Anda di halaman 1dari 15

JOURNAL READING

GambaranJenisjenisTumorMarkerGinekologi

Disusun oleh :
Rio Aditya
07120110047

Pembimbing :
dr. Arie Widiyasa, Sp.OG

KEPANITERAAN KLINIK ILMU OBSTETRI DAN GINEKOLOGI


RUMAH SAKIT ANGKATAN LAUT MARINIR CILANDAK
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PELITA HARAPAN

PERIODE 1 JUNI - 7 AGUSTUS 2015

Gambaran Jenis-jenis Tumor Marker


Ginekologi
Oleh : Fazal Hussain,MD,MBBS; Chief Editor : Warner K Huh.MD

I. Tumor Marker
Tumor marker adalah glikoprotein yang dapat larut dan dapat ditemukan di dalam
darah, urin, atau jaringan tertentu dari pasien dengan tipe kanker tertentu.
Mereka biasanya diproduksi oleh sel sel tumor, namun dalam beberapa kasus,
dapat diproduksi oleh tubuh karena respon terhadap keganasan atau tipe yang
jinak sekalipun. Tumor marker tidak meningkat di semua pasien dengan kanker,
terutama pada pasien dengan kanker stadium awal. Berbagai jenis tumor marker
memiliki kegunaan yang berbeda-beda, seperti untuk screening, diagnosis,
prognosis, evaluasi respon terapi, dan mendeteksi rekurensi.
Normalisasi dari nilai tumor marker dapat mengindikasikan penyembuhan
walaupun masih terdapat temuan radiografik dari penyakit tertentu. Terkadang,
nilai tumor marker dapat meningkat setelah pengobatan yang efektif (karena lisis
sel), tetapi kenaikan tersebut tidak menandakan kegagalan terapi. Peningkatan
nilai tumor marker yang konsisten, dikombinasikan dengan kurangnya perbaikan
klinis, dapat mengindikasikan gagal terapi/pengobatan. Peningkatan residual
setelah terapi definitif biasanya mendandakan penyakit yang persisten.
Banyak tumor marker baru yang ditemukan semenjak perkembangan dari antibodi
monoklonal, dan kebanyakan tumor marker sekarang ,ikut mendeteksi antibodi
tersebut.

II.

Tipe-tipe Tumor Marker Ginekologi

Kanker ovarium, kanker kanal serviks, kanker endometrium, dan neoplasma


trophoblastic adalah keganasan ginekologi, dimana tumor marker digunakan
2

secara klinis. Berikut adalah beberapa tumor marker yang penting dalam
ginekologi :

Cancer antigen 125 ( CA-125)


Beta human chorionic gonadotropin (beta-hCG)
Urinary gonadotropin fragment
Alpha-fetoprotein
Inhibin
Estradiol
Carcinoembryogenic antigen
Squamous cell carcinoma (SCC) antigen
Mullerian inhibiting substance (MIS)
Topoisomerase II
Carbohydrate antigen 19-9
Cancer antigen 27-29
Human telomerase reverse transcriptase (hTERT)
Ferritin

Beberapa tumor marker yang berpotensi :

Lysophosphatidic acid
MIB1 determined tumor growth fraction
L1 (CAM)
Mesothelin
Human Epididymis protein 4 (HE4)
Osteopontin
Vascular endothelial growth factor (VEGF)
Interleukin 8 (IL-8)
Macrophage colony-stimulating factor (M-CSF)
Insulinlike growth factor-binding protein -3
Tumor-associated trypsin inhibitor
Cyclin E
OVX 1
CA-15-3, CA-19-9

III. Kegunaan Secara Klinis dari Tumor Marker


Kegunaan daripada tumor marker adalah sensitivitasnya dan spesifisitas, dan
juga termasuk pengaruhnya pada pengambilan keputusan managemen pasien.
Karena diagnosis patologis dari kanker ovarium sulit ditegakkan apabila tanpa
3

melalui laparotomi, tumor marker seperti CA-125, sebagai tambahan dari


diagnostic imaging, sangatlah berguna untuk evaluasi pre operatif kanker
ovarium.
Belum ada tumor marker dengan sensitivitas dan spesifisitas tinggi ditemukan
untuk kanker endometrium, walaupun CA-125 sering digunakan dalam praktek
klinis. Namun, pada analisis retrospektif (2008-2011) yang mengevaluasi
pemakaian tumor marker pre operatif dalam memprediksi parameter prognosis
pada wanita dengan tipe kanker endometrium endometrioid murni yang
menerima terapi adjuvan, peneliti mendapatkan adanya peningkatan level CA125 yang dapat secara signifikan memprediksi :

