Anda di halaman 1dari 7

NOTA KEBERATAN

(EKSEPSI)
PENASEHAT HUKUM TERDAKWA

Dalam Perkara Pidana Nomor Register : PDS. 04 / SAMPG/08/2014


Atas Nama Terdakwa : H. ABDURRAHMAN CS, S.H.,M.Si
Tertanggal : 16 September 2014

Untuk dan atas nama Terdakwa :


Nama Lengkap : H. ABDURRAHMAN CS.,S.H.,Msi.
Tempat Lahir

: Sampang

Tanggal Lahir : 14 Desember 1970


Jenis Kelamin : Laki-Laki
Umur

: 44 Tahun

Kebangsaan

: Indonesia

Tempat Tingal : Jl.Jamaludin No.162 Kel.Karang Dalam, Kecamatan Sampang, Kabupaten


Sampang
Pekerjaan

: PNS (Kasi Produksi bidang tanaman pangan di Dinas Pertanian Kab. Sampang )

Pendidikan

: Strata 2 /S2

I.

PENDAHULUAN

Majelis Hakim yang kami muliakan


Sdr Jaksa Penuntut Umum yang terhormat
Hadirin sidang Yang Mulia,
Pertama-tama kami ucapkan terima kasih atas kesempatan untuk membacakan Nota
Keberatan ini kehadapan sidang yang kami muliakan. Sesuai dengan Hak membela diri bagi
Terdakwa, sebagaimana tercantum dalam Pasal 156 ayat (1) KUHAP dan Pasal 143 ayat (2) dan (3)
KUHAP, bersama ini kami selaku Penasehat Hukum Terdakwa, Untuk dan atas nama Terdakwa,
untuk mengajukan Nota Keberatan (eksepsi) terhadap Surat Dakwaan yang diajukan Jaksa Penuntut
Umum dalam Persidangan ini.
Sebagaimana tertuang dalam salah satu dalil Mr. Trapman dalam buku Prof. Mr. J. M. Bemellen
Straf Voordering cetakan tahun 1950 halaman 90, disebutkan bahwasanya :

Hakim sebagai Pejabat umum dengan sendirinya mempunyai posisi yang obyektif, karena
menjalankan fungsi mengfadili terhadap masing-masing pendirian subjektifdari kedua belah pihak
yang bertengkar di hadapannya yaitu Jaksa Penuntut Umum di salah satu pihak
dan
Terdakwa/Penasehat Hukumnya di lain pihak, oleh karena itu dengan sendirinya wajib atau setidaktidaknya diharapkan memegang teguh pendirian yang tidak memihak.
Sejalan dengan dalil tersebut diatas, maka kami selaku Penasehat Hukum Terdakwa, dengan tanpa
mengurangi rasa hormat serta independensi Badan Peradilan ini juga kepada sdr. Jaksa Penuntut
Umum maka kami memohon kepada Majelis Hakim yang memeriksa dan mengadili perkara ini untuk
menegakkan supremasi hukum sesuai ketentuan perundang-undangan dengan hati nurani yang bersih
serta bebas dari segala unsur subjektifitas, maupun tekanan dan tetap berpegang teguh pada bukti dan
fakta sebagai implementasi dari penerapan asas Presumption of Innocence/ Praduga Tak Bersalah
Majelis Hakim yang kami muliakan
Sdr Jaksa Penuntut Umum yang terhormat
Hadirin sidang Yang mulia,
Setelah kami dengarkan dengan seksama Surat Dakwaan yang dibacakan oleh yang terhormat Sdr.
Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada sidang yang lalu serta kami pelajari berkas perkara atas nama
Terdakwa, kami Tim Penasihat Hukum Terdakwa merasa wajib untuk menyampaikan Nota
Keberataan atau eksepsi ini, oleh karena surat dakwaan ini dibuat bukan hanya atas dasar hasil
pemeriksaan namun lebih banyak didasarkan pada asumsi dan spekulasi serta rasionalitas sdr. Jaksa
Penuntut Umum tanpa memahami secara global tentang apa yang menjadi inti permasalahan serta
bagaimana penerapan peraturan perundang-undangan yang menyertainya, Sehingga Pengajuan
keberatan ini semata-mata demi memperoleh konstruksi tentang kebenaran dari kasus yang sedang
Terdakwa hadapi
TENTANG KEBERATAN (EKSEPSI) DAN SURAT DAKWAAN
Majelis Hakim yang kami muliakan
Sdr Jaksa Penuntut Umum yang terhormat
Hadirin sidang Yang mulia,
Bahwa pada tanggal 29 September 2014, Sdr. Jaksa Penuntut Umum pada Kejaksaan Negeri
Sampang, telah membacakan Surat Dakwaan No. Reg. Perkara No. : PDS. 04 / SAMPG/08/2014,
untuk selanjutnya disebut juga: SURAT DAKWAAN;
Bahwa dalam Surat Dakwaan tersebut sdr. Jaksa Penuntut Umum telah mendakwa Terdakwa sdr. H.
ABDURRAHMAN CS.,S.H.,Msi. dengan Dakwaan yang berbentuk Subsidaritas, yaitu:

