawarij sebagai kelompokyang sebaliknya.
e. Mengedepankan akal
Dalam hal ini, akal di gunakan setiap keterkaitan dengan kalam sehingga terkesan berlebihan
dalam penggunaan akal, seperti aliran Mutazilah.
f. Adanya kepentingan politik
Kepentingan ini bermula ketika ada kekacauan politik pada zaman Ustman bin Affan yang
menyebabkan wafatnya beliau, kepentingan ini bertujuan sebagai sumber kekuasaan untuk
menata kehidupan.
g. Adanya beda dalam kebudayaan
Orang islam masih mewarisi yang di lakukan oleh bangsa quraish di masa jahiliyah. Seperti
menghalalkan kawin kontrak yang hal itu sebenarnya sudah di larang sejak zaman
Rasulullah. Kemudian muncul lagi pada masa khalifah Ali bin Abi Thalib oleh aliran Syiah.
2. Faktor dari luar (ekstern)
a. Banyak diantara pemeluk-pemeluk Islam yang mula-mula beragam yahudi, masehi
dan lain-lain, setelah fikiran mereka tenang dan sudah memegang teguh Islam ,
mereka mulai mengingat-ingat agama mereka yang dulu dan dimasukkannya dalam
ajaran-ajaran Islam.
b. Golongan Islam yang dulu, terutama golongan mutazilah memusatkan
perhatiannya untuk penyiaran agama Islam dan membantah alasan-alasan mereka
yang memusuhi Islam. mereka tidak akan bisa menghadapi lawan-lawanya kalau
mereka sendiri tidak mengetahui pendapat-pendapat lawan-lawannya beserta dalildalilnya. sehingga kaum muslimin memakai filsafat untuk menghadapi musuhmusuhnya.
c.
Para mutakallimin ingin mrngimbangi lawan-lawanya yang menggunakan
filsafat , dengan mempelajari logika dan filsafat dari segi ketuhanan.

BAB III
PERKEMBANGAN ALIRAN-ALIRAN ILMU KALAM
A.

Aliran Mutazilah
1.Definisi
Secara etimologi, Mu'tazilah atau I'tizaal adalah kata yang dalam bahasa Arab menunjukkan
kesendirian, kelemahan dan keterputusan. Sedang dalam pengertian terminology, para ulama
mendefinisikannya sebagai satu kelompok dari qadiriyah yang menyelisihi pendapat umat
Islam dalam permasalahan hukum pelaku dosa besar yang dipimpin oleh Waashil bin Atho'
dan Amr bin Ubaid pada zaman Al Hasan Al Bashry.
2. Sejarah Munculnya Mu'tazilah
Kelompok pemuja akal ini muncul di kota Bashrah (Irak) pada abad ke-2 Hijriyah, antara
tahun 105-110 H, tepatnya di masa pemerintahan khalifah Abdul Malik bin Marwan dan
khalifah Hisyam bin Abdul Malik. Pelopornya adalah seorang penduduk Bashrah mantan
murid Al-Hasan Al-Bashri yang bernama Washil bin Atha Al-Makhzumi Al-Ghozzal. Ia lahir

di kota Madinah pada tahun 80 H dan mati pada tahun 131 H. Di dalam menyebarkan
bidahnya, ia didukung oleh Amr bin Ubaid (seorang gembong Qadariyyah kota Bashrah)
setelah keduanya bersepakat dalam suatu pemikiran bidah, yaitu mengingkari taqdir dan
sifat-sifat Allah.
Seiring dengan bergulirnya waktu, kelompok Mutazilah semakin berkembang dengan sekian
banyak sektenya. Hingga kemudian para dedengkot mereka mendalami buku-buku filsafat
yang banyak tersebar di masa khalifah Al-Makmun. Maka sejak saat itulah manhaj mereka
benar-benar terwarnai oleh manhaj ahli kalam (yang berorientasi pada akal dan
mencampakkan dalil-dalil dari Al Quran dan As Sunnah).
Oleh karena itu, tidaklah aneh bila kaidah nomor satu mereka berbunyi: Akal lebih
didahulukan daripada syariat (Al Quran, As Sunnah dan Ijma, pen) dan akal-lah sebagai
kata pemutus dalam segala hal. Bila syariat bertentangan dengan akal menurut persangkaan
mereka, maka sungguh syariat tersebut harus dibuang atau ditakwil.
Ini merupakan kaidah yang batil, karena kalaulah akal itu lebih utama dari syariat maka Allah
akan perintahkan kita untuk merujuk kepadanya ketika terjadi perselisihan. Namun
kenyataannya Allah perintahkan kita untuk merujuk kepada Al-Quran dan As-Sunnah,
sebagaimana yang terdapat dalam Surat An-Nisa: 59. Kalaulah akal itu lebih utama dari
syariat maka Allah tidak akan mengutus para Rasul pada tiap-tiap umat dalam rangka
membimbing mereka menuju jalan yang benar sebagaimana yang terdapat dalam An-Nahl:
36. Kalaulah akal itu lebih utama dari syariat maka akal siapakah yang dijadikan sebagai
tolok ukur?! Dan banyak hujjah-hujjah lain yang menunjukkan batilnya kaidah ini.
3. Sebab penamaannya
Para Ulama telah berselisih tentang sebab penamaan kelompok (aliran) ini dengan nama
Mu'tazilah menjadi beberapa pendapat:
a. Berpendapat bahwa sebab penamaannya adalah karena berpisahnya Waashil bin Atho' dan
Amr bin Ubaid dari majlis dan halaqohnya Al Hasan Al Bashry. Hal ini didasarkan oleh
riwayat yang mengisahkan bahwa ada seseorang yang menemui Al Hasan Al Bashry, lalu
berkata:wahai imam agama...telah muncul pada zaman kita ini satu jamaah yang
mengkafirkan pelaku dosa besar dan dosa besar menurut mereka adalah kekafran yang
mengeluarkan pelakunya dari agama, dan mereka adalah Al Wa'iidiyah khowarij dan jamaah
yang menangguhkan pelaku dosa besar, dan dosa besar menurut mereka tidak mengganggu
(merusak) iman, bahkan amalan menurut mazhab mereka bukan termasuk rukun iman, dan
iman tidak rusak oleh kemaksiatan, sebagaiman tidak bermanfaat ketaatan bersama
kekufuran, dan mereka adalah murjiah umat ini, maka bagaimana engkau memberikan
hukum bagi kami dalam hal itu secara i'tikad? Lalu Al Hasan merenung sebentar tentang hal
itu, dan sebelum beliau menjawab, berkata Waashl bin Atho': saya tidak akan mengatakan
bahwa pelaku dosa besar itu mu'min dan tidak juga kafir, akan tetapi dia di dalam satu
kedudukan diantara dua kedudukan tersebut (manzlah baina manzilatain), tidak mu'min dan
tidak kafir. Kemudian dia berdiri dan memisahkan diri ke satu tiang dari tiang-tiang masjid
menjelaskan jawabannya kepada para murid Al Hasan, lalu berkata Al Hasan : telah berpisah
(i'tizal) dari kita Washil, dan Amr bin Ubaid mengikuti langkah Waashil, maka kedua orang
ini beserta pengikutnya dinamakan Mu'tazilah.
Berkata A Qodhi Abdul Jabaar Al Mu'tazily dalam menafsirkan sebab penamaan mereka
ini:telah terjadi dialog antara Waashil bin Atho' dan Amr bin Ubaid dalam permasalahan ini

-permasalahan pelaku dosa besar-lalu Amr bin Ubaid kembali ke mazhabnya dan
meninggalkan halaqoh Al Hasan Al Bashry dan memisahkan diri, lalu mereka menamainya
Mu'tazily, dan ini adalah asal penggelaran Ahlul Adil dengan Mu'tazilah.
b. Berpendapat bahwa mereka dinamai demikian karena ucapan imam Qatadah kepada
Utsman Ath Thowil: siapa yang menghalangimu dari kami? apakah mereka Mu'tazilah yang
telah menghalangimu dari kami? Aku jawab:ya.
Berkata Ibnu Abl Izzy : dan mu'tazilah adalah Amr bin Ubaid dan Waashil bin Atho' Al
Ghozaal serta para pengikutnya, mereka dinamakan demikian karena mereka memisahkan
diri dari Al Jamaah setelah wafatnya Al Hasan Al Bashry di awal-awal abad kedua dan
mereka itu bermajlis sendiri dan terpisah, sehngga berkata Qotadah dan yang lainnya:
merekalah Mu'tazilah.
4. Perkembangannya
Mu'tazilah berkembang sebagai satu pemikiran yang ditegakkan diatas pandangan bahwa akal
adalah sumber kebenaran pada awal abad ke dua hijriyah tepatnya tahun 105 atau 110 H di
akhir-akhir kekuasaan Bani Umayyah di kota bashroh di bawah pimpinan Waashil bin Atho'
Al Ghozali. Kelompok atau sekte ini berkembang dan terpengaruh oleh bermacam-macam
aliran pemikiran yang berkembang dimasa itu sehingga didapatkan padanya kebanyakan
pendapat mereka mengambil dari pendapat aliran pemikiran Jahmiyah, kemudian
berkembang dari kota Bashroh yang merupakan tempat tinggalnya Al Hasan Al Bashry, lalu
menyebar dan merebak ke kota Kufah dan Baghdad.
Aliran Mutazilah mengalami kejayaan semasa Kekhalifahan Abbasiyah dipegang oleh alMamun, al-Mu;tazim dan al-Watsiq. Mutazilah telah menyumbangkan banyak jasa terhadap
dunia Islam, terutama di bidang teologi dan cara-cara berfikir sistematis. Satu faktor yang
membuat mereka mampu menyebarkan kekuasaan mereka dan mampu menekan setiap orang
yang menyelisihi mereka, lalu mereka menjadikan padang sebagai ganti dari hujjah dan dalil.
Maka berkembanglah aliran ini di negeri-negeri muslimin dengan bantuan dari sebagian
pemimpin-pemimpin Bani Abasyah.
Kemudian mereka terpecah menjadi dua cabang :
a. Cabang Bashroh, yang terwakili oleh tokoh-tokoh seperti Waashil bin Atho', Amr bin
Ubaiid, Utsman Ath Thowil, Abu Al Hudzail Al 'Alaaf, Abu Bakr Al Ashom, Mamar bin
Ubaad, An Nadzom, Asy Syahaam, Al Jaahidz, Abu Ali Aljubaa'i, Abu Hasyim Al Jubaa'i dan
yang lain-lainnya.
b. Cabang Baghdad, yang terwakili oleh tokoh-tokoh seperti Bisyr bin Mu'tamir, Abu Musa Al
Mardaar, Ahmad bin Abii Duaad, Tsumamah bin Al Asyras, Ja'far bin Harb, Ja'far bin
Mubasyir, Al Iskaafy, Isa bin Al Haitsam Al Khayaath, Abul Qasim Al Balkhy Al Ka'by dan
yang lain-lainnya.
Walaupun mu'tazilah telah melakukan usaha yang besar dalam menekuni dan menyelami
kehidupan akal sejak abad ke dua sampai ke lima hijriyah, akan tetapi tidak mendapatkan
keberhasilan dan kesuksesan bahkan akhirnya mengalami kemunduran dan kegagalan.
Hal ini tampaknya terjadi karena mereka tidak mengambil sumber metodologi pemikiran
mereka dari Al Qur'an dan As Sunnah, bahkan mereka mendasarinya dengan bersandar
kepada akal semata yang telah dirusak oleh pemikran filsafat Yunani yang dipermudah oleh
adanya kegiatan penerjemahan buku-buku Yunani, ditambah dengan buku-buku Persi dan

India, ke dalam bahasa Arab. Kegiatan itu memuncak di bawah pemerintahan al-Mamun ibn
Harun al-Rasyid. Penterjemahan itu telah mendorong munculnya Ahli Kalam dan Falsafah.
5. Asas dan Landasan Mutazilah
Mutazilah mempunyai asas dan landasan yang selalu dipegang erat oleh mereka, bahkan di
atasnya-lah prinsip-prinsip mereka dibangun.
Asas dan landasan itu mereka sebut dengan Al-Ushulul-Khomsah (lima landasan pokok).
Adapun rinciannya sebagai berikut :
a. At-Tauhid
At-Tauhid adalah prinsip dan dasar pertama dan yang paling utama dalam aqidah islam.
Dengan demikian prinsip ini bukan hanya milik mutazilah, melainkan milik semua umat
islam. Akan tetapi mutazilah lebih mengkhususkannya lagi kedalam empat beberapa
pendapat diantaranya
1) Menafikan sifat-sifat Allah.
Dalam hal ini mutazilah tidak mengakui adanya sifat pada allah. Apa yang dipandang orang
sebagai sifat bagi mutazilah tidak lain adalah Dzat allah itu sendiri, dalam artian allah tidak
mempunyai sifat karena yang mempunyai sifat itu adalah makhluk. Jika tuhan mempunyai
sifat berarti ada dua yang qadim yaitu dzat dan sifat sedangkan allah melihat, mendengar itu
dengan dzatnya bukan dengan sifatnya.
2) Al-Quran adalah Makhluk.
Dikatakan makhluk karena al-Quran adalah firman dan tidak qadim dan perlu diyakini
bahwa segala sesuatu selain Allah itu adalah makhluk.
3) Allah tidak dapat dilihat dengan mata.
Karena Allah adalah dzat yang ghaib, dan tidak mungkin dapat dilihat dengan mata akan
tetapi kita harus meyakininya dengan keyakinan yang pasti.
4) Berbeda dengan makhluknya (Mukhalafatuhu lilhawadist)
b. Al-Adl (keadilan Allah)
Prinsip ini mengajarkan bahwa, Allah tidak menghendaki keburukan bagi hambanya, manusia
sendirilah yang menghendaki keburukan itu. Karena pada dasarnya manusia diciptakan dalam
kedaan fitrah (Suci). Hanya dengan kemampuan yang diberikan tuhanlah, manusia dapat
melakukan yang baik. Karena itu, jika ia melakukan kejahatan, berarti manusia itu sendirilah
yang menghendaki hal tersebut. Dari prinsip inilah, timbul ajaran mutazilah yang dikenal
dengan nama Al-Shalah Wa Al-Ashlah, artinya allah hany menghendaki sesuatu yang baik,
bahkan sesuatu terbaik untuk kemaslahatan manusia.
c. Al-Wadu Wal-Waid
Wajib bagi Allah untuk memenuhi janji-Nya (al-wad) bagi pelaku kebaikan agar dimasukkan
ke dalam Al-Jannah, dan melaksanakan ancaman-Nya (al-waid) bagi pelaku dosa besar
(walaupun di bawah syirik) agar dimasukkan ke dalam An-Naar, kekal abadi di dalamnya,
dan tidak boleh bagi Allah untuk menyelisihinya.
Dalam hal ini allah menjanjikan akan memberikan pahala kepada orang yang berbuat baik
dan akan menyiksa kepada orang yang berbuat jahat. Janji ini pasti dipenuhi oleh tuhan
karena Allah tidak akan ingkar terhadap janjinya. Dalam prinsip ini mutazilah menolak
adanya syafaat atau pertolonagn dihari kiamat. Sebab syafaat bertentangan dengan janji
tuhan.
d. Suatu keadaan di antara dua keadaan (Al Manzila baina manzilatain)

Pendapat ini dikemukakan oleh Washil Bin Atha dan merupakan pendapat yang pertama dari
aliran mutazilah. Menurut ajaran ini, seorang muslim yang melakukan dosa besar dan tidak
sempat bertaubat kepada allah SWT maka ia tidaklah mukmin dan tidak pula kafr. Ia berada
diantara keduanya. Dikatakan tidak mukmin karena ia melakukan dosa besar dan dikatakan
tidak kafir karena ia masi percaya kepada allah dan berpegang teguh pada dua kalimat
syahadat. Dengan demikian Washil bin atha menyebutnya sebagai orang fasiq.
e. Amar Maruf Nahi Mungkar
Adapun amar maruf dan nahi mungkar adalah wajib bagi setiap orang Islam, tetapi yang
maruf bagi kaum Mutazilah ialah hanya pendapat mereka, bukan maruf yang sesuai dengan
Al Quran dan Hadist. Prinsip ini menitik beratkan kepada permasalahan hukum fiqh. Kaum
mutazilah sangat gigih melaksanakan prinsip ini, bahkan pernah melakukan kekerasan demi
amar makruf dan nahi munkar.
6. Doktrin-doktrin Mu'tazilah
a. Ketauhidan
Mutazilah menafikan dan meniadakan Allah Taala itu bersifat dengan sifat-sifat yang azali
dari ilmu, qudrat, hayat dan sebagainya sebagai dzat-Nya.
b. Dosa Besar
Orang Islam yang mengerjakan dosa besar, yang sampai matinya belum taubat, orang
tersebut dihukumi tidak kafir dan tidak pula mukmin, tetapi diantara keduanya itu. Mereka itu
dinamakan orang fasiq.
c. Qadar
Mereka berpendapat : Bukanlah Allah yang menjadikan segala perbuatan makhluk, tetapi
makhluk itu sendirilah yang menjadikan dan menggerakkan segala perbuatannya. Oleh
karena itulah, mereka diberi dosa dan pahala.
d. Kedudukan Akal
Sepanjang sejarah telah diketahui bahwa kaum Mutazilah membentuk madzhabnya lebih
mengutamakan akal, bukan mengutamakan Al Quran dan Hadist.
7. Tokoh Aliran Mutazilah
a. Washil bin Atha
Pokok-pokok pikiran teologis washil bin atha dapat disimpulkan kepada tiga hal yang
penting diantaranya : a) tentang seorang muslim yang melakukan dosa besar.b) kekuasaan
berbuat atau berkehendak bagi manusia (Free will) c) tentang sifat tuhan.
b. Abu Huzail Al-Allaf
Beliau merupakan generasi kedua dari aliran mutazilah yang menyusun dasar-dasar faham
mutazilah yang lima (At-Tauhid, Al-Adl, Al-Wad Wa-Al-Waid, Al-Manzilah Bain AlManzilatain, Amar Makruf dan Nahi munkar).
c. An-Nazham ( wafat 231 H/ 845 M)
Nama lengkapnya adalah Ibrahim bin Sayyar bin Hani An-Nazham. Ia merupakan tokoh
mutazilah yang terkemuka, lancar bicara, dan banyak mendalami filsafat. Ia sangat bebas
berpikir dan berani menyerang ahli hadis karena tidak banyak percaya pada kesahihan hadishadis. Karena ia sangat menjunjung Al-Quran.
d. Al-Jubbai (wafat 303 H/ 915 M)

