Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN KASUS

IDENTITAS PASIEN
Nama

: Tn.I

Jenis kelamin

: Laki-laki

Usia

: 43 tahun

Agama

: Islam

Pekerjaan

: Karyawan

Alamat

: Jakarta Pusat

ANAMNESIS
Keluhan Utama : Pusing berputar sejak 4 hari yang lalu
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang dengan keluhan pusing berputar sejak 4 hari yang lalu. Awalnya
pasien merasakan pusing saat berjalan dan tiba-tiba merasa dirinya berputar-putar dan
ruangan disekelilingnya ikut terasa berputar kurang lebih 5 menit. Keluhan ini bertambah
berat saat pasien berubah posisi tubuh, duduk ataupun berdiri, saat serangan terjadi pasien
tidak dapat berjalan dan beraktivitas. Saat berbaring keluhan dirasakan berkurang. Pasien
juga mengeluhkan mual dan muntah saat terjadi serangan pusing. Pasien menyangkal adanya
keluhan nyeri kepala, nyeri telinga, telinga berdenging, gangguan pendengaran, pilek, batuk,
pandangan kabur, rasa lemas, pingsan dan demam. BAB dan BAK tidak ada keluhan.
Riwayat kepala terbentur dan trauma disangkal.

Riwayat Penyakit Dahulu

Pasien sudah beberapa kali mengalami keluhan seperti ini


Riwayat hipertensi (+), DM (-), Stroke (-)

Riwayat Penyakit Keluarga

Tidak ada keluarga yang menderita keluhan yang sama

Riwayat Pengobatan

Pasien meminum obat bodrex, tetapi tidak ada perubahan.

Riwayat Psikososial

Jarang olahraga, tidak konsumsi alkohol.


Pola makan tidak teratur

STATUS GENERALIS
PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan umum

: Tampak sakit sedang

Kesadaran

: Composmentis

Tanda Vital
-

TD
N
RR
S

: 160/90 mmHg
: 80 kali/menit (reguler)
: 20 kali/menit (reguler)
: 37 0C

Status Generalis

Kepala
Mata
Hidung
Mulut

: normochepal
: anemis (-/-), ikterik (-/-), edema palpebra (-/-)
: normonasi, deviasi septum (-), sekret (-)
: mukosa bibir kering (-), sianosis (-), lidah tremor (-), faring hiperemis

(-),
tonsil T1-T1, gigi geligi tidak lengkap

Telinga: normotia, sekret (-)


Leher
: KGB tidak membesar, JVP tidak meningkat
Thorax
Jantung
: BJ I-II murni reguler, murmur (-), gallop (-)
Paru
: vesikuler (+/+), ronkhi (-/-), wheezing (-/-)
Abdomen
Inspeksi

: bentuk datar

Perkusi

: timpani

Palpasi

: supel, nyeri tekan (-), organomegali (-), nyeri epigastrium (-)

Auskultasi

: BU (+) normal

Ekstremitas
Atas

: akral hangat, RCT < 2 detik, edema (-/-), sianosis (-/-)

Bawah : akral hangat, RCT < 2 detik, edema (-/-), sianosis (-/-)
2

STATUS NEUROLOGIK

Kesadaran
GCS
Rangsang Meningeal

: Compos mentis
: E4 M6 V 5

Kaku Kuduk (-)


Laseque/Kernig tidak terbatas
Brudzinki I/II/III = (-/-/-)
Saraf Kranial

N.I (Olfaktorius)
Daya Pembau : normosmia (+/+)

N.II (Optikus )

Kanan

Kiri

Visus

6/6

6/6

Lapang Pandang

normal

normal

Funduskopi

belum dapat melakukan

Papil edema

belum dapat melakukan

Arteri:vena

belum dapat melakukan

N.III (Okulomotorius)

Kanan

Kiri

Atas

baik

baik

Bawah

baik

baik

Medial

baik

baik

Ptosis
Gerakan Bola Mata

Pupil

Refleks cahaya langsung

Refleks cahaya tidak langsung

Nistagmus

N.IV (Trokhlearis)
Gerakan mata ke medial bawah :

bulat, isokor, ODS 3 mm

Kanan
baik

Kiri
/

baik

N.V (Trigeminus)

Kanan

Kiri

Menggigit

normal

Membuka Mulut

normal

Sensibilitas

5.1.(oftalmikus)

5.2.(maksilaris)

