Anda di halaman 1dari 46

BAB 1

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Masa adolesensi adalah masa pematangan fungsi psikis dan fisik.
masa adolesensi atau disebut juga dengan pubertas akhi dimana batas waktu
adolesensi itu ialah 17-19 atau 17- 21 tahun. Pada masa pubertas dan adolesensi
sering terjadi menstruasi sebagai pertanda kematangan seksual pada anak gadis
namun terdapat juga penyalahgunaan seksual atau disebut dengan onani atau
masturbasi dimana masturbasi ini memanipulasi alat kelamin sendiri sedemikian
rupa sehingga orang mendapat kepuasan seksual.
Pada masa pubertas dan masa adolesensi ini banyak pengaruh yang
membawa ke dalam jurang kehancuran dikarenakan keingin tahuan yang tinggi,
sehigga menimbulkan aksi-aksi kejahan itu sendiri contohnya: memakai
narkotika, melakukan tingkah laku seksual yang begitu asusilasehingga ditolak
oleh masyarakat.
B. Rumusan Masah
a. Apa pengertian adolesensi
b. Apa pengertian menstruasi dan onani
c. Apa dampak dari bahan narkotika dan immorilitas
C. Tujuan penulis
a. Untuk mengetahui masa adolesensi
b. Untuk mengetahui apa itu menstruasi dan onani
c. Untuk mengetahui dampak dari bahan narkotika dan immorilitas
BAB 1I
MASA ADOLESENSI (ADOLESCENCE, PASCA- REMAJA)

A. Pengaruh Masa Adolesensi Pada Proses Pendewasaan


Dengan selesainya masa pubertas (awal), masuklah anak ke dalam
periode kelanjutannya, yaitu masa pubertas akhir atau pasca-remaja/adolesensi.
Masa adolesensi ini oleh sigmund frend disebut sebagai Edisi kedua dari
1

situasi oedipus. Sebab relasi anak muda pada usia ini masih mengandung
banyak unsur yang rumit dan belum terselesaikan; yaitu ada banyak konflik
antara isi spikis yan kontraditif ,terutama sekali konflik pada relasi anak muda
dengan orang tua dan obyek-cintanya.
Pada masa odelensi ini terjadi proses pematangan fungsi-fungsi spikis
dan fisik, yang berlangsung secara berangsur-angsur dan teratur. Masa tersebut
merupakan kunci-tertutup dari perkembangan anak. Pada periode ini anak muda
banyak melakukan intropeksi diri dan merenungi diri sendiri. Akhirnya anak
bisa menemukan aku-nya. Dalam pengertian: dia mampu menemukan
keseimbangan dan harmoni atau keselarasana baru diantara sikap ke dalam diri
sendiri dengan sikap luar , ke dunia objektif.
Banyak menurut para ahli ilmua jiwa, batas waktu odelesensi itu ialah 17-19
tatun. Perbedaan karakteristik antara tiga fase yaitu :
1) Pada masa pra pubertas (masa negatif, verneinung, trotzalter kedua),
anak sering merasakan bingung, cemas, takut, gelisah, gelap hati,
binbang, ragu, risau, sedih hati. Anak tidak tahu sebab-musabab dari
macam-macam perasaan kontradiktif yang menimbulkan banyak
kerisauan hatinya.
2) Pada masa pubertas: anak muda menginginkan sesuatu dan mencari
sesuatu itu. Namun apa benarnya sesuatu yang diharapkan dan dicari itu,
dia sendiri tidak tahu. Anak muda sering merasakan sunyi di hati, dan
menduga ia tidak mengerti oran lain dan tidak mengerti oleh pihak luar
3) Pada masa adolesensi: anak muda mulai merasa mantap, stabil. Dia
mulai mengenal AKU-nya, dan ingin hidup dengan pola hidup yan
digariskan sendiri, dengan itikad baik dan keberanian. Dia mulai
memahami arah hidupnya dan menyadari tujuan hidupnya.

pada masa adolesensi anak muda mulai menemukan nilai-nilai hidup


dirinya, sehingga lebih jelaslah pemahamana tentang dirinya. Ia mulai bersikap
kriti s terhadap obyek-obyek du luar dirinya, dan ia mampu mengambil sintese
antara tanggapan tentang dunia luar dengan dunia intern. Susudah ia mengenal
AKU-nya sendiri, secara aktif dan obyektif ia melibatkan diri dalam macammacam kegiatan di dunia luar.
Sekarang ia mencoba mendidik diri sendiri dengan memberikan isi,
arah, arti dan tujuan pada kehidupannya.pada periode adolesensi tersebut
dibangunlah dasar dasar yang definitif bagi proses pembentukan kepribadianya.
Sehubunga dengan peristiwa ini, kepribadian dan nasib orang dewasa itu
banyak dipengaruhi peristiwa dan penganlaman pada masa adolesensi, yang
diberi latar belakang oleh pengalaman-pengalaman pada masa pra-pubertas dan
pubertas.
B. Perkembangan Biologis dan Psikologis
Telah dikemukakan di bagian depan,

bahwa

perkembangan

biologis

menyebabkan timbulnya perubahan-perubahan tertentu, baik secara kualitatif


maupun kuantatif; baik bersifat fisiologi maupun psikologi. Oleh karena
perkembangan tersebut anak adolesensi dihadapkan pada banyak masalah baru
dan kesulitan yang maha kompleks. Anatara lain berupa:
1) Anak muda belajar berdiri sendiri dalam suasana kebebasan
2) Ia berusaha melepaskan ikatan efektif lama dengan orang tua dan obyek
cintanya
3) Ia lalu berusaha membangaun relasi-relasi perasaan yang baru. Sebab
obyek-obyek cinta-kasih yang lama mengalami peninjaun kembali,
bahkan mengalami devaluasi. Dan anak muda menentukan identifikasi
dengan obyek baru yang dianggap lebih bernilai dari pada obyek yang
lama.

Mulailah mekar sikap hidup yang kritis terhadap dunia sekitar, yang
didukung oleh kemantapan kehidupan batinya. Anak muda berusaha keras
melakukan adaptasi terhadap tuntutan lingkungan hidupnya. Penilain yang amat
tinggi terhadap orang tua kini makin berkurang, dan digantikan dengan respek
terhadap pribadi-pribadi lain yang diaanggap lebih memenuhi kreteria.
C. Unsur Progresif kontra Unsur Regresif
Selama periode adolesensi ini masih tedapat benturan-benturan anatara
dua dunia yaitu dunia masa mendatang menuju pada kebebasan dan
kedewasaan yang merupakan unsur progresif, melawan dunia lampau yan
mengandung unsur depedensil ketergantungan dan infatilisme yang regresif.
Selanjutnya, apakah perkembangan adolesensi itu akan membaik atau
menburuk, sangat tergantung pada kemenangan salah satu unsur tadi. Yaitu
unsur yang sangat progresif atau yag regresif, yang akan muncul sebagai
pemenang.
Maka tugas utama anak adolesensi ialah mengatasi benturan batin tadi
dengan tabah, dan menciptakan harmoni diantara dua dunia yang bertentang
itu.
Sedangkan tugas orang tua serta pendidik yang terutama ialah ikut
meringankan beban anak adolesensi yang dipenuhi dnega pergolakan batin itu,
memberikan hati anak muda dan tidak terlampau banyak menuntut pada anak
asuhnya.han situasi
Masa adolesensi ini oleh freud disebut sebagai edisi baru dari kompleks
oedipus, karena adanya pengubhan situasi lama dari masa latensi dan masa anakanak. Yaitu reaksi anak dengan obyek-cintanya masih banyak diwarnai oleh
ikatan anak muda tersebut dengan orag tuanya dari lain jenis, digantikan dengan
obyek cerita yang baru

Maka demi pertumbuhan jiwa anak adolesensi , juga agar bisa memenuhi
kreteria mental yan sehat, sebaiknyalah kalau:
1) Gadis adolesensi mampu memutuskan edentifikasi total dengan
ibu-nya

dan

pemuda

adolesensi

sanggup

memutuskan

identifikasai denga ayahnya


2) Anak adolesensi mampu menundukan kompleks oedipusnya, lalu
menjalin obyek-cinta kasih yang mantap. Juga merangkai relasi
identitas yang lebih dewasa.
3) Mampu menghapuskan keragu-raguan biseksual untuk mengarah
pada proses heteroseksual yang definitif dan positif.
D. Aktivitas Anak Adolesensi
Salah satu ciri yang menonjol pada masa pra-pubertas ialah aktivitas yang
sifatnya agresif-ofensif, sehingga periode ini disebut sebagai masa menentang
dan verneinung. Sikap defensif serta introvert ke dalam untuk mengandalkan
dorongan-dorongan seksual masih sangat kurang.
Maka pada masa adolesensi ini sikap ofensif-agresif serta aktivitas yang
ekstravert itu menjadi makin kurang, lalu diganti dengan tendens tingkah laku
yang pasif, dalam artian: bentuk aktivitas yang mengarah kedalam, kepada diri
sendiri dan sifatnya lebih introvert.
Misalnya, oleh dorongan-dorongan kelamin yang jadi lebih matang dan
lebih kuat, anak mejadi gelisah, tetapi anak tidak memahami cara penyaluran,
lalu timbul banyak kecemasan. Oleh karena itu perlu diadakan mobilisasi umum
terhadap ketahanan jasmani-rohani anak untuk melakukan defensi atau
pertahanan diri, guna menyelesaikan dorongan seksual yang kuat, serta megatasi
kecemasan-kecemasann tadi.
Anak adolesensi berusaha dengan segenap kemampuannya bertahan diri
terhadap badai-badai nafsu seksual yang kini telah mengamuk dan sering
eksplosif dan sukar dikendalikan. Sehubungan dengan ini anak-anak gadis
5

terutama, kini menjadi lebih intensif mengarahkan perhadian terhadap diri


sendiri. Ada lebih banyak aktifitas yang diperlukan untuk mencegah realisasi
dari dorongan seksualny. Biasanya ana-anak gadis berusaha memecahkan
kesulitannya denga jalan-jalan melarikan diri dalam fantasi dan kehidupan
perasaanya. Sebab reslisai secara konkrit deri dorongan seksual jelas akan
mengandung banyak bahaya dan resiko.
Sedangkan pemuda-pemuda yang kurang kuat bertahan imannya. Berusaha
memuaskan dorongan seksualnya secara konkrit, dengan jalan pergi ke
kompleks wanita atau melakukan reaski seks bebas dengan wanita-wanita binal.
1) Untuk mengadakan eksperimen baru di bidang seks
2) Mengetes kelaki-lakiannya
3) Dan sekaligus mau memuaskan insting seksualnya
E. Narsisme dan aku-narsisme
Emosi anak adolesensi sekarag juga lebih terarah ke dalam, pada
kehidupan batiniah sendiri. Pada masa pra-pubertas dan pubertas, yang
kemudian dilanjutka pada masa adolesensi, relasi emosionalnya banyak
ditunjukan pada seorang kawan sejenis dan sifatnya lebih narsitis. Narsitis itu
ialah sifat cinta pada diri sendiri yang mementingkan diri sendiri. Karena jenis
cinta tadi anak menginginkan semacam securiry, jiga semcam keutunag bagi diri
sendiri. Sebab itu narsisme ini memegang peranan penting pada proses
kematangan kehidupan perasaan anak muda.
Secara ringkas bisa dinyatakan

