Anda di halaman 1dari 19

tidak jelas, sering bersifat multifaktor dengan perjalanan klinik yang bervariasi.

Kelainan
ini berkaitan erat dengan infeksi Helicobacter Pylori.

Anamnesis
Anamnesis yang akurat untuk memperoleh gambaran kelhan yang terjadi,
karakteristik keterkaitan dengan penyakit tertentu, keluhan bersifat lokal atau manifestasi
gangguan sistemik.
Gangguan yang mengenai abdomen dan sistem gastrointestinal bisa menimbulkan
gejala yang sangat beragam : nyeri abdomen, muntah, hematemesis ( muntah darah ),
sulit menelan (disfagia ), gangguan cerna atau dispepsia, diare, perubahan kebiasaan
buang air besar, bengkak atau benjolan pada perut, penurunan berat badan atau gejala
akibat malabsorpsi, melena ( tinja hitam seperti ter akibat darah dari saluran cerna bagian
atas ) atau darah per rektum.
Anamnesis penting untuk menilai adakah penyakit lokal dan adakah efek sistemik
seperti penurunan berat badan atau malansorbsi.
Riwayat Penyakit Dahulu
-

Apakah pernah mengalami penyakit saluran cerna sebelumnya?

Apakah pernah dilakukan operasi pada daerah perut sebelumnya?

Tentukan riwayat konsumsi alkohol dan kebiasaan merokok pasien. Riwayat


konsumsi alkohol yang rinci sangat penting.

Obata pa yang pernah dikonsumsi oleh pasien ?

Pernahkah pasien mendapat terapi untuk penyakit saluran cerna, termasuk terapi
yang mungkin merupakan penyebab gejala ( seperti OAINS dan dyspepsia ) ?

Riwayat

Keluarga

adakah

kondisi

turunan

yang

mempengaruhi

sistem

gadtrointestinal ? 1
Anamnesis Khusus untuk Nyeri Abdomen :

Kapan nyeri timbul ? Apakah timbulnya bertahap atau mendadak ?

Nyeri seperti apa? Berdenyut, tajam, membakar dan lain-lain ?

Apakah nyeri terus-menerus atau hilang timbul ? Apakah nyeri bersifat kolik
(bertambah dan berkurang dalam suatu siklus ) ?

Di mana letak nyeri? Apakah menjalar ? Apakah menjalar ke punggung ?


3

Apa yang memperberat atau memicu nyeri (gerakan, postur, makan) ?

Apa yang mengurangi nyeri ?

Adakah gejala penyerta (muntah, diare, refluks asam, nyeri punggung, sesak
nafas, perdarahan gastrointestinal, disuria, atau hematuria ?

Adakah episode sebelumnya ? Kapan terjadinya dan seberapa sering ?

Adakah perubahan kebiasaan buang air besar ? Adakah gejala gangguan


pencernaan, steatorea, atau penurunan berat badan ? 2

Riwayat penyakit dahulu

Cari tahu RPD dari kondisi medis apa pun yang signifikan

Tanyakan adakah riwayat pembedahan perut sebelumnya ?

Obat-obatan
Tanyakan setiap obat yang bisa menyebabkan nyeri ( misalnya OAINS dan ulkus
peptikum ) atau menutupi tanda gangguan perut ( misalnya kortikosteroid ) 1

Pemeriksaan
Pemeriksaan yang dilakukan untuk sistem pencernaan terdiri dari:
Endoskop (tabung serat optik yang digunakan untuk melihat struktur dalam dan untuk
memperoleh jaringan dari dalam tubuh)
Rontgen
Ultrasonografi (USG)
Pemeriksaan kimiawi
Pemeriksaan-pemeriksaan tersebut bisa membantu dalam menegakkan diagnosis,
menentukan lokasi kelainan dan kadang mengobati penyakit pada sistem pencernaan.
Pada beberapa pemeriksaan, sistem pencernaan harus dikosongkan terlebih dahulu, ada
juga pemeriksaan yang dilakukan setelah 8-12 jam sebelumnya melakukan puasa,
sedangkan pemeriksaan lainnya tidak memerlukan persiapan khusus.
Langkah pertama dalam mendiagnosis kelainan sistem pencernaan adalah riwayat
medis dan pemeriksaan fisik. Tetapi gejala dari kelainan pencernaan seringkali bersifat
samar sehingga dokter mengalami kesulitan dalam menentukan kelainan secara pasti.

