Anda di halaman 1dari 32

UNIVERSITAS TRISAKTI

FAKULTAS KEDOKTERAN
RUMAH SAKIT TNI ANGKATAN LAUT
DR MINTOHARDJO

LAPORAN KASUS
KHOLELITHIASIS
PEMBIMBING

dr. Andanu Indratnoto, Sp B(K)BD

DISUSUN OLEH
Jeffrie Irtan
NIM: 030.10.140
PERIODE 18 AGUSTUS 2014 24 OKTOBER 2014

LEMBAR PENGESAHAN

NAMA

: Jeffrie Irtan

NIM

: 030.10.140

UNIVERSITAS

: Trisakti

JUDUL KASUS

: Kholelithiasis

BAGIAN

: Ilmu Bedah RSAL Mintohardjo

PEMBIMBING

: dr. Andanu Indratnoto, Sp, B (K) BD

September 2014
Pembimbing

Dr. Andanu Indratnoto Sp.B (K) BD

LAPORAN KASUS
KEPANITRAAN KLINIK ILMU BEDAH
RUMAH SAKIT ANGKATAN LAUT DR. MINTOHARDJO JAKARTA
PERIODE 18 AGUSTUS 25 OKTOBER 2014
Pembimbing : dr. Andanu Indratnoto, Sp.B (K) BD
Disusun Oleh : Jeffrie Irtan

IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny. M
Umur : 31 Tahun
Alamat : Kel. Tengah RT 003/001 Tengah Keramat Jati, Jakarta Timur
Jenis Kelamin : Perempuan
Status Marital : Menikah
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Agama : Protestan
Pendidikan Terakhir : SMA
Suka Bangsa : Batak
Tanggal Masuk Rumah Sakit: 15 September 2014 pukul 11.45 WIB

ANAMNESIS
Dilakukan secara autoanamnesis dan alloanamnesis dengan ibu pasien pada hari
Rabu tanggal 17 September 2014 jam 15.00 WIB

Keluhan Utama
Nyeri di uluh hati dan perut kanan atas sejak 6 bulan yang lalu.

Keluhan Tambahan
Mual dan muntah.

Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien mengeluh nyeri uluh hati dan perut kanan atas sejak 6 bulan yang lalu.
Nyeri yang dirasakan hilang timbul, nyeri biasanya muncul beberapa saat setelah
pasien makan

makanan yang berlemak, seperti gorengan dan santan. Nyeri

dirasakan selama beberapa jam oleh pasien. Nyeri juga dirasakan sampai tembus
ke bahu kanan belakang. Pasien juga mengeluh sering merasa mual dan terkadang
disertai muntah.Pasien mengkonsumsi obat maag yang diberikan oleh RS cilandak
yang mendiagnosa pasien dengan gastritis kronis. Pasien tidak mengalami demam
selama 6 bulan terakhir. Pasien tidak merasa matanya kuning. Pasien tidak pernah
buah air besar seperti dempul.

Riwayat Penyakit Dahulu


Pasien tidak memiliki riwayat penyakit diabetes mellitus, hipertensi, asma, alergi,
jantung, kanker dan sakit ginjal. Pasien memiliki 3 orang anak, pernah mengalami
abortus sebanyak 1 kali.

Riwayat Penyakit Keluarga


Pasien memiliki riwayat keluarga diabetes mellitus dan hipertensi. Riwayat
penyakit keluarga seperti asma, alergi, kanker, jantung, sakit ginjal, dan hati
disangkal pasien.

Riwayat Kebiasaan
Pasien suka mengemil makanan seperti kue keju, bakso, jajanan gorengan, sop
santan, telur setengah matang, dan susu sejak kecil.

Riwayat Pengobatan
Pasien berobat ke Rumah Sakit di Cilandak dan didiagnosa sebagai gastritis
kronis. Pasien meminta USG tapi tidak diberikan, pasien hanya diberikan obat

maag saja. Pasien kemudian di bawa ke Rumah Sakit Carolus untuk dilakukan
USG, lalu hasilnya terdapat batu empedu. Pasien juga mengkonsumsi pil KB.

PEMERIKSAAN FISIK
Dilakukan pada hari Rabu tanggal 17September 2014, jam 15.30 WIB.

Primary Survey

Airway
Jalan nafas bebas tidak ada sumbatan.

Breathing
Spontan, tidak terdapat ada keterbatasan gerak nafas. Respiratory rate
18x/menit.

Circulation
Tidak ada sianosis. Tekanan darah 110/80 mmHg. Nadi 84x/menit. CRT <
2 detik.

Disability
GCS E4 V5 M6, pupil isokhor, reflek cahaya langsung dan reflek cahaya
tidak langsung +/+

Exposure
Terdapat kelainan.