bahwa

sebab

utama

yang

mengakibatkan badai-badai emosi pada masa adolesensi itu ialah intensifikasi


dan jumlah yang terlalu banyak unsur-unsur narsisme. Sehingga emosi-emosi
yang meledak-ledak itu bisa mempersukar kelancaran kontak sosial dengan
sesama manusia.
Biasanya AKU narsisme pada masa adolesesi itu sifatnya banyak
menuntut. Oleh narsisme ini anak muda jadi peka sekali terhadap kekecewaan
6

lagi pula mudah menggugah harga diri yang berlebihan, sehingga timbul
kesombongan. Oleh karena itu anakadolesensi pada umumnya tidak tahan
terhadap kritikan dari orang tua,saudara, dan teman-teman.
Narsisme tersebut kerap kali ditambahi emosi kesepian serasa dirinya
hilang, hanyut karena anak muda merasa tidak mengerti oleh lingkungannya. Ia
sering kali merasa terpojok, tersisih, atau terlupakan oleh anggota keluarga,
terutama oleh orang tua. Maka campuran perasaan harga diri yang ekstrim dan
merasa kesepian, itu mengakibatkan anak muda jadi pemurung, cepat kecewa,
mudah tersinggung, dan lekas marah.
Sebagai akibat dari kuranganya pengalaman, lagi pula emosinya terlalu
dibesarkan, anak muda mau mengorbankan segalanya demiorang yang di
cintainya. Sedangkan pada kenyataannya obyek-cintanya sangat tidak stabil dan
mudah berganti pacar.
Selanjutnya sifat mudah jatuh cinta dan mudah berganti pacar itu
lebih sering terjadi pada anak gadis dari pada anak laki-laki. Hasrat untuk dipuja
dan dicintai olah banyak pemuda, ditambah dengan kecendrungan untuk
mematahkan hati banyak pria itu merupakan ciri karakteristik anak gadis
adolesensi yang masih belum matang kehidupan jiwaninya. Sekaligus ciri-ciri
tersebut bisa mengelus-elus/membelai-belai narsismenya serta harka
kewanitaannya.
Namun demukian, kegiatan memburu cintanya pemuda itu secara murni
jarang didorong oleh kecenderungan narsistesi saja, akan tetapi pada galibnya
mempunyai tendensi jika dibandingkan dengan anak gadis lainnya.
Misalnya anak ingin membuktikan kebolehannya pada ibunya yang
kurang mempercayai kedewasaanya. Ataupun untuk mengunggah rasa cemburu
dan iri hati pada kawan gadisnya dan saing-sanigannya.
F. Bahaya Identifikasi Total
7

Telah disebut dibagian depan, identifikasi dengan salah satu oran tuanya itu bisa
memperkokoh pertumbuhan mental dan kepribadian anak ramaja. Identifikasi
tersebut bisa ditafsikan maca-macam dan sukar bagi kita untuk memastikan
dengan eksak tingkah laku anaka adolesensi yang serba dubeius dan berlawanan
itu. Identifikasi itu bisa terjadi oleh anak sebagai berikut ini.
1) Sebagai sarana untuk mengembangakan kepribadian sendiri karena anak
belum mampu menemukan pola hidup sendiri. Jadi, sebgai alat
memperkuat kepribadiannya.
2) Anak ingin membuktikan pada dunia luar, nahwa dia juga mampu
memamerkan kedewasaan dan mewujudkan sifat-sifat yang baik seperti
ayahnya atau bundanya.
3) Identifikasi itu merupakan pencerminan dari kesulitan anak muda
untukmengatasi kompleks oedipusnya.
4) Identifikasi yang ekstrim merupakan pelekatan-infantil pada ibunya bagi
anak gadis, dan apelekatan-infantil pada ayahnya bagi pemuda
adolesensi. Maksunya, identifikasi itu digunakan sebagai alat untuk
menghindari konflik denga orang tuanya. Dan anak muda berusaha
menjadi pribadi bayangan dari salah satu orang tuanya. Namun dengan
timbulnya kesadaran AKU dan KEMAMPUAN DIRI SENDIRI,
bergolaklah kemudidan rasa kebencian pada diri sendiri dan pada orang
tuannya.
Namu pada saatnyang sama sekalgus muncul pula raga tidak berdaya
untuk melepaskan diri dari relasi orang tua. Perasaan yang antagonis
sedemikian inilah menimbulkan banyak kepediahan, kebingungan dan macammacam frustasi pada jiwa anak.

Jika anak muda tidak bisa menghadapi identifikasi pada mas adolesensi
maka sepanjang periode keremajaan dan kedewasaan dia akan tetap bersifat
seperti anak-anak pra- pubertas.ng terus menerus
Disamping itu dia goncangkan jiwani ya ng terus menerus itu jika tidak
terselesaikan dengan baik, bisa menimbulkan gejala-gejala patologis yaitu
neurosa, manis depresif, konversial, tidak ada nafsu makan. Semua ini ada
kaitannya dengan rasa tidak berdaya/mampu untuk melepaskan diri sendiri.
Semuanya ini ada kaitannya dengan rasa tidak berdaya untuk melepaskan diri
dari ikatan identifikasi dengan salah satu orang tuanya.
Bahaya dari identifikasi yang terlalu melekat pekat ialah:
1) Tipisnya kepercayaan diri
2) Lemahnya kemauan anak muda
3) Semakin besarnya ketergantungan pada pribadi yang dilekatinya
4) Identifikasi total jelas akan merampas kemampuan anak muda
untuk memiliki kedewasaan dan kepribadiannya sendiri.
Ada kalanya identifikasi total ini mengakibatkan timbulnya pribadi
majemuk yaitu muncul Aku-pribadi sianak sendiri, dan Aku-lain yang identik
sama dengan pribadi di indentifikasinya. Freud menanamkan gejala tersebut
sebagai fenomena multiple personlichkeit proses identifikasi ini bisa
berlangsung terhadap satu orang pribadi, tetapi juga bisa terhadap beberapa orang
(lebih dari seseorang). Hingga timbul kepecahan pribadi, yang kita kenal sebagai
gejala pribadi majemuk tadi.
Dr. Helntiene deutsch menyebutkan relasi emosional dari identifikasi
total tadi dengan sebutan pseudoaffekvitat yang bisa menimbulkan gejala-gejala
neuroloogis dan patologis.

Ada juga gadis-gadis adolesens ( dan di teruskan pada usia kedewasaan )


berbakat intelektual tinggi yang tidak mampu mengendalikan macam-macam
identifikasinya, dan tidak mampu membatasi wilayah identifikasinya. Ia sangat
mudah terpengaruh oleh sugesti dari luar, dan melakukan identifikasi yang
berganti-ganti, sehingga dia tidak pernah bisa mendapatkan keseimbangan batin.
Oleh identifikasi yang berganti-ganti itu struktur batinya menjadi kacau balau.
Peristiwa ini memberikan efek yang destruktif merusak pada diri sendiri pada
lingkungannya. Contoh konkrit ialah:
1)
2)
3)
4)
5)

Peristiwa kawin cerai berulang kali


Pelacuran
Promiscuity
Nafsu berganti-ganti lapangan pekerjaan
Tendens tidak dapat du cegah untuk ngeloyor, selalu pergi

kemana-mana dan berpindah-pindah tempat tempat tanpa tujua.


6) Petualangan cinta dan yang lain-lain
G. Dorongan Seksual Dan Unsur Erotik Anak Adolesensi
Syarat utama bagi kesehatan fisoko-psikis anak adolesensi ialah
sipemuda harus menjadi pria dewasaa dan anak gadis harus menjadi wanita
dewasa. Dan nasib manusia itu dipastikan oleh fungsi organ kelaminnya.
Kesulitan paling besar bagi orang-orang muda ialah;
1) Memutuskan relasi-relasi emosional dengan obyek identifikasi
yang infantil sifatnya
2) Mengalahkan kepasifannya. Lalu menemukan relasi emosional
dan obyek-identifikasi baru yang lebih mantap
3) Maka benturan-benturan anara elemen-elemen progresif melawan
elemen regresif sering memanifistasikan diri dalam bentuk
mastrubasi

10

Lebih-lebih oleh kematangan organ kelamin da makin banyaknya


muncul dorongan-dorongan seksual, sehingga terjadi banyak ketegangan fisik
dan spikis. Anak-anak laki adolesensi banyak yang melakukan mastrubasi tadi.
Bahkan anak-anak yang bandung (nakal, bandel) dengan beraninya
menyalurkan ketegangan-ketegangan tersebuut dengan jalan mengetes
kepriaannya di warung-warung cinta, bergaul dengan wanita tunasusila, atau
bergaul bebas dengan gadis binal, serta melakukan eksperimen relasi-relasi
seks secara bebas.
Bagi anak adplesensi, alat kelamin merupakan satu milik yang
berharga dan membanggakan, sangat berarti dan harus terjaga agar alat tersebut
tetap berfungsi. Sebalinya pada anak gadis alat kelaminnya ada kalanya
menimbulkan rasa malu dan rasa rendah diri. Hal ini disebabkan karena anak
beranggapan bahwa alat kelaminnya merupakan cloaca (paritpembuang, riool)
yang kotor menjijkan, merupakan saluran pembuangan urin dan haidnya.
Dengan sendirinya, pikiran sedemikiaan itu tidak betul.
Pada gadis-gadis adolesensi, unsur erotik itu linya, jaiak diebih lama
dan lebih intensif jika debandingankan dengan penghayatan anak laki-laki,
terutama sekali disebabakan oleh perbedaan anatomis.
Fantasi-fantasi erotis pada anak laki-laki biasanya disertai prosesproses genital. Yaitu timbul dorornagn seksual yang kuat sekalia, dan
menyebabkan erectie atau menegangakan penis. Sehingga banyak anak lakilaki adolesensi yang melakukan mastrubasi atau onanai.

