Anda di halaman 1dari 85

PEMANFAATAN KOMPONEN HUTAN LINDUNG

SEBAGAI
BIO-INDIKATOR PERUBAHAN LINGKUNGAN DI SEKITARNYA
Oleh
Sudrajat
Kawasan Lindung ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian
lingkungan hidup yang mencakup sumberdaya alam, sumberdaya buatan dan nilai
sejarah serta budaya bangsa guna kepentingan pembangunan berkelanjutan.
Salah satu bagian dari kawasan lindung adalah kawasan yang memberikan
perlindungan kawasan di bawahnya, seperti Hutan Lindung; Kawasan Bergambut;
dan Kawasan Resapan Air.
Tingginya kegiatan pembangunan yang sejalan dengan meningkatnya
kecepatan eksploitasi sumberdaya alam, telah menyebabkan tekanan yang besar
terhadap kawasan lindung. Sebagian besar masyarakat yang bermukim di daerah
penyangga atau kawasan lindung, sangat bergantung pada sumberdaya alam
khususnya hutan dengan berbagai keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya..
Indonesia dikenal sebagai salah satu negara yang mempunyai mega diversity jenis
hayati dan merupakan mega center keanekaragaman hayati dunia. Kalimantan
Timur memiliki variasi kondisi fisiografi mulai dari datar sampai berbukit serta
bergunung tinggi, mampu menunjang kehidupan flora, fauna dan mikro organisme
yang beranekaragam.
Keanekaragaman hayati Indonesia cenderung menyusut, akibat perubahan
penggunaan lahan dari hutan ke penggunaan lain, seperti pertanian, perindustrian,
permukiman, fasilitas perkotaan dan sebagainya.
Menyadari begitu pentingnya fungsi kawasan lindung dan daerah penyangga,
maka upaya penetapan kawasan lindung dan pengelolaannya secara terpadu yang

meliputi sumberdaya alam termasuk potensi keanekaragaman hayati dan potensi


geofisik, sumberdaya buatan dan sosial, ekonomi, budaya budaya guna mendukung
kepentingan pembangunan yang berkelanjutan merupakan kebutuhan yang mendesak
bagi pemerintah pusat dan pemerintah daerah.
II. HUTAN SEBAGAI SUATU SISTEM EKOLOGI
2.1. Konsep Ekosistem
Suatu ekosistem (sistem ekologis) adalah keseluruhan komunitas hayati dan
nir-hayati di daerah tertentu dan di antara unsur-unsur tersebut terjadi hubungan
timbal balik. Dengan perkataan lain, ekosistem merupakan suatu tatanan kesatuan
secara utuh dan menyeluruh antara segenap lingkungan hidup yang saling
mempengaruhi.
Salah satu ciri utama dari suatu ekosistem adalah adanya saling
ketergantungan timbal balik antara komponen-komponen lingkungannya. Komponen
lingkungan penyusun ekosistem dapat dibedakan atas :
a. Komponen lingkungan biotik ;
b. Komponen lingkungan abiotik (fisik)/nir-hayati ( Lihat gambar 2.1.)
Berdasarkan atas fungsinya, suatu ekosistem dibedakan atas 2 komponen
yaitu :
a. Komponen autotrofik (autos; sendiri; trophikus ; menyediakan makanan).
Yaitu organisme yang mampu menyediakan/mensintesis makanannya sendiri yang
berupa bahan-bahan organik dari bahan-bahan anorganik dengan bantuan energi
matahari dan klorofil.
b. Komponen heterotrofik (hetero ; berbeda ; trophikus; menyediakan makanan).

Yaitu organisme yang mampu memanfaatkan bahan-bahan organik sebagai bahan


makanannya dan bahan tersebut disediakan oleh jasad lain. Kelompok ini terdiri
atas hewan, jamur dan mikro-organisme.
Berdasarkan sifat strukturnya, ekosistem dapat dibedakan atas komponenkomponen :
a. Substansi anorganik, terdiri atas zat anorganik seperti C, N,C02,H20,dll;
b. Substansi organik, terdiri dari protein, KH, lemak, dan sebagainya;
c. Iklim, terdiri atas suhu, kelembaban, angin, curah hujan, dsbnya;
d. Produsen, terdiri atas tumbuhan ototrof;
e. Konsumer, terdiri dari hewan herbivora, carnivore (golongan heterotroph);
f. Pengurai/Dekomposer, sering disebut juga mikrokonsumer.Terdiri dari jamur dan
bakteri yang mampu mengurai bahan organik menjadi anorganik, dan selanjutnya
dilepas ke ekosistem dan dipakai lagi oleh produsen. Dengan demikian terjadilah
suatu peredaran hara dalam ekosistem tersebut.
Antara komponen biotik dan abiotik di dalam suatu ekosistem saling
melakukan interaksi membentuk suatu peranan sehingga terdapat suatu arus energi
dari struktur biotik ke struktur biotik lain lewat proses transfer energi dan dari
struktur biotik ke komponen anorganik lewat proses daur biogekimia. Komponen dan
proses yang membuat suatu ekosistem berfungsi adalah KOMUNITAS, ALIRAN
ENERGI DAN SIKLUS MATERI. Atas dasar ini ekologi menekankan kajiannya
terhadap adanya gerakan energi dan unsur hara (kimia) di antara komponenkomponen biotik (hayati) dan abiotik (nir-hayati) dari ekosistem itu.
Perlu diperhatikan di sini, arus energi tersebut bersifat searah; sebagian energi
sinar Matahari yang datang ke dalam ekosistem diubah dan dijadikan menjadi energi
kimia lewat proses fotosintesis. Sebagian energi dikeluarkan lagi dari ekosistem
tersebut, dan sebagian disimpan di dalam ekosistem tersebut, lalu diumpan balik atau
diekspor, tetapi tidak dapat dipergunakan kembali (Lihat Gambar 1.).

Gambar 1. Diagram Pola Dasar Alih Energi dan Alih Hara di dalam
Suatu Ekosistem
Keterangan :
_______________ : Energi
----------------------- : Hara
( Sumber : Deshmukh, 1992).

Ekosistem adalah suatu sistem yang terbuka, yaitu suatu sistem yang
menerima masukan/input dan menghasilkan luaran/output sehingga ekosistem
tersebut dapat berfungsi dan memelihara ekosistem tersebut.Masukan dan luaran
tersebut dapat berupa ENERGI, MATERI, ATAU MAKHLUK HIDUP

YANG

MELAKUKAN IMIGRASI ATAU EMIGRASI.


Ekosistem di alam mendapatkan energi dari dua sumber yakni Matahari dan
Bahan bakar Kimiawi.
Ekosistem yang sebagian besar energinya tergantung kepada enegi matahari
disebut ekosistem tanpa subsidi energi. Misalnya Samudera, Hutan Primer, Padang
Rumput Savana yang luas.Ekosistem ini berdaya rendah dan produktivitasnya rendah.
Hewan-hewan dan tumbuhan yang menghuni daerah-daerah tersebut akan beradaptasi
agar mampu bertahan hidup di dalam kondisi lingkungan demikian.
Sedangkan ekosistem bersubsidi energi adalah ekosistem yang sebagian besar
energinya tidak tergantung kepada sinar Matahari. Ekosistem ini dibedakan atas
Ekosistem yang energinya disubsidi oleh alam dan ekosistem yang energinya

disubsidi oleh Manusia. Ekosistem yang disubsidi oleh alam misalnya adalah
ekosistem estuaria di pantai yang mendapat energi dari pasang surut, ombak dan arus
air aut. Ekosistem yang disubsidi energinya oleh manusia antara lain lahan pertanian,
tambak, dengan subsidi benih, pemupukan, irigasi, mekanisasi pertanian,dan lainnya.

2.1. Homeostasis Ekosistem


Dalam suatu ekosistem terdapat suatu keseimbangan yang bersifat dinamis
(homeostasis). Artinya ekosistem tersebut memiliki kemampuan untuk menahan
berbagai perubahan yang mengenai lingkungan tersebut. Mekanisme keseimbangan
tersebut diatur oleh berbagai faktor yang rumit. Mekanisme ini terdiri atas :
a. penyimpanan bahan-bahan
b. pelepasan hara makanan;
c. pertumbuhan organisme dan produksi;
d. dekomposisi bahan-bahan organik.
Oleh

karena

ekosistem

memiliki

kemampuan

untuk

mengatur

keseimbangannya, maka ekosistem memiliki sifat sibernetiks (kybernetes :


pandu/mengatur. Fungsi sibernetika adalah untuk mengendalikan faktor-faktor
ekosistem agar berada dalam keadaan seimbang yang dinamis. Fungsi ini dapat
dikerjakan oleh beberapa jenis komponen lingkungan. Hal ini memungkinkan adanya
sifat stabilitasi suatu ekosistem.
Derajat stabilitas suatu ekosistem akan bervariasi, tergantung pada hambatanhambatan lingkungan dan efisiensi dari pengendalian di alam. Ada 2 jenis stabilitas,
yakni :
a. Stabilitas resistensi, yakni kemampuan suatu ekosistem untuk bertahan
menghadapi tekanan lingkungan;
b. Stabilitas resiliensi, yakni kemampuan untuk cepat pulih.

Meskipun suatu ekosistem mempunyai daya tahan yang besar sekali terhadaap
perubahan, tetapi bisanya batas mekanisme homeostasis dengan mudah dapat
diterobos oleh kegiatan manusia. Jika masalah ini berlangsung, maka hal ini akan
menyebabkan terjadinya pencemaran lingkungan.
Kedua kemampuan ekosistem yakni Stabilitas resistensi dan stabilitas
resiliensi adalah dua kemampuan yang tidak dapat ditemukan dalam waktu yang
sama. Misalnya, di hutan yang memiliki kulit tebal biasanya tahan akan api; namun
bila hutan tersebut terbakar maka hal ini akan menyebabkan sulit untuk pulih
kembali. Artinya, hutan tersebut memiliki stabilitas resistensi yang tinggi, namun
berdaya resiliensi yang rendah.
Sebaliknya, padang ilalang memiliki stabilitas resistensi yang rendah terhadap api,
namun bersifat stabilitas resiliensi yang tinggi. Pada umumnya, ekosistem yang
kompleks memiliki resistensi yang tinggi tetapi memiliki resiliensi yang rendah.

III. ANALISIS KOMPONEN EKOSISTEM HUTAN LINDUNG


SEBAGAI ALAT BIOMONITORING LINGKUNGAN

3.1. Karakteristik Hutan Lindung di Kalimantan Timur


Hutan Lindung di kawasan tropis di Kalimantan Timur adalah suatu tipe
hutan yang memiliki sifat khas yang mampu memberikan perlindunan kepada

kawasan sekitar maupun di bawahnya sebagai pengatur tata air, pencegah banjir dan
erosi serta memelihara kesuburan tanah.
Kawasan ini umumnya berada

pada daerah yang beriklim selalu basah

dengan curah hujan rata-rata bulanan tidak kurang dari 100 mm, merupakan
komunitas kompleks yang umumnya terdiri dari tumbuhan berkayu dengan berbagai
ukuran, tumbuhan pemanjat dan epifit. Pohon-pohon dalam masyarakat hutan
tropis basah banyak sekali jenisnya dan bervariasi ukurannya .Pohon-pohon besar
mempunyai tinggi antara 46 - 55 m, walapun ada diantaranya yang melebihi 60 m .
Hujan yang terjadi terus menerus di sepanjang tahun dan suhu tinggi di lantai
hutan. Kondisi ini menyebabkan pelapukan bahan organik terjadi dengan cepat
yang kemudian diikuti oleh pencucian hara. Produksi serasah sangat tinggi disertai
proses dekomposisi dan penyerapan hara kembali oleh tumbuhan yang cepat.
Karena iklim yang mantap, putaran hara yang tertutup disertai waktu yang cukup
lama, maka dimensi pohon di hutan hujan tropis biasanya tinggi dan besar. Kondisi
pohon di hutan tropis tersebut memberi kesan seolah-olah tingkat kesuburan
tanah yang mendukung hutan ini sangat tinggi (Brotokusumo,1985).
Hutan hujan tropis dataran rendah sangat kaya akan jenis tumbuhan.Dari
20.000 jenis pohon yang ada di kawasan hutan Malayasia yang meliputi kawasan
semenanjung Malaya, Sumatera, Kalimantan, Philipina sampai Papua Nugini
diantaranya 4.000 jenis terdapat di Pulau Kalimantan.Kawasan hutan Malayasia ini
umumnya didominir oleh jenis-jenis dari suku Dipterocarpaceae, yang menurut
Ashton (1982) terdapat sekitar 380 spesies tersebar di seluruh kawasan dan diantaranya 300 spesies terdapat dalam hutan primer di Kalimantan.
3.2. Tekanan Terhadap Ekosistem Hutan Tropis
World Resources 1992-1993 menyebutkan, degradasi tanah di Bumi
diperkirakan telah mencapai 1,2 milyar ha, terbesar di Asia ( 435 juta ha) dan Afrika
(321 juta ha). Sebagian besar disebabkan erosi akibat air dan angin yang dihasilkan
aktivitas

pertanian,

penebangan

hutan

(deforestasi)

dan pengumpulan kayu

bakar.Proses kehancuran hutan masih terus berjalan seirama dengan perkembangan

IPTEK dan waktu.Hingga hari ini hanya mungkin hutan-hutan di Irian Jaya yang
belum menderita kerusakan seperti di Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi,karena
adanya kendala geografi yang cukup sulit.
Di Indonesia, sejak diundangkannya peraturan yang meberi peluang
masuknya modal asing dan modal dalam negeri dalam kegiatan bidang kehutanan,
maka pengusahaan hutan semakin meningkat.Hal ini disamping memberi devisa
yang cukup besar bagi negara, di lain pihak eksploitasi yang tanpa mengindahkan
prinsif-prinsif kelestarian akan menyebabkan kerawanan

ekosistem

hutan

tersebut.Penebangan terhadap jenis-jenis dari suku Dipterocarpacea seperti meranti


(Shorea sp) dan kapur ( Dryobalanops) yang saat ini telah sangat menipis
potensinya, telah pula meluas hampir kesemua jenis yang berdiameter 50 Cm.Hal ini
merupakan salah satu ancaman yang serius terhadap kelestarian jenis-jenis asli
Kalimantan, bila kegiatan konservasi jenis melalui reboisasi, pemeliharaan tegakan
tinggal dan pencegahan tidak lebih ditinggalkan ( Brotokusumo,1990).
Pertambangan terhadap sumber daya alam nir-hayati antara lain minyak
bumi, batu bara, emas, perak, besi,dan sebagainya juga merupakan sumber
kerawanan terhadap kelangsungan hidup Hutan tropis dataran rendah.Tidak
diingkari eksploitasi terhadap SDA nir-hayati tersebut akan meningkatkan devisa
negara. Teknik penambangan dengan open mining yang relatif luas, sudah pasti
memusnahkan hutan yang berada di atasnya serta merubah pula bentang alam yang
asli.Pada areal bekas penambangan, dimana hanya tinggal lapisan batuan induk,
pemulihan alami vegetasi tentu saja sangat sulit dan lama .Disamping itu merusak
areal berbagai spesies pohon sebagai sumber plasma nuftah mengakibatkan pula
kawasan tersebut tidak dapat kembali ke aslinya.

Aktivitas pertanian di hutan

Dipterocarpacea dataran rendah, hutan mangrove, hutan rawa dan rawa gambut
yang ada di kawasan wilayah pantai merupakan wilayah yang mendapat tekanan
penduduk

yang

sangat

kuat, dibandingkan dengan wilayah tengah dan

hulu.Hal ini disebabkan adanya konsentrasi penduduk di daerah tersebut, dengan


demikian wilayah hutan yang dekat dengan pusat penyebaran penduduk akan cepat

terkikis oleh petani urban maupun oleh penduduk kota non petani yang membuka
hutan dengan motivasi pengusahaan hutan.
Perladangan berpindah, suatu sistem perladangan tradisional dan telah
banyak ditiru oleh pendatang justru memberi dampak terhadap hutan. Menurut
Kartawinata,. et al (1981), perladangan berpindah telah mengakibatkan 400.000 ha
tanah menjadi formasi alang-alang dan + 2.4 Juta ha hutan sekunder. Data pada
tahun 1993, belum dapat dihimpun dan diduga setelah 12 tahun kemudian akan
bertambah menjadi lebih luas.Perladangan berpindah menurut Agung (1988), telah
menyebabkan hilangnya

20 m

kayu komersial dan 66.57 m kayu non

komersial per ha.


Jenis-jenis kehidupan tumbuhan dan hewan, serangga, cendawan, serta
bakteri yang begitu kaya di hutan hujan belantara ini amat banyak macamnya, dan
merupakan hasil perkembangan hutan tersebut paling tidak minimal seratus juta
tahun yang lalu. Interpretasi yang menganggap bahwa tanah di hutan hujan tropis
dataran rendah sangat subur adalah tidak benar. Lapisan tanah subur di top soil
adalah tipis. Jika hutan ditebangi dan dibuka, maka lapisan tanah yang subur dan
tipis ini segera dihanyutkan oleh hujan.Dengan demikian yang tumbuh adalah
semak belukar.
Pada tahun 1986 dilaporkan di seluruh Indonesia terdapat 43 juta ha lahan
yang rusak dan tidak produktif, 23 juta ha adalah semak belukar dan 20 juta yang
ditumbuhi alang-alang.Jumlah lahan yang rusak tiap tahun bertambah besar akibat
penebangan-penebangan di lokasi yang seharusnya dipelihara untuk terus berfungsi
dan akhirnya menjadi lahan tadah hujan.
3.3. Beberapa Indikator Gangguan Terhadap Ekosistem Hutan
3.3.1. Indikator Perubahan di Lingkungan Hutan Dataran Rendah
Pada susunan tegakan hutan dapat dilihat adanya sifat struktur hutan berupa
keanekara-gaman, kerapatan, sebaran jenis dan komposisi serta sifat fungsional
hutan yakni untuk siklus hara, fiksasi energi, siklus air dan stabilitas. Lahan hutan

umumnya memiliki kesuburan tanah yang relatif rendah, pH rendah, kadar silika,
aluminium dan besi yang tinggi sehingga posphor tersedia dalam tanah menjadi
sangat rendah. Kondisi ini diperburuk oleh adanya curah hujan yang tinggi dan
merata sepanjang tahun, sehingga meningkatkan kerawanan pencucian dan erosi.
Jika hutan itu dibalak atau terbakar , maka hutan menjadi terbuka dan
kondisi ini akan mengakibatkan

rendahnya kesuburan tanah dan biasanya

ketersediaan hara hanya ada di bagian atas saja. Hal ini akan memacuk erosi akibat
hutan terbuka dan menyebabkan struktur vegetasinya mudah berubah menjadi jenisjenis pioneer yang tidak menuntut persyaratan tumbuh tinggi.
3.3.2. Indikator Perubahan di Lingkungan Hutan Rawa Gambut
Gambut bersifat asam hingga sangat asam (pH < 4,0) merupakan faktor
pembatas bagi pertumbuhan jenis-jenis. Hanya beberapa jenis saja yang mampu
tumbuh antara lain : Diospuros, Plaquium dan Parastemon. Karena tanah gambut
banyak mengandung serasah, maka daerah ini sangat rawan terhadap kebakaran.
Apabila terjadi kebakaran di suatu tempat akan cepat meluas ketempat lainnya.
3.3.2. Indikator Perubahan di Lingkungan Hutan Kerangas
Hutan kerangas terdapat di daerah bertanah podsolik dengan bahan induk
silika bertekstur kasar yang sangat asam dan mempunyai drainase kurang bagus.
Jenis-jenis penyusun utama di kawasan ini antara lain Tristania obovata, Agathis
dammara dan borneensis.Karena kondisi habitat tempat tumbuhnya yang spesifik
dengan keanekaragaman jenis yang relatif rendah. Berdasarkan keadaan ini , maka
hutan kerangas sangat rawan terhadap penebangan dan kebakaran. Penebangan hutan
kerangas lebih banyak memberikan kerugian dibanding keuntungan. Untuk membuat
hutan baru sangat sulit, biasanya cenderung menjadi padang alang-alang. Dengan
demikian, kondisi padang Ilalang di kawasan ini merupakan indikator telah
berlangsungnya gangguan terhadap kawasn ini baik akibat dieksploitasi manusia
maupun kebakaran hutan.

3.3.3. Indikator Perubahan di Lingkungan Hutan Pasir dan Karang


Pantai berpasir dan berkarang merupakan habitat aneka jenis tanaman perdu
antara lain rerumputan, terna dan tumbuhan menjalar, seperti Ichenum muticum,
Widelia biflora, Ipomoea pescaprae dan Cyperus pedunculatus. Pada tempat-tempat
tertentu terdapat jenis Pandan. Komunitas terna ini berkembang menjadi komunitas
jenis perdu dan pohon pioneer seperti Casuarina equisetifolia.
Pada pantai yang tidak berpasir karena abrasi, tidak terdapat komunitas
Pascaprae, hanya komunitas Barringtonia sangat rawan terhadap terjadinya proses
abrasi pantai yang dapat menghambat proses terjadinya hutan secara lengkap.

3.3.4. Indikator Perubahan di Lingkungan Hutan Mangrove


Hutan mangrove terbentuk oleh karena keadaan tempat tumbuh, berupa pantai
berkadar garam tertentu dan berlumpur. Perairan di pantai yang sifat airnya payau ini
diketemukan jenis yang jumlahnya lebih sedikit jika dibandingkan dengan jenis hutan
daratan. Hal yang perlu diperhatikan dalam pengelolaannya adalah :
a. Perubahan kadar garam tertentu, sebagai akibat curah hujan yang membawa
lumpur dan merubah muara (estuari).
b. Adanya gangguan dari berbagai jenis benthos, dengan demikian dapatlah
dikatakan bahwa faktor yang dapat mendorong terjadinya kerawanan perubahan
pH air, kandungan NaCl sedimen dan pencemaran air.

Akankah Hutan Adat Loksado Menangis?


Oleh Rudy R Udur
Direktur Program YCHI Banjarbaru
Dirampok di Tanah Sendiri
Kalimantan merupakan daerah dengan kekayaan hayati yang mengagumkan.
Sedikitnya ada 11.000 spesies bunga: 10 genre dan 270 Dipterocarpaceae, 221
spesies binatang buas, termasuk 92 jenis kelelawar, 15 spesies mamalia laut, 14 jenis
primata, dan 549 spesies burung (Muller, 1990:23; Cleary and Eaton, 1992: 18-192).
Namun, kekayaan hayati yang dimiliki ini belum dimanfaatkan secara optimal tetapi
sudah ada yang mencuri. Misalnya, Kosmetika Jepang dengan Merk Sheseido
mematenkan 9 bahan obat-obatan dari Indonesia yang salah satunya digunakan untuk
perawatan kulit. Baru-baru ini, Yayasan Balikpapan Orang Utan Survival (BOS)
memaparkan penemuannya berupa manggis hutan Barito yang dapat digunakan
sebagai obat AIDS ditemukan oleh seorang mahasiswa Amerika, pada tahun 1992.
Namun, habitat manggis hutan itu sekarang ternyata telah dibabat oleh perusahaan
HPH.

Dalam UUD 1945 pasal 33, seharusnya air, udara, dan tanah dimanfaatkan untuk
kesejahteraan rakyat, namun sampai saat ini perimbangan manfaat lebih banyak
dinikmati oleh pengusaha atau pihak lain yang melakukan eksploitasi kekayaan
sumberdaya alam. Masyarakat masih dibiarkan menjadi penonton. Pengalaman
perkebunan sawit di Kecamatan Manismata, Marau, dan Jalai Hulu ternyata
mengakibatkan wabah belalang yang merusak ribuan hektar padi. Penyebab wabah
belalang ini adalah kehancuran habitat hutan tempat berkembang biak dan
musnahnya musuh alami belalang tersebut mati karena hutan dibabat untuk
kepentingan perkebunan kelapa sawit. Banuak kasus HTI (Hutan Tanaman Industri)
dan HPH (Hak Pengusaha Hutan) telah merambah tanah tanah kawasan Adat, yang
menurut pemerintah selama ini adalah hutan negara yang boleh diapakan saja oleh
pemerintah tanpa memandang: keberadaan tata guna lahan (land use) dan sistem
penguasaan tanah (land tenure) yang telah dipakai masyarakat setempat secara turun
temurun tanpa adanya konflik yang berarti (Tim Studi YCHI, Hegar Wahyu Hidayat
Damang Udas Ayal Kosal: 2003). Intimidasi dilakukan oleh pemerintah dengan

aparat keamanan kepada rakyat yang tidak setuju dengan perkebunan skala besar HTI
ataupun HPH terjadi di banyak wilayah Kalimantan.
Wilayah Balai Malaris, Loa Panggang, Haratai, dan Waja, secara keseluruhan, nilai
penting dari kawasan adatnya adalah sebagai sumber potensi ekonomi, setidaknya ada
62 jenis tanaman, sebagai sumber makanan setidaknya ada 89 jenis tanaman, sebagai
sumber bahan bangunan setidaknya ada 64 jenis tanaman, sebagai sumber penunjang
kegiatan rumah tangga setidaknya ada 42 jenis tanaman, sebagai sumber kerajinan
ada 25 jenis tanaman potensial, sebagai pendukung upacara adat disediakan
setidaknya 9 jenis tanaman, dan untuk keperluan lainnya diperoleh setidaknya 9 jenis
tanaman. Semuanya bersumber dari 41 jenis akar, 36 jenis daun, 82 jenis batang, 5
jenis getah, 11 jenis kulit, 72 jenis buah dan 1 jenis fungsi secara tidak langsung (Tim
Studi Land Use dan Potensi YCHI Masyarakat Malaris - Loa Panggang, Haratai
Waja: 2003).
Salah Urus Sumberdaya Alam Hutan Kalimantan
Menurut tim Studi YCHI, kerusakan hutan dan pembagian manfaat yang adil (Equity
Sharing benefit) karena sistem pengelolaan yang diatur oleh berbagai macam
kebijakan pemerintah belum memberikan peluang yang cukup lebar terhadap
partisipasi masyarakat dalam pengelolaan hutan dan tidak adanya penghargaan
terhadap sistem pengelolaan hutan masyarakat adat yang telah terbukti di beberapa
kawasan Kalimantan Selatan. Khususnya, kawasan Balai Malaris dapat
mempertahankan keberadaan luas kawasan berhutan tidak menimbulkan konflik yang
kontraproduktif terhadap keberadaan hutan dan sosio-kultural masyarakat. Misalnya,
dari hasil groundcheck Tim Studi land use YCHI sangat jelas terlihat adanya patok
hutan lindung (dari danan DAK DR) pada kawasan produksi masyarakat, misalnya,
pada kawasan perladangan. Padahal, dalam UU No. 41 tahun 1999 tentang
kehutanan, sangat jelas dikatakan bahwa kawasan hutan lindung tidak boleh
dimanfaatkan untuk hal-hal yang mengganggu keseimbangan ekosistem, apalagi
perladangan. Penentuan status kawasan semacam ini mengindikasikan bahwa
penerapan kawasan lindung tidak melalui proses konsultasi dan membangun
kesepakatan dengan masyarakat. Jauh sekali adanya proses penetapan kawasan yang
berbasis sistem kelola lokal dan tata guna (land use land tenure).
Di kawasan Balai Malaris dan Loa Panggang serta Balai Haratai, minimal terdapat
beberapa penerapan status wilayah menurut mintakat lokal (semacam peruntukan
lahan), seperti kawasan pemukiman, kawasan perladangan (pahumaan), kawasan
perkebunan (kabun), kabun buah, kayuan (sejenis kawasan lindung setempat), dan
kawasan keramat, seperti kuburan dan wilayah-wilayah tertentu yang telah ditetapkan
oleh masyarakat dengan aturan-aturan adat tersendiri. Dari hasil survei lapangan dan
pemetaan partisipatif yang dilakukan Tim Studi Land Use dan Land Tenure, setelah
dilakukan overlay dengan peta kawasan lindung versi pemerintah, ternyata sebagian
besar wilayah Balai Malaris dalam status lindung. Namun, pada kenyataannya,

kawasan tersebut adalah kawasan produksi, seperti ladang dan kebun karet, menurut
versi lokal. Perbedaan peruntukan inilah yang seringkali menimbulkan konflik.
Dalam sistem kepemilikan lahan, masyarakat Balai Malaris, Loa Panggang, Haratai,
dan Waja, dapat dikatakan memliliki sistem kepemilikan yang sama berdasarkan
warisan, jual beli untuk kawasan produksi, sedangkan kawasan lindung (kayuan hak
kepemilikannya adalah komunal berdasarkan wilayah balai masing masing dengan
aturan aturan tertentu.
Kawasan Kecamatan Loksado, khususnya Balai Malaris, Loa Panggang, Haratai, dan
Balai Waja, pada saat ini, relatif belum terancam kelestarian potensi SDA Hutannya
maupun adat istiadat serta upacara-upacara keagamaan yang berhubungan erat
dengan pemanfaatan SDA. Relatif hanya penetapan status kawasan lindung yang saat
ini berbenturan dengan tata guna lahan masyarakat adat, serta hak kepemilikan dan
pengelolaan yang belum dapat disinergikan. Namun, apabila sistem pengelolaan dan
hak partisipasi masyarakat dalam hal pengelolaan dan pengambilan manfaat dari
pengelolaan SDA hutan di kawasan ini masih mengacu pada aturan negara tanpa ada
inisiatif Pemerintah Daerah untuk memulai adanya sistem pengelolaan dan sistem
penetapan status kawasan yang berbasis aturan lokal yang dinilai dapat menjamin
pemanfaatan SDA yang lestari dan pembagian manfaat (benefit sharing) yang adil
antara pemerintah, pengusaha, dan masyarakat, maka hutan adat di kawasan ini
berada dalam posisi genting untuk menuju kerusakan. Potensi konflik vertikal akan
menjadi semakin besar dan masyarakat adat tetap tidak dapat menikmati harta yang
menjadi hak mereka dalam konteks pembangunan yang berkelanjutan. Kondisi SDA
hutan kawasan Loksado yang masih relatif bagus merupakan peluang besar bagi
Pemerintah Daerah Kabupaten Hulu Sungai Selatan untuk menjadi pioner dalam
mengambil inisiatif adanya model pengelolaan hutan berbasis aturan lokal di
Kalimantan Selatan, yang menjamin adanya pemanfaatan SDA Hutan yang lestari
dan pembagian manfaat yang adil. Untuk mewujudkan hal ini, tentu komunikasi,
koordinasi, dan interaksi antarpihak-pihak terkait seharusnya bisa seintensif
mungkin dilakukan. Kalau tidak, Hutan Adat di kawasan Loksado akan menangis,
seperti di wilayah-wilayah lain di Kalimantan.
Referensi Pustaka:
Andasputera, Nico. 2003. Bila Hutan Kalimantan Menangis.
YCHI. 2003. Studi Kebijakan dan Land Use/Tenure.
Untuk informasi lebih lanjut, dapat menghubungi:
Eko DJ
Staf Divisi Data dan Informasi WALHI Kalimantan Selatan
<! document.write(Email Eko DJ ); // >Email Eko DJ
Telepon kantor: +62 - 0511- 772870