Secondary Survey
Keadaan Umum

Kesan sakit

: tampak sakit sedang

Kesadaran

: compos mentis

Kesan gizi

: tampak gizi lebih

Tinggi badan : 160 cm

Berat badan

: 65 kg

Kesan gizi

: Lebih

Status Gizi

: 25, 39 (Overweight)

Tanda Vital

Tekanan darah : 110/80 mmHg

Nadi

: 84x/menit

Suhu

: 36.7 oC

Respirasi

:18x/menit

Status Generalisata

Kepala
Ukuran

: Normocephali

Rambut

: Warna hitam, distribusi merata

Wajah

: Simetris, tidak ada jejas, tidak ada edema

Mata
Palpebra

: tidak ada edema

Konjungtiva palpebra : tidak anemis


Sclera

: tidak ikterik

Hidung
Bagian luar tidak ada deformitas
Septum

: tidak ada deviasi

Mukosa

: tidak hiperemis

Tidak ada secret atau perdarahan


Tidak ada nafas cuping hidung

Mulut
Bibir

: simetris, tidak pucat

Oral hygiene : baik


Faring

: tidak hiperemis, uvula ditengah, arkus faring simetris

Tonsil

: T1/T1, tenang

Telinga
Normotia. Tidak tampak keluar secret. Tidak ada nyeri tekan tragus.

Leher
Kelenjar getah bening : tidak teraba pembesaran.
Kelenjar tiroid : tidak teraba pembesaran.

Thorax
Inspeksi

: Bentuk thorax normal, simetris kanan dan kiri. Tidak

terdapat keterbatasan gerakan nafas. Tidak tampak adanya pulsasi


abnormal. Tidak tampak adanya retraksi supraklavikula dan sela iga
Palpasi

: Pergerakan nafas kiri dan kanan simetris. Vocal fremitus

sama kuat di kedua lapang paru. Ictus cordis setinggi ICS 5, di linea
midclavicularis kiri.
Perkusi

: Sonor pada kedua lapangan paru.

Auskultasi

Paru

: Terdengar suara nafas vesikuler. Tidak terdapat

bunyi ronki dan wheezing.


-

Jantung

: Irama jantung teratur, dengan frekuensi 96x/menit.

BJ I dan II normaldengan intensitas BJ I lebih kuat di katup


mitral dan trikuspid, dan intensitas BJ II lebih kuat di katup
aorta dan pulmonal. Tidak terdengan adanya bunyi jantung
tambahan. Tidak terdengar murmur.

Abdomen
Lihat pada status lokalis.

Ekstremitas
Inspeksi

: Tidak tampak kelainan yang bermakna.

Palpasi

: Keempat ekstremitas hangat dalam perabaan. Tidak ada

edema. Tonus otot baik.

Kulit
Warna

: Sawo matang, tidak pucat, tidak ikterik

Lesi

: Tidak terdapat efloresensi yang bermakna

STATUS LOKALIS
Regio abdomen

Inspeksi

: Bentuk abdomen rata, tidak ada sagging of the flanks,

mengembang saat inspirasi dan mengempis saat ekspirasi.

Palpasi

: Dinding abdomen supel, tidak teraba massa, turgor baik.

Terdapat nyeri tekan pada regio hipokondrium dextra dan epigastrium,


hepar dan lien tidak teraba.

Perkusi

: Suara timpani pada keempat kuadran abdomen.

Auskultasi

: Bising usus 4x/menit

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan Laboratorium tanggal 5 september 2014 pukul 08:49
Jenis Pemeriksaan

Hasil

Satuan

Leukosit

6.700

/uL

Eritrosit

4.27

Juta/uL

Hemoglobin

12.2

g/dL

Hematokrit

38

Trombosit

355.000

Ribu/uL

Masa Perdarahan/BT

200

Menit

Masa Pembekuan/CT

1000

Menit

84

mg/dL

39*

u/L

0.8

mg/dL

HEMATOLOGI
Darah Rutin

HEMOSTASIS

KIMIA KLINIK
Glukosa darah
Glukosa Darah Puasa
Fungsi Hati
AST (SGOT)
Fungsi Ginjal
Kreatinin