Nama lengkapnya adalah Abu Ali Muhammad bin Ali Al-Jubbai, tokoh mutazilah basrah dan
murid as-Syahham. Al-Jubbai dan anaknya yaitu Abu Hasim Al-Jubbai mencerminkan akhir
masa kejayaan aliran mutazilah.
B. Aliran Asyariyah
1. Definisi
Asy`ariyah adalah sebuah paham aqidah yang dinisbatkan kepada Abul Hasan Al-Asy`ariy.
Al-Asy`ariyah membuat sistem hujjah yang dibangun berdasarkan perpaduan antara dalil
nash (naql) dan dalil logika (`aql). Paham Al-Asyary mengambil jalan tengah antara
golongan yang rasionalis dan golongan textualis yang ternyata jalan tersebut dapat diterima
oleh mayoritas kaum muslim.
Munculnya kelompok Asyariyah ini tidak lepas dari ketidakpuasan sekaligus kritik terhadap
paham Muktazilah yang berkembang pada saat itu. Kesalahan dasar Muktazilah di mata AlAsy'ari adalah bahwa mereka begitu mempertahankan hubungan Tuhan-manusia, bahwa
kekuasaan dan kehendak Tuhan dikompromikan.
2. Sebab-sebab Penamaan
Awalnya Al-Asy`ari pernah belajar kepada Al-Jubba`i, seorang tokoh dan guru dari kalangan
Mu`tazilah. Sehingga untuk sementara waktu, Al-Asy`ariy menjadi penganut Mu`tazilah,
sampai tahun 300 H. Namun setelah beliau mendalami paham Mu`tazilah hingga berusia 40
tahun, terjadilah debat panjang antara dia dan gurunya, Al-Jubba`i dalam berbagai masalah
terutama masalah Kalam. Debat itu membuatnya tidak puas dengan konsep Mu`tazilah.
Nama lengkapnya ialah Abul Hasan Ali bin Ismail bin Abi Basyar Ishaq bin Salim bin Ismail
bin Abdillah bin Musa bin Bilal bin Abi Burdah Amir bin Abi Musa Al-Asyari, seorang
sahabat Rasulullah SAW. Kelompok Asyariyah menisbahkan pada namanya sehingga
dengan demikian ia menjadi pendiri madzhab Asyariyah.
Abul Hasan Al-Asyaari dilahirkan pada tahun 260 H/874 M di Bashrah dan meninggal dunia
di Baghdad pada tahun 324 H/936 M. Ia berguru kepada Abu Ishaq Al-Marwazi, seorang
fakih madzhab Syafii di Masjid Al-Manshur, Baghdad. Ia belajar ilmu kalam dari Al-Jubbai,
seorang ketua Muktazilah di Bashrah.
3. Perkembangan Aliran Asariyah
Pada masa berkembangnya ilmu kalam, kebutuhan untuk menjawab tantangan akidah dengan
menggunakan ratio telah menjadi beban. Karena pada waktu itu sedang terjadi penerjemahan
besar-besaran pemikiran filsafat Barat yang materialis dan rasionalis ke dunia Islam.
Sehingga dunia Islam mendapatkan tantangan hebat untuk bisa menjawab argumen-argumen
yang bisa dicerna akal.
Al-Asyari adalah salah satu tokoh penting yang punya peranan dalam menjawab argumen
Barat ketika menyerang akidah Islam. Karena itulah metode akidah yang beliau kembangkan
merupakan panggabungan antara dalil naqli dan aqli. Munculnya kelompok Asyariyah ini
tidak lepas dari ketidakpuasan sekaligus kritik terhadap paham Muktazilah yang berkembang
pada saat itu. Kesalahan dasar Muktazilah di mata Al-Asy'ari adalah bahwa mereka begitu
mempertahankan hubungan Tuhan -manusia, bahwa kekuasaan dan kehendak Tuhan
dikompromikan.
Akidah ini menyebar luas pada zaman wazir Nizhamul Muluk pada dinasti bani Saljuq dan
seolah menjadi akidah resmi negara. Paham Asyariyah semakin berkembang lagi pada masa
keemasan madrasah An-Nidzamiyah, baik yang ada di Baghdad maupun dikota Naisabur.

4.
a.

b.

c.

d.

5.
a.

b.

c.

Madrasah Nizhamiyah yang di Baghdad adalah universitas terbesar di dunia. Didukung oleh
para petinggi negeri itu seperti Al-Mahdi bin Tumirat dan Nuruddin Mahmud Zanki serta
sultan Shalahuddin Al-Ayyubi.
Juga didukung oleh sejumlah besar ulama, terutama para fuqaha mazhab Asy-Syafi'i dan
mazhab Al-Malikiyah periode akhir-akhir. Sehingga wajar sekali bila dikatakan bahwa akidah
Asy-'ariyah ini adalah akidah yang paling populer dan tersebar di seluruh dunia.
Pokok Ajaran
Sifat Allah.
Al-Asyari mengakui sifat-sifat Tuhan (Wujud, qidam, baqa, wahdania, sama, basyar, dan
lain-lain), sesuai dengan dzat Tuhan itu sendiri dan sama sekali tidak menyerupai sufat-sifat
makhluk. Tuhan dapat mendengar tetapi tidak seperti kita, mendengar dan seterusnya.
Kekuasaan Tuhan dan Perbuatan Manusia.
Al-Asyari mengatakan bahwa manusia tidak berkuasa menciptakan sesuatu, tetapi berkuasa
untuk memperoleh sesuatu perbuatan.
Melihat Tuhan pada Hari Kiamat.
Al-Asyari mengatakan bahwa Tuhan dapat dilihat, tetapi tidak menuntut cara tertentu dan
tidak pula arah tertentu. Al-Maturidi mengatakan juga bahwa manusia dapat melihat Tuhan .
Firman Allah dalam QS Al-Qiyamah ayat 22 dan 23:
Dosa besar
Al-Asyari mengatakan bahwa orang mukmin yang mengesakan Tuhan tetapi fasik, terserah
kepada Tuhan, apakah akan diampuni-Nya dan langsung masuk syurga atau akan dijatuhi
siksa karena kefasikannya, tetapi dimasukkan-Nya kedalam surga .
Tokoh Aliran Asariyah
Al-Baqilany ( wafat 403 H / 1013 M )
Namanya Abu Bakkar Muhammad bin Tayyib, diduga kelahiran kota Basrah, tempat
kelahiran gurunya, Al-Asyary. Ia seorang yang cerdas otakya, simpatik dan banyak jasanya
dalam pembelaan agama. Kitabnya yang terkenal adalah at-Tahmid (pendahuluan /
persiapan).
Al-Juwaini ( 419-478 H/ 1028-1085 M )
Namanya Abu al-Maaly bin Abdillah, dilahirkan di Nisabur, kemudian pergi ke kota
Muaskar, dan akhirnya sampai ke negara Bagdad. Ia mengikuti jejaknya Al-Baqilany dan AlAsyary dalam menjujung setinggi-tingginya akal-fikiran, suatu hal yang menjadikan
marahnya para ahli-ahli hadist. Akhirnya ia sendiri terpaksa meninggalkan Bagdad menuju
Hijaz dan bertempat tinggal di Mekkah dan Madinah untuk mengajarkan pelajaran disana.
Karena itu ia mendapat gelar Imam Al-Haramain ( Imam kedua tanah suci, Makkah dan
Madinah ) setelah Nizamul-Mulk memegang pemerintahan dan mendirikan sekolah
Nizamiyah di Nisabur al-Juwaini diminta kembali ke negerinya tersebut untuk memberikan
pelajaran disana.
Al-Ghazali ( 450-505 H )
Nama lengkapnya Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali. Dilahirkan di kota
Tus, sebuah kota di negeri Khurasan. Gurunya antara lain Al-Juwaini, sedang jabatan yang
pernah dipegagnya adalah mengajar di sekolah Nizamiyah Bagdad.
Al-Ghazali adlah salah seorang ahli fikir Islam terkenal dan yang paling besar pengaruhnya.
Kegiatan ilmiyahnya meliputi berbagai lapangan, antara lain logika, jadal ( ilmu berdebat ),

fiqh dan ushulnya, ilmu kalam, filsafat dan tasawuf. Kitab-kitab yang dikarangnya banyak
sekali, berbahasa Arab dan Persi.
Kedudukan Al-Ghazali dalam aliran Asyariyyah sangat penting, karena ia telah meninjau
semua persoalan yang pernah ada dan memberikan pendapat-pendapatnya yang hingga kini
masih dipegangi Ulam-ulama Islam, yang karenanya ia mendapatkan julukan Hujjatul
Islam.
d. As-Sanusy ( 833-895 H / 1427-14990 )
Nama lengkapnya Abu Abdillah bin Muhammad bin Yusuf. Dilahirkan di Tilasam, sebuah
kota di Al-Jazair. Ia belajar pada ayahnya sendiri dan orang-orang lain terkemuka di
negaarnya, kemudian ia melanjutkan pelajaranya di kota Al-Jazair pada seorang alim yang
bernama Abd. Rahman ats-Tsalaby. Ulama Maghrib/ Maroko ini dianggap ia sebagai
pembangun Islam, karena jasa dan karyanya yang banyak dalam lapangan kepercayaan
(aqaid) dan ketuhanan (ilmu Tauhid).
C. Pemikiran Kalam setelah Al Mihnah
Dalam sejarah teologi Islam, al-mihnah mempunyai arti menguji dan mencoba. Al Mihnah
lebih tepat diartikan sebagai test of faith, yaitu pengujian atas keyakinan tentang
kemakhlukan Al Quran serta sangsi-sangsi hukum yang diterima sehubungan dengan
keyakinan tersebut. Dengan kata lain Al-Mihnah adalah pemeriksaan atau pengadilan
terhadap seluruh rakyat, terutama pejabat-pejabat kerajaan dan ulama, khususnya fuqah dan
ahli hadts, agar mengakui doktrin khalq al-qurn (penciptaan Al Quran).
Kebijakan tersebut mulai diberlakukan sejak tahun-tahun terakhir pemerintahan al-Mamun
(198-218 H./ 813-833 M.), al-Mutashim (218-227 H./ 833-842 M.) dan al-Watsiq (227-232
H./ 842-847 M.), hingga baru berakhir sesaat setelah Al-Mutawakkil naik tahta, tersebut telah
menimbulkan keresahan di masyarakat akibat aksi-aksi teror dan sangsi penyiksaan berat
terhadap banyak tokoh Muslim terkemuka.
Bagimana tidak, di belakang para penguasa tersebut, alat-alat kerajaan dan para petinggi
hukum senantiasa siap mengemban tugas investigasi, untuk mencari kesalahan mereka yang
tidak mau tunduk kepada pemerintah, serta menuntut kelompok yang masih ambivalen
(tawaqquf) dalam menyikapi kepercayaan akan doktrin Al-Quran sebagai satu satunya jalan
keimanan yang dijamin oleh negara.
Khalifah al-Mamun sendiri, di tengah-tengah pertikaian paham berbagai kelompok Islam,
memihak kaum Mutazilah melawan kaum Hadits yang dipimpin oleh Ahmad ibn Hanbal
(pendiri mazhab Hanbali, salah satu dari empat mazhab Fiqh). Lebih dari itu, Khalifah alMamun, dilanjutkan oleh penggantinya, Khalifah al-Mutashim, melakukan mihnah
(pemeriksaan paham pribadi, inquisition), dan menyiksa serta menjebloskan banyak orang,
termasuk Ahmad ibn Hanbal, ke dalam penjara.
Salah satu masalah yang diperselisihkan ialah apakah Kalam atau Sabda Allah, berujud alQuran, itu qadim (tak terciptakan karena menjadi satu dengan Hakikat atau Dzat Ilahi)
ataukah hadits (terciptakan, karena berbentuk suara yang dinyatakan dalam huruf dan bahasa
Arab)? Khalifah al-Mamun dan kaum Mutazilah berpendapat bahwa Kalam Allah itu hadits,
sementara ulama yang lain berpendapat al-Quran itu qadim seperti Dzat Allah sendiri.
Mihnah itu memang tidak berlangsung terlalu lama, dan orang pun bebas kembali. Tetapi ia
telah meninggalkan luka yang cukup dalam pada tubuh pemikiran Islam, yang sampai saat

inipun masih banyak dirasakan orang-orang Muslim. Namun jasa al-Mamun dalam
membuka pintu kebebasan berpikir dan ilmu pengetahuan tetap diakui besar sekali dalam
sejarah umat manusia. Maka kekhalifahan al-Mamun (198-218 H/813-833 M), dengan
campuran unsur-unsur positif dan negatifnya, dipandang sebagai salah satu tonggak sejarah
perkembangan pemikiran Islam, termasuk perkembangan Ilmu Kalam, dan juga Falsafah
Islam.
Peristiwa mihna sangat menggoncangkan umat Islam dan baru berakhir setelah al
Mutawakkil (memerintah 847-861), menggantikan al Wasiq (memerintahkan 842-847 M). Di
masa al Mutawakkil dominasi aliran Mutazilah menurun dan semakin menjadi tidak
simpatik di mata masyarakat. Keadaan ini semakin buruk setelah Mutawakkil membatalkan
pemakaian mazhab Mutazilah sebagai mazhab resmi negara dan menggantinya dengaan
aliran Asyariyah.
Akan tetapi meskipun secara definitif telah tersingkir sejak tahun 848 M., Mutazilah mampu
bangkit lagi pada masa-masa kekuasaan Bani Buwayh (945-1055 M.), yang sukses merebut
ibu kota Baghdad dari tangan keluarga Abasiyah. Agaknya tidak terlalu sulit memahami
mengapa Mutazilah dapat meraih perlindungan politiknya kembali di bawah imperium ini.
Sebagaimana pengalaman di masa silam, dimana al-Mamun, seorang khalifah Abbasiyah
yang menganut paham Mutazilah meraih dukungan politis dari kalangan kaum Syiah, maka
kali ini pun dukungan terhadap Mutazilah datang dari keluarga istana Buwayh yang notabene menganut paham Syiah.
Lagi pula, secara kebetulan, pada periode Buwayh ini, Syiah dan Mutazilah tengah
menghadapi tekanan dan pengucilan oleh kelompok besar Suni-Asyariyah yang dianut
mayoritas umat Islam (al-sawd al-adzam) waktu itu, hingga keduanya menjadi kelompok
minoritas yang tidak populer. Orang-orang Mutazilah pun kembali menduduki pos-pos
penting dalam kerajaan, seperti Abu Muhammad Abdullah bin Maruf yang menjadi Hakim
Agung di Baghdad, dan Abd al-Jabbar Ahmad bin Abd al-Jabbar di wilayah Ray.
Majelis-majelis pengkajian keagamaan yang bercorak rasionalistis semakin semarak pula
diselenggarakan. Pada masa Buwayh ini lahir ulama-ulama kenamaan seperti Abubakr alIkhsyari (w. 923 M.), dan Abu Husayn al-Khayyath yang dianggap sebagai nara sumber asli
untuk mengetahui pendapat atau pemikiran madzhab Mutazilah. Di tahun 1055 M. bangsa
Turki Saljuk mengusir Buwayh dari keraton Baghdad.
Namun peralihan pemerintahan tidak menggeser kedudukan Mutazilah dari lingkaran
kekuasaan, khususnya pada masa kesultanan yang pertama, Tughril. Hal ini terjadi karena
sang Wazr (Perdana Menteri) yang bernama al-Kunduri masih tergolong penganut setia
paham Mutazilah. Bahkan atas perintah-perintahnya kala itu banyak pengikut Asyariyah
ditangkap dan dipenjarakan.
Barulah ketika penguasa Saljuk, Alp Arselan (1069-1072 M.) mengangkat Nizm al-Mulk,
seorang pembela Asyariyah yang paling gigih, menggantikan kedudukan al-Kunduri, secara
tragis Mutazilah tersingkir dari percaturan politik, dan tidak pernah lagi mendapat
perlindungan istimewa dari dinasti-dinasti Islam mana pun. Madzhab teologi yang dahulunya
sangat kuat berkat dukungan dari para pemegang kekuasaan ini lambat laun berangsur-angsur
lemah dan menderita kemunduran sangat telak seiring dengan hilangnya koneksi politik.
Kendati demikian, kehancuran Mutazilah ternyata cuma terbatas pada atributnya sebagai
madzhab teologi, sementara semangat dan metoda berfikirnya tidak begitu mudah

dipatahkan. Terbukti, pemikir-pemikir Mutazilah angkatan baru terus bermunculan.


