Anda di halaman 1dari 17

PRAKTIKUM I

Topik : Pengenalan mikroskop


Tujuan : Untuk mengenali bagian-bagian mikroskop, memahami
kegunaannya dan terampil menggunakannya
Hari / Tanggal : Rabu, 7 Oktober 2009
Tempat : Laboratorium Biologi FKIP UNLAM Banjarmasin

I. ALAT DAN BAHAN

1. Mokroskop cahaya monokuler binokuler.

2. Kaca benda dan kaca penutup, pinset, pipet tetes, kuas, air, preparat,
dan lain-lain.

II. CARA KERJA

1. Menyiapkan alat dan bahan

2. Mengamati mikroskop dan bagian-bagiannya

3. Mencari Bidang Sediaan

3.1. Menaikkan tabung dengan menggunakan makrometer (pemutar


kasar), sehingga lensa obyektif tidak membentur meja / panggung bila
revolver diputar-putar.

3.2. Menempatkan lensa obyektif pembesaran lemah (4X atau 10X)


dengan memutar revolver sampai berbunyi klik (posisinya satu poros
dengan lensa okuler ).

3.3. Membuka diafragma sebesar-besarnya dengan menarik tangkainya


kebelakang.

1
3.4. Mengatur letak cermin sedemikian rupa ke arah cahaya, sehingga
terlihat lingkaran (lapangan pandang) yang sangat terang di dalam
lensa okuler.

3.5. Mikroskop siap digunakan.

4. Mencari Bayangan Sediaan

4.1. Menaikkan tabung mikroskop dengan menggunakan makrometer,


sehingga jarak antara lensa obyektif dengan permukaan meja
kurang lebih 3 cm.

4.2. Meletakkan sediaan yang akan diamati di tengah-tengah lubang


meja benda, menggunakan penjepit sediaan agar tidak tergeser.

4.3. Memutar makrometer ke belakang sampai penuh (hati-hati), sambil


menempatkan noda sediaan tepat di bawah lensa obyektif sehingga
jarak antara ujung lensa obyektif dengan permukaan atas kaca
penutup hanya kurang lebih 1 mm.

4.4. Membidikkan mata ke lensa okuler sambil memutar makrometer ke


depan searah jarum jam secara hati-hati sampai tampak bayangan
yang jelas.

4.5. Untuk mendapatkan pembesaran kuat, putar revolver dan lensa


obyektif yang sesuai. Kemudian mainkan fungsi mikrometer secara
perlahan dan hati-hati. (ingat apabila menggunakan lensa obyektif
100X, maka di atas sediaan perlu ditetesi minyak imersi terlebih
dahulu ).

5. Memelihara Mikroskop

5.1. Mikroskop harus selalu diangkat dan dibawa dalam posisi tegak,
dengan satu tangan memegang erat pada lengan mikroskop dan
tangan yang lain menyangga pada dasar atau kakinya.

2
5.2. Apabila tabung perlu dicondongkan posisinya, maka cukup
dilakukan dengan memutar engsel penggerak sebagai titik putar.
Setelah selesai harus ditegakkan kembali.

5.3. Mengusahakan agar lensa obyektif lemah (4X atau 10X) berada
satu poros di bawah lensa okuler. Mengatur kedudukan tabung
sedemikian rupa sehingga ujung lensa obyektif lemah berjarak
kurang lebih 1 cm dari atas meja benda.

5.4. Mengatur kedudukan penjepit sediaan dengan rapi dan cermin pada
posisi tegak agar debu tidak banyak menempel.

5.5. Apabila pengamatan dengan menggunakan minyak imersi telah


berakhir, membersihkan sisa minyak dengan cairan Xilol sesegera
mungkin, dan mengeringkannya dengan kain lap yang bersih.

5.6. Selanjutnya setiap akan menggunakan mikroskop, membersihkan


lensa atau bagian lainnya dengan kain lap bersih dari bahan yang
halus (flanel).

6. Pengukuran Mikroskopis / Mikromateri

Untuk mengetahui ukuran obyek yang diamati dengan mikroskop dapat


dilakukan dengan menggunakan alat bantu yang disebut Mikrometer
Obyektif dan Mikrometer Okuler (penjelasannya diberikan kemudian).