Mobile:
Fax: +62 - 0511- 772870

Angsana Bikin Jamur Lewat


Tjandra Dewi

Indeks
TEMPO Interaktif: Jumat, 20 April 2007

TEMPO Interaktif, Jakarta:


Pada bulan-bulan seperti sekarang, Februari sampai Mei, pohon angsana pasti
mengeluarkan bunganya yang kuning dan wangi. Sosoknya yang menyegarkan
mata membuat angsana banyak dipilih sebagai pohon peneduh jalan di kota besar.
Namun, bagi penduduk suku Dayak, Kutai, dan Pasir di pedalaman Kalimantan,
pohon yang rimbun itu tak semata tempat bernaung atau penghias mata. Pohon
angsana (Pterocarpus indicus) adalah sumber obat alami untuk menyembuhkan
infeksi kulit akibat jamur.
Zat aktif yang diekstrak dari daun angsana ternyata memiliki sifat antijamur.
Potensi daun angsana inilah yang menarik perhatian Irawan Wijaya Kusuma,
peneliti dari Jurusan Teknologi Hasil Hutan, Fakultas Kehutanan Universitas
Mulawarman, Kalimantan Timur.
Pekerjaan yang menuntutnya keluar-masuk hutan memungkinkan Irawan bertemu
dengan warga asli rimba Kalimantan dan belajar sedikit soal etnobotani, studi
tentang penggunaan tumbuh-tumbuhan oleh etnis lokal. "Setiap kali masuk hutan,
bisa empat sampai lima hari untuk mengumpulkan tumbuhan," kata Irawan.
"Sekali pergi bisa membawa 30 sampai 40 jenis sampel tumbuhan."
Awalnya, staf pengajar di Universitas Mulawarman itu tertarik pada bahan
antijamur yang bisa mengawetkan kayu sesuai dengan bidangnya. Namun, lamakelamaan pria kelahiran Tanah Grogot, Kalimantan Timur, itu mengidentifikasi
potensi bahan antijamur alami yang luar biasa dari tumbuhan Indonesia.
"Sekarang saya sedang mendalami bahan antijamur untuk jamur yang
menginfeksi kulit manusia," ungkapnya.
Tak hanya membasmi jamur penyebab panu, kurap, atau kutu air, bahan antijamur
ini bisa pula digunakan sebagai fungisida di bidang kehutanan dan pertanian
hingga bahan pengawet makanan dan minuman. Penggunaan di masyarakat juga
telah meluas, dari industri medis dan berbagai produk cat dinding hingga sabun
yang menawarkan bahan antijamur.
Namun, bahan antijamur yang beredar di masyarakat sekarang ini sebagian besar
berasal dari bahan sintetis yang mahal. "Bahan antijamur dari tumbuhan ini bisa

bersaing dari segi harga, juga peluang resistensi yang kecil," kata Irawan. "Sifat
alaminya juga aman bagi tubuh dan lingkungan."
Salah satu flavonoid atau senyawa yang berhasil diekstrak dari daun angsana
adalah isoliquiritigenin. Riset yang dilakukan Irawan untuk menguji efektivitas
bahan antijamur itu berhasil membuktikan bahwa senyawa aktif dari ekstrak daun
angsana punya kemampuan setara dengan nystatin dan miconazole, dua agen
antijamur yang ada di pasaran. "Bisa digunakan sebagai fungisida pada tanaman
pertanian atau pengawet produk pangan," kata peneliti yang lahir pada 12 April
1973 itu.
Senyawa aktif itu mampu mencegah pertumbuhan dan mematikan jamur
Fusarium sp dan Trichoderma sp, dua jenis jamur patogen pada tumbuhan, serta
Aspergillus dan Penicillium sp, jamur kontaminan makanan. "Kalau dari segi
efektivitas, mungkin dosis bahan antijamur ini sedikit lebih tinggi dibandingkan
dengan nystatin dan miconazole, tapi ketersediaan di alam melimpah sehingga
harganya murah," tuturnya.
Sampai saat ini, Irawan telah melakukan skrining atau menapis belasan tumbuhan
asli Indonesia yang memiliki potensi aktivitas antijamur. Irawan sengaja memilih
tumbuhan yang punya tingkat keawetan tinggi, seperti pohon yang kayunya
digunakan untuk di luar ruangan, dan resistensi tinggi terhadap serangan jamur
pelapuk. Informasi dari warga setempat tentang tumbuhan yang punya aktivitas
antijamur juga menjadi pertimbangan.
Beberapa tumbuhan yang telah ditapis, antara lain, belangiran (Shorea
belangeran), laban (Vitex pubescens), Dialium sp, Aporusa elmeri, eboni
(Diospyros ebena), merbau (Intsia palembanica), dan rengas (Gluta renghas.
Sampel tumbuhan itu sengaja diambil dari tiga lokasi di Kalimantan Barat, yang
menjadi tempat tinggal Suku Dayak, Kutai, dan Pasir untuk merepresentasikan
pemanfaatan tumbuhan oleh tiga suku itu. Tiga lokasi itu adalah Kutai Barat,
Kutai Kertanegara, dan Kabupaten Pasir.
Doktor bidang kimia bahan alam dari Ehime University, Jepang, itu berharap riset
tentang isolasi, identifikasi, dan pemanfaatan bahan antijamur dari tumbuhan
Indonesia yang dikerjakannya ini bisa meningkatkan konservasi kekayaan hak
intelektual Indonesia yang agak lemah. "Ini adalah upaya pembuktian ilmiah dari
pemanfaatan tumbuhan obat tradisional," ujarnya. "Sekarang ini terlalu banyak
ekstrak tumbuhan potensial yang dikirim ke luar negeri."
tjandra dewi

Potensi Racun Tikus dalam 10 Tumbuhan Tropis

Kompas/Johnny TG

Toko penjual peralatan tikus, seperti perangkap, racun, dan lem tikus, di tokonya di Pasar Santa, Jalan
Cipaku I, Jkarta Selatan.

Jumat, 30 Mei 2008 | 19:07 WIB


JAKARTA, JUMAT - Tumbuh-tumbuhan tropis yang banyak hidup di Indonesia
ternyata mengandung zat yang dapat dimanfaatkan sebagai racun tikus. Peneliti
Universitas Andalas (Unand) Padang, Prof Dr HM Sanusi Ibrahim, menemukan zat
tersebut pada sepuluh jenis tumbuhan tropis yakni daun gamal, daun kulit manis,
daun juar, daun sicerek, daun inai, kulit buah jeruk, biji pinang sirih, akar pinang
sirih, dan biji pinang sinawa.
"Sumatera terletak pada garis khatulistiwa memiliki hutan tropis sebagai potensi yang
luar biasa sebagai pabrik bahan kimia raksasa, sehingga cukup diminati peneliti untuk
diteliti," katanya di Padang, Kamis (29/5). Manfaat tersebut djelaskan dalam makalah
nya berjudul "Perkembangan Kimia Organik Bahan Alam Golongan Kumarin."
Sanusi dibantu mahasiswanya program S1 dan S2, meneliti kumarin terhadap 10
tanaman obat tradisional itu sejak 1994 sampai 2006. Penelitian--hingga berhasil
mengukuhkannya sebagai Guru besar tetap Unand dari FMIPA itu pada 29 Mei 2008
adalah dengan rumus kimia 5,6 benzo-alfa-piron berhasil diisolasi/diidentifikasi dari
tumbuhan daun gamal (gliricidiamaculata HBK), menyusul diisolasinya senyawa
kandikanin dari daun kulit manis (cinnamomun zeylanicum G). Berikutnya dari daun
juar (cassia siamea Lam) telah berhasil diperoleh senyawa kromon yang berupa
isomer dari kumarin yaitu 5-propanonil-7-hidorksi-2-metil-kromon.
Penelitian tersebut dilanjutkannya lagi dan telah berhasil diisolasi dan diidentifikasi
struktur kumarinnya dengan nama Calanolide E2 dari tumbuhan nyamplung
(calophyllum inophyllum Linn). Begitu pula terhadap daun kumarin dilakukan dalam
daun sicerek (clausena excavata burm f) memperlihatkan adanya 8-(3-metil-2-

buteniloxy)-7 -oxofuro-(3,2-g) kumarin.


Kumarin juga ada pada daun inai (impatiens balsamina L) dengan struktur zatnya 6
-metoksi-7-hidoksi-kumarin, kemudian dari kulit buah jeruk (citrus amblycarpa
Harsak) juga telah berhasil diidentifikasi kumarinnya dengan nama 5,7 -dimetoksi
kumarin.
Dari biji pinang sirih (areca catechu L) diidentifikasi yaitu 4-metil-7-hidorksikumarin. juga dari akar pinang sirih (areca catechu L) 3-asam karbosiklat kumarin
serta dari biji pinang sinawa (actinorhytis calapparia) yakni 7-amino-N, N-dietil-4metil kumarin.
"Kini belum tampak adanya prioritas pembangunan dari pemerintah untuk
melengkapi peralatan modern seperti spektroskopi masssa, resonansi magnit inti
(Nuclear magnetic resonance) atau kekuatan 600 Mhz, difraksi sinar X (X Ray
difraction) atau XRD, sehingga peneliti terpaksa meminta dukung dari negara
lainnya," katanya. Sebagain besar penelitian didanai asing.

Sumber : Antara

Posted

2002 Medi Hendra

24 November, 2002
Makalah Pengantar Falsafah Sains (PPS702)
Program Pasca Sarjana / S3
Institut Pertanian Bogor
November 2002
Dosen :
Prof Dr. Ir. Rudy C Tarumingkeng (Penanggung Jawab)
Prof Dr Zahrial Coto
Dr Bambang Purwantara

PEMANFAATAN TUMBUHAN BUAHBUAHAN DAN SAYURAN LIAR OLEH


SUKU DAYAK KENYAH, KALIMANTAN
TIMUR
Oleh:

Medi Hendra, M.Si.

BIO/G361020071
E-mail: medimaaruf@yahoo.com

ABSTRAC
Study on the wild fruit trees and vegetabies use by Kenyah tribe in the East Kalimantan was
carry out at September December 2001. More than 40 genera wild fruit trees and vegetabies useful
has been identify. Commonly fruit trees and vegetabies grow wild in the secondary forest around the
village, however that may be Kenyah tribe to get fruits and vegetables mostly exploitation the
secondary forest than the primary forest.
I. Pendahuluan
Indonesia dikaruniai kekayaan alam yang melimpah, baik yang berada di darat maupun di
laut. Sumber alam hutan Indonesia, merupakan salah satu hutan tropika yang terluas di dunia, yang
diharapkan dapat terus berperan sebagai paru-paru dunia yang mampu meredam perubahan iklim

global. Indonesia juga merupakan bagian dari kawasan Indo-Pasifik yang merupakan pusat
keanekaragaman hayati dunia. Berdasarkan letak geografis dan keanekaragaman hayati tadi maka
Indonesia dijuluki sebagai megadiversitas yang masuk dalam katagori tertinggi di dunia.
Menurut Sastrapradja dkk (1989) Flora Malesia sangat kaya dan ditaksir terdiri atas 1.500
paku-pakuan serta 28.000 jenis tumbuhan berbunga (fanerogam), yang sebagian besar terdapat di
Indonesia. Kekayaan flora Indonesia yang besar antara lain merupakan akibat dari struktur vegetasi
yang kompleks.
Posisi Indonesia selaku gudang sumber daya jenis yang penting terbukti dari kesepakatan
para pakar yang mengakui kawasan ini sebagai salah satu bagian pusat keanekaragaman dunia.
Kenyataan ini memang dapat disimpulkan dari besarnya jumlah jenis mahkluk yang dimiliki.
Selanjutnya perlu diketahui bahwa memang banyak suku tumbuhan yang memilih kawasan
Indonesia sebagai titik pusat konsentrasi keterdapatan dan persebarannya (Sastrapradja dkk, 1989).
Berkaitan dengan kekayaan keanekaragaman hayati Indonesia tadi dan kemudian dipadukan
dengan kebhinekaan suku-suku bangsa yang mendiami kepulauan nusantara ini, maka akan
terungkap tumbuhnya berbagai sistem pengetahuan tentang lingkungan alam. Pengetahuan ini akan
berbeda dari kelompok satu ke kelompok lainnya, karena sangat tergantung pada tipe ekosistem
mereka tinggal, dan tentu saja amat dipengaruhi oleh adat, tatacara, perilaku, pola hidup
kelompoknya atau singkatnya pada tingkat kebudayaan suku-suku bangsa itu (Waluyo, 1993).
Karena peran manusia atau kelompok etnis ini dengan segala tata cara kehidupannya sangat
menentukan nasib lingkungan, maka perlu ditelaah bagaimana konsep dan pemahaman serta
penguasaan pengetahuannya dalam mengolah sumberdaya hayati tadi. Sehingga pada akhir-akhir ini
banyak ilmuwan yang mulai tertarik untuk mengkaji pengetahuan pribumi (indigenous knowledge)
dan pemahaman alam sekitar oleh masyarakat setempat.
Edibilitas atau ketermakanan merupakan pertanyaan pertama sekaligus awal pemanfaatan
tumbuhan oleh manusia sejak terbitnya fajar peradabannya (Rifai, 1994). Pemanfaatan lainnya lalu
berkembang meliputi segala maksud dan keperluan, terutama yang berkenaan dengan makna budaya,
jadi tak hanya sekedar nilai ekonominya saja (Rifai, 1998).
Jika kita memanfaatkan sesuatu berarti kita mengambil manfaat atau kegunaan dari sesuatu
tersebut. Sehubungan dengan keanekaragaman hayati maka memanfaatkan, mempelajari dan
menyelamatkannya merupakan upaya-upaya dalam strategi konservasi (Wilson, 1995). Upaya-upaya
ini juga tergambar dalam budaya dan pengetahuan asli lokal, seperti masyarakat dayak Kenyah di
Kalimantan Timur. Unsur kearifan lokal ini walaupun tradisional adalah salah satu kekayaan bangsa
yang sangat tak ternilai harganya, karena merupakan sumber bagi pengembangan ide-ide alternatif di

masa kini (Adimihardja, 1996) dan menjadi landasan kuat bagi teknologi mutakhir (Rifai & Walujo,
1992).
Dalam Pembangunan Jangka Panjang Kedua bangsa Indonesia yang dimulai tahun 1994,
sumber daya alam terbaharukan yang berupa tumbuhan, hewan dan mikroba, akan memainkan peran
yang lebih besar dibanding kurun waktu sebelumnya. Jika kemudian dipadukan dengan potensi
sumberdaya hayati serta keanekaragaman suku bangsanya maka akan sangat menguntungkan.
Dengan demikian bahwa mengungkap potensi sumberdaya hayati yang didasarkan pada pengetahuan
masyarakat secara lokal, diharapkan dapat dikembangkan oleh para akademisi dan ilmuwan sebagai
dasar berpijak dalam memberi nilai tambah terhadap sumberdaya tadi.
Sebagaimana diketahui bahwa jumlah jenis tanaman pangan yang sudah dibudidayakan
secara besar-besaran tidak begitu banyak. Akan tetapi sebagian besar masyarakat Indonesia ternyata
banyak sekali menggunakan jenis-jenis tumbuhan lain untuk keperluan pencukupan pangannya.
Tidak kurang dari 400 jenis tanaman penghasil buah, 370 jenis tanaman penghasil sayuran, sekitar
70 jenis tanaman berumbi, 60 jenis tanaman penyegar dan 55 jenis tanaman rempah-rempah yang
secara teratur dimanfaatkan oleh masyarakat, terutama yang tinggal di pedesaan. Pengembangan
tanaman ini boleh dikata tak pernah dilakukan orang, sehingga kultivar yang ditanam merupakan ras
pribumi yang primitif. Bahkan ada diantaranya yang langsung diambil dari alam. Seperti dapat
diduga kebanyakan jenis tanaman ini belum pernah dijadikan objek penelitian (Sastrapradja dkk,
1989).
Suku dayak merupakan penduduk asli yang menghuni pulau Kalimantan. Secara harfiah
dayak berarti orang pedalaman dan merupakan istilah kolektif untuk bermacam-macam golongan
suku, yang berbeda dalam bahasa, bentuk kesenian, dan banyak unsur budaya serta organisasi sosial.
Mereka terutama merupakan peladang berpindah padi huma, yang menghuni tepi-tepi sungai di
Kalimantan. Mereka kebanyakan dalam masyarakat rumah panjang, dan tunduk pada hukum adat
(Mackinon et al, 2000).
Suku Kayan-Kenyah yang berada di pedalaman Kalimantan Timur dan Serawak, sepanjang
bagian hulu sungai Kayan, sungai Mahakam, sungai Rajang dan sungai Baram. Suku Kayan
ditemukan tersebar luas di pulau Kalimantan; segolongan kecil suku Kayan tinggal di sepanjang
sungai Mendalam yang merupakan anak sungai Kapuas hulu di Kalimantan Barat. Suku Kenyah
terdiri atas beberapa anak golongan yang berbeda bahasa dan budayanya. Suku Kayan dan Kenyah
mempunyai keterkaitan sosial, ekonomi dan politik, yang sudah berlangsung lama. Diantara mereka
terjadi perkawinan antar golongan yang cukup banyak. Suku Modang di daerah aliran sungai
Mahakam mungkin merupakan cabang rumpun Kayan dan Kenyah (Mackinon et al, 2000).

Survei yang komprehensif mengenai berbagai jenis tumbuhan hutan yang dimanfaatkan oleh
masyarakat di Kalimantan (umumnya) dan Kalimantan Timur (khususnya) belum pernah dilakukan
(Mackinon et al, 2000). Sedangkan pertumbuhan ekonomi yang pesat di Kalimantan Timur selama
dua puluh tahun terakhir ini di ikuti oleh peningkatan laju eksploitasi hutan dan peningkatan luas
pembukaan daerah hutan. Kayu dan rotan merupakan dua hasil hutan yang sangat tinggi nilainya.
Produk lain yang juga terdapat di hutan mencakup buah-buahan, sayur-sayuran, kacang-kacangan,
rempah-rempah, bahan wewangian, minyak biji, makanan ternak, bahan anti mikroba, bahan farmasi
lainnya, zat pewarna makanan, bahan pengawet dan penyedap makanan, bahan pewarna, perekat,
damar, getah pohon, lilin dan lak.
Untuk mengungkapkan potensi buah-buahan dan sayur-sayuran yang terdapat di hutan dan
dimanfaatkan oleh masyarakat lokal sangat dibutuhkan survei, penelitian dan dokumentasi didaerah
Kalimantan Timur ini agar upaya

pelestarian kekayaan buah dan sayuran Indonesia

(keanekaragaman genetik dan pengetahuan tentang budidaya serta kegunaannya) dapat mendorong
perkembangan dan pemasaran buah-buahan dan sayuran lokal atau asli yang mampu bersaing secara
ekonomi. Karena kebanyakan produk ini sangat tinggi nilai ekonominya, pemanfaatannya dapat
menjamin kelangsungan kebutuhan pokok masyarakat setempat selain juga sebagai komoditi
perdagangan dan pengembangan komersial.
Berbagai produk aktual maupun potensial yang dapat dihasilkan hutan Kalimantan Timur
dapat membantu menjelaskan arti penting akses masyarakat pedesaan terhadap hutan tempat mereka
mengambil berbgai produk tersebut. Tulisan ini merupakan bagian dari hasil penelitian

yang

bertujuan untuk mengungkapkan jenis tumbuhan hutan yang dimanfaatkan oleh masyarakat lokal di
Kalimantan Timur.
II. Metode Penelitian
Penelitian dilakukan selama 3 bulan dari bulan Juni - Agustus 2002. Daerah yang dipilih
adalah pemukiman warga dayak Kenyah di desa Gemar Baru Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan
Timur.
Penelitian menggunakan metode survei eksploratif mencakup: 1. Inventarisasi jenis
tumbuhan yang dimakan yang diketahui masyarakat meliputi nama lokal dan nama ilmiahnya
(Friedberg, 1990) dan 2. Observasi di lingkungan masyarakat yaitu mempelajari keberadaannya.
Metode ini didukung oleh pendekatan dan teknik pengumpulan informasi. Pendekatan yang
dipakai umumnya bersifat partisipatif atau penilaiain etnobotani partisipasif (participatory
ethnobotanical appraisal, PEA). Pendekatan ini meliputi: 1. Wawancara semi terstruktur (Grandstaff
& Grandstaff, 1987) dan terjadwal untuk inventarisasi pengetahuan lokal; 2. Observasi partisipatif

dan transect-walks sistematis (Martin, 1995) dengan masyarakat sebagai pemandu dan 3.
Persahabatan erat dengan masyarakat (Banilodu, 1998), ikut aktif dalam aktifitas mereka baik harian
maupun khusus.

III. Hasil dan Pembahasan


Sekarang ini banyak ilmuwan yang tertarik mempelajari pengetahuan masyarakat tradisional
tentang pemanfaatan sumberdaya tumbuhan. Pengetahuan ini mempunyai pengaruh besar dan
memberikan kontribusi penting dalam kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan alasan
tersebut maka dipelajari pengetahuan tradisionil masyarakat suku dayak Kenyah tentang dunia
tumbuhan khususnya tumbuhan hutan/liar yang dimanfaatkan untuk sumber

buah-buahan dan

sayuran.
Dari hasil penelitian di dapatkan bahwa masyarakat dayak Kenyah yang bermukim di desa
Gemar Baru mengumpulkan sekurang-kurangnya 55 marga dan lebih dari 90 jenis tumbuhan buahbuahan dan sayuran liar dari hutan dan beberapa ditanam di pekarangan. Banyak tumbuhan
penghasil makanan dari hutan ditemukan di hutan sekunder atau ladang yang ditinggalkan.
Masyarakat dayak Kenyah pada umumnya meramu dan memanfaatkan tumbuhan liar yang ada
disekitarnya dan menggunakan berbagai jenis dan kultivar dari tanaman budidaya untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya.
Pengamatan di lapangan didapatkan bahwa masyarakat suku dayak Kenyah lebih banyak
mengeksploitasi hutan sekunder daripada hutan primer untuk mencari buah-buahan dan sayuran.
Hutan-hutan disekitar tempat tinggal mereka kaya akan pohon buah-buahan liar, termasuk mangga,
manggis, rambutan dan durian. Beberapa jenis durian yang dipanen dari hutan seperti durian merah
Durio dulcis dan Durio graveolens serta durian berdaging buah kuning yang biasa dikenal dengan
nama daerah lai (Kutai) Durio kutejhensis. Beberapa dari jenis durian tersebut tidak di makan oleh
masyarakat setempat karena memabukkan. Tingginya konsentrasi keterdapatan sekerabatan
tumbuhan atau mahkluk lainnya dan besarnya keanekargaman suatu jenis dijadikan indikator untuk
menunjuk tempat tersebut sebagai pusat persebarannya, yang sekaligus merupakan pusat
keanekaragamannya. Menurut Sastrapradja dkk (1989) durian yang memiliki keanekaragaman yang
besar dalam jenisnya berpusat persebaran di Kalimantan. Sebab di Kalimantanlah tumbuh secara
alami 19 jenis durian liar dari keseluruhan 27 jenis yang tersebar di kawasan Malesia. Jadi meskipun
durian budidaya memiliki persebaran luas, tidak saja di Indonesia tetapi juga di negara-negara
tetangga, seperti Malaysia, Thailand dan Filipina, kerabat liarnya berpusat di Kalimantan.