5.3 (mandibularis)

Reflek kornea

Refleks bersin

normal

Daya Kecap Lidah 2/3 depan

tidak dilakukan

N.VI (ABDUSENS)

Kanan

Gerakan mata ke lateral

N.VII (FASIALIS)

baik

baik

Kanan

Kiri

Kerutan kulit dahi

Menutup mata kuat

Mengangkat alis

normal

normal

Menyeringai

normal

normal

N.VIII (Vestibulochoclearis)

KANAN

Tes Bisik

Tes Rinne

Tes Weber
Tes Schwabach

Kiri

KIRI

normal

normal
tidak dilakukan

tidak dilakukan
:

tidak dilakukan

N. IX (Glosofaringeus) Dan N. X (Vagus)


Arkus faring

: gerakan simetris

Daya kecap lidah 1/3 belakang : tidak dilakukan


Uvula

: letak ditengah, gerakan simetris

Menelan

: Normal

Refleks muntah

:+
4

N. XI (Aksesorius)

Kanan

Kiri

Memalingkan Kepala

baik

baik

Mengangkat Bahu

baik

baik

N.XII (Hipoglosus)
Sikap lidah

: Normal

Atropi otot lidah

: (-)

Tremor lidah

: (-)

Fasikulasi lidah

: (-)

Motorik
Kekuatan Otot

5555

5555

5555

5555

tonus otot

: normal

Atrofi

: tidak ada

Pemeriksaan Koordinasi gait keseimbangan


Tandemgait test

: dalam batas normal

Romberg-Test

: tutup mata (+)

Diasdookinesis

: dalam batas normal

Dysmetria

: dalam batas normal

Tes tunjuk hidung

: dalam batas normal

Uji Dix-Hallpike

: Tidak dilakukan

Sensorik

Kanan

Nyeri : Ektremitas Atas

Kiri

: normal

normal

Ekstremitas Bawah : normal

normal
5

Raba : Ektremitas Atas

: normal

normal

Ekstremitas Bawah : normal

normal

Suhu : tidak dilakukan


Fungsi Vegetatif
Miksi

: baik

Defekasi

: baik

Fungsi luhur
MMSE

: tidak dilakukan

Reflek Fisiologis

Refleks Patologis

Reflek bisep

: ++/++

Babinski

: -/-

Reflek trisep

: ++/++

Chaddock

: -/-

Reflek brachioradialis : ++/++

Oppenheim

: -/-

Reflek patella

: ++/++

Gordon

: -/-

Reflek Achilles

: ++/++

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan Darah
Hemoglobin
Hematokrit
Trombosit
Leukosit
GDS
Ureum
Creatinin

Hasil
10.3
27.5
160
4.4
89
28
0,8

Rujukan
11.7 15.5 g/dL
35 - 47 %
150-440 103/l
3.6 - 11 103/l
70-200 mg/%
10-50 mg%
0,5-1,1 mg%

RESUME
Seorang laki-laki usia 43 tahun, datang dengan keluhan pusing berputar sejak 4 hari yang
lalu. Awalnya pasien merasakan pusing saat berjalan dan tiba-tiba merasa dirinya berputarputar dan ruangan disekelilingnya ikut terasa berputar kurang lebih 5 menit. Keluhan ini
bertambah berat saat pasien berubah posisi tubuh, duduk ataupun berdiri, saat serangan
terjadi pasien tidak dapat berjalan dan beraktivitas. Saat berbaring keluhan dirasakan
6

berkurang. Pasien juga mengeluhkan mual dan muntah saat terjadi serangan pusing. Paien
juga mengeluhkan mual dan muntah. Tidak ada riwayat kepala terbentur atau trauma.
Dari pemeriksaan fisik didapatkan, TD : 160/90 mmHg, Romberg test mata tertutup (+)
DIAGNOSIS
Diagnosis Klinis

: Vertigo

Diagnosis Topis

: Vestibularis perifer

Diagnosis Etiologi

: Benign Paroxysmal Positional Vertigo

RENCANA PEMERIKSAAN PENUNJANG


-

Pemeriksaan Darah Rutin

PENATALAKSANAAN
Medikamentosa :

IVFD RL 20 tetes per menit

Ondansentron iv 3x1

Mertigo tab 3x1

Amlodipin 1 x 5 mg

Omeprazol

PROGNOSIS
Quo ad vitam

: dubia ad bonam

Quo ad functionam

: dubia ad bonam

TINJAUAN PUSTAKA
Vertigo merupakan keluhan yang sering dijumpai dalam praktek; yang sering
digambarkan sebagai rasa berputar, rasa oleng, tak stabil (giddiness, unsteadiness) atau rasa
pusing (dizziness); deskripsi keluhan tersebut penting diketahui agar tidak dikacaukan dengan

nyeri kepala atau chepalgia, terutama karena di kalangan awam kedua istilah tersebut (pusing
dan nyeri kepala) sering digunakan secara bergantian.