11

Sebaliknya denga anak gadis , mereka tidak begitu cepat memahami,


bahwa alat kelaminya juga meruapakan alat bagi realisasi dari dorongan cinta.
Pada umumnya , anak-anak gadis masih bisa membedakan antara keteganganketegangan psikis dengan keteganga fisik, sebagai akibat dari ketenagangan
organ kelaminya jika melakukan mastrubasi
Namun demikian dipastikanlah bahwa mastrubasi tidak banyak
dilakukan oleg anak gadis dan wanita. Sebsb ialah sebagai perangsang pada
zone daerah genital itu pada umumnya bisa di salurkan pada bagian-bagian
tubuh lainnya tanpa mengalami banyak kesukaran. Misalnya berupa tekanan
jantung yang lebih cepat, berdebar-debar, rasa pusing-pusing, rasa menyenak di
perut, mual, munta-muntah, rasa pening berdenyut-denyut di kepala, dan lain
lain. Semua ini merupakan mekanisme subtitusi-mastrubasi dalam bentuk
kanalisasi dorongan-dorongan seksual yang kuat ke bagian tubuh lainnya
(mekanisme substitusu yang otomatis pada gadis dan wanita)
Jika kita teliti kembali kehidupan fantasi gadis adolesensi maka dapat
dinyatakan bahwa fantasi merupakan gambaran-gambaran bagi masa
mendatang, yang ingin direalisasikan di kelak kemudian hari oleh anak. Jadi
fantasi tersebut sifatnya positif karena bisa memberikan harapan dan
pengarahan.
Akan tetapi fantasi juga bisa negatif merugiksan kalau oleh anak gadis
dipakai sebagai alat untuk melarikan diri dari dunia kenyataan. Yaitu untuk
mengingkari realitas, dan anak sengaja menengelamkan diri terus menerus

12

dalam lamunan dunia imaginer. Sehingga terjadi bentuk pseudologi.


Pseudologi itu dianggap sebagai metode khusus untuk memungkiri realitas.
Memang, realisasi dari dorongan-doronagan seksual dengan konkritaktif melakukan coitus, bisa berbahaya bagi gadis adolesensi. Sebab dia akan
menanggung resiko menjadi hamil atau terbiasa dalam kehidupan promiscuous
yang tidak sehat dan tidak terkendali. Maka sebagai pengganti realisai konkrit
tadi, anak gadis melakukan represi terhadap dorongan-doronagan seksual dan
erotisnya dala bentuk fantasi atau pseudologi. Dengan begitu fantasi dan
psudologi tersebut berfungsi sebagai alat mekanisme-pertahanan diri. Yaitu
merupakan cara melarikan diri dari dunia kenyataan sekarang, denga
memindahkan realisasi pemenuhan dorongan seksual ke masa mendatanga,
di dalam dunia fantasi
Adis adolesensi itu selalu menghayal cita-cita dihari depan, dengan
membanyankan aktivitas-aktivitas seksual, dari tingakah laku yang sederhana,
melambung sampai pada aktivitas persenggamaan fantasi yan tidak mungkin
bisa direlisasikan. Sebab dunia fantasi yang imaginer itu memberikan peluang
tidak terbatas untuk berkhayal bagi gadis-gadis tadi.
Dengan sendirinya, pemuasan dengan jalan represi dan berfantasi itu
tidak selamanya bisa berhasil. Khsusnya apabila dorongan seksual itu teramat
besar. Sebagai akibat dari rasa tidak terpuaskan dorongan tadi, timbilah banyak
ketegangan batin, ketakutan, kecemasan, kebingungan, kinflik jiwa dan
frustasi. Sebab disat pihak timbul ketakuatan untuk meralisasikan dorongan-

13

dorongan seksual menjadi semakin matang, makin memuncak dan mendesak


menuntut pemuasannya.
Ada sekelompok anak-anak adolesensi baik laki-laki maupun
perempuan yang disebabkan ole rasa-rasa takut realisasikan dorongan seksual,
justru malah melakukan aktivitas relasi seksual yang intensif. Jadi mereka
berusaha mengatasi rasa ketakutan dengan tindakan intervensi aktif berlaku
sok berani, sok tahu, sok ngejago dalam hal seks, mai coba-coba dalam
petualanagan cinta.
Akan tetapi pada akhir eksperimen-eksperimen seksual yang dialamai
anak itu yang sebenaranya belum matang dan tidak dewasa sifatnya justru
menekankan dan menindih anak adolesens. Skrit, sebab, pada hakikatnya
ketakutan dan kecemasannya toh tidak bisa di hilangakan, akan tetapi berubah
isinya saja. Mula-mula berupa ketakuatan untuk secara konkrit memuaskan
keinginan seksualnya.

Kemudian berubah wujud menjadi ketakutan yang

bermotifkan penyesalan rasa berslah dan bernoda, rasa tidak bersih, murni, dan
berdosa.
Banyak gadis modern juga pemudanya juga pada jaman pemuda
sekarang, terutama di negara yang sudah maju berkembanga seperti daratan
eropa dan amerika serikat, yang mendapatkan pengalaman seksual jauh
sebelum merak aitu matang secara psikis. Mereka berusaha memforsir diri,
bahkan berusaha melewati atau melangkahi kematanga psikis dan kematanga
seksual sebenarnya, denga jalan melakukan relasi seksual secara intensif diluar
ikatan perkawianan pada periode pubertas dan adolesensi. Malahan juga masa

14

praubertas mereka mengangagap nonsens omong kosong tidak apa-apa


kekangan-kekangan seksual dan peraturan normatif dalam hubungan seksual,
nonsens terhadap kode moral. Lalu mereka terus-terusan melakukan
eksperimen tanpa terkendali. Sebagai akaibatnya dikemudian hari ialah mereka
mengalami macam bentik kecemasan depresi psikis dan banyak di bebani ras
ketakutan, tidak bahagia, penyesalan, duka, dan rasa cermar ternoda.
Pada kejadian lain ada anak gadis adolesensi yang melakukan
kebebasan semu seksual dalam bentuk tingkah laku paksaan. Mereka
menjalankan promiscuity, yaitu melakukan relasi autan tanpa aturan, dan
menjadi milik komunal dari banyak lelaki. Secara komunal meraka mengalami
pola hidup campur baur tanpa norma, laki-laki dan perempuan hidup bersama
tanpa ikatan perkawianan. Dan secara intensif-kompulsif melakukan relasi seks
bebas. Lalu menganggap tingkah lakunya itu sebagai satu emansipasi atau
prolaku modern.
Anak adolesens dan puber ini benar tidak menyadari bahwa perbuatan
seks tanpa norma susila itu justru merupakan perbudakan dan pembelengguan
diri oleh hawa nafsu premitif yang tidak terkendali dan oleh fantasi seksual
yang fiktif. Mereka terlalu berani, sangat gegabah, sembrono, terlalu ngaur dan
terlampau maju tanpa pertimbangan hati nurani. Mereka hanya ingin
melupakan diri dalam hanyatan fnatasi di alam seksual bebas. Dan sebagai
akibat jauh dari perbuatan tersebut ialah:
1) Berkembangnya di dunia pelacuran yang dihuni penuh padat
oleh gadis adolesensi.
2) Peristiwa kecanduan narkotika dan obat bius
15

3) Kriminalitas
4) Munculnya pasukan wanita ekstrim yang ikut melakukan teror,
pembunh dan penculikan
5) Juga muncul kelompok wanita bebas yang sangat menderita
batinya, sebab didera oleh rasa defpresi, melankoli, neurosa,
dan psikosa yang terdiri atas anak muda.
Ada juga anak adolesensi yang sedikit lebih tua dan lebih dewasa, yan
menyalurakan jiwa seksualnya dengan jalanan; memilih satu preopesi yang
sebenarnya kurang di tekuni atau menggabungakan diri pda satu kelompok
ideologi politik ekstrim. Ada pula yang menjadi anggota sectu. Tujuan inti
mereka sebenarnya bukan mematuhi suatu ideologi bukan pula untuk
melepaska diri dari kekangan-kekangan dan kewibawaan orang tua dari normanorma susila masyarakat, akan tetapi tujuan primer dari aktivitas tadi ialah
melarikan diri dari dorongan-dorongan seksual yan sangat kuat. Maka tingkah
laku stereotipis dari gadis dan pemuda adolesensi tersebut ialah mengeliminasu
secara total dari kehidupan sadarnya semua unsur cinta kasih yang alami.
Unsur cinta kasih itu kemudian disubtitusikan atau dirubah dalam
bentuk fanatisme pada ide-ide abstrak atau utopis, pada faham-faham politik
dab doktrin-dokrin keagamaan yang super-ekstrim.
Walaupun anak-anak muda adolesensi golongan terakhir ini memiliki
cita-cita kemanusiaan yang tinggi atau memiliki ide-ide sosial dan konsepkonsep ilmiah yang luhur, namunpada hakikatnya mereka itu kurang memiliki
kekayaan psikis. Kehidupan jiwanya miskin dan kering. Sebab kekayaan psikis
tersebut hanya bisa diperoleh melalui pengalaman-pengalaman emosional yang
seksusal sifatnya.
Tipe-tipe anak muda yang mengikis habis kehidupan perasaanya itu
pada umumnya tenggelam dalam satu onyek cinta yang narsitis sepanjang satu

16

periode yang cukup lama atau selama-lalmanya. Lambat laun kehidupan


perasaany ajadi steri dan kering kerontang. Di kemudian hari kondisii
sedemikian ini bisa mengakibatkan timbulnya gejala-gejala neurotis atau
patologis.
Jelaslah, bahwa macam-macam aktivitas sosial dan intelektual tanpa
disertai unsur perasaan dan fantasi yang sehat bisa berakibatkan menipis rasa
kemanusiaan yaitu kewanitaan pada gadis adolesennsi dan wanita dewasa dan
menipisnya perasaan kelaki-lakian pada pemuda dan pria dewasa. Dengan
sendirinya hal ini bisa menghambat fungsi-fungsi kewanitaan dan fungsi
kepriaan dan di kemudian hari bisa menghambat fungsi keibuan dan fungsi
keayahan.
Sebab sekalipun fungisi intelek tual yang tinggi dan perbuatan seharihari dinilai cukup baik, akan tetapi hakekat inti kepribadian tetap infantil atau
tidak dewasa.
Intelektualisasi yang ekstrim bisa menghambat perkembangan psikis
yang wajar dari anak gadis. Sebab perasaan kewanitaan dan kehidupan
fantisinya bisa terdesak dan mengalami proses atrofi. Sebagai akibatnya, status
kedewasaan secara penuh tidak akan pernah bisa dicapai olehnya. Tipe gadis
adolesensi dan wanita emergi-ambisius, yang mampu mendesakan dorongandorongan erotik dan seksualnya itu, dalam inti kepribadiannya mengalami
banyak perasaan dan gangguan emosional. Sebab mereka itu biasanya sarat
dimuati kompleks-kompleks kejantanan yang tidak mapan yang bisa mengubur
sifat kewanitaanya.
Ada lagi anak adolesensi yang mengalami pengaruh keluarga yang
buru-menyedihkan, disebabjkan oleh penanaman norma-norma moralitas yang
keras dan tabu-tabu seksualitas yang tidak riil mengebai dosa-dosa dan