7. Menggambar Hasil

Hasil pengamatan dengan mikroskop dapat dituangkan dalam bentuk


gambar yang dilakukan dengan alat fotografi atau tangan (manual).
Gambar yang baik harus dapat menyampaikan ide yang jelas dari suatu
struktur yang jelas dari suatu struktur yang nyata sebagaimana tampak
hubungan antara bagian-bagian yang diamati. Adapun ciri-ciri gambar
yang baik adalah : jelas, mempunyai keterangan yang lengkap, rapi dan
cermat. Gambar diatur sedemikian rupa, di bagian tengah halaman buku,

3
disertai judul, keterangan pembesaran, biasanya 1 halalaman hanya untuk
1-2 gambar saja. Letak keterangan gambar pada sisi yang sama dengan
jarak garis penunjuk diusahakan sama dan tidak saling berpotongan.
Gambar yang bersih, sederhana, dan ilmiah.

III. TEORI DASAR

Pancaindera manusia memiliki kemampuan daya pisah yang


terbatas. Oleh karena itu, banyak masalah mengenai benda atau organisme
yang akan di amati hanya dapat diperiksa dengan menggunakan alat bantu.
Salah satu alat bantu yang sering digunakan dalam pengamatan, terutama
dalam bidang biologi adalah Mikroskop (Latin Micro = kecil + scopium =
penglihatan). Mikroskop berfungsi untuk meningkatkan kemampuan daya
pisah seseorang sehingga memungkinkan dapat mengamati obyek yang
sangat halus sekalipun.

Terdapat berbagai tipe mikroskop yang masing-masing mempunyai


tujuan penggunaan tertentu dan dengan bermacam kelengkapannya pula.
Mikroskop yang sering digunakan dalam bioloigi adalah Mikroskop
Cahaya, baik yang berlensa okuler tunggal atau dikenal dengan Mikroskop
Monokuler maupun yang berlensa okuler ganda atau yang dikenal dengan
Mikroskop Binokuler.

Benda atau organisme yang akan diamati dengan mikroskop cahaya


harus berukuran kecil dan tipis, agar dapat ditembus oleh cahaya (sinar
matahari atau lampu).

Adapun ciri-ciri mikroskop cahaya sebagai berikut (Purnomo, 2005):

1. Mikroskop cahaya biasanya digunakan untuk mengamatin morfologi.

2. Mikroskop cahaya menggunakan cahaya sebagai sumber penyinaran.

4
3. Preparat (sediaan) harus tembus cahaya supaya dapat diamati dengan
jelas.

4. Objek dapat diamati dalam keadaan hidup atau mati.

5. Pengamat dapat mengamati langsung melalui lensa okuler.

6. Bayangan dapat diperbesar hingga mencapai 100x, 400x, dan 1.000x.

Namun, dalam perkembangannya biologi sel telah mengalami


kemajuan pesat pada tahun 1950-an dengan pengenalan mikroskop elektron.
Sebagai pengganti cahaya tampak, mikroskop elektron (electron
microscope, EM) memfokuskan berkas elektron melalui spesimen. Daya
urai dihubungkan terbalik dengan panjang gelombang radiasi yang
digunakan mikroskop, dan berkas elektron memiliki panjang gelombang
yang jauh lebih pendek dari panjang gelombang cahaya tampak. Mikroskop
modern secara teoritis dapat mencapai resolusi (penguraian) kira-kira 0,1
nanometer (nm), tetapi dalam prakteknya batas untuk struktur biologis
umumnya hanya kira-kira 2 nm masih merupakan peningkatan ratusan kali
lipat dari mikroskop cahaya (Campbell, 2003).

Mikroskop elektron ada 2 macam, yaitu mikroskop elektron skaning


(SEM : Scanning Electron Microscope) dan mikroskop elektron transmisi
(TEM : Transmission Electron Microscope). Mikroskop elektron skaning
digunakan untuk mengamati secara detail permukaan sel, sedangkan
mikroskop elektron transmisi digunakan untuk mengamati struktur internal
sel (Purnomo, 2005).