Misalnya di abad ke-12, tercatat al-Zamakhsyari (467-538 H./ 1075-1144 M.) pengarang alKasysyf; sebuah tafsr Mutaziliy yang sangat berpengaruh dan lama menjadi rujukan
golongan Suni.
Memasuki abad ke-20 M. Mutazilah seperti menemukan kembali era kebangkitannya.
Ajaran-ajarannya ditelaah lagi dengan penuh minat di pusat-pusat kajian keislaman. Sehingga
kesalah pahaman terhadap madzhab ini mulai dipandang secara lebih objektif. Kemudian,
atas pengaruh dari Jamaluddin al-Afghani dan Muhammad Abduh dua orang pendekar
modernisme Islam yang utama, keadaan benar-benar telah mulai berubah.
Perkembangan modernitas dan kemajuan iptek terbukti kondusif dengan Mutazilisme ini,
meskipun sampai kini tetap saja tidak ada satu orang atau kelompok pun yang mengaku
secara formal sebagai penerus aliran teologi itu.

BAB IV
ALIRAN-ALIRAN ILMU KALAM DAN DOKTRIN-DOKTRINNYA
A.
1.

Aliran Khowarij
Pengertian
Khowarij secara bahasa diambil dari Bahasa Arab khowaarij, secara harfiah berarti mereka
yang keluar. Istilah khowarij adalah istilah umum yang mencakup sejumlah aliran dalam
islam yang pada awalnya mengakui kekuasaan Ali bin Abi Thalib lalu menolaknya. Pertama
kali muncul pada pertengahan abad ke-7, berpusat di daerah yang kini terletak di bagian
negara Irak Selatan dan merupakan bentuk yang berbeda dari kaum sunni dan syiah. Disebut
atau dinamakan khawarij karena keluarnya mereka dari kepemimpinan Khalifah Ali Bin Abi
Thalib.
Kebanyakan dari kaum Khawarij adalah Arab dusun yang tinggal di kawasan pegunungan
dan karena itu hidup dengan sangat sederhana. Mereka sangat keras hati tetapi amat taat
menjalankan agama. Karena pemikirannya yang sederhana, Khawarij mengartikan Al Quran
benar-benar secara tekstual; tetapi betapapaun beratnya mereka toh melaksanakannya.
Aliran Khawarij dipergunakan oleh kalangan Islam untuk menyebut sekelompok orang yang
keluar dari barisan Ali ibn Abi Thalib r.a. karena kekecewaan mereka terhadap sikapnya yang
telah menerima tawaran tahkim (arbitrase) dari kelompok Muawiyyah yang dikomandoi oleh
Amr ibn Ash dalam Perang Shiffin (37H/657).
2. Latar Belakang

Khawarij lahir dari komponen paling berpangaruh dalam khilafah Ali ra. Yaitu dari tubuh
militer pimpinan Ali ra. sendiri. Pada saat kondisi politik yang makin tidak terkendali dan
dirasa sulit untuk mereda dengan prinsip masing-masing. Maka kubu Muawiyah ra. yang
merasa akan dikalahkan dalam perang syiffin menawarkan untuk mengakhiri perang saudara
itu dengan Tahkim dibawah Al Quran.
Semula Ali ra. tidak menyetujui tawaran ini, dengan prinsip bahwa kakuatan hukum
kekhilafahannya sudah jelas dan tidak dapat dipungkiri. Namun sebagian kecil dari kelompok
militer pimpinannya memaksa Ali ra. menerima ajakan kubu Muawiyah ra. Kelompok ini
terbukti dapat mempengaruhi pendirian Ali ra. Bahkan saat keputusan yang diambil Ali ra.
Untuk mengutus Abdullah bin Abbas ra. menghadapi utusan kubu lawannya Amru bin al-Ash
dalam tahkim, Ali ra. malah mengalah pada nama Abu Musa Al Asyary yang diajukan
kelompok itu menggantikan Abdullah bin Abbas ra.
Anehnya, kelompok ini yang sebelumnya memaksa Ali ra. untuk menyetujui tawaran kubu
Muawiyah ra. Untuk mengakhiri perseteruannya dengan jalan Tahkim. Pada akhirnya setelah
Tahkim berlalu dengan hasil pengangkatan Muawiyah ra. Sebagai khilafah menggantikan Ali
ra. Mereka kemudian menilai dengan sepihak bahwa genjatan senjata dengan cara Tahkim
tidak dapat dibenarkan dan illegal dalam hukum Islam.
Artinya menurut mereka, semua kelompok bahkan setiap individu yang telah mengikuti
proses itu telah melanggar ketentuan syara, karena telah melanggar prinsip dasar bahwa
setiap keputusan berada pada kekuasaan Tuhan (l hukma illa lillh).
Dan sesuai dengan pokok-pokok pemikiran mereka bahwa setiap yang berdosa maka ia telah
kafir, maka mereka menilai bahwa setiap individu yang telah melangar prinsip tersebut telah
kafir, termasuk Ali ra. Sehingga Mereka memaksanya untuk bertobat atas dosanya itu
sebagaimana mereka telah bertobat karena ikut andil dalam proses Tahkim.
Demikian watak dasar kelompok ini, yaitu keras kepala dan dikenal kelompok paling keras
memegang teguh prinsipnya. Inilah yang sebenarnya menjadi penyebab utama lahirnya
kelompok ini. Khawarij adalah kelompok yang didalamnya dibentuk oleh mayoritas orangorang Arab pedalaman (arbu al-bdiyah). Mereka cenderung primitive, tradisional dan
kebanyakan dari golongan ekonomi rendah, namun keadaan ekonomi yang dibawah standar
tidak mendorong mereka untuk meningkatkan pendapatan. Ada sifat lain yang sangat
kontradiksi dengan sifat sebelumnya, yaitu kesederhanaan dan keikhlasan dalam
memperjuangkan prinsip dasar kelompoknya.
Walaupun keikhlasan itu ditutupi keberpihakan dan fanatisme buta. Dengan komposisi seperti
itu, kelompok ini cenderung sempit wawasan dan keras pendirian. Prinsip dasar bahwa
tidak ada hukum, kecuali hukum Tuhan mereka tafsirkan secara dzohir saja.
Bukan hanya itu, sebenarnya ada kepentingan lain yang mendorong dualisme sifat dari
kelompok ini. Yaitu kecemburuan atas kepemimpinan golongan Quraisy. Dan pada saatnya
kemudian Khawarij memilih Abdullh bin Wahab ar-Rsiby yang diluar golongan Quraisy
sebagai khalifah. Bahkan al-Yazidiyah salah satu sekte dalam Khawarij, menyatakan bahwa
Allah sebenarnya juga mengutus seorang Nabi dari golongan Ajam (diluar golongan Arab)
yang kemudian menghapus Syariat Nabi Muhammad SAW.
Nama khawarij diberikan pada kelompok ini karena mereka dengan sengaja keluar dari
barisan Ali ra. dan tidak mendukung barisan Muawiyah ra. namun dari mereka menganggap
bahwa nama itu berasal dari kata dasar kharaja yang terdapat pada QS. An Nisa ; 100. yang

3.

a.
b.
c.

d.

a.
b.

merujuk pada seseorang yang keluar dari rumahnya untuk hijrah di jalan Allah dan RasulNya. Selanjutnya mereka juga menyebut kelompoknya sebagai Syurah yang berasal dari kata
Yasyri (menjual), sebagaimana disebutkan dalam QS. Al Baqarah ; 207. tentang seseorang
yang menjual dirinya untuk mendapatkan ridla Allah. Selain itu mereka juga disebut
Haruriyah yang merujuk pada Harurah sebuah tempat di pinggiran sungai Furat dekat
kota Riqqah. Ditempat ini mereka memisahkan diri dari barisan pasukan Ali ra. saat pulang
dari perang Syiffin.
Kelompok ini juga dikenal sebagai kelompok Muhakkimah. Sebagai kelompok dengan
prinsip dasar l hukma illa lillh.
Doktrin Ajaran
Secara umum, ajaran-ajaran pokok golongan ini adalah kaum muslimin yang berbuat dosa
besar adalah kafir. Kemudian, kaum muslimin yang terlibat dalam perang jamal, yakni perang
antara Aisyiah, Thalhah, dan dan Zubair melawan Ali bin Abi Thalib dihukumi kafir. Kaum
Khawarij memutuskan untuk membunuh mereka berempat tetapi hanya berhasil membunuh
Ali. Menurut mereka Khalifah harus dipilih rakyat serta tidak harus dari keturunan Nabi
Muhammad SAW dan tidak mesti keturunan Quraisy. Jadi, seorang muslim dari golongan
manapun bisa menjadi kholifah asalkan mampu memimpin dengan benar.
Dalam upaya kafir mengkafirkan ini, terdapat suatu golongan yang menolak ajaran kaum
Khawarij yang mengkafirkan orang mukmin yang melakukan dosa besar. Sehingga mereka
membentuk sautu golongan yang menolak ajaran pengkafiran tersebut, golongan ini disebut
dengan golangan Murjiah.
Berikut pokok-pokok doktrin ajaran aliran Khawarij
Setiap ummat Muhammad yang terus menerus melakukan dosa besar hingga matinya belum
melakukan tobat, maka dihukumkan kafir serta kekal dalam neraka.
Membolehkan tidak mematuhi aturan-aturan kepala negara, bila kepala negara tersebut
khianat dan zalim.
Ada faham bahwa amal soleh merupakan bagian essensial dari iman. Oleh karena itu, para
pelaku dosa besar tidak bisa lagi disebut muslim, tetapi kafir. Dengan latar belakang watak
dan karakter kerasnya, mereka selalu melancarkan jihad (perang suci) kepada pemerintah
yang berkuasa dan masyarakat pada umumnya.
Keimanan itu tidak diperlukan jika masyarakat dapat menyelesaikan masalahnya sendiri.
Namun demikian, karena pada umumnya manusia tidak bisa memecahkan masalahnya, kaum
Khawarij mewajibkan semua manusia untuk berpegang kepada keimanan, apakah dalam
berfikir, maupun dalam segala perbuatannya. Apabila segala tindakannya itu tidak didasarkan
kepada keimanan, maka konsekwensinya dihukumkan kafir.
Dengan mengutip beberapa ayat Al-Quran, mereka berusaha untuk mempropagandakan
pemikiran-pemikiran politis yang berimplikasi teologis itu, sebagaimana tercermin di bawah
ini :
Mengakui kekhalifahan Abu Bakar dan Umar; sedangkan Usman dan Ali, juga orang-orang
yang ikut dalam Perang Unta, dipandang telah berdosa.
Dosa dalam pandangan mereka sama dengan kekufuran. Mereka mengkafirkan setiap pelaku
dosa besar apabila ia tidak bertobat. Dari sinilah muncul term kafir dalam faham kaum
Khawarij.

c.

Khalifah tidak sah, kecuali melalui pemilihan bebas diantara kaum muslimin. Oleh
karenanya, mereka menolak pandangan bahwa khalifah harus dari suku Quraisy.
d. Ketaatan kepada khalifah adalah wajib, selama berada pada jalan keadilan dan kebaikan.
Jika menyimpang, wajib diperangi dan bahkan dibunuhnya.
e. Mereka menerima Al Quran sebagai salah satu sumber diantara sumber-sumber hukum
Islam.
f. Khalifah sebelum Ali (Abu Bakar, Umar, dan Ustman) adalah sah, tetapi setelah tahun ke-7
kekhalifahannya Utsman r.a. dianggap telah menyeleweng.
g. Khalifah Ali adalah sah, tetapi setelah terjadi arbitras (tahkim) ia dianggap telah
menyeleweng.
h. Muawiyah dan Amr bin Al-Asy dan Abu Musa Al-Asyari juga dianggap menyeleweng dan
telah menjadi kafir.
Selain pemikiran-pemikiran politis yang berimplikasi teologis, kaum Khawarij juga memiliki
pandangan atau pemikiran (doktrin-doktrin) dalam bidang sosial yang berorientasi pada
teologi, sebagaimana tercermin dalam pemikiran-pemikiran sebagai berikut :
a. seorang yang berdosa besar tidak lagi disebut muslim, sehingga harus dibunuh. Yang sangat
anarkis lagi, mereka menganggap seorang muslim bisa menjadi kafir apabila tidak mau
membunuh muslim lain yang telah dianggap kafir dengan resiko ia menanggung beban harus
dilenyapkan pula.
b. Setiap muslim harus berhijrah dan bergabung dengan golongan mereka, bila tidak ia wajib
diperangi karena dianggap hidup di negara musuh, sedangkan golongan mereka dianggap
berada dalam negeri islam,
c. Seseorang harus menghindar dari pimpinan yang menyeleweng,
d. Adanya waad dan waid (orang yang baik harus masuk kedalam surga, sedangkan orang
yang jahat harus masuk neraka),
e. Amar maruf nahi munkar,
f. Manusia bebas memutuskan perbuatannya bukan dari tuhan,
g. Quran adalah makhluk,
h. Memalingkan ayat-ayat Al Quran yang bersifat mutasyabihat (samar)
Jadi secara umum pokok ajaran aliran Khawarij adalah
a. Orang Islam yang melakukan Dosa besar adalah kafir; dan harus di bunuh.
b. Orang-orang yang terlibat dalam perang jamal (perang antara Aisyah, Talhah, dan zubair,
dengan Ali bin abi tahAlib) dan para pelaku tahkimtermasuk yang menerima dan
mambenarkannya di hukum kafir;
c. Khalifah harus dipilih langsung oleh rakyat.
d. Khalifah tidak harus keturunan Arab. Dengan demikian setiap orang muslim berhak menjadi
Khalifah apabila suda memenuhi syarat-syarat.
e. Khalifah di pilih secara permanen selama yang bersangkutan bersikap adil dan menjalankan
syariat islam, dan di jatuhi hukuman bunuh bila zhalim.
f. Khalifah sebelum Ali adalah sah, tetapi setelah tahun ke tujuh dari masa kekhalifahannya
Usman r.a dianggap telah menyeleweng,
g. Khalifah Ali dianggap menyelewang setelah terjadi Tahkim (Arbitrase).
4. Tokoh
a. 'Abdullah bin Wahhab ar-Rasyidi

b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.

Urwah bin Hudair


Mustarid bin Sa'ad
Hausarah al-Asadi
Quraib bin Maruah
Nafi' bin al-Azraq
'Abdullah bin Basyir
Najdah bin Amir al-Hanafi
5. Sekte
Munculnya banyak cabang dan sekte Khawarij ini diakibatkan banyaknya perbedaan dalam
bidang akidah yang mereka anut dan banyaknya nama yang mereka pergunakan sejalan
dengan perbedaan akidah mereka yang beraneka ragam itu. Asy-syakah menyebutkan
adanya delapan firqah besar, dan firqah-firqah ini terbagi lagi menjadi firqah-firqah kecil
yang jumlahnya sangat banyak. Perpecahan ini menyebabkan gerakan kaum Khawarij lemah,
sehingga mereka tidak mampu menghadapi kekuatan militer Bani Umayyah yang
berlangsung bertahun-tahun.
Menurut Prof. Taib Thahir Abdul Muin, bahwa sebenarnya ada dua golongan utama yang
terdapat dalam aliran Khawarij, yakni :
a. Sekte Al-Azariqoh
Nama ini diambil dari Nafi Ibnu Al-Azraq, pemimpin utamanya, yang memiliki pengikut
sebanyak dua puluh ribu orang. Di kalangan para pengikutnya, Nafi digelari amir almukminin. Golongan al-azariqoh dipandang sebagai sekte yang besar dan kuat di
lingkungan kaum Khawarij.
Dalam pandangan teologisnya, Al-Azariqoh tidak menggunakan term kafir, tetapi
menggunakan term musyrik atau politeis. Yang dipandang musyrik adalah semua orang yang
tidak sepaham dengan ajaran mereka. Bahkan, orang Islam yang tidak ikut hijrah kedalam
lingkungannya, dihukumkan musyrik.
Karena kemusyrikannya itu, kaum ini membolehkan membunuh anak-anak dan istri yang
bukan golongan Al-Azariqoh. Golongan ini pun membagi daerah kekuasaan, yakni dar alIslam dan dar al-kufur. Dar al-Islam adalah daerah yang dikuasai oleh mereka, dan
dipandang sebagai penganut Islam sebenarnya. Sedangkan Dar al-Kufur merupakan suatu
wilayah atau negara yang telah keluar dari Islam, karena tidak sefaham dengan mereka dan
wajib diperangi.
b. Sekte Al-Ibadiah
Golongan ini merupakan golongan yang paling moderat dari seluruh sekte Khawarij. Nama
golongan ini diambnil dari Abdullah Ibnu Ibad, yang pada tahun 686 M. memisahkan diri dari
golongan Al-Azariqoh.
Adapun faham-fahamnya yang dianggap moderat itu, antara lain :
1) Orang Islam yang tidak sepaham dengan mereka bukanlah mukmin dan bukan pula musyrik,
tetapi kafir. Orang Islam demikian, boleh mengadakan hubungan perkawinan dan hukum
waris. Syahadat mereka diterima, dan membunuh mereka yang tidak sefaham dihukumkan
haram.
2) Muslim yang melakukan dosa besar masih dihukumkan muwahid, meng-esa-kan Tuhan,
tetapi bukan mukmin. Dan yang dikatakan kafir, bukanlah kafir agama, tetapi kafir akan
nikmat. Oleh karenanya, orang Islam yang melakukan dosa besar tidak berartyi sudah keluar
dari Islam.