URINE
Urine Lengkap
Kimia Urine
Eritrosit

Warna

Kuning

Leukosit

/LPB

Glukosa

mg/dL

Bilirubin

Keton

Berat Jenis

1.020

pH

6.0

Protein

mg/dL

Urobilinogen

Normal

mg/dL

Nitrit

Mikroskopik Urine
Eritrosit

++ / 15-20*

/LPB

Leukosit

+ / 3-4

Sel/uL

Epitel

/LPK

Bakteri

Motil/10K

Silinder

/LPB

Kristal

/LPB

Pemeriksaan Radiologis
Foto Thorax PA pada tanggal 9 September 2014

Kesan

: tidak tampak kelainan radiologi

USG
Pada tanggal 2 September 2014

Kesan

: Kholelithiasis dan cholecystitis

RESUME
Pasien datang ke RS TNI AL Mintohardjo dengan keluhan nyeri uluh hati
dan perut kanan atas sejak 6 bulan yang lalu. Nyeri yang dirasakan hilang timbul,
nyeri biasanya muncul beberapa saat setelah pasien makan

makanan yang

berlemak, seperti gorengan dan santan. Nyeri dirasakan selama beberapa jam oleh
pasien. Nyeri juga dirasakan sampai tembus ke bahu kanan belakang. Pasien juga
mengeluh sering merasa mual dan terkadang disertai muntah.
Pemeriksaan fisik
- Keadaan umum

: tampak sakit sedang

- GCS

:15

- Tekanan darah

: 110/80 mmHg

- Frekuensi nadi

: 84x/menit

- Frekuensi nafas

: 18x/menit

- Suhu

: 36.7 0C

- BMI

: 25, 39

- Abdomen

: Terdapat nyeri tekan pada regio hipokondrium

dextra dan epigastrium


Laboratorium
Terdapat peningkatan dari fungsi hati (SGOT) dan terdapat eritrosit pada
mikroskopik urine.
USG Abdomen
Kesan

: Kholelithiasis dan Kholecystitis

DIAGNOSIS

Kholelithiasis dan kolesistitis

PENATALAKSANAAN
Non medikamentosa

Konsul Spesial Bedah Abdomen

Operatif

Operasi kolesistektomi
Dilakukan oleh dr. Andanu Sp. B (K) BD, pada hari Rabu tanggal 17
september pukul 14.00 WIB

Instruksi post operasi:


-

Puasa

Infus RL III dan D5% I dalam 24 jam

Obat obatan :

1. Cefotaxim 2 x 1 g iv
2. Metronidazole 3 x 500 g iv
3. Vit C 1 x 400 g iv
4. Ranitidine 3 x 1 iv
5. Profenid Supp 2 x 1
-

Tampung
1. NGT/24 jam
2. Urine/ jam

Post operasi rawat di ICU

FOLLOW UP
Post-Operasi
Laboratorium tanggal 17 September 2014 pukul 18.49 WIB
Jenis Pemeriksaan

Hasil

Satuan

Leukosit

13.000*

/uL

Eritrosit

4.29

Juta/uL

Hemoglobin

11.9*

g/dL

Hematokrit

37

Trombosit

347.000

Ribu/uL

HEMATOLOGI
Darah Rutin

KIMIA KLINIK
Glukosa darah
Glukosa Darah Puasa

131*

mg/dL

Bilirubin total

0.57

mg/dl

Bilirubin direk

0.20*

mg/dl

Bilirubin indirek

0.37

mg/dL

Total protein

7.6

g/dl

Albumin

4.1

g/dl

Globulin

3.5*

g/dl

Natrium (Na)

139

Mmol/L

Kalium (K)

3.1*

Mmol/L

Clorida (Cl)

102

Mmol/L

Bilirubin
Direk/Indirek

Fungsi hati
Protein total

Elektrolit

Laboratorium tanggal 18 September 2014 pukul 06.38 WIB


Jenis Pemeriksaan

Hasil

Satuan

Leukosit

10.100*

/uL

Eritrosit

3.86*

Juta/uL

Hemoglobin

11.0*

g/dL

Hematokrit

34*

Trombosit

325.000

Ribu/uL

HEMATOLOGI
Darah Rutin

Kamis, 18 September 2014

S : Nyeri pada luka sayatan, tidak bisa tidur, nyeri saat menelan.
O : TD 128/78 S/N= 37/94, pernafasan 25x/menit, terpasang NGT
A : Post operasi cholelithiasis,
P : Cefotaxim 2 x 1 gram, Metronidazole 3 x 500 gram, Vit C 1 x 400 gram,
Ranitidine 3 x 1 gram, Profenid supp 2 x 1 g

Jumat, 19 September
S : Nyeri pada luka sayatan.
O : TD 122/78 S/N= 36.7/94, pernafasan 22x/menit
A : Post operasi cholelithiasis
P : Cefotaxim 2 x 1 gram, Metronidazole 3 x 500 gram, Vit C 1 x 400 gram,
Ranitidine 3 x 1 gram.

