Anda di halaman 1dari 8

Mengenal Sistem Pendingin Termoelektrik (Thermoelectric) dan cara menggunakannya

Termoelektrik (thermoelectric) adalah suatu fenomena konversi dari perbedaan temperatur


menjadi energi listrik atau sebaliknya. Fenomena ini telah dikembangkan menjadi menjadi suatu
modul sehingga dapat digunakan sebagai pembangkit listrik atau perangkat pendingin/pemanas.
Modul termoelektrik dapat berupa sebuah keping berbentuk persegi dengan ketebalan tertentu,
seperti pada gambar. Jika terdapat perbedaan temperatur antara sisi yang satu dengan yang
lainnya, maka akan timbul tegangan listrik searah yang keluar dari modul tersebut. Sebaliknya,
jika tegangan listrik searah diberikan ke modul termoelektrik, maka akan terjadi perbedaan
temperatur antara kedua sisi modul tersebut. Sisi yang dingin dapat digunakan sebagai
pendingin dan sisi yang panas dapat digunakan sebagai pemanas.
Spoiler for gambar Thermoelectric Modul:

Dibandingkan dengan teknologi pendingin konvensional (berbasis refrigeran), termoelektrik


memiliki banyak kelebihan seperti: pemanas atau pendingin dapat diatur dengan mengubah arah
arus listrik, sangat ringkas, tidak ada getaran, handal, tidak ada perawatan khusus, dan tidak
membutuhkan refrigeran. Namun, kekurangan dari pendingin termoelektrik adalah koefisien
kinerjanya relatif sangat rendah.
Teknologi pendingin termoelektrik telah diterapkan di berbagai aplikasi seperti pendingin
minuman dan pendingin elektronik. Selain itu juga termoelektrik diterapkan sebagai alat
pengontrol temperatur pada sistem tertentu.
Sejarah Thermoelectric
Fenomena termolektrik awalnya ditemukan oleh fisikawan dari Jerman bernama Thomas Johann
Seebeck pada tahun 1821. Seebeck mengamati bahwa jika ada dua bahan berbeda yang

disambungkan di ujung-ujungnya, kemudian salah satu ujungnya dipanaskan, maka akan ada
arus listrik yang mengalir. Fenomena ini disebut dengan efek Seebeck. Pada tahun 1834,
peristiwa sebaliknya ditemukan oleh Jean Charles Athanase Peltier. Ketika arus listrik mengalir
pada sambungan dua konduktor yang berbeda akan terjadi peristiwa penyerapaan kalor
(pendinginan) atau pembuangan kalor (pemanasan). Peristiwa ini dinamakan efek Peltier.
Spoiler for efek seebeck:

Selain efek Seebeck dan efek Peltier, sebenarnya ada satu fenomena lagi, yaitu efek Thomson.
Fenomena merupakan peristiwa penyerapan atau pembuangan kalor ketika arus listrik mengalir
pada material dengan gradient temperatur. Efek Thomson ini sering kali diabaikan karena sangat
kecil dibandingkan dengan efek Seebeck dan efek Peltier.
Pada saat perang dunia dan setelahnya, fenomena termoelektrikk dipelajari untuk dapat
digunakan dalam suatu teknologi, terutama pada pembangkit listrik dan sistem pendingin. Pada
tahun 1950an, efisiensi generator dapat mencapai 5 % dan sebagai sistem pendingin dapat
mencapai temperatur dibawah 0 oC. Hal ini yang menyebabkan industri mulai melirik teknologi
ini. Pada saat ini banyak yang berfikir bahwa termoelektrik dapat menggantikan teknologi
konvensional.
Pada tahun 1949, Abram Fedorovich Loffe mengembangkan teori termelektrik berdasarkan
konsep figure of merit. Penelitian Loffe menggunakan semikonduktor dengan doping tertentu
sebagai elemen termoelektrik menghasilkan figure of merit yang cukup tinggi. Material tersebut
sekarang dikenal dengan Telluride, Bismuth, dan Timbal.
Modul termoelektrik biasanya terdiri dari banyak sambungan (junction) dari bahan yang berbeda.
Oleh karena itu efek pendinginan/pemanasannya sudah dapat digunakan untuk beberapa
keperluan. Begitu pula sebagai pemangkit listrik, daya istrik yang dihasilkan sudah dapat
dideteksi dan mampu menghidupkan sistem elektronik konsumsi daya kecil.
Teknik Sederhana Pemasangan Modul Termoelektrik / Peltier (Sebagai Cooler)
Teknik penggunaan modul termoelektrik setidaknya harus dilengkapi dengan beberapa
komponen lain, yaitu: DC Power Supply, heat sink dan kipas (fan). Kemudian Thermal Interface
Material juga diperlukan ketika meletakkan modul termoelektrik di heat sink. Secara umum
perlengkapan minimal untuk pemasangan seperti pada gambar di bawah ini.
Spoiler for perlengkapan percobaan peltier:

