Anda di halaman 1dari 29

MAKALAH

DESA SIAGA
Untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah Community Health Nursing I Yang
dibimbing oleh Ns. Setyoadi, M.Kep.,Sp.Kom

Disusun oleh :
Kelompok 1
Fitri Dyah Anggraini

125070218113050

Hairul Anam

125070218113024

Muftiya Dwi Cahyani

125070218113020

Rissa Dhevi B.K

125070218113038

Nyoman Annisa. A

125070218113016

Keyfin Alifah. K

125070218113044

Yolenta Nandys A.S

125070218113022

Yessie Rohan

125070218113036

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2015

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang atas rahmat-Nya
maka kami dapat menyelesaikan Makalah yang berjudul Desa Siaga tepat pada
waktunya.
Dalam penyusunan makalah ini kami menyampaikan ucapan terima kasih
kepada pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan makalah ini, khususnya
kepada :
1. Ns. Setyoadi, M.Kep.,Sp.Kom dosen pembimbing kami pada mata kuliah
Community Health Nursing I
1. Orang tua dan teman-teman anggota kelompok.
2. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, yang telah
memberikan bantuan dalam penulisan makalah ini.
Semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca, oleh karena itu kritik dan saran
dari semua pihak yang bersifat membangun penulis harapkan demi mencapai
kesempurnaan makalah berikutnya.
Sekian penulis sampaikan terimakasih kepada semua pihak yang telah
membantu.Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita.Amin.

Kediri, 1 Mei 2015

Penulis

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL....................................................................................1
2

KATA PENGANTAR..................................................................................2
DAFTAR ISI...............................................................................................3
BAB I PENDAHULUAN.............................................................................4
1.1 Latar Belakang...................................................................................4
1.2 Rumusan Masalah.............................................................................6
1.3 Tujuan................................................................................................6
BAB II PEMBAHASAN..............................................................................6
2.1 Definisi...............................................................................................7
2.2 Konsep Desa Siaga...........................................................................7
2.3 Peran Desa Siaga..............................................................................9
2.4 Sistem Desa Siaga............................................................................13
2.5 Dasar Hukum Kebijakan Desa Siaga................................................21
2.6 Program Desa Siaga..........................................................................26
2.7 Kegiatan Desa Siaga ........................................................................27
BAB III PENUTUP.....................................................................................11
3.1 Kesimpulan........................................................................................30
DAFTAR PUSTAKA..................................................................................31

BAB I
PENDAHULUAN
3

1.1 Latar Belakang


Permasalahan kesehatan yang dihadapi sampai saat ini cukup kompleks,
karena

upaya

kesehatan

belum

dapat

menjangkau

seluruh

lapisan

masyarakat. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun


2007 diketahui penyebab kematian di Indonesia untuk semua umur, telah
terjadi pergeseran dari penyakit menular ke penyakit tidak menular, yaitu
penyebab kematian pada untuk usia > 5 tahun, penyebab kematian yang
terbanyak adalah stroke, baik di perkotaan maupun di pedesaan. Hasil
Riskesdas 2007 juga menggambarkan hubungan penyakit degeneratif seperti
sindroma metabolik, stroke, hipertensi, obesitas dan penyakit jantung dengan
status sosial ekonomi masyarakat (pendidikan, kemiskinan, dan lain-lain).
Kesehatan adalah tanggung jawab bersama dari setiap individu, masyarakat,
pemerintah dan swasta. Apapun peran yang dimainkan oleh pemerintah,
tanpa kesadaran individu dan masyarakat untuk secara mandiri menjaga
kesehatan mereka, hanya sedikit yang akan dapat dicapai. Perilaku yang
sehat dan kemampuan masyarakat untuk memilih dan mendapatkan
pelayanan kesehatan yang bermutu sangat menentukan keberhasilan
pembangunan kesehatan. Oleh karena itu, salah satu upaya kesehatan pokok
atau misi sektor kesehatan adalah mendorong kemandirian masyarakat untuk
hidupsehat.
Untuk mencapai upaya tersebut Departemen Kesehatan RI menetapkan visi
pembangunan kesehatan yaitu Masyarakat yang mandiri untuk hidup sehat.
Strategi yang dikembangkan adalah menggerakkan dan memberdayakan
masyarakat untuk hidup sehat, berupa memfasilitasi percepatan dan
pencapaian derajat kesehatan setinggi-tingginya bagi seluruh penduduk
dengan mengembangkan kesiap-siagaan di tingkat desa yang disebut
denganDesaSiaga.
Desa siaga adalah desa yang penduduknya memiliki kesiapan sumber daya
dan kemampuan serta kemauan untuk mencegah dan mengatasi masalahmasalah kesehatan, bencana dan kegawatdaruratan secara mandiri. Pada
intinya, desa siaga adalah memberdayakan masyarakat agar mau dan
mampu untuk hidup sehat. Untuk dapat danmampu hidup sehat, masyarakat
perlu

mengetahui

masalah-masalah

dan

faktor-faktor

yang

dapat

mempengaruhi kesehatannya, bak sebagai individu, keluarga, ataupun


4

sebagai

bagian

dari

anggota

masyarakat.

Seiring dengan program Desa Siaga yang dicanangkan oleh Departemen


Kesehatan RI, pendidikan dan profesi keperawatan telah menerapkan standar
perawatan komunitas yang mencakup berbagai unsur dan komponen seperti
yang ada pada konsep Desa Siaga. Perawatan kesehatan masyarakat
diterapkan untuk meningkatkan dan memelihara kesehatan populasi dimana
prakteknya tersebut bersifat umum dan komprehensif yang ditujukan pada
individu, keluarga, kelompok dan masyarakat yang memiliki kontribusi bagi
kesehatan, pendidikan kesehatan dan manajemen serta koordinasi dan
kontinuitas pelayanan holistik. Masalah kesehatan masyarakat dapat bermula
dari perilaku individu, keluarga, kelompok dan masyarakat diantaranya
berkaitan dengan masalah kesehatan lingkungan, kesehatan ibu anak,
kesehatan remaja serta kesehatan lanjut usia (lansia),maupun pemanfaatan
fasilitas pelayanan kesehatan yang masih sangat rendah seperti pemeriksaan
kesehatan, kehamilan, imunisasi, posyandu dan lain sebagainya.
Seiring dengan program Desa Siaga yang dicanangkan oleh Departemen
Kesehatan RI, pendidikan dan profesi keperawatan telah menerapkan standar
perawatan komunitas yang mencakup berbagai unsur dan komponen seperti
yang ada pada konsep Desa Siaga. Perawatan kesehatan masyarakat
diterapkan untuk meningkatkan dan memelihara kesehatan populasi dimana
prakteknya tersebut bersifat umum dan komprehensif yang ditujukan pada
individu, keluarga, kelompok dan masyarakat yang memiliki kontribusi bagi
kesehatan, pendidikan kesehatan dan manajemen serta koordinasi dan
kontinuitas pelayanan holistik. Masalah kesehatan masyarakat dapat bermula
dari perilaku individu, keluarga, kelompok dan masyarakat diantaranya
berkaitan dengan masalah kesehatan lingkungan, kesehatan ibu anak,
kesehatan remaja serta kesehatan lanjut usia (lansia),maupun pemanfaatan
fasilitas pelayanan kesehatan yang masih sangat rendah seperti pemeriksaan
kesehatan, kehamilan, imunisasi, posyandu dan lain sebagainya.