Kelainan psikis (misalnya kecemasan dan depresi) juga bisa mempengaruhi sistem
pencernaan dan menimbulkan gejala-gejalanya. 1

Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik untuk mengidentifikasi kelainan intra abdomen atau intra
lumen yang padat ( misalnya tumor ), organomegali, atau nyeri tekan yang sesuai dengan
adanya rangsang peritoneal / peritonitis.
Penilaian fisik pasien dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan melihat
penampilan umumnya. 1
1. Pandanglah pasien
Apakah pasien tampak sakit ringan atau berat, nyaman atau kesakitan, dapat
bergerak dengan mudah atau berbaring tak bergerak ?
Adakah pucat, ikterus, atau limfadenopati ?
Apakah pasien kurus atau obesitas ?
Cari tanda-tanda sistemik dari penyakit (demam, takikardia, hipotensi,
hipotensi postural, takipnea, dehidrasi, dan hipovolemia).
Cari tanda-tanda penyakit hati kronis ( spider nervi, ginekomastia, memar,
hipertrofi parotis, ekskoriasi dan flap metabolik ( asterixis) ).
2. Periksa kedua tangan
Adakah jari tabuh, eritema Palmaris, atau flap metabolic (asterixis) ?
3. Periksa mulut dan lidah
Cari limfadenopati di daerah supraklavikular dan di daerah lain (nodus Virhcow
atau tanda Troissier

- limfadenopati supraclavikular kiri akibat penyebaran

karsinoma abdomen).
Pastikan pasien merasa hangat, nyaman, dan perutnya cukup terlihat, pasien harus
berbaring mendatar dengan kepala diganjal. Buatlah pasien merasa santai
4. Periksa abdomen
Lakukan inspeksi abdomen
Adakah distensi, asimetrik, massa, jaringan parut, gerakan peristaltis yang
jelas dan stoma ?
Mintalah pasien batuk, menarik nafas dalam, dan lihatlah baik-baik.
Lakukan palpasi abdomen

Tanyakan jika ada nyeri atau nyeri tekan, sangat berhati-hatilah


terutama jika ada. Lihatlah wajah pasien saat memeriksa adanya nyeri atau
nyeri tekan. Lakukan palpasi dengan lembut menggunakan ujung jari sisi
ulnaris dari telunjuk dan kemudian lebih dalam, lakukan palpasi semua area
abdomen. Setiap massa atau kelainan harus dicatat dengan teliti mengenai
ukuran, posisi, kontitensi, lokasi, tepi, mobilitas saat respirasi, dan pulsatilitas.
-

Adakah nyeri tekan? Jika ya, tentukan area tersebut dengan hati-hati.

Adakah kekauan ?

Adakah nyeri lepas (nyeri saat tangan pemeriksa diangkat dengan cepat
setelah menekan, namun sebagaian dokter memilih untuk menggunakan
perkusi untuk meminimalkan nyeri.

Adakah tahanan ? 1,2

Gambar kuadran abdomen


Lakukan auskultasi
Lakukan auskultasi untuk mendengarkan bising usus (terdengar atau tidak,
normal atau aobromal, hiperaktif, bernada tinggi, berdenting (menunjukan
obstruksi).
Adakah asites ?
Distensi abdomen, pekak pada pemeriksaan pekak berpindah ? 1

5. Periksa organ spesifik


Periksa hati :
Adakah pembesaran ? Apakah teraba di tepi bawah kosta kanan?
Lakukan palpasi dengan sisi ulnaris dan bantalan jari telunjuk sambil menarik
nafas perlahan. Mulailah di fosa iliaka kanan. Ukurlah, Tentukan batas atasnya
dengan perkusi, Apakah hati sedikit membesar, lunak, pulsatil, keras atau
irregular (menunjukan tumor)? Adakah bruit ?
Periksa limpa:
Apakah limpa membesar? Apakah teraba di tepi bawah kosta kiri ? Mulailah di
fosa iliaka kanan dan lakukan palpasi kea rah tepi bawah kosta kiri. Ukur,
tentukan batas atas dengan perkusi . Apakah lunak ? Adakah bruit ? Apakah ikut
bergerak saat bernafas ? Adakah tanda-tanda lain dari hipertensi porta (misalnya
asites, kaput medusa).
Periksa ginjal:
Apakah ginjal teraba? Memantul? Adakah pembesaran rata atau irregular
(pertimbangkan penyakit ginjal polikistik), bruit ?
6. Periksa adanya aneurisma aorta
Ukuran ? Pulsatil ?
7. Periksa hernia inguinalis dan femoralis
Timbul saat batuk ? Ireversibel ?
8. Periksa genital eksterna
Adakah nyeri tekan testis, benjolan, pembesaran, atau secret penis? Adakah
benjolan, ulkus, secret atau prolaps vulva ?
9. Lakukan pemeriksaan colok dubur
Adakah nyeri tekan, massa abnormal, pambesaran prostat, tinja, darah, atau
lendir?
10. Pemeriksaan vagina
Pertimbangkan untuk melakukan pemeriksaan vagina.
11. Pemeriksaan urin dan feses