PROGNOSIS
Ad vitam : Bonam
Ad Functionam : Bonam
Ad Sanationam : Bonam

TINJAUAN PUSTAKA
KHOLELITHIASIS

Batu empedu merupakan penyakit yang sering ditemukan di negara maju dan
jarang ditemukan di negara-negara berkembang. Dengan membaiknya keadaan
sosial ekonomi, perubahan menu makanan ala barat serta perbaikan sarana
diagnosis khususnya ultrasonografi, prevalensi penyakit batu empedu di negaranegara berkembang cenderung meningkat 1.
Di amerika serikat, 10% populasi menderita kolelitiasis dengan batu empedu
kolesterol mendominasi yang terjadi dalam 70% dari semua kasus batu empedu.
Sisanya 30% dari batu pigmen dan komposisi yang bervariasi2.

Defenisi
Batu empedu merupakan gabungan dari beberapa unsur yang membentuk suatu
material

mirip

batu

yang

dapat

ditemukan

dalam

kandung

empedu

(kolesistolitiasis) atau di dalam saluran empedu (koledokolitiasis) atau pada


kedua-duanya3.

Gambar 2.1. Gambaran batu dalam kandung empedu (Emedicine, 2007)

Anatomi kandung empedu


Kandung empedu merupakan kantong berbentuk alpukat yang terletak tepat
dibawah lobus kanan hati. Kandung empedu mempunyai fundus, korpus,
infundibulum, dan kolum. Fundus bentuknya bulat, ujung nya buntu dari kandung
empedu. Korpus merupakan bagian terbesar dari kandung empedu. Kolum adalah
bagian yang sempit dari kandung empedu4.
Empedu yang di sekresi secara terus menerus oleh hati masuk ke saluran empedu
yang kecil dalam hati. Saluran empedu yang kecil bersatu membentuk dua saluran
yang lebih besar yang keluar dari permukaan hati sebagai duktus hepatikus
komunis. Duktus hepatikus bergabung dengan duktus sistikus membentuk duktus
koledokus5.

Gambar 2.1. Gambaran anatomi kandung empedu (Emedicine, 2007)

Fisiologi
Salah satu fungsi hati adalah untuk mengeluarkan empedu, normalnya antara
600-1200 ml/hari6. Kandung empedu mampu menyimpan sekitar 45 ml empedu 5.
Diluar waktu makan, empedu disimpan untuk sementara di dalam kandung
empedu, dan di sini mengalami pemekatan sekitar 50 %. Fungsi primer dari
kandung empedu adalah memekatkan empedu dengan absorpsi air dan natrium.
Kandung empedu mampu memekatkan zat terlarut yang kedap, yang terkandung
dalam empedu hepatik 5-10 kali dan mengurangi volumenya 80-90%4.
Menurut Guyton &Hall, 1997 empedu melakukan dua fungsi penting yaitu :

Empedu memainkan peranan penting dalam pencernaan dan absorpsi lemak,


karena asam empedu yang melakukan dua hal antara lain: asam empedu membantu
mengemulsikan partikel-partikel lemak yang besar menjadi partikel yang lebih kecil
dengan bantuan enzim lipase yang disekresikan dalam getah pankreas, Asam

empedu membantu transpor dan absorpsi produk akhir lemak yang dicerna menuju
dan melalui membran mukosa intestinal.

Empedu bekerja sebagai suatu alat untuk mengeluarkan beberapa produk


buangan yang penting dari darah, antara lain bilirubin, suatu produk akhir dari
penghancuran hemoglobin, dan kelebihan kolesterol yang di bentuk oleh sel- sel
hati.
Pengosongan kandung empedu dipengaruhi oleh hormon kolesistokinin, hal ini
terjadi ketika makanan berlemak masuk ke duodenum sekitar 30 menit setelah
makan. Dasar yang menyebabkan pengosongan adalah kontraksi ritmik dinding
kandung empedu, tetapi efektifitas pengosongan juga membutuhkan relaksasi yang
bersamaan dari sfingter oddi yang menjaga pintu keluar duktus biliaris komunis
kedalam duodenum. Selain kolesistokinin, kandung empedu juga dirangsang kuat
oleh serat-serat saraf yang menyekresi asetilkolin dari sistem saraf vagus dan
enterik. Kandung empedu mengosongkan simpanan empedu pekatnya ke dalam
duodenum terutama sebagai respon terhadap perangsangan kolesistokinin. Saat
lemak tidak terdapat dalam makanan, pengosongan kandung empedu berlangsung
buruk, tetapi bila terdapat jumlah lemak yang adekuat dalam makanan, normalnya
kandung empedu kosong secara menyeluruh dalam waktu sekitar 1 jam6.
Garam empedu, lesitin, dan kolesterol merupakan komponen terbesar (90%)
cairan empedu. Sisanya adalah bilirubin, asam lemak, dan garam anorganik.
Garam empedu adalah steroid yang dibuat oleh hepatosit dan berasal dari
kolesterol. Pengaturan produksinya dipengaruhi mekanisme umpan balik yang
dapat ditingkatkan sampai 20 kali produksi normal kalau diperlukan3.

