Anda di halaman 1dari 8

BAB III

Tinjauan Pustaka

A. DEFINISI
Vesikolithiasis atau batu buli-buli adalah penyakit dimana didapatkan masa keras seperti
batu yang terbentuk di kandung kemih, yang dapat menyebabkan nyeri, perdarahan,
penyumbatan aliran kemih dan infeksi. Batu ini bisa terbentuk di dalam ginjal (batu ginjal)
maupun di dalam kandung kemih (batu kandung kemih). Batu ini terbentuk dari pengendapan
garam kalsium, magnesium, asam urat, atau sistein.
Batu buli-buli atau vesikolithiasis sering terjadi pada pasien yang menderita gangguan
miksi atau terdapat benda asing di buli-buli. Gangguan miksi terjadi pada pasien-pasien
hiperplasia prostat, striktura uretra, divertikel buli-buli atau buli-buli neurogenik. Kateter yang
terpasang pada buli-buli pada waktu yang lama, adanya benda asing lain yang secara tidak
sengaja dimasukkan ke dalam buli-buli seringkali manjadi inti untuk terbentuknya batu buli-buli.
Selain itu batu buli-buli dapat berasal dari batu ginjal atau batu ureter yang turun ke buli-buli.
Vesikolithiasis dapat berukuran dari sekecil pasir hingga sebesar buah anggur. Batu yang
berukuran kecil biasanya tidak menimbulkan gejala dan biasanya dapat keluar bersama dengan
urine ketika berkemih. Batu berada di saluran kemih bagian bawah yaitu di kandung kemih dan
uretra dapat menghambat buang air kecil. Batu yang menyumbat ureter, pelvis renalis maupun
tubulus renalis dapat menyebabkan nyeri punggung atau kolik renalis (nyeri kolik yang hebat di
daerah antara tulang rusuk dan tulang pinggang yang menjalar ke perut juga daerah kemaluan
dan paha sebelah dalam). Hal ini disebabkan karena adanya respon ureter terhadap batu tersebut,
dimana ureter akan berkontraksi yang dapat menimbulkan rasa nyeri kram yang hebat.
B. EPIDEMIOLOGI
Lokasi batu ginjal dijumpai khas di kaliks atau pelvis dan bila akan keluar dapat terhenti
di ureter atau kandung kemih. Batu ginjal sebagian besar mengandung batu kalsium. Batu
oksalat, kalsium oksalat, atau kalsium fosfat, secara bersama dapat dijumpai sampai 65-85% dari
jumlah keseluruhan batu ginjal.

Di negara-negara berkembang masih sering dijumpai batu endemik pada buli-buli yang
banyak dijumpai pada anak-anak yang menderita kekurangan gizi atau yang sering menderita
dehidrasi atau diare.
Di beberapa rumah sakit di Indonesia dilaporkan ada perubahan proporsi batu ginjal
dibandingkan batu saluran kemih bagian bawah. Hasil analisis jenis batu ginjal di Laboratorium
Patologi Klinik Universitas Gadjah Mada sekitar tahun 1964 dan 1974, menunjukkan kenaikkan
proporsi batu ginjal dibanding proporsi batu kandung kemih. Sekitar tahun 1964-1969
didapatkan proporsi batu ginjal sebesar 20% dan batu kandung kemih sebesar 80%, tetapi pada
tahun 1970-1974 batu ginjal sebesar 70% (101-144 batu) dan kandung kemih 30% (43/144
batu ).
Pada tahun 1983 di Rumah Sakit DR. Sardjito dilaporkan 64 pasien dirawat dengan batu
saluran kemih, batu ginjal 75% dan batu kandung kemih 25%. Kejadian batu saluran kemih
terdapat sebesar 57/10.000 pasien rawat inap. Pada tahun 1986 dilaporkan prevalensi batu
saluran kemih sebesar 80/10.000 pasien rawat inap. Batu ginjal ditemukan 79 dari 89 pasien batu
saluran kemih tersebut. Tampaknya proporsi batu ginjal relatif stabil.
C. ETIOLOGI
Terbentuknya batu pada saluran kemih diduga ada hubungannya dengan gangguan aliran
urine, gangguan metabolik, infeksi saluran kemih, dehidrasi, dan keadaan-keadaan lain yang
masih belum terungkap (idiopatik).
Secara epidemiologis terdapat beberapa faktor yang mempermudah terjadinya batu
saluran kemih pada seseorang. Faktor-faktor itu adalah faktor intrinsik, yaitu keadaan yang
berasal dari tubuh seseorang dan faktor ekstrinsik, yaitu pengaruh yang berasal dari lingkungan
di sekitarnya.
Faktor intrinsik itu antara lain adalah:
1. Herediter(keturunan): penyakit ini diduga diturunkan dari orang tuanya.
2. Umur: penyakit ini paling sering didapatkan pada usia 30-50 tahun.
3. Jenis kelamin: jumlah pasien laki-laki tiga kali lebih banyak dibandingkan dengan
pasien perempuan.