1.2 Rumusan Masalah


Apa definisi Desa Siaga?
Bagaimana Konsep Desa Siaga?

Apa saja Peran Jajaran Kesehatan dan Pemangku Kepentingan

Terkait?
Bagaimana Sistem Desa Siaga?
Dasar Hukum Kebijakan apa yang mengatur tentang Desa Siaga?
Apa saja Program Desa Siaga?
Apa saja Kegiatan Desa Siaga?

1.3 Tujuan
Untuk mengetahui definisi Desa Siaga
Untuk mengetahui Konsep Desa Siaga
Untuk mengetahui Peran Jajaran Kesehatan dan Pemangku

Kepentingan Terkait
Untuk mengetahui bagaimana Sistem Desa Siaga
Untuk mengetahui Dasar Hukum Kebijakan yang mengatur Desa

Siaga
Untuk mengetahui Program Desa Siaga
Untuk mengetahui Kegiatan Desa Siaga

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 DEFINISI
Desa siaga adalah desa yang penduduknya memiliki kesiapan sumber
daya dan kemampuan serta kemauan untuk mencegah dan mengatasi
masalah kesehatan, bencana, dan kegawatdaruratan kesehatan secara
6

mandiri. Desa yang dimaksud di sini adalah kelurahan atau istilah lain bagi
kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah, yang
berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan yang diakui dan
dihormati dalam Pemerintah Kesatuan Republik Indonesia.
2.2 KONSEP DESA SIAGA
Desa Siaga adalah desa yang memiliki kesiapan sumber daya dan
kemampuan untuk mencegah dan mengatasi masalah kesehatan (bencana
dan kegawatdaruratan kesehatan) secara mandiri (Depkes RI,2006). Konsep
desa disini serupa dengan desa, kelurahan, nagari, dan lain-lain yang
sepadan.
A. Tujuan dibentuknya Desa Siaga
Tujuan umum. Terwujudnya desa dengan masyarakat yang sehat, peduli
dan

tanggap

terhadap

masalah-masalah

kesehatan

(bencana

dan

kegawatdaruratan kesehatan) di desanya.

B. Tujuan khusus
Meningkatnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat desa tentang

pentingnya kesehatan dan menerapkan perilaku hidup sehat.


Meningkatnya kemampuan dan kemauan masyarakat desa untuk menolong

dirinya sendiri di bidang kesehatan


Meningkatnya kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat desa terhadap
risiko dan bahaya yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan (bencana,

wabah penyakit, dan lainnya).


Meningkatnya kesehatan lingkungan di desa.

C. Sasaran dalam Pengembangan Desa Siaga


Pihak-pihak yang dapat memengaruhi individu dan keluarga, yaitu tokoh

masyarakat, lembaga swadaya masyarakat (LSM), kader, dan media massa.


Pihak-pihak yang dapat member dukungan atau bantuan, yaitu pejabat atau

dunia usaha.
Semua individu dan keluarga di desa.
Semua sasaran di atas diharapkan dapat lebih mandiri dlaam mengatasi

masalah-masalah kesehatan. Untuk menuju Desa Siaga, ada beberapa kriteria


yang harus dipenuhi, yaitu desa tersebut minimal mempunyai pos kesehatan
7

desa (poskesdes). Poskesdes di sini merupakan suatu upaya bersumber daya


masyarakat (UKBM) yang minimal melaksanakan kegiatan-kegiatan seperti
berikut.

Pengamatan epidemiologis penyakit menular dan yang berpotensi menjadi

kejadian luar biasa (KLB) serta faktor-faktor risikonya.


Penanggulangan penyakit menular dan yang berpotensi menjadi kejadian luar

biasa serta kekurangan gizi.


Kesiapsiagaan dalam penanggulangan

kesehatan.
Pelayanan kesehatan dasar, sesuai dengan kompetensinya (jika dekat

dengan puskesmas atau pustu maka bisa diambil alih oleh salah satunya).
Kegiatan lain-lain misalnya promosi untuk sadar gizi, perilaku hidup bersih

bencana

dan

kegatdaruratan

dan sehat, penyehatan lingkungan, dan kegiatan pengembangan.


Poskesdes di masyarakat juga berfungsi sebagai coordinator dari UKBM
lainnya seperti posyandu, warung obat desa, dan lainnya. Oleh karena itu,
poskesdes perlu didukung sumber daya tenaga (minima; satu orang perawat
maternitas atau bidan dan dua orang kader) serta sarana (fisik bangunan,
peralatan dan perlengkapan, serta alat komunikasi ke masyarakat dan
puskesmas). Untuk membentuk poskesdes tidak harus memulai dari awal, tetapi
bisa dengan menggunakan sumber daya kesehatan yang sudah ada seperti
berikut.

Polindes yang sudah ada dikembangkan menjadi poskesdes.


Memanfaatkan bangunan lain yang sudah ada misalnya balai desa.
Dibangun baru dengan alternative (bantuan pemda atau pempus, donator,
dunia usaha, dan swadaya masyarakat).

D. Indikator Keberhasilan Pengembangan Desa Siaga


Indikator masukan (input), seperti ada/tidaknya forum masyarakat desa,

poskesdes atau sarananya, tenaga kesehatan, dan UKBM lain.


Indikator proses (process), seperti frekuensi pertemuan masyarakat desa,
ada atau tidaknya kunjungan rumah kadarzi dan PHBS, serta berfungsi atau
tidaknya

Poskesdes,

UKBM

yang

ada,

sistem

kesiapsiagaan

dan

penanggulangan

kegawatdaruratan

bencana,

dan

sistem

surveylans

(pengamatan dan pelaporan).


Indikator pengeluaran (output), seperti cakupan pelayanan kesehatan
Poskesdes, pelayanan UKBM yang ada, rumah tangga yang mendapat
kunjungan

rumah

untuk

kadarzi

dan

PHBS,

serta

jumlah

kasus

kegawatdaruratan dan KLB yang dilaporkan atau diatasi.


