Anda di halaman 1dari 15

EKOLOGI

IDENTIFIKASI KERUSAKAN YANG TERJADI


DI KAWASAN HUTAN MANGROVE
SERTA PENANGGULANGANNYA

OLEH

KELOMPOK V (KELAS C) :
NIA HASNIATI
KARTINI

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
2015

Kelompok V: Ekosistem Mangrove

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Hutan mangrove merupakan suatu ekosistem yang komplek dan khas, serta
memiliki daya dukung cukup besar terhadap lingkungan sekitarnya. Hutan mangrove
terletak di daerah pasang surut di wilayah pesisir, pantai, dan pulau-pulau kecil, dan
merupakan potensi sumber daya alam yang sangat potensial. Hutan mangrove
memiliki nilai ekonomis dan ekologis yang tinggi.
Keberadaan hutan mangrove di ekosistem sangat penting karena mereka
memiliki potensi ekologis dan ekonomi. Hutan mangrove memiki peran penting
sebagai nursery area dan habitat dari berbagai macam ikan, udang, kerangkerang dan
lain-lain. Di hutan ini pula banyak sumber-sumber nutrient yang penting sebagai
sumber makanan banyak species khususnya jenis migratory seperti burung-burung
pantai. Hutan mangrove juga berperan sebagai green belt yang melindungi pantai dari
erosi karena gelombang laut atau badai tsunami juga memerangkap sediment sebagai
aktivitas akresi. Lebih lanjut, mangrove memberikan kontribusi yang signifikan pada
produktifitas estuarine dan pesisir melalui aliran energi dari proses dekomposisi
serasah. Rantai makanan yang tergantung pada mikroba dan hasil dekomposisi
tumbuhan sangat mendukung berbagai jenis hewan yang tinggal di dalamnya.
Pentingnya keberadaan hutan mangrove juga diikuti dengan rentannya hutan ini
terhadap kerusakan apabila kurang bijaksana dalam mempertahankan, melestarikan,
dan mengelolanya. Kondisi hutan mangrove umumnya memiliki tekanan berat,
sebagai akibat dari tekanan krisis ekonomi yang berkepanjangan. Selain dirambah
dan dialihfungsikan, kawasan mangrove di beberapa daerah kini marak terjadi.
Keberadaan hutan mangrove sekarang ini cukup mengkhawatirkan karena
ulah manusia untuk kepentingan konversi lahan sebagai tambak, pemukiman,

Kelompok V: Ekosistem Mangrove

perhotelan, ataupun tempat wisata. Oleh karena itu sepanjang pesisir utara Jawa
hutan-hutan mangrove ditebang secara legal maupun illegal. Aktivitas ini mampu
menurunkan populasi mangrove hingga lebih dari 50% dalam kurun waktu 30 tahun.
Ekosistem hutan mangrove merupakan himpunan antara komponen hayati dan
non hayati yang secara fungsional berhubungan satu sama lain dan saling berinteraksi
membentuk suatu sistem. Apabila terjadi perubahan pada salah satu dari kedua
komponen tersebut, maka akan dapat mempengaruhi keseluruhan sistem yang ada
baik dalam kesatuan struktur fungsional maupun dalam keseimbangannya.
Kelangsungan suatu fungsi ekosistem sangat menentukan kelestarian dari
sumberdaya hayati sebagai komponen yang terlibat dalam sistem tersebut. Dengan
demikian, untuk menjamin kelestarian sumber daya hayati, perlu diperhatikan
hubungan ekologis yang berlangsung di antara komponen-komponen sumber daya
alam yang menyusun suatu sistem. Oleh karena itu, penulisan makalah ini dilakukan
dengan tujuan untuk mengetahui tentang ekosistem mangrove, mencakup penyebab
kerisakan atau masalah yang terjadi pada ekosistem mangrove disertai dengan
penanggulangannya agar kelestaraian tetap terjaga dan pengelolaannya dapat
dilakukan secara efektif.
B. Identifikasi Masalah
1. Luas kawasan hutan mangrove di Indonesia menurun dari tahun ke tahun,
didukung bebrapa bukti atau data dibawah ini:
a. Berdasarkan Jurnal Teknologi Lingkungan (Vol. 7 no.3), penelitian yang
dilakukan oleh Kusno Wibowo (2006), luas kawasan hutan mangrove
pada tahun 1903 adalah 6450 ha. Keadaan ini menurun setiap tahun, dan
berdasarkan pengamatan peneliti, pada tahun 1992, luas kawasan hutan
mangrove menjadi 1800 ha.
b. Menurut (Dephut, 1994; Soenarko, 2002), di Indonesia luas hutan
mangrove terus menurun dari 5.209.543 ha (1982) menjadi 3.237.700 ha
(1987) dan menurun lagi hingga 2.496.185 ha (1993). Dalam kurun waktu

