Anda di halaman 1dari 13

PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA

PENGARUH MUTAGEN ETHYL METHANE SULFONATE (EMS) DAN


SELEKSI IN VITRO TERHADAP RESPON PERTUMBUHAN KALUS
GANDUM

BIDANG KEGIATAN :
PKM Artikel Ilmiah

Diusulkan oleh :
Suprianto Wila (512008016)

UNVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA


SALATIGA
2012

HALAMAN PENGESAHAN PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA


1. Judul Kegiatan

: Pengaruh Mutagen Ethyl Methane Sulfonate (EMS) dan


Seleksi In Vitro Terhadap Respon Pertumbuhan Kalus
Gandum.

2. Bidang Ilmu

: (X) PKM-AI

( ) PKM-GT

3. Ketua Pelaksana Kegiatan/Penulis Utama


a. Nama Lengkap

: Suprianto Wila

b. NIM

: 512008016

c. Jurusan

: Agroekoteknologi

d. Universitas

: Universitas Kristen Satya Wacana

e. Alamat Rumah dan No.Telp/HP

: Jalan Kemiri Barat Gg. Salak no. 43,


Salatiga Jawa Tengah/085226534570

f. Alamat email

: wilasuprianto@yahoo.com

4. Anggota Pelaksana Kegiatan/Penulis

Orang

5. Dosen Pembimbing
a. Nama Lengkap

: Ir. Djoko Murdono, M.S

b. NIP

c. Alamat Rumah dan No.Telp/HP

Salatiga, 14 September 2012


Menyetujui,

Ir. Djoko Murdono, M.S

Suprianto Wila

Pembimbing

Penyusun

Dr. Ir. Bhistok Hasiholan S, M.S


Ketua Progdi Agroekoteknologi

PENGARUH MUTAGEN ETHYL METHANE SULFONATE (EMS) DAN


SELEKSI IN VITRO TERHADAP RESPON PERTUMBUHAN KALUS
GANDUM

Suprianto Wila, Yosi Setyadi, Riris Eunike


Fakultas Pertanian dan Bisnis
Universitas Kristen Satya Wacana

ABSTRAK
Tanaman gandum (Tritticum aestivum L.) adalah salah satu jenis tanaman
pangan di dunia. Satu produk olahan gandum adalah terigu. Konsumsi terigu
masyarakat Indonesia meningkat 4-6% per tahun sedangkan seluruh kebutuhan
terigu masih dipenuhi dari impor. Oleh karena itu, pemerintah mencanangkan
program pengembangan gandum di Indonesia. Salah satu kendala pengembangan
tanaman gandum di Indonesia adalah terbatasnya varietas yang beradaptasi
terhadap lingkungan tropis. Oleh karena itu, perakitan kultivar gandum yang
adaptif untuk daerah tropis menjadi sangat penting untuk menunjang program
pengembangan gandum di Indonesia. Penyediaan keragaman genetik dapat
dilakukan dengan memanfaatkan teknik kultur jaringan yaitu salah satunya
dengan induksi mutasi. Salah satu mutagen yang paling potensial, paling efektif
dan banyak digunakan serta digunakan pada berbagai jenis organisme adalah
mutagen kimia yaitu Ethyl Methane Sulfonate (EMS). Untuk mengarahkan
perubahan sifat akibat mutasi, dapat digunakan seleksi in vitro. Kegiatan magang
ini bertujuan untuk memperoleh informasi lanjut mengenai pengaruh mutagen
EMS terhadap respon pertumbuhan kalus gandum, khususnya informasi
mengenai pengaruh perbedaan waktu perendaman kalus dalam konsentrasi EMS
0,3%. Informasi dari kegiatan ini diharapkan akan berguna bagi penelitian
selanjutnya untuk mendapatkan keragaman genetik yang lebih luas dan untuk
seleksi tanaman gandum yang lebih unggul pada generasi berikutnya. Hasil
pengujian menunjukkan bahwa perbedaan waktu perendaman berpengaruh
terhadap persentase hidup kalus pada proses seleksi in vitro. Perlakuan waktu
perendaman yang optimal untuk induksi mutasi yaitu pada EMS 0,3% selama 1
jam.
Kata kunci :
Tritticum aestivum L., induksi kalus, induksi mutasi, EMS, seleksi in vitro

