Anda di halaman 1dari 38

TUGAS SISTEM PAKAR

DIAGNOSA KERUSAKAN PADA TELEVISI BERWARNA

Oleh :
1. Ary Dwi Pamungkas ( S1SI110091 )
2. Brata Hanggara Putra ( S1SI110086 )
3. Slamet Mujahidin Syabani (S1SI110083)

PROGRAM STUDI SISTEM INFORMASI


SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN INFORMATIKA KOMPUTER
(STIMIK) TUNAS BANGSA BANJARNEGARA
2014
KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa,


atas

rahmat-Nya

telah

memberi

kemampuan,

kemudahan,

serta

kesehatan sehingga kami dapat menyusun Laporan Tugas Sistem Pakar


dengan judul Diagnosa Kerusakan pada Televisi Berwarna.
Kami menyadari bahwa masih banyak dalam laporan ini. Namun
demikian, besar harapan laporan tugas sistem pakar ini dapat bermanfaat
bagi pembaca dan dapat dikembangkan, terutama fitur fitur yang belum
sempat kami capai.
Banjarnegara, 10 Juni 2014

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL................................................................................i
KATA PENGANTAR..............................................................................ii
DAFTAR ISI .......................................................................................iii
PENDAHULUAN..................................................................................1
1. LATAR BELAKANG....................................................................1
2. TUJUAN....................................................................................2
3. DASAR TEORI...........................................................................2
PEMBAHASAN....................................................................................3
1 Sumber & Objek Aplikasi Sistem Pakar ...................................4
4. Perancangan (Dokumen Konsep, DataBase) dan Hasil Akhir Aplikasi
Sistem Pakar (Interface Aplikasi).............................................5
PENUTUP...........................................................................................6
1. Kesimpulan................................................................................
2. Saran.........................................................................................

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Sistem pakar merupakan salah satu cabang kecerdasan
buatan yang mempelajari bagaimana mengadopsi cara seorang
pakar

berpikir

dan

bernalar

dalam

menyelesaikan

suatu

permasalahan, dan membuat suatu keputusan maupun mengambil


kesimpulan dari sejumlah fakta yang ada. Dasar dari suatu sistem
pakar adalah bagaimana mentansfer pengetahuan yang dimiliki
oleh seorang pakar ke dalam komputer, dan bagaimana membuat
keputusan atau engambil kesimpulan berdasarkan pengetahuan itu.
Sampai saat ini sudah ada beberapa hasil perkembangan
sistem pakar dalam berbagai bidang sesuai dengan kepakaran
seseorang misalnya bidang pendidikan, kedokteran maupun bidang
yang menyangkut perbaikan peralatan elektronik khususnya televisi
berwarna. Televisi berwarna merupakan salah satu peralatan
elektronik

yang

sering

mengalami

gangguan

atau kerusakan

sehingga dengan mengandalkan kemajuan di bidang teknologi dan


informasi tersebut, kiranya perlu adanya pembuatan sebuah
Sistem Pakar Diagnosa Kerusakan Pada Televisi Berwarna
memberikan

bekal

pengetahuan

menyangkut

kerusakan

pada

dan
Televisi

pembelajaran
Berwarna

memanfaatkan komputer sebagai media pembelajaran.


Pemilihan masalah menyangkut kerusakan pada

dan
yang

dengan
televisi

berwarna dijadikan sebagai sistem pakar adalah kenyataan bahwa


kerusakan pada sebuah televisi berwarna sering menggangu
pengguna televisi, sehingga perlu adanya solusi untuk menangani
kerusakan pada televisi berwarna melalui teknologi komputer
dengan software yang dapat membantu memecahkan masalah
kerusakan yang terjadi.
B. TUJUAN
Adapun tujuan dari diagnosa kerusakan pada televise berwarna
adalah
1) Menganalisa gejala kerusakan pada televisi berwarna
2) Memberikan solusi atas kerusakan televisi berwarna

C. DASAR TEORI
1) Sistem pakar

adalah

sistem

berbasis

komputer

yang

menggunakan pengetahuan, fakta, dan teknik penalaran dalam


memecahkan masalah yang biasanya hanya dapat dipecahkan
oleh seorang pakar dalam bidang tersebut (Martin dan Oxman,
1998).
Secara umum pengetahuan, pengumpulan data, konsepkonsep serta aturan-aturan dalam sistem pakar di dapatkan dan
di pelajari dari pakar yang menekuni serta ahli pada suatu
bidang tertentu secara lebih detail, sehingga sistem pakar yang
di buat memiliki kecenderungan menjadi seorang spesialis
yang hanya terfokus pada sejumlah masalah yang sempit dan
terbatas. Seperti halnya manusia, pengetahuan dalam sistem
pakar diperoleh secara teori dan praktek (pengalaman).
Otak Sistem Pakar adalah mesin inferensi, yang dikenal
juga

sebagai

(dalam
adalah

ES

struktur

kontrol

berbasis-aturan).

program

komputer

atau

penerjemah

Komponen

yang

ini

aturan

sebenarnya

menyediakan

metodologi

untuk mempertimbangkan informasi dalam pengetahuan dan


workplace,
adalah

dan

keahlian

knowledge

base

merumuskan

kesimpulan.

Mesin

yang

dibutuhkan

(basis

pengetahuan), komputer diprogram

sehingga dapat menghasilkan

disimpan

inferensi

solusi. Terdapat

di
dua

dalam
cara

(metode) mekanisme inferensi dalam sistem pakar berbasis


aturan, yaitu:
1. Runut maju (forward chaining) adalah aturan - aturan diuji
satu demi satu dalam urutan tertentu (data driven).
2. Runut

mundur

(backward

chaining)

adalah

penalaran

dimulai dari kesimpulan dan akan dibuktikan kebenarannya


(goal driven).
Kedua cara di atas dipengaruhi oleh macam penelusuran
yang terdiri dari 3 macam:

Depth first search, teknik penelusuran dari node ke


node bergerak menurun ke tingkat dalam yang berurutan.

Breadth first search, teknik penelusuran pada semua


node

dalam satu level sebelum berpindah ke level di

bawahnya.

Best first search, kombinasi antara depth first search


dan breadth first search.

2) Televisi adalah sebuah alat penangkap siaran bergambar. Kata


televisi berasal dari kata tele dan vision; yang mempunyai arti
masing-masing jauh (tele) dan tampak (vision). Jadi televisi
berarti tampak atau dapat melihat dari jarak jauh.