Berbagai jenis mangga liar seperti Mangifera griffithii, M. torquenda, M. foetida dan M.
caesia juga banyak tumbuh liar disekitar hutan perkampungan suku dayak Kenyah. Hal ini juga
terlihat dari hasil ekspedisi badan internasional seperti IBPGR (International Board for Plant Genetic
Resources) yang berulangkali menyeponsori ekspedisi internasional untuk mengekplorasi dan
mengumpulkan plasma nutfah kerabat liar tanaman budidaya di Indonesia. Dari beberapa marga
yang sudah ditangani didapatkan bahwa mangga pusat keanekaragamannya di Sumatera dan
Kalimantan (Sastrapradja dkk, 1989).
Buah-buah dari famili Moraceae seperti sukun Artocarpus elasticus, nangka liar
Artocarpus intiger serta cempedak A. cempeden yang lezat rasanya terdapat di dalam hutan dan juga
ditanam oleh suku dayak Kenyah. Marga Artocarpus ini ditemukan beberapa jenis liarnya di hutan
sekitar perkampungan masyarakat suku Dayak Kenyah dan mempunyai nilai komersil yang bersifat
lokal di Kalimantan Timur. Menurut Sastrapradja dkk (1989) merupakan salah satu marga yang
mempunyai persebaran yang terbatas di kawasan hutan Malesia Barat.
Buah-buahan dari famili Sapindaceae seperti halnya rambutan Nephelium eriopetalum, N.
longana, N.

mutabile dan Xerospermum juga banyak ditemukan baik yang liar atau semi

domestikasi maupun yang ditanam oleh masyarakat . Jika kita kaji proses terbentuknya kebun atau
pekarangan yang bermula dari terseraknya sisa-sisa bahan makanan yang diperoleh dari hutan dan
tumbuh subur di dekat pemukimannya, maka tidaklah mengherankan bahwa kultivar primitif dari
berbagai jenis buah-buahan tersebut banyak dijumpai di kebun atau pekarangan mereka.
Selain mengumpulkan buah liar untuk dimakan sendiri maupun untuk dijual, banyak
masyarakat dayak Kenyah memelihara pohon-pohon di hutan seperti petai. Pohon petai Parkia spp
yang menjulang tinggi di dalam hutan, mempunyai biji kaya akan protein yang dimakan dan dijual
di pasar-pasar setempat. Daun muda dan bagian tangkai bunganya juga dapat di makan.
Menarik untuk dicatat bahwa meskipun banyak jenis buah-buahan sudah dibudidayakan
oleh masyarakat suku Dayak Kenyah tetapi miskin akan tanaman sayuran. Agaknya, karena banyak
tumbuhan liar yang dapat dimanfaatkan daunnya untuk sayuran, sehingga kurang dirasa perlu untuk
membudidayakan. Daun, tunas dan akar berbagai jenis tumbuhan liar dimakan sebagai sayuran.
Seperti tunas Cyperus bancanus dan tunas akar ilalang Imperata cylindrica merupakan lalapan yang
umum ditemukan pada masyarakat dayak Kenyah.
Daun muda dan batang Cyathea contaminans (paku tiang), serta paku-pakuan Diplazium,
Nephrolepis biserrata,dan Stenochlaeana merupakan sumber sayuran yang direbus atau dioseng dan
kadang-kadang dimasak secara tradisional dalam tabung bambu seperti memasak lemang. Sayuran
tradisional lainnya seperti rebung Bambusa spp dan jantung pisang hutan Musa balbisiana juga
merupakan sumber sayuran yang banyak terdapat di hutan sekunder disekitar perkampungan dayak

Kenyah. Demikian juga halnya dengan jenis-jenis Zingiberaceae seperti Alpinia spp, Nicolaia
speciosa dan Kaempferia spp sumber sayuran dan bahan penyedap yang disukai.
Borassodendron borneensis merupakan buah palem yang dipanen langsung dari hutan.
Selain itu beberapa jenis palem disamping pemanfaatannya untuk komersil seperti berbagai jenis
rotan, bagian pucuknya biasanya juga dimanfaatkan untuk sayur-sayuran dan buahnya kadangkadang juga dimakan. Bagian ujung dari batang rotan yang dipanen biasanya dimanfaatkan dengan
cara dibakar sampai layu, kemudian dikupas bagian kulitnya yang keras dan berduri. Bagian
dalamnya selanjutnya dimanfaatkan sebagai sayuran. Demikian juga halnya dengan umbut atau
pucuk dari Eugeissona utilis, Oncosperma dan Pinanga biasanya merupakan sayuran yang dimasak
bersama dengan ikan.
Beberapa jenis buah-buahan hutan dimakan oleh masyarakat hanyalah bersifat iseng (istilah
Banilodu (1998) dimakan main-main) dan sebagai penghilang kelau (haus atau lapar sementara)
seperti Curculigo orchioides, Passiflora foetida dan buah beberapa jenis rotan seperti Calamus
manan dan C. ornatus . Terbukti bahwa pengetahuan tentang ini akan meningkatkan kemampuan
forest survival (Rifai, 1998).

Marga atau jenis tumbuhan buah-buahan dan sayuran hutan (liar) yang
dimanfaatkan oleh masyarakat suku Dayak Kenyah dapat di lihat pada tabel di
bawah ini:
Tabel 1. Beberapa jenis tumbuhan Buah-buahan dan Sayuran liar yang digunakan oleh suku Dayak
Kenyah kec. Muara Ancalong kab. Kutai Timur.
Famili

Nama latin

Amarillydaceae
Anacardiaceae

Curculigo orchioides
Mangifera caesia

Wanyi

dimakan
Buah
Buah

Mangifera decandra

Palong besi

Buah

Mangifera foetida

Sem

Buah

Mangifera gedebe

Repeh

Buah

Mangifera griffithii

Asam raba

Buah

Mangifera torquenda

Asam putar

Buah

Bouea macrophylla
Willughbeia firma
Borassodendron borneense

Supit
Bekro
Medang

Buah
Buah
Daun muda
Buah

Apocynaceae
Araceae
Arecaceae

Nama Lokal

Bagian yang

Calamus javaensis

Uwai

Pucuk

C. manan

Uwai tebengan

Pucuk

C. ornatus

Uwai seletub

Buah

Calamus sp

Uwai beeng

pucuk

Daemonorops mirabilis

Uwai sekah

Pucuk

Eugeissona utilis

Nangan

Pucuk

Khorthalsia echinometra

Uwai sanam

Umbut & sagu

Oncosperma horridum

Nyibung

Pucuk

Plectocomia sp

Uwai tebengan

Umbut

Pinanga sp

Benda

Pucuk

Salacca edulis

Buah

Bambusa spp

Bulok tub

Buah
Tunas

Dendrocalamus asper

Bulok atung

Tunas

Schizostachyum blumei
Durio acutifolius

Bulok
Dian balah umit

Tunas
Buah

Durio dulcis

Dian daun

Buah

Durio excelcus

Dian balah

Buah

Durio graveolens

Dian balah latak

Buah

Durio kutejensis

Dian tuning

Buah

Burseraceae
Cyperaceae
Ebenaceae

Durio zibethinus
Santiria tomentosa
Cyperus bancanus
Diospyros korthalsiana var.

Dian
Keramo
Syik
Arang batu

Buah
Buah
Tunas
buah

Elaeocarpaceae
Euphorbiaceae

macrocarpa
Elaeocarpus spp
Aleurites moluccana

Kemiri

Buah
Buah

Bambusaceae

Bombacaceae

Antidesma montanum

Buah

Aporosa spp

Buah

Baccaurea angulata

Lempang tip

Buah

B. bracteata

Lempang kip

Buah

B. kunstleri

Lempang tip

Buah

B. lanceolata

Lempang tip putek

Buah

B. macrocarpa

Tampoi/ Kapul

Buah

B. nanihua

Lempang tip putek

Biji

Elateriospermum tapos

Kalampi

Buah

dan

Sondaricum kotjape

Kalambunyau

Buah

Fagaceae

Drypetes longifolia
Castanopsis sp

Bua barang
Sarangan

Buah
Buah

Flacourtiaceae

Lithocarpus sundaicus
Flacourtia rukam

Pasang
Buah abung

Buah
Buah

Graminae
Guttiferae
Lauraceae
Leguminosae

Pangium edule
Imperata cylindrica
Garcinia sp
Litsea angulata
Parkia speciosa

Ilalang
Buah bundar
Kalangkala
Beta lata

Buah
Tunas akar
Buah
Buah
Buah

Parkia sp
Stachyprynium jagorianum
Aglaia gangga

Beta umit

Maranthaceae
Meliaceae

Buah
Tunas
Buah

Lansium spp
Albertisia papuana
Artocarpus dadah

Leset

Menispermaceae
Moraceae

Tap/ bacut

Buah
Daun
Buah

A. A.

elasticus

Sukun

Buah

A. A.

cempeden

Nakan

Buah

A. heterophyllus

Keledang

Buah

A. integre

Baduk

Buah

A. rigidus

Buah

Musaceae

Ficus spp
Musa balbisiana

Myrtaceae

Syzygium aqueum.

tunas
Buah

S. cumini.

Buah

S. jamboloides

Buah

Peti

luang/Peti

lebem

Passifloraceae
Polypodiaceae

Buah
Bunga

dan

Syzygium sp.
Passiflora foetida
Cyathea contaminans

Bua top

Buah
Buah
Daun muda

Diplazium esculentum

Paku paya

Daun muda

Nephrolepis biserrata

Paku pait

Batang
daun muda

Rosaceae
Sapindaceae

Stenochlaeana sp
Rubus spp
Dimocarpus cinerea

Paku julut
Pidang pancung

Daun muda
Buah
Buah

D. longan var. malesianus

Isau

Buah

Lepisanthes alata

kelili/ krumi

Buah

Nephellium eriopetalum

Buah

&

Umbeliferae
Zingiberaceae

N. lappaceum

Buah Blong

Buah

N. mutabile

Buah Abung

Buah

N. rambutanake

maritam

Buah

Xerospermum sp
Alpinia sp

Buah Uncing
Mekai
Bua Asak

Buah
Daun
Buah

Nicolaia speciosa

Nyanding

Umbut

Nicolaia sp

Lame

Bunga

Kaempferia sp

Tepo

Bunga
Umbut

&

IV. Kesimpulan
Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa masyarakat suku dayak Kenyah mengumpulkan lebih
dari 55 marga tumbuhan atau lebih dari 90 jenis tumbuhan liar yang dimanfaatkan sebagai sumber buahbuahan dan sayuran. Banyak tumbuhan penghasil buah dan sayuran tersebut ditemukan pada hutan
sekunder di sekitar perkampungan sehingga suku dayak Kenyah lebih banyak mengeksploitasi hutan
sekunder dari pada hutan primer untuk mendapatkan buah-buahan dan sayuran.

Daftar Pustaka
Adimihardja, K. 1996. Sistem Pengetahuan Lokal dan Pengembangan Masyarakat Desa. Seminar JepangIndonesia di Kagoshima. UPT INRIK UNPAD. Makalah tak diterbitkan, Bandung. 19 hal.
Banilodu, 1998. Implikasi Etnobotani Kuantitatif dalam Kaitannya dengan Konservasi Gunung Mutis,
Timor. Disertasi, tak diterbitkan. Jurusan Biologi, PPs. IPB, Bogor.
Friedberg, C. 1990. Le Savoir Botanique des Bunaq Percevoir t classer dans le Haut Lemaknen (Timor,
Indonesie). Memoires du Museum Nati dHistoire Naturelle. Bot. Tome 32: 303p.
Grandstaff, S.W. & T. B. Grandstaff. 1987. Semi-structured Interviewing by Multidicip. Teams in RRA.
KKU Proc.: 69-88.
Mackinnon, K., Gusti Hatta, Hakimah Halim, & Arthur Mangalik. 2000. Ekologi Kalimantan.
Prenhallindo. Jakarta.
Martin, G. J. 1998. Etnobotani, Satu Manual Kaedah (Ed. Bahasa Malaysia). Maryati Moh. (Penerj.).
Nat. Hist. Publ. (Borneo), Kinibalu, Sabah-Malaysia & WWF Int., Gland, Switzerland.
Rifai, M. A. 1994. A Discouse on Biodiversity Utilization in Indonesia. Trop. Biodiv. 2 (2): 339-349.
________ . 1998. Pemasakinian Etnobotani Indonesia: Suatu Keharusan Demi Peningkatan Upaya
Pemanfaatan, Pengembangan dan Penguasaannya. Semiloknas Etnobot. III. Denpasar. Makalah,
tak diterbitkan. 17 hal.
Rifai, M. A. & E. B. Waluyo. 1992. Etnobotani dan Pengembangan Tetumbuhan Pewarna Indonesia:
Ulasan Suatu Pengamatan di Madura. Pros. Semiloknas Etnobot. I. Cisarua, Bogor 19-20 Feb
1992. Hal 119-126.
Sastrapradja, D. S. dkk. 1989. Keanekaragaman Hayati Untuk Kelangsungan Hidup Bangsa. Puslitbang
Bioteknologi-LIPI. Bogor.
Waluyo, E. B. 1993. Keanekaragaman Hayati Indonesia dan Peluangnya dalam Penelitian Etnobotani.
Seminaire Sciences Humaines et Sociales et Recherche Francaise en Insulinde di Kedutaan
Besar Perancis. Makalah tak diterbitkan, Jakarta. 12 hal.

Wilson, E. O. 1995. Strategi Pelestarian Keanekaragaman Hayati. K. Courrier (Peny.). Strategi


Keanekaragaman

INCL Indonesia
Newsroom Heart of Borneo: Sumber Kekayaan Medis Yang Belum Terungkap
Source : WWF - Indonesia
Category : Daftar Isi
Code : Edisi 9-17b
Date and Time of Publication : 01-August-06 -- 05:59:16

Jakarta
Indonesia - Laporan terbaru WWF menyebutkan tumbuhan yang berpotensi untuk
menyembuhkan berbagai penyakit berbahaya seperti kanker, AIDS dan malaria telah ditemukan
di hutan Heart of Borneo (HOB). Saat ini potensi tumbuhan obat tersebut sedang mengalami
ancaman dan membutuhkan upaya perlindungan jangka panjang.
Laporan tersebut mengungkapkan para ilmuwan sedang menguji sejumlah contoh yang
dikumpulan dari hutan-hutan di Sabah, Sarawak - Malaysia dan Kalimantan - Indonesia. Mereka
berharap dapat mengembangkan obat-obatan yang dapat menyembuhkan berbagai penyakit
yang selama ini mengancam manusia.
Merujuk pada laporan tersebut, Cerylid Biosciences - sebuah perusahaan farmasi Australia telah mengidentifkasi sebuah senyawa anti kanker pada sejenis tumbuhan yang ditemukan di
Sarawak. Melalui sejumlah uji di laboratorium, senyawa yang ditemukan pada tumbuhan Aglaia
leptantha diketahui secara efektif telah membunuh 20 jenis sel kanker, termasuk sel kanker yang
menyebabkan kanker otak, kanker payudara dan melanoma. Kandungan senyawa yang sama
juga terdapat pada buah dan ranting Aglaia silvestris yang ditemukan di Kalimantan - Indonesia.
"Kenyataan yang menunjukkan senyawa tersebut sangat efektif dalam melawan sejumlah sel
tumor, memberi argumen yang sangat baik untuk terus menjaga habitat tumbuhan di Pulau
Kalimantan (Borneo), demikian Dr. Murray Tait, Vice President of Drug Discovery pada Cerylid
Biosciences. Perusakan hutan lebih lanjut akan menghilangkan kesempatan bagi ilmu
pengetahuan untuk menemukan dan mengembangkan lebih jauh potensi yang dapat
menyelamatkan kehidupan manusia."
Para ilmuwan juga menemukan senyawa unik dalam getah yang dihasilkan oleh pohon Bintangor
(Calophyllum lanigerum). Senyawa tersebut, Calanolide A, secara efektif berpotensi untuk
menghambat replikasi virus HIV, juga bakteri tuberculosis yang mempengaruhi penderita AIDS.
Penemuan ini penting karena hingga saat ini belum ada satupun obat yang dapat
menyembuhkan HIV. Bila secara klinis terbukti, Calanolide A akan menjadi salah satu pencapaian
penting bagi kesehatan jutaan manusia di seluruh dunia.
Lebih jauh disebutkan dalam laporan tersebut, para ilmuwan telah menemukan agen anti malaria
yang ampuh dan sebelumnya tidak dikenal luas pada kulit batang pohon langsat (Lansium
domesticum), yang sebelumnya secara tradisional telah digunakan oleh masyarakat Dayak
Kenyah di Kalimantan untuk menyembuhkan malaria. Senyawa tersebut - triterpenoid - dalam uji
laboratorium mampu membunuh parasit malaria pada manusia - Plasmodium falciparum.
Dr. Mubariq Ahmad - Direktur Eksekutif WWF-Indonesia mengingatkan, "Semua hutan hujan
tropis di Heart of Borneo perlu dijaga secara memadai, jika kita tidak ingin kehilangan berbagai
potensi sumber obat-obatan tersebut". Dalam berbagai penelitian yang dilaksanakan oleh para
peneliti dari berbagai lembaga, dalam kurun waktu 25 tahun terakhir telah ditemukan 422 spesies
baru di Pulau Kalimantan (Borneo) dan masih banyak lagi yang menunggu untuk ditemukan dan
diteliti, beberapa diantaranya berpotensi memiliki senyawa obat.
"Dibutuhkan waktu yang panjang sebelum sebuah senyawa yang ditemukan dalam tumbuhan
dapat dikembangkan menjadi obat yang efisien serta digunakan secara luas oleh para dokter",

demikian Dr. Menno Schilthuizen, seorang professor dari Universitas Sabah Malaysia yang
menulis laporan Biodiscoveries - Borneo's Botanical Secret. "Saya percaya bahwa ratusan
tumbuhan dapat dikumpulkan, banyak senyawa telah diidentifikasi tetapi hanya sedikit yang
secara klinis telah diuji."
Masyarakat tradisional seperti Dayak Kenyah juga dapat memperoleh manfaat dari
pengembangan obat-obatan yang berbasis pengetahuan tradisional mereka. Konvensi
Keanekaragaman Hayati (CBD), dimana Indonesia dan Malaysia terlibat didalamnya,
menyatakan bahwa pemanfaatan pengetahuan tradisional mereka harus mendapat persetujuan
dari masyarakat dan siapapun yang memperoleh keuntungan dari pengembangan tersebut harus
membagi secara adil keuntungan yang diperoleh. Konvensi ini juga mengakui kedaulatan sebuah
Negara atas sumberdaya genetik yang mereka miliki, sehingga pengembangan obat-obatan dan
pemanfaatan lainnya tunduk pada hukum negara asal.
Saat ini, hanya setengah dari hutan Borneo yang tersisa. Melalui prakarsa Pemerintah Indonesia,
pemerintah tiga negara - Indonesia, Malaysia dan Brunei Darussalam - pada 27 Maret 2006 lalu
telah meluncurkan inisiatif HOB dan menyatakan komitmen pemerintah tiga negara uintuk
mendukungnya. Peluncuran dilakukan pada Conference of the Parties (Konferensi Para Pihak ) 8
to Convention of Biological Diversity (Konvensi Keanekaragaman Hayati) di Curitiba, Brazil.
Komitmen ini yang diharapkan ditingkatkan menjadi deklarasi kesepakatan ketiga negara akan
memastikan perlindungan dan pemanfaatan yang berkesinambungan pada hutan yang berada di
daerah tersebut yang sangat mungkin mengandung potensi penemuan sumber obat di masa
mendatang". ungkap Dr. Bambang Supriyanto Koordinator Nasional Heart of Borneo WWFIndonesia.

Informasi lebih lanjut :

Bambang Supriyanto, Heart of Borneo National Coordinator, Email:


bsupriyanto@wwf.or.id
+ 62 21 5761070, 08164810830

Iwan Wibisono, Heart of Borneo National Campaigner, Email: iwibisono@wwf.or.id


+ 62 21 5761070, 081317566300

Catatan untuk editor :

Publikasi Biodiscoveries - Borneo's Botanical Secret oleh Menno Schilthuizen, dapat


ditemukan di
http://www.wwf.or.id/attachments/biodiscoveries_borneo_botanical_secret.pdf (10MB)

Gambar Lansium Domesticum

Heart of Borneo adalah inisiatif konservasi dan pembangunan berkelanjutan yang


bertujuan untuk melindungi serta memanfaatkan secara lestari salah satu pusat
keanekaragaman hayati terpenting di dunia dalam skala yang luas, terdiri dari rangkaian
hutan hujan tropis yang kaya ragam kehidupan. Pemerintah tiga Negara - Brunei
Darussalam, Indonesia dan Malaysia - pada 27 Maret 2006 lalu telah meluncurkan
inisiatif ini dan menyatakan komitmen pemerintah tiga negara uintuk mendukung inisiatif
Heart of Borneo, yang dilakukan pada Conference of the Parties (Konferensi Para Pihak )
8 to Convention of Biological Diversity (Konvensi Keanekaragaman Hayati) di Curitiba,
Brazil.

Dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-11 di Kuala Lumpur, Desember 2005,
inisiatif Heart of Borneo telah menjadi bagian dari ASEAN Chairman's Statement,

paragraph 23 yaitu " We also noted the efforts to establish a transboundary network of
sanctuaries on the island of Borneo involving Malaysia, Brunei Darussalam and
Indonesia. Such sanctuaries would protect the biological diversity of plants and animals
in the green Heart of Borneo and would play a vital role in protecting all of the island's
major water catchments". KTT ini merupakan pertemuan tertinggi negara ASEAN dan
Chairman's Statement adalah catatan resmi pertemuan dan didukung oleh seluruh
pemimpin pemerintahan di ASEAN.

Heart of Borneo juga menjadi salah satu program utama (flagship programme) 5 tahun
dari BIMP - EAGA (Brunei Indonesia Malaysia Philippines - East ASEAN Growth Area).
Rencana ini telah didukung oleh kepala pemerintahan dari empat negara.

www.wwf.or.id

Potensi Sumber Daya Alam, Lahan dan Jasa Lingkungan


SoB
Potensi Sumber Daya Alam
<!--[if !supportLists]--> <!--[endif]-->Potensi Hasil Hutan
Kalimantan Kaya dengan hasil hutan baik itu kayu non kayu. Sumber hasil hutan kayu telah lama
dimanfaatkan oleh Negara melalui HPH, kini potensi kayu sudah menipis jika kita lihat dengan banyak
perusahaan kayu yang gulung tikar karena kekhurangan stok kayu. Hasil hutan non kayu sebenarnya
tidak kalah potensinya, namun belum secara serius di garap. Selama ini hasil hutan bukan kayu (HHBK)
banyak di manfaatkan secara berkelanjutan oleh masyarakat yang berada di kawasan hutan.
Di Kalimantan Tengah potensi non kayu cukup dominan seperti beberapa jenis Rotan, Getah Jelutung,
beberapa jenis Damar, Kemedangan, Biji Tengkawang, Kulit Kayu Gemor, Gaharu, Sirap dan Sarang
Burung. Berdasarkan hasil inventarisasi Pilot Proyek KPHP di Kalimantan Tengah yang dilaksanakan
United Kingdom Indonesia Tropical Forest Management Programme (UK-ITFMP) tahun 1994 1997,
selain jenis-jenis HHBK yang dominan tersebut, hutan di Kalimantan Tengah juga memiliki potensi yang
cukup menjanjikan akan tanaman/tumbuhan obat-obatan, seperti Pasak Bumi, Saluang Belum, Akar
Kuning, Akar Ginseng, Sintuk, Akar Busi, Tusuk Kusung, Penawar Bisa, Anak Busi, Sula Adam, Akar
Sutra, Akar Gusi, Sendi Adam, Kei Umbut, Ipung, Ikang Siau serta Akar Buli.
Potensi HHBK tersebut pada umumnya tersebar tidak merata pada tipe Hutan Hujan Tropika (Tropical
Rain Forest) baik dataran tinggi (Tropical Mountain Rain Forest) maupun dataran rendah (Tropical
Lowland Rain Forest). Meskipun hingga saat ini belum dilaksanakan kegiatan inventarisasi potensi HHBK
secara menyeluruh guna mengetahui luas dan sebaran HHBK, namun mengacu pada hasil survey yang
dilaksanakan oleh ODA UK-ITFMP, diperkirakan mencakup luasan sedikitnya 10 % dari total luas Hutan
Hujan Tropika di Kalimantan Tengah atau sekitar 1.350.363,87 Ha. (data kawasan hutan kalteng 2001).
Dilihat dari nilai ekonomi dan ekologi, potensi hasil hutan non kayu seperti rotan dan berbagai getah
(pantung dan jerenang) lebih berpotensi. Berdasarkan data dari Dinas Kehutanan potensi hasil hutan non
kayu untuk jenis rotan mencapai 839.684.000 ton/tahunnya. Hasil hutan ikutan saat ini lebih banyak
terdapat pada daerah hulu sungai.
Pegunungan Meratus
Di Kawasan Pegunungan Meratus potensi HHBK cukup melimpah, mulai dari buah-buahan, bahan baku
kerajinan, tumbuhan obat dan rempah-rempahan, tumbuhan berbunga, getah pohon, bahan baku
bangunan subtitusi kayu, hingga madu.

Namun semua jenis tersebut belum maksimal dimanfaatkan, HHBK yang paling banyak di usahakan di
Pegunungan Meratus adalah perkebunan karet rakyat, terutama di lereng sebelah barat dan utaranya.
Hulu Sungai Tengah adalah kabupaten yang menempatkan karet sebagai produk unggulannya. Sentra
lain terdapat di Kecamatan Loksado (HSS) dan Kecamatan Halong (Balangan).
Potensi lain yang tidak kalah melimpah adalah bambu. Bambu di kawasan Pegunungan Meratus biasanya
terdapat di bekas-bekas ladang dan kadang bersama mengisi relung yang ada dengan tanaman
perkebunan lainnya seperti kayumanis dan karet. Hal ini berhubungan erat dengan kearifan tradisonal
masyarakat adat di kawasan ini. Berbagai macam bambu dimanfaatkan oleh masyarakat untuk berbagai
macam kepentingan juga, dari pemanfaatan untuk kerajinan, peralatan dapur bahkan untuk kelengkapan
upacara ritual aruh adat. Dengan pemanfaatan seperti ini bambu adalah komponen penting dalam
kehidupan sosial budaya masyarakat Dayak, karena hampir setiap aktivitas kehidupan masyarakat Dayak
menggunakan unsur bambu untuk mendukung kehidupannya. Di Loksado minimal terdapat 17 jenis
bambu dengan luasan area yang sangat besar (R. Udur, 2002).
BOX :
Potensi& Nilai Ekonomis Hasil Hutan Bukan Kayu di Lokasado Pegunungan Meratus :
Loksado juga terkenal dengan produk kayu manis (Cinnamomum burmanni Blume). Potensi ini tersebar
merata di sebagian besar kecamatan ini. Salah satu kampung penghasil adalah Malaris. Di Malaris Rata rata
kayu manis efektif yang di panen menghasilkan 10 kg kayu manis kering siap jual sehingga potensi produk
kayu manis saat ini adalah 5.950 pohon x 10 kg = 459.500 kg. kayu manis kering jemur. Sedangkan populasi
kayu manis belum produktif (berumur kurang dari 7 tahun) sebanyak 9.900 pohon.
Berikut 4 kampung dengan NTFP sebagai basis utama penghasilan masyarakatnya yang dapat dianggap
mewakili kampung lain yang ada di Pegunungan Meratus.
No
1

Kampung
Kampung Malaris
(Loksado/HSS)

kemiri, kayu manis, walatung/ manau, rotan, karet, damar,


bambu dan obat-obatan, buah-buahan.