Faktor ekstrinsik itu diantaranya adalah:


1. Geografi: pada beberapa daerah menunjukkan angka kejadian batu saluaran kemih
yang lebih tinggi daripada daerah lain sehingga dikenal sebagai daerah stone belt
(sabuk batu), sedangkan daerah Bantu di Afrika Selatan hampir tidak dijumpai
penyakit batu saluran kemih.
2. Iklim dan temperatur
3. Asupan air: kurangnya asupan air dan tingginya kadar mineral kalsium pada air yan g
dikonsumsi, dapat meningkatkan insiden batu saluran kemih
4. Diet: diet banyak purin, oksalat, dan kalsium mempermudah terjadinya penyakit batu
saluran kemih.
5. Pekerjaan: penyakit ini sering dijumpai pada orang yang pekerjaanya banyak duduk
atau kurang aktifitas atau sedentary life.
Sistem Kemih
Sistem kemih (urinearia) adalah suatu sistem tempat terjadinya proses penyaringan darah
dari zat-zat yang tidak dipergunakan oleh tubuh dan menyerap zat-zat yang masih di pergunakan
oleh tubuh. Zat- zat yang tidak di pergunakan oleh tubuh larut dalam air dan dikeluarkan berupa
urine (air kemih). Sistem kemih terdiri atas saluran kemih atas (sepasang ginjal dan ureter), dan
saluran kemih bawah (satu kandung kemih dan uretra).21
Gambar sistem saluran kemih pada manusia dapat dilihat pada gambar berikut:

Klasifikasi Batu Saluran Kemih


Komposisi kimia yang terkandung dalam batu ginjal dan saluran kemih dapat diketahui dengan
menggunakan analisis kimia khusus untuk mengetahui adanya kalsium, magnesium, amonium,
karbonat, fosfat, asam urat oksalat, dan sistin.
a. Batu kalsium
Kalsium adalah jenis batu yang paling banyak menyebabkan BSK yaitu sekitar 70%-80%
dari seluruh kasus BSK. Batu ini kadang-kadang di jumpai dalam bentuk murni atau juga bisa
dalam bentuk campuran, misalnya dengan batu kalsium oksalat, batu kalsium fosfat atau
campuran dari kedua unsur tersebut. Terbentuknya batu tersebut diperkirakan terkait dengan
kadar kalsium yang tinggi di dalam urine atau darah dan akibat dari dehidrasi. Batu kalsium
terdiri dari dua tipe yang berbeda, yaitu:
1. Whewellite (monohidrat) yaitu , batu berbentuk padat, warna cokat/ hitam dengan
konsentrasi

asam oksalat yang tinggi pada air kemih.