PEMBAHASAN
A. SUMBER & OBJEK APLIKASI SISTEM PAKAR
Diagnosa Kerusakan pada Televisi Berwarna
Penulias : Sofyan
Penerbit PT KAwan Pustaka, Depok, 2004
B. PERANCANGAN
1. Dokumen Konsep
a. Daftar Kerusakan
ID_kerusaka
n
R1
R2
R3
R4
R5
R6

jenis_kerusakan
Masalah
Masalah
Masalah
Masalah
Masalah
Masalah

pada
pada
pada
pada
pada
pada

Tegangan (blok Power Supply)


IC Program/IC Utama/Gambar
Tuner/Antenna/Sinyal
Bagian Vertikal/Horizontal
Suara
input CRT/Warna/RGB

b. Gejala Kerusakan
1

Kerusaka

Kerusakan pada

Rangkaian horizontal,

Kerusakan pada blok

Kerusakan bukan

blok Power Supply

vertikal, dan suara

Power Supply (bag

pada blok Power


Supply
a. TV hidup

Gejala

a. TV mati total

a. TV mati total

osilator)
a. TV mati total

Kerusaka

b. Sekring Putus

b. Sekring Tidak Putus

b. Sekring Tidak Putus

b. Tegangan Power

c. Tegangan Output Ada

c. Tegangan Output

Supply Normal

Solusi
Kerusaka

S1
Kerusakan pada

S2
Kerusakan pada bagian

Tidak Ada
S3
Bagian yang

c. Gambar normal
S4
Bagian yang

bagian Osilator

kontrol Power Supply

berhubungan dengan

berhubungan

Gejala

Power Supply
a. TV hidup

a. TV hidup

tapis
a. TV hidup

dengan tapis
a. TV hidup

Kerusaka

b. Tegangan Power

b. Tegangan Power

b. Tegangan Power

b. Tegangan Power

Supply Tidak normal

Supply Tidak normal

Supply Normal

Supply Normal

c. Tegangan Power

c. Tegangan Power

c. Gambar tidak normal

c. Gambar tidak

Supply naik lebih

Supply drop/tidak

d. Gambar bergoyang

normal

dari 130 V DC

normal

e. Goyangan kuat

d. Gambar
bergoyang
e. Goyangan tidak

Solusi
Kerusaka

S5
Kerusakan pada

S6
Kerusakan pada bagian

S7
Saklar push-on yang ada

kuat
S8
Kerusakan pada IC

bagian tapis di

tapis di power supply

pada panel kontrol

Program yang mati

power supply

total (short) / tidak

Gejala

a. TV hidup

a. TV hidup

a. TV mati

bekerja
a. TV hidup

Kerusaka

b. Tegangan Power

b. Tegangan Power

b. Steker terpasang

b. kontrol tidak

Supply Normal

Supply Normal

dengan benar

berfungsi

c. gambar tidak

c. gambar tidak normal

c. tombol on

normal

d. gambar normal

d. kontrol tidak

d. gambar normal

e. gambar tidak goyang

berfungsi

e. Gambar goyang

Solusi
Kerusaka

kiri dan kanan


S9
Kerusakan pada

S10
Kerusakan pada IC

S11
Kerusakan pada IC

S12
Rangkaian IC

OSD (On Screen

utama

utama

program pin ident

Gejala

Display)
a. TV hidup

a. TV hidup

a. TV hidup

a. TV hidup

Kerusaka

b. Kontrol baik

b. Kontrol baik

b. Kontrol baik

b. Kontrol baik

c. OSD tidak tampil

c. OSD tampil

c. OSD tampil

c. OSD tampil

d. gambar tampil

d. gambar tampil

d. gambar tampil

e. suara terdengar

e. suara tidak terdengar

e. suara tidak

f. tidak ada warna

f. warna ada

terdengar

S15
-

f. tidak ada warna


S16
-

Solusi
Kerusaka

S13
IC utama atau pada

S14
Bukan pada blok IC

rangkaian

program/utama

sebelumnya (input)