Kelompok V: Ekosistem Mangrove

11 tahun (1982-1993), terjadi penurunan hutan mangrove lebih dari 50%


dari total luasan semula (Setyawan, 2003).
2. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Rini Novianty (2010), sebagian
besar mangrove yang berada di pantai Utara kabupaten Subang berada dalam
keadaan rusak, dimana tercatat laju degradasi mencapai 160-200 ribu ha pertahun.
3. Berdasarkan Jurnal Teknologi Lingkungan (Vol. 7 no.3), penelitian yang
dilakukan oleh Kusno Wibowo (2006), perairan hutan mangrove di kawasan
segara anakan Cilacap menyumbang 70% total produksi perikanan yang
didaratkan di Cilacap. Akan tetapi, produksi tersebut menurun karena kawasan
hutan mangrove menjadi daratan akibat sedimentasi dan rusaknya hutan
karena penebangan.
4. Menurunnya populasi fauna yang hidup di kawasan hutan mangrove.
C. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah yang telah dipaparkan,
maka permasalahan yang dapat dirumuskan adalah sejauh mana kerusakan yang
kerap terjadi pada kawasan hutan mmangrove dan bagaimana pencegahan dan
penganggulangan yang dapat dilakukan untuk menjaga kelestarian kawasan tersebut.
D. Tujuan
Penulisan makalah ini bertujuan untuk:
1. Memahami masalah-masalah yang kerap terjadi pada kawasan hutan mangrove.
2. Mengetahui penyebab kerusakan di kawasan hutan mangrove.
3. Memahami penanggulangan kerusakan yang terjadi di kawasan hutan mangrove.
4. Memahami upaya pengelolaan dan pelestarian kawasan hutan mangrove.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Ekosistem Mangrove
Kata mangrove merupakan perpaduan bahasa Melayu manggi-manggi dan
bahasa Arab el-gurm menjadi mang-gurm, keduanya sama-sama berarti Avicennia
(api-api), pelatinan nama Ibnu Sina, seorang dokter Arab yang banyak

Kelompok V: Ekosistem Mangrove

mengidentifikasi manfaat obat tumbuhan mangrove (Jayatissa et al., 2002; Ng dan


Sivasothi, 2001). Sedang menurut MacNae (1968) kata mangrove merupakan
perpaduan bahasa Portugis mangue (tumbuhan laut) dan bahasa Inggris grove
(belukar), yakni belukar yang tumbuh di tepi laut. Kata ini dapat ditujukan untuk
menyebut spesies, tumbuhan, hutan atau komunitas (FAO, 1982; Ng dan Sivasothi,
2001). Dalam bahasa Indonesia hutan mangrove disebut juga hutan pasang surut,
hutan payau, rawarawa payau atau hutan bakau. Istilah yang sering digunakan adalah
hutan mangrove atau hutan bakau (Kartawinata, 1979).
Komunitas mangrove tersusun atas tumbuhan, hewan dan mikroba, namun
tanpa hadirnya tumbuhan mangrove, komunitas ini tidak dapat disebut ekosistem
mangrove. Vegetasi mangrove berperan besar dalam ekologi ekosistem ini, dimana
tumbuhan mangrove mayor merupakan penyusun utamanya (Jayatissa et al., 2002).
Menurut Nybakken (1988) dalam Harahab (2009), kelompok hewan lautan
yang dominan dalam hutan mangrove (bakau) adalah moluska, udang-udangan, dan
beberapa jenis ikan. Moluska diwakili oleh sejumlah siput, yang umumnya hidup
pada akar dan batang pohon bakau. Kelompok kedua dari moluska termasuk bivalva,
yaitu tiram, mereka melekat pada akar-akar bakau. Selain itu hewan yang hidup di
bakau adalah sejumlah kepiting dan udang. Kawasan bakau juga berguna sebagai
tempat pembesaran udang penaied dan ikan-ikan seperti belanak, yang melewatkan
masa awal hidupnya pada daerah ini sebelum berpindah ke lepas pantai. Selain itu,
hutan mangrove tersusun pula oleh flora yang termasuk ke dalam kelompok
rhizoporaceae, combretaceae, meliaceae, sonneratiaceae, euphorbiaceae, dan
sterculiaceae. Sementara itu, pada zona kea rah darat ditumbuhi oleh jenis pakupakuan (Acrostichum aureum).
Hutan mangrove yang juga disebut hutan payau, hutan pasang surut, hutan
pantai atau hutan bakau merupakan salah satu sumber daya alam yang sangat
potensial dan mempunyai ekosistem yang unik. Karena paling tidak di kawasan ini
terdapat empat unsure biologis penting yang bersamaan, yaitu daratan, air, flora dan
fauna. Letak hutan mangrove ini berada di perbatasan antara darat dan laut, tepatnya
di daerah pantai dan di sekitar muara sungai yang dipemgaruhi oleh pasang surut air

