Anda di halaman 1dari 13

BUPATI SLEMAN

PERATURAN BUPATI SLEMAN


NOMOR 9 /Per.Bup/2005
TENTANG
IZIN PEMBANGUNAN MENARA TELEKOMUNIKASI SELULER

BUPATI SLEMAN,
Menimbang

: a. bahwa keberadaan menara sangat

diperlukan

untuk, terselenggaranya kegiatan telekomunikasi


sehingga untuk mencegah terbangunnya rnenara
telekomunikasi seluler yang tidak terkendali perlu
diatur sesuai dengan kaidah tata ruang, lingkungan
dan estetika ;
b. bahwa atas pertimbangan sebagaimana dimaksud
dalam huruf perlu menetapkan Peraturan Bupati
tentang Izin Pembangunan Menara Telekomunikasi
Seluler.
Mengingat

: 1. Undang-undang Nomor 15 Tahun 1950 tentang


Pembentukan

Daerah

Kabupaten

dalam

Lingkungan Daerah Isti Yogyakarta;


2. Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang
Penataan Ruang,
3. Undang-undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang
Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, sebagaimana
telah diubah dengan Undang-undang Nomor 34
Tahun 2000;
4. Undang-undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang
Penyelenggara Telekomunikasi ;
5. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang
Pemerinta Daerah;
6. Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1950
tentang Penetapan, Mulai Berlakunya Undangundang 1950 Nomor 12, 13, 14 dan 1 Dari Hal
Pembentukan

Daerah-daerah

Timur/Tengah/Barat
Yogyakarta; ,

dan

Kabupaten

Daerah

di

Istimewa

Dengan persetujuan Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten


Sleman,
Nomor

06/K. PIMP. DPRD/2005

Tanggal

2 Maret 2005

Tentang

Persetujuan

Penerbitan

Peraturan

Bupati

Sleman

Tentang

Pembangunan Menara Telekomunikasi.

MEMUTUSKAN :

Menetapkan :

PERATURAN BUPATI SLEMAN TENTANG IZIN PEMBANGUNAN


MENARA TELEKOMUNIKASI SELULER.

BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Keputusan ini yang dimaksud dengan :
1. Menara Telekomunikasi Seluler adalah seperangkat barigun-bangunan yang
berfungsi sebagai kelengkapan perangkat telekomunikasi seluler yang desain
dan

bentuk

konstruksinya

disesuaikan

dengan

kepeduan

kelengkapan

telekomunikasi seleler.
2. Base Transceiver Station yang selanjutnya disebut BTS adalah pusat transmisi
dan penerima, terdiri dari seperangkat alai komunikasi data dan komunikasi
suara dengan tekhnologi tertentu yang melalui spek*rum frekuensi radio yang
dioperasikan oleh operator.
3. Menara Bersama adalah menara telekomunikasi yang penggunaannya, dapat
dilakukan oleh lebih dari satu operator.
4. Menara Rangka (Self Support Tower) adalah menara telekomunikasi yang
bangun-bangunannya merupakan rangka baja yang diikat oleh berbagai simpul
untuk menyatukannya.
5. Menara Tunggal (Monopole) adalah menara telekomunikasi yang bangun-,
bangunannya berbentuk tunggal tanpa adanya simpul-simpul rangka yang me
satu sama lain.
6. Operator adalah penyelenggara jasa dan atau jaringan telekomunikasi mendapat
izin untuk melakukan kegiatan usahanya.
7. Retribusi izin pembangunan menara telekomunikasi seluler yang selajutnya
retribusi adalah pungutan daerah sebagai pembayaran atas pemberian
pembangunan menara telekomunikasi seluler.