Penyakit extrauterin
Tumor lebih besar dari 2 cm
Invasi dari lymphovascular space dan sampai miometirum dalam
Keikutsertaan serviks dan adnexa
Sitologi positif
Metastasis kelenjar getah bening
Syarat untuk terapi adjuvan

Sebagai tambahan, nilai rata-rata dari CA-15-3 dan CA-19-9 secara signifikan
lebih tinggi pada wanita yang menerima terapi adjuvan, dan level CA-19-9
dapat memprediksi invasi miometrium dalam , dan keikutsertaan serviks. Level
CEA dan AFP tidak adekuat untuk memprediksi parameter prognosis buruk dan
keperluan untuk menerima terapi adjuvan.
Antigen SCC sangat berguna dalam managemen klinis kanker serviks stadium
lanjut. Beta-hCG dan alpha-fetoprotein telah terbukti menjadi marker untuk
germ cell tumor ovarium. Sebagai tambahan, beta-hCG berperan sebagai tumor
marker yang ideal untuk monitoring gestasional trophoblastic disease.
Studi studi yang bertujuan pada perkembangan pendeteksian kanker epitel
ovarium, terutama pada stadium awal, telah mengidentifikasi beberapa
kandidat baru untuk marker. Diantaranya termasuk lysophosphatidic acid
( suatu lipid yang ditemukan di serum dan cairan asites), mesothelin, HE4,
osteopontin, VEGF, IL-8, M-CSF dan kalikreins yang berbeda.

Diantara marker yang potensial ini, HE4 memiliki sensitivitas yang mirip dengan
CA-125 dalam mendeteksi penyakit stadium akhir dan memiliki spesifisitas yang
lebih tinggi dibanding CA-125 dalam mendeteksi stadium awal kanker ovarium.
Validasi daripada HE4 sebagai biomarker diagnostik untuk kanker ovarium
stadium awal , masih berjalan.

IV. Cancer Antigen 125


Kurang lebih 90% dari kanker ovarium adalah karsinoma epitel celomic dan
mengandung celomic epithelium-related glycoprotein, dimana menjadi antigen
kanker 125. CA-125 dapat dilokalisasikan di kebanyakan sel serosa,
endometrioid, dan karsinoma ovarium sel bening (clear cell); tumor mucinous
mengekspresikan antigen ini lebih sedikit.
Semenjak ditemukannya pada awal tahun 1980-an, CA-125 telah terbukti
sangat berguna sebagai generasi pertama untuk monitoring kanker ovarium
dan triase pasien dengan massa di pelvis, walaupun dengan keterbatasan di
sensitivitas dan spesifisitas. Hasil false-positif dapat terjadi pada beberapa
kondisi, terutama yang berhubungan dengan inflamasi di peritoneum, seperti
endometriosis, adenomyosis, pelvic inflammatory disease, menstruasi, fibroid
uterus atau kista jinak.
Nilai CA-125 juga dapat mengalami peningkatan pada kanker ginekologik
(seperti endometrium, tuba fallopi) dan non-ginekologik (seperti pankreas,
payudara, colon, paru-paru). Namun, peningkatan yang signifikan (>1500 U/mL)
biasanya ditemukan pada kanker ovarium.
Faktor penentu signifikan untuk keberadaan transformasi malignan
endometriosis juga termasuk usia diatas 49 tahun dan kista yang multilokular
dan memiliki komponen yang solid. Walaupun mengalami peningkatan,serum
CA-125 tidak tampak sebagai prediktor yang signifikan untuk transformasi
malignan endometriosis.
Tatalaksana dari American College of Obstetricians and Gynecologist dan
Society of Gynecologic Oncologist untuk rujukan pasien onkologi-ginekologi,

merekomendasikan rujukan untuk wanita dengan masa pelvis sugestif kanker


ovarium, serum CA-125 lebih tinggi dari 35 U/mL pada wanita postmenopause
atau lebih tinggi dari 200 U/mL untuk wanita premenoause.