17

hukuman dunia akhirat yang berkaitan dengan masalah seks. Oleh salah tafsir
serta kurangannya pengalaman anak, maka pengertian yang keliru mengeai
norma tadi dijadikan prinsip dan fiksasi yang menetap.
Selanjutnya pada usia kedewasan merekan akan selalu di bebani oleh
perasaan berdosa dan penyesalan yang kuat. Kemudian mereka melakukan
psikisnya yaitu dengan jalan melakukan macam-macam larangan,pantangan
sampai-sampai

menggangu kesehatan jasmani danrohani-nya. Semua

dorongan seksual yang alami dan cinta kaih yang murni kemudian digantikan
dengan prinsip moralitas puriten yang tidak rasional.
Maka, setiap kali apabila orang muda ingin melanggar prinsip moral
tadi, meraung raunglah signal tanda bahaya mendengungkan dogma-dogma
moral yang ketatt. Lalu, semakin banyaklah pantangan dan peraturan prinsipiil
yang ditampilkan pada diri sendiri. Jadi semakin besar pula rasa-rasa dosanya,
yang kemudian harus ditebus dengan amal pembayaran lebih berat lagi. Orangorang muda tipe ini bisa digolongkan pada kelompok kaum aset. Kebanyakan
kali, potensi neurosa paksaan itu memang sudah muncul sejak usia yang muda,
sebagai produk dari pengaruh pendidikan yang keras-kejam dam moralitas
dogmatis yanga sangat ketat kaku.
Potensi neurotis tadi jadi lebih intensif atau kuat pada masa adolensensi
peristiwa itu disebabkan oleh:
1) Pengaruh pendidikan orang tua yang keras
2) Pengaruh dogma-dogma religius yang keras dari guru-guru
agama yang fanatik
3) Ditambah denga kemulasi macam-macam konflik batin pada
periode pra-puberyas dan adolesensi
Jika anak-anak yang astis tadi tidak mendapatkan kesempatan
berkembang dengan cara yang lebih bebas dan rileks, maka bisa dipastikan

18

bahwa mereka akan jdi dwang-neurotici, yaitu orang-orang yang dijangkiti


neuros paksaan.atau menjadi gadis tua atau jejaka tua yang tidak pernah kawin.
H. Reaksi Yang Bervariasi Terhadap Dorongan Seksual
Dalam iklim psikologis yang panas sebagai akaibat semakin menguatnya
dorongan-dorongan seksual, anak adolesensii mengalami banyak keragu-raguan,
ketidak stabilan emosional dan rasa tidak aman. Perkembanga positif maupun
negatif banyak dipengaruhi oleh pendidikan dan faktor kutural. Dengan kata
lain, walaupun anak-anak muda itu hidup dalam satu lingkungan budaya yang
sama, dan mengalami proses kematangan biologis yang sama pula, namun
masing-masing akan menampilkan perbedaan kepribadian repos terhadap resonrespon seksualnya.
Ada anak-anak muda yang bersikap agresif memberontak dan secara
terangan-terangan menentang norma-normam etis kehidupan seksual dengan
jalan seks bebas, aktivitas seksual yang saditis dan perkosaan. Anak muda lainya
menjasi luar biasa aktif di bandingkan sosial dan intelektual, lalu ingin
mengadakan pembaharuan dalam relasi seksual. Sebaiknya ada lagi pemuda
yang menerima nasib hidup dnegan rasa pasif, pasrah diri dan putus asa.
Beberpa orang lainnya tenggelam dalam apatisme, kembali pada pola fantasi dan
kebiasaan infantil.
Sekali lagi kami tegaskan, fantasi seksual yang wajar dan tidak
berlebihan bisa memperkaya kehidupan perasaan dan membantu perkembangan
menuju manusia dewasa. Sebalinya fantasi seksual bisa menimbulkan bahaya
dalam bentuk reaksi psikis yang pantologi. Kelompok anak muda lainya lalu
mengembangakan pola tingkah laku yang stereotipis terhadap impuls seksalnya,
sehingga kepribadian juga menjadi tegar dan keras

19

Aktivitas observasi intensif dan kritis ke dalam diri sendiri yang menjadi
ciri tipis anak adolesensi, pada umumnya lebih kuat danlebih lama berlangsug
pada anak gadis dari pada anak laki-laki. Faktor ini pulalah yang menjadi sebab
timbulnya dua ciri khas kewanitaan yaitu:
1) Intuisi yang halus tajam
2) Subyektif yang lebih besar dalam menanggapi dan menilai
kehidupan
Seoran penyair polandia menamakan dorongan seksual itu sebagai puisi
dari jasmani, dan seksualitas sendri disebut sebagai prosanya. Maka keberhasilan
si gadis untuk menolak dorongan prosais, agar kelak bisa mencapai sorga-puisi
seksual, inilah yang memperbedakan watak anak gadis dengan anak adolesensi
I. Obyek Cinta Dan Fantasi Cinta Anak Adolesensi
Cinta kasih orang muda yang semula banyak tercurah pada ayah bunda
dan kwan jenis, kini mulai dialihkan kepada obyek cinta atau kekasih yang
sebenarnya. Jadi persaan heteroseksual tulen. Dan apabila anak adolesensi ini
jadi lebih tua dan semakin matang, dia akan meninjau partner cintanya dyang
baru dengan pandangan lebih kritis. Dia melakukan evaluasi dan re-evaluasi
bahkan perlu melakukan deyaluasi terhadap obyek cintanya.
Maka berlangsung mekanisme devaluasi untuk mengantikan obyek
yang lama yang sudah tidak memenuhi kriterium pokok anak muda, dengan
seorang obyek cinya yang baru, yang dinilai cocok denga seleranya. Sehubungan
dengan itu sangat pentinglah fungsi iden tifikasi dengan pribadi yang luhur,
sebab bisa memberikan pengarahan pada usaha seleksi obyek cintanya. Juga
identifikasi dengan pemimpin tertentu dalam satu relasi kelompok atau dalam
satu perkumpulan ideologis akan menambah kemampuan untuk mengadakan
seleksi terhadap kawan-kawan seperjuangan.

20

Kadangkala gambaran khayalan obyek cinta anak adolesensi itu diberi


seorang pribadi yang riil dan motivasi ambisi yang ekstrim, sehingga dia
menuntut persyaratan yang terlalu muluk-muluk dari kekasihnya. Setiap kali dia
bertemu dengan seorang kekasih, setiap kali juga ia tidak merasakan puas dan
melihat banyak kekurangan pada pribadi obyek cintanya. Pribadi kekasih
tersebut tidak memuaskan seleranya, lalu ditinggalkan tanpa alasan yang jelas.
Isi fantasi cinta anak adolesensi banyak diwarnai dengan pengaruh
milieu kultural tempat anak muda berada. Umpama saja gadis remaja dari
kalangan rakyat biasa yang hidup di kampung, ia tidak akan bermimpi bermain
peran seirang putri bangsawan cantikyang mendendangkan kidung cinta kasih
dimalam bulan purnama.
Jika fantasi cinta anak muda sifatnya tidak sosial atau tidak ideologis
akan tetap murni egosentris maka realisai dari fabtasi tidak akan menumbukab
bayak kekecewaan pada dirinya. sebab, yang egosentris itu memandan dunia
luar dari sudut pandang dan keinginan sendiri, ia menuntut pengertian dan
pelulusan sesuai dengan harapanya sendiri, serta dibatasi oleh perasaan dan
fikirannya yang sempit. Dia akan sangat di warnai oleh akal budinya yang
sempit.
Akibatnya dia tidak mampu menyelami perasaan dan fikiran orang lain,
tidak mampu menempatkan diri ke dalam kehidupan jiwani patnernya. Dengan
begitu cinta yang egosentri tersebut sifatnya naif , sebab setiap aktivitas harus
bisa memuaskan kepentingan diri pribadi . dengan sendirinya kepribadian anak
muda tadi kurang matang. Sehingga permainan cintanya yang bernadakan
egosentrime itu akan menyudutkan dirinya pada banyak kekecewaan.
J. Penemuan Nilai Nilai hidup

21

Anak adolensensi mulaimenemukan nilai-nilai hidup baru yang lebih


mantap, lalu dia mencoba berpegang teguh pada pendirian sendiri. Ia berusaha
secara konsekuen mencapai satu tujuan yang bernilai. Selanjutnya dia memilih
pola hidup baru dan sikap kritis. Oleh semua kejadian itu muda lalu menerapkan
cara respon baru tehadap lingkungan an tara lain berupa.
1) Ia mulai mengabaikan kewibawaan orang tua, melawan
otoritas pendidik, dan bertindak menurut kemauan sendiri.
2) Oleh dinamik penuh elan dan badai pergolakan jiwa justru
diperkuat ciri-ciri pemberontakan dan individualaisme
3) Muncullah kemudian menghayati HIDUP-nya menurut pola
dan cita rasa sendiri
Namun disamping itu timbul juga keragu-raguan, kecemasan dan
ketakutan pada konstitusi jasmani dak seksualitas yang semakin meningkatkan
matang tapi belum dimengerti betul oleh anak. Semua kecemasan konflik dan
pergolakan batin itu menimbulkan kelelahan fisik dan spikis yang memuncak
pada diri anak muda.
Kecapaiana spikis dan fisis tersebut jika khronis dan ekstrim bisa
mengakibatkan timbulnya gejala neurose adolesensiyang di tandai dengan
banyak konflik batin, rasa depresi, dan kompleks rendah hati.
Pada masa adolesensi yang serba kritis rapus penuh dnegan badai
taufan dan tumbukan macam-macam perasaan itu, truma-trauma yang dahulu
pernah berkembang pada masa kanak-kanak mungkin bisa kambuh kembali dan
memunculkan reaksi trauma adolesensi. Kondisi ini bisa merangsang sensitivitas
untuk menjaga neurotis.
Sehubungan dengan banyaknya titik kritis yang bisa meng

