Anda di halaman 1dari 34

Praktikum UOP

2
Modul
Evaporator
Kelompok 5 :
ANDIKA DWI RAMADHAN (1206247096)
DANAR ADITYA

(1206263401)

REYHAN JONATHAN

(1206263420)

RISA HASHIMOTO

(1206225870)

Data Pengamatan (Alami)

Data Pengamatan
(Paksa)

Pengolahan
Data

Mengamati pengaruh variasi


tekanan sistem terhadap laju
evaporasi air (alami)
L2 vs. Waktu (Sirkulasi Alamiah)

f(x) = 0x + 0.13
f(x) = 0x + 0.1

f(x) = 0.01x + 0.06

0 mmHg
Linear (0 mmHg)
100 mmHg
Linear (100 mmHg)
200 mmHg
Linear (200 mmHg)

Mengamati pengaruh variasi


tekanan sistem terhadap laju
evaporasi air (paksa)
L2 vs. Waktu (Sirkulasi Paksa)

f(x) = 0x + 0.13
f(x) = 0x + 0.1

f(x) = 0.01x + 0.06

0 mmHg
Linear (0 mmHg)
100 mmHg
Linear (100 mmHg)
200 mmHg
Linear (200 mmHg)

Tekanan vs Laju
Evaporasi
E vs. P1

Sirkulasi Alami
Sirkulasi Paksa

Analisis Hasil
Dari hasil pengolahan data, terutama
pada grafik terlihat bahwa semakin
tinggi tekanan, maka semakin besar laju
evaporasi dari air.
Semakin besar kemiringan suatu grafik,
maka pertambahan air ke tangki
kondensat semakin banyak. Hal ini
membuktikan bahwa laju evaporasi atau
laju pembentukan kondensat semakin
besar.

Analisis Hasil
Fenomena ini disebabkan karena peningkatan
tekanan menyebabkan peningkatan perbedaan
temperatur. Peningkatan tekanan akan
menyebabkan penurunan titik didih air (T7), dan
peningkatan tekanan steam. Sehingga nilai
perbedaan temperatur semakin besar. Semakin
besar nilai perbedaan temperatur, maka
perpindahan kalornya menjadi lebih efektif dan
laju evaporasinya menjadi besar.
Selain itu laju evaporasi pada sirkulasi paksa lebih
kecil dibandingkan dengan sirkulasi alami.

Analisis Hasil
Pada sirkulasi paksa, perpindahan panas
dibantu oleh gaya mekanik berupa
pompa. Sedangkan, pada sirkulasi
alamiah tidak tedapat gaya tambahan
untuk perpindahan panasnya.
Dengan demikian, seharusnya
perpindahan panas sirkulasi paksa lebih
besar dibandingkan dengan sirkulasi
alamiah sehingga membuat laju
evaporasinya juga lebih besar.

Variasi Laju Sirkulasi dan


Evaporasi dengan
Perbedaan Temperatur
E K 1U E TE

U E TE

E K 2 TE

n 1

Variasi Laju Sirkulasi dan


Evaporasi dengan
Perbedaan Temperatur

Analisis Hasil
Temperatur steam yang semakin naik
dan titik didih yang semakin rendah
akan menyebabkan perbedaan
perbedaan temperature semakin
meningkat dan laju perpindahan panas
dari steam ke air akan semakin efektif.
Semakin banyak panas yang berpindah,
semakin mudah evaporasi terjadi
sehingaa laju evaporasi pun akan
meningkat.

Analisis Hasil
Jika dilihat dalam grafik dan data percobaan terdapat data
yang kurang sesuai pada P=0,295 dan P=0,53. Temperatur
(T6 dan T7) pada kedua data didapati kecenderungan nilai
yang serupa.
Padahal jika dilihat dari perbedaan tekanan yang cukup besar
ini, seharusnya didapati nilai T7 yang berbeda.
Hal ini dikarenakan praktikan pada saat mencatat data dari
T7 terlalu terburu-buru. Sehingga data yang diambil bukan
merupakan data yang keadaannya sudah steady.
Karena terburu-buru inilah membuat suhu yang diambil
adalah suhu yang masih terpengaruh oleh tekanan
sebelumnya (yakni tekanan P=0,53) sehingga kecenderungan
datanya sama.

Analisis Hasil
Kesalahan ini membuat perhitungan
nilai laju evaporasi dan pembuatan
grafik log E vs log TE menjadi
menyimpang dan tidak dapat dihitung
secara matematis.
Walaupun terdapat kesalahan
pembacaan, akan tetapi kecenderungan
dari grafik sudah sesuai dengan teori.
Semakin besar tekanan maka laju
evaporasinya akan semakin besar pula.