ABSTRACT
Wheat plants (Tritticum aestivum L.) is one of the world's crops. The
processed products are wheat flour. Indonesia to increase the consumption of
wheat flour 4-6% per year, while the entire requirement is met from imported

wheat. Therefore, the government announced the development of wheat in


Indonesia. One obstacle wheat cultivation in Indonesia is limited varieties
adapted to tropical environments. Therefore, adaptive assembly of wheat cultivars
for the tropics is very important to support wheat development program in
Indonesia. Provision of genetic diversity can be done by using tissue culture
techniques, namely one with induced mutations. One of the most potent mutagen,
most effective and widely used, and is used in many kinds of organisms is the
chemical mutagen Ethyl Methane Sulfonate (EMS). To direct result of the
changing nature of the mutation, it can be used in vitro selection. Apprenticeship
aims to obtain more information on the mutagenic effect of EMS on the response
of wheat callus growth, particularly information on the effect of immersion time
difference callus in 0.3% EMS concentration. Information from these activities
are expected to be useful for further research to gain a wider genetic diversity and
for the selection of wheat is superior to the next generation. The test results
showed that the difference in effect on the percentage of time soaking living callus
on the selection process in vitro. Soaking time optimal treatment for the induction
of mutations in EMS 0.3% for 1 hour.
Keywords:
Tritticum Aestivum L., callus induction, induction of mutations, EMS, in vitro
selection.
PENDAHULUAN
Tanaman Gandum (Triticum aestivum L.) adalah salah satu jenis tanaman
pangan penting di dunia. Menurut Wittenberg (2004) gandum memiliki peranan
sebagai pendukung ketahanan pangan dunia karena secara global tanaman ini
merupakan komoditas serealia yang paling banyak diusahakan di dunia dan
dikonsumsi sekitar 36% dari total penduduk dunia. Satu produk olahan gandum
adalah terigu. Konsumsi terigu masyarakat Indonesia meningkat 4-6% per tahun,
padahal kebutuhan gandum dalam negeri hampir seluruhnya diperoleh dari impor,
sehingga Indonesia merupakan negara pengimpor gandum terbesar ke 5 dunia
dengan total impor 4,86 juta ton/tahun dan akan terus meningkat dengan laju 2%
per tahun (Reynolds, 2002). Tahun 2020 impor gandum diprediksi akan mencapai
8,5 juta ton yang tentu saja memerlukan devisa yang sangat tinggi dan
ketergantungan terhadap negara Amerika Serikat sebagai negara pengekspor
(Apitindo, 2010). Oleh karena itu, pemerintah mencanangkan program
pengembangan gandum di Indonesia. Salah satu kendala pengembangan tanaman
gandum di Indonesia adalah terbatasnya varietas yang beradaptasi terhadap
lingkungan tropis (Danakusuma, 1985).
Gandum merupakan tanaman subtropis. Di negara asalnya, gandum
dibudidayakan di daerah dengan suhu di bawah 10oC dengan produktivitas 9 t/ha.
Di Indonesia, gandum lebih sesuai dibudidayakan di dataran tinggi (>900 m dpl),
produktivitas rendah (Dahlan et al, 2003). Oleh karena itu, perakitan kultivar
gandum yang adaptif untuk daerah tropis menjadi sangat penting untuk
menunjang program pengembangan gandum di Indonesia.