Gejala

a. TV hidup

a. TV mati

a. TV mati

a. TV mati

Kerusaka

b. Kontrol baik

b. Steker terpasang

b. Steker terpasang

b. Steker tidak

c. OSD tampil

dengan benar

dengan benar

terpasang dengan

d. gambar tidak

c. tombol on

c. tombol of

benar

tampil

d. control berfungsi

Solusi
Kerusaka

e. suara terdengar
S17
Bagian utama

S18
Antena

S19
IC program pin UHF

S20
Gangguan pada

gambar dan bagian

antena, kabel

output gambar pada

antena, konektor

IC utama

antena, pengaturan

Gejala

a. TV hidup

a. UHF tidak dapat

a. UHF dapat diterima

AGC
a. UHF dapat

Kerusaka

b. Kontrol baik

diterima

b. Sinyal VHF tidak

diterima

c. OSD tampil

b. Sinyal VHF tidak

dapat diterima

b. Sinyal VHF dapat

d. gambar tidak

dapat diterima

diterima

tampil

c. antena tidak

c. gambar ada

e. suara terdengar

terpasang dengan baik

d. gambar kabur
e. suara ada

Solusi
Kerusaka

S21
AFT atau voltage

tuning yang tidak

Gejala

stabil
a. UHF dapat

S22
-

S23
Posisi antenna

f. suara tidak bersih


S24
Pada tuner

a. UHF dapat diterima

a. UHF dapat diterima

a. UHF dapat

Kerusaka

diterima

b. Sinyal VHF dapat

b. Sinyal VHF dapat

diterima

b. Sinyal VHF dapat

diterima

diterima

b. Sinyal VHF dapat

diterima

c. Gambar ada

c. gambar ada

diterima

c. gambar ada

d. Gambar bersih

d. gambar bersih

c. gambar ada

d. gambar bersih

e. Gambar tidak cacat

e. gambar tidak cacat

d. gambar kabur

e. gambar cacat

f. Suara ada

f. tidak ada suara

e. suara tidak ada

Solusi
Kerusaka

S25
Tegangan catu daya

g. Suara bersih
S26
Komponen pendukung

S27
Kerusakan ada pada IC

S28
Kerusakan pada IC

pada tuner

pada bagian suara di IC

penguat suara

program

Gejala

a. UHF dapat

utama
a. suara terdengar

a. suara tidak terdengar

a. suara tidak

Kerusaka

diterima

b. suara tidak bersih

b. tidak bersuara sama

terdengar

b. Sinyal VHF dapat

sekali

b. bersuara tidak

diterima

jelas

c. gambar tidak ada

c. suara kecil

Solusi
Kerusaka

d. tidak ada suara


S29
-

S30
-

S31
Bagian Horizontal

S32
Heater pada CRT

n
Gejala

a. suara tidak

a. suara terdengar

a. tv mati

a. tv hidup

Kerusaka

terdengar

b. suara bersih

b. bersuara tidak

c. suara tidak kecil

jelas
c. suara tidak kecil

b. tidak ada cahaya

Solusi
Kerusaka

S33
yoke bagian

S34
Komponen yang

S35
Tegangan catu untuk

S36
horizontal pada IC

horizontal

berhubungan dengan

FBT

utama hingga ke

Gejala

a. tv hidup

yoke horizontal
a. tv hidup

a. tv hidup

FBT
a. tv hidup

Kerusaka

b. cahaya nyala

b. cahaya nyala

b. cahaya nyala

b. cahaya nyala

c. layar

c. layar tidak

c. tidak oval/trapesium

c. tidak

oval/trapesium

oval/trapesium

d. melintang verticla

oval/trapesium

d. melintang vertikal

e. layar tidak vertikal

d. melintang verticla

e. layar vertikal

f. layar tidak penuh

e. layar tidak
vertikal
f. layar penuh

Solusi
Kerusaka

S37
Potensiometer

S38
Kapasitor di kolektor

S39
-

transistor penguat

g. rolling horizontal
S40
catu osilator vertikal
di IC utama

Gejala

a. tv hidup

horizontal, FBT, yoke


a. tv hidup

a. tv hidup

a. tv hidup

Kerusaka

b. cahaya nyala

b. cahaya nyala

b. cahaya nyala

b. cahaya nyala

c. tidak

c. tidak oval/trapesium

c. tidak oval/trapesium

c. tidak

oval/trapesium

d. melintang verticla

d. melintang verticla

oval/trapesium

d. melintang verticla

e. layar tidak vertikal

e. layar tidak vertikal

d. melintang

e. layar tidak

f. layar penuh

f. layar penuh

horizontal

vertikal

g. rolling tidak horizontal

h. rolling tidak horizontal

e. layar horizontal

f. layar penuh

h. tidak blanking

h. tidak blanking

g. rolling tidak

i. transistor putus terus

i. normal

horizontal

1
2

Solusi
Kerusaka

h. blanking
S41
Catu IC penguat

S42
Kapasitor tapis pada

S43
Penguat vertikal

S44
Sinkronisasi vertikal

n
Gejala

vertikal
a. tv hidup

penguat vertikal
a. tv hidup

a. tv hidup

a. tv hidup

Kerusaka

b. cahaya nyala

b. cahaya nyala

b. cahaya nyala

b. cahaya nyala

c. tidak

c. tidak oval/trapesium

c. tidak oval/trapesium

c. tidak

oval/trapesium

d. melintang horizontal

d. melintang horizontal

oval/trapesium

d. melintang

e. layar tidak horizontal

e. layar tidak horizontal

d. melintang

horizontal

f. tidak menyempit

f. tidak menyempit

horizontal

e. layar tidak

g. layar menyempit

g. tidak menyempit

e. layar tidak

horizontal

bawah

h. layar menyempit

horizontal

bawah dan atas

f. tidak menyempit

f. layar menyempit
keatas

g. tidak menyempit
h. tidak menyempit

Solusi
Kerusaka

S45
-

Gejala

a. tv hidup

Kerusaka

b. cahaya nyala

c. tidak

S46
Potensioner untuk fokus

S47
Tegangan yang

i. rolling vertical
S48
Catu 180 V dc

pada FBT

dikeluarkan FBT untuk

bersumber dari FBT

a. tv tidak focus

screen
a. tv focus

a. tv focus

b. cahaya gelap

b. cahaya terang
c. terang tidak bisa

oval/trapesium

dikontrol

d. melintang
horizontal
e. layar tidak
horizontal
f. tidak menyempit
g. tidak menyempit
h. tidak menyempit
i. tidak rolling

Solusi
Kerusaka

vertical
S49
Heater pada CRT

S50
IC utama pin 19 (2,2 V

S51
IC utama pin 20 (2,2 V

S52
IC utama pin 21 (2,2

dc), resistor 902 (100

dc), resistor 912 (100

V dc), resistor 922

Ohm), transistor V 902

Ohm), transistor V 912

(100 Ohm),

(C 2688)

(C 2688)

transistor V 922 (C

Gejala

a. tv focus

a. tv focus

a. tv focus

2688)
a. tv focus

Kerusaka

b. cahaya terang

b. cahaya terang

b. cahaya terang

b. cahaya terang

c. terang bisa

c. terang bisa dikontrol

c. terang bisa dikontrol

c. terang bisa

dikontrol

d. heater berfungsi

d. heater berfungsi

dikontrol

d. heater tidak

e. ada gangguan pada

e. ada gangguan pada

d. heater berfungsi

berfungsi

RGB

RGB

e. ada gangguan

f. ada gangguan pada

f. tidak ada gangguan

pada RGB

warna merah

pada warna merah

f. tidak ada

g. ada gangguan pada

gangguan pada

warna hijau

warna merah
g. tidak ada
gangguan pada
warna hijau
h. ada gangguan

1
5

Solusi
Kerusaka

S53
Output RGB pada IC

S54
CRT

S55
-

n
Gejala

utama
a. tv focus

a. tv focus

a. tv focus

Kerusaka

b. cahaya terang

b. cahaya terang

b. cahaya terang

c. terang bisa

c. terang bisa dikontrol

c. terang bisa dikontrol

dikontrol

d. heater berfungsi

d. heater berfungsi

d. heater berfungsi

e. tidak ada gangguan

e. tidak ada gangguan

e. ada gangguan

pada RGB

pada RGB

pada RGB

f. CRT sudah tua

f. CRT masih muda

f. tidak ada
gangguan pada
warna merah
g. tidak ada
gangguan pada
warna hijau
h. tidak ada

pada warna biru


S56

gangguan pada
warna biru
S57

Solusi

S58

S59

1. Rule / Aturan

Rule 1
Rule 2

Aturan
IF TV mati total AND sekring putus THEN kerusakan pada blok power supply (S1)
IF TV mati total AND sekring tidak putus AND Tegangan Output Ada THEN kerusakan pada

Rule 3

Rangkaian horizontal, vertikal, dan suara (S2)


IF TV mati total AND Sekring Tidak Putus AND Tegangan Output Tidak Ada THEN kerusakan

Rule 4

pada blok Power Supply (bagian osilator) (S3)


IF TV hidup AND Tegangan Power Supply Normal AND gambar normal THEN kerusakan bukan

Rule 5

pada blok Power Supply (S4)


IF TV hidup AND Tegangan Power Supply Tidak normal AND Tegangan Power Supply naik lebih

Rule 6

dari 130 V DC THEN Kerusakan pada bagian Osilator Power Supply (S5)
IF TV hidup AND Tegangan Power Supply Tidak normal AND Tegangan Power Supply drop/tidak

Rule 7

normal THEN Kerusakan pada bagian kontrol Power Supply (S6)


IF TV hidup AND Tegangan Power Supply Normal AND Gambar tidak normal AND Gambar
bergoyang AND Goyangan kuat THEN kerusakan pada Bagian yang berhubungan dengan

Rule 8

tapis (S7)
IF TV hidup AND Tegangan Power Supply Normal AND Gambar tidak normal AND Gambar
bergoyang AND Goyangan tidak kuat THEN kerusakan pada Bagian yang berhubungan

Rule 9

dengan tapis (S8)


IF TV hidup AND Tegangan Power Supply Normal AND gambar tidak normal AND gambar

normal AND Gambar goyang kiri dan kanan THEN Kerusakan pada bagian tapis di power
supply (S9)
Rule 10 IF TV hidup AND Tegangan Power Supply Normal AND gambar tidak normal AND gambar
normal AND gambar tidak goyang THEN Kerusakan pada bagian tapis di power supply (S10)
Rule 11 IF TV mati AND Steker terpasang dengan benar AND tombol on AND kontrol tidak berfungsi
THEN kerusakan pada Saklar push-on yang ada pada panel kontrol (S11)
Rule 12 IF TV hidup AND kontrol tidak berfungsi THEN Kerusakan pada IC Program yang mati total
(short) / tidak bekerja (S12)
Rule 13 IF TV hidup AND Kontrol baik AND OSD tidak tampil THEN Kerusakan pada OSD (On Screen
Display) (S13)
Rule 14 IF TV hidup AND Kontrol baik AND OSD tampil AND gambar tampil AND suara terdengar AND
tidak ada warna THEN Kerusakan pada IC utama S(14)
Rule 15 IF TV hidup AND Kontrol baik AND OSD tampil AND gambar tampil AND suara tidak terdengar
AND warna ada THEN Kerusakan pada IC utama (S15)
Rule 16 IF TV hidup AND Kontrol baik AND OSD tampil AND gambar tampil AND suara tidak terdengar
AND tidak ada warna THEN kerusakan pada Rangkaian IC program pin ident (S16)
Rule 17 IF TV hidup AND Kontrol baik AND OSD tampil AND gambar tidak tampil AND suara terdengar
THEN kerusakan pada IC utama atau pada rangkaian sebelumnya (input) (S17)
Rule 18 IF TV mati AND Steker terpasang dengan benar AND tombol on AND control berfungsi THEN
kerusakan Bukan pada blok IC program/utama (S18)
Rule 19 IF TV mati AND Steker terpasang dengan benar AND tombol of THEN (S19)
Rule 20 IF TV mati AND Steker tidak terpasang dengan benar THEN (S20)
Rule 21 IF TV hidup AND Kontrol baik AND OSD tampil AND gambar tidak tampil AND suara terdengar
THEN kerusakan pada Bagian utama gambar dan bagian output gambar pada IC utama (S21)
Rule 22 IF UHF tidak dapat diterima AND Sinyal VHF tidak dapat diterima AND antena tidak terpasang

dengan baik THEN Antena (S22)