Kelompok V: Ekosistem Mangrove

laut. Wilayah mangrove mempunyai ekosistem yang rumit dan mempunyai kaitan
baik dengan ekosistem darat maupun ekosistem lepas pantai.
B. Manfaat Hutan Mangrove
Peranan ekosistem mangrove yang unik dan penting telah diketahui oleh
orang banyak. Mangrove dibagi menjadi dua bagian, dipandang dari sudut ekosistem
dan dari sudut komponennya. Dari sudut ekosistem, dilihat dari kegunaan kawasan
hutan mangrove secara utuh, termasuk daerah littoral dan pantai di sekitarnya, untuk
berbagai keperluan dan kesejahteraan umat manusia dan lingkungan secara umum.
Sedangkan dari sudut komponen, dilihat komponen biotik utama terutama tumbuhan
yang banyak dipergunakan untuk keperluan manusia.
Secara ekologis, hutan mangrove dapat menjamin terpeliharanya lingkungan
fisik, seperti penahan ombak, angin, dan intrusi air laut, serta tempat
perkembangbiakan berbagai jenis kehidupan laut, seperti ikan, udang, kepiting dan
jenis hewan lainnya.di smaping itu, hutan mangrove juga merupakan habitat bagi
satwa liar seperti monyet, ular, berang-berang, biawak, dan burung. Selain itu,
Adapun arti penting keberadaan hutan mangrove pada aspek ekonomi dapat
dibuktikan dari kegiatan manusia dengan memanfaatkan kawasan hutan mangrove
untuk mencari kayu dan menjadikannya objek wisata alam. Menurut Toro et al.,
(1991), produk udang windu di perairan segara anakan tahun 1968 - 1982 berkisar
dari 5,575 ton sampai dengan 104,70 ton. Produksi yang berasal dari perairan segara
anakan menyumbang 4,68 % pada periode 1967-1971; sebesar 1,77 %; pada periode
1972-1979, dan 8,39 % pada periode 1980-1982. Jadi hutan mangrove memberikan
sumbangan yang cukup besar bagi produksi perikanan.
Manfaat hutan mangrove yang terpenting bagi daerah pesisir adalah menjadi
penyambung antara darat dan laut, seperti peredam gejala-gejala alam yang
ditimbulkan oleh perairan, seperti abrasi, gelombang, badai dan juga menjadi
penyangga bagi kehidupan biota lainnya.
C. Kerusakan pada Kawasan Hutan Mangrove