Pertimbangkan untuk melakukan pemeriksaan urin (dipstick mikroskopik) dan


feses (darah samar).1

Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium untuk mengidentifikasi adanya faktor infeksi
( leukositosis ), pankreatitis ( amilase, lipase ), keganasan saluran cerna ( CEA, CA 19-9,
AFP ). 2
Pemeriksaan Darah Samar
Perdarahan di dalam saluran pencernaan dapat disebabkan baik oleh iritasi ringan
maupun kanker yang serius. Bila perdarahannya banyak, bisa terjadi muntah darah, dalam
tinja terdapat darah segar atau mengeluarkan tinja berwarna kehitaman (melena). Jumlah
darah yang terlalu sedikit sehingga tidak tampak atau tidak merubah penampilan tinja,
bisa diketahui secara kimia; dan hal ini bisa merupakan petunjuk awal dari adanya ulkus,
kanker dan kelainan lainnya.
Pada pemeriksaan colok dubur, dokter mengambil sejumlah kecil tinja . Contoh
ini diletakkan pada secarik kertas saring yang mengandung zat kimia. Setelah
ditambahkan bahan kimia lainnya, warna tinja akan berubah bila terdapat darah. 2

Pemeriksaan Endoskopi
Pemeriksaan endoskopi ( esofagogastrosduodenoskopi ), pemeriksaan ini sangat
dianjurkan untuk dikerjakan bila dispepsia tersebut disertai oleh keadaan yang disebut
alarm symptoms. Keadaan itu mengarah kepada gangguan organik, terutama keganasan.
Teknik pemeriksaan ini dapat mengidentifikasi dengan akurat adanya kelainan struktural /
organik intra lumen saluran cerna bagian atas.
Laparoskopi
Laparoskopi adalah pemeriksaan rongga perut dengan menggunakan endoskop.
Laparoskopi

biasanya

dilakukan

dalam

keadaan

penderita

terbius

total.

Setelah kulit dibersihkan dengan antiseptik, dibuat sayatan kecil, biasanya di dekat pusar.
Kemudian endoskop dimasukkan melalui sayatan tersebut ke dalam rongga perut.
Dengan laparoskopi dokter dapat : mencari tumor atau kelainan lainnya,
mengamati organ-organ di dalam rongga perut, memperoleh contoh jaringan, melakukan
pembedahan perbaikan.2
8

Pemeriksaan Radiologi
Pemeriksaan radiologi dapat mengidentifikasi kelainan struktural dinding /
mukosa saluran cerna bagian atas seperti adanya tukak atau gambaran ke arah tumor.
Pemeriksaan ini menggunakan barium meal. Pemeriksaan ini terutama bermanfaat pada
kelaianan yang bersifat penyempitan / stenotik / obstruktif dimana skop endoskopi tidak
melewatinya.
Penderita menelan barium dan perjalanannya melewati kerongkongan dipantau
melalui fluoroskopi (teknik rontgen berkesinambungan yang memungkinkan barium
diamati atau difilmkan). Dengan fluoroskopi, dokter bisa melihat kontraksi dan kelainan
anatomi kerongkongan (misalnya penyumbatan atau ulkus). Gambaran ini seringkali
direkam pada sebuah film atau kaset video.
Selain cairan barium, bisa juga digunakan makanan yang dilapisi oleh barium,
sehingga bisa ditentukan lokasi penyumbatan atau bagian kerongkongan yang tidak
berkontraksi secara normal. 2

USG Perut
USG menggunakan gelombang udara untuk menghasilkan gambaran dari organorgan dalam. USG bisa menunjukkan ukuran dan bentuk berbagai organ (misalnya hati
dan pankreas) dan juga bisa menunjukkan daerah abnormal di dalamnya. USG juga dapat
menunjukkan adanya cairan.
Tetapi USG bukan alat yang baik untuk menentukan permukaan saluran
pencernaan, sehingga tidak digunakan untuk melihat tumor dan penyebab perdarahan di
lambung, usus halus atau usus besar.
USG merupakan prosedur yang tidak menimbulkan nyeri dan tidak memiliki
resiko. Pemeriksa menekan sebuah alat kecil di dinding perut dan mengarahkan
gelombang suara ke berbagai bagian perut dengan menggerakkan alat tersebut. Gambaran
dari organ dalam bisa dilihat pada layar monitor dan bisa dicetak atau direkam dalam
filem video. 2