i. Aplikasi dalam pendeteksian kanker ovarium


Pendeteksian dini kanker ovarium melalui pengukuran CA-125, dikombinasikan
dengan modalitas lain ( seperti pemeriksaan pelvik bimanual, ultrasonografi
transvaginal) , merupakan aplikasi tumor marker yang paling menjanjikan,
dengan memberikan triase pasien yang efektif untuk operasi primer.
Suatu algoritma telah dikembangkan untuk dapat mengestimasikan resiko
kanker ovarium berdasarkan nilai CA-125. Beberapa uji coba masih sedang
dilakukan untuk menentukan potensi dari CA-125 bila dikombinasikan dengan
marker lain untuk meningkatkan pendeteksian secara dini dari kanker ovarium.

ii.Pendeteksian dari rekurensi dan progresi


kanker ovarium
Penggunaan dari CA-125 yang paling dominan adalah dalam monitoring status
pasien dengan kanker ovarium yang telah diketahui. Peningkatan serum CA125 yang persisten secara umum menggambarkan penyakit yang tetap
persisten ada. Namun, penyakit residual dapat ditemukan pada laparoskopi
atau laparotomi , walaupun nilai serum CA-125 telah kembali ke nilai normal.
Peningkatan pada serum CA-125 pada saat pengobatan atau pada akhir
pengobatan adalah prediktor kuat untuk progresi penyakit di masa depan.
Penurunan serum CA-125 pada saat awal pengobatan, berhubungan dengan
interval bebas progresi yang lebih lama dan survival rate yang lebih tinggi. Nilai
serum CA-125 <15 U/mL setelah 6 kali pengobatan standard, berhubungan
dengan interval bebas progresi yang lebih lama , walaupun hal tersebut tidak
dapat memprediksi apakah adanya penyakit secara mikroskopik. Nilai serum
CA-125 > 35 U/mL setelah 6 kali pengobatan kemoterapi, memprediksikan
adanya suatu penyakit. Penyakit juga dapat berkembang ketika nilai CA-125
stabil.
6

Gynecologic Cancer Intergroup menggunakan definisi Rustin untuk


mendefinisikan peningkatan pada CA-125. Bila nilai CA-125 menjadi normal
setelah operasi, persentase progresi perbaikan meningkat 2 kali lipat.
Sedangkan apabila nilai CA-125 tidak normal setelah operasi, maka persentase
perburukan penyakit menjadi lebih tinggi.
Kang et al menemukan nilai CA-125 merupakan suatu faktor prognostik
independen pada pasien dengan kanker ovarium epitel stadium lanjut. Pada
review retrospective pada 153 pasien, nilai median survival progression-free
adalah 32.4 bulan pada pasien dengan nilai CA-125 10 U/mL dibandingkan
dengan 16.8 bulan pada pasien dengan nilai CA-125 0-35 U/mL (P= .0001)
Standarisasi nilai CA-125 memiliki potensi untuk menunjang, atau di beberapa
kasus, menggantikan kriteria respon terhadap pengobatan , dengan cara yang
cost-effective. Peningkatan nilai CA-125 dapat menunjukan adanya suatu
penyakit yang rekuren , sekurang-kurangnya dalam 3 bulan terakhir.
Peningkatan nilai CA-125 pada saat pemberian kemoterapi, diasosiasikan
dengan progresi penyakit pada 90% kasus. CA-125 dapat juga digunakan
sebagai marker yang efektif untuk respon klinis di dalam clinical trial obat-obat
baru.

iii. Skrining kanker ovarium menggunakan CA125


Untuk saat ini, skrining kanker ovarium tidak direkomendasikan untuk wanita
tanpa faktor resiko (relative risk (RR) 3). Untuk wanita dengan resiko (RR = 36 kali), setelah mengevaluasi resiko dan keuntungannya, skrining kanker
ovarium menggunakan pengukuran CA-125 dan/atau ultrasonografi transvaginal
dapat dipertimbangkan, biasanya melalui jalur clinical trial.
Wanita dengan resiko tinggi ( RR>6 kali), seperti dengan mutasi pada gen yang
suseptibel menjadi kanker ovarium, disarankan skrining menggunakan
kombinasi ultrasonografi transvaginal dan penghitungan CA-125. Untuk pasien
dengan mutasi di gen BRCA1 atau mismatch repair gene, MLH1, MSH2 dan

