Anda di halaman 1dari 2

Kementerian Keuangan

Republik Indonesia

Customs
Contoh Perhitungan Bea Masuk dan Pajak Dalam
Rangka Impor atas Barang Kiriman

DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI


KANTOR WILAYAH DJBC BANTEN
Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai
Tipe Madya Pabean Soekarno Hatta

Saudara A mendapat barang kiriman impor


yang dikirim melalui sebuah PJT dengan harga barang
sesuai invoice USD 250, biaya pengangkutan udara
sesuai Airwaybill (AWB) USD 100, Saudara A tidak
memiliki API dan
dapat menunjukkan NPWP. Kurs
pajak yang berlaku pada saat pembayaran USD 1 = Rp
9.000, tarif BM = 10%, PPN 10%, PPh = 7.5%
Bea Masuk dan Pajak Dalam Rangka Impor yang harus
dibayar :
Harga barang (C)
= USD 250
Dikurangkan dengan
(50)
Pembebasan bea masuk
Harga barang (C)
= USD 200
Biaya pengangkutan (F) =
100
C&F
= USD 300
Biaya asuransi
=
1.5
(0.5% x C&F)
Nilai Pabean (NP) (CIF)
= USD 301.5
Nilai Pabean (NP) = USD 301.5 x Rp 9.000
= Rp 2.713.500,Bea Masuk = 10% x NP
=
272.000,Nilai Impor (NI)
= Rp 2.985.500,PPN
= 10% x NI
= Rp 299.000,PPh impor = 7.5% x NI
= Rp 224.000,(Bea Masuk dan Pajak Dalam Rangka Impor dibulatkan
dalam ribuan penuh)

BARANG KIRIMAN IMPOR


MELALUI
PERUSAHAAN JASA TITIPAN
Bila Anda menginginkan informasi lebih lanjut
Hubungi Seksi Penyuluhan dan Layanan Informasi
Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai
Tipe Madya Pabean Soekarno Hatta

Area Pergudangan Bandara Soekarno Hatta


Kotak Pos 1023 Cengkareng 19111
Telepon (021) 5501309
Faksimili : (021) 5502105
Email : pli_sh@yahoo.co.id
PENGADUAN :
Seksi Kepatuhan Internal
Telepon : (021)-5503108
SMS : 085286611900
Email : kepatuhan2008@gmail.com
website : www.bcsoetta.net

PLI 03
Informasi Kepabeanan dan Cukai

Bersama Kita Wujudkan


KPPBC Tipe Madya Pabean Soekarno Hatta
Menjadi Lebih Baik

Menjadi Lebih Baik

Dasar Hukum
1. Pasal 25 ayat 1 huruf (n) Undang-Undang Nomor 10
Tahun 1995 Tentang Kepabeanan sebagaimana telah
diubah dengan Undang-Undang Nomor 17 tahun 2006;

2. Peraturan

Menteri Keuangan RI nomor 188/


PMK.04/2010 tentang Impor Barang yang dibawa oleh
Penumpang, Awak Sarana Pengangkut, Pelintas Batas
dan Barang Kiriman.

Pengertian

1. Barang kiriman adalah barang impor, tidak termasuk


surat menyurat, yang dikirim oleh pengirim tertentu di
luar negeri kepada penerima tertentu di dalam negeri
melalui Perusahaan Jasa Titipan (PJT), yang
beratnya tidak melebihi 100 (seratus) kg netto
untuk setiap House Air Way Bill.

2. Penerima Barang Kiriman adalah orang atau badan


yang berdomisili di dalam daerah pabean yang namanya tertulis sebagai consignee dalam House Air Way
Bill.

3. Perusahaan Jasa Titipan (PJT) adalah perusahaan yang


memperoleh izin usaha titipan dari instansi terkait serta
memperoleh persetujuan untuk melaksanakan kegiatan
kepabeanan dari Kepala Kantor Pabean.

Fasilitas Perpajakan
1. Terhadap barang kiriman, diberikan pembebasan bea
masuk paling banyak FOB USD 50 (lima puluh dolar US)
untuk setiap orang per kiriman (dalam satu kali pengiriman).

2. Baran g

kiriman
yang
meleb ih i
b atas
pembebasan pada butir 1, dipungut bea masuk dan
pajak dalam rangka impor (PPN, PPnBM dan PPh Pasal
22 Impor).