Working Diagnosis
Gastritis Akut dengan dehidrasi ringan
Gastritis adalah inflamasi dari mukosa lambung. Gambaran klinis yang ditemukan
berupa dispepsia atau ingesti. Berdasarkan pemeriksaan endoskopi ditemukan eritema
mukosa, sedangkan hasil foto memperlihatkan iregularitas mukosa.
Gastritis terbagi dua, yaitu : gastritis akut dan gastritis kronik. Gastritis akut
merupakan kelainan klinis akut yang jelas penyebabnya dengan tanda dan gejala yang
khas. Biasanya ditemukan sel inflamasi akut dan neutrofil.
Gastritis akut merupakan lesi mukosa akut berupa erosi dan perdarahan akibat
faktor-faktor agresif atau akibat gangguan sirkulasi akut mukosa lambung. 3,4
Penilaian dehidrasi ringan dapat dilihat dari tekanan darah, tekanan nadi,
frekuensi jantung, kulit, fontanela, membran mukosa, ekstremitas, status mental, keluaran
urin, tingkat kehausan.
Tabel 2.1 Penilaian Dehidrasi
Tekanan darah
Tekanan nadi
Frekuensi jantung
Kulit
Fontanela
Membran mukosa
Ekstremitas
Status mental
Keluaran urin
Haus

Ringan < 5%
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal
Sedikit kering
Terperfusi

Sedang 5-9 %
Normal sampai
Normal sampai
Naik
Turgor menurun
Normal
Kering
Pengisian kembali

Berat 10%
sampai

Takikardia
Turgor menurun
Cekung
Kering
Dingin, berbintik

Normal
Sedikit mengurang

kapiler lambat
Normal sampai lesu
Mengurang

( mottled)
Lesu, koma
Tidak ada

Pembagian Gastritis

10

Update Sydney System membagi gastritis berdasarkan pada topografi, morfologi


dan etiologi. Secara garis besar gastritis dibagi menjadi 3 tipe yaitu : 1. Monahopik, 2.
Atropik, 3. bentuk khusus.
Selain pembagian tersebut diatas, terdapat suatu bentuk kelainan pada gaster yang
digolongkan sebagai gastropati. Disebut demikian karena secara histopatologik tidak
menggambarkan radang. Klasifikasi gastritis secara histopatologik sesuai dengan Update
Sydney System memerlukan tindakan gastroskopi, pemeriksaan histopatologi dan
pemeriksaan-pemeriksaan penunjang untuk menentukan etiologinya.
Ada macam-macam jenis gastritis akut, yaitu :
-

Irritation gastritis : disebabkan makanan / minuman yang menyebabkan iritasi


pada selaput lendir lambung, misalnya obat-obatan seperti salisilat, pedas-pedas,
alkohol, dsb.

Corrosive gastritis : disebabkan oleh asam atau alkali keras. Terdapat tukak-tukak
di samping tanda-tanda radang akut. Tukak-tukak terutama disekitar curvatura
minor.

Gastritis phlegmonosa acuta (gastritis purulenta) : pada bakteremi dengan sarangsarang infeksi yang letaknya jauh misalnya osteomyelitis dan juga sebagai
komplikasi abses yang memecah ke dalam lambung ( biasanya oleh
Streptococcus).

Gastritis acuta hemorrhagica : disertaiperdarahan-perdarahan, biasanya sebagai


komplikasi penyakit infeksi akut seperti diphteria atau pneumonia. Selaput lendir
bengkak, lipatan-lipatan mukosa (rugae) melicin dan tampak tanda-tanda
perdarahan yang tersebar. 3,4

Diagnosis
Kebanyakan gastritis tanpa gejala. Mereka yang mempunyai keluhan biasanya
berupa keluhan yang tidak khas. Keluhan yang sering dihubung-hubungkan dengan
gastritis adalah nyeri panas dan pedih di ulu hati disertai mual kadang-kadang sampai
muntah. Keluhan-keluhan tersebut sebenarnya tidak berkorelasi baik dengan gastritis.
Keluhan-keluhan tersebut tidak digunakan sebgai alat evaluasi keberhasilan pengobatan.

