Anda di halaman 1dari 5

Judul

: Pengertian dan Batas Telransi Toleransi Antar Umat


Beragama

Nama

: Khasan Mustofa

NPM

: 1306445222

Data Publikasi : almanhaj.or.id,

Sampai

Manakah

Batas

Toleransi?,

Februari 2014.
http://almanhaj.or.id/content/3854/slash/0/sampaimanakah-batas-toleransi/ , 14 Mei 2014, pk. 19.15
I.

Pengertian toleransi antar umat beragama


Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, Toleransi yang berasal
dari kata toleran itu sendiri berarti bersifat atau bersikap
menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan), pendirian
(pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, dan sebagainya)
yang berbeda dan atau yang bertentangan dengan
pendiriannya.Toleransi juga berarti batas ukur untuk penambahan
atau pengurangan yang masih diperbolehkan.
Dalam bahasa Arab, toleransi biasa disebut ikhtimal, tasamuh yang
artinya sikap membiarkan, lapang dada (samuha-yasmuhu-samhan,
wasimaahan, wasamaahatan) artinya: murah hati, suka berderma
(kamus Al Muna-wir hal.702). Jadi, toleransi (tasamuh) beragama
adalah menghargai dengan sabar, menghormati keyakinan atau
kepercayaan seseorang atau kelompok lain.
Kesalahan memahami arti toleransi dapat mengakibatkan
talbisul haqbil bathil (mencampuradukan antara hak dan bathil) yakni
suatu sikap yang sangat terlarang dilakukan seorang muslim, seperti
halnya nikah antar agama yang dijadikan alasan adalah toleransi
padahal itu merupakan sikap sinkretisme yang dilarang oleh Islam.
Sinkretisme adalah membenarkan semua agama.

II.

Batas bertoleransi

Sesungguhnya agama kita terbangun di atas rasa toleransi dan


menghilangkan kesusahan. Nabi Shallallahu alaihi wa sallam
bersabda:







Aku diutus dengan membawa agama yang lurus dan toleran.
(HR Imam Ahmad)
Allah Azza wa Jalla berfirman:









Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan suatu kesempitan untuk kamu
dalam agama. (al-Hajj/22:78).
Sikap toleran dan menghilangkan kesempitan (kesusahan)
merupakan ciri agama yang agung ini, berbeda dengan syariat
agama-agama terdahulu yang banyak terdapat kekangan, dan
belenggu yang menyusahkan, akibat dari penentangan dan
penyelisihan mereka terhadap perintah-perintah Allah, serta sikap
perlawanan mereka terhadap nabi-nabi yang diutus kepada mereka.
Sikap toleransi dan mempermudah dalam syariat Islam terdapat
pada perintah, larangan dan pensyariatan Islam. Toleransi tidak bisa
dimaknai dengan melepaskan atau meninggalkan hukum-hukum yang
terkandung dalam syariat, karena jika demikian-, maka itu
merupakan sikap lembek dalam urusan agama, bukan sikap toleransi
yang diinginkan Islam.
Allah Taala berfirman:






Maka apakah kamu menganggap remeh dengan al-Quran ini?
[al-Waqiah/56:81]
Dan firman-Nya:

Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu


mereka bersikap lunak (pula kepadamu). (al-Qalam/68:9).
Dan musuh-musuh Islam tidak akan pernah ridha (suka) terhadap kita,
sampai kita melepaskan agama secara menyeluruh serta mengikuti
mereka.
Allah Azza wa Jalla berfirman:









Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada
kamhingga kamu mengikuti agama mereka. (al-Baqarah/2:120).
Dan firman-Nya:









Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka
telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). (anNisa/4:89).
Berdebat dengan mereka secara baik merupakan suatu
keharusan syari untuk memuaskan mereka dengan kebenaran.
Apabila perdebatan tidak mendatangkan hasil, atau melalui
perdebatan itu mereka ingin kita melepas atau meninggalkan
sebagian ajaran agama, maka pada saat itu kita tidak boleh bersikap
lemah lembut dengan mereka sehingga membuat mereka berharap
terhadap keinginannya akan tetapi kita harus bersikap keras dan
tegas terhadap mereka agar pupus semua harapan mereka.
Allah Azza wa Jalla berfirman:

Hai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik


dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah
Jahanam, dan itu adalah seburuk-buruknya tempat kembali. (at-

Tahrim/66:9).
Dan firman-Nya:












Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan
dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zhalim di
antara mereka. [al-Ankabut/29:46].
Sikap lemah lembut bersama mereka dalam kondisi di atas termasuk
dalam kategori meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya.
Kita sering melihat, membaca, dan mendengar dari para Khatib
atau juru dakwah anjuran untuk bersikap toleran dengan para musuh
Islam, karena agama kita adalah agama toleran dan penuh dengan
rasa cinta. Perkataan seperti ini tidak sepenuhnya benar, sehingga
perlu perincian, karena kalau tidak maka bias mendatangkan
keburukan dan salah tafsir dari orang yang mendengarkan dan
membacanya. Kewajiban kita adalah untuk berhati-hati dalam perkara
ini serta meletakkan hal seperti ini pada tempatnya. Alangkah sering
kita mengulangi dan mendengungkan perkataan-perkataan seperti ini,
akan tetapi itu semua tidak cukup untuk merubah musuh-musuh Islam
dari tabiat dan sikap mereka terhadap kita dan agama Islam. Ingatlah
kejadian yang belum lama terjadi yaitu peristiwa perobekan mushaf
(al-Quran) kemudian dilemparkan ke dalam WC, dan tindakan
mencela Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Allah Azza wa Jalla berfirman:







Dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi.
(Ali Imran/3:118).
Sungguh, perbuatan-perbuatan mereka terhadap kaum Muslimin
lebih parah daripada perkataan mereka, sebagaimana yang terjadi di
Afghanistan, Irak, Bosnia, dan Herzegovina. Sungguh benar firman
Allah Azza wa Jalla:













Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat)
mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya
mereka sanggup. (al-Baqarah/2:217).
Dan firman-Nya:


Jika mereka menangkap kamu, niscaya mereka bertindak
sebagai musuh bagimu dan melepaskan tangan dan lidah mereka
kepadamu dengan menyakiti(mu); dan mereka ingin supaya kamu
(kembali) kafir. (al-Mumtahanah/60:2)