5
IV. HASIL PENGAMATAN

MIKROSKOP MONOKULER/ CAHAYA

Keterangan :

1. Kaki dasar
2. Lengan
3. Engsel
4. Lensa obyektif
5. Lensa okuler
6. Revolver
7. Cermin
8. Kondensor
9. Diafragma
10. Pilar
11. Tabung
12. Panggung
13. Makrometer
14. Mikrometer
15. Penjepit
16. Gelas kimia
17. Pipet
18. Kain planel
19. Kaca penutup
20. Objek gelas

6
Berdasarkan literatur :

7
V. ANALISIS DATA

Mikroskop adalah alat optik untuk mengamati benda- benda yang sangat
kecil, misalnya rambut, bakteri dan sel sehingga tampak jelas. Mikroskop
sederhana terdiri dari dua buah lensa positif (cembung). Lensa positif yang
berdekatan dengan mata disebut lensa okuler. Lensa ini berfungsi sebagai lup.
Lensa positif yang berdekatan dengan benda disebut lensa objektif. Jarak titik api
lensa objektif lebih kecil dari pada jarak titik api lensa okuler.

Resolusi dan magnifikasi

Resolusi adalah kemampuan sistem optikal untuk membedakan detil


sangat kecil pada suatu spesimen (sebagai jarak terkecil antara 2 poin yang
berdekatan dimana mereka dapat dibedakan dalam 2 bagian yang berbeda.

Resolusi ditentukan oleh:

a. Kemampuan mengumpulkan cahaya (numerical aperture atau N.A) lensa

NA = n x sin α

b. Panjang gelombang (λ) cahaya yang digunakan

Resolusi = 0.61 x λ / NA

Komponen suatu mikroskop

1. Sistem iluminasi - sumber cahaya dan kondensor


2. Pegangan dan tempat spesimen
3. Sistem lensa - obyektif dan okuler (eye piece lens, biasanya memiliki
kekuatan perbesaran 10x atau 15x)
4. Sitem fotografi (dipasang pada lensa okuler)

8
Mikroskop

Sistem iluminasi

Sumber cahaya menggunakan bohlam tungsten - halogen - untuk


menyediakan output 100 W pada 12 V - alat ini memiliki susunan filament
tunggal rata yang dipasang berdekatan dan diletakkan di amplop quartz. Karena
alat ini beroperasi pada suhu filament yang sangat tinggi, sehingga cocok untuk
fotomikrograf berwarna, dengan menggunakan film yang seimbang untuk cahaya
tungsten. Kondensor digunakan untuk mengkonsentrasikan cahaya ke dalam
objek dengan intensitas seragam pada keseluruhan bidang iluminasi. Kondensor
dapat diklasifikasikan berdasarkan tujuan mereka : terang - atau dasar gelap, fase
kontras, atau nomarski differential interference contras.

Pengelompokkan kondensor berdasarkan pada maksimum numerical aperturenya:


a) Kekuatan rendah - hingga N.A. 0.25,

b) Kekuatan sedang kondensor kering hingga N.A. 0.9 dan

c) Tipe minyak imersi, berkekuatan tinggi N.A. hingga 1,4.

9
Perkembangan Mikroskop

Suatu objek yang diamati di bawah mikroskop dapat diabadikan dengan


kamera. Biasanya mikroskop majemuk yang mempunyai dua lensa okuler
dilengkapi dengan bagian lensa untuk kamera. Teknologi hasil karya manusia
setiap waktu selalu mengalami perkembangan. Mikroskop sederhana dan
beberapa mikroskop optik lainnya hanya mampu memperbesar benda dari sekitar
100-1000 kali, sedangkan teknologi mikroskop elektron dapat menghasilkan
perbesaran hingga 1.000.000 kali.

Berdasarkan sistem pencahayaannya mikroskop dibagi menjadi dua yaitu


mikroskop optik dan mikroskop bukan optik.

A. Mikroskop optik,

mikroskop yang proses perbesaran benda menggunakan cahaya biasa


(cahaya tampak). Jenis- jenis mikroskop optik antara lain mikroskop stereo
(dissecting microscope), mikroskop majemuk (compound microscope), mikroskop
polarisasi, mikroskop fase kontras (phase contrast microscopy) yang
menghasilkan gambar 3 dimensi, mikroskop normaski dan mikroskop
fluorescence.

Fungsi mikroskop optikal adalah:

1. Untuk memvisualisasi detail yang sangat kecil dalam struktur suatu obyek
2. Untuk menampilkan gambar dari obyek yang diperbesar
3. Untuk mengukur panjang, sudut, area, dll pada suatu obyek
4. Sebagai alat analisa untuk menentukan bagian optik suatu obyek seperti
indeks refraksi, reflektansi, dan perubahan fase;
5. Untuk mendapatkan informasi histokimia suatu objek dengan
menggunakan pewarnaan.