11

Pemweriksaan fisis juga tidak dapat memberikan informasi yang dibutuhkan untuk
menegakkan diagnosis.
Diagnosis ditegakkan berdasarkan pemeriksaan endoskopi dan histopatologi.
Gambaran endoskopi yang dapat dijumpai adalah eritema, eksudatif, perdarahan,
edematous rugae, dsb. Perubahan-perubahan histopatologi selain menggambarkan
perubahan morfologi sering juga dapat menggambarkan proses yang mendasari, misalnya
otoimun atau respon adaptif mukosa lambung. 3,4

Manifestasi Klinis
Sindrom dispepsia berupa nyeri epigastrium, mual, kembung, muntah, merupakan
salah satu keluhan yang sering muncul. Ditemukan pula perdarahan saluran cerna berupa
hematemesis dan melena, kemudian disusul dengan tnda-tanda anemia pasca perdarahan.
Biasanya, jika dilakukan anamnesis lebih dalam, terdapat riwayat penggunaan obatobatan atau bahan kimia tertentu. 4

Komplikasi
Perdarahan saluran cerna bagian atas (SCBA) berupa hematemesis dan melena,
dapat berakhir sebagai syok hemoragik. Khusus untuk perdarahan SCBA, perlu
dibedakan dengan tukak peptik. Gambaran klinis yang diperlihatkan hampir sama.
Namun pada tukak peptik penyebab utamanya adalah infeksi Helicobacter pylori, sebesar
100% pada tukak duodenum dan 60-90% pada tukak lambung. Diagnosis pasti dapat
ditegakkan dengan endoskopi.
Jika dibiarkan tidak terawat, gastritis akan dapat menyebabkan peptic ulcers dan
pendarahan pada lambung. Beberapa bentuk gastritis kronis dapat meningkatkan resiko
kanker lambung, terutama jika terjadi penipisan secara terus menerus pada dinding
lambung dan perubahan pada sel-sel di dinding lambung. 3,4

12

Differential Diagnosis
Dispepsia Fungsional
Pembagian ini dilakukan tentunya setelah melalui pemeriksaan terutama
pemeriksaan endoskopi atau teropong saluran cerna dalam hal ini tentunya teropong
saluran cerna atas. Dispespsia fungsional ditetapkan jika dengan pemeriksaan baik secara
endoskopi, pemeriksaan ultrasonografi dan pemeriksaan laboratorium tidak ditemukan
penyebab lain dari sakit maag tersebut.
Definisi Dispepsia atau sakit maag fungsional mutakhir yang dipublikasi tahun
lalu oleh pakar dunia dibidang penyakit lambung menyatakan orang yang mempunyai
masalah dengan maagnya berupa nyeri atau rasa panas di daerah ulu hati, rasa penuh atau
tidak nyaman setelah makan dan rasa cepat kenyang yang telah berlangsung minimal
selama 3 bulan dalam rentang waktu selama 6 bulan. Dari definisi ini jelas bahwa
tentunya orang mempunyai sakit maag yang fungsional jika merasakan keluhan pada
lambung sudah berlangsung lama.
Dispepsia fungsional ini memang sangat berhubungan erat dengan fator psikis.
Berbagai penelitian memang telah membuktikan hubungan antara faktor fungsional
dengan faktor stress yang dialami seseorang terutama faktor kecemasan (ansietas).
Penelitian yang kami lakukan dan penelitian di luar negeri menunjukkan bahwa kejadian
sakit maag yang fungsional ini lebih besar dari sakit maag yang organik yaitu mencapai
70-80 % kasus sakit maag. 3,7
Tukak Peptik
Tukak peptik merupakan kerusakan / hilangnya jaringan mukosa, submukosa
sampai lapisan otot. Meliputi : tukak lambung dan tukak duodenum. Tukak lambung
asam lambung normal atau asam lambung rendah. Tukak 12 jari asam lambung tinggi.
Gejalanya yaitu rasa nyeri yang tajam, perih, rasa terbakar, nyeri di ulu hati dapat
ditunjuk dengan 1 jari karena rangsangan asam lambung. Juga ada gejala muntah darah
(hematemesis) dan buang air berdarah (melena).
Perjalanan penyakit tukak peptik, pada orang sehat terdapat suatu keseimbangan
atara 2 faktor : faktor perusak (agresif), dan faktor pertahanan ( defensif ). Faktor perusak

13

dapat merupakan faktor dari dalam dan dari luar lambung. Faktor pertahanan terdiri dari
lapisan mukosa lambung dan zat kimia dalam lambung.
Bila terjadi gangguan keseimbangan antara faktor perusak dan pertahanan, maka
akan terjadi gangguan pada selaput lendir lambung dan usus 12 jari. Keadaan tidak
seimbang dapat berupa :