Penyediaan keragaman genetik dapat dilakukan dengan memanfaatkan


teknik kultur jaringan (kultur in vitro), yaitu dengan menginduksi keragaman yang
berasal dari sel-sel somatik (keragaman somakloal). Metode kultur jaringan yang
dapat digunakan untuk menghasilkan keragaman somaklonal adalah dengan
menggunakan zat pengatur tumbuh dengan aktivitas yang tinggi, atau dengan
menginduksi terjadinya mutasi. Induksi mutasi merupakan metode yang terbukti
dapat menghasilkan varietas-varietas baru pada berbagai tanaman. Induksi mutasi
dapat dilakukan pada tanaman dengan perlakuan bahan mutagen tertentu terhadap
organ reproduksi tanaman seperti biji, setek batang, serbuk sari, akar rizoma, dan
kalus (Soejono, 2003). Salah satu mutagen yang paling potensial, paling efektif
dan banyak digunakan serta digunakan pada berbagai jenis organisme mulai dari
virus sampai mamalia (Sega, 1984) adalah mutagen kimia yaitu Ethyl Methane
Sulfonate (EMS) karena mudah diperoleh, murah dan tidak bersifat mutagenik
setelah terhidrolisis (Natarajan, 2005). Mutagen kimia dapat diintroduksi ke
dalam jaringan tanaman dan bahkan sel sehingga dapat menyebabkan jumlah
mutasi yang tinggi dibandingkan dengan cara lain tetapi tergantung dari
konsentrasi bahan kimia, waktu perlakuan, suhu, pH larutan mutagenik dan kadar
air bahan eksplan (Nasir, 2002).
Secara umum, proses mutasi dapat menimbulkan perubahan sifat genetik
tanaman baik ke arah positif maupun negatif, dan memungkinkan mutasi yang
terjadi dapat kembali normal (recovery). Mutasi yang mengarah ke sifat positif
dan diwariskan ke generasi berikutnya adalah yang dikehendaki oleh pemulia
tanaman pada umumnya (Soejono, 2003). Untuk mengarahkan perubahan sifat
yang terjadi karena induksi mutasi, dapat dikombinasikan dengan seleksi in vitro
menggunakan agen seleksi atau metode tertentu agar perubahan sifat mengarah
pada karakter yang diingankan.
Tujuan
Kegiatan magang ini bertujuan untuk memperoleh informasi lanjut
mengenai pengaruh mutagen EMS terhadap respon pertumbuhan kalus gandum
setelah perlakuan, khususnya informasi mengenai pengaruh perbedaan waktu
perendaman kalus dalam konsentrasi EMS 0,3%. Informasi dari kegiatan ini
diharapkan akan berguna untuk penelitian selanjutnya untuk mendapatkan
keragaman genetik yang lebih luas dan untuk seleksi tanaman gandum yang lebih
unggul pada generasi berikutnya.
BAHAN DAN METODE
Waktu dan Tempat
Kegiatan magang dilaksanakan pada tanggal 14 Mei 2012 sampai dengan
3 Agustus 2012 yang bertempat di Laboratorium Kultur Jaringan BB-Biogen,
Kampus Penelitian Pertanian Cimanggu, Kota Bogor.
Alat dan Bahan
Bahan yang digunakan adalah eksplan dari embrio muda gandum varietas
Dewata dan Selayar, Media dasar MS (Murashige and Skoog) dengan

penambahan 2,4D 3 mg/L, deterjen, benlate, alkohol, larutan clorox, serta larutan
HgCl2.
Sedangkan alat yang digunakan adalah botol kultur, cawan petri, Laminar
Air Flow Cabinet, pH meter, magnetic stirer, otoklaf, inkubator, pinset, skalpel,
kertas saring steril, dan kamera digital.
Metode Magang
Berikut merupakan proses perbaikan genetik gandum melalui induksi
mutasi dan seleksi in vitro :
Induksi Kalus Embriogenik
(MS + 2,4-D 3 mg/L) selama 4 minggu
Induksi Mutasi
(EMS 0,3 % 1 dan 2 jam tiap varietas)
Inkubasi
(MS + 2,4D 3 mg/L) selama 1 minggu
Seleksi In Vitro
(Inkubator 29o C) selama 4 minggu
Regenerasi
Aklimatisasi