Rule 23 IF UHF dapat diterima AND Sinyal VHF tidak dapat diterima THEN kerusakan pada IC program
pin UHF (S23)
Rule 24 IF UHF dapat diterima AND Sinyal VHF dapat diterima AND gambar ada AND gambar kabur
AND suara ada AND suara tidak bersih THEN Gangguan pada antena, kabel antena, konektor
antena, pengaturan AGC (S24)
Rule 25 IF UHF dapat diterima AND Sinyal VHF dapat diterima AND gambar ada AND gambar bersih
AND gambar cacat THEN kerusakan pada AFT atau voltage tuning yang tidak stabil (S25)
Rule 26 IF UHF dapat diterima AND Sinyal VHF dapat diterima AND Gambar ada AND Gambar bersih
AND Gambar tidak cacat AND Suara ada AND Suara bersih THEN (S26)
Rule 27 IF UHF dapat diterima AND Sinyal VHF dapat diterima AND gambar ada AND gambar bersih
AND gambar tidak cacat AND tidak ada suara THEN Gangguan pada Posisi antenna (S27)
Rule 28 IF UHF dapat diterima AND Sinyal VHF dapat diterima AND gambar ada AND gambar kabur
AND suara tidak ada THEN kerusakan Pada tuner (S28)
Rule 29 IF UHF dapat diterima AND Sinyal VHF dapat diterima AND gambar tidak ada AND tidak ada
suara THEN gangguan pada Tegangan catu daya pada tuner (S29)
Rule 30 IF suara terdengar AND suara tidak bersih THEN kerusakan pada Komponen pendukung pada
bagian suara di IC utama (S30)
Rule 31 IF suara tidak terdengar AND tidak bersuara sama sekali THEN Kerusakan ada pada IC
penguat suara (S31)
Rule 32 IF suara tidak terdengar AND bersuara tidak jelas AND suara kecil THEN Kerusakan pada IC
Rule
Rule
Rule
Rule

33
34
35
36

program (S32)
IF suara tidak terdengar AND bersuara tidak jelas AND suara tidak kecil THEN (S33)
IF suara terdengar AND suara AND suara tidak kecil THEN (S34)
IF tv mati THEN kerusakan pada Bagian Horizontal (S35)
IF tv hidup AND tidak ada cahaya THEN kerusakan pada Heater pada CRT (S36)

Rule 37 IF tv hidup AND cahaya nyala AND layar oval/trapezium THEN kerusakan pada yoke bagian
horizontal (S37)
Rule 38 IF tv hidup AND cahaya nyala AND layar tidak oval/trapezium AND melintang vertical AND
layar vertical THEN kerusakan pada Komponen yang berhubungan dengan yoke horizontal
(S38)
Rule 39 IF tv hidup AND cahaya nyala AND tidak oval/trapezium AND melintang vertical AND layar
tidak vertical AND layar tidak penuh THEN gangguan pada Tegangan catu untuk FBT (S39)
Rule 40 IF tv hidup AND cahaya nyala AND tidak oval/trapezium AND melintang vertical AND layar
tidak vertical AND layar penuh AND rolling horizontal THEN kerusakan pada horizontal pada IC
utama hingga ke FBT (S40)
Rule 41 IF tv hidup AND cahaya nyala AND tidak oval/trapezium AND melintang vertical AND layar
tidak vertical AND layar penuh AND rolling tidak horizontal AND blanking THEN kerusakan
pada Potensiometer (S41)
Rule 42 IF tv hidup AND cahaya nyala AND tidak oval/trapezium AND melintang vertical AND layar
tidak vertical AND layar penuh AND rolling tidak horizontal AND tidak blanking AND transistor
putus terus THEN kerusakan pada Kapasitor di kolektor transistor penguat horizontal, FBT,
yoke (S42)
Rule 43 IF tv hidup AND cahaya nyala AND tidak oval/trapezium AND melintang vertical AND layar
tidak vertical AND layar penuh AND rolling tidak horizontal AND tidak blanking AND normal
THEN (S43)
Rule 44 IF tv hidup AND cahaya nyala AND tidak oval/trapezium AND melintang horizontal AND layar
horizontal THEN kerusakan pada catu osilator vertikal di IC utama (S44)
Rule 45 IF tv hidup AND cahaya nyala AND tidak oval/trapezium AND melintang horizontal AND layar
tidak horizontal AND layar menyempit keatas THEN kerusakan pada Catu IC penguat vertikal

(S45)
Rule 46 IF tv hidup AND cahaya nyala AND tidak oval/trapezium AND melintang horizontal AND layar
tidak horizontal AND tidak menyempit AND layar menyempit bawah THEN kerusakan pada
Kapasitor tapis pada penguat vertikal (S46)
Rule 47 IF tv hidup AND cahaya nyala AND tidak oval/trapezium AND melintang horizontal AND layar
tidak horizontal AND tidak menyempit AND tidak menyempit AND layar menyempit bawah
dan atas THEN kerusakan pada Penguat vertikal (S47)
Rule 48 IF tv hidup AND cahaya nyala AND tidak oval/trapezium AND melintang horizontal AND layar
tidak horizontal AND tidak menyempit AND tidak menyempit AND tidak menyempit AND
rolling vertical THEN kerusakan pada Sinkronisasi vertikal (S48)
Rule 49 IF tv hidup AND cahaya nyala AND tidak oval/trapezium AND melintang horizontal AND layar
tidak horizontal AND tidak menyempit AND tidak menyempit AND tidak menyempit AND tidak
rolling vertical THEN (S49)
Rule 50 IF tv tidak focus THEN kerusakan pada Potensioner untuk fokus pada FBT (S50)
Rule 51 IF tv focus AND cahaya gelap THEN kerusakan pada Tegangan yang dikeluarkan FBT untuk
screen (S51)
Rule 52 IF tv focus AND cahaya terang AND terang tidak bisa dikontrol THEN kerusakan pada Catu 180
V dc bersumber dari FBT (S52)
Rule 53 IF tv focus AND cahaya terang AND terang bisa dikontrol AND heater tidak berfungsi THEN
kerusakan pada Heater pada CRT (S53)
Rule 54 IF tv focus AND cahaya terang AND terang bisa dikontrol AND heater berfungsi AND ada
gangguan pada RGB AND ada gangguan pada warna merah THEN kerusakan pada IC utama
pin 19 (2,2 V dc), resistor 902 (100 Ohm), transistor V 902 (C 2688) (S54)
Rule 55 IF tv focus AND cahaya terang AND terang bisa dikontrol AND heater berfungsi AND ada

gangguan pada RGB AND tidak ada gangguan pada warna merah AND ada gangguan pada
warna hijau THEN kerusakan pada IC utama pin 20 (2,2 V dc), resistor 912 (100 Ohm),
transistor V 912 (C 2688) (S55)
Rule 56 IF tv focus AND cahaya terang AND terang bisa dikontrol