Pertama: Pasal 2 Ayat (1) jo. Pasal 18 Ayat (1) huruf b, ayat (2) dan (3) Undang-undang No.
31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan
Undang-undang No. Tahun No. 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-undang
Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo.
Pasal 55 ayat(1) ke 1 KUHP
Kedua : : Pasal 3 jo. Pasal 18 Ayat (1) huruf b, ayat (2) dan (3) Undang-undang No. 31 Tahun
1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan Undangundang No. Tahun No. 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-undang Republik
Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Pasal 55
ayat(1) ke 1 KUHP

DASAR HUKUM PENGAJUAN KEBERATAN TERHADAP DAKWAAN

Secara garis besarnya terdapat dua macam keberatan yang menjadi hak dari Terdakwa atau
Penasehat Hukum. Yang pertama adalah berdasarkan pasal 156 KUHAP yang menyatakan: dakwaan
tidak dapat diterima. Yang kedua adalah berdasarkan pasal 143 KUHAP. Jika keberatan jenis yang
kedua ini diterima maka Surat Dakwaan dinyatakan batal demi hukum sedangkan untuk jenis yang
pertama jika keberatan diterima oleh hakim maka perkara tidak diperiksa lebih lanjut.
Berdasarkan ketentuan Pasal 143 ayat (2) huruf b KUHAP, maka syarat mutiak menyusun surat
dakwaan adalah harus dicantumkannya uraian mengenai waktu dan tempat terjadinya delik, dan delik
yang didakwakan. Syarat mutlak mana dalam surat dakwaan tersebut narus diuraikan secara- cermat,
jelas, dan lengkap, karena pelanggaran dan atau tidak dipenuhinya syarat mutlak tersebut konsekuensi
juridisnya adalah sebagaimana ditentukan dalam Pasal 143 ayat (3) KUHAP, yaitu surat dakwaan
yang tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) huruf b batal demi hukum.
Pasal 143 KUHAP memang tidak memberikan penjelasan dan pengertian lebih lanjut tentang cara
menyusun uraian secara cermat, jelas, dan lengkap mengenai delik yang didakwakan dengan
menyebut waktu dan tempat delik itu dilakukan. Oleh karena itu dalam prakteknya, pengertian dan
cara penguraian cermat, jelas, dan lengkap tersebut diserahkan kepada yurisprudensi dan doktrin yang
berlaku.
Bahwa menurut ketentuan pasal143 KUHAP avat (2), penuntut umum dibebani untuk
membuat surat dakwaan yang harus memenuhi persvaratan formal (143 KUHAP ayat 2 huruf "a") dan
persvaratan materiel (143 KUHAP ayat 2 huruf "b"). Persyaratan materiel memuat dua unsur yang
secara mutlak harus ada pada surat dakwaan yaitu:
- uraian cermat, jelas, lengkap mengenai tindak pidana yang didakwakan.