Epidemiologi
Insiden kolelitiasis di negara barat adalah 20% sedangka angka kejadian di
Indonesia

tidak

berbeda jauh dengan

negara lain di Asia Tenggara

(syamsuhidayat). Peningkatan insiden batu empedu dapat dilihat dalam kelompok


resiko tinggi yang disebut 5 Fs : female (wanita), fertile (subur)-khususnya
selama kehamilan, fat (gemuk), fair, dan forty (empat puluh tahun)7.
Kolelitiasis dapat terjadi dengan atau tanpa faktor resiko. Namun, semakin banyak
faktor resiko, semakin besar pula kemungkinan untuk terjadinya kolelitiasis8,9.
Faktor resiko tersebut antara lain:
1.

Genetik
Batu empedu memperlihatkan variasi genetik. Kecenderungan membentuk batu
empedu bisa berjalan dalam keluarga10. Di negara Barat penyakit ini sering
dijumpai, di USA 10-20 % laki-laki dewasa menderita batu kandung empedu. Batu
empedu lebih sering ditemukaan pada orang kulit putih dibandingkan kulit hitam.
Batu empedu juga sering ditemukan di negara lain selain USA, Chili dan Swedia11.

2.

Umur
Usia rata-rata tersering terjadinya batu empedu adalah 40-50 tahun. Sangat sedikit
penderita batu empedu yang dijumpai pada usia remaja, setelah itu dengan semakin
bertambahnya usia semakin besar kemungkinan untuk mendapatkan batu empedu,
sehingga pada usia 90 tahun kemungkinannya adalah satu dari tiga orang3,12.

3.

Jenis Kelamin

Batu empedu lebih sering terjadi pada wanita dari pada laki-laki dengan
perbandingan 4 : 1. Di USA 10- 20 % laki-laki dewasa menderita batu kandung
empedu, sementara di Italia 20 % wanita dan 14 % laki-laki. Sementara di Indonesia
jumlah penderita wanita lebih banyak dari pada laki-laki10.
4.

Beberapa faktor lain


Faktor lain yang meningkatkan resiko terjadinya batu empedu antara lain: obesitas,
makanan, riwayat keluarga, aktifitas fisik, dan nutrisi jangka vena yang lama10,13.

Patogenesis
Batu empedu hampir selalu dibentuk dalam kandung empedu dan jarang pada
saluran empedu lainnya dan diklasifikasikan berdasarkan bahan pembentuknya.
Etiologi batu empedu masih belum diketahui dengan sempurna, akan tetapi, faktor
predisposisi yang paling penting tampaknya adalah gangguan metabolisme yang
disebabkan oleh perubahan susunan empedu, stasis empedu dan infeksi kandung
empedu. Perubahan susunan empedu mungkin merupakan yang paling penting
pada pembentukan batu empedu, karena terjadi pengendapan kolesterol dalam
kandung empedu. Stasis empedu dalam kandung empedu dapat meningkatkan
supersaturasi progesif, perubahan susunan kimia, dan pengendapan unsur tersebut.
Infeksi bakteri dalam saluran empedu dapat berperan sebagian dalam
pembentukan batu, melalui peningkatan dan deskuamasi sel dan pembentukan
mukus5.
Sekresi kolesterol berhubungan dengan pembentukan batu empedu. Pada kondisi
yang abnormal, kolesterol dapat mengendap, menyebabkan pembentukan batu

empedu. Berbagai kondisi yang dapat menyebabkan pengendapan kolesterol


adalah : terlalu banyak absorbsi air dari empedu, terlalu banyak absorbsi garamgaram empedu dan lesitin dari empedu, terlalu banyak sekresi kolesterol dalam
empedu, Jumlah kolesterol dalam empedu sebagian ditentukan oleh jumlah lemak
yang dimakan karena sel-sel hepatik mensintesis kolesterol sebagai salah satu
produk metabolisme lemak dalam tubuh. Untuk alasan inilah, orang yang mendapat
diet tinggi

lemak dalam waktu beberapa tahun, akan mudah mengalami

perkembangan batu empedu6.


Batu kandung empedu dapat berpindah kedalam duktus koledokus melalui duktus
sistikus. Didalam perjalanannya melalui duktus sistikus, batu tersebut dapat
menimbulkan sumbatan aliran empedu secara parsial atau komplet sehingga
menimbulkan gejalah kolik empedu. Kalau batu terhenti di dalam duktus sistikus
karena diameternya terlalu besar atau tertahan oleh striktur, batu akan tetap berada
disana sebagai batu duktus sistikus3.