2. Kombinasi kalsium dan magnesium menjadi weddllite (dehidrat) yaitu batu berwarna
kuning, mudah hancur daripada whewellite.

b. Batu asam urat


Lebih kurang 5-10% penderita BSK dengan komposisi asam urat. Pasien biasanya
berusia > 60 tahun. Batu asam urat dibentuk hanya oleh asam urat. Kegemukan, peminum
alkohol, dan diet tinggi protein mempunyai peluang lebih besar menderita penyakit BSK, karena
keadaan tersebut dapat meningkatkan ekskresi asam urat sehingga pH air kemih menjadi rendah.
Ukuran batu asam urat bervariasi mulai dari ukuran kecil sampai ukuran besar sehingga
membentuk staghorn (tanduk rusa). Batu asam urat ini adalah tipe batu yang dapat dipecah
dengan obat-obatan. Sebanyak 90% akan berhasil dengan terapi kemolisis.
c. Batu struvit (magnesium-amonium fosfat)
Batu struvit disebut juga batu infeksi, karena terbentuknya batu ini disebabkan oleh
adanya infeksi saluran kemih. Kuman penyebab infeksi ini adalah golongan kuman pemecah
urea atau urea splitter yang dapat menghasilkan enzim urease dan merubah urine menjadi
bersuasana basa melalui hidrolisis urea menjadi amoniak. Kuman yang termasuk pemecah urea
di antaranya adalah : Proteus spp, Klebsiella, Serratia, Enterobakter, Pseudomonas, dan
Staphiloccocus. Ditemukan sekitar 15-20% pada penderita BSK
Batu struvit lebih sering terjadi pada wanita daripada laki-laki. Infeksi saluran kemih terjadi
karena tingginya konsentrasi ammonium dan pH air kemih >7. Pada batu struvit volume air
kemih yang banyak sangat penting untuk membilas bakteri dan menurunkan supersaturasi dari
fosfat.
d. Batu Sistin
Batu Sistin terjadi pada saat kehamilan, disebabkan karena gangguan ginjal. Merupakan
batu yang paling jarang dijumpai dengan frekuensi kejadian 1-2%. Reabsorbsi asam amino,
sistin, arginin, lysin dan ornithine berkurang, pembentukan batu terjadi saat bayi. Disebabkan
faktor keturunan dan pH urine yang asam. Selain karena urine yang sangat jenuh, pembentukan
batu dapat juga terjadi pada individu yang memiliki riwayat batu sebelumnya atau pada individu
yang statis karena imobilitas. Memerlukan pengobatan seumur hidup, diet mungkin
menyebabkan pembentukan batu, pengenceran air kemih yang rendah dan asupan protein hewani
yang tinggi menaikkan ekskresi sistin dalam air kemih

D. Gejala Gejala pada Vesikolithiasis


Batu buli-buli atau vesikolithiasis sering terjadi pada pasien yang menderita gangguan
miksi atau terdapat benda asing di buli-buli. Gangguan miksi terjadi pada pasien-pasien
hiperplasia prostat, striktura uretra, divertikel buli-buli atau buli-buli neurogenik. Kateter yang
terpasang pada buli-buli pada waktu yang lama, adanya benda asing lain yang secara tidak
sengaja dimasukkan ke dalam buli-buli seringkali manjadi inti untuk terbentuknya batu buli-buli.
Selain itu batu buli-buli dapat berasal dari batu ginjal atau batu ureter yang turun ke buli-buli.
Gejala khas batu buli-buli adalah berupa gejala berupa gejala iritasi antara lain: nyeri
kencing/disuria hingga stranguri, perasaan tidak enak sewaktu kencing, dan kencing tiba-tiba
terhenti kemudian menjadi lancar kembali dengan perubahan posisi tubuh. Nyeri pada saat miksi
seringkali dirasakan (refered pain)pada ujung penis, skrotum, perineum, pinggang, sampai kaki.
Pada anak sering mengeluh adanya enuresis nokturna, di samping sering menarik-narik penisnya
(pada anak-anak laki-laki) atau menggosok-gosok vulva (pada anak perempuan).
Seringkali komposisi batu buli-buli terdiri atas asam urat atau struvit ( jika penyebabnya
adalah infeksi), sehingga tidak jarang pada pemeriksaan foto polos abdomen tidak tampak
sebagai bayangan opak pada kavum pelvis. Dalam hal ini pemeriksaan IVU pada fase sistogram
memberikan gambaran sebagai bayangan negatif. USG dapat mendeteksi batu radiolusen pada
buli-buli.
E. PENATALAKSANAAN
Non Farmakologi
Terapi ditujukan untuk batu yang berukuran lebih kecil yaitu dengan diameter kurang dari 5 mm,
karena diharapkan batu dapat keluar tanpa intervensi medis. Dengan cara mempertahankan
keenceran urine dan diet makanan tertentu yang dapat merupakan bahan utama pembentuk batu (
misalnya kalsium) yang efektif mencegah pembentukan batu atau lebih jauh meningkatkan
ukuran batu yang telah ada. Setiap pasien batu saluran kemih khususnya vesikolithiasis harus
minum paling sedikit 8 gelas air sehari.

