Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN An. A DENGAN SN/


SINDROMA NEFROTIK
RUANG ANAK Lt. 1 RSUP dr. KARIADI SEMARANG

DISUSUN OLEH :
NAMA

: KRISTINA MARIA AGUSTIN

NIM

: P17420113017

PRODI DIII KEPERAWATAN SEMARANG


JURUSAN KEPERAWATAN SEMARANG
POLITEKNIK KEMENTERIAN KESEHATAN SEMARANG
TAHUN 2015

SINDROMA NEFROTIK/ SN
KONSEP DASAR SN/ SINDROMA NEFROTIK
A. Definisi
Sindroma Nefrotik ditandai dengan proteinuria, hipoproteinemia, edema, dan
hiperlipidemia (Behrman, 2001). Sindroma Nefrotik adalah status klinis yang ditandai
dengan peningkatan permeabilitas membran glomerulus terhadap protein yang
mengakibatkan kehilangan urinarius yang massif (Whaley & Wong, 2003). Sindroma
nefrotik adalah kumpulan gejala klinis yang timbul dari kehilangan protein karena
kerusakan glomerulus yang difus (Luckman, 1996).
Sindroma nefrotik adalah suatu keadaan klinik dan laboratorik tanpa menunjukkan
penyakit yang mendasari, dimana menunjukkan kelainan inflamasi glomerulus. Secara
fungsional sindrom nefrotik diakibatkan oleh keabnormalan pada proses filtrasi dalam
glomerulus yang biasanya menimbulkan berbagai macam masalah yang membutuhkan
perawatan yang tepat, cepat, dan akurat. (Alatas, 2002)
Whaley and Wong (1998) membagi tipe-tipe Syndrom Nefrotik :
1. Sindroma Nefrotik lesi minimal (MCNS : Minimal Change Nefrotik Sindroma)
Merupakan kondisi yang tersering yang menyebabkan sindroma nefrotik pada anak
usia sekolah.
2. Sindroma Nefrotik Sekunder
Terjadi selama perjalanan penyakit vaskuler kolagen, seperti lupus eritematosus
sistemik dan purpura anafilaktoid, glomerulonefritis, infeksi sistem endokarditis,
bakterialis dan neoplasma limfoproliferatif.
3. Sindroma Nefirotik Kongenital
Faktor herediter sindroma nefrotik disebabkan oleh gen resesif autosomal. Bayi yang
terkena sindroma nefrotik, usia gestasinya pendek dan gejala awalnya adalah edema
dan proteinuria. Penyakit ini resisten terhadap semua pengobatan dan kematian dapat
terjadi pada tahun-tahun pertama kehidupan bayi jika tidak dilakukan dialisis.
B. Etiologi
Penyebab sindroma nefrotik ini belum diketahui, namun akhir-akhir ini dianggap sebagai
penyakit autoimun, yaitu reaksi antigen-antibodi. Dimana 80% anak dengan sindroma
nefrotik yang dilakukan biopsi ginjal menunjukkan hanya sedikit keabnormalannya,
sementara