Indikator dampak (outcome), seperti jumlah jiwa yang menderita sakit
(angka kesakitan kasar) dan gangguan jiwa, jumlah ibu melahirkan yang
meninggal dunia, juga jumlah bayi dan balita yang meninggal dunia serta
menderita gizi buruk.

2.3 PERAN JAJARAN KESEHATAN dan PEMANGKU KEPENTINGAN


TERKAIT
A. Peran Jajaran Kesehatan
1. Peran Puskesmas
Dalam rangka pengembangan Desa Siaga, Puskesmas merupakan ujung
tombak dan bertugas ganda yaitu sebagai penyelenggara PONED dan
penggerak masyarakat desa. Namun demikian, dalam menggerakkan
masyarakat desa, Puskesmas akan dibantu oleh Tenaga Fasilitator dari Dinas
Kesehatan Kabupaten / Kota yang telah dilatih Provinsi. Adapun peran
Puskesmas adalah sebagai berikut:
a. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan dasar, termasuk Pelayanan
Obstetrik dan Neonatal Emergensi Dasar (PONED).
b. Mengembangkan komitmen dan kerjasama tim tingkat kecamatan dan
desa dalam rangka pengembangan Desa Siaga.
c. Memfasilitasi pengembangan Desa Siaga dan Poskesdes.
d. Melakukan monitoring Evaluasi dan pembinaan Desa Siaga.
2.

Peran Rumah Sakit

Rumah Sakit memegang peranan penting sebagai sarana rujukan dan


pembina teknis pelayanan medik. Oleh karena itu, dalam hal ini peran Rumah
Sakit adalah:
a. Menyelenggarakan pelayanan rujukan, termasuk Pelayanan Obstetrik dan
Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK).
b. Melaksanakan bimbingan teknis medis , khususnya dalam rangka
9

pengembangan kesiapsiagaan dan penanggulangan kedaruratan dan


bencana di Desa Siaga.
c. Menyelenggarakan promosi kesehatan di Rumah Sakit dalam rangka
pengembangan kesiapsiagaan dan penanggulangan kedaruratan dan
bencana.
3.

Peran Dinas Kesehatan Kabupaten / Kota

Sebagai penyelia dan pembina Puskesmas dan Rumah Sakit, peran Dinas
Kesehatan Kabupaten / Kota meliputi:
a. Mengembangkan komitmen dan kerjasama tim di tingkat Kabupaten /
Kota dalam rangka pengembangan Desa Siaga
b. Merevitalisasi Puskesmas dan jaringannya sehingga mampu
menyelenggarakan pelayanan kesehatan dasar dengan baik, termasuk
PONED, dan pemberdayaan masyarakat.
c. Merevitalisasi Rumah Sakit sehingga mampu menyelenggarakan
pelayanan rujukan dengan baik, termasuk PONEK, dan promosi kesehatan di
Rumah Sakit.
d. Merekrut / menyediakan calon-calaon fasilitator untuk dilatih menjadi
Fasilitator Pengembangan Desa Siaga
e. Menyelenggarakan pelatihan bagi petugas kesehatan dan kader.
f. Melakukan advokasi ke berbagai pihak (pemangku kepentingan) tingkat
Kabupaten / Kota dalam rangka pengembangan Desa Siaga.
g. Bersama Puskesmas melakukan pemantauan, evaluasi dan bimbingan
teknis terhadap Desa Siaga.
h. Menyediakan anggaran dan sumber daya lain bagi kelestarian Desa Siaga
4.

Peran Dinas Kesehatan Provinsi

Sebagai penyelia dan pembina Rumah Sakit dan Dinas Kesehatan


Kabupaten / Kota, Dinas Kesehatan Provinsi berperan:
a. Mengembangkan komitmen dan kerjasama tim di tingkat provinsi dalam
rangka pengembangan Desa Siaga.
b. Membantu Dinas Kesehatan Kabupaten / Kota mengembangkan
kemampuan melalui pelatihan-pelatihan teknis, dan cara-cara lain.
c. Membantu Dinas Kesehatan Kabupaten / Kota mengembangkan
10

kemampuan Puskesmas dan Rumah Sakit di bidang konseling, kunjungan


rumah, dan pengorganisasian masyarakat serta promosi kesehatan, dalam
rangka pengembangan Desa Siaga.
d. Menyelenggarakan pelatihan Fasilitator Pengembangan Desa Siaga
dengan metode kalakarya (interrupted training).
e. Melakukan advokasi ke berbagai pihak (pemangku kepentingan) tingkat
provinsi dalam rangka pengembangan Desa Siaga.
f. Bersama Dinas Kesehatan Kabupaten / Kota melakukan pemantauan,
evaluasi dan bimbingan teknis terhadap Desa Siaga.
g. Menyediakan anggaran dan sumber daya lain bagi kelestarian Desa
Siaga.
5.

Peran Departemaen Kesehatan

Sebagai aparatur tingkat Pusat, Departemaen Kesehatan berperan dalam:


a. Menyusun konsep dan pedoman pengembangan Desa Siaga, serta
mensosialisasikan dan mengadvokasikannya.
b. Memfasilitasi revitalisasi Dinas Kesehatan, Puskesmas, Rumah Sakit,
serta Posyandu dan UKBM-UKBM lain.
c. Memfasilitasi pembangunan Poskesdes dan pengembangan Desa Siaga.
d. Memfasilitasi pengembangan sistem surveilans, sistem informasi /
pelaporan, serta sistem kesiapsiagaan dan penanggulangan kedaruratan dan
bencana berbasis masyarakat.
e. Memfasilitasi ketersediaan tenaga kesehatan untuk tingkat desa.
f. Menyelenggarakan pelatihan bagi pelatih (TOT).
g. Menyediakan dana dan dukungan sumber daya lain.
h. Menyelenggarakan pemantauan dan evaluasi.
B. Peran Pemangku Kepentingan Terkait
Pemangku kepentingan lain, yaitu para pejabat Pemerintah Daerah, pejabat
lintas sektor, unsur-sunsur organisasi / ikatan profesi, pemuka masyarakat,
tokoh-tokoh agama, PKK, LSM, dunia usaha, swasta dan lain-lain, diharapkan
berperan aktif juga di semua tingkat administrasi.
1.

Pejabat-pejabat Pemerintah Daerah


11

a.

Memberikan dukungan kebijakan, sarana dan dana untuk

penyelenggaraan Desa Siaga.


b.

Mengkoordinasikan penggerakan masyarakat untuk memanfaatkan

pelayanan Poskesdes / Puskesmas / Pustu dan berbagai UBKM yang ada


(Posyandu, Polindes, dan lain-lain).
c.

Melakukan pembinaan untuk terselenggaranya kegiatan Desa Siaga

secara teratur dan lestari.


2.

Tim Penggerak PKK

a.