- tempus delicti dan locus delicti
Suatu surat dakwaan harus jelas memuat semua unsur tindak pidana yang didakwakan
(voldoende en duidelijke opgave van het feit) dan disamping itu surat dakwaan juga harus memerinci
secara jelas bagaimana cara tindak pidana itu dilakukan terdakwa. Tidak hanya menguraikan secara
umum. Tetapi harus diperinci dengan jelas bagaimana terdakwa melakukan tindak pidana.1 Apabila
tidak memenuhi hal tersebut, maka surat dakwaan akan batal demi hukum sebagaimana Yurisprudensi
Mahkamah Agung RI, melalui putusan-putusan MA RI No.42 K/Pid/1982 tanggal 19 Mei 1983 dan
Putusan MA RI No.492 K/Kr/1981 tanggal 8 Januari 1983.
Selanjutnya Bahwa dalam buku Pedoman Pembuatan Surat Dakwaan (Penerbit Kejaksaan Agung
Republik Indonesia, 1885, halaman 14 - halaman 16) yang disebut:
a. Cermat, adalah ketelitian penuntut umum dalam mempersiapkan surat dakwaan yang didasarkan
kepada Undang-undang yang berlaku bagi terdakwa, tidak terdapat kekurangan dan atau kekeliruan
yang dapat mengakibatkan batalnya surat dakwaan atau dakwaan tidak dapat dibuktikan;
b. Jelas, adalah kemampuan merumuskan unsur-unsur delik yang didakwakan sekaligus memadukan
dengan uraian perbuatan materil (fakta) yang dilakukan oleh terdakwa dalam surat dakwaan;
c. Lengkap, adalah uraian yang mencakup semua unsur yang ditentukan Undang-undang secara
lengkap
Bahwa apakah Surat Dakwaan Penuntut Umum sudah memenuhi ketentuan Pasal 143 Ayat (2) Huruf
b KUHAP, pertanyaan ini akan dijawab dengan mengikuti Pedoman Pembuatan Surat Dakwaan yang
diterbitkan oleh Kejaksaan Agung Republik Indonesia tersebut di atas
~ Kecermatan Surat Dakwaan
Bahwa yang dimaksud dengan cermat adalah ketelitian penuntut umum dalam mempersiapkan
surat dakwaan yang didasarkan kepada Undang-undang yang berlaku bagi terdakwa, tidak terdapat
kekurangan dan atau kekeliruan yang dapat mengakibatkan batalnya surat dakwaan atau dakwaan
tidak dapat dibuktikan; Bahwa dari rumusan di atas, dapat disimpulkan bahwa untuk kriteria
kecermatan dapat dipandang dari beberapa sudut, yaitu:
1.
2.

apakah surat dakwaan itu sudah didasarkan kepada Undang-undang yang berlaku bagi terdakwa?
apakah dalam surat dakwaan tidak terdapat kekurangan dan atau kekeliruan yang dapat
mengakibatkan batalnya surat dakwaan atau dakwaan tidak dapat dibuktikan ?

~ Adapun hal-hal yang secara Yuridis mengakibatkan Dakwaan Harus dinyatakan Batal Demi Hukum
atau setidak-tidaknya Dakwaan Tidak Dapat Diterima adalah sebagai berikut :