Definisi
Vertigo berasal dari bahasa Latin vertere yang artinya memutar merujuk pada sensasi
berputar sehingga mengganggu rasa keseimbangan seseorang, umumnya disebabkan oleh
gangguan pada sistim keseimbangan.
Vertigo adalah setiap gerakan atau rasa gerakan tubuh penderita atau obyek-obyek di
sekitar penderita bersangkutan dengan kelainan system keseimbangan (ekuilibrium).

Sistem Keseimbangan
Manusia, karena berjalan dengan kedua tungkainya, relatif kurang stabil dibandingkan

dengan makhluk lain yang berjalan dengan empat kaki, sehingga lebih memerlukan informasi
posisi tubuh relatif terhadap lingkungan, selain itu diperlukan juga informasi gerakan agar
dapat terus beradaptasi dengan perubahan sekelilingnya. Informasi tersebut diperoleh dari
sistim keseimbangan tubuh yang melibatkan kanalis semisirkularis sebagai reseptor, serta
sistim vestibuler dan serebelum sebagai pengolah informasinya; selain itu fungsi penglihatan
dan proprioseptif juga berperan dalam memberikan informasi rasa sikap dan gerak anggota
tubuh. Sistim tersebut saling berhubungan dan mempengaruhi untuk selanjutnya diolah di
susunan saraf pusat
Sistem keseimbangan tubuh kita dibagi menjadi 2 yaitu sistem vestibular (pusat dan
perifer) serta non vestibular (visual [retina, otot bola mata], dan somatokinetik [kulit, sendi,
otot]). Sistem vestibular sentral terletak pada batang otak, serebelum dan serebrum.
Sebaliknya, sistem vestibular perifer meliputi labirin dan saraf vestibular. Labirin tersusun
dari 3 kanalis semisirkularis dan otolit (sakulus dan utrikulus) yang berperan sebagai reseptor
sensori keseimbangan, serta koklea sebagai reseptor sensori pendengaran. Sementara itu,
krista pada kanalis semisirkularis mengatur akselerasi angular, seperti gerakan berputar,
sedangkan makula pada otolit mengatur akselerasi linear.
Segala input yang diterima oleh sistem vestibular akan diolah. Kemudian, diteruskan
ke sistem visual dan somatokinetik untuk merespon informasi tersebut. Gejala yang timbul

akibat gangguan pada komponen sistem keseimbangan tubuh itu berbeda-beda, pada table
dibawah ini.
Tabel. Perbedaan Vertigo vestibular dan non-vestibular
Gejala
Sifat vertigo

Vertiogo vestibular
Rasa berputar

Vertigo non-vestibular
Melayang,hilang

Serangan
Mual/muntah
Gangguan

Episodik
+
+/-

keseimbangan
Kontinyu
-

Gerakan kepala
-

Gerakan visual
Keramaian, lalu lintas

pendengaran
Gerakan pencetus
Situasi pencetus

Tabel. Perbedaan vertigo vestibular perifer dan sentral


Gejala

Vertigo vestibular

Vertigo vestibular

Bangkitan vertigo
Derajat vertigo
Pengaruh gerakan kepala
Gejala otonom (mual,

perifer
Lebih mendadak
Berat
++
++

sentral
Lebih lambat
Ringan
+/+

muntah, keringat)
Gangguan pendengaran

( tinitus, tuli)
Tanda fokal otak

Tabel Jenis Vertigo Berdasarkan Awitan Serangan


Jenis Vertigo
Berdasarkan
Awitan Serangan
Vertigo paroksismal

Vertigo kronis

Disertai Keluhan
Telinga
Penyakit Meniere,
tumor fossa cranii
posterior, transient
ischemic
attack
(TIA)
arteri
vertebralis
Otitis media kronis,
meningitis