MSH6, skrining disarankan dimulai ketika berumur 30-35 tahun. Untuk pasien
dengan mutasi pada BRCA 2, skrining kanker ovarium disarankan dilakukan
pada usia 34-40 tahun.
Kanker ovarium stadium awal memiliki prognosis yang baik setelah
mendapatkan terapi definitiv. Oleh karena itu, pendeteksian dini sangat
berperan dalam mengurangi mortalitas yang diakibatkan penyakit ini. Namun,
belum ada program skrining untuk kanker ovarium yang dapat mencapai target
ini.
Beberapa studi telah diluncurkan untuk mengidentifikasi strategi terbaik untuk
mendeteksi stadium awal penyakit ini dan mengurangi mortalitas, baik
menggunakan CA-125 maupun ultrasonografi sebagai screening test.
Spesifisitas tinggi sangatlah penting pada strategi skrining untuk kanker
ovarium, karena hasil test positif , secara umum membutuhkan tindakan
operasi/pembedahan definitif.
Batasan utama lainnya dari skrining CA-125 adalah nilai di serum hanya
meningkat pada sekitar 50% pasien dengan penyakit stadium 1. Karena kondisi
lain dapat meningkatkan nilai CA-125, strategi test kombinasi telah dilakukan
untuk meningkatkan nilai prediksi dari CA-125.

V. Beta human chorionic gonadotropin


Subunit beta dari human chorionic gonadotropin (beta-hCG) bila normal
diproduksi oleh placenta. Peningkatan nilai b-hCG paling sering diasosiasikan
dengan kehamilan; hasil false-positive dapat ditemukan pada keadaan
hypogonad dan penggunaan marijuana.. Beta-hCG akan didegradasikan sampai
ke beta-core fragment-nya, dimana terkonsentrasi di urin dan disebut juga
urinary gonadotropin peptide. Fragmen urinary gonadotropin dan lipidassociated sialic acid meningkat pada 60% pasien dengan kanker
endometrium.

Peningkatan pada beta-hCG juga ditemukan pada pasien dengan


choriocarcinoma uterus, karsinoma embrional, polyembryomas, mixed cell
tumor, dan yang tidak sering ditemukan, dysgerminomas.
Beta-hCG dan human placental lactogen (hPL) adalah marker yang paling
berguna untuk penyakit trofoblastik dan bisa terlokalisasi pada
syncytiotrophoblasts partial dan mola hydatidiform complete. Intensitas dan
pola dari immunoreaktivitas dari antigen-antigen ini berbeda pada mola partial
dan mola complete. Gestational choriocarcinoma menunjukkan hasil bervariasi
namun positif , untuk staining beta-hCG dan hPL. Immunostaining hPL
membedakan tumor trofoblast di plasenta dari choriocarcinoma. Penggunaan
beta-hCG tidak terbatas untuk penyakit trofoblas saja; penggunannya telah luas
dipakai untuk neoplasma trofoblastik ginekologik.
Berikut merupakan kriteria diagnostik yang biasanya digunakan untuk penyakit
trofoblastik gestasional malignan :

Nilai beta-hCG yang plateu atau tetap sampai selama 3 minggu


Peningkatan 10% atau peningkatan 3 atau lebih nilai beta-hCG selama 2

minggu
Persistensi dari nilai beta-hCG selama 6 bulan setelah evakuasi mola
Penemuan histologik choriocarcinoma

Pasien yang telah menjalani evakuasi kehamilan mola, disarankan untuk memonitor nilai beta-hCG setiap minggu sampai nilai normal tercapai, setelah itu
monitoring bulanan hingga nilai normal tercapai selama 6-12 bulan. Kurang
lebih 20% pasien yang telah melalui evakuasi kehamilan mola, ,mengalami
penyakit gestational trofoblastik postmolar, biasanya didapati kegagalan dalam
normalisasi nilai beta-hCG post evakuasi. Peningkatan 10% pada beta-hCG
pada 3 atau lebih titer mingguan atau titer beta-hCG 40,000 mIU/L 4-5 bulan
setelah evakuasi, menunjukkan diagnosis serologis penyakit trofoblastik
postmolar.

