Anda di halaman 1dari 7

Fw: ButenaIV.

Latar Belakang Butena merupakan senyawa alkena yang tergolong


hidrokarbon tidak jenug dan mengandung satu ikatan rangkap dua antara
dua atom C yang berurutan. Kedua atom H di bawah harus dibebaskan
supaya elektron-elektron atom C yang tadinya dipakai untuk membentuk
ikatan kovalen dengan atom H dapat dialihkan untuk membentuk ikatan
kovalen dengan sesama karbon. Butena juga dikenal sebagai butilena,
butilena adalah gas tidak berwarna yang terkandung dalam minyak mentah
sebagai konstituen kecil dalam jumlah yang terlalu kecil untuk ekstraksi
layak. Oleh karena itu butena diperoleh dengan catalytic cracking dari
hidrokarbon rantai panjang kiri selama penyulingan minyak mentah.
Cracking menghasilkan campuran produk dan butena yang diekstrak dari
distilasi fraksional. Butena dapat digunakan sebagai monomer untuk
polybutene, tetapi polimer ini lebih mahal daripada alternatif dengan rantai
karbon lebih pendek seperti polypropylene. Oleh karena itu polybutene
biasanya digunakan sebagai co-polimer (dicampur dengan polimer lain, baik
selama atau setelah reaksi), contohnya pada proses pelelehan akibat panas.
Senyawa organik lain memiliki formula C4H8, yaitu cyclobutane dan
methylcyclopropane, tetapi senyawa ini tidak tergolong sebagai alkena. Ada
juga alkena siklik dengan empat atom karbon secara keseluruhan seperti
cyclobutene dan dua isomer methylcyclopropene, tetapi mereka tidak
memiliki formula C4H8. keempat isomer ini adalah gas-gas pada suhu dan
tekanan kamar, tetapi dapat dicairkan dengan menurunkan suhu atau
meningkatkan tekanan pada isomer tersebut, dengan cara yang mirip pada
penekanan butana. Butena merupan gas yang tidak berwarna, tetapi
memiliki bau yang berbeda, dan sangat mudah terbakar. Meskipun tidak
terbentuk secara alami dalam minyak bumi dengan persentase yang tinggi,
butena dapat diproduksi dari petrokimia atau catalytic cracking minyak
bumi. Walaupun butena adalah senyawa stabil, karbon-karbon ikatan ganda
menjadikan butena lebih reaktif daripada alkana yang sama, yang
merupakan senyawa yang lebih inert dalam berbagai cara. Dikarena
merupakan senyawa ikatan rangkap, keempat karbon alkena dapat
bertindak sebagai monomer dalam pembentukan polimer, serta memiliki
kegunaan lain sebagai perantara petrokimia. Butena digunakan dalam
produksi karet sintetis. But-1-ena adalah linear atau normal alfa-olefin dan
isobutylene adalah alfa olefin-bercabang. Dalam persentase yang agak
rendah, but-1-ena digunakan sebagai salah satu komonomer, bersama
dengan alfa-olefin lainnya, dalam produksi high density polyethylene dan
linear low density polyethylene. Karet butil dibuat dengan polimerisasi
kationik dari isobutylene sekitar 2 - isoprena 7%. Isobutylene juga
digunakan untuk produksi metil ters-butil eter (MTBE) dan isooctane, baik
yang meningkatkan pembakaran bensin. Dalam industri pertambangan
minyak, proses penyulingan atau pemisahan sangat banyak dilakukan.
Proses pemisahan minyak mentah menjadi fraksi-fraksi bensin, solar,
minyak tanah, elpiji dan lainnya memerlukan tindakan proses dari aplikasi
percobaan ini. Selain dalam industri tersebut juga terdapat dalam industri
air minum, industri minyak wangi dan industri yang memproduksi zat

warna. Contoh aplikasi dalam percobaan ini adalah dehidrogenasi butena.