Membandingkan
Keekonomisan untuk
Sirkulasi Alamiah dan Paksa
Keekonomisan dari kedua jenis sistem
evaporasi, yaitu sirkulasi alami dan
sirkulasi paksa, yang mana merupakan
kemampuan dari tiap jenis sirkulasi
sistem evaporasi tersebut dalam
menguapkan dan menghilangkan air
dapat dihitung dengan prosedur sebagai
berikut:

Membandingkan
Keekonomisan untuk
Sirkulasi Alamiah dan Paksa
tekanan rata-rata steam (P2) dan
Menghitung

sistem (P1), titik didih rata-rata (T7), serta laju alir


rata-rata masukan (F2) dan sirkulasi (F3).

Menghitung rasio sirkulasi rata-rata (R) dengan


menggunakan persamaan berikut:

Menghitung jumlah air yang terevaporasi (W E)


dengan mengamati perubahan level pada tangki
kondensat (L2) dengan menggunakan persamaan
berikut:

Membandingkan
Keekonomisan untuk
Alamiah dan Paksa
Sirkulasi

Dimana C2 merupakan konstanta kalibrasi untuk

tangki kondensat yang memiliki nilai sebesar 17,6


kg/m, dan merupakan selisih antara ketinggian awal
tangki dan ketinggian akhir tangki di kondensat.

Menghitung jumlah total massa kondensat yang


terkumpul (QC) dengan mengalikan total volum
kondensat terkumpul dengan densitas air.

Menghitung keekonomisan (EC) dengan menggunakan


persamaan berikut:

Membuat grafik yang menghubungkan antara nilai


keekonomisan (EC) dengan tekanan sistem (P1).

Membandingkan
Keekonomisan untuk
Sirkulasi Alamiah dan Paksa
EC vs. P1

Sirkulasi Alamiah
Sirkulasi Paksa

Analisis Hasil
Dalam percobaan ini, keekonomisan evaporator
akan diukur berdasarkan suhu dari umpan.
Apabila suhu umpan ternyata lebih rendah dari
titik didih di dalam efek pertama, maka sebagian
dari entalpi penguapan pemanas akan digunakan
untuk beban pemanasan tersebut, dan hanya
sebagian yang tersisa untuk evaporasi.
Dalam percobaan ini, suhu umpan lebih rendah
dari titik didih, sehingga sebagian entalpi steam
akan digunakan untuk beban pemanasan tersebut.

Analisis Hasil
Jika ditelaah, hasil lebih diamati, maka terlihat
nilai keekonomisan (Ec) sirkulasi paksa dan
sirkulasi alami cenderung berdekatan.
Hal ini sebenarnya bertolak belakang bahwa
seharusnya sirkulasi paksa memberikan nilai
keekonomisan yang lebih tinggi karena pada
sirkulasi paksa menggunakan pompa yang
menyebabkan laju alir umpan yang memasuki
evaporator lebih besar (akan dibahas pada
analisis kesalahan).

Analisis Hasil
Pada akhirnya, laju air yang
terevaporasi pada sistem sirkulasi paksa
seharusnya juga menjadi lebih besar
(nilai We semakin besar). Hanya pada
percobaan yang menggunakan tekanan
0 kPa terdapat sedikit penyimpangan
nilai Ec (nilai Ec sirkulasi paksa lebih
kecil daripada Ec sirkulasi alami).

Analisis Hasil
Dari pengolahan data, dapat dilihat bahwa terdapat
satu hasil yang menunjukkan bahwa keekonomisan
sirkulasi paksa lebih tinggi daripada sirkulasi alami.
Hal ini disebabkan karena laju evaporasi pada
sirkulasi paksa lebih tinggi karena pada sirkulasi
paksa jumlah cairan yang kontak dengan steam
lebih banyak.
Karena laju evaporasi yang lebih tinggi ini maka
massa air yang teruapkan juga akan lebih banyak
untuk jumlah steam yang sama jika dibandingkan
dengan sirkulasi alamiah.

Analisis Hasil
Jika dilihat dari masing-masing sirkulasi
unruk sirkulasi alamiah keekonomisan
akan meningkat seiring dengan
kenaikan tekanan sistem. Begitu pula
untuk sirkulasi paksa keekonomisan
juga meningkat seiring kenaikan
tekanan sistem.