AND heater berfungsi AND ada

gangguan pada RGB AND tidak ada gangguan pada warna merah AND tidak ada gangguan
pada warna hijau AND ada gangguan pada warna biru THEN kerusakan pada IC utama pin 21
(2,2 V dc), resistor 922 (100 Ohm), transistor V 922 (C 2688) (S56)
Rule 57 IF tv focus AND cahaya terang AND terang bisa dikontrol AND heater berfungsi AND ada
gangguan pada RGB AND tidak ada gangguan pada warna merah AND tidak ada gangguan
pada warna hijau AND tidak ada gangguan pada warna biru THEN kerusakan pada Output
RGB pada IC utama (S57)
Rule 58 IF tv focus AND cahaya terang AND terang bisa dikontrol AND heater berfungsi AND tidak ada
gangguan pada RGB AND CRT sudah tua THEN kerusakan pada CRT (S58)
Rule 59 IF tv focus AND cahaya terang AND terang bisa dikontrol AND heater berfungsi AND tidak ada
gangguan pada RGB AND CRT masih muda THEN (S59)
2. Database Solusi
ID_solusi
solusi
S1
Periksa komponen di rangkaian power yang berhubungan dengan sekring tersebut. Potonglah
beberapa bagian di sekitar jalur jala-jala listrik dan lakukan pengukuran dengan multitester
pada posisi pengukuran Ohm meter untuk mengukur komponen yang dikira rusak atau
S2

melakukan pengukuran tegangan langsung.


Sebenarnya kerusakan bukan pada blok Power Supply. Kemungkinan, pada rangkaian
horizontal, vertikal, dan suara.

Potong setiap jalur yang menghubungkannya ke rangkain tersebut, lalu ukur tegangannya.
Jika tegangan normal, pasanglah satu-satu, lalu ukur lagi hingga ditemui ke jalur mana
S3

tegangan tersebut hilang dan lanjutkan dengan memeriksa komponen.


Kerusakan pada blok Power Supply (bagian osilator).
Potong jalur output tegangan ke rangkaian lain dengan mencabut solderan pada jumper atau
kaki komponen. Lalu, ukur tegangan output. Jika ada, berarti kerusakan terjadi pada
rangkaian di depannya. Jika tidak pada bagian osilator power, periksa resistor dengan

S4

tahanan diatas 100k Ohm sebagai catu osilator.


Kerusakan bukan pada blok Power Supply, periksa kemungkinan kerusakan pada bagian

S5

lainnya.
Kerusakan pada bagian Osilator Power Supply.
Lepaskan semua jalur output dari power supply ke rangkaian lainnya agar tidak merusak

S6

komponen lainnya, kemudian periksa elektrolitnya.


Kerusakan pada bagian control Power Supply.

S7

Periksa optokopler, resistor, dan transistor sekitar power adjusment.


Kerusakan pada blok Power Supply (bagian yang berhubungan dengan tapis).

S8

Periksa semua elektrolit kapasitor di power, terutama kapasitor tapis 220 mikrofarad / 400 V.
Kerusakan pada blok Power Supply (bagian yang berhubungan dengan tapis).

S9

Periksa semua elektrolit kapasitor di power, terutama kapasitor tapis 220 mikrofarad / 400 V.
Kerusakan pada bagian tapis di power supply.
Periksa diode tapis dan elektrolit kondensator. Komponen yang sering rusak adalah elektrolit

S10

kondensator 250 mikrofarad / 400 V dc.


Kerusakan pada bagian tapis di power supply.
Periksa diode tapis dan elektrolit kondensator. Komponen yang sering rusak adalah elektrolit

S11

kondensator 250 mikrofarad / 400 V dc.


Periksa saklar push-on yang ada pada panel kontrol. Tombol push-on dapat diukur apakah
berfungsi atau tidak dengan multitester pada posisi Ohm meter. Pada saat saklar ditekan,
jarum penunjuk akan menunjukkan angka nol (terhubung). Namun, jika saat ditekan tidak
menunjukkan angka nol (terhubung), berarti saklarnya rusak.
Jika key kontrolnya baik, tinggal mengikuti jalur dan komponen yang menghubungkan antara
key kontrol dan IC program, biasanya hanya terdiri atas beberapa buah resistor dan diode.

S12

Jika tidak ditemukan kerusakan, kemungkinan yang rusak adalah IC Programnya.


Kerusakan pada IC Program yang mati total (short) / tidak bekerja.
Ukur tegangan 5 V dc pada catu utama IC Program (umumnya ditulis V cc atau V dd). Jika
tegangan catu 5 V dc pada pin catu utama (V dd) IC program tidak ada, lepaskan solder pin IC
program dengan PCB, lalu ukur tegangan 5 V dc pada PCB. Jika ternyata tegangan 5 V dc
pada PCB ada dalam keadaan televisi tersebut hidup, hubungkan tegangan tersebut dengan
ujung multitester dengan pin catu IC program sambil tetap mengamati apakah tegangan
tetap ada. Jika tegangan 5 V dc-nya hilang saat dihubungkan/disolder pada IC program, dapat
dipastikan IC program tersebut rusak.
Namun, saat pin catu IC program dilepaskan dari PCB tegangan 5 V dc dan pada PCB juga
tidak ada kerusakan, kemungkinan bukan pada IC program. Periksalah lebih dulu sumber

S13

tegangan 5 V dc tersebut dan rangkaian lain yang berhubungan.


Kerusakan pada OSD (On Screen Display).
Periksa kerusakan pada OSD ini dimulai pada pin V-Sync (Vertikal Sinkronisasi) dan H-Sync
(Horizontal Sinkronisasi) pada IC program. Pin ini biasanya berdekatan. Umpamanya, V-Sync

pin 26 berarti H-Sync-nya pin 27. V-Sync jika ditelusuri akan terhubung ke arah IC Penguat
S14

Vertikal, sementara H-Sync jika ditelusuri akan terhubung ke arah FBT.


Kerusakan seperti ini dapat terjadi pada IC utama, tapi umumnya terjadi pada rangkaian
pendukungnya, seperti pada kontrol warna dari IC program, crystal warna, dan komponen lain
sekitar bagian warna.
Kerusakan pada bagian kontrol warna dapat ditelusuri dari IC program pin color control.
Caranya dengan mengukur tegangan dari IC program yang sampai ke IC utama pin color
control input. Tegangan ini bergerak (dapat) diatur sesuai dengan tegangan yang dikeluarkan
oleh IC program atau dapat langsung dihubungkan dengan tegangan catu RGB dengan
sebuah resistor untuk membuktikan apakah yang rusak pada bagian kontrol atau pada bagian

S15

warna IC utama.
Kerusakan seperti ini juga dapat terjadi pada IC utama, tapi umumnya terjadi pada rangkain
pendukungnya, seperti pada kontrol volume, mute dari IC program, serta komponen lain
sekitar bagian suara dan penguat suara.
Kerusakan pada bagian kontrol volume dan mute dapat ditelusuri dari IC program pin volume
kontrol. Caranya dengan mengukur tegangan dari IC program yang sampai ke IC utama pin
volume control input. Tegangan ini berubah jika pengaturan volume ditambah atau
diturunkan, dapat dilihat dengan mengamati pergerakan jarum penunjuk alat ukur sesuai
dengan tegangan yang dikeluarkan oleh IC program.
Untuk membuktikan apakah yang rusak pada bagian kontrol atau pada bagian warna IC
Utama, dapat langsung dihubungkan dengan tegangan catu bagian volume (5 V dc) ke pin
volume kontrol Utama dengan sebuah resistor. Dengan demikian, diharapkan tegangan

S16

kontrol dalam keadaan maksimal (volume suara maksimal).