Berperan aktif dalam pengembangan dan penyelenggaraan UBKM di

Desa Siaga (Posyandu dan lain-lain).


b.

Menggerakkan masyarakat untuk mengelola, menyelenggarakan dan

memanfaatkan UBKM yang ada.


c.

Menyelenggarakan penyuluhan kesehatan dalam rangka menciptakan

kadar gizi dan PHBS.


3.

Tokoh Masyarakat

a.

Menggali sumber daya untuk kelangsungan penyelenggaraan Desa

Siaga.
b.

Menaungi dan membina kegiatan Desa Siaga.

c.

Menggerakkan masyarakat untuk berperan aktif dalam kegiatan Desa

Siaga.
4.

Organisasi Kemasyarakatan / LSM / Dunia Usaha / Swasta

a.

Beperan aktif dalam penyelenggaraan Desa Siaga.

b.

Memberikan dukungan sarana dan dana untuk pengembangan dan

penyelenggaraan Desa Siaga.


C. Peran Kader

Pelaku penggerakan masyarakat dalam


o Pendataan PHBS, kadarzi dan kondisi rumah.
o Pengamatan sederhana berbasis masyarakat
o Peningkatan PHBS, Kadarzi dan kesehatan lingkungan
o Peningkatan kesehatan ibu, bayi dan balita
Peran tambahan, membantu dalam :
12

o Penanggulangan kegawat-daruratan sehari-hari


o Penyiapan untuk menghadapi bencana
o Pengelolaan pos kesehatan desa (poskesdes) atau UKBM lainnya
D. Fungsi Kader
Melakukan pencatatan, memantau dan evaluasi kegiatan Poskesdes

bersama Bidan
Mengembangkan dan mengelola UKBM (PHBS, Kesling, KIBB-Balita,

Kadarzi, Dana Sehat, TOGA, dll)


Mengidentifikasi dan melaporkan kejadian masyarakat yang berdampak

terhadap kesehatan masyarakat (surveilance ber-basis masyarakat).


Pemecahan masalah bersama masyarakat

2.4 SISTEM DESA SIAGA


A. TAHAPAN DESA SIAGA
1. Tahap Bina
Pada tahap ini forummasyarakat desa mungkin belum aktif, namun telah
ada forum/lembaga masyarakat desa yang sudah berfungsi, misalnya
kelompok rembug desa, kelompok yasinan, dsb. Demikian juga Posyandu
dan Polindesnya mungkin masih pada tahap pratama. Pembinaan intensif
dari petugas kesehatan dan petugas sektor lainnya sangat diperlukan,
misalnya dalam bentuk pendampingan saat ada pertemuan forum desa
untuk meningkatkan kinerja forum
2. Tahap Tumbuh
Pada tahap ini forum masyarakat desa telah aktif dari anggota forum
sesuai kebutuhan masyarakat selain posyandu. Demikian juga Polindes dan
Posyandu sedikitnya sudah pada tahap madya.Pendampingan dari tim
Kecamatan atau petugas dari sektor/LSM masih sangat diperlukan untuk
pengembangan kualitas Posyandu atau pengembanganlainnya. Disamping
itu sistem surveilans berbasis masyarakat juga sudah sudah dapat berjalan,
artinya masyarakat mampu mengamati penyakit ( menular dan tidak menular
) serta faktor risiko di lingkungannya secara terus menerus dan melaporkan
serta memberikan informasi pada petugas kesehatan / yang terkait.
3. Tahap Kembang
Pada tahap ini forum kesehatan masyarakat telah berperan secara
aktif dan mampu mengembangkan kegiatansesuai kebutuhan masyarakat
13

dengan biaya berbasis masyarakat. Sistem Kewaspadaan Dini masyarakat


menghadapi bencana dan kejadian luar biasa telah dilaksanakan dengan
baik, demikian juga dengan sistem pembiyaan kesehatan berbasis
masyarakat.
4. Tahap Paripurna
Pada tahap ini semua indikator dalam kriteria Desa Siaga sudah
terpenuhi.

Masyarakat sudah hidup dalam lingkungan sehat serta

berperilaku hidup bersih dan sehat.

Masyarakatnya sudah mandiri dan

siaga tidak hanya terhadap masalah kesehatan yang mengancam , namun


juga terhadap kemungkinan musibah / bencana non kesehatan. .
Pendampingan dari Tim Kecamatan sudah tidak diperlukan lagi.

B. INDIKATOR PENCAPAIAN KEBERHASILAN TAHAP DESA SIAGA


1. Forum Masyarakat Desa
Adalah sekelompok anggota masyarakat desa/Kelurahan yang sepakat
untuk peduli memecahkan masalah dan mengembangkan program-program
pembangunan antara lain kesehatan , di wilayahnya.Forum ini secara berkala
melakukan pertemuan dan dipimpin oleh seorang ketua dan dibantu oleh
sekretaris dan anggota.Jika di desa/Kelurahan belum ada forum sejenis ini,
maka desa/kelurahan dapat memulai dari forum/lembaga yang sudah ada dan
berfungsi di masyarakat misalnya : rembug desa, kelompok yasinan/majelis
taklim, persekutuan doa, kelompok karang taruna, kelompok peduli

dan

sejenisnya.
2. Pelayanan Kesehatan Dasar
Adalah upaya pelayanan kesehatan dasar yang dilakukan oleh
seorang petugas keperawatan sesuai kompetensinya , dibantu oleh kader
yang berasal dari masyarakat setempat. Pelayanan kesehatan dasar disini
berupa upaya promotif , preventif dan kuratif yang dilakukan di suatu tempat/
14

pos yang disediakan oleh masyarakat melalui pemberdayaan. Fasilitas


tersebut bisa merupakan milik Pemerintah ataupun organisasi swasta
ataupun perorangan. Lokasi sarana pelayanan kesehatan tidak harus di
dalam desa ( terutama bagi kelurahan di kota besar ) , yang penting
masyarakat desa tersebut mempunyai akses untuk mendapatkan pelayanan
kesehatan secara mudah. Jika tidak ada petugas kesehatan yang bertempat
tinggal di desa tersebut , maka tugas pendampingan dan penghubung
dilakukan oleh Petugas Pembina Desa dari Puskesmas yang secara berkala
melakukan tugasnya di desa tersebut.
3. UKBM
Wujud

pemberdayaan

masyarakat

di

bidang

kesehatan

yang

berkembang sesuai kebutuhan setempat, misal Posyandu, Poskesja, ,TOGA,


KPKIA,dsb.