Menghitung Neraca Energi


untuk Sirkulasi Alami dan Paksa
data-data entalpi masukan, yaitu h F
Mencari

pada T5, hE pada T3, hC pada T8, serta HS dan hS


pada P2, dengan bantuan steam table yang
terdapat pada modul.
Menghitung perubahan level pada tangki
masukan, kondensat, dan konsentrat (L 1, L2,
L3).

Menghitung massa air umpan, air yang


terevaporasi, dan konsentrat (W F, WE, dan WC)
dengan menggunakan persamaan berikut:

Menghitung Neraca Energi


untuk Sirkulasi Alami dan Paksa
C1, C2, dan C3 merupakan konstanta
Dimana

kalibrasi untuk masing-masing tangki masukan


(1), kondensat (2), dan konsentrat (3) yang
nilainya secara berurutan adalah sebesar 110
kg/m, 17,6 kg/m, dan 17,6 kg/m.
Menghitung neraca massa dan neraca energi
sistem dengan menggunakan persamaan berikut:
Neraca Massa

Neraca Energi

Menghitung Neraca Energi


untuk Sirkulasi Alami dan Paksa
Menghitung kesalahan relatif dari
neraca massa dan neraca energi dengan
menggunakan persamaan berikut:
Kesalahan Relatif Neraca Massa

Kesalahan Relatif Neraca Energi

Menghitung Neraca Energi


untuk Sirkulasi Alami dan Paksa

Menghitung Neraca Energi


untuk Sirkulasi Alami dan Paksa

Analisis Hasil
Pada penghitungan energi, secara teoritis neraca
kesetimbangan energi harus didapat dengan asumsi tidak
ada heat loss.
Namun pada prakteknya heat loss tidak dapat dihindari
dan kita hanya dapat meminimalisasi terjadinya kehilangan
panas tersebut.
Dari hasil pengolahan data didapat bahwa neraca energi
kiri dan kanan tidak sama yang menunjukkan bahwa
energi yang dilepaskan oleh steam tidak sama dengan
energi yang diterima oleh air untuk proses evaporasi.
Energi tersebut kemungkinan hilang ke lingkungan karena
insulasi yang kurang sempurna disekitar pipa saluran.

Analisis Kesalahan
Keterbatasan dalam pembacaan skala level tangki umpan,
kondensat, dan konsentrat. Ketelitian skala adalah sebesar 1
mL. Hal ini mengakibatkan pembacaan menjadi kurang
akurat. Selain itu, pembacaan level tangki juga diperburuk
dengan kondisi angka/skala yang sudah mulai pudar/ hilang.

Keterbatasan alat pembaca temperatur otomatis untuk


membaca temperatur yang akan diambil pada waktu yang
bersamaan. Hal ini membuat data temperatur yang diambil
tidaklah tepat pada menit yang ditentukan. Jadi terdapat
penundaan pengambilan data temperature tertentu.

Ketidakstabilan tekanan steam sehingga membuat


percobaan perlu dijaga sedemikian rupa sehingga kesalahan
akibat tidak stabilnya tekanan steam dapat benar-benar
diminimalisasi.

Analisis Kesalahan
Ketidakstabilan tekanan sistem sehingga membuat skala
dari tekanan steam mudah berubah jika tidak dijaga dan
diatur ulang.
Ketidakakuratan dalam pengambilan data kondensat
karena waktu yang cepat berjalan, artinya pengambilan
data tidak tepat saat 2 menit melainkan lebih dari waktu
tersebut.
Ketidakakuratan dalam mengamati data ketinggian air
pada tangki karena kesalahan paralaks yang dilakukan
oleh praktikan.
Pembacaan data dilakukan pada keadaan yang belum
steady, sehingga didapat data yang kurang akurat.

Kesimpulan
Kenaikan suhu akan menyebabkan laju evaporasi
meningkat.
Pada percobaan ini, keekonomisan evaporasi dengan
sirkulasi alamiah lebih tinggi daripada keenokomisan
evaporasi dengan laju sirkulasi paksa. Hal ini
menyimpang dari teori yang berlaku.
Perhitungan neraca energi yang menggunakan asumsi
tidak ada heat loss menghasilkan neraca energi yang
tidak sama pada ruas kiri dan kanan persamaan.
Perbedaan ini disebabkan oleh adanya panas yang
berpindah dari sistem ke lingkungan karena insulasi
alat yang tidak sempurna.

Terima Kasih

Anda mungkin juga menyukai