Pasal 4
Penentuan zona lokasi menara telekomunikasi sebagai berikut:
a. Zona I meliputi:
1. Desa Ambarketawang , Kecamatan Gamping;
2. Desa Nogotirto, Kecamatan Gamping;
3. Desa Trihanggo, Kecamatan Gamping;
4. Desa Banyuraden, Kecamatan Gamping;
5. Desa Sinduadi, Kecamatan Mlati,
6. Desa Sendangadi, Kecamatan Mlati;
7. Desa Caturtunggal, Kecamatan Depok;
8. Desa Condong Catur, Kecamatan Depok;
9. Desa Maguwoharjo, Kecamatan Depok;
10. Desa Kalitirto, Kecamatan Berbah;
11. Desa Bokoharjo, Kecamatan Prambanan;
12. Desa Tirtomartani, Kecamatan Kalasan;
13. Desa Purwomartani, Kecamatan Kalasan;
14. Desa Sariharjo, Kecamatan Ngaglik;
15. Desa Trihado, Kecamatan Sleman;
16. Desa Tridadi, Kecamatan Sleman;
17. Desa Caturharjo, Kecamatan Sleman;
18. Desa Lumbungrejo, Kecamatan tempe!;
19. Desa Sumbereio, Kecamatan Tempel.
b. Zona II meliputi:
1. Desa Balecatur, Kecamatan Gamping;
2. Desa Sidomulyo, Kecamatan Godean;
3. Desa Sidoagusig, Kecamatan Godean;
4. Desa Sidokarto, Kecamatan Godean;
5. Desa Sidomoyo, Kecamatan Godean;
6. Desa Sidoarum, Kecamatan Godean;
7. Desa Sidoluhur, Kecamatan Godean;
8. Desa Sidorejo, Kecamatan Godean;
9. Desa Sumberagung, Kecamatan Moyudan;
10. Desa Sumberarum, Kecamatan Moyudan;
11. Desa Sendangagung, Kecamatan Minggir;
12. Desa Sendangmulyo, Kecamatan Minggir;
13. Desa Sendangarum, Kecamatan Minggir;
14. Desa Sendangrejo, Kecamatan .Minggir,
15. Desa Margoagung, Kecamatan Seyegan;

16. Desa Margoluwih, Kecamatan seyegan;


17. Desa Margomulyo, Kecamatan Seyegan;
18. Desa Tlogoadi, Kecamatan Mlati;
19. Desa Sumberadi, Kecamatan Mlati;
20. Desa Tirtoadi, Kecamatan Mlati;
21. Desa Sendangtirto, Kecamatan Berbah
22. Desa Jogotirto, Kecamatan Berbah;
23. Desa Tegaltirto, Kecamatan Berbah;
24. Desa Madurejo, Kecamatan Prambanan;
25. Desa Tamanmartani, Kecamatan Kalasan;
26. Desa Umbulmartani, Kecamatan Ngemplak
27. Desa Sukoharjo, Kecamatan Ngaglik;
28. Desa Minomartani, Kecamatan Ngaglik;
29. Desa Sinduharjo, Kecamatan Ngaglik;
30. Desa Sardonoharjo, Kecamatan Ngaglik;
31. Desa Pendowoharjo, Kecamatan Sleman;
32. Desa Banyurejo, Kecamatan Tempel;
33. Desa Margorejo, Kecamatan Tempel;
34. Desa Pondokrejo, Kecamatan Tempel;
35. Desa Hargobinangun, Kecamatan Pakem;
36. Desa Purwobinangun, Kecamatan Pakem;
37. Desa Pakembinangun, Kecamatan Pakem;
38. Desa Harjobinangun, Kecamatan Pakem.

c. Zona III meliputi :


1. Desa Sumberahayu, Kecamatan Moyudan;
2. Desa Sumbersari, Kecamatan Moyudan;
3. Desa Sendangsari, Kecamatan Minggir;
4. Desa Margokaton, Kecamatan Seyegan;
5. Desa Margodadi, Kecamatan seyegan;
6. Desa Wukirharjo, Kecamatan Prambanan;
7. Desa Sambirajo, Kecamatan Prambanan;
8. Desa gayamharjo, Kecamatan Prambanan;
9. Desa Sumberharjo, Kecamatan Prambanan;
10. Desa Selomartani, Kecainatan Kalasan;
11. Desa Sindumartani, Kwecamatan Ngemplak;
12. Desa Widodomartani, Kecamatan Ngemplak;
13. Desa Bimomartani, Kecamatan Ngemplak;

14. Desa Wedomartani, Kecamatan Ngemplak;


15. Desa Donoharjo, Kecamatan Ngaglik;
16. Desa Trimulyo, Kecamatan Sleman;
17. Desa Merdikorejo, Kecamatan Tempel;
18. Desa Tambakrejo, Kecamatan Tempel;
19. Desa Mororejo, Kecamatan Tempel;
20. Desa Bangunkerto, Kecamatan Turi;
21. Desa Girikerto, Kecamatan Turi;
22. Desa Wonokerto, Kecamatan Turi;
23. Desa Donokerto, Kecamatan Turi;
24. Desa Candibinangun, Kecamatan Pakem;
25. Desa Glagaharjo, Kecamatan Cangkringan;
26. Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan;
27. Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan;
28. Desa Wukirsari, Kecamatan Cangkringan;
29. Desa Argomulyo, Kecamatan Cangkringan.