Dehidrasi katalitik butena bertemperatur tinggi digunakan untuk
memproduksi butadiena yang dibuat saat ini. Butena diperoleh dalam
bentuk cair dari suatu fraksi C4 dengan operasi absorbsi dan destilasi dari
sumber minyak bumi. Untuk operasi yang ekonomis, butena umpan harus 70
% dan lebih disukai bila 80 95 %. Hal ini dikarenakan hanya sebagian
butena yang dikonversikan di recycle. Karena dehidrogenasi butena tidak
mengkonversi isobutilena secara menyeluruh, berarti mereka harus
dipindahkan dari umpan untuk mencegah purging berlebih. Karena
volatilitas hidrokarbon C4 sangat berdekatan satu sama lain, destilasi
langsung tidaklah ekonomis untuk pemurnian umpan. Prosedur yang lazim,
seperti flowsheet adalah dengan memindahkan isobutilena terlebih dulu
dengan ekstraksi H2SO4 60 65 % berat dalam dua tahap pencampur
pengendap berlawanan arah. (CH3)2C = (CH3)2COSO3H. Dalam praktek
sebenarnya, pelarut dimasukkanCH2 + H2SO4 ke dalam kolom destilasi
beberapa plat di bawah bagian atas; umpan hidrokarbon masuk dekat
pertengahan. Beberapa plat di atas memungkinkan pemisahan hidrokarbon
overhead dan solvent, kecuali dengan furfural. Pemisahan ini tidak lengkap
dengan aseton membentuk azeotrop, dengan asetonitril karena volatilitas
yang dekat. Air cucian digunakan untuk membersihkan produk butena dan
butilena. Pemurnian butilena sebagai konsentrat 90 95 % biasanya
mencapai 80 90 %. Kolom ekstraksi butilena biasanya 2 x 50 kolom plat
teroperasi secara berurutan. Aseton dan furfural adalah pelarut selektif
utama untuk pemisahan butena/butana, tapi asetonitril lebih baik digunakan
bila dibanding dengan aseton karena volatilitasnya yang lebih besar. Asam
lemah diregenerasi baik dengan stripping isobutilena terlarut pada suhu
tinggi dan tekanan rendah yang akan membalik persamaan, diikuti
pendinginan pengendapan dimer tak larut dalam asam. Destilasi ekstraktif
memisahkan butena dari butana dengan modifikasi efek pelarut dalam
volatilitas relatif komponen. Pelarut polar cenderung membentuk suatu
larutan yang lebih ideal dengan konstituen olefinik campuran, sementara
komponen parafinik memperoleh suatu koefisien aktivitas yang lebih tinggi.
Akibatnya dengan adanya pelarut dalam jumlah besar (konsentrasi pelarut
dalam fasa cair dalam zona fraksinasi sebaiknya 80 % mol dengan aseton, 85
95% mole dengan asetonitril dan 90 % mol dengan furfural) butana akan
naik ke atas dan butena akan tetap tinggal di dasar solvent. Solvent
dipisahkan dari butena, biasanya dengan berikut destilasi dan direcycle ke
kolom destilasi ekstraktif. Dalam operasi dehidrogenasi, butena dimurnikan
dengan kombinasi proses yang sesuai, bersama dengan arus di luar, dibawa
terkontak dengan katalis padat yang dapat memberikan efek dehidrogenasi
butadiena. CH2 = CHCH2CH3 > CH2 = CHCH = CH2 + H2 (1-butena
butadiena), dan CH2CH = CHCH3 > CH2 = CHCH = CH2 + H2 (2butena butadiena). V. Proses Pembuatan 1. Ekstraksi dari karbon C4 2.
Dehidrogenasi n-butana 3. Etanol Dua proses yang digunakan, yaitu: a.
Etanol dikonversi menjadi butadiena, hidrogen dan air pada 400oC-450oC
2CH3CH2OH => CH2=CH-CH=CH2 + 2H2O + H2 b. Etanol dioksidasi

