Anda di halaman 1dari 6

Bahayanya Salinan Resep

"Kopi"

atau turunan resep adalah salinan resep yang dibuat oleh


apoteker atau apotek. Selain memuat semua keterangan obat
yang terdapat pada resep asli, salinan ini mestinya juga harus
memuat: nama dan alamat apotek; nama apoteker; nomor Surat
Izin Kerja (SIK) dan Surat Izin Apotek (SIA); tanda tangan atau
paraf apoteker serta stempel apoteker; tanda det atau
deturuntuk obat yang sudah diserahkan, nde atau nedetur, iter
(diulang berapa kali), det iter, untuk obat yang belum atau
sebagian telah diserahkan; nomor resep obat yang belum atau
sebagian telah diserahkan; nomor resep serta tanggap
peresepan dokter dan penyerahan obat ke pasien.

Maka

"kopi" resep masih berlaku apabila:


Obatnya belum diberikan sama sekali atau telah diberikan
sebagian.
Dokternya menghendaki obatnya boleh diulang (iter = iteratur).
Tanda iter dapat diketahui dari resep asli dokter dan harus ditulis
kembali pada kopi resep yang ditulis oleh apoteker.
Pada kasus pertama, mungkin pasien belum mempunyai uang
atau obatnya baru diambil sebagian dan apotek memberikan
kopi resep untuk mengambil sisanya di lain waktu.

Kenyataannya,

banyak orang mengira setiap kopi


resep bisa diulang seterusnya.
Ada banyak faktor yang mendorong pasien
mengulang kopi resep secara terus menerus.
Selain faktor uang tadi, masih ada faktor lain a.l.:
jauhnya tempat tinggal pasien dengan dokter;
anggapan pasien, kalau kontrol obat yang
diresepkan sama dengan resep sebelumnya;
biaya dokter akan bertambah kalau harus ke
dokter lagi; obat dirasakan sudah cocok dan tanpa
efek sampingan; perlunya pengobatan jangka
panjang; pengulangan kopi resep yang sudah
tidak berlaku lagi memang diperbolehkan oleh
pihak apotek atau karena pasien kenal baik
dengan petugas apotek; kemungkinan obat sudah
menyebabkan ketergantungan pada pasien.

Padahal, pengulangan resep ada


aturannya.
Pertama,

kopi resep yang mengandung obat


bebas atau bebas terbatas dapat diulang dengan
ketentuan penderita memperoleh informasi yang
jelas, baik tertulis (dalam kemasan asli yang
dilengkapi brosur) maupun secara lisan dari
apoteker
.Kedua, kopi resep yang telah diberikan seluruh
obatnya dapat berlaku lagi bila kopi tersebut telah
diketahui dan disetujui kembali oleh dokter yang
berangkutan. Akan tetapi, hal ini sekarang jarang
terjadi.
Ketiga, untuk resep yang mengandung narkotika,
tidak boleh ada tanda iter. Obat jenis ini selalu
memerlukan resep baru, kecuali bila baru diambil
sebagian.

Bagaimanapun,

selain bermanfaat, pengulangan resep


juga memiliki sisi bahaya. Yang pernah terjadi, adalah:
Sering mengulang kopi resep yang mengandung
kortikosteroid (misal deksametason, prednison) dalam
jangka waktu lama akan menimbulkan full moon face.
Wajah menjadi bulat, bengkak seperti bulan karena edema
akibat retensi natrium. Kortikosteroid deksametosan
memang sering disalahgunakan untuk menambah nafsu
makan. Padahal, obat ini sebenarnya untuk penyakit alergi,
gatal-gatal kulit, asma, dll. Gemuknya badan bukan karena
deposit protein, melainkan karena air yang timbul dari
edema. Dampak lain adalah timbulnya penyakit mag
karena sekresi asam lambung meningkat dan timbulnya
luka di lambung, keropos tulang, serta hiperglikemia yang
mirip diabetes mellitus.
Pengulangan kopi resep yang mengandung antibiotik
tetrasiklin secara terus menerus dapat menyebabkan
kerusakan gigi pada anak-anak (gigis), bercak-bercak
hitam, dan nefrotoksik.

Kopi

resep bahkan ada yang dipinjamkan


kepada tetangga. Celakanya, baru setelah
dikonsumsi, ketahuan bahwa orang
tersebut alergi terhadap obat itu. Begitu
dicek, ternyata obat tersebut adalah
ampisilin (golongan penisilin).
Kopi resep untuk anak kecil yang digunakan
untuk kakaknya, tentu kurang
menyembuhkan. Sebaliknya, bila kopi
resep si kakak yang digunakan untuk
mengobati si adik, bisa terjadi keracunan
akibat kelebihan dosis.
Mengulang kopi resep lama karena mengira
cocok dengan keluhan pasien, padahal
ternyata penyakitnya berbeda.