Paragraf 3
Bentuk
Pasal 5
Bangunan menara te!ekomunikasi diklasifikasikan dalam bentuk:
a. menara rangka (self support);
b. menara tunggal (monopole);
c. menara selain sebagaimana dimaksud huruf a dan huruf b.

Bagian Kedua
Pemanfaatan dan Pembangunan Menara Bersama
Paragraf 1
Pemanfaatan
Pasal 6
Operator dapat memanfaatkan menara telekomunikasi seluler yang telah ada, dalam
upaya mengoptimalkan fungsi menara telekomunikasi bagi penyelenggaraan jasa,
atau jaringan telekomunikasi.

Paragraf 2
Pembangunan Menara Bersama
Pasal 7
Pemerintah Daerah dan atau operator dapat melakukan kerjasama dengan pihak

ketiga untuk membangun menara bersama dengan memanfaatkan aset yang dimiliki
maupun dikuasai.

BAB II
IZIN PEMBANGUNAN MENARA TELEKOMUNIKASI SELULER
Bagian Kesatu
Perizinan
Pasal 8
Setiap orang atau badan hukum yang menyelenggarakan kegiatan pemanfaatan dan
atau pembangunan menara telekomunikasi seluler wajib memiliki izin pembangunan
menara telekomunikasi seluler dari Bupati.

Pasal 9
Izin pembangunan menara telekomunikasi seluler berlaku selama 2 (dug) tahun dan
dapat diperpanjang.

Pasal 10
lzin pembangunan menara telekomunikasi seluler tidak dapat dipindahtangankan.

Bagian Kedua
Sistem dan Prosedur
Pasal 11
(1)

Permohonan izin pembangunan menara telekomunikasi seluler disampaikan


kepada Bupati secara tertulis melalui Kantor UPT-PSA dengan mengisi formulir
yang disediakan.

(2)

Persyaratan permohonan izin pembangunan menara telekomunikasi seluler :


a. rekomendasi ketinggian dari Komandan Pangkalan Udara Adi Sucipto
Dinas Perhubungan Propinsi DIY;
b. surat kuasa yang sah dari perusahaan apabila diurus oleh pihak lain;
c. bukti kepemilikan tanah apabila milik sendiri
d. surat kerelaan atau perjanjian penggunaan/pemanfaatan tanah;
e. surat pernyataan persetujuan warga sekitar dalam radius 1,5 (satu koma
lima) kali tinggi menara;
f.

surat pernyataan sanggup menggarti kerugian kepada warga masyarakat


apabila terjadi kerugian/kerusakan yang diakibatkan oleh keberaclaan
menara telekomunikasi seluler.

g. gambar teknis:
1. situasi.

2. denah bangunan 1:100


3. tampak, potongan, rencana pondasi 1:100
4. perhitungan struktur.
(3) Prosedur Perizinan:
a. pemohon mengambil formulir permohonan izin di Unit Pelayanan Terpadu
Perijinan Satu Atap (UPT-PSA).
b. formulir pendaftaran diserahkar, ke UPT - PSA dilengkapi persyaratan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
c. keputusan diterima atau ditolaknya permohonan izin pembangunan menara
telekomunikasi ditetapkan dalam waktu selambat-lambatnya 14 (empat betas)
hari setelah diterimanya berkas secara lengkap dan benar.

Bagian Ketiga
Hak dan Kewajiban
Pasal 12
(1)

Setiap orang atau badan hukum yang telah memiliki izin pembangunan manors
telekomunikasi seluler berhak memanfaatk-an menara sesuai dengan izin yang
telah diperoleh.