22

Kibatkan gejala patologis itu, maka perlu diusahakan agar anak adolesensi
secepatnya bisa menemukan keseimbangan jiawa, senhinga ia mampu
melaksanakan tugas hidupnya sesuai dengan sistem nilai yang dipilihnya sendiri.
K. Memilih Arah Dan Tujuan Hidup Senndiri
Masa adolesensi adalah kunci penutup dari perkemangan anak. Mula
mula anak puber itu memandang dan mencari sesuatu ke dalam diri sendiri.
Akhirnya dia menemukan diri sendiri pada masa adilesensi yaitu menemukan
harmoni baru diantara sikap kedalam diri sendiri, dan dengan sikap keluar pada
dunia obyek. Menurut banyak ahli jiwa waktu adolesens ialah usia 12-21/24
tahun.
Perbedaan karakteristik dari ketiga fase perkembangan menjelang
usia kedewasaan adalah sebagai berikut:
1. Pada masa akhir puber yaitu masa negatif kedua anak sering
merasa gas, sederhana dan bingung, cemas, gelisah, gelap hati,
risau, sedih, namun ia tidak mengetahui sebab musabah
kerisauan hatinya.
2. Pada masa pubertas anak muda mengiginkan sesuatu dan
mencari sesuatu. Namun apa sebenarnya sesuatu itu anak remaja
belum megetahuinya
3. Pada msa adolesensi, orang muda mulai merasa mantap dan
menemukan aku sendiri ia mulai memahami arah dan tujuan
hidupnya.
Pada masa adolesensi ini anak muda telah memiliki pendirian dengan
jalan memilih jalan pola hidup, sekaligus dia mulai menemukan nilai hidup,
sehingga makin jelaslah pemahaman tentang jati dirinya sendiri. Ia mulai
bersikap kritis dan mampu mengambil sintese antara kehidupan batiniah

23

dengan dunia obyektif. Anak muda mulai mampu mendidik diri sendiri ada
proses pembentukan diri, maka sampailah annak muda pada batas kedewasaan.
Pada usia ini yang sangat diperlukan oleh anak muda ialah pendidikan
dan kepribadian yang tegas dan jujuryang tidakmenuntut terlalu banyak pada
anak didinya. Yang penting ialahsemua cobaan hidup dan pengalaman itu harus
dihayati

sendiri

oleh

anak

muda,

dengan

mana

ia

kemudian

mampumennemukan arti hidup.


Yang jelas, dalam perjuangan merebut satu pengakuan dan tempat
atauu posisi di tengah arena hidup ini, anak muda tidak akan terhindar dari
kepedihan,duka, sakit, kekecewaan, ketegangan, frustasi, penyesalan, dan
macam-macam nestapa lainya. Maka sesuai dengan ciri kemudaanya dengan
penuh antusiasme, keberanian, dan ketegaran hati ia harus sanggup memiliki
semua tugas hidupnya dengan tanggung jawab penuh, mengarah pada suatu
tujuan hidup yang mulia.

24

BAB III
MENSTRUASI DAN ONANI

A. Kematangan Seksual Dan Menstruasi (Haid)


Peristiwa paling penting pada masa punbertas dan adolesensi ialah
gejala menstruasi atau haid, sebagai pertanda biologis dari kematangan seksual
pada nanak gadis. Peristiwa hai ini berlangsung sebagai berikut: ada kematangan
hormonal dan reaksi biologis yang dibarengi denga reaksi spikis. Kematangan
hormon skes tersebut berupa proses somatis yang berlagsung secara cyclis dan
ada pengulangan pada periodik proses menstruasi.
Haid setiap bulan itu akan berlangsug normal apabila kehidupan
batiniah gadis daniklim psikis lingkungan normal serta tenang. Sebaliknya,
apabila kehidupan batiniah sigadis kalut-kusut, dan lingkungan tidak sehat serta
25

kacau, maka akan timbul macam-macam gejala psikosomatis yang erat


kaitannya dengan menstruasi anak gadis
Secara normal, mestruasi itu berlangsung sejak usia 11-16 tahun .
cepat dan lambatnya kematangan seksual ini, kecuali di tentukan oleh konstitusi
fisik individu juga di pengaruhi oleh faktor ras, iklim, cara hidup individu, dan
milieu lingkunagan anak. Badan yang pernah atau berpenyakitan , umpamanya,
bisa iktu memperlambat tibanya menstruasi
Sebaliknya ,rangsangan ektern yang sangat kuat umpama berupa film
seks, buku-buku majalah dan potret pornografis atau tidak susila, godaan dan
rangsagan kaum pria, pengamatan langsung perbuatan coitus, semua itu tidak
hanya mengakibatkan memuncaknya reaksi- reaksi seksual, akan tetapi juga
mengakibatkan memuncknya reaksi seksual, akan tetapi juga mengakibatkan
percepatan dan kematangan seksual anak gadis. Oleh karena itu bisa dinyatakan,
bahwa pengaruh kultur dan peradaban itu ambivalen sifatnya terhadap
kematangan seksual wanita. Artinya, kultur dan peradaban bisa memperlambat
atau mempercepat tempo kematangan seksual anak gadis. Juga bisa
memperlambat atau mempercepat datanganya menstruasi
B. Menstruasi Sebagai Pengalaman Psikis
Jauh sebelum menstruasi itu tiba anak gadis yang normal sudah
mempunyai perasaan antisipasi yang berbeda-beda terhadap menstruasi.
Antisipasi anak ini bergantung pada informasi yang di peroleh sebelumya. Juga
bergantung pada pengalaman hidup anak dimas lalu. Periode antisipasi yang
disebut pula sebagai periode penantian itu segera diakhiri oleh masa
kematangan, dengan tibanya haid atau menstruasi. Peristiwa haid pada seorang
gadis itu dinyatakan, bahwa anak gadis kini benar-benar sudah siap secara
biologis untuk melakukan fungsi kewanitaannya.
26

Maka pada periode adolesensi itu peristiw haih mempunyai peranan


psikologis yang unik, yang mempengaruhi sikap hidup anak sampai usia
kedewasaanya, semua ahasia dan kerepotan yang menyelubungi pribadi ibunya
yang berkaitan dengan haid, hamil dan kelahiran bayi, sekarang benar jadi
realitas bagi anak sendiri. Maka semakin muda usia seorang gadis dan makin
belum siap ia menerima peristiwa haidnya, semakin terasa berat menekan dan
pehitlah pengalaman mentrusai itu.
Tidak jarang muncul reaksi psikis yang negatif penuh kegetiran hati
pada saat haid pertama, yan disebut oleh DR. Helena Deutsch sebagai kompleks
kastrasi artinya perasaan kecewa. Sedang trauma genitalis itu artinya luka atau
shock psikis disebsbkan oleh pengalaman baru berkaitan denga masalah
genitalia atau alat kelamin anak tersebut.
Maka timbullah kecemasan dan ketakutan pada gdis tadi yang
kemudian diperkuat dengan kepentingan untuk menolak proses fisiologis
haidnya. Oleh karena itu tidak jarang terjadi, bahwa sesuda haid pertama, anak
gadis lalu tidsk mendapat haidnya lasi selam abeberapa bulan. Hal ini
disebabkan oleh timbulnya penolakan sigadis secara tidak sadar, yang kemudian
diperkuat oleh rasa ketakutan.
Kadang kala trauma genitalis itu sampai enimbulkanrasa dendam dan
kebencian pada anak gadis yang bersangkutan, sehingga ia menyalahgunakan
orang tua. Khususnya ia menyalahkan ibunya. Sebab ibu tersebut diaggap
sebagai sumber malapetaka bagi dirinya, dengan melahirkan dirinya tadi sebagai
wanita yang bergelimang dosa-dosa sehingga ia mendapatkan haid.
Pemahaman masalah haid itu bergantung pada beberapa faktor yaitu:
1. Usia anak gadis
2. Tingkat perkembangan psikenya
3. Lingkungannya
4. Pendidikannya.

27

Menstruasi yang datang sangat awal pada usia yangsantgat muda,


misalnya ketika anak berusia 9-11 tahun, akan dialami sebagai peristiwa beban
biru
Atau

dirasakan

sebagai

tugas

yang

tidak

menyenangan

dan

menimbulkan rasa enggan dan aib. Gadis tadi merasa dibatasi kebebasannya dan
dihalagi aktivitas oleh datangya haid, karena dia tidak bisa berenang atau
berolah raga.
Sewaktu haid, kadang-kadang muncul anggapan, bahwa segala sesuatu
yang keluar dari anggota tubuh atau alat kelaminnya itu adalah kotor dan
merupakan tanpa noda. Atas dasar pandagan yang keliru ini timbullah rasa
maulu dan dibarengi dengan macam-macam emosi negatif lainnya.
Oleh perasaannegatif itu bisa timbul perasaan sangat kemah, karena
anak merasa kehilangan banyak darah. Dan timbul rasa rendah hati, atau anak
merasa sakit-sakitan sehingga ia tidak berani keluar rumah. Dan sebagai
kesekuensinya dirinya

dikasihani oleh siapapun juga. Mula-mula semua

permainan pendahuluan tadi dilambari dengan gambaran fantasi. Akan tetapi di


kemudian harinya mungkin saja dikembangkan menjadi mekanisme pembelaan
diri.
C. Gejala Gejala Patologis Yang Membarengi Menstruasi
Banyak gadis puber adolesensi dan wanita dewasa yang selalu tinggal
di tempat tidur saja, ketika mereka mendapatkan haidnya, sekalipun mereka
tidak merasakan kesakitan sedikitpun juga. Dari kisah hidup mereka akan kita
ketahui, bahwa pada saat mentruasi pertama wanita yang bersangkutan selalu
diperlakukan dengan sangat hati-hati bagaikan boneka krital, dan diliputi oleh
kasih sanyang yag berlebihan. Ia juga mendapatkan perawatan khusus yang
sangat menyenangkan dari segenap anggota keluarga.