Jumlah asam lebih banyak, sedangkan pertahanan mukosa dalam keadaan normal

Jumlah asam normal, tetapi pertahanan mukosa menurun

Kombinasi antara peningkatan jumlah asam dengan penurunan pertahanan


mukosa 3

GERD
Gastroesophageal Reflux Disease (GERD), merupakan gerakan membaliknya isi
lambung (mengandung asam dan pepsin) menuju esophagus. GERD juga mengacu pada
berbagai kondisi gejala klinik atau perubahan histology yang terjadi akibat refluks
gastroesofagus. Ketika esophagus berulangkali kontak dengan material refluk untuk
waktu yang lama, dapat terjadi inflamasi esofagus (esofagitis refluks) dan dalam
beberapa kasus berkembang menjadi erosi esofagus (esofagitis erosi).
Manifestasi Klinis
1. Gejala tipikal (typical symptom) : Adalah gejala yang umum diderita oleh pasien
GERD, yaitu: heart burn, belching (sendawa), dan regurgitasi (muntah)
2. Gejala atipikal (atypical symptom) : Adalah gejala yang terjadi di luar esophagus dan
cenderung mirip dengan gejala penyakit lain. Contohnya separuh dari kelompok
pasien yang sakit dada dengan elektrokardiogram normal ternyata mengidap GERD,
dan separuh dari penderita asma ternyata mengidap GERD. Kadang hanya gejala ini
yang muncul sehingga sulit untuk mendeteksi GERD dari gejala ini. Contoh gejala
atipikal: asma nonalergi, batuk kronis, faringitis, sakit dada, dan erosi gigi.

14

3. Gejala alarm (alarm symptom) : Adalah gejala yang menunjukkan GERD yang
berkepanjangan dan kemungkinan sudah mengalami komplikasi. Pasien yang tidak
ditangani dengan baik dapat mengalami komplikasi. Hal ini disebabkan oleh refluks
berulang yang berkepanjangan. Contoh gejala alarm: sakit berkelanjutan, disfagia
(kehilangan nafsu makan), penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan,
tersedak.
Penting untuk diperhatikan bahwa keparahan gejala tidak selalu berkaitan dengan
keparahan esofagitis, tetapi berkaitan dengan durasi reflux. Pasien dengan penyakit yang
nonerosif dapat menunjukkan gejala yang sama dengan pasien yang secara endoskopi
menunjukkan adanya erosi esophagus. 3
Irritable Bowel Syndrome
Irritable bowel syndrome (IBS) adalah gangguan pada seluruh saluran pencernaan
yang menyebabkan nyeri perut dan sembelit atau diare. 8
Manifestasi Klinik
IBS cenderung terjadi di usia remaja dan 20-tahunan, menyebabkan serangan pada
gejala-gejala yang berulang pada periode yang tidak teratur. Serangan pada akhir hidup
dewasa tidak umum tetapi tidak langka. Serangan hampir selalu terjadi ketika seseorang
sadar, dan jarang membuat seseorang terjaga dari tidur.
Gejala-gejala termasuk nyeri perut berhubungan dengan atau diringankan dengan
melakukan buang air besar (defekasi), perubahan pada frekwensi kotoran (seperti
sembelit atau diare) atau konsistensi, perluasan perut (distention), lendir pada kotoran,
dan rasa tidak sepenuhnya kosong setelah buang air besar.
Nyeri tersebut bisa menimbulkan rasa sakit atau kram yang terus menerus muncul,
biasanya di sepanjang perut bagian bawah. Kembung, gas, mual, sakit kepala, lelah,
depresi, gelisah, dan sulit konsentrasi adalah gejala-gejala lainnya. Pada umumnya,
karakter dan lokasi nyeri tersebut, memicu (faktor yang mempercepat), dan pola pada
gerakan isi perut secara relatif konsisten sepanjang waktu. Meskipun begitu, gejala-gejala

15

bisa meningkat atau menurun pada tingkat keparahannya dan juga berubah sepanjang
waktu. 8
Pankreatitis
Pankreatitis akut adalah peradangan pankreas yang ditandai oleh otodigesti
pankreas oleh enzim-enzimnya. Sel-sel pankreas mengalami cedera atau kematian
sehingga timbul daerah-daerah nekrosis dan perdarahan. Perangsangan sistem imun dan
peradangan menyebabkan pancreas mengalami edema dan pembengkakan.
Manifestasi Klinis
Hampir setiap penderita mengalami nyeri yang hebat di perut atas bagian tengah,
dibawah tulang dada (sternum). Nyeri sering menjalar ke punggung. Kadang nyeri
pertama bisa dirasakan di perut bagian bawah. Nyeri ini biasanya timbul secara tiba-tiba
dan mencapai intensitas maksimumnya dalam beberapa menit. Nyeri biasanya berat dan
menetap selama berhari-hari. Batuk, gerakan yang kasar dan pernafasan yang dalam,
bisa membuat nyeri semakin memburuk. Duduk tegak dan bersandar ke depan bisa
membantu meringankan rasa nyeri. Sebagian besar penderita merasakan mual dan ingin
muntah.
Penderita pankreatitis akut karena alkoholisme, bisa tidak menunjukkan gejala
lainnya, selain nyeri yang tidak terlalu hebat. Sedangkan penderita lainnya akan terlihat
sangat sakit, berkeringat, denyut nadinya cepat (100-140 denyut per menit) dan
pernafasannya cepat dan dangkal. Pada awalnya, suhu tubuh bisa normal, namun
meningkat dalam beberapa jam sampai 37,8-38,8? Celsius. Tekanan darah bisa tinggi
atau rendah, namun cenderung turun jika orang tersebut berdiri dan bisa menyebabkan
pingsan. 6
Kadang-kadang bagian putih mata (sklera) tampak kekuningan, 20% penderita
pankreatitis akut mengalami beberapa pembengkakan pada perut bagian atas.
Pembengkakan ini bisa terjadi karena terhentinya pergerakan isi lambung dan usus
(keadaan yang disebut ileus gastrointestinal) atau karena pankreas yang meradang
tersebut membesar dan mendorong lambung ke depan. Bisa juga terjadi pengumpulan
cairan dalam rongga perut (asites).