Kerusakan seperti ini sering terjadi pada televisi yang terkena petir (ada sebagian jenis
televisi yang power-supply-nya rusak). Kerusakan seperti ini dapat berasal dari rangkaian IC
program pin ident, dapat juga dari IC Utama, sekitar AFT atau pada bagian sinkronisasi.
Kerusakan seperti iniagak sulit dilacak karena yang rusak adalah komponen kecil, seperti
resistor atau kapasitor yang berubah nilai. Jadi, umumnya kerusakan seperti ini bukan pada IC

S17

program atau pada IC Utama, melainkan pada komponen pendukung pada bagian yang rusak.
Kerusakan seperti ini dapat terjadi jika rangkaian horizontal pada IC utama tidak rusak
(bekerja), tapi bagian gambar dan suara mengalami kerusakan. Kerusakan seperti ini bisa
terjadi pada IC utama atau pada rangkaian sebelumnya (input), dapat juga pada rangkaian
setelahnya (outputnya). untuk mengetahuinya, diperlukan kejelian dalam melokalisasi
kerusakan, baik dengan cara potong maupun dengan cara injeksi. Cara Injeksi adalah
menggunakan sinyal injektor atau multitester posisi capasity meter (pengukuran kapasitas
kapasitor). Fasilitas ini biasanya ada pada multitester sanwa tipe CX-605. Dengan menginjeksi
sinyal input, outputnya diamati. Jika yang diinjeksi pada bagian video, hasilnya dapat dilihat
pada layar televisi yaitu berupa perubahan gambar. Namun, jika yang diinjeksi sinyal input
suara, pada speaker akan terdengan suara "bib". jika pada bagian input gambar dan suara
injeksi secara bergantian (tidak sekaligus), kemudian ada reaksi pada outputnya, dapat

S18

diambil simpulan sementara bahwa jalur yang dilaluinya (IC utama) bekerja.
Kerusakan bukan pada blok IC program/utama, periksa kemungkinan kerusakan pada bagian

S19
S20

lain.
Pastikan tombol Power On, dan steker terpasang dengan benar.
Pastikan steker terpasang dengan benar.

S21

Periksa bagian utama gambar dan bagian output gambar pada IC utama, ukur tegangan yang

S22
S23

diterima dengan tester, kemungkinan kerusakan ada pada bagian ini.


Pasang antena dengan benar dan pastikan kabelnya tersambung pada TV
Jika tegangan UHF tidak ada, biasanya masalah dari IC program pin UHF; dapat
mengakibatkan televisi tidak dapa menerima channel yang menggunakan saluran UHF

S24

(seperti Trans, Indosiar, RCTI, SCTV, Metro, dll).


Jika suara dan gambar tidak bersih, gangguan dapat terjadi pada antena, kabel antena,
konektor antena, pengaturan AGC, dan tuner itu sendiri. Antena sangat besar pengaruhnya
terhadap kualitas gambar dan suara. Langkah yang dapat dilakukan adalah mengatur antena
ke arah yang tepat. Jika gambar masih tidak bersih, cobalah atur AGC adjustment, kemudian
lakukan pencarian ulang. Seandainya gambar dan suara masih juga tidak bersih, cobalah

S25

ganti tuner dengan tipe yang sama, lalu bandingkan hasilnya dengan tuner awal.
Jika sinyal gambar yang diterima mula-mula baik (suara dan gambar bersih), pelan-pelan
berubah, dan lama kelamaan gambar jadi hilang, kerusakan seperti ini terjadi akibat AFT atau
voltage tuning yang tidak stabil. Untuk jenis televisi yang menggunakan AFT tank (spoel aft
yang dapat di trimer), jika AFT tank-nya sudah diputar-putar, dapat menimbulkan kerusakan
seperti ini. Ciri-ciri kerusakan seperti ini adalah ketika dilakukan pencarian (search), sinyal

S26
S27

yang diterima tidak mau disimpan.


Kerusakan bukan pada bagian tuner, periksa kemungkinan kerusakan pada bagian lain.
Putar posisi antena, ubah posisi sampai suara ada, jika masih tidak ada, cek volume dan
pastikan tombol mute tidak di mute. Jika masih tidak ada, cek channel yang lain. Jika masih
tidak ada suara, masalah bukan pada bagian tunner, periksa kemungkinan kerusakan bagian
lain.

S28

Jika tegangannya 0 V dc (tidak ada sama sekali), gambar dan suara tidak ada. Jika
tegangannya berubah-ubah (cat: bukan pada saat search), hal itu mengakibatkan gambarnya
berlari-lari (sinyal berubah-ubah). Jika tegangan sumbernya tidak sampai 33 V dc, sebagian
saluran tidak didapatkan (seharusnya di dapat 15 channel, ternyata hanya 5 channel). Pada
tuner, umumnya yang selalu bermasalah adalah sekitar bagian VT ini. Untuk yang lainnya,

S29

sangat jaran.
Jika tegangan catu daya pada tuner tidak ada (0 V dc), sudah dipastikan gambar dan suara
pada televisi tidak ada. Tegangan kurang mengakibatkan gambar buram. Tegangan berubahubah dapat mengakibatkan sinyal beubah-ubah. Kerusakan pada AGC dapat mengakibatkan
gambar tidak mau bersih (banyak lebahnya), tapi kerusakan AGC sangat jarang terjadi pada

S30

tuner. Biasanya setelan AGC (AGC adjustment) kurang pas


Jika suara tidak bersih, sedangkan volumenya bisa dibesarkan dan dikecilkan, kerusakan
terjadi pada komponen pendukung pada bagian suara di IC utama. Hal ini juga dapat terjadi
karena antena kurang tepat. Namun, bisa juga pengaturan sistem suara bukan pada sistem
PAL/BG. Pengaturan ini dapat dilakukan di remote control. Setelah pengetahuan di remote
control dan antena sesuai, tapi suara tetap tidak bersih, dapat dilakukan pengukuran

S31

komponen yang berhubungan dengan bagian suara pada IC utama.


Jika suara tidak ada sama sekali, kemungkinan kerusakan ada pada IC penguat suara. Sangat
perlu diperhatikan apakah kontrol mute dalam posisi of dan apakah speaker baik. Cara
memastikan apakah IC penguat suara rusak adalah dengan melepaskan R618, kemudian
sentuh (lebih baik menggunakan sinyal injektor atau dapat diambil sinyal dari tape atau VCD)
pada kaki C610 atau kaki IC penguat suara secara keseluruhan (khusus jika disentuh tangan).