10
A.1. Mikroskop stereo

Suatu alat dengan lensa obyektif. Lensanya harus berdiameter besar karena
diatasnya akan dipasangi system lensa lain yang terpisah dalam posisi parallel dan
jalur sinar terpisah untuk mata kanan dan kiri. Mikroskop ini tidak memiliki
kondensor, tapi memiliki kedalaman bidang pandang dan jarak kerja yang
panjang.

Kekurangan utama dari tipe obyek mikroskop stereo adalah bahwa aperture
numerical dari system dibatasi oleh adanya jalur beam/cahaya ganda. Karenanya
seseorang harus menggunakan mikroskop majemuk, yang memiliki obyektif
dengan diameter yang lebih besar dan karenanya meningkatkan aperture
numerical.

A.2. Mikroskop majemuk (COMPOUND MICROSCOPE)

Mikroskop majemuk memerlukan kualitas yang tinggi tidak hanya pada


obyektif dan bagian mata tapi juga pada kondensor substage.

a. Instrument yang terefleksi cahaya - bagian material

b. Mikroskop cahaya tertransmisi - bagian biologi.

11
A.3. Mikroskop polarisasi

Menggunakan cahaya terpolarisasi guna menganalisa struktur yang


birefringent. Birefringence - suatu property spesimen yang transparan dengan 2
indeks refraktif yang berbeda pada orientasi yang berbeda untuk membedakan
cahaya terpolarisasi ke dalam kedua komponen. Cahaya terpolarisasi, hanya
berfluktuasi/bergerak di satu dataran karena polar hanya meneruskan cahaya pada
dataran tersebut.

Jika 2 polar diletakkan di atas yang lainnya, arahkan sinar ke atas dan
putar relatif terhadap yang lain, akan ada 1 posisi dimana 2 dataran tertransmisi
bertemu, yang akan tampak cerah. Pada 90o terhadap orientasi ini, semua cahaya
akan berhenti (gelap).

A.4. Mikroskop fase kontras

Menggunakan retardasi cahaya spesimen untuk menghasilkan perbedaan


fase yang dikonversi ke kontras. Fase kontras menggunakan iluminasi bidang
terang dengan suatu phase annulus (pada kondensor) dan phase plate (dipasang
pada obyektif) pada lintas cahaya.

Aplikasi : spesimen hidup, spesimen yang tidak diwarnai

A.5. Mikroskop Normaski

Mikroskop Nomarski differential interference contrast (DIC)


menggunakan kombinasi system polarisasi dan 2 pelepas sinar khusus untuk
menciptakan perbedaan fase di spesimen. Sistem ini dapat menghasilkan image 3
dimensi karena satu sisi spesimen tampak lebih terang dibandingkan yang lain
seolah - oleh cahaya jatuh disana dan menghasilkan bayangan (melalui cahaya
polarisasi).

12
A.6. Mikroskop fluorescence

Mikroskop fluorescence hampir sama dengan mikroskop cahaya biasa dengan


tambahan fitur untuk meningkatkan kemampuannya.

• Mikroskop konvensional menggunakan cahaya tampak (400-700


nanometer) untuk iluminasi dan menghasilkan gambar sampel yang
diperbesar.
• Mikroskop fluorescence, sebaliknya, menggunakan intensitas cahaya yang
lebih tinggi, yang mengeksitasi bagian berpendar pada sampel.

Mikroskop fluorescence sering digunakan untuk menggambarkan fitur khusus


dari spesimen kecil seperti mikroba. Juga digunakan untuk secara visual
meningkatkan fitur 3-D pada skala kecil.

Mikroskop ini sering digunakan untuk:

• Menampilkan komponen structural suatu spesimen kecil, seperti sel.