3) Harta kekayaan hasil rampasan perang yang boleh diambil hanyalah kuda dan senjata.
Sedangkan harta kekayaan lainnya, seperti emas dan perak, harus dikembalikan kepada
pemiliknya.
4) Daerah orang Islam yang tidak sefaham dengan mereka, masih merupakan dar at-tauhid,
dan tidak boleh diperangi.
B. Aliran Murjiah
1. Pengertian
Kata Murjiah berasal dari kata bahasa Arab arjaa, yarjiu, yang berarti menunda atau
menangguhkan. Salah satu aliran teologi Islam yang muncul pada abad pertama Hijriyah.
Pendirinya tidak diketahui dengan pasti, tetapi Syahristani menyebutkan dalam bukunya AlMilal wa an-Nihal (buku tentang perbandingan agama serta sekte-sekte keagamaan dan
filsafat) bahwa orang pertama yang membawa paham Murjiah adalah Gailan ad-Dimasyqi.
Aliran ini disebut Murjiah karena dalam prinsipnya mereka menunda penyelesaian persoalan
konflik politik antara Ali bin Abi Thalib, Muawiyah bin Abi Sufyan dan Khawarij ke hari
perhitungan di akhirat nanti. Karena itu mereka tidak ingin mengeluarkan pendapat tentang
siapa yang benar dan siapa yang dianggap kafir diantara ketiga golongan yang tengah bertikai
tersebut. Menurut pendapat lain, mereka disebut Murjiah karena mereka menyatakan bahwa
orang yang berdosa besar tetap mukmin selama masih beriman kepada Allah SWT dan rasulNya. Adapun dosa besar orang tersebut ditunda penyelesaiannya di akhirat. Maksudnya,
kelak di akhirat baru ditentukan hukuman baginya.
Persoalan yang memicu Murjiah untuk menjadi golongan teologi tersendiri berkaitan dengan
penilaian mereka terhadap pelaku dosa besar. Menurut penganut paham Murjiah, manusia
tidak berhak dan tidak berwenang untuk menghakimi seorang mukmin yang melakukan dosa
besar, apakah mereka akan masuk neraka atau masuk surga. Masalah ini mereka serahkan
kepada keadilan Tuhan kelak. Dengan kata lain mereka menunda penilaian itu sampai hari
pembalasan tiba.
Paham kaum Murjiah mengenai dosa besar berimplikasi pada masalah keimanan seseorang.
Bagi kalangan Murjiah, orang beriman yang melakukan dosa besar tetap dapat disebut orang
mukmin, dan perbuatan dosa besar tidak mempengaruhi kadar keimanan. Alasannya,
keimanan merupakan keyakinan hati seseorang dan tidak berkaitan dengan perkataan ataupun
perbuatan. Selama seseorang masih memiliki keimanan didalam hatinya, apapun perbuatan
atau perkataannya, maka ia tetap dapat disebut seorang mukmin, bukan kafir. Murjiah
mengacu kepada segolongan sahabat Nabi SAW, antara lain Abdullah bin Umar, Saad bin
Abi Waqqas, dan Imran bin Husin yang tidak mau melibatkan diri dalam pertentangan politik
antara Usman bin Affan (khalifah ke-3; w. 656) dan Ali bin Abi Thalib (khalifah ke-4; w.
661).

2. Latar Belakang
Munculnya aliran ini di latar belakangi oleh persoalan politik, yaitu persoalan khilafah
(kekhalifahan). Setelah terbunuhnya Khalifah Usman bin Affan, umat Islam terpecah
kedalam dua kelompok besar, yaitu kelompok Ali dan Muawiyah. Kelompok Ali lalu
terpecah pula kedalam dua golongan, yaitu golongan yang setia membela Ali (disebut Syiah)
dan golongan yang keluar dari barisan Ali (disebut Khawarij). Ketika berhasil mengungguli

dua kelompok lainnya, yaitu Syiah dan Khawarij, dalam merebut kekuasaan, kelompok
Muawiyah lalu membentuk Dinasti Umayyah. Syiah dan Khawarij bersama-sama
menentang kekuasaannya. Syiah menentang Muawiyah karena menuduh Muawiyah
merebut kekuasaan yang seharusnya milik Ali dan keturunannya. Sementara itu Khawarij
tidak mendukung Muawiyah karena ia dinilai menyimpang dari ajaran Islam. Dalam
pertikaian antara ketiga golongan tersebut terjadi saling mengafirkan. Di tengah-tengah
suasana pertikaian ini muncul sekelompok orang yang menyatakan diri tidak ingin terlibat
dalam pertentangan politik yang terjadi. Kelompok inilah yang kemudian berkembang
menjadi golongan Murjiah.
Dalam perkembanganya, golongan ini ternyata tidak dapat melepaskan diri dari persoalan
teologis yang muncul di zamannya. Waktu itu terjadi perdebatan mengenai hukum orang
yang berdosa besar. Kaum Murjiah menyatakan bahwa orang yang berdosa besar tidak dapat
dikatakan sebagai kafir selama ia tetap mengakui Allah SWT sebagai Tuhannya dan
Muhammad SAW sebagai rasul-Nya. Pendapat ini merupakan lawan dari pendapat kaum
Khawarij yang mengatakan bahwa orang Islam yang berdosa besar hukumnya adalah kafir.
Golongan Murjiah berpendapat bahwa yang terpenting dalam kehidupan beragama adalah
aspek iman dan kemudian amal. Jika seseorang masih beriman berarti dia tetap mukmin,
bukan kafir, kendatipun ia melakukan dosa besar. Adapun hukuman bagi dosa besar itu
terserah kepada Tuhan, akan ia ampuni atau tidak. Pendapat ini menjadi doktrin ajaran
Murjiah.
3. Doktrin Ajaran
Doktrin-doktrin aliran Murjiah bisa diketahui dari makna yang terkandung dalam
murjiah dan dalam sikap netralnya. Pandangan netral tersebut, nampak pada penamaan
aliran ini yang berasal dari kata arjaa, yang berarti orang yang menangguhkan,
mengakhirkan dan memberi pengharapan. Menangguhkan berarti menunda soal siksaan
seseorang ditangan Tuhan, yakni jika Tuhan mau memaafkan, dia akan langsung masuk
surga. Jika sebaliknya, maka akan disiksa sesuai dengan dosanya.
Istilah memberi harapan mengandung arti bahwa, orang yang melakukan maksiat padahal
ia seorang mukmin, imannya masih tetap sempurna. Sebab, perbuatan maksiat tidak
mendatangkan pengaruh buruk terhadap keimanannya, sebagaimana halnya perbuatan taat
atau baik yang dilakukan oleh orang kafir, tidak akan mendatangkan faedah terhadap
kekufurannya. Mereka berharap bahwa seorang mukmin yang melakukan maksiat, ia masih
dikatakan mukmin.
Menurut Harun Nasution menyebutkan, bahwa Murjiah memiliki empat ajaran pokok, yaitu
:
a. Menunda hukuman atas Ali, Muawiyah, Amr bin Ash, dan Abu Musa Al-Asyari yang
terlibat tahkim dan menyerahkannya kepada Allah di hari kiamat kelak.
b. Menyerahkan keputusan kepada Allah atas orang muslim yang berdosa besar.
c. Meletakkan (pentingnya) iman dari amal.
d. Memberikan pengharapan kepada muslim yang berdosa besar untuk memperoleh ampunan
dan rahmat dari Allah.
4. Tokoh
a. Abu Hasan Ash-Shalihi
b. Yunus bin An-Namiri

c. Ubaid Al-Muktaib
d. Ghailan Ad-Dimasyq
e. Bisyar Al-Marisi
f. Muhammad bin Karram
5. Sekte
Kaum Murjiah pecah menjadi beberapa golongan kecil. Namun, pada umumnya Aliran
Murjiah menurut Harun Nasutuion, terbagi kepada dua golongan besar, yakni golongan
moderat dan golongan ekstrim.
a. Golongan Murjiah moderat berpendapat bahwa orang yang berdosa besar bukanlah kafir
dan tidak kekal dalam neraka, tetapi akan di hukum sesuai dengan besar kecilnya dosa yang
dilakukan.
b. Golongan Murjiah ekstrim, yaitu pengikut Jaham Ibnu Sofwan, berpendapat bahwa orang
Islam yang percaya kepada Tuhan kemudian menyatakan kekufuran secara lisan, tidaklah
menjadi kafir, karena iman dan kufur tempatnya dalam hati. Bahkan, orang yang menyembah
berhala, menjalankan agama Yahudi dan Kristen sehingga ia mati, tidaklah menjadi kafir.
Orang yang demikian, menurut pandangan Allah, tetap merupakan seorang mukmin yang
sempurna imannya.
Golongan ekstrim dalam Murjiah terbagi menjadi empat kelompok, yaitu :
1) Al-Jahmiyah, kelompok Jahm bin Syafwan dan para pengikutnya, berpandangan bahwa
orang yang percaya kepada tuhan kemudian menyatakan kekufuran secara lisan, tidaklah
menjadi kafir karena iman dan kufur itu bertempat di dalam hati bukan pada bagian lain
dalam tubuh manusia.
2) Shalihiyah, kelompok Abu Hasan Ash-Shalihi, berpendapat bahwa iman adalah mengetahui
tuhan, sedangkan kufur tidak tahu tuhan. Sholat bukan merupakan ibadah kepada Allah, yang
disebut ibadah adalah iman kepada-Nya dalam arti mengetahui tuhan. Begitu pula zakat,
puasa dan haji bukanlah ibadah, melainkan sekedar menggambarkan kepatuhan.
3) Yumusiah dan Ubaidiyah, melontarkan pernyataan bahwa melakukan maksiat atau perbuatan
jahat tidaklah merusak iman seseorang. Mati dalam iman, dosa-dosa dan perbuatan jahat yang
dikerjakan tidaklah merugikan orang yang bersangkutan. Dalam hal ini Muqatil bin Sulaiman
berpendapat bahwa perbuatan jahat, banyak atau sedikit tidak merusak iman seseorang
sebagai musyrik.
4) Hasaniyah, jika seseorang mengatakan saya tahu Tuhan melarang makan babi, tetapi saya
tidak tahu apakah babi yang diharamkan itu adalah kambing ini, maka orang tersebut tetap
mukmin, bukan kafir

C.
1.

Aliran Syiah
Pengertian
Istilah Syi'ah berasal dari kata Bahasa Arab Sy`ah. Bentuk tunggal dari kata ini adalah Sy`.
Syi'ah adalah bentuk pendek dari kalimat bersejarah Syi`ah `Ali artinya "pengikut Ali", yang
berkenaan tentang Q.S. Al-Bayyinah ayat khoirulbariyyah, saat turunnya ayat itu Nabi SAW
bersabda: "Wahai Ali, kamu dan pengikutmu adalah orang-orang yang beruntung" (ya Ali
anta wa syi'atuka humulfaaizun)
Syi'ah menurut etimologi bahasa Arab bermakna: pembela dan pengikut seseorang. Selain itu
juga bermakna: Setiap kaum yang berkumpul di atas suatu perkara.

Adapun menurut terminologi syariat bermakna: Mereka yang menyatakan bahwa Ali bin Abu
Thalib sangat utama di antara para sahabat dan lebih berhak untuk memegang tampuk
kepemimpinan kaum muslimin, demikian pula anak cucu sepeninggal beliau.
Muslim Syi'ah percaya bahwa Keluarga Muhammad (yaitu para Imam Syi'ah) adalah sumber
pengetahuan terbaik tentang Qur'an dan Islam, guru terbaik tentang Islam setelah Nabi
Muhammad, dan pembawa serta penjaga tepercaya dari tradisi Sunnah.
Secara khusus, Muslim Syi'ah berpendapat bahwa Ali bin Abi Thalib, yaitu sepupu dan
menantu Muhammad dan kepala keluarga Ahlul Bait, adalah penerus kekhalifahan setelah
Nabi Muhammad, yang berbeda dengan khalifah lainnya yang diakui oleh Muslim Sunni.
Muslim Syi'ah percaya bahwa Ali dipilih melalui perintah langsung oleh Nabi Muhammad,
dan perintah Nabi berarti wahyu dari Allah.
Perbedaan antara pengikut Ahlul Bait dan Abu Bakar menjadikan perbedaan pandangan yang
tajam antara Syi'ah dan Sunni dalam penafsiran Al Quran , Hadits, mengenai Sahabat, dan
hal-hal lainnya. Sebagai contoh perawi Hadits dari Muslim Syi'ah berpusat pada perawi dari
Ahlul Bait, sementara yang lainnya seperti Abu Hurairah tidak dipergunakan.
Tanpa memperhatikan perbedaan tentang khalifah, Syi'ah mengakui otoritas Imam Syi'ah
(juga dikenal dengan Khalifah Ilahi) sebagai pemegang otoritas agama, walaupun sekte-sekte
dalam Syi'ah berbeda dalam siapa pengganti para Imam dan Imam saat ini.
2. Latar Belakang
Mengenai latar belakng munculnya aliran Syiah, terdapat dua pendapat ;
a. Menurut Abu Zahrah
Syiah mulai muncul pada akhir dari masa jabatan Usman bin Affan kemudian tumbuh dan
berkembang pada masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib, Adapun
b. Menurut Mongomary Watt
Syiah muncul ketika berlangsung peperangan antara Ali dan Muawiyah yang dikenal
denganPerang siffin. Dalam peperangan ini, sebagai respon atas penerimaan ali terhadap
arbitrase yang diatwarkan Muawiyah, pasukan Ali di ceritakan terpecah menjadi dua, satu
kelompok mendukung sikap Ali, kelak di sebut Syiah dan kelompok lain menolak sikap Ali,
kelak di sebut Khawarij.
Secara historis, akar aliran Syiah terbentuk segera setelah kematian Nabi Muhammad, yakni
ketika Abu Bakar terpilih sebagai khalifah pertama pada pertemuan tsaqifah yang
diselenggarakan di Dar al-Nadwa, di Madinah. Pemilihan tersebut dilaksanakan secara
tergesa-gesa sebagai wujud persaingan antara kelompok Anshar dan Muhajirin yang sempat
mengancam perpecahan Islam. Dalam pertemuan itu Ali tidak hadir karena sibuk mengurus
jenazah Nabi. Pada waktu itu usia Ali 30 tahun, di mana bangsa Arab menjadikan usia
sebagai syarat penting kecakapan dalam kepemimpinan, meskipun secara historis terdapat
sejumlah pengecualian akan hal tersebut. Tetapi pengikut Ali, pada saat itu, merasa bahwa
klaim mereka telah direbut secara tidak adil.
Selanjutnya Umar ditunjuk oleh Abu Bakar sebagai penggantinya, menjadi khalifah kedua
yang kemudian dilanjutkan oleh Usman. Setelah Usman terbunuh oleh pemberontak yang
mengatasnamakan diri mereka sebagai anti depotisme keluarga Umayah, Ali kemudian
diangkat menjadi khalifah keempat pada tahun 35H/656M.
Perjalanan sejarah menunjukkan bahwa peristiwa pembunuhan khalifah ke-3 Usman Bin
Affan, telah melahirkan rentetan sejarah yang sangat panjang dan membawa dampak pada

3.

a.
b.
c.
d.
e.