Bahwa ketidakcermatan sdr Jaksa Penuntut Umum terdapat pada halaman 2 yaitu pada kalimat
bahwa untuk melaksanakan kegiatan tersebut, KADIN Pertanian Kab. Sampang Ir. Agus Santoso
(SELAKU PENGGUNA ANGGARAN) ???
bila dilihat secara seksama dan dikorelasikan dengan peraturan perundang-undangan Quod Non
maka penulisan Ir. Agus Santoso yang berposisi sebagai Pengguna Anggaran dalam kegiatan
Pengembangan intensifikasi tanaman padi palawija membawa konsekuensi logis pada Fungsi dan
Tanggung Jawab selaku Pengguna Anggaran
bahwa berdasarkan pada Peraturan Presiden No. 54 Tahun 2010 tentangPengadaan Barang/Jasa
Pemerintah sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Presiden Nomor 35 Tahun 2011 tentang
Perubahan atas Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 , Peraturan Presiden No. 70 Tahun
2012 tentang Perubahan kedua atas Peraturan Presiden No. 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan
Barang/Jasa Pemerintah yaitu pada pasal 1 angka 5 tersebut bahwa : Pengguna
Pengguna Anggaran yang
selanjutnya disebut PA adalah Pejabat pemegang kewenangan penggunaan anggaran
Kementerian/Lembaga/Satuan Kerja Perangkat Daerah atau Pejabat yang disamakan pada
Institusi Pengguna APBN/APBD, lebih detailnya mengenai Pengguna Anggaran diatur dalam
pasal 8 angka 1 Peraturan Presiden No. 70 Tahun 2012
bahwa berdasarkan penjabaran tersebut diatas, adalah merupakan kesalahan yang fatal bilamana
penulisan tentang jabatan Pengguna Anggaran dituliskan hanya menggunakan kurung buka dan
kurung tutup, mengapa ?
bahwa jabatan Pengguna Anggaran menurut Peraturan Presiden nomor 70 Tahun 2012 adalah
suatu jabatan yang eksistensinya terkait dengan kegiatan pengadaan barang dan jasa di
lingkungan pemerintah, hal mana pengangkatannya adalah melalui prosedur tertentu, sehingga
bila mana sdr. JPU tiba-tiba langsung mencantumkan nama Ir. Agus Santoso selaku Kepala Dinas
(Pengguna Anggaran), muncul pertanyaan berdasarkan dan hal ihwal apa sehingga Ir. Agus
Santoso juga menjabat sebagai Pengguna Anggaran ?
bahwa ketidakcermatan selanjutnya kedua mencermati posisi jabatan yang diemban oleh Ir.
Abdul Wahid Chairullah, tersebut dalam halaman 2 surat dakwaan bahwa posisinya adaalah
selaku Pejabat Pembuat Komitmen berdasar SK KADIN PERTANIAN KAB. SAMPANG No.
188.4/5/434.112/2013 tertanggal 05 Februari 2013 akan tetapi pada halaman 3 point yang
berisikan kalimat : Untuk meyakinkan bahwa kegiatan Pengadaan Bibit atau benih ubi
kayu......................................... maka Terdakwa sdr. H. ABDURRAHMAN CS.,S.H.,Msi selaku
PPTK bersama dengan saksi Ir. Abdul Wahid Chairullah, M.Si selaku KP / PPK,
bahwa dalam Peraturan Presiden No. 54 Tahun 2010 tentangPengadaan Barang/Jasa Pemerintah
sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Presiden Nomor 35 Tahun 2011 tentang Perubahan
atas Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 , Peraturan Presiden No. 70 Tahun 2012 tentang
Perubahan kedua atas Peraturan Presiden No. 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa
Pemerintah, bahwa antara KP atau Kuasa Pengguna Anggaran dan Pejabat Pembuat Komitmen
memiliki konsekuensi logis berupa tugas dan tanggung jawab yang jauh berbeda.
Bahwa pengaturan mengenai Kuasa Pengguna Anggaran yang selanjutnya disebut KPA diatur
dalam Pasal 1 angka 6 Peraturan Presiden No. 70 Tahun 2012 tentang Perubahan kedua atas
Peraturan Presiden No. 54 Tahun 2010 adalah pejabat yang ditetapkan oleh PA untuk
menggunakan APBN atau ditetapkan oleh Kepala Daerah untuk menggunakan APBD.,
sedangkan untuk Pejabat Pembuat Komitmen Pejabat Pembuat Komitmen yang selanjutnya
disebut PPK adalah pejabat yang bertanggung jawab atas pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa,
tersebut dalam Pasal 1 angka 7 Perpres No. 70 tahun 2012 .
bahwa selanjutnya adalah mengenai penyebutan tugas dari masing-masing pihak yang terkait
kegiatan pengembangan a quo, jelas terlihat bahwa sdr. Jaksa Penuntut umum banyak mengutip
dari keterangan keterangan saksi yang tertuang dalam BAP tanpa terlebih dahulu
mempertimbangkan sampai sejauh mana validitas kebenarannya, terlebih ketidak pahaman sdr.