menjadi asetaldehida, yang bereaksi dengan etanol tambahan melalui katalis


tantalum-dipromosikan silika berpori pada 325oC-350oC CH3CH2OH +
CH2 = CH3CHO => CH-CH=CH2 + 2H2O 4. Dehidrogenasi katalik butena
normal VI. Industri Pembuatan 1. PT Petrokimia Butadiena Indonesia
(PBI), Cilegon, Banten. 2. PT Chandra Asri, Cilegon, Banten. 3. PT Karet
Santo Rubber. 4. PT Krakatau Steel (KS). 5. PT Multi Citra Chemindo,
Jakarta Pusat. 6. Korea Kumho Petrochemical CO. Ltd, Jakarta Selatan. 7.
Asahi Kasei Corporation, Singapura. 8. PT Pilar Bersama Maju, Jakarta
Barat. VII. Daftra Pustaka www.chem-is-try.com
www.en.wikipedia.org/wiki/Butene www.industrikimia.com
www.glossary.kimiawan.org/wiki/butena http://en.wikipedia.org/wiki/1,3Butadiene#From_Butenes
Subject: ButenaIV. Latar Belakang Butena merupakan senyawa alkena yang tergolong
hidrokarbon tidak jenug dan mengandung satu ikatan rangkap dua antara dua atom C
yang berurutan. Kedua atom H di bawah harus dibebaskan supaya elektron-elektron atom
C yang tadinya dipakai untuk membentuk ikatan kovalen dengan atom H dapat dialihkan
untuk membentuk ikatan kovalen dengan sesama karbon. Butena juga dikenal sebagai
butilena, butilena adalah gas tidak berwarna yang terkandung dalam minyak mentah
sebagai konstituen kecil dalam jumlah yang terlalu kecil untuk ekstraksi layak. Oleh
karena itu butena diperoleh dengan catalytic cracking dari hidrokarbon rantai panjang kiri
selama penyulingan minyak mentah. Cracking menghasilkan campuran produk dan
butena yang diekstrak dari distilasi fraksional. Butena dapat digunakan sebagai monomer
untuk polybutene, tetapi polimer ini lebih mahal daripada alternatif dengan rantai karbon
lebih pendek seperti polypropylene. Oleh karena itu polybutene biasanya digunakan
sebagai co-polimer (dicampur dengan polimer lain, baik selama atau setelah reaksi),
contohnya pada proses pelelehan akibat panas. Senyawa organik lain memiliki formula
C4H8, yaitu cyclobutane dan methylcyclopropane, tetapi senyawa ini tidak tergolong
sebagai alkena. Ada juga alkena siklik dengan empat atom karbon secara keseluruhan
seperti cyclobutene dan dua isomer methylcyclopropene, tetapi mereka tidak memiliki
formula C4H8. keempat isomer ini adalah gas-gas pada suhu dan tekanan kamar, tetapi
dapat dicairkan dengan menurunkan suhu atau meningkatkan tekanan pada isomer
tersebut, dengan cara yang mirip pada penekanan butana. Butena merupan gas yang tidak
berwarna, tetapi memiliki bau yang berbeda, dan sangat mudah terbakar. Meskipun tidak
terbentuk secara alami dalam minyak bumi dengan persentase yang tinggi, butena dapat
diproduksi dari petrokimia atau catalytic cracking minyak bumi. Walaupun butena adalah
senyawa stabil, karbon-karbon ikatan ganda menjadikan butena lebih reaktif daripada
alkana yang sama, yang merupakan senyawa yang lebih inert dalam berbagai cara.
Dikarena merupakan senyawa ikatan rangkap, keempat karbon alkena dapat bertindak
sebagai monomer dalam pembentukan polimer, serta memiliki kegunaan lain sebagai
perantara petrokimia. Butena digunakan dalam produksi karet sintetis. But-1-ena adalah
linear atau normal alfa-olefin dan isobutylene adalah alfa olefin-bercabang. Dalam
persentase yang agak rendah, but-1-ena digunakan sebagai salah satu komonomer,
bersama dengan alfa-olefin lainnya, dalam produksi high density polyethylene dan linear
low density polyethylene. Karet butil dibuat dengan polimerisasi kationik dari
isobutylene sekitar 2 - isoprena 7%. Isobutylene juga digunakan untuk produksi metil