VI. Alpha-Fetoprotein
9

Alpha- fetoprotein(AFP) adalah serum protein fetus normal yang disintesis oleh
hati, yolk sac, dan traktur gastrointestinal. AFP memiliki sekeuen homologi
yang sama dengan albuin. AFP adalah komponen utama dari plasma fetal,
mencapai konsentrasi puncak pada 3 mg/mL di 12 minggu kehamilan. Mengikuti
kelahiran, AFP akan hilang dari sirkulasi, karena memiliki half-lifa3.5 hari.
Konsentrasi AFP pada serum orang dewasa adalah dibawah 20ng/mL.
Kebanyakan tumor sinus endodermal dari ovarium mengeskpresikan AFP.
Protein tersebut berada di sitolasma sel tumor dan pada karakteristik hyalin
globules di tumor sinus endodermal. AFP juga di ekspresikan oleh karsinoma
ovarium embrional, immature teratoma, dan polyembryoma.
AFP dan beta-hCG memiliki peran krusial dalam managemen pasien dengan
nonseminomatous germ cell tumor. Nilai AFP atau beta-hCG meningkat pada
85% pasien dengan jenos tumor ini, tetapi hanya 20% pasien pada pasien
dengan penyakit stadium 1. Namun, marker-marker ini tidak memiliki peran
dalam skrining.
Pasien dengan penyakit extragonad atau metastasis pada saat diagnosis,
peningkatan nilai AFP atau beta-hCG dapat digunakan sebagai pengganti biopsi
untuk menentukan diagnosa nonseminomatous germ cell tumor.
Nilai AFP melebihi 10,000 ng/mL atau beta-hCG melebihi 50,000 mlU/mL pada
diagnosis awal menandakan prognosis buruk, dengan 5-year survival rate
mencapai 50%. Pasien dengan stadium yang sama yang memiliki nilai AFP dan
beta-hCG lebih rendah, memiliki rate penyembuhan lebih besar dari 90%.
Mengikuti nilai AFP dan beta-hCG sangatlah penting dalam memonitor respon
terhadap pasien yang memiliki nonseminematous germ cell tumor. Pasien
dengan nilai AFP dan beta-hCG yang tidak turun setelah mendapatkan terapi
memiliki prognosis buruk yang signifikan, dan perubahan terapi harus
diperhitungkan. Karena terapi pengangkatan kuratif dapat dilakukan, tumor
marker di periksakan setiap 1-2 bulan selama 1 tahun setelah pengobatan,
kemudian setiap 4 bulan sekali selama 1 tahun, dan lebih jarang pada tahun
berikutnya.

10

Peningkatan AFP atau beta-hCG seringkali menjadi bukti pertama adanya


rekurensi germ cell tumor; peningkatan yang telah dikonfirmasi harus diikuti
dengan terapi.
Walaupun setelah respon klinis setelah kemoterapi, hampir 50% pasien dengan
stadium III/IV memiliki tumor residual. Diantara pasien dengan peningkatan CA125 yang persisten, kurang lebih 90-95% memiliki tumor residual. Nilai betahCG digunakan untuk memonitor respon terhadap terapi dan mendeteksi
kambuh(relapse) dini. Pengujian terhadap beta-hCG merupakan bagian yang
penting dalam diagnosis, manajemen dan respon terhadap pengobatan untuk
penyakit gestasional trofoblastik dan beberapa pasien dengan karsinoma epitel
ovarium.
Kombinasi antara pengujian AFP dan beta-hCG merupakan hal yang esensial
dalam evaluasi dan pengobatan nonseminomatous germ cell tumors, dan pada
monitor respon terhadap pengobatan. AFP dan beta-hCG juga dapat berguna
untuk mengevaluasi potensi asal dari poorly differentiated metastatic cancer.