(2)

Setiap orang atau badan hukum yang telah memiliki izin pembangunan menara
telekomunikasi seluler wajib:
a. bertanggung jawab atas segala akibat yang timbul dari pelaksanaan izin
yang telan diberikan;
b. melaksanakan ketentuan teknik, kualitas, keamanan dan keselamatan left
kelestarian fungsi lingkungan sesuai dengan peraturan perundang-undang,
yang berlaku;
c. membantu pelaksanaan pengawasan yang dilakukan oleh petugas.

Bagian Keempat
Sanksi Administrasi
Paragraf 1
Sanksi Bagi Yang Telah Memiliki lzin
Pasal 13
(1) Orang pribadi atau badan hukum yang telaf, memperoleh izin pembangunan
menara telekomunikasi seluler diberikan peringatan secara tertulis apabila:
a. melakukan kegiatan usaha tidak sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan
dalam izin yang telah diperolehnya,
b. tidak memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (2).

(2) Peringatan tertulis dibedakan sebanyak 3 (tiga) kali berturut-turut dengan


tenggang waktu masing-masing 2 (dua) minggu.

Pasal 14
(1) lzin pembangunan menara telekomunikasi seluler dibekukan dan salah satu alai
operasional menara disegel sehingga menara menjadi tidak berfungsi apabila
orang pribadi atau badan hukum pemilik izin tidak melakukan perbaikan
walaupun telah inendapatkan peringatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
13 ayat (2).
(2) Selama izin pembangunan menara telekomunikasi seluler yang bersangkutar
dibekukan,

orang

pribadi

atau

badan

hukum

tersebut

dilarang

untuk

memanfaatkar menara.
(3) Jangka waktu pambekuan izin pembangunan menara telekomunikasi salinesebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berlaku selama 21 (tiga) bulan terhitung
sejak dikeluarkannya penetapan pembekuan izin.
(4) Pembekuan izin dan penyegelan menara dikeluarkan oleh Bupati.
(5) Izin pembangunan menara telekomunikasi seluler yang telah dibekukan dapat
diberlakukan

kembali

apabila

pemegang

izin

yang

bersangkutan

telah

mengindahkan peringatan dengan melakukan perbaikan dan melaksanakan


kewajibannya sesuai dengan ketentuan dalam Peraturan ini.

Pasal 15
(1) lzin menara dicabut apabila:
a. ada permintaan sendiri dari pemegang izin untuk menutup usahanya;
b. izin dikeluarkan atas data yang tidak benar/dipalsukan oleh orang pribadi atau
badan hukum yang bersangkutan;
c. orang pribadi atau badan hukum yang bersangkutan tidak melakukan
perbaikan sesuai ketentuan yang berlaku setelah melalui mass pembekuan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14.
(2) Pelaksanaan pencabutan izin disertai dengan pembongkaran menara.

Pasal 16
Sanksi administrasi bagi kegiatan pembangunan menara telekomunikasi seluler yang
telah memiliki ijin ditetapkan oleh Kepala Dinas Permukiman Prasarana Wilayah dan
Perhubungan.

Paragraf 2
Sanksi Bagi Yang Tidak Memiliki Izin

Pasal 17
(1) Setiap kegiatan pembangunan menara telekomunikasi seluler yang tidak memilki
izin diberi peringatan secara terbilis.
(2) Peringatan tertulis diberikan sebanyak 3 (tiga) kali berturut-turut dengan
tenggang waktu masing-masing 2 (dua) minggu.

Pasal 18
Menara dibongkar apabila yang bersangkutan tidak melakukan perbaikan sesuai
ketentuan yang berlaku setelah melalui proses peringatan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 17.

Pasal 19
Sanksi administrasi bagi kegiatan pembangunan menara telekomunikasi seluler yang
tidak memiliki izin ditetapkan oleh Kepala Dinas Permukiman Prasarana Wilayah Dan
Perhubungan.

BAB III
PEMBINAAN, PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN
Pasal 20
Pembinaan, pengawasan dan pengendalian atas kegiatan pembangunan menara
telekomunikasi seluler dilakukan oleh Dinas Permukiman Prasarana Wilayah dan
Perhubungan dengan mengikutsertakan instansi terkait.