Kampung Kiyo (Batang Alai kayu manis, keminting, damar, bamban, karet, obat-obatan
Timur/HST)

Hasil Hutan Non Kayu

Kampung Tampaan

dan rotan
Karet, Kemiri, Bambu, Pisang, Madu

(Halong/Balangan)
4

Kampung Rantau Buda (Kec. Madu, Buah-buahan

Sungai Durian/Kotabaru)
Sumber : Menggali Kearifan di Kaki Meratus, 2002 dan Bank Data YCHI

Tahun 1997/1998 produksi rotan Kalimantan Selatan adalah 1.255,92 ton, meningkat di Tahun 1998/1999
sebanyak 5.430,17 ton dan kembali meningkat di Tahun 1999/2000 dengan jumlah produksi sebanyak
5.700,18 ton. Hal yang sama juga terjadi pada produk madu. Produksi madu hasil kegiatan perlebahan
selama kurun waktu lima tahun sebanyak 249,91 ton yang tercatat sejak tahun 1996 hingga tahun 2000.
Pegunungan Iban
Belum di dapat secara pasti potensi kayu di kawasan Pegunungan Iban, namun jika mengacu pada
wilayah green Belt pegunungan Iban. Asumsinya bahwa kawasan hutan berada hampir di seluruh
kawasan GB. Setidaknya data di bawah ini bisa menggambarkan potensi hasil hutan di kawasan
tersebut :
Tabel . Petensi Kayu bulat komersil
Prosentase terhadap luas

Produksi (m3)

No

Kabupaten

Luas Areal (ha)

Nunukan

1.236.836

8,89

593.501,18

Malinau

4.205.000

98,66

546.670,66

Kutai Barat

2.413.332

76,33

1.619.725,50

Kabupaten

Sumber : 1). BPS, Kabupaten Nunukan Dalam Angka Tahun 2002


2). BPS, Kabupaten Kutai Barat Dalam Angka Tahun 2002
3). BPS, Kabupaten Malinau Dalam Angka Tahun 2001

Secara Umum di Kalimantan Timur Potensi SDA Katim<!--[if !supportFootnotes]-->[1]<!--[endif]-->


<!--[if !supportLists]-->- <!--[endif]-->Hutan : 7.855.168 Ha
<!--[if !supportLists]-->- <!--[endif]-->Kayu Alam
<!--[if !supportLists]-->- <!--[endif]-->Hasil Hutan Ikutan : Gaharu, Sarang Burung Walet, Damar,
Rotan Dan Tumbuh-Tumbuhan Yang Berkhasiat Untuk Obat-Obatan.
<!--[if !supportLists]--> <!--[endif]-->Potensi Bahan Mineral Energi

Propinsi Kalimantan Tengah mempunyai banyak potensi SDA tambang. Bahan galian C lebih di dominasi
oleh tanah liat, pasir kwarsa, kaolin dan granit terdapat hampir di semua kabupaten. Sedangkan batu
gamping banyak terdapat di kabupaten kapuas, GUMAS, Barito Timur, Barito Utara dan Mura.
Bahan galian A didominasi oleh batu bara dari pada potensi gas. Berdasarkan data yang ada, potensi
bahan galian batu bara lebih banyak terdapat pada kabupaten MURA, BARUT, BARSEL dan BARTIM.
Bahan galian B hampir setiap kabupaten terdapat potensi ini,baik emas sekunder dan emas primer. Di
kalimantan tengah saat ini terdapat kurang lebih 20 perusahaan tambang emas yang saat ini masih dalam
tahap melakukan penelitian dan eksplorasi (Potensi sumberdaya mineral pertambangan-gol A dan B ,
2005). Dibawah ini dapat dilihat sebaran bahan galian yang terdapat di Kalimantan tengah dan sudah
dikelola oleh beberapa perusahaan.

<!--[if !vml]-->
<!--[endif]-->
Peta. Sebaran Potensi bahan meneral di kalimantan Tengah
Pada daerah hilir lebih banyak tanah gambut (palangkaraya,kapuas,KOBAR,KOTIM dan katingan). Untuk
bahan galian dengan jenis batu permata (kecubung) hanya terdapat di kabupaten Kotawaringin Barat.
Diwilayah Schawaner yaitu di kecamatan Sanaman Mantike terdapat batu granit, Batu Mulia terletak di
Bukit Butik, Desa Tumbang Atei Kecamatan Sanaman Mantkei dan di Desa Rantau Bahai
Kecamatan Katingan Hulu.
Peg Muller :
Pada tahun 1961, PBB menugaskan Jepang (JICA) melakukan studi hydro power electric generator di
wilayah Laung Tuhup dan Muara Joloi yang diketahui akan mampu memberikan daya listrik yang cukup
untuk keseluruhan Pulau Borneo, bahkan ke wilayah lainnya. Tahun 1997, di lakukan lagi penelitian oleh
Pemda Kalteng dan ditemukan banyak potensi tambang di wilayah calon reservoir air / genangan daerah
aliran sungai untuk hydro electric tersebut, maka rencana pembuatan waduk PLTA tersebut dinilai tidak
feasibel.
Menurut Pemaparan Bupati tentang kondisi dan percepatan pembangunan di Kabupaten Murung Raya
berdasarkan peta geologi lembar Kalimantan, bagian Utara Kalimantan Tengah merupakan jalur
mineralisasi yang dikenal dengan Borneo Gold Belt yang menghasilkan berbagai mineral bernilai
ekonomi seperti: Au, Ag, Cu, Zn, Pb, Fe dan intan serta mineral-mineral industri seperti Kaolin, Pasir
Kwarsa, Bentonite maupun Granit. Pada bagiah tengah ditemukan sekungan Barito, Kutai dan Kuala
Pambuang memiliki kandungan endapan minyak dan gas bumi serta batubara.

Di Kalimantan Selatan setidaknya ada 22 bahan tambang yang berpotensi, diantaranya ada 7 bahan
tambang unggulan yaitu batu bara, intan, emas, marmer, bijih besi, pasir kwarsa dan batu gamping.
Menurut data yang tersedia dari sumber yang sama sampai tahun 2000, bahan tambang emas belum
berproduksi. Eksplorasi emas seluas 291 297.27 ha dilakukan oleh PT. Meratus Sumber Mas (operasi
tahun 1998), PT. Pelaihari Mas Utama dan PT. Aneka Tambang/Pelsart (operasi tahun 2000). Adapun
yang sudah lebih dulu melakukan eksploitasi adalah usaha pertambangan emas rakyat yang oleh
pemerintah dianggap illegal seperti di daerah Kusan.
Saat ini Kalimantan Selatan merupakan penyetor terbesar di Indonesia dari SDA batu bara, dengan
dominasi terbesar oleh investor melalui PT. Adaro Indonesia, PT. Arutmin Indonesia, dan PT. Bahari
Cakrawala Sebuku (CBS). Potensi batu bara sebagai SDA yang tidak pulih di Kalimantan Selatan
diperkirakan + 3 milyar ton. Catatan kantor Dinas Pertambangan Propinsi Kalimantan Selatan, PT AGM
telah mencatatkan produksi batubaranya sejak 1999. Sejak tahun 1998 hingga tahun 2001 PT AGM telah
memproduksi Batubara sebanyak 632.711 ton. PT AGM diberikan kesempatan bulk sampling sebesar
200.000 ton per tahunnya, tapi sejak tahun 2000 bulk sampling PT AGM telah mencapai lebih dari 200.000
ton/th.
Secara keseluruhan realisasi ekspor batu bara Kalsel per Januari September 2005 saat ini mencapai
volume 39.526.503.377,13 kilogram, atau naik sekitar 12,71 persen dari waktu yang sama pada periode
sebelumnya yang hanya 34.661.820.681,17 kilogram. Jumlah tersebut dipastikan terus bertambah hingga
akhir tahun 2005 (Desperindag Kalsel). Dari total volume tersebut diperoleh pendapatan sebesar Rp
1.262.582.117,73 atau naik sekitar 47,37 persen dari periode sebelumnya Rp 856.721.729,16.
Perhitungan ini tentunya diluar dari kegiatan pertambangan illegal yang marak di Kalimantan Selatan yang
mulai terasa sejak tahun 1999.
SDA lainnya adalah biji besi dengan potensi terbesar terletak di Tanah Bumbu yang diperkirakan sebanyak
140 juta ton. Selanjutnya Kotabaru, Tanah Laut dan Satui (B. Post, 25 April 2006) dengan kwalitas yang
cukup baik dengan kadar Fe mencapai 67. Adapun Tanah Laut telah meng ekspor biji besi + 300.000 ton
(Syaifullah Tamliha, 2006) ke China melalui PT. Kuang Ye Int. MD.
Berikut gambaran lengkap potensi tambang di Kab. Hulu Sungai Selatan sebagai gambaran
kekayaan SDA Pegunungan Meratus :
Bahan Tambang/
No.

Lokasi

Deposit

Ket

Kec. Loksado

Deposit yang

Galian
1.

Bijih Besi

Bahan Tambang/
No.

Lokasi

Deposit

Ket

Kec. Padang Batung

661,455 juta ton

ada merupakan

Kec. Loksado

160.38 juta m3

sumberdaya
hipotetik

Galian
2.

Batu Gamping

3.

Marmer

Kec. Loksado

90.105.599 m3

4.

Pospat

Kec. Padang Batung

41.512,3 ton

Kec. Telaga Langsat

12,89 juta ton

Kec. Padang Batung

4,68 juta m3

Kec. Angkinang*

176,852 juta ton

Kec. Sungai Raya

171.64 juta ton

5.

Lempung

Pasir Kwarsa

Kec. Padang Batung

10,08 juta ton

7.

Basalt

Kec. Padang Batung

769,388 juta m3

8.

Lava Basal

Kec. Loksado

540 juta m3

9.

Sirtu

Kec. Padang Batung

101,75 juta m3

10.

Tanah Urug

Kec. Padang Batung

238,825 juta m3

11.

Konglomerat

Kec. Sungai Raya

46,875 juta m3

12.

Granit

Kec. Lokasdo

13.

Granodiorit

Kec. Loksado

63,56 juta m3

14.

Batubara

Kec. Telaga Langsat

77.000 ton

Kec. Sungai Raya

632.812,5 ton

Kec. Padang Batung

20,36 juta ton

Sumber : Hasil Investigasi Advokasi Kamawakan oleh YCHI-Walhi-PIM Loksado, 2005 (Hebat kali udah bisa ngitung giniian)
Ket : * bukan kecamatan di kawasasan GB Meratus

Pegunungan Iban,
Potensi Bahan tambang yang terdapat di kawasan pegunungan Iban diantaranya Emas, Granit, Lempung,
Batu Gamping dan Mata air Asin. Berdasarkan data yang di dapat dengan pendekatan wilayah
adminstrasi adalah seperti tabel di bawah ini :
Tabel. Potensi Bahan tambang di Pegunungan Iban
LOKASI
No

Kab.

Nunukan

Kec.

Desa

Nunukan

Komoditi

Luas (ha)

Patner usaha

Trend pasar

Lempung

17,5

Bahan baku industri semen

Belum
dimanfaatkan

Bahan baku industri


keramik
Bahan baku industri cat
Bahan baku genteng dan
batu bata
Lumbis

Labang

Batu Gamping

Bahan baku industri semen

Belum
dimanfaatkan

Bahan penetral keasaman


tanah
Bahan campuran industri
keramik dan bahan
bangunan
Bahan campuran industri
Metalurgi
Krayan, Lumbis

Pasir kwarsa

Industri gelas, optik, industri

Belum

keramik

dimanfaatkan

Bahan kontruksi bangunan


Krayan

Buduk
Kinangan

Mata Air Asin

Industri garam

Dimanfaatkan
oleh masyarakat

LOKASI
No

Kab.

Komoditi
Kec.

Luas (ha)

Patner usaha

Trend pasar

Desa
untuk konsumsi
rumah tangga

2
3

Malinau

Long Nawang

Kutai Barat Long Pahangai

Emas

Emas

Sungai topai

Granit

Long
Pahangai
Sumber: Dinas Pertambangan Propinsi Kaltim Tahun 2003

Sumber Daya Mineral Dan Energi Diperkirakan :


<!--[if !supportLists]--> <!--[endif]-->Minyak : 1,17 Juta Mmstb (Million Metric Stock Tank Barrel)
<!--[if !supportLists]--> <!--[endif]-->Gas Bumi : 48.680 Bscf (Billion Standard Cubic Feet)
<!--[if !supportLists]--> <!--[endif]-->Batubara : 21,00 Milyar Ton
<!--[if !supportLists]--> <!--[endif]-->Emas : 60,50 Juta Ton.
<!--[if !supportLists]--> <!--[endif]-->Potensi Keragaman Hayati
<!--[if !supportFootnotes]-->[2]<!--[endif]-->Deretan pegunungan meluas dalam bentuk Y terbalik, melalui
bagian tengah dan bagian utara pulau ini. Pegunungan Schawaner di Kalimantan Tengah bertemu dengan
bagian barat pegunungan Kapuas Hulu disepanjang perbatasan Serawak dan Kalimantan, selanjutnya
meluas ke Utara melalui jajaran Iran sampai ke jajaran Crocker di Sabah. Satu cabang di bagian tenggara
meluas ke Pegunungan meratus di Kalimantan Selatan, yang merupakan daerah dengan flora tersendiri.
Kebanyakan gunung di Borneo termasuk dalam satu unit pusat boigeografi
>[R1]<!--[endif]-->

<!--[if !supportAnnotations]--

yang memiliki flora dan fauna pegunungan yang khusus pulau ini (MacKinnon dan

MacKinnon 1986). Gunung-gunung di Borneo dapat diibaratkan seperti pulau-pulau di lauatan hutan
basah dataran rendah, dan karena isolasi ini kemudian mengembangkan jenis-jenis unik. Dari jenis-jenis
endemik di Borneo, 23 jenis (73%) merupakan jenis pegunungan, demikian pula 21 dari 44 jenis mamalia
endemik di pulau ini. Namun disayangkan keragaman hayati pegunungan di Kalimantan baru sedikit yang
di eksplorasi secara ilmiah. Bukit Raya yang tingginya 2.728 m, barangkali merupakan gunung tertinggi di

Kalimantan yang paling banyak diteliti dan merupakan daerah yang tinggi keragaman hayati (Nooteboom
1987 ; MacKinnon).
Gunung Sebagai Pusat Keragaman Hayati<!--[if !supportFootnotes]-->[3]<!--[endif]-->
Gunung gunung merupakan daerah yang sangat menarik dari segi biologi, mewakili tempat
pengungsian Kala Pleistosen, pusat pembentukan jenis-jenis baru dan terjadinya endemisme. Endemisme
di gunung sangat tinggi untuk golongan binatang yang merupakan pemencar-memencar yang buruk,
misalnya amfibi dan invertebrata. Sisa-sisa hutan dataran tinggi di Tanzania, misalnya menunjukkan
endemisme di pegunungan Usambara Timur yang beragam dari 2% untuk mamalia sampai 95% untuk
golongan senggulung (Rodgers dan Homewood 1982). Pembukaan vegetasi pegunungan dan khususnya
hutan pegunungan dapat menyebabkan kepunahan jenis-jenis yang unik. Gunung-gunung di Borneo
dengan hutan dataran rendah di sekitarnya merupakan sebagian dari tempat-tempat keragaman hayati
penting di pulau ini.
Meratus :
Kawasan Meratus terkenal juga dengan endemisitas floranya, diantarnya adalah 12 jenis tanaman
endemik yang hanya ada di kalimantan. Mereka adalah keluarga palem paleman dan satu lagi adalah
Rhododendron alborugosum. Jenis tersebut sangat dicari oleh banyak kolektor termasuk Botanical
Garden Edinburgh Inggris. Sembilan jenis endimik lainnya adalah lahung (Durio dulcis), damar merah
(Shorea beccariana, S. parvistipulata), pitun (Shorea myrionerva), damar ( Shorea obscura, S. rugosa),
tengkawang ( Shorea stenoptera), resak (vatica enderti) dan binturung (Artocarpus lanceifolius). Selain itu
dikawasan ini juga terdapat hutan agathis (Aghatis beccari) yang kondisinya relatif masih baik di
kalimantan Selatan.
Kawasan ini sangat kaya dengan keragaman fauna. Sampai saat ini paling tidak telah tercatat sebanyak
89 jenis mamalia, 334 jenis burung, 132 jenis herpetofauna (amphibi dan reptil), 65 jenis ikan, 173 jenis
kupu-kupu yang tergabung dalam 417 jenis serangga.
Menurut regulasi perlindungan satwa baik internaional maupun nasional, tidak kurang dari 116 jenis satwa
yang dilindungi dapat dijumpai di kawasan ini, antara lain Macan Dahan (Neofelis nebulosa), Owa owa
(Hylobates albibarbis), Hirangan (Presbytis frontata) Bekantan (Nasalis larvatus), Lutung Merah (Presbytis
rubicunda), Ayam Hutan (Lophura ignita) dan Cukias (Lophura bulweri), Betet-kelapa Filipina (Ciconia
stormi), Elang Walacea (Spizaetus nanus), Biawak (Varanus salvator) Ular Sendok (Naja sumatrana), King
Cobra (Ophiophagus hannah), Jelawat (Tor tambra), Trogonoptera brookiana albescens, dan Troides
amphyrisus thomsonii. Tingkat endemisitas satwa di kawasna ini pun cukup tinggi, dimana tidak kurang
dari 75 jenis.

Muller :
Ekosistem
Terdapat 8 (delapan) tipe ekosistem yang dicuplik dari ketinggian 150 1.150 mdpl. Dari 8 tipe hutan itu,
ialah tipe hutan Dipterocarpaceae dataran rendah (Dipterocarpus, Dryobalanops, Hopea, Paras horea,
shorea, Vatica); hutan alluvial; hutan rawa; hutan sekunder tua; hutan Dipterocarpaceae bukit; hutan
berkapur; hutan sub gunung; hutan gunung.
Flora
Masuk ke dalam 8 tipe hutan di atas dengan ketinggian 50 - 1.150 mdpl terdapat 695 jenis pohon, terdiri
dari 15 marga dengan 63 suku dan 50 jenis antaranya endemic pulau Borneo. Kerabat kayu Gaharu
(Amyxa pluricor), misalnya jenis pisang baw (Musa lawitienisi); jenis baru lainnya seperti Neo uvaria,
Acuminatissima, Castanopsis inermis, Lithocarpus phillipinensis, Chisocheton caulifloris, Eugenia spicata,
Shore peltata. Suku Dipterocarpaceae terdapat 121 jenis, Shorea terdapat 30 jenis, Euporbiaceae
terdapat 73 jenis, Clusiaceae terdapat 33 jenis, Burseraceae terdapat 30 jenis, Myrtaceae terdapat 28
jenis.
Fauna
Di dalam kawasan TNBK terdapat 48 jenis mamalia, diantaranya Harimau dahan, Kucing hutan, Beruang
madu, Kijang, Kaijang emas, Rusasambar, Kancil Berang-berang. Terdapat 7 jenis kelompok primate,
seperti Orang utan, Kelampiau, Hout, Kelasi, Beruk, Kera, Tarsius. Dari kelompok burung yang
teridentifikasi ada 301 jenis dengan 151 marga dan 36 suku, 15 jenis migrant, 6 jenis temuan baru di
Indonesia (Accipernisus, Dendricitta cinerasceus, Ficudela parva, Luscinia calliope, Pycononotus
flasvescent, Rhinom yas brunneata), 6 jenis burung yang dilindungi UU, Enggang gading, 24 jenis
endemic Borneo. Untuk reptilian dan amphibian, ada sekitar 1.500 specimen, 103 telah diidentifikasi
dengan 51 jenis amphibi, 26 jenis kadal, 2 jenis buaya, 3 jenis kura-kura, 21 jenis ular dan 1 katak terkecil
di dunia (Leptobrachella myorbergi) kurang dari 1 Cm dewasanya. Untuk jenis ikan ada 4.000 specimen
dengan 112 jenis ikan, 41 marga, 12 suku dan 14 jenis endemic Borneo.
Eksistensi jenis mamalia besar, misalnya banteng dan badak di Pulau Kalimantan, adalah berdasarkan
informasi masyarakat sekitar yang pernah melihatnya di sekitar Sungai Boh di Kaltim, ataupun petunjuk
lainnya seperti daerah mengasin atau sumber air garam, serta jejak kaki. Namun, perburuan yang keras
terhadap jenis badak di masa lalu telah berdampak signifikan terhadap kelangkaan dan kepunahannya
sekarang ini.

Sedangkan untuk Orangutan di Kaltim, penyebarannya banyak dibatasi keganasan Sungai Mahakam.
Sebaliknya migrasi babi hutan di daerah Kaltim dari sebelah utara ke selatan lebih banyak dibatasi oleh
Pegunungan Muller di sebelah barat dan Sungai Mahakam di arah selatan.
Sungai Mahakam menjadi pembatas ekologi bagi banyak mamalia yang tidak dapat berenang, kecuali
bekantan di daerah hilir sungai, ataupun jenis arboreal yang bergelantungan pada cabang dan ranting
pohon yang menjulur ke seberang sungai, misalnya, jenis owa.
Tipe hutan tropis dataran rendah adalah hutan yang terdapat di kaki Pegunungan Muller, baik di sebelah
Kalteng maupun Kaltim. Di sini terdapat jenis-jenis komersial, seperti jenis dari meranti-merantian (famili
dipterocarpaceae) ataupun jenis ulin (famili lauraceae). Keragaman jenis dari famili dipterocarpaceae ini
terus menurun dengan naiknya ketinggian tempat, terbanyak adalah sekitar 134 jenis pada ketinggian di
bawah 100 meter.
Panas yang tinggi dan level oksigen yang rendah dapat menghilangkan jenis-jenis tertentu dari tumbuhan
dan hewan perairan. Kekayaan jenis ikan perairan tropis cukup tinggi, di mana sejumlah 394 jenis di
antaranya terdapat di Borneo dan sekitar 149 jenis di antaranya adalah endemik.
Kekhasan Ekosistem dan bervariasinya keadaan topografi kawasan memberikan peluang untuk hidupnya
beranekaragam jenis tumbuhan yang hidup pada beberapa tipe ekosistem. Kawasan ini merupakan
ekosistem hutan dataran rendah hingga dataran tinggi yang mempunyai keanekaragaman jenis
tumbuhan.
Pada tipe ekosistem hutan daratan rendah didominasi oleh jenis dari family Dipterocarpaceae seperti
Tengkawang tungkul (Shorea sp). Jenis lainnya seperti Jelutung (Dyera costulata), Pulai (Alstonia
scholaris) dan Belian (Eusideroxylon zwageri). Dari family Palmae ditemukan jenis Bambu (Bambusa spp),
Rotan (Calamus sp) dan Aren (Arenga pinata).
Tipe vegetasi Daratan sedang masih didominasi oleh jenis-jenis dari family Dippterocarpaceae seperti
Meranti (Shorea sp), Resak (Vatica sp) dan Kapur (Driyobalanops sp). Jenis lainnya adalah Ubah
(Syigium sp), Medang (Litsea sp), Bintangor (Callophylum inofilum) dan Durian burung (Durian carinatus).
Pada Tipe Vegetasi Daratan Tinggi masih ditumbuhi berbagai jenis meranti. Jenis lain yang khas pada tipe
vegetasi ini adalah jenis Cemara gunung (Casuarina junghuniana) dan Ubah ribu (Syzigium sp).
Perbedaan yang terlihat jelas pada tipe vegetasi ini adalah munculnya lumut-lumut hijau di setiap batang
tumbuhan. Pada tipe vegetasi Puncak Pegunungan, ukuran tumbuhan semakin kecil dan lumut-lumut
hijau semakin tebal menempel di kulit pohon. Di antaranya jenis Cemara gunung (Casuarina
junghuniana), Pandan (Pandanus sp), Rotan (Calamus sp) dan beraneka ragam jenis Kantong semar
(Nephentes sp).