VII. Inhibin
Inhibin adalah suatu hormon peptida yang diproduksi oleh sel granulosa
ovarium. Berfungsi untuk menghambat sekresi dari follicle stimulating hormone
(FSH) oleh kelenjar pituitari anterior. Pada fase folikular dari siklus menstruasi,
mencapai konsentrasi 772 38 U/L; dan biasanya menjadi tidak terdeteksi
setelah menopause. Beberapa tumor ovarium, terutama jenis mucinous
epithelial ovarian carcinomas dan granulosa cell tumor, juga memproduksi
inhibin, dan jumlahnya di serum merefleksikan tumor yang ada.
Peningkatan nilai inhibin pada wanita postmenopause atau pada wanita
premenopause yang disertai dengan amenorea dan infertilitas , sugestif namun
tidak spesifik, menandakan adanya granulosa cell tumor. Nilai inhibin juga dapat
digunakan pemeriksaan tumor setelah terapi untuk menilai penyakit residual
maupun penyakit yang rekuren.

11

Inhibin memiliki 2 bentuk isoform yang berbeda, yaitu inhibin A dan inhibin B.
Kedua isoform tersebut terdiri dari 2 subunit , subunit alfa dan subunit beta.
Subunit alfa sama dengan kedua isoform, sedangkan subunit beta berbeda(beta
A dan beta B) dan menunjukan homologi kurang lebih 64% . 3 Subunit ini (alfa,
beta A dan beta B) diproduksi oleh gen yang berbeda, dimana terletak pada
kromosom 2 (alfa dan beta B) dan 7 (beta A).
Walaupun kebanyakan laboratorium komersial menyediakan assays untuk
inhibin A saja , serum B terlihat lebih sering mengalami peningkatan.
Dimanapun tersedia, assay untuk mendeteksi kedua isoform tersebut
direkomendasikan. Subunit alfa bebas juga dapat dihitung.

VIII.
Tumor marker lainnya
i. Estradiol
Estradiol merupakan salah satu marker yang diidentifikasi di dalam serum
pasien dengan granulosa cell tumors. Secara umum, estradiol bukan merupakan
marker yang sensitif untuk granulosa cell tumor. Sekitar 30% dari tumor tidak
memproduksi estradiol, karena mereka kekurangan sel theca, dimana sel
tersebut memproduksi androstenedione, prekursor yang diperlukan untuk
sintesis estradiol. Namun, monitoring serum estradiol pasca operasi mungkin
dapat berguna untuk mendeteksi rekurensi dari estradiol-secreting tumor.

ii.Carcinoembryonic antigen
Kebanyakan dari tumor vulva yang berasal dari kelenjar keringat, termasuk
tumor malignan, memiliki stain positif untuk carcinoembryonic antigen (CEA).
Staining untuk CEA terdapat pada sel di dinding kista, kelenjar, atau yang
terstruktur mengelilingi lumen. Reaksi untuk CEA tidak dapat membedakan
antara tumor eccrine dan tumor adnexa apocrine.
Pada pasien dengan adenosis vagina, permukaan epitel kolumnar dan kelenjarkelenjarnya dapat menunjukan staining membran sitoplasma fokal untuk CEA.
Sel-sel kolumnar secara gradual tergantikan melalui proses metaplasia
skuamosa, CEA yang positif dapat terlihat di sitoplasma sel metaplastik.

12

In situ dan adenocarcinoma invasif membawahi extramammary Paget disease


dari area anogenital mengekspresikan CEA. CEA juga dapat terlihat di sel Paget
pada lokasi metastasis seperti kelenjar getah bening. CEA terdapat di
kebanyakan urothelial adenocarcinoma dari urtetra wanita.
Nilai CEA meningkat hingga 35% pada pasien dengan kanker endometrium.
Imunohistokimia dari CEA tidak dapat membedakan antara beningn atau
proliferasi glandular malignan dari serviks uterus; namun, staining CEA tidak
memiliki nilai dalam diferensial diagnosis dari endoservikal dan adenokarsinoma
endometrium.
Hampir seluruh neoplasma epitelium ovarium juga mengekspresikan CEA.
Neoplasma tersebut termasuk dengan yang mengalami penurunan intensitas
dan frekuensi, Brenner, endometrioid, clear cell, dan serous tumor.
CEA seringkali terdapat pada pasien dengan kanker yang sudah bermetastasis
ke ovarium; hal tersebut terjadi karena kanker primer secara umum berasal dari
mammae atau gastrointestinal, dan tumor-tumor seperti itu seringkali
mengandung CEA.
iii. Squamous