4. Dibina oleh Puskesmas PONED


Puskesmas PONED (Pelayanan Obstetrik Neonatal Emergensi Dasar)
adalah puskesmas yang melayani rujukan kegawatdaruratan ibu hamil, ibu
melahirkan dan bayi baru lahir dari desa-desa yang satu wilayah maupun
desa yang merupakan bagian dari jaringanrujukan.
Desa yang mendapat binaan dari Puskesmas PONED utamanya dalam
sistem rujukan kegawatan ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas , janin dan bayi
baru lahir

(kurang dari 1 bulan) Desa tersebut tidak harus dalam satu

wilayah administrasi Puskesmas PONED, namun merupakan bagian dari


jaringr ujukan. Bagi suatu wilayah dimana Puskesmas PONED tidak ada atau
jumlahnya sangat terbatas atau posisi geografisnya jauh dari lokasi desa
,pembinaan Puskesmas PONED bisa diambil alih oleh RSU utamanya RS
PONEK.

Yang paling penting adalah setiap kasus kegawatdaruratan ibu

hamil, ibu bersalin, ibu nifas dan bayi baru lahir dapat dengan mudah
mendapat pelayanan yang adekuat.
5. Surveilans Berbasis Masyarakat
Adalah pengamatan yang dilakukan secara terus menerus oleh
masyarakat terhadap Gejala atau penyakit menular potensial KLB, penyakit
15

tidak menular termasuk gizi buruk serta faktor risikonya.Kejadian lain di


masyarakat, dan segera melaporkan kepada petugas kesehatan setempat
untuk ditindaklanjuti.Contoh penyakit menular TBC, HIV/AIDS, kusta.
PenyakitMenularPotensial KLB antara lain diare, difteri, polio, campak, flu
burung, typhus, hepatitis, malaria, DBD, dll
Faktor risiko antara lain :
- Adanya penolakan masyarakat terhadap imunisasi
- Adanya Kematian unggas
- Adanya tempat-tempat perindukan nyamuk
- Adanya migrasi penduduk (in / out)
- Perilaku yang tidak sehat.
Kondisi lain :
-

Faktor risiko tinggi ibu hamil,bersalin , menyusui dan bayi baru lahir

Kejadian lain di masyarakat :


- Keracunan makanan
- Bencana
- Kerusuhan
Bentuk pengamatan masyarakat (anggota keluarga , tetangga, kader)
disesuaikan dengan tatacara setempat, misalnya pengamatan terhadap tanda
penyakit :
-

batuk yang tidak sembuh dalam waktu 2 minggu

bercak putih di kulit yang mati rasa

ibu hamil yang mempunyai faktor risiko tinggi ( 4 terlalu,


kedaruratan pada kehamilan sebelumnya,dll )

bayi baru lahir yang kuning, tidak bisa menetek,dll

balita yang tidak naik berat badannya

16

Bentuk laporan adalah lisan atau menggunakan alat komunikasi yang


ada di desa ( telepon, telepon seluler ataupun Handy Talkie ) dan segera
disampaikan kepada petugas kesehatan setempatatau Petugas Pembina
Desa
6. Sistem

Siap

Siaga

Dan

Penanggulanan

Bencana

Berbasis

Masyarakat
Suatu tatanan yang berbentuk kemandirian masyarakat dalam
kesiapsiagaan menghadapai situasi kedaruratan (bencana, situasi khusus,
dll).Masyarakat sudah dipersiapkan apabila terjadi situasi darurat maka
mereka tahu harus berbuat apa, mengetahui tempat untuk mencari maupun
memberi informasi kemana.
Masyarakat diharapkan memperhatikan gejala alam pada lingkungan
setempat mampu mengenali tanda akan timbulnya bencana dan selanjutnya
melakukan kegiatan tanggap darurat sebagaimana pernah dilatihkan untuk
menghindari / mengurangi jatuhnya korban.
Informasi mengenai tanda tanda bahaya tersebut berasal dari sumber
yang bisa dipercaya, misalnya dari perangkat desa ( yang memperolehnya
dari kecamatan ), berita resmi di TV atau telepon dari Pemerintah Daerah
Kabupaten / Kota.
Penyebaran

informasi

mengikuti

tatacara

setempat,

misalnya

menggunakan titir/ kentongan, pengeras suara dari musholla atau dari


mulut ke mulut
7. Sistem Pembiayaan Kesehatan Berbasis Masyarakat
Adalah tatanan yang menghimpun berbagai upaya penggalian,
pengalokasian dan pembelanjaan dana yang bersumber dari masyarakat
untuk menjamin pemeliharaan kesehatan masyarakat.
Bentuk penggalian dana bisa berupa jimpitan , uang sukarela pada
saat pertemuan , arisan , pengajian atau tabungan sosial masyarakat
dengan jumlah yang sudah ditetapkan / disepakati.Pengalokasian dana
disesuaikan dengan kebutuhan setempat , misalnya bantuan bagi warga
yang harus dirawat di Rumah Sakit , menjalani operasi medis, melahirkan,

17

pemberian makanan tambahan penyuluhan ( di Posyandu ) atau


pemulihan bagi sasaran yang bergizi buruk , dan sebagainya.
Pembelanjaan dana diserahkan besar dan jenisnya

sesuai

kesepakatan sedangkan dana dikelola oleh orang yang terpercaya dan


dapat

mempertanggung

jawabkan

semua

pembelanjaan

kepada

masyarakat.

8. Masyarakat ber-PHBS
Adalah masyarakat yang dapat menolong diri sendiri untuk
mencegah dan menanggulagi masalah kesehatan, mengupayakan
lingkungan

sehat,

memanfaatkan

pelayanan

kesehatan

serta

mengembangkan UKBM.
Yang dimaksud mencegah : adalah mengupayakan agar yang sehat tetap
sehat dengan mempraktikkan gaya hidup sehat dan perilaku hidup bersih
dan sehat termasuk pola makan dengan gizi seimbang , menjaga
kebersihan pribadi , berolah raga, menghindari kebiasaan yang buruk,
serta berperan aktif

dalam pembangunan kesehatan masyarakat.

(promotif preventif)
Yang dimaksud menanggulangi : adalah mengupayakan agar yang
terlanjur sakit atau mengalami gangguan gizi tidak menjadi semakin
parah, tidak menulari orang lain dan bahkan dapat disembuhkan, serta
dipulihkan kesehatannya dengan memanfaatkan pelayanan kesehatan
yang ada (kuratif rehabilitatif). Perilaku

Hidup Bersih dan Sehat ini

terdiri dari ratusan praktik kehidupan sehari hari, tidak hanya terbatas
pada indikator yang biasa digunakan untuk mengukur kinerja program
kesehatan.
9. Lingkungan Sehat
Lingkungan yang bebas polusi, tersedia air bersih, sanitasi lingkungan
memadai, perumahan pemukiman sehat, yaitu :
-

Terpeliharanya kebersihan tempat-tempat umum dan institusi yang ada


di desa, antara lain : pasar, tempat ibadah, perkantoran dan sekolah.