sisanya

20

biopsi

ginjal

menunjukkan

keabnormalan

seperti

glomerulonefritis (Novak & Broom, 1999). Patogenesis mungkin karena gangguan


metabolisme, biokimia dan fisiokimia yang menyebabkan permeabilitas membran

glomerulus meningkat terhadap protein (Whalley and Wong, 1998). Sedangkan menurut
Behrman (2001), kebanyakan (90%) anak yang menderita nefrosis mempunyai beberapa
bentuk sindroma nefrotik idiopatik, penyakit lesi minimal ditemukan pada sekitar 85%.
Sindroma nefrotik sebagian besar diperantarai oleh beberapa bentuk glomerulonefritis.
C. Patofisiologi
Kelainan yang terjadi pada sindroma nefrotik yang paling utama adalah proteinuria
sedangkan yang lain dianggap sebagai manifestasi sekunder. Kelainan ini disebabkan oleh
karena kenaikan permeabilitas dinding kapiler glomerulus yang sebabnya belum
diketahui yang terkait dengan hilangnya muatan negatif gliko protein dalam dinding
kapiler. Pada sindroma nefrotik keluarnya protein terdiri atas campuran albumin dan
protein yang sebelumnya terjadi filtrasi protein di dalam tubulus terlalu banyak akibat
dari kebocoran glomerulus dan akhirnya dieskresikan dalam urin.
Pada sindroma nefrotik protein hilang lebih dari 2 gram per-hari yang terutama terdiri dari
albumin yang mengakibatkan hipoalbuminemia, pada umumnya edema muncul bila kadar
albumin serum turun di bawah 2,5 gram/dl. Mekanisme edema belum diketahui secara
fisiologi yang memuaskan tetapi kemungkinannya adalah bahwa edema didahului oleh
timbulnya hipoalbumin akibat kehilangan protein urin. Hipoalbumin menyebabkan
penurunan tekanan osmotik plasma yang memungkinkan transudasi cairan dari
ekstravaskuler ke ruang interstisial. Penurunan volume ekstravaskuler menurunkan
tekanan perfusi ginjal, mengaktifkan system renin angiotensin aldosteron yang
merangsang reabsorbsi atrium di tubulus distal.
Penurunan volume intravaskuler juga merangsang pelepasan hormon antidiuretik yang
mempertinggi reabsorbsi air dalam duktus kolektivus. Karena tekanan osmotik plasma
berkurang, natrium dan air yang telah diabsorbsi masuk ke ruang interstisial,
memperberat edema. Adanya faktor-faktor lain yang juga memainkan peran pada
pembentukan edema dapat ditunjukkan melalui observasi bahwa beberapa penderita
sindroma nefrotik mempunyai volume intravaskuler yang normal/meningkat dan kadar
renin serta aldosteron plasma normal/ meningkat dan kadar renin serta aldosteron plasma
normal atau menurun Penjelasan secara hipotesis meliputi defek intrarenal dalam ekskresi
natrium dan air atau adanya agen dalam sirkulasi yang menaikkan permeabilitas dinding
kapiler di seluruh tubuh serta dalam ginjal.
Pada status nefrosis hampir semua kadar lemak (kolesterol, trigliserida) dan lipoprotein
serum meningkat. Hipoproteinemia merangsang sintesis protein menyeluruh dalam hati,

termasuk lipoprotein dan katabolisme lemak menurun, karena penurunan kadar


lipoprotein lipase plasma. Sistem enzim utama yang mengambil lemak dari plasma.
Apakah lipoprotein plasma keluar melalui urin belum jelas (Behrman, 2000).
D. Pathways

E. Komplikasi
1. Penurunan volume intravaskuler (syok hipovolemik)
2. Kemampuan koagulasi yang berlebihan (trombosit vena)
3. Perburukan nafas (berhubungan dengan retensi cairan).
4. Kerusakan kulit.
5. Infeksi
6. Peritontis (berhubungan dengan asietas).
7. Efek samping steroid yang tidak diinginkan.
F. Manifestasi Klinis
Menurut Betz & Sowden (2002) :
1. Proteinuria
2. Retensi cairan dan edema yang menambah berat badan, edema periorbital, edema
dependen, pembengkakan genitelia eksterna, edema fasial, asites dan distensi
abdomen.
3. Penurunan jumlah urine.

4.
5.
6.
7.
8.

Hematuria
Anorexia
Diare
Pucat
Gagal tumbuh dan pelisutan (jangka panjang).

Sedangkan menurut Dona L. Wong (2004) :


1.
2.
3.
4.
5.
6.

Penambahan berat badan


Edema
Wajah sembab
Pembengkakan abdomen (asites)
Kesulitan pernafasan (efusi pleura)
Pembengkakan labial atau scrotal

Menurut Brunner & Suddarth Edisi 8 Vol. 2 (2002) :


1.
2.
3.
4.
5.

Edema
Malese
Sakit Kepala
Iritabilitas
Keletihan

G. Pemeriksaan Penunjang
1. Urin
Volume biasanya kurang dari 400 ml/24 jam (fase oliguri ) yang terjadi dalam 24-48
jam setelah ginjal rusak, warna kotor, sedimen kecoklatan menunjukkan adanya darah,
Hb, Monoglobin, Porfirin. Berat jenis kurang dari 1,020 menunjukkan penyakit ginjal.
Contoh glomerulonefritis, pielonefritis dengan kehilangan kemampuan untuk
meningkatkan, menetap pada 1,010 menunjukkan kerusakan ginjal berat. pH lebih
besar dari 7 ditemukan pada infeksi saluran kencing, nekrosis tubular ginjal dan gagal
ginjal kronis (GGK). Protein urin meningkat (nilai normal negatif).
2.