cell carcinoma antigen

Squamous cell carcinoma (SCC) antigen dapat meningkat pada pasien dengan
kanker epidermoid serviks, tumor epitelial jinak, dan kelainan kulit yang jinak.
Antigen SCC dapat berguna untuk menilai respon terhadap kemoterapi dan
dalam menentukan relapse saat me-monitori pasien dengan remisi komplit.
iv. Mullerian

inhibiting substance

Mullerian inhibiting substance (MIS) diproduksi oleh sel granulosa pada folikelfolikel yang masih berkembang. MIS telah berkembang menjadi tumor marker
yang potensial untuk tumor sel granulosa. Seperti inhibin, MIS tidak dapat
terdeteksi pada wanita postmenopause. Peningkatan nilai MIS sangatlah spesifik
untuk tumor sel granulosa ovarium; namun, pemeriksaan ini belum tersedia
secara komersial untuk penggunaan klinis.

13

v.

Topoisomerase II

Topoisomerase II telah menjadi biomarker yang menjanjikan dan relevan untuk


survival rate pasien dengan kanker epitelium ovarium stadium lanjut.
Ekspresinya terdeteksi pada sampel tumor melalui immunohistokimia.
vi. Carbohydrate

antigen 19-9

Serum carbohydrate antigen 19-9 meningkat sampai dengan 35% pada pasien
dengan kanker endometrium dan dapat digunakan pada saat evaluasi follow up
pada pasien dengan mucinous borderline ovarian tumor.
Penghitungan dari serum tumor marker pada follow up pasien dapat
mengarahkan kepada deteksi dini dari rekurensi di sebagian kecil jumlah pasien.
Carbohydrate antigen tidak spesifik untuk kanker ovarium.
vii.

Cancer antigen 27-29

Peningkatan nilai cancer antigen 27-29 diasosiasikan dengan kanker kolon,


gaster, ginjal, paru-paru, ovarium, pankreas, uterus dan liver. Trimester pertama
kehamilan, endometriosis, kista ovarium, benign breast disease, penyakit ginjal,
dan penyakit liver yang bukan merupakan kanker juga diasosiasikan dengan
peningkatan cancer antigen 27-29.
viii.

Human telomerase reverse trancriptase

Human telomerase reverse transcriptase (hTERT) adalah biomarker untuk


pasien dengan kanker ovarium dan kanker uterus. Nilai hTERT mRNA memiliki
korelasi yang signifikan dengan CA-125 dan temuan histologic pada kanker
ovarium.
Serum hTERT mRNA berguna untuk mendiagnosa kanker ginekologik dan
superior daripada tumor marker konvensional. Upregulation dari hTERT
memainkan peran yang penting dalam perkembangan cervical intraepithelial
neoplasia (CIN) dan kanker serviks; hTERT juga dapat digunakan sebagai
biomarker diagnostik dini untuk kanker serviks di masa depan.

14

ix.

Lysophosphatidic acid

Lysophosphatidic acid menstimulasi proliferasi sel kanker, pelepasan kalsium


intraselular, dan fosforilasi tyrosine, termasuk mitogen-activated protein kinase
activation. Lysophosphatidic acid telah menunjukkan menjadi signal molekul
yang multifungsi pada fibroblast dan sel sel lainnya. Ditemukan di ascitic fluid
dari pasien dengan kanker ovarium dan diasosiasikan dengan proliferasi sel
kanker ovarium. Studi lebih lanjut diperlukan untuk menentukan peran dari
marker ini.
x.

MIB1- determined tumor growth fraction

MIB1-determined tumor growth fraction telah dipelajari sebagai alat tambahan


untuk membantu pengambilan keputusan dalam terapi adjuvan pada pasien
dengan stadium awal kanker ovarium. Pada suatu studi, MIB1 memprediksikan
rekurensi tumor pada 84% kanker ovarium.
xi.

L1 (CAM)

L1 (CAM) adalah protein transmembran, dan merupakan marker diagnostik


pada serius ovarian neoplasm yang menunjukkan karakteristik dari progresi
tumor. Ekspresi L1(CAM) diasosiasikan dengan respon kemoterapi.
Menurut Daponte et al, imunoreaktifitas terhadap L1(CAM) berhubungan
dengan stadium dan grade dari kanker ovarium. Immunoreaktifitas meningkat
secara progresif dan secara signifikan mulai dari tumor jinak, sampai menjadi
early carcinoma dan menjadi karsinoma stadium lanjut.

15