khalifah setelahnya, Ali bin Abi Thalib. Di antaranya adalah penolakan Muawiyah, gubernur
Damaskus atas Kekhalifahan Ali bin Abi Thalib, dengan alasan bahwa Ali tidak melakukan
pengusutan terhadap pembunuhan Usman. Ketegangan antara Ali dan Muawiyah ini
berbuntut dengan terjadinya perang Siffin yang berakhir dengan peristiwa arbitrase (tahkim),
yang dianggap sebagai titik temu penyelesaian persengketaan yang terjadi antara khalifah
(Ali Bin Abi Thalib) dengan Muawiyah.
Namun peristiwa itu justru melahirkan berbagai reaksi dan aksi, seiring dengan tidak bisanya
menyatukan pemikiran dan pendapat dari masing-masing kelompok. Pada akhirnya membuat
umat menjadi bagian-bagian (firqah-firqah). Sejarah mencatat, bermula dari perpecahan
politik ini, pada kelanjutannya melahirkan aliran-aliran teologi dalam Islam.
Aliran yang paling terkenal dengan peristiwa ini adalah Khawarij yang muncul sebagai
pasukan yang keluar dari barisan Ali atau memisahkan diri sebagai bentuk protes terhadap
keputusan Ali dan pada saat yang bersamaan juga muncul satu golongan yang tetap setia
mendukung Ali bin Abi Thalib, yang pada berikutnya terkenal dengan nama Syiah, yang
dalam perekembangnya hadir sebagai sebuah aliran yang memiliki konsep dan ajaran
tersendiri.
Dalam perkembangannya, Syiah dapat diterima oleh banyak kalangan namun dengan banyak
perbedaan dan perpecahan yang melahirkan sekte yang tidak sedikit dalam Syiah itu sendiri.
Tetapi sekalipun Syiah terpecah kepada beragam sekte, namun mereka mempunyai
keyakinan yang sama pada umumnya, yang merupakan ciri Syiah secara menyeluruh.
Doktrin Ajaran
Dalam Syi'ah terdapat apa yang namanya ushuluddin (pokok-pokok agama) dan furu'uddin
(masalah penerapan agama). Syi'ah memiliki Lima Ushuluddin:
Tauhid, bahwa Allah SWT adalah Maha Esa.
Al-Adl, bahwa Allah SWT adalah Maha Adil.
An-Nubuwwah, bahwa kepercayaan Syi'ah meyakini keberadaan para nabi sebagai
pembawa berita dari Tuhan kepada umat manusia
Al-Imamah, bahwa Syiah meyakini adanya imam-imam yang senantiasa memimpin umat
sebagai penerus risalah kenabian.
Al-Ma'ad, bahwa akan terjadinya hari kebangkitan.
Dimensi ini merupakan sekumpulan ayat-ayat dalam Al Quran yang menginformasikan
bahwa Allah maha kuasa menciptakan segala sesuatu termasuk menciptakan Takdir.
Dialah Yang Awal dan Yang Akhir ,Yang Zhahir dan Yang Bathin [QS. Al Hadid (57) :3].
Allah tidak terikat ruang dan waktu, bagi-Nya tidak memerlukan apakah itu masa lalu, kini
atau akan datang). Dimensi ketuhanan ini merupakan sekumpulan ayat-ayat dalam Al Quran
yang menginformasikan bahwa Allah maha kuasa menciptakan segala sesuatu termasuk
menciptakan Takdir.
Dialah Yang Awal dan Yang Akhir ,Yang Zhahir dan Yang Bathin [QS. Al Hadid (57) :3].
Allah tidak terikat ruang dan waktu, bagi-Nya tidak memerlukan apakah itu masa lalu, kini
atau akan datang). Dia (Allah) telah menciptakan segala sesuatu dan sungguh telah
menetapkannya (takdirnya) [QS. Al-Furqaan (25) :2] Apakah kamu tidak tahu bahwa Allah
mengetahui segala sesuatu yang ada di langit dan bumi. Sesungguhnya itu semua telah ada
dalam kitab, sesungguhnya itu sangat mudah bagi Allah [QS. Al-Hajj (22) :70] Dia
menciptakan apa yang dikehendaki-Nya [QS. Al-Maa'idah (5) :17] Kalau Dia (Allah)

menghendaki maka Dia memberi petunjuk kepadamu semuanya [QS. Al-An'am (6) :149]
Allah menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat [QS. As-Safat (37) :96] Dan hanya
kepada Allah-lah kesudahan segala urusan [QS. Luqman (31) :22]. Allah yang menentukan
segala akibat. Dia (Allah) telah menciptakan segala sesuatu dan sungguh telah
menetapkannya (takdirnya) [QS. Al-Furqaan (25) :2]Apakah kamu tidak tahu bahwa Allah
mengetahui segala sesuatu yang ada di langit dan bumi. Sesungguhnya itu semua telah ada
dalam kitab, sesungguhnya itu sangat mudah bagi Allah [QS. Al-Hajj (22) :70] Dia
menciptakan apa yang dikehendaki-Nya [QS. Al-Maa'idah (5) :17] Kalau Dia (Allah)
menghendaki maka Dia memberi petunjuk kepadamu semuanya [QS. Al-An'am (6) :149]
Allah menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat [QS. As-Safat (37) :96] Dan hanya
kepada Allah-lah kesudahan segala urusan [QS. Luqman (31) :22]. Allah yang menentukan
segala akibat. nabi sama seperti muslimin lain.
Itikadnya tentang kenabian ialah:
a. Jumlah nabi dan rasul Allah ada 124.000.
b. Nabi dan rasul terakhir ialah Nabi Muhammad SAW.
c. Nabi Muhammad SAW suci dari segala aib dan tiada cacat apa pun. Ialah nabi paling utama
dari seluruh Nabi yang ada.
d. Ahlul Baitnya, yaitu Ali, Fatimah, Hasan, Husain dan 9 Imam dari keturunan Husain adalah
manusia-manusia suci.
e. Al Quran ialah mukjizat kekal Nabi Muhammad SAW.
4. Tokoh
a. Abu Dzar al Ghiffari
b. Miqad bin Al aswad
c. Ammar bin Yasir
5. Sekte
Syi'ah terpecah menjadi 22 sekte. Dari 22 sekte itu, hanya tiga sekte yang masih ada sampai
sekarang, yakni:
a. Dua Belas Imam
Disebut juga Imamiah atau Itsna 'Asyariah (Dua Belas Imam); dinamakan demikian sebab
mereka percaya yang berhak memimpin muslimin hanya imam, dan mereka yakin ada dua
belas imam. Aliran ini adalah yang terbesar di dalam Syiah. Urutan imam mereka yaitu:
1)
Ali bin Abi Thalib (600-661), juga dikenal dengan Amirul Mukminin
2)
Hasan bin Ali (625-669), juga dikenal dengan Hasan al-Mujtaba
3)
Husain bin Ali (626-680), juga dikenal dengan Husain asy-Syahid
4)
Ali bin Husain (658-713), juga dikenal dengan Ali Zainal Abidin
5)
Muhammad bin Ali (676-743), juga dikenal dengan Muhammad al-Baqir
6)
Jafar bin Muhammad (703-765), juga dikenal dengan Ja'far ash-Shadiq
7)
Musa bin Ja'far (745-799), juga dikenal dengan Musa al-Kadzim
8) Ali bin Musa (765-818), juga dikenal dengan Ali ar-Ridha
9)
Muhammad bin Ali (810-835), juga dikenal dengan Muhammad al-Jawad atau Muhammad
at Taqi
10) Ali bin Muhammad (827-868), juga dikenal dengan Ali al-Hadi
11) Hasan bin Ali (846-874), juga dikenal dengan Hasan al-Asykari
12) Muhammad bin Hasan (868-), juga dikenal dengan Muhammad al-Mahdi

b. Ismailiyah
Disebut juga Tujuh Imam; dinamakan demikian sebab mereka percaya bahwa imam hanya
tujuh orang dari 'Ali bin Abi Thalib, dan mereka percaya bahwa imam ketujuh ialah Isma'il.
Urutan imam mereka yaitu:
1) Ali bin Abi Thalib (600-661), juga dikenal dengan Amirul Mukminin
2) Hasan bin Ali (625-669), juga dikenal dengan Hasan al-Mujtaba
3) Husain bin Ali (626-680), juga dikenal dengan Husain asy-Syahid
4) Ali bin Husain (658-713), juga dikenal dengan Ali Zainal Abidin
5) Muhammad bin Ali (676-743), juga dikenal dengan Muhammad al-Baqir
6) Ja'far bin Muhammad bin Ali (703765), juga dikenal dengan Ja'far ash-Shadiq
7) Ismail bin Ja'far (721 755), adalah anak pertama Ja'far ash-Shadiq dan kakak Musa alKadzim.
c. Zaidiyah
Disebut juga Lima Imam; dinamakan demikian sebab mereka merupakan pengikut Zaid bin
'Ali bin Husain bin 'Ali bin Abi Thalib. Mereka dapat dianggap moderat karena tidak
menganggap ketiga khalifah sebelum 'Ali tidak sah. Urutan imam mereka yaitu:
1) Ali bin Abi Thalib (600661), juga dikenal dengan Amirul Mukminin
2) Hasan bin Ali (625669), juga dikenal dengan Hasan al-Mujtaba
3) Husain bin Ali (626680), juga dikenal dengan Husain asy-Syahid
4) Ali bin Husain (658713), juga dikenal dengan Ali Zainal Abidin
5) Zaid bin Ali (658740), juga dikenal dengan Zaid bin Ali asy-Syahid, adalah anak Ali bin
Husain dan saudara tiri Muhammad al-Baq
D. Aliran Jabariyah
1. Pengertian
Secara bahasa Jabariyah berasal dari kata jabara yang mengandung pengertian memaksa. Di
dalam kamus Munjid dijelaskan bahwa nama Jabariyah berasal dari kata jabara yang
mengandung arti memaksa dan mengharuskannya melakukan sesuatu. Salah satu sifat dari
Allah adalah al-Jabbar yang berarti Allah Maha Memaksa. Sedangkan secara istilah
Jabariyah adalah menolak adanya perbuatan dari manusia dan menyandarkan semua
perbuatan kepada Allah. Dengan kata lain adalah manusia mengerjakan perbuatan dalam
keadaan terpaksa (majbur).
Menurut Harun Nasution Jabariyah adalah paham yang menyebutkan bahwa segala perbuatan
manusia telah ditentukan dari semula oleh Qadha dan Qadar Allah. Maksudnya adalah bahwa
setiap perbuatan yang dikerjakan manusia tidak berdasarkan kehendak manusia, tapi
diciptakan oleh Tuhan dan dengan kehendak-Nya, di sini manusia tidak mempunyai
kebebasan dalam berbuat, karena tidak memiliki kemampuan. Ada yang mengistilahlkan
bahwa Jabariyah adalah aliran manusia menjadi wayang dan Tuhan sebagai dalangnya.
Menurut catatan sejarah, paham jabariyah ini di duga telah ada sejak sebalum agama Islam
datangke masyarakat arab. Kehidupan bangsa arab yang diliputi oleh gurun pasir sahara telah
memberikan pengaruh besar terhadap hidup mereka, dengan keadaan yang sangat tidak
bersahabat dengan mereka pada waktu itu. Hal ini kemudian mendasari mereka untuk tidak
bisa berbuat apa-apa, dan menyebankan mereka semata-mata tunduk dan patuh kepada
kehendak tuhan.

2. Latar Belakang
Adapun mengenai latar belakang lahirnya aliran Jabariyah tidak adanya penjelelasan yang
sarih. Abu Zahra menuturkan bahwa paham ini muncul sejak zaman sahabat dan masa Bani
Umayyah. Ketika itu para ulama membicarakan tentang masalah Qadar dan kekuasaan
manusia ketika berhadapan dengan kekuasaan mutlak Tuhan. Adapaun tokoh yang
mendirikan aliran ini menurut Abu Zaharah dan al-Qasimi adalah Jahm bin Safwan, yang
bersamaan dengan munculnya aliran Qadariayah.
Pendapat yang lain mengatakan bahwa paham ini diduga telah muncul sejak sebelum agama
Islam datang ke masyarakat Arab. Kehidupan bangsa Arab yang diliputi oleh gurun pasir
sahara telah memberikan pengaruh besar dalam cara hidup mereka. Di tengah bumi yang
disinari terik matahari dengan air yang sangat sedikit dan udara yang panas ternyata dapat
tidak memberikan kesempatan bagi tumbuhnya pepohonan dan suburnya tanaman, tapi yang
tumbuh hanya rumput yang kering dan beberapa pohon kuat untuk menghadapi panasnya
musim serta keringnya udara.
Harun Nasution menjelaskan bahwa dalam situasi demikian masyatalkat arab tidak melihat
jalan untuk mengubah keadaan disekeliling mereka sesuai dengan kehidupan yang
diinginkan. Mereka merasa lemah dalam menghadapi kesukaran-kesukaran hidup. Artinya
mereka banyak tergantung dengan Alam, sehingga menyebabakan mereka kepada paham
fatalisme.
3. Doktrin Ajaran
Adapun ajaran-ajaran Jabariyah dapat dibedakan berdasarkan menjadi dua kelompok, yaitu
ekstrim dan moderat.
a. Aliran ekstrim.
Diantara tokoh adalah Jahm bin Shofwan dengan pendaptnya adalah bahwa manusia tidak
mempu untuk berbuat apa-apa. Ia tidak mempunyai daya, tidak mempunyai kehendak sendiri,
dan tidak mempunyai pilihan. Pendapat Jahm tentang keterpaksaan ini lebih dikenal
dibandingkan dengan pendapatnya tentang surga dan neraka, konsep iman, kalam Tuhan,
meniadakan sifat Tuhan, dan melihat Tuhan di akherat. Surga dan nerka tidak kekal, dan yang
kekal hanya Allah. Sedangkan iman dalam pengertianya adalah ma'rifat atau membenarkan
dengan hati, dan hal ini sama dengan konsep yang dikemukakan oleh kaum Murjiah. Kalam
Tuhan adalah makhluk. Allah tidak mempunyai keserupaan dengan manusia seperti
berbicara, mendengar, dan melihat, dan Tuhan juga tidak dapat dilihat dengan indera mata di
akherat kelak. Aliran ini dikenal juga dengan nama al-Jahmiyyah atau Jabariyah Khalisah.
Ja'ad bin Dirham, menjelaskan tentang ajaran pokok dari Jabariyah adalah Al Quran adalah
makhluk dan sesuatu yang baru dan tidak dapat disifatkan kepada Allah. Allah tidak
mempunyai sifat yang serupa dengan makhluk, seperti berbicara, melihat dan mendengar.
Manusia terpaksa oleh Allah dalam segala hal.
Dengan demikian ajaran Jabariyah yang ekstrim mengatakan bahwa manusia lemah, tidak
berdaya, terikat dengan kekuasaan dan kehendak Tuhan, tidak mempunyai kehendak dan
kemauan bebas sebagaimana dimilki oleh paham Qadariyah. Seluruh tindakan dan perbuatan
manusia tidak boleh lepas dari scenario dan kehendak Allah. Segala akibat, baik dan buruk
yang diterima oleh manusia dalam perjalanan hidupnya adalah merupakan ketentuan Allah.
b. Aliran Moderat

Menurut Tuhan menciptakan perbuatan manusia, baik itu positif atau negatif, tetapi manusia
mempunyai bagian di dalamnya. Tenaga yang diciptakan dalam diri manusia mempunyai
efek untuk mewujudkan perbuatannya. Manusia juga tidak dipaksa, tidak seperti wayang
yang dikendalikan oleh dalang dan tidak pula menjadi pencipta perbuatan, tetapi manusia
memperoleh perbuatan yang diciptakan tuhan. Tokoh yang berpaham seperti ini adalah
Husain bin Muhammad an-Najjar yang mengatakan bahwa Tuhan menciptakan segala
perbuatan manusia, tetapi manusia mengambil bagian atau peran dalam mewujudkan
perbuatan-perbuatan itu dan Tuhan tidak dapat dilihat di akherat. Sedangkan adh-Dhirar
(tokoh jabariayah moderat lainnya) pendapat bahwa Tuhan dapat saja dilihat dengan indera
keenam dan perbuatan dapat ditimbulkan oleh dua pihak.
Dasar pemahaman pada aliran jabariyah ini dijelaskan Al Quran diantaranya :
QS. Al-saffat; 96
Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.
QS. Al Insan; 30
Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah.
Selain ayat-ayat Al Quran di atas, benih-benih faham Jabariyah juga dapat dilihat dalam
beberapa peristiwa sejarah:
a. Suatu ketika Nabi menjumpai sabahatnya yang sedang bertengkar dalam masalah Takdir
Tuhan, Nabi melarang mereka untuk memperdebatkan persoalan tersebut, agar terhindar dari
kekeliruan penafsiran tentang ayat-ayat Tuhan mengenai takdir.
b. Khalifah Umar bin al-Khaththab pernah menangkap seorang pencuri. Ketika ditntrogasi,
pencuri itu berkata "Tuhan telah menentukan aku mencuri". Mendengar itu Umar kemudian
marah sekali dan menganggap orang itu telah berdusta. Oleh karena itu Umar memberikan
dua jenis hukuman kepada orang itu, yaitu: hukuman potongan tangan karena mencuri dan
hukuman dera karena menggunakan dalil takdir Tuhan.
c. Ketika Khalifah Ali bin Abu Thalib ditanya tentang qadar Tuhan dalam kaitannya dengan
siksa dan pahala. Orang tua itu bertanya,"apabila perjalanan (menuju perang siffin) itu
terjadi dengan qadha dan qadar Tuhan, tidak ada pahala sebagai balasannya. Kemudian
Ali menjelaskannya bahwa Qadha dan Qadha Tuhan bukanlah sebuah paksaan. Pahala dan
siksa akan didapat berdasarkan atas amal perbuatan manusia. Kalau itu sebuah paksaan, maka
tidak ada pahala dan siksa, gugur pula janji dan ancaman Allah, dan tidak pujian bagi orang
yang baik dan tidak ada celaan bagi orang berbuat dosa.
d. Adanya paham Jabariyah telah mengemuka kepermukaan pada masa Bani Umayyah yang
tumbuh berkembang di Syiria.
4. Tokoh
a. Jahm bin Shafwan
b. Al-Jaad Bin Dirham
c. Husain Bin Muhammad Al Najjar
d. Dirar Ibn Amr.
E.
1.

Aliran Qadariyah
Pengertian
Pengertian Qadariyah secara etomologi, berasal dari bahasa Arab, yaitu qadara yang
bemakna kemampuan dan kekuatan. Adapun secara termenologi istilah adalah suatu aliran
yang percaya bahwa segala tindakan manusia tidak diinrvensi oleh Allah. Aliran-aliran ini

berpendapat bahwa tiap-tiap orang adalah pencipta bagi segala perbuatannya, ia dapat berbuat
sesuatu atau meninggalkannya atas kehendaknya sendiri. Aliran ini lebih menekankan atas
kebebasan dan kekuatan manusia dalam mewujudkan perbutan-perbutannya.
Harun Nasution menegaskan bahwa aliran ini berasal dari pengertian bahwa manusia
menusia mempunyai kekuatan untuk melaksanakan kehendaknya, dan bukan berasal dari
pengertian bahwa manusia terpaksa tunduk pada qadar Tuhan.
Menurut Ahmad Amin, orang-orang yang berpaham Qadariyah adalah mereka yang
mengatakan bahwa manusia memiliki kebebasan berkehendak dan memiliki kemampuan
dalam melakukan perbuatan. Manusia mampu melakukan perbuatan, mencakup semua
perbuatan, yakni baik dan buruk.