Darah
Hb menurun adanya anemia, Ht menurun pada gagal ginjal, natrium meningkat tapi
biasanya bervariasi, kalium meningkat sehubungan dengan retensi dengan
perpindahan seluler (asidosis) atau pengeluaran jaringan (hemolisis sel darah nerah).
Penurunan pada kadar serum dapat menunjukkan kehilangan protein dan albumin
melalui urin, perpindahan cairan, penurunan pemasukan dan penurunan sintesis
karena kekurangan asam amino essensial. Kolesterol serum meningkat (umur 5-14
tahun : kurang dari atau sama dengan 220 mg/dl).

H. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan Terapeutik
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Diit tinggi protein


Pembatasan sodium jika anak hipertensi
Antibiotic untuk mencegah infeksi
Terapi deuritik sesuai program
Terapi albumin jika intake oral dan output urine kurang
Terapi predinson dengan dosis 2 mg/kg/per hari sesuai program (suriadi,2001)

Penatalaksanaan medis untuk sindroma nefrotik mencakup komponen perawatan berikut


ini :
1. Pemberian kortikosteroid (prednison).
2. Penggantian protein (dari makanan atau 25 % albumin).
3. Pengurangan edema : diuretic dan restriksi natrium (diuretika hendaknya digunakan
secara cermat untuk mencegah terjadinya penurunan volume intravaskuler,
pembentukan trombus dan ketidakseimbangan cairan dan elektrolit).
4. Inhibitor enzim pengkonversi-angiotensin (menurunkan banyaknya proteinuria pada
glomerulonefritis membranosa).
5. Klorambusil dan siklofosfamid (untuk sindroma nefrotik tergantung steroid dan
pasien yang sering mengalami kekambuhan).
6. Obat nyeri untuk mengatasi ketidaknyamanan berhubungan dengan edema dan terapi
infasive.
I. Konsep Pertumbuhan Dan Perkembangan
Anak usia 3-6 tahun ( Pra sekolah )
Pada usia ini mengalami pertumbuhan fisik panjang badan dengan rumus 80 + 5n, n
umur dalam tahun dan 95-110 cm dan berat badan dengan rumus 8 + 2n, n umur dalam
tahun atau 14-20 kg (Arif, 2000) Perkembangan anak usia prasekolah masuk pada fase
falik (usia 3 sampai 6 bulan) yaitu genital sebagai pusat perkembangan dan daerah yang
sensitif. Anak mengenal perbedaan sex laki-laki dan perempuan serta anak jadi ingin
tahu perbedaan tersebut.
Perilaku memaksa dan penuh semangat, berani berusaha dan imajinasi yang kuat.
Karakteristik yang menonjol adalah egosentris, dimana mementingkan diri sendiri atau
segala sesuatu yang berpusat pada dirinya. Anak diorientasikan pada kebudayaan untuk
mengenali baik atau buruk, benar atau salah.Hal ini ditanamkan anak melalui kegiatan
anak yang menyenangkan.

J. Konsep Hospitalisasi Anak Sekolah


Ketakutan fisik terhadap kesakitan terjadi pada usia sekolah dimana anak lebih toleransi
terhadap nyeri daripada ia tidak bergerak. Ragu-ragu terhadap kesembuhannya atau
kemungkinan

meninggal.

Anak

dengan

penyakit

kronis

lebih

suka

dengan

mengidentifilasi prosedur sebagai tekanan (Whaley & Wong, 1999).

KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN


ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN NEFROTIK SYNDROM
A. Pengkajian
1. Identitas klien
a) Nama klien, umur, tanggal lahir, jenis kelamin, pendidikan, agama, kultur budaya/
suku bangsa dan alamat.
b) Tanggal klien masuk, nomor Rekam Medis, dan diagnosa medis.
2. Identitas keluarga
a) Nama ayah, umur, pekerjaan, pendidikan, agama, suku bangsa, alamat.
b) Nama ibu, umur, pekerjaan, pendidikan, agama, suku bangsa, alamat
3. Riwayat Kesehatan
a) Keluhan Utama :
Biasanya pasien datang dengan bengkak disebagian atau seluruh tubuh, urine
lebih sedikit, urine berwarana hitam, berat badan meningkat, wajah mengembang
sekitar mata, terutama meningkat di pagi hari, tekanan darah normal, anoreksia,
mudah lelah, malnutrisi, asites (perut bengkak), diare, muntah dan kesukaran
bernapas.
b) Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien dikaji lamanya keluhan yang dirasakan dan sudah dibawa berobat kemana,
mendapat terapi apa dan bagaimana reaksi tubuh/penyakitnya terhadap
pengobatan yang telah dilakukan.
c) Riwayat Kesehatan Dahulu
Ada kemungkinan anak yang telah mengalami penyakit/gejala sindrom nefrotik,
tetapi penyakit ini tak ada hubungan dengan penyakit yang pernah diderita dahulu.
d) Riwayat Penyakit Keluarga
Penyakit sindrom nefrotik dapat diperparah dengan infeksi bakteri misalnya
keluarga ada yang menderita TBC, keluarga memiliki riwayat hipertensi atau
memiliki riwayat penyakit yang sama dengan pasien karena sindrom nefrotik bisa
diturunkan sebagai resesif autosomal.