ters-butil eter (MTBE) dan isooctane, baik yang meningkatkan pembakaran bensin.
Dalam industri pertambangan minyak, proses penyulingan atau pemisahan sangat banyak
dilakukan. Proses pemisahan minyak mentah menjadi fraksi-fraksi bensin, solar, minyak
tanah, elpiji dan lainnya memerlukan tindakan proses dari aplikasi percobaan ini. Selain
dalam industri tersebut juga terdapat dalam industri air minum, industri minyak wangi
dan industri yang memproduksi zat warna. Contoh aplikasi dalam percobaan ini adalah
dehidrogenasi butena. Dehidrasi katalitik butena bertemperatur tinggi digunakan untuk
memproduksi butadiena yang dibuat saat ini. Butena diperoleh dalam bentuk cair dari
suatu fraksi C4 dengan operasi absorbsi dan destilasi dari sumber minyak bumi. Untuk
operasi yang ekonomis, butena umpan harus 70 % dan lebih disukai bila 80 95 %. Hal
ini dikarenakan hanya sebagian butena yang dikonversikan di recycle. Karena
dehidrogenasi butena tidak mengkonversi isobutilena secara menyeluruh, berarti mereka
harus dipindahkan dari umpan untuk mencegah purging berlebih. Karena volatilitas
hidrokarbon C4 sangat berdekatan satu sama lain, destilasi langsung tidaklah ekonomis
untuk pemurnian umpan. Prosedur yang lazim, seperti flowsheet adalah dengan
memindahkan isobutilena terlebih dulu dengan ekstraksi H2SO4 60 65 % berat dalam
dua tahap pencampur pengendap berlawanan arah. (CH3)2C = (CH3)2COSO3H.
Dalam praktek sebenarnya, pelarut dimasukkanCH2 + H2SO4 ke dalam kolom
destilasi beberapa plat di bawah bagian atas; umpan hidrokarbon masuk dekat
pertengahan. Beberapa plat di atas memungkinkan pemisahan hidrokarbon overhead dan
solvent, kecuali dengan furfural. Pemisahan ini tidak lengkap dengan aseton membentuk
azeotrop, dengan asetonitril karena volatilitas yang dekat. Air cucian digunakan untuk
membersihkan produk butena dan butilena. Pemurnian butilena sebagai konsentrat 90
95 % biasanya mencapai 80 90 %. Kolom ekstraksi butilena biasanya 2 x 50 kolom plat
teroperasi secara berurutan. Aseton dan furfural adalah pelarut selektif utama untuk
pemisahan butena/butana, tapi asetonitril lebih baik digunakan bila dibanding dengan
aseton karena volatilitasnya yang lebih besar. Asam lemah diregenerasi baik dengan
stripping isobutilena terlarut pada suhu tinggi dan tekanan rendah yang akan membalik
persamaan, diikuti pendinginan pengendapan dimer tak larut dalam asam. Destilasi
ekstraktif memisahkan butena dari butana dengan modifikasi efek pelarut dalam
volatilitas relatif komponen. Pelarut polar cenderung membentuk suatu larutan yang lebih
ideal dengan konstituen olefinik campuran, sementara komponen parafinik memperoleh
suatu koefisien aktivitas yang lebih tinggi. Akibatnya dengan adanya pelarut dalam
jumlah besar (konsentrasi pelarut dalam fasa cair dalam zona fraksinasi sebaiknya 80 %
mol dengan aseton, 85 95% mole dengan asetonitril dan 90 % mol dengan furfural)
butana akan naik ke atas dan butena akan tetap tinggal di dasar solvent. Solvent
dipisahkan dari butena, biasanya dengan berikut destilasi dan direcycle ke kolom destilasi
ekstraktif. Dalam operasi dehidrogenasi, butena dimurnikan dengan kombinasi proses
yang sesuai, bersama dengan arus di luar, dibawa terkontak dengan katalis padat yang
dapat memberikan efek dehidrogenasi butadiena. CH2 = CHCH2CH3 > CH2 =
CHCH = CH2 + H2 (1-butena butadiena), dan CH2CH = CHCH3 > CH2 = CHCH =
CH2 + H2 (2-butena butadiena). V. Proses Pembuatan 1. Ekstraksi dari karbon C4 2.
Dehidrogenasi n-butana 3. Etanol Dua proses yang digunakan, yaitu: a. Etanol dikonversi
menjadi butadiena, hidrogen dan air pada 400oC-450oC 2CH3CH2OH => CH2=CHCH=CH2 + 2H2O + H2 b. Etanol dioksidasi menjadi asetaldehida, yang bereaksi dengan
etanol tambahan melalui katalis tantalum-dipromosikan silika berpori pada 325oC-350oC