Terpeliharanya kebersihan lingkungan rumah : lantai rumah bersih,


sampah tak berserakan, saluran pembuangan air limbah terawat baik

Membuka jendela setiap hari.


18

Memilikikecukupanakses air bersih (untukminum, masak, mandi dan


cuci) dan sanitasidasar.

Mempunyai

pola

pendekatan

pemberdayaan

masyarakat

untuk

pemenuhan sanitasi dasar (ada jamban, mandi cuci di tempat khusus)


C. PENDEKATAN PENGEMBANGAN DESA SIAGA
Pengembangan desa siaga dilaksanakan dengan membantu, memfasilitasi,
mendampingi masyarakat yang terorganisasi dan dilakukan oleh forum mealui
siklus pemecahan masalah yang terorganisasi dan dilakukan oleh forum
masyarakat desa melalui tahapan sebagai berikut :
- Mengidentifikas imasalah, penyebab masalah, dan sumberdaya, yang
-

dapat dimanfaatkan untuk mengatasi masalah.


Mendiagnosis masalah dan merumuskan alternative pemecahan masalah.
Menetapkan alternative pemecahan masalah yang layak merencanakan

dan melaksanakannya.
Memantau, mengevaluasi, dan membina kelesatarian upaya yang telah
dilakukan.

1. Pengembangan Tim Dalam Petugas


Langkah ini merupakan awal kegiatan, sebelum kegiatan lainnya
dialaksanakan. Tujuan langkah ini adalah persiapan para petugas kesehatan
yang berada di wilayah puskesmas, baik petugas teknis maupun petugas
administrasi.

Persiapan para petugas ini dapat berbentuk

sosialisasi,

pertemuan, atau pelatihan yang bersifat konsolidasi, yang di sesuaikan


dengan kondisi setempat. Keluaran atau out put dari langkah ini adalah para
petugas yang memahami tugas dan fungsinya, serta siap bekerjasama
dalam satu untuk melakukan pendekatan kepada tokoh masyarakat.
2. Pengembangan Tim Dalam Masyarakat
Tujuan langkah ini adalah mempersiapakan para petugas, tokoh
masyarakat, dan masyarakat (forum masyarakat desa) agar mereka
mengetahui dan mau bekerjasama dalam satu untuk mengembangkan desa
siaga. Langkah ini, termasuk kegiatan advokasi kepada para penentu
kebijakan, bertujuan agar mereka mau memberi dukungan, baik berupa
kebijakan atau anjuran, persejuan, dana, maupun sumberdaya lain sehingga
pengembangan desa siaga dapat berjalan dengan lancar. Pendekatan pada
tokoh tokoh masyarakat bertujuan agar mereka memahami dan

19

mendukung

,khususnya

dalam

membentuk

opini

masyarakat

guna

menciptakan iklim yang kondusif bagi pengembangan desa siaga.


3. Survei Mawas Diri
Survei Mawas Diri (SMD) atau telah mawas diri (TMD) atau Comunity
Self Survei (CSS) bertujuan agar tokoh masyarakat mampu melakukan telah
mawas diri untuk desanya. Survei harus dilakukan oleh tokoh-tokoh
masyarakat setempat dengan bimbingan tenaga kesehatan.
Keluaran atau output dari SMD ini berupa identifikasi masalah
kesehatan dan daftar potensi di desa yang dapat di daya gunakan dalam
mengatasi masalah-masalah kesehatan tersebut,termasuk dalam rangka
membangun poskedes.
Bentuk :
- Curah Pendapat
- Pengisisan Kartu MawasDiri
- Observasi lapangan dll
- Penyajian Data berupa : - Data masalah
- Data potensi
4. Musyawarah Masyarakat Desa
Tujuan penyelenggaraan musyawarah masyarakatdesa (MMD) ini
adalah mencari alternative penyelesaian,masalah kesehatan dan upaya
membangun poskesdes di kaitkan dengan potensi yang dimiliki desa.
Disamping itu,untuk menyusun rencana jangka panjang pengembangan desa
siaga.
Data serta temuan lain yang diperoleh pada saat SMD disampaikan,
biasanya adalah daftar masalah kesehatan, data potensi serta harapan
masyarakat. Hasil pendataan tersebut dimusyawarahkan untuk menentukan
prioritas, serta langkah-langkah solusi untuk pengembangan poskesdes dan
pengembangan desa siaga.

2.5 DASAR HUKUM KEBIJAKAN DESA SIAGA


A. LANDASAN HUKUM DESA SIAGA
Dengan Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor : 574 / Menkes / SK / IV/ 2000
telah ditetapkan Visi Pembangunan Kesehatan, yaitu Indonesia Sehat 2010.Visi
20

tersebut menggambarkan bahwa pada tahun 2010 bangsa Indonesia hidup


dalam lingkungan yang sehat, berperilaku hidup bersih dan sehat serta
mampumenjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata,
sehinggamemiliki derajat kesehatan yang setinggi - tingginya.Beberapa landasan
hukum pelaksanaan desa siaga :
1. Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan
Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004
Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421).
2. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan
Lembaran Negara Republik Nomor 4337) sebagaimana telah diubah terakhir
dengan Undang-undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua
Atas Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844);
3. Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan
Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4438);
4. Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144 Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 5063);
5. Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 tentang Desa (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 158, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4587);
6. Peraturan Pemerintah Nomor 73 Tahun 2005 tentang Kelurahan (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 159, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4588);
7. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan
Pemerintahan antara Pemerintah,

Pemerintah Daerah Provinsi, dan

Pemerintah Daerah Kabupaten/ Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia


Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor4737);
8. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 30 Tahun 2006 tentang Tata Cara
Penyerahan Urusan Pemerintah Kabupaten/ Kota kepada Desa;

21

9. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 5 Tahun 2007 tentang Pedoman


Penataan Lembaga Kemasyarakatan;
10. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 7 Tahun 2007 tentang Kader
Pemberdayaan Masyarakat;
11. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 36 Tahun 2007 tentang Pelimpahan
Urusan Pemerintahan Kabupaten/ Kota kepada Lurah;
12. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 741 tahun 2008 tentang Standar
Pelayanan Minimal (SPM) Bidang Kesehatan di Kabupaten dan Kota;
13. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 564 tahun 2006 tentang Pedoman
Pelaksanaan Pengembangan Desa Siaga;
14. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1529 tahun 2010
15. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2010 tentang Tata Cara Pelaksanaan
Tugas dan Wewenang Serta Kedudukan Keuangan Gubernur Selaku Wakil
Pemerintaha di Daerah.
16. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 30 Tahun 2006 tentang Tata Cara
Penyerahan Urusan Pemerintah Kabupaten/Kota kepada Desa
17. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor
564 Tahun 2006

tentang

Pengembangan Desa Siaga


18. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 317 Tahun 2009 tentang Petunjuk
Teknis Perencanaan Pembiayaan Pencapaian Standar Pelayanan Minimal
Bidang kesehatan di Kabupaten/ Kota
19. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 828 Tahun 2009 tentang Petunjuk
Teknis Standar Pelayanan Minimal.
( PENJELASAN LENGKAP NO 14 dan 17 )
B. KEPUTUSAN

MENTERI

KESEHATAN

REPUBLIK

INDONESIA

NOMOR

1529/MENKES/SK/X/2010
Menetapkan :
Kesatu: KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN TENTANG PEDOMAN UMUM
PENGEMBANGAN DESA DAN KELURAHAN SIAGA AKTIF
Kedua: Pedoman Umum Pengembangan Desa dan Kelurahan Siaga Aktif
sebagaimana

dimaksud

dalam

Diktum

Keputusan ini.