28

Pengalaman menyenagkan tersebut kemudian dijadikan pegangan


untuk setiap kali menunutt ulangan pelayanan yang serba istimewa seperti ia
mendapatkan haidnya yang pertama kali. Juga dijadikan mekanisme
penghindaran diri, agar dia di bebaskan dari tugas tertentu. Bahkan sampai ia
mendapatkan anak, masih juga ia selalu mengingikan pelayanan istimewa dari
suami dan anaknya.
Wanita untuk memanjakan pada sengenap anggota keluarganya untuk
memanjakan pribadinya dan memberikan atensi khusus pada dirinya. Degan
bangga hati wanita itu akan menikmati pemanjaan oleh lingkungan sambil
tiduran, bagaikan seorang bayi terlena dalam buaian. Jika pola sedemikian ini
selalu diprektekan setia dia mendapatkan haid dan sepanjang hidupnya maka
dapat dipastikan bahwa tingkah lakunya itu mengekspresikan ketidak matangan
kehidupan psikinya. Akan tetapi gadis yang mempunyai kecendruanan
menderita neurosa-paksan sebagai akibat pengaruh milieu biasa skan menanggap
mentruasi sebagi peristiwa yag menjijikan, karena itu jika ia mendapatkan haid,
ia akan menumpahkan segenap perhatiannys pada kebersihan badannya,
teristimewa pada alat kelaminnya. Dia akan terus-menerus mencuci badan dan
organ genitalnya, berulang kai mendi dan berganti kain. Setiap kali ia mencuci
lagi, dan menghapuskan setiap tetes darah yan keluar. Tingkah lakunya jadi
stereotipis. Dengan sendirinya tingka laku sedemikian ini merupakan
penyimpangan tingkah laku dan merupakan pola perilaku abnormal.
Memang reaksi anak gadis pada saat menstruasi pertama itu berbeda
beda bergantung pada:
1. Kondisi psikis
2. Usia
3. Pengaruh milieunya

29

Jika peristiwa haid itu menimbulkan shock hebat disertai iritasi maka
biasanya anak gadia ini lalu merasakn sakit. Kemudian disertai dengan merasa
mual mau muntah, jadi cepat lelah dan digenangi oleh emosi depresif .
Jika reaksi anak gadis pada haidnya yan pertama merupakan satu
penilakan yang defensif sifatnya, hal ini bisa mengakibatkan pengereman
fungsional. Bahkan hambatan itu isa berupa retensi menstruasi yaitu
keberhentian haid, khususnya disebabkan oleh reaksi kejutan atau shock reaction
ketika ia mendapakan haid petama.terhentinya haid yang patologis sifatnya.
Psychogene amenorrhoe tersebut disebabkan oleh gangguan psikis sifatnya
sangat kompleks, serta sulit penyembuhan jika orang hanya menggunakan
pengobatan secara fisis organisnya saja
Pada usia yang lebih tua, penolakan tadi menimbulkan penyakit
psychogene amenorhoe, yaitu berupa Psychogene amenorrhoe tersebut
disebabkan oleh gangguan psikis sifatnya sangat kompleks, serta sulit
penyembuhan jika orang hanya menggunakan pengobatan secara fisis
organisnya saja. Biasanya penyembuhan yang cepat hanya bisa berlagsun
dengan terapi psikis saja.
Komplikasi lain yang tibul mentruasi ialah kesakitan pada masa
haid yang pada masing-masing individu sifatnya khas. Kesakitan itu biasanya
merupakan produk dari bayangan khayali sendiri, yang dikaitkan dengan
peristiwa kesakitan waktu melahirkan bayi.
Selanjutnya gadis tadi lalu menapilkan motif naif tentang kesakitan
yang dihubungkan dengan siklus mentruasi jelasnya sebagai berikut:
1. Menstruasi itu di identikan dengan satu penyakit
2. Penyakit ini lalu dikaitkan dengan special care atau pelayanan
istimewa dan kisih sayang ekstra dari linkungan khususnya
atensi dari ibu.

30

3. Maka sakit pada masa mensrruasi tadi dipakai sebagai olah gerak
penyesatan bagi kekerdilan batina, dengan mana anak menuntut
pelayanan khasus dari orang sekitarnya. Dengan begitu tingkah
laku tersebut adalah patologis, karena banyak dimuati konflik
batin yang tidak tepecahkan dan kelemahan kemauan.
Usaha lain untuk menyelesaikan peristiwa menstruasi dengan cara
tidak wajar dan tidak riil yang sifatnya lebih anatomis. Gejalanya ialah sebagai
berikut: pada waktu yan tidak tentu misalnya satu atau dua bulan sekali timbul
perdarahan tapi perdarahan tersenut tidak langsung padal alat kelamin akan
tetapi pada bagian tubuh lainya.
Sebagai kompensasi dari agresivitasnya kemua timbul depresii
habat. Selanjutnya karena bergolak konflik jiwaninya tadi tidak tertanggungkan,
lalu meletup menjadi satu perbuatan kortsluiting untuk membunuh diri senndiri.
D. Haid Dan Kesadaran Akan Dwi Fungsi
Pada peristiwa mewnstruasi pertama kali itu biasanya muncul
pengetian pada anak gadis akan dwifungsi yaitu
1. Wanita sebagai makkhluk sosial
2. Wanita sebgai penerus generasi
Sehubungan dengan kesadaran dengan dwi fungsi tadi, fantasi anak
banyak dikaitkan dengan masalah reproduksi atau melahirkan anak atau
keturunan, dan sebagai fungsi ibu. Selama masa haid itu, reaksi gadis tadi
berganti-ganti, yakni berupa kegembiraan dan kebanggaan karena dia merasa
sudah dewasa dan betul-betul menadi wanita sejati. Yang kemudian di selingi
dengan rasa kecemasan. Semua perasaan itu dikaitkan dengan fungsi regenersi.
Maka oleh anaka gadis haid itu lalu dihubungkan dengan darah konsepsi.
Jelaslah bahwa haid merupakan peristiwa penting bagi gadis puber
dan adolesensi, sebagai jadi tanda sebagai kematangan seksual, dan erat
hubungan dengan fungsi reproduksi. Oleh karena itu haid biasanya menjadi
31

pusat minat gadis pubertas dan adolesensi. Maka dapat dimengerti bahwa jika
peritiwa menstruasi itu tida disertai dengan pemberian informasi yang jelas dan
benar, akan mengakibatkan munculnya gejala-gejala patologis.
E. Masalah Onani Atau Manstruasi
Onani disebut pusa disebut sebagai masturbasi adalah aktivitas
penyalah bunaan seksual, dengan memanipulasi alat kelamin sendiri sedemikian
rupa hingga orang mendapatka kepuasan seksual yang sebenarnya adalah
kepuasan semu belaka.
Gejala onani pada masa kanak-kanak kecil hendaknya jangan
dipandang sebagai gejala umum. Sebab gejala ini tidak banyak berlangsung pada
anak yang sehat dan normal. Berlangsungnya onani itu karena khas individual.
Onani jiga bisa disebabkan oleh pengaruh lingkungan yang buruk atau kurang
menguntungkan. Onani lebih banyak terjadi bada masa pubertas dan adolesensi.
Terutama onani merupakan gejala umum yang sring terjadii pada pemudapemudanya.
Kebanyakan pelaku onani meminta nasehat pada psikiater, dokter
atau pendidik adalah anak laki-laki. 90% dari para pelaku onani mendapatkan
kebiasaan berorani karena meniruka temanya. Teman tadi memberikan contoh
memberika informasi dan merangsang dirinya. Sebagai akibat dari kematanga
seksual yang semakin memuncak dan pengaryh ragsangan ekstern yang beruk
anak adolesensi lalu melakukan onani.
Di satu pihak, anak dirangsang ole kematangan seksual dan impilsimpuls seks yang meledak-ledak untuk melakukan relasi seks sebenarnya. Di
pihal lain , ia menyadari adanya larangan sosial dan larangan hati nurani sendiri
untuk merealisasikan dorongan seksualnya. Pertentangan antara keduanya akan
menimbulkan rasaa kecemasan, bingung dan hilang akal.

32

Hampir- hampir

secara tidak sadar anak selalu terdorong untuk melalkun mafsu seksualnya, laulu
melakukan onani. Timbullah kini rasa puas karena dorongan seksualnya bisa
tersalurkan, tapi sekaligus muncul pula kecemasan, karena anak merasa telah
melakukan dosa tertentu dengan melakukan onani.
Pada umumnya anak muda yang tidak mampu mengendalikan diri itu
menyadari bahwa melakukan manstturbasi jelas tidak baik dan tidak sehat. Akan
tetapi mereka tidak mampu melawan dorongan untuk melakukan onani secara
eksesif. Onani pada stadium lebih lanjut akan jadi sangan kompleks. Karena
pelaksanaan onani itu bukan hanya berupa pemuasan kebutuhan fisik belaka,
akan tetapi sudah ditinbuni oleh konflik batin.
Penyembuhan kebiasaan beronani yang sudah lanjut itu hanya bisa
dilakukan oleh dokter dan psikolog yang sudah berpengalaman dalam waktu
yang cukup lama, dengan mengaikan segenap masalah pribadinya, khususnya
memecahkan konflik batinnya. Sebab, penyembuhan secara terisolir yaitu hanya
secara medis saja ataupun Cuma memberikan larangan edukatif terhadap
kebiasaan onani, akan sia sia belaka dan tidak membuahkan hasil sedikitpun jga
Persentase total dari annak laki-laki punertas dan adolesensi yang
melakukan onani sangat tinggi diperkirakan berkiisar antara 70-90%. Atas dasar
inilah gejala onani bisa dianggap sebgai peristiwa perkembangan yang normal
pada usia pubertas dan adolesensi. Persentase yang tingi tersebut khususnya
terdapat pada anak laki-laki.
Onani itu sendiri bukan penyakit pada usia pubertas dan adolesensi.
Akan tetapi jika onanai tersebut berubah sifatnya menjadi patologi

maka

peristiw tersebut pastilah disebabkan oleh gangguan psikis yang ebih serius,
yang bersarang dalam ketidak stabilan pada kehidupan di bawah sadar anak
muda.

33

Masalah onani dalam bata normal hendaknya dianggap sebagai satu


jalan pemuasan terhadap kebutuhan yangg alami. Yaitu kebutuhan kodrati, yang
beralasan pertimbangan psokologi, biologis, sosial, moral tidak tidak bisa
diputuskan secara wajar, kecuali dengan melakukan onani.
Oleh karena itu onani bisa dianggap sebagai ventil darurat yang
diberikan oleh alam kepada anak remaja untuk mengurangi ketegangan biologis.
Jiga dianggap sebagai alat pencegah timbuknya ketegangan tinggi psikis sebagai
akibat dari ketidak mampuan amnak mencegah konflik batinya. Hrndaknya
dimaklumi pila jika konflik batin itu kronis dan serius sifatnya, dan tidak biasa
di pecahkan dalam waktu yang cukup lama, hal ini bisa mengakibatkan
timbulnya gangguan psikis.
F. Beberapa Saran Pedagogis Untuk Menanggapi Masalah Onani
Sekalipun melakukan onani pada umumnya tidak mengakibatkan
produk yang patologis namun hendaknya tanpa kendali sama sekali akan
berakibat buruk terhadap pembentukan watak seseorang terutama hal ini akan
berakibat terbiasanya anak pada cara pemuasan nafsu seksual yang terlalu murah
sehingga daya tahan psikisnya jadi lemah.
Dengan bimbingan pedagogis yang baik, hendaknya anak muda
dibiasakan menahan diri untuk tidak melakukan onani, jika terpaksa sekali
melakukan secukupnya saja. Dengan begitu onani bisa dijadikan alat pendidikan
untuk menuju pada moralitas yang lebih sehat.
Untuk mendapatkan tanggapan obyektif danuntuk mengadakan
apresiasi yan tepat dengan landasan pemikiran pedagogis yang sehat, hendaknya
masalah onani ini bisa dilepaskan dari pertimbangasn moral terlebih dahunli.
Dan lebiih tegas meninjaukan dari segi biologis. Sebab selama perkembagan
sifat dari onani itu akan berubah tiga kali.