Persiapan Media
Media induksi kalus yang digunakan adalah media dasar MS dengan
sukrosa 30 g/L dan diberi zat pengatur tumbuh 2,4-D 3 mg/L dalam media padat
(Phytagel 3 g/L), dengan pH medium sebelum ditambah Phytagel 5,7-5,8. Media
disterilkan dalam otoklaf selama 15 menit dengan tekanan 1 atm pada suhu
121oC.
Persiapan dan Sterilisasi Eksplan Gandum
Bahan tanaman yang digunakan adalah embrio belum masak yang diisolasi
dari biji gandum berumur 3 minggu setelah anthesis. Sebelum disterilkan biji
gandum dikupas terlebih dahulu sampai bersih (tidak ada kulit ari). Biji gandum
yang telah dipisahkan dari malainya dicuci bersih menggunakan deterjen
kemudian direndam dalam larutan Benlate 3g/l dan diletakkan pada alat shaker
selama 1 jam.
Setelah itu proses sterilisasi harus dilakukan di dalam laminar. Yang
pertama dilakukan adalah membuang larutan fungisida, kemudian rendam eksplan
dengan menggunakan alkohol 70% selama 10 menit sambil terus dikocok.
Kemudian buang alkohol dan bilas sekali dengan menggunakan aquadest steril.

Setelah itu eksplan direndam dalam larutan HgCl 0,2% Eksplan direndam
kembali dengan menggunakan larutan clorox 30% selama 10 menit sambil
dikocok dan setelah itu langsung dibilas sekali dengan menggunakan aquadest
steril. Setelah itu eksplan direndam dengan menggunakan larutan clorox 20%
selama 10 menit lalu dilakukan pembilasan akhir dengan menggunakan aquadest
antara tiga sampai lima kali agar eksplan benar-benar bersih. Kemudian eksplan
diberi betadine 5 10 tetes selama 5 menit lalu larutan betadine dibuang dan
gandum siap dikultur.
Induksi Kalus Embriogenik
Setelah melakukan tahapan-tahapan sterilisasi eksplan, kemudian segera
dilakukan pengkulturan eksplan. Eksplan untuk induksi kalus berupa embrio
gandum yang steril. Setiap botol kultur diisi sekitar 25 ml media dengan 10 buah
embrio per botol per varietas. Botol yang telah diisi embrio selanjutnya diletakkan
di atas rak kultur dalam ruang kultur dalam kondisi gelap agar pembentukan kalus
lebih optimal selama 1 bulan. Pengamatan dilakukan terhadap persentase kalus
dan persentase kontaminasi yang dihasilkan. Persentase pembentukan kalus,
dihitung dengan rumus : jumlah eksplan yang membentuk kalus/total jumlah
eksplan x 100% sedangkan persentase kontaminasi dihitung dengan rumus jumlah
eksplan yang terkontaminasi/total jumlah eksplan x 100%.
Induksi Mutasi
Kalus steril hasil induksi selanjutnya dimutasi untuk peningkatan
keragaman. Mutagen yang digunakan adalah mutagen kimia yaitu Ethyl Methane
Sulfonate (EMS) dengan dosis 0,3% dan waktu perendaman masing masing 1
dan 2 jam untuk tiap varietas. Setelah itu kalus yang telah dimutasi diinkubasi
kembali pada media MS dengan penambahan 2,4-D 3mg/L selama 1 minggu.
Pengamatan dilakukan terhadap persentase kalus yang bertahan hidup (toleran)
dan mati (peka) setelah dimutasi dengan indikator perubahan warna kalus yang
terjadi (coklat, coklat kehitaman). Persentase kalus toleran dihitung dengan rumus
jumlah kalus yang bertahan hidup/total jumlah kalus x 100% sedangkan
persentase kalus yang peka dihitung dengan rumus : jumlah kalus yang mati/total
jumlah eksplan x 100%.
Seleksi In Vitro
Setelah penyimpanan selama 1 minggu dalam ruang kultur, kalus yang
masih bertahan hidup setelah dimutasi selajutnya dipindahakan ke dalam
inkubator dengan suhu 29oC untuk proses seleksi in vitro. Peubah yang diamati
adalah persentase kalus yang bertahan hidup (toleran) selama periode seleksi
melalui visual kalus (perubahan warna kalus).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Induksi Kalus Embriogenik
Proses perbaikan keragaman genetik gandum melalui induksi mutasi dan
seleksi in vitro diawali dengan melakukan induksi kalus embriogenik