Jenis satwa yang mendominasi dan paling sering terlihat di kawasan ini adalah jenis Primata (Monyet)
seperti Orangutan (Pongo pygmaeus), Kelempiau (Hylobathes moloch) dan Kera ekor panjang (Macaca
fascicularis). Jenis Mamalia lain yang sering terlihat di antaranya Beruang madu (Helarctos malayanus),
Rusa (Cervus unicolor) dan Pelanduk (Tragulus napu). Jenis burung yang paling menonjol di kawasan ini
adalah berbagai jenis Enggang (Bucerotidae), termasuk jenis Enggang Gading (Rhinoplax vigil) yang
menjadi maskot fauna Kalimantan Barat.<!--[if !supportFootnotes]-->[4]<!--[endif]--> Sayangnya enggang
yang menjadi kebanggaan itu, saat ini sulit ditemui.
Di Kawasan TNBK yang termasuk dalam kawasan GB Muller pernah dilakukan inventarisasi, hasilnya
sebanyak 1.200 jenis tumbuhan, 159 jenis burung, 24 jenis kupu-kupu, 282 jenis ngengat, 17 jenis reptil
dan 11 jenis ampibi, 41 invertebrata gua, dan 82 jenis ikan. Tercatat sedikitnya 40 jenis tumbuhan,
sembilan jenis ikan, dan 10 jenis burung yang endemik Kalimantan. Untuk jenis yang tergolong langka,
setidaknya ada 10 jenis tumbuhan dan delapan jenis satwa berupa enam jenis burung, satu jenis macan
dahan, dan satu jenis bulus. Disebutkan juga, ada lima jenis ikan dan satu jenis tumbuhan yang termasuk
jenis yang baru tercatat, serta sejumlah jenis flora dan fauna yang diduga jenis baru, seperti Thismia
mullerensis.<!--[if !supportFootnotes]-->[5]<!--[endif]-->
Schwaner :
Ekosistem
Dilihat dari keberadaan ekosistem di wilayah green belt pegunungan Schwaneer yang masuk dalam
kawasan TNBB TNBR , berdasarkan Management Plan 25 tahun TNBB-TNBR, ekosistem hutan
Dipterocarpaceaea terletak 100 - 1.000 mdpl, hutan perbukitan 1.000 1.500 mdpl, hutan pegunungan
1.500 2.000 mdpl, hutan lumu > 2.000 mdpl atau <>Menurut Steenis analisis Citra Landsat ada 3 tipe
ekosistem :
<!--[if !supportLists]-->a. <!--[endif]-->Tipe Zona Tropika; tersebar di seluruh areal <>
<!--[if !supportLists]-->b. <!--[endif]-->Tipe Ekosistem Pegunungan Bawah; tersebar di ketinggian
1.000 1.500 mdpl seluas 58.489,26 Ha (32,30%) dari luas kawasan, mencakup hutan primer
45.637,8 Ha, hutan bekas tebangan 9.587,07%, non hutan 2.340,03 Ha.
<!--[if !supportLists]-->c. <!--[endif]-->Tipe Pegunungan Atas; menyebar di ketinggian > 1.500 mdpl
seluas 6.930 Ha (3,83%) dari luas kawasan, mencakup hutan primer 6.420, 93 Ha, bekas hutan
tebangan 299,81 Ha.
Ekosistem pegunungan bawah memiliki keragaman jenis pohon serta individu yang lebih tinggi dari zona
lainnya. Membuat ekosistem berupa flora fauna dan plasma nuftah dikawasan ini beragam sesuai dengan
tingkat tipe ketinggian perbukitan. Untuk di Desa Nanga Kalan sendiri, masuk ke dalam tipe zona tropika

yang mana di sekitarnya banyak terdapat jenis kayu belian dan pepohonan buah-buhan yang bersifat keras
(cempedak, langsat, durian) secara alamiah. <!--[if !supportAnnotations]-->[R2]<!--[endif]--> Keadaan flora juga
didominasi akan jenis hama bagi peladang, seperti kijang, pelanduk, trenggiling, babi, kera serta jenis
predator pada belalang1.
Perubahan ekosistem yang disebabkan oleh aktivitas kehutanan, menyebabkan hilangnya rantai kehidupan
di sekitar Desa Kalan dengan serangan hama belalang. Kejadian hama belalang ini pada musim panen
tahun 2005, yang menyebabkan gagal panen dan memperoleh kerugian sekitar 2 juta per KK yang
membuka ladang1.
Di kawasan mendalam yang merupakan kawasan TNBK dan berada di tengah Pegunungan Kapuas Hulu
dan Peg Muller yang terletak di kabupaten Kapuas Hulu, terdapat jenis endemic kayu atau pohon
Kalimantan kerabat kayu gaharu serta jenis endemic primata Kalimantan merupakan suatu potensi tersendiri
dalam peruntukan kawasan konservasi. Namun dengan potensi ini mengakibatkan tergiur pengusaha
kehutanan untuk memanfaatkan potensi kayu yang ada di dalam hutannya. Ini terjadi suatu kehilangan jenis
flora-fauna yang dianggap saklar oleh masyarakat di sekitar kawasan Mendalam hilang bahkan punah,
seperti jenis kayu belian, meranti, mayas (orang utan), enggang gading dan burung pungkapung/kroak
sejenis burung untuk menunjukan keberuntukan kawasan perladangan. Dari jenis flora dan fauna yang
dulunya dimiliki di sekitar kawasan Mendalam, dipercaya oleh masyarakat sebagai suatu pemebritahuan
musim, karena dengan adanya burung enggang sering dipercaya kemunculannya dan suaranya tersebut
menandakan akan terjadinya suatu perubahan musim 1.
Berdasarkan Management Plan 25 tahun TNBB-TNBR, ekosistem hutan Dipterocarpaceaea terletak 100 1.000 mdpl, hutan perbukitan 1.000 1.500 mdpl, hutan pegunungan 1.500 2.000 mdpl, hutan lumu >
2.000 mdpl atau <>
Tipe Zona Tropika; tersebar di seluruh areal <>
Tipe Ekosistem Pegunungan Bawah; tersebar di ketinggian 1.000 1.500 mdpl seluas 58.489,26 Ha
(32,30%) dari luas kawasan, mencakup hutan primer 45.637,8 Ha, hutan bekas tebangan 9.587,07%,
non hutan 2.340,03 Ha.
Tipe Pegunungan Atas; menyebar di ketinggian > 1.500 mdpl seluas 6.930 Ha (3,83%) dari luas kawasan,
mencakup hutan primer 6.420, 93 Ha, bekas hutan tebangan 299,81 Ha.
Ekosistem pegunungan bawah memiliki keragaman jenis pohon serta individu yang lebih tinggi dari zona
lainnya.
Flora

Telah terinventarisasi ada 817 jenis (610 marga dalam 139 suku).vegetasi hutan ekosistem tropika
tersebar di sepanjang Sungai Jelundung, Serawai dan sungai kecil lainnya dengan jenis khas
Dipterocarpus oblongifolius, Salacca zalacaa, Neuclea rivularis, Osmoxylon helleborinum, Pinanga
rivularis, Saurauria angustifolia, Dipteres lobiana, Asplenium sabaquatile, Tectaria hosei, Bolbitis sinuatar
Jenis umum, Pandanus sp., Elaeocarpus glaber, Ficus riber, Ficus microcarpa, Ficus macrostyla, Michelia
sp., Artocarpus altilis, Pometia piata, Pterospemum sp., Rhododenron sp., Schefflera sp., Dillenia
beccariana, Lithocarpus cooertus dan Knema sp. Pada ketinggian 250 -700 mdpl pada lereng bukit di
dominasi famili Dipterocarpaceaea, genus Shorea spp, Hopea spp, Agathis bomeensis. Ketinggian 700
1.000 mdpl di dominasi famili Dipterocarpaceaea juga Myrtaceae, Sapotaceae, Lauraceae,
Euphorbiaceaea dan ada Rafflesia tuan-mudae Becc, Palem-paleman (Areca spp, Igunura walici, Pinanga
spp). Ketinggian 1.000 1.200 mdpl terdapat hutan kerangas dari suku Myrtaceae jenis (Syzigium
rhamphiphyllum, Syzigium rosttratum, Syzigium lineatum). Ketinggian 1.200 1.600 mdpl hutan tipe
kerangas dengan suku Euphorbiaceae, Sapotaceae, Lauraceae, Fagaceae dengan jenis Aporosa sp,
Palaquium dasyphyllum, Litsea densifolia, Baccaurea racemosa, Listhocarpus ewyckii. Ketinggian 2.000
2.278 mdpl ditemukan hutan lumut yang di dominasi dari suku Ericaceae, Rubiaceae serta jenis palma
dan liana, juga ditemukan anggrek (Apendicula alba, Trichostosia lanseolaris, Trischostosia velutina).
Selain itu juga ada jenis tumbuhan Bungon Pemaceh sebagai obat kontrasepsi, pasak bumi Seloang
Belum sebagai obat kuat (tonik), Ramoy sebagai obat diare, Liana Kanyong sebagi racun di ujung
tombak atau anak panah, Bayan Akah kulit berwarna kuning sebagai pematik api.
Fauna
Terdapat 221 jenis yang telah diidentifikasi, terdiri dari 65 jenis mamalia, 140 jenis aves (burung), 9 jenis
reptilian, 7 jenis amphibian. Jenis Primata dari ketinggian 100 1.200 mdpl ada lutung, Wau-wau tangan
hitam, Kelasi; dikawasan punggung perbukitan sekitar sungai Ella terdapat jalur jelajah Orang utan dan
Singapuar. Di sekitar kawasan terbuka (kawasan HPH dan sekitar ladang) terdapat Rusa sambar, jenis
Ungulata (Kancil, Napu, Kijang), Musang congkok, Musang bogoh, Musang bergaris, Linsang bergaris,
Tenggalung, Kucing hutan. Pada sekitar lereng ketinggian 400 700 mdpl terdapat landak, beruang, tupai
besar, tupai bergaris, tupai hitam bergaris. Binatang pengerat pada ketinggian 2.000 mdpl ada Tupai
pohon, bajing kecil, bajing tanah bergaris tiga, bajing tanah, bajing kelapa. Informasi dari masyarakat
binatang yang punag ada Badak, Tembadau (Banteng), Ikn duyung (Duyung Irawadi). Burung terdapat 8
jenis endemic Borneo, 52 jenis burung dilindungi UU, 2 jenis burung new record (Punai Imbuk, Uncal
merah), Burung Ruai, burung Kuau kerdil Burung Enggang gading. Jenis Herpetofauna seperti Kodok ada
91 jenis, seperti Kodok Bako dan Ular 168 jenis, biawak hijau, ular Lamaria schegeli, kadal
Spenomorphus sp, kura-kura. Jenis insekta seperti keluing pil raksasa, keluing biasa keluing raksasa,
keluing bergerigi, kelabang, serangga ranting dan daun (belalang ranting dan muda), jenis Tongerert.
Jenis Capung seperti capung jarum ekor porok, capung jarum merah capung jarum zamrud, bangsa

capung (sibar-sibar betina, sibar-sibar merah, sibar-sibar putih susu, sibar-sibar cincin mas, sibar-sibar
raja, sibar-sibar merah hitam, sibar-sibar hijau. Jenis Kupu-kupu seperti kupu-kupu sayap burung, kupukupu jeruk sayap panjang, kupu-kupu sayap burung paris, kupu-kupu jesebel.
Vegetasi di Bukit Raya secara vertikal dapat dibagi dalam zona-zona menurut ketinggian dan tipe tanah.
Secara keseluruhan kawasan ini tertutup oleh vegetasi tingkat pohon yang penyebarannya bervariasi dari
kaki bukit hingga ke puncak puncaknya. Vegetasi pada dataran rendah (kaki bukit) hingga ketinggian 400
m dpl menunjukkan kekhasan hutan hujan dataran rendah yang mengandung 30% species dari famili
Dipterocarpaceae. Tipe vegetasi penyusun hutan berubah secara bertahap berdasarkan ketinggian
tempat.
Jenis tumbuhan dan famili Dipterocarpaceae didominasi jenis Shorea spp dan Hopea spp. Sedangkan
jenis lainnya terdapat Agathis bornencis dan beberapa jenis dari famili Myrtaceae dan Sapotaceae. Pada
ketinggian antara 1.000 - 1.200 m dpl (sekitar Bukit Birang Merabai) dan di lereng Bukit Baka merupakan
tipe hutan kerangas yang ditandai dengan dominannya jenis Podocarpus imbricatus. Sedangkan pada
daerah puncak Bukit Raya ditemukan berbagai jenis dari famili Ericaceae.
Salah satu jenis flora dilindungi yang ditemukan di kawasan ini adalah Bunga Rafflesia spp. Diduga jenis
tumbuhan ini memiliki persamaan dengan hasil penemuan di kawasan Taman Nasional Kinabalu Serawak
Malaysia.
Jenis fauna yang menjadi primadona kawasan ini adalah jenis burung Enggang Gading (Buceros vigil).
Burung jenis ini mempunyai kisaran jelajah yang tidak terlalu jauh dari sarangnya, yang dibuat di
sepanjang sungai. Satwa liar lainnya yang sering dijumpai, diantaranya berbagai jenis mamalia darat,
seperti Beruang madu (Helarctos malayanus), Macan dahan (Neofalis nebulosa), Babi hutan (Sus
barbatus), Kancil (Tragulus sp) dan berbagai jenis Primata, terutama Kelempiau/Owa (Hylobathes agilis).
Pegunungan Iban :
Kawasan ini memiliki kenakeragaman hayati yang berlimpah. Penelitian-penelitian yang berusaha
menggali potensi keanekaragaman hayati terus berlangsung. Pada tahun 1997 telah dilakukan Borneo
Biodiversity Expedition to the Trans-Boundary Conservation Area of Betung-Kerihun National Park (West
Kalimantan, Indonesia) and Lanjak-Kentimau Wildlife Sanctuary (sarawak, Malaysia) yang merupakan
daerah Green Belt Pegunungan Iban disponsori oleh ITTO dan melibatkan sejumlah ilmuwan dan
kelembagaan dari kedua negara dengan beberapa temuan antara lain:
<!--[if !supportLists]--> <!--[endif]-->Pada kedua kawasan lindung tersebut ditemukan sejumlah
jenis tumbuhan yaitu genera Laxocarpus, Ardisia, Lepisanthes, Microtopis dan Jarandersonia.
<!--[if !supportLists]--> <!--[endif]-->Tumbuhan langka Cyrtranda mirabilis di TN Betung-Kerihun.

<!--[if !supportLists]--> <!--[endif]-->Diidentifikasi 62 jenis palem-paleman dimana 2 diantaranya


jenis baru.
<!--[if !supportLists]--> <!--[endif]-->Kedua kawasan kaya akan jenis Dipterocarpaceae, terutama
di Sarawak.
<!--[if !supportLists]--> <!--[endif]-->Tercatat 125 jenis ikan dari 12 famili (91 jenis ikan di Kalbar
dan 61 jenis di Sarawak). Dua jenis ikan dari genus Glaniopsis dan sejenis ikan Gastromyzon
ditemukan pertama kali di Kalimantan.
<!--[if !supportLists]--> <!--[endif]-->Ditemukan 291 jenis burung dari 39 famili termasuk di
dalamnya 20 jenis endemik dan 17 jenis burung migran yang secara keseluruhan mewakili 70%
avifauna hutan daratan rendah Kalimantan.
<!--[if !supportLists]--> <!--[endif]-->Tercatat 41 jenis tumbuhan obat-obatan, 144 jenis tumbuhan
menghasilkan bahan makanan, 38 jenis tumbuhan untuk upacara, 30 jenis tumbuhan untuk bahan
bangunan dan 60 jenis tumbuhan untuk berbagai macam bahan bangunan
<!--[if !supportLists]--> <!--[endif]-->Ditemukan tumbuhan Hornstedtia spp yang digunakan sebagai
indikator untuk menunjukkan bahwa lahan perladangan gilir balik sudah ditanami kembali.

C.1.2. Potensi Jasa Lingkungan


<!--[if !supportLists]--> <!--[endif]-->DAS
Pegunungan Meratus memiliki nilai penting sebagai pengatur tata air yang meliputi penyerapan curah
hujan dan mengalirkannya ke dalam sistem drinase yang berada di bawahnya. DAS Barito, Das
Sampanahan dan DAS Satui
Muller<!--[if !supportFootnotes]-->[6]<!--[endif]--> : Kondisi Sungai Barito berbeda dengan kondisi di
Mahakam, di mana air Sungai Barito terlihat lebih berwarna gelap dibanding Sungai Mahakam. Hal ini
diduga karena daerah hulu Barito adalah daerah yang kaya dengan hamparan rawa dan rawa gambut.
Air tanah yang meresap melalui media yang masam seperti gambut akan mengakibatkan airnya menjadi
sangat masam dan berwarna hitam.
Sungai Barito dan Mahakam dicirikan oleh zona riam yang ganas, memiliki karakteristik sangat berbeda
dengan zona arus lambat, di mana kecepatan arus bertambah dan tidak adanya endapan-endapan pasir,
juga berbagai material yang mengendap pada dasar sungai.

Salah satu pemandangan yang agak asing adalah teridentifikasinya sejumlah besar serangga air (famili
ephemeroptera, mayflies) di atas perairan Sungai Barito pada sore hari yang memberikan nuansa warna
putih di sekitar permukaan air.
Tumbang Keramu dan Tumbang Topus adalah dua desa terujung di hulu Barito sehingga lebar Sungai
Barito sudah terasa menyempit. Sedangkan daerah Penyungkat adalah daerah anak Sungai Mahakam,
yaitu di Sungai Sebunut dan daerah Long Bagun, tempat tim ekspedisi turun dari Penyungkat. Daerah ini
belumlah daerah yang terakhir di hulu Mahakam.
Daerah Penyungkat di kaki Muller adalah daerah cagar alam, atau paling tidak semestinya berupa hutan
lindung. Meski demikian, di daerah ini masyarakat sudah mulai membuka hutan untuk berladang dan
mengambil kayu secara ilegal. Diperlukan suatu keseriusan untuk menyelamatkan hutan di kawasan ini
yang merupakan hulu dari anak-anak sungai yang menuju ke Mahakam dan Barito.
Menyelamatkan daerah Muller suatu keharusan karena di sana berawal banyak anak sungai yang
bermuara ke Sungai Barito dan Mahakam. Ancaman kerusakan dari daerah Kaltim diperkirakan lebih
besar mengingat tipe hutan di bawah dinding Muller masih memiliki keragaman jenis yang tinggi dan
menyimpan potensi besar untuk kayu-kayu komersial.
Dari kaki-kaki pegunungan Muller mengalir sungai-sungai kecil yang membentuk DAS besar seperti DAS
Kapuas, DAS Sibau, DAS Mendalam, DAS Bungan dan DAS Embaloh.<!--[if !supportFootnotes]-->[7]<!-[endif]-->
Pegunungan Iban :
Daerah Aliran Sungai (DAS) yang terbentuk dari hulu sungai-sungai yang mengalir ke Provinsi Kalimantan
Timur dan Sarawak adalah DAS Simenggaris. DAS ini luasnya 89.275 ha dengan pola drainase
paralel,yang terdiri dari Sub DAS Simaja dan Wawasan. Panjang aliran utama sekitar 60 km dengan lebar
antara 50-60 meter dan semakin melebar (> 200 meter) pada bagian muaranya. Dasar sungai bagian hulu
berpasir dan pada bagian hilirnya berlumpur sampai sepanjang kurang lebih 20 km dari pantai. Aliran
sungai Simenggaris masih dipengaruhi oleh pasang surut air laut.<!--[if !supportFootnotes]-->[8]<!-[endif]-->
Pada wilayah perbatasan ini juga terdapat DAS Tabur yang didalamnya terdapat areal kerja HPH seluas
5.780 ha. DAS ini merupakan aliran drainase pantai dimana seluruh wilayahnya berupa rawa dan bakau
serta dipengaruhi oleh pasang surut. Panjang aliran sungai Tabur sekitar 39,5 km dengan lebar antara 20
50 meter serta dasar sungai berpasir berlumpur. Selain itu terdapat pula DAS Sebuku yang
mempunyai pola drainase modifikasi dendritik dengan luas sekitar 68.350 ha. Panjang aliran sungai yang
masuk dalam areal HPH sekitar 52 km dengan lebar sungai antara 20 50 meter dan kedalaman antara 1

3 meter. Dasar dan tepi sungai berbatu pada bagian hulu ditumbuhi oleh vegetasi semak. DAS Sebuku
terdiri dari Sub DAS Kapukan, Agison, Tepilan dan Apan. DAS Sebakung seluas 101.595 ha mempunyai
pola drainase dendritik, berhulu di Sabah (Malaysia) dan bermuara di Laut Sulawesi (Selat Makasar).
Panjang aliran sungai Sembakung adalah sekitar 115 km, lebar antara 35 50 meter dan secara umum
DAS Sembakung mempunyai arus sungai dari agak deras sampai dengan deras, dengan kecepatan aliran
rata-rata sekitar 0,45 meter/detik. Dasar sungai berbatu dan dijumpai adanya beberapa riam (jeram) di
bagian hulu. Tebing sungai berlereng agak curam sampai curam yang ditumbuhi vegetasi semak, dan
sungai ini tidak dipengaruhi oleh pasang surut air laut 8.
Sebuah lembaga Internasional pernah melakukan penelitian di sebuah DAS untuk menilai secara ekonomi
air dari Sungai Kelay dan Sungai Segah. Diperkirakan kedua sungai tersebut memiliki nilai per tahun saat
ini sekitar Rp. 48.2 miliar, atau sekitar US $ 5.62 juta. Area berhutan dari daerah aliran sungai (DAS) Kelay
dan Segah juga memberikan fungsi ekologi yang penting dalam pengaturan kecepatan arus dan muatan
sedimen, dan penyediaan air untuk masyarakat dan sistem pertanian. Melalui penyediaan fungsifungsi
tersebut infrastruktur penting dan sistem pengairan dilindungi, dan kualitas air terjaga. Hutan-hutan
tersebut merupakan bagian penting dari karakter fisik dan ekonomi Kabupaten Berau, dan akan terus
menjalankan peran penting pada pembangunan masa mendatang. Hubungan antara hutan, air, ekonomi
dan kesejahteraan masyarakat,<!--[if !supportFootnotes]-->[9]<!--[endif]-->
Schwaner :Rantai pegunungan Schwaner tersebut merupakan daerah tangkapan air utama untuk Sungai
Kapuas di Kalimantan Barat dan Sungai Katingan di Kalimantan Tengah. Sebagai daerah tangkapan air
dan persediaan air serta kawasan perlindungan tata air untuk DAS Melawi (Kal-Bar) dan DAS Katingan
(Kal-Teng). Muara DAS melawi meliputi Sungai Ella hilir, Juoi, Umbak, Sangkei, Mentatai, Serawai,
Labang, Jelundung, Lekawai, Ambalau; Muara DAS Katingan meliputi Sungai Bimban, Tai, Hiran, Samba,
Senamang. Pada bagian hulu DAS banyak terdapatriam/jeram dan air terjun yang dipengaruhi curah
hujan. Dengan kondisi geologi perbukitan & pengendapan di kawasan bukit serta keadaan tanah yang
berupa podsolik merah kuning yang berasal dari batuan endapan, ini merupakan suatu potensi yang
sangat besar dalam pertambangan di wilayah pegunungan Schwaner. Jenis potensi tersebut berupa
bahan tambang yang tergolong ke dalam golongan galian C yang sangat berpotensi, seperti Batubara,
Uranium, Antimoni.
Muller & Kapuas:
Ada ratusan jaringan sungai kecil dan besar masuk dalam system DAS Kapuas, dan beberapa sub DAS,
diantaranya Sub DAS Embaloh di bagian Barat, Sub DAS Sibau Menyakan dan Sub DAS Mendalam di
bagian tengah, Sub DAS hulu Kapuas/Koheng dan Sub DAS Bungan di bagian Timur. Sub DAS Embaloh
bermuara di Nanga Embaloh di DAS Kapuas, menjadi andalan penduduk di Banua Martinus dan Nanga

Embaloh serta ibukota kecamatan Embaloh hilir. Selain itu juga sebagai tempat pencarian menangkap
ikan dan sebagai sarana transportasi sungai.
Sub DAS Sibau; terletak di sebelah Timur Sub DAS Embaloh dengan batas puncak Gunung Lawit,. Sub
DAS Mendalam; terletak di sebelah Timur Sub DAS Sibau dengan karakter aliran sungai deras di
perhuluannya. Dimana juga banyak ditemui sumber air yang lebih asin (Sepan) ketika air sungai meluap.
Sub DAS Kapuas Koheng; merupakan ujung (Uncak) Kapuas merupakan bagian dari pegunungan Muller.
Karakter sungai banyak berjeram/riam dengan tertinggi pada jeram matahari yang juga mengandung
mineral emas dan di rambah secara tradisional.
Sub DAS Bungan; terletak di Selatan Sub DAS Kapuas Koheng berbatasn dengan Kal-Tim dan Kal-Teng
masuk dalam jajaran pegunungan Muller. Karakter sungainya banyak jeram/riam dan gua alam akibat
susunan geologi berupa batuan kapur.
Panjang Sungai Embaloh 95 Km di ukur dari puncak Gunung Tunggal sampai muara Sungai Paloh;
panjang Sungai Sibau 25 Km dari mata air Gunung Aseh; panjang Sungai Menyakan 65 Km dari mata air
Gunung Lawit; panjang Sungai Mendalam 30 Km dari mata air Gunung Batu; panjang Sungai Hulu
Kapuas/Koheng 100 Km dari mata air Gunung Cemaru; panjang Sungai Bungan 50 Km dari mata air
Gunung Liang Cahung. Tipe sungai kelurusan yang dapat berupa patahan-patahan/kekar-kekar dengan
jurang yang terjal dan licin serta berlantai dasar batuan induk hitam akibat aktivitas vulkanik pada PostEocene. Panjang dan kondisi sungai bervariasi mulai yang lebar, sempit, keruh, jernih, dalam, dangkal,
berlumpur, berbatu berans (tenang, deras, jeram yang cukup tinggi).
Potensi sosial terutama budaya dan etnik Dayak. Dari rumah panjang (Betang) di Kal-Bar, (Umak) di KalTim sampai ke barang kerajinan, makanan, minuman, tarian, upacara tardisi dan kearifan local
masyarakat dalam berinteraksi dengan alam, bukit Lanjak, Desa Sei Sedik, Desa Ukit-ukit, Dusun Sungai
Ulu Palin. Penduduk yang mendiami di sekitar pegununagn Muller & Kapuas Hulu ialah suku Dayak.
Dimana tersebar pada bagian-bagian sesuai dengan mata angin yang membentang di pegunungan, pada
bagian Barat di humi Dayak Iban dan Tamambaloh, di bagian Tengah Dayak Bukat, di bagian Timur Dayak
Punan. Masyarakat mengandalkan Sumber Daya Alam seperti peladang, pemungut gaharu, pemungut
tengkawang, pemburu dan pencari ikan. Dari jumlah penduduk relative kecil jika dibandingkan dengan
luas kawasan penyangga TNBK. Pembuatan zona pemanfaatan tradisonal/enclave terhadap desa di
kawasan TNBK salah satu alternative mengatasi permasalahan pengelolaan kawasan yang penduduknya
makin bertambah.<!--[if !supportAnnotations]-->[R3]<!--[endif]-->
<!--[if !supportLists]--> <!--[endif]-->Wisata
Schwaner : Kekayaan sumber daya alam, panorama alam dan beranekaragam fenomena alam serta
berbagai jenis budaya masyarakat setempat. Kegiatan pendakian ke puncak Gunung(Bukit) Raya (2.278

m dpl) merupakan puncak gunung tertinggi di Kalimantan (bagian Indonesia), sumber air panas yang
terdapat di Sungai Bukit Rimban, terletak di atas Desa TumbangTabulus serta kehidupan masyarakat
Dayak dan Melayu yang bermukim di sekitar kawasan.
Wisata Sejarah Rumah Betang di Kecamatan Katingan Hulu merupakan keunikan sosial budaya tersendiri
yang berpotensial mendatangkan wisatawan yang tertarik dengan wisata budaya dan alam.
Dari peta RTRWK Kabupaten Gunung Mas setidaknya terdapat 3 kawasan wisata alam yang berada di
Kawasan Schawaner dan Muller, namun dalam dokumen tersebut tidak disebutkan namanya.
Muller : Menyusuri sungai dan melewati jeram-jeram di sepanjang Sungai Sibau, Embaloh dan Kapuas
hingga ke Sungai Mahakam memberikan kesan petualangan yang sangat menyenangkan serta
pemandangan bentang daratan yang ditutupi kabut pada bagian-bagian puncak bukit, serta terkadang
melintas berbagai jenis satwa liar seperti Burung Enggang (Bucerotidae) dan Rusa menimbulkan kesan
alami bagi penikmatnya. Disamping itu beraneka ragam pola kehidupan masyarakat yang tinggal di
sepanjang sungai merupakan hal yang tak kalah menariknya.
Suasana seperti ini tentu merupakan suatu daya tarik yang memikat bagi para wisatawan khususnya dari
mancanegara yang lebih menyenangi kegiatan petualangan di alam bebas.
Ada beberapa potensi yang terdapat di kawasan TNBK, seperti pemandangan yang unik dan jalur
pendakian; pendakian G. Betung 1.150 mdpl dan G. Condong 1.240 mdpl, G. Lawit 1.770 mdpl, G.
Kerihun 1.790 mdpl; telah dipromosikan melalui equator expedition; arung sungai dan jeram di Sungai
Bungan dan jeram matahari; Sepan, tempat minum binatang; pegunungan kapur dan gua di hulu Sungai
Bungan, Orang Punan Hovongen menyebutnya Diang (lubang gua) di Tanjung Lokang.
Iban : Wisata budaya yang merupakan kekayaan nilai nilai tradisional yang masih melekat secara kuat
dalam kehidupan sehari-hari. Objek wisata budaya setempat yang ada antara lain berupa rumah betang
panjang (long house) serta kesenian tradisional dari masing-masing anak suku yang ada di peg. Iban.
Di Kecamatan Nunukan terdapat Air terjun Sungai Binusan, Wanawisata yang didominasi oleh vegetasi
spesifik hutan dataran rendah, seperti pohon meranti, bengkirai dan ulin yang mengelilingi Desa
Pembeliangan.
Di Kecamatan Lumbis terdapat Wisata budaya yang menampilkan berbagai jenis tari suku Dayak Murud
yang sangat menarik, antara lain tari gong, tari koqoi dan tari samajau, Air terjun Tao Lun di Desa Patal,
Arung Jeram Sungai Lumbis dari Tao Lumbis ke Desa Labang.
Di Kecamatan Krayan terdapat Wisata budaya yang menampilkan berbagai seni budaya suku Dayak Lun
Dayeh, baik seni musik maupun seni tari (Bambu, Kecapi, Perang, Pusan dan Busaq Baku) di Desa Long
Bawan. Ekowisata Kayan Mentarang, membujur dari perbatasan Kabupaten Nunukan dengan Sabah

Malaysia di bagian Utara sampai ke Kecamatan Kayan Hulu di Kabupaten Malinau dengan negara bagian
Serawak Malaysia di Selatan. Gunung Batu Sicien (Sicen), termasuk dalam kawasan ekowisata Kayan
Mentarang tepatnya di Desa Tanjung pasir. Goa Kelelawar, termasuk dalam kawasan ekowisata Kayan
Mentarang tepatnya di Desa Tanjung Pasir. Kuburan batu, goa penyimpanan tulang dan pembusukan
mayat, serta benda-benda pusaka yang bernilai seni dan magis (guci, gong, mandau, dll), termasuk dalam
kawasan ekowisata Kayan Mentarang tepatnya di tepi hulu Sungai Krayan. Batu berukir ParuAting,
terletak di areal Taman Nasional Kayan Mentarang, tepatnya di tepi hulu Sungai Krayan. Air Terjun Ruab
Sebiling, terletak di Desa BaLiku daerah Krayan Hulu. Hulu Giram Sungai Krayan. Pembuatan garam
Gunung, terletak di hulu Sungai Main Desa Long Layu, Binuang, Ba Liku dan PaKebuan.
Di Kabupaten Malinau terdapat Pusat budaya kesenian bukan adat dalam terdapat di Long Nawang
(Ibukota Kecamatan Kayan Hulu). Daerah ini mempunyai bukti sejarah adanya bekas tangga jajahan dan
makam tentara Belanda. Suku Punan terdapat di desa Sambudurut yang dikenal dengan ketangkasan
berburu serta ahli membuat sumpit dan racun sumpit serta tikar rotan. Daerah Sungai Kayan yang sangat
terkenal dengan arung jeram yang sangat terjal terdapat di Data Dian yang merupakan ibu kota
Kecamatan Kayan Hilir. Suku Dayak Kenyah Lepo Jalau yang memiliki lamin adat dan seni budaya yang
juga terkenal sangat rajin berladang.
Di Kabupaten Kutai Barat terdapat wisata Anggrek alam terdapat di Kersik Luway antara lain: Anggrek
hitam (Coelogynepandurata), Erya Vania, Erya Floribuda, Coelogyne dan Rocus Soini dan Bulpophylum
Mututina. Museum Mencimai terdapat desa Mencimai dan lamin sebagai pusat seni suku Dayak Tunjung
yang terdapat di desa Mencimai, Eheng, Engkuni, dan Benung . Objek wisata Air terjun Jantur Gemuruh
terletak di Desa Mapan. Upacara adat yang terkenal: Lamelah Tenan. Laliq Iqal, Hudoq Apah terdapat di
Desa Tering.