• Melakukan studi viabilitas pada populasi sel (apakah mereka hidup atau
mati?)
• Menampikan materi genetik pada sel (DNA dan RNA)
• Melihat sel - sel spesifik dalam populasi yang lebih besar dengan teknik
khusus seperti FISH

13
B. Mikroskop bukan optik,

yaitu mikroskop yang memperbesar benda dengan bantuan radiasi panjang


gelombang sinar pendek. Contohnya mikroskop sinar- X, mikroskop ion, dan
mikroskop elektron. Dari ketiga jenis mikroskop bukan optik, mikroskop elektron
paling banyak digunakan. Melalui mikroskop elektron dapat dipelajari pola - pola
sel hewan, tumbuhan, dan bakteri. Mikroskop elektron juga digunakan dalam
menganalisis hasil industri dan pengontrol hasil produksi.

Cara menggunakan mikroskop

Benda yang akan diamati diletakkan di antara F dan 2F dari lensa objektif.
Bayangan yang dihasilkan bersifat nyata, diperbesar, dan terbalik. Bayangan ini
akan menjadi benda bagi lensa okuler. Sifat bayangan yang yang dihasilkan lensa
okuler ini adalah maya, diperbesar dan terbalik dari aslinya. Bayangan ini
merupakan bayangan akhir dari mikroskop yang kita lihat.

14
VI. KESIMPULAN

Dari kegiatan praktikum pengenalan mikroskop yang telah dilakukan


maka dapat diketahui mikroskop cahaya terbagi atas bagian optik dan
bagian mekanis. Bagian optik terdiri atas cermin, lensa kondensor, lensa
obyektif, lensa okuler, dan diafragma. Sedangkan, bagian mekanis terdiri
atas kaki dan tangkai, pilar, lengan, dan engsel penggerak, meja benda,
sekrup penggerak sediaan/ obyek, dan sekrup pengatur jarak antara teropong
dengan sediaan.

Masing-masing bagian dari mikroskop tersebut mempunyai fungsi


secara terkait. Cermin, berfungsi untuk memantulkan cahaya dan sumber
cahaya ke obyek yang diamati. Lensa kondensor, terdiri atas lensa kompleks
untuk mengumpulkan cahaya yang terpantul atau terbias dari cermin. Lensa
obyektif, yang letaknya dekat dengan sediaan, biasanya terdapat 2, 3 atau
lebih lensa dipasang sekaligus pada revolver yang diputar. Lensa okuler,
terdiri atas lensa kompleks, menerima bayangan semua terbalik. Diafragma,
berfungsi untuk mengatur intensitas cahaya yang diperlukan saat mengamati
obyek.

Kaki dan tangkai mikroskop berfungsi sebagai penyangga bagian


optik, dapat berbentuk tapal kuda, persegi atau bentuk lain. Bagian pilar dan
lengan dihubungkan oleh engsel penggerak yang berfungsi untuk mengatur
kedudukan mikroskop sesuai dengan yang dikehendaki. Meja benda,
merupakan tempat untuk meletakkan benda atau obyek yang akan diamati.
Sekrup penggerak sediaan/ obyek, jumlahnya ada dua tersusun pada satu
sumbu yang berfungsi untuk menggerakkan sediaan ke muka dan ke
belakang (sekrup atas), menggerakkan sediaan ke kiri dan ke kanan (sekrup
bawah). Sekrup pengatur jarak antara teropong dengan sediaan, jumlahnya
ada dua buah atau menjadi satu, yang mempunyai dua fungsi yaitu sebagai
pengatur atau penggerak kasar (makrometer) dan sebagai penggerak halus
(mikrometer).

15
Setelah melakukan praktikum pengenalan mikroskop ini diharapkan
dapat memahami dan menggunakan mikroskop dengan tepat dan benar.
Praktikan telah terampil dalam mengggunakan mikroskop. Sehingga tidak
terjadi kekeliruan dalam menggunakannya serta dapat menjaga/ memelihara
mikroskop dengan baik. Selain itu juga, dapat menambah pengetahuan
untuk peneraran dalam kehidupan yang akan datang.

16
VII. DAFTAR PUSTAKA

Campbell, N. A., dkk. 2003. Biologi Jilid 1 (Terjemahan Wasmen Manalu).


Jakarta : Erlangga

Nasir, Mohammad dkk.1992. Petunjuk Praktikum Biologi Umum. Jakarta :


Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Noorhidayati dan Siti Wahidah. 2009. Penuntun Praktikum Biologi Umum.
Banjarmasin : FKIP UNLAM

Purnomo, dkk. 2005. Biologi Kelas XI Jilid 2a SMA. Jakarta : Sunda Kelapa
Pustaka

17