e) Riwayat Kesehatan Lingkungan


Daerah atau tempat tinggal yang kotor (banyak bakteri), perlu dikaji juga daerah
tempat tinggal dekat dengan sumber polusi atau tidak.
Pemeriksaan Fisik
Adapun tanda dan gejala yang ditemukan pada penderita sindrom nefrotik (Cecily,
2002) :
1. Tanda-tanda vital, biasanya akan mengalami peningkatan terutama tekanan darah yaitu
di atas 100/60 mmHg, nadi cepat atau lambat dan pernapasan menjadi cepat antara 3040 x/menit.
2. Wajah biasanya membengkak (moon face)
3. Mata biasanya mengalami edema pada palpebra, konjungtiva anemis
4. Abdomen, pada saat dilakukan inpeksi terlihat adanya pembesaran abdomen karena
adanya penumpukan cairan. Palpasi akan ditemukan hasil tes ballotemen positif yang
menandakan adanya asites.
5. Srotum akan membesar/edema karena adanya penumpukan cairan.
6. Ekstremitas akan terjadi edema dan kelemahan akibat kondisi penyakit yang dialami
penderita
Pola Fungsional
1. Pola nutrisi akan mengalami gangguan, penderita akan menjadi malas makan dan
2.

minum, mual dan muntah.


Pola eliminasi akan mengalami gangguan, terutama pada eliminasi buang air kecil,
penderita akan mengalami kesulitan atau penurunan volume urine. Kadang-kadang

3.

bisa terjadi hematuria.


Pola istirahat dan tidur akan mengalami gangguan akibat adanya nyeri pada edema,

4.
5.

terutama scrotum.
Pola aktivitas menjadi terganggu, pasien menjadi malas beraktivtas
Personal hygiene menjadi tidak terurus akibat kelemahan fisik.

Pemeriksaan penunjang yang akan dilakukan antara lain


1. Urine
Volume biasanya kurang dari 400 ml/24 jam (fase oliguria). Warna urine kotor,
2.
3.
4.

sediment kecoklatan menunjukkan adanya darah, hemoglobin, mioglobin, porfirin.


Urinalisis dan bila perlu biakan urin
Protein urin kuantitatif, dapat berupa urin 24 jam atau rasio protein /kreatini urin
pertama pagi hari
Pemeriksaan darah
a. Darah tepi (HB,Leukosit,hitung jenis,trombosit, hematokrit,LED )
b. Kadar albumin dan kolesterol plasma

c. Kadar ureum,kreatinin,serta klirens kreatinin dengan cara klasik atau dengan


rumus Schwartz
d. Titer ASO dan kadar komplemen C3 bila terdapat hematuria mikroskopis
persisten
e. Bila curiga lupus eritematosus sistemik pemeriksaan dilengkapi dengan
pemeriksaan kadar komplemen C4,ANA (anti nuclear antibody),dan anti
5.

dsDNA
Biosi ginjal dilakukan untuk memperkuat diagnosa.

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan terjadinya akumulasi cairan dalam
jaringan karena proses penyakitnya, retensi sodium.
2. Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia
3. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan adanya edema dan menurunnya
sirkulasi
4. Resiko infeksi berhubungan dengan imunosupresi, pertahanan tubuh tidak adekuat
5. Kecemasan pada anak atau keluarga berhubungan dengan hospitalisasi pada anak
C. RENCANA KEPERAWATAN
Dari diagnosa keperawatan yang telah disusun, maka rencana tindakan keperawatan
menurut Suriadi (2001) adalah :
1. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan retensi sodium dan air.
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan kelebihan
cairan dalam tubuh pasien dapat dikurangi
Kriteria hasil :
a. Balance cairan negatif
b. Edema berkurang
No

INTERVENSI

RASIONAL

.
1.