DC Power Supply
Listrik yang ada pada bangunan seperti rumah dan gedung adalah lstrik bolak-balik (AC).
Sedangkan untuk mengaktifkan modul termoelektrik dibutuhkan listrik searah (DC). DC Power
supply berfungsi untuk mengubah listrik AC ke DC dengan tegangan tertentu. Modul
termoelektrik yang digunakan adalah TEC1 12706 yang memiliki spesifikasi tegangan sekitar
12V dan arus sekitar 4-6 A. Oleh karena itu DC power supply yang digunakan setidaknya
memiliki spesifikasi yang sama atau lebih. Power supply yang digunakan dalam contoh ini adalah
power supply 12 V, 10 A.
Heat Sink dan kipas (fan)
Pada saat modul termoelektrik dialiri arus listrik maka terjadi penyerapan kalor di sisi dingin dan
pembuangan kalor di sisi panas. Jika pembuangan kalor berlangsung dengan baik maka
temperaturnya di sisi panas dapat terjaga dengan baik sehingga temperatur di sisi dingin menjadi
lebih rendah. Heat sink dan kipas digunakan mengoptimalkan pembuangan kalor ini. Heat sink
yang digunakan dalam praktek ini berukuran 96 x 96 k 26 mm dengan delapan buah sirip.
Sedangkan kipas yang digunakan adalah 12V DC.
Thermal Interface Material (Thermal Pasta)
Thermal pasta digunakan untuk mengurangi hambatan panas pada interface antara heat sink
dan modul termoelektrik. Secara teori walaupun heat sink dan modul termoelektrik terlihat rata
dan halus, namun hanya sebagian yang kontak pada saat modul termoelektrik diletakkan di
heatsink. Thermal pasta berfungsi memperkecil hambatan termalnya.
Langkah-langkah pemasangan
1. Oleskan thermal pasta di sisi panas modul termoelektrik. Sisi panas ditunjukkan oleh sisi yang
tidak tertulis apa-apa. Sebenarnya sisi panas dan dingin dari sebuah modul termoelektrik bisa di

ubag jika arusnya dibalik. Namun, dalam hal ini, standar kabel merah untuk kutub positif dan
hitam untuk negatif digunakan untuk pemasangan kabel.
Spoiler for oleskan therma pasta:

2. Letakkan modul termoelektrik yang sudah diolesi thermal pasta pada heat sink
Spoiler for peltier diatas heat sink:

3. Letakkan kipas (fan) dibawah heat sink kemudian sambungkan kabel termoelektrik dan kipas
ke power supply secara paralel. Hal ini digunukan untuk mendapatkan tegangan 12 V baik untuk
modul termoelektrik maupun kipas.
Spoiler for peltier diletakkan di heat sink:

4. Letakkan sistem yang sudah dibuat dari langkah 1 sampai dengan langkah 3 sedemikian
sehingga terdapat celah dibawah kipas. Hal ini bertujuan agar ada udara (angin) yang mengailir
dari bawah menuju heat sink yang kemudian membuang kalornya. Kemudian sambungkan ke
sumber listrik AC (PLN).
Spoiler for mengaktifkan termoelekktrik:

5. Dengan cara seperti ini maka modul termoelektrik dan fan telah bekerja. Tunggu beberapa
detik, maka dapat dirasakan bahwa modul termoelektrik sudah sangat dingin. Jika dinyalakan
lebih lama maka akan terbentuk embun (kondensat) atau bahkan terbentuk es. Terlihat pada
gambar dibawah, peltier hampir selurhnya tertutup es.
Spoiler for hasil pendinginan:

Prosedur penggunaan modul termoelektrik relatif mudah. Selanjutnya adalah bagaimana


menggunakan modul termoelektrik untuk kebutuhan tertentu. Ada ide??