Patofisiologi batu empedu


a.
Batu Kolesterol
Empedu yang di supersaturasi dengan kolesterol bertanggung jawab bagi lebih
dari 90 % kolelitiasis di negara Barat. Sebagian besar empedu ini merupakan batu
kolesterol campuran yang mengandung paling sedikit 75 % kolesterol berdasarkan
berat serta dalam variasi jumlah fosfolipid, pigmen empedu, senyawa organik dan
inorganik lain. Kolesterol dilarutkan di dalam empedu dalam daerah hidrofobik
micelle, sehingga kelarutannya tergantung pada jumlah relatif garam empedu dan

lesitin. Ini dapat dinyatakan oleh grafik segitiga (gambar 2.9), yang koordinatnya
merupakan persentase konsentrasi molar garam empedu, lesitin dan kolesterol10.
Menurut Meyers & Jones, 1990 Proses fisik pembentukan batu kolesterol terjadi

dalam empat tahap:


Supersaturasi empedu dengan kolesterol.
Pembentukan nidus.
Kristalisasi/presipitasi.
Pertumbuhan batu oleh agregasi/presipitasi lamelar kolesterol dan

senyawa lain yang membentuk matriks batu.


b.
Batu pigmen
Batu pigmen merupakan sekitar 10 % dari batu empedu di Amerika Serikat. Ada
dua bentuk yaitu batu pigmen murni yang lebih umum dan batu kalsium
bilirubinat. Batu pigmen murni lebih kecil (2 sampai 5 mm), multipel, sangat
keras dan penampilan hijau sampai hitam. Batu-batu tersebut mengandung dalam
jumlah bervariasi kalsium bilirubinat, polimer bilirubin, asam empedu dalam
jumlah kecil kolesterol (3 sampai 26%) dan banyak senyawa organik lain.
Didaerah Timur, batu kalsium bilirubinat dominan dan merupakan 40 sampai 60
% dari semua batu empedu. Batu ini lebih rapuh, berwarna kecoklatan sampai
hitam10
Patogenesis batu pigmen berbeda dari batu kolesterol. Kemungkinan mencakup
sekresi pigmen dalam jumlah yang meningkat atau pembentukan pigmen
abnormal yang mengendap dalam empedu. Sirosis dan stasis biliaris merupakan
predisposisi pembentukan batu pigmen (Sarr & Cameron, 1996). Pasien dengan
peningkatan beban bilirubin tak terkonjugasi (anemia hemolitik), lazim
membentuk batu pigmen murni. Di negara Timur, tingginya insiden batu kalsium
bilirubinat bisa berhubungan dengan invasi bakteri sekunder dalam batang saluran
empedu yang di infeksi parasit Clonorchis sinensis atau Ascaris Lumbricoides.

E.coli membentuk B-glukoronidase yang dianggap mendekonjugasikan bilirubin


di dalam empedu, yang bisa menyokong pembentukan kalsium bilirubinat yang
tak dapat larut14.
c.
Batu campuran
Merupakan batu campuran kolesterol yang mengandung kalsium. Batu ini sering
ditemukan

hampir sekitar 90 % pada penderita kolelitiasis. batu ini bersifat

majemuk, berwarna coklat tua. Sebagian besar dari batu campuran mempunyai
dasar metabolisme yang sama dengan batu kolesterol10.
Manifestasi klinis
Batu Kandung Empedu (Kolesistolitiasis)
1.
Asimtomatik
Batu yang terdapat dalam kandung empedu sering tidak memberikan gejala
(asimtomatik). Dapat memberikan gejala nyeri akut akibat kolesistitis, nyeri bilier,
nyeri abdomen kronik berulang ataupun dispepsia, mual (Suindra, 2007). Studi
perjalanan penyakit sampai 50 % dari semua pasien dengan batu kandung
empedu, tanpa mempertimbangkan jenisnya, adalah asimtomatik. Kurang dari 25
% dari pasien yang benar-benar mempunyai batu empedu asimtomatik akan
merasakan gejalanya yang membutuhkan intervensi setelah periode wakti 5 tahun.
Tidak ada data yang merekomendasikan kolesistektomi rutin dalam semua pasien
dengan batu empedu asimtomatik4.
2.
Simtomatik
Keluhan utamanya berupa nyeri di daerah epigastrium, kuadran kanan atas. Rasa
nyeri lainnya adalah kolik bilier yang berlangsung lebih dari 15 menit, dan kadang
baru menghilang beberapa jam kemudian. Kolik biliaris, nyeri pascaprandial
kuadran kanan atas, biasanya dipresipitasi oleh makanan berlemak, terjadi 30-60
menit setelah makan, berakhir setelah beberapa jam dan kemudian pulih,