menggunakan embrio biji gandum yang belum masak 3 minggu setelah anthesis
dengan tujuan agar proses penginduksian kalus jadi lebih mudah dan cepat.
Varietas gandum yang digunakan adalah Dewata dan Selayar yang didatangkan
dari kebun percobaan Pacet (1000 m dpl) dengan umur tanaman (umur biji)
berkisar antara 74 96 HST. Setelah disterilisasi biji gandum diletakkan pada
kertas saring lalu diisolasi embrionya dengan cara mengeluarkan embrio dari biji
dengan ujung pinset.

Gambar 1. Ilustrasi Pemotongan Daun dan Internode Planlet

Hingga minggu ke-12 telah dilakukan induksi kalus gandum sebanyak 4


kali pada media MS dengan penambahan zat pengatur tumbuh 2,4-D 3 mg/L. Rata
rata persentase kalus yang berhasil diinduksi dari gandum varietas Dewata yakni
sebesar 47,91% dan pada gandum varietas Selayar sebesar 47,07%. Hasil
pengamatan menunjukkan bahwa perbedaan umur biji gandum yang digunakan
untuk induksi kalus embriogenik mempengaruhi kemampuan embrio untuk
membentuk kalus. Semakin muda umur biji gandum maka kemampuan untuk
membentuk kalus semakin rendah. Seperti yang ditunjukkan pada tabel 1,
persentase kalus terendah didapati pada induksi kalus embriogenik I (umur 74
HST) dengan nilai 16,72% untuk varietas dewata dan 19,35% untuk varietas
Selayar, sedangkan umur gandum yang baik untuk digunakan sebagai eksplan
ditunjukkan pada induksi kalus III (umur 96 HST) dimana persentase kalus
mencapai 79,81% untuk gandum varietas Dewata dan 73,81% untuk varietas
Selayar.
Tabel 1. Persentase kalus yang berhasil diinduksi dan tingkat kontaminasi
Induksi
Kalus
Embriogenik

Persentase Kalus (%)

Persentase Kontaminasi (%)

Dewata

Selayar

Dewata

Selayar

16.72
(50/317)

19.35
(84/434)

83.28
(264/317)

80.64
(350/434)

II

21.09
(101/479)

18.23
(72/395)

78.91
(378/479)

81.77
(323/395)

III

79.51
(772/971)

73.81
(417/565)

20.49
(199/971)

26.19
(148/565)

IV

74.33
(391/526)

76.89
(326/424)

25.67
(135/526)

23.11
(98/424)

Rata - rata

47.91

47.07

52.09

52.93

Keterangan : I (umur gandum 74 HST), II (umur gandum 79 HST), III (umur


gandum 96 HST), IV (umur gandum 79 HST).
Jumlah persentase kalus yang berhasil diinduksi tidak hanya dipengaruhi
oleh adanya perbedaan umur gandum yang digunakan tetapi juga karena
disebabkan oleh tingkat kontaminasi yang cukup tinggi oleh bakteri dan jamur.
Rata rata persentase kontaminasi pada kalus gandum varietas Dewata sebesar
52,09% dan pada gandum varietas Selayar sebesar 52,93%. Kontaminasi
disebabkan oleh jamur dan bakteri. Kontaminasi oleh jamur terlihat jelas pada
media, media dan eksplan diselimuti oleh hifa berbentuk kapas berwarna putih
serta pada bagian tertentu sporangium dan sporangiofora tampak berupa titik
seperti jarum pentul. Sedangkan kontaminasi oleh bakteri, pada eksplan terlihat
lendir berwarna kuning sebagian lagi melekat pada media membentuk
gumpalan yang basah.