Kelompok V: Ekosistem Mangrove

Di seluruh dunia aktivitas manusia telah mengurangi luasan ekosistem alami


dan menurunkan keanekaragaman hayati hingga tingkat yang mengkhawatirkan.
Hutan mangrove diperkirakan menempati 75% luas kawasan pantai tropis (Chapman,
1976), tetapi tekanan antropogenik telah menurunkan luas hutan ini secara global
hingga di bawah 50% dari luas awal (Saenger et al., 1983; Spalding et al.1997).
Indonesia memiliki hutan mangrove terluas di dunia. Dari 15,9 juta ha mangrove
dunia tersebut, sekitar 4,25 juta ha (27%) berada di indonesia (FAO, 1982).
Penurunan luasan mangrove paling cepat dan dramatis terjadi di Asia Tenggara. Di
Indonesia luas hutan ini terus menurun dari 5.209.543 ha (1982) menurun menjadi
3.237.700 ha (1987) dan menurun lagi hingga 2.496.185 ha (1993). Dalam kurun
waktu 11 tahun (1982-1993), terjadi penurunan hutan mangrove lebih dari 50% dari
total luasan. Penurunan luasan hutan mangrove disebabkan oleh reklamasi untuk
membangun tambak udang, ikan, dan garam, penebangan hutan secara berlebih,
pertambangan, pencemaran, pembendungan sungai, pertanian, dan bencana alam
(Nybakken, 1993).
D. Penyebab Kerusakan pada Hutan Mangrove
Degradasi ekosistem mangrove di atas didorong oleh faktor-faktor berikut:
pertambahan penduduk, hingga dibutuhkan lebih banyak jalan, permukiman, kawasan
industri, pelabuhan dan lain-lain; keuntungan jangka pendek, seperti tambak ikan dan
udang, tambak garam dan sawah; kurangnya perhatian pemerintah; peraturan yang
tidak jelas; teknik penebangan hutan yang tidak lestari; serta lemahnya sumber daya
manusia dan alokasi dana (Choudhury, 1996). Kerusakan hutan mangrove dapat pula
terjadi karena konversi ke jenis hutan lainnya, misalnya sejak tahun 1997 Perhutani
mengubah 6000 ha dari 11.263 ha hutan mangrove Segara Anakan menjadi
perkebunan kayu putih.
1. Penambakan
Di Indonesia pembuatan tambak udang pada awalnya di mulai di pantai utara
Jawa, dimana mendorong perusakan hutan mangrove secara besar-besaran antara
pertengahan tahun 1970-1990-an. Kini kebanyakan tambak tersebut tidak lagi

Kelompok V: Ekosistem Mangrove

produktif, sehingga dicari lahan baru seperti di Irian, Sulawesi, Kalimantan, dan
Maluku. Beberapa tambak besar di Indonesia merupakan milik pengusaha Thailand.
Mereka memindahkan lokasi usahanya ke Indonesia karena areal pertambakan di
negerinya tidak lagi produktif akibat kerusakan ekosistem mangrove (Martinez-Alier,
2001). Pembuatan tambak di sekitar muara sungai dan dataran pantai utara Jawa
menyebabkan perubahan vegetasi muara secara nyata. Ekosistem mangrove hanya
tersisa pada tempat-tempat tertentu yang sangat terisolasi atau ditanam di tepi tambak
yang berbatasan dengan pantai atau sungai untuk mencegah abrasi.
Berdasarkan penelitian Setiawan (2003), di sepanjang pantai utara Jawa
menunjukkan adanya tambak-tambak ikan yang dikelola secara intensif hingga jauh
ke arah daratan. Hampir semua pantai yang mengalami sedimentasi membentuk
dataran lumpur dan memiliki ekosistem mangrove diubah menjadi areal tambak.
Secara intensif hal ini berlangsung antara lain di pantai Indramayu, Brebes,
Pekalongan, Demak, Pati, Rembang, Lamongan, Gresik dan Situbondo, meskipun
beberapa areal tambak tampaknya tidak lagi produktif akibat perubahan kondisi
hidrologi, edafit (tanah sulfat asam), penyakit dan pencemaran lingkungan. Hal ini
dapat dijumpai di Brebes, Situbondo dan Probolinggo dimana ratusan hektar tambak
beserta sarana produksinya dibiarkan rusak tidak terurus.
2. Penebangan Hutan
Kerusakan ekosistem mangrove tidak hanya terjadi di luar kawasan hutan
namun juga di dalam hutan yang dikelola Perhutani. Berdasarkan identifikasi
Direktorat Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutaan Sosial Departemen Kehutanan,
kerusakan mangrove di dalam hutan mencapai 1,7 juta hektar (44,73%), sedangkan di
luar hutan mencapai 4,2 juta hektar (87,5%). Penebangan hutan hingga tingkat yang
tidak memungkinkan penyembuhan secara alami merupakan ancaman serius bagi
ekosistem mangrove (Hasmonel et al., 2000).
3. Reklamasi
Reklamasi pantai untuk kepentingan industri dan pelabuhan telah banyak
dilakukan di pantai utara Jawa. Di pantai ini kawasan pasang surut seluas 8000 ha dan