Pada pankreatitis akut yang berat (pankreatitis

16

nekrotisasi), tekanan darah bisa turun, mungkin menyebabkan syok. Pankreatitis akut
yang berat bisa berakibat fatal.6

Etiologi
Penyebab penyakit ini, antara lain : Obat-obatan : aspirin, obat antiinflamasi non
steroid (AINS), alkohol, gangguan mikrosirkulasi mukosa lambung : trauma, luka bakar,
sepsis.
Secara makroskopik terdapat lesi erosi mukosa dengan lokasi berbeda. Jika
ditemukan pada korpus dan fundus, biasanya disebabkan stress. Jika disebabkan obatobatan AINS, terutama ditemukan di daerah antrum, namun dapat juga menyeluruh.
Sedangkan secara mikroskopik, terdapat erosi dengan regenerasi epitel, dan ditemukan
reaksi sel inflamasi neutrofil yang minimal. 4

Epidemiologi
Insidensi gastritis meningkat dengan lanjutnya usia. Gastritis atrofikans
merupakan penyebab tersering terjadinya hipo atau aklorhidia. Gastritis akut sering
diakibatkan oleh konsumsi alkohol, obat-obatan (terutama anti-inflamasi non-steroid) dan
toksin stafilokokus.

Patofisiologi
Terdapat gangguan keseimbangan faktor agresif dan faktor defensif yang berperan
dalam menimbulkan lesi pada mukosa. Faktor-faktor tersebut dapat dilihat pada tabel
berikut.
Dalam keadaan normal, faktor defensif dapat mengatasi faktor agresif sehingga
tidak terjadi kerusakan atau kelainan patologi. 4

17

Tabel 2.2 Faktor agresif dan protektif


Faktor Agresif
Asam lambung
Pepsin
AINS
Empedu
Infeksi virus
Infeksi bakteri : H. Pylori
Bahan korosif : asam & basa kuat

Faktor Defensif
Mukus
Bikarbonas mukosa
Prostaglandin mikrosirkulasi

Patofisiologi Gastritis akut


Gastritis akut dapat disebabkan oleh karena stres, zat kimia misalnya obat-obatan
dan alkohol, makanan yang pedas, panas maupun asam. Pada yang mengalami stres akan
terjadi perangsangan saraf simpatis NV (Nervus vagus) yang akan meningkatkan
produksi asam klorida (HCl) di dalam lambung. Adanya HCl yang berada di dalam
lambung akan menimbulkan rasa mual, muntah dan anoreksia.
Zat kimia maupun makanan yang merangsang akan menyebabkan sel epitel
kolumner, yang berfungsi untuk menghasilkan mukus, mengurangi produksinya.
Sedangkan mukus itu fungsinya untuk memproteksi mukosa lambung agar tidak ikut
tercerna. Respon mukosa lambung karena penurunan sekresi mukus bervariasi
diantaranya vasodilatasi sel mukosa gaster. Lapisan mukosa gaster terdapat sel yang
memproduksi HCl (terutama daerah fundus) dan pembuluh darah.
Vasodilatasi mukosa gaster akan menyebabkan produksi HCl meningkat.
Anoreksia juga dapat menyebabkan rasa nyeri. Rasa nyeri ini ditimbulkan oleh karena
kontak HCl dengan mukosa gaster. Respon mukosa lambung akibat penurunan sekresi
mukus dapat berupa eksfeliasi (pengelupasan). Eksfeliasi sel mukosa gaster akan
mengakibatkan erosi pada sel mukosa. Hilangnya sel mukosa akibat erosi memicu
timbulnya gastritis.