disebabkan oleh batu empedu, dirujuk sebagai kolik biliaris. Mual dan muntah
sering kali berkaitan dengan serangan kolik biliaris3,4.
3.
Komplikasi
Kolesistitis akut merupakan komplikasi penyakit batu empedu yang paling umum
dan sering meyebabkan kedaruratan abdomen, khususnya diantara wanita usia
pertengahan dan manula. Peradangan akut dari kandung empedu, berkaitan
dengan obstruksi duktus sistikus atau dalam infundibulum. Gambaran tipikal dari
kolesistitis akut adalah nyeri perut kanan atas yang tajam dan konstan, baik berupa
serangan akut ataupun didahului sebelumnya oleh rasa tidak nyaman di daerah
epigastrium post prandial. Nyeri ini bertambah saat inspirasi atau dengan
pergerakan dan dapat menjalar kepunggung atau ke ujung skapula. Keluhan ini
dapat disertai mual, muntah dan penurunan nafsu makan, yang dapat berlangsung
berhari-hari. Pada pemeriksaan dapat dijumpai tanda toksemia, nyeri tekan pada
kanan atas abdomen dan tanda klasik Murphy sign (pasien berhenti bernafas
sewaktu perut kanan atas ditekan). Masa yang dapat dipalpasi ditemukan hanya
dalam 20% kasus. Kebanyakan pasien akhirnya akan mengalami kolesistektomi
terbuka atau laparoskopik4.
Batu Saluran Empedu (Koledokolitiasis)
Pada batu duktus koledokus, riwayat nyeri atau kolik di epigastrium dan perut
kanan atas disertai tanda sepsis, seperti demam dan menggigil bila terjadi
kolangitis. Apabila timbul serangan kolangitis yang umumnya disertai obstruksi,
akan ditemukan gejala klinis yang sesuai dengan beratnya kolangitis tersebut.
Kolangitis akut yang ringan sampai sedang biasanya kolangitis bakterial non
piogenik yang ditandai dengan trias Charcot yaitu demam dan menggigil, nyeri
didaerah hati, dan ikterus. Apabila terjadi kolangiolitis, biasanya berupa kolangitis

piogenik intrahepatik, akan timbul 5 gejala pentade Reynold, berupa tiga gejala
trias Charcot, ditambah syok, dan kekacauan mental atau penurunan kesadaran
sampai koma3.
Koledokolitiasis sering menimbulkan masalah yang sangat serius karena
komplikasi mekanik dan infeksi yang mungkin mengancam nyawa. Batu duktus
koledokus disertai dengan bakterobilia dalam 75% persen pasien serta dengan
adanya obstruksi saluran empedu, dapat timbul kolangitis akut. Episode parah
kolangitis akut dapat menyebabkan abses hati. Migrasi batu empedu kecil melalui
ampula Vateri sewaktu ada saluran umum diantara duktus koledokus distal dan
duktus pankreatikus dapat menyebabkan pankreatitis batu empedu. Tersangkutnya
batu empedu dalam ampula akan menyebabkan ikterus obstruktif10.
Penatalaksanaan
Konservatif
a).
Lisis batu dengan obat-obatan
Sebagian besar pasien dengan batu empedu asimtomatik tidak akan mengalami
keluhan dan jumlah, besar, dan komposisi batu tidak berhubungan dengan
timbulnya keluhan selama pemantauan. Kalaupun nanti timbul keluhan umumnya
ringan sehingga penanganan dapat elektif. Terapi disolusi dengan asam
ursodeoksilat untuk melarutkan batu empedu kolesterol dibutuhkan waktu
pemberian obat 6-12 bulan dan diperlukan monitoring hingga dicapai disolusi.
Terapi efektif pada ukuran batu kecil dari 1 cm dengan angka kekambuhan 50 %
dalam 5 tahun1.
b).
Disolusi kontak
Metode ini didasarkan pada prinsip PTC dan instilasi langsung pelarut kolesterol
ke kandung empedu. Prosedur ini invasif dan kerugian utamanya adalah angka
kekambuhan yang tinggi2.
c).
Litotripsi (Extarcorvoral Shock Wave Lithotripsy =ESWL)