Jika terdengar suara nada pada speaker, berarti IC penguat suara dalam kondisi baik
(bekerja). Dapat juga dipastikan dengan menghubungkan R618 ke amplifier. Jika tidak ada
suara, berarti yang rusak IC penguat suara. Jika ada suara, berarti yang rusak adalah
rangkaian di belakangnya. Khusus untuk kerusakan yang disebabkan ident pada IC program,
biasanya kerusakan yang diakibatkan oleh sambaran petir ini ditandai dengan terkelupasnya
jalur pada PCB. Komponen yang selalu rusak adalah kapasitor dengan kapasitas sangat kecil
atau transistor yang berhubungan dengan pin ident pada IC program. Mencari kerusakan
seperti ini sangat diperlukan ketelitian. Tegangan catu kurang (tidak stabil) dapat juga
S32

menyebabkan kerusakan seperti ini.


Jika suara tidak mau dibesarkan atau dikecilkan, kerusakan terjadi pada IC program.
Kerusakan dapat terjadi pada IC prorgram itu sendiri, dapat juga pada komponen
pendukungnya, terutama resistor. Dari skema rangkaian di atas, kontrol volume pada IC
program terletak pada pin 30; dipasang sebuah resistor R770 dengan hambatan sebesar 100
Ohm. Jika jalur ini ditelusuri, masih banyak ditemukan komponen pendukung, seperti

S33

transistor dan diode yang juga dapat mempengaruhi fungsi volume kontrol.
Apakah anda mengalami gangguan pendengaran? anda sudah sampai tahap ini, seharusnya

S34
S35

suara bisa terdengar sebagaimana mestinya.


Suara tidak ada masalah sama sekali. suara terdegar sebagaimana mestinya
Catu V cc H pada IC utama, H-out dari IC utama, transistor H-driver, Catu H-driver, HDT
(horizontal

driver

transformator),

transistor

penguat

horizontal

dan

FBT

(fly

back

transformator). Horizontal dan FBT (Fly Back Transformator). Mengatasi kerusakan dengan
S36

cara mengukur tegangan dan komponen yang berhubungan dengan bagian-bagian tersebut.
Heater pada CRT, tegangan catu 6 V ac, tegangan screen (G2) ada dan dapat dinaikan atau

diturunkan. Ini berarti bagian horizontal bekerja dengan baik. Kemungkinan kerusakan pada R
6,8 Ohm dari FBT ke pin heater CRT. Heater pada CRT dapat dipastikan baik atau rusak
S37

dengan menggunakan multitester x 1 Ohm terukur kira-kira 1-4 Ohm pin H1 dan H2
Kemungkinan yang rusak adalah yoke bagian horizontal (sebelah dalam yang menyentuh
badan CRT). Rusaknya biasanya terbakar. Jika tidak parah, kawat email yang telah terbakar

S38

dapat dipisahkan dan diisolasi, kemudian dipasang lagi. Jika sangat parah, ganti saja.
Komponen yang berhubungan dengan yoke horizontal ditandai dengan kabel warna merah

S39

dan biru yang sering rusak, kapasitor dengan kapasitas (0.05-0.1) mf.
Tegangan catu untuk FBT tidak cukup, kapasitor di kolektor transistor penguat horizontal
berubah nilai, bisa juga kapasitor yang berhubungan dengan yoke horizontal (jika bekas, yoke

S40

diganti. Namun, bawaan (original) jarang sekali).


Sinkronisasi horizontal pada IC utama hingga ke FBT, komponen yang sering rusak, resistor

S41

dari IC utama ke FBT, tapi dapat juga IC utamanya. Namun, kemungkinannya sangat kecil.
Setelan screen nya (G2 adjustment) terlalu tinggi. Jika direndahkan beberapa saat, kemudian
blanking lagi, berarti potensiometernya yang disatukan dengan FBT rusak, dapat dimodifikasi
atau ganti FBT langsung. Jika tegangan G2 normal, periksa elco pada catu 180 V dc untuk

S42

RGB.
Kapasitor di kolektor transistor penguat horizontal, FBT, yoke. Jika keadaan ini terjadi, gantilah
transistor penguat horizontal dengan transistor yang mempunyai arus besar dengan harapan
saat menguji tidak langsung rusak dan masih sempat melakukan pengukuran guna

S43
S44

memastikan komponen yang rusak.


Kerusakan bukan pada bagian horizontal, periksa kemungkinan kerusakan pada bagian lain.
Bagian yang rusak dapat pada catu osilator vertikal di IC utama, osilator vertikal pada IC
utama, catu IC penguat vertikal, dan IC penguat vertikal

S45
S46
S47

Catu IC penguat vertikal


Kapasitor tapis pada penguat vertikal (biasanya elco 100 microfarad - 330 microfarad).
Penguatan vertikal (tapi bukan IC vertikal) mendapatkan adjustment vertikal atau pengatur

S48

penguatan vertikal, bisa juga elco kapasitor.


Sinkronisasi vertikal (yang sering rusak resistor dari IC utama pin sinkronisasi input atau

S49
S50

output).
Kerusakan bukan pada bagian vertikal, periksa kemungkinan kerusakan pada bagian lain.
Jika gambar pada televisi tidak fokus (terlihat snow atau bintik lebah yang besar-besar),
mengaturnya dapat dengan memutar potensioner untuk fokus pada FBT. Jika tetap tidak ada
perubahan, yang rusak adalah soket fokus (lingkaran merah putus-putus). Gejalanya dapat
dilihat pada kawat konduktor: pada pin fokus ada korosi warna hijau. Dengan demikian, dapat
dipastikan bahwa soket fokus rusak sehingga tegangan yang dikirim FBT hilang karena

S51

pengarbonan (terjadi hambatan akibat kotoran korosi).


Terang gelapnya cahaya pada layar sangat bergantung pada tegangan yang dikeluarkan FBT
untuk screen. Jika tegangan pada screen di bawah 100 V dc, layar akan gelap. Pada screen,
biasanya dipasang sebuah resistor dan kapasitor (garis persegi merah putus-putus). Jika
kapasitor ini short, tegangan pada screen akan turun dan dapat mengakibatkan layar gelap

S52

walaupun potensiometer pada FBT diputar (adjust) maksimum.


Catu 180 V dc digunakan sebagai penguat video yang terangkum dalam sinyal RGB (Red,
Green, Blue). Catu 180 V dc bersumber dari FBT (tegangan output) melalui sebuah resistor
fuse dan sebuah diode penyearah tegangan serta ditapis oleh sebuah kapasitor elektrolit
dengan kapasitas sekira 22 mf/250 V. Nilai tegangan 180 V dc inilah yang dimanfaatkan untuk
catu RGB. jika salah satu dari tiga komponen tersebut rusak (resistor fuse, diode, dan

kapasitor elektrolit), gambar menjadi bergaris-garis buku (kecerahannya tidak dapat


dikontrol). Hal ini terjadi karena catu untuk RGB tidak mencukupi. Umumnya, komponen yang
sangat rentan terhadap kerusakan pada catu RGB 180 V dc adalah kapasitor elektrolit
S53

tersebut.
Untuk keadaan normal, kerusakan heater pada CRT jarang terjadi. Yang sering mengalami
kerusakan adalah solderan yang berhubungan dengan heater dan resistor yang dipasang
pada heater. Namun, apabila terjadi masalah pada heater, akibatnya sangat fatal, layar

S54

televisi akan gelap.