Tidak Disertai
Keluhan Telinga

Timbul Karena
Perubahan Posisi

TIA arteri vertebro- Benign paroxysmal


basilaris, epilepsi, positional
vertigo
vertigo akibat lesi (BPPV)
lambung
Kontusio
sindroma

serebri, Hipotensi ortostatik,


paska vertigo servikalis
9

Vertigo akut

tuberkulosa, tumor
serebelo-pontine,
lesi labirin akibat
zat ototoksik

komosio, multiple
sklerosis,
intoksikasi
obatobatan

Trauma
labirin,
herpes zoster otikus,
labirinitis
akuta,
perdarahan labirin

Neuronitis
vestibularis,
ensefalitis
vestibularis,
multipel sklerosis

Patofisiologi
Setiap orang tinggal di ruangan dan mampu berorientasi terhadap sekitarnya berkat
adanya informasi-informasi yang dating dari indera. Didalam orientasi ruangan ini indera
yang penting peranannya adalah system vestibular (statokinetik), system penglihatan
(visual/optic), dan rasa dalam (proprioseptik). Untuk bekerja secara wajar, unit ini
memerlukan normalitas fungsi fisiologi indera-indera tersebut sehingga informasi yang
ditangkap dari sekitarnya adalah proporsional dan adekuat. Informasi ini dipertukarkan dan
diproses lebih lanjut olehsuatu unit pemroses sentral dan selanjutnya proses yang berlangsung
dalam system saraf pusat akan bekerja secara reflektorik.
Tetapi bila oleh sesuatu sebab terjadi hal-hal yang menyimpang, maka unit proses
sentral tidak lagi dapat memproses informasi-informasi secara wajar/biasa, melainkan
menempuh jalur luar biasa. Hasil akhir yang didapat selain ketidak sempurnaan adaptasi otototot mata dan ekstremitas tersebut juga akan memberikan tanda/peringatan kegawatan. Tanda
ini dapat dalam bentuk yang disadari ataupun yang tidak disadari oleh penderita.
Yang disadari :
-

Bersumber dari pusat vestibular ialah vertigo

Bersumber dari system saraf otonom ialah mual, muntah, berkeringat, dll.

Bersumber dari system motorik ialah rasa tidak stabil


Yang tidak disadari : terutama bersumber dari otot mata yaitu timbulnya nistagmus.
Penyimpangan proses yang wajar tersebut diatas dapat sebagai akibat abnormalitas
fungsi fisiologik salah satu atau lebih indera atau akibat informasi yang tidak harmonis, atau
tidak terkoordinasinya informasi-informasi yang datang dari indera-indera ekuilibrium.
Biasanya, bila abnormalitas itu bersumber dari sistem visual akan menimbulkan rasa ringan
dikepala, sedangkan bila bersumber dari system vestibular akan menimbulkan rasa gerakan.
10

Dikatakan dari semua indera itu, system vestibularlah yang pegang andil paling besar
terhadap ekuilibrium. Disamping ikut andil dalam orientasi ruangan, system vestibular
merupakan organ penting yang bekerja otomatis mempertahankan dan menstabilkan posisi
dan penglihatan. Sistem ini dapat membangkitkan reflex otomatis, involuntar, gerakan
paksaan yang hanya bergantung pada kesadaran seseorang. Termasuk gerakan bola mata
involuntary/nistagmus dan reflex penyesuaian terhadap posisi miring.
Etiologi
Vertigo hanya gejala yang dapat ditimbulkan oleh berbagai macam penyakit.
Penyebab vertigo dapat berasal dari beberapa disiplin ilmu.
1. Penyakit system vestibular perifer ( yaitu labirin, nervus VIII atau inti vestibularis)
a) Telinga :
-

Telinga luar : serumen, benda asing

Telinga tengah : retraksi membrane timpani, otitis media purulenta akuta, otitis
media dengan efusi, labirintitis, koleastetoma, rudapaksa dengan perdarahan.

