Anda di halaman 1dari 20

Xeroftalmia

KELOMPOK 1-8

Defenisi
Xeroftalmia adalah istilah yang menerangkan gangguan
kekurangan vitamin A pada mata, termasuk terjadinya
kelainan anatomi bola mata dan gangguan fungsi sel
retina yang berakibat kebutaan.

Epidemiologi
Angka kejadian xeroftalmia akibat defisiensi vitamin A
diperkirakan sekitar 20.000 100.000 kasus baru di
seluruh dunia per tahunnya.

Angka kejadian ini semakin meningkat sejalan dengan


ditemukannya berbagai faktor yang dapat mencetuskan
terjadinya xeroftalmia.
Umur
Jenis Kelamin
Status Fisiologis
Status Gizi
Penyakit Infeksi
penurunan kadar vitamin A selama demam dan infeksi,
yaitu:

Asupan yang rendah karena sakit (anoreksia)


Gangguan absorpsi karena infeksi pada usus
Supresi sntesis albumin dan RBP (retinol binding protein) oleh
hepatosit
Peningkatan katabolisma protein, termasuk RBP

Faktor-faktor yang lain

Etiologi
Konsumsi makanan yang tidak mengandung cukup vitamin A atau
provitamin A untuk jangka waktu yang lama
Bayi tidak diberkan ASI eksklusif
Menu tidak seimbang ( kurang mengandung lemak, protein, seng/Zn
atau zat gizi lainnya ) yang dioerlukan untuk penyerapan vitamin A dan
penggunaan vitamin A dalam tubuh.
Adanya gangguan penyerapan vitamin A atau pro-vitamin A seperti
pada penyakit-penyakit antara lain penyakit pankreas, diare kronik,
Kurang energi protein ( KEP ) dan lain-lain sehingga kebutuhan vitamin
A meningkat.
Adanya kerusakan hati, seperti pda kwashiorkor dan hepatitis kronik,
menyebabkan gangguan pembentukan RBP ( retiinol Binding Protein )
dan pre albumin yang penting untuk penyerapan vitamin A.

Patofisiologi
Salah satu fungsi dari vitamin A adalah berperan dalam
proses penglihatan, dimana retina merupakan salah satu
target sel dari retinol.
Retinol yang telah berikatan dengan RBP akan ditangkap
oleh reseptor pada sel pigmen epitel retina, yang akan
dibawa ke sel-sel fotoreseptor untuk pembentukan
rodopsin.
Rodopsin ini sangat berperan terutama untuk
penglihatan pada cahaya redup.
Karena itu tanda dini dari defisiensi vitamin A adalah
rabun senja.

Gejala Klinis
1.

Buta Senja
Buta senja merupakan gejala awal dan tersering pada
defisiensi vitamin A, merupakan akibat dari disfungsi
fotoreseptor sel batang pada retina, dengan gejala
kesulitan melihat pada sinar redup.
Penilaian dilakukan dengan adanya riwayat kesulitan
melihat pada sore hari.

2.

Xerosis Konjungtiva
Selaput lendir bola mata tampak kurang mengkilat atau
terlihat sedikit berkeriput, dan berpigmentasi dengan
permukaan kasar dan kusam.
Orang tua sering mengeluh mata anak tampak kering atau
berubah warna kecoklatan.

3. Xerosis konjungtiva dan bercak bitot


Tampak kekeringan meliputi seluruh permukaan
konjungtiva
Konjungtiva tampak menebal, berlipat-lipat dan berkerut
Orang tua mengeluh mata anaknya tempak bersisik

4.

Xerosis Kornea
keadaan gawat darurat medis,
tampak bilateral
granular
berkabut dan tidak bercahaya
pada pemeriksaan dengan senter gambarannya seperti
kulit jeruk.

5. Ulkus Kornea atau Keratomalasia


gambarannya kecil, oval, defek bergaung, sering pada
daerah inferior, perifer permukaan kornea, disertai injeksi
konjungtiva, kadang ada hipopion.
mencakup seluruh permukaan kornea, lesi berwarna
kuning keabuan

6.

Sikatriks Kornea
konsekuensi kebutaan yang disebabkan oleh perbaikan
ulkus dan keratomalasia.
Kornea tampak menjadi putih atau bola mata mengecil

7.

Fundus Xeroftalmia
defisiensi vitamin A yang berkepanjangan dimana terjadi
gangguan fungsi sel batang karena rusaknya struktur
retina

Terapi

Anda mungkin juga menyukai