Jaksa Penuntut Umum adalah mengenai penerapan Peraturan Perundang-undangan yang


menjadi Payung hukum dilaksanakannya kegiatan Pengadaan barang dan jasa
bahwa mengenai penggunaan dasar hukum yang mengatur tentang kegiatan pengadaan barang
dan jasa, baik dalam BAP maupun dakwaan sdr. Jaksa Penuntut Umum menggunakan Peraturan
Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 yang telah mengalami perubahan yaitu
PerMenDagri No. 59 Tahun 2007 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah khususnya
mengatur mengenai pengelolaan PBB (Pajak Bumi dan Bangunan) dan BP PBB (Biaya
Pemungutan Pajak Bumi dan Bangunan) yang secara spesifik mengatur tentang pembiayaan
kegiatan operasional pemungutan pajak bumi dan bangunan, yang melaksanakan fungsi tersebut
adalah Direktorat Jenderal Pajak dan Daerah
sedangkan untuk peraturan mengenai Pengadaan barang dan jasa di lingkungan Pemerintahan,
tercantum secara jelas dalam pasal 1 angka 2 yaitu : Kementerian/Lembaga/Satuan Kerja
Perangkat Daerah/Institusi, yang selanjutnya disebut K/L/D/I adalah instansi/institusi yang
menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan/atau Anggaran Pendapatan
dan Belanja Daerah (APBD). selanjutnya dalam pasal 2 ayat 1 huruf a mengenai Ruang Lingkup
berlakunya peraturan ini berbunyi :
a. Pengadaan Barang/Jasa di Lingkungan K/L/D/I yang pembiayaannya baik sebagian atau
seluruhnya bersumber dari APBN/APBD,
b. Pengadaan barang /jasa untuk investasi di lingkungan Bank Indonesia , Badan Hukum Milik
Negara/ Badan Usaha Milik Daerah yang pembiayaannya sebagian atau seluruhnya dibebankan
kepada APBN/APBD
bahwa dari uraian tersebut maka jelas terlihat dua peraturan yang mengatur dua lembaga
pemerintah yang berbeda di satu sisi Permendagri No. 13 Tahun 2006 adalah mengatur tentang
keuangan daerah khususnya mengenai Pengelolaan PBB dan BP PBB, pelaksanaannya adalah
DIRJEN PAJAK sedangkan
Peraturan Presiden No. 54 Tahun 2010 tentangPengadaan Barang/Jasa Pemerintah sebagaimana
telah diubah dengan Peraturan Presiden Nomor 35 Tahun 2011 tentang Perubahan atas Peraturan
Presiden Nomor 54 Tahun 2010 sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Presiden No. 70
Tahun 2012 tentang Perubahan kedua atas Peraturan Presiden No. 54 Tahun 2010 tentang
Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah, adalah peraturan khusus yang mengatur kegiatan pengadaan
barang dan jasa di lingkungan Kementrian/ Lembaga / Satuan Kerja Perangkat Daerah /Instansi
Bahwa keberatan selanjutnya tentang surat dakwaan adalah pada Berkas Perkara yang tidak
mencantumkan adanya Audit BPKP sehinggakepastian mengenai jumlah kerugian menjadi rancu
dan dapat pula dengan adanya hal ini maka dipandang ada suatu faktor penentu yang sengaja
disembunyikan karena berdampak positif bagi terdakwa, hal mana adalah merupakan suatu
ketidakadilan bagi terdakwa