C.1.3. Potensi Tutupan Lahan & Tingkat Kekeritisan Lahan


Berdasarkan data tutupan yang di miliki oleh Walhi pada tahun 2005 (Analisis Citra Landsat tahun 2004)
terlihat seperti gambar di bawah ini menunjukkan bahwa kawasan hutan primer (hijau tua) dan hutan skunder
(hijau muda) berada pada kawasan kawan green belt. Umumnya kondisi hutan di kawasan ini memiliki
tutupan baik dan masih merupakan hutan primer dan sebagian hutan skunder.
Di Kawasan Green Belt Pegunungan Meratus (GBPM), kondisi hutan cukup memprihatinkan. Kawasan ini
hanya memiliki 136 ribu Ha atau 7% dari total kawasan, ini juga menunjukkan bahwa hutan di Kalsel kurang
dari itu karena kawasan GBPM termasuk juga ke propinsi Kaltim. Hutan Primer sekitar 55 % dan semak
belukar 17 % atau 296 ribu Ha. Ini menunjukaan kawasan GBPM sudah menuju kearah kritis. Hal ini juga
ditunjukkan oleh kondisi Satuan Wilayah Sungai (SWS) utama yang berhulu sungai ke GBPM sudah kritis.

Di Kawasan Green Belt Pegunungan Muller (GBPMu), kondisi hutan masih cukup bagus. Kawasan ini memiliki
hutan primer lebih dari 53 % dari total kawasan atau 1,179 juta Ha hutan dan hutan skunder 37 %. Sedangkan
kawasan semak belukar dan tanah terbuka tidak sampai dengan 1 %.
Kawasan Green Belt Pegungungan Schawaner memiliki hutan primer 1,017 juta Ha atau 27 % kawasan dan
hutan skunder 1,8 juta Ha atau 48 % dari total kawasan. Kawasan semak belukar sekitar 230 Ha atau 6%.
Kawasan Green Belt Pegunungan Iban memiliki hutan primer sekitar 3,651 jt Ha atau 76 % dari total kawasan
dan hutan skunder sekitar 500 ribu Ha atau 10 % dari total kawasan. Kawasan ini memiliki semak sekitar 1%
dan tanah terbuka sekitar 0,09 %.
Kawasan Green Belt Pegunungan Kapuas Hulu terdapat hutan primer sekitar 1,35 jt Ha (82%) dan hutan
skunder sekitar 245 ribu Ha (15%). Kawasan ini juga memiliki semak belukar dan lahan terbuka kurang dari 1
% dan sisanya tertutup awan.
Secara umum tutupan lahan Kalimantan pada tahun 2005 dapat dilihat pada gambar di bawah ini :
<!--[if !vml]-->
<!--[endif]-->

Box :
Kondisi Hutan Kalsel
Kawasan Hutan dan Perairan Propinsi Kalimantan Selatan yang ditetapkan berdarsarkan peputusan Menteri Kehutanan Nomor 453/KptsII/1999 tanggal 17 Juni 1999 adalah seluas 1.839.494 Ha. Sedangkan menurut Perda No. 9 Tahun 2000 adalah seluas 1.659.003 Ha.
Kawasan hutan ini terdiri dari kawasan Hutan Konservasi, Hutan Lindung dan kawasan Hutan Produksi dengan perincian luas sebagai
berikut :
Luas (Ha)
Fungsi Kawasan

Persen (%)

Luas (Ha) Perda

Persen (%)

SK Menhut
Kawasan Konservasi (HAS & HPA)

175.565

9,54

67.902

4.09

Kawasan Hutan Lindung (HL)

554.139

30,12

627.627

37.83

1.109.790

60,33

963.429

58.07

155.268

8,44

176.615

10.65

Kawasan Hutan Produksi

<!--[if !supportLists]--> <!--[endif]->Hutan Produksi Terbatas (HPT)

<!--[if !supportLists]--> <!--[endif]--

688.884 265.638

>Hutan Produksi Tetap

37,45

574.637

34.64

14,44

212.177

12.79

<!--[if !supportLists]--> <!--[endif]->Hutan Produksi yang dapat Dikonversi


(HPK)
Total Luasan

1.839.494

100

1.659.003

100

Data di atas merupakan luasan kawasan hutan Kalimantan Selatan secara keseluruhan. Oleh sebab itu tidak diketahui secara pasti
luasan hutan kawasan Pegunungan Meratus. Paling tidak luasan hutan kawasan Pegunungan Meratus adalah luasan tersebut dikurangi
luasan Cagar Alam (CA) Pulau Kaget (85,0 ha), CA Tel.Kelumpang, Sel Laut, Sel Sebuku (66.650,0 ha), CA Kep. Karimata (77.000,0 ha),
dan CA. Pulau Kembang (60,0 ha). Kemudian dikurangi oleh Kawasan Hutan Produksi yang kemungkinan dalam data tersebut juga
dimasukan dari wilayah Pulau Laut (Kotabaru sebrang) dan Kab. Barito Kuala.
Luas Penggunaan Lahan Kalimantan Selatan Tahun 2003
No

Penggunaan Lahan

Luas(Ha)

Prosentase (%)

Hutan Dataran Tinggi

667.444,7

17,784

Hutan Dataran rendah

58.065,2

1,547

TAD

14,872,9

0,396

Bekas Tebangan

11.001,8

0,293

Lahan Kering Tidak Produktif

768.498,6

20,447

Pertanian Lahan Kering

636.884,0

16,670

Pertanian Lahan Basah

312.737,4

8,333

Danau/Sungai

29.745,7

0,793

Sawah

6,927,1

0,185

10

Pemukiman

7.742,0

0,206

11

Hutan Tanaman Industri

225.537,6

6,009

12

Perkebunan

348.798,9

9,294

13

Pertambangan

13.039,2

0,347

14

Air Port

203,7

0,005

15

Hutan Rawa

40.747,5

1,086

16

Hutan Bakau

56.435,3

1,504

17

Rawa

554.370,3

14,771

Luas Provinsi Kalimantan Selatan

3.753.052

100,000

Sumber : Citra Landsat (Photo Satelit), Uni Eropa, 2003


Keadaan penutupan lahan propinsi Kalimantan Selatan, berdasarkan hasil penafsiran citra landsat yang berkisar dari tahun 1994 s/d
1997 di wilayah daratan Kalimantan Selatan diketahui bahwa luas daratan yang masih berupa hutan (berhutan) adalah sebesar 27 % dan
daratan yang bukan berupa hutan (Non Hutan) sebesar 65 %. Penutupan lahan non hutan adalah penutupan lahan selain daratan yang
bervegetasi hutan yaitu berupa semak/belukar, lahan tidak produktif, sawah, lahan pertanian, pemukiman, alang-alang dan lain-lain.
Keadaan Penutupan Lahan Propinsi Kalimantan Selatan Berdasarkan penafsiran citra satelit tahun 1994-1997
Penutupan Lahan

Luas (ha)

Total Daratan yang ditafsir


Berhutan
Bukan Hutan
Berawan

Persen Luas (%)

3.703.550

100

999.182

26,98

2.416.248

65,24

288.120

7,78

Sumber : Pusat Data dan Perpetaan 1998, Badan Planalogi Kehutanan


Secara terperinci kondisi tutupam lahan dapat dilihat pada tabel Luas Tutupan Hutan (vegetasi) Kalimantan Selatan sebagai berikut :
VEGETASI
Danau/Air

Luas (Ha)
8.032,84

Hutan dataran Rendah

1.347.078,56

Hutan Dataran Tinggi

0,00

Hutan Mangrove

79.918,63

Hutan pegunungan

0,00

Hutan Rawa

106.788,58

Lahan Basah Tidak Produktif

181.559,70

Lahan kering Tidak produktif

1.198.405,14

Pemukiman

7.150,04

Penutupan Lahan Lainnya

0,00

Perkebunan

129.988,91

Pertanian

651.697,77

(blank)

67.763,55
3.778.383,73

Sumber : National forestry Inventory Project, Planning Bereau, ministry of Forestry and Plantation, 1998
Gambaran Luas Jumlah dan Luas Konsesi HPH 1980-1997 Di Kalimantan Selatan dan Areal Eks HPH
Luas konsesi (Ha)
Pengguna
1980
HPH Aktif

1985
1.479.000

1990

1991

1992

1993

1994

1995

1.255.950

1.042.500

1.255.950

1.217.950

1996

1997

1.149.790 1.102.310

Eks HPH

195.100

120.500

Sumber :

<!--[if !supportLists]--> <!--[endif]-->Statistik kehutanan, dephutbun. 1998


<!--[if !supportLists]--> <!--[endif]-->Daftar Nama dan Alamat Perusahaan HPH, sensus pertanian 1993. BPS
Catatan : Data Th 1996 & 1997 adalah HPH yang masih berlaku, yidak termasuk eks HPH
Telah dilakukan perhitungan kembali oleh Badan Planalogi Kehutanan yang berdasarkan data citra satelit Landsat tahun 1997 s/d 2000.
Perhitungan dilakukan pada 7 unit areal HPH aktif dan 6 unit areal eks-HPH. Diketahui khusus pada areal HPH dan Eks-HPH di
Kalimantan Selatan, keadaan penutupan hutannya adalah sebagai berikut :
Penutupan Lahan

Areal HPH

Areal eks-

(Ha)

HPH (Ha)

Luas areal yang ditafsir

573.908

100

164.200

100

Hutan Primer

105.834

18

7.950

Hutan Sekunder

317.000

55

59.750

36

<!--[if !supportLists]-->

151.074

26

96.500

59

<!--[endif]-->Kondisi
sedang-baik

<!--[if !supportLists]-->
<!--[endif]-->Kondisi
rusak
Sumber : Pusat Data dan Perpetaan 1998, Badan Planalogi Kehutanan
Pertambangan batubara juga ikut mengurangi tutupan lahan di Kalimantan Selatan seperti apa yang tergambar dalam data bukaan
tambang dan reklamasi lahan PKP2B dan PETI di bawah ini
Box :
Kondisi Hutan Kalteng
Berdasarkan data dari Dinas Kehutanan kalimantan Tengah,luas kawasan konservasi yang ada di kalimantan tengah seluas kurang lebih
2.250.877,66 ha. kawasan ini terdiri dari CA,Suaka Margasatwa,TN,Taman Wisata,Perlindungan an Pelestarian Alam,Konservasi Hutan
manggrove,Konservasi Ekosistem air Hitam,Konservasi Flora dan fauna,Konservasi Gambut Tebal dan Konservasi Hidrologi.(tabel 1)
HUTAN KONSERVASI
Cagar Alam
Suaka Marga Satwa
Taman Nasional
Taman Wisata
Perlindungan dan Pelestarian Alam

2.250.877,66
235.079,45
71.664,71
488.056,29
19.142,61
1.628,43

Konservasi Hutan Mangrove

31.018,40

Konservasi Ekosistem Air Hitam

37.225,55

Konservasi Flora dan Fauna

161.849,04

Konservasi Gambul Tebal

253.797,98

Konservasi Hidrologi

185.023,14

Di kalimatan tengah terdapat dua (2) buah Taman Nasional yaitu Taman Nasional Tanjung Putting (TNTP)yang terletak di kabupaten
Kotawaringin Barat dan Taman Nasional Bukit Baka-Bukit Raya yang terletak di Kabupaten Katingan.

Secara umum jenis fauna yang ada di sungai-sungai kalimantan tengah relatif hampir sama. Jenis ikan tersebut selain untuk kebutuhan
pangan seperti gabus, sepat, baung, patin dll. Sedangkan jenis ikan untuk kebutuhan ekspor seperti jenis ikan bakut yang harganya mencapai
Rp 60-70 ribu/ekor. Selain itu juga ada beberapa jenis ikan hias yang menjadi komoditas seperti ikan arwana dan ikan kakari/penganten (botia
macracanta). Untuk jenis ikan arwana saat ini hampir sulit ditemukan dan untuk jenis ikan botia masih banyak di temukan pada semua
perairan (sungai)di kalteng. (diskiripsi dan visualisasi ikan hias air tawar di kabupaten katingan,DKP kab.katingan 2004)
Berdasarkan data Dinas Kehutanan Propinsi Kalimantan Tengah (data kehutanan 2006) kawasan tutupan lahan berada pada sebagian besar
kawasan di Provinsi Kalimantan tengah adalah hutan dimana secara garis besar dapat dibedakan menjadi 4 (empat) tipe hutan yang berbeda
berdasarkan pada ketinggian tempatnya, yaitu:

<!--[if !supportLists]-->- <!--[endif]-->Hutan Hujan tropika seluas + 10.350.363,87 ha atau sekitar 65,51%
<!--[if !supportLists]-->- <!--[endif]-->Hutan Rawa Tropika seluas + 2.382.683,31 Ha atau sekitar 15,08%
<!--[if !supportLists]-->- <!--[endif]-->Hutan Rawa Gambut Tropika seluas + 2.280.573,55 Ha atau sekitar 5,27%
Kondisi tutupan lahan menurut wilayah propinsi tahun 2000
Hasil pengolahan data citra landsat sebagaimana tabel menunjukan bahwa areal berhutan di kaimantan tengah seluas 9,5 juta ha (62,% dari
luas kalteng),namun sebagian besar atau seluas 7,4 juta ha (78% dari luas areal berhutan)merupakan hutan sekunder. Hutan yang primer
yang masuh ada diperkirakan seluas 2,093 jutaa ha atau 22% dari luas areal berhutan.
Tabel 2.
No

Penutupan Hutan dan lahan

Hutan :

<!--[if !supportLists]-->1. <!--[endif]-->Hutan


Lahan kering primer

<!--[if !supportLists]-->2. <!--[endif]-->Hutan

Luas (ha)

%
9509010

62,04

1864271

1216

228737

150

rawa primer

<!--[if !supportLists]-->3. <!--[endif]-->Hutan


Lahan kering sekunder

<!--[if !supportLists]-->4. <!--[endif]-->Hutan


Rawa sekunder

4317428

2817

2937095

1916

45927

030

115552

075

5.169.410<!--[if !

3,73

<!--[if !supportLists]-->5. <!--[endif]-->Hutan


Manggrove sekunder

<!--[if !supportLists]-->6. <!--[endif]-->Hutan


tanaman
2

Non hutan :

<!--[if !supportLists]-->1. <!--[endif]-->Belukar

supportAnnotations]--

265

>[R4]<!--[endif]-->

<!--[if !supportLists]-->2. <!--[endif]-->Belukar


Rawa

<!--[if !supportLists]-->3. <!--[endif]->pemukiman


<!--[if !supportLists]-->4. <!--[endif]->Perkebunan
<!--[if !supportLists]-->5. <!--[endif]-->Pertanian
lahan kering

<!--[if !supportLists]-->6. <!--[endif]-->Pertanian


lahan kering + semak

406540
1979807
32772
264647
330022
1460950
549007
437

<!--[if !supportLists]-->7. <!--[endif]-->Rawa

55779

<!--[if !supportLists]-->8. <!--[endif]-->Tambak

59119

<!--[if !supportLists]-->9. <!--[endif]-->Terbuka

10330

<!--[if !supportLists]-->10. <!--[endif]->Transmigrasi


<!--[if !supportLists]-->11. <!--[endif]-->Tubuh

1292
021
173
215
953
358
000
036
039
007

air
3

Tidak ada data


Jumlah

648478

4,23

15.326.898

100

Berdasarkan paper bapak Wardoyo (kepala balai pemantapan kawasan hutan wilayah V kalimantan tengah dan selatan - Alamat kantor: jl.PM
noor PO Box 62 telp.0511.772208 banjarbaru 70714
Sedangkan areal non hutan seluas 5,1 juta ha didominasi oleh belukar rawa 2,0 juta da dan pertanian lahan kering 1,8 juta ha. Dan sisanya
berupa diantaranya belukar,pemukiman,perkebunan,pertanian lahan baah dan daerah rawa. Data luas tersebut di peroleh berdasarkan hasil
hitungan secara digital dengan perangkat lunak sistem Informasi Geografis (SIG) Arcview. Data luas tersebut berbeda dengan luas kawasan
hutan menurut SK Gubernur tahun 1999. hal ini kemungkinan disebabkan oleh perbedaaan sumber data/peta dan metode penghitungan yang
dipergunakan.
Menurut data yang dikeluarkan oleh Badan Planologi (BAPLAN) Departemen Kehutanan tahun 2000, total luasan areal kerja HPH dan eks.
HPH di Kalimantan Tengah pada Hutan Produksi (HP dan HPT) seluruhnya mencakup luasan 7.587.411 Ha, dan ternyata bahwa luasan lahan
kritis lebih besar dari jika dibandingkan dengan luas hutan primer. <!--[if !supportAnnotations]-->[R5]<!--[endif]--> Berturut-turut untuk luasan
Hutan Primer (Virgin Forest), Logged Over Area (LOA) dan lahan kritis termasuk konversi untuk kepentingan non kehutanan 1.828.972 Ha,
2.942.636 Ha dan 2.815.803 Ha, seperti pada tabel 3. Secara statistik angka tersebut dapat dianggap sebagai salah satu indikasi akan
ketidakmampuan HPH dan sistem yang ada dalam pengelolaan hutan berdasarkan prinsip kelestarian, yang sudah semestinya harus menjadi
bahan evaluasi kita semua dan pengalaman yang sangat berharga sebagai akibat dari sistem pengelolaan hutan yang sentralistik di masa
sebelumnya. Bisa dibayangkan apabila dalam satu rotasi saja luas lahan kritis sudah mencapai 2,8 juta Ha, bagaimana pada saat setelah
rotasi kedua, ketiga dan seterusnya nanti.
Tabel Kondisi Kawasan Hutan Produksi Propinsi Kalimantan Tengah Berdasarkan Keadaan Penutupan Lahan.

Luas Hutan Produksi Propinsi


No.

A.

B.

Kondisi Penutupan Lahan Pada Kawasan Hutan

Kalimantan Tengah
( Ha )

(%)

- Areal HPH

1.754.674

23,12

- Areal Eks. HPH

74.298

0,98

Total Luas Penutupan Lahan

1.828.972

24,10

HUTAN PRIMER (Virgin Forest) :

HUTAN SEKUNDER (Logged Over Area/LOA) :

Kondisi Sedang s/d Baik

C.

- Areal HPH

2.595.836

34,21

- Areal Eks. HPH

346.600

4,57

Total Luas Penutupan Lahan

2.942.636

38,78

- Areal HPH

2.366.891

31,19

- Areal Eks. HPH

448.912

5,92

Total Luas Penutupan Lahan

2.815.803

37,11

Total Luas Areal HPH dan Eks. HPH di Kalteng

7.587.411

100

LAHAN KRITIS & KONVERSI NON KEHUTANAN :


Hutan rusak, tanah kosong, pertanian, dll.

<!--[if !supportFootnotes]-->
<!--[endif]-->
<!--[if !supportFootnotes]-->[1]<!--[endif]--> Presentasi Kaltim pada Musrenbangnas RKP 2007 tentang rencana
pembangunan kawasan perbatasan, April2006
<!--[if !supportFootnotes]-->[2]<!--[endif]--> Ekologi Kalimantan

<!--[if !supportFootnotes]-->[3]<!--[endif]--> Ekologi Kalimantan


<!--[if !supportFootnotes]-->[4]<!--[endif]--> .
<!--[if !supportFootnotes]-->[5]<!--[endif]--> 12 Oktober 2005 Gatra.com

<!--[if !supportFootnotes]-->[6]<!--[endif]--> Chandradewana Boer/Rustam Fahmy/Emi Purwanti*. Kompas * Sabtu, 09


Juli 2005 *
<!--[if !supportFootnotes]-->[7]<!--[endif]--> Institut Dayakologi
<!--[if !supportFootnotes]-->[8]<!--[endif]--> Renstra Pengelolaan Kawasan Hutan di Perbatasan RI-Malaysia
<!--[if !supportFootnotes]-->[9]<!--[endif]--> Nilai sumber daya air di kabupaten berau kalimantan timur. TNC. 2002

<!--[if !supportAnnotations]-->

<!--[endif]-->
<!--[if !supportAnnotations]-->
<!--[endif]--><!--[if !supportAnnotations]--><!--[endif]-->
<!--[if !supportAnnotations]-->[R1]<!--[endif]-->Lihat gambar 1.22

<!--[if !supportAnnotations]-->
<!--[endif]-->
<!--[if !supportAnnotations]-->
<!--[endif]--><!--[if !supportAnnotations]--><!--[endif]-->
<!--[if !supportAnnotations]-->[R2]<!--[endif]-->Dipindahkan saja ke Bagian Potensi GB

<!--[if !supportAnnotations]-->
<!--[endif]-->
<!--[if !supportAnnotations]-->
<!--[endif]--><!--[if !supportAnnotations]--><!--[endif]-->
<!--[if !supportAnnotations]-->[R3]<!--[endif]-->Potensi Sosial

<!--[if !supportAnnotations]-->
<!--[endif]-->
<!--[if !supportAnnotations]-->
<!--[endif]--><!--[if !supportAnnotations]--><!--[endif]-->
<!--[if !supportAnnotations]-->[R4]<!--[endif]-->Setelah di konversi excel hasil tidak sesuai. Hasil data konversi untuk kawasan non hutan
5.149.410 ha. Jadi jumlah keseluruhan adalah 14.658.420 ha

<!--[if !supportAnnotations]-->
<!--[endif]-->
<!--[if !supportAnnotations]-->
<!--[endif]--><!--[if !supportAnnotations]--><!--[endif]-->
<!--[if !supportAnnotations]-->[R5]<!--[endif]-->

<!--[if !supportAnnotations]-->
<!--[endif]-->
posted by Save Our Borneo Movement @ 11:59 PM 0 comments
0 Comments:
Post a Comment
<< Home

WISATA EKOLOGI (2): REKONSTRUKSI BUDAYA DI TENGAH HUTAN TROPIS


Kompas (09/05/2007, 08:43:08)

Hutan hujan tropis di Peru tiba-tiba jadi terkenal. Para petualang dari berbagai belahan dunia berduyun-duyun
datang ke sana. Ada sesuatu yang mereka cari: kebenaran kosmis dan transformasi spiritual.
Adalah James Redfield, pengarang trilogi kisah pencarian spiritual yang bertumpu pada keaslian alamThe
Celestine Prophecy (Manuskrip Celestine); The Tenth Insight (Wawasan Kesepuluh); dan The Secret of
Shambhala: In Search of the Eleventh Insight (Rahasia Shambhala: Mencari Wawasan Kesebelas)yang jadi
pemicunya. Sejak itu, hutan hujan tropis Peru tidak saja jadi pusat perhatian, tetapi juga diyakini memendam
"kekuatan" luar biasa, yang memberi kemungkinan bagi para pencari wawasan dan energi baru untuk memahami
makna kehidupan di milenium baru ini.
Berkat kepiawaian Redfield bertutur dan memberi gambaran detail tentang hutan hujan tropis di Peru, yang
dipadukan dengan perjalanan spiritual tokoh-tokoh cerita rekaannya, rasa ingin tahu banyak orang pun muncul.
Lalu, berduyun-duyunlah para petualang memasuki hutan-hutan lebat di sana, terlibat dalam apa yang disebut
Redfield sebagai parabel petualangan sambil berwisata, sekaligus menikmati proses kembali ke alam dalam
pengertian yang sesungguhnya.
Tak berlebihan bila pemikir kebudayaan seperti Taufik Rahzen mengimpikan peristiwa serupa terjadi pada hutan
tropis basah di Kalimantan. Dalam satu kesempatan, di sela-sela pertemuan Masyarakat Seni Pertunjukan
Indonesia (MSPI) di Tenggarong, Kutai Kertanegara, beberapa tahun lampau, Taufik berucap, "Hutan Kalimantan
dengan segala produk budaya masyarakat yang ada di sana merupakan suatu misteri yang tak kalah menarik
untuk dijelajahi."
Prosesi ritual masyarakat Dayak untuk melepas arwah leluhur mereka menuju surga lewat upacara tiwah,
misalnya, hanyalah bagian kecil dari peristiwa menarik dari pedalaman Kalimantan. Begitupun keberadaan suku
Punanyang dari hasil "bacaan" Taufik Rahzen, berdasarkan berbagai literatur, menjadi semacam "garis luar" dan
selalu mengintili masyarakat Dayak pada umumnyamasih menyisakan banyak pertanyaan yang belum
terjawab.
Belum lagi terkait kekayaan alamnya berupa flora dan fauna yang begitu beragam. Kayu ulin, rotan, dan
pepohonan berlumut masih tumbuh alami di banyak tempat. Sementara lebih dari 210 jenis mamalia, termasuk
44 jenis yang tidak terdapat di mana pun di dunia, hidup di kawasan ini.
Bahkan, salah satu laporan World Wildlife Fund (WWF) yang dikeluarkan baru-baru ini, Borneos Lost World,
menyebutkan paling tidak ada 361 spesies baru yang telah teridentifikasi pada 1994-2004. Spesies itu meliputi
260 serangga, 50 tumbuhan, 30 ikan air tawar, dan sejumlah binatang darat lain. Sementara di hutan-hutan asli
yang belum banyak dijamah manusia, yang luas kawasannya mencapai 22 juta hektar dan sebagian besar ada di
wilayah Kalimantan Tengah, diperkirakan masih ada ribuan spesies yang belum teridentifikasi.
Jauh di hulu Sungai Rungan, Kahayan, Barito, Kapuas, dan Katingan, serta dataran tinggi yang membentang dari
Bukit Raya hingga rangkaian Pegunungan Schwaner, eksotisme kehidupan pedalaman menyeruak di antara
kekayaan hutan rimba yang hijau. Misteri akan "kesaktian" orang-orang Dayak bahkan masih bisa dilacak lewat
cerita tutur mereka, lewat seni rajah di tubuh mereka, atau lewat beragam atraksi dalam bentuk pertunjukan
seni-ritual mereka.
Kisah tentang tradisi "pengayauan", "tariu", atau "mangkok merah" memang sudah ditutup. Akan tetapi,
keberadaan betang (rumah panjang) di Tumbang Anoi bisa jadi saksi pertemuan besar masyarakat Dayak pada
1894. Dalam pertemuan akbar yang diprakarsai Pemerintah Hindia-Belanda dan dihadiri hampir semua subsuku
Dayak di Kalimantan tersebut, antara lain, disepakati untuk tidak lagi melaksanakan "pengayauan". Sejak itu
kegiatan "pengayauan" menjadi adat terlarang. Akan tetapi, cerita dan "dongengan" tentang "kesaktian" orangorang Dayak masa lampau itu masih terus bergema hingga hari ini.
"Belajar dari kasus hutan Peru, barangkali memang diperlukan dongengan dengan perspektif baru tentang
berbagai misteri yang tersimpan di jantung Borneo. Harus ada semacam rekonstruksi budaya atas peradaban
manusia yang tinggal di dalamnya, tidak cukup hanya mengandalkan eksotisme alam semata untuk menjadikan
Kalimantan sebagai kawasan wisata ekologi," kata Taufik Rahzen.
Kepala naga
Bila Anda baru pertama kali mengunjungi daerah ini, begitu bunyi promosi sederhana yang dikeluarkan oleh
Pemerintah Provinsi Kalteng, tengoklah keluar melalui jendela pesawat yang Anda tumpangi. Anda akan
menyaksikan pemandangan alam di bawah yang terdiri atas kehijauan yang terpotong oleh sungai aliran lambat
yang berkelok-kelok ke hilir hingga ke hutan bakau yang mengingatkan Anda akan kepala naga dengan badannya
yang tak berujung.
"Ketika hutan rimba mulai kelihatan lebih renggang dan jelas, maka tampaklah ibu kota provinsi, Palangkaraya
yang berarti tempat terhormat dan suciyang seakan-akan menjulang keluar dari hutan tropis."