Litotripsi gelombang elektrosyok meskipun sangat populer beberapa tahun yang


lalu, analisis biaya-manfaat pada saat ini hanya terbatas untuk pasien yang benarbenar telah dipertimbangkan untuk menjalani terapi ini. Efektifitas ESWL
memerlukan terapi adjuvant asam ursodeoksilat10.
d).
Diet
Diet rendah lemak dan lemak diberikan dalam bentuk yang mudah di cerna.
Cukup kalori, protein dan hidrat arang. Bila terlalu gemuk jumlah kalori
dikurangi. Cukup mineral dan vitamin yang larut dalam lemak . Tinggi cairan
untuk mencegah dehidrasi. Menghindari kolesterol yang tinggi terutama yang
berasal dari lemak hewani.2
Penanganan operatif
a).
Open kolesistektomi
Operasi ini merupakan standar untuk penanganan pasien dengan batu empedu
simtomatik. Indikasi yang paling umum untuk kolesistektomi adalah kolik biliaris
rekuren, diikuti oleh kolesistitis akut. Komplikasi yang berat jarang terjadi,
meliputi trauma CBD, perdarahan, dan infeksi. Data baru-baru ini menunjukkan
mortalitas pada pasien yang menjalani kolesistektomi terbuka pada tahun 1989,
angka kematian secara keseluruhan 0,17 %, pada pasien kurang dari 65 tahun
angka kematian 0,03 % sedangkan pada penderita diatas 65 tahun angka kematian
mencapai 0,5 %4.
b).
Kolesistektomi laparoskopik
Kelebihan tindakan ini meliputi nyeri pasca operasi lebih minimal, pemulihan
lebih cepat, hasil kosmetik lebih baik, menyingkatkan perawatan di rumah sakit
dan biaya yang lebih murah. Indikasi tersering adalah nyeri bilier yang berulang.
Kontra indikasi absolut serupa dengan tindakan terbuka yaitu tidak dapat
mentoleransi tindakan anestesi umum dan koagulopati yang tidak dapat dikoreksi.

Komplikasi yang terjadi berupa perdarahan, pankreatitis, bocor stump duktus


sistikus dan trauma duktus biliaris. Resiko trauma duktus biliaris sering
dibicarakan, namun umumnya berkisar antara 0,51%. Dengan menggunakan
teknik laparoskopi kualitas pemulihan lebih baik, tidak terdapat nyeri, kembali
menjalankan aktifitas normal dalam 10 hari, cepat bekerja kembali, dan semua
otot abdomen utuh sehingga dapat digunakan untuk aktifitas olahraga16.
c).
Kolesistektomi minilaparatomi.
Modifikasi dari tindakan kolesistektomi terbuka dengan insisi lebih kecil dengan
efek nyeri paska operasi lebih rendah.

DAFTAR PUSTAKA
1.

Lesmana L. Batu Empedu dalam Buku Ajar Penyakit Dalam Jilid 1. Edisi 3.
Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2000.380-4.

2.

Schwartz S, Shires G, Spencer F. Prinsip-prinsip Ilmu Bedah (Principles of


Surgery. Edisi 6. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2000.459-64.

3.

Sjamsuhidayat R, de Jong W. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2. Jakarta: Penerbit


Buku Kedokteran EGC. 2005. 570-9.

4.

Brunicardi FC et al. Schwartzs principles of surgery. 8th edition. United States


America : McGraw Hill, 2005.826-42.

5.

Price SA, Wilson LM. Kolelitiasis dan Kolesistisis dalam : Patofisiologi.


Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, edisi 4. Jakarta : EGC. 1995. 430-44.

6.

Guyton AC, Hall JE. Sistem Saluran Empedu dalam: Buku Ajar Fisiologi
Kedokteran. Edisi ke-9. Jakarta: EGC, 1997. 1028-1029.

7.

Reeves CJ. Penyakit Kandung Empedu dalam : Keperawatan Medika Bedah.


Edisi Ke-1. Jakarta : Salemba Medika, 2001. 149-51.

8.

6
Clinic
Staff.
Gallstones.
Available
from:
http:/www.6clinic.com/health/digetivesystyem/DG9999.htm. Last update 25 Juli
2007 [diakses pada tanggal 16 April 2008]

9.

7.
Cholelithiasis.
Available
from:
http:/www.7.com/healthmanagement/ManagingYourHealth/HealthReference/Dise
ase/InDepth.htm. Last update April 2007 [diakses tanggal 16 April 200].

10.

Sarr MG, Cameron JL. Sistem empedu dalam : Buku Ajar Bedah. Esentials of
Surgery, edisis ke-2. Jakarta: EGC, 1996. 121-123

11.

Garden Jet et al. Gallstone dalam: Principle and Practice of Surgery. China:
Elseiver, 2007. 23.

12.

Bateson M. Batu Empedu dan Penyakit Hati. Jakarta: Arcan, 1991. 35-41.

13.

Latchie M. Cholelitiasis dalam : Oxford Handbook of Clinical Surgery.


Oxford University. 1996. 162

14.

Bhangu AA et al. Cholelitiasis and Cholesistitis dalam: Flesh and Bones of


Surgery. China: Elseiver, 2007. 123.

15.

Kasper DL et al. Cholelitiasis, Cholesistitis, and Cholangitis dalam: Harrisons


Manual of Medicine, McGraw Hill, 2005, 751.

16.

Nealon TF. Kolesistektomi Laparoskopi dalam : Ketrampilan Pokok Ilmu


Bedah. Jakarta : EGC, 1996. 394