Bahwa berdasarkan pada uraian tersebut diatas, membuktikan secara nyata bahwa kurang nya
pemahaman secara holistik mengenai eksisitensi peraturan serta implementasi serta ruang lingkup
berlakunya peraturan perundang-undangan, hala mana berakibat ketidak cermatan sdr Jaksa Penuntut
Umum dalam merumuskan, meyusun serta mengkorelasikan antara pihak pihak yang timbul dalam
pengadaan beserta tugas dan fungsi serta konsekuensi hukum yang melekat pada jabatan yang
diembannya. Dengan demikian adalah wajar bilamana terbentuk suatu persepsi bahwa Dengan
minimnya pemahaman sdr. Jaksa Penuntut Umum akan eksistensi dan implementasi peraturan
perundang-undangan dalam Pengadaan barang dan jasa, sudah tentu akan berpotensi besar terhadap
penentuan kesalahan pada diri terdakwa ? berpijak pada alasan alasan terurai diatas maka terkandung
cacat formil dalam surat dakwaan
Bahwa oleh karena ternyata Surat Dakwaan Penuntut Umum itu tidak didasarkan kepada Undangundang yang berlaku bagi terdakwa, dan juga dalam surat dakwaan terdapat kekurangan dan atau
kekeliruan yang dapat mengakibatkan batalnya surat dakwaan atau dakwaan tidak dapat dibuktikan,
maka jelaslah Surat Dakwaan itu telah dibuat dengan tidak mengindahkan syarat kecermatan untuk
suatu surat dakwaan .

B. Keberatan terhadap Surat Dakwaan Primer dan subsider sehingga mengakibatkan dakwaan kabur
(obscuur libel)

Pertama: Pasal 2 Ayat (1) jo. Pasal 18 Ayat (1) huruf b, ayat (2) dan (3) Undang-undang No.
31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan
Undang-undang No. Tahun No. 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-undang
Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo.
Pasal 55 ayat(1) ke 1 KUHP
Kedua : : Pasal 3 jo. Pasal 18 Ayat (1) huruf b, ayat (2) dan (3) Undang-undang No. 31 Tahun
1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan Undangundang No. Tahun No. 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-undang Republik
Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Pasal 55
ayat(1) ke 1 KUHP

Bahwa dalam Surat Dakwaan yang berbentuk Subsideritas seperti di atas, Jaksa Penuntut Umum
harus merumuskan unsur-unsur tindak pidananya yang disesuaikan dengan fakta-fakta yang
mendukung syarat-syarat materiilnya sehingga terjadi persesuaian antara fakta dengan unsur deliknya
Sejalan dengan hal in, Suatu surat dakwaan harus jelas memuat semua unsur tindak pidana yang
didakwakan (voldoende en duidelijke opgave van het feit) dan disamping itu surat dakwaan juga
harus memerinci secara jelas bagaimana cara tindak pidana itu dilakukan terdakwa. Tidak hanya
menguraikan secara umum. Tetapi harus diperinci dengan jelas bagaimana terdakwa melakukan
tindak pidana.1 Apabila tidak memenuhi hal tersebut, maka surat dakwaan akan batal demi hukum
sebagaimana Yurisprudensi Mahkamah Agung RI, melalui putusan-putusan MA RI No.42 K/Pid/1982
tanggal 19 Mei 1983 dan Putusan MA RI No.492 K/Kr/1981 tanggal 8 Januari 1983.
Adapun alasan alasan yang akan kami kemukakan sehingga mengakibatkan kaburnya dakwaan yang
diajukan oleh Jaksa Penuntut Umum (meliputi dakwaan primer maupun subsider) adalah sebagai
berikut :
a. Bahwa apabila dalam Surat Dakwaan, JPU menyebutkan Terdakwa H. Abdurrahman,S.H.,M.Si,
secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri, orang lain atau suatu
korporasi, maka fakta perbuatan materiilnya harus dirumuskan secara rinci dan tegas. Dalam
Dakwaan Primair hanya dirumuskan fakta sebagai materiele heid.
b. Dalam Surat Dakwaan harus dijelaskan secara tegas dan rinci bagaimana dan dengan cara apa
rumusan Terdakwa melakukan perbuatan hukum, artinya tidak sekedar dinyatakan sebagai feiten
bahwa Terdakwa adalah pengambil kebijakan dan keputusan tersebut dengan rumusan unsur
melawan hukum. Pengertian unsur melawan hukum tidaklah dapat diartikan sebagai pertentangan
dengan beleid atau kebijakan Admistratif
c. Bahkan di dalam Surat Dakwaan terdapat rumusan materiele daad dari Terdakwa yang justru
menekankan adanya pelaksanakan dari Overheidsbeleid yang memiliki keterkaitan erat dengan
persoalan Privaaterchtelijkheid, tentunya bukan sebagai tindak pidana korupsi sebagaimana
terstruktur pada kekeliruan Surat Dakwaan.
d. Rumusan antara feiten dengan materiele heid sebagai suatu persyaratan yang memenuhi unsure
melawan hukum sebagai bestanddeel delict (delik inti) ini sama sekali tidak ditemukan dalam Surat
Dakwaan terhadap terdakwa H. Abdurrahman S.H.,M.Si ini.
e. Bahwa sebagaimana telah dijelaskan, Surat Dakwaan Jaksa Penuntut Umum sama sekali tidak
memberikan gambaran yang jelas mengenai feiten dalam bentuk bagaimana dan dengan cara apa
Terdakwa melakukan perbuatan, khususnya formeel wederrechtelijk tersebut. Dan pula unsur tanpa