2. Latar Belakang
Sejarah lahirnya aliran Qadariyah tidak dapat diketahui secara pasti dan masih merupakan
sebuah perdebatan. Akan tetepi menurut Ahmad Amin, ada sebagian pakar teologi yang
mengatakan bahwa Qadariyah pertama kali dimunculkan oleh Mabad al-Jauhani dan Ghilan
ad-Dimasyqi sekitar tahun 70 H/689M.
Ibnu Nabatah menjelaskan dalam kitabnya, sebagaimana yang dikemukakan oleh Ahmad
Amin, aliran Qadariyah pertama kali dimunculkan oleh orang Irak yang pada mulanya
beragama Kristen, kemudian masuk Islam dan kembali lagi ke agama Kristen. Namanya
adalah Susan, demikian juga pendapat Muhammad Ibnu Syuib. Sementara W. Montgomery
Watt menemukan dokumen lain yang menyatakan bahwa paham Qadariyah terdapat dalam
kitab ar-Risalah dan ditulis untuk Khalifah Abdul Malik oleh Hasan al-Basri sekitar tahun
700 M.
Ditinjau dari segi politik kehadiran mazhab Qadariyah sebagai isyarat menentang politik
Bani Umayyah, karena itu kehadiran Qadariyah dalam wilayah kekuasaanya selalu mendapat
tekanan, bahkan pada zaman Abdul Malik bin Marwan pengaruh Qadariyah dapat dikatakan
lenyap tapi hanya untuk sementara saja, sebab dalam perkembangan selanjutnya ajaran
Qadariyah itu tertampung dalam Muktazilah.
3. Doktrin Ajaran
Harun Nasution menjelaskan pendapat Ghalian tentang ajaran Qadariyah bahwa manusia
berkuasa atas perbuatan-perbutannya. Manusia sendirilah yang melakukan baik atas
kehendak dan kekuasaan sendiri dan manusia sendiri pula yang melakukan atau menjauhi
perbuatan-perbutan jahat atas kemauan dan dayanya sendiri. Tokoh an-Nazzam menyatakan
bahwa manusia hidup mempunyai daya, dan dengan daya itu ia dapat berkuasa atas segala
perbuatannya.
Dengan demikian bahwa segala tingkah laku manusia dilakukan atas kehendaknya sendiri.
Manusia mempunyai kewenangan untuk melakukan segala perbuatan atas kehendaknya
sendiri, baik berbuat baik maupun berbuat jahat. Oleh karena itu, ia berhak mendapatkan
pahala atas kebaikan yang dilakukannya dan juga berhak pula memperoleh hukuman atas
kejahatan yang diperbuatnya. Ganjaran kebaikan di sini disamakan dengan balasan surga
kelak di akherat dan ganjaran siksa dengan balasan neraka kelak di akherat, itu didasarkan
atas pilihan pribadinya sendiri, bukan oleh takdir Tuhan. Karena itu sangat pantas, orang yang
berbuat akan mendapatkan balasannya sesuai dengan tindakannya.

Faham takdir yang dikembangkan oleh Qadariyah berbeda dengan konsep yang umum yang
dipakai oleh bangsa Arab ketika itu, yaitu paham yang mengatakan bahwa nasib manusia
telah ditentukan terlebih dahulu. Dalam perbuatannya, manusia hanya bertindak menurut
nasib yang telah ditentukan sejak azali terhadap dirinya. Dengan demikian takdir adalah
ketentuan Allah yang diciptakan-Nya bagi alam semesta beserta seluruh isinya, sejak azali,
yaitu hukum yang dalam istilah Alquran adalah sunnatullah.
Secara alamiah sesungguhnya manusia telah memiliki takdir yang tidak dapat diubah.
Manusia dalam demensi fisiknya tidak dapat bebruat lain, kecuali mengikuti hokum alam.
Misalnya manusia ditakdirkan oleh Tuhan kecuali tidak mempunyai sirip seperti ikan yang
mampu berenang di lautan lepas. Demikian juga manusia tidak mempunyai kekuatan seperti
gajah yang mampu membawa barang seratus kilogram.
Menurut Dr. Ahmad Amin dalam kitabnya Fajrul Islam, menyebut pokok-pokok ajaran
qadariyah sebagai berikut :
a. Orang yang berdosa besar itu bukanlah kafir, dan bukanlahmukmin, tapi fasik dan orang
fasikk itu masuk neraka secara kekal.
b. Allah SWT. Tidak menciptakan amal perbuatan manusia, melainkan manusia lah yang
menciptakannyadan karena itulah maka manusia akan menerima pembalasan baik (surga)
atas segala amal baiknya, dan menerima balasan buruk (siksa Neraka) atas segala amal
perbuatannya yang salah dan dosakarena itu pula, maka Allah berhak disebut adil.
c. Kaum Qadariyah mengatakan bahwa Allah itu maha esa atau satu dalam ati bahwa Allah
tidak memiliki sifat-sifat azali, seprti ilmu, Kudrat, hayat, mendengar dan melihat yang bukan
dengan zat nya sendiri. Menurut mereka Allah SWT, itu mengetahui, berkuasa, hidup,
mendengar, dan meilahat dengan zatnya sendiri.
d. Kaum Qadariyah berpendapat bahwa akal manusia mampu mengetahui mana yang baik dan
mana yang buruk, walaupun Allah tidak menurunkan agama. Sebab, katanya segala sesuatu
ada yang memiliki sifat yang menyebabkan baik atau buruk.
Selanjutnya terlepas apakah paham qadariyah itu di pengaruhi oleh paham luar atau tidak,
yang jelas di dalam Al Quran dapat di jumpai ayat-ayat yang dapat menimbulkan paham
qadariyah.
Dalam QS. Al Raad ; 11,
Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah
keadaan diri mereka sendiri
QS. Al-Kahfi ; 29
Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; Maka Barangsiapa yang ingin (beriman)
hendaklah ia beriman, dan Barangsiapa yang ingin (kafir) Biarlah ia kafir.
4. Tokoh
a. Mabad Al-Juhani
b. Ghailan al Dimasyqi
F. Aliran Mutazilah
1. Pengertian
Perkataan Mutazilah berasal dari kata tizal yang artinya memisahkan diri, pada
mulanya nama ini di berikan oleh orang dari luar mutazilah karena pendirinya, Washil bin
Atha, tidak sependapat dan memisahkan diri dari gurunya, Hasan al-Bashri. Dalam

perkembangan selanjutnya, nama ini kemudian di setujui oleh pengikut Mutazilah dan di
gunakan sebagai nama dari bagi aliran teologi mereka.
Ada beberapa pandangan, mengapa mereka disebut mutazilah, yaitu kelompok atau orang
yang mengasingkan dan memisahkan diri.
Pendapat pertama, pemisahan mereka lebih disebabkan karena politik (itizl siysi), dimana
mereka menamakan diri dengan Mutazilah ketika Hasan bin Ali membaiat Muawiyah dan
menyerahkan jabatan khalifah kepadanya. Mereka mengasingkan diri dari Hasan, Muawiyah
dan semua orang. Mereka menetap di rumah-rumah dan masjid-masjid. Mereka berkata:
kami bergelut dengan ilmu dan ibadah.
Pendapat kedua, pemisahan mereka lebih disebabkan karena perdebatan (itizl kalmi)
mengenai hukum pelaku dosa besar antara Imam Hassan al-Bashri dengan Wshil bin Atha
yang hidup pada masa pemerintahan Hisyam bin Abdil Malik al-Umawy.
2. Latar Belakang
Aliran Mutazilah lahir kurang lebih 120 H, pada abad permulaan kedua hijrah di kota
basyrah dan mampu bertahan sampai sekarang, namun sebenarnya, aliran ini telah muncul
pada pertengahan abad pertama hijrah yakni diisitilahkan pada para sahabat yang
memisahkan diri atau besikap netral dalam peristiwa-peristiwa politik. Yakni pada peristiwa
meletusnya perang jamal dan perang siffin, yang kemudian mendasari sejumlah sahabat yang
tidak mau terlibat dalam konflik tersebut dan memilih untuk menjauhkan diri mereka dan
memilih jalan tengah.
Disisi lain, yang melatarbelakangi munculnya Aliran Mutazilah adalah sebagai respon
persoalan teologis yang berkembang di kalangan Khawarij dan Murjiah akibat adanya
peristiwa tahkim. Golongan ini muncul karena mereka berbeda pendapat dengan golongan
Khawarij dan Murjiah tentang pemberian status kafir kepada yang berbuat dosa besar.
Dari segi geografis, aliran Mutazilah dibagi menjadi dua, yaitu aliran Mutazilah Basrah dan
aliran Mutazilah Baghdad. Menurut Ahmad Amin sebagaimana yang ditulis oleh A. Hanafi
bahwa pengaruh filsafat Yunani pada aliran Mutazilah Baghdad lebih nampak, karena
adanya kegiatan penerjemahan buku-buku filsafat di Baghdad, dan juga karena istana
khalifah-khfalifah Abbasiyah di Baghdad menjadi tempat pertemuan ulama-ulama Islam
dengan ahli-ahli pikir golongan lain.
Aliran Basrah lebih banyak menekankan segi-segi teori dan keilmuan, sedang aliran Baghdad
sebaliknya, lebih menekankan segi pelaksanaan ajaran Mutazilah dan banyak terpengaruh
oleh kekuasaan khalifah-khalifah. Aliran Baghdad banyak mengambil soal-soal yang telah
dibahas aliran Basrah, kemudian diperluas pembahasannya.
3. Doktrin Ajaran
Ada lima prinsip pokok ajaran Mutazilah yang mengharuskan bagi pemeluk ajaran ini untuk
memegangnya, yan dirumuskan oleh Abu Huzail al-Allaf :
a. Al Tauhid (keesaan Allah)
Ini merupakan inti akidah madzhab mereka dalam membangun keyakinan tentang
mustahilnya melihat Allah di akhirat nanti, dan sifat-sifat Allah itu adalah substansi Dzatnya
sendiri serta Al Qur`an adalah makhluq.
Dalam buku Ahmad Hanafi M.A., Theology Islam (Ilmu Kalam) dikutip pandangan alAsyari yang menyebutkan bahwa kaum Mutazilah menafsirkan Tauhid sebagai berikut:

Tuhan itu Esa, tidak ada yang menyamainya, bukan benda (jisim), bukan orang (syakhs),
bukan jauhar, bukan pula aradhtidak berlaku padanyatidak mungkin mengambil tempat
(ruang), tidak bisa disifati dengan sifat-sifat yang ada pada makhluq yang menunjukkan
ketidak azalianNya. Tidak dibatas, tidak melahirkan dan tidak pula dilahirkan, tidak dapat
dicapai pancainderatidak dapat dilihat mata kepala dan tidak bisa digambarkan akal
pikiran. Ia Maha Mengetahui, berkuasa dan hidup, tetapi tidak seperti orang yang
mengetahui, orang yang berkuasa dan orang yang hiduphanya Ia sendiri yang Qadim, dan
tidak ada lainnya yang QadimTidak ada yang menolongNya dalam menciptakan apa yang
diciptakanNya dan tidak membikin makhluq karena contoh yang telah ada terlebih dahulu.
b. Al Adl (keadlilan tuhan)
Paham keadilan yang dikehendaki Mutazilah adalah bahwa Tuhan tidak menghendaki
keburukan, tidak menciptakan perbuatan manusia dan manusia dapat mengerjakan perintahperintahNya dan meninggalkan larangan-laranganNya dengan qudrah (kekuasaan) yang
ditetapkan Tuhan pada diri manusia itu. Tuhan tidak memerintahkan sesuatu kecuali menurut
apa yang dikehendakiNya. Ia hanya menguasai kebaikan-kebaikan yang diperintahkanNya
dan tidak tahu menahu (bebas) dari keburukan-keburukan yang dilarangNya.
Dengan pemahaman demikian, maka tidaklah adil bagi Tuhan seandainya Ia menyiksa
manusia karena perbuatan dosanya, sementara perbuatan dosanya itu dilakukan karena
diperintah Tuhan. Tuhan dikatakan adil jika menghukum orang yang berbuat buruk atas
kemauannya sendiri.
c. Al Wad wa al waid (janji dan ancaman)
Al-Wadu Wal-Waid (janji dan ancaman), bahwa wajib bagi Allah untuk memenuhi janjiNya (al-wad) bagi pelaku kebaikan agar dimasukkan ke dalam surga, dan melaksanakan
ancaman-Nya (al-waid) bagi pelaku dosa besar (walaupun di bawah syirik) agar dimasukkan
ke dalam neraka, kekal abadi di dalamnya, dan tidak boleh bagi Allah untuk menyelisihinya.
Karena inilah mereka disebut dengan Waidiyyah
d. Al Manzilah bain al Manzilatain (posisi diantara posisi)
Secara harfiah, berarti posisi diantara dua posisi. Menurut Mutazilah maksudnya adalah
suatu tempat antara surga dan neraka sebagai konsekwensi dari pemahaman yang mengatakan
bahwa pelaku dosa besar adalah Fasiq; tidak dikatakan beriman dan tidak pula dikatakan
kafir, dia tidak berhak dihukumkan Mumin dan tidak pula dihukumkan Kafir, begitu pula
dihukum munafiq, karena sesungguhnya munafiq berhak dihukumkan kafir seandainya telah
diketahui kenifaqkannya. Dan tidaklah yang demikian itu dihukumkan kepada pelaku dosa
besar.
e. Amar maruf nahi mungkar
Dengan berpegang kepada QS. Ali Imran ; 104 dan QS. Luqman ; 17, seperti halnya
golongan lain bahwa perintah untuk berbuat baik dan larangan untuk berbuat jahat adalah
wajib ditegakkan.
Dalam pandangan Mutazilah; dalam keadaan normal pelaksanaan al-amru bil marf wan
nahyu anil munkar itu cukup dengan seruan saja, tetapi dalam keadaan tertentu perlu
kekerasan.
Dalam memastikan terlaksananya prinsif ini, mereka bertindak berlebih-lebihan dan
berselisih pandangan dengan mayoritas (jumhur) ummat; mereka mengatakan al-amru bil
marf wan nahyu anil munkar itu dilakukan dengan hati saja bila itu cukup, jika tidak

cukup maka dengan lisan, dan jika dengan lisan saja tidak cukup maka dengan tangan,
bahkan dilaksanakan dengan senjata.
4. Tokoh
a. Washil bin Atha
b. Abu Huzail Al Allaf
c. Al Nazzam
d. Abu Hasyim Al Jubbai
G. Aliran Ahu Sunnah Wal Jamaah/Sunni
Ahlussunnah berarti penganut atau pengikut sunnah Nabi Muhammad SAW, dan jemaah
berarti sahabat nabi. Jadi Ahlussunnah wal jamaah mengandung arti penganut Sunnah
(ittikad) nabi dan para sahabat beliau. Aliran ini, muncul sebagai reaksi setelah munculnya
aliran Asyariyah dan Maturidiyah, dua aliran yang menentang ajaran-ajaran Mutazilah.
Tokoh utama yang juga merupakan pendiri mazhab ini adalah Abu Al Hasan Al Asyari dan
Abu Mansur Al Maturidi. Dua tokoh Sunni ini kemudian dalam perkembanganya ajaran
mereka menjadi doktrin penting dalam aliran Sunni yakni aliran Asyariyah dan aliran
Maturidiyah.
Sebagai aliran yang se zaman, keduanya termasuk dalam aliran Ahlussunnah. Terkait
kepemimpinan para khalifah setelah Nabi saw sesuai urutan historis yang telah terjadi,
keduanya memiliki pandangan serupa. Juga tak ada perbedaan dalam pandangan mereka
terhadap para penguasa Bani Umayah dan Bani Abbas. Dalam semua sisi masalah imamah
pun mereka saling sepakat. Keduanya juga sepaham bahwa Allah bisa dilihat tanpa kaif
(cara), had (batas), qiyam (berdiri) wa qu`ud (duduk) dan hal-hal sejenisnya.
1. Aliran Asyariyah
a. Pengertian
Asy`ariyah adalah sebuah paham akidah yang dinisbatkan kepada Abul Hasan Al Asy`ariy.
Nama lengkapnya ialah Abul Hasan Ali bin Ismail bin Abi Basyar Ishaq bin Salim bin Ismail
bin Abdillah bin Musa bin Bilal bin Abi Burdah Amir bin Abi Musa Al Asyari. Kelompok
Asyariyah menisbahkan pada namanya sehingga dengan demikian ia menjadi pendiri
madzhab Asyariyah.
Abul Hasan Al Asyaari dilahirkan pada tahun 260 H/874 M di Bashrah dan meninggal dunia
di Baghdad pada tahun 324 H/936 M. Ia berguru kepada Abu Ishaq Al Marwazi, seorang
fakih madzhab Syafii di Masjid Al Manshur, Baghdad. Ia belajar ilmu kalam dari Al Jubbai,
seorang ketua Muktazilah di Bashrah.
Setelah ayahnya meninggal, ibunya menikah lagi dengan Abu Ali Al Jubbai, salah seorang
pembesar Muktazilah. Hal itu menjadikan otaknya terasah dengan permasalahan kalam
sehingga ia menguasai betul berbagai metodenya dan kelak hal itu menjadi senjata baginya
untuk membantah kelompok Muktazilah.
Al Asyari yang semula berpaham Muktazilah akhirnya berpindah menjadi Ahli Sunnah.
Sebab yang ditunjukkan oleh sebagian sumber lama bahwa Abul Hasan telah mengalami
kemelut jiwa dan akal yang berakhir dengan keputusan untuk keluar dari Muktazilah. Sumber
lain menyebutkan bahwa sebabnya ialah perdebatan antara dirinya dengan Al Jubbai seputar
masalah ash-shalah dan ashlah (kemaslahatan).
Sumber lain mengatakan bahwa sebabnya ialah pada bulan Ramadhan ia bermimpi melihat
Nabi dan beliau berkata kepadanya, Wahai Ali, tolonglah madzhab-madzhab yang