3. Tarif Bea Masuk sesuai Buku Tarif Kepabeanan Indonesia 2012 (BTKI 2012). Tarif PPN Impor 10%, tarif PPh
impor 2.5% (bila memiliki Angka Pengenal Impor/API),
7.5% (bila tidak memiliki API), atau dikenakan 100%
lebih tinggi dari tarif yang berlaku bila tidak dapat
menunjukkan NPWP.

4. Barang impor yang dikategorikan sebagai barang mewah


berdasarkan peraturan di bidang perpajakan, dikenakan
Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) yang kriteria
dan besaran tarifnya telah ditentukan.
5. Barang Kena Cukai (seperti produk hasil tembakau dan
minuman mengandung etil alkohol) hanya diijinkan per
alamat penerima barang, paling banyak :
- 40 batang sigaret; atau
- 10 batang cerutu; atau
- 40 gram hasil tembakau lainnya; dan
- 350 ml minuman mengandung etil alkohol.
Atas kelebihan dari jumlah yang diijinkan, barang kena
cukai akan dimusnahkan secara langsung.

Penanganan oleh Pejabat Bea dan Cukai


1. Pejabat Bea dan Cukai berdasarkan peraturan
perundang-undangan di bidang kepabeanan
berwenang untuk melakukan pemeriksaan pabean, yang meliputi penelitian dokumen dan pemeriksaan fisik barang.

2. Pemeriksaan fisik barang dilakukan secara selektif dan


disaksikan oleh petugas PJT guna menetapkan tarif bea
masuk dan nilai pabean atas barang kiriman serta memastikan apakah terhadap barang kiriman terkena peraturan larangan pembatasan dari instansi teknis terkait,
seperti Kementerian Perdagangan, Kementerian Kesehatan, BPOM, Badan Karantina, Kejaksaan, Kepolisian
dan instansi teknis lainnya, contoh :
Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) harus memperoleh
ijin dari Kementerian Perdagangan;
Produk hewan, tumbuhan dan ikan harus memperoleh izin pemasukan dari Badan Karantina;
Produk makanan, minuman serta bahan baku dan
produk obat-obatan (termasuk kosmetik) harus memperoleh persetujuan atau Surat Keterangan Impor
(SKI) dari BPOM;
Produk senjata api, air softgun dan peralatan
sejenis harus mendapatkan izin dari Kepolisian.
Untuk mengetahui apakah barang impor terkena ketentuan larangan dan pembatasan, dapat dilihat di website
http://eservice.insw.go.id menu Lartas Information

3. Pejabat Bea dan Cukai menetapkan tarif bea


masuk dan nilai pabean serta menghitung bea
masuk (BM) dan pajak dalam rangka impor (PDRI)
yang wajib dilunasi atas barang kiriman (official
assestment).
4. Dalam hal barang kiriman lebih dari 3 (tiga) jenis
barang, maka hanya diambil satu tarif bea masuk
tertinggi. Sebagai contoh terdapat 4 (empat) jenis
barang impor yang ditetapkan tarif bea masuk 5%,
10%, 15%, 25%, maka diambil tarif bea masuk
tertinggi yaitu 25%.
5. Dalam rangka penetapan nilai pabean, Pejabat Bea
dan Cukai dapat meminta informasi bukti
pendukung transaksi jual beli yang obyektif dan terukur kepada penerima barang sebagai data pendukung
untuk penetapan nilai pabean, yaitu bukti bayar (T/T);
khusus untuk barang sampel/gift/free of charge
tetap dikenakan bea masuk dan pajak dalam rangka
impor, dan nilai pabeannya akan ditetapkan berdasarkan data harga pembanding.
6. Pemberitahuan barang kiriman melalui PJT disampaikan
dengan
menggunakan
dokumen
Pemberitahuan Impor Barang Khusus (PIBK).
7. Pembayaran Bea Masuk dan PDRI ke kas negara dilakukan melalui bank devisa persepsi oleh PJT dengan
menggunakan Surat Setoran Pabean, Cukai, dan Pajak
(SSPCP).
8. Persetujuan pengeluaran barang kiriman (SPPB) hanya
dapat dilakukan dengan persetujuan Pejabat Bea dan
Cukai setelah dipenuhi kewajiban pabean, yaitu memberitahukan secara tertulis dengan dokumen PIBK,
membayar BM dan PDRI serta telah dipenuhi persyaratan teknis terkait peraturan larangan dan pembatasan.
9. Dalam hal barang kiriman melalui PJT tidak
memenuhi persyaratan karena berat netto
melebihi 100 (seratus) kg, maka penyelesaiannya dilakukan dengan mengunakan Pemberitahuan Impor
Barang (PIB) dan harus memenuhi ketentuan umum
di bidang impor.