CH3CH2OH + CH2 = CH3CHO => CH-CH=CH2 + 2H2O 4. Dehidrogenasi katalik


butena normal VI. Industri Pembuatan 1. PT Petrokimia Butadiena Indonesia (PBI),
Cilegon, Banten. 2. PT Chandra Asri, Cilegon, Banten. 3. PT Karet Santo Rubber. 4. PT
Krakatau Steel (KS). 5. PT Multi Citra Chemindo, Jakarta Pusat. 6. Korea Kumho
Petrochemical CO. Ltd, Jakarta Selatan. 7. Asahi Kasei Corporation, Singapura. 8. PT
Pilar Bersama Maju, Jakarta Barat. VII. Daftra Pustaka www.chem-is-try.com
www.en.wikipedia.org/wiki/Butene www.industrikimia.com
www.glossary.kimiawan.org/wiki/butena http://en.wikipedia.org/wiki/1,3Butadiene#From_Butenes
IV. Latar Belakang
Butena merupakan senyawa alkena yang tergolong hidrokarbon tidak jenug dan
mengandung satu ikatan rangkap dua antara dua atom C yang berurutan. Kedua atom H
di bawah harus dibebaskan supaya elektron-elektron atom C yang tadinya dipakai untuk
membentuk ikatan kovalen dengan atom H dapat dialihkan untuk membentuk ikatan
kovalen dengan sesama karbon. Butena juga dikenal sebagai butilena, butilena adalah gas
tidak berwarna yang terkandung dalam minyak mentah sebagai konstituen kecil dalam
jumlah yang terlalu kecil untuk ekstraksi layak. Oleh karena itu butena diperoleh dengan
catalytic cracking dari hidrokarbon rantai panjang kiri selama penyulingan minyak
mentah. Cracking menghasilkan campuran produk dan butena yang diekstrak dari
distilasi fraksional. Butena dapat digunakan sebagai monomer untuk polybutene, tetapi
polimer ini lebih mahal daripada alternatif dengan rantai karbon lebih pendek seperti
polypropylene. Oleh karena itu polybutene biasanya digunakan sebagai co-polimer
(dicampur dengan polimer lain, baik selama atau setelah reaksi), contohnya pada proses
pelelehan akibat panas. Senyawa organik lain memiliki formula C4H8, yaitu cyclobutane
dan methylcyclopropane, tetapi senyawa ini tidak tergolong sebagai alkena. Ada juga
alkena siklik dengan empat atom karbon secara keseluruhan seperti cyclobutene dan dua
isomer methylcyclopropene, tetapi mereka tidak memiliki formula C4H8. keempat
isomer ini adalah gas-gas pada suhu dan tekanan kamar, tetapi dapat dicairkan dengan
menurunkan suhu atau meningkatkan tekanan pada isomer tersebut, dengan cara yang
mirip pada penekanan butana. Butena merupan gas yang tidak berwarna, tetapi memiliki
bau yang berbeda, dan sangat mudah terbakar. Meskipun tidak terbentuk secara alami
dalam minyak bumi dengan persentase yang tinggi, butena dapat diproduksi dari
petrokimia atau catalytic cracking minyak bumi. Walaupun butena adalah senyawa stabil,
karbon-karbon ikatan ganda menjadikan butena lebih reaktif daripada alkana yang sama,
yang merupakan senyawa yang lebih inert dalam berbagai cara. Dikarena merupakan
senyawa ikatan rangkap, keempat karbon alkena dapat bertindak sebagai monomer dalam
pembentukan polimer, serta memiliki kegunaan lain sebagai perantara petrokimia. Butena
digunakan dalam produksi karet sintetis. But-1-ena adalah linear atau normal alfa-olefin
dan isobutylene adalah alfa olefin-bercabang. Dalam persentase yang agak rendah, but-1ena digunakan sebagai salah satu komonomer, bersama dengan alfa-olefin lainnya, dalam
produksi high density polyethylene dan linear low density polyethylene. Karet butil
dibuat dengan polimerisasi kationik dari isobutylene sekitar 2 - isoprena 7%. Isobutylene
juga digunakan untuk produksi metil ters-butil eter (MTBE) dan isooctane, baik yang
meningkatkan
pembakaran
bensin.
Dalam industri pertambangan minyak, proses penyulingan atau pemisahan sangat
banyak dilakukan. Proses pemisahan minyak mentah menjadi fraksi-fraksi bensin, solar,