34

Dahulu orang mengira bahwa sebagai akibat dari aktivitas onani itu
timbul gejala cepat capek, peningkatan sensitivtas,malas belajar dan kurangnya
daya kosentrasi. Tapi penelitian metakhir membuktikan, bahwa pendapat tadi
tidaklah benar, diagnose sedemikian itu kurang tepat. Sebab macam macam
keluhan itu sebenarnya merupaka produk dari krisis psokofisik yang disebabkan
oleh kemelut pada usia pubertas dan adolesensi, karena banyak dimuati dimensi
ketegangan dan konflik psikis yang cukup serius.
Yang patut dijaga ialah agar praktek onani itu tidak sampai jadi
eksesif berlebihan. Sungguhpun sukar sekali memastikan sampai batas mana
onani itu bisa dianggap sebagi berlebih. Karena semuanya sangat terganbtung
pada konstitusi individual anak muda , baik gadis maupun pemuda. Pada
beberapa peristiwa anak melakukan onani hampir setiap malam. Namun hal ini
tidak menimbulkan akaibat yang merugukan bagi anak tersebut. Tapi peristiwa
lain menunjukan bahwa melakukan onani hampir setiap hari stsu dua hari sekali
itu menimbulkan gejala fisik yang melelahkan,

karena menyerap ba nyak

energi, dan bisa berubah menjadi gangguan psikofisik yang cukup serius. Oleh
karena itu penentuan diagnosa terhadap gejala onani harus dilakukan secara
berhati hati sekali.
Adapun kreteria pertimbangan paling tepat dalam penentuan eksesif
tidaknya onani adlah melakukan onani yang terlalu intensif pada usia berapapun
juga merukan simptom kondisi psikis yang abnormal, yang mengarah pada sidat
mneurotis. Juga bisa dianggap sebagai nafsu ketagihan yang berlebihan dan
patalogis yang bisa disamakan denga nafsu ketagihan pada morfine dan alkohol.
Maka gejala negatif yang merupakan akibat dati kecanduan juga memang ada

35

kaitannya dengan aktivita onani, anak tetapi bukan merupakan akibat dari onani
itu sendiri.
Tidak betul anggapan orang mengatakan bahwa perbuatan onani
merupakan aktivitas kejahatan terhadap diri sendiri, pernyataan sedemikian itu
jelas tidak benar dan tidak bijaksana. Karena justru mengakibatkan lebih banak
frustasi dan kebingungan pada anank muda. Oleh karena itu hendaknya orang
tua, para pendidik da dokter memberikan informasi dan bimbingna yang baik
agar anak mampu mengendalikan diri dan mengurangi kebiasaan beroani yaitu
dengan menyalurkan secara konkrit dan sehat pada bentuk aktivitas positif
seperti kegiatan kesenian, musik,berdiskusi, melakukan eksperimen .
Dengan begitu masalah onani itu bisa dijadikan slat regulasi diri
terhadap dorongan seksual dan dijadikan alat pendidikan bagi pengembangan
kepribadian.

36

BAB IV
KRIMINALITAS, KECANDUAN BAHAN NARKOTIKA IMMORALITAS
PADA USIA PUBERTAS DAB ADOLESENSI

A. Tingkah Laku Kriminal Dan Pengaruh Orang Tua


Sebenarnya bahwa keluarga dan melieu itu memberikan pengaruh yang
sangat menentukan pada pembentukan watak dan kepribadian anak. Keluarga
merupakan unit sosial terkecil yang memberikan stempel dan fundasi primer
bagi perkembangan anak. Selanjtnya lingkungan alam selitar dan sekolah ikut
menentukan nuansa pertumbuhan anak. Baik buruknya struktur keluarga dan
masyarakat memberikan efek yang baik atau yang buruk pada pertumbuhan
anak.
Kriminalitas itu bukan merupakan peristiwa herediter. Namun dengan
tegas bisa dinyatakan bahwa tingkah laku kriminal dari orang tua itu
memberikan pengaruh yang menular dann infeksius pada lingkungannya. Anak
seorang pencuri biasanya juga akan menjadi pencuri.
Pola kriminal dari ayah dan ibu atau salah satu keluarga dapat secara
langsung mencetak pola kriminal pada anggota-anggota keluaraga lainnya.
Sehubungan degan hal ini, tradisi, sikap hidup, dan falsafah hidup keluarga itu
besar perannannya dalam memodifikasi bentuk tingkah laku setiap anggota
keluarga tadi. Pokoknya tingkah laku kriminal orang tua itu memudahkan
sekali ditrasmisikan kepada anak puber dan adolesensi yang belum stabil
jiwanya, karena mereka tengah mengalami banyak konflik batin dan
kebingungan

37

Temperatur orang tua terutama dari ayah yang sifatnya hebat meledakledak,

srta

tindakan

sewenang-wenang

dan

kriminal

tidak

hanya

menstransformasikan efek temperatur akan tetapi juga menimbulkan iklim


demoralisasi psikis kepada lingkungan.
Sekaligus juga merangsang reaksi emosiaonal yang sangat impils
terhadap anak-anak. Pengaruh sedemikian ini makin buruk kepada jiwa anak
puber dan adolesensi yang masih stabil itu. Hal itu berakibat mudah
menjangkitakan pola kriminal pada anak muda..
Pengaruh luar lainnya yang ikut menstimulir tingkah laku kriminal ialah
teman teman sebaya yang mempunyai kecenderungan kriminal. Kelompok
anak anak muda berandalan dan kriminal ini biasnya terdiri dari anak anak
pubretas dan adolesensi.
Sesedah mereka berkumpul jadi satu dan merupakan kelompok yang
kompak, denga menggunkan nama nama yang seram bagi kumpulan tadi,
mulailah mereka merancang kegiatan . ad kalanya aktivitas mereka itu sifatnya
positif, akan tetapi biasanya anak muda berandalan ini merugikan mentoror
lingkungan.
Mula mula tindakan ekspremental mereka itu sifatnya netral seperti
bermain main, sebab didorong oleh mainan coba-coba dan rasa ingintahu. Juga
diburu oleh nafsu menonjolkan diri sebab anank merasa sepeti terpenjolok san
melupakan oleh masyarakat. Lambat laun perbuatan mereka lebih berani dan
lebih kasar. Terutama anak muda mendapat pengaruh buruk dairi luar, seperti
blue film denan adegan yang sadistisss, pola tingkah laku yang buruk bagi oran
dewa itu dioper oleh anak sehingga menjadi kebiasaa yang menetap.
B. Sebab Sebab Delinquency
Kriminalitas yang dilakukan oleh anak puber dan adolesensi itu disebut
pula sebagai kejahatan. Pada umumnya delinquency merupakan produk dari

38

konstitusi defektif dari mental dan emosi. Yaitu mental dan emosi anak muda
yang belim matn , sebab dari akibat proses pengondisian oleh lingkungan yang
buruk
Tindak kriminal ini lebih banyak dilakukan oleh pemuda tanggung usia
pubertas dan adolesensi dari pada anak-anak gadis. Pada umunya tingkah laku
kriminal tersebut

merupakan mekanisme kompensatoris yang dirasakan

sebagai keutuhan akan penuntutan pengakuan terhadap egonya. Juga untuk


kmopensense dari rasa minder unutk kemudian ditebud dengan tingkah laku
sok dan hebat.
Kriminal itu pada umumnya merupakan kegagalan dari sistem
pengontrolan ketidakmauan seseorang mengendalikan emosi primitif untuk
disalurkan pada perbuatan yang bermanfaat.
Pencurian dan penodongan biasanya bermotifkan keinginan untuk
memeiliki

tanpa mengeluarkan banyak tenaga dan cucur keringat. Dalam

masyarakat yang demam meteri. Oleh karena itu anak puber dan adolesensi it
pada umumnya belum berpengalaman namun kebutuhan memamerka diri atau
gengsi terlalu besar.
Ada pula bentuk kriminal anak remaja yang berkaitan dengan adanya
gangguan psikis.

umpamanya oleh defek mental subnormalitas dan

abnormalias mentas, ketidak mampuan adaptasi psikologis, kondisi mental


yang tidak efisien sebagai akibat konflik khronis yan tidak terselesaikan.
Perkosaan berupa agresivitas seksual dan perkosaan sampai pada
pembunuh dengan motif seksual,banyak dilakukan oleh pemuda tenggung.
Biasanya perbuatan sedemikian didorong oleh reaksi kompensatoris dari rasa
inferior dalam usaha menuntut pengakuan diri dan upaya untuk meningkatkan
martabat dirinya.

39

Perkosaaan seksal oleh aak puber dan anak anak adolesensi sring juga
distimulir oleh depresi, rasa kesunyian dan dorongan oleh kekecewaan karea
ditolak seorang wanita.
Konflik dalm batin dan ketengan emosional yang akibanya oleh ketiga
sebab tadi dan tidak bisa disalurkan itu pada akhirnya meletus dalam bentuk
reaksi balas dendam dan reaksi kompensatioris lainnya, antara lain bentuk
kejahatan seksual perkosaan dan pembunuhan berdasarkan motif seksual.
Kriminal dalm bentuk pencurian sering dilakukan oleh anak gadis puber
dan adolesensi pada umumnya aktivitas tersebut di stimulir oleh nafsu ingin
menjadi cantik, Juga dorongan oleh nafsu konsumtif yang tinggi. Maka
pembiasaan diri dengan pola konsumpif dan pemanjaan diri tanpa kemauan
mengendalikan diri ini hampir selalu menjerumuskan anak puber

dan

adolesensi pada tingka laku kriminal.