Kelompok V: Ekosistem Mangrove

sepanjang 30 km direklamasi untuk area perumahan, perdagangan, perkantoran, area


rekreasi dan padang golf. Reklamasi akan mempengaruhi ekosistem terumbu karang
(Hasmonel et al., 2000), dan merombak zona jeluk dangkal pantai utara Jakarta
secara kompleks, dimana terjadi perubahan secara tiba-tiba antara ekosistem daratan
dan laut. Tanggul-tanggul pemecah gelombang dan waduk-waduk lapangan golf akan
menggantikan hutan mangrove dan rawa-rawa yang saat ini masih diperlukan untuk
menahan abrasi pantai dan menampung kelebihan air hujan (Hasmonel et al., 2000).
Pada tahun 1940-an, kawasan pantai utara Jakarta memiliki area mangrove
setebal 2-7 km. Kini kawasan mangrove hanya berupa garis tipis, terpisah-pisah di
sepanjang tepian pantai akibat konversi ke tambak dan sawah. Di sisi timur pantai
Jakarta tersisa hutan lindung Anke-Kapuk dan cagar alam Muara Angke, yang sangat
miskin spesies dan rusak akibat pencemaran limbah kimia, sampah kota, perubahan
hidrologi dan sedimentasi, sehingga secara ekologi tidak banyak berperan terhadap
ekosistem perairan pantai Jakarta dan laut Jawa.
Sebelumnya reklamasi pantai sudah dilakukan dikawasan pantai Ancol tahun
1960-an. Tanah hasil reklamasi digunakan untuk area industri, perumahan, dan
rekreasi. Konversi mangrove untuk pemukiman juga pernah dilakukan pada tahun
1990-an di Pantai Kapuk. Reklamasi, seharusnya tidak hanya memperluas daratan
tetapi juga dapat memperbaiki lingkungan sekitarnya (Hasmonel et al., 2000). Tujuan
akhir pengelolaan wilayah pesisir adalah memberi kesempatan masyarakat
memanfaatkan sumber daya alam dan jasa-jasa lingkungan untuk meningkatkan
kualitas hidup (Butar-Butar, 1996).
4. Sedimentasi
Sedimentasi merupakan masalah serius pada semua sungai-sungai besar di
Jawa, Sumatera dan Kalimantan. Hal ini terkait dengan intensitas kegiatan manusia di
daerah aliran sungai, sehingga menjadi suatu hal yang tampaknya sulit dihindari,
khususnya di Jawa mengingat tingginya populasi penduduk. Sedimentasi yang
berdampak serius terhadap kelangsungan ekosistem mangrove terjadi di Segara
Anakan. Hal ini terkait dengan sifat lagunanya yang tertutup hingga terjadi akumulasi

Kelompok V: Ekosistem Mangrove

sedimen luar biasa. Setiap tahun sungai Citanduy mengangkut 5 juta m3 sedimen dan
sungai Cikonde/Cimeneng 770.000 m3, dimana sebagian besar diendapkan di Segara
Anakan.
Sedimentasi di pantai pantai utara Jawa, tampaknya tidak banyak
mempengaruhi ekosistem mangrove walaupun sangat merugikan perekonomian.
Sedimentasi merupakan faktor dinamis yang mendorong terbentuknya ekosistem
mangrove, namun sedimentasi yang berlebih di Segara Anakan akan mengubur
laguna dan merubahnya menjadi ekosistem daratan. Pada saat ini luasan Segara
Anakan diperkirakan hanya tinggal 600ha, dengan kedalaman pada saat surut tidak
lebih dari 50 cm.
5.
Pencemaran Lingkungan
Kawasan mangrove merupakan habitat antara laut dan daratan, sehingga
pencemaran yang terjadi di laut maupun di daratan dapat berdampak pada kawasan
ini. Sekitar 80% pencemaran di laut berasal dari daratan, seperti dari industri,
pertanian, dan rumah tangga. Sumber pencemar terbesar di laut berasal dari aliran
permukaan dari daratan (44%), emisi pesawat terbang (33%), pelayaran dan
tumpahan minyak (12%), pembuangan limbah ke laut (10%), dan kegiatan
penambangan lepas pantai (1%). Bahan pencemar seperti minyak, sampah, dan
limbah industri dapat menutupi akar mangrove sehingga mengurangi kemampuan
respirasi, osmoregulasi, dan mati. Tumpahan minyak mendapat perhatian besar
karena menyebabkan banyak kerusakan jangka panjang pada ekosistem mangrove,
sedangkan logam berat memiliki toksisitas, persistensi dan prevalensi yang sangat
tinggi.
Selama paruh akhir abad ke-20 kebutuhan industri di negara-negara maju
akan minyak bumi berkembang pesat, sehingga operasi pelayaran kapal tangker
berlangsung sangat intensif. Salah satu akibatnya adalah kecelakaan kapal tangker
dimana jutaan liter minyak bumi tumpah ke laut dan tersebar hingga kawasan pesisir
di sekitarnya. Kejadian terbaru adalah tenggelamnya kapal tangker Prestige yang
membawa 76 juta liter minyak di pantai utara Spanyol pada bulan Nopember 2002.