(a)

(b)

Gambar 2. Kontaminasi : (a) bakteri dan (b) jamur.


Induksi Mutasi dan Seleksi In Vitro
Pemberian perlakuan induksi mutasi dengan ethyl methane sulfonate
(EMS) yang telah dilakukan adalah dengan merendam kalus kalus gandum pada
larutan EMS konsentrasi 0,3 % selama 1 dan 2 jam untuk tiap varietas dan
kemudian diinkubasi kembali pada media awal (MS+2,4D 3 mg/L) selama 1
minggu. Gambar 3 menunjukkan bahwa pada periode waktu 1 minggu setelah
induksi mutasi, tidak nampak adanya perubahan pada warna kalus (menjadi coklat
kehitaman) yang merupakan indikasi dari kalus yang mati karena efek toksin dari
EMS. Rata rata persentase kalus yang bertahan hidup dalam periode 1 minggu

setelah mutasi yakni 100% baik pada perlakuan perendaman selama 1 jam
maupun 2 jam untuk masing - masing varietas.
Tabel 2. Pengaruh EMS terhadap kalus gandum (umur 1 minggu)
Persenatase kalus hidup (%)
EMS 0,3 %
Dewata

Selayar

1 jam

100 (44/44)

100 (40/40)

2 jam

100 (44/44)

100 (40/40)

Gambar 3. Pengaruh EMS terhadap kalus gandum (umur 1 minggu)

(a)

(c)

**Keterangan :
(a) Dewata, EMS 0,3% 1 jam
(b) Dewata, EMS 0,3% 2 jam
(c) Selayar, EMS 0,3% 1 jam
(d) Dewata, EMS 0,3% 2 jam

(b)

(d)

Untuk mengarahkan perubahan sifat yang terjadi karena induksi mutasi,


selanjutnya dilakukan seleksi in vitro terhadap kalus agar perubahan sifat
mengarah pada karakter yang diingankan yaitu mendapatkan kultivar gandum
yang adaptif untuk daerah tropis. Metode yang digunakan yakni peningkatan suhu
ruang inkubasi dengan menempatkan kalus yang telah dimutasi dalam inkubator
dengan suhu 29o C selama 4 minggu. Kalus yang bertahan hidup selama periode
seleksi diasumsikan sebagai kalus adaptif suhu tinggi.
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa waktu perendaman kalus
menggunakan larutan EMS berpengaruh terhadap daya tumbuh kalus pada
periode seleksi in vitro. Semakin lama waktu perendaman yang diberikan,
semakin meningkat persentasi kalus yang mati pada periode seleksi. Eksplan yang
mati memperlihatkan perubahan warna beberapa minggu setelah perlakuan.
Perubahan awal terjadi pada permukaan luar kalus yang awalnya berwarna putih
namun kemudian berubah secara bertahap menjadi cioklat kemudian cokelat
kehitaman. Kalus yang hidup adalah kalus yang tetap berwarna putih kekuningan
setelah perlakuan EMS (Gambar 4).
Gambar 4. Hasil pengamatan seleksi In Vitro pada kalus gandum Dewata
(umur 3 minggu)

(a)

(c)

**Keterangan :
(a) Dewata, EMS 0,3% 1 jam

(b)

(d)

(b) Dewata, EMS 0,3% 2 jam


(c) Selayar, EMS 0,3% 1 jam
(d) Selayar, EMS 0,3% 2 jam
Tabel 3. Hasil pengamatan seleksi In Vitro pada kalus gandum Dewata
(umur 3 MSP)
Warna Kalus
EMS 0,3%

Putih Kekuningan
(%)

Putih Kecoklatan
(%)

Hitam
(%)

1 Jam

68.18 (30/44)