Telinga dalam : Labirintis akuta toksika, trauma, serangan vascular, alergi, hidrops
labirin (morbus meniere), mabuk gerakan, vertigo postural.

b) Nervus VIII :
-

Infeksi

Trauma

Tumor

c) Inti vestibularis (batang otak) :


-

Infeksi ( meningitis, encephalitis, abses otak)

Perdarahan

Trombosis (arteri serebeli postero-inferior)

Tumor

Sklerosis multiple

2. Penyakit susunan saraf pusat


a) Vascular
-

Iskemik otak
11

Hipertensi kronis

Arteriosklerosis

Anemia

Hipertensi kardiovascular

b) Infeksi : meningitis, ensefalitis, abses.


c) Trauma
d) Tumor
e) Migren
f) Epilepsi
g) Kelainan endokrin (hipotiroid, hipoglikemik, keadaan menstruasi, hamil, menoupase)
h) Kelaianan psikoneurosis
3. Mata : paresis otot mata, kelainan refraksi, glaucoma
4. Kelainan propioseptik : pellagra, anemia pernisiosa, alkohholisme, tabes dorsalis.
Diagnosis
1. Anamnesis
-

Pertama-tama ditanyakan bentuk vertigonya: melayang, goyang, berputar, tujuh


keliling, rasa naik perahu dan sebagainya.

Keadaan yang memprovokasi timbulnya vertigo: perubahan posisi kepala dan tubuh,
keletihan, ketegangan.

Apakah timbulnya akut atau perlahan-lahan, hilang timbul, paroksimal, kronik,


progresif atau membaik. Beberapa penyakit tertentu mempunyai profil waktu yang
karakteristik. (gambar dibawah)

Penggunaan obat-obatan seperti streptomisin, kanamisin, salisilat, antimalaria dan lainlain yang diketahui ototoksik/vestibulotoksik,

Apakah ada keluhan yang menyertai mual, muntah, gangguan pendengaran, tinnitus.

Adanya penyakit sistemik seperti anemia, penyakit jantung, hipertensi, hipotensi. Juga
kemungkinan trauma akustik.

12

2. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik Umum :
Pemeriksaan fisik diarahkan ke kemungkinan penyebab sistemik; tekanan darah diukur;
bising karotis, irama (denyut jantung) dan pulsasi nadi perifer juga perlu diperiksa
Pemeriksaan Neurologis :
- Pemeriksaan mata :
Mencari adanya nistagmus :
a) Pada mata dalam posisi netral bila ada nistagmus disebut nistagmus spontan.
b) Bila pada mata melirik kekiri dan kanan, atas bawah bila ada nistagmus disebut
nistagmus tatapan.
c) Nistagmus yang disebabkan oleh kelainan system saraf pusat mempunyai cirri-ciri,
sebagai berikut :
-

Nistagmus pendular : nistagmus yang tidak mempunyai fase cepat atau lambat.

Nistagmus ventrikal yang murni : nistgamus yang gerakan ke atas dan bawah.

Nistagmus rotatari yang murni : gerakannya berputar

Gerakan nistagmoid : gerakan bolamata yang bukan nistagmus sebenarnya tetapi


mirip dengan nistagmus.

Nistagmus tatapan yang murni : nistagmus yang berubah arahnya bila arah
lirikan mata berubah.

- Uji Dix-Halpike : bertujuan untuk mencari adanya vertigo/nistagmus posisional


paroksismal maka untuk membangkitkannya diperlukan rangsangan perubahan posisi :
* Penderita duduk di meja periksa kemudian disuruh cepat-cepat berbaring terlentang
dengan kepala tergantung diujung meja dan cepat-cepat kepala disuruh menengok
kekiri (10-20o) pertahankan selama 10-15 detik, liat adanya nistagmus kemudian
kembali ke posisi duduk dan liat adanya nistagmus dalam 10-15 detik.
13

* Ulangi pemeriksaan tersebut kali ini kepala menengok ke kanan. Orang normal dengan
manufer tersebut tidak timbul vertigo atau nistagmus.
- Pemeriksaan Keseimbangan :
Romberg test : penderita berdiri dengan kedua kaki dirapatkan, mula-mula dengan
kedua mata terbuka kemudian tertutup. Biarkan pada posisi demikian selama 20-30
detik. Harus dipastikan bahwa penderita tidak dapat menentukan posisinya (misalnya
dengan bantuan titik cahaya atau suara tertentu). Pada kelainan vestibuler hanya pada
mata tertutup badan penderita akan bergoyang menjauhi garis tengah kemudian
kembali lagi, pada mata terbuka badan penderita tetap tegak. Sedangkan pada kelainan
serebeler badan penderita akan bergoyang baik pada mata terbuka maupun pada mata
tertutup.
Tandem Gait: penderita berjalan lurus dengan tumit kaki kiri/kanan diletakkan pada
ujung jari kaki kanan/kiri ganti berganti. Pada kelainan vestibuler perjalanannya akan
menyimpang, dan pada kelainan serebeler penderita akan cenderung jatuh. (buku
hijau)
Disadokokinesis : merupakan ketidakmampuan melakukan gerakan yang berlawanan
berturut-turut. Surh pasien merentangkan kedua lengannya kedepan, kemudian suruh ia
mensupinasi dan pronasi lengan bawahnya (tangannya) secara bergantian dan cepat.
Pada sisi lesi, gerakan ini dilakukan lamban dan tidak tangkas.
Tes tunjuk hidung : Pasien disuruh menutup mata dan meluruskan lengannya
kesamping, kemudian ia disuruh menyentuh hidungnya dengan telunjuk. Pada lesi
serebral telunjuk tidak sampai di hidung tetapi melewatinya dan sampai di pipi.
3. Pemeriksaan Penunjang :
-

