Anda di halaman 1dari 4

Contoh perhitungan pph pasal 31 E

Tarif PPh berdasarkan Pasal 31 E Undang-undang Pajak Penghasilan nomor 36 tahun 2008
dijelaskan bahwa Wajib Pajak badan dalam negeri dengan peredaran bruto sampai dengan Rp.
50.000.000.000 (lima puluh milyar rupiah) mendapat fasilitas berupa pengurangan tarif sebesar
50% (lima puluh persen) dari tarif pasal 17 ayat 1 huruf b dan ayat 2a yang dikenakan atas
Penghasilan Kena Pajak dari bagian peredaran bruto sampai dengan Rp.4.800.000.000,00 (empat
milyar delapan ratus juta rupiah).
Penghitungan PPh terutang berdasarkan Pasal 31E dibagi menjadi dua cara yaitu :
1. Jika peredaran bruto sampai dengan Rp. 4.800.000.000,00 maka penghitungan PPh
terutang yaitu sebagai berikut :
PPh Terutang = 50% x 25% x Seluruh Penghasilan Kena Pajak.
contoh :
peredaran bruto PT Saraswati tahun Pajak 2012 sebesar Rp.4.500.000.000,00 dengan
Penghasilan Kena Pajak sebesar Rp. 500.000.000,00. Maka PPh terutangnya adalah :
= 50% x 25% x Rp. 500.000.000,00
= Rp. 62.500.000,00
2. Jika peredaran bruto lebih dari Rp 4.800.000.000,00 sampai dengan Rp
50.000.000.000,00 penghitungan PPh terutangnya adalah sebagai berikut :
a. Cara menghitung Penghasilan Kena Pajak dari bagian peredaran bruto yang
memperoleh fasilitas.
b. Cara menghitung Penghasilan Kena Pajak dari bagian peredaran bruto yang tidak
memperoleh fasilitas yaitu Penghasilan Kena Pajak dari bagian bruto yang
memperoleh fasilitas.
Contoh :
Peredaran bruto PT Nusantara tahun pajak 2012 sebesar Rp. 30.000.000.000,00 dengan
Penghasilan Kena Pajak sebesar Rp 3.000.000.000,00. Cara Menghitung PPh Terutang Badan
tahun 2012 untuk PT Nusantara sebagai berikut :
1. Jumlah Penghasilan Kena Pajak dari bagian peredaran bruto yang memperoleh fasilitas :
= (Rp 4.800.000.000,00 : Rp 30.000.000.000,00) x Rp 3.000.000.000,00
= Rp. 480.000.000,00

2. Jumlah Penghasilan Kena Pajak dari bagian peredaran bruto yang tidak memperoleh
fasilitas :
= Rp 3.000.000.000,00 - Rp 480.000.000,00
= Rp 2.520.000.000,00
3. PPh Badan yang Terutang tahun 2012
= (50% x 25% x Rp 480.000.000,00) + ( 25% x Rp 2.520.000.000,00)
= Rp 60.000.000,00 + Rp 630.000.000,00
= Rp 690.000.000,00

Contoh perhitungan pph menurut PMK 197 tahun 2013


Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 197/PMK.03/2013 tanggal 20
Desember 2013 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 68/PMK.03/2010
tentang Batasan Pengusaha Kecil Pajak Pertambahan Nilai.
Batasan omzet pengusaha kecil yang wajib dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak
(PKP) atau menjadi wajib PPN dinaikkan menjadi Rp4,8 Miliar setahun dari sebelumnya Rp600
juta setahun. Sebelumnya, sebagaimana disebutkan dalam Pasal 3A UU PPN, bahwa pengusaha
yang melakukan penyerahan Barang Kena Pajak dan atau Jasa Kena Pajak (kecuali pengusaha
kecil yang batasannya ditetapkan oleh Menteri Keuangan) wajib melaporkan usahanya untuk
dikukuhkan sebagai PKP dan wajib memungut, menyetor, dan melaporkan PPN yang terutang.
Contoh :
Pak Yudhi bergerak dalam bidang perdagangan Handphone, Laptop dan barang elektronik
lainnya di BEC sejak 20 Januari 2014 terdaftar sebagai Wajib Pajak di KPP Pratama Bandung
Cibeunying. (Andai) Peredaran bruto selama tahun 2014 adalah sebagai berikut :

contoh omset
Berdasarkan data tersebut di atas, diketahui bahwa sampai dengan bulan Oktober 2014 omset
Pak Yudhi sudah mencapai Rp. 4.805.000.000,- maka sesuai pasal 4 ayat (2) paling lama tanggal
30 Nopember 2014 pak Yudhi harus sudah melaporkan usaha untuk dikukuhkan sebagai
Pengusaha Kena Pajak.

Apabila Pak Yudhi tetap tidak melaporkan usahanya sampai dengan masa Desember 2014, maka
sesuai pasal 5 ayat (2) Peraturan Menteri Keuangan nomor 197/PMK.03/2013 Tentang Batasan
Pengusaha Kecil Pajak Pertambahan Nilai, Direktur Jenderal Pajak dapat menerbitkan surat
ketetapan pajak dan/atau surat tagihan pajak untuk Masa Pajak sebelum pengusaha dikukuhkan
secara jabatan sebagai Pengusaha Kena Pajak, terhitung sejak saat jumlah peredaran bruto
dan/atau penerimaan brutonya melebihi Rp. 4.800.000.000,00 (empat miliar delapan ratus juta
rupiah), yaitu sejak masa Oktober 2014 sebagaimana contoh di atas tentu beserta sanksisanksinya.
Dalam hal pengusaha telah dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak dan jumlah peredaran
bruto dan/atau penerimaan brutonya dalam satu tahun buku tidak melebihi Rp. 4.800.000.000,00
(empat miliar delapan ratus juta rupiah), Pengusaha Kena Pajak dapat mengajukan permohonan
pencabutan pengukuhan sebagai Pengusaha Kena Pajak.