Gangguan sinyal merah (R) dari skema di samping dapat ditelusuri dari IC utama pin 19 (2,2 V
dc), resistor 902 (100 Ohm), transistor V 902 (C 2688). Outputnya melalui konektor dengan
sebuah resistor 908 (2,7 k Ohm) dan resistor beban untuk catu (12 k Ohm/3 watt) Jika terjadi
masalah dengan sinyal merah, hanya komponen-komponen tersebutlah yang diperiksa

S55

kondisinya.
Gangguan sinyal hijau (G) dari skema dapat ditelusuri dari IC utama pin 20 (2,2 V dc), resistor
912 (100 Ohm), transistor V 912 (C 2688). Outputnya melalui kolektor dengan sebuah resistor

S56

918 (2,7 k Ohm) dan resistor beban 917 untuk catu (12 k Ohm / 3 watt).
Gangguan sinyal biru (B) dapat ditelusuri dari IC utama pin 21 (2,2 V dc), resistor 922 (100
Ohm), transistor V 922 (C 2688). Outputnya melalui kolektor dengan sebuah resistor 928 (2,7

S57

k Ohm) dan resistor beban 927 untuk catu (12 k Ohm/3 watt).
Menulusuri sinyal yang bermasalah dimulai dari output RGB pada IC utama: dapat dilihat dari
gambar input CRT. Tegangan RGB pada input CRT dalam keadaan normal sekira 115 V dc. Jika
tegangan RGB lebih dari 115 V dc atau mendekati nilai tegangan catu RGB (180 V dc), layar
akan gelap. Ini berarti, transistor penguat RGB tidak bekerja karena sinyal input pada setiap

S58

kaki basisnya tidak ada.


Dalam mengganti CRT, yang sangat perlu diperhatikan adalah ukuran CRT pengganti harus
benar-benar sama agar ketika dipasang mendapatkan hasil yang memuaskan. Ukuran CRT
yang dimaksud adalah ukuran diagonal layar, ukuran diameter leher layar, dan letak kaki
(heater, fokus, G2 dan pin RGB). Khusus untuk letak kaki, bisa saja dimodifikasi, tentunya
dngan sangat hati-hati agar tidak terjadi kekeliruan, seperti kaki heater tertukar dengan kaki
catu RGB. Hal ini akan langsung merusak lensa atau kaki fokus tertukar dengan G2. Jika

S59

ukuran leher CRT tidak sama, yoke dan purity magnet pada CRT pengganti harus dibawa serta
kerusakan bukan pada bagian CRT, periksa kemungkinan kerusakan pada bagian lain.

3. Database Pertanyaan
ID
T1
T2
T3
T4
T5
T6
T7
T8
T9
T1
0
T1
1
T1

Pertanyaan
Apakah TV anda mati total?
Lihat, apakah sekringnya putus?
Apakah tegangan output ada?
Apakah tegangan power supply normal?
Apakah tegangan PS naik melebihi 130 dc?
Apakah gambar bergoyang/bergerigi di pinggir?
Apakah goyangan makin kuat jika suara dibesarkan?
Apakah gambar normal?
Apakah gambar bergoyang di sebelah tepi kiri kanan?
Apakah TV bisa dihidupkan?
Apakah kontrol berfungsi dengan baik?, seperti on/of, volume, brightness, kontras, color
Apakah OSD (On screen display) tampil dengan baik?

2
T1
3
T1
4
T1
5
T1
6
T1
7
T1
8
T1
9
T2
0
T2
1
T2
2
T2
3
T2
4

Apakah gambar tampil dengan baik?


Apakah suara terdengar?
Apakah suara terdengar?
Apakah warna terlihat?
Apakah warna terlihat?
Apakah steker sudah terpasang dengan benar?
Apakah tombol power sudah ditekan?
Apakah tombol (key) kontrol berfungsi dengan baik?
Apakah sinyal UHF dapat diterima dengan baik?
Apakah sinyal VHF dapat diterima dengan baik?
Apakah sinyal VHF dapat diterima dengan baik?
Apakah antenna sudah terpasang dengan benar?

T2
5
T2
6
T2
7
T2
8
T2
9
T3
0
T3
1
T3
2
T3
3
T3
4
T3
5
T3
6
T3

Apakah gambar ada?


Apakah gambar terlihat bersih?
Apakah suara ada?
Apakah suara bersih?
Apakah gambar cacat? Kadang baik, kadang hilang?
Apakah suara ada?
Apakah suara bersih?
Apakah suara ada?
Apakah suara terdengar?
Apakah suara bersih?
Apakah TV tidak bersuara sama sekali?
Apakah suara kecil, tidak bisa dibesarkan/dikecilkan?
Apakah suara kecil?

7
T3
8
T3

Apakah TV anda mati? (power supply masih baik / tidak rusak)


Apakah ada cahaya (raster) pada TV?

9
T4

Apakah layar berbentuk oval/trapezium diikuti oleh bayang pelangi?

0
T4

Bagaimana tampak layar? (pilih ya jika melintang vertical, dan tidak jika melintang horizontal

1
T4

Apakah layar hanya segaris vertikal?

2
T4

Apakah layar hanya garis melintang horizontal?

3
T4

Apakah layar tampak penuh?

4
T4

Apakah gambar berlari-lari kea rah horizontal? (rolling horizontal)

5
T4

Apakah layar bergaris-garis buku (blanking)?

6
T4

Apakah transistor penguat horizontal putus terus?

7
T4

Apakah layar menyempit pada bagian atas?

8
T4

Apakah layar menyempit pada bagian bawah?

T5

Apakah layar menyempit pada bagian bawah dan atas?

0
T5

Apakah gambar bergerak terus ke atas/ke bawah (rolling vertikal)

1
T5

Apakah gambar pada televise focus?

2
T5

Apakah cahaya pada layar gelap?

3
T5

Apaka terangnya (kecerahan) cahaya pada layar gelap?

4
T5

Apakah heater berfungsi dengan baik?

5
T5

Apakah ada gangguan pada RGB?

6
T5

Apakah ada gangguan pada warna merah?

7
T5

Apakah ada gangguan pada warna hijau?

8
T5

Apakah ada gangguan pada warna biru?

9
T6

Apakah tabung CRT sudah lama tidak diganti? (jika TV anda sudah sangat tua)

0
C. HASIL AKHIR APLIKASI SISTEM PAKAR

PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dari hasil penelitian, proses diagnosa kerusakan TV berwarna masih
dilakukan secara manual dan tidak adanya panduan resmi yang
menjadi acuan. Sistem Pakar Diagnosa Kerusakan pada TV
berwarna yang berbasis komputer merupakan penyelesaian dari
masalah yang terjadi saat ini dalam hal proses diagnosa kerusakan
pada TV berwarna. Maka dari itu Sistem Pakar yang kami buat ini
diharapkan dapat mempermudah dan mempercepat dalam proses
diagnosa kerusakan pada TV berwarna.
B. SARAN
Untuk yang

bermaksud

mengembangkan

sistem

pakar

ini

diharapkan lebih memahami informasi yang bisa diserap dari buku


atau dari pakar itu sendiri. Disamping itu antar muka program harus
lebih

diperhatikan

agar

pengguna

menggunakan sistem pakar ini.

merasa

nyaman

ketika

Anda mungkin juga menyukai