Buat catatan asupan dan keluaran yang Memberikan informasi tentang status
akurat. Catat karakteristik keluaran anak.

2.

urine
Kaji adanya edema dengan mengukur untuk mengetahui perubahan edema

3.

perubahan edema
Pantau berat jenis urine, albumin

Mengetahui perubahan nilai albumin,


berat jenis urine guna intervensi

4.

selanjutnya.
Pertahankan pembatasan cairan untuk manajemen

5.

pasien
Berikan

6.

menurunkan protein urine


Timbang berat badan anak setiap hari Kenaikan berat badan secara tiba-tiba

cairan,

mengurangi kelebihan cairan


untuk mengurangi protein dalam urine

kortikosteroid

dengan timbangan yang sama pada dapat

mengindikasikan

waktu yang sama setiap hari. Catat cairan

ekstravaskular

hasilnya dan bandingkan dengan berat menyebabkan


7.

untuk

kelebihan
dan

penurunan

dapat
curah

badan sebelumnya.
jantung.
Kolaborasi dengan tim medis dalam meningkatkan volume urine adekuat
pemberian terapi diuretik sesuai indikasi

2. Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia


Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan kebutuhan
nutrisi pasien dapat terpenuhi tanpa terjadi perubahan pola makan pasien.
Kriteria hasil :
a. Pasien makan tepat waktu sesuai dengan kebiasaan makan sehari-hari
b. Porsi makanan yang disediakan habis dimakan
c. Pasien tidak mengalami mual dan muntah
No

INTERVENSI

RASIONAL

.
1.

Kaji kebiasaan diet, masukan makanan mengetahui


saat ini

2.

mengambarkan

perbedaan atau perubahan sebelum

sakit terhadap kebiasaan diet.


Berikan makan sedikit demi sedikit dan meningkatkan proese pencernaan dan
makanan kecil tambahan yang tepat toleransi
tetapi sering

3.

atau

untuk

nutrisi

yang

diberikan dan mengurangi terjadinya

mual.
Buat pilihan menu yang ada dan ijinkan variasi
pasien

terhadap

mengontrol

sediaan

pilihan meningkatkan

sebanyak mungkin

mempunyai

makanan
pasien

pilihan

4.

makanan yang dinikmati.


Anjurkan pada pasien untuk melakukan mulut
yang
bersih

5.

oral hygiene
Timbang berat

setiap

hari

akan
untuk

terhadap

meningkatkan rasa makanan


dan mengevaluasi
keefektifan

dapat
atau

bandingkan
6.

dengan

berat

badan kebutuhan

mengubah

sebelum sakit
pemberian nutrisi
Catat masukan dan perubahan simptom memberikan rasa kontrol pada pasien
yang berhubugan dengan pencernaan : dan
anoreksia, mual, muntah.

kesempatan

untuk

memilih

makanan yang diinginkan/dinikmati,


dapat

7.

dalam

meningkatkan

makanan.
merupakan

Konsultasikan dengan ahli gizi

sumber

masukan

yang

efektif

untuk mengidentifikasi kebutuhan


nutrisi sesuai dengan usia, berat
badan,

ukuran

tubuh,

keadaan

penyakit sekarang
3. Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan adanya edema dan imobilitas.
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperatwan selama 3x24 jam diharapkan mampu
mempertahankan integritas kulit, menunjukan penyembuhan luka.
Kriteria hasil :
Terdapat resolusi pada daerah sekitar luka
No

INTERVENSI

RASIONAL

.
1.

Bantu anak mengubah posisi tubuhnya Pengubahan posisi yang sering dapat
setiap 2 jam

mencegah kerusakan kulit, dengan


cara meniadakan tekanan permukaan

2.

tubuh.
Lakukan perawatan kulit yang tepat, Perawatan kulit yang baik dapat
termasuk

mandi

harian

dengan menjagakulit

bebas

dari

bahan

menggunakan sabun pelembab, masase, pengiritasi dan membantu mencegah


pengubahan posisi dan penggantian kerusakan kulit.
3.

linen serta pakaian kotor.