Pemeriksaan laboratorium rutin, darah, urin, dan pemeriksaan lain sesuai indikasi.

Neurootologi : Tes kalori, Elektronistagmografi, BAEP (brainstem auditory evoked


potential)

Radiologis : CT-Scan, MRI.

14

Penatalaksanaan
Penatalaksanaan vertigo terbagi menjadi 3 bagian utama, yaitu :
1. Terapi kausal
Sebagian besar kasus vertigo tidak diketahui kausanya sehingga terapi lebih banyak
bersifat simtomatik dan rehabilitatif.
2. Terapi Simptomatis
Pengobatan ini ditujukan pada dua gejala utama yaitu rasa vertigo (berputar, melayang)
dan gejala otonom (mual, muntah).
Tabel. Obat antivertigo, dosis obat per oral
Nama kelompok

Nama Generik

Dosis sekali

Interval

pemberian

ulangan
Antikolinergik

Antihistamin

Simpatomimetik

Skopolamin

0,2-0,4 mg

3-6 jam

Atropin

0,2-0,4 mg

3-6 jam

Difenihidramin

50-100 mg

6 jam

Dimenhidrinat

50-100 mg

6 jamk

Sinarizin

75 mg

24 jam

d-Amfetamin

10 mg

12 jam

Efedrin

25-50 mg

4-6 jam

Fenobarbital

15-60 mg

6-8 jam

Diazepam

5-10 mg

4-6 jam

Prometazin

25-50 mg

4-6 jam

Klorpromazin

10-25 mg

4-6 jam

Penenang
Minor

Mayor

15

3. Terapi rehabilitatif
Terapi rehabilitasi bertujuan untuk membangkitkan dan meningkatkan kompensasi
sentral dan habituasi pada pasien dengan gangguan vestibular. (print artikel) Timbulnya
mekanisme bisa berasal baik dari system saraf tepi maupun dari system saraf pusat, dalam
usaha memperoleh keseimbangan baru sehingga tanda kegawatan (alarm reaction) yang
merupakan sebab terjadinya vertigo akan dihilangkan.
Mekanisme kompensasi ini dapat dipacu tumbuhnya dengan jalan memberikan
rangsangan terhadap alat keseimbangan di telinga bagian dalam (vestibule), rangsangan
terhadap visus dan juga proprioseptik.
Rangsangan dilakukan secara bertahap namun intensif setiap kali latihan sehingga
timbul gejala nausea, dan dilakukan secara berulang-ulang. Beberapa cara latihan untuk
penderita vertigo yang dapat dikemukakan antara lain :
-Latihan gerakan tubuh dengan kepala-leher-mata dalam posisi tetap (stasioner)
-Mata dan kepala bergerak mengikuti objek penglihatan yang bergerak.
-Latihan dengan alat sejenis pembangkit nistagmus.
-Latihan keseimbangan tubuh diatas papan dinamis.

DAFTAR PUSTAKA

1. Budi Riyanto Wreaksoatmodjo. 2004. Vertigo : Aspek Neurologi. Bogor. Online,


2. Lumbaltobing. 2000. Vertigo. Kapita Selekta Neurologi. Gajah Mada University Press
: Yogyakarta. Hal 341-357.
3. Wijayakusumah. 2008. Vertigo.
http://fk.wijayakusumasby.ac.id/elib/Arsip/Departemen/Ilmu%2520Penyakit
%2520Saraf/Vertigo%2520%255BCompatibility%2520Mode)

16

Anda mungkin juga menyukai