22

Kesatu

tercantum dalam Lampiran

Ketiga: Pedoman

sebagaimana

dimaksud

dalam

Diktum

Kedua digunakan

sebagai acuan bagi semua pemangku kepentingan dalam rangka pengembangan


Desa dan Kelurahan Siaga Aktif.
Keempat: Pengembangan Desa dan Kelurahan Siaga Aktif sebagaimana dimaksud
dalam Diktum Kedua berada di bawah koordinasi Pusat Promosi Kesehatan
Kementerian Kesehatan.
Kelima:

Pembinaan

dan

pengawasan

terhadap

pelaksanaan

pedoman

ini

dilaksanakan oleh:
a. Kementerian Kesehatan berkoordinasi dengan Kementerian Dalam Negeri
dan sektor terkait lainnya; dan
b. Dinas Kesehatan Provinsi,

Dinas

Kesehatan

Kabupaten dan

Kota

berkoordinasi dengan Badan/Dinas/Kantor Pemberdayaan Masyarakat dan


Pemerintahan Desa.
Keenam : Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

C. DESA SIAGA KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


Nomor

564/MENKES/SK/VIII/2006

TENTANG

PEDOMAN

PELAKSANAAN

PENGAMBANGAN DESA SIAGA


Kriteria: Sebuah desa telah menjadi Desa Siaga apabila desa tersebut telah memiliki
sekurang-kurangnya sebuah Pos Kesehatan Desa (Poskesdes)
Target: Pada akhir tahun 2008, seluruh Desa telah menjadi Desa Siaga. Indikator
keberhasilan: Dilihat dari 4 kelompok indikator yaitu: Indikator masukan Indikator
masukan adalah indicator untuk mengukur seberapa besar masukan telah diberikan
dalam rangka pengembangan Desa Siaga. Indikator masukan terdiri atas hal-hal
berikut:
1. Ada/tidaknya Forum Masyarakat Desa
2. Ada/tidaknya
Poskesdes
dan

sarana

pelengkapan/peralatannya
3. Ada/tidaknya UKBM yang dibutuhkan masyarakat

23

bengunan

serta

4. Ada/tidaknya tenaga kesehatan (minimal bidan) Indikator proses Indikator


proses adalah indicator untuk mengukur seberapa aktif upaya yang
dilaksanakan di suatu Desa dalam rangka pengambangan Desa Siaga.
Indikator proses terdiri atas hal-hal berikut:
1.
2.
3.
4.

Frekuensi pertemuan Forum Masyarakat Desa


Berfungsi/tidaknya Poskesdes
Berfungsi/tidaknya UKBM yang ada
Berfungsi/tidaknya
sistem
kegawatdaruratan

dan

penanggulangan

kegawatdaruratan dan bencana


5. Berfungsi/tidaknya sistem surveilans berbasis masyarakat
6. Ada/tidaknya kegiatan kunjungan rumah untuk kadarzi dan PHBS Indikator
keluaran Adalah indicator untuk mengukur seberapa besar hasil kegiatan
yang dicapai di suatu Desa dalam rangka pengembangan Desa Siaga.
Indikator keluaran terdiri atas hal-hal berikut:
1.
2.
3.
4.

Cakupan pelayanan kesehatan dasar Poskesdes


Cakupan pelayanan UKBM-UKBM lainnya
Jumlah kasus kegawatdaruratan dan KLB yang dilaporkan
Cakupan rumah tangga yang mendapat kunjungan rumah untuk kadarzi dan
PHBS Indikator dampak Adalah indicator untuk mengukur seberapa besar
dampak dari hasil kegiatan di Desa dalam rangka pengembangan Desa
Siaga.

Indikator dampak terdiri atas hal-hal berikut:


1.
2.
3.
4.
5.

Jumlah penduduk yang menderita sakit


Jumlah penduduk yang menderita gangguan jiwa
Jumlah ibu melahirkan yang meninggal dunia
Jumlah bayi dan balita yang meninggal dunia
Jumlah balita dengan gizi buruk

2.6 PROGRAM DESA SIAGA


A. Pendekatan Pengembangan Desa Siaga
Dilaksanakan melalui pendekatan edukatif yaitu dengan memfasilitasi
masyarakat (individu, keluarga, kelompok masyarakat) untuk menjalani proses

24

pembelajaran

pemecahan

masalah

kesehatan

yang

dihadapinya

secara

terorganisasi (pengorganisasian masyarakat), dengan tahapan :


1 Mengidentifikasi masalah, penyebab masalah dan sumber daya yang dapat
dimanfaatkan untuk mengatasi masalah.
2 Mendiagnosis masalah dan merumuskan alternatif-alternatif pemecahan
masalah.
3 Menetapkan alternatif pemecahan masalah yang terpilih dan layak,
merencanakan dan melaksanakannya.
4 Memantau, mengevaluasi dan membina kelestarian upaya yang telah
dilakukan.
B. Kegiatan Program Desa Siaga Aktif
1 Persiapan
a Persiapan Petugas Pelaksana :
Pelatihan bidan
Pelatihan tokoh masyarakat

( toma) dan kader

b Persiapan Masyarakat :
Pembentukan Forum Masyarakat Desa (FMD)
Survey Mawas Diri (pendataan keluarga/lapangan rembuk desa)
Musyawarah Masyarakat Desa (di awal pembentukan)
2 Pelaksanaan
a Pelayanan kesehatan dasar sesuai dengan kewenangan bidan, bila tidak
dapat ditangani dirujuk ke Puskesmas Pembantu atau Puskesmas.
b Kader dan toma melakukan surveilance (pengamatan sederhana)
berbasis masyarakat tentang kesehatan ibu anak, gizi, penyakit,
lingkungan dan perilaku.
c

Pertemuan Forum Masyarakat Desa untuk membahas masalah kesehatan


desa termasuk tindak lanjut penemuan pengamatan sederhana untuk
meningkatkan kewaspadaan dini masyarakat dan menyepakati upaya
pencegahan dan peningkatan.

d Alih pengetahuan dan keterampilan melalui pertemuan dan kegiatan yang


dilakukan oleh jejaring penyebaran informasi kesehatan di desa (Jejaring
25

Promosi Kesehatan), pelaksanaan kelas ibu, kelas remaja, pertemuan


dalam rangka swa-medikasi, dsb.
e UKBM misalnya pelaksanaan Posyandu, Posbindu, Warung Obat, Upaya
Kesehatan Kerja, UKBM Maternal (tabulin, calon donor darah, dsb.), dana
sehat serta UKBM lain sesuai kebutuhan dan kesepakatan.
f

Gerakan masyarakat

dalam kesigaan bencana dan kegawatdaruratan,

Kesehatan Lingkungan, PHBS dan Keluarga Sadar Gizi.