Kaji kulit anak untuk melihat bukti Pengkajian

yang

sering

iritasi dan kerusakan keperti kemerahan, memungkinkan deteksi dini


edema, dan abrasi, setiap 4-8 jam.

intervensi
dibutuhkan.

yang

tepat

dan

ketika

4.

Topang atau tinggikan area-area yang Meninggikan atau menopang daerah


mengalami
tungkai,

edema,
dan

seperti

skrotum,

lengan, yang

edema

dapat

mengurangi

dengan edema. Menggunkan bedak dapat

menggunakan bantal atau linen tempat mengurangi kelembapan dan gesekan


tidur. Gunakan bedak pada area ini.
5.

Tingkatkan

jumlah

aktivitas

yang di timbulkan ketika permukaan

tubuh saling bergesek.


anak, Peningkatan aktivitas

seiring edema mereda.

membantu

mencegah kerusakan kulit akibat


tirah baring yang lama.

4. Resiko infeksi berhubungan dengan imunosupresi, penurunan daya tahan tubuh.


Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama dirumah sakit diharapkan dapat
meminimalkan resiko infeksi
Kriteria hasil :
Tidak ada tanda-tanda infeksi (tumor, rubor, dolor, kalor, fungsiolesa)
No

INTERVENSI

.
1.

Gunakan

2.

melakukan tindakan.
Pantau tanda-tanda infeksi

prinsip

RASIONAL
aseptik

setiap mempertahankan prinsip steril untuk


mencegah penyebaran infeksi
pencegahan dini untuk mencegah
infeksi dan menentukan tindakan

3.

Monitor hasil laboratorium (leukosit)

selanjutnya
nilai leukosit merupakan indikator

4.

Tingkatkan intake nutrisi

adanya infeksi
nutrisi yang adekuat dapat membantu

5.

meningkatkan daya tahan tubuh


Batasi pengunjung bila perlu, lindungi mencegah infeksi nosokomial dan
anak dari kontak yang terinfeksi

6.

mengurangi kontak dengan mikroba

yang ditularkan pengunjung


Kolaborasi dalam pemberian terapi membantu mengobati infeksi dengan
antibiotik sesuai indikasi

membunuh bakteri patogen

5. Kecemasan pada anak atau keluarga b/d hospitalisasi pada anak


Tujuan :

Kecemasan anak menurun atau hilang dengan kriteria hasil kooperatif pada tindakan
keperawatan, komunikatif pada perawat, secara verbal mengatakan tidak takur.
No

INTERVENSI

RASIONAL

.
1.

Validasi perasaan takut atau cemas

Perasaan adalah nyata dan membantu


pasien untuk tebuka sehingga dapat

2.
3.

Pertahankan kontak dengan klien

menghadapinya.
Memantapkan

Upayakan ada keluarga yang menunggu

meningkatan ekspresi perasaan


Dukungan yang terus menerus
mengurangi

4.

hubungan,

ketakutan

atau

kecemasan yang dihadapi.


Anjurkan orang tua untuk membawakan Meminimalkan dampak hospitalisasi
mainan atau foto keluarga.

terpisah dari anggota keluarga

DAFTAR PUSTAKA
Alatas H Partini (2002) Buku Ajar Nefrologi Anak Edisi 2 FKUI : Jakarta
Betz C.L & Sowden (2002) Buku Saku Keperawatan Pediatri Edisi 3 Alih bahasa dr.
Jan Tamboyang EGC : Jakarta
Carpenito, L.J (2001) Buku Saku Diagnosa Keperawatan Edisi 8 EGC : Jakarta
Doengoes, M.E Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3 EGC : Jakarta
Dona, L. Whaley & Wong (2003) Pedoman Klinis Keperawatan Pediatri Edisi 4 EGC
: Jakarta

Price S.A & Wilsaon L.M (1995) Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses
Penyakit Edisi 4 Buku II EGC : Jakarta
Sacharin R.M (1996) Prinsip Keperawatan Pediatri Edisi 2 EGC : Jakarta
Smeltzer S.C (2002) Buku Medical Bedah EGC : Jakarta
Behrman, Kliegman, Arvin (2001) Ilmu Penyakit Anak Edisi 15 EGC : Jakarta
http://asuhankeperawatan4u.blogspot.com/2012/12/asuhan-keperawatan-anakdengan-sindrom.html
Diakses pada tanggal 5 mei 2015 jam 22 : 29 WIB

Anda mungkin juga menyukai