mengambil riwayat dariku, karena itulah yang benar. Kejadian ini terjadi beberapa kali, yang
pertama pada sepuluh hari pertama bulan Ramadhan, yang kedua pada sepuluh hari yang
kedua, dan yang ketika pada sepuluh hari yang ketiga pada bulan Ramadhan. Dalam
mengambil keputusan keluar dari Muktazilah, Al Asyari menyendiri selama 15 hari. Lalu, ia
keluar menemui manusia mengumumkan taubatnya. Hal itu terjadi pada tahun 300 H.
Setelah itu, Abul Hasan memposisikan dirinya sebagai pembela keyakinan-keyakinan salaf
dan menjelaskan sikap-sikap mereka. Pada fase ini, karya-karyanya menunjukkan pada
pendirian barunya. Dalam kitab Al Ibanah, ia menjelaskan bahwa ia berpegang pada madzhab
Ahmad bin Hambal.
Abul Hasan menjelaskan bahwa ia menolak pemikirian Muktazilah, Qadariyah, Jahmiyah,
Hururiyah, Rafidhah, dan Murjiah. Dalam beragama ia berpegang pada Al Quran, Sunnah
Nabi, dan apa yang diriwayatkan dari para shahabat, tabiin, serta imam ahli hadits.
b. Latar Belakang
Pada masa berkembangnya ilmu kalam, kebutuhan untuk menjawab tantangan akidah dengan
menggunakan ratio telah menjadi beban. Karena pada waktu itu sedang terjadi penerjemahan
besar-besaran pemikiran filsafat Barat yang materialis dan rasionalis ke dunia Islam.
Sehingga dunia Islam mendapatkan tantangan hebat untuk bisa menjawab argumen-argumen
yang bisa dicerna akal.
Al Asyari adalah salah satu tokoh penting yang punya peranan dalam menjawab argumen
Barat ketika menyerang akidah Islam. Karena itulah metode akidah yang beliau kembangkan
merupakan panggabungan antara dalil naqli dan aqli.
Munculnya kelompok Asyariyah ini tidak lepas dari ketidakpuasan sekaligus kritik terhadap
paham Muktazilah yang berkembang pada saat itu. Kesalahan dasar Muktazilah di mata Al
Asy'ari adalah bahwa mereka begitu mempertahankan hubungan Tuhan-manusia, bahwa
kekuasaan dan kehendak Tuhan dikompromikan.
Akidah ini menyebar luas pada zaman wazir Nizhamul Muluk pada dinasti bani Saljuq dan
seolah menjadi akidah resmi negara. Paham Asyariyah semakin berkembang lagi pada masa
keemasan madrasah An Nidzamiyah, baik yang ada di Baghdad maupun di kota Naisabur.
Madrasah Nizhamiyah yang di Baghdad adalah universitas terbesar di dunia. Didukung oleh
para petinggi negeri itu seperti Al Mahdi bin Tumirat dan Nuruddin Mahmud Zanki serta
sultan Shalahuddin Al Ayyubi.
Juga didukung oleh sejumlah besar ulama, terutama para fuqaha mazhab Asy Syafi'i dan
mazhab Al Malikiyah periode akhir-akhir. Sehingga wajar sekali bila dikatakan bahwa akidah
Asy'ariyah ini adalah akidah yang paling populer dan tersebar di seluruh dunia.
c. Doktrin Ajaran
1) Sifat-sifat Tuhan.
Menurutnya, Tuhan memiliki sifat sebagaiman di sebut di dalam Al Quran, yang di sebut
sebagai sifat-sifat yang azali, Qadim, dan berdiri diatas zat tuhan. Sifat-sifat itu bukanlah zat
tuhan dan bukan pula lain dari zatnya.
2) Al Quran.
Menurutnya, Al Quran adalah qadim dan bukan makhluk diciptakan.
3) Melihat Tuhan.
Menurutnya, Tuhan dapat dilihat dengan mata oleh manusia di akhirat nanti.
4) Perbuatan Manusia.

Menurutnya, perbuatan manusia di ciptakan tuhan, bukan di ciptakan oleh manusia itu
sendiri.
5) Keadlian Tuhan
Menurutnya, tuhan tidak mempunyai kewajiban apapun untuk menentukan tempat manusia di
akhirat. Sebab semua itu marupakan kehendak mutlak tuhan sebab Tuhan Maha Kuasa atas
segalanya.
6) Muslim yang berbuat dosa.
Menurutnya, yang berbuat dosa dan tidak sempat bertobat diakhir hidupnya tidaklah kafir dan
tetap mukmin.
Pengikut Asyari yang terpenting dan terbesar pengaruhnya pada umat Islam yang beraliran
Ahli sunnah wal jamaah ialah Imam Al Ghazali. Tampaknya paham teologi cenderung
kembali pada paham-paham Asyari. Al Ghazali meyakini bahwa:
1) Tuhan mempunyai sifat-sifat qadim yang tidak identik dengan zat Tuhan dan
mempunyai wujud di luar zat.
2) Al Quran bersifat qadim dan tidak diciptakan.
3) Mengenai perbuatan manusia, Tuhanlah yang menciptakan daya dan perbuatan
4) Tuhan dapat dilihat karena tiap-tiap yang mempunyai wujud pasti dapat dilihat.
5) Tuhan tidak berkewajiban menjaga kemaslahatan (ash-shalah wal ashlah) manusia, tidak
wajib memberi ganjaran pada manusia, dan bahkan Tuhan boleh memberi beban yang tak
dapat dipikul kepada manusia.
Berkat Al-Ghazali paham Asyari dengan Ahl sunah wal jamaahnya berhasil berkembang ke
mana pun, meski pada masa itu aliran Muktazilah amat kuat di bawah dukungan para
khalifah Abasiyah.
d. Tokoh
1) Al-Ghazali (450-505 H/ 1058-1111M)
2) Al-Imam Al-Fakhrurrazi (544-606H/ 1150-1210)
3) Abu Ishaq Al-Isfirayini (w 418/1027)
4) Al-Qadhi Abu Bakar Al-Baqilani (328-402 H/950-1013 M)
5) Abu Ishaq Asy-Syirazi (293-476 H/ 1003-1083 M)
2. Aliran Maturidiyah
a. Pengertian
Aliran Maturidiyah merupakan aliran teologi yang bercorak rasional-tradisional. Nama aliran
itu dinisbahkan dari nama pendirinya, Abu Mansur Muhammad al-Maturidi. Al Maturidi lahir
dan hidup di tengah-tengah iklim keagamaan yang penuh dengan pertentangan pendapat
antara Muktazilah dan Asy'ariyah mengenai kemampuan akal manusia. Aliran ini disebutsebut memiliki kemiripan dengan Asy'ariyah.
Aliran Maturidiyah adalah aliran kalam yang dinisbatkan kepada Abu Mansur Al Maturidi
yang berpijak kepada penggunaan argumentasi dan dalil aqli kalami. Aliran Maturidiyah
digolongkan dalam teologi Ahli Sunnah Wal Jamaah yang merupakan ajaran yang bercorak
rasional.
Jika dilihat dari metode berpikir dari aliran Maturidiyah, aliran ini merupakan aliran yang
memberikan otoritas yang besar kepada akal manusia, tanpa berlebih-lebihan atau melampaui
batas, maksudnya aliran Maturidiyah berpegang pada keputusan akal pikiran dalam hal-hal
yang tidak bertentangan dengan syara. Sebaliknya jika hal itu bertentangan dengan syara,
maka akal harus tunduk kepada keputusan syara.

Berdasarkan prinsip pendiri aliran Maturidiyah mengenai penafsiran Al Quran yaitu


kewajiban melakukan penalaran akal disertai bantuan nash dalam penafsiran Al Quran.
Dalam menfsirkan Al Quran Al Maturidi membawa ayat-ayat yang mutasyabih (samar
maknanya) pada makna yang muhkam (terang dan jelas pengertiannya). Ia mentawilkan
yang muhtasyabih berdasarkan pengertian yang ditunjukkan oleh yang muhkam. Jika seorang
mikmin tidak mempunyai kemampuan untuk mentawilkannya, maka bersikap menyerah
adalah lebih selamat.
b. Latar Belakang
Aliran Maturidiyah lahir di samarkand, pertengahan kedua dari abad IX M. pendirinya adalah
Abu Mansur Muhammad ibn Muhammad ibn Mahmud Al Maturidi, di daerah Maturid
Samarqand, untuk melawan mazhab Mu`tazilah. Abu Manshur Maturidi (wafat 333 H)
menganut mazhab Abu Hanifah dalam masalah fikih. Oleh sebab itu, kebanyakan
pengikutnya juga bermazhab Hanafi. Riwayatnya tidak banyak diketahui. Ia sebagai pengikut
Abu Hanifa sehingga paham teologinya memiliki banyak persamaan dengan paham-paham
yang dipegang Abu Hanifa. Sistem pemikiran aliran maturidiyah, termasuk golongan teologi
ahli sunah.
Al Maturidi dalam pemikiran teologinya banyak menggunakan rasio. Hal ini mungkin banyak
dipengaruhi oleh Abu Hanifa karena Al Maturidi sebagai pengikat Abu Hanifa. Dan
timbulnya aliran ini sebagai reaksi terhadap mutazilah.
Dalam Ensiklopedia Islam terbitan Ichtiar Baru Van Hoeve, disebutkan, pada pertengahan
abad ke-3 H terjadi pertentangan yang hebat antara golongan Muktazilah dan para ulama.
Sebab, pendapat Muktazilah dianggap menyesatkan umat Islam. Al Maturidi yang hidup pada
masa itu melibatkan diri dalam pertentangan tersebut dengan mengajukan
pemikirannya.Pemikiran-pemikiran Al Maturidi dinilai bertujuan untuk membendung tidak
hanya paham Muktazilah, tetapi juga aliran Asy'ariyah. Banyak kalangan yang menilai,
pemikirannya itu merupakan jalan tengah antara aliran Muktazilah dan Asy'ariyah. Karena
itu, aliran Maturidiyah sering disebut berada antara teolog Muktazilah dan
Asy'ariyah.Namun, keduanya (Maturidi dan Asy'ari) secara tegas menentang aliran
Muktazilah.
c. Doktrin Ajaran
1) Akal dan Wahyu
Al Maturidi dalam pemikiran teologinya berdasarkan pada Al Quran dan akal, akal banyak
digunakan diantaranya karena dipengaruhi oleh Mazhab Imam Abu Hanifah. Menurut AlMaturidi, mengetahui Tuhan dan kewajiban mengetahui Tuhan dapat diketahui dengan akal.
Hal tersebut sesuai dengan ayat-ayat Al Quran yang memerintahkan agar manusia
menggunakan akalnya untuk memperoleh pengetahuan dan keimanannya terhadapAllah
melalui pengamatan dan pemikiran yang mendalam tentang makhluk ciptaan-Nya. Jika akal
tidak memiliki kemampuan tersebut, maka tentunya Allah tidak akan memerintahkan
manusia untuk melakukannya. Dan orang yang tidak mau menggunakan akal untuk
memperoleh iman dan pengetahuan mengenai Allah berarti ia telah meninggalkan kewajiban
yang diperintahkan oleh ayat-ayat tersebut Namun akal, menurut Al Maturidi tidak mampu
mengetahui kewajiban-kewajiban yang lain.
Dalam masalah amalan baik dan buruk, beliau berpendapat bahwa penentu baik dan
buruknya sesuatu itu terletak pada sesuatu itu sendiri, sedangkan perintah atau larangan

syariah hanyalah mengikuti kemampuan akal mengenai baik dan buruknya sesuatu, walau ia
mengakui bahwa akal terkadang tidak mampu melakukannya. Dalam kondisi ini, wahyu
dijadikan sebagai pembimbing.
Al Maturidi membagi kaitan sesuatu dengan akal pada tiga macam, yaitu :
a) Akal dengan sendirinya hanya mengetahui kebaikan sesuatu itu.
b) Akal dengan sendirinya hanya mengetahui keburukan sesuatu itu,
c) Akal tidak mengetahui kebaikan dan keburukan sesuatu, kecuali dengan petunjuk wahyu.
Tentang mengetahui kebaikan dan keburukan Maturidiyah memiliki kesamaan dengan
Mutazilah, namun tentang kewajiban melakukan kebaikan dan meninggalkan keburukan
Maturidiyah berpendapat bahwa ketentuan itu harus didasarkan pada wahyu.
2)
Perbuatan Manusia
Perbuatan manusia adalah ciptaan Allah, karena segala sesuatu dalam wujud ini adalah
ciptaan-Nya. Mengenai perbuatan manusia, kebijaksanaan dan keadilan kehendak Allah
mengharuskan manusia untuk memiliki kemampuan untuk berbuat (ikhtiar) agar kewajiban
yang dibebankan kepadanya dapat dilaksanakan. Dalam hal ini Al Maturidi mempertemukan
antara ikhtiar manusia dengan qudrat Allah sebagai pencipta perbuatan manusia. Allah
mencipta daya (kasb) dalam setiap diri manusia dan manusia bebas memakainya, dengan
demikian tidak ada pertentangan sama sekali antara qudrat Allah dan ikhtiar manusia.
Dalam masalah pemakaian daya ini Al Maturidi memakai faham Imam Abu Hanifah, yaitu
adanya Masyiah (kehendak) dan ridha (kerelaan). Kebebasan manusia dalam melakukan
perbuatan baik atau buruk tetap berada dalam kehendak Allah, tetapi ia dapat memilih yang
diridhai-Nya atau yang tidak diridhai-Nya. Manusia berbuat baik atas kehendak dan kerelaan
Allah, dan Manusia berbuat baik atas kehendak dan kerelaan Allah, dan berbuat buruk pun
dengan kehendak Allah, tetapi tidak dengan kerelaan-Nya.
3)
Kekuasaan dan Kehendak Mutlak Tuhan
Penjelasan di atas menerangkan bahwa Allah memiliki kehendak dalam sesuatu yang baik
atau buruk. Tetapi, pernyataan ini tidak berarti bahwa Allah berbuat sekehendak dan
sewenang-wenang. Hal ini karena qudrat tidak sewenang-wenang (absolute), tetapi perbuatan
dan kehendak-Nya itu berlangsung sesuai dengan hikmah dan keadilan yang sudah
ditetapkan-Nya sendiri.
4)
Sifat Tuhan
Tuhan mempunyai sifat-sifat, seperti sama, bashar, kalam, dan sebagainya. Al Maturidi
berpendapat bahwa sifat itu tidak dikatakan sebagai esensi-Nya dan bukan pula lain dari
esensi-Nya. Sifat-sifat Tuhan itu mulzamah (ada bersama/inheren) dzat tanpa terpisah
(innaha lam takun ain adz-dzat wa la hiya ghairuhu). Sifat tidak berwujud tersendiri dari
dzat, sehingga berbilangnya sifat tidak akan membawa kepada bilangannya yang qadim
(taadud al-qadama).
Tampaknya faham tentang makna sifat Tuhan ini cenderung mendekati faham Mutazilah,
perbedaannya terletak pada pengakuan terhadap adanya sifat Tuhan.
5)
Melihat Tuhan
Al Maturidi mengatakan bahwa manusia dapat melihat Tuhan, hal ini diberitakan dalam. QS.
Al Qiyamah ayat 22 dan 23 :
Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah
mereka melihat.