31.81 (14/44)

0 (0/44)

2 Jam

47.72 (21/44)

52.27 (23/44)

0 (0/44)

Tabel 4. Hasil pengamatan seleksi In Vitro pada kalus gandum Selayar


(umur 3 MSP)
Warna Kalus
EMS 0,3%

1 Jam
2 Jam

Putih Kekuningan
(%)

Putih Kecoklatan
(%)

57.5 (23/40)

42.5 (17/40)

37.5 (15/40)

62.5 (25/40)

Hitam
(%)
0 (0/40)
0 (0/40)

Hasil pengamatan seleksi in vitro selama 3 minggu dapat dilihat pada tabel
3 dan 4. Perubahan warna kalus (putih kecoklatan) terjadi pada setiap varietas
gandum. Warna kecoklatan merupakan indikasi bahwa kalus menuju nekrosis
karena tidak dapat bertahan dari cekaman suhu diberikan. Persentase kalus dengan
perlakuan perendaman EMS 0,3% selama 2 jam menunjukkan perubahan warna
(putih kecoklatan) yang paling tinggi pada kedua varietas sedangkan persentase
kalus yang paling rendah mengalami perubahan warna (putih kecoklatan) setelah
inkubasi ditunjukkan pada perlakuan perendaman EMS 0,3% selama 1 jam. Hal
ini menunjukkan bahwa perbedaan waktu perendaman berpengaruh terhadap
ketahanan kalus pada proses seleksi in vitro. Semakin lama waktu perendaman
dilakukan maka akan semakin rendah persentase kalus yang dapat bertahan hidup
pada proses seleksi. Perlakuan waktu perendaman yang optimal untuk induksi
mutasi yaitu pada EMS 0,3% selama 1 jam.

KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pengujian pengaruh perlakuan Ethyl methane sulfonate
0,3% diketahui bahwa perbedaan waktu perendaman berpengaruh terhadap
ketahanan kalus pada proses seleksi in vitro. Semakin lama waktu perendaman
dilakukan maka akan semakin rendah persentase kalus yang dapat bertahan hidup
pada proses seleksi. Perlakuan waktu perendaman yang optimal untuk induksi
mutasi yaitu pada EMS 0,3% selama 1 jam.
DAFTAR PUSTAKA
Aptindo. 2010. http://bataviase.co.id/node/436332. [Juli 2012].
Dahlan M, Rudijanto, J. Murdianto dan M. Yusuf. 2003. Usulan Pelepasan
Varietas Gandum. Balai Penelitian Tanaman Serealitan dan pengembangan
Pertanian. Badan Penelitian dan pengembangan Pertanian.
Danakusuma T. 1985. Hasil penelitian Gandum dan prospek pengembangannya.
Di dalam: Subandi et al. (Eds). Risalah Rapat Teknis Hasil Penelitian
Jagung. Sorgum dan Gandum Puslitbangtan, Bogor. hlm 189-202
Nasir M. 2002. Bioteknologi Molekuler. Teknik rekayasa genetik tanaman. PT
Citra Aditya Bakti. Bandung. Hlm 59-78.
Natarajan AT. 2005. Chemical mutagenesis from plants to human. Curr. Sci.
89:312-317.
Reynolds MP. 2002. Physiological approaches to wheat breeding. Di dalam :
Curtis, B.C., Rajaram, S. dan Macpherson, H.G. (Eds): Bread Wheat
Improvement and Production. Roma: FAO. hlm 567.
Soedjono S. 2003. Aplikasi mutasi induksi dan variasi somaklonal dalam
pemuliaan tanaman. Jurnal Litbang Pertanian 22(2):70-78.
Sega GA. 1984. A review of the genetic effects of ethylmethanesolfonate. Mutat
Res 134(2-3):113-142.
Witternberg H. 2004. The Inheritance and Molecular Mapping of Genes for Postanthesis Drought Tolerance (PADT) in Wheat [Dissertation]. Martin
Luther Universitat.