minyak tanah, elpiji dan lainnya memerlukan tindakan proses dari aplikasi percobaan ini.
Selain dalam industri tersebut juga terdapat dalam industri air minum, industri minyak
wangi dan industri yang memproduksi zat warna. Contoh aplikasi dalam percobaan ini
adalah dehidrogenasi butena. Dehidrasi katalitik butena bertemperatur tinggi digunakan
untuk memproduksi butadiena yang dibuat saat ini. Butena diperoleh dalam bentuk cair
dari suatu fraksi C4 dengan operasi absorbsi dan destilasi dari sumber minyak bumi.
Untuk operasi yang ekonomis, butena umpan harus 70 % dan lebih disukai bila 80 95
%. Hal ini dikarenakan hanya sebagian butena yang dikonversikan di recycle. Karena
dehidrogenasi butena tidak mengkonversi isobutilena secara menyeluruh, berarti mereka
harus dipindahkan dari umpan untuk mencegah purging berlebih. Karena volatilitas
hidrokarbon C4 sangat berdekatan satu sama lain, destilasi langsung tidaklah ekonomis
untuk pemurnian umpan. Prosedur yang lazim, seperti flowsheet adalah dengan
memindahkan isobutilena terlebih dulu dengan ekstraksi H2SO4 60 65 % berat dalam
dua tahap pencampur pengendap berlawanan arah. (CH3)2C = CH2 + H2SO4
(CH3)2COSO3H. Dalam praktek sebenarnya, pelarut dimasukkan ke dalam kolom
destilasi beberapa plat di bawah bagian atas; umpan hidrokarbon masuk dekat
pertengahan. Beberapa plat di atas memungkinkan pemisahan hidrokarbon overhead dan
solvent, kecuali dengan furfural. Pemisahan ini tidak lengkap dengan aseton membentuk
azeotrop, dengan asetonitril karena volatilitas yang dekat. Air cucian digunakan untuk
membersihkan produk butena dan butilena. Pemurnian butilena sebagai konsentrat 90
95 % biasanya mencapai 80 90 %. Kolom ekstraksi butilena biasanya 2 x 50 kolom plat
teroperasi secara berurutan. Aseton dan furfural adalah pelarut selektif utama untuk
pemisahan butena/butana, tapi asetonitril lebih baik digunakan bila dibanding dengan
aseton karena volatilitasnya yang lebih besar. Asam lemah diregenerasi baik dengan
stripping isobutilena terlarut pada suhu tinggi dan tekanan rendah yang akan membalik
persamaan, diikuti pendinginan pengendapan dimer tak larut dalam asam. Destilasi
ekstraktif memisahkan butena dari butana dengan modifikasi efek pelarut dalam
volatilitas relatif komponen. Pelarut polar cenderung membentuk suatu larutan yang lebih
ideal dengan konstituen olefinik campuran, sementara komponen parafinik memperoleh
suatu koefisien aktivitas yang lebih tinggi. Akibatnya dengan adanya pelarut dalam
jumlah besar (konsentrasi pelarut dalam fasa cair dalam zona fraksinasi sebaiknya 80 %
mol dengan aseton, 85 95% mole dengan asetonitril dan 90 % mol dengan furfural)
butana akan naik ke atas dan butena akan tetap tinggal di dasar solvent. Solvent
dipisahkan dari butena, biasanya dengan berikut destilasi dan direcycle ke kolom destilasi
ekstraktif. Dalam operasi dehidrogenasi, butena dimurnikan dengan kombinasi proses
yang sesuai, bersama dengan arus di luar, dibawa terkontak dengan katalis padat yang
dapat memberikan efek dehidrogenasi butadiena. CH2 = CHCH2CH3 > CH2 =
CHCH = CH2 + H2 (1-butena butadiena), dan CH2CH = CHCH3 > CH2 = CHCH =
CH2 + H2 (2-butena butadiena).
V. Proses Pembuatan
1. Ekstraksi dari karbon C4
2. Dehidrogenasi n-butana
3. Etanol
Dua proses yang digunakan, yaitu:
a. Etanol dikonversi menjadi butadiena, hidrogen dan air pada 400oC-450oC

2CH3CH2OH => CH2=CH-CH=CH2 + 2H2O + H2


b. Etanol dioksidasi menjadi asetaldehida, yang bereaksi dengan etanol tambahan melalui
katalis tantalum-dipromosikan silika berpori pada 325oC-350oC
CH3CH2OH + CH2 = CH3CHO => CH-CH=CH2 + 2H2O
4. Dehidrogenasi katalik butena normal
VI. Industri Pembuatan
1. PT Petrokimia Butadiena Indonesia (PBI), Cilegon, Banten.
2. PT Chandra Asri, Cilegon, Banten.
3. PT Karet Santo Rubber.
4. PT Krakatau Steel (KS).
5. PT Multi Citra Chemindo, Jakarta Pusat.
6. Korea Kumho Petrochemical CO. Ltd, Jakarta Selatan.
7. Asahi Kasei Corporation, Singapura.
8. PT Pilar Bersama Maju, Jakarta Barat.
VII. Daftra Pustaka
www.chem-is-try.com
www.en.wikipedia.org/wiki/Butene
www.industrikimia.com
www.glossary.kimiawan.org/wiki/butena
http://en.wikipedia.org/wiki/1,3-Butadiene#From_Butenes