Lebih lanjut beliau mengatakan bahwa Tuhan kelak di akhirat dapat dilihat dengan mata,
karena Tuhan mempunyai wujud walaupun ia immaterial. Namun melihat Tuhan, kelak di
akhirat tidak dalam bentuknya, karena keadaan di sana beda dengan dunia.
6)
Kalam Tuhan
Al Maturidi membedakan antara kalam yang tersusun dengan huruf dan bersuara denagn
kalam nafsi (sabda yang sebenarnya atau makna abstrak). Kalam nafsi adalah sifat qadim
bagi Allah, sedangkan kalam yang tersusun dari huruf dan suara adalah baharu (hadits).
Kalam nafsi tidak dapat kita ketahui hakikatnya dari bagaimana Allah bersifat dengannya,
kecuali dengan suatu perantara.
Maturidiyah menerima pendapat Mutazilah mengenai Al Quran sebagai makhluk Allah, tapi
Al Maturidi lebih suka menyebutnya hadits sebagai pengganti makhluk untuk sebutan Al
Quran.
7)
Perbuatan Tuhan
Semua yang terjadi atas kehendak-Nya, dan tidak ada yang memaksa atau membatasi
kehendak Tuhan, kecuali karena da hikmah dan keadilan yang ditentukan oleh kehendak-Nya
sendiri. Setiap perbuatan-Nya yang bersifat mencipta atau kewajiban-kewajiban yang
dibebankan kepada manusia tidak lepas dari hikmah dan keadilan yang dikehendaki-Nya.
Kewajiban-kewajiban tersebut antara lain:
Tuhan tidak akan membebankan kewajiban di luar kemampuan manusia, karena hal tersebut
tidak sesuai dengan keadilan, dan manusia diberikan kebebasan oleh Allah dalam
kemampuan
dan
perbuatannya,
Hukuman atau ancaman dan janji terjadi karena merupakan tuntutan keadilan yang sudah
ditetapkan-Nya.
8)
Pengutusan Rasul
Pengutusan Rasul berfungsi sebagai sumber informasi, tanpa mengikuti ajaran wahyu yang
disampaikan oleh rasul berarti manusia telah membebankan sesuatu yang berada di luar
kemampuan akalnya. Pandangan ini tidak jauh dengan pandangan Mutazilah, yaitu bahwa
pengutusan rasul kepada umat adalah kewajiban Tuhan agar manusia dapat berbuat baik
bahkan terbaik dalam hidupnya.
9)
Pelaku Dosa Besar
Al Maturidi berpendapat bahwa pelaku dosa besar tidak kafir dan tidak kekal di dalam neraka
walaupun ia mati sebelum bertobat. Hal ini karena Tuhan telah menjanjikan akan
memberikan balasan kepada manusia sesuai dengan perbuatannya. Kekal di dalam neraka
adalah
balasan
untuk
orang
musyrik.
Menurut Al-Maturidi, iman itu cukup dengan tashdiq dan iqrar, sedangkan amal adalah
penyempurnaan iman. Oleh karena itu amal tidak menambah atau mengurangi esensi iman,
hanya menambah atau mengurangi sifatnya.
10) Iman
Dalam masalah iman, aliran Maturidiyah Samarkand berpendapat bahwa iman adalah tashdiq
bi al qalb, bukan semata iqrar bi al-lisan. Al Quran surat Al-Hujurat ayat 14 :
Orang-orang Arab Badui itu berkata: Kami telah beriman. Katakanlah: Kamu belum
beriman, tapi Katakanlah 'kami telah tunduk', karena iman itu belum masuk ke dalam
hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi

sedikitpun pahala amalanmu; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha


Penyayang."
Ayat tersebut difahami sebagai penegasan bahwa iman tidak hanya iqrar bi al-lisan, tanpa
diimani oleh qalbu. Lebih lanjut Al Maturidi mendasarkan pendapatnya pada QQS. Al
Baqarah ; 260,
Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: "Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana
Engkau menghidupkan orang-orang mati." Allah berfirman: "Belum yakinkah kamu ?"
Ibrahim menjawab: "Aku telah meyakinkannya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap
(dengan imanku) Allah berfirman: "(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu
cincanglah semuanya olehmu. (Allah berfirman): "Lalu letakkan diatas tiap-tiap satu bukit
satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang
kepadamu dengan segera." dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha
Bijaksana.
Dalam ayat tersebut, bukan berarti bahwa Nabi Ibrahim belum beriman, tetapi beliau
menginginkan agar keimanannya menjadi keimanan marifah. Marifah didapat melalui
penalaran akal. Adapun pengertian iman menurut golongan Bukhara, adalah tashdiq bi alqalb dan iqrar bi al-lisan, yaitu meyakini dan membenarkan dalam hati tentang keesaan Allah
dan rasul-rasul yang diutus-Nya dengan membawa risalah serta mengakui segala pokok
ajaran islam secara verbal.
d. Madzhab Aliran Maturidiyah
1) Golongan Samarkand.
Golongan ini dalah pengikut Al Maturidi sendiri, golongan ini cenderung ke arah paham
mutazilah, sebagaimana pendapatnya soal sifat-sifat tuhan, maturidi dan asyary terdapat
kesamaan pandangan, menurut maturidi, tuhan mempunyai sifat-sifat, tuhan mengetahui
bukan dengan zatnya, melainkan dengan pengetahuannya.
Begitu juga tuhan berkuasa dengan zatnya. Mengetahui perbuatan-perbuatan manusia
maturidi sependapat dengan golongan mutazilah, bahwa manusialah sebenarnya
mewujudkan perbuatan-perbutannya. Apabila ditinjau dari sini, maturidi berpaham qadariyah.
Maturidi menolak paham-paham mutazilah, antara lain maturidiyah tidak sepaham mengenai
pendapat mutazilah yang mengatakan bahwa Al Quran itu makhluk. Aliran maturidi juga
sepaham dengan mutazilah dalam soal al-waid wa al-waid. Bahwa janji dan ancaman tuhan,
kelak pasti terjadi. Demikian pula masalah antropomorphisme. Dimana maturidi berpendapat
bahwa tangan wajah tuhan, dan sebagainya seperti pengambaran Al Quran. Mesti diberi arti
kiasan (majazi). Dalam hal ini. Maturidi bertolak belakang dengan pendapat asyary yang
menjelaskan bahwa ayat-ayat yang menggambarkan tuhan mempunyai bentuk jasmani tak
dapat diberi interpretasi (ditakwilkan).
2) Golongan Buhara
Golongan Bukhara ini dipimpin oleh Abu Al Yusr Muhammad Al Bazdawi. Dia merupakan
pengikut maturidi yang penting dan penerus yang baik dalam pemikirannya. Nenek Al
Bazdawi menjadi salah satu murid maturidi. Dari orang tuanya, Al Bazdawi dapat menerima
ajaran maturidi. Dengan demikian yang di maksud golongan Bukhara adalah pengikutpengikut Al-Bazdawi di dalam aliran Al Maturidiyah, yang mempunyai pendapat lebih dekat
kepada pendapat-pendapat Al Asyary.

Namun walaupun sebagai aliran maturidiyah. Al Bazdawi tidak selamanya sepaham dengan
maturidi. Ajaran-ajaran teologinya banyak dianut oleh sebagin umat Islam yang bermazab
Hanafi. Dan pemikiran-pemikiran maturidiya sampai sekarang masih hidup dan berkembang
dikalangan umat Islam.

DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Warson Munawir, Al Munawi Kamus Bahasa Arab. Indonesia, Ponpes Al-Munawir,
Yogyakarta, 1984.
Anwar, Rohison dan Abdul Rozak. Ilmu Kalam Untuk IAIN, STAIN, PTAIS. Bandung : Pustaka
Setia. 2001.
Asmuni, Yusran, Ilmu Tauhid, Jakarta : PT RajaGrafindo Persada, 1996Nata, Abuddin, Ilmu
kalam,
Filsafat,
dan
tasawuf,
Jakarta:
PT
Raja
Grafindo
Persada, 1995Zainuddin, H, Ilmu Tauhid, Jakarta:PT Rineka Cipta, 1992
Daudy, Ahmad, Kuliah Ilmu Kalam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1997)
Ensiklopedi Islam (S-Z), penerbit PT. Ichtiar Baru van Hoeve, Jakarta. Penyusun: Dewan Redaksi.
buku 5
Hadariansyah, AB, Pemikiran-pemikiran Teologi dalam Sejarah Pemikiran Islam, (Banjarmasin:
Antasari Press, 2008)
Hussain Affandi al-Jisr, al-Hushumul Hamidiyah, Ahmad Nabhan, Surabaya, 1970.
Ibnu Kathir : Malapetaka Bakal Menimpa Menjelang Kiamat; Darul Fajr,
cetakan ke 2 ; 2004 Ustaz Jaafar Salleh : 3 Tokoh Bakal Menakluk Dunia; Pustaka
Azhar, 2009
James W. Morris. This is an unrevised, pre-publication version of an article or translation which
has subsequently been published, with revisions and corrections as Section II (At the End of
Time) in Ibn 'Arab: The Meccan Revelations (co-author with W. Chittick), New York, Pir
Press, 2002
Kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah Oleh Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit
Pustaka At-Taqwa, Cetakan I
Maghfur, Muhammad, Koreksi atas Pemikiran Kalam dan Filsafat Islam, (Bangil: al-Izzah, 2002)
Nasir, Salihun. Pengantar Ilmu Kalam. Jakarta : Rajawali Pers. 1991.
Nasution, Harun. 1986. Teologi Islam: Aliran-aliran Sejarah Analisa Perbandingan. Jakarta: UIPress
Nata, Abuddin. Ilmu kalam, Filsafat, dan Tasawuf. Jakarta : Rajawali Pers. 1993.
Prof.Dr H. Mahmud Yunus: Tafsir Quran Karim; Klang Book Centre, 1992 Imam Imam
Muslim: Tarjamah Shahih Muslim Jilid IV; CV Asy Syifa Semarang, 1993
Raji Abdullah, M. Sufyan. Lc, Mengenal Aliran-Aliran Dalam Islam Dan Ciri-Ciri Ajarannya,
Jakarta, Pustaka Al-Riyadl, 2006.
Syech Muhammad Abduh, Risalah Tauhid, Terjemah KH. Firdaus, AN-PN Bulan Bintang, Jakarta
Cetakan Pertama, 1963.
Tafsir alquran Departemen Agama Republik Indonesia. Tim Tashih Drs. HA. Hafizh Dasuki, MA
dkk
Tim, Enseklopedi Islam, "Jabariyah" (Jakarta: Ikhtiar Baru Van Hoeve, 1997

STANDAR KOMPETENSI
1. Mengetahui dan memahami ilmu
kalam

KOMPETENSI DASAR
1.1. Menjelaskan pengertian ilmu kalam
1.2. Menjelaskan nama-nama ilmu kalam dan sebab

penamaan masing-masingnya.
1.3. Menjelaskan fungsi dan peranan ilmu kalam
1.4. Menjelaskan peranan dalil yang digunakan.
2. Mengetahui dan memahami sejarah 2.1. Menjelaskan alam tauhid dari
Nabi Adam
perkembangan ilmu kalam
sampai Nabi Muhammad SAW
2.2. Menjelaskan dua al-fitnah al-kubra pada zaman
khalifah Ali bin Abi Thalib
2.3. Menjelaskan masalah politik yang berkembang ke
masalah akidah.
2.4. Menjelaskan timbulnya aliran-aliran dalam ilmu
kalam
2.5. Menjelaskan pengaruh filsafat Helenisme Yunani
dan teologi Masehi terhadap perkembangan ilmu
kalam.
3. Mengetahui dan memahami aliran- 3.1. Menjelaskan aliran Khawarij, Syi`ah, Jabariyah,
aliran ilmu kalam dan tokoh-tokohnya. Qadariyah, Murji`ah, Salafiyah, Mu`tazilah dan
Ahlu Sunnah.
3.2. Menyebutkan dan menjelaskan tokoh-tokoh aliran
Khawarij, Syi`ah, Jabariyah, Qadariyah, Murji`ah,
Salafiyah, Mu`tazilah dan Ahlu Sunnah dan
pemikirannya
4. Mengetahui dan memahami sekte- 4.1
sekte dalam aliran ilmu kalam
4.2
4.3

Menjelaskan sekte-sekte Khawarij


Menjelaskan sekte-sekte Murji`ah
Menjelaskan sekte-sekte Syi`ah

KELAS
: XI (Sebelas)
SEMESTER : II (Kedua)
STANDAR KOMPETENSI
1. Mengetahui dan memahami tasawuf

KOMPETENSI DASAR
1.1. Menjelaskan pengertian tasawuf
1.2. Menjelaskan asal usul tasawuf
1.3. Menjelaskan sumber tasawuf dari Al-Quran dan alSunnah
1.4. Menjelaskan teladan sufi sahabat Nabi

2. Mengetahui dan memahami sejarah 2.1. Menjelaskan faktor-faktor perkembangan tasawuf:


perkembangan tasawuf
faktor sosial ekonomi, faktor politik dan pengaruh
budaya asing.
2.2. Menjelaskan perkembangan tasawuf pada abad ke3 dan ke-4 H.
2.3. Menjelaskan perkembangan tasawuf pada abad ke5 H.
2.4. Menjelaskan perkembangan tasawuf pada abad ke6 sampai ke-8 H.

2.5. Menjelaskan perkembangan tasawuf pada abad ke9 H dan sebab kemundurannya.
3. Mengetahui dan memahami tokoh- 3.1. Mengenal tokoh-tokoh sufi: Abu al-Faidh Dzunnun
tokoh sufi dan ajaran-ajarannya
al-Mishri, Abu Yazid al-Bustami, Al-Ghazali,
Rabiah al-Adawiyah, al-Hallaj dan Muhy al-Din
Ibn `Araby.
3.2. Mengkaji ajaran-ajaran pokok tokoh sufi: Abu alFaidh Dzun nun al-Mishri, Abu Yazid al-Bustami,
Al-Ghazali, Rabiah al-Adawiyah, al-Hallaj dan
Muhy al-Din Ibn `Araby.
Standar Kompetensi

Kompetensi Dasar

4. Mengetahui dan memahami maqamat4.1. Menjelaskan pengertian maqamat dan al-ahwal


perjalanan kaum sufi dan al-ahwal 4.2. Menjelaskan tahapan perjalanan (maqamat) kaum
dalam pandangan tasawuf
sufi berupa al-Taubah, al-Wara`, al-Zuhud, alFaqr, al-Sabr, al-Tawakkal dan al-Ridla.
4.3. Menjelaskan ahwal dalam pandangan tasawuf
berupa: takut (al-Khauf), rendah hati (al-tawadhu),
patuh (al-taqwa), ikhlas (al-ikhlash), rasa berteman
(al-uns), gembira hati (al-wajd) dan berterima kasih
(al-syukr).
KELAS
: XII (Dua belas)
SEMESTER : I (Pertama)
STANDAR KOMPETENSI
1. Mengetahui dan memahami
perkembangan aliran-aliran ilmu
kalam di dunia Islam

Standar Kompetensi

KOMPETENSI DASAR
1.1. Menjelaskan campur tangan Khalifah al-Makmun
dalam soal akidah dan proses terjadinya Mihnah
(inquisisi / test of faith)
1.2. Menjelaskan faktor mundurnya aliran Mu`tazilah
pada zaman khalifah al-Mutawakkil dan bangkitnya
aliran Ahlussunnah.
Kompetensi Dasar

2. Mengetahui dan memahami persoalan2.1. Menjelaskan batas antara mukmin dan kafir
persoalan pokok ilmu kalam
menurut Khawarij, Mu`tazilah dan Ahlu Sunnah.
2.2. Menjelaskan fungsi wahyu dan akal menurut
Mu`tazilah, Asy`ariyah, Maturidiyah Samarkand
dan Maturidiyah Bukhara.
2.3. Menjelaskan kekuasan, perbuatan, keadilan dan
sifat-sifat Tuhan menurut Mu`tazilah, Salafiyah,
Asy`ariyah, Maturidiyah Samarkand dan
Maturidiyah Bukhara.
2.4. Menjelaskan kehendak, kekuasan dan perbuatan

manusia menurut Mu`tazilah, Salafiyah,


Asy`ariyah, Maturidiyah Samarkand dan
Maturidiyah Bukhara.
3. Mengetahui dan memahami sikap 3.1. Menjelaskan ayat-ayat al-Quran tentang
kaum muslimin terhadap sains dan
sunnatullah dan sains
falsafah
3.2. Menjelaskan dorongan al-Quran untuk mengambil
pelajaran (i`tibar) dan berfikir (tafakkur) tentang
ayat-ayat kauniyah.
3.3. Menjelaskan kemajuan sains dan falsafah pada
zaman klasik Islam.
3.4. Menjelaskan kebangkitan kaum muslimin pada
zaman modern untuk menguasai sains dan falsafah.
4. Mengetahui dan memahami
4.1. Menjelaskan munculnya neo-Mu`tazilah
perkembangan modern dalam teologi
4.2. Menjelaskan tokoh-tokoh teologi Islam modern dan
Islam.
pemikirannya: Jamaluddin al-Afghani, Muhammad
Abduh, Muhammad Iqbal, Abu A`la al-Maududi,
Sayyid Qutb dan Mahmud Syaltut.
KELAS
SEMESTER

: XII (Dua belas)


: II (Kedua)

STANDAR KOMPETENSI

KOMPETENSI DASAR

1. Mengetahui dan memahami ajaran 1.1. Menjelaskan pengertian ilmu menurut paham sufi
tasawuf tentang ilmu
1.2. Menjelaskan pembagian ilmu dalam pandangan
kaum sufi (ilmu syari`at, ilmu tarikat, ilmu hakikat
dan ilmu ma`rifat)
2. Mengetahui dan memahami tokoh-2.1.
tokoh tasawuf pendiri aliran tarikat
yang terkenal
2.2.
2.3.
2.4.
2.5.
2.6.

Standar Kompetensi

Menjelaskan tokoh sufi Muhyiddin Abdul Qadir Ibn


Abdullah al-Jailani, pendiri tarikat Qadariyah dan
pemikirannya.
Menjelaskan tokoh sufi Sa`id Ahmad Rifa`iy,
pendiri tarikat Rifa`iyah, dan pemikirannya.
Menjelaskan tokoh sufi al-Syazili, pendiri tarikat
Syaziliyah dan pemikirannya
Menjelaskan tokoh sufi Jalaluddin Rumi, pendiri
tarikat Maulawiyah dan pemikirannya.
Menjelaskan tokoh sufi Abdullah Syattar, pendiri
tarikat Syattariyah dan pemikirannya
Menjelaskan tokoh sufi Baha`uddin Muhammad
Ibn Muhammad al-Uwaisy al-Bukhari, pendiri
tarikat Naqsabandiyah dan pemikirannya.
Kompetensi Dasar

3. Mengetahui dan memahami sejarah3.1. Menjelaskan munculnya tasawuf di Indonesia

tasawuf di Indonesia

3.2. Menjelaskan tokoh-tokoh penyebar di Indonesia


(Hamzah al-Fansury, Syamsuddin al-Sumaterani,
Abdus Samad al-Palimbani dan Syekh Yusuf alMakasari.

4. Mengetahui dan memahami


4.1. Menjelaskan problematika masyarakat modern
problematika masyarakat modern dan
4.2. Menjelaskan perlunya pengembangan akhlak
perlunya akhlak tasawuf
tasawuf bagi masyarakat modern.