Anda di halaman 1dari 3

DIARE PADA HIV

Diare merupakan buang air besar dengan tinja berbentuk cair atau setengah padat dimana kandungan
air lebih banyak dari pada biasanya, berat 200 gram, dan frekuensi lebih dari tiga kali perhari. Pada
pasien HIV, diare dapat menyebabkan mordibitas yang berpengaruh terhadap penurunan kualitas
kehidupan. Di Afrika, diare kronik dijadikan predictor seropositif HIV pada orang dewasa. Tidak
hanya itu, jumlah anak HIV yang meninggal karena diare juga lebih tinggi dari pada anak tanpa HIV.
Etiologi diare pada pasien HIV
A. diare akibat jamur
Kulit yang intak merupakan pertahanan tubuh yang efektif dalam mencegah masuknya jamur selain
adanya asam lemak pada kulit yang menghambat pertumbuhan dermatofit. Netrofil dan fagosit
mempunyai peranan penting dalam mengeliminasi infeksi jamur. Sebagai respons imun spesifik,
jamur yang masuk kedalam tubuh menyebabkan produksi IgM dan IgG yang hingga kini belum
diketahui fungsinya. Sel T CD4+ dan T CD8 bekerjasama dalam mengeliminasi jamur. Respons dari
sel Th1 bersifat protektif, sedangkan Th2 merugikan pejamu karena merusak jaringan melalui
pembentukan granuloma. Selain itu, aktifasi dari imunitas diperantarai seluler dapat menghasilkan
respons delayed hypersensitifity.
Oleh karena itu, individu yang imunokompeten umumnya resisten terhadap infeksi jamur.
Sebaliknhya, jamur maupun filament jamur (aspergilus, zigomycetes, Cryptococcus neoformans,
non-kandida pathogen) dapat menjadi infeksi opportunistik pada individu imunosupresi seperti HIV.
Infeksi dapat terjadi melalui inhalasi dan inokulasi kulit.
B. Diare akibat virus
diare akibat infeksi rotavirus atau virus lainnya relatif sering dan biasanya dapat sembuh sendiri
(self-limiting) pada orang dewasa sehat. Pada pasien HIV dengan CD4+ <50 sel/mm. dapat
menyebabkan colitis, namun menurun secara drastis sejak era HAART. CMV ini secara histologik
dapat menyebabkan badan inklusi pada sel epitel, endotel, dan oto polos.
C. Diare akibat bakteri
Pada pasien HIV, toksin clostridium difficile, salmonella, shigella, campylobacter, dan E. coli 0157
H7 dapat menyebabkan diare. Infeksi bakteri ada yang bersifat invasive dan non-invasif. Bakteri noninvasif mengeluarkan enterotoksin yang terikat pada mukosa usus halus 15-30 menit setelah

diproduksi. Sedangkan bakteri yang invasive seperti salmonella dan shigella merusak dinding usus
sehingga nekrosis dan ulserasi. Oleh karena itu, diare dapat disertai lender dan darah. Pada pasien
dengan CD4+ <75 sel/mm. maka terdapat kemungkinan penyebabnya adalah M. avium complex
(MAC) sehingga dilakukan pemerisaan tinja atau kultur darah. Selain diare, MAC menyebabkan
demam, anemia, berat badan menurun, neutropenia, dan hepatosplenomegali.
D. Diare akibat parasit
Parasit penyebab diare tersering adalah cryptosporidium, microsporidium, dan entamoeba histolytica.
Cryptosporidium parvum menyebar luas di seluruh dunia menular melalui air minum yang
terkontaminasi kista pada tinja herbivore. Parasit ini dapat menyebabkan dehidrasi dan gangguan
kadar ion di dalam tubuh. Microsporidium adalah bakteri berspora seperti enterocytozoon bieneusi
dan Encephalitozoon intestinalis. Kemudian, E.histolytica biasanya asimptomatik karena
berkolonisasi. Jika simptomatik, gejala yang muncul meliputi kram, nyeri perut, dan tinja berdarah.
Terakhir, giardia lamblia tersebar diseluruh dunia dan ditransmisikan melalui air serta fekal-oral.
Gejala yang timbul bervariasi seperti kram, diare, kembung, flatulens, dan penurunan berat badan.
Keseluruhan parasit menyebabkan diare dengan merusak dinding usus.
Patofisiologi Diare Akibat Infeksi Oportunistik Pada HIV
Pada dasarnya, mekanisme diare pada pasien HIV dan non-HIV adalah sama. Keparahan diare
bergantung pada daya penetrasi merusak sel mukosa, kemampuan memproduksi toksin yang
mempengaruhi sekresi cairan usus halus, dan daya lekat kuman.
Toksin yang dihasilkan bakteri non-invasif menyebabkan kegiatan kelebihan nikotinamid adenie
dinukleotid (NAD) sehingga meningkatkan siklik AMP (cAMP) dalam sel. Pada akhirnya, sel
menyekskresikan aktif anion klorida kedalam lumen usus yang di ikuti oleh air, ion bikarbonat,
kalium, dan natrium. Pompa natrium sendiri tidak terganggu sehingga absopsi ion natrium dapat
dikompensasi dengan pemberian larutan glukosa. Diare sekretorik yang terjadi ditandai dengan
meningkatnya sekresi air dan elektrolit dari usus, menurunnya absorpsi , dan volume tinja banyak
sekali. Meskipun dilakukan puasa makan dan minum, diare akan tetap berlangsung. Sedangkan diare
yang disebabkan oleh jamur seperti kandida, mekanismenya belum diketahui.

Pemeriksaan penunjang
Tahap 1
Uji TinjaKultur bakteri dan deteksi virusPemeriksaan telur dan parasit
Uji toksin
C.dificile
Pemeriksaan Cryptosporidia
Breath hydrogen test
Tahap 2
Sigmoidoskopi dan biopsy
Mikroskop : Mycobacteria, CMV, Cryptos-poridia
Kultur : Mycobacteria
Tahap 3
Endoskopi dan kolonoskopi
Mikroskop : Mycobacteria, CMV, Cryptosporidia
Kultur : Mycobacteria
Mikroskop elektron dan diagnostik molekular