Farmakologi
Analgesia dapat diberikan untuk meredakan nyeri dan mengusahakan agar batu dapat
keluar sendiri secara spontan. Opioid seperti injeksi morfin sulfat yaitu petidin hidroklorida atau
obat anti inflamasi nonsteroid seperti ketorolac dan naproxen dapat diberikan tergantung pada
intensitas nyeri. Pemberian antibiotik apabila terdapat infeksi saluran kemih atau pada
pengangkatan batu untuk mencegah infeksi sekunder. Setelah batu dikeluarkan, vesiokolithiasis
dapat dianalisis untuk mengetahui komposisi dan obat tertentu dapat diresepkan untuk mencegah
atau menghambat pembentukan batu berikutnya.
Tindakan Operasi
Penanganan vesikulolithiasis, biasanya terlebih dahulu diusahakan untuk mengeluarkan
batu secara spontan tanpa pembedahan/operasi. Tindakan bedah dilakukan jika batu tidak
merespon terhadap bentuk penanganan lainnya. Batu buli-buli dapat dipecahkan dengan litotripsi
ataupun jika terlalu besar memerlukan pembedahan terbuka yaitu vesikolitomi merupakan
operasi terbuka untuk mengambil batu yang berada di vesica urinaria.
E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Ultrasonografi

Dapat menunjukkan ukuran, bentuk dan posisi batu.

Pemeriksaan ini dapat digunakan untuk mengetahui batu radiolusen dan dilatasi sistem
kolektikus. Keterbatasan pemeriksaan ini adalah kesulitan untuk membedakan batu
kalsifikasi dan batu radiolusen.

b. Pemeriksaan radiografi
Foto abdomen biasa:

Dapat menunjukkan ukuran, bentuk dan posisi

Membedakan batu kalsifikasi

Densitas tinggi: kalsium oksalat dan kalsium fosfat.

Densitas rendah: struvite, sistein dan campuran keduanya

Indikasi dilakukan uji kualitatif sistein pada pasien muda.

Keterbatasan pemeriksaaan foto sinar tembus abdomen adalah tidak dapat untuk menentukan
batu radiolusen, batu kecil dan batu yang tertutup bayangan struktur ttulang. Pemeriksaan ini
tidak dapat membedakan batu dalam ginjal dan batu luar ginjal.
c. Urogram

Deteksi batu radiolusen sebagai defek pengisian (filling) (batu asam urat, xantin, 2,8dihidroksiadenin ammonium urat)

Menunjukkan lokasi batu dalam sistem kolektikus.

Menunjukkan kelainan anatomis.

d. Ct-scan helikal dan kontras


e. Investigasi biokimiawi

Pemeriksaan laboratorium rutin, sampel dan air kemih. Pemeriksaan pH, berat jenis air kemih,
sedimen air kemih untuk menentukkan hematuri, leukosituria, dan kristaluria. Pemeriksaan
kultur kuman penting untuk adanya infeksi saluran kemih. Apalagi batu keluar, diperlukan
pencarian faktor risiko dan mekanisme timbulnya batu.
F. PENCEGAHAN
Pencegahan yang dilakukan adalah berdasarkan atas kandungan unsur yang menyusun

batu

saluran kemih yang diperoleh dari analisis batu.


Pada umumnya pencegahan itu berupa:
1. Menghindari dehidrasi dengan minum cukup dan diusahakan produksi urin sebanyak 2-3
liter per hari.
2. Diet untuk mengurangi kadar zat komponen pembentuk batu.
3. Aktivitas harian yang cukup