Kelompok V: Ekosistem Mangrove

Kecelakaan kapal tangker paling terkenal adalah tenggelamnya Exxon Valdez pada
tahun 1989 di Alaska yang menyebabkan tumpahnya 40 juta liter minyak bumi.
Dampak tumpahan minyak akibat kecelakaan kapal tangker masih akan
terasa hingga puluhan tahun kemudian. Meskipun lapisan minyak telah hilang dari
permukaan air, hidrokarbon minyak masih tetap bertahan dalam sedimen pada
kedalaman 6-28 cm. Degradasi minyak bumi sangat lambat bahkan setelah 30 tahun.
Hal ini disebabkan ketiadaan oksigen dan sulfat dari sedimen yang dibutuhkan bakteri
pendegradasi untuk bertahan hidup. Di kawasan tropis laju degradasi minyak
biasanya lebih cepat, hambatan degradasi selain akibat sifat sedimen mangrove yang
anaerob, juga karena tingginya konsentrasi tannin pada lumpur mangrove sehingga
menghambat kehidupan bakteri pendegradasi.
Pengaruh tumpahan minyak pada sedimen mangrove dapat berlangsung
selama puluhan tahun, namun di kawasan tropis setahun setelah terjadinya tumpahan,
restorasi mangrove sudah dapat dilakukan. Semakin lama masa jeda, maka semakin
tinggi tingkat keberhasilan pertumbuhan propagule. Hal ini tergantung pada jenis
minyak yang tumpah, tipe tanah, pola pasang-surut dan intensitas hujan.

E. Pencegahan Kerusakan dan Pengelolaan Kawasan Hutan Mangrove


Kawasan hutan mangrove jika tidak dikelola dengan baik, akan
memeberikan dampak yang sangat buruk bagi kelangsungan ekosistem, baik untuk
manusia, flora dan fauna yang tergabung dalam ekosistem tersebut, terlebih lagi bagi
lingkungan. Oleh karena itu, kawasan hutan mangrove harus dijaga dan dikelola
dengan baik. Adapun pencegahan atau pengelolaan kawasan hutan mangrove
diantaranya:
1. Melakukan perbaikan pada kawasan pesisir
Perbaikan pada kawasan pesisir telah dilakukan di Desa Mayangan (Kec.
Legonkulon) yang rusak berat karena abrasi. Sebelum dilakukan penanaman

Kelompok V: Ekosistem Mangrove

harus diperhatikan mangrove jenis apa yang cocok dengan karakteristik desa
tersebut. Menurut BPLHD Prov. Jawa Barat pada tahun 2006, Dinas Kelautan
dan Perikanan Kab. Subang telah melaksanakan pemeliharaan sempadan dengan
penanaman 7200 pohon api-api di Desa Mayangan dengan menggunakan pola
green-belt, namun mangrove yang baru ditanam sudah rusak lagi terkena ombak.
Keterlibatan masyarakat dalam perencanaan pun perlu diperhatikan, karena
keterlibatan masyarakat akan menciptakan hasil yang lebih baik sehingga rasa
tanggung jawab bersama akan terbina yang nantinya menghasilkan hasil yang
baik. Berdasarkan kuosioner kepada 21 orang responden di Desa Mayangan, 7
orang tidak pernah mengikuti kegiatan rehabilitasi di Desa Mayangan, 6 orang
tidak mengetahui pengetahuan tentang kegiatan rehabilitasi, dan 8 orang tidak
mengetahui model rehabilitasi apa yang cocok untuk diterapkan di desa mereka.
2. Membangun breakwater (pemecah ombak) yang berfungsi untuk meredam
gelombang, sehingga memberikan kesempatan kepada tanaman bakau untuk
tumbuh dan berkembang. Sebelum membangun breakwater perlu diketahui
terlebih dahulu tipe ombaknya.