wewenang sebagai suatu bentuk kategoris dari sifat melawan hukum, tidak diuraikan secara rinci dan
jelas. Bagaimana unsur melawan hukum yang dilakukan oleh Terdakwa H. Abdurrahman, S.H. M.Si
sehingga Surat Dakwaannya menjadi tidak jelas dan kabur (obscuur libel).
Keberatan terhadap Uraian dalam Dakwaan Subsidair
Keberatan yang akan dikemukakan terhadap Dakwaan Subsidair adalah sama dengan keberatan yang
telah dikemukakan di atas terhadap Dakwaan Primair. Keberatan tersebut, selain menyangkut
materiele daad/materiele feit yang dirumuskan pada Dakwaan Subsidair ini adalah sama dengan
perumusan materiele daad/materiele feit padsa Dakwaan Primair, juga menyangkut penerapan Pasal
55 ayat (1) ke 1 tentang penyertaan (Deelneming)
Sehingga secara umum dapat ditarik kesimpulan mengenai keseluruhan kualitas dakwaan dalam surat
dakwaan yang diajukan oleh Jaksa Penuntut Umum yaitu :
a. Bahwa Dalam sistem penyusunan isi Surat Dakwaan antara Kualifikasi Yuridis (Yurisdicshe
Kwalificatie) dan fakta (feit) ini terjadi uraian fakta yang saling bertentangan antara satu
dengan yang lain, kemudian yang berhubungan dengan fakta-fakta tersebut dibuat panjang
dan lebar secara teknikalitas sehingga menghilangkan sifat begrijpelijk (dapat dimengerti)
dakwaan itu sendiri.
b. Bahwa Dalam Surat Dakwaan tersebut tidak memberikan gambaran yang jelas mengenai
peraturan-peraturan pidana yang dilanggar oleh Terdakwa,
c. Bahwa Tidak dijumpainya di dalam Surat Dakwaan mengenai peran apa yang dilakukan oleh
Terdakwa dalam kaitannya dengan Pasal 55 KUHP ini, apakah sebagai Pleger (yang
melakukan), Mede Pleger (turut serta melakukan) ataukah sebagai Uitlokker (pembujuk).
d. Bahwa Tidak dijelaskan mengenai perumusan antara perbuatan-perbuatan yang dianggap
sebagai perbuatan berlanjut dengan perbuatan yang dianggap sebagai fakta materiil dalam
Dakwaan Primair
Berdasarkan uraian di atas mengenai kekurangan dari pembuatan Surat Dakwaan Tindak Pidana
Korupsi dalam kegiatan Pengembangan Terdakwa H. Abdurrahman,S.H., M.Si oleh Jaksa
Penuntut Umum mengakibatkan Surat Dakwaan batal secara hukum, karena adanya sesuatu
kekurangan dalam Surat Dakwaan. Didalam KUHAP hal ini diatur dalam Pasal 143 ayat (3).