BAB IV
KETENTUAN RETRIBUSI
Bagian Kesatu
Nama, Obyek, Subyek dan Wajib Retribusi
Pasal 21
Setiap pemberian izin pembangunan menara telekomunikasi seluler dipungut
retribusi Izin Pembangunan Menara Telekomunikasi seluler.

Pasal 22
Obyek retribusi izin pembangunan menara telekomunikasi seluler adalah pelayanan
Izin Pembangunan Menara Telekomunikasi seluler.

Pasal 23
Subyek retribusi adalah orang pribadi atau badan hukum yang akan mengajuka-.
permohonan izin Pembangunan Menara Telekomunikasi seluler.

Pasal 24
Wajib retribusi adalah orang prioadi atau badan hukum yang mendapatkan
pelayanan Izin Pembangunan Menara Telekomunikasi seluler.

Bagian Kedua
Golongan Retribusi
Pasal 25
Retribusi Izin Pembangunan Menara Telekomunikasi seluler termasuk golongan
retribusi izin tertentu.

Bagian Ketiga
Cara Mengukur Tingkat Penggunaan Jasa
Pasal 26
Tingkat penggunaan jasa Izin Pembangunan Menara Telekomunikasi Seluler diukur
berdasarkan pelayanan pemberian izin.

Bagian Keempat
Prinsip dan Komponen Biaya
dalam Penetapan Struktur dan Besamya Tarif
Pasal 27
(1) Prinsip dalam penetapan tarif retribusi didasarkan pads tujuan untuk menutup
sebagian

atau

Pembangunan

sama
Merara

dengan

biaya

Telekomunikasi

penyeleqggaraan
seluler

dengan

pemberian

lzin

memperhitungkan

komponen biaya retribusi.


(2) Komponen retribusi meliputi:
a. biaya administrasi/pengadaan blangko;
b. biaya pemeriksaan lokasi;
c. biaya pembinaan, pengawasan, dan pengendalian;
Bagian Kelima
Struktur dan Besarnya Tarif Retribusi
Pasal 28
(1) Tarif retribusi izin pembangunan menara telekomunikasi seluler ditetapkan
dengan
rumus

= IZX IFXITXBT

IZ

= Indek Zona

IF

= Indek Fungsi

IT

= Indek Ketinggian

BT

= Biaya Tinggi

(2) Nilai koefisien tarif retribusi izin pembangunan menara telekomunikasi seluler:
a. Indek Zona (!Z)
No

Jenis Zona

Koefisien

Zona I

10,00

Zona II

7,00

Zona III

5,00

b. Indek Fungsi
No

Jenis Zona

Koefisien

BTS Tunggal

1,00

Bersama untuk dua sampai dengan tiga

1,25

operator/BTS
3

Bersama untuk sama dengan atau lebih dari

1,50

empat operator/BTS

c. Indek Tinggi
No

Jenis Zona

Koefisien

Ketinggian sampai dengan 20

2,00

Ketinggian antara 21 sampai dengan 30

4,00

Ketinggian antara 31 sampai dengan 40

6,00

Ketinggian antara 41 sampai dengan 70

8,00

Ketinggian antara 71 sampai dengan 80

8,50

Ketinggian antara 81 sampai dengan 90

9,00

Ketinggian antara 91 sampai dengan 100

9,50

Ketinggian diatas 100

10,00

(3) Biaya standar per meter tinggi sebesar Rp 300.000,00 (tiga ratus ribu rupiah)

BAB V
PENUTUP
Pasal 29
Pada saat Peraturan ini mulai berlaku, terhadap menara telekomunikasi seluler yang
telah memiliki izin wajib menyesuaikan dengan ketentuan dalam Peraturan ini paling
lambat 1 (satu) tahun.

Pasal 30
Peraturan ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan ini


dengan penempatannya dalam Berita Daerah Kabupaten Sleman.

Ditetapkan di Sleman,
Pada tanggal 29 April 2005
BUPATI SLEMAN,
ttd
IBNU SUBIYANTO

Diundangkan di Sleman
Pada tanggal 30 April 2005
SEKRETARIS DAERAH
KABUPATEN SLEMAN,
ttd
SUTRISNO
BERITA DAERAH KABUPATEN SLEMAN TAHUN 2005 NOMOR 2 SERI C