"Kepala naga", "jantung Borneo", "paru-paru dunia", "pusar Bumi", serta sejumlah penamaan lain untuk daerah
ini adalah parafrasa yang bisa dimaknai sebagai penanda eksotisme alam Kalimantan Tengah.
Sayangnya, seperti diakui oleh Gubernur Kalteng Agustin Teras Narang, selama ini orang hanya tahu tentang
daerah ini kebanyakan karena ada kasus illegal logging. Bahwa Kalteng memiliki pantai yang panjangnya hingga
750 kilometer, misalnya, tak banyak yang tahu. Begitupun keragaman alam dan budaya Dayak-nya yang penuh
eksotisme, yangironisnyakerap dimaknai secara negatif. Bahkan tak jarang, pada mereka yang sama sekali
belum mengenal kehidupan masyarakat di daerah ini muncul stigma bahwa Dayak identik dengan suku yang
hidup dalam suasana penuh kekerasan.
Itulah bias penilaian dan kesalahkaprahan warisan kolonial. Tak berlebihan bila dalam kaitan ulang tahun ke-50
provinsi ini, bersamaan perayaan Festival Isen Mulang, undangan untuk menyaksikan cara hidup orang Dayak di
desa-desa asli mereka di pedalaman disebarkan oleh Pemerintah Provinsi Kalteng dan Kalimantan Tourism
Development. Sambil menikmati lalu lintas sungai dengan boat atau perahu klotok, berbagai aktivitas keseharian
orang-orang Dayak disodorkan untuk "dinikmati" dan dirasakan.
Bagai meniru promosi besar- besaran wisata Malaysia, semboyan "Datanglah untuk Melihat Borneo yang
Sebenarnya" menjadi semacam ucapan selamat datang. Tentang hal ini, Gaye Thavisin dari Kalimantan Tourism
Development sampai berucap, "Jika Anda sedang mencari petualangan dan pengalaman unik, jauh dari jalan
yang sering dilalui menuju tempat yang mudah dicapai, maka jantung Borneo akan menjadikan Anda seorang
penjelajah!"
Hanya setengah jam perjalanan dari Kota Palangkaraya, di Sei Gohongsebuah desa Dayak yang berada di tepi
Sungai Runganeksotisme itu sudah mulai terasa. Sepintas memang hampir tak ada perbedaan mencolok dalam
kehidupan sehari-hari mereka dibandingkan desa-desa lain yang dihuni masyarakat campuran dari berbagai
etnis. Tapi coba rasakan denyut keseharian mereka. Mulai dari aktivitas mereka mandi dan mencuci di sungai,
cara menidurkan anak, hingga kegiatan menangkap ikan serta berburu.
Juga bagaimana mereka mencari akar-akar pohon untuk obat-obatan tradisional khas Dayak, seperti dilakukan
Mak Gendut. Bagi Mak Gendut, begitu dia menyebut dirinya, meramu obat-obat tradisional khas Dayak dari
beragam akar dan daun kayu dari hutan di pedalaman Kalimantan bukan lagi kerja sambilan. Meramu bahanbahan dasar dari hutan-hutan lebat yang dipenuhi berbagai cerita misteri, serta "meracik"- nya untuk dijadikan
obat-obatan, kini ia tekuni sebagai sebuah profesi.
"Akar-akar pohon tersebut tidak diambil dari sembarang hutan. Untuk itu bisa berminggu- minggu saya masuk
hutan, mencari akar atau daun kayu yang diperlukan untuk obat," kata Mak Gendut, ibu delapan anak, yang
mengaku kemampuannya meramu dan meracik obat-obatan tradisional Dayak itu ia dapatkan dari neneknya.
Menikmati cara hidup orang Dayak memang akan lebih terasa bila masuk hingga ke hulu-hulu sungai. Hanya
saja, untuk sampai hingga ke "jantung Borneo yang sebenar-benarnya" itu butuh waktu berhari-hari.
"Karena itu, kami tengah menyiapkan boat yang sekaligus berfungsi sebagai hotel terapung. Eco-Boat Hotel,
namanya. Mudah-mudahan September nanti sudah bisa beroperasi," kata Lorna Dawson dari Kalimantan Tourism
Development. (cas/ken)

Kantong Semar dari Hutan Kalteng Makin Sering


Dijarah
Palangka Raya (ANTARA News) - Tanaman kantong semar (Nephentes spp), yang
dikenal sebagai pemakan serangga dan memiliki banyak nilai farmakologi (obat-obatan),
kini semakin banyak dijarah dari hutan-hutan Provinsi Kalimantan Tengah untuk
diperjualbelikan secara bebas tanpa upaya pembudidayaan.
Salah seorang penjual kantong semar, Hadi, di Kota Palangka Raya, Rabu, mengakui
semua jenis tanaman kantong semar yang dijualnya merupakan hasil memetik dari hutanhutan di Kalimantan.
Padahal tumbuhan yang masuk golongan karnivora tersebut termasuk yang dilindungi
berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya
Alam Hayati dan Ekosistemnya, serta dalam Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999

tentang Jenis-jenis Tumbuhan dan Satwa Yang Dilindungi.


"Upaya budidaya memerlukan waktu lama dan jumlah yang terbatas, sedangkan
masyarakat kini sangat menggemarinya sehingga permintaan kantong semar juga
semakin banyak. Kebanyakan masyarakat juga enggan mengeluarkan uang lebih banyak
untuk kantong semar hasil budidaya," kata Hadi yang berasal dari wilayah Barito itu.
Hadi sehari-hari menjalankan profesi penjual tanaman hias keliling, termasuk kantong
semar dan anggrek. Orangtuanya khusus berprofesi mengambil tanaman hias dari hutan
di wilayah Tumbang Samba dan Pundu, Kabupaten Katingan.
Ia mengaku hanya menjual dua jenis kantong semar dari 12 jenis yang bisa ditemukan di
hutan Katingan. Dua jenis yang banyak dicari masyarakat Kalteng itu adalah dari jenis
Nephentes phorbia dan Kacimapatima. Tiap pot kantong semar dijual seharga Rp35 ribu
sampai Rp70 ribu.
"Masyarakat kebanyakan mencari untuk tanaman hias, sedangkan yang untuk obatobatan masih sedikit yang mengerti. Padahal tanaman ini bisa untuk menyembuhkan
berbagai penyakit seperti asma, diare, dan mag," ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalteng Edy Sutiyarto
mengatakan, kendati tanaman itu termasuk jenis yang dilindungi Undang-Undang,
pihaknya belum bisa melakukan upaya penertiban terhadap praktik jual beli bebas
kantong semar yang diambil dari hutan-hutan.
"Kami berulangkali memberikan sosialisasi kepada masyarakat dan para penjual bahwa
tanaman ini termasuk jenis yang dilindungi sehingga harus ada upaya budidaya bila ingin
diperjualbelikan. Jangan terus-terusan mengambil di hutan," jelasnya.
Edy mengemukakan, habitat Nephentes di hutan-hutan Kalimantan lama-kelamaan bisa
berkurang dan habis bila para penjual itu hanya berniat mengambil tanpa
membudidayakan sendiri.
BKSDA Kalteng sendiri berencana menggelar pelatihan pembuatan demplot kantong
semar karena upaya budidayanya relatif mudah, namun di Kalteng hampir tidak ada yang
melakukan karena di hutan masih banyak dijumpai.
Suku Dayak Katingan banyak menyebut kantong semar sebagai ketupat napu. Napu
berarti rawa, karena tanaman ini dulu hidupnya di rawa dan oleh masyarakat setempat
sering dijadikan ketupat. Ketupat napu dimasak dengan memasukkan beras ke dalam
kantong semar untuk kemudian dimasak seperti memasak ketupat.
Sedangkan Suku Dayak Bakumpai yang mendiami wilayah Sungai Barito menyebut
kantong semar dengan telep ujung. Kata ujung mengartikan nama seorang raja, dan telep
adalah alat berbentuk silinder yang terbuat dari bambu. Alat tersebut biasanya dipakai
menyimpan racun anak panah.

Nepenthes tumbuh dan tersebar mulai dari Australia bagian utara, Asia Tenggara, hingga
China bagian selatan. Di dunia telah ditemukan 82 jenis nepenthes, dan 64 jenis di
antaranya ditemukan di Indonesia. Borneo (Kalimantan, Serawak, Sabah, dan Brunei)
merupakan pusat penyebaran nepenthes terbesar di dunia karena dari sana ditemukan 32
jenis.
Umumnya nepenthes hidup di tempat-tempat terbuka atau agak terlindung di habitat yang
miskin unsur hara dan memiliki kelembaban udara cukup tinggi. Nepenthes bisa hidup di
hutan hujan tropik dataran rendah, hutan pegunungan, hutan gambut, hutan kerangas,
gunung kapur, dan padang savana.
Kantong semar tergolong ke dalam tumbuhan liana (merambat), berumah dua, serta
bunga jantan dan betina terpisah pada individu yang berbeda.
Tumbuhan ini hidup di tanah, ada juga yang menempel pada batang atau ranting pohon
lain sebagai epifit.
Keunikan dari tumbuhan ini adalah bentuk, ukuran, dan corak warna kantongnya.
Sebenarnya kantong tersebut adalah ujung daun yang berubah bentuk dan fungsinya
menjadi perangkap serangga atau binatang kecil lainnya.(*)
COPYRIGHT 2007 ANTARA

Hutan Kalimantan memiliki kekayaan sumber daya alam. Berdasarkan data Kementerian
Lingkungan Hidup, ada sedikitnya 940 spesies tanaman yang menghasilkan bahan untuk
obat tradisonal. Suku Dayak sejak dahulu telah memanfaatkan berbagai tanaman liar
untuk obat, di antaranya Akar Kuning (Arcangelisia flava), Pasak bumi (Euriycoma
longifolia ), Tabat barito (Ficus deltoidea), serta berbagai spesies budidaya seperti Jahe
(Zingiber officinale), Kunyit (Curcuma domestica), Kencur (Kaempferia galanga),
Kumis Kucing (Orthosiphon aristatus) dan Kapulaga (Amomum cardamomum).
Akar Kuning misalnya, Suku Dayak telah turun temurun menggunakan tanaman ini untuk
menambah daya tahan tubuh dari serangan berbagai penyakit. Mereka memanfaatkanya
dengan cara merebus batangnya, sampai air rebusannya berwarna kuning. Air rebusan
itulah yang diminum. Mereka meyakini efeknya sangat baik bagi tubuh, antara lain
melindungi diri dari serangan penyakit malaria. Terbukti, hingga kini belum pernah
terjadi adanya wabah malaria di pedalaman Kalimantan.
Saya sendiri pernah merasakan ketangguhan Akar Kuning saat berada di pedalaman
Kalimantan. Ketika perjalanan menyusuri hutan tropis yang lebat, Akar Kuning banyak
terlihat menjuntai, melingkar antara satu pohon besar dengan pohon lainnya. Mereka
yang kehausan dan tidak ada air saat perjalanan di dalam hutan pun bisa memanfaatkan
akar ini. Dalam sekali tebas, akar yang terpotong akan banyak mengeluarkan air segar
(salah satu pelajaran survival di dalam hutan dari Suku Dayak).
Air rebusan akar ini memang terasa pahit, tapi bagi saya tidak masalah demi menjaga
diri. Syukur, setelah sering kali keluar masuk hutan Kalimantan belum pernah terserang
penyakit malaria atau masyarakat lokal menyebutnya penyakit kuning. Suku Dayak juga
percaya, selain menjaga tubuh dari penyakit yang sifatnya medis, juga menjaga diri dari
serangan penyakit non medis seperti santet (parang maya).
Secara medis terbukti, berdasarkan hasil penelitian yang telah dipatenkan Teknologi IPB
Bogor, Akar Kuning yang diambil ekstraknya dapat digunakan sebagai Hepatoprotektor
lihat di sini .

ANATOMI THEVETIA NERIIFOLIA


Daun
Anatomi daun tanaman ini terdiri atas tuba laticiferous, floem intraserkular, floem, xylem, mesofil
dan sel gabus. Daunnya biasanya dorsiventral atau lebih khususnya isoventral. Karakter anatomi
luarnya memiliki laticiferus canals dengan variasi warna dan floem intrasirkular. Stomatanya
ranunculaceous, selnya berbentuk bulat seperti cincin. . Pori-pori daun dikelilingi oleh rambut yang
terdapat di dalam pori-pori tersebut.. Mesofilnya kebanyakan terdiri dari spicular sel yang
mengandung atau terdapat bunga karang yang mengandung gelatin. Sel gabusnya memiliki bentuk
yang khusus, perisikelnya memiliki ciri-ciri seperti cincin yang saling menyambung atau untaian
yang terpisah seperti serabut putih.
Batang

Jaringan pembuluhnya terkadang kecil namun kadang besar, letaknya tersendiri


atau bergabung dengan tipe lain yang terkadang memberikan bentuk bulat atau
berpola sudut, formasi yang simple, lubang intravaskularnya sangat kecil, lubang
parenkimnya kecil. Sel parenkimnya apotracheal seperti sel yang menyebar atau
mendekati seperti pita dengan sedikit paratracheal. Kulit tanpa serat terdiri 2-3 sel
yang lebar, heterogen dengan 2-10 tingkat ketipisannya, jarang ada sel yang
mengelilinginya. Sel fiber biasanya lubangnya sederhana tapi terdapat perbatasan
pada tiap tepinya.. pada penampang melintang tampak jaringan gabus, terdiri dari
7-10 lapis sel gabus berdinding tipis tidak berlignin, penampang melintang gabus
berbentuk empat persegi panjang dan letaknya teratus, pada sayatan paradermal
berbentuk polygon. Sel parenkim korteks sangat tipis, berisi pati, bentuk bulat,
kecil, mempunyai hilus berbentuk titik atau garis pendek, tunggal, atau
berkelompok ; idioblas yang berisis hablur kalsium oksalat bentuk prisma.
Sklerenkim berupa kelompok serabut yang panjang dan ramping, berlamela, lumen
sempit memanjang dengan ujung tumpul, warna kuning muda, tidak berlignin.
Kelompok sel batu berdinding tebal dengan noktah bercabang, mengandung lignin,
kadang kadang dikelilingi sklerenkim, juga terdapat sel batu yang tunggal, besar
dengan lumen lebar dan noktah bercabang. Floem terdiri dari sel parekim floem,
lebih kecil dari 1-2 sel. Di dalam perenkim floem terdapat butir pati, idioblas yang

berisi hablut kalsium oksalat berbentuk prsma. Serbuk berwarna coklat, fragmen
pengenal adalah kelompok serabut, panjang dan ramping, dengan lumen yang
sempit dan ujung tumpul, warna kuning muda, tidak berlignin, sel batu, tunggal
atau berkelompok,
Akar

Anatomi akar tanaman ini terdiri atas sel gabus, kortek, perisikel, floem, floem
intraselular, sel inti, dan kanal laticiferous. Struktur anatomi akarnya mengikuti
garis dan membentuk dengan floem intrasirkular. Sel gabusnya selalu tumbuh
hanya sampai permukaan saja tidak mendalam tapi melebar dan diding selnya
tipis. Sel gabus diisi dengan kristal. Kortexnye sangat kuat atau masuk grup sel
batu. Perisikel umumnya seperti papan, berwarna putih, seperti getah dan tidak
berserat. Floemnya termasuk sel batu.
Daftar pustaka :
Anonim, 1989, Materia Medika Indonesia,490, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta
Anonim, 2007, Taxon, http://www.ars-grin.gov/cgi-bin/npgs/html/taxon,
Anonim, 2007, Thevetia, www.desert-tropical.com/plants/apocynaceae
Djokomoeljanto, 1986, In Indonesia Medical Herb Index, 264, PT Eisai Indonesia, Jakarta
Metcalfe, C.R., Anatomy of the Dicotyledons, volume II, 904-907, at the Clarendon Press, Oxford
Steenis, Van, 1986, Flora untuk Sekolah Indonesia, 33, PT Pradnya Paramita, Jakarta

Maria Fea Yessy


068114152

PENELAAHAN TERHADAP PLASMA NUTFAH KHUSUS: TANAMA OBAT


Maharani Hasanah
(Komisi Nasional Plasma Nutfah / Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat)

Diperkirakan sekitar 30 000 tumbuhan ditemukan di dalam hutan hujan tropika, dan sekitar 1
260 spesies di antaranya berkhasiat sebagai obat. Baru sekitar 180 spesies yang telah
digunakan untuk berbagai keperluan industri obat dan jamu, tetapi baru beberapa spesies saja
yang telah di budidayakan secara intensif (Supriadi, 2001).
Menurut Ong (2000) sudah sejak lama bangsa Indonesia mengenal khasiat berbagai ragam
jenis tanaman sebagai sarana perawatan kesehatan, pengobatan serta untuk mempercantik
diri yang selama ini dikenal sebagai jamu. Dikalangan internasional, jamu dikenal dengan
istilah Herbs yang berasal dari bahasa latin Herba yang berarti rumput, tangkai, tangkai hijau
yang lunak dan kecil dan agak berdaun.
Di Amerika Serikat menurut Pramono (2001), dari 45 macam obat penting berasal dari
tumbuhan obat tropika, 14 spesies barasal dari Indonesia diantaranya obat anti kanker
vinblastin dan vincristine yang berasal dari tapak dara (Catharanthus roseus) dan obat
hipertensi reserpine yang berasal dari puleai pandak (Rauvolfia serpentina).
Contoh dari tanaman obat yang berkhasiat untuk perawatan (promotif) yang sejak dulu sudah
dipergunakan adalah:
1.

Daun katuk (Sauropus androgynus) yang mengandung protein, dan mineral


serta berguna untuk memperlancar ASI.

2.

Daun Urang-aring (Ecliptae folium) yang mengandung alkaloid antara lain yang
berguna untuk perawatan rambut.

3.

Daun beluntas (Pluceae indicae folium) yang mengandung minyak atsiri dan
berguna untuk menghilangkan bau badan atau keringat tidak sedap.
Sedangkan contoh tanaman obat yang berkhasiat untuk pengobatan (kuratif)
adalah:
1.

Kulit batang kina (Cinchonae cortex) yang mengandung alkaloid kinina,


kidinina, sinkonina dan lain-lain berguna untuk obat malaria.

2.

Akar pulai pandak (Rauvolfia radix) yang mengandung alkaloid reserpin


dan berguna untuk penurun tekanan darah tinggi.

3.

Umbi bawang putih (Allii sativi bulbus) yang mengandung minyak atsiri
yang berguna untuk menurunkan kadar kolesterol dalam darah dan
penurun tekanan darah tinggi.

Keanekaragaman didalam jenis tanaman obat diketahui sangat sempit Sebagai contoh
Alstonia scholaris (L.) R. Br. yang dikenal dengan nama pulai, variasinya di alam sangat kecil
tetapi kerabat dekatnya banyak dan sering dikacaukan dan sengaja dijadikan surogat
(pemalsu) (Rifai, Rugayah dan Widjaja, 1992). Pulai tersebut dijumpai di dalam hutan tropika
Indonesia dan banyak digunakan sebagai bahan baku industri jamu. Penyebaran tanaman
tersebut adalah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Irian jaya, Maluku, Nusa Tenggara dan Jawa.
Belum dilakukan karakterisasi pada jenis pulai yang berada di beberapa daerah
penyebarannya, sehingga tidak diketahui apakah dari beberapa daerah tersebut ada yang
menunjukkan perbedaan dalam morfologi atau kandungan kimianya.
Dari penelitian yang telah dilakukan Sirait (2001) menunjukan bahwa 80% tanaman-tanaman
obat untuk jamu didominasi oleh famili Zingiberaceae menyusul Piperaceae dan Umbeliferae.
Ketiga famili tersebut mempunyai aroma, warna bunga, umbi yang jelas dan mudah ditanam.
Dalam UU No 12 tahun 1992, pasal 1 butir 2, plasma nutfah diartikan sebagai substansi yang
terdapat dalam kelompok mahluk hidup dan merupakan sumber sifat keturunan yang dapat
dimanfaatkan dan dikembangkan atau dirakit untuk menciptakan jenis unggul atau kultivar
baru. Sedangkan menurut Sumarno (2002) plasma nutfah termasuk di dalam pengertian yang
paling sempit, yaitu keanekaragam di dalam jenis. Sebagai contoh plasma nutfah pisang
adalah pisang tanduk, pisang lampung, pisang ambon, sapi bali, sapi madura, Itik alabio, itik
mojokerto, domba garut, domba ekor tipis, ikan mas si Nyonya dan ikan mas Majalaya. Plasma
nutfah tanaman obat misalnya tanaman jahe adalah jahe gajah (Cimanggu 1, Cimanggu 2) ,

jahe emprit/kapur, jahe merah, sedangkan contoh untuk tanaman katuk adalah Bastar, Paris,
Kebo dan Zanzibar.
Tabel 1. Beberapa klon/nomor harapan serta varietas tanaman Obat yang telah dilepas

KLASIFIKASI KONDISI TANAMAN OBAT


Klasifikasi kondisi tanaman obat akibat pengambilan bahan baku tanpa dilakukan pelestarian
plasma nutfahnya diklasifikasikan menjadi 5 kelompok (Muharso, 2000):
1.

Punah (extinct), jenis tanaman yang dianggap telah musnah/hilang sama sekali
dari permukaan bumi.

2.

Genting (endangered), jenis tanaman yang terancam punah

3.

Rawan (vulnerable), jenis tanaman yang terdapat dalam jumlah sedikit dan
eksploitasinya terus berjalan sehingga perlu dilindungi.

4.

Jarang (rare) jenis tanaman yang populasinya besar tetapi tersebar secara
lokal, atau daerah penyebarannya luas tetapi tidak sering dijumpai serta
mengalami erosi berat.

5.

Terkikis (indeterminate), jenis tanaman yang jelas mengalami proses


kelangkaan tetapi informasi keadaan sebenarnya belum mencukupi untuk
masuk dalam katagori tersebut diatas.
Menurut Rifai et al. (1992) yang termasuk katagori genting adalah purwoceng
(Pimpinella pruatjan), katagori rawan diwakili oleh Ki koneng (Arcangelisia
flava) dan pulai (Alstonia scholaris) termasuk katagori jarang.

PERMASALAHAN
Dalam pemanfaatannya bahan baku tumbuhan obat masih tergantung pada tumbuhan yang
ada di hutan alam atau berasal dari pertanaman rakyat yang diusahakan secara tradisional.