3

Pemantauan dan Evaluasi


Keberhasilan pengembangan Desa siaga dapat dilihat dari empat (4)

indikatornya yaitu masukan, proses, keluaran dan dampak.


2.7 KEGIATAN DESA SIAGA
Secara operasional pembentukan Desa Siaga dilakukan dengan kegiatan
sebagai berikut:
a. Pemilihan pengurus dan kader desa siaga
Pemilihan pengurus dan kader desa siaga dilakukan melalui pertemuan
khusus para pemimpin formal desa dan tokoh masyarakat serta beberapa
wakil masyarakat. Pemilihan dilakukan secara musyawarah dan mufakat,
sesuai dengan tata cara dan kriteria yang berlaku dengan difasilitasi oleh
puskesmas.
b. Orientasi/Pelatihan Kader Desa Siaga
Sebelum melaksanakan tugasnya, pengelola dan kader desa yang telah
ditetapkan perlu diberikan orientasi atau pelatihan. Orientasi/pelatihan
dilaksanakan oleh dinas kesehatan kabupaten/kota sesuai dengan pedoman
orientasi/pelatihan

yang

berlaku.

Materi

orientasi/pelatihan

mencakup

kegiatan yang akan dilaksanakan di desa dalam rangka pengembangan Desa


Siaga (sebagaimana telah dirumuskan dalam rencana operasional), yaitu
meliputi pengelolaan Desa Siaga secara umum, pembangunan dan
pengelolaan Poskesdes, pengembangan dan pengelolaan UKBM lain, serta
hal-hal penting terkait seperti kehamilan dan persalinan sehat, Siap-AntarJaga, Keluarga Sadar Gizi, posyandu, kesehatan lingkungan, pencegahan
penyakit menular, penyediaan air bersih dan penyehatan lingkungan
pemukiman (PAB-PLP). Kegawat daruratan sehari-hari, kesiapsiagaan
bencana, kejadian luar biasa, warung obat desa (WOD), diversifikasi
26

pertanian tanaman pangan dan pemanfaatan pekarangn melalui Taman Obat


Keluarga (TOGA), kegiatan surveilans, perilaku hidup bersih dan sehat
(PHBS) dan lain-lain
c. Pengembangan poskesdes dan UKBM lain
Dalam hal ini, pembangunan poskesdes bisa dikembangkan dari polindes
yang sudah ada. Apabila tidak ada polindes, maka perlu dibahas dan
dicantumkan dalam rencana kerja tentang alternatif lain pembangunan
Poskesdes. Dengan demikian diketahui bagaimana Poskesdes tersebut akan
diadakan membangun baru dengan fasilitasi dari pemerintah, membangun
baru dengan bantuan dari donatur, membangun baru dengan swadaya
masyarakat atau memodifikasi bangunan lain yang ada.
Bilamana Poskesdes sudah berhasil diselenggarakan, kegiatan dilanjutkan
dengan membentuk UKBM-UKBM yang diperlukan dan belum ada di desa
yang bersangkutan, atau merevitalisasi yang sudah ada tetapi kurang/tidak
aktif
d. Penyelenggaraan Kegiatan Desa Siaga
Dengan telah adanya Poskesdes, maka desa yang bersangkutan telah dapat
ditetapkan sebagai Desa Siaga. Setelah Desa Siaga resmi dibentuk,
dilanjutkan dengan pelaksanaan kegiatan Poskesdes secara rutin, yaitu
pengembangan sistem surveilans berbaris masyarakat, pengembangan
kesiapsiagaan

dan

penanggulangan

kegawatdaruratan

dan

bencana,

pemberantasan penyakit menular dan penyakit yang berpotensi menimbulkan


KLB, penggalangan dana, pemberdayaan masyarakat menuju kadarzi dan
PHBS, penyehatn lingkungan, serta pelayanan kesehatan dasar (bila
diperlukan). Selain itu, diselenggarakan pula pelayanan UKBM-UKBM lain
seperti Posyandu dan lain-lain dengan berpedoman kepada panduan yang
berlaku.
Secara

berkala kegiatan Desa Siaga dibimbing dan dipantau oleh

Puskesmas, yang hasilnya dipakai sebagai masukan untuk perencanaan


dan pengembangn Desa Siaga selanjutnya secara lintas sektoral

27

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Desa Siaga merupakan gambaran masyarakat yang sadar, mau dan mampu
untuk mencegah dan mengatasi berbagai ancaman terhadap kesehatan
masyarakat seperti kurang gizi, penyakit menular dan penyakit yang
berpotensi menimbulkan KLB, kejadian bencana, kecelakaan, dan lain-lain,
dengan

memanfaatkan

potensi

setempat,

secara

gotong-royong.

Inti dari kegiata Desa Siaga adalah memberdayakan masyarakat agar mau
dan mampu untuk hidup sehat. Oleh karena itu dalam pengembangannya
diperlukan langkah-langkah pendekatan edukatif. Yaitu upaya mendampingi
(memfasilitasi) masyarakat untuk menjalani proses pembelajaran yang
berupa proses pemecahan masalah-masalah kesehatan yang dihadapinya.

28

DAFTAR PUSTAKA
-

Mahfudli, EF. 2009. Keperawatan Kesehatan Komunitas : Teori dan

Praktik dalam Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika.


Kebidanan komunitas / penulis, Syarifudin, Hamidah ; editor, Monica Ester,

Esty Wahyuningsih. Jakarta : EGC, 2009.


Keputusan
menteri
kesehatan
Republik
564/MENKES/SK/VIII/2006

tentang

Indonesia

pedoman

nomor

pelaksanaan

pengembangan desa siaga


Buku Pedoman Desa Siaga Provinsi Jawa Timur, 2010, Dinas Kesehatan

Provinsi JATIM,
Buku Pedoman Desa Siaga Aktif Provinsi Jawa Barat, 2010, Dinas
Kesehatan Provinsi JABAR

29

Anda mungkin juga menyukai