Penatalaksanaan
Pengobatan

18

Terapi gastritis sangat bergantung pada penyebab spesifiknya dan mungkin


memerlukan perubahan dalam gaya hidup, pengobatan atau, dalam kasus yang jarang,
pembedahan untuk mengobatinya. Pengobatan:

Menetralkan asam lambung di dalam lambung

Mengurangi produksi asam lambung

Memperkuat pertahanan mukosa lambung


Faktor utama adalah dengan menghilangkan etiologinya. Diet lambung, dengan

porsi kecil dan sering. Asam lambung mengiritasi jaringan yang meradang dalam
lambung dan menyebabkan sakit dan peradangan yang lebih parah. Itulah sebabnya, bagi
sebagian besar tipe gastritis, terapinya melibatkan obat-obat yang mengurangi atau
menetralkan asam lambung. Obat-obatan ditujukan untuk mengatur sekresi asam
lambung, berupa antagonis reseptor H2, inhibitor pompa proton, antikolinergik, dan
antasid. Juga ditujukan sebagai sitoprotektor, berupa sukralfat dan prostaglandin.
Obat anti-sekretorik yang mampu menekan sekresi asam pada umumnya
tergolong antagonis reseptor H2 (ARH2), seperti simetidin, ranitidin, dan famotidin. Obatobat tersebut tidak hanya mengurangi keasaman, tetapi juga menurunkan jumlah sekresi
lambung.
Antasida merupakan obat bebas yang dapat berbentuk cairan atau tablet dan
merupakan obat yang umum dipakai untuk mengatasi gastritis ringan. Antasida
menetralisir asam lambung dan dapat menghilangkan rasa sakit akibat asam lambung
dengan cepat.
Penghambat pompa proton. Cara yang lebih efektif untuk mengurangi asam
lambung adalah dengan cara menutup pompa asam dalam sel-sel lambung penghasil
asam. Penghambat pompa proton mengurangi asam dengan cara menutup kerja dari
pompa-pompa ini. Yang termasuk obat golongan ini adalah omeprazole, lansoprazole,
rabeprazole dan esomeprazole. Obat-obat golongan ini juga menghambat kerja H. pylori.
Pencegahan

19

Makan secara benar. Hindari makanan yang dapat mengiritasi terutama makanan
yang pedas, asam, gorengan atau berlemak. Yang sama pentingnya dengan pemilihan
jenis makanan yang tepat bagi kesehatan adalah bagaimana cara memakannya. Makanlah
dengan jumlah yang cukup, pada waktunya dan lakukan dengan santai.
Hindari alkohol. Penggunaan alkohol dapat mengiritasi dan mengikis lapisan
mukosa dalam lambung dan dapat mengakibatkan peradangan dan pendarahan.
Jangan merokok. Merokok mengganggu kerja lapisan pelindung lambung,
membuat lambung lebih rentan terhadap gastritis dan borok. Merokok juga meningkatkan
asam lambung, sehingga menunda penyembuhan lambung dan merupakan penyebab
utama terjadinya kanker lambung. Tetapi, untuk dapat berhenti merokok tidaklah mudah,
terutama bagi perokok berat. Konsultasikan dengan dokter mengenai metode yang dapat
membantu untuk berhenti merokok.
Lakukan olah raga secara teratur. Aerobik dapat meningkatkan kecepatan
pernapasan dan jantung, juga dapat menstimulasi aktifitas otot usus sehingga membantu
mengeluarkan limbah makanan dari usus secara lebih cepat.
Kendalikan stress. Stress meningkatkan resiko serangan jantung dan stroke,
menurunkan sistem kekebalan tubuh dan dapat memicu terjadinya permasalahan kulit.
Stress juga meningkatkan produksi asam lambung dan melambatkan kecepatan
pencernaan. Karena stress bagi sebagian orang tidak dapat dihindari, maka kuncinya
adalah mengendalikannya secara effektif dengan cara diet yang bernutrisi, istirahat yang
cukup, olah raga teratur dan relaksasi yang cukup. 5
Ganti obat penghilang nyeri. Jika dimungkinkan, hindari penggunaan AINS, obatobat golongan ini akan menyebabkan terjadinya peradangan dan akan membuat
peradangan yang sudah ada menjadi lebih parah. Ganti dengan penghilang nyeri yang
mengandung acetaminophen. 5

Prognosis

20

Prognosis pada umumnya baik. Kecuali pada gastritis yang sudah mengalami
komplikasi berat atau pada penderita immunocompromaised prognosis dapat menjadi
buruk.

21