3. Sistem Mina Hutan


Seperti yang kita ketahui bahwa kebanyakan kawasan hutan mangrove
menjadi rusak karena ulah manusia yang melakukan penambakan secara berlebihan,
untuk meningkatkan produksi hasil tambak. Salah satu alternatif yang dapat ditempuh
untuk mencegah pengrusakan kawasan hutan mangrove akibat penambakan yang
berlebihan adalah melalui penerapan sistem mina hutan.
Sistem mina hutan merupakan salah satu cara untuk meningkatkan produksi
hasil tambak tanpa merusak kawasan hutan mangrove. Penerapan mina hutan di
kawasan ekosistem hutan mangrove diharapkan dapat tetap memberikan lapangan
kerja bagi petani di sekitar kawasan tanpa merusak hutan itu sendiri dan adanya

Kelompok V: Ekosistem Mangrove

pemerataan luas lahan bagi masyarakat. Harapan ini dapat terwujud dengan catatan
tidak ada pemilik modal yang menguasai lahan secara berlebihan.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Wibowo (2006) di daerah
Blanakan, Subang, ketentuan yang harus dipenuhi oleh pengelola tambak dalam
penerapan sistem mina hutan antara lain menjaga perbandingan hutan dan tambak
sebesar 80% hutan dan 20% kolam. Dengan pengembangan mina hutan secara lebih
tertata dan perbandingan antara hutan dan tambak sebesar 80% : 20%, diharapkan
dapat meningkatkan produksi per satuan luas. Harapan tersebut didasarkan
pada`asumsi bahwa hutan di sekitar kolam yang lebih baik akan meningkatkan
kesuburan kolam dengan banyaknya detritus, yang secara tidak langsung akan
berpengaruh terhadap produksi. Di samping itu, hutan yang lebih baik akan menjadi
tempat mengasuh anak yang cukup bagi udang, melindungi udang dari suhu tinggi
dan menyediakan makanan yang lebih banyak bagi udang dan ikan.
Adapun sistem mina hutan yang dapat diaplikasikan adalah sistem empang
parit dan komplangan (sistem empang parit inti). Sistem empang parit adalah sistem
mina hutan dimana hutan bakau berada di tengah dan kolam berada di tepi
mengelilingi hutan. Sebaliknya komplangan adalah sistem mina hutan dengan kolam
di tengah dan hutan mengelilingi kolam.
Penerapan kegiatan mina hutan di kawasan ekosistem hutan mangrove
secara umum diharapkan dapat mencegah perusakan kawasan tersebut oleh
masyarakat karena akan memberikan alternatif sumber pendapatan bagi masyarakat
di kawasan tersebut. Sedangkan untuk perambah hutan, dapat disediakan lapangan
kerja sebagai pedagang dengan menjadikan kawasan mina hutan sebagai kawasan
wisata sseperti yang terjadi di Blanakan dan Cikeong, Bali, dan Sinjai Sulawesi
Selatan. Dengan demikian, kawasan mina hutan dapat bergungsi ganda yaitu menjaga
dan memelihara ekosistem serta menyediakan lapangan kerja bagi masyarakat.

Kelompok V: Ekosistem Mangrove

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Beradsarkan permasalahan-permaslahan yang

telah dibahas, maka dapat

disimpulkan bahwa:
1. Kerusakan yang terjadi pada kawasan hutan mangrove dapat disebabkan oleh
ulah manusia, misalnya penambakan secara liar, penebangan hutan secara liar,
reklamasi, sedimentasi dan pencemaran lingkungan. Sedangkan kerusakan yang
bersifat alami diantaranya karena adanya hama tanaman dan abrasi.

Kelompok V: Ekosistem Mangrove

2. Pencegahan dan pengelolaan kawasan hutan mangrove dapat dilakukan melalui


perbaikan pada kawasan pesisir, pembangunan breakwater, dan penerapan sistem
mina hutan.
B. Saran
Diperlukan wawasan lebih mengenai kawasan hutan mangrove disertai
dengan penyebab-penyebab kerusakannya agar dapat dilakukan pencegahan sedini
mungkin sebelum terjadinya kerusakan. Selain itu, pengelolaan dan perbaikan
kawasan hutan mangrove juga perlu dipahami untuk menjaga kelestarian hutan
mangrove sehingga dapat memenuhi fungsi-fungsinya.

Kelompok V: Ekosistem Mangrove