Kegiatan eksploitasi tanaman liar secara berlebihan melebihi kemampuan regenerasi dari
tanaman dan tanpa disertai usaha budidaya, akan mengganggu kelestarian tanaman tersebut
(Muharso, 2000). Akibatnya banyak tanaman yang terancam punah atau paling tidak sudah
sulit dijumpai di alam Indonesia, seperti purwoceng (Pimpinella pruacan), kayu angin (Usnea
misaminensis), pulasari (Alyxia reiwardii), bidara laut (Strychnos ligustrina) dan lain-lain
(Muharso, 2000). Dari informasi langsung dari pemilik pabrik jamu cap bintang timbangan di
Sukabumi diketahui bahwa tumbuhan obat yang berada di kaki Gunung Salak yang dipakai
sebagai ramuan jamunya seperti pulasari, ki rapet, ki rame, sambiloto (dari Jawa Tengah), ki
urat, tempuyung, kumis kucing, ki sereh (diambil akarnya), kulit sintok, kembang puspa
sebagian kondisinya sudah sangat kritis terutama dari jenis yang merambat sehingga mulai
tahun 2002 bahan baku kebutuhan pabrik jamu cap bintang timbangan diambil dari Lampung.
Berdasarkan hasil penelitian Mujenah, 1993 (dalam Nurhadi et al, 2000) di kabupaten Jember
dan Banyuwangi Propinsi Jawa Timur dimana Taman Nasional Meru Betiri berada yang
luasannya sekitar 58 000 ha ditemukan tidak kurang dari 350 jenis tumbuhan yang memiliki
khasiat obat. Sebagian diantaranya telah dimanfaatkan oleh masyarakat setempat secara
turun menurun. Ada 4 jenis tumbuhan obat yang dipungut masyarakat dalam jumlah besar
yaitu kemukus (Piper cubeba) sebantak 556 kg/musim, kedawung (Parkia roxburghii) sebanyak
2074 kg/musim, joho lawe (Terminalia balerica) sebanyak 1930 kg/musim dan Pakem
(Pangium edule) sebanyak 3021 kg/musim. Jenis-jenis lain seperti padmosari (Rafflesia
zolligeriane), doro putih (Strychnos lingustriana), krangean (Litsea cubeba), keningar
(Cinnamomum cassia) dipanen sesuai permintaan pasar.
Permasalahan pelestarian Tumbuhan Obat Indonesia menurut Zuhud et al. (2001) disebabkan
karena a) Kerusakan habitat, b) Punahnya budaya dan pengetahuan tradisional penduduk
asli/lokal di dalam atau sekitar hutan, c) Pemanenan tumbuhan obat yang berlebihan. Adanya
eksploitasi terhadap kayu yang sekaligus pohon tersebut yang juga merupakan spesies
tumbuhan obat juga merupakan ancaman terhadap kelestarian tumbuhan obatnya. Sebagian
besar areal konsesi HPH (areal eksploitasi kayu) yang sudah diusahakan saat ini terdapat di
tipe hutan hujan dataran rendah dimana 44% spesies tumbuhan obat penyebarannya terdapat
di formasi hutan ini dan di areal hutan konversi (areal hutan yang bisa dirubah menjadi areal
non-hutan seperti untuk perluasan lahan pertanian/ perkebunan, areal transmigrasi dan areal
industri dll). Ancaman kelestarian plasma nutfah tumbuhan obat hutan tropika saat ini
menurut Zuhud et al. (2001) sangat serius karena formasi hutan tropika dataran rendah
selama 2 dekade belakangan ini mengalami kerusakan yang sangat parah, akibat eksploitasi
kayu, perambahan hutan, kebakaran hutan, konversi hutan, perladangan berpindah dan lainlain. d) Ketidak seimbangan penawaran dan permintaan tumbuhan obat, e) Lambatnya
pengembangan budidaya tumbuhan obat Indonesia, f) Rendahnya harga tumbuhan obat, g)
Kurangnya kebijakan dan peraturan perundangan pelestarian, h) Kelembagaan pelestarian
tumbuhan obat.
Tabel 2. Perusakan habitat di beberapa propinsi di Indonesia

PENGELOLAAN PLASMA NUTFAH


Eksplorasi

Kegiatan eksplorasi yang merupakan pelacakan atau penjelajahan, mencari, mengumpulkan


dan meneliti jenis plasma nutfah tertentu dilakukan untuk mengamankan dari kepunahan
( Kusumo et al, 2002).
Pendekatan awal dalam kegiatan eksplorasi pada umumnya dimulai dengan penelitian
etnobotani dan etnofarmakologi sebagai upaya untuk menginventarisasi jenis tumbuhan obat
dan manfaat penggunaannya (Anggadiredja dan Rifai, 2000). Kegiatan eksplorasi sudah
banyak dilakukan oleh berbagai lembaga penelitian dan industri maupaun perorangan namun
hasil-hasilnya tidak terdokumentasi dengan baik sehingga kita tidak pernah memiliki literatur
yang utuh tentang tumbuhan obat dan ramuannya serta cara pengobatannya. Terlebih lagi
kegiatan penelitian ini sering tidak dilengkapi oleh pendukung herbarium untuk setiap jenis
tumbuhan.
Eksplorasi plasma nutfah tanaman obat telah dilakukan Balittro di Taman Nasional Meru Betiri,
G. Ceremai dan G. Cakrabuana Jawa Barat dan hasil eksplorasi ditanam di kebun koleksi
sebagai konservasi ex situ (Hasnam et al, 2000).
Konservasi
Kegiatan penelitian konservasi tumbuhan obat adalah kegiatan penelitian di hulu yang amat
sangat terbatas dan kurang mendapat perhatian. Tiga lembaga yaitu Hostus Medicus
Tawangmangu, Balai apenelitian Tanaman Rempah dan Obat serta Kebun Raya dapat menjadi
garda terdepan dalam kegiatan penyediaan plasma nutfah secara ex-situ untuk menunjang
pelestarian secara in-situ yang dilakukan oleh Departemen Kehutanan.
Konservasi in situ pada sejumlah Taman Nasional, daerah yang dilindungi telah dilakukan
seperti di Meru Betiri (Jawa Timur), Gn. Leuser di Aceh, Gn. Halimun dan Gn. Gede Pangrango
di Jawa Barat, Kerinci- Seblat in Jambi, Gn Palung (Kalimantan), Gn. Rinjani (Nusa Tenggara),
Rawa Aopa, Dumoga Bone (Sulawesi), Manusela (Maluku) dan Gn. Lorentz di Irian Jaya
(Bermawie dan Sutisna, 1999). Menurut Rahardjo et al. (2002) tanaman obat dengan status
langka seperti kedawung (Parkia roxburghii G. Donn.), Padmosari (Raffesia zollingeriana Kds),
Kayu garu (Aquillari malaccanensis Lamk.). Kayu angin (Usnea barbata Fries) dan Pulai pandak
(Raufolvia serpentina) dikonservasi di kawasan penyangga Taman Nasional Meru Betiri.
Idealnya semua tumbuhan obat harus dilestarikan, meliputi semua populasi di alam (in situ)
dan dilakukan penangkaran diluar habitatnya (ex situ). Menurut Zuhud et al. (2001) tujuan
pelestarian ex situ adalah a) untuk diintroduksi kembali ke habitat aslinya, b) untuk kegiatan
pemuliaan dan c) untuk tujuan penelitian dan pendidikan. Prioritas pelestarian ex situ
diberikan untuk spesies yang habitatnya telah rusak atau tidak dapat diamankan lagi,
pelestarian ex situ juga harus digunakan untuk meningkatkan spesies lokal yang hampir punah
menjadi tersedia kembali di alam. Di beberapa negara hal ini menjadi perhatian untuk
melestarikan semua spesies tumbuhan obat secara ex situ.
Koleksi tanaman obat secara ex situ menurut Sudiarto et al., (2001) yang dimiliki oleh Balai
Penelitian Tanaman Rempah dan Obat adalah:
Di dataran tinggi :
1. IP Manoko : 395 (varietas dan jenis)
2. IP Gunung Putri : 136 (varietas dan jenis)
2 jenis tanaman introduksi
Di dataran rendah : 1. IP Cikampek : 60 (varietas dan jenis)
2. IP Sukamulya : 226 (varietas dan jenis)
3. IP Cimanggu : 291 (varietas dan jenis), 6 jenis asal Sagedepaha
Konservasi in vitro tanaman obat telah dilakukan pada tanaman pegagan, inggu, kumis kucing,
meniran, kencur, temu putih, bangle, pulai pandak, purwoceng, temu giring, tapak dara, daun
encok, echinaceae, lidah buaya, temu kunci, temu lawak, kunyit, jahe, canola dan murbei.
Penyimpanan pule pandak secara in vitro telah dilakukan oleh Gati dan Mariska (2001) dengan
pertumbuhan minimal, enkapsulasi atau dengan cara pembekuan dengan nitrogen cair.
Menurut Sastrapradja (2000) bahwa kecenderungan baru untuk melestarikan keanekaragaman
hayati pertanian secara lekat lahan memang belum dimulai di Indonesia. Untuk pelestarian
tumbuhan obat, agaknya kecenderungan ini perlu dikaji manfaatnya. Berbicara mengenai
pelestarian keanekaragaman hayati, usaha ini di negara negara yang sedang berkembang
seperti Indonesia memang menjumpai banyak tantangan. Tanpa mengkaitkannya dengan
pembangunan nasional secara menyeluruh, pemerintah akan menganggap usaha pelestarian
itu sebagai beban, bukan sebagi peluang.
Namun menurut Nurhadi et al. (2000) konservasi tumbuhan obat harus dilakukan bersama-

sama dengan masyarakat, dalam arti kegiatan budidaya tumbuhan obat yang berasal dari
dalam hutan tersebut dilakukan oleh masyarakat yang selama ini memanfaatkannya.
Menurut Sastrapradja (2000) yang sebenarnya harus kita kembangkan segera adalah teknologi
teknologi yang dapat meningkatkan nilai tambah sumber bahan baku obat tersebut. Dari
pengalaman negara negara lain kita belajar bahwa untuk menemukan sebuah senyawa kimia
yang nantinya dapat dikembangkan menjadi obat, memerlukan waktu yang lama dan dana
yang tidak sedikit jumlahnya.
PEMANFAATAN TANAMAN OBAT
Potensi sumbangan plasma nutfah untuk dunia pengobatan mungkin seperti handeuleum atau
daun ungu (Graptophyllum pictum) yang digunakan untuk mengatasi masalah ambeien.
Namun penelitian untuk mendukung kebenaran ilmiahnya belum secara mendasar dilakukan
(Anggadiredja dan Rifai, 2000).
Dalam usaha pemanfaatan tumbuhan obat perlu diperhatikan kelestarian dari jenis tumbuhan
tersebut agar tidak punah. Upaya peningkatan budidaya selain melestarikan sumber bahan
OT/OAI diharapkan dapat mengembangkan produksi tumbuhan obat dalam negeri, dan
selanjutnya dapat diekspor sehingga memberikan nilai tambah dalam pertumbuhan ekonomi
(Muharso, 2000).
Komoditas Tanaman Obat unggulan versi Badan POM (2001) telah ditetapkan seperti sambilito,
pegagan, jati belanda, tempuyung, temulawak, daun ungu, cabe jawa, sanrego, pasak bumi,
pace, daun jinten, kencur, dan teknologi budidayanya untuk sebagian komoditas sudah
tersedia.
Beberapa contoh obat tradisional dikemukakan oleh Maat (2001) yang berasal dari tanaman
obat asli Indonesia yang dikemukakan dengan menggunakan bahasa ilmu kedokteran moderen
agar dapat dipahami oleh kalangan dokter yang nantinya diharapkan menjadikan cikal bakal
suatu Obat tradisional Untuk Pelayanan Kesehatan Formal:
1. Obat Tradisional sebagai imunomodulator: Phyllanthus niruri L.
2. Obat Tradisional untuk pengobatan Hiperkolesterolemia dan hipertrigli seridemia : Sechium
edule
3. Obat Tradisional untuk pengobatan kanker: Fam cruciferae, Solanum nigrum, Catharanthus
roseus/Vinca rosea, Aloe vera L, Allium sativum L., Curcuma longa L., Nigella sativa L., Morinda
citrifolia L., Andrographis paniculata Ness., Gynura procumbens Merr.
4. Obat alami sebagai terapi imun dan terapi adjuvan pada infeksi HIV/AIDS.
5. Obat Tradisional untuk pengobatan hiperurisemia dan artritis Gout.
6. Obat bahan alam untuk pengobatan hemoroid
Menurut Sinambela (2002) keanekaragaman plasma nutfah tumbuhan obat Indonesia sebagai
sumber bahan obat selayaknya diteliti secara lebih komprehensif dengan pemilihan strategi
pendekatan bioprospecting yang tepat. Bioprospecting mencakup aktivitas berbagai disiplin
ilmu terutama kimia bahan alam, farmakognosi, agrokimia, botani dan ekonomi. Penelitian
bioprospecting laboratoris bertitik tolak dari etnofarmakologi dan etnobotani.
Disamping pemanfaatan plasma nutfah tanaman obat untuk industri jamu juga dapat
dimanfaatkan untuk kosmetika seperti lidah buaya (menghilangkan noda hitam,
menanggulangi kerut, menstimulasi dan mengganti sel kulit mati dengan sel baru), ketumbar,
lavender dan lain-lain (Wardana, 2002).
Di Taman Nasional Gunung Halimun terdapat sekitar 48 jenis tumbuhan yang dapat
dimanfaatkan sebagai obat. Diantara jenis tiumbuhan obat tersebut, ada yang berkhasiat
sebagai obat tonik, aprodisiak, batuk, asma, jamu sehabis melahirkan, masuk angin, ramuan
jamu godok, penyedap, obat penyakit sipilis. Pemanfaatan tumbuhan obat tersebut masih
terbatas untuk keperluan keluarga, belum dikomersiilkan (Sukarman et al., 2002).
PERLINDUNGAN TERHADAP TANAMAN OBAT
Sudah sejak lama kurang lebih 50 tahun yang lalu Indonesia menggunakan tanaman obat
sebagai obat, apalagi setelah terjadi krisis ekonomi yang melanda Indonesia, tanaman obat
dipakai sebagai pengobatan alternatif/pilihan bagi ekonomi lemah. Tanaman obat ini sedang
menjadi isu di negara -negara berkembang dan bagaimana memberikan perlindungan hukum
terhadap tanaman obat, negara-negara berkembang perlu untuk mempelajarinya (Yunus,
2000).
Pengaturan pemanenan tumbuhan obat dari alam, larangan pemungutan spesies tumbuhan
obat yang terancam punah perlu dilakukan, demikian juga perlu dilakukan pengontrolan

terhadap perdagangan tumbuhan obat dan produk-produknya (Zuhud et al., 2001).


Kita harus berupaya agar paten handeuleum misalnya tidak dilakukan di USA atau Jepang
seperti yang dialami tanaman mimba/neem (Azadirachta indica) yang sebenarnya sudah
digunakan lebih dari 400 tahun oleh orang India (Anggadiredja dan Rifai, 2000).
KEBIJAKAN OPERASIONAL
Untuk pemanfaatan tumbuhan obat Indonesia perlu ditempuh kebijakan operasional dan
langkah-langkah sebagai berikut (Muharso, 2000):
1.

Eksploitasi dan pelestarian Sumber Daya Alam


Kebijakan operasional:
- Eksploitasi tumbuhan liar di hutan alam untuk bahan baku OT/OAI dibatasi
sebelum budidaya jenis tumbuhan tersebut terlaksana dengan baik
- Segera dilakukan langkah budidaya terhadap jenis tumbuhan yang banyak
diperlukan untuk bahan baku OT/OAI.
Langkah langkah:
- Melaksanakan inventarisasi jenis tumbuhan obat yang terdapat di hutan atau
tumbuhan liar.
- Melakukan penanaman kembali jenis tumbuhan obat dalam kondisi genting
atau terancam punah.

2.

Penelitian, budidaya tumbuhan obat, penanganan pasca panen, standarisasi


serta pengembangan pasar.

PUSTAKA
Anggadiredja, J. dan M.A. Rifai. 2000. Research on Medicinal Plant (An overview). Makalah

seminar Tumbuhan Obat di Indonesia, Kerjasama Indonesian Resource Centre for Indigenous
Knowledge (INRIK), Universitas Pajajaran dan yayasan Ciungwanara dengan Yayasan KEHATI.
26-27 April 2000.
Arifin, S., M. Ghulamahdi dan L.K. Darusman, 2001. Standardisasi teknologi penyediaan
bahan aneka tanaman/tanaman obat. Seminar sehari synchronisasi pengadaan benih sumber
Tanaman hias dan Aneka tanaman. Jakarta , 26 Juli 2001. 13 hal.
Bermawie, N and U. Sutisna. 1999. Conservation and Productivity Improvement of Medicinal
Plants in Indonesia. The second Meeting of The Asean Experts Group on Herbal and Medicinal
Plants. Cisarua, Bogor, 13-15 July 1999.
Ditjen POM., 2001. Kebijakan nasional pengembangan obat tradisional. Departemen
Kesehatan RI. Jakarta . 20 hal.
Hasanah, M. 2001. Perbanyakan benih sumber tanaman obat. Seminar sehari synchronisasi
pengadaan benih sumber Tanaman hias dan Aneka tanaman. Jakarta , 26 Juli 2001. 13 hal.
Hasnam, E.A. Hadad., N. Bermawi., Sudjindro, H. Novarianto (2000). Konservasi Plasma
Nutfah Tanaman Industri. Puslitbangtri. Makalah disampaikan pada pertemuan Komisi Nasional
Plasma Nutfah di Bogor tanggal 22-23 Nopember 2000.
Lestari, E. G. dan I. Mariska., 2001. Perbanyakan dan Penyimpanan Tanaman Rauvolfia
serpentina secara in vitro. Buletin Plasma Nutfah 7(1): 40 45.
Maat S., 2001. Manfaat Tanaman Obat Asli Indonesia Bagi Kesehatan. Lokakarya
Pengembangan Agribisnis berbasis Biofarmaka. Kerjasama Dept. Pertanian dan IPB
Sinambela, J.M. 2002. Pemanfaatan Plasma Nutfah dalam Industri Obat-obatan. Buletin
Plasma Nutfah 8(2): 78-83. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen
Pertanian.
Junus, E. 2000. HaKI dalam Tanaman Obat. Makalah seminar Tumbuhan Obat di Indonesia,
Kerjasama Indonesian Resource Centre for Indigenous Knowledge (INRIK), Universitas Pajajaran
dan yayasan Ciungwanara dengan Yayasan KEHATI. 26-27 April 2000.

Kusumo, S., M. Hasanah., S. Moeljopawiro, M. Thohari., Subandriyo., A. Hardjamulia, A.


Nurhadi dan H. Kasim., 2002. Pedoman Pembentukan Komisi Daerah dan Pengelolaan Plasma

Nutfah. Komisi Nasional Plasma Nutfah. Badan Litbang Pertanian. Dept. Pertanian.
Muharso, 2000. Kebijakan Pemanfaatan Tumbuhan Obat Indonesia. Makalah seminar
Tumbuhan Obat di Indonesia, Kerjasama Indonesian Resource Centre for Indigenous
Knowledge (INRIK), Universitas Pajajaran dan yayasan Ciungwanara dengan Yayasan KEHATI.
26-27 April 2000.
Nurhadi, Rusdi, Warno. 2000. Pemanfaatan dan Pengembangan Tumbuhan Obat Hutan.

Kasus Masyarakat Meru Betiri. Makalah seminar Tumbuhan Obat di Indonesia, Kerjasama
Indonesian Resource Centre for Indigenous Knowledge (INRIK), Universitas Pajajaran dan
yayasan Ciungwanara dengan Yayasan KEHATI. 26-27 April 2000.
Sumarno, 2002. Penggunaan bioteknologi dalam pemanfaatan dan pelestarian plasma nutfah
tumbuhan untuk perakitan varietas unggul. Seminar Nasional Pemanfaatan dan Pelestarian
Plasma Nutfah. Kerjasama Pusat Penelitian Bioteknologi IPB dan KNPN. Deptan.
Ong, C. 2000. Prospek Industri Obat Asli Indonesia. Makalah seminar Tumbuhan Obat di
Indonesia, Kerjasama Indonesian Resource Centre for Indigenous Knwledge (INRIK),
Universitas Pajajaran dan yayasan Ciungwanara dengan Yayasan KEHATI. 26-27 April 2000.
Pramono, E. 2001. Pengembangan Agromedisin Indonesia: Pemanfaatan Sumberdaya Alam
Indonesia menjadi Komoditas Farmasi Unggulan.
Rahardjo, M., Sudiarto, S. M. D., Sukarman dan O. Rostiana. 2002. Konservasi dan
Pemanfaatan Tanaman Obat Langka dan Potensial di Kawasan Penyangga Taman Nasional
Meru Betiri. Bull. Plasma Nutfah. Badan Litbang Pert. Dept. Pert. 8(1): 22- 28.
Rahayu, S. dan N. Sunarlim. 2002. Konservasi Tumbuhan Obat Langka Purwoceng melalui
Pertumbuhan Minimal. Bull. Plasama Nutfah. Badan Litbang Pert. Dept. Pert. 8(1): 29 33.
Rifai, M. A., Rugayah, E.A. Widjaja. 1992. Floribunda. Tiga Puluh Tumbuhan Obat Langka
Indonesia. Penggalang Taksonomi Tumbuhan Indonesia. Sisipan Floribunda 2: 1-28.
Sastrapradja, S. D. 2000. Pengelolaan Sumber Hayati Indonesia. Kasus Khusus Tumbuhan
Obat. . Makalah seminar Tumbuhan Obat di Indonesia, Kerjasama Indonesian Resource
Centre for Indigenous Knowledge (INRIK), Universitas Pajajaran dan yayasan Ciungwanara
dengan Yayasan KEHATI. 26-27 April 2000.
Sirait, M., 2001. Pengembangan Obat Bahan Alam. Seminar Perhimpunan Peneliti Obat Bahan
Alam bekerja sama dengan Institut Sains dan Teknologi Nasional (ISTN)
Sudiarto, Hobir, M. Rahardjo, Rosita SMD dan H. Nurhayati. 2001. Dukungan Teknologi
Budidaya untuk Pengembangan Industri Obat Tradisional. Makalah disampaikan pada
Lokakarya Pengembangan Agribisnis Berbasis Biofarmaka tanggal 13 15 November 2001 di
Jakarta. 21 hal.
Supriadi dkk., 2001. Tumbuhan obat Indonesia. Penggunaan dan Khasiatnya. Edisi pertama
Agustus 2001. PPO: 10.2.4. Pustaka Populer Obor. 145 hal.
Sukarman, M. Rahardjo, O. Rostiana, S.M.D. Rosita dan Sudiarto.2002. Inventarisasi
Tumbuhan Obat di Taman Nasional Gunung Halimun. Bull. Plasma Nutfah. Badan Litbang Pert.
Dept Pert. 8(1): 16-21.
Wardana, H. D. 2002. Pemanfaatan Plasma Nutfah dalam Industri Jamu dan Kosmetika Alami.
Buletin Plasma Nutfah. Badan Litbang Pertanian. Dept Pert. 8(2): 84-89.
Zuhud, E. A.M, Azis, S., M. Ghulamahdi, N. Andarwulan, L.K. Darusman. 2001. Dukungan
teknologi pengembangan obat asli Indonesia dari segi budidaya, pelestarian dan pasca panen.
Lokakarya Pengembangan Agribisnis berbasis Biofarmaka. Pemanfaatan dan Pelestarian
Sumber Hayati mendukung Agribisnis Tanaman Obat.

Arcangelisia flava
Family
Menispermaceae

Synonyms
Arcangelisia lemniscata (Miers) Becc., Arcangelisia loureiri (Pierre) Diels.

Vernacular Names
English:
Malaysia:
Indonesia:
Philippines:
Thailand:
Vietnam:

Yellow-fruited moonseed.
Mengkunyit.
Areuy ki koneng (Sundanese), sirawan (Javanese), daun bulan
(Moluccas).
Abutra (Ilokano, Bisaya), suma (Tagalog, Pampango).
Khamin khruea (Chanthaburl), kamphaeng jedchunum.
V[ar]y d[aws]ng.

Geographical Distributions
A. flava is widely distributed from Hainan (China), Indo-China, southern peninsular
Thailand, Peninsular Malaysia, Sumatra, Java, Borneo, the Philippines, Sulawesi, the
northern Moluccas to New Guinea.

Description
This is a large, woody, smooth liana, up to 20 m long. The stem is up to 5 cm in diametre.
The yellow wood secretes yellow sap when cut.
The leaves are usually egg-shaped, (10-)12-25 cm x (5.5-) 8-19 cm, leathery texture and 5veined arising from the same base. The stalk of its leaf is (4-)7-15(-20) cm long, swollen at
both ends but no stipules.
This plant bears unisexual flowers. Its inflorescence arises from the axils or borne on the
trunk, resembling an indeterminate branched, raceme-like and slender with size of 10-50
cm long. The lateral branches are spike-like. The flowers are unisexual with 3-4 minute
outer sepals and 6 larger inner sepals. The petals are absent. The male flower is in
spherical cluster of 9-12 anthers, slightly without stalk.. The female flower bears 3 fruits and

has a number of abortive stamens but without an imperfect anther.


Its fruit is a slightly laterally compressed drupe, transversely slightly ovoid, 2-3 cm in diametre,
yellow, with a club-shaped stalk. The endocarp is woody, covered with a dense mat of radial,
elongated, thread-like structure. The seed is broadly ellipsoidal, with ruminate endosperm and
much folded cotyledons.(1)

Ecology / Cultivation
A. flava occurs in forests at altitudes up to 1000 m, sometimes near river banks. In Sulawesi, it is
reported to grow on limestone.

Line Drawing / Photograph

References
1.

Sl. No.

Plant Resources of South-East Asia No 12(2). 1998, Unesco.

Botanical
Name

Family

Garcinia gummigutta

Local Name
Clusiaceae

zkeagNf, hfC%

Garcinia imberti

Clusiaceae

c*ef

Garcinia indica

Clusiaceae

zkex, kef

Garcinia morella

Clusiaceae

hfncjx, fkfjf

Garcinia spicata

Clusiaceae

c*ved

Garcinia
travancorica

Clusiaceae

cnze=@

Garcinia wightii

Clusiaceae

hgNfcjx, Egh

Garcinia
xanthochymus

Clusiaceae

EvbeR, hfC%

Gardenia
gummifera

Rubiaceae

kfcjx

10

Gardenia
resinifera

Rubiaceae

kfcjx

11

Garuga pinnata

Burseraceae

Dkej, kegzv

12

Givotia
rottleriformis

Euphorbiaceae

bjNf, zkelCg

13

Glochidion
ellipticum

Euphorbiaceae

}ez}f

14

Glochidion
malabaricum

Euphorbiaceae

zJgzvf

15

Glochidion
tomentosum

Euphorbiaceae

zvfehgNf

16

Glochidion
velutinum

Euphorbiaceae

lad

17

Glochidion
zeylanicum

Euphorbiaceae

vr%zbf, hfcg

18

Gloriosa
superba

Liliaceae

scsef

19

Gluta
travancorica

Anacardiaceae

zgJg*f

20

Gmelina arborea

Verbenaceae

kgf#, kgcfBd

21

Gmelina asiatica

Verbenaceae

cg#gcfBd

22

Gnetum
scandens

Gnetaceae

kJg Qea$

23

Gnidia glauca

Thymeleaceae

vd, vfve%

24

Gomphandra
coriacea

Icacinaceae

kfNfzaf, ze

25

Gomphia serrata

Ochnaceae

bN%cCf

26

Goniothalamus
thwaitesii

Annonaceae

vr%zf

27

Goniothalamus
wightii

Annonaceae

cnzf

28

Gordonia obtusa

Theaceae

kegkjC, kjfse

29

Grevillea robusta

Proteaceae

mf$b% Qed

30

Grewia asiatica

Tiliaceae

hjgXkcjx

31

Grewia
bracteata

Tiliaceae

keRf

32

Grewia
flavescens

Tiliaceae

zMaMf

33

Grewia nervosa

Tiliaceae

zke

34

Grewia serrulata

Tiliaceae

vJg

35

Grewia tiliifolia

Tiliaceae

af, Gx

36

Gymnacranthera
canarica

Myristicaceae

GRf\

37

Gymnema
sylvestre

Asclepiadaceae

jzef

38

Gyrocarpus
asiaticus

Hernandiaceae

lCgd