C. Kriminalitas Dan Kecanduan bahan Narkotika
Banyak anak puber dan adolesensi yang melakukan kejahatan karena
mereka kkecanduan bahan narkotika yang disebut juga dengan drugs.
Dalam kategori hard drugs dimasukan antara lain, candu, morphi,
dicodid, heroin, LSD, hydromorphine, coca, cassaine, codom, dan bahan
sintesis lainnya. Jenis narkotika ini bisa

mempegaruhi syaraf

dan jiwa

penderita secara cepat dan keras. Waktu ketagian berlangsung relatif pendek.
Jika sepemakai tidak mendapatkan jatah obat dia bisa mati karenanya.
Termasuk soft drugs ailah ganja yang disebut sebagai daun surga,
yaitu merupakan narkotika alami yag mempengaruhi sayaraf dan jiwa
penderita tidak terlalu keras. Waktu/ periode ketagihan

gak panjang. Dan

walaupun pemakai tidak mendapat ransum obatan tadi dia tidak jadi mati.
Nrkotika alami lainya ialha jeis berupa pasta extract.cara pemakaian obat bius
bisa berupa:
40

1.
2.
3.
4.
5.

Dicampur sebagaibahan pencapur rokok


Dimakan dengan dikunyah
Dihirup melalui hidung
Diminum dan
Disuntik
Bahan narkotika

merupakan psychotrapic subsatance yang bisa

memperangkap dan merubah jiwa atau mental pemakainnya. Efek pemakaian


ganja atau marihuana ialah timbul ketergantungan psikir yaitu oran tidak
merasa enak badan , tidak tenang, gelisah, dan bingubg,jika tidak memakainya
atau mendapatkan jatah.
Sedangkan pemakai hard drug misalnya

akan menimbulkan

ketergantungan fisik yaitu penderita jadi sangat gelisah, panik, seluruh badan
terasa sakit, keringat banyak, muntah muntah, rasa tidak karuan, bahkan tidak
jarang mengalami kematian.
Pemakaian obat bius di kedokteran dimanfaatka menenangkan pasien,
dan untuk menghilangkan rasa sakit, karena syaraf jadi lemah. Intuk itu
diperlukan

perhitungan dosis yan sangat cermat untuk menghindari

kemungkinan ketagihan dan tidak terjadi overdosis yang bisa mengakibatkan


kematian.
Banyak anak puber dan adolesensi yang menggunakan bahan
narkotika, karena mereka didorong oleh rasa ingin tau yang sangat besar. Ada
juga anak puber yang kecanduan narkotika yang didorong oleh nafsu
mendpatkan status sosial yang tinggi. Juga untuk terlihat gagah agar dirinya
terhomat, bisa dipuji kawannya, bermatabat tinggi karena bisa mengikuti
model paling top dizaman mutahir.

41

D. Dampak Buruk Dan Bahaya Penggunaan Bahan Narkotika


Bahaya narkoba bagi para pecandu dan kalangan muda pelajar
generasi penerus bangsa adalah banyak dan bila tidak segera dihentikan
kebiasaan mengkonsumsi narkoba maka hal ini akan memperburuk derajat
kesehatanpenggunanya itu sendiri secara pelan-pelan tetapi pasti.
Penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan terlarang di kalangan
generasi muda dewasa ini kian meningkat Maraknya penyimpangan perilaku
generasi muda tersebut, dapat membahayakan keberlangsungan hidup bangsa
ini dikemudainahari.
Karena pemuda sebagai generasi yang diharapkan menjadi penerus
bangsa, semakin hari semakin rapuh digerogoti zat-zat adiktif penghancur
syaraf. Sehingga pemuda tersebut tidak dapat berpikir jernih.
Akibatnya, generasi harapan bangsa yang tangguh dan cerdas hanya
akan tinggal kenangan.Sasaran dari penyebaran narkoba ini adalah kaum muda
atau remaja.
Kalau diambil rata- ratakan usia sasaran pengguna narkoba ini adalah
usia pelajar, yaitu berkisar umur 11 sampai 24 tahun. Hal tersebut
mengindikasikan bahwa bahaya narkoba sewaktu- waktu dapat mengincar anak
didik kita kapan saja
Efek dampak penggunaan narkoba bisa dalam berbagai bentuk antara
lain adalah sebagai berikut :
a. Menyebabkan penurunan atau pun perubahan kesadaran.
b. Menghilangkan rasa.
c. Mengurangi hingga menghilangkan rasa nyeri.
d. Menimbulkan ketergantungan / adiktif (kecanduan).
Bahaya narkoba untuk kesehatan yang terberat

adalah

efek

ketergantungan obat nya itu sendiri. Karena dengan efek buruk yang
ditimbulkan bagi para pecandu narkoba adalah keinginan untuk selalu
memakainya secara berulang.
42

E. Tindakan Imoril Anak Puber Adolesensi


Immorilitas atau tidak imoril itu khususnya brerkaitan dengan tingkah
laku seksual yang begitu asusila dan sangat mencolok mata, sehinnga ditolak
masyarakat. Individu yang ommoril dan orang kriminal itu mempunyai
perbedaan ciri yang sama yaitu kurag terkendali rem-rem psikis oleh hati
nurani, dan tidak berfungsi sistem pengontrolan diri oleh lembeknya kemauan.
Immorolitas dan kriminal yang krhonis itu abnormal sifatnya, dan pada
umumnya sifatnya sangat merugikan bagi kesejahteraan masyarakt. Oleh karen
itu krimina dan immorilitas sangat dikutuk dan ditolak oleh masyarakat.
Immoriltas seksual itu berupa tindakan seksal yang terang-terangan dan
tidak tahu malu, biasanya berupa seksualitas bebas dengan banyak partner dan
berlangsung acak-acakan tanpa kendali.
Adakalanya reaksi seksual itu tanpa menuntuk pembayaran karena
bermotifkan keisengan. Sebaliknya gadis pelacur dan pemuda gigolo
melakukan tindakan immorilitas karena dorongan oleh nafsu seks yang tidak
wajar.
Immorilitas seksual dirumah sendiri, yang dilakukan oleh orang tua,
mudah mempromosikan tingkah laku seksual yang abnormal pada anak puber
dan adolesensi yang jiwanya masih sangat labil.
Immorilitas pada pemuda-pemuda puber dan adolesensi itu lebih banyak
didorong oleh kebutuhan untuk memuaskan nafsu seksual secara konkrit. Pada
anak gadis , immorilitas pada umunya bukan didorong oleh pemuasan seksual
akan tetapi lebih banyak dirangsang oleh pemanjaan diri dan kompetensi
terhadap kelabilan jiwanya. Biasanya anak gadis memberontak terhadap
lingkungan .
Ada sekelompok anak gadis puber dan adolesensi melakukan tindak
imoril karena iseng dan salah tingkah yaitu main-main jadi sungguh. Anak

43

gadis yang mengalami kematang seksualitas secara biologis ini mula-mula


menyalurkan dorongan seksual nya yang kuat melalui fantasi seksuan yang
menyala, karena adanya rangsangan dari luar, dorongan seksual memucak itu
kemudian disalurkan denga main-man yaitu denga mengadakan reaksi seksual
dengan lawan jenisnya sehingga menjadi kebiasaan.
Selanjutnya karena jiwa anak gadis belum matang dan belum stabil,
nafsu seksual nya semakin menjadi sehingga reaksi seksualnya sudak tidak bisa
dikendalikan lagi. Dia selalu harus akan reaksi-reaksi seksual yang sangat
intensif. Dan tidak lama kemudian gadis mudah jartuh kedalam lembah
pelacuran.
Ringkasan beberapa kelemahan anak puber

dan adolesensi dalam

bentuk pemanjaan diri. Nafsu bersenang senang lapar akan petualangan dan
gila dengan pujian, gila hormat lemah terhadap godaan dan cumbu rayu, semua
itu menstimulir pergaulan denga lawan lain jenis kelamin yang semula bersifat
netral menjadi reaksi seksual yang sungguh-sungguh. Anak-anak ini secara
tidak sadar lalu membiasakan diri dengan eksperimen seksual immoril yang di
tentang oleh masyarakat pada umumnya.
F. Akibat Tindak Immoril Homoseksualitas Dan Masturbasi Eksesif
Reaksi seksual yang terlalu dini pada anak puber dan adolesensi itu pada
hahekatnya merupakan imitasi primitif

dan secara bermain yaiut denga

memforsir diri menirukan tingkah laku orang dewasa tapi tidak berhasil.
Perbuatan seksual pada anak puber dan adolesensi kebanyakan kali
timbul oleh adanya disharmoni dalam kehidupan psikisnya.oleh karena itu
sanggama itu bagi anak puber merupaka aktivitas membangun kebutuhan
seksual yang terlalu tinggi. Selanjutnya kematangan terlalu dini dari kebutuha
seksual

ini

mengakibatkan

terganggunya

44

pembentukan

karater

serta

kepribadian anak muda. Sehingga kepribadian tetap ada pada niveu yang
rendah
Akibatnya kehiudpan jiwani mereka tetap adal di dalam lingkungan
primitif.orangnya

selalu dikuasai dengan insting dan impuls hewani yang

meledak meledak tanpa kendali


Macam macam perbuatan kriminal, penggunaan bahan narkotika dan
eksperimen seksual yang asusila immoril itu sifatnya infeksius. Yaitu mudah
menjangkitkan infeksi psikis pada anak anak remaja yang masih sangat labil
kepribadiannya ketiga macam perbuatan asusila itu tidak jarang saling
berkaitan. Dan pada akhirnya akan meninggalkan efek kerusakan kondisi fisik
dan psikis yang tidak terhapuskan sepanjang hidup.
Akan tetapi apabila dalam periode selanjutnya kedua mcam perbuatan
itu berlangsung secara khronis paski akan menyebabkan timbulnya tingkah
laku menyimpang dan patologis
Ringkasan kesulitan emosional dan konflik batin pada masa pubertas dan
adolesensi itu banyak diwarnai oleh pengaruh ekstern dan oleh motif pengaruh
intern. Bila penguna tadi krhonis dak ektrim sifatnya bisa menimbulkan baak
deviasi psikis antara lain depresi, ingin hidup menyendiri. Rasa devaluasi diri ,
timbulnya delusi, hilangan kepercayaan diri , kecemasan dan ketakutan. Juga
tindak paksaan dan macam tingkah laku immoril lainnya

BAB V
PENUTUP
A. Kesumpulan

45

Pada usia puber dan adolesensi banyak godaan yan menjerumuskan


masa puber dan adolesensi itu kejurang yang buruk, semua itu bisa dihadapi
tergantung pada diri sendiri, iman, dan hati nurani. Karena hati nurani sebagai
pengemudi dari segenap tingkah laku yan kita perbuat. Hati nurani juga
mendorong manusi berani mengakui kesalahn sendiri jika ia berdiri di pihak
yang salah .

DAFTAR PUSTAKA
DR. KARTINI KARTONO. 2007 psikologi anak (psikologi perkembangan )
Bandung, Penerbit Maju Mundur

46

Anda mungkin juga menyukai